Thug Story

tugh story

Title                       : Thug Story

Author                  : Rhifaery             http://rhifaeryworld.wordpress.com/

Main Cast            : Kim Jongin, Oh Sehun, Park Chanyeol, Byun Baekhyun and other cast

Genre                   : Action Romance

Length                  : Oneshot

Rating                   : PG-16 (no yadong hanyak sedikit typo)

Disclaimer : Jalan cerita murni dari hasil imajinasi. Apabila ada kesamaan nama tokoh ataupun alur, itu ketidaksengajaan semata.

Well… sebenarnya ini cerita aku yang udah menjamur di laptop. Dari pada tersimpan tak berguna mending aku share disini aja. Iya kan??? Dan lagi, aku sebenarnya penulis baru di dunia per-Ffan. Jadi aku mohon koreksinya jika ada salah2 atau apalah. Trims, and happy reading J

Apa yang kau pikirkan jika aku bertanya tentang hidup? Pastinya ada banyak jawaban tentang itu. Tapi aku sendiri mengartikan hidup sebagai kesempatan. Ya, life is a chance. Sebuah kesempatan yang tidak akan pernah kau temui lagi ketika tirai pertunjukan sudah di tutup. Untuk itu, aku menjadikan hidup sebagai kesempatan untuk kesenangan. Mabuk, foya-foya dan sex adalah kehidupanku. Tanpa semua itu, aku hanyalah seongkok daging yang tak bernyawa yang hanya bisa menikmati pertunjukan, tanpa punya kesempatan menjadi aktornya.

Aku Kim Jongin, 22 tahun tinggal di apartemen kawasan Gangnam Korea Selatan. Kedua orang tuaku telah lama berpisah sejak aku berusia 8 tahun. Aku masih ingat sepenggal memory masa laluku yang suram. Ayahku adalah seorang teroris yang menjadi incaran pemerintah. Sementara ibuku sendiri yang entah merasa malu mempunyai anak dari seorang teroris, terpaksa meninggalkanku di taman bermain dekat tempat tinggalku. Padahal waktu itu, dia sempat memberikanku sebuah ice cream besar, tanpa ku tahu bahwa ice cream itu adalah ice cream terakhir yang diberikannya, sebelum dia kabur bersama kekasihnya.

Masa itu adalah masa yang benar-benar sulit bagiku. Sampai akhirnya aku bertemu dengan Yunho Hyung. Orang yang menemukanku dan memutuskan untuk merawatku sampai seperti sekarang ini. Bagiku Yunho Hyung adalah orang yang sangat berarti. Dia mengajariku tentang nikmatnya kehidupan. Mengajariku cara merampok dan menjadi bajingan kelas kakap. Miris jika di usiaku yang baru menginjak sepuluh tahun, aku sudah pernah mencicipi nikmatnya tubuh seorang wanita. Tapi inilah yang kupikirkan tentang hidup. Hal itu tak rupanya tak bertahan cukup lama. Yunho Hyung di tangkap polisi dan mendapat vonis mati atas pembunuhan berencana. Sebelum vonis itu di lakukan, Hyung sendiri telah berpesan kepadaku agar jangan sampai aku menyia-nyiakan hidupku.

Kematian Hyung kuanggap sebagai titik permulaan hidupku. Aku kembali ke tempat lamaku dan menyewa sebuah apartemen sendiri. Seorang nenek, pemilik apartement memberikan harga murah padaku, dan itu membuatku cukup beruntung. Di sini, aku menemukan teman yang nasibnya tak jauh beda denganku. Sehun, Chanyeol dan Baekhyun. Sehun dan Chanyeol memiliki masalah mental, yang di mana itu di sebabkan akan penyiksaan orang tuanya di waktu kecil. Sementara Baekhyun sendiri, awalnya adalah pemuda yang baik, tapi mendadak berandal karena berteman dengan kita. Di tempat ini, kamipun hidup dengan image Bajingan kelas kakap. Kami merampok, mencuri, dan memperkosa wanita-wanita yang tidak bersalah. Satu kejahatan yang tak pernah kami lakukan adalah membunuh. Karena membunuh, itu sama saja mengambil kesempatan seseorang untuk tidak merasakan pahit hidup.

