BANGTAN’S STORY [JUNGKOOK’S VERSION] : I NEED YOU PART 11

BTS - i need you

Tittle  : I need You

Author  : Ohmija

Main Cast  : Jeon Jungkook, Kim Saeron

Support Cast  : V, Rap Monster, Jin, Suga, Jhope, Jimin BTS, Shannon William, Wendy & Seulgi Red Velvet, Seunghee CLC, Kim Jisoo, Park Jinny.

Genre  : Romance, School Life, Friendship

“Saya adalah wali sekaligus penjaminnya, pak. Saya jamin dia tidak akan melakukan—“

“Sudah ku bilang aku tidak melakukan apapun.”seru Jungkook kesal. Dia memang sudah di bebaskan, tapi itu karena paman Ho datang dan memberikan jaminan agar dia tidak di tahan. Juga kesaksian teman-temannya yang mengatakan jika Jungkook tidak pernah melakukan penculikan. Itu artinya, dia belum bebas sepenuhnya. Dia bahkan tetap harus melapor setiap hari sabtu dan minggu. “Kami memang tinggal bersama tapi aku tidak pernah menculiknya. Itu hanya salah paham dan—“

“Jika kau terus bicara, aku akan kembali memasukkanmu ke dalam sel.”

“Karena aku memang tidak bersalah!”

“Ya, bersikaplah yang baik.” Paman Ho memukul punggung Jungkook. “Kau ini, jika pihak sekolah mengetahuinya, kau akan di keluarkan.”

“Paman, aku benar-benar tidak melakukannya.” Jungkook masih mengelak, Namjoon dan Taehyung yang berada disana hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap sahabatnya itu. “Iya. Aku memang bersalah karena telah tinggal bersama dengan seorang gadis disaat kami masih di bawah umur. Tapi aku tidak pernah melakukan penculikan. Dia pergi dari rumah karena selalu di pukuli oleh ayahnya! Yang bersalah adalah ayahnya tapi kenapa aku yang di tangkap?!”

“Jeon Jungkook, aku mohon, oke?” Paman Ho langsung membekap mulut Jungkook dan menyeretnya keluar. Di bantu dengan Namjoon dan Taehyung karena Jungkook terus berontak dan tidak bisa menahan kekesalannya.

Ketika akhirnya mereka berhasil menyeret Jungkook keluar dari kantor polisi, Paman Ho menatap lurus pria itu sambil berkacak pinggang.

“Kau ini, kau sudah bisa bebas, kenapa kau ingin menambah masalah baru lagi?”

“Ini bukan kebebasan.”balas Jungkook. “Kenapa aku harus melapor? Aku tidak melakukan apapun!”

“Karena itu, jika kau ingin membuktikan kau tidak bersalah, kau harus bebas lebih dulu.” Ucapan Paman Ho membuat Jungkook langsung terdiam. Kemudian ia mendesah panjang, “Aaah, anak-anak ini selalu merepotkanku.” Ia mengalihkan tatapannya pada Taehyung, “Apa kau tidak akan pulang lagi hari ini?”

Taehyung meringis lebar, “Aku akan pulang jika masalahku sudah selesai. Terima kasih, paman. Aku tau aku selalu bisa mengandalkan paman.”

“Ini karena orang tuamu selalu memberikanku uang setiap bulan. Jika tidak, aku pasti sudah memukul kepalamu.”

Taehyung kembali meringis, “Sekali lagi terima kasih.”

Paman Ho hanya mendengus lalu masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan mereka bertiga. Setelah Paman Ho menghilang, Namjoon menoleh, menatap Jungkook sambil berseru, “Lalu apa yang akan kau lakukan?”

“Apa lagi? Tentu saja membersihkan nama baikku.”ucapnya sambil melangkah.

***___***

 

Taehyung dan Namjoon sama-sama memiliki firasat buruk ketika mereka sampai di gedung rumah sakit. Tujuan pria itu tentu bukan untuk menjenguk Hoseok karena dia sudah pulang siang tadi. Tujuannya pasti satu, membuat keributan!

“Ya, Jeon Jungkook!” Namjoon langsung menahan lengan Jungkook begitu ia bergegas masuk ke dalam gedung rumah sakit. “Tunggu. Tenangkan dirimu dulu. Kau tidak akan—“

“Jangan menahanku, hyung.” Jungkook melepaskan cekalannya. “Aku harus menyelesaikannya.”

