BANGTAN’S STORY [JUNGKOOK’S VERSION] : I NEED YOU PART 7

BTS - i need youTittle  : I need You

Author  : Ohmija

Main Cast  : Jeon Jungkook, Kim Saeron

Support Cast  : V, Rap Monster, Jin, Suga, Jhope, Jimin BTS, Shannon William, Wendy & Seulgi Red Velvet, Seunghee CLC, Kim Jisoo, Park Jinny.

Genre  : Romance, School Life, Friendship

Pasca pengakuan sarat ancaman yang di lontarkan oleh Jungkook di depan kelas Saeron. Rumor-rumor tentang keduanya terus berkembang pesat hingga akhirnya sampai di telinga Jimin. Sebenarnya, Jimin bukanlah orang yang terlalu perduli dengan hal-hal seperti itu. Karena dia sudah sering mendengar rumor tentang Jungkook dan sahabatnya itu memintanya untuk mengabaikannya.
Tapi, kali ini berbeda. Tidak hanya Jungkook, namun Saeron juga terlibat sekarang. Jika sebuah rumor jahat di tujukan hanya untuk Jungkook, dia tidak akan perduli karena itu hanya akan membuang-buang waktu dan lagipula, sebagian rumor itu adalah kebenaran. Namun jika mereka mengatakan Saeron adalah gadis tidak tau malu yang terus menggoda Jungkook hingga akhirnya pria itu mau menerimanya, itu sedikit keterlaluan. Juga rumor-rumor jahat lain yang bahkan Jimin tidak ingin mendengarnya. Ucapan mereka terlalu kejam.
“Sepulang sekolah kau akan pergi ke rumah Jungkook?”tanya Jinny duduk di kursi yang ada di depan Jimin.
Jimin mengangguk, “Dia memintaku untuk mengantarkan tasnya.”
“Dia tidak membawa tas?”
“Kau tidak tau? Tadi dia bertengkar dengan guru dan penjaga sekolah agar diijinkan pulang.”
“Oh Tuhan.” gadis itu berkecap sambil geleng-geleng kepala. “Kalau begitu, aku ikut denganmu, ya?”
Jimin menatap kekasih Namjoon itu bingung, “Kau terlalu sering keluar dengan kami, apa ayahmu tidak marah?”
“Tidak. Jangan khawatir,”ucapnya yakin. “Namjoon oppa harus bekerja hari ini jadi dia tidak bisa mengantarku.”
“Baiklah. Mungkin Taehyung dan Hoseok juga akan pergi nanti.”
“Jimin, gawat! Jisoo bertengkar dengan beberapa murid perempuan di koridor!” Taekyung tiba-tiba muncul di pintu kelas. Jimin tersentak. Seketika ia berdiri dari duduknya dan langsung berlari keluar. Di belakangnya, Jinny dan teman-teman sekelas lain mengekori.
Berlari menuju koridor yang berada dekat tangga, pria itu bertemu dengan Jin dan nyaris bertabrakan. Tanpa diucapkan, sepertinya mereka berdua memiliki tujuan yang sama. Itu artinya… Seulgi juga terlibat!
***___***

