Selene 6.23 (Long Distance Between Us) part 9

selene new

Tittle                            : Selene 6.23 (Long Distance Between Us)

Author             : Ohmija

Main Cast        : Kim Jongin, Krystal Jung, Choi Minho

Support Cast   : Taemin, Sulli, Amber, Sehun, Jessica, Jonghyun, dll

Gnere              : Romance, School life, Comedy, Sad

“Apa maksudmu?”tanya Minho lagi tak mengerti.

Krystal langsung menggeleng dan tersenyum, “Tidak ada hehehe. Aku rasa aku harus segera kembali, Jessi unnie akan mencariku.”elaknya sambil berdiri.

“Kau tidak apa- apa? Kakimu sudah merasa lebih baik?”

“Tidak apa-apa. Hanya kram.” Ia tersenyum. “Kalau begitu, aku akan masuk ke dalam. Bye oppa.”

Krystal memaksakan kakinya untuk melangkah. Bersamaan dengan usahanya yang meredam rasa nyeri di hatinya. Nyatanya, seseorang yang ia sukai sudah tidak memiliki tempat kosong di hatinya. Nyatanya, ia bahkan telah kalah sebelum berperang.

Itu menyakitkan.

***___***

 

Ketika bel istirahat berbunyi, Sulli langsung menghentikan langkah Krystal yang bergegas untuk pergi ke kantin. Gadis tinggi itu menatap sahabatnya dengan tatapan menyelidik membuat Krystal bingung.

“Jujurlah padaku, Krystal.”

Kening Krystal berkerut, “Huh? Tentang apa?”

“Kenapa kau tidak pernah lagi makan bersama kami? Dan kemana kau pergi setiap jam istirahat? Juga, apa kau benar-benar berkencan dengan Jongin?” Sulli memberondong sahabatnya itu dengan banyak pertanyaan. Krystal mengerjap-ngerjapkan matanya bingung, Selain tidak menyangka jika Sulli akan menanyakan begitu banyak pertanyaan, ia sebenarnya juga tidak mengerti dengan pertanyaan-pertanyaan itu.

“Apa kau perlu bukti?” Jongin tiba-tiba muncul dan merangkul Krystal, di lemparkan senyum menyeringai pada Sulli. “Dia tidak lagi pergi makan siang bersama kalian karena dia makan siang bersamaku.”

Sulli ternganga lebar, “Apa?”

“Ya, apa yang kau katakan?” Krystal melepaskan rangkulan Jongin.

Jongin terkekeh, kembali di rangkulnya gadis itu dan membawanya menuju depan papan tulis. “Teman-teman, aku memiliki sebuah pengumuman.”serunya. Murid-murid yang sudah akan pergi ke kantin menghentikan langkah mereka dan memberikan perhatian pada dua orang itu. “Aku dan Krystal sudah menjadi sepasang kekasih. Jadi jangan coba-coba untuk mengganggunya. Jika kalian berani melakukannya, kalian akan berurusan denganku.” Kalimat panjang yang nyaris terdengar seperti ancaman itu sontak membuat semua murid termasuk Sehun, Taemin dan Jonghyun berada dalam ketersimaan hebat.

“Ya!” Krystal menatap Jongin kesal.

“Kalian berkencan?” Sehun mengerjap-ngerjapkan matanya. Jongin mengangguk lalu menyeringai lebar.

“Oh Tuhan, Krystal! Kau pasti sudah gila!”pekik Sulli tak percaya.

Jongin langsung menarik lengan Krystal dan membawa gadis itu pergi sebelum ia buka suara. Meninggalkan ketersimaan dan rasa tidak percaya dari semua murid di belakang. Keduanya menuju atap sekolah, setelah menutup pintunya, Jongin mendudukkan Krystal di kursi kayu.

“Kau jangan coba-coba bicara yang tidak-tidak.” Ia mengancam Krystal.

Gadis itu mendongak dengan ekspresi tak habis pikir atas tindakan Jongin itu, “Sebenarnya apa yang kau inginkan?”

“Aku ingin kau menjauh dari Choi Minho!”tandasnya.

“Kenapa? Kenapa kau membencinya?”

“Kau tidak perlu tau alasannya.” jawab Kai lalu bergegas pergi. “Jadi sebaiknya kau lakukan saja yang aku katakan.”

“Apa karena gadis yang kau cintai itu lebih mencintai Minho oppa?” Pertanyaan Krystal sontak membuat Jongin menghentikan langkahnya. “Apa karena dia lebih memilihnya daripada kau jadi kau membencinya?”

