BANGTAN’S STORY [JUNGKOOK’S VERSION] : I NEED YOU PART 12 END

BTS - i need you

Tittle  : I need You

Author  : Ohmija

Main Cast  : Jeon Jungkook, Kim Saeron

Support Cast  : V, Rap Monster, Jin, Suga, Jhope, Jimin BTS, Shannon William, Wendy & Seulgi Red Velvet, Seunghee CLC, Kim Jisoo, Park Jinny.

Genre  : Romance, School Life, Friendship

“CHEERS!” Semuanya bersulang dengan kaleng soda di tangan mereka.

“Untuk Jin hyung dan Namjoon hyung yang akhirnya lulus juga untuk Jin hyung yang akhirnya berbaikan dengan ibunya, SELAMAT!”

“WOHOOO!!”

“Ngomong-ngomong, bukankah harusnya aku mendapatkan hadiah? Karena aku sudah legal, aku seharusnya mendapat tiga hadiah, kan?” Jin tersenyum menyeringai melirik Seulgi.

“Aku sudah memberimu bunga.”ucap Seulgi setengah kesal. “Aku akan membelikan parfum untukmu nanti.”

“Lalu hadiah yang terakhir?”

“YA!”

“Apa orang-orang yang telah legal jadi seperti ini? Pikiran mereka menjadi kotor.”cibir Taehyung.

Jin menyeringai lebar, “Bukankah memang begitu? Kita bisa mendapat tiga hadiah saat kita legal.”

“Kau sudah legal tapi aku tidak.”

“Baiklah tidak apa-apa. Lagipula aku sudah pernah mendapatkannya.”

“YA!” Seulgi lantas memukul punggung Jin.

“Kalian berdua?” Hongseok mengerjap. “Sungguh?”

Jin hanya tertawa geli sementara Seulgi terus memukulnya, “Ya! Diam! Dasar menyebalkan!”

Melihat itu Jungkook tersenyum tipis. Akhirnya suasana seperti ini kembali. Akhirnya dia bisa mendengar suara tawa teman-temannya lagi. Semoga ini berlangsung lama.

Kemudian pria itu mengambil bola basket dan berjalan menuju tengah lapangan.

“Ya, Jeon Jungkook! Kau tidak minum? Jika tidak, aku akan menghabiskan sodamu.”seru Taehyung mengangkat kaleng soda milik Jungkook.

Jungkook menggeleng sambil memantulkan bola basketnya, “Minum saja.” Lalu memasukkan bolanya ke dalam ring basket.

“Ngomong-ngomong…” Jin menatap satu persatu teman-temannya. “Yah, mungkin saja aku salah lihat. Tapi tadi aku seperti melihat Saeron di sekolah kita.”

“Kau juga merasakannya?”sahut Namjoon. “Aku juga begitu. Aku seperti melihat murid perempuan yang mirip dengan Saeron. Seragamnya—“

“Hyung.”potong Taehyung. “Sudahlah. Kalian pasti salah lihat. Itu sudah berlalu lama jadi tidak usah membahasnya lagi.”

“Tapi aku sungguh-sungguh melihatnya. Dan ternyata Jin juga merasa begitu.”

“Lalu untuk apa dia datang ke sekolah?”balas Taehyung. “Jika itu memang benar dia, kenapa dia tidak menghampiri kita? Kenapa tidak menghampiri Jungkook?”

“Mungkin ada alasan lain.”

Jinny mengangguk menyetujui, “Aku setuju. Ada kemungkinan jika yang di lihat Namjoon oppa dan Jin oppa adalah Saeron.”

Taehyung menghela napas panjang, “Jinny….”

“Bukankah ini aneh? Semua orang juga tau jika Saeron sangat menyukai Jungkook. Dia bahkan terus memberikan hadiah untuknya setiap hari. Mereka juga tinggal bersama dan Saeron terus menempel pada Jungkook seperti perangko. Lalu kenapa tiba-tiba dia pergi? Kenapa tiba-tiba dia mengatakan jika dia tidak menyukainya? Ini aneh.”