“Jungkook, tapi…”

“Hyung, aku mohon.” Jungkook menegaskan suaranya, meminta agar Namjoon tidak menahannya lagi.

Akhirnya Namjoon terdiam, tidak lagi bersuara dan membiarkan Jungkook melakukan apapun yang dia inginkan.

Pria itu melangkah masuk ke dalam, sementara Namjoon dan Taehyung saling pandang sambil menghembuskan napas panjang. Tidak ada yang bisa mereka lakukan jika dia sudah bersikeras seperti itu.

“Ayo, kita tetap harus bersamanya.”ucap Taehyung mengikuti langkah Jungkook.

Pria itu berjalan menuju ruang perawatan Saeron. Dua orang pria terlihat berjaga di depan ruangannya. Dua pria itu langsung menahan Jungkook ketika pria itu mencoba masuk.

“Aku harus bertemu dengannya.”seru Jungkook tajam.

“Maaf tuan, tapi anda tidak di perbolehkan masuk.”

“Aku bilang aku ingin bertemu dengannya!”bentak Jungkook mendorong orang yang menahannya kuat.

“Biarkan dia masuk.” Seorang wanita membuka pintu setelah mendengar suara Jungkook. Dua orang yang berusaha menahannya tadi seketika membiarkan Jungkook masuk ke dalam ruangan itu. Sementara Namjoon dan Taehyung tetap harus menunggu di luar ruangan.

Berjalan memasuki ruangan, Jungkook mendapati Saeron sedang duduk di ranjang tidurnya dengan kepala menunduk. Sementara ayah tirinya duduk di sebuah sofa dengan kedua mata yang terus menatap mengawasinya.

Untuk beberapa saat, Jungkook tidak tau apa yang harus ia lakukan karena ini adalah pertama kalinya ia bertemu dengan seorang wanita yang ia pikir adalah ibu Saeron.

Pria itu membungkukkan tubuhnya sopan, “Annyeonghaseo, aku adalah Jeon Jungkook. Aku bersekolah di sekolah yang sama dengan Saeron.”serunya sebagai salam pembukaan. Melihat kehadiran Jungkook, Saeron sontak terkejut. “Aku datang kemari karena aku ingin menjelaskan sesuatu. Aku pikir telah terjadi kesalahpahaman. Saat itu, aku tidak menculiknya tapi—“

“Kau masih mau mengelak?”suara ayah tiri Saeron memotong ucapannya. “Bukankah kau membawanya kabur saat anak buahku mencarinya? Kau masih mau mengelak?”

“Yah, saat itu aku memang berlari bersamanya tapi aku benar-benar tidak—“

“Cukup.”ucap ibu Saeron tegas. “Aku tidak tau kenapa anakku bisa bergaul dengan orang sepertimu. Dia adalah anak yang penurut sebelumnya tapi sejak mengenalmu, aku bahkan tidak bisa mengaturnya lagi.”

“Oema…” Saeron mengangkat wajahnya.

“Apa yang kau ajarkan pada anakku hingga dia bisa berubah menjadi seperti ini?”

“Omoni, tidak seperti itu. Aku…”

“Aku sudah mencabut laporanku, aku juga tidak akan mempermasalahkan masalah ini lagi. Tapi aku harap kau tidak akan pernah mengganggu anakku lagi.”.

Rahang Jungkook mengeras, “Bukankah ini tidak adil? Aku tidak bersalah tapi kenapa aku tidak boleh bertemu dengannya lagi?”serunya. “Harusnya anda mendengarkannya? Tentang apa yang sudah terjadi padanya? Darimana luka-luka di tubuhnya berasal? Kenapa terdapat banyak memar di tubuhnya dan kenapa dia mencoba bunuh diri. Bukankah anda adalah ibunya? Tapi kenapa anda tidak mempercayainya?”

“YA!” Ayah tiri Saeron langsung berdiri. “Kau benar-benar anak kurang ajar yang tidak tau sopan-santun.”

Namun Jungkook mengabaikannya, “Anda tidak seharusnya meninggakannya sendrian di rumah. Apalagi dengan ayah sepertinya.”