Semua itu berawal dari Jisoo. Ketika dirinya dan Seulgi melewati koridor dan tanpa sengaja mendengar beberapa murid perempuan bergosip tentang hal-hal aneh. Ia mendengar naa Saeron masuk ke dalam topik pembicaraan mereka. Jisoo yang semula ingin mengabaikannya, menjadi tidak terkendali ketika mendengar mereka mengatakan jika Saeron adalah gadis yang tidak baik.
Jisoo yang tidak terima, menghampiri murid-murid itu dan mengatakan jika hal itu tidaklah benar. Namun, murid-murid perempuan itu justru menganggap jika Jisoo juga termasuk ke dalam golongan gadis aneh seperti Saeron.
Sontak saja, tangan Jisoo terulur dan menarik rambut salah satu dari mereka. Seulgi yang berniat melerai, justru di dorong oleh murid lain dan akhirnya terjadilah pertengkaran itu. Pertengkaran yang semula hanya sebatas pertengkaran mulit itu akhirnya berujung pada pertengkaran fisik.
“Tutup mulutmu! Kau yang jalang!”teriak Jisoo, tangannya masih menarik rambut seorang murid.
“Jika kalian tidak tau apapun, jangan bicara sembarangan!”sahut Seulgi sambil balas mendorong.
Jimin dan Jin yang tak lama sampai, langsung menyelinap dan menyeruak di balik kerumunan murid-murid yang sedang menonton itu..
“Hentikan!” Jimin langsung menarik lengan Jisoo, berusaha melerai. Namun cekalan Jisoo semakin menguat hingga murid perempuan itu semakin berteriak. “Jisoo! Hentikan!”serunya lagi. Jisoo tersadar dan langsung melepaskan cekalannya.
Sementara Jin menyelipkan tubuhnya diantara Seulgi dan dua orang murid perempuan yang menjadi lawannya. Mendorong tubuh kekasihnya kearah tembok dan mengurungnya dengan kurungan kedua tangan. Seulgi mendongak sambil mengerjap bingung, “Jin?”
“Minggir!” Namun serangan lain justru menghujani tubuh belakang Jin. Dua orang murid tu memukulinya, menyuruhnya menyingkir agar mereka bisa menyerang serangan Seulgi.
Melihat itu, mata Seulgi melebar, “YA! APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA KEKASIHKU?!” Seulgi mendorong tubuh Jin agar menyingkir dan langsung balas menyerang gadis-gadis itu.
“Jangan pukul sahabatku!” Jisoo ikut membantu Seulgi.
Dan pertarungan terjadi kembali. Bagi para pria, pertarungan gadis-gadis justru lebih menyeramkan daripada pertarungan para pria. Ketika sedang berkelahi, gadis-gadis cantik itu terlihat sangat berbeda. Mereka menakutkan.
“Seulgi, hey! Seulgi.” Sekali lagi Jin berusaha menghentikan kekasihnya.
“Apa?! Kau pikir aku takut?!” Seulgi masih berada dalam mode siap berperang. “Aku akan menghabisi kalian semua!”
“Kalian yang tidak tau malu!”sahut Jisoo.
Oh Tuhan… kapan pertarungan ini akan berakhir?
Jimin menghela napas panjang dan kemudian dengan gerakan cepat ia membungkuk, memeluk tengkuk kaki Jisoo dan mengangkat tubuhnya ke atas pundaknya. Jimin membawa kekasihnya itu pergi sebelum para guru mengetahuoinya. Tidak ada cara lain, satu-satunya cara hanya menggendongnya dan membawanya secara paksa.
Sementara Jin yang lagi-lagi menjadi sasaran empuk murid-murid perempuan, membalik tubuhnya dengan tatapan tajam.
“Ya hentikan!”serunya dengan nada tegas, sorot matanya menajam membuatnya terlihat menakutkan. Para murid perempuan itu langsung mengerjap. ”Apa kalian pikir tidak sakit, huh?! Punggungku pasti sudah membiru dan jika ada tulang yang patah, apa kalian mau tanggung jawab?!”ucapnya asal.
Pria tinggi itu menghela napas panjang kemudian menarik lengan Seulgi dan membawanya pergi, “Ayo pergi.”
***___***

Jin sama sekali tidak menyangka dengan apa yang ia lihat tadi. Yah, ia tau kekasihnya itu memang sedikit galak. Tapi dia pikir Seulgi adalah seseorang yang lembut ketika ia bersama teman-temannya. Ia sama sekali tidak menyangka jika ternyata gadis lembut itu memiliki sisi yang menyeramkan.
“Apa punggungmu sakit?”tanya Seulgi khawatir.
Jin terkekeh, “Pukulan mereka tidak terasa sakit sama sekali. Aku hanya berbohong.”

