BANGTAN’S STORY [JUNGKOOK’S VERSION] : I NEED YOU PART 8

BTS - i need you

Tittle  : I need You

Author  : Ohmija

Main Cast  : Jeon Jungkook, Kim Saeron

Support Cast  : V, Rap Monster, Jin, Suga, Jhope, Jimin BTS, Shannon William, Wendy & Seulgi Red Velvet, Seunghee CLC, Kim Jisoo, Park Jinny.

Genre  : Romance, School Life, Friendship

Air mata tak hentinya keluar dari pelupuk mata indah gadis itu. Walaupun wajah pucatnya nyaris membuatnya lebih terlihat seperti mayat, ia masih memiliki sisa-sisa tenaga untuk mengeluarkan semua kesedihannya. Terus terduduk kaku di kursi yang ada di depan ruangan bertuliskan ICU itu, ia bahkan mengabaikan goresan luka panjang di kakinya dan luka lebam di lengannya. Seunghee mati rasa, karena kini fokusnya hanya pada seseorang yang sedang berjuang melewati masa kritisnya itu. Dan di kedua sisinya, sejak tadi Wendy dan Seulgi tidak meninggalkan tempat mereka. Sejak tadi, Seulgi terus memeluk tubuh mungil gadis itu sedangkan Wendy terus menggenggam kedua tangan dinginnya. Sementara yang lain, jatuh tenggelam dalam keterperangahan mereka serta doa-doa tak terdengar yang terus berharap agar sosok itu segera bangun. Secepatnya.

“Apa yang terjadi?! Dimana Hoseok hyung?!” Jungkook langsung menghampiri Namjoon begitu ia datang. “Hyung, apa yang terjadi?!”tanyanya lagi.

Namjoon mengangkat tatapannya, menatap wajah bingung Jungkook dengan helaan napas panjang dan berat, “Dia dan Seunghee di serang oleh orang-orang yang tidak di kenal.”jelasnya pelan. “Orang-orang yang mencariku.”

Mata Jungkook melebar, “Apa?”

“Aku juga tidak tau Jungkook. Tapi Seunghee bilang Hoseok terluka karena dia membelaku, dia tidak mau memberi tahu dimana keberadaanku sehingga dia di keroyok oleh orang-orang itu.”

“Kau tau siapa mereka?” Rahang Jungkook mengeras.

Namjoon menggeleng, “Aku sudah tidak memiliki musuh. Kau tau aku tidak pernah berkelahi lagi.”balas Namjoon frustasi. “Dan Seunghee bilang, yang menyerang mereka adalah orang-orang dewasa.”

“Orang-orang dewasa?”

“Kita pikirkan itu nanti.”sahut Jin, “Sekarang yang terpenting adalah keadaan Hoseok.”

“Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?”

“Dia mengalami pendarahan di otaknya dan di organ tubuh bagian dalam.”jawab Jin serak. “Dokter sedang melakukan operasi jadi sebaiknya kita berdoa saja.”

Menoleh ke belakang, Saeron menghampiri tempat duduk teman-teman wanitanya. Ia berjongkok di depan Seunghee dan mengulurkan tangan, menyentuh pelan luka goresan di kaki Seunghee.

“Kau terluka.”ucap Saeron lalu mendongak. “Kau harus istirahat.”

Seunghee menggeleng pelan, “Aku akan menunggu disini.”isaknya.

“Seunghee tapi—“

“Biarkan dia.” Shannon menepuk pundak Saeron dan menggeleng. “Biarkan dia menunggu.”

“Shannon tapi dia terluka.”

“Suster sudah mengobati luka-lukanya.”balas Shannon cepat, “Jadi biarkan dia menunggu.”

Saeron menatap sepasang mata Shannon sesaat, hingga akhirnya ia menurut. Ia mengerti jika saat ini Seunghee pasti sangat bersedih, hanya saja, ia juga mengkhawatirkan keadaannya. Dia terlihat seperti mayat dan tidak memiliki tenaga. Wajahnya pucat dan matanya sangat bengkak.

Di sudut ruangan dengan punggung yang masih menempel pada dinding, Taehyung memejamkan kedua matanya kuat-kuat. Rahangnya mengeras dan giginya menggertak menahan kekesalan. Begitu ia membuka mata, ia menatap Jungkook tajam.

“Jika kau mau mencari siapa mereka, aku ikut.”

“Ini bukan waktu yang tepat untuk balas dendam, Taehyung.”sahut Suga. Ia tidak ingin keadaan semakin menjadi keruh hanya karena emosi-emosi tak tertahankan itu.

“Kau tidak mengerti apapun.”desis Taehyung.

