Who Are You ? (Chapter 3)

untitled2

Tittle : Who Are You?

Author : Park Rami [@Ohxodus]

Genre : Brothership, a little bit Crime/Thriller, and Comedy

Main Cast :

  • Oh Sehun a.k.a Byun Sehun
  • Oh sehun a.k.a Oh Sehwan
  • Byun Baekhyun a.k.a Byun Baekhyun
  • And others,

Lenght : Chaptered

Disclaimer : Baekhyun and Sehun belong to God, SM Entertaiment, and their parents. This Fanfiction belongs to me and real my imagination.

Happy reading^^

Chapter 3 : Heart has been eaten by Revenge

Baekhyun terus meminum susunya tanpa memperdulikan Sehun yang terus berusaha mengajaknya berbicara yang menurutnya adalah hal tak penting.

Hyung temanku ingin bertemu Baekhee?” Sehun terus melayangkan pertanyaan yang sama pada Baekhyun, sesekali namja itu juga meneguk susunya.

Sehun menatap kesal Baekhyun, karena hyungnya itu sama sekali tidak mejawab pertanyaan darinya walau hanya sepatah katapun. “Hyung jangan salahkan aku jika mereka tetap memaksa,” setelah mengucapkan itu, Sehun berlalu pergi. Tentu saja untuk berangkat sekolah. Sedangkan Baekhyun hanya menatap malas Sehun dan ia segera menyimpan gelasnya dan gelas Sehun ke dalam wastafel. Setelah merapikan diri Baekhyun segera berangkat ke kuliahnya, hari ini dia ada kelas pagi.

 

[In Sehun Place]

Jongin melirik Sehun yang sejak tadi terus menukikkan kedua alisnya tajam-Sehun berpikir-. Sahabatnya itu nampak uring-uringan sejak tadi.

“Kau memikirkan apa?” tanya Jongin penasaran. Sehun menoleh pelan, “Temanku ingin bertemu Baekhee.”

“Baekhee?” tanya Jongin bingung.

“Baekhee itu model animeku,” jawab Sehun singkat, masalahnya Jongin juga tidak tahu siapa Baekhee yang sebenarnya.

“Oh yeoja yang waktu itu, kalau begitu biarlah mereka bertemu dengannya atau jika Baekhee tidak mau maka bilang lain kali saja,” Jongin memberi saran.

Sehun mendelik, “Tidak semudah itu.”

“Memangnya kenapa?” kali ini Jongin yang mulai kesal, tidak perlu mendelik juga kali.

“Temanku itu tidak mau menerima penolakan dan juga mereka sudah berjanji untuk mentraktirku selama 1 bulan,” Sehun menjawabnya dengan satu tarikan napas.

“Kenapa kau terlihat marah? Lagipula bagaimana jika mereka bohong dan malah tidak jadi mentraktirmu!” Jongin memperingati Sehun.

Sehun menarik napas sejenak guna meredam emosinya, “Itu tidak akan terjadi! Aku sudah membuat surat keputusannya dan mereka mentandatanganinya dan surat itu juga tidak dapat diganggu gugat. Juga aku sudah memfotocopy surat tersebut dan juga foto kami yang berjabat tangan, aku sudah menempelkannya di mading sekolah.”

“Hah?!” Jongin membuka mulutnya lebar-lebar, ia tidak mengerti apa yang Sehun sedang pikirkan tapi oh ayolah itu terlalu kekanakan. “Terserah kau saja, lebih baik kau tanyakan saja pada Baekhee noona.”

Sehun terdiam, ‘Itulah masalahnya.’ Batin Sehun miris dalam hatinya.

 

=><=

 

Sehwan merapikan semua bukunya dan segera keluar dari kelasnya, ia terlihat buru-buru. Tetapi seorang yeoja meghentikannya, “Shixun-ah where are you going?”

I’am sorry but I am in hurry!” jawab Sehwan cepat tetapi sekali lagi yeoja itu menghentikannya, “I know but take it, It is Chocolate! Please!”

Sehwan melirik sebuah kotak yang disodorkan yeoja itu, “Waeyo?”

Yeoja itu hanya menggeleng pelan dengan rona di pipinya namun kemudian Sehwan menerimanya, “Thanks.”