“Dasar brengsek!”

 

BUGG

 

Sebuah pukulan mendarat tepat di wajah Jungkook hingga ia termundur beberapa langkah ke belakang. Saeron terperangah, “Appa!!”

Jungkook menghusap sudut bibirnya lalu tersenyum, kedua matanya menatap ayah tiri Saeron lurus, “Aku bahkan tidak tau bagaimana caranya untuk menghormatimu. Karena di mataku, kau benar-benar terlihat buruk.”

Ayah tiri Saeron sudah mengangkat tangannya, akan memukul Jungkook lagi namun suara Saeron langsung menghentikannya. “APPA!”teriaknya dengan wajah yang sudah basah. “Hentikan. Aku mohon.”

Ibu Saeron keluar, memanggil dua penjaga ruangan, “Bawa dia keluar.”suruhnya.

“Omoni, tapi anda harus mendengarkan penjelasanku. Dia menceritakan semuanya padaku, dia—“

“Ayo keluar.” Dua penjaga itu menyeret Jungkook paksa dan mendorongnya keluar ruangan.

“Saeron! Saeron!”

“PERGI!”bentak seorang penjaga ketika Jungkook kembali berusaha masuk.

Namjoon dan Taehyung langsung menahan tubuh sahabatnya itu dan membuatnya berhenti berontak, “Ayo pergi, Jungkook. Kau sudah membuat keributan disini.”

***___***

 

Seulgi dan yang lain hanya bisa menghela napas panjang melihat kondisi Jungkook yang sangat amat berantakan itu. Pria itu duduk menyendiri di halaman belakang rumah Hoseok, tidak memperbolehkan siapapun mendekatinya. Dia bilang, dia ingin sendiri dan tidak ingin di ganggu.

Berdiri sambil menatap punggung pria itu, Jimin menghela napas panjang. Ia menoleh kearah Taehyung yang juga berdiri di sebelahnya, “Apa yang sudah terjadi?”

Taehyung menggeleng, “Tidak tau. Aku dan Namjoon hyung hanya berdiri di luar ruangan.”

Jimin terdiam sejenak, “Apa dia memukul ayah tiri Saeron lagi?”

“Sepertinya tidak.”balas Taehyung tidak setuju. “Aku melihat ada luka memar di sudut bibirnya. Aku rasa dia yang di pukul.”

“Benarkah? Kenapa kau tidak bilang?” Jimin berbalik, sudah akan memanggil Seulgi namun Taehyung langsung menahan lengannya.

“Apa kau pikir luka itu bisa menyakitinya?”serunya menatap Jimin lurus. “Ada bagian lain yang lebih sakit. Pukulan itu mungkin tidak terasa sama sekali baginya.”

“Oh ya ampun, masalah ini jadi semakin rumit.” Jimin mengacak rambutnya frustasi.

“Aku semakin merasa penasaran sebenarnya siapa orang tua Saeron itu.” sahut Suga, bergabung dengan Jimin dan Taehyung. “Mereka bahkan memiliki penjaga yang akan menjaga ruangan Saeron, juga yang menemani ayahnya pergi kemanapun. Apa mungkin orang kaya?”

“Entahlah. Yang jelas mereka sangat menyebalkan.”

***___***

 

Situasi yang sama juga terjadi di sekolah. Setelah beberap hari, itu adalah pertama kalinya Jungkook kembali masuk sekola. Pria itu terus duduk diam di mejanya, tidak mengijinkan siapapun mendekatinya apalagi bicara dengannya. Sementara Jimin, terus berjaga di sisinya dan memperingatkan orang-orang yang mencoba untuk mengajaknya mengobrol agar mereka menjauh.

Sebaiknya jangan berurusan dengan pria itu untuk saat ini. Karena, jangankan orang lain, dia bahkan tidak mau bicara dengan sahabat-sahabatnya sendiri.

Saat bel pulang sekolah berbunyi, bahkan sebelum guru menyelesaikan pelajarannya, jJungkook langsung menyambar tas ranselnya dan pergi meninggalkan kelas. Ia mengabaikan teriakan guru yang terus berteriak memanggilnya. Hal itu lagi-lagi membuat Jimin dan Jinny hanya bisa menghela napas panjang.

