Who Are You ? (Chapter 4)

untitled2

Tittle : Who Are You?

Author : Park Rami [@Ohxodus]

Genre : Brothership, a little bit Crime/Thriller, and Comedy

Main Cast :

  • Oh Sehun a.k.a Byun Sehun
  • Oh sehun a.k.a Oh Sehwan
  • Byun Baekhyun a.k.a Byun Baekhyun
  • And others,

Lenght : Chaptered

Disclaimer : Baekhyun and Sehun belong to God, SM Entertaiment, and their parents. This Fanfiction belongs to me and real my imagination.

Happy reading^^

Chapter 4 : In Flashback

Sehun memasuki kamarnya dan langsung menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur tanpa melepaskan seragamnya terlebih dahulu. Seharusnya ia pulang sore tetapi karena guru pengajar mereka mengadakan rapat jadinya mereka semua di pulangkan lebih awal. Sehun melirik jam tangannya sejenak, “Hhh…. masih jam 11.”

Sehun berpikir untuk tidur sejenak walaupun ini masih belum tengah hari, lagipula Baekhyun juga belum pulang dari kuliahnya. Tetapi baru beberapa detik Sehun menutup kelopak matanya, dia kembali membuka kedua matanya. Sehun mengambil ponselnya dan mengirimi hyungnya pesan.

To : Baekhyun Hyung

Hyung, hari ini kau pulang jam berapa?’

Sehun terus menatap layar ponselnya menunggu balasan dari hyungnya itu dan tak lama kemudian Baekhyun pun membalas pesannya.

To : Sehun

‘Aku sebentar lagi pulang karena hari ini aku hanya ada kelas pagi, senangnya ^.^’

Sehun hanya menggeleng dan berdecak pelan dengan kelakuan kyungnya, “Ck ck ck, bahkan dia mengekspresikan kebahagiaannya lewat pesan.”

Setelah itu keadaan kembali menjadi hening.

“Membosankan,” gumamnya dan kemudian menghampiri meja belajarnya, disana terdapat foto dirinya dan Baekhyun dan juga terdapat foto mereka berdua bersama orang tua mereka, mereka semua tersenyum bahagia. Sehun mengambil foto keluarga tersebut, “Appa, Eomma, Hyung, dan aku.”

Sehun menatap sendu foto itu, ia jadi ingat pertama kali dirinya menjadi bagian dari keluarga Byun.

 

Flashback

Sehun duduk di ayunan seorang diri. Kemudian seorang gadis kecil menghampirinya, “Sehun-ah ayo kita main bersama?”

Sehun hanya menggeleng tanda ia tidak setuju. Gadis kecil itu hanya cemberut dan kembali bermain bersama teman-temannya yang lain. Tidak lama kemudian, Bibi Kwon si pemilik panti asuhan menghampiri Sehun dan berjongkok di hadapannya.

“Sehun-ah ikut Ahjumma ne? Ada kabar gembira untuk Sehunie,” kata Kwon Ahjumma dengan senyum manisnya. Sehun hanya menurut dan mengikuti Kwon Ahjumma. Wanita yang sudah berumur itu menatap sedih Sehun, anak ini selalu memilih menyendiri sejak kematian saudaranya daripada bermain bersama teman-temannya. Dengan hati-hati dia menggenggam tangan mungil itu erat.

Mereka berdua pun tiba di depan kantor panti asuhan dan masuk kedalamnya. Di dalam kantor sudah ada sepasang suami istri yang menunggu mereka berdua.

“Sehunie, perkenalkan mereka Ny. Byun dan Tn. Byun,” kata Kwon Ahjumma mengawali.

“Annyeonghaseyo Oh Sehun imnida,” kata Sehun memperkenalkan diri sambil membungkuk sopan.

“Annyeonghaseyo Sehunie,” sapa balik Ny. Byun lembut.

Sehun keluar dari mobil milik keluarga Byun. Ny. Byun langsung menggandeng tangan Sehun dan berjalan mengikuti Tn. Byun menuju kedalam rumah yang didominasi warna putih dan terdapat taman serta kolam kecil, membuat rumah tersebut tampak elegant dan sejuk.

“Nah sekarang Sehun adalah bagian keluarga Byun,” ucap Ny. Byun pada Sehun.

“Oh iya, kau akan bertemu dengan kakakmu,” kali ini giliran Tn. Byun yang berbicara.

“Hyung?” tanya Sehun.

“Ne, kajja Eomma antar ke kamar hyungmu. Mereka berdua pun menaiki lantai atas untuk menuju kamar Baekhyun. Setelah sampai Eomma pun mengetuk pintu kamar bercat abu-abu yang bertuliskan ‘Kamar Byun Baekhyun’

“Baekhyunie, boleh Eomma masuk?”

“Ne!” terdengar suara anak kecil dari dalam. Sehun sendiri menjadi deg-degan, entah kenapa mungkin dia akan melihat sosok seorang hyung lagi.

