Who Are You ? (Chapter 1)

Untitled

 

Dua bocah berumur 7 tahun sedang bermain bersama di sebuah taman panti asuhan. Dapat dilihat pancaran kebahagian dari kedua wajah anak kembar tersebut, yah itu benar mereka kembar dan sangat identik. Terkadang orang-orang keliru menyebut nama antara mereka, tetapi mereka juga memiliki perbedaan yang menonjol. Kalian bisa melihatnya dari warna rambut mereka, untuk tertua memiliki rambut hitam gelap sedangkan termuda memiliki rambut yang terlihat lebih berwarna coklat.

Hyung, sekarang giliran hyung yang mengejarku!” Si adik menghampiri kakaknya sambil tersenyum lima jari, sang kakak mengangguk, “Geurae~” jawabnya terdengar lesu.

Si adik mengernyit heran melihat air muka kakaknya, “Ayolah hyung jangan lemas begitu,” katanya dengan nada merajuk.

Sang kakak menatap adiknya dan terkekeh kecil, dengan cepat memeluk sang adik.

Waeyo?” tanya si adik tak mengerti karena tiba-tiba hyungnya itu memeluknya. Kakaknya hanya cengengesan menampilkan deretan gigi susunya, “Hehehe… kamu kena!”

Si adik membulatkan kedua bola mata dengan lucu, “MWO! Lepaskan aku, Hyung tidak adil!” teriaknya sambil meronta-ronta minta dilepaskan.

“Ayee~ arasseo mianhae,” sang kakak melepaskan pelukannya dari sang adik. Si adik menekuk wajahnya, membelakangi kakaknya pura-pura merajuk. Rupanya ia ingin mengerjai hyungnya itu.

“Ya sudah, sekarang kejar aku hahaha…” kemudian Si adik langsung berlari menjauh dari kakaknya.

“Ya! Kau menipuku eoh?!” Sang kakak melongo dibuatnya, kemudian dia segera menyusul adiknya yang sudah berlari.

Mereka berdua terus bermain kejar-kejaran hingga mereka tidak sadar telah keluar dari panti asuhan dan menuju sungai. “Sehun-ah jangan di sini, tanahnya licin!” teriak sang kakak dan terus memakukan pandangannya pada Sehun yang terus berlari di depannya. Tapi Sehun tidak mendengarkan perkataan kakaknya.

Sehwan, kakak Sehun yang terus berlari mengejar Sehun tanpa melihat sekitarnya akhirnya tersandung batu dan tergelincir ke dalam sungai. Sehun yang mendengar suara ceburan air segera menghadap belakang dan terkejut saat melihat kakaknya tenggelam dan terus terseret arus sungai yang sangat kuat.

“HYUNG! SEHWAN HYUNG!” teriak Sehun dan berlari mengejar kakaknya yang terus terseret arus.

“Seh-hun-ah! To-long hyung!” ucap Sehwan terputus-putus.

Hyung! Tunggu aku! Aku akan menyelamatkanmu!” teriak Sehun semakin menggila, karena dirinya juga dalam masalah. Kakinya tersangkut akar tumbuhan semak-semak, membuat dirinya tidak bisa beranjak dari sana.

“SEHWAN HYUNG! hiks.. KHAJIMA! Jangan tinggalkan.. aku.. hiks..” Sehun menangis sejadi-jadinya.

Sehwan yang melihat adiknya menangis ikut menangis juga dan akhirnya dirinya tenggelam tak sadarkan diri sambil terus dibawa menjauh oleh arus sungai.

 

Who Are You ?

 

Tittle : Who Are You?

Author : Park Rami [@Ohxodus]

Genre : Brothership, a little bit Crime/Thriller, and Comedy

Main Cast :

  • Oh Sehun a.k.a Byun Sehun
  • Oh sehun a.k.a Oh Sehwan
  • Byun Baekhyun a.k.a Byun Baekhyun
  • And others,

Lenght : Chaptered

Disclaimer : Baekhyun and Sehun belong to God, SM Entertaiment, and their parents. This Fanfiction belongs to me and real my imagination.