***___***

 

Hari sudah mulai gelap saat ia tiba di gedung rumah sakit itu. Dia tau, dia tidak akan di terima lagi. Dan dia juga tau, jika dia berusaha untuk memberontak lagi, gadis itu akan menangis. Dan mungkin, kesehatannya akan semakin memburuk.

Tapi hatinya tidak bisa terus diam. Saat ia berkali-kali menyuruh dirinya untuk menyerah, hatinya terus melakukan perlawanan. Jika ini adalah cinta pertamanya, dia pikir cinta pertama ini akan berakhir manis seperti teman-temannya. Tapi ternyata, dugaannya salah. Cinta pertamanya tidak semudah itu.

Hujan deras tiba-tiba mengguyur kota Seoul jadi dia pikir Saeron tidak mungkin berada di taman seperti biasanya. Mungkin saat ini dia berada di ruangannya. Pria Itu berjalan melewati lorong menuju ruang perawatan Saeron. Dia tidak akan membuat keributan, setidaknya dia ingin melihat kondisinya hari ini. Walaupun dari jauh. Namun begitu sampai di ruangannya, dia tidak melihat ada orang-orang yang berjaga seperti biasa. Seketika Jungkook menerobos masuk ke dalam dan detik berikutnya kedua matanya membulat lebar. Ruangan itu kosong.

Pria itu berlari keluar, menghampiri suster penjaga, “Dimana pasien yang ada di ruangan itu?”

“Maksud anda, nona Kim Saeron? Oh, dia sudah pulang tadi siang.”

“Pulang? Bukankah kondisinya belum sepenuhnya pulih?”

“Iya. Tapi keluarganya memaksa untuk membawanya pulang ke rumah. Mereka bilang, mereka akan melanjutkan pengobatannya di rumah sakit Busan.”

Rahang Jungkook mengatup keras. Dia terlambat, Dan sekarang dia bahkan tidak tau dimana alamatnya.

Seketika kehilangan kesadarannya, pria itu melangkah keluar menuju halte. Dia bahkan tidak merasakan hawa dingin yang langsung menggigit tulangnya saat air hujan mengguyur sekujur tubuhnya. Terhuyung nyaris saja jatuh, ia terduduk di kursi halte dalam keterdiamannya. Sekali lagi,ia tenggelam dalam rasa sakit itu.

Sekarang, apa yang harus ia lakukan? Dia harus mencari kemana?

Ketika kemudian ia melihat sepasang kaki berdiri di depannya dalam tunduknya, ia mengangkat wajahnya perlahan.Pada sosok yang sejak tadi ia cari, ia menemukannya kini telah berdiri di hadapannya. Dengan tubuh yang sudah basah kuyup.

Jungkook langsung berdiri tanpa kesadaran, menarik tubuh mungil itu ke dalam dekapannya dan memeluknya erat. Dia… tidak sedang bermimpi, kan?

“Kenapa kau basah kuyup?”tanyanya menguraikan pelukannya. “Kau tidak apa-apa? Kau bisa sakit.” Dengan cepat, ia membuka blazernya dan memakaikannya pada Saeron. “Apa yang kau lakukan disini?”

Saeron terdiam. Hanya menikmati sisa waktunya untuk menatap wajah itu. Wajah yang sangat ia rindukan.

“Kau pasti mencariku, kan?”tanyanya pelan, suaranya terdengar serak. “Aku pikir kau pasti akan mencariku disini dan ternyata dugaanku benar.” Gadis itu buru-buru menghusap air matanya yang mulai merembes dan berusaha bersikap senormal mungkin. “Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu.”

Perasaan Jungkook mulai memburuk, “Apa?”

“Aku ingin berterima kasih karena kau telah mengijinkanku tinggal bersamamu selama ini. Aku sudah berjanji akan membayarnya jadi aku harap kau bisa menerima ini.” Saeron menyodorkan sebuah amplop putih kearah Jungkook.

“Apa ini?” Jungkook mulai merasa kesal.

Saeron meraih sebelah tangan Jungkook dan meletakkan amplop itu diatas telapak tangannya, “Aku sudah berjanji untuk—“

“Apa?!” Jungkook langsung menepis tangan Saeron, membuat amplop itu terjatuh. “Apa kau pikir selama ini aku menginginkan itu?!”

