Who Are You ? (Chapter 2)

untitled2

Tittle : Who Are You?

Author : Park Rami [@Ohxodus]

Genre : Brothership, a little bit Crime/Thriller, and Comedy

Main Cast :

  • Oh Sehun a.k.a Byun Sehun
  • Oh sehun a.k.a Oh Sehwan
  • Byun Baekhyun a.k.a Byun Baekhyun
  • And others,

Lenght : Chaptered

Disclaimer : Baekhyun and Sehun belong to God, SM Entertaiment, and their parents. This Fanfiction belongs to me and real my imagination.

Happy reading^^

Chapter 2 : Light and its Shadow

Suasana sekolah yang sangat ramai karena hari ini diadakan sebuah ‘event’ spesial, yaitu event ‘cosplayer anime’ terbaik. Para siswa dibebaskan dari pelajaran mereka sehingga semuanya tampak berada di luar kelas. Salah satunya disana ada kerumunan namja-namja yang membentuk lingkaran dan di dalam kerumunan tersebut ada seorang yeoja.

“Hey hey siapa dia?”

“Cantiknya~”

“Aku tidak pernah melihatnya?”

“Ya ampun betapa manisnya dia.”

Pujian-pujian pun terus membanjiri seorang yeoja berpakaian anime. Ah tidak! Lebih tepatnya dia seorang namja yang berpakaian anime girl persis seperti tokoh-tokoh di manga negeri sakura itu.

“Awas kau Byun Sehun!!” gumamnya mengutuk-ngutuk seorang Byun Sehun. Pasti kalian sudah bisa menebaknya siapa dia kan?

 

Flashback

Baekhyun menatap tak percaya pantulan dirinya di depan cermin. Saat ini dia memakai baju tokoh anime dan parahnya baju itu adalah baju anime untuk perempuan. Bahkan sekarang di kepalanya terdapat wig panjang sepunggung.

“Wahh.. Daebak! Bahkan kau belum kupolesi make-up hyung tapi lihatlah, hyungku sangat kawaii!” puji Sehun, Baekhyun melotot galak dipuji seperti itu oleh Sehun dan kemudian dia melipat tangannya di depan dada.

Tentu saja dia kesal dengan permintaan konyol Sehun. Sehun bilang bahwa model animenya itu didapat dengan undian dan Sehun mendapat tokoh anime girl dan parahnya lagi Sehun belum mendapat model wanitanya. Saat itu pulah mereka berdua bermain gunting-batu-kertas untuk mengatasi rasa boring mereka berdua, yang kalah bermain gunting-batu-kertas harus menerima tantangan pemenangnya. Ketika Baekhyun kalah, Sehun meminta Baekhyun untuk melakukan Aegyo secute mungkin. Dan dari sanalah Sehun menemukan model ‘wanitanya’, meskipun Baekhyun harus disogok dulu -_-

“Hmm tapi ada yang kurang selain make-up, apa yah?” pikir Sehun sambil mengamati penampilan Baekhyun dari bawah sampai atas.

“Oh iya cakkamman!” ucap Sehun tegas takut Baekhyun kabur. Beberapa detik kemudian Sehun kembali dengan membawa dua gumpalan spons.

“Apa itu?” tanya Baekhyun tak mengerti, Sehun tersenyum lebar dan meletakkan kedua gumpalan spons itu di depan dadanya sendiri.

“Kau mengerti maksudku kan hyung?”

“eh? tidak mau!” tolak Baekhyun mentah-mentah.

“Mwo? Kau harus pakai hyung!”

“Itu menjijikkan!”

“Tapi mana ada yeoja berdada rata!” ucap Sehun dengan nada kesal, tidak mungkin dia berteriak pada hyungnya sendiri.

Hening seketika.

“Ehem! Maksudku sangat aneh jika seorang yeoja ber_____

“Jangan dilanjutkan ucapanmu!” Baekhyun memotong ucapan Sehun dan langsung merebut dua gumpalan keramat-menurut baekhyun-itu.