Jimin mengangguk, “Taehyung, Suga benar. Sebaiknya kita—“

“Hoseok seperti itu karena dia akan menemuiku!” teriak Taehyung menggelegar. Rasa sesaknya sudah tak tertahankan lagi. “Harusnya aku berhenti bermain-man, harusnya aku berhenti menggodanya!” suaranya kini bergetar hebat. “Harusnya… aku tidak berpura-pura sakit. Harusnya aku tidak memintanya untuk menemaniku makan.” Pria itu melirih, membuang pandangannya untuk menyembunyikan kedua matanya yang kini di genangi air. “Ini terjadi karena aku tidak pernah mandiri. Aku selalu saja merasa kesepian hingga merepotkan orang lain. Jika aku tidak terus-terusan bermain-main, hal ini tidak mungkin terjadi. Ini semua adalah salahku!”

“Ini bukan salahmu. Dia seperti ini karena dia telah melindungiku.”ucap Namjoon tak kalah pedih.

Taehyung terdiam, sekuat tenaga berusaha membersihkan cekat di tenggorokkannya. Sebisa mungkin membersihkan rasa sesak yang terus menumpuk di dadanya. Nyatanya, jika saja dia tidak selalu menggodanya, maka hal ini tidak akan terjadi. Hoseok di serang ketika dalam perjalanan menuju rumahnya. Ini karena dia.

Pria tinggi itu menghusap matanya dengan lengan baju, menggagalkan genangan air yang akan meluncur dari sudut matanya.

“Aku tidak perduli.”desisnya dingin. “Aku akan balas dendam.” Kemudian melangkah pergi meninggalkan tempat itu.

Jin menatap Shannon dan menggerakkan kepalanya, “Kejar dia.”suruhnya.

Gadis itu berdiri, setengah berlari ia mengejar kekasihnya. Ini adalah pertama kalinya ia melihat Taehyung begitu marah, bahkan ia sama sekali tidak berani untuk bersuara. Balas dendam itu adalah kesalahan namun melihat bagaimana dampak dari penyerangan itu, dia pikir dia tidak akan melarang Taehyung jika ia benar-benar akan balas dendam.

Berjalan menghampiri seorang pria yang sedang duduk seorang diri di sebuah bangku taman rumah sakit, Shannon menjatuhkan diri di sampingnya pelan. Ia tidak pernah melihat pria itu menangis sebelumnya, karena kepribadiannya yang selalu tertawa membuat semua orang berpikir jika pria ini tidak memiliki masalah sama sekali. Namun tidak kali ini. Menyembunyikan dirinya di balik pohon besar, Shannon tau jika pria ini sedang menangis.

Shannon menelan ludah, membersihkan cekat di tenggorokkannya, “Jangan khawatir.”serunya pelan. “Hoseok pasti akan segera sembuh.”

Taehyung tidak bersuara, bahkan tidak bergerak. Punggungnya terus menyerong, membelakangi Shannon.

“Kau tau kan…” Shannon menahan isakannya. “…Hoseok adalah orang yang kuat.”

“Aku tidak bisa berpura-pura merasa baik.” Akhirnya Taehyung menggeleng, “Dokter mengatakan jika keadaannya sangat kritis. Aku…tidak bisa meyakinkan diriku sendiri untuk tidak khawatir. Aku tau dia adalah orang yang kuat tapi…” ucapannya terhenti sesaat. “…jika terjadi sesuatu padanya, maka aku tidak akan memaafkan diriku sendiri.”

“Ini bukan salahmu.” Shannon menarik lengan Taehyung agar pria itu menatapnya. Kedua tangannya terulur, mengatupkan telapak tangannya di pipi kekasihnya itu. “Berhenti menyalahkan dirimu sendiri.”

Taehyung menggeleng lagi, “Hoseok…dia adalah sahabatku.”isaknya. “Dan… Seunghee…dia…dia juga terluka…. Jika terjadi sesuatu padanya…”

Shannon langsung memeluk Taehyung erat. Di tumpahkannya seluruh air matanya di pundak pria itu. Ia menggeleng, “Tidak. Jangan bilang seperti itu. Hoseok akan baik-baik saja. Dia akan segera bangun. Dia akan bangun.”

***___***

 

Namjoon tetap tidak menemukan siapa pelakunya. Walaupun ia sudah berpikir keras dan mencoba mengingat-ingat, ia tetap tidak menemukan jawabannya. Namjoon sangat yakin jika ia sudah tidak memiliki musuh. Bahkan ia selalu menghindari segala bentuk perkelahian saat ini. Lalu siapa pelakunya? Jika pelakunya adalah musuh-musuhnya di masa lalu, seharusya mereka menyerang Jungkook atau Taehyung. Mereka tidak mungkin menyerang Hoseok karena dia baru mengenal pria itu beberapa waktu belakangan.

