BANGTAN’S STORY [JUNGKOOK’S VERSION] : I NEED YOU PART 9

BTS - i need you

Tittle  : I need You

Author  : Ohmija

Main Cast  : Jeon Jungkook, Kim Saeron

Support Cast  : V, Rap Monster, Jin, Suga, Jhope, Jimin BTS, Shannon William, Wendy & Seulgi Red Velvet, Seunghee CLC, Kim Jisoo, Park Jinny.

Genre  : Romance, School Life, Friendship

Dia akan pindah sekolah.

Mungkin itu terdengar mengejutkan tapi setidaknya hal itu membenarkan jika dia memang telah pulang ke rumah. Hanya saja, kenapa hal itu begitu tiba-tiba? Dia tiba-tiba menghilang kemarin dan sekarang dia tiba-tiba akan pindah sekolah.

Kenapa?

“Jungkook.” Taehyung menepuk sebelah pundak Jungkook sambil menjatuhkan diri di sebelahnya. “Kau belum makan, kan? Shannon dan yang lain membaa bekal makanan, sebaiknya—“

“Aku tidak lapar.”potong Jungkook.

Taehyung mengerti perasaan Jungkook, tentang kekhawatirannya yang terus ia pendam sendirian. Sepulang sekolah tadi, pria itu terus diam dan tidak bicara dengan yang lain, ekspresi dinginnya membuat teman-temannya enggan mengajaknya bicara. Karena sebaiknya tidak mengacaukan suasana hatinya saat ini.

“Haruskah aku mencarinya? Aku bisa menyuruh seseorang untuk menyelidiki di mana keberadaannya.”

Jungkook terdiam sejenak, “Aku sudah mengetahui dimana keberadaannya.”

“Jungkook, maksudku… haruskah kita membawanya keluar dari rumah?”

“Jangan. Itu namanya penculikan.”

“Tidak perduli. Yang penting kau tidak seperti ini lagi.”balas Taehyung cepat. “Huh? Haruskah aku melakukannya? Semua orang sangat mengkhawatirkanmu, terutama Seulgi yang terus merasa bersalah.”

Jungkook menundukkan kepalanya, “Maafkan aku.” Ucapnya pelan. “Aku tidak bermaksud bersikap seperti ini, hanya saja, aku tidak bisa meredam kemarahanku. Aku ingin sendiri karena aku membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.”

“Jika kau sedang marah, maka berteriaklah seperti biasa. Atau haruskah kita mencari masalah dengan seseorang dan berkelahi? Agar kau bisa melampiaskan amarahmu. “ucapnya. “Ayolah. Tidak biasanya kau seperti ini, kan? Kau tidak pernah diam seperti ini dan tidak bicara kami. Terutama Seulgi.”

Dalam tunduknya Jungkook menghela napas lalu menghembuskannya kuat-kuat. Ketika wajahnya terangkat, masih terlihat jelas bagaimana kekhawatiran itu walaupun sebisa mungkin ia menutupinya. Taehyung tertegun dan memutuskan untuk tidak bicara lagi.

Jungkook bangkit berdiri lalu berjalan menuju ruangan Hoseok. Dalam hitungan detik, ia telah berhasil menemukan ketenangannya. Ketenangan palsu untuk mengakhiri kekhawatiran yang ditujukan padanya. Taehyung menyusul langkahnya dan merangkul pundak sahabatnya itu sarat pengertian. Karena dia akan membantu menyempurnakan ketenangan palsu itu.

***___***

 

Bagi Jungkook, Seulgi adalah sahabat wanita pertama yang ia kenal. Seseorang yang bisa mengerti dirinya dengan baik. Dan seseorang yang terus ada di sampingnya ketika ia mengalami kesulitan.

Ini memang pertama kalinya ia mendiamkan Seugi, tidak bicara dengannya selama beberapa hari. Bukan karena dia kesal dengannya, Seulgi tidak bersalah sama sekali. Hanya saja dia sedang berada dalam kondisi yang tidak baik. Dia tidak ingin ketika dia sudah tidak bisa mengendalikan amarahnya, dia menumpahkan semuanya pada Seulgi. Dia sangat menghindari hal itu.

