Who Are You ? (Chapter 5)

untitled2

Tittle : Who Are You?

Author : Park Rami [@Ohxodus]

Genre : Brothership, a little bit Crime/Thriller, and Comedy

Main Cast :

  • Oh Sehun a.k.a Byun Sehun
  • Oh sehun a.k.a Oh Sehwan
  • Byun Baekhyun a.k.a Byun Baekhyun
  • And others,

Lenght : Chaptered

Disclaimer : Baekhyun and Sehun belong to God, SM Entertaiment, and their parents. This Fanfiction belongs to me and real my imagination.

Happy reading^^

Chapter 5 : Climax

Baekhyun terus berusaha mencari jalan keluar di sekitar ruang bawah tanah tersebut agar ia dan Sehun dapat kabur secepatnya. Kedua matanya bergerak cepat menelusuri ruangan tersebut tetapi saat melihat Sehun, dongsaengnya itu malah terdiam menatap Sehwan dengan pandangan yang sama sekali tidak bisa ia artikan. Baekhyun berjalan mendekat ke arah Sehun untuk menyadarkannya.

Tetapi Saat ia akan mendekati Sehun, ekor matanya menangkap siluet seseorang sedang menuju ke arah Sehun. Baekhyun semakin dibuat terkejut saat melihat apa yang ada di tangan namja itu

Pisau!

Tanpa basi-basi lagi Baekhyun bergerak cepat ke arah Sehuh, “SEHUN-AH AWAS!!”

Sehun terlonjak kaget mendengar teriakan Baekhyun begitu juga dengan Sehwan, kemudian Sehun segera menoleh ke arah Baekhyun yang berlari tergesa-gesa ke arahnya, dia tidak mengerti. Sehun kembali dibuat terkejut saat dengan tiba-tiba Baekhyun memeluknya dengan erat.

Hyung, wae geurae?” tanya Sehun kebingungan sambil menatap Baekhyun yang memejamkan matanya kuat-kuat.

“Ya Hyung! Ada apa ini? Kenapa kau memelukku?” Sehun bertanya sekali lagi tapi tetap tidak ada respon dari Baekhyun, Sehun mulai khawatir dan segera menarik paksa tangan Baekhyun dari pinggangnya, kemudian ia memegang kedua bahu Baekhyun lalu menatap mata kakaknya itu.

Hyung? kau kenapa?” tanya Sehun khawatir saat mata tajam miliknya menatap mata Baekhyun yang setengah terpejam, seperti sedang menahan sesuatu. Sehun tercekat saat matanya menangkap ceceran darah di lantai yang Baekhyun pijak.

“Darah?” gumam Sehun pelan dan kembali menatap Baekhyun dengan perasaan khawatirnya yang semakin menjadi. Belum sempat Sehun bertanya lagi, Baekhyun sudah ambruk di depannya.

Sehun terbelalak dan segera berjongkok, menekuk sebelah lututnya menghadap Baekhyun, “Hyung?! Hyung?!” Sehun menepuk-nepuk pipi Baekhyun yang sudah pucat karena sudah kehilangan banyak darah.

“S..e.seh..un jangan tinggalkan… aku..” Baekhyun berkata dengan susah payah, Sehun menggeleng cepat, “Aniyo, aku tidak akan meninggalkanmu.”

Baekhyun memejamkan matanya rapat-rapat saat merasakan perih di pinggangnya semakin menjadi. Sehun segera membalik tubuh Baekhyun dengan pelan dan melihat bekas tusukan pisau di pingang hyungnya itu, Sehun sedikit bernapas lega saat melihat tusukan pisau itu tidak mengenai titik vital Baekhyun. Tapi itu tidak mengurangi kekhawatiran Sehun sedikitpun, dengan segera Sehun merobek bagian bawah kaosnya dan mengikatkannya di punggung Baekhyun tidak peduli bajunya sudah rombeng yang terpenting Baekhyun tidak kehilangan lebih banyak darah lagi.

“Tidak akan kumaafkan!” Sehun menggeram marah, tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih.

Kemudian Sehun berbalik dan menatap tajam seorang namja disana yang sedang memegang pisau berlumuran darah Baekhyun. D.O, namja itu hanya menyeringai saat ditatap seperti itu oleh Sehun.