Sehwan hanya menggelengkan kepalanya, akhir-akhir ini ia sering mendapat coklat, bunga, bahkan surat cinta. Tetapi Sehwan tidak akan ambil pusing untuk hal itu. Toh dia tidak peduli dengan hal itu. Setelah itu Sehwan langsung meninggalkan yeoja itu dan berlalu pergi menuju tempat tujuannya.

Saat ini Sehwan sudah berada di depan gedung tua dan segera menuju semak-semak untuk menuju ke ruang bawah tanahnya. Sehwan menatap seorang namja yang termenung di tengah-tengah ruangan tersebut.

“Maafkan aku karena datang terlambat,” ucap Sehwan basa basi sambil mendekati Woohyun. Woohyun tidak menjawab membuat Sehwan terkekeh kecil.

“Ah… apa kau kesal padaku Saem?” tanya Sehwan dengan senyum tipis yang terpampang di wajah tampannya. “Kau tahu? Sebenarnya aku tidak pernah menikmati pekerjaan ini tapi sekarang aku mulai menikmatinya. Yah yah begitulah tapi apa kau siap?”

“Kenapa kau tidak langsung membunuhku?!!!” bentak Woohyun dengan air matanya yang entah sejak kapan mengalir. Sedangkan Sehwan, namja itu hanya menatap Woohyun dengan wajah stoicnya

“Kau!! Apa kau tahu dosa yang telah kau perbuat?!! Apa yang akan kau katakan pada Tuhan nantinya!!!” bentak Woohyun sekali lagi.

Sehwan menatap Woohyun dingin, “Aku disini hanya melakukan tugasku. Kau tidak perlu memerintahku.”

Woohyun tertawa, “Semalam kau bercerita padaku tentang masa lalumu bukan? Aku tebak, kau pasti bercerita pada setiap orang yang telah menjadi korbanmu. Karena itulah kau mengatakan kau menikmatinya!!” kata Woohyun sambil berteriak di akhir kalimatnya.

“Kau bercerita pada korbanmu karena kau tidak punya tempat untuk mencurahkan isi hatimu, bukankah begitu? Karena itulah kau mengatakan menikmatinya, sungguh ironi.” Woohyun menatap tajam Sehwan dan begitu juga sebaliknya, “Kau bilang kau sangat menyayangi adikmu tapi dia pasti akan kecewa jika dia melihatmu seperti ini hahaha.. dia pasti ingin menonjok wajahmu jika bertatapan denganmu.”

“Kau banyak bicara Saem,” Sehwan bekata dengan aura gelap yang mulai menyelimutinya, hal itu dapat membuat bulu kuduk Woohyun meremang, tetapi itu sama sekali tidak menurunkan nyalinya.

Woohyun menundukkan kepalanya dalam-dalam, “Sebenarnya aku ingin mengatakan ini padamu…” Woohyun menjeda ucapannya. “Aku telah melihat banyak orang sepertimu, yang telah tersesat.”

Woohyun mengangkat wajahnya dan menatap tajam Sehwan, “Orang yang tersesat akhirnya balas dendam dimana-mana.”

“Dan yang paling aku tidak mengerti…” Woohyun semakin menatap tajam Sehwan yang hanya dibalas tatapan datar dari Sehwan.

“Kenapa aku bisa bertemu dengan pembunuh sepertimu?! Kau itu sudah termakan dendam!!” Woohyun berkata dengan penekanan di setiap kata-katanya.

“Dan yang paling penting..”

“HATIMU TELAH TERMAKAN OLEH DENDAM PAYAHMU ITU!!”

Sehwan menatap geram Woohyun, rahangnya mengatup, dan tangannya mengepal erat. Pria ini benar-benar membuat kepalanya mendidih.

Sehwan mendekati Woohyun dengan perlahan, kemudian berbisik tepat di telinga Woohyun, “Aku tidak akan berbelas kasih denganmu!”. Tepat setelah memperingati Woohyun dengan ancamannya, Sehwan menusuk perut namja itu dengan pisau yang ia genggam.

