Something Hidden Part 8

something hidden new 2

Author: SakuRaa (@_raraa84)

Title: Something Hidden (Chapter 8)

Cast:

-Byun Baekhyun (Baekhyun)

-Oh Sehun (Sehun)

-Kim Jongin (Kai)

-Park Chanyeol (Chanyeol)

-Do Kyungsoo (Kyungsoo)

Genre: Family, Brothership, Friendship, School, Life.

Rating: General

Length: Chaptered

Note: BARU TAU KALO KAK OHMIJA UDA GA HIATUS LAGI YEAY!^^ udah baca Something Hidden [Their Childhood]? Kalau belum silahkan cari dikotak Search^^ NEW POSTER! COOL IS’NT IT?

Jangan malas membaca chapter sebelumnya:D

“aku terus bertanya mengapa, mengapa, dan mengapa. Rasanya aku ingin menyesali semua ini, sungguh. Tetapi… kau masih ibuku.”

 

=====Something Hidden by Sakuraa======

 

Previous chapter:

“kau tahu tentang itu kan?”

“tentang apa maksudmu?”

“tentang cerita masa lalu keluargaku…”

Sehun hanya diam.

“kau pikir aku peduli?” jawab Sehun sinis sambil mengambil paksa bola yang sedang di dribble oleh Kai.

 

 

“aku yakin kau tahu…” “tempo hari aku menemukan sebuah foto… apakah kau—”

“Aku selalu menyelesaikan masalahku sendirian, seharusnya kau juga menyelesaikan masalah mu sendiri, Kai.”

“itu rahasia keluargaku dan aku tak mengetahuinya…”

“kau masih punya banyak ruang dan waktu, Kai. tanpa harus menanyakan atau menceritakan tentang hal ini kesana-kemari, itu membuat semakin banyak orang yang mengetahui rahasia mu, bahkan sebelum kau mengetahuinya…”

dangsineun… joha-ae? (kau …menyukainya?)”

“ya. Aku menyukainya.”

“dan aku tak akan mau mengalah lagi dari mu, Kai.”

“Hei Sehun, kakiku masih lebam karena bermain basket bersamamu kemarin, kau harus bertanggung jawab.”

“ya, aku akan bertanggung jawab. Kau bisa mengalahkanku nanti.”

===============

 

 

“Baek, Dengar-dengar kau masuk nominasi murid kehormatan tahun ini.”

 

Baekhyun berhenti mengisi es batu, dan mengerutkan dahinya, ia menoleh kearah Sehun yang sedang bersandar didekat meja kasir. “Murid-apa?” Tanya nya lugu.

 

Sehun berdecak sambil mendengus, “Murid kehormatan. Kau tidak tahu ya? Itu penghargaan untuk siswa teladan.” Baekhyun hanya mengangguk pelan. ia masih 3 bulan disekolah ini, dan jujur ia baru tahu ada penghargaan seperti itu, walaupun sudah beberapa kali mendengarnya. Apakah mendapat medali? Piala mungkin? Atau piagam dengan atas nama dirinya tercetak dengan tinta disana? Apa untungnya?

 

“Baek-ssi, berikan bill ini untuk meja nomor 9 ya.”

 

Baekhyun mengangguk dan segera berisyarat pada Sehun, dan Sehun akhirnya kembali kedapur. Seorang pelayan seperti Baekhyun yang tampil didepan public harus berpakaian dan berparas rapi, maka dari itu ia merapikan topi dan kemejanya dihadapan cermin. Ia menerima nota itu dengan berjalan kemeja nomor 9 dengan laki-laki yang menghadap kearah jendela. Apa yang dia tunggu? Hujan sudah reda, hanya menyisakan rintik-rintik dari atap Café.

 

“permisi-Tuan… Kai?” Baekhyun membaca kembali bill yang ada ditangannya.

Kai tak begitu terkejut melihat Baekhyun disana dengan nampan berisi bill, karena ia sudah memperhatikan pria itu sedari tadi.

 

Baekhyun yang menyadari tak ada perubahan ekspresi dari Kai, ia hanya menunduk sambil menyodorkan nota itu.

 

Sett..

 

Baekhyun dan Kai sama-sama mengikuti pandang kearah selembar kertas yang jatuh dari dompet Kai.