Jongin berbalik, dengan cepat ia bergerak dan untuk hitungan detik berikutnya, wajahnya sudah berjarak satu jengkal dari wajah Krystal. Krystal sudah akan memundurkan wajahnya namun Jongin menarik lengannya agar gadis itu kembali ke depan.

Di tatapnya mata gadis itu lurus-lurus, sebuah tatapan yang sarat akan ancaman agar dia tidak bersikap seenaknya. Apalagi mengatakan hal-hal yang mampu membangkitkan luka lamanya.

“Apa kau pikir aku tipe pria seperti itu?”desisnya. Krystal menelan ludah. Selain jantungnya mulai berdegup kencang karena wajah Jongin teramat dekat dengan wajahnya, tubuhnya juga seketika membeku dan tidak bisa bergerak. “Kau pikir hanya karena wanita, aku membenci orang lain?”

“Bukankah itu sudah jelas?” Ia mencoba melawan, namun getaran hebat terdengar di dalam suaranya.

RahangJongin mengatup keras, “Apa Choi Minho yang memberitahumu tentang ini?”desisnya. “Apa dia yang memberitahumu jika dia adalah seorang pemenang yang bisa mendapatkan semua yang dia inginkan? IYA?!”

“T-tidak.” Krystal menundukkan wajahnya, mulai merasa takut.

Tangan Jongin terulur, menyentuh dagu Krystal memaksa gadis itu agar balas menatapnya, “Sebaiknya kau menurut jika kau tidak mau aku menyakitimu.” Setelahnya pria itu berdiri dan meninggalkan tempat itu.

***___***

 

Krystal tidak tau hal apa yang telah ia lakukan di masa lalu hingga dia mendapat cobaan seperti ini. Belum selesai masalah antara dirinya dan Jongin, di saat-saat terakhir sebelum pelajaran guru matematika selesai, beliau memberikan pekerjaan rumah yang harus di kerjakan bersama dengan teman sebangku mereka. Mungkin bagi murid-murid lain, hal itu justru menyenangkan. Tapi bagi Krystal, berada di kelompok yang sama dengan Jongin, artinya dia akan bertemu dengan pria ini lagi setelah pulang sekolah. Bertemu dengannya seharian di sekolah saja sudah membuatnya muak, sekarang dia justru harus bertemu dengannya lagi.

Begitu bel pulang berbunyi, Jongin menghadapkan tubuhnya kearah Krystal, “Jadi, mau mengerjakannya dimana? Di rumahku atau di rumahmu?”

“Kenapa harus di rumah? Kita kerjakan di café saja.”jawab Krystal. Alasannya satu, berkunjung ke rumah masing-masing hanya akan membenarkan rumor yang menyatakan jika mereka sedang berkencan. Dan Krystal sangat membenci rumor itu. Itu sama sekali tidak benar.

“Di rumahmu saja.” Jongin menjawab lagi walaupun ia sudah mendengar jawaban Krystal.

Krystal langsung menoleh menatapnya, “Hey, aku bilang di café.”

“Tidak. Di rumahmu. Ayo.” Pria itu menarik lengan gadis itu dan menyeretnya pergi meninggalkan kelas.

Lagi-lagi, ia bersikap seenaknya. Selalu memutuskan semuanya sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain. Namun, Krystal tidak bisa berbuat apapun.

“Kim Jongin!” Dari belakang mereka suara Sehun terdengar. Jongin dan Krystal menoleh. “Ya, aku tau kau sudah memiliki kekasih tapi apa kau sudah melupakan sahabat-sahabatmu?” sungutnya. “Kau selalu bersamanya dan melupakan kami.”

Jongin terkekeh, “Kau cemburu?”

“Itu memang kenyataan. Kau sedikit menyebalkan akhir-akhir ini.”sahut Taemin.

“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu. Tapi, jika aku tidak menjaganya, dia akan kabur dariku.” Ia menunjuk Krystal yang langsung melotot. “Aku akan menghubungi kalian nanti. Sekarang aku harus pergi untuk mengerjakan PR.”

“Kau bahkan mengerjakan PR?!” Jonghyun terbelalak.

Jongin menjawabnya dengan senyum lalu melambaikan tangannya pada teman-temannya. Mereka kemudian menuju sebuah halte dan masuk ke dalam sebuah bus yang berhenti. Lagi-lagi, Jongin mendudukkan Krystal di kursi dekat jendela, menjaga gadis itu agar tidak melarikan diri. Walaupun ia tau, melarikan diri di tempat ini adalah hal yang tidak mungkin. Tapi, dia tetap harus berjaga-jaga.

