Bangtan’s Story [Jungkook’s Version] : I Need You part 6

BTS - i need you

Tittle  : I need You

Author  : Ohmija

Main Cast  : Jeon Jungkook, Kim Saeron

Support Cast  : V, Rap Monster, Jin, Suga, Jhope, Jimin BTS, Shannon William, Wendy & Seulgi Red Velvet, Seunghee CLC, Kim Jisoo, Park Jinny.

Genre  : Romance, School Life, Friendship

“Apakah kau sudah makan?” Saeron membuka tutup bekal makanan yang ia bawa. Gadis itu duduk bersampingan dengan Jungkook di sebuah kursi kayu.

Jungkook mengangguk, “Aku mendapat jatah makan siang tadi.”

“Benarkah?”

“Eum. Kau terlalu mengkhawatirkan hal itu.” angguk Jungkook.

Saeron langsung memajukan bibirnya ke depan, “Bagaimana aku tidak khawatir? Kau bahkan tidak membangunkanku ketika kau pergi bekerja. Setidaknya, aku bisa menyiapkan sarapan untukmu.”

Jungkook mendengus, “Aku sudah membangunkanmu tapi tidurmu sangat nyenyak. Kau bahkan mendengkur.”ucapnya berbohong.

Mata Saeron sontak membulat, “Benarkah? Aku mendengkur?”

“Yah, kau mendengkur dan berbicara dalam tidurmu.”

“Tidak mungkin. Kau pasti berbohong.”

“Ya, aku mendengarnya dan melihat ekspresimu ketika kau sedang tidur. Kau juga—“

“Hentikan!” Gadis itu menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. “Aku tau kau pasti sedang berbohong. Aku tidak mendengkur dan tidak berbicara ketika aku tidur!”tegasnya tidak terima. Kedua tangannya terlipat di depan dada sambil memalingkan wajah kearah lain.

Jungkook hanya tersenyum geli, “Ngomong-ngomong, apa kau yang membuat semua ini?”

“Tentu saja! Apa kau pikir Namjoon sunbae yang melakukannya?”ketus Saeron masih kesal.

“Tapi, bisakah aku memakannya nanti?” Pertanyaan itu membuat Saeron menoleh, kembali menatapnya. “Aku harus kembali bekerja. Jika atasan melihatku sedang duduk disini, aku bisa di marahi.”

“Huh, tapi…”

“Aku akan memakannya nanti.”ujar Jungkook meyakinkan. “Duduklah disini, tersisa setengah jam lagi sebelum pekerjaanku berakhir.”

Jungkook menepuk pundak Saeron lalu memakai kostum kepalanya dan kembali bekerja. Di tempatnya Saeron menghela napas panjang. Apa dia harus melakukan pekerjaan itu? Kostumnya bahkan terlihat sangat besar. Apa dia bisa bernapas dengan baik di dalam sana?

Menatap pria itu selama beberapa saat, akhirnya Saeron berdiri. Ia menghampiri Jungkook yang sedang sibuk membagikan brosur. Merampas sebagian lembaran brosur yang di pegang pria itu. Seketika Jungkook menoleh, entah apa yang ia katakan karena Saeron tidak bisa mendengarnya dengan baik.

“Aku akan membantumu.”ucapnya jelas. “Sebentar lagi sepertinya akan turun hujan. Sebaiknya kita segera pulang.”

Gadis itu berbalik, mulai membantu Jungkook menyebarkan brosur. Jungkook tertegun sesaar. Gadis ini…kenapa dia terlihat berbeda ketika dia sedang serius?

***___***

“Kau sudah bekerja dengan baik. Ini bayaranmu.” Seorang laki-laki paruh baya yang ternyata adalah bos Jungkook hari itu memberikan sebuah amplop padanya.

Jungkook tersenyum lebar lalu menerima amplop itu. Di sampingnya, Saeron juga tak kalah bahagia.

“Terima kasih.” Jungkook membungkukkan tubuhnya sopan.

Hari sudah gelap. Jam juga sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Angin mulai berhembus kencang dan sepertinya akan turun hujan di malam sabtu itu. Berjalan bersisian, Jungkook menatap Saeron dengan kening berkerut. Dia baru menyadari sesuatu. Tentang sweater kebesaran yang di pakai gadis itu.

“Kau memakai bajuku?”

Saeron meringis sambil menggaruk belakang kepalanya, “Maaf. Aku kan tidak memiliki baju hangat. Hari ini sangat dingin.” elaknya sambil memasang wajah kucingnya agar Jungkook tidak marah. Jungkook hanya mencibir. “Ngomong-ngomong, apa kita akan pulang sekarang?”