“Omo! Kotor sekali kamarmu!” Ny. Byun terkejut sambil menatap cemas kamar anaknya.

Baekhyun sendiri tidak mendengarkan perkataan Eommanya dan langsung berlari ke arah Sehun. “Brother!” sapa Baekhyun riang dan langsung memeluk Sehun.

Sehun yang mendapat pelukan dari Baekhyun langsung teringat kakaknya Sehwan dan tanpa sadar meneteskan air matanya, “Hyung?”

“Ne aku hyungmu, Baekhyun hyung,” kata Baekhyun sambil menatap mata Sehun, “Dan kau dongsaengku, Byun Sehun.”

Ny. Byun menghampiri mereka berdua dan membawa kedua tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. “Byun Baekhyun dan Byun Sehun adalah saudara, Baekhyunie adalah hyung dan Sehunie adalah dongsaeng.”

Flashback End

 

Tanpa Sehun sadari air matanya menetes satu persatu, mereka begitu menyayangi dirinya hingga dia tidak merasakan kesepian lagi karena ditinggal oleh kakak kandungnya. Kemudian Sehun menatap kalung berbentuk angin tornado di lehernya, “Hyung bogoshipo.” Sehun menangis sejadi-jadinya, dadanya terasa sesak jadi ia tak kuasa menahan tangisnya. Potongan-potongan tentang ingatan masa lalunya kembali menari-nari di otaknya. Sehun meremas rambutnya kuat-kuat.

Tiba-tiba Sehun jadi teringat saat Sehwan memberikan kalung ini padanya, saat mereka masih kanak-kanak dulu.

 

“Sehun-ah ini hadiah dariku untukmu,” Sehwan kecil memberikan sebuah kotak kecil pada Sehun kecil. “Hadiah?” tanya Sehun bingung, kemudian tanpa bertanya-tanya lagi ia segera membuka kotak itu dan seketika matanya berbinar-binar. Sebuah kalung dengan bandul berbentuk angin tornado.

“Hehehe mungkin itu tidak bagus tapi aku menabung agar bisa membelikanmu kalung itu,” ucap Sehwan sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Sehun langsung berhambur memeluk Sehwan, “Gomawo hyung, Sehun sangat suka hadiahnya.” Sehwan kecil tersenyum senang begitupun dengan Sehun kecil.

 

“Kenapa kau meninggalkanku hyung? kenapa kau meninggal?” Sehun bertanya pada dirinya sendiri sambil menggenggam kuat-kuat kalungnya.

 

=><=

 

Baekhyun berjalan menuju perpustakaan dengan persaan sedikit kesal, yah dia tidak sepenuhnya kesal. Dia kesal kepada Chanyeol karena tidak mau menemaninya ke perpustakaan.

“Huh! Dasar tiang listrik pemalas! Menyebalkan! Park Yoda menyebalkan! Hahaha benar-benar dia yah, benar-benar Park Yoda,” Baekhyun terus mengoceh tentang Chanyeol tanpa henti hingga akhirnya ia tak sadar sudah sampai di perpustakaan.

“Huh jika saja Saem killer itu tidak memberi tugas menyebalkan seperti ini pasti aku tidak akan bersusah payah datang ke perpustakaan!” Baekhyun menggerutu tanpa henti sambil terus mencari buku yang diperlukannya. Ayolah Byun Baekhyun kau hanya perlu berjalan dan menaiki 1 lantai saja agar bisa sampai di perpustakaan, lagipula ke perpustakaan itu tidak perlu melewati hutan rimba ataupun menyebrangi sungai Nil.

“Jika saja tinggi badanku sama seperti Chanyeol pasti akan lebih mudah mengambil buku yang sialnya sangat tinggi ini!” sekali lagi Baekhyun menggerutu dan terus berusaha menggapai buku sejarah yang terletak di rak atas yang tidak bisa dijangkau Baekhyun. Tetapi kemudian tangan seseorang sudah mengambil buku itu, Baekhyun baru saja akan memprotes karena ia kira orang itu akan mengambil bukunya tapi ternyata orang itu mengambilkan untuknya.

Baekhyun berbalik ingin mengucapkan terimakasih tetapi orang itu tidak ada, “Kemana dia? Hmmm… keundae… eoh? Ige mwoya?” Baekhyun penasaran dengan secarik kertas yang ditempel di buku sejarahnya.

“Aku dekat denganmu, aku akan segera menangkapmu,” Baekhyun membacanya dan seketika juga tubuhnya menegang, “Apa dia ada disini?” tanyanya ketakutan.

Di lain sisi Sehwan berjalan santai di koridor dengan wajah stoicnya, “Aku sudah menjadwalnya dia akan pulang setelah kelas pagi.” Sehwan berucap sambil memikirkan kembali rencananya yang akan dia lakukan pada seorang Byun Baekhyun.