Jongin mengeluarkan ponselnya dan memasang earphone di telinganya. Krystal meliriknya samar. Hal yang ia lakukan sama dengan yang Minho lakukan ketika dia berada di bus. Keduanya sama-sama mendengarkan musik.

“Mau mendengarkan?” Jongin menyodorkan sebelah earphone-nya pada Krystal.

“Tidak.” Krystal langsung menepis tangannya dan mengalihkan pandangannya, menatap keluar jendela.

Sepanjang perjalanan, keduanya saling diam. Jongin terus sibuk dengan ponselnya sementara Krystal terus mengukur jarak yang mereka tempuh, berharap keduanya bisa sampai dengan cepat dan mengakhirinya dengan cepat juga.

Tak lama, mereka sampai. Jongin terus mengedarkan pandangannya, menyapu seluruh sudut ruang tamu Krystal. Di satu sisi dinding, foto-foto seorang wanita yang Jongin tebak adalah kakak Krystal tergantung dan di sebelah foto itu, tergantung bingkai foto Krystal. Di sebuah bupet kayu, jejeran bingkai-bingkai foto juga terjejer rapi. Jongin tersenyum geli begitu melihat foto Krystal ketika ia masih kecil.

“Kau tinggal bersama siapa?”tanya Jongin, tatapannya masih menancap pada sebuah foto.

“Kakakku.”jawabnya pendek. Kembali dari dapur dan membawa teko minuman, Krystal menjatuhkan dirinya diatas ambal. “Bisakah kau berhenti menatapi foto-foto itu dan mulai mengerjakan PR kita?” dengusnya

Jongin menarik punggungnya lalu mengangguk, “Baiklah.”

Pria itu duduk di samping Krystal sambil mengeluarkan buku-bukunya dan mulai mengerjakan deretan soal matematika itu. Satu hal yang membuat Krystal begitu terperangah adalah keahlian Jongin yang bisa menyelesaikan soal-soal itu dengan cepat. Dia baru mengetahui jika Jongin adalah si jenius matematika. Dia bahkan menjelaskan caranya pada Krystal ketika ia tidak mengerti.

Yang jelas, pria yang sedang duduk di sampingnya ini sangat berbeda dengan seseorang yang menjadi teman sebangkunya. Dia yakin mereka adalah orang yang sama. Tapi kenapa kali ini dia menjadi tidak yakin jika itu benar-benar Jongin?

Pria itu… bukan lagi Jongin yang selalu mengganggunya. Tapi dia sudah berubah menjadi seseorang yang tenang dan tidak banyak bicara ketika berhadapan dengan soal matematika.

“Jadi, sebaiknya kau tidak gunakan cara seperti yang sonsengnim terangkan karena cara itu sedikit rumit. Aku akan menjelaskan padamu cara yang mudah dan singkat. Ujian nanti, kau bisa memakai caraku.” Ia menoleh sekilas kearah Krystal. “Ini tidak langsung di tambahkan dengan yang ini, tapi sebaiknya kau kalikan dulu dengan yang ini.” jelasnya lagi. “Mengerti, kan?” Jongin mengacak puncak kepala Krystal dengan senyuman.

Hal itu membuat tubuh Krystal seketika menegang. Ia melirik kearah Jongin kikuk. Namun sepertinya pria itu tidak menyadari perbuatannya karena kini ia telah kembali fokus dengan soal-soalnya. Jauh di dalam lubuk hatinya, kebenciannya pada sosok pria berkulit gelap ini perlahan memudar. Hatinya mulai menyangkal dan dia mulai meyakini jika sebenarnya Jongin adalah pria baik yang berpura-pura menjadi orang jahat. Entah apa alasannya, Krystal mulai merasakan jika ada sesuatu yang sedang di pendam oleh pria ini. Alasannya sangat membenci Minho dan rasa cintanya pada Yoona.

“Kau sangat menyukai matematika?”tanya Krystal pelan.

Jongin mengangguk tanpa menoleh, “Aku mulai menyukainya ketika aku berumur 10 tahun.”ucapnya. “Ayahku menyuruhku pergi ke sebuah tempat les matematika. Dan aku mulai menyukainya karena aku menyukai cara sonsengnim menjelaskan jalan keluar dari sebuah soal. Sejak saat itu, aku lebih menyukai belajar matemarika daripada pelajaran lain.”

Pria itu tersenyum lebar. Lagi-lagi ia menunjukkan hal yang sebelumnya tak pernah ia perlihatkan. Senyumannya itu bukan lagi senyum menyeringai seperti biasanya, namun senyuman manis.

