Forgotten Part 6 (END)

Forgotten

Author            :           IRISH

Tittle              :           Forgotten

Main Cast      :           EXO’s Oh Sehun, OC’s Kim Soojung

Supported      :           Mind’s Cast

Genre              :           Fantasy, Romance, School-life

Rate                :           T; PG-16

Lenght            :           Chapterred

Disclaimer   :           This story is entirely fantasy and created by Irish. Any resemblance to real persons or organization appearing in this story is purely coincidental. EXO Members belong to their real-life, and OC’s belong to their appearance.

“..take me anywhere with you and we will walk together forever..”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Luna’s Eyes..

“R-Rekaman?”

Soojungie.. Kim Soojung.. Kaukah itu?

Aku tersentak saat untuk pertama kalinya Sehun berteriak dalam pikirannya. Aku memperhatikan ekspresi Sehun. Ia tampak benar-benar terkejut.

Soojungie.. Soojungie.. Tidak mungkin.. Kenapa aku tidak bisa mengenalimu?

“Sehun-ah, gwenchana?”, tanyaku melihat Sehun benar-benar tampak terkejut

Tunggu. Apa mungkin.. Pikiran Soojung setiap kali melihat Sehun.. adalah karena Ia mengingat Sehun sedangkan Sehun sama sekali tak bisa mengingatnya?

Dan saat Sehun akhirnya bersikap seperti teman dekat dengannya..

Pikiran itu..

Saat Soojung berpikir bahwa Sehun sudah kembali. Apakah karena Ia berpikir Sehun sudah mengingatnya?

Jika memang benar begitu, apa mungkin.. Suara yeoja yang jadi ringtone ponsel Sehun. Suara yeoja yang Ia katakan menyukainya, cinta pertamanya, yeoja yang dikatakan berpenampilan eksentrik oleh Taeyang..

Apakah Kim Soojung orangnya?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Sehun sedari tadi tidak bisa duduk tenang. Berpuluh-puluh kali Ia berusaha menelpon Soojung. Dan dua jam setelah usaha terakhir Sehun menghubunginya, yeoja itu mengirimi pesan singkat.

Sender: 010-920-325-xxx

Aku sedang sibuk sekarang. Kita bicara lain kali saja.

Sungguh. Aku ingin berpikir jika yeoja ini benar-benar sibuk. Tapi melihat bagaimana Sehun kembali menelponnya dan Ia nyatanya mematikan ponselnya membuatku sadar, Ia menghindari Sehun.

Tidak hanya Sehun, sahabatnya sendiri, Seulhyun, mencoba menghubungi yeoja itu, tapi nihil, Ia juga mengabaikan telepon dari yeoja itu.

Kenapa Ia bersikap seperti ini?

Kenapa Ia menghindari semua orang seperti ini?

Aku baru saja akan melangkah kekamar saat ponselku bergetar pelan. Sebuah pesan masuk. Aku tersentak melihat nomor pengirim pesan itu juga nama isi pesannya.

Kim Soojung.

Sender: 010-920-325-xxx

Luna-ssi, apa kau sibuk? Ada yang ingin kubicarakan denganmu.

Ini… soal sebuah buku.

Aku segera menangkap arah pembicaraannya. Ia tak ingin Sehun menemuinya, ataupun Seulhyun. Mengingat bahwa beberapa hari lalu Ia menyaksikan dengan mata-kepalanya sendiri bagaimana keadaan dua orang itu.

Aku yakin Ia ingin bicara dengan seseorang yang bisa memberinya penjelasan. Ia tak bisa membicarakannya dengan Taeyang karena Taeyang bahkan tak pernah sekalipun bicara dengannya.

Tapi denganku? Setidaknya kami pernah duduk bersama dibeberapa sesi kelas. Dan mungkin, itu jadi alasannya sedikit merasa mengenalku dan bisa bicara padaku, dibandingkan jika Ia harus bicara pada Sehun atau Seulhyun secara langsung.

Ia juga tak mau bertemu dua orang itu karena dua orang itu membuatnya patah hati—jika benar Ia menyukai Sehun itu artinya Ia harus merelakan Sehun dan Seulhyun bersama dan itu pasti melukainya.

Tak menunggu lama, aku memberinya alamat sebuah cafe yang terletak didekat universitas kami. Ia tak mungkin mau bertemu ditempat asing. Dan universitas adalah tempat teraman.

“Baekhyun-ah, aku keluar sebentar,”, ucapku saat aku mengambil mantel dikamar, Baekhyun menatapku curiga, tapi aku segera tersenyum menenangkannya.

“Aku akan baik-baik saja,”, ucapku

“Tidak, bukan keadaanmu yang kukhawatirkan,”, ucap Baekhyun

“Lalu?”

“Seulhyun,”

“Kenapa dengannya?”

“Sehun mengingat gadis itu. Dan Seulhyun tau gadis itu adalah cinta pertama Sehun. Itu artinya, Seulhyun sekarang tau kalau Soojung adalah cinta pertama dari orang yang sudah mengubahnya menjadi vampire dan meminta untuk hidup dengannya. Tidakkah kau khawatir?”, tanya Baekhyun

Aku tersentak. Benar. Apa yang akan terjadi pada Sehun sekarang? Dua orang yang berarti dihidupnya sekarang sudah dihadapannya. Cinta pertamanya, dan orang yang sekarang ada disisinya.

Melihat kepanikan Sehun dan keterkejutannya saat tau bahwa Kim Soojung adalah sosok yeoja yang selama ini disembunyikannya, aku cukup yakin Sehun tak mau kehilangan yeoja itu.

Lalu bagaimana dengan Seulhyun? Ia baru beberapa hari menjadi seorang vampire dan emosinya belum stabil. Ia bisa saja menyerang sese—

“Bukankah aku harusnya lebih khawatir pada keadaan Soojung?”

“Mwo?”, Baekhyun menatapku, menyernyit.

“Bagaimana jika Seulhyun menyerangnya? Kau tau sendiri bagaimana emosi awal seorang vampire baru.”

Baekhyun tersentak. Ia segera berdiri, dan melangkah menghampiriku.

“Kita harus menemukan yeoja itu sebelum Seulhyun dikuasai emosinya.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku tentu tak bicara apapun pada Baekhyun tentang pertemuanku dengan Soojung sekarang. Ia mungkin bisa membawa Soojung ke tempat lain dan menyembunyikannya sampai keadaan dirumah kami stabil.

Dan kurasa hal yang akan dibicarakan Soojung benar-benar penting sampai Ia harus mencari nomor ponselku dan menghubungiku secara pribadi.