Saeron hanya diam, gadis itu membungkuk, mengambil amplop itu dan kembali meletakkannya diatas telapak tangan Jungkook.

“Ini adalah janjiku.”

Jungkook kembali menepis, “Aku tidak akan menerimanya! Tidak akan!”

“Lalu apa yang harus aku lakukan?!” suara Saeron ikut meninggi. “Kau selalu mengeluh karena aku terus menghabiskan uangmu! Kau harus bekerja lebih keras karena aku tinggal bersamamu! Aku akan pergi jadi aku tidak ingin memiliki hutang budi pada siapapun. Aku—“

“Apa kau masih tidak mengerti?”potong Jungkook, kini suaranya melemah. Di tatapnya manik mata Saeron sungguh-sungguh, “Kau sungguh tidak mengerti?”ulangnya lagi.

Saeron terdiam. Sebisa mungkin menahan tubuhnya untuk tidak memeluk, untuk tidak kembali. Sebisa mungkin menjaga mulutnya agar tidak mengatakan isi hatinya.

“Kau bilang kau tidak suka karena aku selalu mengikutimu! Lalu kenapa sekarang kau seperti ini?!” serunya. “Kau bahkan membuat keributan! Dan kau memukul ayahku! Sebenarnya apa yang kau inginkan?!”

“AKU MENCINTAIMU!”bentak Jungkook yang langsung membuat Saeron bungkam. “Kau dengar? Aku tidak bisa membiarkanmu pergi karena aku mencintaimu!”

“…Apa?”

“Aku tidak mengerti kenapa kau tiba-tiba menjadi seperti ini. Kenapa kau tiba-tiba pergi dan menghindariku. Aku terus berpikir apa yang harus aku lakukan, karena aku tidak ingin kau pergi. Lalu aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?”

Saeron termundur beberapa langkah ke belakang, “Tidak mungkin.” Ia menggeleng. “Kau pasti berbohong, kan?”

“Saeron, aku mencintaimu.”ulang Jungkook jelas. Ia maju mendekati Saeron, tangannya terulur hendak akan meraih tangannya.

“Tidak!” Namun Saeron kembali mengambil langkah mundur, “Tidak…”lirihnya. “Jangan dekati aku lagi! Pergi!” Gadis itu mendorong tubuh Jungkook kuat lalu berlari meninggalkan tempat itu.

Kedua tangan Jungkook terkepal kuat saat gadis pertama yang ia cintai itu berlari meninggalkannya. Ia ingin bergerak, ia ingin mengejarnya, namun keseluruhan tenaganya telah habis terkuras. Rasa sesak dan penolakan itu.

Ia menerjang hujan dan dilihatnya gadis itu menghentikan sebuah taksi. Taksi itu berlalu dan menghilang. Namun ia masih di tempatnya semula berdiri. Di halte di depan rumah sakit. Tempat dirinya bertemu serta kehilangan gadis itu.

***___***

 

Sejak pulang sekolah lalu, Taehyung dan yang lain menunggu Jungkook hingga pria itu kembali ke rumah. Hingga tepat pukul 11 malam, setelah hujan deras akhirnya reda, terdengar suara derap langkah seseorang menaiki anak-anak tangga. Taehyung langsung berdiri dan menghampirinya begitu ia muncul.

Dengan raut khawatir karena sekujur tubuhnya basah kuyup, di cekalnya kedua bahu sahabatnya itu, “Kau sudah gila?! Sadarlah!” Ia mengguncang tubuh Jungkook kuat. “Ya! Jeon Jungkook!”

Jungkook perlahan mengangkat wajahnya, menatap Taehyung dari balik mata teduhnya, “Kau benar.”irihnya. “Aku mencintainya.”

***___***

 

Waktu terus berjalan hingga tanpa terasa lima bulan telah berlalu. Satu bulan sejak kejadian itu, Jungkook masih mencarinya di seluruh kota Seoul. Namun hasilnya selalu nihil. Dia tetap tidak menemukannya di manapun. Dan perlahan, dia mulai meyakini jika gadis itu memang benar-benar telah meninggalkan Seoul.

Satu bulan yang meletihkan, satu bulan yang nyaris membuatnya gila. Namun, terima kasih untuk semua teman-temannya yang tidak pernah meninggalkannya. Yang selalu ada di samping kanan dan kirinya untuk menjaganya.