“Sejujurnya, aku bodoh dalam pelajaran bahasa Inggris. Aku sudah berusaha mempelajarinya namun aku tetap tidak bisa mengerti. Pelajaran itu sangat sulit.”

“Itu tidak sulit.” Balas Krystal setelah tertegun beberapa saat, “Kau hanya perlu belajar lebih giat lagi.”

“Pasti menyenangkan karena kau hidup dan tumbuh di luar negeri sehingga kau bisa berbicara bahasa Inggris dengan fasih.”

Krystal kembali tertegun. Andai saja dia bisa menjadi sosok seperti ini setiap harinya. Andai saja dia bisa menjadi begitu menyenangkan seperti ini.

“Aku pulaaaaa… oh?” Jessica muncul tiba-tiba dan langsung terkejut begitu ia mendapati seorang pria berada di dalam rumahnya. Dan sayangnya, matanya menangkap basah adiknya yang sedang memandang kearah pria itu. Tatapannya…. penuh arti.

Begitu menyadari wanita yang baru saja datang itu adalah wanita yang wajahnya berada di sebagian foto rumah ini, Jongin langsung berdiri dan membungkukkan tubuhnya sopan, “Annyeonghaseo, aku Kim Jongin. Teman sekelas Krystal. Aku datang karena kami harus mengerjakan PR bersama-sama.”jelasnya dengan nada sopan.

“Oh, kau Kim Jongin?” Dan hal lain yang membuat Jessica terkejut, ternyata pria ini adalah Kim Jongin! Teman sebangku adiknya yang sering ia ceritakan itu. Jessica lantas tersenyum menyeringai, melirik adiknya yang langsung menggeleng kuat-kuat di belakang Jongin. Sudah jelas terbaca jika Jessica ingin melakukan sesuatu yang berbahaya.

“Iya, aku adalah Kim Jongin, noona-nim.”

“Tugas apa yang sedang kalian kerjakan?”tanya Jessica lagi. Sebisa mungkin ia menahan tawa gelinya melihat wajah pucat Krystal.

“Matematika.”

“Oh benarkah? Soojungie sangat bodoh dalam hal matematika. Dia beruntung karena dia memiliki teman yang bisa diajak bekerja sama. Tolong ajari Soojungie kami.”

Krystal melototkan matanya, memperingatkan Jessica agar dia segera naik keatas dan meninggalkan mereka. Wanita itu bisa saja membongkar semuanya dan mengatakan jika dia sering membicarakannya. Terlihat dari senyuman menyeramkannya itu.

“Sebenarnya aku juga tidak terlalu baik dalam hal matematika.” Jongin menggaruk tengkuk belakangnya kikuk. “Tapi, aku akan berusaha.”

“Cepatlah naik keatas dang anti bajumu, Jess.”cibir Krystal, ia sudah tidak tahan lagi.

Jongin menoleh ke belakang, menatapnya, “Kau tidak memanggil kakakmu dengan sebutan ‘Unnie’ ?”

Krystal mengerjap, “Huh?”

“Aku tau kau tumbuh besar di Amerika tapi kau tetap harus bersikap sopan dengan kakakmu. Jangan memanggil namanya dan belajarlah memanggilnya unnie.”

Jessica langsung terkekeh, “Waaah, ternyata kau adalah pria yang sangat baik.”serunya. “Baiklah. Kalau begitu, aku akan naik keatas. Kerjakan PR kalian dengan baik.”

Jongin membungkukkan tubuhnya lagi, “Istirahatlah dengan baik noona-nim.”

Krystal mendengus, “Kau menyukai kakakku?”ketusnya. “Kau berubah menjadi baik ketika dia datang.”

Jongin menoleh, “Hey, aku tidak—“

“Dasar menyebalkan.”

***___***

 

“Oh? Sudah pukul 8?” Jongin melirik arlojinya dengan mata melebar. “Sebaiknya aku pulang sekarang.”

“Mwoya? Masih ada 20 soal yang belum kita kerjakan.”

“Kita bisa melanjutkannya besok atau hari minggu. Aku merasa tidak enak jika aku harus berlama-lama disini.”

“Tapi—“

“Berikan saja nomor ponselmu. Aku akan menelponmu nanti. Kita kerjakan di café saja.”

Krystal menatap pria itu dengan kening berkerut namun mengetik nomor ponselnya di dalam ponsel Jongin.

“Baiklah.”

“Kalau begitu aku pulang dulu.” Jongin merapikan buku-bukunya dan bergegas pulang. “Dimana kakakmu? Aku harus pamit.”

“Cih.” Krystal mendengus, menatapnya dengan mata menyipit.