Aku sampai dengan cepat di cafe, dan kulihat, Soojung sudah duduk di sudut cafe, sendirian, menatap sekelilingnya dengan tatapan.. takut.

Kenapa Ia harus takut?

“Kau sudah menunggu dari tadi?”, tanyaku setibanya aku dimeja yang Soojung tempati.

Ia tersenyum padaku, senyum yang benar-benar terlihat tulus—atau senyum itu hanya kamuflase yang Ia kuasai?—dan menggeleng padaku. Aku kemudian duduk dihadapannya, menatapnya.

“Ada masalah apa?”, tanyaku langsung

Soojung menatapku sebentar, benar-benar memperhatikan wajahku dengan serius sampai aku berpikir yeoja ini sedang dalam tahap stres akibat masalah yang Ia hadapi. Tapi Ia kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.

“Aku ingin bicara..”

Aku sedikit terkejut saat Ia bicara. Aku menatapnya. Bukankah Ia tak bisa bicara? Dan jika Ia memaksa untuk bicara.. bukankah Ia tidak akan bisa mendengar?

“Apa itu?”, tanyaku sedikit hati-hati

“Ceritaku hanya satu diantara ribuan cerita lain yang mungkin jauh lebih menarik daripada ceritaku. Walaupun bagiku, ceritaku lah yang terbaik. Karena pada akhirnya aku bisa membawa Baekhyun ke tahun 2135, dimana aku, Baekhyun, Taeyang, dan Oppa nya yang lain, bisa hidup bersama..”

Aku terpaku. Kalimat itu.. kata-kata itu..

“Kurasa ini diary-mu, bukankah begitu?”, Ia mengulurkan sebuah buku lusuh padaku.

Benar. Buku itu. Buku tua yang kutemukan dan kujadikan sebagai pengganti pikiranku. Aku ingat aku mengukir tulisan ‘The Sun and The Moon’ di sampul buku itu.

“Dulu.. Sehun memaksaku untuk—”, aku menatap Soojung, gadis itu tampak terkesiap, kurasa Ia tak berhasil menyelesaikan kalimatnya karena suaranya menghilang.

“Mian..”, gumamnya, suaranya sekarang berbeda, pelan, sangat pelan, seperti.. berbisik.

“Jadi kau sudah tau selama ini?”, tanyaku

Soojung menggeleng.

“Aku tidak mengingatnya.”, ucapnya

“Kenapa? Bagaimana bisa?”

“Ada sebuah kecelakaan.. Yang membuat..”, Ia kembali kehilangan suaranya

Aku menghembuskan nafas pelan, dan menatap Soojung.

“Pikirkan saja apa yang ingin kau katakan. Aku bisa.. mendengar pikiranmu.”

Soojung menatapku, terkejut. Tapi kemudian Ia mengangguk.

Aku tak bisa mengingat semuanya. Aku ingat Oh Sehun. Beberapa kenangan kami. Tidak seluruhnya. Tapi beberapa hari lalu saat melihatnya juga Seulhyun dalam keadaan yang tak kuduga.. Aku mencari lagi semua buku yang sudah kubaca karena Sehun menyukainya.

“Jadi.. karena melihat mereka kemarin, kau tau tentang kami?”

Vampire? Ya.. Aku tau. Dulu Sehun selalu memaksaku untuk membaca buku fiksi, Ia bilang Ia sangat menyukai vampire, dan semacamnya itu, tapi aku tidak pernah suka hal seperti itu.

“Lalu, sekarang apa yang kau inginkan?”

“Kuharap.. Seperti kau dan Baekhyun.. Sehun bisa bahagia dengan Seulhyun.”

Aku menatap Soojung. Ia tak tampak terluka saat mengucapkan hal itu. Dan Ia bahkan bisa tersenyum. Apa sebenarnya yang yeoja ini inginkan?

Jika aku masih seorang manusia aku mungkin bisa menangis jika membayangkan penderitaan yang sudah dilalui yeoja ini. Tapi perasaanku hanya bisa sebatas merasa iba dan kasihan padanya.

“Kenapa? Kenapa kau tidak berharap Sehun akan kembali padamu?”, mulut ini akhirnya tak bisa membendung rasa penasaran.

Sebagai manusia bukankah sudah sewajarnya Ia lebih mengutamakan emosi dan keinginannya juga kebahagiaannya dibandingkan hal lain? Tapi kenapa.. yeoja ini justru mengatakan hal yang berbeda?

Dia sudah melukaiku..

“Karena Ia bersama Seulhyun?”

Bukan.. Karena Ia melupakanku. Dulu, kami pernah berjanji saat hujan, hujan yang sangat Ia sukai tapi sangat kubenci.. Kami pernah berjanji akan berteman selamanya, saat itu aku bertanya, kenapa harus selamanya? Sehun bilang karena Ia pikir aku suatu hari akan melupakannya.

Aku tak pernah melupakannya.. Tidak sedetikpun dalam hidupku aku melupakannya, Luna-ssi.. Tapi Ia.. Ia sudah melupakanku.

“Kau salah. Ia hanya tidak mengenalimu. Ia.. mengingatmu.”

Soojung tersenyum tipis.

Aku tidak begitu ingin Ia mengingatku lagi sekarang. Jika Ia melupakanku Ia akan bisa bahagia dengan Seulhyun. Aku ingin.. menata kembali hidupku yang sudah berantakan selama tujuh tahun ini.

“Kau.. kenapa kau mengharapkan hal seperti ini? Saat semua yeoja didunia ini akan mengharapkan kebahagiaan, kenapa kau senang pada keadaan ini?”, tanyaku tak percaya.

“Luna-ssi.. Kau dulunya juga manusia bukan? Apa alasan Baekhyun mengubahmu menjadi seorang vampire?”, tanyanya, suaranya terdengar lebih keras sedikit sekarang.

“Karena dia tau aku manusia yang suatu hari akan mati dan bisa bertambah tua. Sedangkan vampire hidup abadi.”

Soojung menghembuskan nafas panjang, dan mengangguk-angguk.

“Ia pasti sangat mencintaimu sampai mengubahmu menjadi seorang vampire sepertinya.”

“Eh?”

Aku tersentak. Ia mengutarakan pertanyaan yang sekaligus menjawab pertanyaanku sendiri.

Alasan Ia tidak mengharapkan Sehun untuk bersama dengannya? Adalah karena Sehun sudah mengubah Seulhyun menjadi seorang vampire.

Dan alasan Sehun mengubah Seulhyun menjadi vampire? Adalah alasan yang sama dengan alasan Baekhyun saat Ia mengubahku.