Happy reading^^

Chapter 1 : Different Soul

Seorang gadis terus beringsut mundur, dirinya berusaha menghindari seorang laki-laki yang terus melangkah mendekatinya. Gadis itu tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari pria tersebut, seolah-olah jika dia mengalihkan pandangannya seinci pun nyawanya akan melayang seketika.

Nuguseoyo?!!” tanya yeoja itu ketakutan. Tampak jelas dari nada bicaranya yang bergetar. Namja itu tidak menjawab dan terus mendekati yeoja di depannya yang sudah terpojokkan oleh dinding dan dirinya.

Yeoja itu tidak bisa melihat jelas muka seorang namja di depannya walaupun jarak antara dirinya dengannya berkisar 40 cm. Namja di depannya memakai tudung dan masker, pakaiannya serba gelap tetapi sang gadis dapat melihat mata namja tersebut begitu tajam dan menusuk tetapi tatapannya nampak kosong dan terlihat hampa.

“Aku?” tanya balik namja misterius itu. Yeoja itu menahan napas saat namja tersebut mendekatkan dirinya.

“Kau Kang Sooyoung kan?” tanya namja itu sambil melirik name-tag di seragam sekolah si yeoja, Sooyoung-si yeoja– hanya mengangguk takut-takut saat suara bariton namja itu menyapa pendengarannya.

“Kalau begitu……” namja itu sengaja berucap dengan memberi jeda.

“Akh!!” tiba-tiba Sooyoung menjerit kesakitan. Cairan kental berwarna merah yang biasa kita sebut darah mengalir dari lengan sebelah kiri Sooyoung.

“Aku adalah akhir dari perjalananmu,” Namja itu melanjutkan ucapannya. Sooyoung membelalakkan kedua matanya mendengar ucapan namja itu, dia bahkan tak mengenal siapa orang yang berdiri di depannya dan bahkan dia juga tak tahu apa salahnya sehingga dirinya harus mati.

Namja itu pun mengangkat pisaunya tinggi-tinggi dan mengarahkannya pada Sooyoung yang terduduk ketakutan. Tetapi, tinggal 1 cm pisau itu mengenai kening Sooyoung, namja itu menghentikan pergerakannya membuat Sooyoung bernapas lega.

Namja itu tersenyum melihat reaksi Sooyoung, “Aku butuh hiburan, jadi aku akan membunuhmu perlahan,” namja itu berucap dengan seringaian di balik maskernya. Sooyoung yang mendengar itu semakin ketakutan bahkan sekarang tubuhnya ikut bergetar karena saking ketakutannya.

“Tenang saja, aku tidak akan membuatmu merasakan sakitnya karena aku tidak sekejam itu,” ucapnya dan kemudian namja itu menyuntikkan sebuah cairan ke lengan Sooyoung.

“Ashh..” Sooyoung berdesis perih saat jarum suntik tersebut menusuk lengannya. Hingga beberapa detik kemudian dirinya merasakan bahwa tubuhnya menjadi mati rasa. Sooyoung berusaha membuka suaranya tapi tak berhasil yang ada ia hanya mangap-mangap.

“Aku lupa, meskipun kau tidak akan merasakan sakitnya kau tidak akan bisa bicara,” namja itu menjelaskan. Detik berikutnya, namja itu menusukkan pisau miliknya ke arah paha Sooyoung dan melakukan gerak memutar. Sooyoung terkejut saat melihat perlakuan namja itu padanya. Dia menangis tanpa bisa berbuat apa-apa, tubuhnya tak bisa bergerak dan suaranya bahkan tak bisa keluar.

Namja itu melanjutkan pekerjaannya dan beralih ke lengan Sooyoung. Kemudian ia mencabut pisau di paha Sooyung tanpa perssaan dan membuat garis melintang di lengan Sooyoung. Selanjutnya namja itu mengambil sebuah cap besi yang membara dan menempelkannya kuat-kuat di lengan Sooyoung. Bersamaan dengan itu tangisan Sooyoung semakin deras. Bau anyir pun memenuhi ruangan itu.

 

=><=

 

Hyung?”

Hyung?”

“Baekhyun hyung?”