“Kau!!!”

“KAU HARUS MEMBAYAR UNTUK INI!!!” Sehun berteriak marah dan berlari ke arah D.O yang hanya menatapnya dengan seringai.

Detik berikutnya, Sehun melayangkan pukulannya ke arah D.O tapi D.O dapat menghindarinya dengan mudah. Sehun menggeram kesal karena dirinya hanya meninju udara kosong. Dirinya berbalik dan kembali melayangkan tatapan tajamnya ke arah D.O, Sehun segera mengejar kembali D.O dan memberikan pukulan lagi dan lagi tapi tetap meleset, D.O sangat lincah dalam menghindar.

‘Siapa dia sebenarnya?’, ‘Mengapa dia melukai Baekhyun hyung?’, ‘Apa dia komplotan Sehwan?’ begitu banyak pertanyaan di kepala Sehun.

“Apa hanya itu kemampuanmu?”

Sehun berdesis marah saat melihat senyum D.O yang begitu memuakkan menurutnya. Matanya berkilat tajam dan dia pun kembali menghampiri D.O. Sehun terus melayangkan pukulan dan tendangan kepada D.O.

D.O mengarahkan kedua tangannya membentuk tanda silang saat Sehun melayangkan tendangan ke arah wajahnya.

Ugh! D.O terlonjak kaget saat merasakan betapa kuatnya tendangan Sehun bahkan saat ini dirinya sedikit terdorong ke belakang karena menahan tendangan dari Sehun.

Sehun segera mundur saat menyadari bahwa tadi tendangannya mempan pada D.O meskipun hanya sedikit, kemudian ia segera memutar otaknya untuk memikirkan taktik yang tepat untuk melawan D.O.

Karena Sehun sibuk dengan taktik yang dipikirkannya itu memberikan sebuah peluang besar bagi D.O untuk membalas serangan Sehun tadi. D.O datang ke sini atas perintah ketuannya untuk membantu Sehwan.

Sehun tidak sadar bahwa D.O sudah berdiri di hadapannya, “Angkat wajahmu ketika berpikir bocah!” ucapan D.O menyadarkan Sehun dan detik itu juga ia melayangkan pukulamnya ke rahang Sehun.

BUAGH!!

Sehun tersungkur ke lantai karena tidak siap dengan serangan D.O, namja itu kembali menghampiri Sehun dan sedikit mengangkat kakinya untuk menginjak perut Sehun. Sehun segera menggulingkan tubuhnya sehingga kaki D.O hanya mengenai lantai.

Saat Sehun akan berdiri, D.O lebih dulu menarik kerah belakang bajunya dan menghadapkan Sehun ke arahnya.

BUGH! BUGH!

D.O memukul perut Sehun menggunakan lututnya. Lagi-lagi Sehun jatuh terjerembab dengan rasa nyeri di ulu hatinya.

“Perhatikan dengan siapa kau melawan bocah!” D.O menatap Sehun dengan seringainya yang sedang berusaha berdiri sambil memegangi perutnya.

Tidak jauh dari pertarungan Sehun dan D.O, Sehwan hanya menatap kosong keduanya, dirinya sibuk dengan pikirannya sendiri sejak tadi. Sehwan bingung dengan perasaannya saat bertemu dengan Sehun ia tidak mengerti dengan dirinya. Di lain sisi ia merasa senang karena dapat bertemu Sehun kembali tapi di lain sisi yang lainnya ia merasakan sesak, entahlah karena apa? Mungkin ia masih belum siap bertemu dengan Sehun.

“Khe! Aku akan membalasmu!” Sehun meludahkan ludahnya yang telah tercampur darah.

Mengabaikan rasa sakit di perutnya, Sehun menghampiri D.O dengan cepat dan segera melayangkan tinjunya ke arah wajah D.O tapi D.O segera menghindar. Tepat seperti dugaanku! Sehun menyeringai dalam hati. Sehun tidak diam ia segera menghampiri D.O lagi dan mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat tetapi dia segera merubah gerakannya dengan memutar tubuhnya ke arah belakang D.O dan menggunakan sikutnya untuk memukul punggung D.O dan itu berhasil, D.O jatuh terjerembab.

BUGH! BRUKK!