 

Baekhyun melirik kepada Kai yang tak merespon apapun, dan segera membungkukkan badannya untuk mengambil kertas kekuning-kuningan itu sebelum sempat tahu apa isinya.

 

“H-hei!”Seketika Kai memekik dan menyambar foto ditangan Baekhyun sebelum Baekhyun melihat siapa yang tercetak difoto itu.

 

Baekhyun yang merasa lancang, ia menunduk, “maaf..” ia segera menerima uang dari Kai.

 

“ambil saja kembaliannya.” Kai mulai beranjak darisana tanpa menghiraukan tatapan Baekhyun.

 

“b-benarkah?” “Terimakasih!” pekiknya sebelum Kai benar-benar menghilang dari balik pintu.

 

 

Kenyataan besar sudah ada didepan mereka, sebuah tangan tinggal membaliknya, membalik sebuah hal mustahil menjadi mungkin, mereka tak pernah tahu rahasia yang terungkap dari foto itu bila Baekhyun melihatnya.

 

Takdir tak berpihak pada mereka berdua, atau.. takdir menyelamatkan mereka?

 

 

*

 

Sesampainya di asrama, Baekhyun teringat dengan surat dari Busan tempo hari, ia memandang surat itu lekat-lekat dan Sehun terlihat antusias ketika Baekhyun perlahan membuka amplop coklat muda itu, entah kenapa, aroma yang terkuar setelah surat itu dibentangkan, membuat Baekhyun rindu rumah, apalagi rindu ibunya.

 

“Hai jagoan, maafkan ibu karena cukup lama tak membalas suratmu, tentu saja ibu sangat merindukan mu Baek. Keadaan ibu baik-baik saja disini,…”

Baekhyun lega ketika pada kenyataannya ibunya baik-baik saja sekarang. Disurat itu ibunya juga bercerita tentang ia yang mulai bekerja di Supermarket, atau tetangganya yang juga merindukan Baekhyun, Florist bernama Taeyeon juga menanyakan kabar Baekhyun yang biasa mengantar bunga segar ke toko bunganya.

 

Entah sadar atau tidak, Sehun tersenyum hangat melihat Baekhyun yang membacakan seluruh isi suratnya. Ia merasakan bahwa ia juga ikut dalam daftar penerima surat itu.

 

Mereka terdiam ketika terdengar suara ketukan pintu dari luar, Baekhyun yang pertama beranjak dari kasurnya karena ia yakin itu pasti Minseok.

 

“aku ada tugas kelompok, kau tidur duluan saja, Sehun. Dan hei, jangan lupa kunci pintu dan menyabutnya, aku bawa cadangan kok.” Baekhyun segera menyambar tas dimeja belajarnya.

 

Sehun belum sempat mengatakan apapun hanya berdecak melihat Baekhyun sudah menghilang dibalik pintu, ‘sudah berani memerintah ternyata anak itu. Ckckck’

 

*

 

Tok tok tok..

 

Tanpa aba-aba Kai masuk kedalam ruang kerja ayahnya.

“Sore Ayah, aku pulang.” Sapa Kai sambil membungkukkan badannya, perhatiannya seketika tersita kearah pria berjas hitam rapi dengan sebuah Map coklat ditangannya. Pria itu terdiam walau Kai tadi sepertinya mendengarnya berbicara sesuatu.

 

Ayah Kai hanya mengangguk dan Kai perlahan kembali berjalan keluar dari ruangan kerja Ayahnya.

 

“jadi bagaimana?”

 

“dia masih tinggal disana, Tuan. bekerja disebuah Supermarket dan mengurus kebun kecil.” “ini foto yang aku ambil hari ini.”

 

Nafas Kai tertahan ketika ia menempelkan telinganya erat dengan daun pintu. ‘dia? Apa ada hubungannya dengan foto itu?’ Kai segera menjauh dari sana sebelum ia ketahuan dan berpura-pura tak mendengar apapun.

 

*

 

“jadi kau akan mengiringi Club paduan suara saat Carnaval nanti?”

 

Baekhyun mengangguk bersemangat. Ia ditunjuk oleh guru seni musiknya untuk mengiringi club paduan suara dengan piano, gurunya tahu bahwa Baekhyun adalah murid yang berbakat, ia bahkan ingin merekomendasikan Baekhyun untuk ikut clubnya jika Audisi Ekstrakulikuler untuk kelas 10 sudah dibuka.