“Bukankah sebentar lagi akan turun hujan? Sebaiknya kita segera sampai di rumah.”

“Tapi kau kan belum memakan bekal makananku.” Saeron memajukan bibirnya. “Aku sudah bersusah payah membuatnya.”

“Aku akan makan ketika kita sampai di rumah.”

“Itu namanya bukan bekal makanan.”

Jungkook berdecak malas, “Yang penting aku memakannya, kan?”

“Uh… menyebalkan.” Saeron menghentikan langkahnya, menghentakkan kedua kakinya ke tanah lalu melipat kedua tangan di depan dada.

Jungkook menoleh ke belakang, “Ya, sebentar lagi akan turun hujan. Ayo pulang.”

“Habiskan dulu bekal makanan yang aku buat.”

“Aku bilang aku akan memakannya ketika sampai di rumah.”

“Menyebalkan. Aku kan sudah susah payah membuatnya.”ucap Saeron cemberut.

Jungkook menghela napas panjang, mencoba menahan-nahan kesabarannya. “Kau mau pulang atau tidak?”

Saeron membuang pandangan kearah lain, “Tidak mau. Kau harus habiskan dulu makanannya.”

“Baiklah. Terserah padamu. Lagipula kau tau jalan pulang.”ucap Jungkook cuek lalu kembali melanjutkan langkahnya.

Di tempatnya Saeron terkejut. Astaga, dia pergi? Dia tidak menahannya atau mencoba membujuknya? Pria itu benar-benar…

“Ya Jeon Jungkook! Tunggu aku!”

Saeron setengah berlari mengejar Jungkook dan menjajarkan langkahnya. Gadis itu menatap sisi wajah pria cuek itu dengan kesal.

“Ketika aku bilang aku tidak ingin pulang, harusnya kau membujukku!”omelnya.

“Cih, kenapa aku harus melakukannya? Jika kau ingin disini, maka beradalah disini.”balasnya tetap dengan sikap cuek.

“Kau benar-benar menyebalkan!” Saeron memukul lengan Jungkook.

Jungkook memegangi lengannya yang terasa sakit sambil memberikan pelototan kearah Saeron, “Ya!”

“Kalian bertengkar?” Suara seseorang membuat kedua orang itu lantas menoleh ke depan. Seketika senyum Saeron mengembang lebar begitu ia mendapati Shannon, Taehyung dan Namjoon.

“Shannon!”serunya langsung memeluk gadis cantik itu. “Kau disini?”

Shannon balas memeluk Saeron, “Kami berjalan-jalan dan tanpa sengaja melihat kalian.”

“Ya!” Namjoon menjitak kepala Saeron pelan.

“Auw. Sunbae sakit!” Saeron meringis, menghusap-husap kepalanya.

“Sudah ku bilang untuk memberitahuku jika kau ingin keluar. Kau tau bagaimana khawatirnya aku? Kau bahkan tidak mengangkat panggilanku!”omelnya.

“Itu karena aku tidak mau menyusahkan Sunbae. Lagipula aku bisa pergi sendiri dan nyatanya tidak ada yang terjadi, kan?”

“Kau membantah ya?” Namjoon mengangkat tangannya, hendak menjitak kepala Saeron lagi namun gadis itu buru-buru bersembunyi di belakang punggung Jungkook.

“Sunbae sangat sibuk tadi jadi aku tidak mau merepotkan.”

“Gara-gara kau, kencanku jadi berantakan.” Taehyung ikut mendengus. “Kami baru saja pergi berkencan dan kami bertemu dengan Namjoon hyung. Aku sudah menyuruhnya untuk pergi dan mencarimu sendirian tapi dia tidak mau. Menyebalkan.”lanjutnya.

“Itu karena aku tidak mau terlihat seperti orang bodoh.” Namjoon membela diri.

“Tapi tetap saja kau mengganggu kencan orang lain, hyung!” Taehyung masih kesal. “Sudahlah. Sekarang kalian sudah bertemu. Jadi aku perg—“

“Ayo pergi makan bersama!” Nyatanya apa yang di pikirkan Taehyung tidak sejalan dengan apa yang di pikirkan Shannon. Gadis itu tersenyum lebar dengan mata berbinar menatap Jungkook. “Kau baru saja mendapat bayaran besar, kan? Traktir kami.”

***___***

 

“Oh ya ampun kekasih Taehyung. Kenapa kau mau makan bersama? Jika kau merasa lapar, aku akan membelikanmu. Kau tau kita sanagt sulit untuk bertemu lalu kenapa kau—“

“Kita selalu bertemu di sekolah.”potong Shannon membuat mulut Taehyung langsung mengatup.

