BANGTAN’S STORY [JUNGKOOK’S VERSION] : I NEED YOU PART 10

BTS - i need you

Tittle  : I need You

Author  : Ohmija

Main Cast  : Jeon Jungkook, Kim Saeron

Support Cast  : V, Rap Monster, Jin, Suga, Jhope, Jimin BTS, Shannon William, Wendy & Seulgi Red Velvet, Seunghee CLC, Kim Jisoo, Park Jinny.

Genre  : Romance, School Life, Friendship

Sosok wajah yang di tangkap oleh kedua matanya tadi seketika membekukan tubuhnya saat itu juga. Dengan kondisi terbelalak maksimal, kedua matanya tertancap lurus-lurus pada orang-orang yang akhirnya menghilang di balik ruangan. Tenggorokannya tercekat. Tak sanggup mengeluarkan suara.

“Jungkook.” Suga menepuk pundak pria itu sambil mengikuti arah pandangannya, “Apa yang kau lihat?”

Jungkook menelan ludah, berusaha mengembalikan kesadarannya. Tidak mungkin. Yang dia lihat pasti salah, kan? Mereka baru saja bertemu kemarin dan dia baik-baik saja. Tidak mungkin. Ini tidak mungkin.

“Jungkook.”Suga memanggilnya lagi.

“Saeron…”lirih Jungkook, rahangnya mulai mengeras. “Itu Saeron!” Dan detik berikutnya, pria itu berlari cepat. Menuju ke sebuah ruangan di mana orang-orang itu membawa Saeron tadi. Pintu itu tertutup, tidak bisa terbuka walaupun ia sudah menggedornya berkali-kali.

“Saeron! Kim Saeron!”teriaknya. “SAERON!”

“Tuan, anda tidak boleh membuat keributan disini.” Beberapa perawat menghampirinya.

“Gadis yang di dalam tadi… dia adalah temanku. Aku harus bertemu dengannya.”

“Tuan, anda tidak bisa masuk. Hanya pihak keluarga yang di perbolehkan menunggu di dalam.”

“Aku mengenalnya! Aku mengenalnya dengan sangat baik! Aku harus bertemu dengannya sekarang!”

“Tuan, tenanglah.”seru perawat itu sambil berusaha menahan tubuh Jungkook.

“ Jungkook! Ya, Jeon Jungkook!” Begitu tiba disana, Suga langsung menarik lengan sahabatnya itu. Kemudian ia membungkuk pada perawat yang menahan tubuh Jungkook tadi, “Maafkan temanku. Kami tidak akan membuat keributan.”

“Lepaskan aku, Suga!” Jungkook menepis cekalan Suga namun dengan cepat pria mungil itu mencekal lengannya lagi.

“Kau gila? Kita bisa diusir dari sini.”

“Lepaskan aku! Aku harus masuk ke dalam! Orang-orang itu membawa Saeron ke dalam! Dia ada di dalam sekarang!”

Mata Suga seketika membulat lebar, “Apa?!”

***___***

 

Jungkook tidak bergerak sedikitpun dari sana. Pria itu terus berdiri sambil bersandar di dinding, kedua matanya tertancap lurus-lurus pada pintu yang tertutup itu. Tidak hanya Suga, namun teman-temannya juga telah berada disana untuk menemaninya.

“Aku sudah bertanya pada suster jaga dan mereka bilang pihak keluarga belum ada yang datang.”jelas Taehyung.

Namjoon menghela napas panjang, “Lalu apa yang terjadi?”

Taehyung terdiam sejenak, di liriknya Jungkook dengan sorot nanar. Karena hal yang akan di katakannya diyakini akan membuatnya kembali terperangah.

“Dia di temukan pembantunya di kamar mandi…”ucapnya pelan. “…dengan leher yang tersayat dengan pecahan beling. Mereka bilang, dia mencoba bunuh diri.”

“APA?!”pekik yang lain bersamaan, seluruhnya terperangah hebat.

Taehyung menghampiri Jungkook yang berdiri paling sudut , “Saat ini keadaannya sedang kritis karena dia telah kehilangan banyak darah.”kemudian ia mengulurkan tangannya, menepuk sebelah pundak Jungkook, “Kau harus kuat, Jungkook.”