 

Sehun mengangguk-angguk sambil meneguk lemon tea hangatnya, mereka kembali terdiam sambil menyantap makan siang mereka masing-masing, karena istirahat tak berlangsung selamanya.

 

“lagu apa yang—”

 

“boleh aku ikut bergabung?” sebelum selesai Sehun berbicara, seseorang langsung duduk disebelahnya sambil membawa makan siang. Sehun dan Baekhyun hanya saling tatap dan merasakan bahwa penjuru kantin siang itu sedang memandang mereka.

 

Baekhyun yang menyadari bahwa pria ini yang berbicara dilapangan waktu itu langsung berkata, “kau… yang waktu itu kan?”

“itu tandanya dia sedang marah besar, dia akan melampiaskannya dengan cara seperti itu, beradu fisik tanpa harus saling pukul-memukul. Dan sasarannya kali ini adalah Kai.”

“aku sudah mengenal Sehun sejak lama, aku mengenalnya dengan baik.” (See chapter 6)

 

Pria itu hanya tersenyum dan mengangguk,

“Kyungsoo, tumben sekali…?” Baekhyun mengingat baik-baik nama yang disebut oleh Sehun barusan. Namanya Kyungsoo.

 

Kyungsoo tersenyum seakan mengabaikan jika meja dikanan-kirinya sudah mulai berbisik tentangnya, siapa yang peduli?

Mungkin Kyungsoo tidak, tapi yang lainnya mungkin heran. Mereka bertiga, si Kingkas disekolah ini, sebut saja Kai, Chanyeol, dan Kyungsoo selalu bersama kekantin, duduk dimeja pojok yang berdekatan dengan hiasan pohon Sakura serta lampu diatasnya, membuat mereka bertiga terlihat sempurna walau hanya sedang menyantap makan siang.

 

“aku hanya ingin makan disini, Sehun.”

Sehun mulai berpikir jika yeah it’s okay, karena ia belum melihat Kai dan Chanyeol sedari tadi, dan mungkin Kyungsoo merasa sendiri.

 

Baekhyun mengulurkan tangannya ke Kyungsoo, dan Kyungsoo tertawa, Baekhyun kira ada yang salah dari dirinya yang hanya ingin berkenalan dengan Kyungsoo, dan Kyungsoo hanya membalas, “aku sudah tahu namamu, Byun Baekhyun. Teman asrama Sehun, benar?”

 

Tentu saja Kyungsoo tahu, Kai selalu melirik orang ini ketika mereka bertemu dan melihat Sehun sedang bersama Baekhyun, intinya, Kai iri dengan orang ini, oh ayolah. Akhiri omong kosong ini ‘aku membencinya’ atau ‘dia bukan sahabatku lagi’ ‘hei, Sehun sudah menuduh ayahku yang bukan-bukan, dia itu keterlaluan’, karena terdengar pengecut ketika kau tak menyadari perasaan satu sama lain.

 

Sehun lalu mengedikkan bahunya dan mulai menyantap makan siangnya. “kau masih menyisihkan brokoli mu?” Kyungsoo melirik kepiring Sehun, ada banyak porsi brokoli disana.

 

Ia memutar bola matanya, “tentu saja. Memandangnya aku bahkan ingin muntah.”

 

“kau tidak berubah Sehun, kau ingat insiden Power Ranger?”

 

Baekhyun menyahut, “Power… Ranger?”

 

Sehun berisyarat untuk tidak mengungkit-ungkit hal konyol itu tetapi dengan liciknya Kyungsoo menceritakannya, “waktu kami masih kecil, Sehun pernah muntah-muntah dahsyat karena memaksakan diri makan Brokoli, orangtuanya sudah berjanji membelikan robot Power ranger yang waktu itu harganya selangit.”

 

Sehun melirik Kyungsoo sinis. “Iya iya, aku ingat. Ya ampun itu mainan sangat mahal dan aku sangat menginginkannya.”

 

“dan setelah itu, akhirnya Ayahmu membelikannya untukmu karena kasihan melihat wajah mu berubah menjadi hijau pucat, seperti… Hulk? hii ngeri.” Kyungsoo merinding diakhir kalimat, dan mereka tertawa.