Jungkook menghampiri Seulgi yang sedang duduk sendiri di sofa dan menjatuhkan diri di sampingnya. Menyadari kehadiran seseorang, gadis itu menoleh. Jungkook mengulurkan tangannya, meraih sebelah tangan Seulgi dan menggenggam tangannya erat.

“Kau pasti sangat khawatir beberapa hari ini. Apa aku telah membuatmu sedih? Maafkan aku. Tapi mulai sekarang, kau tidak perlu khawatir lagi. Aku sudah merasa lebih baik.”ucapnya pelan. Seulgi hanya diam sambil terus menatap sahabatnya itu. “Hey, apa kau marah padaku? Maafkan aku. Aku berjanji aku tidak akan seperti ini lagi.”

Namun tiba-tiba Seulgi memeluk Jungkook, tangisnya pecah seketika membuat yang lain terkejut, “Kau tau bagaimana khawatirnya aku, huh?! Aku terus berpikir jika kau marah padaku. Kau tidak mengajakku bicara sama sekali dan kau terus mengabaikanku. Jika kau marah, harusnya kau mengatakannya padaku.”isaknya.

“Kau tau aku tidak akan pernah bisa marah padamu. Maafkan aku.” Jungkook tersenyum sambil menepuk-nepuk punggungnya.

Melihat kekasihnya sedang memeluk pria lain, Jin sontak menghampir I keduanya, “Ya Ya Ya! Jeon Jungkook! Apa yang kau lakukan hingga kekasihku menangis?! Kau cari mati?!”dengusnya. “Dan apa yang kalian lakukan?! Jangan berpelukan lagi!” Jin mendorong tubuh Jungkook, melepaskan pelukan itu.

Jungkook terkekeh, “Berhenti menangis. Atau kekasihmu akan membunuhku karena telah membuatmu menangis.”

Seulgi menghusap air matanya, “Kau tetap harus berjanji padaku.”

Jungkook mengangguk, “Aku tau.”

“Minggir.” Jin menyuruh Jungkook untuk bergeser kemudian ia menjatuhkan diri diantara mereka. Ia duduk menghadap Seulgi dengan kedua tangan terulur untuk menghusap air mata kekasihnya itu. “Jika dia membuatmu menangis lagi, beritahu aku. Aku akan memukulnya.”

“Aku akan membantumu.”sahut Namjoon tersenyum bahagia melihat ketiga orang itu. “Kita akan memukulinya jika dia seperti kemarin lagi.”

Jungkook hanya tersenyum tipis. Ada sedikit kelegaan di hatinya karena dia telah bisa melihat senyuman di wajah teman-temannya.

“Kalau begitu aku dan Jimin akan pergi ke rumah Seunghee. Seulgi bilang keadaannya sudah membaik jadi kami akan menjemputnya karena dia memaksa untuk datang kemari.”

“Aku juga akan menjemput Wendy.”sahut Suga.

“Oppa, apa Jinny tidak kemari?”tanya Shannon.

Namjoon mendesah, “Susah mendapatkan ijin untuk mengajaknya keluar. Yaaah, seperti biasa.”

Jimin menepuk pundak Namjoon, “Hyung, kau bisa mengajaknya saat hari libur. Jangan khawatir.”

“Kalau begitu kami pergi dulu.”

“Tunggu.”suara Jungkook menghentikan langkah Jimin, Suga dan Jisoo. “Aku ikut keluar. Aku ingin pulang sebentar dan ganti baju.” Kemudian ia merangkul pundak Suga dan berjalan bersisian.

***___***

Rasanya aneh. Biasanya rumahnya di penuhi dengan suara berisik seseorang. Suara rengekan yang terkadang membuat telinga dan kepalanya memanas. Tapi sekarang, semuanya berubah. Rumahnya terasa sangat sepi tanpa kehadiran orang itu.

Dia seperti kembali ke awal. Di waktu ketika sepi adalah teman baiknya. Namun sejak dia hadir, dia sudah terbiasa dengan rengekan dan suara berisiknya. Rasanya seperti dia telah kehilangan.

Jungkook memakai jaketnya dan telah siap untuk kembali ke rumah sakit. Namun, semua pikiran-pikiran itu membuatnya tertegun. Pria itu menjatuhkan diri di ranjang tidurnya. Tenggelam dalam pikirannya dengan kepala tertunduk dalam.