“Hey, aku benar-benar tidak menyukai kakakmu. Aku melakukan ini karena sopan santun.” Jongin membela dirinya karena tatapan Krystal sepe.

Krystal mendongak “Jess… ah maksudku… Unnie!” Dari tingkat dua, Jessica menjulurkan kepalanya, wajahnya sedang di lapisi dengan masker kecantikan.

“Noona-nim, aku akan pulang sekarang. Terima kasih.” Jongin membungkukkan tubuhnya lalu tersenyum.

Jessica hanya mengangguk dan menunjukkan ibu jarinya karena dia sedang tidak bisa bicara sekarang.

“Bukankah kau tidak mau mengerjakan PR di café?” tanya Krystal sambil mengantar Jongin hingga ke depan pintu.

“Aku bisa berubah pikiran.”

“Cih,” Krystal mencibir. “Apa kau selalu seperti ini? Selalu memutuskan semuanya atas kehendakmu sendiri.”

“Apakah aku begitu?” Jongin balik bertanya dengan ekspresi seolah-olah ia tidak menyadarinya. Kemudian ia tertawa, “Aku pulang.”

“Oema, sudah aku bilang tunggu saja di rumah. Aku akan membelinya sendiri.” Seseorang tiba-tiba keluar dari ruangan yang ada di sebelah apartement Krystal. Krystal langsung membungkukkan tubuhnya begitu melihat siapa mereka.

“Annyeonghaseo, omoni.”sapanya.

Anak laki-laki yang ternyata Minho dan ibunya itu menoleh, juga membalas sapaan Krystal, “Oh? Soojungie?”

“Apa omoni akan keluar?”

Jongin ikut menoleh, begitu kontak mata keduanya bertabrakan, seketika ia merasakan sebuah pukulan menghantam dadanya telak. Bukan dengan Minho. Namun dengan seorang wanita paruh baya yang berdiri di sampingnya. Tak kalah terperangah, ibu Minho juga langsung membeku.

“Jongin, perkenalkan, dia adalah—“

“Aku pulang dulu.”

Pria itu langsung balik badan dan pergi dengan langkah-langkah panjang. Krystal yang tidak mengetahui apapun hanya bisa berdecak sambil geleng-geleng kepala, “Omoni, maafkan dia. Sepertinya dia sedang buru-buru.”

Ketika amarah dan penyesalan itu tidak pernah bisa bertemu, keduanya hanya bisa menjaga jarak. Ketika mereka tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk meluapkan amarah serta meminta maaf, keduanya hanya bisa diam.

“Oema, masuklah. Tiba-tiba aku merasa kenyang.” Minho mendorong tubuh ibunya yang masih tenggelam dalam ketersimaan hebat. Segera ia menutup pintu, menyembunyikan tangisan yang ia tau sebentar lagi akan pecah.

Sesaat setelahnya, ia menatap Krystal, “Soojungie, aku ingin bicara.”

***___***

 

“Apa yang ingin oppa bicarakan padaku?” Krystal menatap sisi wajah Minho dengan kening berkerut. Minho hanya diam. “Oppa?”

Namun sebuah gerakan menyambut pertanyaannya. Minho menunduk, tiba-tiba meletakkan kepalanya di bahu Krystal. Krystal terkesiap. Satu-satunya reaksi yang mampu di keluarkan karena untuk seketika, tubuhnya menegang.

“Biarkan aku pinjam bahumu.”seru Minho pelan. “Hanya lima menit.”

Setelah itu, tidak ada suara yang terdengar. Ketika Minho berharap bebannya bisa sedikit berkurang, Krystal justru sedang sibuk menenangkan detak jantungnya. Saat ia sudah memutuskan untuk berhenti menyukai, tindakan ini kembali menariknya ke dalam dan membuatnya bimbang.

“Soojungie…” panggil Minho setelah lama diam. Krystal tidak bereaksi. “Bisakah kau menjauh darinya?” Krystal tidak mengerti dengan pertanyaan Minho itu. “Menjauhlah darinya, Soojungie.”

Dan sebuah tarikan menarik tubuh Krystal ke dalam sebuah pelukan. Minho memeluk tubuh gadis itu erat seperti enggan melepaskannya. Dengan harapan, gadis ini bisa menyembuhkan lukanya. Walaupun ia tau itu adalah hal yang egois, tapi dia benar-benar ingin pergi dari semua rasa sakit ini.

***___***

 

Atas semua kejadian yang terjadi hari ini, Krystal menjadi semakin kacau. Ia bahkan tidak bisa mengerti kemauan hatinya sendiri. Haruskah dia berhenti atau kembali melanjutkan perasaan suka ini? Yang jelas, dia sangat mengkhawatirkan Minho.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” Jessica masuk ke kamarnya, membuatnya menoleh.