“Jujur saja aku juga berpikir seperti itu. Saeron tiba-tiba pergi tanpa mengatakan apapun. Aku terus berpikir jika dia disuruh oleh ayah atau ibunya.”ucap Seulgi.

“Sudahlah. Apa kalian tidak ingat kejadian lima bulan lalu? Dia benar-benar seperti orang gila. Aku tidak mau hal itu terulang lagi jadi sebaiknya kita tidak membahas hal itu. Saat ini, dia sudah berusaha keras agar bisa melupakan gadis itu.”kata Taehyung.

“Kau membenci Saeron?”tanya Hoseok.

“Bukan membencinya. Hanya saja aku sedikit kesal. Selama aku mengenal Jungkook, dia adalah orang yang kuat. Ini adalah pertama kalinya dia menyukai seseorang tapi dia justru dibuat menjadi seperti ini. Sebagai sahabatnya, aku juga merasa sedih.”

“Tapi seperti yang ku bilang, melupakan seseorang bukan hal yang mudah. Dan mungkin saja disana, Saeron juga tidak bisa melupakan Jungkook. Tidak ada yang tau, kan?”

***___***

 

“Kenapa aku yang harus membelinya? Ah, menyebalkan sekali.”rutuk Jungkook kesal lalu mematikan sambungan panggilannya.

Pria itu berjalan melewati halte, menuju sebuah supermarket yang terletak tak jauh dari rumahnya. Suga menyuruhnya untuk membeli whipped cream karena persedian di café sudah habis.

“Apa kalian menjual whipped cream?”tanya Jungkook pada kasir.

“Di sebelah sana, tuan.”

“Oh, terima kasih.”

Setelah membeli beberapa whipped cream, barulah ia menuju halte bus. Ia sudah terlambat 10 menit. Tapi dia tidak perduli, dia terlambat karena dia harus membeli whipped cream ini.

Namun, baru saja menjatuhkan diri di kursi halte, ia menyadari kehadiran seseorang yang sedang berdiri di sampingnya. Jungkook menoleh dan detik itu juga terkejut. Pria itu lantas berdiri dan membungkukkan tubuhnya sedikit, menyapa wanita itu.

“Apa kau punya waktu?”

***___***

 

Dia pikir, dia sedang bermimpi saat ini. Tapi mimpi ini terasa sangat lama dan dia tidak kunjung bangun. Ketika kemudian ia menyadari ini adalah kenyataan, ia tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk menyapa wanita ini. Karena kesan terakhir yang ia tinggalkan adalah kesan buruk.

“Kau masih bekerja hingga sekarang?”tanya wanita yang ternyata adalah ibu Saeron itu.

“Oh, yeah… aku bekerja paruh waktu di coffee shop.”jawab Jungkook kikuk.

“Saat anakku tinggal bersamamu, apa kau bekerja seperti ini?”

Jungkook mengangguk, “Aku tidak punya orang tua jadi aku harus bekerja untuk menghidupi diriku sendiri.”

Wanita itu terdiam sejenak, helaan napasnya terdengar panjang dan berat. Ada banyak hal yang sebenarnya ingin Jungkook tanyakan, tapi ia tidak tau bagaimana cara menyampaikannya. Karena ia khawatir, ia akan lebih terlihat buruk di depan wanita ini.

“Ku dengar kau pergi ke rumah lama kami waktu itu. Kenapa sekarang kau tidak mencarinya lagi?”

Jungkook tersenyum tipis, “Karena aku tau dia tidak ada disini jadi aku berhenti mencarinya.”ucapnya.

“Apa sekarang kau sudah melupakan anakku?”