Apa yang harus aku lakukan?

***___***

 

Jungkook memang tidak mengucapkan apapun namun pikirannya tetap tidak bisa tenang. Taehyung beranjak dari duduknya dan menghampiri Jin dan Namjoon.

“Haruskah aku menyuruh Paman Kim mencari rumahnya?” Taehyung menatap keduanya bergantian. “Setidaknya, kita harus mengetahui dimana keberadaannya agar Jungkook bisa tenang.”

Namjoon terdiam sejenak, “Kau bisa melakukannya?”

Taehyung mengangguk, “Aku bisa.”ucapnya tegas. “Dia tidak mengatakan apapun padaku. Itu membuatku semakin khawatir. “

“Haruskah kita menculiknya juga?”sahut Jin.

“Ya, kau gila?!” Namjoon setengah terkejut mendengar saran Jin barusan. “Saeron masih di bawah umur. Jika kita membawanya tanpa ijin orang tuanya, kita bisa di tangkap polisi.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan?”

“Cari saja dulu alamat rumahnya. Hal yang akan kita lakukan selanjutnya, itu tergantung keputusan Jungkook.”

***___***

 

Jungkook tidak langsung kembali ke rumah sakit namun menuju Myeongdong lebih dulu untuk membeli beberapa jajanan ringan untuk teman-temannya. Mereka terus mengeluh karena kekasih mereka selalu membuatkan makanan sehat dengan banyak sayur dan sedikit laut. Taehyung bahkan merasa jika dirinya nyaris sama seperti kambing karena setiap hari harus makan sayur. Dia rindu burger, dia rindu soda dan makanan tidak sehat namun sangat enak lainnya.

Jungkook tertawa mengingat itu. Sebenarnya tidak hanya Taehyung, namun mereka semua hampir tidak menyukai sayur. Mereka adalah laki-laki karnivora namun di paksa menjadi omnivora. Bahkan harimau saja menolak jika di suruh makan sayur. Menyebalkan.

Setelah membeli beberapa jenis jajanan korea, Jungkook menuju stand lainnya. Kali ini ia memesan beberapa burger, hotdog dan soda. Anggaplah hari ini adalah hari bebas sayur dan makanan sehat lainnya.

“Silahkan tunggu 15 menit.”

“Baik.” Jungkook mengangguk sambil duduk di salah satu kursi. Hari sudah mulai larut dan udara terasa semakin dingin.

Pria itu meletakkan plastik bungkusan diatas meja dan menyandarkan punggungnya. Kedua matanya memandang kearah jalan yang mulai dipadati orang-orang. Ah, myeongdong memang selalu ramai menjelang malam hari.

Namun tiba-tiba, pandangannya menangkap sosok seseorang yang sedang berlalu tak jauh di depannya. Sosok yang tidak asing dengan kepala menunduk saat berjalan. Detik itu juga, Jungkook berdiri dan langsung menghampiri gadis itu. Tangannya terulur, mencekal lengannya tiba-tiba.

“Saeron!”

Gadis yang ternyata adalah Saeron itu seketika terkejut, matanya membulat lebar begitu mendapati Jungkook sudah berada di depannya.

“Jungkook…”

“Kau kemana saja, huh? Kenapa kau tiba-tiba menghilang? Kau tau kami semua sangat mengkhawatirkanmu!”cercanya. “Bagaimana keadaanmu? Apa kau terluka? Apa ayahmu memukulmu lagi?” Jungkook meletakkan kedua tangannya di atas pundak Saeron.

“Akh.” Gadis itu mengaduh sambil menghindari sentuhan Jungkook.

Jungkook tertegun, “Kau di pukul lagi?”tanyanya pelan. Namun Saeron tidak menjawab apapun. “Kau di pukul lagi, kan?” kini suaranya terdengar sedikit meninggi.

Saeron menarik napas panjang, ia memejamkan kedua matanya kuat-kuat dan ketika ia membuka mata, wajahnya terangkat menatap Jungkook.

“Bukan urusanmu.”balasnya tajam. Saeron melanjutkan langkahnya namun tangan Jungkook segera menyambar lengannya lagi.

“Apa kau bilang?”

Saeron menelan ludah, rahangnya mengatup keras, “Mulai sekarang, kau tidak perlu memperdulikanku lagi. Jangan mencoba mencariku dan menemuiku.”