 

Wajah Sehun seketika berubah murung ketika Kyungsoo mengingatkannya pada Ayahnya. Kyungsoo dan Baekhyun akhirnya berhenti tertawa dan saling tatap, semua orang didekat Sehun selalu setengah mati menahan untuk tidak membahas tentang ayahnya. mereka hanya diam sambil mengunyah makanannya sebelum seorang pria dengan seenak jidat duduk dimeja mereka.

 

Ia tersenyum licik, memandang Baekhyun lekat-lekat seperti mengejeknya, “Hei Baekhyun, sebenarnya… kau itu anak siapa sih?”

 

Baekhyun meletakkan sendok ke piring makannya. “apa maksudmu, Hyuk?”

 

Minhyuk mengedarkan pandang kesekelilingnya dan memajukan tubuhnya kehadapan Baekhyun.

“aku dengar… kau masuk kesini karena koneksi, apa itu benar? Apa keluargamu kerabat dekat dengan Ayahnya Kai, ketua Yayasan ini?”

 

“aku tak mengerti sama sekali maksudmu.” Balas Baekhyun. Yatuhan, orang ini mampu membuat seisi kantin siang itu sukses menatap kearahnya dan mungkin sudah mulai berbisik-bisik tentangnya.

 

“oh ayolah. murid beasiswa? karena koneksi. Ckckck. Buruk sekali.”

 

 

Brakk

 

Sehun mulai geram dan membanting sumpit nya, ia bangkit dan menyambar mangkok ramen milik Kyungsoo, “tutup mulutmu sebelum aku menumpahkan kuah panasnya pada wajahmu!”

 

Minhyuk yang tak mampu lepas dari cengkraman tangan Sehun hanya menoleh takut kearahnya, “Ugh, S-Sehun, easy Sehun. Jangan arogan.”

 

Sehun perlahan melepas cengkeramannya pada lengan Minhyuk, ia tahu siapa yang menyebar rumor seperti ini, siapa lagi kalau bukan Kai. Ia segera meninggalkan kantin tanpa mendengar teriakan Baekhyun dan Kyungsoo yang mencegahnya.

 

*

 

Sehun berjalan menuju kelas Kai. Nafasnya naik-turun tak stabil, tangannya mengepal disebelah badan, ia tak peduli berapa orang yang sudah ia tabrak karena waktu itu memang jam istirahat. Ia melihat Kai dari kejauhan sedang tertawa dengan Chanyeol sebelum ia datang dan langsung mencengkeram kerah kemeja Kai, dan langsung memukul pipi kanan Kai, lalu memojokkannya didinding tanpa adanya balasan karena itu semua terjadi tiba-tiba.

 

Kai meraba hawa panas disekitar pipinya, kemudian balik mencengkeram kerah Sehun. “Apa-apaan kau ini!”

 

“kau… aku sudah memperingatkan mu untuk tidak menganggu Baekhyun, kau melanggarnya? Kau benar-benar ingin aku mematahkan kakimu lebih parah daripada saat kita bermain basket waktu itu?”

 

Kai mendorong tubuh Sehun tanpa melepaskan cengkramannya, melepaskan punggung Kai dari dinding.

“apa yang kau tahu tentang Baekhyun hingga kau membela nya seperti ini, huh?” Kai menghempaskan punggung Sehun hingga menabrak balkon.

 

Chanyeol dengan sigap berniat memisahkan mereka berdua, mereka tidak tahu bagaimana jadinya jika ketahuan guru. “hei kalian hentikan…”

 

Kai mengabaikan Chanyeol dan mendesis tepat dihadapan Sehun, “aku tidak mengerti maksudmu, Sehun. aku memang iri dengan Baekhyun, tetapi aku tak punya waktu untuk mencari tahu kehidupannya, Sehun. Bukankah kau berkata padaku bahwa seharusnya aku tak punya waktu untuk mengomentari kehidupan orang lain?”

 

Sehun mencibir dan membuang muka, “oh ya? Sejak kapan kau mendengarkan nasihat orang lain? lalu siapa yang menyebarkan rumor jika Baekhyun masuk kesini karena koneksi selain kau? Bukankah kau membencinya?”

 

“Rumor? Koneksi? Aku tidak—”

 

“Hei! Siapa yang berkelahi!” mendengar suaranya, Sehun dan Kai segera melepaskan cengkeraman mereka masing-masing.