“BAEKHYUN HYU_________

“Ya! Jangan berteriak!” marah Baekhyun kepada namja jangkung di depannya setelah dirinya berhasil membekap mulut milik namja yang asyik memonyongkan bibirnya itu.

“Huh~ habisnya hyung mulai tadi tidak mendengarkanku sih.”

Ne ne ne mianhae, Mwo-ya?”

“Bantu aku mengerjakan tugas fisika, ne ne ne??” tanya Sehun dengan berbinar-binar

“Huh? Kerjakan sendiri sanah! Aku malas!” tolak Baekhyun dan langsung mengalihkan perhatiannya pada televisi.

“Ayolah hyung ini tidak sama seperti matematika,” ucap Sehun terus membujuk hyungnya yang pemalas itu, “Lagipula fisika menggunakan banyak rumus.” Sehun melanjutkan perkataannya.

“Matematika juga ada rumus kan?” tanya Baekhyun tanpa mengalihkan perhatiannya dari televisi sedikitpun, hal itu membuat Sehun semakin kesal.

“Tapi fisika itu ada bahasa ilmiahnya dan itu membuat kepalaku pening,” Sehun menjelaskan sambil menarik-narik rambut coklatnya karena kesal.

“Itu tidak berpengaruh,” Baekhyun berujar lagi.

Sehun menarik nafasnya sejenak guna meredakan kesabarannya, “Hyung?”

“Hmm?” sahut Baekhyun tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.

Sehun menghela nafas lelah, tapi dia tidak akan putus asa begitu saja sampai hyungnya mau membantunya mengerjakan tugas fisika, “Hyung?”

“HHMMM?” Baekhyun mulai geram sendiri karena tingkah Sehun.

“HYUUNG?” Sehun ikut menaikkan nada bicaranya.

“Aishhhh~ baiklah baiklah kemarikan bukumu,” Baekhyun menyerah untuk meladeni sifat Sehun yang terus pantang meyerah itu.

“Yeay!! Oke gomawo Baekkie hyung~” Sehun mengerlingkan matanya berulang-ulang. Baekhyun hanya bergidik ngeri melihat kelakuan adiknya itu.

 

=><=

 

Orang-orang saling berkerumunan di depan gedung sekolah tua, tidak henti-hentinya mereka berbisik-bisik entah apa yang mereka bisikkan. Saat ini area gedung sekolah tua itu sudah dipagari oleh garis pembatas yang berwarna kuning hitam yang tak lain garis polisi. Tak lama kemudian terlihat jasad seorang gadis SMA yang dibawah oleh tim medis.

“Kang Sooyoung putri dari seorang Direktur Kang Corp. ditemukan tewas beberapa jam yang lalu, dari kondisi korban dapat dipastikan…..” ucap seorang presenter televisi.

Kondisi Sooyoung saat ini membuat semua orang menatapnya ngeri dan iba, banyak luka sayatan di sekujur tubuhnya.

“Mengapa ada gambar seperti ini pada korban? Ini terlihat seperti cap besi yang dipanaskan,” tanya salah satu detektif dalam kepolisisan tersebut. Itu benar, pada lengan korban terdapat gambar aneh, ukirannya sedikit rumit dan sedikit aneh. Entahlah, gambar itu belum bisa dideskripsikan secara pasti dan juga ukiran gambar tersebut juga terjadi pada korban sebelumnya.

 

=><=

 

Saat ini Sehun sedang menemani hyungnya berbelanja. Sehun terus mendorong troli belanjaan mereka dan tidak henti-hentinya menghembuskan nafas.

Baekhyun yang melihat kelakuan adiknya segera berbalik dan mengangkat sebelah alisnya pertanda ia bingung, “Waeyo? Apa ada sesuatu yang kau inginkan?”

Sehun menggeleng, “Aniyo, aku hanya kesal.”

Baekhyun tetap menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti dengan perkataan dongsaengnya, Sehun yang melihat ekspresi kakanya tetap sama Sehun pun segera menjawab. “eh, maksudku aku kesal karena aku bosan bukannya aku kesal karena harus ikut berbelanja.”

Geurae…” jawab Baekhyun sambil mengangguk-anggukkan kepalanya paham.

 

[Skip time]

 

Hyung?”

Mwo?”