 

[Skip time]

 

Baekhyun membereskan bukunya dengan terburu-buru, dia ingin cepat pulang hari ini. Chanyeol yang di sebelah Baekhyun terheran-heran dengan sikap Baekhyun.

“Ya Baekhyun kenapa terburu-buru?” tanya Chanyeol.

“Aku ada urusan,” Baekhyun menjawab cepat tanpa menoleh ke arah Chanyeol.

Urusan? Itulah dipikiran Chanyeol, dia masih bingung dengan Baekhyun. Kemudian Chanyeol hendak bertanya pada Baekhyun tapi dia sudah berlari keluar kelas.

Baekhyun menuju ke arah mobilnya tapi saat ia ingin membuka pintu mobilnya ia tersadar bahwa ban mobilnya bocor bahkan keempat-empatnya padahal ban mobilnya baru ia ganti sebulan yang lalu.

“Ya Tuhan, dia benar-benar mengawasiku,” Baekhyun cemas dan segera meninggalkan mobilnya begitu saja, kali ini yang terpenting ia harus cepat pulang ke rumahnya dan urusan mobil ia akan urus nanti lagipula keamanan di Universitasnya ketat jadi dia tak perlu khawatir tentang mobilnya.

“Taksi!” Baekhyun menghentikan taksi di hadapannya dan segera masuk, “Paman antarkan saya ke alamat XXX, kumohon cepat pak,” Baekhyun berkata dengan tergesa-gesa.

“Mengapa anda terburu-buru?” tanya sopir taksi tersebut dengan seringaiannya.

Ne?!” Baekhyun jadi semakin kaget, “Nuguya?!” Baekhyun baru sadar akan hal ini bahkan sopir taksi di depannya tidak menggunakan seragam sopir taksi biasanya. Sopir taksi di depannya memakai hoodie hitam yang menutupi kepalanya juga memakai topi serta memakai masker.

“Aku menangkapmu… Byun Baekhyun.”

Seketika juga Baekhyun merasa jiwanya sudah terbang entah kemana saat menyadari bahwa dirinya telah ditangkap oleh predatornya.

 

=><=

 

“Jongin-ah bisakah kau ke rumah? Aku kesepian, Baekhyun hyung belum pulang,” ucap Sehun lewat telepon, dia mengajak Jongin agar mau berkunjung ke rumahnya.

Geurae aku kesana,” Jongin mengiyakan permintaan Sehun. Sehun memutuskan sambungannya dan menatap jam dinding kamarnya, “Baekhyun hyung kemana sih, katanya dia akan pulang tapi mana, bahkan ini sudah lewat 20 menit.”

Kemudian bel rumahnya berbunyi dan Sehun langsung menghampirinya, “Kajja!”

Sehun langsung menarik tangan Jongin dan membawa Jongin ke kamarnya.

“Wah~ bahkan disini sudah ada biskuit dan susu cokelat,” ucap Jongin dan langsung menghampiri makanan tersebut. Sehun melirik Jongin dan berkata, “Maka dari itu jika kau tak datang mampus kau!”

Jongin mendengus geli dan menghampiri Sehun, “Ngomong-ngomong kenapa Baekhyun hyung belum pulang ini sudah siang loh.”

Nan molla, mungkin dia masih bersama temannya,” Sehun mengangkat bahunya lesu.

“Sudah menghubunginya?” tanya Jongin memastikan.

“Hanya sekali setelah itu tidak,” Sehun menjawab, dia memang menghubunginya sekali, itupun beberapa jam yang lalu saat ia menanyakan kapan Baekhyun akan pulang.

“Kalau begitu hubungi lagi!” Jongin memukul kepala Sehun dengan biskuit di tangannya. “Arraseo,” Sehun mendelik kesal ke arah Jongin lalu mulai menghubungi Baekhyun, “Ige Mwo? Baekhyun hyung tak menjawab teleponku.”

“Hubungi lagi jangan menyerah,” ucap Jongin lagi.

 

[In Baekhyun place]

Baekhyun terus berontak dan ingin mengambil ponselnya yang sejak tadi layarnya berkedip-kedip karena panggilan dari Sehun. Sehwan yang melihat Baekhyun tak bisa diam sejak tadi akhirnya menghampirinya.

“Bersabarlah, kau ini tidak sabaran tenang saja aku akan cepat membunuhmu,” Sehwan berucap santai sambil menatap keadaan Baekhyun yang tidak bisa dibilang baik. Sungguh, Baekhyun susah sekali untuk dibawa ke ruang bawah tanahnya bahkan untuk mengikatnya saja pun juga susah.

Baekhyun menatap Sehwan tajam. Sehwan yang ditatap seperti itu terkekeh kecil, “Wae? Kenapa menatapku seperti itu?”, “Ah.. aku lupa mulutmu ku lakban ternyata,” lanjutnya.