 

Kyungsoo dan Baekhyun tiba disana, dan terlambat. Sudah ada beberapa guru, dan mereka tahu akan dibawa kemana murid-murid yang berkelahi.

 

*

 

Mereka keluar dari ruang Konseling pukul 2 siang. Tanpa sebab yang jelas Kai tersenyum miring memandang Sehun,

“dengar ya, mulutku tidak kampungan seperti yang kau pikir. Aku bukan type penyebar gossip seperti itu.”

 

“karena orang yang paling bisa dituduh itu kau.” Sehun memasukkan tangan kedalam saku blazzernya. Kepalanya mendongak tinggi, tatapannya lurus tajam kedepan.

 

Kai terenyum miring dan bergumam sambil tangannya meraba pipi kanan yang lebam karena pukulan Sehun. “kau harus membayar lebam dipipiku ini. Rasa nya sakit sekali.”

Tidak ada jawaban, Kai membuka suara kembali, “ckckck, kau tetap arogan ya? Aku tahu Baekhyun sekarang sahabatmu, tapi kau tak perlu membelanya seperti itu, kecuali… dia lemah.”

 

Sehun menyahut, “kau tanya kenapa?” kali ini gantian Sehun yang tersenyum angkuh,

“karena kau akan menyesal.” Desisnya, dan ia berjalan mendahului Kai yang membeku ditengah-tengah koridor.

 

*

 

Sudah lebih dari 10 kali sejak satu jam yang lalu Baekhyun menguap. Tidak heran karena kemarin, Ia bekerja dicafe hingga larut, dan belajar diperpustakaan sekolah jam 6 pagi untuk tes penilaian akhir bulan. Ia sudah minum beberapa gelas kopi, dan ia menghentikannya di gelas ke-3 karena merasa perutnya mual dan mulutnya terasa sangat pahit.

 

Teori computer oleh Mr. Lee saja tidak terlalu menancap diotak Baekhyun, menulisnya saja tidak, padahal biasanya Baekhyun adalah murid yang amat rajin dalam soal mencatat, tetapi kali ini ia merasa enggan dan ingin sekali mengakhiri jam ini karena teori tentang software, motherboard, atau apapun itu terdengar membosankan saat ini.

 

Begitu juga dengan Kai. Ia juga memiliki jadwal yang sama kali ini dengan Baekhyun, tetapi biasanya ia lebih memilih menghiraukan anak itu yang duduk dibangku nomor 2 sebelah barat, tetapi kali ini? Gerak-gerik Baekhyun membuatnya antusias.

 

Apalagi luka lebam itu masih terasa ngilu dipipinya, dan itu terjadi karena Sehun membela anak ini.

Ia mulai berpikir random seperti, ‘tsk, apa dia begadang? Bermain video game sampai larut malam, menonton bola? atau bagaimana?’ gumam Kai dalam hati. Menatap Baekhyun dengan tatapan mengejek.

 

Aku beritahu padamu jika guru ini killer, ketika ia berbicara dan satu orang menarik perhatiannya, ia tak segan-segan melakukan hal yang tak terduga. Contohnya?

 

Happ

 

Seketika Baekhyun terbatuk-batuk dan menyadari ia hampir menelan sesuatu yang tiba-tiba saja masuk kedalam mulutnya saat ia menguap ke 18 kalinya. Jelas saja semuanya tertawa karena guru itu melempar kapur putihnya dan masuk tepat dimulut Baekhyun.

 

“Wow! Nice shoot!”

 

“head shoot? ahahaha”

 

“bisa direka ulang? Aku tidak melihatnya!”

 

“ahahahaa!”

 

Dan beberapa komentar dari teman-temannya yang membuat Baekhyun semakian malu dan bangkit berniat mengembalikan kapur yang hampir ia telan itu kedepan kelas. Ia masih bisa merasakan pahit-pahit serbuk kapur yang tertinggal dimulutnya.

 

Mr. Lee berdecak sambil merapikan kacamatanya, “Sudah puas menguap nya, Byun Baekhyun? Silahkan. Lanjutkan. DILUAR!” bentak guru itu membuat Baekhyun terlonjak seketika.

 

Yeah, mau tidak mau Baekhyun harus berjalan keluar kelas dan berdiri disana, menunggu jam Mr. Lee selesai yang artinya masih 1 jam lagi. Poor Baekhyun.