“Benarkah? Haruskah aku memeriksanya?” Seulgi masih ragu.
Jin tesenyum, “Aku benar-benar tidak apa-apa. Sama sekali tidak sakit. Yang terpenting kau baik-baik.”
Sedangkan Jimin, ia telah mengenal Jisoo sejak kecil dan dia sangat mengerti sifatnya yang tidak sabaran itu. Bertengkar dengan seseorang adalah hal yang wajar dan dia tidak terlalu terkejut dengan hal itu.
“Lihat, lenganmu berdarah.” Jimin menyiramkan cairan alcohol keatas lengan Jisoo. “Sakit?”tanyanya sambil membersihkan lukanya dengan kapas.
“Kau pikir aku selemah itu?”ketus Jisoo masih kesal.
“Ya, aku tau kau kesal tapi kau tidak perlu berkelahi seperti itu! Kau bahkan menarik rambutnya. Bagaimana jika dia terluka?”
“Itu bagus. Bahkan jika bisa aku akan menariknya hingga kepalanya lepas.”
“Ya!” Jimin memukulnya kening gadis itu pelan. “Haruskah aku pergi sekarang? Kau mau membersihkan lukamu sendiri?”
Jisoo langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat dan menggeleng, “Tidak mau.”cicitnya pelan. “Mianhae.”
Jimin menghela napas panjang, “Aku tau kalian merasa kesal dengan berita itu tapi kalian tidak seharusnya berkelahi. Kalian justru melukai diri kalian sendiri!”omelnya.
“Itu karena kau tidak mendengar apa yang mereka katakan tentang Saeron.” Jisoo mendesah panjang. “Mereka benar-benar membuatku kesal.”
Seulgi mengangguk, “Lagipula aku sudah berusaha melerai tapi mereka justru mendorongku.”
“Tapi tetap saja kalian tidak perlu berkelahi!” Jimin semakin merasa gemas.
“Jimin benar, kalian tidak seharusnya melakukan itu. Jika Jungkook melihat luka kalian, aku yakin dia juga tidak akan tinggal diam. Dan pertengkaran lain akan di mulai. Tidak akan ada habisnya.”ucapnya sambil terus mengobati luka di tangan Seulgi.
“Aku tau. Maafkan aku.”
Jin mengangkat wajahnya, menatap Seulgi dan tersenyum, “Tidak sakit, kan?” Seulgi menggeleng.
“Lihat mereka, bisakah kau bersikap lebih lembut? Kau terus memarahiku sejak tadi.” Jisoo mencibir.
Jimin balas mendengus, namun ia memelankan gerakan tangannya yang masih mengobati luka Jisoo.
“Ya! Kalian tidak apa-apa?” Tiba-tiba Namjoon dan Jinny muncul. Setelah Jinny memberitahunya tentang perkelahian itu, Namjoon langsung meninggalkan kelas dan berlari menuju ruang kesehatan. “Apa yang terjadi?”tanyanya lagi, duduk di hadapan Seulgi dan Jisoo.
“Mereka mencoba menjadi gangster.”jawab Jimin.
“Bukan begitu.”elak Jisoo. “Itu karena mulut mereka tidak bisa di kendalikan. Bicara seenaknya tanpa berpikir lebih dulu. Yah, mereka memang tidak punya otak.”
Jimin meliriknya, “Kau mulai lagi?”
“Memang itu kenyataannya!”
“Tapi, Jisoo, Seulgi…” Jinny menatap dua sahabatnya itu dengan sorot khawatir. “Kalian di panggil ke ruang guru,”
“APA?!”seru Seulgi dan Jisoo serempak.
Jinny mengangguk, “Aku disuruh menyampaikannya pada kalian.”
“Oh Tuhan….”
***___***

Jungkook membalut luka goresan di lengan Saeron dengan perban setelah mengobatinya.

“Apa terasa sakit?”
Saeron menggeleng, “Tidak.”
“Syukurlah.” Jungkook tersenyum. “Aku akan membelikan obat untukmu. Aku khawatir tubuhmu akan demam nanti malam.”
“Jungkook.” Panggil Saeron, pria itu menoleh. “Tidak perlu. Aku benar-benar tidak apa-apa.”

“Benarkah?” Jungkook duduk kembali di samping Saeron, tangannya terulur, meletakkan telapak tangannya di kening Saeron untuk mengecek suhu tubuhnya. “Suhu tubuhmu normal.” Ia mengangguk.
“Sudah ku bilang aku tidak apa-apa.”
Sebuah ide terlintas di kepala Jungkook, senyumnya semakin mengembang lebar, “Kalau begitu jika kau tidak apa-apa, ayo pergi.”
Kening Saeron berkerut, “Pergi?”
***___***