Dan Seunghee bilang, pelakunya adalah orang-orang dewasa. Hal itu semakin aneh karena dia sama sekali tidak pernah memiliki masalah dengan orang-orang dewasa sebelumnya. Kecuali dengan pemilik rumah kontrakannya dulu.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” Jin menepuk pundak teman sekelasnya itu dan duduk di sebelahnya.

Namjoon terdiam sejenak, “Ini aneh.”

“Masih memikirkan itu?”

“Bagaimana mungkin aku tidak memikirkannya?” balas Namjoon lalu menghela napas panjang.

“Kita hanya bisa mengetahui kejadiannya ketika Seunghee sudah merasa lebih baik.”

“Bagaimana Seunghee?” Namjoon baru tersadar jika Seunghee pada akhirnya juga di rawat karena tadi mengalami pingsan. “Dia sudah sadar?”

Jin mengangguk, “Orang tuanya juga sudah datang. Seulgi dan Saeron akan mengurus itu. Sedangkan Suga sedang mengantar Wendy pulang.”

“Hanya Suga?” Namjoon langsung menegakkan punggungnya.

“Jangan khawatir, Jungkook juga ikut bersama mereka.”

“Aku benar-benar tidak bisa tenang.” Namjoon mengacak rambutnya penuh keputus asaan. “Tidak hanya Taehyung dan Jungkook, aku juga akan balas dendam jika aku mengetahui siapa pelakunya.”

***___***

 

Setelah berjam-jam melakukan operasi, akhirnya seorang dokter keluar dari ruang ICU. Mereka yang semula sedang duduk menunggu langsung berdiri menghampiri dokter paruh baya itu.

“Bagaimana keadaannya, dokter?”tanya Jin.

“Operasinya berhasil dan dia sudah melewati masa kritis. Hanya saja, dia masih tidak sadarkan diri. Sebaiknya kalian berdoa agar dia bisa segera sadar.” Jelas dokter. “Dan ngomong-ngomong, apa orang tuanya tidak ada? Hanya kalian?”

Yang lain seketika tersentak dan melemparkan pandangan bingung. “Oh, mereka akan segera datang.” seru Jin berbohong.

“Apa tidak ada walinya yang lain? Karena kami harus mengurus biaya administrasi dan tindakan selanjutnya.”

“Aku adalah saudaranya.” Lagi-lagi Jin berbohong. “Aku yang akan mengurus biaya administrasi.”

“Baiklah kalau begitu. Setelah itu, tolong temui saya secepatnya.”

Jin menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Setelah dokter itu pergi, ia menoleh ke belakang, menatap Taehyung.

“Bisakah kau membantuku? Sepertinya tabunganku tidak cukup untuk membayarnya.” Ia meringis lebar.

Taehyung mengangguk lalu bersama Jin pergi menuju ruang administrasi. Karena hanya mereka berdua dan Hoseok yang berasal dari keluarga mampu, sehingga hanya mereka yang bisa diandalkan.

“Apa orang tuanya masih belum bisa di hubungi?” Jimin menatap teman-temannya yang lain.

Suga menggeleng, “Sepertinya benar-benar berada di luar negeri.”

***___***

 

Mereka memutuskan untuk berjaga di rumah sakit. Sementara para gadis kembali ke rumah mereka masing-masing karena hari semakin larut, termasuk Seunghee yang sudah di bawa pulang oleh orang tuanya beberapa saat lalu. Seulgi berhasil meyakinkan orang tua gadis itu jika ini adalah kecelakaan agar kepercayaan mereka pada Hoseok tidak menghilang.

“Sepertinya aku tidak akan bisa datang besok. Aku di skors selama tiga hari dan aku yakin jika aku akan di marahi. Mungkin akan sedikit sulit untuk mendapat ijin keluar.” Jisoo menatap Namjoon dan Jin sambil tersenyum tidak enak.

Namjoon terkekeh, tangannya terulur, menghusap kepala gadis cantik itu, “Bodoh.”ucapnya. “Berada lah di rumah dan bantu orang tuamu. Jangan pergi kemanapun sendirian.”

“Apa Jimin akan mengantarmu?”tanya Jin.

Jisoo mengangguk, “Dia akan mengantarku dan mengambil beberapa selimut.”

“Baiklah. Kau harus hati-hati.”

Gadis itu mengangguk lagi, “Aku tau.”

“Jisoo.” Kemudian suara Saeron terdengar. Jisoo menoleh sementara Saeron langsung memeluknya erat, “Maafkan aku.”

“Ya, kenapa kau minta maaf?”

“Karena aku, kau mendapat masalah di sekolah. Kau bahkan di skors.”

“Bodoh.” Jisoo menguraikan pelukannya. “Ibuku sudah terbiasa dalam hal seperti ini. Jangan khawatir, aku hanya akan di marahi.”

“Yah, dia memang sering membuat masalah.”sahut Jimin, Jisoo hanya mencibirnya.