 

“oke baiklah, bisa kita lihat disana ada beberapa port—“

Suasana kembali tenang setelah guru itu berdeham dan melanjutkan pembelajaran.

 

Tiba-tiba saja Kai mengingat kalimat yang pernah dilontarkan oleh Sehun waktu lalu.

“tidak sepertimu, dia berusaha keras untuk masuk kesekolah ini”

 

 

Dan ia tersenyum miring sambil bergumam, ‘mungkin dia memang tidak cocok untuk berada disini.’

 

*

 

Mereka semua digiring kegedung olahraga tepat setelah terdengar pengumuman akan adanya pemberian penghargaan untuk murid kehormatan. Mereka semua mulai menebak-nebak siapa 10 orang disekolah mereka yang berhasil mendapat penghargaan itu? Tidak terlalu penting memang, tak ada hadiah uang, atau medali, tetapi setidaknya penambahan skor untuk penilaian Ujian akhir semester nanti.

 

Tak lama, seorang wanita paruh baya naik kepodium dengan kertas ditangannya, ia mulai menyebutkan salam, sambutan, dan nama-nama murid yang tak asing mereka dengar karena memang sudah beberapa kali menyabet penghargaan berupa apresiasi itu.

“Murid kehormatan nomer empat Baek Su min, nomer tiga, Byun Baekhyun, nomer dua, Jung Soojung, dan pertama, ketua OSIS kita, Kim Junmyeon.. Selamat.”

 

Disana, seorang pria menghembuskan nafas berat, ia tersenyum kecut, apalagi mendengar seorang senior yang berdiri disebelahnya sedang bergumam, “Wow, hebat Baekhyun. Jarang sekali murid kelas 1 sudah mendapat penghargaan murid kehormatan.”

 

Ia semakin muak. “Apa pentingnya perhargaan seperti itu?” ucapnya sambil membuang muka,

 

“Kau terlihat tidak suka, Kai.” Chanyeol merangkul pundak Kai, dan ia rasa tebakannya akurat.

 

Kai hanya tersenyum miring sambil mengalihkan pandang kearah podium tempat Baekhyun berdiri saat ini. “Sehun membuat luka dipipi ini karena anak naïf itu. Aku penasaran, siapa dia.”

 

*

 

“sudah kubilang, kau dapat penghargaan itu.”

 

Baekhyun terkejut karena Sehun tiba-tiba merangkul pundaknya, “kau seharusnya tidak berlebihan, Sehun. Apa mereka menghukummu?”

 

Sehun tertawa, “oh ayolah. Siapa yang berani menghukum anak ketua Yayasan ini?”

Walaupun dibenak Sehun masih bertanya-tanya, Apa… Presiden Kim memang sengaja memasukkan Baekhyun ke sekolah ini?

 

Krakk,

 

Sehun dan Baekhyun berhenti dilorong asrama, Sehun melirik tas ranselnya dan menggerutu, “aissh, aku harus menjahitkan tas ini lagi!”

Baekhyun tertawa dengan polosnya melihat sobekan besar dan terlihat buku-buku Sehun darisana. “padahal menjahitkan saja tidak murah.” Omel Sehun sambil melepas tasnya dan memilih membawanya dengan kedua tangan.

Mungkin dulu Sehun bisa menggonta-ganti tas sesuka hatinya, bisa bergonta-ganti sepatu dengan brand terkenal, apalagi hal yang disukai Sehun selain dance adalah fashion, suka mengikuti setiap trend terbaru.

 

Tapi sekarang semuanya sudah berbeda.

 

“oh ya, jam 5 nanti aku harus kembali untuk berlatih dengan Club paduan suara.” Ucap Baekhyun yang akhirnya buka suara.

 

Sehun mengangguk. “baiklah, aku juga ada shift di Café sore ini.”

 

*

 

Sehun berhenti didepan gerbang rumah sederhana diujung jalan. Ia menatap rumah itu nanar dan meraba besi-besi berkarat sebagai penyangga gerbang tua itu.

‘tidak dikunci?’ Sehun bebas masuk kedalam rumah itu begitu saja, ia sebenarnya enggan kembali kerumah ini, tetapi ia meninggalkan laptopnya disini, dan ia berjanji akan meminjamkannya pada Baekhyun.