Tempat itu asing namun tidak asing karena dia sering melihatnya di televisi. Ini adalah pertama dan dia merasa takjub karena akhirnya ia benar-benar berada di tempat itu. Kini bukan hanya sekedar melihatnya di televisi tapi kenyataan.
“Ayo.” Jungkook mengulurkan tangannya pada Saeron yang masih berdiri mematung di luar cable car. “Kau tidak takut ketinggian, kan?” pria itu tersenyum.
“Ten-tentu saja tidak!” Saeron membalas uluran tangan itu dan melompat masuk. Yah, dia benar-benar berada di dalam cable car sekarang!
Ketika cable car itu mulai bergerak, Saeron tak bisa melepaskan pandangannya dari pemandangan kota Seoul yang terlihat dari sana. Pemandangan kota Seoul yang luas. Pemandangan kota Seoul yang indah. Karena selama hidupnya, ia hanya terikat dalam jarak antara rumah menuju sekolah. Sejak ibunya menikah lagi, mereka tak lagi dekat seperti dulu. Seperti ada dinding transparan yang terbentang diantara mereka.
Sementara Saeron terus memandangi bukit dan bangunan yang terlihat dari sana, tatapan Jungkook justru tak lepas dari wajah bahagia yang ada di depannya itu. Matanya berbinar-binar dan mulutnya terus ternganga lebar, menyerukan, “Woaaah~” pada setiap hal yang di lihatnya.
Tak lama begitu mereka sampai, keduanya berjalan kaki untuk mencapai bagian paling atas. Sebuah taman luas terbentang disana, dan tumbuhan-tumbuhan hijau terlihat subur. Keduanya memutuskan untuk beristirahat sejenak, di sebuah kursi kayu yang terletak di pinggir pagar batu. Lagi-lagi mata Saeron terus tertancap pada pemandangan yang ada di bawahnya. Jika biasanya beberapa wanita takut ketinggian, berbeda dengan Saeron yang bahkan menjulurkan kepalanya dan menengok kearah bawah.
“Apa yang kau lihat?” Jungkook datang dengan dua tusuk potato twister di tangannya.
Saeron menoleh dan kembali duduk, “Pemandangannya indah sekali.”
“Kau suka?”
“Sangaaaat suka! Aku tidak menyangka kau akan mengajakku kemari.”
“Ini juga pertama kalinya aku datang kemari.” Pria itu tersenyum kemudian memakan potato-nya.

“Benarkah?” Mata Saeron melebar. Jungkook mengangguk. “Waah, ternyata kau benar-benar pria seperti itu.”
Kening Jungkook berkerut, “Maksudmu?”
“Awalnya aku pikir kau adalah pria yang memiliki banyak kekasih karena ada banyak gadis yang menyukaimu. Tapi ternyata sepertinya aku salah.” Gadis itu meringis lebar.

“Tsk, aku sudah sangat sibuk dengan pekerjaanku. Aku tidak punya banyak waktu untuk berkencan.”dengus Jungkook.
Saeron mengangguk dengan senyum, “Aku tau.”

Kemudian hening. Samar-samar, Saeron melirik kearah Jungkook yang sedang mengedarkan pandangannya itu. Menatap sekeliling karena ini adalah pertama kali baginya juga.
“Ah, Jungkook, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu.”seru Saeron pelan setelah hening beberapa saat.
Jungkook menoleh kearah Saeron, “Apa?”
Gadis itu terdiam sejenak, “Sebenarnya… kenapa kau mau menolongku?”

Jungkook tak langsung menjawab. Butuh beberapa saat sebelum ia berhasil membersihkan tenggorokannya yang terasa serak, “Aku…” ia berucap lirih. “…dulunya memiliki seorang adik perempuan.”serunya, “Namanya Arin dan dia adalah gadis yang sangat cantik.”
Saeron menatap Jungkook lurus, mendengarkan ceritanya.
“Setelah ibu meninggal, aku dan Arin tinggal bersama ayah. Ayahku adalah seorang pemabuk dan setiap harinya, dia selalu memukuli Arin. Entah dengan alasan atau tanpa alasan. Dia selalu memukulinya sebagai pelampiasan emosinya. Aku tidak bisa melindunginya karena aku harus bekerja.” Pria itu menghembuskan napas panjang pelan sambil menerawang ke arah langit. “Saat itu umurku baru 10 tahun namun aku harus bekerja untuk menghidupi keluargaku. Entah dengan menjadi pegantar susu, menyemir sepatu orang lain atau menjajakan payung ketika hujan turun. Ayahku adalah seorang pengangguran jadi aku harus bekerja untuk menghidupi diriku sendiri dan keluargaku.” Kedua sudut bibirnya tertarik, menciptakan senyum kecut yang begitu terlihat di mata Saeron. “Dan saat itu, ketika aku baru pulang bekerja, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri ketika ayah memukuli Arin tanpa henti. Bahkan ketika dia sudah tergeletak lemas di lantai. Karena itu, pada saat itu aku hampir membunuh ayahku sendiri. Jika polisi tidak datang dan menghentikanku, mungkin aku sudah menjadi pembunuh.” Jungkook mengarahkan tatapannya pada Saeron, menatap gadis itu dengan sepasang matanya yang terlihat basah. “Adikku meninggal karena di pukuli ayahku. Dan kau juga merasakan hal yang sama. Dulu, aku gagal melindungi adikku sendiri karena aku masih sangat kecil. Jadi sekarang, aku tidak ingin gagal lagi.”
“Kau tidak gagal. Kau sudah berusaha dan—“
“Jangan menghiburku.” Jungkook membalas masih dengan senyum kecut di wajahnya.