“Berjanjilah dulu,”

Baekhyun yang sedang fokus mengemudi jadi ia menganggukkan kepalanya saja pertanda setuju dengan Sehun.

“Berjanjilah untuk tidak akan meninggalkanku,” ucap Sehun tiba-tiba, Baekhyun pun menghentikan mobilnya tepat di depan kedai bubble tea dan segera memutar kepalanya menatap Sehun.

“Tentu saja, aku kan hyungmu,” Baekhyun berucap tulus sambil menatap mata Sehun.

“Aku tahu,” balas Sehun dan mengalihkan tatapannya dari hyungnya itu, Baekhyun mengernyit heran melihat sikap Sehun yang menurutnya aneh, dia pun segera mencari ide untuk membuat adiknya kembali seperti semula.

Lalu Baekhyun mendekati Sehun dan mencubit kedua pipi adiknya itu gemas, “Aigoo, ada apa dengan dongsaengku ini?”

“Aww.. aww appo! Lepaskan hyung!”

Baekhyun terkekeh dan berniat untuk mengerjai dongsaengnya ini, “Memohon dulu dengan kata-kata pujian yang indah.”

Sehun menekuk wajahnya dan dia menatap wajah Baekhyun sejenak, seketika terlintas ide jahil di otaknya, “Hyungku yang sangat cerewet bahkan melebihi dari seorang yeoja aku mohon lepaskan tanganmu itu dari wajah tampanku.”

Baekhyun tergeming dengan perkataan Sehun yang baru saja diucapkannya. Baekhyun segera melepaskan cubitannya di kedua pipi dongsaeng tampannya ini dengan sedikit tarikan keras hingga berhasil membuat Sehun mengaduh kesakitan lagi.

Baekhyun melupakan perkataan Sehun tadi dan sekarang ia terkekeh melihat adiknya yang mengelus-elus pipinya yang memerah. “Hehehe, kajja hyung akan membelikan bubble tea untukmu,” ajak Baekhyun

Jeongmal?” tanya Sehun berbinar senang.

“Aku tidak dibayar untuk mengulangi perkataanku,” Baekhyun berkata santai dan kemudian Sehun segera menyusul Baekhyun yang sudah berjalan lebih dulu.

 

=><=

 

Ne, baiklah apa sekarang permintaan anda sudah terpenuhi Direktur Kim?”

“…”

“Anda sudah melihat berita kematian putrinya di televisi?”

“…”

“Ah jinjja?”

“…”

Geurae, ne anda bisa mengandalkanku.”

“…”

Ne, Ne kamsahamnida.

Tok tok tok!

“Masuklah.”

Seorang namja muda memasuki ruangan tersebut dan membungkuk hormat kepada ‘ketuanya’.

“D.O-ah panggilkan dia! Aku ada perlu dengannya,” D.O mengangguk mengerti, “Baiklah ketua.” Setelah membungkuk hormat, D.O langsung keluar dari ruangan tersebut.

 

[Other side]

D.O menatap punggung seorang namja dengan rambut pirang platinanya terus meneguk bir kaleng yang dibelinya tadi. Kemudian D.O menghampirinya, “Kau ditunggu oleh ketua di dalam ruangannya,” D.O menyampaikan perintah yang diperintahkan oleh ketuanya dan setelah itu ia langsung berlalu pergi. Namja tadi pun bergegas menuju ruangan ketuanya.

Tok tok tok!

Setelah mengetuk pintu, namja itu langsung masuk ke dalam ruangan itu tanpa menunggu persetujuan. Yah, karena dia adalah orang kepercayaan ketuanya.

“Bagaimana misimu?” tanya orang yang dipanggil ‘ketua’.

“Anda pasti tahu kan?”

“Yah yah kau selalu menyelesaikannya dengan beres,” katanya lagi.

“Anda pasti ada hal lain yang ingin ditanyakan padaku?”

“Yah itu benar, kerjamu selalu membuatku tersenyum puas, kau tidak meninggalkan jejak sedikitpun pada korban tapi…… kenapa kau selalu mengukir gambar itu pada setiap korban yang kau bunuh?”

Seketika namja itu terdiam mendengar pertanyaan ketuanya.