Kemudian Sehwan menarik lakban Baekhyun dengan perlahan tapi baru setengahnya terbuka Baekhyun sudah berteriak tepat di depan wajahnya, “LEPASKAN AKU BRENGSEK!” Sehwan pun mengurungkan niatnya, sehingga mulut Baekhyun kembali dilakban.

“Astaga, kau ini berisik sekali!” Sehwan berucap sambil menghusap wajahnya. “Oh iya, sejak tadi ponselmu berbunyi ada apa sih?” tanya Sehwan penasaran dan mengambil ponsel Baekhyun.

“Ada 15 panggilan tak terjawab eoh?” tanya Sehwan sambil menunjukkan layar ponsel tersebut kepada Baekhyun, “Yah pasti dia menghawatirkanmu, coba kulihat.”

“Byun Sehun?”

Baekhyun memalingkan wajahnya, jika memang benar Sehwan adalah kembaran Sehun maka ia tidak akan membiarkan Sehun bertemu Sehwan ia akan melindungi adiknya bagaimanapun caranya.

“Oh iya sebenarnya aku akan bercerita dulu sebelum membunuhmu,” ucap Sehwan dan mendekat ke arah Baekhyun. “Kau tahu sebelumnya aku terkejut saat mengetahui adikmu bernama Sehun,” Sehwan menatap Baekhyun begitu juga sebaliknya, “Adikku juga bernama Sehun, Oh Sehun adalah namanya.”

Dan saat itulah Baekhyun merasa dunia ini berputar-putar, jadi benar Sehwan kembarannya Sehun? Tapi mengapa waktu itu Sehun bercerita bahwa kembarannya sudah meninggal?

“Dia mengira bahwa aku meninggal tidak hanya dia sih tapi semua temanku. Tapi lihatlah aku masih hidup,” Sehwan melanjutkan ceritanya. Baekhyun mendengus dalam hati, baru saja ia menanyakannya dalam hati dan Sehwan sudah menjawabnya seakan-akan dia mengetahui pertanyaannya.

“Aku berusaha kabur dari dunia ini, bahkan saat aku masih kecil aku sudah dibimbing untuk menjadi pembunuh,” Sehwan berhenti sejenak, tatapannya berubah sendu. Baekhyun terhenyak melihat tatapan Sehwan berubah tapi ia segera menepis rasa ibanya bagaimanapun juga Sehwan adalah pembunuh.

‘Pembunuh tetaplah pembunuh, tangannya sudah ternodai darah.’ Baekhyun bergumam dalam hati.

“Waktu itu aku dan adikku Sehun bermain di panti asuhan dan kami terus bermain hingga tak sadar sudah berada di dekat sungai. Dan dari situlah awal kehidupan baruku… sejak insiden itu…”

 

Flashback

Seorang namja yang berumur sekitar 21 tahun nampak sibuk mengobati luka-luka yang terdapat di tubuh bocah yang sedari tadi masih belum sadar dari pingsannya. Setelah selesai, namja tersebut bergerak menuju dapur untuk membuatkan anak kecil itu makanan.

Sehwan, anak kecil itu yang masih pingsan akhirnya membuka kedua matanya dan mulai menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinanya.

“Kau sudah sadar rupanya?”

Sehwan yang merasa pertanyaan itu diajukan kepadanya menatap orang tak dikenal yang berjalan ke arahnya sambil membawa nampan berisi susu coklat dan bubur. “Nuguseyo?”

Orang itu tersenyum simpul dan meletakkan nampan itu di nakas. “Namaku Kim Woobin.” Sehwan mengangguk mengerti, “Apa hyung yang menyelamatkanku?”. Woobin hanya mengagguk mengiyakan. “Wah Jinjja?! Kamsahamnida,” ucap Sehwan dengan eyesmilenya.

Woobin yang meihat senyum anak itu hanya membalasnya dengan senyum simpul, “Masih terlalu cepat untuk berterima kasih.”

“Ne?” tanya Sehwan tak mengerti.

“Kau harus memenuhi satu permintaanku,” pinta Woobin dengan senyum tipis sekali bahkan terlihat seperti dia sedang tidak tersenyum.

“Apa permintaan hyung?” tanya Sehwan.

“Aku belum bisa memberitahumu,” kata Woobin yang membuat kepala Sehwan sedikit pening karena sejak tadi Wonbin bicaranya berputar-putar. “Jadi apa?” tanya Sehwan lagi.

“Sebelumnya kau pulihkan dulu tubuhmu,” kata Woobin lagi sambil menatap ke arah kaki Sehwan, Sehwan pun mengikuti arah pandangan Woobin dan terkejut melihat pergelangan kakinya diperban dan bahkan ia bisa merasakan terdapat gips di dalam balutan perban itu. Ketika ia mencoba untuk menggerakkan pergelangan kakinya, “AKH!” dirinya merasakan sakit yang luar biasa menjalari pergelangan kakinya, benar-benar ngilu.