 

Ia tak heran perabot seperti sofa, meja, lukisan, lampu berdiri, terlihat berantakan dan tak semestinya, walau ia tahu ada penghuni yang menempati rumah ini. Sehun hanya berpikir bagaimana bisa penghuni itu tinggal dirumah seperti ini?

 

Sehun melongokkan kepalanya kedalam kamar tidur paling dekat dengan ruang tamu, ia melihat wanita separuh baya sedang duduk disana dengan kertas-kertas kerja miliknya, wanita itu juga membiarkan TV tetap menyala disana.

 

“sejak kapan ada rokok dirumah ini?” Sehun menyambar setengah putung rokok ditangan wanita paruh baya itu dan menginjaknya hingga mati. Ia mengibas-ngibaskan tangannya diudara karena ia sangat benci bau rokok.

 

Wanita itu memandang Sehun, Sehun lebih tidak tega lagi melihat ibunya berpenampilan berantakan seperti orang frustasi. “h-hei S-Sehun? Kau kembali? Ah.. aku hanya sedang banyak pikiran akhir-akhir ini.”

 

“lebih baik kau istirahat… eomma.

Sehun merasa lidahnya terasa kaku ketika kata terakhir terucap, seakan ia sudah tak mengucapkan kata itu lebih dari setengah hidupya. Ia tahu ibunya sedang setengah mabuk, ia membereskan kertas-kertas dihadapan wanita itu dan menuntunnya kekamar. Wanita itu terlihat pasrah karena memang ia sudah setengah sadar.

 

Sehun dengan telaten melepas high heels yang masih melekat dikaki wanita itu, membaringkannya keatas kasur sambil menyelimutinya, ia sedikit terisak ketika tangannya mengelus puncak kepala ibunya yang sudah tertidur.

Dulu, ia ingat tangan ibunya yang selalu menepuk-nepuk pundak Sehun sambil menyenandungkan nada-nada yang Sehun ingat sampai saat ini.

Dulu, ia ingat bagaimana ibunya memperlakukan Sehun dan kakaknya, Luhan, dengan adil. Walaupun sebelumnya ibunya selalu pulang larut malam ketika ia sudah tertidur. Walau sebenarnya tidak, Sehun selalu menunggu ibunya masuk kekamar untuk mengecek keadaannya.

 

Tetapi beberapa bulan terakhir, Mengapa Hyungnya pergi dari rumah? Karena semua itu bukan akhir, tetapi awal. Mengapa bisnis ayahnya gagal? Mengapa ayahnya disebut penipu oleh semua orang? Mengapa ibunya menjadi orang frustasi? Mengapa ia harus hidup diasrama kecil yang diperuntukkan bagi anak beasiswa? Mengapa ia harus bekerja paruh waktu hingga larut malam untuk menambah uang sakunya? Mengapa dan mengapa…

 

Sehun menunduk dan kembali terisak, “mengapa keluargaku hancur?” tetapi sesaat ia menyesal, mengapa ia menangis? ayahnya selalu berkata bahwa laki-laki tak boleh menangis atau dia akan terlihat lemah.

.

.

.

Seseorang menyibak gorden jendela, cahaya matahari pagi langsung merambat kedalam kamar itu, membuat wanita yang terbaring disana mulai bergerak. “aih, kepalaku sangat pening, dan aku lupa membersihkan make-up..” keluhnya.

 

Sehun berjalan mendekati kasur ibunya dan membawa ramen untuk sarapan. “sebaiknya kau istirahat. Makanlah, dan minum obat.” Sehun menunjuk ramen yang ia letakkan dimeja dengan dagunya. “aku harus kembali kesekolah.”

 

Tanpa pikir panjang, sebuah tangan menahan lengan Sehun dan membuatnya kembali berbalik, “maaf, Sehun. Maaf untuk semuanya…” Sehun menghembuskan nafas berat dan menurunkan tangan itu untuk menjauh dari lengannya. Ia enggan membahas hal ini, sungguh.

 

Sehun tersenyum miris kearah ibunya yang menatapnya sendu, Sehun baru benar-benar menyadari ada kantung mata yang mulai menghitam disana, ada kerutan dipipinya, “aku terus bertanya mengapa, mengapa, dan mengapa. Rasanya aku ingin menyesali semua ini, sungguh. Tetapi… kau masih ibuku.”