“Tidak ada.”jawab gadis itu kembali mencoret-coret buku tulisnya.

“Minho atau Jongin?”tanya Jessica lagi, gadis itu duduk di tepi ranjang tidur Krystal.

Krystal langsung memutar kursinya menghadap Jessica, “Wahat do you talking about?”

Jessica tersenyum, “Jangan berbohong padaku. Kau sedang memikirkan seseorang, kan?”

Krystal terdiam. Helaan napas panjangnya terdengar berat, “I just don’t know…”

“About what? Minho or Jongin?”

Krystal melemparkan tatapan bingung pada Jessica, “Kenapa kau selalu membicarakan Jongin? Aku sama sekali tidak perduli padanya.”

“Tapi kau selalu memperhatikannya tadi.”

“Apa?” Kening Krystal semakin bekerut.

Jessica tersenyum lagi, “Aku memperhatikan kalian dari atas. Kau menatapnya secara diam-diam.”

“Hanya saja…” Adiknya itu mengendikkan kedua bahunya sambil menyandarkan punggung pada sandaran kursi. “Aku mulai berpikir jika sebenarnya dia adalah orang yang baik. I don’t know. This is weird.”

“Dia memang orang baik, kan?”

“Apa? Baik?” Krystal langsung mengeluarkan protes. “Orang seperti itu kau bilang baik?”

Jessica mengangguk, “Dia juga sopan.”

“Oh My God, dia bahkan pernah membuatku menangis. He’s bad!”

“Aku rasa dia hanya kurang perhatian.” ucapan Jessica membuat Krystal tertegun. “Buktinya, dia sangat berbeda dari yang sering kau ceritakan. Dia anak yang baik.”

Krystal tidak memberikan perlawanan apapun lagi. Nyatanya ucapan Jessica memang ada benarnya. Pria itu memang baik hanya saja…entahlah, mungkin dia memiliki masalah dirumahnya.

***___***

 

Keesokan harinya, Krystal sudah menunggu hingga pukul 1 siang namun Jongin belum juga menghubunginya. Dia sangat bodoh, harusnya kemarin dia meminta nomor pria itu juga bukan mempercayai apannya yang akan menghubunginya lebih dulu.

Apa dia masih tidur? Anak laki-laki biasanya seperti itu kan ketika hari libur? Maksudnya… kecuali Minho, si maniak olahraga itu bahkan selalu bangun pagi untuk berolahraga.

Haruskah dia bertanya pada teman-temannya? Tapi, dia juga tidak mengetahui nomor mereka. Ah! Dia bisa meminta nomornya dari Amber, gadis itu pasti memiliki nomor Jongin karena mereka cukup dekat.

Krystal membuka kunci layar ponselnya, hendak akan mencari nama Amber namun ketika ia tersadar, ia langsung menggeleng kuat-kuat.

Apa yang sedang dia lakukan? Apa dia sudah gila? Jika dia melakukannya, itu akan membuat yang lain semakin beranggapan aneh.

“Aaaaaah, menyebalkan.” umpat Krystal. Gadis itu berdiri sambil meraih tasnya kasar. “Aku akan mengerjakannya sendiri! Kau pikir aku tidak bisa melakukannya?!” entah pada siapa ia memaki.

Kemudian, ia melangkah keluar meninggalkan rumah. Tanpa sengaja, ia bertemu Minho yang baru saja pulang dari supermarket.

“Soojungie?”

“Oh, oppa?” Krystal tersenyum lebar. “Apa yang oppa beli?” ia melirik bungkus plastik yang ada di tangan Minho.

“Cemilan. Malam ini ada pertandingan bola jadi aku ingin begadang.”jawabnya. “Kau sendiri? Kau mau pergi?”

Krystal tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia lupa jika dia sudah berjanji untuk tidak berdekatan dengan Jongin lagi. Jika dia mengatakan dia akan bertemu Jongin sekarang, Minho pasti akan marah.

“Aku….” Krystal memutar bola matanya. “Aku ingin mengerjakan tugas bersama Sulli.”

“Benarkah? Mau aku antar?”

“Tidak!” Krystal langsung menggeleng. Sadar jika ia terlalu menekankan nada ucapannya, gadis itu berkata kembali dengan nada lembut. “Tidak perlu, oppa.”

“Baiklah. Tapi jika kau sudah selesai, hubungi aku. Aku akan menjemputmu. Ayo pergi ke taman Hangang setelah itu.”ajaknya.