“Ayo, kita juga harus pulang. Malam ini, kau menginap di rumahku, kan?”ajak Seulgi.

“Maaf merepotkanmu, Seulgi. Karena aku harus jaga malam, aku tidak bisa menjaganya.”ucap Jungkook.

“Tidak apa-apa. Lagipula aku hanya tinggal sendiri.”

“Apa tidak sebaiknya salah satu dari kita berjaga di rumah Seulgi?”saran Suga.

“Kenapa harus berjaga di rumahku? Tidak!” Seulgi menolak mentah-mentah. “Ya! Rumahku tidak menerima kedatangan pria.”

“Kami hanya ingin menjaga kalian. Jangan berpikiran yang tidak-tidak.”

“Tidak.” Seulgi menggelengkan kepalanya. “Kami akan baik-baik saja, tidak perlu khawatir.”

“Sudahlah. Ayo, aku akan mengantar kalian.”seru Jin lalu menepuk sebelah pundak Namjoon, “Aku mengantar mereka dulu.”

“Baiklah. Hati-hati.”

“Aku akan menemani kalian.”ucap Jungkook berjalan bersama mereka.

***___***

 

Jin dan Seulgi berjalan lebih dulu di depan, membiarkan Jungkook dan Saeron berjalan di belakang mereka.

“Besok pagi aku akan menjemputmu. Jangan lupa membuatkan sarapan untuk kami.”seru Jin mengingatkan.

“Kau tidak pergi ke sekolah besok?” Seulgi langsung menatap Jin dengan mata melebar.

“Ya, bagaimana bisa aku pergi ke sekolah jika keadaannya masih seperti ini? Lagipula yang lain juga tidak akan pergi dan kau juga tidak ada. Aku tidak mau sendirian.”

Seulgi menghela napas panjang, “Baiklah. Aku akan membuatkan bekal makanan untuk kalian besok.”

“Ngomong-ngomong, apa kau tidak curiga dengan mereka berdua?” Jin menundukkan kepalanya, berbisik pada Seulgi. “Aku dengar Jungkook bahkan pergi ke kelas Saeron dan mengancam semua murid.”

“Benarkah?”balas Seulgi juga berbisik.

“Hey, hey, apa yang sedang kalian lakukan? Dari belakang, kau seperti sedang mencium Seulgi.”suara Jungkook tiba-tiba terdengar.

Jin langsung menegakkan punggungnya dan menoleh ke belakang, “Apa masalahmu? Yang ku cium adalah kekasihku.”

“Tapi kau melakukannya di tempat umum.” Jungkook mendengus. “Dan, apa kami tidak terlihat disini? Bagaimana bisa kalian melakukan itu tanpa rasa bersalah sedikitpun?”

“Kau bisa melakukannya dengan kekasihmu, kan?”balas Jin tersenyum menyeringai, lalu menggandeng tangan Seulgi dan melanjutkan langkah mereka.

“Ya! Dia bukan kekasihku!”

Sementara Jungkook kesal dengan candaan Jin barusan, Saeron justru tersenyum lebar mendengarnya.

“Apa mereka pikir kita adalah sepasang kekasih?” ia terkekeh.

Jungkook mengalihkan pandangannya pada gadis yang sedang berjalan di sebelahnya, menatapnya dengan tatapan kesal, “Ya, jangan coba-coba menggodaku, mengerti? Kau bukan tipeku.”

“Memangnya siapa yang menggodamu?”balas Saeron, masih dengan senyum bahagia di wajahnya.

“Jangan tersenyum seperti itu. Kau terlihat jelek!”

***___***

 

“Jangan lupa mengunci pintu dan jangan menerima tamu asing. Jika terjadi sesuatu, langsung hubungi aku.”seru Jin panjang lebar. Sementara Jungkook, mengelilingi rumah Seulgi untuk memeriksa keadaan jendela dan pintu.

Seulgi menghela napas panjang, “Kalian terlalu berlebihan.”desahnya. “Ya! Jangan masuk ke kamarku seenaknya!” lalu ia meneriaki Jungkook yang sedang memeriksa jendela kamarnya.

“Aku hanya ingin memastikan jika jendela kamarmu bisa terkunci dengan baik.”jawabnya tanpa dosa. “Ingat, jangan terima tamu asing.”

“Aku tau!”balas Seulgi mulai kesal. “Sekarang bisakah kalian pergi, huh? Kami sangat lelah dan ingin tidur.

”Baiklah. Besok pagi aku akan menjemput kalian.” Kemudian Jin memeluk Seulgi, membuat Jungkook dan Saeron sedikit merasa canggung. ‘Apa-apaan mereka?’ batin Jungkook kesal. “Jaga dirimu.”

Seulgi mengangguk, “Aku tau.”