“Ah ya, maksudku…” pria itu menggaruk belakang kepalanya kikuk.

“Kau terlalu banyak bicara.”cibir Jungkook. “Kalian bahkan duduk bersama. Kenapa mencemaskan hal yang tidak perlu?”

“Ya! Kau tidak tau apapun. Walaupun kami bertemu setiap hari di sekolah. Tapi kami jarang bisa menghabiskan waktu bersama. Kau tau, dia selalu menghabiskan waktu id perpustakaan bersama Suga. Dan kau tau aku akan tertidur setiap kali aku masuk ke dalam ruangan itu jadi aku lebih memilih duduk sendirian di kelas seperti orang bodoh. Tu yang terjadi setiap hari!”protes Taehyung panjang lebar.

Namjoon dan Saeron menahan senyum.

“Murid pintar dan murid bodoh memang berbeda.” Jungkook berkecap sambil geleng-geleng kepala, nada bicaranya seolah-olah mengatakan bahwa Taehyung adalah murid yang paling bodoh.

“Ya! Apa kau pikir kau tidak begitu? Kau juga bodoh!”

“Makan ini.” Shannon menyuapkan tteokbukkie panas ke dalam mulut kekasihnya itu.

Taehyung langsung terkejut. Mulutnya bergoyang-goyang mencari angin sementara telapak tangannya mengipas-ngipas tteokbukkie yang ada di dalam mulutnya. Jungkook, Namjoon dan Saeron tertawa geli melihat ekspresi aneh Taehyun itu.

“Shannon, kau mau membakar mulutku?”serunya setelah berhasil menelan tteokbukkie panasnya.

“Karena kau sangat berisik.”balas Shannon cuek.

“Tapi tteokbukkie itu sangat panas. Bibir dan lidahku sangat sakit.”

Shannon berhenti mengunyah sesaat. Apa dia sudah keterlaluan? Gadis itu menoleh, menatap kekasihnya, “Apa sangat sakit?”

“Iya! Rasanya seperti terbakar!” Taehyung menekankan kalimatnya, sanagt terlihat jika dia sedang kesal. Di depan mereka, Jungkook, Saeron dan Namjoon saling pandang bingung. Pertengkaran kini berpindah ke pasangan kekasih itu.

“Maafkan aku.”ucap Shannon menyesal. Taehyung hanya diam. Gadis itu tau jika Taehyung sedang marah sekarang. Ia mengulurkan tangannya, menghusap-husap bibir Taehyung sambil menatapnya dengan pandangan menyesal, “Maafkan aku, ya.”ucapnya lagi. “Kekasih Shannon, maafkan aku…”

Tidak ada yang lebih indah dari sikap imut Shannon serta nada manis bicaranya ketika dia sedang merasa menyesal. Bahkan gadis itu menunjukkan kasih sayang yang jarang ia perlihatkan. Bukan berupa perhatian namun gerakan. Dan sepertinya hampir semua laki-laki menyukai skinship, Taehyung salah satunya.

Pria itu langsung tersenyum lebar sambil menghusap-husap kepala Shannon, “Tidak apa-apa. Bahkan ketika kau memasukkan api ke dalam mulutku, aku tidak apa-apa.”

“Menjijikan.”cibir Namjoon.

“Ya, hentikan!”protes Jungkook merinding melihat pasangan kekasih itu.

Namun Taehyung seperti tidak memiliki telinga, “Tapi, sebuah ciuman lebih mempercepat penyembuhan.”

Mata Shannon dan Saeron sama-sama melebar mendengarnya, “Ya, byuntae!”

***___***

Tepat pukul 9 ketika mereka akhirnya pergi dari restoran itu. Jungkook, Namjoon dan Saeron memutuskan untuk kembali ke rumah mereka. Sebaiknya tidak mengganggu pasangan kekasih itu lebih lama.

“Baiklah. Sampai jumpa.”

“Annyeong.” Saeron melambaikan tangannya pada Taehyung dan Shannon lalu berjalan bersisian dengan Jungkook dan Namjoon.

“Ahhh…hari ini melelahkan.” Namjoon merenggangkan kedua tangannya. “Aku ingin segera pulang dan tidur.”

“Apa hari ini kau melakukan banyak pekerjaan?”tanya Jungkook.

Pria itu mengangguk, “Aku memperbaiki banyak barang elektronik milik temanku.”

“Kau benar-benar bekerja keras, hyung.” Jungkook terkekeh. “Tapi paling tidak, luangkan waktumu untuk Jinny.”