Jungkook kembali tersenyum tipis, “Saat ini aku sedang berusaha mengumpulkan banyak uang agar aku bisa pergi ke Busan untuk mencarinya. Aku harus membawa banyak uang agar aku tidak di pandang rendah, kan?”serunya pelan. “Aku tau omoni pasti menganggapku biang onar dan tidak berpendidikan. Jadi, aku sedang berusaha mengubah diriku agar aku bisa menjadi yang terbaik.”

Jungkook menghentikan ucapannya sejenak, “Aku tau apa alasan Saeron, kenapa dia meninggalkanku tiba-tiba. Walaupun dia tidak mengatakannya, tapi aku percaya padanya. Jadi bisakah omoni memberitahunya untuk menungguku sebentar? Aku akan datang dengan pembuktian.”

Ibu Saeron menatap Jungkook lekat, “Apa kau sungguh-sungguh?”

“Omoni bisa memegang ucapanku.”balas Jungkook tegas. “Aku sangat menyayangi Saeron jadi aku akan melakukan apa saja agar dia kembali. ”

“Aku sudah tau semuanya.”ucap ibu Saeron membuat kening Jungkook berkerut. “Aku sudah tau apa yang sebenarnya terjadi. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.”

Kedua mata Jungkook sontak melebar, “Omoni—“

“Aku sudah mengurus perceraiannya.”potong ibu Saeron. Kemudian ia menatap Jungkook tepat di kedua manik matanya. “Aku akan memberikanmu kesempatan. Jika kau bisa masuk Universitas Seoul, aku akan kembali mempertimbangkanmu.”

“A-apa?”tanya Jungkook terkejut.

“Aku datang hanya untuk mengatakan itu. Aku pergi dulu.”

“Omoni.” Namun Jungkook langsung menahan lengannya. “Omoni bersungguh-sungguh, kan?”

Wanita itu hanya menatapnya sesaat lalu melepaskan cekalan Jungkook dan melanjutkan langkah.

Sesaat setelah dia berhasil menyadari kenyataan, perlahan senyuman terbentuk di bibirnya. Semakin lama semakin lebar dan hingga akhirnya dia melompat sambil berteriak senang. Membuat semua pengunjung café sontak menoleh kearahnya dengan pandangan aneh.

“Tunggu aku, Saeron.”

***___***

 

“Ya! Kemana saja kau?! Kenapa kau terlam—“

“Dimana Namjoon hyung?” Jungkook langsung melewati Suda begitu ia sampai, mengabaikan ucapan pria itu. “Namjoon hyung! Namjoon hyung!”

“Aku disini.”sahut Namjoon, muncul sambil mengancingkan seragam kerjanya.

“Namjoon hyung!” Jungkook langsung mendorong tubuh Namjoon hingga punggung pria itu menabrak loker.

“Wae? Wae? Wae?” Namjoon yang tidak tau apapun terkejut bukan main. Dia menatap Jungkook bingung, kedua tangannya yang tadinya bergerak kini berhenti mengancing sisa kancing baju seragamnya.

“Aku ingin mita tolong padamu.”

“Ha?”

“Bagaimana caranya agar aku bisa di terima di Universitas Seoul? Beritahu aku.”

“Apa?” Kening Namjoon sontak berkerut. “Apa yang sedang kau bicarakan?”

“Tolong aku, hyung. Kali ini saja. Tolong bantu aku. Jika kau mau membantuku, aku berjanji akan mengabdikan seluruh hidupku sebagai adikmu.”

“Ya!” Namjoon langsung mendorong tubuh Jungkook agar pria itu menjauh darinya. “Adikku pantatmu. Aku sudah punya adik perempuan dan dia sangat cantik. Aku tidak berniat untuk memiliki adik laki-laki.”

“Hyung…” Namun Jungkook tidak menyerah, pria itu kembali merengek. “Tolong aku, hyung. Ini sangat penting.”

“Ya, apa kau salah makan? Kau jadi aneh begini.”dengus Namjoon. “Sadarlah. Kau memiliki catatan yang buruk di sekolah dan nilai akademismu juga selalu dibawah rata-rata. Bagaimana mungkin kau bisa masuk Universitas Seoul dengan nilai yang seperti itu?”