Dreeettt… Handphoneku berbunyi. Ada telepon dari Sehun rupanya. “Ada apa?”

“Cepat ke sini, ada target baru yang perlu kita rencanakan prosedurnya…” Sahutnya. Aku tahu ini pasti ada hubungannya dengan korban malam ini. Untuk itu akupun segera mengiyakan dan langsung menuju tempat yang diperintahkannya. Satu yang perlu diketahui, bahwasahnya sebelum merampok, kita akan merencanakan dengan matang sebuah aksi. Itupun jika kita tidak benar-benar ingin membunuh.

“Di depan itu adalah rumah DokterLuhan. Sekarang ini dia sedang berada di Jepang bersama istrinya. Hanya ada seorang satpam, 2 pembantudan putrinya di rumah itu. Nanti aku dan Sehun yang akan pergi ke ruang penyimpanan brankasnya dan membereskan beberapa pembantunya. Baekhyun, kau yang urus pengamanan sementara kau Jongin, bereskan putrinya..” Intruksi Chanyeol.

Aku mencoba memandangi rumah bergaya klasik itu. Benar-benar mengiurkan untuk ukuran perampok seperti kita. DokterLuhan sendiri sudah terkenal kaya dan memiliki rumah sakit sendiri di tempat ini. Jadi tak bisa di pungkiri, di sana pasti ada barang-barang berharga yang dia punya.

“Berapa usia putrinya?” Sontak ketiganya langsung menoleh padaku. Seakan-akan tahu maksudku tapi sebenarnya tidak. Aku hanya berpikir, jika putrinya masih di bawah umur, aku tidak akan menyakitinya terlalu kejam.

“Enam belas tahun. Kau tahu, Yeri bukanlah sembarang anak-anak. Dia cantik dan sedikit liar. Jika tugas ini bisa kau selesaikan dengan baik, kau tentu boleh mengambil bonus darinya..” Sehun tersenyum.

“Ku rasa kau memilihkan posisi yang tepat untukku ..” Timpalku. Segera kuambil jaketku dan beranjak dari tempat itu.

***

Jam sepuluh malam. Kami sudah masuk ke dalam rumah itu setelah Baekhyun membereskan seorang satpam. Chanyeol dan Sehun sudah lebih dulu masuklewat pintu belakang, sementara akupun sendiri di buat bingung denga beberapa ruangan-ruangan yang ada di rumah ini. Aku baru sadar ternyata ruangan ini sangat luas. Butuh waktu sepuluh menit sampai aku akhirnya bisa menemukan kamar Yeri. Aku melangkah masuk ke kamarnya dan kulihat dia masih tertidur lelap. Benar-benar seorang gadis manis. Aku mendekatinya untuk mengikat kaki dan tangannya, sialnya gadis itu telah terbangun dan menyadari keberadaanku.

“Siapa kau? Toloongggg……”

Respek aku langsung membungkam mulutnya dengan tanganku. Aku mencoba menenagkannya dengan tersenyum ramah padanya, tapi di luar dugaanku dia bertindak dengan sedikit hiperaktif. Di pecahkannya pigora yang ada dikamarnya, mengambil bagian kacanya dan di goreskannya bagian kaca itu di tanganku. “Jangan mendekat, aku akan segera telepon polisi….”

Aku tersenyum mendengarnya. Benar-benar anak cerdas, tapi sayang, kecerdasannya tak berlaku untukku. Segera ku tarik lengannya hingga ia terjungkal di tempat tidur. Tak ku sangkah dia masih saja mengelak dengan berteriak tolong dan menggoreskan lagi pecahan kaca itu kepadaku. Itu membuat kesabaranku sedikit terkikis. PLAAKK!! Aku menamparnya.