“K-kau_____

Belum selesai Woohyun berbicara, Sehwan sudah menarik lidah Woohyun dan mengguntingnya membuat Woohyun menjerit tertahan. Sehwan menggenggam benda kenyal tersebut dan tanpa perasaan ia membuka mulut Woohyun dan memasukkan potongan lidah Woohyun ke dalam mulut Woohyun sendiri.

“Telan!” perintah Sehwan sambil terus menutup mulut Woohyun dengan tangannya. Woohyun menggeleng kuat mencoba untuk menolak. Sehwan yang melihat itu tanpa basa-basi memasukkan sikat gigi ke dalam mulut Woohyun dan mendorong lidah itu agar masuk.

Glup!

Tubuh Woohyun bergetar saat lidahnya sendiri tertelan olehnya mengalir lewat kerongkongannya dan berhenti di lambungnya. Sehwan menatap Woohyun datar tetapi bibirnya menyeringai bengis, “Aku tidak akan berbelas kasih padamu karena kau telah membuatku marah. Seharusnya kau tidak mengucapkan kata-kata yang membuatku marah agar aku bisa mengoyak tubuhmu tanpa harus merasakan sakitnya goresan luka!”

Setelah mengucapkan itu, Sehwan membuang jauh-jauh alat suntik yang berisi cairan, cairan itu dapat membuat tubuh korbannya mati rasa sehingga korbannya tidak akan merasakan sakit apapun. Tetapi itu tidak berlaku untuk Woohyun saat ini karena dia telah membuat dirinya menjadi lebih kejam dan bagi Sehwan itu adalah kesalahan fatal untuk korbannya karena telah membuat sang pemangsa murka.

Kali ini Sehwan mengambil gunting pemotong rumput dan mengarahkannya ke tangan kanan Woohyun. Dan tanpa perasaannya lagi ia memotong pergelangan tangan Woohyun. Kemudian ia menendang telapak tangan itu, darah merembes deras dari tangan Woohyun. Dia benar-benar menyiksa korbannya, benar-benar psikopat.

epha beunuh awu!” Woohyun berkata susah payah karena lidahnya sudah terpotong. Sehwan menatap Woohyun dengan tampang kasihan yang tampak dibuat-buat, “Apa kau bilang ‘cepat bunuh aku!’?”

Woohyun mengangguk sambil menangis, ia tidak tahan dengan siksaan ini. Sehwan mendekat dan menyeringai kejam ke arah Woohyun yang menangis.

“Oh ckckck itu terserah aku,” kata Sehwan sambil menggerakkan telunjuknya ke kanan dan kiri. Setelah itu ia mengambil sebuah cap besi yang sudah membara karena dibakar. “Kau tahu ini apa Saem?” tanya Sehwan sambil menunjukkan cap besi itu tepat di depan wajah Woohyun membuat Woohyun reflek menjauhkan wajahnya dari besi panas itu.

“Hn.. kau tidak tahu? Atau pura-pura tidak tahu?” tanya Sehwan lagi ketika melihat Woohyun hanya diam memejamkan matanya. “Aku akan menjawabnya setelah yang satu ini,” Dan setelah itu Sehwan langsung menempelkannya kuat-kuat di lengan Woohyun.

“AAARGHHH!!!” Woohyun menjerit merasakan panas di lengannya, dia merasa kulitnya melepuh karena cap besi itu.

Sehwan tetap menempelkan besi itu, tidak peduli besi itu akan menembus kulit atau daging Woohyun, Sehwan menatap korbannya tajam, “Ini adalah bagian terpentingnya.”

“Nah sudah selesai,” Sehwan berucap bangga sambil meniup-niup hasil karyanya, “Sebuah ukiran angin tornado,” Setelah mengucapkan itu tatapannya mendadak berubah menjadi sendu. Di lengan Woohyun sudah ada ukiran itu, ukiran rumit yang ternyata berbentuk angin tornado.

Tetapi itu hanya berlaku sesaat, kemudian ia kembali menyiksa Woohyun sampai Woohyun menghembuskan napas terakhirnya.

 

=><=

 

“Kau menjualku?!!” tanya Baekhyun tak percaya sambil melotot galak di depan Sehun.