Flashback end

 

“Ya! Ya! Jangan berani kalian menyentuhnya!” teriak seorang namja memperingati siswa laki-laki yang berusaha menyentuh tangan modelnya.

Baekhyun melotot saat dirinya menghadap ke belakang dan bertukar pandang dengan Sehun, pelaku teriakan tadi.

“Baekhee Noona kajja!” ajak Sehun dan menarik tangan Baekhee, eh lebih tepatnya Baekhyun.

“Hey Sehun dia modelmu?” tanya salah satu siswa.

“emh kau benar,” jawab Sehun sambil mengangguk.

“Wah sepertinya kau akan memenangkan kompetisi ini tapi siapa dia?”

“Eh terimakasih atas do`amu, emh dia?” tanya Sehun sambil melirik Baekhyun yang sejak tadi terus menekuk wajahnya. “emh.. dia sepupuku…. yah sepupuku,” jawab Sehun seadanya dan langsung membawa Baekhyun pergi menuju kelasnya untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang lainnya.

“Hey darimana kau dapat nama itu?”

“Oh nama itu yah? Entahlah,” jawab Sehun sambil mengangkat kedua bahunya.

“Huh!, Aku haus Sehun-ah.”

Ne ne ne Baekhee Noona~” kata Sehun dengan nada yang dibuat-buat, Baekhyun yang mendengarnya pun mendelik tidak suka.

“Ayolah hyung jangan sampai kau ketahuan, disini kau harus berperan sebagai Baekhee dan jangan banyak bicara!” Sehun memperingati Baekhyun.

Arasseo Sehunie~” jawab Baekhyun dengan nada yang dibuat-buat seperti seorang yeoja.

 

=><=

 

“Ya Tuhan aku benar-benar belum percaya ini,” ucap Sehun pada dirinya sendiri, sedangkan Baekhyun lebih memilih fokus pada televisi daripada mendengar ocehan Sehun.

“Bahkan aku mengalahkan Sungjae si maniak manga,” ucapnya lagi saat mengingat bahwa ia juara 1 sedangkan Sungjae juara 2.

“Tidak sia-sia persiapanku selama 1 bulan ini untuk merancang baju, kau sungguh hebat Byun Sehun!” puji Sehun untuk dirinya sendiri dan kembali membuka galeri foto di smartphonenya, kembali melihat hasil foto-foto para kontestan tadi.

“Baekhyun hyung benar-benar cantik tapi lebih mendominasi cute sih..”

“Kau ini bicara apa sih mulai tadi?” tanya Baekhyun jengkel karena sejak tadi Sehun terus mengoceh ini itu. Tapi Sehun tidak menanggapi Baekhyun membuat Bekhyun gondok dan ingin mencekik leher adiknya itu.

Hyung Hyung coba lihat ini,” panggil Sehun dan menunjukkan hasil fotonya tadi bersama pemenang lainnya. “Diantara 3 orang ini, kaulah yang paling cantik disini.”

Muka Baekhyun sudah memerah padam sampai ketelinganya entahlah antara marah dan malu semuanya bercampur jadi satu.

“Byun Sehun?”

Ne?”

“Cukup ne? kau sepertinya butuh istirahat dan simpan pialamu baik-baik di kamarmu oke?”

Sehun terdiam sesaat kalau dipikir-pikir ia memang lelah sih, “Sepertinya kau benar Hyung, aku ke kamarku dadah~” Baekhyun hanya mengangguk.

“Anak itu benar-benar butuh istirahat,” gumam Baekhyun pelan melihat punggung tegap Sehun yang sudah ditelan bumi, eh ditelan pintu kamarnya.

 

=><=

 

“D.O-ah dimana dia?” tanya Wonbin pada D.O

“Dia keluar ketua.”

“Untuk apa?”

“Katanya untuk mencari udara segar.”

“Hah~ kirimi dia pesan jika dia sudah pulang suruh untuk menemuiku!”

Algeussimnida ketua.”