“Uhuk!…”

Sehun mengangkat kakiknya dan segera menendang D.O saat itu juga. Akibat tendangan Sehun, D.O terpental ke tembok ruangan trsebut.

BUAGH!
Sehun menghampiri D.O lagi dengan matanya yang berkilat tajam.

SRET!

Sehun menarik kerah baju D.O dan mengangkatnya ke udara. D.O mencoba melepaskan diri dari Sehun, lehernya terasa sesak.

“Kau telah melukai hyungku!!”

Detik itu juga Sehun menghempaskan D.O ke tembok dengan keras. Setelah itu Sehun mengangkat tangannya ke udara dan memberikan tinjunya ke wajah D.O berkali-kali hingga wajah D.O menjadi lebam hingga sudut bibir dan hidung namja itu mengeluarkan darah.

Sehun segera menjauh dari D.O saat dirasa D.O sudah kapok. Tetapi baru beberapa langkah Sehun menghindari D.O, namja itu kembali bangkit dan mengunci leher Sehun kuat-kuat. D.O tertawa keras bak setan karena telah berhasil membodohi Sehun.

“AKH! Lepaskan! Uhuk!” Sehun berteriak tertahan karena D.O mengunci leher Sehun dengan kuat.

“HAHAHA… Kau pikir.. aku akan mati begitu saja hah?!!”

Sehun memejamkan matanya, paru-parunya sesak dia butuh udara Sehun terus berjalan mundur hingga membentur tembok.

“Ugh!” D.O mengeluh sakit saat punggungnya terhantam tembok.

Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepala Sehun lagipula kondisi D.O saat ini juga lemah. Tanpa aba-aba Sehun mengehempaskan tubuhnya dan tubuh D.O ke bawah akibatnya tubuh D.O tertimpa oleh tubuh Sehun.

“ARGHHHH!!!” D.O menjerit kesakitan saat Sehun juga menyikut perutnya dengan kuat, bahkan perut D.O sampai terdengar bunyi -krekk!

D.O memuntahkan darah dari mulutnya.

Sehun segera bangkit, di punggungnya sedikit ada darah D.O karena tadi dia menindih D.O dengan punggungnya. Sehun menatap sekelilingnya dan menemukan tali tambang bekas ikatan Baekhyun di dekat Sehwan. Dia segera berlari ke sana dan mengambil tali tambang tersebut. Sehun melirik Sehwan sebentar yang ada di sampingnaya.

“Aku ingin bicara setelah ini denganmu hyung.” Sehun berbisik kepada Sehwan dan segera menghampiri D.O yang sudah babak belur untuk mengikatnya. Sehwan tersadar dan menatap Sehun yang sudah mengikat D.O di sana. Mungkin D.O sudah mati saat ini.

Sehwan menahan nafasnya saat Sehun menghampirinya. Sehwan dapat melihat bahwa Sehun sedang menahan air matanya saat ini. Sehun mengambil ponsel Baekhyun dan menelpon seseorang. Sedangkan Sehwan menundukkan kepalanya menatap lantai yang sedang ia pijak.

Yeoboseyo?” terdengar suara seseorang di seberang telepon.

“Jongin-ah apakah kau tahu alamat XXX?” tanya Sehun sambil tetap mempertahankan kontak matanya dengan Sehwan.

“EH? Tentu aku tahu, memangnya kenapa?” tanya Jongin kebingungan.

“Datanglah ke alamat XXX lalu di samping toko buku ada gang kecil, masuklah dan temukan gedung tua di sana.” Sehun menjelaskan keberadaannya dan Baekhyun.

“Untuk apa? Aku belum menemukan Baekhyun hyung.”

“Baekhyun hyung ada bersamaku jadi datanglah ke alamat ini dan carilah pintu rahasia di semak-semak.”

“…. Baiklah aku kesana.”

“Kumohon cepatlah,” dan setelah mengucapkan itu Sehun memutuskan sambungan teleponnya dengan Jongin.

“WAE?!” Sehun bertanya sambil berteriak di hadapan Sehwan. Sehwan mengangkat kepalanya dan membalas tatapan Sehun.

“Kenapa kau tidak kembali ke panti asuhan jika kau masih hidup?” Sehun bertanya sambil menengadahkan wajahnya ke atas agar air matanya tidak keluar.