“Kau bercanda?” Pria di depannya bicara dengan suara lirih karena dia sedang meyakinkan dirinya sendiri jika dia masih memiliki pendengaran yang baik. Jika dia masih mampu mendengar apa yang di katakan Saeron barusan.

“Aku serius.”

“Kenapa kau tiba-tiba menjadi seperti ini?”

“Kau masih bertanya padaku?” Saeron tertawa mendengus. “Selama ini, aku selalu mengejarmu, selalu mengesampingkan harga diriku karena aku terlalu menyukaimu! Tapi apa kau pernah menyadari kehadiranku?! Kau justru semakin menjauh dan mengatakan hal-hal kasar padaku. Apa kau tau itu sangat menyakitkanku?!”suara Saeron mulai bergetar. “Mereka bahkan menganggapku gadis murahan karena aku terus mengikutimu. Mereka bahkan menganggapku tak tau malu karena aku terus mengejarmu.”

Jungkook terdiam. Tak sanggup bicara. Hanya kedua matanya yang menatap Saeron dengan sorot penyesalan.

“Sekarang, aku sangat lelah. Karena menyukaimu hanya akan membuatku terus terluka. Karena aku sadar jika perasaanku akan selalu bertepuk sebelah tangan. Aku tidak akan pernah bisa mendapatkanmu. Jadi sekarang…” Sekuat tenaga Saeron menahan air matanya. “…aku menyerah.”

Pukulan keras itu di rasakannya, tepat di hatinya hingga rasanya sangat menyesakkan. Dia mengenal rasa sakit ini dengan baik. Rasa sakit yang sama ketika ibu dan adiknya pergi meninggalkannya. Hatinya belum sembuh sepenuhnya dan kini terluka lagi, dengan luka yang sama.

Jungkook menoleh ke belakang, menatap punggung yang kian lama makin menjauh itu. Tanpa sadar, kedua kakinya melangkah pelan, menuju ke tempat di mana gadis itu sedang berdiri sekarang.

Dan ketika sebuah mobil melaju kencang di saat ia akan mulai melangkah, Jungkook baru tersadar. Ia melompat ke belakang gadis itu dan dengan cepat menariknya. Jungkook menangkap tubuh mungil itu dengan dekapannya. Dengan kedua lengan yang memeluknya erat.

Saeron membuka matanya dan mendapati dirinya sudah berada di dalam pelukan Jungkook. Ketika ia sudah memutuskan untuk pergi, kenapa pria ini justru memeluknya?

Jungkook menundukkan kepalanya, berbisik di telinga Saeron, “Kenapa?”tanyanya. “Kenapa kau seperti ini?”

Saeron memejamkan matanya bersamaan dengan air mata yang merembes melalui sudut matanya. Kenapa? Dia mengulang pertanyaan itu dalam hati. Andai saja dia tau jika saat ini, ia sedang berusaha keras untuk tidak membalas pelukan itu. Andai saja dia tau, jika saat ini, ia sedang bertarung dengan hatinya sendiri.

Karena tidak ada pilihan lain selain pergi.

“Lepaskan aku.” Saeron berusaha berontak namun kedua lengan Jungkook justru semakin memeluknya erat. “Lepaskan aku.”ulangnya lagi. Ia mendorong tubuh Jungkook kuat-kuat hingga pelukan itu terpaksa terurai.

Jungkook terpaku di tempatnya, menatap lurus kearah kedua mata itu. Ia ingin menyusuri kebenaran di balik kata-katanya, kenyataan di balik sikapnya yang tiba-tiba berubah. Namun Saeron dengan cepat memalingkan wajah. Gadis itu berbalik dan berjalan menyebrangi zebra cross. Dan ketika ia sudah sampai di sebrang sana, sosoknya tidak lagi terlihat dalam jangkauannya.

***___***

 

Taehyung langsung datang ke kedai sederhana itu ketika ia mendapat telepon dari seseorang jika Jungkook sedang mabuk berat. Bersama Jimin, keduanya mendapati sahabat mereka itu dengan kepala tergeletak di atas meja.

“Ya! Apa yang terjadi padamu?!” Taehyung mengguncang punggung pria itu. “Ya! Jeon Jungkook!”