Dan sekarang, ini saatnya untuk bangkit. Ia kembali pada rutinitasnya seperti semula. Pergi sekolah dan bekerja paruh waktu setelah itu. Bersyukur manager café masih mau menerimanya dan membiarkannya bekerja disana.

“Apa kau akan datang besok?”tanya Suga sambil membersihkan etalase.

Kening Jungkook berkerut, “Kemana?”

“Kau lupa?” Pria itu menarik punggungnya dan menoleh kearah Jungkook. “Besok adalah hari kelulusan Jin dan Namjoon.”

“Oh ya ampun. Kau benar. Hampir saja aku lupa.”

“Bagaimana bisa kau melupakannya? Bukankah kalian bersekolah di sekolah yang sama?”cibir Suga.

“Aku lupa.”

“Dasar. Sudah membeli bunga? Aku dan Wendy akan membeli bunga besok. Kau mau titip?”

“Tidak usah. Aku akan membelinya sendiri.” Jungkook menggeleng.

“Ya! Berikan aku minuman dingin.” Tiba-tiba Hoseok muncul dengan napas terengah.

Jungkook menatapnya dengan satu alis terangkat, “Kami masih tutup. Kau tidak membacanya?”

“Cepatlah. Aku sangat haus.”

Tak lama Taehyung dan Jimin muncul, sama halnya dengan Hoseok, keduanya juga terengah-engah saat masuk ke dalam café.

“Apa yang telah kalian lakukan? Kenapa terengah-engah begitu?”tanya Suga bingung.

“Si brengsek ini.” Jimin menunjuk Taehyung. “Dia mengganggu anjing galak yang ada di depan sana. Aku berlari hingga rasanya jantungku akan putus.”jawabnya di sela napasnya yang terengah.

“Si brengsek bodoh.” Hoseok menerima minuman dinginnya lalu mendorong tubuh Taehyung kesal.

Taehyung terkekeh, “Aku tidak tau jika anjing itu sangat galak. Wajahnya terlihat sangat lucu.”

“Jika kau mau mengganggu anjing galak lagi, jangan libatkan kami.”dengus Jimin, menyusul Hoseok duduk di salah satu kursi.

“Kau gila? Apa kau tidak punya pekerjaan lain?” Suga ikut mencibir. “Dasar bodoh.”

“Aku hanya mencari kesenangan. Kenapa tidak boleh?”balasnya dengan senyum tanpa dosa. “Aku ingin yang seperti biasa.”

“Aku tau.” Jungkook meletakkan minuman pesanan Taehyung diatas meja kasir. “Cepat ambil dan pergilah kesana. Kami masih harus membersihkan ini.”

Taehyung tersenyum menyeringai, “Kau memang yang paling mengerti diriku. Terima kasih.”

***___***

 

Malam harinya, seusai bekerja. Mereka bertujuh berkumpul di lapangan basket taman Hangang. Karena besok adalah hari kelulusan muris kelas 12 jadi murid 11 ikut diliburkan. Namun mereka juga diperbolehkan hadir untuk menyaksikan upacara kelulusan.

“Bagaimana rasanya lulus?”tanya Hoseok sambil memantulkan bola basket di depan Namjoon dan Jin yang sedang duduk.

Namjoon dan Jin sama-sama tersenyum, “Melegakan.”

“Aku bahkan tidak menyangka jika Namjoon hyung bisa di terima di universitas Seoul. Selama mengenalnya, aku tidak pernah tau jika dia sangat pintar.”seru Taehyung geleng-geleng kepala.

“Bahkan aku yang selama bertahun-tahun tinggal di sebelah rumahnya juga tidak bisa mempercayai itu.”sahut Jungkook. “Dia tidak pernah terlihat belajar sama sekali.”

“Apa mungkin ada kesalahan?” Jimin ikut bersuara.

“Itu sebabnya kalian tidak boleh meragukan orang lain.” Namjoon tersenyum bangga. “Kalian tidak tau, kan? Sebenarnya aku adalah seseorang yang sangat jenius.”

Hoseok mengangguk, “Kita memang tidak boleh menilai orang dari luar. Walaupun wajahnya terlihat seperti orang bodoh.”