Perlahan tubuh Jungkook meluruh ke bawah. Ia terduduk di lantai dengan kepala yang tertunduk dalam-dalam. Pada akhirnya, hal itu meluluh lantahkan semuanya. Seluruh kekuatan yang telah ia kumpulkan sedikit demi sedikit, demi menunjukkan ketenangan palsunya. Demi menunjukkan ke semua orang jika untuk yang ke sekian kalinya, ia mampu kembali menjadi orang yang kuat. Dan demi menghapus segala kekhawatiran yang ditujukan padanya.

Ia kehilangan seluruh kekuatannya. Bahkan seberapa keras ia berusaha, ia tetap tidak bisa melawan semuanya. Rasa sesak ini dan kekhawatirannya. Bagaimana jika gadis itu tidak pernah membuka mata lagi? Bagaimana jika dia tidak akan bisa mendengar rengekannya lagi? Harusnya dia tidak lengah. Harusnya dia tidak pernah meninggalkannya.

Isakan kepedihan itu terdengar memilukan. Karena ini adalah pertama kalinya mereka melihat pria kuat itu menangis.Yah, saat ini… dalam tunduknya ia sedang menangis.

Taehyung dan yang lain saling pandang. Karena tidak ada yang bisa mereka lakukan. Yang jelas, kejatuhan Jungkook dan isakannya saat ini adalah sebuah bukti kuat jika pria ini sangat mencintai.

***___***

 

Empat jam sudah berlalu namun tubuh itu masih tertancap tak bergerak di tempatnya. Masih terduduk dalam tunduknya. Ia tidak berniat meninggalkan tempat itu sedetikpun walaupun suster sudah memperingatkannya jika ini bukanlah tempat untuk menunggu. Namun ia bersikeras dan mengabaikan peringatan itu. Terpaksa, Taehyung kembali turun tangan untuk meminta ijin agar mereka diijinkan untuk menunggu disana, setidaknya hingga Saeron sadar.

Dan tak lama, langkah-langkah seseorang bersama dengan dua orang yang mengapit kanan dan kirinya membuat Jungkook mengangkat wajah.

“Siapa mereka? Apa mereka keluarga Saeron?”gumam Jin iku menatap kearah orang-orang itu.

Jungkook langsung berdiri dan menghampiri mereka, tepat di depan ruangan Saeron, Jungkook menghentikan orang-orang itu.

“Permisi tapi ada yang ingin aku tanyakan.” Ia menatap lurus pria paruh baya yang berdiri di tengah. Kening pria itu lantas berkerut bingung. “Apa anda adalah ayah Saeron?”

“Kua siapa?”balas pria itu.

Jungkook tersenyum, “Jadi benar, anda adalah ayahnya?”

 

BUGG!

 

Sebuah pukulan keras tiba-tiba mendarat di wajah pria itu. Masih belum puas, tangan kanan Jungkook terulur dan mencengkram kerah bajunya namun dua pengawal tadi segera mendorong tubuh Jungkook dan melindungi tuan mereka, bersamaan dengan itu, Namjoon juga langsung melompat ke belakang tubuh Jungkook dan menahannya.

“Dasar brengsek! Sudah empat jam berlalu! Kemana saja kau?!”teriak Jungkook penuh kesal. “Apa kau tidak perduli?! Disana, dia sedang sekarat !”

Dua penjaga tak lama datang. Keduanya langsung menghamiri ayah tiri Saeron begitu melihatnya terluka, “Apa anda baik-baik saja, tuan?”

“Apa kau tidak lihat dia memukulku?!”bentaknya. “Kemana saja kalian? Kenapa kalian membiarkan anak ini ada di sini?!”

“Maafkan kami, tuan. Kami akan mengurusnya.”

Rahang Jungkook mengeras, di tatapnya pria itu dengan sorot tajam, “Apa yang kau lakukan hingga dia mencoba bunuh diri?”desisnya. Pria itu terlihat terkejut. “Jika terjadi sesuatu padanya, aku tidak akan tinggal diam.”

“Diam! Dan pergi dari sini!” dua penjaga rumah sakit itu menghampiri Jungkook. Ketika salah satu penjaga akan menarik lengannya, Jin langsung menghalangi, Ia berdiri di depan tubuh sahabatnya itu sambil menatap tajam kearah dua penjaga, seakan memperingatkan keduanya jika sebaiknya mereka tidak macam-macam.