“Maafkan aku. Aku sudah berusaha untuk melarangnya karena dia terlihat masih di bawah umur tapi dia memaksaku untuk memberikannya soju. Dia terlihat sangat sedih jadi aku tidak tega dan menuruti permintaannya.”jelas bibi pemilik kedai.

Jimin dan Taehyung mengangguk, “Tidak apa-apa. Dan maafkan dia karena dia sudah memaksa bibi.”

“Sebaiknya kalian segera membawanya pulang sebelum orang lain melihatnya.”

Kedua pria itu berdiri dan membopong tubuh Jungkook di kanan dan kiri. Kebetulan sekali, kedai itu tak jauh dari rumah Taehyung sehingga mereka memutuskan untuk membawa Jungkook kesana.

“Kau pikir kenapa dia bisa jadi seperti ini?” Jimin melirik Taehyung. “Apa kau sedang memikirkan hal yang sama denganku?”

“Entahlah.” Taehyung mendesah panjang. “Sepertinya masalah ini benar-benar serius.”

Sesampainya di rumah Taehyung, keduanya lansung menjatuhkan Jungkook di sofa panjang ruang tamu. Tidak ada yang menyangka jika hal seperti ini akan terjadi. Selama mereka mengenal Jungkook, ini adalah pertama kalinya mereka melihat sahabat mereka itu sangat depresi. Jungkook memang sedikit liar tapi dia tidak pernah mau berurusan dengan rokok ataupun alkohol. Selain masih di bawah umur, Jungkook juga tidak terlalu menyukai hal-hal seperti itu. Ini adalah pertama kalinya.

“Oh? Kau bangun?”seru Jimin terkejut saat melihat Jungkook ternyata membuka matanya.

Taehyung menoleh, “Kau sadar?” buru-buru ia berlari ke dapur dan membawa air mineral untuknya.

Jungkook menarik dirinya untuk duduk. Matanya terbuka dan dia terlihat sadar, namun ia mengabaikan Taehyung yang memberikan air mineral untuknya. Pria itu duduk dengan punggung membungkuk dan kepala menunduk.

“Ya, Jeon Jungkook, kau tidak apa-apa?”

“Dia ingin pergi.”ucapnya pelan.

“Apa?”

“Dia bilang dia sudah lelah dan tidak ingin bersamaku lagi.”

“Maksudmu… kau bertemu Saeron?” pekik Taehyung tak percaya. “Dimana kau bertemu dengannya? Dan dimana dia sekarang? Apa dia baik-baik saja? Apa–” Ketika kemudian Jungkook mengangkat wajahnya, ucapan Taehyung langsung terhenti.

“Saat ada seseorang yang menyukaiku, aku justru mengabaikannya dan selalu bersikap kasar. Dan bahkan ketika ia pergi, aku tidak melakukan apapun. Aku ingin menahannya namun aku tidak tau bagaimana caranya. Aku benar-benar bodoh, kan? Aku seperti seorang pengecut yang tidak bisa melakukan apapun. Setidaknya, harusnya aku memintanya agar dia tidak pergi.” Kemudian ia tertawa. Jenis tawa yang sedang mentertawakan dirinya sendiri. “Aku ingin memberitahu tentang perasaanku padanya tapi aku tidak memiliki kesempatan itu.”

Jimin tertegun, “Apakah kau…benar-benar menyukainya?”

Jungkook menatap sahabatnya itu dengan senyum, “Aku menceritakan semua hal padanya. Termasuk hal-hal yang seharusnya tidak aku ceritakan. Apa aku menyukainya?”

“Aigoo, Jeon Jungkook sepertinya kau sedang jatuh cinta.”

Jungkook menggeleng, “Tapi dia meninggalkanku. Sama seperti ibu dan Arin.” Lalu ia tertawa dan merebahkan tubuhnya lagi. “Yah, semua wanita memang selalu meninggalkanku. Brengsek.” Dan sesaat kemudian dia jatuh tertidur.

Taehyung mendengus, “Aaah, dia bahkan sempat memaki. Menyebalkan sekali.”

Jimin tertawa, “Sebaiknya jangan biarkan dia mabuk lagi.”