“Bukankah sama sepertimu? Kau tidak terlalu pintar tapi tiba-tiba kau bisa masuk Universitas Seoul.”balas Jungkook membuat Namjoon sedikit kesal. “Jika aku tidak bisa, maka semua orang juga tidak bisa! Yang jelas aku akan menggunakan sisa waktu setahunku untuk belajar giat agar aku bisa masuk ke dalam Universitas Seoul.”

Pria itu berbalik, berjalan menuju lokernya untuk mengganti baju. Di tempatnya Namjoon hanya mengerjap bingung. Apa dia benar-benar salah makan?

***___***

 

Jika mereka pikir ucapannya hanya candaan, ternyata mereka salah. Jungkook benar-benar belajar giat sejak hari itu. Dia bahkan rajin datang ke sekolah dan mendengarkan penjelasan guru. Ketika jam istirahat, dia akan pergi ke perpustakaan untuk mencari referensi soal-soal. Terkadang, dia juga meminta Jimin untuk mengajarinya jika ada soal yang tidak ia mengerti. Hal itu memang bagus tapi sekarang, Jungkook yang mereka kenal tidak lagi seasik dulu. Dia tidak pernah lagi bergabung dengan yang lain ketika sepulang kerja untuk bermain basket. Yang jelas, setiap ada waktu luang, dia akan menggunakannya untuk belajar.

“Apa kita harus lapor polisi?”desah Taehyung. “Dia tiba-tiba berubah seperti itu. Aku yakin pasti ada yang meracuni makanannya hingga membuat otaknya rusak.”

Pendapatnya itu terdengar aneh namun Hoseok menyahutinya dengan anggukan dan wajah seriusnya, “Mungkin saja begitu.”

Namjoon hanya menghela napas panjang melihat dua orang bodoh itu, “Dia tidak mengatakan apapun. Tiba-tiba saja memiliki kemauan seperti itu. Aku tidak mengerti dengannya.”

“Dia pasti memiliki alasan.”sahut Suga. “Entah apa itu, dia pasti memiliki alasan kenapa dia tiba0tiba ingin pergi ke Universitas. Bukankah sebelumnya dia mengatakan jika dia tidak berminat melanjutkan sekolah? Dia bilang dia akan terus bekerja seumur hidupnya. Jika tiba-tiba ia merubah niatnya, ini sedikit aneh. Kalian tau dia bagaimana, kan?”tanya Suga, yang lain mengangguk. “Dia bukan orang yang mudah mengubah ucapannya.”

“Apa mungkin ada hubungannya dengan Saeron?”ucap Jimin.

“Saeron lagi?”balas Taehyung sambil menghela napas panjang. “Sudah ku bilang Jungkook sudah melupakan Saeron. Tidak mungkin.”

“Kalau begitu, apa mungkin dia sudah membuka hatinya dan menyukai gadis lain? Mungkin gadis itu kuliah di Universitas Seoul.”kata Jimin lagi.

Suga sontak tertawa, “Tidak mungkin. Tipe keras kepala seperti Jungkook tidak mungkin menyukai seseorang lebih dulu. Kecuali gadis itu menempelinya trus seperti Saeron waktu itu. Lagipula, apa kalian pikir dia punya waktu untuk menyukai gadis lain? Setiap hari dia menghabiskan waktunya di sekolah dan di café, malam harinya, dia selalu bersama kita bermain basket di taman Hangang. Dia tidak punya waktu untuk hal-hal seperti itu.”

“Lihat, kan? Sudah pasti ini tentang Saeron.”

“Jimin, sudah ku bilang jika—“

“Ya.” Jin menengahi keduanya. “Ini menyangkut Saeron atau tidak, bukankah ini adalah hal yang bagus? Jungkook tidak pernah memikirkan masa depannya tapi kali ini dia berubah. Bahkan dia memiliki kemauan untuk masuk ke Universitas Seoul. Daripada memikirkan apa alasannya, bukankah sebaiknya kita mendukungnya?”