“Luka itu tidak akan pernah bisa sembuh. Jadi percuma, jika kau menghiburku.”

Saeron tergugu, “Jungkook-ah…”
Menyadari jika pertahannya nyaris runtuh di depan gadis itu, Jungkook menggunakan seluruh tenaganya untuk bertahan. Tidak menunjukkan titik terlemahnya. Karena tidak ada pilihan lain selain menjadi kuat.
“Nah sekarang, ayo kita keatas. Hari sudah hampir gelap. Pemandangan dari atas pasti lebih indah.”
Pria itu tersenyum lebar sambil berdiri dan mulai melangkahkan kakinya. Memandangnya sesaat, Saeron akhirnya ikut berdiri dan berjalan di belakangnya. Sekali lagi memandang punggung lebarnya yang terlihat lemah. Di atas kedua bahunya, ia sedang memikul penderitaan besar. Di dalam hatinya, ia menyimpan sebuah luka. Sebuah luka akut yang mungkin tidak akan pernah bisa di sembuhkan.
Satu hal yang ia tau, alasannya mengapa ia menjadi seseorang yang kuat, seseorang yang di takuti oleh semua orang, dan seseorang yang akan menjadi tameng untuk sahabat-sahabatnya. Karena ia memiliki rasa penyesalan yang mendalam atas kegagalannya di masa lalu. Perlahan beranjak dewasa, perlahan juga ia membentuk sebuah benteng pertahanan. Dimana tidak ada satu orangpun yang bisa merobohkan benteng itu. Dimana tidak ada satu orangpun yang akan menyangka jika pria kuat ini sebenarnya adalah pria yang kesepian.
Sesampainya di bagian paling atas, di sebuah halaman luas yang di penuhi gembok-gembok yang terkunci di pagar besinya. Jungkook berdiri menatap ke depan sana, kearah pemandangan senja kota Seoul yang terlihat indah dari sini.
“Haruskah kita menulis nama kita sepperti itu?” Saeron melompat ke belakang Jungkook dengan nada riang seperti biasanya. “Bukankah orang-orang yang datang kemari akan menulis nama mereka di gembok dan menguncinya?”
Jungkook melirik gadis itu, “Kita bukan sepasang kekasih.”serunya. “Kau masih mengharapkan itu?”
Saeron mencibir, “Dasar menyebalkan.” Kemudian gadis itu berbalik dan berjalan menuju bagian kanan. Jungkook hanya terkekeh.
“Kau bilang kau tidak pernah kemari, tapi disini ada namamu.” Gadis itu menunjuk sebuah gembok yang tepat berada di depannya. “Jungkook dan… huh? Hyomin?”
“Aku memang tidak pernah kemari.” Jungkook menggeleng sambil menghampiri Saeron. Ia membungkukkan punggungnya, membaca nama di gembok yang di tunjuk oleh Saeron. Lalu ia mendengus, “Memangnya hanya ada satu Jungkook di dunia ini?”
Saeron meringis, “Bagiku hanya ada satu.”