“Ayeee… jangan melebih-lebihkannya hyung, mereka hanya akan mentraktirku. Dan ingat! Aku tidak menjualmu lagipula mereka sendiri yang memaksa,” bela Sehun tidak terima dengan tuduhan hyungnya itu.

Baekhyun menyatukan kedua alisnya menjadi satu tanda ia marah, “Huh! Seharusnya kau menolaknya saja! Dimana kejantananmu Sehuuuuuuunn?!!”

“Mwo?! Sudah kukatakan tak bisa. Dan apa ini?! Kenapa kau berbicara tentang adikku? Tentu saja masih di tempatnya!” balas Sehun tak kalah geram.

“Siapa yang berbicara tentang adikmu itu?! Maksudku itu, dimana jiwa seorang lelakimu huh?!” Baekhyun berujar kesal sambil menunjuk-nunjuk tempat terlarang Sehun, akibat pergerakan Baekhyun Sehun reflek menutupinya dengan kedua tangannya.

“Huh! Kau menyebalkan hyung!” ucap Sehun sambil membelakangi Baekhyun, “Lagipula kau itu kadang seenaknya memotong uang saku sekolahku, lihatlah sekarang aku jadi kurus!” Sehun berujar kesal sambil bersedekap dada. “Lihat saja aku akan mengaduh pada Appa nanti ketika Appa sudah kembali dari Jepang,” Sehun mencebikkan bibirnya.

Baekhyun tetap diam, sebenarnya ia ingin membantu Sehun tapi oh ayolah ini sangat memalukan merubah penampilan dirinya kembali menjadi seorang yeoja.

Lama mereka saling terdiam hingga akhirnya Baekhyun menghela napas lelah, Sehun begitu keras kepala jadi dia memutuskan akan membantunya saja. Akhirnya Baekhyun menyetujui permintaan Sehun, dia melakukan ini sebagai seorang kakak yang baik untuk seorang adik, “Arasseo, aku akan membantumu.”

Sehun langsung membalikkan badannya dan menatap Baekhyun berusaha mencari kebohongan di matanya, “Jinjjayo?”

Baekhyun mengangguk, “Tapi hanya sekali dan ini yang terakhir.” Sehun mengangguk senang, “Baiklah, lain kali kalau mereka ingin bertemu denganmu aku akan bilang bahwa Baekhee pindah keluar negeri.”

Arasseo, cepatlah atau aku berubah pikiran,” ancam Baekhyun, Sehun terkekeh mendengar ancaman Baekhyun.

 

[Skip time]

 

Sehun dan Baekhyun keluar dari rumah mereka dan hendak menuju bagasi tapi di depan pintu mereka dipertemukan dengan Jongin.

“Jongin apa yang kau lakukan disini?” tanya Sehun kelabakan, takut-takut Jongin mengetahui rencananya tentang Baekhee.

“Aku berencana ikut denganmu untuk bertemu dengan Baekhee noona,” ucap Jongin tanpa mengalihkan perhatiannya dari Baekhyun.

“Kapan kau datang?” Sehun bertanya lagi. “Baru saja tepat saat aku akan mengetuk pintu kau keluar.”

Sehun bernafas lega mendengar jawaban Jongin. “Sehun-ah Baekhyun hyung mana?”

“Hah? Eh? dia ada di rumah temannya,” antara kaget dan bingung Sehun menjawab seadanya, Jongin mengangguk mengerti.

“Oh iya kajja nanti kita terlambat,” Sehun segera menarik Baekhyun menuju mobil Jongin. Kemudian disusul Jongin mengikuti mereka.

 

[Skip time]

 

Saat ini mereka bertiga sudah sampai di Kafetaria dekat sekolah Sehun. Di sana sudah ada teman-teman Sehun. Mereka semua langsung berdiri dan membungkuk memberi salam, “Annyeonghaseyo Baekhee Noona!” Mereka menyapa secara bersamaan.

Baekhyun hanya mengangguk dan tersenyum manis, perintah dari Sehun. Mereka semua menatap Baekhyun dari atas sampai bawah. Baekhyun memakai sweater polos berwarna abu-abu kebesaran dan kedua kakinya dibalut celana jeans hitam panjang serta memakai sepatu coklat berhak sedang sedangkan wig coklat sepunggungnya ia biarkan tergerai. Ini semua Sehun yang mendandani, ia browsing tentang ulzzang agar dapat mendandani Baekhyun karena ia hanya tahu tentang mendadani anime.