“Benar juga. Hanya saja aku seperti kehilangan sahabatku. Aku bahkan jarang bertemu dengannya akhir-akhir ini.”desah Taehyung.

“Kita tidak bisa terus bermain selamanya, kan?”ucap Jin. “Lagipula kita bisa berkumpul di café seperti biasa.”

“Kau benar.” Namjoon menyetujui ucapan Jin. “Aku juga harus mulai mempersiapkan kuliahku.”

***___***

 

“Jadi kau sudah mengerti, kan?” Jimin menarik punggungnya dan menyandarkannya ke sandaran kursi. Jungkook mengangguk tanpa suara. Jimin melirik kearah arloji di tangannya, “Masih ada tiga puluh menit sebelum jam istirahat berakhir, kau kerjakan soal-soal itu, aku akan pergi ke kantin dulu.”

“Baiklah. Terima kasih.”

Namun baru saja akan beranjak dari kursinya, Seulgi, Jisoo dan Jinny muncul. Tiga gadis itu menarik kursi sambil meletakkan bungkus plastik diatas meja.

Mata Jimin sontak membulat, “Kalian gila? Tidak boleh makan di perpustakaan!”

“Ibu penjaga sedang istirahat.”jawab Jisoo. “Cepat makan. Kalian pasti belum makan, kan?” Gadis itu tersenyum lebar. “Dan untuk sahabatku yang tiba-tiba berubah menjadi sangat keren, kau juga harus makan.” Ia memberikan satu roti sandwich pada Jungkook.

Jungkook tersenyum, “Terima kasih.”

“Makan yang banyak agar kau bisa belajar lebih giat.”ucapnya. “Dan untuk pacarku yang tiba-tiba menjadi sibuk untuk mengajari anak ini, kau juga harus makan yang banyak agar tidak sakit.”

Jimin tersenyum, tangannya terulur menghusap kepala Jisoo, “Terima kasih dan maafkan aku.”

“Kita punya janji nonton film akhir pekan nanti, jangan lupa, oke?”

Jimin terkekeh, “Aku tau.”

“Waaah, Jeon Jungkook kau sangat keren.”puji Seulgi menatap Jungkook yang sedang menyantap sandwich-nya sambil mengerjakan soal. “Semua murid-murid perempuan membicarakanmu. Popularitasmu semakin meroket naik!”jelas Seulgi menggebu-gebu.

“Iya, murid-murid di kelasku juga. Mereka bahkan meminta bantuanku agar bisa mengenal Jungkook.”desah Jinny menghela napas panjang. “Bukannya aku tidak mau, tapi aku lebih menyukai Saeron dan…” Jinny terkejut dengan ucapannya sendiri. Gadis itu buru-buru membekap mulutnya dan merutuki dirinya. Mereka sudah berjanji untuk tidak menyebut nama Saeron di depan Jungkook lagi tapi dia justru kelepasan.

Untuk sesaat, Jungkook juga terkejut namun pria itu bersikap seolah-olah ia tidak mendengar. Sementara Jimin langsung tertawa untuk mencairkan suasana yang tiba-tiba menjadi canggung.

“Sebentar lagi masuk kelas, sebaiknya kalian pergi lebih dulu.”ucapnya.

Jisoo, Seulgi dan Jinny langsung mengangguk bersamaan, “B-baiklah.” Kemudian segera pergi dari sana.

“Apa kau sudah selesai? Aku akan memeriksanya.”

***___***

 

Sudah lewat enam bulan, dia masih memiliki waktu selama enam bulan lagi. Selama enam bulan ini, dia sudah berusaha keras untuk memperbaiki prilaku serta reputasinya di sekolah. Dia juga sudah berusaha keras untuk memperbaiki semua nilai-nilai pelajarannya. Jika dia berusaha sedikit lagi, dia pasti bisa melakukannya.