Namjoon menghela napas panjang, “Bagaimana lagi? Bukan hanya aku yang sibuk tapi dia sangat sulit untuk diajak keluar.”

“Bukankah kau sudah bertemu dengan ayahnya?”

“Tetap saja. Ayahnya masih trauma dengan masa lalu. Aku hanya bisa bertemu dengannya di sekolah.”

“Tidak apa-apa, yang penting kalian masih bisa bertemu.”hibur Saeron. “Ah, apa kalian mau cola?” Gadis itu berdiri, menatap dua orang pria yang sedang duduk di kursi halte.

Jungkook mengangkat wajahnya, “Kau punya uang?”

“Aku punya sedikit.”

“Ya, kau bilang kau sudah tidak memiliki uang.”

Saeron meringis, “Setelah aku membelikannya, aku sudah tidak punya uang lagi.”

Jungkook mendengus sementara Namjoon terkekeh geli. Mereka benar-benar terlihat seperti pasangan suami-istri.

“Kalau begitu, belikan aku kopi dingin.”

“Arasseo.”

Saeron berjalan menuju mesin minuman yang terletak tak jauh dari sana. Memasukkan uangnya dan memencet tombol kopi dan cola. Kemudian ia membungkuk, hendak mengambil kaleng minuman yang ia beli.

“Jadi kau disini?”

Belum sempat mengambil minuman yang sudah keluar di wadah mesin, Saeron menoleh, pandangannya perlahan-lahan bergerak keatas. Kearah seorang pria yang sudah berdiri di sampingnya itu. Seketika matanya melebar. Dia paman Ho, seseorang yang bekerja di rumahnya.

“Ibumu akan pulang dalam beberapa hari ke depan jadi sebaiknya kau juga pulang.” Suaranya terdengar sangat menyeramkan. “Nona muda…”

Tidak. Dia tidak boleh tertangkap sekarang. Jika dia tertangkap, ibunya akan tidak mempercayainya lagi. Ibunya akan menyalahkannya lagi seperti sebelumnya.

Sekuat tenaga melawan kebekuan tubuhnya. Saeron mundur beberapa langkah ke belakang. Dan ketika kakinya telah benar-benar terasa kuat, ia berlari dengan cepat menuju halte.

Tak tinggal diam, oran gsuruhan ayah Saeron mengejarnya sambil mengumpat yang tidak karuan karena lagi-lagi gadis itu membuat ulah dan menyusahkannya.

“Jungkook!” Saeron langsung menyambar lengan Jungkook. Seketika pria itu dan Namjoon terkejut. Terlebih lagi ketika melihat wajah pucat pasi Saeron juga genggamannya yang terasa dingin.

“Ada apa?”

“Ayo pergi! Dia mengejarku!”

Dua pria itu menoleh ke kanan, pada seorang pria tinggi besar yang sedang berlari menuju kearah mereka. Tanpa pikir panjang, Jungkook menarik tangan Saeron dan membawa lari gadis itu, Namjoon juga berlari bersama mereka, mengabaikan bus yang sejak tadi mereka tunggu.

Sudah di mulai. Mereka sudah mencari Saeron bahkan berhasil mendapatkan keberadaan gadis itu. Itu artinya dia sedang dalam bahaya. Jungkook yakin jika dia kembali ke rumah, dia akan di pukuli lagi oleh ayahnya.

Jungkook membawa mereka berbelok, masuk ke dalam sebuah gang sempit dan bersembunyi di balik tumpukan sampah kerdus, Nyaris menyeret Saeron untuk menjajari larinya, gadis itu lantas terlempar ke depan ketika mereka berhenti. Jungkook menangkap tubuhnya yang lunglai, memeluknya dan membekap mulutnya dengan telapak tangan sambil bersembunyi.

“Kau tidak apa-apa?”bisik Namjoon.

Saeron hanya mengangguk. Kakinya terasa sangat lemas, Ini adalah pertama kalinya ia berlari sangat cepat hingga rasanya ia melawan ruang dan waktu.

Namjoon juga membekap mulutnya, sebisa mungkin meredam bunyi napasnya yang terdengar sangat keras. Jantungnya berdegup kencang tak karuan. Dia tau tak seharusnya dia menjajari lari Jungkook karena pria itu sangat cepat.

Jungkook mencondongkan tubuhnya, memeriksa keadaan di luar sebelum ia memimpin langkah meninggalkan tempat itu. Mereka bertiga bergabung dengan kerumunan pejalan kaki, menyamarkan diri mereka disana sambil terus memperhatikan keadaan.