Sementara itu, sambil berjalan memasuki ruang tunggu ICU, ayah tiri Saeron berbisik pada dua pengawalnya.

“Urus dia.”

***___***

 

“Dia adalah pria yang membawa lari Saeron waktu itu, tuan. Saya tidak sempat melihat wajahnya saat itu dan hanya melihat wajah temannya yang lain, yang bernama Namjoon.”lapor seorang pengawal.

“Lalu bagaimana dia bisa mengetahui keberadaan Saeron?”

“Kebetulan dia sedang menunggu seorang temannya yang juga di rawat disini. Temannya yang kami serang waktu itu karena tidak mau memberitahu keberadaan Namjoon.”

Ayah tiri Saeron langsung mendongakkan wajahnya, “Apa dia melihat wajahmu? Kau tau kau tidak boleh meninggalkan jejak.”

“Saya yakin dia tidak akan mengenali kami, tuan.”

“Baguslah kalau begitu. Urus dia”

“Baik tuan.”

“Ngomong-ngomong, apa nyonya sudah mengetahui hal ini?”

“Beliau belum mengetahuinya, tuan. Dan sepertinya beliau akan tetap berada di Busan karena urusan pekerjaan sampai batas waktu yang tidak di tentukan. Namun, beliau sudah mengetahui tentang rencana kepindahan nona Saeron ke Busan dan beliau terdengar sangat senang setelah mengetahui hal itu.”

Ayah tiri Saeron tersenyum menyeringai mendengarnya, “Bagus. Ini justru bisa menguntungkanku.”

***___***

 

“Jadi apa yang harus kita lakukan? Karena kejadian tadi, aku yakin kau sudah tidak di perbolehkan untuk menjenguk Saeron. Harusnya kau bisa menahan amarahmu.”omel Taehyung frustasi.

“Aku rasa ayah tirinya bukan orang biasa.”sahut Jin. “Dia bahkan memiliki dua pengawal yang menemaninya tadi. Dan jika di lihat dari bagaimana ruang ICU itu di jaga sangat ketat, aku rasa Saeron adalah pasien VIP.”

Jimin mendesah panjang, “Maksudmu, akan semakin sulit bagi kita untuk bertemu Saeron?”

Jin mengangguk pelan, “Ditambah lagi dengan kejadian tadi, aku rasa hal itu akan menjadi semakin sulit.”

Namjoon ikut mendesah panjang, sama halnya dengan yang lain, ia tidak menemukan jalan keluar atas permasalahan ini. Kemudian tangannya terulur, menepuk pundak Jungkook. “Kita cari jalan keluarnya bersama-sama.”

Jungkook mengangkat wajahnya, menatap Namjoon lurus, “Aku harus bertemu dengannya. Tidak perduli apapun yang terjadi.”

Namjoon mengangguk, “Kami tau.”

“Apa ibunya tidak ada?”sahut Hoseok. “Bukankah kau bilang ibunya akan kembali ke Seoul?”

“Tidak ada ibunya disana.”jawab Suga. “Hanya ayahnya.”

“Apa mungkin ibunya belum mengetahui hal ini?”seru Jimin.

“Mungkin saja.” Angguk Namjoon. “Sebaiknya kita tunggu hingga operasinya selesai. Karena sekarang yang paling penting adalah kondisinya.”

***___***

 

Masalah ini memang bertambah semakin rumit. Dan misteri tentang siapa sebenarnya ayah tiri Saeron juga belum terpecahkan. Jungkook mengintip dari balik dinding kearah sebuah ruangan yang kini di jaga ketat oleh orang-orang berjas hitam. Ia menghela napas panjang, menyesali perbuatannya kemarin. Taehyung benar, harusnya ia bisa menahan amarahnya. Sekarang, dia bahkan tidak bisa mengetahui bagaimana keadaannya, apa operasinya sudah selesai, dan apa kondisinya sudah membaik. Dia memang bodoh.

“Jungkook, apa yang kau lakukan disini?” Tiba-tiba suara seseorang terdengar.

Jungkook menoleh dan mendapati Jinny sudah berada di depannya dengan membawa beberapa kantung plastik. “Kenapa kau tidak masuk?”