 

[In other place]

Seorang namja terus berjalan menelusuri kota Seoul di malam hari. Dia terus berjalan hingga merasa kakiknya sudah pegal. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke Sungai Han.

Dan disinilah namja itu berada, duduk di batu-batu besar, rambut pirangnya menari-nari mengikuti semilir angin malam. Sehwan-namja itu- mengubah warna rambutnya yang semula berwarna hitam menjadi pirang platina.

Tatapan matanya menatap lekat air mancur pelangi yang menari-nari. Melihatnya membuatnya mengingat perkataan adiknya saat mereka masih berumur 7 tahun.

Hyung aku ingin pergi ke Seoul dan melihat air macur pelangi bersamamu.’

Suara itu selalu menggemma di kepalanya, dia sangat merindukannya. Kadang dia berpikir bagaimana adiknya yang sekarang? Apakah dia tumbuh setinggi dirinya atau dia menjadi namja yang tampan? Dia selalu berpikir seperti itu, ia ingin bertemu adiknya dan memeluknya. Tapi kenyataan pahit yang menghambatnya dan selalu membuat dirinya khawatir, bagaimana jika adiknya mengetahui bahwa ia adalah seorang pembunuh?

Tiba-tiba suara dering ponselnya menyadarkan Sehwan dari keterlamunannya.

From : D.O

To : Sehwan

‘Ketua menyuruhmu untuk menemuinya jika kau sudah pulang ada hal penting yang ingin dia katakan padamu.’

Setelah membaca pesan dari D.O, Sehwan segera memasukkan ponselnya ke dalam sakunya dan kembali menggunakan topinya. Kemudian ia berjalan pulang menuju markasnya dengan kedua tangan ia masukkan ke dalam saku hoodienya. Karena berjalan sambil menatap ke bawah membuat Sehwan tidak sengaja menabrak seseorang dan itu membuat tas belanja yang berisi buku-buku itu terjatuh ke bawah, Sehwan pun membantu memunguti buku milik orang tersebut. ‘Seorang pembunuh juga punya hati,’ batinnya dalam hati.

Mianhae,” maaf Sehwan pada orang yang tidak sengaja ditabraknya.

Gwenchana dan terimakasih atas bantuannya.”

Ne,” ucap Sehwan singkat sambil tetap menunduk.

“emh, bagaimana kalau kita duduk sebentar?”

Ne?” tanya Sehwan, orang itu hanya diam menunggu persetujuan Sehwan. “Ah baiklah boleh juga.”

“Kau mau Latte?”

“Ne, terserah anda,” ucap Sehwan

“Tidak perlu seformal itu, oh iya perkenalkan Byun Baekhyun imnida,” Baekhyun memperkenalkan dirinya, Sehwan sedikit mendongak untuk menatap wajah Baekhyun sejenak.

“Wu Shixun imnida.” Sehwan terpaksa menggunakan nama samarannya saat ini karena bagaimanapun dia tidak mau orang lain mengetahui identitasnya.

“Jadi, kau seorang pelajar?” tanya Baekhyun penasaran karena orang ini terus menunduk dan tidak mau menatapnya.

Aniyo aku adalah mahasiswa,” Sehwan berkata jujur, dia memang memalsukan identitasnya tapi tidak untuk pendidikannya, dia benar-benar orang yang cerdas dan pandai meskipun umurnya masih terlalu muda untuk seukuran mahasiswa.

“Aku juga mahasiswa, aku S2 kalau kamu?”

“Aku S1,” jawab Sehwan jujur. Meskipun seharusnya di umurnya ini ia masih SMA, yah itu memang karena dia mempercepat pendidikannya atau akselerasi.

Setelah itu hening sesaat hingga pesanan mereka datang dan mereka pun menikmati pesanan masing-masing.

Disaat yang bersamaan antara Sehwan mendapat pesan dari D.O dan Sehun yang berjalan ke arah mereka berdua. Sehwan pun berdiri pamit ke Bekhyun.