Memastikan semuanya aman, Jungkook menarik lengan Saeron dan berlari menuju jalan raya. Mereka menyetop taksi yang lewat dan langsung melompat masuk ke dalam.

“Kalian baik-baik saja?”tanya Namjoon menoleh ke belakang. “Saeron, kau tidak apa-apa?”

Saeron menggeleng pelan, “Aku tidak apa-apa, Sunbae.”jawabnya dengan napas terengah.

Jungkook menoleh, menatap gadis itu. Dia mengatakan jika dirinya baik-baik saja dengan tangan yang bergetar hebat. Pria itu mengulurkan tangannya, menggenggam kedua tangan Saeron erat-erat.

“Jangan khawatir.”

***___***

 

“Jadi, mereka sudah menemukanmu?!”pekik Hongseok dengan mata membulat.

Saeron mengangguk lemah, “Kemarin paman Ho melihatku di halte.”

“Ya ampun, ini gawat! Bagaimana jika mereka mencarimu di sekolah?”

“Itulah yang kami pikirkan sejak semalam.”desah Namjoon bingung. “Jika ayahnya pergi ke sekolah, kami tidak bisa berbuat apapun.”

Keadaan menjadi hening. Mereka semua sama-sama memikirkan jalan keluar yang terbaik untuk masalah ini. Memang tidak ada jalan lain jika ayahnya mencarinya di sekolah. Bahkan Jungkook sekalipun tidak akan bisa melakukan apapun.

“Kau tidak apa-apa?” Seulgi menatap wajah pucat Saeron yang terus menunduk. “Kau terluka?” Gadis itu menghampirinya dan menyingkirkan rambutnya ke belakang telinga. “Saeronnie,”panggilnya lagi.

Saeron mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis dengan kedua mata yang sudah di genangi air, “Tidak apa-apa.”

Seulgi langsung memeluk gadis itu dan menepuk-nepuk punggungnya, “Tenanglah. Tidak akan ada yang terjadi. Jangan menangis.”

“Benar. Kami semua akan melindungimu.”sahut Shannon ikut menenangkan.

“Apa mereka sudah menemukan tempat ini?”tanya Taehyung, pria itu menatap Jungkook.

“Aku rasa belum.” Ia menggeleng.

“Kalian bisa tinggal di rumahku jika terjadi sesuatu.”ucapnya.

Jungkook mengangguk, “Terima kasih.”

***___***

 

Pada akhirnya, mereka memutuskan untuk berada di rumah Jungkook hari itu. Seulgi, Seunghee dan Jin bertugas pergi ke supermarket sementara Jisoo dan Wendy bertugas memasak. Setelah mendengar berita ini, Jinny ikut hadir karena dia sangat mengkhawatirkan mereka.

“Oppa, kau tidak apa-apa?”tanya gadis bertubuh tinggi itu.

“Tidak. Aku tidak terluka. Jangan khawatir.” Namjoon mengacak rambutnya sambil melemparkan senyum menenangkan.

“Hey, Jungkook.” Jisoo menepuk pundak pria yang sejak tadi melamun itu. Jungkook mendongak. “Bicaralah dengannya.” Ia menggerakkan dagu, menunjuk Saeron yang sedang berdiri di teras seorang diri.

Jungkook menghela napas panjang lalu berdiri, menuruti ucapan Jisoo. Pria itu menghampiri Saeron dan berdiri di sampingnya.

“Kau masih mengkhawatirkannya?”

Saeron menoleh sekilas, “Bagaimana mungkin aku bersikap tenang di situasi seperti ini?”

“Sudah ku bilang kami akan—“

Saeron menoleh, berdiri menghadap Jungkook dan menatap pria itu nanar, “Kau tidak tau seperti apa ayah tiriku. Dia adalah orang yang jahat.”seru Saeron nyaris menangis. “Aku takut jika nanti dia akan menyakiti kalian.”

Jungkook tersenyum, “Kau lupa? Aku juga orang jahat.” Kemudian tangannya terulur, mengatup kedua pipi Saeron. “Kau tidak perlu khawatir. Kami pasti akan melindungimu.”

Saeron menelan tangisnya. Hanya berharap agar ibunya segera pulang sehingga dia bisa sekali lagi menjelaskan semua kebenarannya.

***___***

 

Pagi itu, berbeda dari hari-hari sebelumnya, pemandangan yang terjadi membuat semua murid berada dalam ketersimaan hebat. Ini kenyataan. Ini bukan ilusi. Jungkook benar-benar datang bersama gadis itu. Kim Saeron!

“Oh, ya ampun, aku pasti sudah gila.”umpat seorang murid perempuan.