***___***

 

Pagi harinya, Jungkook terbangun. Dia sontak mengerang sambil memegangi kepalanya yang terasa seperti di hantam ribuan palu keras-keras dengan kedua tangan. Rasa mual yang baru saja muncul membuatnya terpaksa untuk bangkit. Terhuyung-huyung pria itu pergi ke kamar mandi dan memuntahkan semuanya.

Kemudian ia kembali ke ruang tamu dan baru menyadari jika dia sedang berada di rumah Taehyung. Jimin masih tertidur lelap di sofa lain sementara Taehyung mulai terbangun.

“Si brengsek ini pasti sudah mengotori kamar mandiku.”makinya dengan satu mata yang masih tertutup rapat.

Jungkook kembali berbaring di sofa panjang sambil memijit-mijit kepalanya, “Apa yang terjadi?”

Taehyung berkecap, “Kau masih bertanya padaku? Ya! Kita bisa di tangkap polisi karena perbuatanmu!”

Jungkook menggaruk kepalanya dan kembali memejamkan mata, “Akh, aku tidak bisa mengingat apapun.”

***___***

 

“Jadi kau mabuk semalam?” Seulgi langsung mengekskusi Jungkook ketika dia baru saja datang. Gadis itu berdiri di depan Jungkook dengan kedua tangan terlipat di depan dada. “Ya! Kau pikir berapa umurmu? Bagaimana jika polisi melihatmu dan menangkapmu? Kau akan di keluarkan dari sekolah lagi!”

Jungkook berkecap malas sementara yang lain sedang menahan tawa mereka karena Seulgi terlihat seperti ibu yang sedang memarahi anaknya, “Aku tau. Aku minta maaf. Dan sebenarnya aku tidak mabuk semalam.”

“Tidak mabuk katamu?”sahut Jimin. “Kau lupa siapa yang membawamu pulang? Kau bahkan tidak bisa berdiri.”

“Dan apa kau sudah lupa jika tadi pagi kau mengotori kamar mandiku dengan muntahanmu, huh?”sahut Taehyung.”

“Apa kalian tidak berada di pihakku?” Jungkook mendengus kesal. “Baiklah. Aku memang bersalah. Tapi bisakah kau tidak memarahiku dulu? Kepalaku masih terasa sakit.”

Seulgi sudah membuka mulutnya, akan membalas ucapan Jungkook namun suara Seunghee yang terdengar dari ruangan Hoseok menghentikannya, “Oppa! Namjoon oppa!” gadis itu keluar tergesa-gesa.

“Seunghee ada apa? Apa yang terjadi?”

“Hoseok! Dia sudah sadar!”

***___***

 

Hoseok mengerjapkan matanya lemah, berusaha beradaptasi dengan sinar dari luar matanya. Ia mendapati wajah Taehyung pertama kali karena dia berdiri paling dekat dengannya. Kemudian Jungkook, Jimin dan yang lain. Mereka semua tersenyum sumringah karena akhirnya ia telah bangun dari tidur panjangnya. Hoseok balas tersenyum karena ia masih tidak memiliki tenaga.

Mendapati semua sahabatnya telah berdiri di depannya. Ia merasa ada satu wajah yang belum di lihatnya, “Dimana Seunghee?”tanyanya pelan.

Lantas semuanya menoleh ke belakang, memandang ke satu titik dimana seseorang sedang berdiri goyah. Ini kenyataan kan? Dia benar-benar telah sadar kan?

Hoseok tersenyum pilu. Dalam ingatannya, Seunghee adalah gadis cantik yang penuh semangat. Gadis cantik yang berani berteriak dan memukulnya. Tapi sekarang, ia mendapati Seunghee yang sedang kacau. Wajahnya pucat dan kedua matanya terlihat sembab.

Penuh pengertian, Wendy menuntun Seunghee pelan mendekati ranjang Hoseok, “Dia yang membawamu ke rumah sakit dan dia yang memanggil dokter ketika kau sadar tadi.”ucapnya.

Hoseok tersenyum. Yah, ia tau. Gadisnya itu… adalah keputusan terbaik. Keputusan yang tidak akan pernah ia sesali seumur hidupnya.

“Kau bahkan tetap terlihat cantik ketika sedang menangis.”

Tangis gadis itu akhirnya pecah. Gangguan seperti ini yang ia rindukan. Perkelahian dan sikapnya yang kekanak-kanakkan adalah dua hal yang menghilang selama beberapa hari lalu. Seunghee langsung menghambur, memeluk Hoseok erat.