“Lau kau bagaimana?” Suga menatap Jin.

“Seulgi bilang dia ingin masuk ke Universitas Yonsei jadi aku bekerja keras agar bisa masuk kesana. ”

Jimin langsung tertawa, “Seulgi benar-benar tau cara menyiksanya.”

Jin menghela napas panjang, menyetujui ucapan Jimin tersebut, “Aku tidak bisa berkutik sedikitpun.”

“Kalian sudah berjanji untuk tidak minum walaupun kalian sudah legal. Tunggu satu tahun lagi, ayo kita minum bersama-sama.” Kemudian Taehyung berlari mendekati Suga. “Lempar bolanya padaku.”

***___***

 

Keesokan harinya, semua orang sudah berkumpul di depan gedung aula kecuali Jungkook. Namjoon dan Jin sudah lebih dulu masuk ke dalam gedung untuk bersiap-siap sementara yang lain menunggu di luar karena Jungkook belum juga datang.

“Dia sudah bangun, kan?”tanya Taehyung.

“Sudah. Aku baru saja menelponnya. Dia bilang dia harus beli bunga lebih dulu.”

“Anak itu… lima menit lagi kita harus masuk ke dalam.”desah Taehyung.

“Tapi ngomong-ngomong, apa seharusnya kita tidak bersama-sama seperti ini?” Hoseok menggaruk belakang tengkuknya. “Kita semua berpasangan, sementara dia sendirian. Aku khawatir Jungkook akan merasa canggung.”

“Ya, itu sudah berlalu cukup lama. Aku yakin dia sudah melupakan Saeron.”sahut Taehyung.

“Melupakan seseorang tidak semudah itu. Apalagi dia adalah cinta pertamanya.”ucap Shannon. “Haruskah kita berpisah saja?”

“Ya! Apa yang mau kau lakukan?” Taehyung langsung menggandeng tangan Shannon dan menariknya. “Kau berniat tebar pesona dengan murid-murid disini begitu? Kau pikir aku tidak bisa membaca niat burukmu itu?”

Shannon mendorong kening Taehyung dengan jari telunjuknya, “Jangan berpikir yang tidak-tidak dan lepaskan tanganku.”

“Melupakan seseorang memang tidaklah mudah. Tapi aku rasa Jungkook sudah lebih baik. Lihat saja, dia sudah kembali seperti dulu.”kata Jisoo.

“Kau tidak tau apa yang ada di dalam hatinya, kan? Walaupun sudah lebih baik tapi kita tidak tau apa yang ada di pikirannya. Selama aku mengenalnya, dia adalah tipe orang yang selalu memendam masalahnya. Aku yakin dia masih merasa sakit hati, hanya saja dia tidak pernah menunjukkannya di depan kita.”

“Aku sudah berkali-kali mencarikan gadis lain untuknya tapi dia selalu menolak. Sekarang dia bahkan mengancamku, dia akan memukulku jika aku berusaha menjodohkannya lagi.”cibir Taehyung. “Padalah aku ingin membantunya melupakan Saeron. Menyebalkan.”

“Kita tidak bisa—“

“Apa aku terlambat?” Tiba-tiba sebuah suara terdengar. “Kenapa kalian belum masuk?”tanya seseorang yang ternyata Jungkook itu.

Semuanya sontak menoleh terkejut, “Oh? Kau sudah datang?” Taehyung tersenyum, dalam hati berharap jika Jungkook tidak mendengar percakapan mereka tadi.

“Maaf, aku tidak tau dimana toko bunga jadi aku terlambat. Ayo masuk.”

“Ayo.” Taehyung langsung merangkul pundaknya dan berjalan di sisinya.

Jungkook menoleh dengan kening berkerut, “Kenapa kau membiarkan Shannon sendirian?” Ia mendorongnya pelan. “Jalan bersamanya.”

“Dia bersama Seulgi dan Jinny.” Taehyung merangkul pundaknya lagi. “Ayo.”

***___***

 

Rasanya bahagia saat melihat orang-orang yang mereka sayangi kini berdiri di atas podium untuk menerima medali kelulusan dan penghargaan. Namjoon mendapat penghargaan atas kekeniusannya karena bisa masuk ke dalam Universitas Seoul serta berada di peringkat ke lima. Sementara Jin, ia mendapat penghargaan karena telah beberapa kali mengharumkan nama sekolah atas prestasinya di bidang basket. Karena ia telah berhasil memimpin timnya dengan baik.