Saat Sehun berpaspasan dengan Sehwan dia merasa sedikit aneh, seperti ada sesuatu yang menariknya dan perasaan itu mengatakan bahwa ia harus mengikuti orang itu. entahlah atau mungin hanya perasaan Sehun saja.

“YA! Sehun-ah kau mau menjadi batu di sana hah?” suara Baekhyun menyadarkan Sehun dari keterlamunannya.

“Ah.. iya iya, tapi dia siapa hyung? kulihat dia sempat berbincang-bincang denganmu?” tanya Sehun penasaran.

“Dia temanku,” Baekhyun menjawab singkat dan beralih menatap manga dalam kantong plastik Sehun, “Kau sudah mendapatkan manganya?”

Ne! lihatlah!” tunjuk Sehun sambil memperlihatkan manga Naruto keluaran terbaru saat ini. Dia memilih melupakan perasaan aneh yang sempat hinggap dalam dirinya.

“Ne ne, kajja kita pulang,”

 

=><=

 

“Kau dapat misi baru.”

“Lihatlah foto ini,” tunjuk Woobin sambil menyodorkan sebuah foto.

“emm, dia siapa?” tanya Sehwan bingung ketika melihat foto itu. Kemudian Woobin menjawab, “Dia salah satu dosen di universitas Seoul, namanya Nam Woohyun, dia adalah Dosen baru disana dan umurnya masih muda, mungkin 26 tahun.”

Sehwan hanya mengangguk mengerti mengenai deskripsi mangsa barunya itu.

“Oh iya, meskipun kau sudah melakukan tugasmu dengan baik tapi aku tetap harus memperingatkan hal ini padamu!”

Ne? Apa itu?”

“Jangan sampai ada saksi yang melihatmu!” peringat Woobin.

“Serahkan saja padaku,” angguk Sehwan mantap. Woobin mengangguk, “Bunuh saja saksi itu dan tugasmu aku beri waktu satu minggu.”

Arasseo, aku pergi dulu.”

 

=><=

 

Sehwan memasuki Universitas Seoul dengan mudah karena Woobin sudah menyiapkan segalanya untuknya termasuk memalsukan identitasnya seperti biasa, tetapi bukan berarti dia tidak pandai. Selain dengan bantuan Woobin dia juga harus melalui beberapa tes agar dapat masuk Universitas Seoul. Dia disini pun berperan sebagai Wu Shixun sebagai mahasiswa pindahan dari London, itu memang benar karena Sehwan berkuliah di London tetapi dia memutuskan kuliahnya atas permintaan Woobin. Dia hanya menurut saja karena Woobin sudah merawatnya sejak kecil, lebih tepatnya saat umurnya 7 tahun. Dia juga tidak tahu kenapa Woobin sangat baik padanya saat menemukan dirinya terdampar di tepi sungai. Tetapi, seperti sekaranglah hidupnya dia harus menjadi pembunuh bayaran. Awalnya dirinya menolak dan berusaha kembali ke panti asuhan tetapi saat mengetahui dirinya dinyatakan sudah meninggal oleh keluarga di panti asuhannya bahkan sampai ada foto dirinya di rumah duka cita. Ia pun kembali ke markas Woobin dengan perasaan kecewa, tetapi Woobin dengan senang hati menerimanya. Dia terus berusaha melewati semua ini, entahlah seberapa dosa besar yang telah ia perbuat namun sampai saat ini dia akan tetap mencari adiknya itu.

Annyeonghaseyo semuanya,” sapa dosen mereka dengan ramah.

Anyyeonghaseyo Seonsaengnim, ” sapa balik seluruh siswa.

“Baiklah aku tidak akan berbasa-basi, aku meminta kepada kalian untuk membuat sebuah makalah tentang kehidupan yah dan tentunya tentang psikologis dan aku ingin kalian mengumpulkannya minggu depan, tugas ini jangan dibuat beban ini hanya pemanasan untuk belajar kalian selanjutnya, do you understand?”