“Wah Noona neomu yeppeuda!” puji salah satu namja diantara seluruh teman-teman Sehun. Baekhyun hanya tersenyum-lagi- dan menampilkan eyesmilenya yang membuat mereka semua merona.

Setelah pembicaraan panjang yang menurut Baekhyun membosankan, bahkan dia sama sekali tidak berbicara dengan mereka karena Sehun yang akan menjawabnya ketika ada pertanyaan untuknya. Dan saat salah satu teman Sehun ada yang bertanya kenapa dia tidak bicara, Sehun menjawab bahwa ia sedang sakit tenggorokan dan mereka percaya.

Baekhyun melirik jam tangannya sebentar, ini bahkan hampir sore dan dia ingin cepat pulang tapi teman-teman Sehun benar benar memiliki alasan yang banyak untuk mencegahnya pulang. Mereka sudah 3 jam dari tadi siang hingga sekarang.

Waktu hampir sore dan saat ini mereka dalam perjalanan pulang dan Baekhyun sangat gerah saat ini, rambut palsu ini membuat kepala dan leher Baekhyun terasa gatal. Baekhyun hampir saja menarik wignya dari kepalanya jika saja Sehun tidak cepat menahan tangannya. Sehun menunjuk Jongin yang fokus mengemudi dengan dagunya dan Baekhyun mengangguk mengerti. Baekhyun lupa bahwa ada Jongin. Kemudian Baekhyun teringat dengan pertanyaan yang terus mengganggunya akhir-akhir ini.

“Sehun-ah kau kemarin pagi ke Universitasku?” tanya Baekhyun akhirnya.

Ne?!” Sehun menoleh kaget, Baekhyun mencubit perut Sehun. “Bisakah kau merendahkan suaramu!” Baekhyun berbisik pelan takut ketahuan Jongin.

“Jadi kau ke sana tidak?” tanya Baekhyun sekali lagi. Sehun menggeleng, “Aniyo, apa kau lupa pagi-pagi aku sekolah.”

Baekhyun mengerjap bingung dan cengengesan sendiri, “Hehehe aku lupa.”

“Huh, kau ini kebiasaan hyung. Ada apa ini? Kenapa hyung bertanya seperti itu?” tanya Sehun penasaran. Baekhyun menggeleng pelan, “Bukan apa-apa.” Sehun merenggut sebal, hyungnya itu selalu membuatnya penasaran. Kan Sehun jadi kepo.

Baekhyun kembali berpikir siapa sebenarnya orang itu? Kenapa orang itu ada di universitasnya? Dan kenapa wajahnya mirip Sehun? Kemudian Baekhyun teringat sesuatu bahwa Sehun pernah bercerita tentang saudara kembarnya dulu.

“Sehun-ah, Baekhee Noona, aku boleh bertanya?” tanya Jongin sambil melirik mereka sedikit, ia tidak mau menabrak sesuatu.

Mwo?” Sehun menjawab. “Kenapa aku merasa wajah Baekhee Noona mirip dengan Baekhyun hyung?”

Sehun dan Baekhyun saling bertatapan, mereka merasa hampir saja disambar petir. Baekhyun menyikut Sehun agar cepat berpikir. Tak lama kemudian Sehun langsung mendapat ide di otaknya.

“Ah..itu karena Ayahnya adalah kakak dari Ayahku jadi muka mereka hampir sama. Dan juga Baekhyun hyung dan Baekhee Noona sama-sama anak pertama,” Sehun menjelaskan meskipun ia yakini tidak masuk akal.

Jongin terdiam sejenak, “Tapi Sehun-ah waktu itu kau pernah bercerita padaku kalau ayahmu adalah anak tunggal.”

“K..kkapan aku pernah bercerita?” Sehun jadi kelabakan dan Baekhyun hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam, bergulat dengan pikirannya sendiri bagaimana jika Jongin tahu sandiwara ini? Kan memalukan.