***___***

 

Sudah lewat empat jam dan dokter belum juga keluar dari ruangan itu. Belum ada informasi apapun yang bisa membuat mereka tenang.

“Kau baik-baik saja?”tanya Namjoon pada Taehyung yang baru saja sampai setelah mengantar Shannon.

Taehyung mengangguk namun wajahnya masih terlihat pucat, “Tidak apa-apa, hyung.”

“Jika kau lelah sebaiknya kau istirahat.”sahut Jimin ikut khawatir.

Taehyung menggeleng sambil tersenyum tipis, “Tidak. Aku tidak apa-apa.”

Jungkook dan Jin yang juga baru sampai langsung menjatuhkan diri di samping kanan dan kiri Taehyung.

“Sepertinya besok banyak kursi yang akan kosong.”ucap Jungkook.

“Sepertinya begitu.”sahut Suga.

“Aku menghubungi manager tadi dan dia marah besar pada kita. Sepertinya kita harus mencari pekerjaan baru sebentar lagi.” Namjoon berkata sambil tertawa kecil.

“Apa yang kau katakan?”

“Aku hanya bilang jika kita bertiga sepertinya tidak bisa masuk kerja dalam jangka waktu yang tidak di tentukan dan dia marah besar. Dia bahkan memakiku tadi. Berani bertaruh, dia pasti sedang repot mencari pekerja pengganti kita.”

Jungkook dan Suga ikut tertawa, “Setelah semua kembali seperti semula, ayo menghadap bersama dan berlutut. Kita harus memohon agar kira tidak di pecat.”canda Suga.

“Itu ide yang bagus.”angguk Jungkook.

“Sekarang yang utama adalah orang yang di dalam itu segera sadar sehingga kita bisa bertanya padanya siapa pelakunya. Ayo siapkan balas dendam.”

***___***

 

Sudah hampir pagi, namun Saeron dan Seulgi belum juga bisa tidur. Tubuh mereka terasa sangat lelah namun mata mereka tidak bisa terpejam.

“Seulgi-yah, kau sudah tidur?” tanya Saeron.

Seulgi berbalik, menghadap Saeron, “Aku tidak bisa tidur.”

“Apa menurutmu Hoseok akan segera sadar?”

“Tentu saja. Dia adalah orang yang kuat.”balas Seulgi yakin.

“Bagaimana jika besok kita pergi ke rumah Seunghee? Aku sangat khawatir padanya.”

“Kau benar. Besok kita pergi ke rumahnya. Dia pasti juga sangat khawatir dengan keadaan Hoseok.”

“Aaah, ini membuatku sangat sedih.” Desah Saeron, pandangannya kini lurus menatap ke langit-langit kamar Seulgi. “Aku tidak menyangka jika hal seperti ini akan terjadi.”

“Perkelahian seperti ini sebenarnya adalah hal yang sangat lumrah bagi mereka. Hanya saja, ini pertama kalinya mereka terlibat dalam perkelahian serius. Bahkan Hoseok terluka parah karena ini.”ucapnya. “Aku yakin, setelah ini Jungkook akan balas dendam. Aku sangat mengenal bagaimana dirinya. Dia tidak akan tinggal diam jika sahabatnya di lukai oleh orang lain.”

“Tapi, bagaimana jika dia terluka juga?” Saeron menoleh kembali, menatap Seulgi. “Bisakah kau bicara padanya agar dia tidak balas dendam?”

Seulgi tersenyum kecut lalu menggeleng, “Kau tau dia sangat keras kepala. Dia tidak akan mendengarkan orang lain.”ucapnya. “Yang bisa kita lakukan sekarang, hanya berharap agar mereka baik-baik saja.”

Saeron terdiam sejenak, “Karena aku melihat bagaimana sedihnya Seunghee ketika Hoseok terluka. Aku tidak mau hal itu terjadi juga pada Jungkook.”

Seulgi menatap gadis itu dengan senyum, “Apa kau benar-benar menyukai Jungkook?”

“Awalnya, aku pikir perasaanku hanya sekedar mengaguminya. Tapi sekarang, aku benar-benar menyukainya.”seru Saeron pelan. “Aku tau dia adalah pria yang keras kepala, terkadang bersikap kasar dan tidak bisa mengendalikan emosinya. Tapi setelah mengenalnya, ternyata dia sangat berbeda dengan semua yang aku pikirkan.”jelasnya. “Sekarang, aku benar-benar tidak ingin pulang ke rumah dan tetap ingin bersamanya.”

Seulgi tertawa, “Kau tau itu adalah hal yang di larang. Kalian masih menjadi murid SMU.”

“Aku tau.” Saeron langsung cemberut. “Karena itu aku ingin segera lulus dan tinggal bersamanya.”

“Apa itu tidak terdengar aneh? Setelah lulus, harusnya kau memikirkan universitas mana yang akan kau pilih.”