Ne Saem.

Sedangkan Sehwan tertegun melihat guru itu, bukankah dia adalah targetku? Pikirnya.

 

=><=

 

“ANDWAE!!!…” teriak Baekhyun membahana sambil mengitari seluruh rumahnya. Naik ke lantai atas, turun lagi, naik ke atas. turun lagi begitulah seterusnya, sampai-sampai pergelangan kakinya memerah. Dan akhirnya ia berhenti di depan pintu kamar adiknya tanpa ia sadari, “Huweee… eotteokhae?! Huweeee…..” tangisnya pilu.

Sehun yang merasa terganggu pun keluar kamarnya dan menatap kakaknya malas, “Waeyo?”

“Huweee….. tugasku belum selesai Sehun-ah~” Baekhyun menjelaskan dengan mata berkaca-kaca.

Sehun yang merasa kasihan pada hyungnya pun bertanya, “Bagaimana bisa? Kau lupa mengerjakannya?”

Baekhyun mengangguk, “Ne, aku lupa mengerjakannya.”

“Kapan dikumpulkannya?”

“Hari ini.”

“Oh hari ini yah, eh sekarang hari apa yah?” Sehun malah bertanya dengan raut kebingungan. Baekhyun menatap Sehun, “Hari ini hari….. hari.. hari apa yah Sehun-ah?”

Sehun menepuk jidatnya, ternyata Baekhyun juga lupa sekarang hari apa. Kemudian ia kembali masuk ke dalam kamarnya dan menghampiri kalender yang terletak di meja belajarnya.

“Sekarang hari…..” Sehun terus menelusuri kalender dengan telunjuknya. “Argh! Bagaimana aku bisa lupa juga?!”

Tanpa basa-basi lagi dia segera mengeluarkan smarthphonenya dan menghubungi seseorang, kemudian terdengar nada sambungan masuk.

Yeoboseyo?” terdengar suara seseorang di seberang telepon.

Yeoboseyo? Jongin-ah?”

Ne, waeyo Sehun-ah?”

“Sekarang hari apa?” tanya Sehun to the point.

“Hari? Sekarang hari kau untuk sekolah.”

“Sekolah?” Sehun mengerjapkan matanya bingung.

“Kau ini kenapa sih, aku sedang bersiap-siap pergi ke sekolah,” jawab Jongin lagi.

“eh iya, iya tapi sekarang hari apa? Aku lupa.”

“Hari Rabu, baiklah aku tutup dulu.”

Sehun terdiam sejenak dan langsung keluar kamarnya untuk mencari Baekhyun.

Hyung?! OMO!!” Sehun terkejut saat melihat Baekhyun tetap berada di depan kamarnya hanya saja sekarang ia bersender pada dinding.

Lagi-lagi Sehun terdiam sedangkan Baekhyun memang diam mulai tadi meratapi tugas kuliahnya. Kemudian, Sehun sadar seketika dan membelalakkan matanya.

“Oh iya hyung sekarang hari Rabu!” Sehun memberitahu Baekhyun.

Baekhyun mendongak, “Hari.. Rabu?”

Sehun mengangguk, “Ne.. hari Rabu.”

Baekhyun berbicara sendiri, “Hari ini aku ada kelas pagi dan sekarang hari Rabu.”

Sehun mengerutkan keningnya sehingga tercipta kerutan#plak, “Ne?” tanyanya tak mengerti.

“Tugasku dikumpulkan Hari Rabu depan ternyata!” ucap Baekhyun sambil berdiri, Sehun yang sejak tadi jongkok di hadapan Baekhyun, membuat hidungnya terkena lutut Baekhyun karena hyungnya itu tiba-tiba berdiri dan membuat Sehun terjungkal ke belakang.

Sehun memaki Baekhyun kesal, “Aishh, hyung kira-kira dong!”

“Yosha! Aku akan mandi dulu,” Baekhyun berlari ke kamarnya dengan riang. Sedangkan Sehun menganga tak percaya.