Jin berdiri di tengah panggung, bersiap akan memberikan pidato singkat sebagai perwakilan seluruh murid kelas 12 yang telah lulus.

Pria tampan itu menarik napas panjang lalu memulai pidatonya, “Aku memulai hidupku di sekolah ini sebagai murid angkuh yang menganggap jika semua orang akan menyukaiku. Aku tidak pernah memikirkan perasaan orang lain dan selalu melakukan apa yang aku inginkan. Namun, ketika aku bertemu dengan gadis itu, untuk pertama kalinya, seseorang bisa memahamiku dengan baik. Dia mengatakan jika semua yang aku lakukan hanyalah bentuk pertahanan diriku agar orang lain tidak mengetahui siapa diriku sebenarnya. Dia bilang, sebenarnya aku tidak harus seperti itu. Aku bisa menjadi diriku sendiri jika aku bisa mulai percaya pada orang lain.”

“Beberapa masalah terjadi dalam hidupku, membuatku menyembunyikan siapa diriku sebenarnya dan menjadi orang lain. Saat-saat terberat yang harus aku lalui seorang diri. Tapi, selain menyadarkanku, gadis itu juga memberitahuku tentang artinya persahabatan. Tentang ketulusan dan kepercayaan. Aku mulai membuka hati dan lapang dada atas semua masalah yang telah terjadi dalam hidupku.”

Jin terdiam sejenak lalu tersenyum sembar menatap Seulgi yang duduk di samping ibunya.

“Terima kasih, Kang Seulgi. Karena kau telah mengenalkanku pada orang-orang yang bisa aku panggil sebagai sahabat. Dan terima kasih untuk para berandalan yang selalu membuat onar namun tidak pernah meninggalkanku disaat apapun. Terima kasih atas persahabatan dan terima kasih karena telah membuat waktu kelas 12-ku berarti.”

“Untuk ibu… aku tidak bisa mengekspresikan perasaanku dengan baik jadi ini terasa sedkit canggung. Tapi terima kasih karena ibu bisa hadir disini. Dan terima kasih atas kesabaran ibuku selama menghadapiku. Terima kasih ibu…”

Suara tepuk tagan menggema di seluruh ruangan. Ibu Jin menghusap air matanya lalu berpelukan dengan Seulgi. Sementara Jin turun dari panggung dan langsung memeluk Namjoon yang sejak tadi berdiri di tepi panggung, menontonnya.

“Kau hebat.”bisiknya.

Jin tersenyum lalu keduanya kembali ke tempat duduk mereka.

TBC

6 thoughts on “BANGTAN’S STORY [JUNGKOOK’S VERSION] : I NEED YOU PART 11

  1. Byul berkata:

    Kasihan uri Jongkookie,,my cokkies cokkies…cinta pertamanya gak seindah cinta teman2nya..

    Udah lima bulan,,apa nanti saeron bakal tiba2 datang dan bilang “Jongkook-ah, aku kembali ^_^”

    Rasanya gak adil buat jongkook,,karena dia udah ngalamin masa-masa yang sulit,,bahkan lima bulan adalah waktu yang cukup lama buat dia berpura-pura semua baik-baik saja.. :’)

    Tapi tumben ya, TBC tanpa adegan menegangkan😀

    Semangat Mija-ssi ^_^
    Ah iya, cuma mau ingetin kalo author punya banyak hutang ff yg belum ditamatin😉

  2. Tae24 berkata:

    Oh Mi Ja ssi tolong lanjutin the lord of the legend dong…. aku nungguin udh lama…. gk update lg… aku penasaran…

  3. ellalibra berkata:

    Mungkin itu bayaran krn jongkook sll bersikap cuek sm saeron dlu jd kan sama” seri hehe ….. Smg jongkook nemuin cnt nya fighting”

  4. Taehyungie berkata:

    Ahh jinie pidato nya bikin terharu😂 kang seulgi kerennn bisa ngerubah jin menjadi org yg lebih baik😄 persahabatan emang kerennn😍😍😍😍

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s