Saeron ikut tertawa, “Apa aku terdengar sangat tidak tau malu?”ucapnya. “Tapi yang aku inginkan hanya itu.”

“Aaaah, andai saja Jin memiliki sedikit sifat polos Jungkook. Mungkin aku juga akan tinggal bersamanya.”

“Kenapa?”

“Dia adalah pria yang berbahaya.”

***___***

 

Jungkook yang duduk paling dekat pintu langsung berdiri ketika seorang dokter akhirnya keluar dari ruang ICU.

“Bagaimana keadaan Hoseok, dok?”tanyanya. Mendengar itu, yang lain juga langsung berdiri dan menghampiri dokter.

“Dia sudah melewati masa kritisnya namun kita masih harus menunggunya sadar.”jelasnya. “Setelah ini, kami akan memindahkannya ke ruang perawatan.”

“Syukurlah kalau begitu. Terima kasih.”

***___***

 

Hoseok sudah melewati masa kritisnya namun kita masih harus menunggunya sadar.

Aku akan menjemputmu dan Seulgi pukul 9.

 

Saeron terbangun begitu mendengar dering ponselnya berbunyi. Seketika senyumannya merekah lebar setelah membaca pesan yang dikirim oleh Jungkook.

“Syukurlah.”

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Itu artinya dia masih memiliki waktu dua jam untuk mempersiapkan bekal makanan untuk yang lain. Menoleh kearah Seulgi yang tertidur di sampingnya, Saeron mengurungkan niatnya untuk membangunkan gadis itu. Dia terlihat sangat lelah.

Saeron menepis selimutnya dan berjalan perlahan-lahan menuju kamar mandi. Setelah mencuci muka dan gosok gigi, ia bergegas menuju supermarket yang terletak tak jauh dari rumah Seulgi. Semua bahan sudah siap, ia hanya tinggal membeli beberapa telur dan nori.

Sama seperti di lingkungan rumah Jungkook,udara di lingkungan rumah Seulgi juga terasa sangat segar di pagi hari. Hanya saja, lingkungan disini terasa lebih nyaman daripada lingkungan rumah Jungkook yang selalu terasa sangat berbahaya,

Sesampainya di supermarket, Saeron langsung mengambil dua set telur dan tiga bungkus nori, juga dua botol juice kemasan untuk dirinya dan Seulgi.

“Berapa semuanya?”tanya gadis itu pada kasir.

“Semuanya 5.000 won.”

“Terima kasih.”

Gadis itu langsung merapatkan jaketnya ketika ia di sambut oleh hembusan angin sesaat setelah dia keluar dari supermarket.

“Dingin sekali!” serunya sambil berjalan dengan langkah-langkah cepat.

Namun begitu memasuki jalan kecil menuju rumah Seulgi, perasaannya menjadi tidak enak. Dia merasa seseorang sedang mengikutinya tapi dia tidak menemukan siapapun ketika dia menoleh ke belakang.

Saeron mengepalkan kedua tangannya, mengumpulkan keberanian dan menambah kecepatan laju langkahnya. Tidak perduli itu kenyataan atau sekedar perasaannya, yang jelas dia harus segera sampai di rumah Seulgi.

“Mau kemana kau?”

Dan detik berikutnya, sebuah tangan besar membekap mulut Saeron sebelum sempat ia berteriak. Saeron menjatuhkan plastik belanjaannya dan berusaha berontak namun kekuatannya tidak mampu mengalahkan bekapan orang itu. Hingga akhirnya, perlahan-lahan tubuhnya mulai lemas, matanya terpejam dan akhirnya ia kehilangan kesadarannya.

***___***

 

Jungkook dan Jin langsung datang ke rumah Seulgi ketika gadis itu memberitahu jika Saeron tiba-tiba menghilang. Dia tidak menemukannya di manapun begitu ia membuka mata.

“Dia tidak membawa ponselnya dan tiba-tiba menghilang.”seru Seulgi. “Aku rasa dia pergi ke supermarket karena aku menemukan pintu rumahku yang tidak terkunci dan…” Seulgi menunjukkan sesuatu pada Jungkook. “Aku menemukan ini di jalan.” Bungkusan plastik supermarket dan telur yang pecah.

“Apa dia di culik?”ucap Jin menatap sahabatnya itu. “Aku yakin dia pasti di culik.”ulangnya lagi.

Rahang Jungkook mengeras, giginya menggertak menahan kesal. Harusnya dia tidak lengah. Harusnya dia menyadari jika pengejaran kemarin adalah sebuah peringatan. Harusnya dia tidak membiarkan Saeron sendirian.

“Jungkook.” Jin menepuk pundak pria itu karena sejak tiba di rumah Seulgi, ia tak kunjung mengeluarkan suara.