“Waktu itu saat kapan yah? Pokoknya kau sedang sedih deh gara-gara bertengkar dengan Baekhyun hyung,” Jongin berusaha mengingat, Sehun merutuk Jongin dalam hatinya kenapa Jongin memiliki ingatan yang kuat sih. Baekhyun juga merutuk Sehun dalam hatinya, kenapa dongsaengnya itu mudah sekali bicara, perkataannya terasa mengalir bak air sungai saja.

Mereka tidak sadar kalau sebenarnya mereka sudah sampai di depan rumah Baekhyun, hanya saja mereka berdua terlalu cemas memikirkan bagaimana jika Jongin tahu Baekhee adalah Baekhyun.

Jongin sendiri tertawa setan dalam hatinya karena berhasil mengerjai mereka berdua, sebenarnya ia sudah tahu tipuan mereka berdua meskipun baru tadi menyadarinya.

Baekhyun mengangkat kepalanya sadar bahwa mereka sudah sampai di depan rumahnya dan segera membuka pintu mobil tapi nihil pintuya terkunci, Baekhyun menatap Jongin dengan kesal.

Waeyo Baekhee noona?”

Baekhyun melirik pintu mobil memberi isyarat pada Jongin agar membukanya. Tapi Jongin menggeleng tidak mau, ia ingin memancing Baekhyun agar berbicara yang sebenarnya. ‘Ini menyenangkan muehehe..’ pikir Jongin dalam hati. Baekhyun menatap nyalang Jongin dan tak henti-hentinya menunjuk pintu mobil agar dibuka sedangkan Jongin hanya menatap Baekhyun sambil mengulum senyumnya. Sehun yang menyadari kabut kelam sudah menyelimuti mereka baerdua, dia pun muncul di tengah-tengah mereka.

“YAH! APAKAH NOONA AKAN BERSELINGKUH DENGAN JONGIN?! WAE GEURAE?” teriak Sehun gak nyambung. Akibat perkataan Byun Sehun keadaan dalam mobil tiba-tiba menjadi hening.

Mereka berdua menatap Sehun bingung. Tetapi kemudian Jongin mengerti bahwa Sehun ingin mengalihkan suasana jadi ia akan ambil bagian untuk ini.

“APA MAKSUDMU SEHUN? Kau jangan egois!” Jongin berhenti sejenak, “Kau seharusnya tahu bahwa ia adalah sepupumu dan juga seharusnya kau tidak jatuh cinta padanya!”

“TIDAK!” Sehun berteriak nyaring, keringat mulai mengalir di pelipisnya, “Baekhee Noona? Kumohon katakan sesuatu AGAR AKU BISA MEMAHAMIMU DAN KAU TIDAK AKAN MENDUAKANKU!”

“Sehun-ah sudah kukatakan DIA ADALAH YEOJA’KU BUKAN YEOJA’MU!” Jongin mulai sinting.

Sedangkan Baekhyun satu-satunya diantara mereka yang sejak tadi berusaha menahan emosinya akhirnya meledak juga. Enak saja mereka menganggapnya seorang yeoja, meskipun saat ini penampilannya adalah yeoja tapi dia kan tetap namja.

“YA! NAN SANG NAMJA! AKU NAMJA!” teriak Baekhyun menggelegar.

 

Hening

Sehun melotot, Jongin tersenyum kemenangan, Baekhyun tak sadar.

Baekhyun yang sadar akan teriakannya barusan langsung bungkam dan menunduk kembali. Jongin angkat bicara, “Gwenchana hyung aku sudah tahu semuanya.”

“MWO?!” bukan, bukan Baekhyun yang berteriak tetapi Sehun. Sedangkan Baekhyun tetap diam menahan malu karena Jongin sudah tahu penyamarannya.

“Cepat buka pintunya!” perintah Baekhyun tanpa menatap Jongin, Jongin segera membuka pintu mobil dan mempersilahkan mereka untuk pulang.

 

=><=

 

Baekhyun berjalan-jalan di sekitar taman yang tidak jauh dari rumahnya. Kemudian Baekhyun melirik jam tangan miliknya, “Hampir tengah malam.”