“Jungkook, kau di dalam?” Tiba-tiba suara Namjoon terdengar.

“Aku di dalam, hyung.”

Namjoon masuk ke dalam rumah Jungkook dan menghampiri pria itu. Tangan kanannya yang memegang bungkusan plastik, memberikannya pada Jungkook.

“Wendy sangat mengkhawatirkanmu jadi dia membuat bekal. Dia khawatir kau belum makan malam.”

“Benarkah? Waaah, terima kasih. Aku memang belum makan.” Dengan semangat, ia membuka bungkus plastik itu dan membuka tutup bekal makanannya. “Kau juga mau makan, hyung?”

Namjoon menggeleng, “Aku sudah makan bersama yang lain tadi.”

“Benarkah? Baiklah.”

“Ya, apa ini yang kau kerjakan setiap hari?” kedua mata Namjoon melebar pada dinding di sebelah kirinya yang di penuhi catatan-catatan kecil serta kalender yang di coret dengan spidol merah. “Kau menghitung mundur waktu kelulusan?”

Jungkook mengangguk, “Aku ingin segera lulus.”jawabnya dengan mulut yang berisi penuh kunyahan.

Namjoon menghela napas panjang, “Semua orang mengkhawatirkanmu, terutama Taehyung. Dia bilang kalian hanya menyapa satu sama lain ketika bertemu selama enam bulan ini. Kau juga tidak pernah datang saat kita bermain basket.”

Jungkook menghentikan aktivitasnya, ia menelan kunyahannya lalu terdiam sejenak, “Maafkan aku, hyung. Tapi tolong berikan aku waktu. Aku juga ingin bermain tapi waktuku tidak banyak. Masih banyak yang harus aku perbaiki.”

Namjoon menatap sisi wajah Jungkook, “Apa hal ini sangat penting bagimu?”

Jungkook mengangguk pelan, “Sangat penting.”

“Baiklah kalau begitu. Lakukanlah. Aku akan mengajak Taehyung bicara agar dia mau mengerti.” Namjoon beranjak dari duduknya sambil menepuk pundak Jungkook. “Good luck.”

Sebelum Namjoon menghilang di balik pintu, Jungkook menghentikan langkahnya sesaat, “Kenapa hyung tidak bertanya apa alasanku?”

Namjoon menoleh dengan senyum, “Aku mempercayaimu.”

***___***

 

Jungkook duduk di salah satu kursi café dengan kepala tergeletak diatas meja. Sambil memandangi salju yang terus turun di luar, pria itu menghela napas panjang. Sepertinya mustahil. Walaupun ia sudah berusaha dengan keras, sepertinya hal itu sedikit mustahil.

Hingga saat ini, ponselnya belum berbunyi padahal ini adalah harri terakhir penerimaan mahasiswa baru. Tesnya waktu itu tidak berjalan dengan baik, ada banyak soal-soal sulit yang tidak ia mengerti. Sepertinya banyak jawabannya yang salah.

“Sudahlah. Jangan dipikirkan. Kau bisa masuk ke Universitas lain.” Suga menghampirinya dengan segelas cokelat panas.

“Kau bisa bicara seperti itu karena kau sudah di terima di Yonsei.”balas Jungkook membuat Suga langsung berdehem, merasa tidak enak.

“Tetap saja, kau masih—“

“Aku diterimaaaa! Ya! Aku di terima di Universitas Seoul!” Jimin tiba-tiba muncul dengan selembar kertas, pria itu dengan bangga menunjukkannya pada Suga dan Jungkook tanpa dosa.

Jungkook mengangkat kepalanya dan menatap Jimin tanpa senyum, “Selamat.” Ucapnya lemas lalu menggeletakkan kepalanya kembali keatas meja.

Senyum Jimin lantas menghilang, ia menatap Suga bingung, “A-ada apa?”tanyanya. “Dia belum mendapat pemberitahuan?”