“Soojung-ssi..”

“Ah, dan juga.. Aku selalu penasaran..”

“Tentang apa?”

“Bisakah.. kau tanyakan pada Sehun.. Kenapa Ia tidak datang ke rumahku tujuh tahun lalu? Saat kecelakaan itu terjadi?”

“Kecelakaan?”

Sebenarnya.. Saat itu, hari ulang tahun kami, dan aku mengungkapkan perasaanku pada Sehun. Aku memberinya rekaman, dan kukatakan padanya bahwa aku menyukainya didalam rekaman itu.

Saat itu, aku meminta Sehun untuk datang ke rumahku malamnya jika Ia menyukai rekaman itu, dan aku memintanya untuk membuang rekaman itu, juga jangan datang ke rumahku jika Ia tidak suka rekamannya.

Tapi Ia tidak datang.. Andai saat itu aku tau ia bukan manusia.. Andai saat itu Ia datang ke rumahku.. Orang tuaku.. Mungkin tidak akan mati.. Dan aku.. Mungkin tidak harus kehilangan Sehun selama tujuh tahun..

Ah, aku sudah merekamnya, ada didalam kotak ini..

Aku terdiam. Dan seolah mengerti ekspresiku, Soojung tersenyum.

“Jangan khawatir.. Aku akan baik-baik saja bahkan tanpa dua orang itu. Keundae, Luna-ssi, bisa ku titipkan kotak ini untuk Sehun?”, tanyanya sambil mengambil kotak berukuran sedang yang sedari tadi ada dipangkuannya, dan mengulurkannya padaku.

“Apa ini?”, tanyaku

“Untuk Sehun, dia pasti mengerti.”, Soojung kemudian memperhatikanku, dengan senyuman yang masih terukir diwajahnya.

“Aku tidak bisa membayangkan bagaimana Baekhyun melalui 250 tahun untuk menunggumu, Luna-ssi..”, aku terdiam saat mendengar suara Soojung bergetar.

Aku bahkan bisa melihat matanya berkaca-kaca walaupun Ia tersenyum seolah Ia tegar dan kuat seperti dinding.

Aku tau.. Ia hancur. Perasaan dan batinnya hancur, tapi Ia tak mau menunjukkannya.

“..melalui tujuh tahun ini saja sudah membuatku ingin mati untuk melupakannya.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku masuk ke rumah dengan perasaan kacau. Keadaan yeoja itu mengusikku. Kebersamaanku dan Baekhyun tidaklah kulalui dengan kesakitan seperti yang Ia alami karena akulah yang meninggalkan Baekhyun.

“Baekhyun-ah..”, aku berucap saat Baekhyun berdiri menungguku dengan khawatir dikamar.

“Dari mana saja kau? Kenapa kau keluar begitu lama?”, tanyanya bertubi-tubi

Aku menghambur ke pelukan Baekhyun. Aku memeluknya, erat. Inikah yang ingin Soojung lakukan pada Sehun? Memeluk Sehun dengan erat dan melepaskan kerinduannya selama tujuh tahun?

“Hey, ada apa denganmu Luna?”, tanya Baekhyun

“Apakah berat?”, tanyaku membuat Baekhyun menyernyit

“Apa yang kau bicarakan?”

“Menungguku selama itu.. tidakkah berat untukmu?”

Tatapan Baekhyun melebar. Dan Ia menangkupkan kedua tangannya dipipiku.

“Luna, apa yang sudah terjadi?”, ucapnya lembut

“Aku tanya padamu, bagaimana kau melalui ratusan tahun itu untuk menungguku?”

Baekhyun terdiam.

“Rasanya aku ingin mati, tapi bagaimanapun aku berusaha membunuh diriku, aku tak bisa mati, jadi aku hanya bisa menunggumu.”

“..melalui tujuh tahun ini saja sudah membuatku ingin mati untuk melupakannya.”

Ucapan Baekhyun membuatku teringat pada ucapan Soojung.

“Lalu bagaimana dengan seorang manusia?”

“Maksudmu?”

“Bagaimana jika seorang manusia, menunggu seseorang yang dicintainya selama bertahun-tahun, tapi setelah Ia menunggu, Ia harus merelakan orang yang Ia cintai bersama orang lain untuk selamanya. Menurutmu apa yang sebenarnya Ia rasakan walaupun Ia tersenyum?”

Baekhyun berpikir sejenak.

“Kurasa sepertiku, dia juga ingin mati.”

“Dan jika Ia ingin mati. Apa menurutmu Ia akan benar-benar berusaha membunuh dirinya sendiri?”

Baekhyun mengangguk.

“Ya. Setelah menunggu dan mencintai seseorang tapi berakhir dengan terluka karena cinta tidak bisa bersatu, Ia pasti berpikir kematian lah satu-satunya cara yang bisa membuatnya melupakan semua luka itu.”, ucap Baekhyun, Ia kemudian memandangku khawatir.

“Tapi kenapa kau tiba-tiba bicara seperti ini?”

Benarkah itu? Benarkah? Ucapan Soojung bahwa Ia ingin mati untuk melupakan semuanya? Apakah Ia akan benar-benar bunuh diri?

“Baekhyun-ah.. Yeoja itu.. Kim Soojung.. Mungkinkah Ia benar-benar bunuh diri?”

“Mwo?”

“Tujuh tahun, selama tujuh tahun Ia menunggu Sehun, tapi sekarang Ia merelakan Sehun bersama dengan Seulhyun, selamanya, seperti kau dan aku. Jika ucapanmu benar, Ia mungkin juga akan mengakhiri hidupnya?”

Baekhyun tersentak.

“Dia.. Yeoja yang tak bisa bicara itu.. Dia..”

“Apa yang kau bicarakan sekarang Luna? Soojung.. Soojung-ku.. Ingin mengakhiri hidupnya?!”

“S-Sehun-ah..”

Aku sungguh terkejut mendapati Sehun nyatanya mendengar pembicaraan kami. Dan tak hanya Sehun, Seulhyun juga ada disana. Tidak seperti Sehun yang sudah bisa mengontrol emosinya, Seulhyun tampak marah, sangat marah. Ia bahkan tak bicara apapun.

“Kau bertemu dengannya? Kau bertemu dengan Soojung?”, tanya Sehun

“Hanya.. sebentar.”, ucapku

“Dimana dia? Aku harus bicara dengannya.”

“Tidak. Sehun, bicara dengannya hanya akan memperburuk masalah.”, cegahku

“Mwo?”