Baekhyun berjalan-jalan hampir tengah malam seperti ini karena ia ingin menenangkan pikirannya dari tugas kuliahnya yang menumpuk. Baekhyun menghusap kedua telapak tangannya untuk mendapatkan kehangatan dan semakin merapatkan jaketnya karena udara luar semakin dingin. Kemudian ia menghampiri kedai yang masih stay on itu dan duduk di dalam sambil memperhatikan taman yang sepi mungkin hanya 1 atau 2 orang saja yang lewat.

“Anda mau pesan nak?” tanya Ahjussi pemilik kedai. “Ne, 1 coklat panas.”

Beberapa menit kemudian Ahjussi itu kembali dengan membawa coklat panas pesanan datang, “Ini coklat panasnya.”

Ahjussi itu ikut duduk di samping Baekhyun, “Kau kenapa anak muda?”

“Aku menenangkan pikiranku paman, tugas kuliahku menumpuk.”

“Jangan dibuat beban, jangan sampai kau memusuhi tugasmu,” Baekhyun terdiam sejenak mendengarkan perkataan Ahjussi pemilik kedai dan tak lama kemudian ia mengangguk mengerti, “Arasseo Ahjussi, terima kasih,”

Baekhyun kembali memperhatikan taman tersebut dan sedetik kemudian ia melihat seseorang turun dari mobil box kecil yang kemudian mengeluarkan sebuah kotak yang panjang, ‘Apa yang dilakukannya malam-malam begini?’ gumamnya dalam hati menyadari gerak mencurigakan dari orang itu. Kemudian ia pamit kepada Ahjussi pemilik kedai dan mulai mencari tempat sembunyi agar dapat melihat pergerakan orang misterius tadi.

Baekhyun memperhatikan lamat-lamat orang itu, hingga orang itu pergi dari taman. Kemudian Baekhyun mendekati kotak itu dengan hati-hati, sebenarnya saat ini jantungnya berdebar-debar karena dia merasa sedikit takut. Apalagi saat melihat penampilan orang tadi yang sangat tertutup serta orang tadi sangat berhati-hati melihat keadaan sekitar ketika ia akan menaruh kotak ini.

 

[Other side]

Sehwan mengemudikan mobil box sewaannya dengan hati-hati, ketika ia melirik spion mobil ia terkejut karena ada seseorang yang mendekati kotak itu, ‘Apa dia melihatku?’ tanyanya dalam hati

Kemudian ia menepikan mobil box tersebut ke tempat yang sekiranya jauh dari jangkauan CCTV dan ia mulai mendekati orang itu.

Baekhyun terbelalak kaget, dia merasa jantungnya mau copot dan secepat mungkin ia menutup kotak panjang itu, di dalam kotak itu ada mayat seseorang dan bahkan keadaannya sangat mengenasakan dengan salah satu anggota tubuh yang terpisah.

Baekhyun pun segera berbalik tapi pergerakannya terhenti saat dirinya menangkap bayangan seseorang menyembul dari belakang pohon yang tak jauh darinya, orang itu mengawasi dirinya!

Sehwan sedikit terkejut saat ia bertatapan dengan wajah yang telah menjadi saksi pembunuhannya, “Byun Baekhyun eoh?”

Kemudian dengan cepat Sehwan memberikan kode pada Baekhyun, Baekhyun tak mengerti apa yang dimaksud oleh Sehwan. Tetapi Baekhyun menghiraukan hal itu dan segera berlari meninggalkan tempat itu. Namun sebelum Baekhyun berhasil kabur, Sehwan lebih dulu mencekal lengannya.

“Byun Baekhyun.” Sehwan memanggil nama Baekhyun. Baekhyun melotot kaget dan terus berusaha melepaskan cekalan Sehwan dari lengannya. “Nuguseyo?!! Lepaskan aku!” Baekhyun meronta-ronta karena Sehwan mencekal kedua lengannya dengan kuat.

“Kau telah melakukan kesalahan besar,” Sehwan berbisik pelan namun masih bisa didengar oleh Baekhyun.

Kemudian Sehwan sedikit melonggarkan cekalannya di lengan Baekhyun, Merasa ada kesempatan Baekhyun segera berlari menjauh dari tempat itu.