“Aku akan mencarinya.”ucapnya pelan namun terdengar sangat tegas. Kemudian pria itu berbalik dan pergi meninggalkan rumah Seulgi.

“Jungkook!” Jin sudah hampir mengejar Jungkook namun ia menyadari jika Seulgi juga ada disana. Pria itu menoleh ke belakang.

“Kejar dia. Aku akan pergi ke rumah sakit sendiri.”

Jin langsung menggeleng, “Aku akan mengantarmu dulu lalu mencarinya.”

“Aku tidak apa-apa.”balas Seulgi cepat. “Jangan sampai ada yang terluka lagi. Kau harus bersamanya.”

Ini adalah pertarungan batin. Dimana dia harus memilih kekasih atau sahabatnya. Jin lantas memeluk Seulgi sesaat setelah ia mengambil sebuah keputusan sulit. Yah, tidak boleh ada yang terluka lagi.

“Hubungi aku ketika kau sampai di rumah sakit.”ucapnya lalu menguraikan pelukannya. “Jangan terluka.”lanjutnya lalu berlari mengejar Jungkook.

***___***

 

Sialnya, Jungkook tidak berhasil menemukan Saeron dimanapun. Tidak menemukan jalan lain, pagi itu ia terpaksa pergi ke sekolah. Tanpa seragam dan perlengkapan apapun. Pria itu datang ke sekolah dengan celana jins serta kaus putih dan jaket hitam. Langkah-langkahnya lurus menuju kelas Saeron.

Dan sesampainya disana, semua murid yang sudah datang seketika terkejut melihat kehadiran pria yang paling di takuti itu.

“Apa kalian tau dimana rumah Saeron?”tanya Jungkook pada seluruh murid. “Jika kalian mengetahuinya, beritahu aku sekarang!”perintahnya membuat seisi kelas seketika menjadi hening.

“Ya, apa yang kau lakukan?” Jin muncul di saat yang tepat, pria itu menahan tubuh Jungkook namun Jungkook langsung mendorongnya.

“Kalian tuli? JAWAB AKU!”

“Jungkook!”tahan Jin lagi. “Jika guru mengetahuinya, kita bisa di hukum!”

Jungkook menoleh, menatap Jin dengan tatapan tajam, “Kenapa? Apa karena kau adalah kapten basket jadi kau khawatir dengan posisimu?”ketusnya. “Jika kau takut, maka pergilah!”bentaknya.

Tidak hanya Jin namun semua murid ikut tersentak mendengar bentakan Jungkook barusan. Yah mereka tau Jungkook memang biasanya selalu bersikap kasar, namun mereka juga tau jika Jungkook adalah seseorang yang sangat setia kawan. Dia akan selalu berada di belakang teman-temannya jika terjadi sesuatu. Tapi kali ini, dia bahkan membentak Jin hanya demi seorang wanita.

Jin menarik napas panjang, berusaha meredam rasa kesalnya. Dan kemudian dengan gerakan cepat, ia mengunci tubuh Jungkook dengan tekhnik bela diri yang ia ketahui. Tapi walaupun begitu, ia tidak akan bisa menahannya lebih lama karena Jungkook berontak sangat hebat.

“Brengsek! Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan?”

Namun Jin masih tidak melepaskan kunciannya, “Ya! Apa kalian hanya mau melihat? Bantu aku!”serunya pada tiga murid laki-laki yang duduk paling depan.

Tiga murid itu seketika membeku di tempat. Dia tau Jin adalah murid senior tapi kali ini masalahnya adalah Jungkook. Lebih baik di marahi oleh Jin daripada bermasalah dengan Jungkook. Mereka bisa babak belur nanti.

“Jika kalian tidak mau membantuku, aku akan memanggil Taehyung untuk memukuli kalian.”

Mendengar sebuah nama lain yang tak kalah mengerikan. Tiga murid itu langsung bergerak, mereka membantu Jin menyeret Jungkook meninggalkan kelas sebelum guru pengajar datang.

Hingga akhirnya mereka berhasil membawa Jungkook ke taman belakang sekolah, ketiga murid tadi seketika berlari meninggalkan tempat itu sebelum Jungkook mengetahui wajah dan nama mereka.

“Kau mengajakku berkelahi?! Sudah ku bilang jika kau–”

 

BUGG!

 

Satu pukulan keras mendarat tepat di wajah Jungkook. Benar-benar keras hingga Jungkook tersungkur ke tanah. Di tatapnya Jin dengan pandangan terkesima. Jin balas menatapnya dengan tatapan kesal.