Wae? Kenapa tidak menjawab? Aku hanya penasaran?” tanya sang ketua lagi. “Aku sedikit tertawa ketika polisi menghubungkan gambar itu dengan kasus dan aku yakin itu bukan tujuanmu kan? Kau punya tujuan lain? Bukankah aku benar?”

Ne, anda benar.”

Namja itu menarik nafas sebentar, “Aku hanya ingin dia menyadari bahwa aku masih hidup,” namja itu melanjutkan ucapannya dengan nada sedikit lebih rendah daripada sebelumnya.

Ketua pun tersenyum, entahlah tersenyum seperti apa kemudian dia mengangguk-angguk mengerti, “Arasseo, oh iya jangan terlalu formal padaku, selain tangan kananku kau sudah kuanggap sebagai adikku, panggil saja namaku.”

“Baiklah… Woobin hyung.”

 

=><=

 

Saat ini keluarga Byun sedang makan malam bersama di ruang makan mereka. Baekhyun terus saja menyelipkan sayur ke dalam makanan Sehun sehingga membuat si adik mengerucutkan bibirnya karena kesal. Tn. Byun dan Ny. Byun hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah laku kedua anaknya.

Aigoo, kalian berdua masih saja bertingkah seperti anak kecil kalian kan sudah SMA,” ucap Ny. Byun gemas. Baekhyun dan Sehun hanya tertawa kikuk, kemudian Tn. Byun menambahi, “Tapi mereka sangat akur bukan, lihatlah betapa akrabnya mereka.”

“Oh iya besok pagi Appa kalian akan pergi ke Jepang,” ucap sang Eomma tiba-tiba.

Ne?” mereka berdua bertanya kompak dengan ekspresi terkejut yang mengejutkan.

“Kalian tahu bukan baru-baru ini Appa mengembangkan cabang perusahaan milik Presdir Cho dan lihatlah sahamnya langsung berlipat ganda,” Eomma mereka menjelaskan dengan semangat atas kerja suaminya.

“Dan Eomma kalian akan ikut karena kurang lebih setengah bulan Appa berada di Jepang,” Appa mereka melanjutkan. Semuanya terdiam sejenak.

Gwenchana Appa Eomma, itu kan memang tugas Appa untuk mengelolah perusahaan dan juga Appa pasti membutukan Eomma untuk berada disampingmu,” Baekhyun berkata bijak.

Ne, lagipula aku dan hyung sudah dewasa, kami bisa menjaga diri,” Sehun menambahkan.

Orang tua mereka berdua sangat bahagia mendengar ucapan kedua anaknya. Mereka bukan anak kecil lagi yang sering menangis dengan hal kecil tetapi mereka sudah tumbuh menjadi dewasa dengan baik dan tali persaudaraan diantara mereka semakin kuat. Hal itu membuat Tn. Byun maupun Ny. Byun tidak mampu melepaskan senyum bangga dan bahagia dari wajah mereka.

“Kalau begitu Appa tidak perlu khawatir dong dengan kedua bayi kecil Appa,” kata Appa mereka dengan sedikit candaan.

“Appa!”/”Appa~” Mereka berdua merengut kompak-lagi- hanya saja Baekhyun dengan nada kesal sedangkan Sehun dengan nada merajuk dan kemudian mereka semua tertawa bersama.

 

[Skip time]

 

“Sehun-ah cepatlah kita bisa terlambat!” teriak Baekhyun dari bawah.

Ne Hyung tunggu sebentar!” jawab Sehun juga berteriak kemudian dirinya kembali menatap bayangan dirinya di depan cermin.

“Hohoho.. aku memang selalu tampan,” Sehun bermonolog di depan cermin dengan tingkat percaya dirinya yang setinggi tingkat di sekolahnya, namun saat dirinya hendak berbalik sebuah suara menghentikan pergerakannya.

“Sehun-a­h!”

Sehun tetap tidak berbalik karena dia merasa ada yang aneh, dirinya berpikir bagaimana bisa cermin berbicara bahkan untuk memikirkan itu membuat bulu kuduknya meremang dan detak jantungnya jadi tidak karuan.

“Sehun-ah bogoshipoyo!”