Baekhyun sudah sampai di depan pintu rumahnya, ia mengambil kunci di kantong jaketnya dengan tergesa-gesa. Pintu terbuka dan Baekhyun segera masuk ke dalam. Setelah itu Baekhyun mengunci pintu rumahnya dengan cepat dan dia berbalik menuju kamarnya. Saat Baekhyun membuka pintu kamarnya dirinya kembali dibuat terkejut sehingga dia refleks berteriak.

“AAAAAAAA…”

Sehun membungkam mulut Baekhyun dengan tangannya. “Hyung jangan berteriak.”

“Se..hun?” Baekhyun membuka matanya. “Apa yang kau lakukan di kamarku? Pergi sanah ke kamarmu!” usir Baekhyun.

“Be..begini hyung, aku… aku mau minta maaf,” Sehun mengucapkan permintaan maafnya sedikit terbata-bata. Sejak tadi dia merasa gelisah dengan kejadian tadi siang yang mungkin mampu membuat hyungnya merasakan malu.

Baekhyun menghela nafas lelah, “Terserahlah, aku mau tidur.”

Sehun mengangkat wajahnya dan menatap Baekhyun yang tengah berbaring tengkurap di kasurnya. Sehun menghampiri Baekhyun dan berdiri di tepi ranjang. “Aku tahu hyung masih marah padaku, tolong jangan begini hyung, aku tidak menyukainya, aku tahu aku hanyalah saudara tiri dan aku tahu aku menjadi bagian dari keluarga ini karena Eomma dan Appa hanya bisa memiliki satu anak kandung maka dari itu mereka mengado________

“Sehun berhenti bicara!” Baekhyun menegakkan tubuhnya walaupun tubuhnya amat lelah. Sekali lagi dia menghela napas, ia memang marah pada Sehun tapi ia tidak menyangka Sehun akan berpikiran sejauh itu. “Kemarilah dan duduk,” Baekhyun menepuk sisi kasur di sebelahnya, Sehun menurut dan duduk di sebelah Baekhyun.

“Jangan bicara seperti itu lagi,” Baekhyun berkata lembut sambil memegang bahu Sehun. “Kau tahu, aku sangat menyayangimu,” Baekhyun menjeda ucapannya sejenak, “Appa dan Eomma memang tak bisa memiliki anak kandung lagi setelah aku lahir. Tapi percayalah kami semua menyayangi dan mencintaimu.” Baekhyun menatap mata Sehun dalam, “Kau bukan saudara tiriku tapi kau adalah saudaraku.”

Tanpa sadar air mata Sehun mengalir dari sudut matanya setelah mendengar perkataan Baekhyun. Baekhyun menghusap air mata Sehun dan mengacak rambut adiknya itu, “Sudahlah, sekarang pergilah tidur ini sudah lewat dari tengah malam.”

Sehun mengangguk, “Tapi hyung tidak marah lagi kan?”

Baekhyun mengangguk, “Aku tak marah.” Mendengar Baekhyun sudah tak marah lagi padanya, Sehun tersenyum senang. Dirinya beranjak untuk keluar dari kamar Baekhyun, “Jaljayo hyung.”

Jaljayo Sehun.”

 

TBC

#NB from Author

Annyeonghaseyo^^

Seperti biasa, tinggalkan jejak kalian oke😉

Aku selalu butuh komentar dari kalian dan juga sarannya yah^^

Oh iya jika ada yang mau bertanya silahkan saja~

#Komentar Readers adalah semangat Author.😀

Review juseyo~

Kamsahamnida *deep bow*

 

10 thoughts on “Who Are You ? (Chapter 3)

  1. ellalibra berkata:

    Waaaaahh apa yg akan trjd sm baekhyun ?? Smg sehwan g lakuin apa apa sm baek?? Ngeri q pas sehwan motong” woohyun smp g bs nelan ludah ky nyangkut ditenggorokan hehehehe …. Bnrn deg” an eon,,,, semangat dtunggu next eon😀

  2. crisan berkata:

    Wah keren bgt thor ff nya…. Aduh itu baek bkal di apain nnti.a sma si sehwan? Sehun kocak🙂 klo ngomong pkir2 dlu ya nak jgn asal nyeplos aja
    Maaf jga bru komen di chap ini, cpt di lnjut ya thor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s