“Aku sedang menunggu.”balas Jungkook tersenyum tipis sambil meraih kantung plastik yang di bawa Jinny. “Kenapa kau datang sendiri? Dimana Namjoon hyung?”

“Aku ingin membuat kejutan.”Gadis itu tersenyum lebar. “Kemarin Shannon memberitahuku tentang Saeron. Bagaimana keadaannya sekarang? Apa dia benar-benar melakukan itu?”

Jungkook terdiam sejenak, “Aku tidak tau. Karena itu aku menunggu disini.”ucapnya pelan. “Dia ada disana.” Ia menggerakkan kepalanya kearah kanan. Jinny menoleh, menatap kearah orang-orang berjas hitam yang sedang menjaga di luar ruangan.

“Ruangan itu?!”matanya terbelalak lebar. “Di dalam sana?!” Jungkook mengangguk pelan, “Kenapa ada banyak orang menakutkan di depan ruangannya?”

“Aku tidak tau.”

Jinny menatap Jungkook nanar, merasa kasihan dengan sahabatnya itu, “Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?”

Jungkook tertawa, “Kau tidak perlu melakukan apapun. Terima kasih karena kau sudah perduli.”

“Aku memang harus perduli.”balasnya cepat. “Kau dan Saeron kan…huh?! Bukankah itu uncle Lee?”

Jinny berlari menghampiri seorang dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu. Keduanya terlihat mengobrol beberapa saat, setelah itu Jinny melambaikan tangannya pada Jungkook sambil menunjuk ke arah lorong yang ada di depannya. Gadis itu memberikan isyarat untuk mengikutinya.

Kening Jungkook berkerut bingung namun ia menuruti perintahnya. Pria itu menaikkan hoodie-nya lalu berjalan mengikuti Jinny.

“Kita mau kemana?”bisiknya.

“Sudah ikuti saja aku.”

Hingga akhirnya mereka sampai di depan ruangan bertuliskan ‘Ahli bedah, Lee Goo Han’, Jinny mengetuk pintu tiga kali sebelum membuka pintu ruangan itu.

“Hi uncle.” Sapa gadis itu. Seorang pria paruh baya menyambutnya dengan senyuman lebar.

“What’s wrong? What do you want talking about?”

Jinny meringis lebar lalu menarik lengan Jungkook yang sedang bingung agar pria itu duduk di sampingnya.

“Who is he? Your new boyfriend? Where’s Namjoon?”

“No, he’s Namjoon oppa’s bestfriend.”jawab Jinny sambil menggeleng. “Jungkook, perkenalkan dirimu.”

Jungkook membungkukkan tubuhnya sopan, “Aku Jungkook, aku adalah teman Jinny.”

“Aku adalah pamannya.”balas pria itu. “Aku pikir kau adaah kekasih barunya.”

“Bukan. Aku adalah temannya. Kami teman sekelas.”Jungkook langsung mengelak.

“Uncle… we need your help.” Jinny memulai pembicaraan. “Tadi aku melihat uncle keluar dari ruangan ICU itu jadi aku ingin bertanya sesuatu.”ucapnya. “Pasien itu bernama Kim Saeron, kan?”

“Darimana kau tau?” Dr. Lee sedikit terkejut.

“Dia teman sekolah kami. Kami ingin menjenguknya tapi seperti yang uncle lihat, ruangannya di jaga oleh orang-orang menakutkan jadi kami tidak bisa melakukannya. Kami hanya ingin tau bagaimana keadaannya.”

Dr. Lee terdiam selama beberapa saat, wajahnya terlihat bingung, “Sebenarnya aku ingin membantu tapi keluarganya meminta pihak rumah sakit untuk merahasiakan semua tentangnya dari orang lain.”

“Kenapa begitu? Memangnya siapa mereka? Dia adalah teman sekelas kami, uncle. Kami sangat mengkhawatirkannya.”

Dr. Lee memajukan tubuhnya, “Jinny, listen to me. Sebaiknya kau tidak mendekati ruangan itu, mengerti?”

“Kenapa?”

Dr. Lee menghela napas panjang sambil menatap Jinny dan Jungkook bergantian, “Sepertinya mereka adalah orang-orang yang berbahaya. Jadi jangan coba-coba mendekati ruangan itu.”