Sehun menelan ludahnya kasar.

“Berbaliklah hyung rindu padamu.”

Hyung?” akhirnya Sehun memutuskan untuk berbalik dan sosok didepan cermin memang dirinya hanya saja cerminan itu bukan dirinya, itu adalah orang lain.

“Sehwan hyung?”

Sosok itu membuatnya merasakan sesak pada hatinya, membuat jantungnya bepacu lebih cepat, membuatnya merasakan kerinduan yang terpancar jelas di kedua matanya.

Hyung?” tanyanya lagi, sosok itu mengangguk, tersenyum lembut kepadanya dan tak lama kemudian sosok itu menghilang dari cermin Sehun.

Hyung?!Eodigayo?!!” teriak Sehun sambil mengguncang-guncangkan cermin di depannya, air matanya bahkan sudah merembes keluar tanpa dia sadari.

“HYUNG!!!!!”

Baekhyun yang mendengar teriakan adiknya segera bangun dari ranjangnya dan berlari ke arah kamar Sehun yang pintu kamarnya terbuka.

“Sehun-ah?! Ireona!” Baekhyun mengguncang-guncangkan tubuh Sehun agar segera bangun. Sehun pun segera membuka kedua matanya dan berhambur memeluk Baekhyun.

Wae geurae? Kau bermimpi buruk?” tanya Baekhyun khawatir bahkan tengkuk Sehun basah oleh keringat ketika dirinya mengusap belakang kepala dongsaengnya. Sedangkan Sehun hanya diam ditanya oleh Baekhyun.

“Baiklah, kajja ke kamar hyung.

Baekhyun menuntun Sehun ke kamar Baekhyun. Setelah sampai di kamarnya, Baekhyun segera membaringkan Sehun dan hendak berbalik pergi tapi sebelum Baekhyun pergi Sehun mencegahnya.

Hyung akan mengambil air untukmu,” ucap Baekhyun menjelaskan.

Sehun menggeleng, “Aniyo, tidak perlu mengambilkan air.”, “Temani aku tidur hyung…” pinta Sehun.

Arasseo.

Baekhyun pun tidur di samping Sehun. “Dia datang,” gumam Sehun pelan, keadaan yang hening membuat Baekhyun dapat mendengarnya dengan jelas. “Dia menghampiriku hyung,” lirih Sehun selanjutnya.

Gwenchana sekarang tidurlah,” Baekhyun menatap Sehun cemas, dirinya terus menenangkan dan menghusap pelan bahu dongsaengnya ini. Sehun terus memeluk Baekhyun dan menangis dalam diam.

“Tenanglah Sehun-ah, hyung selalu di sampingmu,” ucap Baekhyun berusaha menenangkan, Sehun mengangguk dan menggenggam kuat-kuat kalung pemberian dari kakaknya dulu.

 

TBC

#NB from Author

Annyeonghaseyo ada yang ingat Park Rami? Gak ada yah L gak papa deh^^

Sebelumnya aku pernah ngirim ff di sini mungkin ada yang pernah baca ff-ku yang dulu wkwkwk😀

Aku selalu butuh komentar dan sarannya yah. Oh iya mungkin ini kurang greget yah, perkuat fantasi kalian oke. Aku akan perjelas cerita ini di chapter selanjutnya. Jadi,

Review juseyo~ #Komentar readers adalah semangat author😀

Kamsahamnida.

11 thoughts on “Who Are You ? (Chapter 1)

  1. desi mulya berkata:

    Cerita nya keren. tpi itu yang tdi nge bunuh kka nya sehun yah ? soalnya kan tdi dia bilang “aku hanya ingin dia menyadari bahwa aku masih hidup”

  2. XI RA BY berkata:

    Ketemu cerita fantasi yg castnya uri maknae lagi, yuhuuuuu~
    Suka, suka ….
    Next plissss, gk usah ngaret.
    Penasaran akut..

  3. ellalibra berkata:

    Bagus crtnya eon …. Mistery sehwan kakaknya sehun ternyata msh hdp tp knp dy hrs membunuh org…?? Jgn smp endingnya tragis eon g kuat bcny hehe… Dtunggu neeext fighting🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s