Woobin yang melihat Sehwan menjerit kesakitan segera menyahut, “Bukankah sudah kukatakan bahwa kau harus memulihkan tubuhmu terutama kakimu.”

Sehwan hanya terus meringis kesakitan dan tidak bisa berbuat apa-apa. “Tulang pergelangan kakimu ada yang retak, mungkin saat tenggelam di sungai kakimu terbentur,” Woobin menjelaskan.

“Tapi aku harus pulang, saudaraku dan teman-temanku pasti menghawatirkanku,” kata Sehwan sambil mencoba menahan tangisnya. Tanpa berkata apa-apa lagi Woobin langsung keluar dari kamar luas itu tanpa mengucapkan sepatah katapun dan menutup pintu kamar tersebut. Lagipula Sehwan tidak akan bisa melarikan diri dari sini, karena sudah banyak orang suruhan Woobin yang menjaga markas ini.

 

[Keesokan harinya]

Sehwan tetap terdiam di ranjang. Dia pernah mencoba berjalan tapi hasilnya ia malah jatuh terjerembab dan malah membuat kakinya menjadi lebih parah. Tiba-tiba pintu terbuka menampakkan seorang namja muda yang nampaknya seumuran anak SMP membawa nampan berisi makanan.

“Cepatlah makan, kau mau sembuh kan,” katanya sedangkan Sehwan hanya menatap makanan itu tak minat.

“Aku masih mengingatnya saat aku menemukanmu tergeletak di lantai,” katanya lagi. “Jangan meledekku!” sahut Sehwan tak terima.

“Sebenarnya kau dan aku itu sama.” Sehwan yang mendengar penuturan anak itu tidak mengerti, “Maksudnya?”

“Aku juga ditolong oleh Woobin hyung,” Namja itu menarik nafas sejenak, “Waktu itu aku kecelakaan dan tak ada yang mau menolongku bahkan temanku sendiri, aku selalu menjadi bahan bullyan mereka, alasan mereka membullyku karena aku miskin,” Sehwan sedikit kasihan mendengar cerita hidup anak ini. “Tapi Woobin hyung menyelamatkanku.”

“Aku tidak mengerti mengapa ia mau menolongku waktu itu?” tanya Sehwan.

“Itu karena dia ingin dirimu,” jawab anak itu, Sehwan mengerutkan keningnya karena ia tak mengerti maksud perkataan anak ini, mengingkan dirinya? Memangnya untuk apa?. “Kau akan mengetahuinya nanti dan kau akan menjadi sepertiku.”

“Oh iya mungkin kau akan memiliki pemikiran yang sama denganku tentang Woobin hyung,” kata anak itu lagi seraya menatap Sehwan.

“Maksudmu apa dengan pemikiran yang sama?” tanya Sehwan tak mengerti. Anak itu tersenyum, “Mungkin nantinya kau akan berpikir Woobin hyung itu jahat dan juga baik di saat yang bersamaan.”

Sehwan memiringkan kepalanya tanda ia bingung dengan perkataan anak itu barusan. Kemudian anak itu bangkit dan hendak pergi dari kamar Sehwan tapi Sehwan mencegahnya, “Tunggu!” anak itu berhenti. “Siapa namamu?” lanjut Sehwan

“Namaku…… D.O dan aku lebih tua darimu 5 tahun.”

 

[When Sehwan is 10 years old]

Hingga tiba akhirnya keadaan Sehwan pulih. Dia sudah mencoba untuk kabur beberapa kali dari tempat ini. Tapi ia selalu berakhir terkurung di kamar ini lagi. Penjagaan di tempat ini sangat ketat. Dia selalu mencoba untuk kabur tetapi Woobin hanya tenang-tenang saja jadi itu tidak membuat Sehwan khawatir untuk mencoba kabur lagi.

Sewaktu dia berjalan-jalan mengitari tempat ini dia pernah tak sengaja melihat Woobin membunuh seorang pelayan wanita di sini. Dan itu membuat Sehwan jadi lebih ingin cepat-cepat keluar dari tempat ini.

“Aku harus mencobanya sekali lagi,” katanya.

Saat ini jam 1 pagi, jam segini waktunya orang-orang bergelut dalam selimut masing-masing tapi Sehwan sengaja tidak tidur padahal anak seusianya hal ini tidak baik untuknya.

Sehwan mulai turun lewat jendela kamarnya menggunakan tali yang sudah ia persiapkan. Hatinya sudah tidak terlalu berdegup kencang seperti beberapa minggu lalu karena takut akan ketinggian. Suasananya yang sepi dan sesekali terdengar bunyi jangkrik menemaninya karena sudah tengah malam. Setelah kakinya menapak tanah dia mengambil pistol yang sebelumnya ia lemparkan ke bawah sebelum turun.

Sehwan tidak sadar bahwa sebenarnya Woobin sejak tadi mengawasinya gerak geriknya sejak tadi, kemudian ia segera memanggil anak buahnya, “Kemarilah!”