Sehun kecewa karena Sehwan sama sekali tidak mengabarinya bahwa saudara kembarnya itu masih hidup, dia juga kecewa pada Sehwan karena kesalahan terbesar yang sudah dilakukan oleh saudara kembarnya itu, menjadi pembunuh berantai yang dikejar-kejar polisi. Sehun tidak bisa mendeskripsikan perasaannya, perasaannya bercampur aduk.

“Dan apa ini? Kenapa kau melakukan hal ini?!” Sehun bertanya sekali lagi, Sehwan tetap bungkam.

Sehun menarik kerah jaket yang digunakan Sehwan dan menatap mata yang sama dengan miliknya dengan penuh luka, “Aku tidak mengerti dengan dirimu yang sekarang hyung…”

Setelah mengucapkan itu Sehun menghempaskan tubuh Sehwan dengan kuat.

“Bunuh aku saja!” Sehun berkata dengan seluruh emosinya yang meluap-luap. “Dimana jiwa seorang pembunuhmu hah?!! Kenapa kau tidak membunuhku saja! Kutanyakan sekali lagi, DIMANA JIWA SEORANG PEMBUNUHMU?!” Sehun mengakhiri perkataannya dengan menendang benda-benda yang ada di sekitarnya, melampiaskan seluruh emosinya.

Sehwan tetap bergeming, dia merasa pikirannya kosong saat ini. Sedangkan Sehun ia kembali menghampiri Baekhyun yang terkapar lemah di lantai. “Hiks… hiks… kau menghancurkanku hyung,” lirih Sehun sambil mengelus punggung tangan Baekhyun, wajah Baekhyun sudah pucat.

BRAKK!

Sehun maupun Sehwan segera menatap ke arah pintu. Di sana ada Jongin dengan nafas terengah-engah, “Apa.. apa yang terjadi?” Jongin menatap sekelilingnya dengan bingung dan terkejut. Bagaimana dia tidak terkejut dan bingung? Di sana ada seseorang yang babak belur dan terikat, lalu ada dua Sehun, tunggu ada dua Sehun?

“Sehun…. kau ada.. dua?” Jongin menatap horror Sehun dan Sehwan bergantian. “Sehun yang kukenal yang ini kan?” tanya Jongin sambil menghampiri Sehun, sedangkan Sehun hanya mengangguk pelan.

Lagi-lagi Jongin dibuat terkejut setelah melihat keadaan Baekhyun, “Baekhyun hyung?!”

“Jongin-ah tolong antarkan Baekhyun hyung ke rumah sakit,” pinta Sehun. Jongin menatap Sehun dengan tatapan khawatirnya dan menangguk, baru saja akan membopong Baekhyun Jongin kembali menatap Sehun, “Tapi kau bagaimana?” Jongin mengakhiri kalimatnya dengan menatap Sehwan dan Sehun bergantian.

Gwenchana, sekarang tolonglah Baekhyun hyung, kumohon.” Sehun menggenggam tangan Baekhyun. Jongin memantapkan hatinya dan segera membopong Baekhyun keluar dari tempat ini, “Aku akan segera kembali untuk membantumu Sehun,” Sehun hanya mengangguk mendengar ucapan Jongin dan setelah itu Jongin segera mebawa Baekhyun pergi dari tempat ini.

Jongin memarkirkan mobilnya dengan mendadak membuat seorang pengemudi yang ingin memarkirkan mobilnya di tempat Jongin memaki-maki Jongin karena sudah merebut tempat parkirnya.

“Maaf Ahjussi, ini darurat.” Jongin berlari tergesa-gesa ke UGD setelah meminta maaf ke paman pengemudi tadi.

Jongin mengambil ponselnya dan segera menelpon Ibu Baekhyun. Beberapa detik kemudian akhirnya Ibu Baekhyun menerima panggilannya.

Yeoboseyo omoni, cepatlah pulang ke Seoul ini darurat!” Jongin berkata terburu-buru.

“Eh? Ada apa ini? Kenapa menyeruh kami mendadak pulang ke Seoul?” nada suara Ny. Byun terdengar bingung di seberang telepon.

“Ini tentang Baekhyun… dia sedang di UGD saat ini keadaannya sangat parah.”

“APA?!” Jongin bisa mendengarnya dan merasakan kehwatiran Ibu Baekhyun di sana.