“Jangan menemuinya.”

Ekspresi Sehun mengeras, Ia bahkan menyentakkan tanganku, dan hal itu membuat Baekhyun segera menahannya.

“Sehun, jaga emosimu.”

“Tidak. Hyung, lepaskan aku.”

“Sehun! Sadarlah! Apa yang kau pikirkan huh? Kau ingin menemui Soojung? Untuk apa? Kau sudah punya Seulhyun sekarang. Ingat itu!”

Sehun terhenti. Ia menatapku dan Baekhyun bergiliran.

“Hyung.. Luna.. Tujuh tahun.. Selama tujuh tahun aku berharap bertemu dengan gadis aneh itu lagi. Dan sekarang.. Saat aku bisa menemuinya, kalian mencegahku?”

“Kenapa sekarang?”

“Mwo?”, Sehun menatapku

“Kenapa kau baru menemuinya sekarang? Bagaimana dengan tujuh tahun lalu? Kenapa kau tidak menemuinya?”

“Luna.. Apa yang kau bicarakan?”, tanya Baekhyun

Aku menatap Sehun. Benar. Sungguh benar jika Soojung mempertanyakan hal itu. Kenapa Sehun harus sekhawatir ini padanya jika Sehun bahkan memilih untuk bersama dengan Seulhyun?

Bukan maksudku ingin menghakimi Seulhyun dan Sehun, hanya saja, aku merasa ini sungguh tidak adil bagi Soojung.

“Tujuh tahun lalu?”

“Saat Ia mengungkapkan perasaannya padamu. Kau tidak ingat? Rekaman itu.. Ringtone ponselmu.. Itu suara Soojung bukan?”

“Benarkah itu Sehun-ah?”, kali ini Seulhyun ikut angkat bicara

“Ya.. Itu memang suara Soojung.”

“Jika kau mengkhawatirkannya sekarang, kau salah Sehun. Tujuh tahun lalu, kenapa kau tidak datang ke rumahnya jika kau memang mengkhawatirkan yeoja itu? Jika kau memang tidak menyimpan perasaan apapun padanya, kenapa kau masih menyimpan rekaman itu? Soojung mengatakan padamu untuk menghapus rekaman itu jika kau tidak menyukainya bukan?”

“Ya. Dia memang berkata begitu.”

“Lalu? Apa yang sekarang kau lakukan?”

Sehun tertawa pelan.

“Ia bilang, jika aku tidak suka rekamannya, bukan berarti aku tidak menyukainya. Alasan kenapa aku tidak datang.. karena aku tidak suka rekaman itu. Aku sungguh tidak suka. Karena Ia mengungkapkan perasaannya lebih dulu padaku.

“Yang aku inginkan.. adalah mengungkapkan perasaanku lebih dulu padanya. Yeoja itu.. Soojungie.. Tak bisa kukatakan bagaimana aku sangat menyukainya, aku ingin memilikinya lebih dari apapun didunia ini.

“Seperti saat ketika Baekhyun hyung yang tidak mau kehilangan Taeyang maupun kau, perasaanku pada Soojung saat itu.. Ia benar-benar merenggut segalanya dariku. Tapi kenapa Ia harus mengungkapkan perasaannya?

“Didunia ini, dimana ada seorang namja yang suka saat yeoja yang Ia sayangi mengungkapkan perasaan lebih dulu padanya?”

Ucapan Sehun kali ini membuatku tersentak.

“Aku menyayangimu, Baekhyun-ah..”

“Kau tidak seharusnya mengucapkan itu Luna, akulah yang lebih dulu menyukaimu, Luna, saranghaeyo..”

“Apa itu seperti..”

“Benar Luna, seperti saat aku tidak suka mendengar kau mengatakannya lebih dulu padaku. Aku mengerti alasan Sehun.”, ucap Baekhyun disampingku

“Bodoh.. Kau bodoh Oh Sehun..”

“Benar. Aku bodoh. Karena aku tidak datang hari itu, dia malah pergi. Aku yang bodoh?”, tanya Sehun

“Oh Sehun! Yeoja itu tidak—”

“Dia tidak meninggalkanmu, Sehun-ah.”

“Apa?”, kali ini Sehun menatap Seulhyun dan aku bergiliran

“Jadi.. Rekaman yang digumamkan oleh Soojung saat itu.. adalah saat Ia mengungkapkan perasaannya padamu?”, tanya Seulhyun

“Maafkan aku Seulhyun-ah..”

“Sehun-ah.”, aku kembali bicara

“Apa kau tau apa yang terjadi pada Soojung?”

Sehun diam. Ia masih menatap Seulhyun. Aku tau Ia pasti bingung. Ia tak bisa memilih seseorang yang lebih disayanginya.

“Kau tau apa yang ingin Ia katakan padamu?”, tanyaku

Sehun menatapku, dan menghembuskan nafas panjang.

“Apa itu?”

Aku mengambil kotak di atas meja yang ada dikamar, dan mengambil perekam berwarna biru yang ada disana.

“Ini..”, Sehun mengambil perekam itu dengan tatapan tak percaya

“Dengarkan, dan kau akan mengerti.”

“Sehun-ah.. Kau mendengarku? Ini.. benar-benar kau bukan? Namja aneh yang tak punya teman saat aku disekolah menengah. Namja yang sangat suka apel, sangat suka mengatur hidupku, mengomentari semua yang kulakukan.. Ini benar-benar kau?

“Bogoshipeo.. Kenapa kau sama sekali tidak berubah? Wajahmu, suaramu, sifatmu, semuanya masih sama seperti dulu. Hanya saja, kau punya lebih banyak teman sekarang. Seulhyun.. Sepertinya aku tidak harus mengutip kata-kata indah dari novel untuk kau jadikan surat cinta untuknya bukan?

“Sehun-ah.. Hari itu.. Kenapa kau tidak datang? Ah, kau pasti tidak menyukaiku. Lagipula, untuk apa kau menyukai yeoja kutu buku aneh sepertiku, iya kan? Kau suka yeoja modis seperti Seulhyun.

“Tapi.. Andai saat itu aku tau kau bukan manusia.. Andai saat itu kau datang ke rumahku walaupun untuk menolakku, meledekku.. Orang tuaku.. Mungkin tidak akan mati.. Bodoh. Apa kau benar-benar temanku? Kenapa kau tidak datang dan menyelamatkanku hari itu?

“Tsk, gwenchana, kau tidak perlu minta maaf, aku tidak suka karena kau masih saja minta maaf dengan tidak rela. Ah, ngomong-ngomong, novel terakhir yang kau berikan padaku, kau memberikannya karena kau tau hal ini akan terjadi bukan?