“Tapi bisakah anda memberitahu kami tentang keadaannya? Bagaimana operasinya dan apakah dia sudah baikan?” Jungkook mengulurkan tangannya, menggenggam kedua tangan Dr. Lee erat-erat. “Aku tidak akan mendekati ruangan itu dan aku tidak akan mencari keributan lagi. Tapi bisakah anda memberitahuku bagaimana kondisinya? Aku mohon. Aku sangat khawatir padanya sampai rasanya mau gila. Aku ingin mengetahui bagaimana keadaannya tapi aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Anda adalah satu-satunya harapanku. Aku mohon tolong aku. Tolong beritahu bagaimana keadaannya sekarang.”

Dr. Lee menatap Jungkook dengan pandangan nelangsa. Karena pria itu benar-benar terlihat seperti orang gila. Dia memohon tanpa menyadari jika suaranya bergetar hebat.

“Hm? Aku mohon. Aku akan melakukan apa saja jika anda mau. Asal anda memberitahu bagaimana keadaannya.”

Jinny ikut merasakan kepiluan itu. Di tatapnya sisi wajah Jungkook dengan mata yang mulai merebak.

“Uncle, I beg you. We need your help. Just once, please.”serunya ikut memohon.

“Operasinya berjalan lancar.”seru Dr. Lee akhirnya. “Dia sudah melewati masa kritisnya dan dia akan di pindahkan ke ruang perawatan nanti siang. Hanya saja, kondisi psikologinya tidak begitu baik. Dia tidak pernah bicara setelah sadar dan sepertinya dia masih mencoba untuk bunuh diri lagi.”

Jungkook tertegun, “Kenapa?”

“Aku rasa dia depresi. Sebenarnya di temukan bekas memar di beberapa bagian tubuhnya namun pihak keluarga menolak untuk memeriksanya. Mereka bilang itu hanya bekas luka karena Saeron sering terjatuh.”

Jungkook langsung menggeleng, “Bukan. Itu bukan karena dia terjatuh, Itu karena dia sering dipukuli.”

“Aku tau itu. Tapi aku tidak bisa berbuat apapun.”seru Dr. Lee lemah.

Jinny menoleh, menatap Jungkook yang hanya diam di tempatnya. Tangan gadis itu terulur, menghusap sebelah pundaknya, “Jungkook kau tidak apa-apa?”

Jungkook tersenyum, “Aku tidak apa-apa.”ucapnya pelan. “Kalau begitu, terima kasih karena sudah mau membantu kami, dokter. Maaf jika kami mengganggu.”

Dr. Lee tidak menjawab, hanya menatap anak laki-laki itu dengan tatapan nanar. Namun, ketika ia sudah sampai diambang pintu, suaranya menghentikan langkah Jungkook. “Hei, nak.”panggilnya. Jungkook menoleh. “Malam ini, pukul 8.”

Kening Jungkook berkerut, “Huh?”

“Kau pasti mau bertemu dengannya, kan?” Dr. Lee tersenyum. “Malam ini, pukul 8, datanglah ke ruangan ini.”

Tanpa pikir panjang, Jungkook langsung mengangguk. Senyumnya merekah lebar menatap Dr. Lee, “Aku pasti datang. Terima kasih.”

***___***

 

“Annyeong!” Jinny membuka pintu ruang perawatan Hoseok dengan senyum lebar.

“Jinny?” Namjoon terkejut melihat kekasihnya tiba-tiba datang. “Bagaimana bisa kau ada disini? Kau datang bersamanya?”tunjuknya pada Jungkook yang muncul di belakang Jinny dengan membawa beberapa kantung plastik.

“Kami bertemu di depan.”jawab gadis itu sambil menghampiri kekasihnya. “Aku ingin memberi kejutan pada oppa jadi aku tidak bilang jika ingin datang.”

“Ya, harusnya kau memberitahuku jadi aku bisa menjemputmu.”

Jinny menggeleng, “Tidak perlu. Tadi supir mengantarku.”ucapnya. “Kenapa? Oppa tidak menyukainya?”

Namjoon menatap kekasihnya itu sejenak lalu memeluknya, “Akan ku maafkan karena aku sangat merindukanmu.”