“Itu benar jadi cepatlah kemari omoni,” kemudian Jongin memutuskan panggilannya. Jongin mendudukkan dirinya di kursi yang sudah tersedia di sana. Menunggu orang tua Baekhyun datang, Sehun telah menyuruhnya untuk menjaga Baekhyun. Setelah orang tua Baekhyun datang dia baru akan pergi menolong Sehun.

=><=

 

Kabut senyap terus menyelimuti dua namja berwajah sama di dalam ruangan tersebut. Hingga salah satu di antara mereka memilih untuk memecahkan keheningan tersebut.

“Aku… ingin mengatakan sesuatu,” suara itu milik Sehwan, sedangkan Sehun tetap diam memunggungi Sehwan tapi telinganya tidak pernah lepas dari suara saudaranya.

“Aku sadar ini salah,” Sehwan melanjutkan perkataannya, “Dan parahnya aku baru menyadari sekarang. Aku menyadarinya saat aku menatap jauh kedalam matamu,” Sehwan menarik napasnya sejenak, “Aku menyesal telah melakukan ini dan telah membuat adikku kecewa.” Sehun mengatupkan rahangnya begitu mendengar penyesalan Sehwan.

“Tapi percayalah aku melakukan ini karena aku merasa frustasi saat kehilangan dirimu,” Sehwan terus menatap punggung Sehun yang tetap diam sejak tadi, “Mungkin bagimu ini terdengar klise tapi sungguh saat aku kehilangan dirimu aku merasa jiwaku telah pergi dari tubuhku,” Sehwan kembali menarik napasnya dan mendekati Sehun perlahan, “Aku hidup tanpa perasaan selama ini, emosiku tidak bisa kukendalikan karena saking terpuruknya akibat kehilangan saudaraku.” Satu tetes air mata lolos dari mata Sehwan tapi Sehwan buru-buru menghapusnya, “Aku menjadi pembunuh karena aku sudah tidak tahu lagi harus apa saat tanpamu, kau satu-satunya keluarga yang aku miliki hingga aku ingin terus menjagamu dan bersamamu.”

Air mata lolos begitu saja dari mata Sehun, kedua saudara kembar tersebut menangis bersama-sama mengeluarkan beban yang selama ini menumpuk di hati keduanya. Sebenarnya jauh di lubuk hati kecil Sehun, dirinya sangat merindukan Sehwan saudaranya. Sudah bertahun-tahun lamanya mereka berdua tidak bertemu sudah pasti ada kerinduan besar di hati masing-masing. Tapi mengapa Tuhan begitu mempermainkan mereka berdua, mengapa Tuhan membuat takdir yang sangat sulit mereka berdua terima. Mereka senang karena bisa bertemu lagi tapi kenapa harus seperti ini pertemuan mereka berdua, ini sangat sulit untuk mereka berdua.

Sehwan tersenyum kali ini senyum tulus bukan senyum kosong seperti biasanya, “Aku tahu harus melakukan apa agar kau mau memaafkanku,” kali ini Sehwan persis di belakang Sehun tangannya terulur untuk memegang bahu tegap adiknya, dia tahu kalau Sehun menangis dilihat dari bahunya yang sedikit bergetar akibat menahan tangis.

“Aku… akan mengubah hidupku,” katanya pelan sambil menunduk.

“Mengubah apanya? Dengan apa kau bisa mengubah hidupmu?” Sehwan mengangkat kepalanya saat mendengar suara Sehun meskipun Sehun sama sekali tidak mau menatapnya dan tetap bertahan memunggunginya. Tapi itu mampu membuat Sehun mengulas senyum bahagia, “Aku akan melakukan apapun meskipun harus menanggung hukum atau menghilang dari pandanganmu.”

Tubuh Sehun sedikit menegang, perlahan namun pasti Sehun membalikkan badannya dan menatap Sehwan dengan tatapan penuh luka, dia paham dengan kalimat Sehwan terakhir, menghilang dari pandanganmu? Menghilang dari dunia ini, itulah yang ingin dikatakan Sehwan sebenarnya.

“Aku… tidak ingin kau hilang dari pandanganku,” ucap Sehun sambil menunduk menatap ujung sepatunya. Belum sempat Sehwan membalas perkataannya Sehun sudah lebih dulu menyela, “Tapi… aku ingin kau menebus kesalahanmu atas nyawa orang-orang yang kau renggut.”