“Cerita gadis itu benar-benar sama sepertiku. Jadi.. Jaga Seulhyun baik-baik, arraseo? Ah.. Aku bicara sangat banyak, kurasa aku tak akan bisa bicara lagi setelah ini. Sehun-ah, walaupun aku menyukaimu, kita tetap berteman bukan?

“Kau tidak harus menyukaiku juga, aku sadar, jika seseorang menyukai dua orang.. Dia harus memilih orang kedua. Karena apa? Karena kalau Ia benar-benar menyukai orang pertama, Ia tidak akan menyukai orang kedua itu.

“Jadi.. berbahagialah dengan Seulhyun.. Aku.. Akan melihat kalian bahagia, dari langit, aku akan melihatnya bersama Eomma dan Appa. Aku akan menceritakan pada mereka tentangmu. Mulai sekarang.. Kau boleh benar-benar lupa padaku, toh aku juga sudah kau lupakan sejak dulu.

“Suatu hari.. Kita akan bisa bertemu kembali, dan kalau itu terjadi.. Kita bisa mulai berteman lagi. Tidak seperti dulu saat aku tidak pernah mau kau ajak kemanapun, jika kita bertemu lagi, bawa saja aku kemanapun, walaupun tempat itu mengerikan, tapi jika itu bersamamu, aku akan berjalan bersamamu, selalu.. Karena aku.. akan selalu jadi teman terbaik untukmu, teman yang sangat menyayangimu..

“Selamat tinggal.. Sehun-ah..”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Soojung’s Eyes..

Aku mengerti mengapa gadis itu memilih mengakhiri hidupnya. Aku sungguh mengerti. Karena sekarang aku benar-benar ada diposisi yang sama dengannya. Mencintai seseorang, dengan teramat sangat.

Oh Sehun..

Bahkan memikirkan namanya saja sudah membuatku tersenyum. Cinta pertamaku. Cinta yang tak pernah terbalas. Tapi juga cinta yang memberiku pelajaran sekaligus kepercayaan, bahwa hal-hal yang bukan manusia itu benar-benar ada.

Aku tak yakin apa Sehun marah dulu saat aku mengatakan bahwa vampire tidak ada. Aku tidak tau. Karena Ia tak pernah memberitahuku. Tsk, apa aku benar-benar temannya? Ia bahkan tak pernah mau berbagi rahasia apapun denganku. Sungguh mengesalkan.

Tapi.. Jika Ia akhirnya bahagia dengan sahabatku, apa lagi yang bisa kuperbuat? Mereka bahkan sekarang sama-sama seorang vampire. Dan aku tidak ingin muncul dikehidupan mereka jika hal itu hanya akan membuat mereka tidak merasa nyaman.

Tidak.

Aku takut.

Aku takut pada diriku sendiri. Aku takut kenanganku bersama Sehun akan mencabik diriku sendiri dan membunuhku secara perlahan. Jadi.. daripada harus menunggu sampai kenangan itu membunuhku, bagaimana jika aku saja yang membunuh kenangan itu?

Aku memejamkan mataku saat merasakan angin dingin menyapu kulitku, meniup rambutku. Kebebasan. Hal yang hanya aku rasakan saat aku berada di ketinggian, sendirian.

Aku menatap ke bawah. Tanah kosong menungguku. Dan aku menatap ke langit. Kedua orang tuaku menungguku. Sayang sekali, aku hanya jatuh cinta sekali dalam hidupku, dan aku.. tidak jatuh cinta pada orang yang tepat.

Dari semua namja, kenapa harus Oh Sehun? Kenapa namja aneh bodoh anti-sosial itu? Kenapa harus namja yang terus mengatur hidupku itu? Seandainya aku bisa jatuh cinta lagi, bisakah.. aku tidak jatuh cinta pada seseorang sepertinya?

Masa bodoh.

Aku menatap lembaran kertas lusuh ditanganku. Bagian halaman yang kurobek dari novel terakhir yang kubaca.

Gadis itu tersenyum walaupun Ia sebentar lagi menemui ajalnya. Ia tersenyum karena Ia bisa membuang cintanya, karena kematian akan menelan cintanya. Ia tersenyum karena Ia sudah mengutuk laki-laki itu untuk tidak hidup bahagia tanpa dirinya.

Ia begitu mencintai laki-laki itu, tapi laki-laki itu mencintai seorang lain yang membuat gadis itu tak lagi sanggup menyimpan cintanya. Hembusan angin. Dinginnya tanah. Hampanya langit.

Adalah persinggahan terakhir bagi gadis itu.

“Sehun-ah.. Aku.. Mencintaimu.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

EPILOGUE.

Kim Soojung.

Dia disana.

Aku memperhatikan namja itu. Ia duduk dihalte, sendirian, dan memang selalu sendirian. Ditelinganya terpasang headset berwarna putih, hmm, lagu apa yang kira-kira tengah Ia dengarkan?

Aku melangkah pelan mendekati halte, aku pernah beberapa kali naik bus bersama dengannya, tapi Ia selalu turun lebih dulu daripada aku. Kurasa rumahnya beberapa blok sebelum rumahku.

Entahlah, aku tak pernah mengikutinya. Eh? Mengikuti? Haruskah aku mengikutinya sampai dirumah hari ini?

Ah.. Aku seperti penguntit.

Tapi, bukankah aku lebih punya keberanian untuk menguntit daripada bicara padanya? Lagipula, dia sepertinya sangat tempramen. Anak-anak dikelas saja tak ada yang berani bicara dengannya. Dia pasti punya kontrol emosi yang buruk.

Dia juga tidak punya teman.

Ah! Itu dia busnya.

Saat namja itu naik ke atas bus, dengan sealami mungkin aku ikut masuk, aku berusaha agar Ia tidak menyadari aku tengah memperhatikannya. Tunggu, memangnya kenapa? Kami memang sama-sama naik bus ini dalam perjalanan pulang bukan? Dia juga tidak akan tau kalau aku benar-benar naik bus ini atau hanya ingin mengikutinya.

Ia berdiri didepan seorang ahjussi, tatapannya tertuju pada buku tebal bersampul gelap ditangan kirinya. Secara tidak sadar aku memicingkan mataku, berusaha melihat lebih jelas.

Novel? Mungkinkah? Melihat tulisan yang begitu banyak dihalaman yang dibukanya sekarang, aku yakin Ia tengah membaca sebuah novel. Tangan kanannya berpegangan erat pada ring yang ada di bus.