“Bodoh. Apa kau buta? Mataku sangat bengkak dan wajahku sangat pucat. Aku tidak makan banyak selama beberapa hari sehingga tubuhku sangat kurus. Apa kau tidak melihatnya?”isaknya.

Hoseok tersenyum sambil menghusap kepala kekasihnya, “Maafkan aku.”

“Berjanjilah padaku kau tidak akan meninggalkanku seperti ini lagi. Kau tidak boleh sakt dan terluka lagi.”

Hoseok kembali menghusap kepala Seunghee untuk menenangkannya, “Iya. Aku tau.”

Melihat itu, Namjoon tersenyum lega, “Terima kasih karena kau sudah kembali.”

***___***

 

Ini adalah salah satu hal yang membahagiakan. Setidaknya ada satu kekhawatiran yang telah sirna. Hoseok telah sadar dan dokter bilang kondisinya telah lebih baik.

Jungkook dan Suga pergi keluar untuk membeli beberapa kaleng kopi. Selama Hoseok di rawat, mereka menjadi kurang tidur.

“Kita semua memiliki lingkaran mata yang sangat hitam.”seru Suga. “Karena dia sudah sadar, aku rasa aku akan pulang dan tidur. Kebetulan besok adalah hari libur.”

“Pulanglah dan tidur selama yang kau mau. Aku akan berjaga disini.”

“Kau?”

Jungkook mengangguk, “Karena aku sudah banyak tidur kemarin.”

Suga mencibir, kembali teringat tentang kejadian semalam, “Kau ini, harusnya kau tidak minum.”

“Ya! Hentikan. Jangan memarahiku seperti Seulgi.”omel Jungkook lalu mempercepat langkahnya dan meninggalkan Suga di belakang.

“Tolong minggir. Ini darurat.”

Jungkook terkejut dan langsung menepi ketika dokter dan beberapa orang suster sedang terburu-buru mendorong ranjang pasien. Dan ketika ia menoleh, ia sontak terperangah hebat.

Pasien itu…. Saeron.

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

11 thoughts on “BANGTAN’S STORY [JUNGKOOK’S VERSION] : I NEED YOU PART 9

  1. zulaqsalwp berkata:

    Gila gila gila…. Ini ceritanya makin kesini makin bikin gue envy sama saerong, akh!! someone pliis seret gue ke korea buat ketemu jungkook, author keren banget ceritanya, nggak sabar nunggu lanjutnya thor, mangatss ya thor!!

  2. park ririn berkata:

    Whoahhhh………… thorrrr saya bahagia sekaliiiii ff ini saya tunggu”…..
    Baru buka wordpress kesayangan langsung baca semua yang ketinggalan tadinya saya pikir ini akan mati dan ga aktif lagi tapi pas saya buka ternyata updateee huaaaaaa seneng saya heheheehehehe
    ahhh saya seharusnya jangan buka dulu tunggu ff ini selesai karna saya anaknya penasaran sama kelanjutan ff yang keren ini thorr dan masalahnya rasa rindu saya masih sesek dikit (abaikan) 😂
    Lanjutkan ya thor mija! soalnya saya akan check trus tiap hari/? 😂😂😂😂😂

  3. desi mulya berkata:

    Onnie …….. sumpah ini keren bangettt. itu saeron nya knapa ngedadak berubah sifatnya sama jungkook? truss knapa juga saeron bisa jadi pasien rumah sakit?????
    thor cptan ya update nya makin penasaran nihhh……
    #fighting#

  4. Nadiya berkata:

    Searon kenapa jadi berubah gitu ya sama jungkook? Apa gra2 penculikan waktu itu? Apa dia diancam?
    Akhirnya searon bener2 bikin jungkook galau dan sefrustasi itu…
    Sumpah yah ini ceritanya makin penasaran, dan bisakah updatenya dipercepat dari biasanya.. Jeballll…

  5. ellalibra berkata:

    Akh y ampun keren bgt smp bt q nangis eon hueee…..kshn jungkook … Knp sm saeron eon ?? Apa dy dipukul lg smp sekarat skrg …… / ada hal lain …. Dtunggu nextpart eon fighting 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s