Jinny balas memeluknya sambil tersenyum lebar, “Aku juga.”

“Ya ya ya, apa kami tidak terlihat disini?”rutuk Hoseok kesal. “Jinny, bukankah kau datang kemari untuk menjengukku?”

Jinny melirik Hoseok dari balik lengan Namjoon dengan cengiran lebar, “Iya, aku memang datang untuk menjengukmu.”ucapnya namun tidak melepaskan pelukannya.

Melihat itu, Hoseok semakin bertambah kesal, “YA! BERHENTI BERPELUKAN!”

***___***

 

Jungkook datang pukul 8 tepat sesuai janjinya. Dr. Lee menyuruhnya untuk menunggunya di ruangannya sementara ia pergi keluar. Setelah lima belas menit, akhirnya Dr. Lee kembali.

“Dia sedang berada di ruangan psikologi untuk di periksa. Setelah dia selesai, kau bisa menemuinya.”

“Apa dia baik-baik saja?”

“Keadaannya sudah membaik. Jangan khawatir.”jawabnya. “Aku akan memberikan waktu sepuluh menit untukmu karena pihak keluarganya terus mengawasi. Aku bahkan harus berdebat dengan ayahnya untuk bisa membawanya keluar.”

Jungkook tersenyum, “Terima kasih, Dr. Aku pasti akan membalas kebaikanmu nanti.”

Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruangan Dr. Lee dan sesaat setelahnya, seorang dokterperempuan membuka pintu.

“Oh? Kau ada tamu?”

“Kenapa? Kau sudah selesai?”

Dokter itu mengangguk, “Dia ada di depan.”

“Bawa saja dia masuk, aku akan memeriksanya.”

“Baiklah.”

Ketika kemudian dokter itu membawa seorang pasien masuk ke dalam ruangan Dr. Lee, Jungkook langsung membeku. Gadis itu… dia sangat berbeda dari terakhir mereka bertemu. Wajahnya sangat pucat dan terdapat sebuah perban di bagian pergelangan tangannya

“Waktumu hanya sepuluh menit, Jungkook.”

Dr. Lee keluar, meninggalkan ruangannya dan memberikan waktu untuk Jungkook dan Saeron. Sesaatsetelah pintu itu tertutup, Jungkook melangkah pelan mendekati gadis itu. Di kursi rodanya, Saeron hanya diam dan terlihat seperti ia kehilangan jiwanya. Tatapannya tidak berfokus.

Jungkook berlutut di depan gadis itu. Ia mengulurkan tangannya, mengatupkan kedua telapak tangannya di pipi gadis itu.

“Kau baik-baik saja?”tanyanya pelan. Saeron mengalihkan pandangannya, kali ini menatap Jungkook. “Kau baik-baik saja?”ulangnya lagi. “Apa ini sudah terlambat untuk mengatakannya? Tapi kau terlihat sangat cantik saat tersenyum.”

Jungkook menghentikan ucapannya sejenak, berusaha menekan tangis yang kini sudah mencapai pangkal tenggorokan.

“Maafkan aku.” Kemudian pria itu berseru. “Maafkan aku karena aku selalu menyakitimu. Maafkan aku karena aku terlambat untuk menyadarinya. Sadarlah. Karena aku tidak bisa tanpamu. Aku selalu mengkhawatirkanmu hingga rasanya aku hampir gila. Aku merindukanmu, Saeron. Jadi aku mohon jangan seperti ini lagi.”

Air mata tanpa sadar menetes dari kedua mata yang sedang menatap Jungkook itu. Dalam diamnya, dia sadar, dia mendengar.

“Kau bilang, kau ingin menulis nama kita di menara Namsan, kan? Jadi cepatlah sembuh agar kita bisa pergi kesana lagi. Aku tidak akan protes jika kau mau menulis nama kita disana. Aku juga berjanji tidak akan mengatakan hal-hal yang kasar lagi. Dan aku berjanji akan mengurangi jam kerjaku dan menemanimu. Aku berjanji.”ucapnya. “Saeron, kau mendengarku, kan?”

Tangis itu akhirnya pecah. Pada akhirnya, ia tidak mampu menahannya lagi. Kenyataannya, ia memang mencintai pria ini. Sejak lama. Dan itu adalah hal yang sangat ingin ia dengar sejak lama.