Sehwan terdiam sesaat dan mengangguk paham, “Aku tahu dan aku akan melakukannya.”

“Aku tidak ingin melihat kasus pembunuhan seperti ini lagi,” Sehun berkata sekali lagi kali ini ia menatap mata Sehwan, Sehwan membalas tatapan adiknya itu dan ia mengangguk menyetujui Sehun. “Terima kasih Sehun-ah, aku akan pergi sekarang.”

Sehwan berjalan pergi dari ruang bawah tanahnya meninggalkan Sehun sendirian tapi tak lama kemudian Jongin datang tepat setelah Sehwan pergi dari tempat ini.

“Sehun-ah gwenchana? Apa yang terjadi selama aku tidak ada di sini? Dan dimana Sehun kedua?” Jongin melayangkan pertanyaan bertubi-tubi ke arah Sehun.

“Dia sudah pergi.” Sehun berjalan begitu saja tanpa menghiraukan kekhawatiran Jongin. “Ya! Kau berkata tidak jelas!” Jongin menghampiri Sehun.

“Bagaimana dengan Baekhyun hyung?” Sehun segera menanyakan keadaan Baekhyun. Jongin yang sedang dilanda kebingungan akhirnya mengikuti saja alur pembicaraan Sehun, “Tenang saja dia sekarang sedang ditangani oleh dokter dan orang tua kalian sudah menemaninya.”

Sehun bernapas lega mendengarnya. Mereka berdua segera masuk ke dalam mobil Jongin tapi Jongin tidak juga menyalakan mesin mobilnya dan itu membuat Sehun keheranan.

“YA! Jalankan mobilnya bodoh!” kata Sehun sedikit membentak Jongin. Jongin menatap Sehun kesal, oke pertama sifat Sehun sudah kembali ke asalnya, kedua memang siapa di sini yang bodoh bukannya seharusnya Jongin yang mengatai Sehun bodoh bukan malah dirinya yang dikatai bodoh.

“Kau yang bodoh Sehun!” Jongin balik mengatai Sehun bodoh dan itu membuat Sehun mendelik tajam, “APA?!”

“Untuk apa kau menaiki mobilku bodoh?!”

“Hah? Memangnya kenapa dan kenapa kau mengataiku BODOH LAGI HAH?!” Sehun sedikit menaikkan nada bicaranya di akhir kalimat.

Jinjja pabo, kau lupa kalau kau ke sini juga membawa mobil,” kata Jongin sambil menunjuk mobil Sehun, Sehun mengikuti telunjuk Jongin dan dia melihat mobilnya terparkir di depannya.

“Sudah sadar Sehun?” tanya Jongin sedikit menyindir. Sehun tertawa kikuk, “Ahaha.. aku lupa.”

“Terserah, tapi sebelum kau keluar aku ingin tanya sesuatu?”

“Apa?”

“Tadi di dalam aku melihat mayat seseorang, mayat siapa itu?”

Sehun terdiam saat Jongin menanyakan mayat D.O tapi dia hanya menjawab singkat tidak ingin membahas lebih lanjut, “Hn..”

“Hah?”

Sehun segera keluar dari mobil Jongin menghiraukan namja hitam itu yang speechless dengan jawaban singkat Sehun.

Di dalam mobilnya Sehun menatap tangannya dengan tatapan campur aduk, dialah yang sudah menghabisi D.O dengan tangannya sendiri. Sungguh saat itu emosinya benar-benar memuncak saat melihat D.O yang telah melukai Baekhyun.

“Tanganku telah tersentuh darah.”

Sehun sedikit tersentak karena klakson mobil Jongin. Jongin melongokkan kepalanya keluar, “Kau pingsan ya? Cepat kita harus ke rumah sakit.”

Mereka berduapun segera pergi meninggalkan gedung tua tersebut.

 

TBC

 

4 thoughts on “Who Are You ? (Chapter 5)

  1. ellalibra berkata:

    Jd D.O mati y?? Lalu bnrkah sehwan akan kkantor polisi ?? Smg baekhyun sembuh ,, sehwan sehun kembali bersama … Akh sgt penasaran eon neext fighting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s