Tanpa sadar, aku tersenyum. Dia sepertinya anak rajin yang sering membaca buku. Ia juga sering ke perpustakaan. Dan dikelas Ia selalu membaca.

Ah.. Dia pasti benar-benar pintar.

Aku tersentak saat tiba-tiba saja Ia menoleh, menatapku. Sungguh. Ia benar-benar menatapku. Dan hal itu membuatku segera mengalihkan pandanganku darinya. Bodoh. Bodoh.

Aku meliriknya dari celah-celah kecil yang tercipta diantara rambutku yang terurai, dia sudah tampak sibuk dengan novel itu lagi. Syukurlah, dia pasti hanya sekedar melihat saja tadi.

Aku memandang keluar, sebentar lagi Ia akan turun. Aku mengenali jalanan dengan deretan pohon kecil disepanjang trotoarnya.

Tak lama, bus berhenti. Dan secara otomatis aku melemparkan pandanganku ke arahnya. Ia melangkah turun melalui pintu belakang, dan karena aku lebih dekat dengan pintu depan, aku juga ikut turun.

Aku berencana mengikutinya hari ini bukan?

Ia berjalan ke arah sebuah jalanan kecil, dan dengan hati-hati juga menjaga jarak, aku mengikutinya. Dengan penampilannya yang seperti itu, kira-kira seperti apa rumahnya?

Aku menggeleng pelan. Aku benar-benar seperti penguntit. Astaga.

Ia berbelok ke sebuah gang kecil, dan dengan cepat aku mengikutinya. Tapi aku dikejutkan saat Ia tak ada disana. Gang kecil ini hanya bisa dilewati dua orang, dan sejauh kira-kira sepuluh meter, hanya ada dinding di kiri dan kanan gang ini.

Aku melangkah menyusuri gang itu, tidak ada pintu rahasia di sepanjang gang ini. Aku ingat dengan jelas dia hanya tiga atau empat didepanku, dan aku juga tidak mendengar suara langkahnya berlari.

Bagaimana bisa Ia melewati gang ini dengan cepat? Apa dia menghilang?

Dengan sedikit berlari aku sampai di ujung gang. Dan saat aku menoleh ke kiri, aku mendapatinya sudah berjalan cukup jauh dariku. Apa Ia masih akan berjalan jauh? Ia masih juga berjalan sambil tertunduk, melihat tangan kirinya yang tertekuk, aku yakin Ia masih membaca buku tadi.

Aku berdiri ditempat yang sama, dan terus memperhatikannya.

Kurasa Ia masih berjalan cukup jauh. Aku ingin mengikutinya, tapi jika Ia benar-benar berjalan jauh, aku takut aku tidak akan bisa menemukan jalan kembali ke halte. Aku juga tidak mungkin bertanya padanya jika aku tersasar bukan?

Aku tersenyum saat Ia sekarang sudah tampak sangat jauh dariku.

Dia.. Teman sekelasku yang paling misterius. Dan namanya, Oh Sehun.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Oh Sehun.

Yeoja itu mengawasiku lagi. Dari balik sebuah tembok. Membiarkan kulitnya terbakar matahari terik disiang hari. Sudah berapa kali Ia bertindak seperti itu padahal nyatanya Ia naik bus yang sama denganku? Kenapa Ia tidak duduk saja dihalte, Ia juga bisa menatapku seperti itu.

Ah, benar, dia tidak tau kalau aku tau Ia mengawasiku. Setiap hari aku hanya tau Ia naik dengan terburu-buru ke dalam bus, dan Ia kembali mengawasiku dalam diam. Yeoja kutu buku itu..

Beberapa hari lalu Ia hampir mengikutiku sampai ke rumah. Entah apa yang menghentikannya, tapi aku tau Ia tidak lagi mengikutiku di keesokan harinya, atau esoknya lagi.

Haruskah kukerjai Ia sedikit hari ini?

Aku melepaskan headset yang sedari tadi terpasang ditelingaku, dan aku bisa mendengar bagaimana Ia berdecak pelan karena kelelahan berdiri dibawah terik matahari sementara bus yang selalu kami naiki tidak kunjung datang.

Dengan iseng, aku menoleh ke arahnya, membuatnya langsung terbelalak dan menenggelamkan dirinya dibalik tembok.

Tidak akan lama dia pasti mengintip lagi.

Satu.. Dua.. Tiga..

Benar bukan? Dia mengintip lagi. Dan kali ini dengan bonus, kupergoki.

Aku segera menudingkan jari telunjukku padanya, membuatnya menatapku dengan tatapan polos, sebelum Ia menunjuk dirinya sendiri.

Aku mengangguk, dan memberinya isyarat untuk datang ke halte.

Yeoja ini benar-benar polos. Tatapan tidak berdosanya terus terarah padaku sementara kakinya melangkah ke halte.

“Apa kau punya halte sendiri?”, tanyaku membuatnya mengerjap cepat

“Nde?”

“Kenapa kau selalu berdiri disana setiap menunggu bus?”, tanyaku kali ini membuat tatapannya membulat, terkejut.

Terkejut karena aku tau tentang hal itu?

“Duduklah,”, ucapku, dan tanpa berkomentar apapun Ia kemudian duduk, disebelah—ani, sedikit jauh dariku.

Beberapa lama kami sama-sama terdiam. Dan hal ini membuatku geli. Seingatku yeoja ini sangat berisik saat ada dikelas.

“Itu.. Sehun-ssi..”

“Ya?”

Ia baru saja akan bicara lagi, tapi kemudian Ia menutup mulutnya dan diam. Tak tahan dengan keadaan kikuk ini, aku terkekeh geli, dan menggeser dudukku mendekatinya.

“Kau suka mendengarkan lagu?”, tanyaku

“Ah, ya, aku suka,”, jawabnya

Aku mengulurkan satu headsetku padanya, dan Ia menerimanya dengan ragu.

“Aku suka lagu lowbeat, bagaimana denganmu?”, tanyaku

“Itu.. Aku suka lagu yang ceria.”

Aku menyernyit.

“Aku pernah melihatmu beberapa kali diperpustakaan, dan kau juga sering membaca buku. Buku apa yang sering kau baca?”, tanyaku

“Aku tidak suka membaca buku. Tapi.. Aku sering membaca buku science. Kau sendiri?”, Ia kali ini menatapku sembari memasang headset itu ditelinganya

“Fiksi.”, jawabku

“Fiksi?”, aku mendengarnya tertawa pelan

“Kenapa?”, tanyaku

“Tidak, cerita fiksi.. Agak kekanak-kanakkan.”, ucapnya pelan

“Benarkah? Kau pernah membaca cerita fiksi?”, tanyaku

Ia menggeleng, membuatku tersenyum.