Suga menghela napas panjang lalu menggeleng. Lantas, Jimin langsung meremas kertas penerimaannya dan memasukkan ke dalam saku celana. Pria itu duduk di samping Jungkook dan merangkul pundaknya, “Kau mau minum? Kita sudah legal sekarang.”

“Ya!”seru Suga. “Apa kau pikir ini saat yang tepat?”

Jungkook menarik punggungnya dan duduk tegak, “Haruskah? Sepertinya aku harus mabuk.”

“Kenapa putus asa seperti itu? Masih ada satu jam—“

Tiba-tiba ponsel Jungkook berbunyi, ketiganya sontak terkejut. Dengan cepat, pria itu menyambar ponselnya dan tanpa pikir panjang menjawab panggilan itu.

“Halo.”ucapnya.

“….”

“Iya, aku Jungkook.”

“….”

Sebuah senyuman perlahan terlihat di bibir Jungkook, “Benarkah?! Sungguh?! Baik, aku mengerti. Terima kasih. Terima kasih.”

“Wae? Wae? Wae?”tanya Suga tidak sabar.

“Bagaimana?”

“Aku…” Jungkook semakin melebarkan senyumannya. “AKU DI TERIMA!”

“Sungguh?!”seru Suga dan Jimin bersamaan.

“AKU DI TERIMA! AKU DI TERIMA!!”

Ketiganya lantas berpelukan dan melompat-lompat senang. Akhirnya….

***___***

 

Salju masih turun di awal bulan Maret membuat semua mahasiswa harus memakai pakaian tebal. Di depan gerbang Universitas Seoul, anak-anak itu berdiri.

“Kau bilang kau akan pergi ke Yonsei, tapi kau justru masuk kesini. Kau membohongiku?!”omel Jin tidak terima karena akhirnya Seulgi memutuskan untuk mendaftar di Universitas Seoul. “Apa kau berniat mencari pria lain? Kau tidak suka jika berada di satu kampus yang sama denganku? Kau ingin bebas?”

“Maafkan aku. Aku ingin pergi ke Yonsei tapi ternyata aku di terima disini. Maafkan aku.”

“Hey, sudahlah. Bukankah ada kami? Kami akan menjaganya.”ucap Namjoon.

Sementara Taehyung juga mendesah panjang karena harus berpisah dengan Shannon, “Kenapa aku tidak bisa sepintar kekasihku?”keluhnya. “Setiap hari aku akan menjemputmu.”

Shannon tersenyum, “Tidak perlu, kau pasti akan menjadi sibuk. Kita bisa bertemu setiap akhir pekan.”

“Tidak mau. Walaupun aku sibuk, kau harus menungguku hingga aku datang menjemput. Apa kau tidak tau aku sedang sedih sekarang?”

Shannon lantas mengangguk masih dengan senyum, “Baiklah. Aku tau.”

“Ya Park Jimin, jika kau berani berselingkuh di belakangku, aku pasti akan membunuh selingkuhanmu dan membuangnya di sungai Hangang, mengerti?!”ancam Jisoo membuat Jimin tertawa.

“Kita tinggal bersebelahan, kau bisa tau jika aku pulang terlambat.”

“Baiklah. Kita berpisah disini.” Ucap Namjoon.

Wendy langsung memeluk kakak kandungnya itu sebelum mereka pergi, “Jangan lupa makan bekal makanan yang aku buat. Jangan belajar terlalu keras dan aku akan mengunjungimu di café nanti. Oke?”

Namjoon tersenyum, “Aku tau.” Kemudian ia menatap Suga, “Kau harus menjaganya, mengerti?”

“Aku sudah melakukannya sejak dulu.”jawab Suga tanpa pikir panjang.

“Dan tolong jaga dia untukku.” Ia menunjuk Jinny.

“Kau tidak perlu khawatir, kami akan menjaganya.”

“Kalau begitu sampai jumpa. Kita berkumpul di tempat biasa malam ini.”