“Siapa kamu, untuk apa kamu ke sini..??” Lawannya lagi.

“Cantik dan berani, kau benar-benar anak yang menarik..” Jawabku sebelum aku menamparnya sekali lagi. Tak peduli dengan wajahnya yang menjadi ketakutan akupun segera menindihinya dan mengambil bonus itu darinya.

-0-

Begitu cairan itu masuk menerobos kulitku, akupun merasakan sensasi yang luar biasa. Rasanya nikmat. Sangat nikmat dan pastinya jarang kau temukan kenikmatan seperti ini di dunia. Seperti seolah kau meluncur dari ketinggian seribu kaki. Seperti saat kau menyelam ke dasar lautan terdalam samudra. Itulah yang ku rasakan sekarang. Sampai akhirnya aku tersadar bahwa efek cairan itu sudah hampir habis. Aku kembali menyuntikkan cairan surga itu untuk yang kesekian kalinya. Tanganku memegang seprai dan memegangnya sekuat tenaga.

“AKKKHHH…”Jeritku saat sensasi itu hadir lagi. Cairan itu kembali masuk ke dalam sel darah dan memonopoli seluruh tubuhku.

Sampai akhirnya cairan itu benar-benar telah habis. Tubuhku mulai merasa mendidih. Rasanya sakit dan menusuk. Segera ku telepon Sehun untuk cepat datang kemari dan membawa pesananku. “Kau dimana?” Tanyaku membentak.

“Dalam perjalanan menuju tempatmu…”

“Cepat kesini dan bawa barang itu sekarang juga…”

“Tapi kau sudah banyak pakai hari ini…”

“Bawa atau kau akan mati!” Aku menutup teleponnya secara paksa dan kembali berteriak kesakitan. Mengapa efeknya sesingkat ini? Tidak bisakah bertahan lebih lama sampai menunggu Sehun kesini?

Dan nyatanya tidak! Aku benar-benar tak bisa menahannya lagi. Ku ambil cutter dan langsung ku goreskan ke tanganku. Lalu kuhisap dengan kuat setiap tetesan darah yang mengalir tanpa peduli dengan sakitnya yang mendera. Aku justru lebih peduli dengan sensasi kenikmatan yang perlahan-lahan akan kudapatkan lagi.

BRRUUUAAKK!!! Dalam kesadaran, akupun mendengar pintu yang di buka paksa. Seseorang telah berlari ke kamarku. Itu pasti Sehun. “Mana barangnya, berikan kepadaku sekarang…!” Kataku membentak.

Sehun tidak menghiraukanku. Dia menahan tanganku agar aku berhenti menghisap darahku sendiri. “Apa yang kau lakukan..?” Tanyaku berusaha melepas cengkramannya.

“Jongin, bertahanlah. Aku akan menolongmu…”

“Menolong apa, kau benar-benar membuatku mati AKKHHH… Lepaskan aku..!!!”

“Tidak. Jongin, kau harus sadar…” Sehun memang kebanyakan bicara. Ingin kusegera menghajarnya tapi aku tidak bisa.

Rasa sakit itu kembali hadir. Tubuhku mengeliat nyeri dan mulutku berteriak seperti akan merenggang nyawa. Ah tidak, ini lebih buruk. Sensasi seperti terjun dari ketinggian sudah hilang, sebagai gantinya terasa ada jutaan ribu volt listrik yang akan menyerangmu. Dan kau sama sekali tak bisa menghindar. Seakan juga ada jutaan jarum tajam yang menusukmu hingga tak menyisakan tempat untuk kehidupan. Kapan rasa sakitnya akan berakhir, aku tidak tahu.

-0-

Kau tahu, meski aku adalah orang yang suka menantang bahaya, tapi aku tidak akan mati semudah itu. Kemarin malam adalah pertama kalinya aku mencoba sebuah ektasi. Hasil rampok yang ku peroleh dari rumah Dr Luhan terlalu banyak, dan aku gunakan bagianku untuk membeli ektasi. Aku pikir semalam aku akan mati, dan ternyata tidak. Seseorang telah menolongku dari kematian semalam, menidurkanku di tempat yang layak, sekaligus membalut tanganku karena efek dari semalam. Semula aku berpikir dia adalah Sehun, tapi ternyata dia adalahIrene cucu dari pemilik apartemen ini.