“Tidak hanya kau. Aku juga melihatnya.” sahut murid yang lain.

Bersama dengan Namjoon, mereka bertiga berjalan di koridor sekolah bersama. Keduanya memperlakukan Saeron seperti seorang putri dimana mereka menempatkan gadis itu berjalan di tengah.

Saeron hanya menunduk, dia tidak terlalu memperdulikan pandangan murid-murid lain karena ada hal lain yang lebih penting yang harus ia pikirkan.

“Masuklah.” Jungkook bahkan mengantarnya hingga ke depan kelasnya. “Jika ayahmu datang, pastikan kau lari ke kelasku.”

Saeron mendongak, menatap Jungkook, “Terima kasih.”

Sebenarnya, Jungkook sedikit kecewa karena rencananya tidak bisa terwujud. Karena masalah ini, dia dan Saeron tidak bisa pergi ke Namsan Tower kemarin. Hal itu membuatnya kecewa karena dia telah bekerja keras mencari uang.

Ketika jam istirahat, Jungkook berpisah dengan Jimin di depan kelas karena dia harus menjemput Saeron di kelasnya sementara Jimin harus menjemput Jisoo. Masih disambut dengan tatapan terkesima dari murid-murid, Jungkook bersikap seolah-olah ia tidak melihatnya. Ia menghampiri murid laki-laki yang di kenalnya yang duduk di dekat pintu.

“Kau lihat Saeron?”tanyanya.

“Waaah, jadi kalian benar-benar berkencan?” murid laki-laki itu takjub.

Jungkook menghela napas panjang, “Kau lihat Saeron?”tanyanya lagi.

“Tadi dia keluar bersama murid-murid perempuan. Aku tidak tau mereka pergi kemana.”

Jungkook terdiam sejenak. Yang ia tau, Saeron tidak memiliki teman. Kenapa tiba-tiba ia pergi bersama murid-murid perempuan? Pria itu berbalik, bergegas pergi ke kantin, menyusul yang lain. Namun tiba-tiba Jinny muncul sambil berlari menghampirinya.

“Jungkook! Jeon Jungkook! Aku melihat Saeron dibawa ke halaman belakang!”

Jungkook tersentak. Seketika ia berlari menuju halaman belakang. Sementara Jinny pergi ke kantin untuk mengabari yang lain. Sesaat lalu, lewat jendela kelas, ia melihat jika Saeron di bawa oleh beberapa murid perempuan dan sepertinya akan terjadi sesuatu.

Di halaman belakang, seorang murid perempuan bernama Oh Haerin mendorong tubuh mungil Saeron hingga punggungnya membentur tembok. Saeron mengaduh, memegangi lengannya karena tanpa sengaja membentur sebilah kayu.

“Cih, aku benar-benar tidak menyangka jika sesaeng fans satu ini berhasil mendekati Jungkook.” Haerin mendekat sambil berdecak geleng-geleng kepala. “Dia benar-benar tidak tau malu.”

Saeron menunduk, “Aku tidak melakukan apapun.”serunya pelan.

“Ya!” Haerin mendorong tubuh Saeron lagi. “Apa kau pikir aku buta? Apa kau pikir aku tidak bisa melihat?!”

Saeron tidak menjawab. Ia semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil menahan nyeri di punggung dan lengannya.

“Jawab aku!”bentak Haeri. Tangannya terulur, menarik sejumbut rambut Saeron dan di sentakkan ke belakang, memaksa gadis itu agar mendongak menatapnya, “Selama ini, aku sudah berusaha bersikap baik padamu karena aku pikir usaha bodohmu itu tidak akan berhasil. Aku pikir, Jungkook akan memuntahkanmu seperti dia memuntahkan semua murid-murid perempuan yang ada di sekolah ini!”

Haeri benar-benar merasa kesal. Dia tidak bisa menerima kenyataan jika Jungkook pada akhirnya memberikan tempat kosong di sampingnya untuk gadisi ini. Dia adalah Kim Saeron? Gadis yang terkenal aneh di sekolah ini!

Jika Jungkook menyukai Seulgi, kapten cheerleader yang berhasil membuat Jin, si kapten basket mengejarnya mati-matian, dia akan menerimanya karena itu adalah hal yang wajar. Atau Jisoo, gadis yang kecantikannya hampir menyerupai kecantikan Sandara Park. Dan juga Jinny, yang di hari pertamanya masuk sudah mencuri perhatian seluruh murid laki-laki. Dia akan menerimanya.