***___***

 

Dia sangat iri dengan Hoseok, Seunghee, Wendy dan Suga karena mereka kuliah di tempat yang sama. Tapi, ini sudah menjadi tekadnya sejak setahun lalu. Dia berhasil masuk ke dalam Universitas Seoul seperti ucapannya. Sekarang tinggal menunggu waktu sampai dia bisa pergi ke Busan untuk menjemputnya.

Yah, dia harus pergi secepat mungkin.

Jungkook berjalan menuju lokernya, ada buku yang tertinggal disana. Namun, begitu sampai di depan loker bernomor 3114 itu, keningnya seketika berkerut. Sebuah permen lollipop tertempel disana bersama dengan kertas berisi pesan di sampingnya.

Jungkook menarik kertas itu dan membacanya.

 

Apa kau merindukanku? Aku juga ^^

 

Detik itu juga, Jungkook menarik permen lollipopnya dan berbalik. Pria itu sudah hendak berlari namun sebuah suara tiba-tiba menghentikannya.

“JEON JUNGKOOK!”

Jungkook terdiam. Ia mengenal suara ini. Yah, dia mengenalnya dengan baik.

“Jeon Jungkook.”

Perlahan pria itu berbalik. Tepat berdiri dalam satu garis lurus, gadis itu tersenyum menatapnya. Seorang gadis dengan rambut panjang tergerai dengan cara tersenyum yang tidak pernah berubah.

“Kau mau kemana? Kau belum menutup lokermu.”

Gadis itu….

Senyumannya semakin mengembang lebar, “Aku merindukanmu.”

Kesadarannya menghilang saat kakinya melangkah dengan langkah-langkah panjang. Dalam hitungan detik, ia menjangkau gadis itu dan menariknya ke dalam rengkuhan.

“Ini… benar-benar kau, kan?”serunya. “Aku tidak sedang bermimpi, kan?”

Saeron membalas pelukannya, “Ini aku…”

END

 

 

 

 

9 thoughts on “BANGTAN’S STORY [JUNGKOOK’S VERSION] : I NEED YOU PART 12 END

  1. ellalibra berkata:

    Dih eon bikin baper endingnya tau hehehe … Ngegantung eon akhirnya jongkook bs sm saeron jg😀 yeeeeeyy happy ending …sequel eon please pas mrk kuliah spt apa kisah mrk …fighting fighting eon🙂

  2. ersai berkata:

    mija eonni ga ada kepikiran buat sequel/epilognya eon? hehehe duhhh masih pengen liat ibunya saeron ke jongkook setelah diterima di univ. seoul… dan gimana liatekspresi yang lain saat saeron kembali

  3. Nadiya berkata:

    Gantung nih.. Butuh epilog atau sequel deh kayanya hehehehe
    Masih ngga tau alasannya saeron pergi dulu kenapa? Dan pengen ngeliat mereka sweet2 dulu.. Sama kisah member yg lain juga.. Pleaseee…

  4. puti hilma berkata:

    Aduuh ending nya sweet bgt 😍😍
    Suka banget deh sama ff ini
    Ditunggu ff selanjutnya eonni.. fighting!

  5. DO DO berkata:

    ahhh ada epilognya donggg thor
    pengen ngeliat kelanjutannya jungkook sama saeron, pengen ngeliat mereka bahagia kaya pasangan lainnyaaa

  6. niahanzy berkata:

    Yeay,, happy ending…
    Akhirnya jungkook bisa bersama saeron lagi..

    Tapi endingnya kurang ngena.
    Mungkin bisa dikasih sequel nya??
    Hihihh..
    BTW
    i love this story so much.
    Apalagi main cast.nya ^^

  7. Taehyungie berkata:

    Wohooo happy ending yuhuuuuu~~~~~
    Cielah jungkook akhirnya cintanya balik lagi ciecie huhuyy😜😜 taehyung jangan sedih kan masih ada aku yang selalu sama kamu😚 *apasih* *abaikan*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s