Akupun beranjak bangun ketika Irene membawakan baskom berisi air hangat. Ku berikan seutas senyum padanya dan diapun membalasnya.

“Maaf, semalam aku menggunakan kunci duplikat untuk masuk ke kamarmu…” Katanya sambil menyodorkan segelas air putih “Minumlah, kau hampir mati semalam..”

Aku memandanginya sinis. Benar-benar gadis manis. Dalam pandanganku, Irene memang gadis yang sangat cantik. Rambutnya pirang dengan tinggi semampai. Kalau saja dia mengganti kacamata kunonya dengan kontak lens, aku yakin semua cowok di sekolah akan berebut ingin mengencaninya. Awalnya, seperti pada gadis-gadis lain, aku juga ingin mengencaninya. Tapi entahlah aku pikir dia terlalu baik untuk cowok bajingan sepertiku.

“Terima kasih karena membuatku tetap hidup….” Kataku perlahan.

“Tidak Jongin, kau belum hidup!”

Sontak aku memandangnya tajam. Apa maksudnya bertanya sesinis itu?

“Kalaupun aku tidak hidup bagaimana mungkin aku bernafas..?”

“Kehidupan, bukan karena kita bernafas atau tidak, tapi kehidupan adalah ketika kita merasa hidup…”

Tanganku mengepal erat. Bagaimana bisa dia sok tahu begini. Dia bahkan tidak tahu akan masa laluku. Kalau saja gadis ini bukan cucu dari seorang nenek yang menolongku sudah pasti dia akan ku hajar.

“Aku rasa aku sudah baik sekarang, dan kau boleh..” Aku sengaja menggantungkan kalimatku dan memandang ke arah pintu keluar. Presetan dengan pertolongan semalam yang ia berikan. Yang jelas dia sudah membuat moodku buruk pagi ini.

“Baiklah, aku akan terus berdoa untuk kehidupanmu..” Irene baru saja beranjak pergi, tapi aku langsung menarik tanganya lagi. Ku pandangi wajahnya tajam, kalaupun aku akan membunuhnya saat ini, aku tidak peduli. Gadis ini telah lancang membicarakan hal yang tidak ingin aku tahu. Dan itu dia lakukan tepat di depanku.

Tanpa terasa, sebuah tetesan air mata telah jatuh di lenganku. Ya Irene menangis. Aku memandang ke arah matanya, dan seketika itu aku tahu ini bukan tangisan rasa takut melainkan tangisan rasa peduli ke padaku. Apa yang dia pedulikan dariku? Walaupun sudah kejumpai banyak wanita yang menangis karenaku, tapi ini berbeda dengan itu semua. Sampai akhirnya secara tak sadar aku telah melepaskan tangannya dan membiarkan pergi dari kamarku.

-0-

“Kita harus pindah. Polisi sudah mengincar kita sekarang”

“Bagaimana bisa begitu?”

Chanyeol menggelengkan kepala sementara Baekhyun menatap ke arahku. Aku tahu ia sedang menyalahkan komitmenku yang tidak pernah memakai topeng saat mulai beraksi. “Kapan kita pindah?” Tanyaku.

“Secepatnya, kalau bisa malam ini”

“Tapi dimana kita akan pindah?”

“Bucheon. Kakekku punya rumah yang tidak terpakai disana.”

Semua kompak mengangguk. Begitu juga denganku. Pindah memang keputusan terbaik. Sebenarnya aku sudah berpikir kalau kita tak akan begitu saja lolos dari DokterLuhan. Dia adalah orang yang terpandang. Anaknya baru saja kubuat gila malam itu dan menurutku cukup pantas jika perbuatanku kali ini dibalas dengan pengasingan.