“Taman Hangang? Eummm… baiklah!” angguk Krystal setuju. “Kalau begitu aku pergi dulu, oppa.”

***___***

 

Krystal duduk di halte menunggu bus. Ia menghela napas panjang, sedikit kesal karena Jongin tidak menepati janjinya. Yah, dia mengakui jika dia sangat bodoh dalam hal matematika. Dia tidak akan bisa menyelesaikan sisa soalnya sendirian.

“Aku harus bagaimana?”desahnya, kedua kakinya bergoyang-goyang karena dia merasa bingung.

Namun tiba-tiba ponselnya berdering. Krystal tersentak dan dengan cepat meraih ponselnya dari dalam saku jaketnya. Sebuah nomor tidak di kenal terpampang di layar. Ini pasti Jongin!

“Ya! Kau dimana? Aku sudah menunggumu sejak tadi!”omelnya begitu menjawab panggilan.

“Maaf nona.” Ini bukan suara Jongin…

Kening Krystal berkerut, “Oh, annyeonghaseo. Maafkan aku. Aku pikir—“

“Apa kau teman Jongin?”

“Y-ya, aku adalah temannya. Apa ini bukan nomor Jongin?”

“Ini adalah nomornya.”jawab pria di sebrang sana. “Bisakah kau datang kemari, nona? Aku harus pergi bekerja sekarang sehingga aku tidak bisa menjaganya.”

“Menjaganya? Apa yang terjadi?”tanya Krystal bingung.

“Aku menemukan Jongin tergeletak di depan rumahnya tadi pagi. Aku rasa dia pingsan.”

Mata Krystal sontak melebar, “Pingsan?!”pekiknya.

“Jadi, bisakah kau datang? Aku harus segera pergi.”

“Tapi—“

“Aku akan mengirimkan alamatnya. Terima kasih.”

Panggilan terputus. Dan tak lama ponsel Krystal bergetar tanda pesan masuk. Krystal terdiam sejenak menatapi layar ponselnya. Detik berikutnya, gadis itu bergerak. Ia melompat masuk ke dalam bus dan menuju suatu tempat.

***___***

 

Krystal langsung melompat turun begitu bus berhenti dan berlari menusuri jalan kecil itu. Matanya berkeliling, mencari-cari sebuah gedung apartement lama. Hingga ktika ia mulai letih berlari, ia melihat sebuah bangunan tua yang rapuh berdiri di depannya. Melirik kearah papan nama yang terpampang disana, dugaannya benar jika ini adalah tempatnya.

Gadis itu kembali berlari, menariki anak-anak tangga menuju lantai tiga. Tiga orang pria yang sedang mengobrol di lantai satu langsung menoleh begitu gadis itu berlari tak jauh di depan mereka. Ketiganya saling pandang bingung, heran apa yang mereka lihat itu kenyataan atau hanya skedar ilusi. Karena selama mereka tinggal di tempat itu, belum pernah ada seorang gadis cantik yang datang berkunjung.

“Annyeonghaseo.” Krystal langsung menyapa seorang pria yang baru saja keluar dari sebuah ruangan. “Apa kau yang menelponku tadi?”

Pria itu menatap Krystal sesaat, “Ah, kau teman sebangku?”

“Huh?”

“Di ponselnya, namamu adalah ‘teman sebangku’”

“Yah, aku adalah teman sebangkunya. Lalu dimana Jongin?”

“Dia ada di dalam.” Pria itu menunjuk ruangan yang ada di belakangnya. “Dia masih belum sadar. Tapi aku sudah mengompresnya.”

“Sebenarnya, apa yang terjadi?”

Pria itu menghela napas panjang, “Dia memang sering pingsan. Pada awalnya aku terkejut karena beberapa kali mendapatinya tergeletak di teras. Tapi dia bilang, itu menandakan jika dia sedang keletihan.”jelasnya. “Aku tidak tau. Aku sudah menyuruhnya untuk memeriksakan penyakitnya itu tapi dia bilang dia sudah pernah memeriksanya dan itu tidak parah. Hanya sakit biasa,”

“Begitukah? Syukurlah.”

“Aku minta maaf jika aku telah memaksamu untuk datang. Selama ini, aku yang selalu menjaganya. Tapi aku harus pergi bekerja sekarang dan aku tidak tau aku harus menghubungi siapa. Di ponselnya, hanya ada nomor ponselmu jadi aku menghubungimu.”

Krystal sedikit tekejut, “Nomorku?”