“Hu-uh! Seharusnya Baekhyun hyung berterima kasih padaku karena aku sudah menyelamatkannya dari kelupaannya. Dan juga seharusnya dia meminta maaf karena telah membuat hidung tampanku kesakitan,” Sehun terus berceloteh panjang tentang hari dan hidungnya yang malang.

Kemudian Sehun mengingat sesuatu yang amat penting, “Ya ampun! Aku harus pergi ke sekolah!” dirinya terkaget dan langsung berlari ke arah kamar mandi.

 

[Skip time]

 

Baekhyun berjalan menuju kelasnya hari ini. Sesekali ia menyapa temannya dan menyapa balik kepada teman yang menyapanya. Tetapi langkahnya seketika terhenti saat melihat seseorang yang tidak jauh darinya dia merasa orang itu familiar, meskipun wajahnya hanya terlihat sedikit dari pandangannya. Seketika matanya membulat ketika orang itu memalingkan wajahnya ke arah Baekhyun.

“Se..hun?”

Brukk!

Baekhyun menoleh untuk mengetahui siapa pelaku yang merangkulnya saat ini.

“Hey, kenapa melamun kajja kita ke kelas sebentar lagi dosen kita datang,” Chanyeol berkata sambil tetap merangkul Baekhyun.

“Ah.. ne..”

Baekhyun langsung berjalan meninggalkan Chanyeol dengan perasaan bingung, ‘Kenapa Sehun bisa ada di sini? Apa yang dilakukan anak itu di sini?’ batinnya.

Chanyeol mengerutkan keningnya bingung tetapi kemudian ia mengangkat bahunya acuh dan menyusul Baekhyun yang sudah di depan.

 

=><=

 

Annyeonghaseyo Saem,” sapa Sehwan sambil membungkuk sopan. Woohyun yang merasa di sapa pun tersenyum, “Ne? Ada perlu apa?”

“Hmm, itu apakah nama anda Nam Woohyun?” tanya Sehwan memastikan.

Ne saya Nam Woohyun,” Woohyun menjawab seadanya.

“Ah, maafkan saya Saem, sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan tentang tugas tadi. Maafkan saya karena saya melamun saat anda menerangkan tadi.”

“Ah… gwenchana tapi aku ada kelas setelah ini bagaimana jika kita membuat pertemuan nanti?” Woohyun memberi penawaran.

“Benarkah? Apa boleh Saem?” tanya Sehwan.

“Tentu saja, sepertinya kau mahasiswa baru disini? Pindahan dari London itu kan?” tebak Woohyun.

“Ah ne itu benar saya mahasiswa baru.”

Arasseo kau mau jam berapa dan dimana?”

“Terserah anda saja Saem,” Sehwan menjawab.

“Kalau begitu jam 8 malam saja yah, aku sibuk untuk pagi dan siang.” Woohyun menimang-nimang waktu. Sehwan hanya mengangguk tanda ia setuju.

“Kita bertemunya di kafe dekat universitas ini, bagaimana?”

“Baiklah Saem, kamsahamnida,” Sehwan membungkukkan badannya. Setelah itu Woohyun berlalu pergi.

“Hmm, aku harus menyusun rencana,” Sehwan berkata pada dirinya sendiri sambil memperhatikan punggung gurunya itu sampai hilang di belokan koridor.

 

[Skip time]

 

At Kafe, 20:00 KST

Sehwan menunggu Woohyun sambil meminum coklat panasnya. Tidak lama kemudian, lonceng pintu kafe berbunyi tanda ada seseorang yang berkunjung ke kafe.

Kring~ kring~

Mianhae sudah membuatmu menunggu,” Woohyun menghampiri Sehwan.

Gwenchana Saem,” Sehwan mempersilahkan Woohyun duduk.

Kemudian Woohyun menjelaskan kembali tugasnya kepada Sehwan dan sesekali Sehwan mengutarakan pertanyaan yang terlintas di otaknya.