Tanpa kusadari Sehun telah melirikku sekaligus memberi isyarat bahwa ada gadis cantik yang telah berani melewati lorong eksekutif kami. Aku yakin sekali kalau dia anak baru, karena selama tiga tahun terakhir, tidak ada seorangpun yang berani coba-coba lewat di lorong ini kecuali kalau mereka cari mati. “Hidangan penutup” Bisik Sehun sekaratif.

“Ehm, minhae. Bisakah kalian tunjukkan dimana ruang kepala sekolah?” Gadis itu bertanya pada Sehun. Sungguh dia melakukan kesalahan terbesar jika menyakan hal tersebut pada bajingan yang satu itu.

“Apa kau anak baru?”

“Ya, perkenalkan aku Kang Seulgi dari Busan…”

Sehun tersenyum ala bajingan, kemudian merahi tangan Seulgi “Aku Oh Sehun. Panggil saja Sehun. Ini Chanyeol, Baekhyun dan yang disampingku ini Jongin.” Sulit kupercaya jika ketiga bajingan itu menyalami Seulgi satu per satu. Apalagi Sehun, dia yang menyalami paling lama, tanpa mau sesegera mungkin melepaskannya.

“Baiklah, apa kalian bisa menunjukkan padaku sekarang?”Ujar Kang Seulgi sedikit canggung dan tentunya sambil berusaha melepaskan tangan Sehun.

“Aku akan tunjukan ruanagan kepala sekolah itu, tentunya jika kau selesai memberikan bonus padaku”

“Bonus???”

“Bonus!” Dengan gerakan cepat Sehun langsung membekap dan menghimpit gadis malang itu ke pojok ruangan. Chanyeol dan Baekhyun mengekor di belakangnya sementara aku hanya melihat dari jauh. Kulihat gadis malang itu sedang berontak dengan keras takkala Sehun berusaha melepaskan semua bajunya. Chanyeol dan Baekhyun yang bertugas memegangi tanganya.

“Jongiiinnnn tolongggg…?”Teriaknya padaku.

“Kau berusaha meminta tolong pada Jongin, ck ck ck sebuah keputusan tolol!” Tukas Chanyeol. Bibirnya mulai bergerliya di leher Seulgi.

“Tolong Jongin, tolong aku…!”Teriakan gadis itu begitu memekakan telingaku. Pertama kalinya seseorang telah berani meminta pertolonganku. Aku lihat wajahnya sudah sangat basah dengan suara tangisannya. Sebuah perjuangan berat jika ia masih berusaha mempertahankan kehormatannya di tengah-tengah mereka.

“Kau tetap berteriak memanggilnya. Kemari Jongin, rupanya gadis ini belum tahu siapa kau sebenarnya” Tantang Sehun.

“Lepaskan dia…” Kataku pada akhirnya. Ketiganya menatapku bingung.

“Mwoo?”Tanya Baekhyun tak percaya.

Aku berjalan perlahan ke arah mereka. Segera kulepas jaketku dan kugunakan untuk menutupi separuh tubuh Kang Seulgi yang sudah terkoyak parah. “Pergilah, kau selamat untuk hari ini…”Bisikku. Dia mengangguk dan bergegas pergi dari tempat ini secepat kilat.

“Apa maksudmu? Kau tahu kau baru saja membuang hidangan penutup kami secara cuma-cuma…” Protes Chanyeol kepadaku.

“Dia terlalu baik untuk menjadi hidangan penutup kalian…”Jawabku santai dan meninggalkan mereka begitu saja.

***

Lewat tengah malam. Aku sudah mengepak semua barang untuk persiappan pindah. Sehun menuggu di bawah gedung Aparetemen sedangkan Chanyeol dan Baekhyun menunggu kita di perbatasan kota. Pintu apartemen sudah ku kunci dari luar dan disanalah mataku beradu dengan Irene. “Ka-u kau mau kemana?” Tanyanya sedikit bergetar. Aku hanya memandangnya tanpa mintat. Masih sedikit tersinggung dengan ucapannya tempo dulu.