“Apa aku harus menggunakan tinju agar kau mau mendengarku?!”serunya juga membentak. “Aku tidak perduli jika aku kehilangan posisiku atau bahkan harus di hukum. Masalahnya adalah kau! Jika kau di hukum, kau tidak akan bisa ke sekolah lagi dan kau tidak akan bisa mengetahui dimana rumah Saeron ataupun bertemu dengannya lagi! Katakan padaku jika kau ingin tau dimana rumahnya, aku akan pergi ke ruang administrasi dan bertanya pada mereka. Apa kau sadar apa yang sudah kau lakukan tadi?!”

Jungkook tersadar. Kemarahannya mulai menguap. Ia duduk bersila dengan kedua tangan menopang di atas lutut. Punggungnya membungkuk dalam-dalam menyesali perbuatannya tadi.

“Aku hanya takut jika dia pulang ke rumah.”ucapnya pelan. “Aku takut dia di pukuli lagi.”

Jin menghela napas panjang, “Tenanglah. Tidak hanya kau tapi kami semua sangat khawatir. Kami akan membantumu mencarinya tapi kau harus menenangkan dirimu dulu.”

Jungkook hanya diam.

“Ayolah, Jungkook. Kau tidak biasanya seperti ini, kan? Tenanglah.”

***___***

 

“Bagaimana? Kalian sudah menemukan Saeron?” Shannon langsung menghambur kearah Jungkook dan Jin begitu keduanya muncul. Jungkook tidak menjawab apapun, tetap diam dan langsung menjatuhkan diri di kursi. Sementara Jin hanya menghela napas panjang dan menggeleng lemah.

“Kalian tidak menemukannya?” Seulgi ikut bertanya.

“Aku sudah bertanya ke staff administrasi dan dia memberikan alamat Saeron padaku. Tapi ketika kami datang ke alamat itu, ternyata dia sudah pindah lima bulan lalu. Staff administrasi tidak tau dimana alamatnya yang baru.”

Seulgi ikut menghela napas panjang lalu menoleh kearah Jungkook yang hanya duduk diam dengan kepala tertunduk. Perlahan, ia menghampiri pria itu dan duduk di sebelahnya.

“Kau tidak apa-apa? Maafkan aku, Jungkook.”ucapnya menyesal. “Jika saja aku—“

“Jangan bicara padaku untuk saat ini.”potong Jungkook dingin. “Aku butuh waktu untuk menenangkan diriku. Jadi biarkan aku sendiri.”

“Jungkook tapi—“

“Hey Seulgi.”panggil Namjoon sambil menggeleng.

“Baiklah. Tapi jika kau butuh sesuatu, katakan padaku, aku pasti akan membantumu.” Seulgi berdiri dan duduk di sebelah Shannon.

Namjoon dan Taehyung saling pandang lalu menghembuskan napas panjang. Masalahnya semakin bertambah rumit.

***___***

 

Keesokan paginya, Jimin terpaksa masuk sekolah untuk menemani Jungkook. Dia takut jika kejadian kemarin akan terulang lagi. Saat ini, membiarkannya sendiri bukanlah pilihan yang tepat. Namun menemaninya, juga bukan pilihan tepat. Jalan satu-satunya hanya mengamatinya dalam diam.

Melihat kehadiran Jimin dan Jungkook di ruang kelas, Jinny langsung menghampiri keduanya dengan sorot khawatir, “Jungkook, kau—“ Namun Jimin buru-buru menahan lengannya dan menggeleng. Ia mengisyaratkan Jinny untuk tidak mengganggu Jungkook saat ini.

Jinny menurut. Walaupun dia merasa sangat khawatir dengan keadaan sahabatnya itu, tapi ini adalah cara membantu yang tepat. Dengan diam dan tidak bertanya apapun. Karena dia sedang tidak bisa mengendalikan emosinya saat ini.

Saeron belum juga masuk dan dia masih tidak mengetahui bagaimana kabarnya. Apa dia baik-baik saja? Apa dia di pukuli lagi? Semua tanya tak terjawab itu adalah titik pusat emosinya saat ini.

“Jungkook! Jungkook!”

Jinny berlari menuju ruang kelas ketika jam istirahat. Napasnya terengah dan ekspresinya terlihat sangat panik.

“Ini gawat! Saeron…”

Jungkook langsung berdiri, “Apa yang terjadi?”

“Saeron… ku dengar, dia pindah sekolah!”

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

11 thoughts on “BANGTAN’S STORY [JUNGKOOK’S VERSION] : I NEED YOU PART 8

  1. Nadiya berkata:

    Wahhh.. Ikut deg degan juga..
    Setelah kejadian hoseok sekarang searon, ngga bisa ngebayangin gimana perasaan jungkook, pasti marah, takut, khwatir..
    Ditunggu kelanjutannya 😁👍🏻

  2. saskia ananda berkata:

    akhirnya ff yang aku tunggu2 update jugaa hehe
    feel nya dapet bgt,aku jadi ikut2 deg2an sama semua kejadian nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s