Dia mengangguk, “Tidak ada nomor lain. Hanya satu nomor.”ucapnya lagi. “Dan… sekali lagi aku minta maaf karena aku telah menyuruhmu datang kesini. Tapi, bisakah kau tunggu aku jika kau ingin pulang?”

“Wae? Aku tidak apa-apa jika pulang sendiri.”

“Bukan begitu maksudku. Aku tidak berniat apapun. Namun lingkungan di tempat ini sangat berbahaya. Apalagi untuk seorang gadis. Aku khawatir jika terjadi sesuatu.”

“Oh, baiklah. Aku mengerti. Terima kasih.” Krystal membungkukkan tubuhnya. Setelah pria itu pergi, gadis itu masuk ke dalam rumah Jongin.

Pria itu sedang tertidur di ranjangnya. Tubuhnya di bungkus selimut tebal dan keningnya di tutupi kain kompres. Wajahnya terlihat sangat pucat dan bibirnya menggigil. Duduk di tepi ranjang tidurnya, Krystal menatap pria itu lurus.

Bagaimana bisa dia jatuh sakit ketika kemarin dia terlihat baik-baik saja?

Gadis itu mengulurkan tangannya, membaahi kain kompresnya kembali dan meletakkan diatas kening Jongin.

Sejujurnya, dia tidak pernah menyangka jika pria ini tinggal di tempat seperti ini. Sebuah rumah yang kecil dan pengap. Bahkan dapurnya menyatu dengan ruang tidur, hanya di sekat dengan tali panjang yang ia gantungi baju-bajunya. Kenapa dia terlihat sangat menyedihkan?

“Oema…” Jongin tiba-tiba bergumam. “Oema…”

Krystal membungkukkan tubuhnya, menatap wajah Jongin dari dekat, “Jongin-ah, wae? Kau butuh sesuatu?”bisiknya.

Namun sebuah tarikan menarik lengannya hingga tubuhnya terdorong ke depan. Mata Krystal melebar. Jongin melingkarkan kedua lengannya di leher Krystal, memeluknya dalam tidurnya.

“Oema….”

TBC

 

 

 

 

 

 

 

15 thoughts on “Selene 6.23 (Long Distance Between Us) part 9

  1. ichaa berkata:

    New reader here..
    lagi nyari2 ff kaistal eh tryta disini ada yang keren cerita kaistalnya. sedih baca sampai chap ini si jongin kayak tragis gitu nasibnya.., makin penasaran sama apa yg trjd antara minho dan jongin, soojung jgan ninggalin jongin ya,kasian lagi sakit tuh..d tunggu update selanjutnya!😀

  2. lovekamjongie berkata:

    New reader here..
    lagi nyari2 ff kaistal eh tryta disini ada yang keren cerita kaistalnya. sedih baca sampai chap ini si jongin kayak tragis gitu nasibnya.., makin penasaran sama apa yg trjd antara minho dan jongin, soojung jgan ninggalin jongin ya,kasian lagi sakit tuh..d tunggu update selanjutnya!😀

  3. mongochi*hae berkata:

    hah ?!
    ak yakin masalah antAra jongin dg minho krn oemmany. buktiny aj mereka langsung syok gtu waktu ktmu

    please, ak harap soojung tdk mjauhi jongin sprti permintaan minho

    next part dtunggu

  4. atik han berkata:

    sumpah ini keren banget , sbenarnya apa masalah mereka dan sampai sekarang blum ketebak sama sekali ..
    jongin sakit ? wah suka genre yg sperti ini apa lagi castnya jongin ..
    berharap next chap ga akan update lama , jgan ngaret mulu atuh ka , sampe lumutan yg nungguin nih .. hhe
    fighting ka dipanjangin lagi ya klo bisa🙂

  5. atik han berkata:

    sumpah ini keren banget , sbenarnya apa masalah mereka dan sampai sekarang blum ketebak sama sekali ..
    jongin sakit ? wah suka genre yg sperti ini apa lagi castnya jongin ..
    berharap next chap ga akan update lama , jgan ngaret mulu atuh ka , sampe lumutan yg nungguin nih .. hhe update aja sekarang ..
    fighting ka dipanjangin lagi ya klo bisa🙂

  6. Jung Han Ni berkata:

    ada masalah apa ya jongin sama eommanya, trus apa hubungannya sama eommanya minho..
    keep writing n hwaiting eon! ^^

  7. Hanna berkata:

    Udah lama bangeett gak baca2 ff..tiba2 hari ini keinget ff ini dan udah lanjut beberapa part..
    Mmm..apa jgn2 minho sama Jongin punya ibu yg sama? Kayakny masalahny bukan cuma krna Yoona dh..
    Aq lanjut baca y thor..😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s