“Ada apa Ketua?”

Woobin terdiam sejenak, “Buatlah bocah itu membunuh satu orang dari kalian.”

Anak buahnya terkejut dengan perintah ketuanya tapi mau bagaimana lagi perintah tetaplah perintah dan itu bersifat mutlak atau jika mereka menolaknya maka nyawa mereka adalah bayarannya, “Baik!” dan kemudian mereka bertiga segera pergi mengikuti jejak Sehwan.

“Hey bocah apa yang kau lakukan?!” teriak salah satu diantara mereka sedangkan dua temannya lagi berada di sampingnya. Sehwan menoleh ketakutan sambil tetap memegang pistolnya kuat-kuat.

“Apa kau akan menembak kami?”

Sehwan tetap mengontrol emosinya. Sejak tadi dirinya gemeteran memegang pistol. Memang benar, mana ada seorang anak berumur 10 tahun memegang sebuah pistol.

Dan dengan keberaniannya Sehwan mengarahkan pistol itu ke arah rekan bawahan Woobin. Dua namja yang lain terbelalak kaget sedangkan namja ditengah tetap diam bagaimanapun dia harus melaksanakan tugas dari ketuanya.

“Hyung apa kau tidak lihat dia akan membunuh kita!” seru salah satu diantara mereka. “Apa kita harus melawannya?” tanya yang satunya lagi. “Sudah kukatakan kita tidak boleh membunuhnya dan ini perintah! Kalau kau menghindarinya pasti akan selamat lagipula dia hanyalah bocah!” sentak namja yang di tengah.

Dan dengan hidungan detik Sehwan menarik pelatuknya menciptakan bunyi tembakan yang menggelegar. Tetapi mereka bertiga bisa menghindarinya dan terus bergerak lincah. Tetapi salah satu diantara mereka bertiga tengah menyusun rencananya agar Sehwan dapat membunuh salah satu diantara mereka.

Sehwan terus menembakkan pistolnya tanpa henti karena ia ingin dirinya terlepas dari tempat ini. Saat itu salah satu diantara mereka mendorong kuat-kuat temannya tepat ke arah tembakan Sehwan.

DORR!!

Sehwan terkejut saat dirinya berhasil menumbangkan salah satu diantara mereka tetap menembus dadanya, Sehwan menjatuhkan pistolnya dan langsung berlalu pergi dengan persaan yang berkecamuk di hatinya.

Flashback End

 

“Begitulah, setelah itu aku pergi menuju panti asuhan tapi ternyata mereka teman-temanku sudah menganggapku meninggal bahkan sudah ada fotoku di rumah duka cita,” Sehwan melanjutkan ceritanya, Baekhyun hanya diam menundukkan kepalanya. “Aku kembali ke markas Woobin hyung dan menjadi pembunuh bayaran disana.” Sehwan mengambil nafas sejenak, “Aku selalu merasa bahwa hidupku itu tidak penting saat Sehun pergi dariku tapi ya begitulah.. aku malah menjadi seorang pembunuh.”

“Sehun itu adalah satu-satunya keluarga yang aku punya, aku tidak ingin kehilangannya, aku ingin menjaganya dan ingin membuatnya selalu bahagia.”

“Kau seharusnya lebih menghargai hidupmu walau tanpa saudaramu… Oh Sehun, kau bilang ingin membuat adikmu selalu bahagia.” Baekhyun berkata, sebenarnya ia tidak ingin mengatakannya tapi dia merasa perlu mengatakannya. Sedangkan Sehwan hanya diam mendengarkan perkataan Baekhyun.

Kemudian keheningan menyelimuti mereka berdua hingga Sehwan memulai pembicaraanya kembali, “Aku ingin tahu tentangmu. Ceritakanlah!” Sehwan berkata dan itu terdengar menuntut. Dia berusaha menghilangkan perasaan aneh yang tiba-tiba hinggap dalam dirinya karena perkataan Baekhyun tadi.

Baekhyun menarik salah satu sudut bibirnya, “Mengapa aku harus bercerita kepadamu?”

“Aku ingin tahu kehidupanmu, lagipula aku sudah bercerita tentang hidupku.”

“Huh, aku tak memintamu untuk menceritakannya,” Baekhyun mengangkat kepalanya dan menatap Sehun tajam. Sehwan menggeram kesal dengan sikap Baekhyun, “Kau!”

“Apa?” tantang Baekhyun. Sehwan membalas tatapan Baekhyun dengan tatapan membunuhnya.

 

=><=

 

[Beberapa menit sebelum Baekhyun hilang]

 

Sejak tadi Sehun terus mondar-mandir kesana kemari, “Baekhyun hyung kemana sih?!” rutuknya kesal. Jongin hanya menatap malas Sehun karena sejak tadi namja itu tidak bisa tenang.