“Apa sudah paham?” tanya Woohyun. “Ne saya paham, kamsahamnida,” Sehwan mengangguk paham.

“Ne, kira-kira kau ingin mengambil apa?”

Sehwan berpikir, “Hmm…. mungkin… aku akan mengambil ‘Seorang pembunuh yang terlanjur menjadi psikopat’.”

“Oh, kenapa?” tanya Woohyun penasaran.

“Entahlah Saem hanya tertarik, kebanyakan di film-film seorang psikopat akan mati di endingnya atau berakhir di penjara seumur hidup.” Woohyun mengangguk mengerti tanda ia paham dengan tema Sehwan.

“Baiklah kurasa itu sudah cukup,” Woohyun berdiri dari duduknya, Sehwan turut berdiri karena Woohyun akan pulang.

“Oh iya aku belum tahu namamu, maafkan aku yang pelupa ini.”

Sehwan menggeleng, “Aniyo gwenchana, namaku Wu Shixun.”

Arasseo, sampai bertemu lagi Shixun-ah,” Woohyun berlalu pergi diikuti Sehwan yang juga bergegas melakukan aksinya.

Woohyun memasuki mobilnya tapi saat dia menyalakan mesinnya, mobilnya tak mau hidup. Kemudian ia keluar untuk mengecek dan tak hanya mesinnya yang bermasalah ternyata ban mobilnya bocor, “Ya Tuhan, sepertinya aku harus naik taksi.”

Tak lama kemudian ia melihat taksi tidak jauh dari pandangannya, “Aku akan hubungi tukang bengkel nanti,” kemudian ia menyetop taksi tersebut dan masuk ke dalam taksi itu.

“Antarkan aku sampai alamat XXX,” Woohyun memberitahukan alamatnya, sopir taksi itu mengangguk paham.

Woohyun terus memandang ke depan dan dirinya sadar bahwa sopir ini berbelok arah bukan berjalan lurus.

“Pak, sepertinya anda salah jalan.”

Sopir taksi itu menggeleng dan menunjukkan rekaman suara kepada Woohyun.

“Ini jalan pintas,” rekaman suara terdengar, Woohyun mengangguk paham, “Tapi kenapa anda tidak berbicara?” Woohyun kembali bertanya.

Sopir itu menunjukkan rekamannya lagi, “Maaf, saya mute.” Setelah mendengar rekaman suara sopir itu lagi, Woohyun mengangguk paham. Walaupun hatinya sedikit resah.

Kemudian taksi itu berhenti di sebuah gedung tua dan tiba-tiba sopir tersebut keluar dari taksi. Woohyun juga ikut keluar, namun saat ia hendak keluar dari taksi seseorang sudah memukul belakang kepalanya dengan siku orang tersebut dan itu membuat kepalanya pening dan langsung jatuh pingsan.

Sehwan menatap Woohyun yang pingsan akibat pukulannya tadi. Kemudian ia membawa Woohyun ke dalam ruang bawah tanah yang tertutupi semak-semak, tempat dimana ia biasa melakukan tugasnya.

Ia mengangkat semak-semak tersebut dan muncullah pintu kecil di sana kemudian ia membuka pintu itu dan menutupnya kembali dan langsung menuruni tangga dengan Woohyun yang berada di punggungnya. Sehingga samapilah ia di ruang bawah tanah tersebut. Ia meletakkan Woohyun di kursi goyang yang terletak di tengah-tengah ruangan kosong tersebut. Kemudian ia mengambil tali tambang dan mengikatkannya pada kedua kaki dan tangan Woohyun serta tubuh Woohyun agar terikat dengan kursi. Setelah selesai, Sehwan menelpon seseorang.

Yeoboseyo?” terdengar suara seseorang di seberang.

Yeoboseyo, ini Kim Jongki,” Sehwan menjawab telepon tersebut.

“Ah sudah selesai Tuan?” tanya orang di seberang telepon yang ternyata sopir taksi tadi.