 

Wanita itu meneteskan air matanya, tak tahan dengan setiap ucapan Sehun yang seakan menusuknya dengan jarum-jarum tak kasat mata. “ini terlalu tiba-tiba bagiku, eomma. Hidupku sulit, aku harus bekerja hingga larut untuk mencukupi kebutuhanku, aku mengambil Student Loan agar semua tagihan sekolah aku bayar diakhir kelulusan nanti, aku tinggal di 1 kamar asrama, yang diisi dengan 2 orang, datang kerumah ini saja aku harus jalan kaki.”

 

Sehun mengakhiri kalimatnya dan segera berbalik, tetapi suara parau itu membuatnya berhenti.

“apa… kau belum bisa menerimanya?” ibunya bertanya.

 

Sehun mematung. Ibunya bisa mengambil kesimpulan dari segala ucapan Sehun, jawabannya, ya. Tentu saja. Hidup 16 tahun bersama semua yang melebihkan, yang mencukupkan, yang memenuhi kehidupan Sehun, yang memaksanya tinggal didunia orang dewasa, dan ketika ia mulai mengenal itu semua, dunia itu keburu hilang.

.

.

.

.

.

*

(Coming soon in the next chapter!)

 

“jika aku masuk kesekolah ini bukan sesuai prosuder, ya itu salah.”

 

“Kau tahu murid sepertimu sangat susah meminta beasiswa dari sekolah mereka, jika jalanmu dipermudah disekolah ini, mengapa tidak? jalani saja permainannya.”

*

‘Berhenti membenci, dan mengeluh, mulailah mensyukuri, Sehun.’

*

“Kim Kai… kau bisa berkelompok dengan Oh Sehun untuk presentasi laporan karya ilmiah.”

 

“apa?!”

 

(See more in chapter 9!)

 

A/N: Hai guys!^^ duh chapter ini super panjang omg-_- tapi nggak papa kan?^^ buktinya kalian scroll+baca sampai bawah sini, kekeke😀

 

Maafkeun ya rara bener-bener gatau blog kak ohmija ini uda jalan lagi, padahal aku uda kirim email sih tapi mungkin gamasuk yah, wkwk ada yang nungguin gasih? Ada yang uda lupa-lupa inget gitu gasih? Hahah bakalan aku post terus selama kak ohmija ga hiatus huhu

 

Ps; 10 KOMENTAR FOR NEW CHAPTER????

 

@_raraa84

10 thoughts on “Something Hidden Part 8

  1. loveyourself303 berkata:

    Nampaknya saya kna mula kan mmbaca balik ff nie… jd lupa bgaimn jalan ceritanya… hehehhe… smpat bigung td bgimn sehun bisa jd misikin… hehehe…ditunggu lanjutnya author…!

  2. Aya aya berkata:

    Eeee agk lupa sih ma jln crtanya hehehe maka nya ay baca dari awal chpater dri pgi tdi loo . . Baru aja kelar hehehe next nya ttp ditunguuuuuu looooooo

  3. Lufriend berkata:

    akhirnya ini ff d lanjut
    tapi udh agak lupa sama jalan ceritanya. ini pertama kalinya aku komentar disini. tapi jujur, aku suka ff ini. terutama karna cast nya KaiHun. di tunggu ya next chap nya. fighting!🙂

  4. Yaya berkata:

    Baru baca ni ff,mian gak bca dri chap awal😆
    Sedikit ssah cri ff exo yg menarik…tp ini ff bagus…
    Sehun&Kai aq g tahu apa hubungan mereka tadinya krna g bca dri awal jd g tahu apa2.
    Tp ini menarik Sehun,Kai,Baekhyun,Xiumin,D.O,Chanyeol…
    Apa nntinya semua mber Exo akan ada?

  5. haphap berkata:

    Hwahhhh akhirnya lanjut jg ni ff , ini salah satu ff yg paling aku tunggu kelanjutannya . Agak lupa sih sama chapter” sebelumnya . Tp ini keren bgt ,paling suka kalok cast nya ada sehun 😍 . Udah enggak sabar nunggu kelanjutannya ,kaihun satu kelompok kan enggak sabar liat gmn mereka jadinya .

  6. Novaa berkata:

    Aku baru baca ff ini kemaren lusa sampe hari inii
    Langsung dari part 1 sampe 8 nihh, ceritanya bagus koo apalagi kalo cast nya sehun sama kai hehe
    Semangat terus lanjitin ff nya !!!🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s