“Pergi mencari kehidupan baru!”

Dia terperanjat, “Kemana?”

“Apakah itu penting buatmu? Setahuku kau pernah berkata bahwa aku tidak hidup, harusnya kau sendiri tahu kemana aku bisa mendapat kehidupanku kembali.” Kataku sambil mendekat ke arahnya. Namun tidak sedikitpun perasaan takut yang kutemukan di matanya.

“Bolehkah aku ikut?”

Apa? Apa yang baru saja dia katakan? Aku semakin mendekatkan diriku kepadanya. Hampir seperti orang yang berciuman. Tidak, hal itu tidak boleh terjadi. “Ikut?”

“Aku ingin ikut denganmu.”

“Aku pergi untuk mencari kehidupan dan itu tidak berlaku untuk orang yang sudah hidup sepertimu.” Kataku final. Kulangkahkan kaki dan segera meninggalkannya. Tanpa peduli dengan butiran air mata yang mengalir deras di pipinya. Apa yang sebenarnya ada dipikiran gadis itu? Dia ingin mengikutiku? Apa artinya aku baginya?

“Kau lama sekali, ayo cepat Chanyeol dan Baekhyun sudah mengoceh tak jelas disana!” Ujar Sehun sambil mengangkut beberapa tas besarku dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil dan langsung memberangkatkan mobilnya meninggalkan tempat ini.

Tak ada pembicaraan panjang dalam mobil, Sehun benar-benar kawatir akan berita dari Baekhyun bahwa mereka sedang diikuti oleh orang-orang tak dikenal. Namun semua kekawatiran itu akhirnya terjadi juga. Kulihat Chanyeol dan Baekhyun telah dikeroyok oleh orang-orang yang tak dikenal.

Aku dan Sehun bergegas turun dan membantu mereka. Satu pukulan telah kulayangkan kepada seseorang yang kuduga sebagai bos yang mengawasi jalannya penyerangan. Sebuah pertarungan pun sudah tidak dapat terhindarkan lagi. Beberapa orang dari arah lain tiba-tiba menyerbuku dan Sehun. Sebisa mungkin kami berusaha bertahan dengan memberikan pukulan-pukulan mematikan. Namun apa daya, jumlah kita terlalu sedikit, tak sebanding dengan mereka. Baik Chanyeol ataupun Baekhyun mereka sama-sama terkepar tidak diketahui masih hidup ataupun sudah mati. Sementara Sehun baru saja dibuat babak belur dengan kepungan tiga orang sekaligus.

Bruuookk!!! Sebuah pukulan telah menghantam tubuhku. Sangat keras sehingga membuatku kesakitan yang teramat parah. Kutatap orang yang barusan menghantamku dengan pemukul basbol, dia masih mengenakan masker. Tapi dari posur tubuhnya dan potongan rambutnya aku bisa mengetahui bahwa dia adalah Dr. Luhan. Seorang ayah yang baru saja kujajah seisi rumahnya dan juga putri kesayangannya.

Dia mengarahkan benda yang kutahu itu adalah sebuah pistol tepad ke arahku. Jika ini memang akhir dari hidupku, aku sudah bisa menerimanya. Setidaknya aku tak menyesal menjalani hidupku yang seperti ini. Selama ini kehidupan begitu mengungkungku. Selalu saja membuatku sulit, tapi yang membahagiakan adalah bahwasahnya aku bisa bertahan. Yah, akulah yang akhirnya menjadi pemenang dalam kehidupan sendiri.

Pada detik-detik terakhir ini, aku telah menyadari sesuatu bahwa aku hidup!

DUOOORRR!!!

-0-

 

Well, gimana ceritanya? Agak aneh kan? Ya udah maklumin aja. Pengennya sih ada chapter, tapi aku tipikal penulis yg mood2an kalo nulis. Tapi kalo semisal banyak yg suka sih, akan aku coba pake chapter. Makasih sudah membaca J

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s