Tapi, ini Kim Saeron. Gadis aneh yang secara terang-terangan mengakui jika dia menyukai Jungkook. Bahkan dia mengesampingkan harga dirinya, memberikan cokelat setiap harinya walaupun sudah berkali-kali di tolak. Dia bukan siapa-siapa! Hanya orang aneh!

“Apa yang sudah kau berikan pada Jungkook, hah?! Kau tidur dengannya?! Kau memberikan semua yang kau punya padanya?!”

Saeron masih diam. Gadis itu menggigit bibirnya sambil mengernyit, menahan rasa sakit di kepalanya.

“JAWAB!”

Haerin memperketat cengkramannya di rambut Saeron, membuat gadis itu memejamkan matanya kuat-kuat menahan tangis. Dan pemandangan itu lah yang di lihat Jungkook begitu ia sampai disana.

“Lepaskan tanganmu.” Seketika seluruhnya menoleh keasal suara. “Aku bilang lepaskan!”pria itu menggertakkan giginya. Menahan kemarahannya yang mulai tidak bisa ditahan.

Segera setelah Jinny memberitahu jika Jungkook pergi ke halaman belakang sekolah untuk menyelamatkan Saeron, yang lain langsung bergerak dan tanpa menunggu waktu lama, mereka juga sampai disana. Berdiri berjejer di belakang Jungkook.

“Aku membencinya!” Haeri menyentakkan tangannya lalu mendorong tubuh Saeron kuat.

Jungkook terperangah. Matanya melebar dan dengan cepat ia bergerak, berjongkok dan menangkap tubuh Saeron sebelum gadis itu menghantam susunan kayu. Di tariknya gadis itu dalam pelukannya, menjadikan tubuhnya sebagai tempat mendarat.

Ia menundukkan kepalanya, di lihatnya selapis air bening mulai menggenangi kedua mata Saeron yang tak lama berubah menjadi tangisan. Rahang Jungkook semakin mengeras, amarahnya menggurak hebat.

Pria itu menoleh pada Seulgi yang berdiri di samping Namjoon, “Seulgi, bawa Saeron ke ruang kesehatan.” pintanya.

Seulgi mengangguk lalu menghampiri Saeron. Di bantunya gadis itu berdiri kemudian ia merangkul bahunya.

“Ayo.” Jinny dan Jisoo juga membantu mengantar Saeron menuju ruang kesehatan.

Begitu Seulgi membawa Saeron pergi, tatapan Jungkook langsung terarah penuh pada Haeri. Dia tidak mengenal gadis ini, bahkan ia tidak pernah mengetahui jika di sekolah ini ada murid bernama Oh Haeri. Tapi tindakannya barusan benar-benar tidak bisa di tolerir. Itu sudah keterlaluan.

“Apa yang sudah kau lakukan?” Jungkook perlahan mendekati Haeri. Berbeda dengan ketiga temannya yang langsung memilih bubar, pergi meninggalkan tempat itu daripada mereka mendapat masalah berkepanjangan, Haeri memilih tetap berdiri tegak. Pada akhirnya saat-saat seperti ini datang juga. Ini adalah saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya. Agar Jungkook mengetahui jika ada gadis lain yang sejak dulu juga menyukainya.

“Apa kau sadar dengan pertbuatanmu?”desis pria itu.

Haeri menelan ludah, di paksanya wajahnya mendongak, balas menatap Jungkook, “Aku tidak suka melihat gadis aneh itu berada di dekatmu!”

“Siapa yang kau maksud dengan gadis aneh?”

“Kim Saeron! Dia gadis aneh yang tidak tau malu!”balas Haeri lantang.

“Lalu bagaimana denganmu?”

“Aku…” Haeri menatap kedua manik mata Jungkook. “Aku juga menyukaimu!”tandasnya. “Aku juga menyukaimu sejak dulu namun aku tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakannya. Melihatnya secara terang-terangan mengejarmu, membuatku muak! Aku tidak akan membiarkanmu menjadi milik orang lain!”

“Dan aku juga tidak akan pernah menjadi milikmu.”balas Jungkook cepat.

“Jika kau tidak bisa menjadi milikku, maka dia juga tidak bisa memilikimu.”

Jungkook menghembuskan napas panjang. Oh Tuhan, jika saja dia adalah laki-laki, mungkin dia akan menghajarnya habis-habisan.

Tiba-tiba pria itu menarik lengan Haeri, dengan gerakan mendadak dan disertai dorongan, ia membalik tubuh Haeri hingga punggungnya kini merapat pada tembok. Dan berikutnya, Jungkook merentangkan kedua lengannya, menyentuh tembok yang ada di belakang Haeri dengan telapak tangannya, mengurung gadis itu dalam kedua lengannya.