“Kalau begitu cobalah baca.”, tawarku

“Cerita fiksi jenis apa?”, tanyanya dengan alis berkerut

“Vampire.”

Tanpa sadar, aku tau Ia bergidik.

“Kenapa? Kau tidak suka?”

“Aku tidak percaya hal-hal seperti itu.”, ucapnya

“Kenapa? Mungkin saja mereka benar-benar ada bukan?”, ujarku, yeoja ini tidak percaya bahwa vampire ada? Haruskah ku beritahu padanya bahwa sosok yang sekarang bicara padanya adalah seorang vampire? Hahaha, dia pasti akan pingsan.

“Tidak mungkin, kalau ada, mereka pasti benar-benar menyeramkan.”

Aku menyernyit. Menyeramkan? Aku tidak berpikir kalau aku menyeramkan.

“Ah, busnya datang.”

Aku memandang sekilas bus berwarna hijau dihadapan kami, dan aku segera tersenyum padanya.

“Ayo naik,”

Ia mengangguk dan mengikuti langkahku. Kebetulan sekali ada kursi kosong dibelakang bus, jadi dengan cepat aku menariknya dan duduk disana.

“Ah, ngomong-ngomong, apakah itu benar?”

“Tentang apa?”

“Ibumu. Dia adalah seorang novelis. Benarkah?”

Yeoja disampingku mengangguk.

“Ya. Dia seorang novelis.”

“Yang menulis buku ini?”, aku menunjukkan sebuah buku padanya, dan dengan ragu, Ia mengangguk.

“Eomma mu menulis buku fiksi tapi kau tidak suka cerita fiksi?”, tanyaku

Ia tersenyum tipis dan mengangguk.

“Apa kau mau mengajakku ke rumahmu kapan-kapan? Aku ingin tau seperti apa Eomma mu. Aku sangat suka bukunya.”

Ia menatapku sejenak, sebelum akhirnya mengangguk.

“Tentu saja, Eomma pasti senang kalau tau kau sangat suka buku fiksi.”

“Ah, tapi, apa kau ada waktu senggang nanti?”

Kali ini Ia menyernyit.

“Memangnya.. kenapa?”

“Apa kau mau membaca buku ini?”, tawarku, menunjukkan satu buku lain.

“Membaca buku?”

“Ya. Aku tidak bisa membaca empat buku dalam waktu satu hari. Dan juga, hari ini aku ingin membaca buku Eomma mu. Tapi buku-buku ini harus dikembalikan besok ke perpustakaan kota. Kau tau bagaimana susahnya meminjam buku disana bukan?”

“Ya.. Aku tau..”

Ia masih menatapku dengan tatapan polosnya yang membuatku gemas.

“Jadi, bagaimana kalau kau baca buku ini, dan menceritakannya padaku besok?”

“Tapi aku tidak suka—”

“Ayolah.. Kau bahkan sangat beruntung karena Eomma mu pasti sering menceritakan banyak hal padamu. Eomma ku tidak pernah menceritakan cerita seperti ini.”

Ia tampak menimbang-nimbang sebentar, tapi kemudian Ia mengangguk.

“Baiklah,”, ucapnya

Aku meletakkan buku itu dipangkuannya.

“Aku akan menunggu ceritamu besok,”, ucapku sembari berdiri, bus sudah berhenti dihalte tempat aku biasanya turun.

“Keundae, Sehun-ssi..”

“Ya?”, aku menoleh, menatapnya.

“Apa.. kita bisa berteman?”, tanyanya ragu

“Kau benar-benar ingin berteman denganku Kim Soojung?”, ucapku setelah terdiam beberapa saat.

Ia mengangguk, dan tersenyum padaku.

“Baiklah, kita berteman. Sampai jumpa!”

Aku turun dari bus, dan kulihat bus itu berjalan pelan meninggalkan halte. Aku bisa melihat yeoja itu dari sini.

Satu.. Dua.. Tiga..

Seperti dugaanku, Ia melongokkan kepalanya dari jendela, dan melambai padaku. Kubalas lambaiannya dan aku tersenyum.

Kim Soojung..

Kim Soojung..

Kim Soojung..

Namanya sekarang berputar-putar dalam pikiranku, terekam jelas dalam ingatanku. Kim Soojung.

Kami tercipta dalam fisik yang beku. Dan tak memiliki perasaan. Selama ini tak satupun hal manusia disini yang membuatku tertarik.

Tapi gadis ini.. Ia langsung memenuhi benakku di hari pertama kami bicara.

Kurasa, cepat atau lambat aku akan menyukainya.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Kim Soojung

Aku tidak seharusnya memberikan rekaman itu pada Sehun. Ugh. Bodoh. Kau sangat bodoh Kim Soojung.

Sekarang aku tidak bisa tenang menunggu malam tiba.

Bagaimana jika Sehun tidak datang? Ah. Membayangkannya saja sudah membuatku begitu merasa sedih.

Tapi bagaimana jika Ia datang? Bagaimana aku harus menjelaskan rekaman itu? Bagaimana jika Ia datang hanya untuk mengatakan bahwa Ia tak menyukaiku?

“Aigoo, kenapa kau menghabiskan waktumu untuk melamun Kim Soojung?”, aku mendongak, menatap Eomma yang berdiri diujung pintu kamarku, sementara senyum terpasang diwajahnya.

“Ah, Eomma, aku tidak melamun,”, kilahku

Kucoba mengalihkan pikiranku dengan membereskan buku-buku yang ada didalam tasku. Mengeluarkannya, dan menatanya satu persatu dimeja.

Tatapanku terhenti pada sebuah buku yang tadi Sehun masukkan secara paksa ke dalam tasku. Cerita apa lagi yang Ia ingin kubacakan untuknya?

Aku membuka halaman depan buku itu, dan tersentak melihat selembar kertas yang ada disana.

‘Soojungie, kau tau yeoja kelas sebelah yang bernama Seulhyun itu? Kurasa aku menyukainya. Bisakah kau mencari kata-kata indah di novel ini untuk ku jadikan surat cinta untuknya? Kekeke~’

Tidak.. Tidak mungkin.

Tentu saja Soojung.. Sehun tidak akan datang malam ini.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Oh Sehun

“Sehun-ah.. Jowahae..”

Aku tertegun ketika mendengarkan lagi rekaman yang Soojung berikan padaku. Soojung menyukaiku. Ia mengungkapkan perasaannya padaku.