“Aishh! Dia membuatku khawatir!” Sehun mengacak rambutnya kasar dan kemudian ia melirik jam sejenak, “Ini sudah Siang bahkan bisa dikategorikan hampir Sore.”

“Bagaimana jika dia diculik? Ottokhae?!” Sehun mencoba menganalisis keadaan.

“Jangan berlebihan seperti itu, Baekhyun hyung itu namja!” Jongin meralat perkataan Sehun. Sehun menatap Jongin dengan ekspresi khawatirnya, “Bisa saja kan?! Dia itu ceroboh!”

Perkataan Sehun terakhir seketika membuat hening menyelimuti mereka berdua.

“Aku sangat menyayanginyya aku tak ingin dia pergi dariku,” Sehun berkata pelan, jantungnya berpacu cepat sejak tadi, dia sangat takut jika hal buruk menimpa hyungnya.

“Bagaimana jika kita mencarinya saja?” usul Jongin. Sehun berpikir sejenak.

“Kau benar. Baiklah kau mencari di universitas Baekhyun hyung sedangkan aku akan mencari di sekitar jalan,” Sehun memberi perintah dan langsung menuju garasi mobilnya.

“Baiklah!” Jongin mengangguk dan langsung masuk ke dalam mobilnya.

 

[Skip time]

 

Sehun menajamkan penglihatannya di sekitar jalanan kota Seoul dan terus berusaha menghubungi Baekhyun, “Sebenarnya kau dimana hyung?”

Kemudian Sehun menghentikan mobilnya sejenak dan memutar otaknya untuk mencari solusi. Sehun membuka matanya kembali saat menyadari sesuatu, kemudian ia membuka Smarthphonenya dan mulai mendeteksi keberadaan Baekhyun lewat GPS.

“Ketemu!” Sehun berucap senang dan langsung mengikuti petunjuk yang ia dapatkan. Tak lama kemudian Sehun sudah sampai di sebuah gedung tua, ia menelan ludahnya kasar karena gedung ini terlihat begitu tua. Sehun menggelengkan kepalanya cepat dan kembali mengecek keberadaan Baekhyun, “Dimana sebenarnya Baekhyun hyung? aku sudah akurat dengan lokasinya tapi dimana dia?”

Sehun kembali menatap gedung tua tersebut dan mencoba menganalisis keadaan, “Untuk gedung tua itu menurutku terlalu jelas untuk seorang penculik, tidak mungkin dia menyembunyikan Baekhyun hyung di sana, itu terlalu jelas.”

Sehun terdiam sejenak dan kembali menatap lamat-lamat lokasi Baekhyun, “Yah itu benar dan juga lokasi ini tidak menunjukkan ke arah gedung itu.”

Sehun kembali berpikir, “Tunggu dulu! Ini mengarah ke arah selatan.” Sehun menganggukkan kepalanya dan mencoba mengingat arah mata angin.

Sehun menunjuk ke arah kanan, “Disana arah timur maka otamatis gedung itu arah barat jadi…” Sehun menujuk ke arah depan, “Di sana arah utara dan dibelakang selatan.”

Sehun kembali memperhatikan lokasi Baekhyun. “Jika Baekhyun hyung berada di selatan… “ Sehun menatap ke belakang. “Ah tidak mungkin aku keluar lagi dan itu sudah terbukti tadi jadi kalau begini utara mengarah ke atas dan selatan mengarah ke bawah.” Sehun menjeda ucapannya, terkejut dengan ucapannya, “Wah itu benar, berarti Baekhyun hyung ada di bawah! Pasti ruang bawah tanah! Aku harus mencarinya!” kemudian Sehun dengan cepat mulai mencari keberadaan Baekhyun menurut hasil analisisnya.

“Jika tidak di gedung tua itu pasti pintu masuknya ada di luar,” Sehun kembali menganalisa, “Aku sudah mencarinya di sekitar tempat, tinggal semak-semak saja yang belum kuperiksa.”

Sehun sedikit merinding jika berhubungan dengan semak-semak, “Gimana ini? Bagaimana jika ada ular di balik semak-semak?” Sehun menarik napasnya sejenak, “Yosh! Tak apa Sehun ini demi hyungmu!”

Kemudian Sehun mendekati semak-semak yang paling lebat diantara semak-semak yang lainnya.

Deg! Deg! Deg!

Begitulah keadaan jantung Sehun saat ini, Sehun merutuk dalam hati karena ia begitu takut. Matanya membulat sempurna saat menemukan sebuah pintu masuk dibalik semak-semak tersebut, Aku menemukannya! Batinnya dalam hati.

 

[In Baekhyun side]

Baekhyun terkejut saat melihat Sehun di layar monitor milik Sehwan. Kemudian ia segera mengubah ekspresinya agar Sehwan tak curiga. Sehwan kembali dengan membawa alat-alat kebutuhannya dan sebotol air mineral. Baekhyun menatap Sehwan, “Aku berubah pikiran.”