“Ne, terima kasih sudah mengantar kakakku, aku sudah meletakkan uangnya di dalam taksi dan Ahjussi bisa mengambil kembaliannya,” ucap Sehwan.

Ne, arasseo kamsahamnida Tuan semoga kejutan ulang tahun untuk hyungmu berjalan lancar,” Sopir taksi itu berucap tulus.

Ne, kamsahamnida.”

Sehwan pun menghampiri monitor di depannya, menampilkan sopir taksi itu yang membawa kembali taksinya keluar dari area ini. Sehwan dapat mengawasi siapapun karena ia meletakkan kamera kecil di dekat pintu masuk menuju ruang bawah tanah ini. Kamera kecil itu terhubung ke arah monitor yang sedang Sehwan tonton.

Setelah memastikan bahwa Sopir taksi itu pergi, Sehwan langsung mencabut kartu dalam handphonenya dan membakarnya agar ia tidak bisa dihubungi lagi. Setelah itu, ia kembali menatap Woohyun yang masih pingsan.

“Sampai kapan dia akan pingsan?” Sehwan bertanya pada Woohyun yang tentunya tidak akan dijawab oleh Woohyun.

 

[1 hours later]

Sehwan terantuk-antuk melawan kantuk yang terus melandanya, matanya tebuka tertutup terbuka tertutup terus seperti itu hingga,

“enghh….”

Sehwan segera membuka matanya ketika mendengar suara Woohyun. Sejak tadi ia menunggu Woohyun sadar tapi ia malah hampir tertidur gara-gara menunggu terlalu lama, kemudian ia mengambil botol air minum dan meneguknya serta membasuh wajahnya sedikit dengan air.

“Dimana ini?” tanya Woohyun sambil menatap sekitarnya.

“Uwahh! Kau lama sekali sadarnya,” Sehwan menghampiri Woohyun sambil menguap dan merenggangkan otot-ototnya.

Nuguseyo?!!” Woohyun mulai ketakutan dan meronta-ronta minta di lepaskan, mau tak mau akhirnya dia terjungkal ke belakang, ingat ia duduk di kursi goyang.

“Ya ampun, kau ini berisik sekali,” Sehwan membantu mengangkat kursinya agar Woohyun dapat duduk normal.

“Aku lihat jam berapa sekarang,” Sehwan melihat jam tangan di pergelangan tangan kirinya, “Tengah malam.”

Nuguseyo?!!” Woohyun terus berteriak.

“Kau ingin lihat aku ini siapa?” Sehwan mendekat ke arah Woohyun. “Kau tidak kenal suara ini?” Sehwan bersedekap di depan Woohyun, Woohyun tidak dapat melihat jelas karena penerangan yang minim dan juga pria di depannya memakai topi, masker, dan baju serba hitam. “Oh iya ya aku lupa, suaraku teredam oleh masker ini.”

Kemudian Sehwan membuka maskernya perlahan, “AnnyeonghaseyoSaem?”

Woohyun membulatkan kedua matanya saat suara itu menyapa pendengarannya,

“Apa kau terkejut Saem?” tanya Sehwan sambil menurunkan tudung hoodienya lalu dilanjutkan dengan membuka topinya. Woohyun semakin membeku tatkala namja berwajah tegas itu telah menampakkan wajah di hadapannya.

 

TBC

#NB from Author

Annyeonghaseyo^^

Park Rami balik lagi dengan chapter 2nya, semoga semakin tidak membingungkan yah ._.

Maafin Park Rami jika update ff ini agak lambat maklum aku sekarang sudah detik-detik UN T_T

Hehehe… aku selalu butuh komentar dan sarannya yah dan juga hargai karya author nde… #Komentar readers adalah semangat author 😀

Jja… kamsahamnida *deep bow*

4 thoughts on “Who Are You ? (Chapter 2)

  1. ellalibra berkata:

    Knp sehwan g bilang ke panti kl dy msh hidup ,,, knp dy milih jd pembunuh bayaran coba?? Kshn sehun pst sedih tau kakak nya jd spt itu …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s