“Cih, kau sedang menggodaku?”
“Tidak.” Balas Saeron dengan ekspresi lucu lalu menjulurkan lidahnya. Jungkook tersenyum.
Jika saja ia bisa menghentikan waktu, walau hanya sesaat, ia ingin menghentikan waktu saat ini juga. Agar ia bisa melihat senyuman itu lebih lama.
“Aku baru mengetahui jika kota Seoul ternyata cukup indah.”
“Cukup indah? Maksudmu sangat indah?” Saeron mengerutkan kening. “Memang sangat indah. Sejak dulu.”
“Karena aku selalu bekerja setiap saat jadi aku tidak pernah punya waktu untuk melihat hal yang seperti ini. Bagiku, pemandangan hanyalah suasana di café dan di rumah.”
“Kalau begitu kau harus sering-sering keluar.” Saeron memiringkan kepalanya, menatap Jungkook, “Mau ku temani?”
“Cih, membawa dirimu hanya akan menghabiskan lebih banyak uang.”
“Hey ayolah, membawa diriku akan lebih menyenangkan.”
“Jangan mimpi.”
Saeron terkekeh geli, “Jika nanti kita kembali kesini lagi, kita harus melakukan hal-hal seperti itu.” ia menunjuk kearah deretan gembok.
Jungkook langsung menggeleng, “Tidak mau!”
“Kenapa? Jika kita kesini lagi, aku yang akan bayar semuanya.”
“Tsk, memangnya kau punya uang?”
Saeron mengembangkan senyumnya, “Jika semuanya sudah berubah menjadi lebih baik, aku berjanji akan membayar semua hutangku padamu.” Ucapannya membuat Jungkook tertegun. Gadis itu menatap Jungkook sesaat sebelum akhirnya melangkahkan kakinya, maju ke depan beberapa langkah. Kedua lengannya merentang lebar lalu memeluk pria yang sedang berdiri di depannya itu.
“Hey, apa yang kau lakukan?” Jungkook mendorong tubuh Saeron pelan, merasa terkejut atas perbuatan Saeron itu. Namun Saeron tidak bergerak, ia tetap melingkarkan kedua lengannya di pinggang Jungkook dan meletakkan kepalanya di dada pria itu.

“Aku tidak perduli jika mereka mengatakan aku adalah gadis yang tidak tau malu.”ucap gadis itu pelan, Jungkook terdiam. “Sesuai ucapanmu, aku hanya akan mendengarkan apapun yang kau katakan. Apapun itu, aku akan mempercayainya.”lanjutnya lagi. “Terima kasih. Aku selalu ingin mengatakan ini padamu. Terima kasih, Jungkook.”
Pintu itu, kini semakin terbuka lebar.
***___***

Ketika hari sudah gelap, Jungkook dan Saeron akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah. Keduanya duduk bersandar di kursi bus yang sedang membawa mereka menuju rumah. Mengeluarkan ponselnya dari saku jaket, Jungkook menyalakan ponselnya yang sejak tadi sengaja ia matikan. Hari ini, ia sudah bolos bekerja, dia pasti sudah membuat Suga dan Namjoon kelelahan.
Namun belum sempat mencari nomor kontak Namjoon, sebuah panggilan lebih dulu masuk. Jungkook langsung menekan tombol answer begitu membaca nama Namjoon yang tertera disana.

“Ya hyung?”
“Kau dimana?!”
Kening Jungkook sedikit berkerut mendengar nada panik Namjoon, “Aku sudah berada di perjalanan pulang. Haruskah aku ke café?”

“Cepat pergi ke rumah sakit sekarang!”

“Huh?”

“Hoseok… dia di serang!”

Mata Jungkook seketika melebar, “APA?!”





TBC

Iklan

10 thoughts on “BANGTAN’S STORY [JUNGKOOK’S VERSION] : I NEED YOU PART 7

  1. Nadiya berkata:

    Wahhhh akhirnya.. Udah nunggu lama banget buat ngebaca lanjutan ff ini… Dan ngga sia2, aku suka banget moment jungkook-saeron.. Cepet2 jadian yah kalian.. Hihihi
    Dan kangen deh ngeliat mereka ngumpul2 semuanya..

  2. Puti Hilma berkata:

    Ohmija eonni finally you’re back!!!! 🙌
    Aah gk sia sia aku nunggu lama…
    Jungkook sma saeron manis bgt~ makin suka deh sma pasangan ini😘

  3. zulaqsalwp berkata:

    Asli, gue sering banget buka nih blog, cuma buat nunggu lanjutan nih ff, lama banget di postnya thor :”, tapi nggak sia-sia gue nunggu, hasilnya gila keren, saeron bikin ngiri sumpah, terus pas part jisoo sama seulgi berantem, keknya seru juga kalo liat langsung :v terus itu yang terakhir hoseok? Siapa yang nyerang dia, anak buahnya bapaknya saeron kah? Gue tunggu thor, mangatss ya!! 🙂

  4. ynkanza berkata:

    Aaaahh ohmija unniiiiii
    setelah sekian lama:”)
    Glad to know u’re back. Ngga sia sia sering ngecekin ini wordpress, lanjutannya makin greget ajadew.
    Semangattt authornim^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s