“Sangat jarang melihatmu tetap di rumah dihari ulang tahunmu.”

Aku menatap Baekhyun hyung yang kusadari pasti sudah memperhatikan tingkah lakuku sedari tadi.

“Aku tidak sedang dalam mood yang baik.”, jawabku

“Biasanya kau selalu keluar seharian.”, ujarnya

Ya. Memang. Biasanya aku selalu bersama Soojung. Tapi hari ini?

“Kurasa aku akan dirumah saja hari ini.”

“Kenapa?”, tanya Baekhyun hyung, curiga.

Aku mengusap tengkukku, tak ada satupun dirumah ini yang tau jika aku berteman dengan Soojung. Baekhyun hyung tentu akan terkejut jika aku memberitahunya tentang Soojung bukan?

“Sehun? Apa ada hal buruk terjadi?”, tanyanya dengan nada khawatir.

Aku menatap Baekhyun hyung, cahaya yang biasanya ada disekitar tubuhnya tentu meredup saat Ia khawatir seperti ini. Dan juga, jika kuingat lagi, sudah berpuluh tahun berlalu sejak kami terakhir kali berjengit karena cahaya milik Baekhyun hyung.

“Bukan hal buruk, hanya saja, aku bingung.”

Baekhyun menyernyit.

“Bingung? Tentang masalah apa?”

Aku terdiam sejenak. Menceritakan masalah ini tak akan menyelesaikan masalah. Satu-satunya jalan adalah menghadapinya.

“Hyung, kau dan Luna akan pergi ke masa lalu lagi?”, tanyaku akhirnya

“Hmm, ya. Kurasa kami akan pergi selama empat atau lima hari.”

“Bisa aku ikut dengan kalian?”

“Apa?”, Baekhyun hyung tampak terkejut.

Tapi aku tak punya pilihan lain.

“Aku tak ingin berada di tempat ini sementara waktu.”

“Sehun, sesuatu yang buruk benar-benar terjadi?”

Aku mengangguk pelan. Membohonginya terus-terusan juga tidak mungkin. Cepat atau lambat seisi rumah ini akan curiga.

“Aku mulai tidak suka berada didekat manusia.”

Baekhyun hyung tampak terkejut.

“Kurasa tiga puluh tahun lalu kau berhenti bicara seperti ini. Apa ada masalah? Ada manusia yang mengusikmu? Atau Ia tau kau seorang Vampire?”

“Tidak. Aku hanya tidak ingin bertemu dengannya untuk sementara.”

Fin.

Okeh😄 sekali lagi thanks banget buat kak Oh Mija :3 karena udah berbaik hati meluangkan waktunya ngepost fanfict2 kiriman dariku~~ aku bener-bener berterima kasih😄 dan juga akhirnya fanfict ini END😄 yes! Thanks banget buat semuanya yang udah nyempetin baca fanfict ini :3 I really appreciate it! Thanks a lot! With love, IRISH.

P.S: want to know me well? Just come here~

18 thoughts on “Forgotten Part 6 (END)

  1. ellalibra berkata:

    Ngegantung kynya eon,, jd soojung bunuh diri ,,ky disini yg paling tersiksa sm perasaanya soojung deh , sehun ky pengecut prg gt ja jd soojung trs berharap sm sehun ,, tp knp sehun msh khawatir sm soojung ,,ini g adil bgt bt soojung hh ,,sad end ,,,

  2. heyitsbii berkata:

    KAK IRISSHHHHHH…. INI APAANNNN…. NAPA SOOJUNG JADINYA GITUUU ?? SUMPAH GAK IKHLAS KALO AKHIRNYA SEHUN HARUS SAMA SEULHYUN

    Ihh sampe nangis aku bacanya yaAllah. Bayangin epilog sama cerita yg skrg itu rasanya beda bangeettt gituu… yg dulu as sweet as sugar, yg skrgnya malah as bad as cat’s poop. Ehh tapi sehun akhirnya beneran sama seulhyun ? Ato sehun sama seulhyun tapi gaada perasaan ? Trs kalo sehun beneran suka sama soojung, napa dia minta soojung buat cariin kata2 di buku itu ?

  3. kirito berkata:

    Ah sad ending -_- sehun jahat kasian soojung.. tau ah kenapa harus sad ending kak??? Aku sedihhh soojungnya kasian… sehun jahat.. kamu nyesel hunnie .. masa sihh ga bisa nunggu aja sebentar.. soojung aja bisa nunggu 7 taun kenapa kamu nggak??!! Ahhh kecewa sama hunnie >< bagus kak makasih karna sudah membuat salah opini aku hahhhh.. keep writing fighting!!!

  4. myze berkata:

    dunia bnr2 g adil utk soojung,q bnr2 penasaran dg reaksi sehun saat tau soojung meninggal n juga q penasaran,klu sehun mengaku mencintai soojung juga n alasan dia g dtg mlm 2 krn dia mrh krn soojung mengungkapkn perasaannya terlbh dulu,lalu npa sehun memberi soojung novel yg didlmnya terdpt srt cnt utk seulhyun?q bnr2 pnsrn

  5. Vera berkata:

    sad ending??
    author, I need sequel. buat Sehun and Soojung hidup bahagia, kayak misalnya tiba² Sehun datang trus nyelamatin soojung trus dia berubah jadi vampire gitu
    buat seulhyun cari pasangan lain aja

  6. kkamnda berkata:

    Akh eonni, bnran Soojung.a bunuh diri n mati? Mungkin d selamatin Sehun atau apa kek, hufftt
    Oke aku mau kasih beberapa kalimat setiap aku selesai baca ff. Aku suka sma gaya bahasa yg eonni pke, sederhana tidak terlalu puitis dan mudah dimengerti. Mungkin kalau bahasa.a terlalu puitis di ff fantasy kya gni bakalan tambah ribet dan sulit dimengerti, dan aku suka semua-mua karya eonni ^^
    Sampai jumpa di ff sequel ‘Forgotten’ paipai eon

  7. kkamnda berkata:

    Akh aku mau komentar lgi deh, krna ini kesalahanku tidak membaca dg cermat n teliti aku kira ‘Forgotten’ punya sequel, tpi ternyata ‘Forgotten’ adalah sequel dri ‘Mind’ hahaha mian eon. Btw eonni selalu saja ngasih sad ending😦

  8. denia berkata:

    Thor please deh ini kenapa sad ending
    isssh sumpah greget banget sama sehun
    Hiks kasihan soojung tuh beneran jadi gadis yang kayak di novel tuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s