Jungkook menarik Saeron dalam pelukannya. Membiarkan gadis itu menangis dalam dekapannya, sementara dirinya menghusap air matanya sendiri. Dia tau dia bersalah karena telah terlambat menyadari semuanya. Hanya saja, jika dia di berikan kesempatan kedua. Dia ingin membuktikannya. Dia tidak ingin kehilangan gadis ini lagi. Dia ingin menjaganya.

***___***

 

Dua hari berlalu dan Jungkook terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya. Setidaknya saat ini, dia sudah bisa diajak bercanda seperti biasa. Walaupun dalam dua hari ini dia tidak lagi bisa bertemu Saeron, tapi dia lega karena dia bisa melihat gadis itu dari jauh. Saat gadis itu pergi ke taman atau berjalan-jalan di lorong rumah sakit, Jungkook merasa lega karena keadaannya sudah jauh lebih baik. Dan hal lain yang membuat kekhawatirannya berkurang dengan keberadaan ibunya di sisinya. Sepertinya wanita itu sudah mengetahui kondisi Saeron.

“Ya Jeon Jungkook.”panggil Hoseok. Jungkook menoleh. “Sejak tadi kau selalu tersenyum, kau membuatku takut.”dengusnya.

“Kenapa? Apa aku tidak boleh tersenyum?”balas Jungkook masih mempertahankan senyumannya.

“Kau sudah melihatnya? Apa dia ada di taman?”

Jungkook mengangguk, “Aku sudah melihatnya tadi.”

“Jadi melihatnya lebih membuatmu merasa bahagia daripada kepulanganku?”dengus Hoseok kesal. “Ya, aku sudah di perbolehkan pulang hari ini!”

“Iya, aku tau. Karena Itu aku ada disini untuk membantumu.”

“Ahh menyebalkan sekali.”

“Sudahlah. Berhenti marah-marah. Sekarang makan makananmu lalu kita pulang.”seru Seunghee sambil mendekatkan nampan makanan kearah Hoseok.

Hoseok langsung mendelik, “Kau tidak menyuapiku? Lalu bagaimana aku memakannya?” pria itu mengangkat tangan kanannya, memperlihatkan alat penyanggah yang masih bertengger disana.

Seunghee hanya menghela napas panjang lalu menyuapi Hoseok.

“Mulai besok, kau harus selalu datang ke rumahku. Jangan lupa jika aku tidak belum bisa menggunakan tangan kananku.”

“Kau cerewet sekali.”

“Karena tidak ada siapapun di rumahku jadi hanya kau yang bisa ku andalkan.”

“Aku tau.”balas Seunghee ikut kesal.

Jungkook hanya tersenyum melihat dua orang itu, “Semuanya sudah beres. Barang-barangmu dan semuanya. Sepulang sekolah nanti, yang lain akan datang.”

Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu, beberapa saat kemudian terlihat seorang polisi memasuki ruangan Hoseok.

“Apa anda yang bernama Jeon Jungkook?”tanya polisi itu.

Jungkook mengangguk bingung, “Itu aku. Ada apa?”

“Anda ditangkap atas tuduhan penculikan gadis di bawah umur. Sekarang silakan ikut kami.”

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

14 thoughts on “BANGTAN’S STORY [JUNGKOOK’S VERSION] : I NEED YOU PART 10

  1. Nadiya berkata:

    Kasian banget saeron sampai depresi dan mau bunuh diri gitu..
    Jungkook akhirnya sadar juga ya sama perasaannya, dan dia emang kaya orang gila sih semenjak saeron menghilang.. Haha
    Dan ayah tirinya saeron itu jahat banget sih, pasti dia juga deh yg ngelaporin jungkook kepolisi…

  2. puti hilma berkata:

    Ini serius?? ._.
    Polisi!? Ckckck masalah baru pun datang, padahal baru aja ketemu sma saeron
    Pasti jdi makin seru
    Chapter kali ini keren dan nyentuh bgt.
    Next chapter nya ditunggu eonni… Fighting!

  3. Arihandayanibabo berkata:

    Huaaa jungkook kenapa?
    Kenapa tiba tiba ada polisi?
    Lanjut author… ^^ baru kali ini baca ff bts yg buat penasaran banget 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s