Sehwan mengernyitkan dahinya. Baekhyun meneguk ludahnya, “Aku tidak ingin mati terlalu cepat.”

Sehwan tetap diam sambil menata alat-alat keperluannya dalam aksi pembunuhannya. “Aku akan bercerita,” ucap Baekhyun akhirnya sambil menatap Sehwan yang sedang memanaskan sebuah cap. Baekhyun kembali menatap layar monitor, Sehun sudah menemukan pintu masuk ruangan bawah tanah ini! Batin Baekhyun senang.

“Bercerita?” tanya Sehwan. Baekhyun mengangguk cepat dan memasang senyum lima jari andalannyanya. Sedangkan Sehwan hanya menatap datar cengiran Baekhyun. Tetapi akhirnya Sehwan mengangguk, “Baiklah aku akan mendengarkanmu karena aku suka sekali mendengarkan orang bercerita.” Sehwan mendekati Baekhyun dan duduk dihadapannya. Baekhyun bersorak senang dalam hatinya dan sebentar lagi Sehun pasti akan menemukan keberadaannya.

“Aku…” Baekhyun menjeda ucapannya sambil melirik sedikit ke arah belakang Sehwan. “Aku senang karena dia datang untukku.” Baekhyun melanjutkan ucapannya, Sehwan mengernyitkan dahinya tak mengerti, “Maksudnya?”

Belum sempat Sehwan mendengar jawaban dari Baekhyun seseorang sudah memukul kepalanya dengan keras dan dilanjutkan dengan menendang punggungnya hingga ia jatuh tersungkur.

“Sehun!” Baekhyun menjerit senang. Sehun segera membuka ikatan tali pada tangan dan kaki Baekhyun agar Baekhyun bisa membuka sisanya sendiri jika ia tidak sempat. Dan benar seperti dugaannya, ia memag tidak sempat melepas seluruh ikatan tali di tubuh Baekhyun. Kerah belakang bajunya ditarik oleh Sehwan dan membenturkan Sehun ke arah dinding.

Baekhyun tak banyak berucap, dia segera melepaskan seluruh ikatannya dan setelah itu ia menatap sekelilingnya guna memperkecil resiko yang akan dihadapinya jika berlawanan dengan Sehwan. Kemudian ia menatap jejeran pisau yang ditata Sehwan tadi di meja dan ia segera mengambilnya semua.

“YA! KEMBALIKAN!” teriak Sehwan marah ketika melihat Baekhyun membawa lari pisau itu. Sehwan sudah hampir mengejarnya tetapi dihalangi oleh Sehun.

“Apa yang kau lakukan pada hyungku?! Kenapa kau menculiknya?!” Sehun membentak dengan penekan disetiap kalimatnya, dia belum melihat pasti wajah penculik Baekhyun karena tertutupi oleh topi yang dikenakannya.

BUGH!

Sehun meninju kuat-kuat pelipis Sehwan sehingga membuatnya kembali terhuyung ke belakang. Akibat pukulan Sehun yang bertenaga, topinya terlepas darinya. Sehwan meludah, menghiraukan ludahnya yang sudah tercampur darah. Kemudian Sehwan kembali bangkit dan menatap Sehun dengan tajam.

DEG!

Sehun maupun Sehwan langsung terkejut saat mereka saling menatap satu sama lain. Mereka tetap terdiam dengan perasaan yang berkacamuk di hati mereka masing-masing. Sehun sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya, wajah penculik Baekhyun sangat mirip dengannya hanya saja warna dan gaya rambut saja yang berbeda. Rambutnya berwarna pirang platina sedangkan Sehun sendiri berwarna cokelat. Sehun merasa dia melihat cerminan dirinya saat ini.

“Kau…. siapa?” Sehun bertanya dengan nafasnya yang tercekat. Sehwan bergeming, ia juga terkejut sama halnya dengan Sehun. Tapi ini benarkah? Sehwan bertemu saudaranya lagi, bertemu dengan Sehun.

 

TBC

#NB from Author

Annyeonghaseyo^^

Wah maafin aku untuk chap ini yah T_T

Aku memang sengaja untuk chapther ini aku banyak masukin flashback tentang kehidupan mereka yang sebelumnya jadi yah begitulah panjang jadinya deh >_<

Tapi ngomong-ngomong kalian sadar gak kalau di sini Sehun yang sedang menganalisa mirip detektif muda/? Wkwkwk~

Hehehe yaudah deh itu aja… tetap ditunggu ya huhuhu :`)

Please review juseyo~ #Komentar reders adalah semangat author😀

Kamsahamnida *deep bow*

4 thoughts on “Who Are You ? (Chapter 4)

  1. ellalibra berkata:

    Waaaw makin seru + deg” an pstnya eon,,,, hayo akhirnya sehun sehwan ktmu ?? Apa yg akn trjd sm sehwan stlh ktmu sehun ?? Dtunggu next fighting eon🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s