Haeri sontak terkesiap. Ia sudah ingin mundur namun punggungnya sudah benar-benar merapat pada tembok. Sementara Namjoon, Jimin dan Jin yang sejak tadi hanya menjadi penonton, sama terkesiapnya atas tindakan Jungkook itu.

“Jungkook, hentikan.”seru Namjoon. Sebenarnya, ia merasa tidak tega karena kini wajah Haeri berubah menjadi pucat pasi. Dia begitu terlihat sedang ketakutan.

Namun Jungkook bersikap seolah-olah ia tidak mendengarnya. Pria itu membungkukkan punggungnya, menjajarkan wajahnya dengan wajah Haeri. Sekali lagi, di tatapnya gadis itu tajam.

“Jika kau melakukan hal seperti ini sekali lagi….”bisiknya memperingatkan. “Aku tidak akan tinggal diam.”

“Kenapa? Apa kau menyukainya?”balas Haeri, kedua matanya sudah di genangi selapis bening air mata.

Jungkook terdiam sejenak, tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Nyatanya, itu adalah pertanyaan besar yang ia sendiri tidak tau jawabannya. Namun setelahnya, ia kembali menatap gadis itu sembari berbisik.

“Aku menyukainya.”tandasnya. “Jadi, jika kau menyakiti gadisku, aku akan menjajarkanmu seperti laki-laki.”

Jungkook menegakkan punggungnya sementara Haeri melunglai seketika. Kedua kakinya terasa mati rasa dan tidak bisa di gerakkan. Menyukainya? Jungkook menyukai gadis aneh itu?

“Aku memperingatkanmu.”

Pria itu balik badan, berjalan meninggalkan tempat itu. Di belakangnya, Jimin dan Jin mengikutinya. Sementara Namjoon, menghampiri Haeri yang kini terduduk di tanah. Membantunya kembali ke kelas.

Jungkook langsung menuju ruang kesehatan dan menghampiri Saeron. Gadis itu sedang menyeruput teh hangatnya di temani Seulgi, Jisoo dan Jinny. Menyadari kehadiran Jungkook, Seulgi mengajak kedua temannya untuk meninggalkan ruangan itu, memberikan waktu untuk mereka berdua bicara.

Pria itu menjatuhkan dirinya di sisi ranjang tidur, berhadapan dengan Saeron yang hanya menundukkan wajahnya. Jungkook mengulurkan tangannya, merapikan rambut Saeron yang berantakan.

“Kau sudah lebih baik?”tanyanya pelan. “Kau mau pulang sekarang?”

Saeron mendongak, memperlihatkan aliran sungai kecil di pipinya. Wajahnya sudah memerah dan basah. Melihat itu, Jungkook langsung mendekap tubuh Saeron erat.

“Maafkan aku.” Pria itu melirih.

Saeron semakin terisak. Tangisannya tak bisa di tahan lagi. Ia menangis sejadi-jadinya di pelukan Jungkook.

***___***

Setelah menghabiskan beberapa saat di ruang kesehatan, akhirnya Jungkook memutuskan untuk mengantar Saeron pulang. Gadis itu sepertinya membutuhkan waktu istirahat agar dia bisa lebih tenang. Keputusannya itu di dukung oleh teman-temannya. Dia memang harus pulang dan istirahat.

Sambil menggandeng tangannya, Jungkook mengantar Saeron ke kelasnya. Lagi-lagi di iringi dengan tatapan takjub semua siswa. Setelah tadi pagi mereka datang bersama, kini Jungkook bahkan menggandengnya! Di belakangnya, Saeron hanya menunduk, menyembunyikan wajahnya. Dan sesampainya di kelas, Jungkook melepaskan gandengannya dan berjalan menuju kursi Saeron. Tanpa suara, pria itu memasukkan semua peralatan Saeron ke dalam tasnya.

“Jungkook-ah, apa yang kau lakukan?”tanya Bino, seorang murid yang mengenal Jungkook bingung.

Jungkook menghentikan langkahnya, kembali di gandengnya tangan Saeron. Berdiri menatap ke depan, pria itu menyapu seluruh bagian kelas dengan tatapan tajam.

“Aku hanya memperingatkan kalian satu kali.”serunya dingin. “Jika sekali lagi ada seseorang yang berani mengganggunya, dia akan berurusan denganku.”ancamnya.

“Jungkook, kau sudah gila?” Bino berdecak tak habis pikir.

Jungkook mengangguk, “Yah, aku sudah gila. Jadi sebaiknya jangan bermain-main denganku.”

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

26 thoughts on “Bangtan’s Story [Jungkook’s Version] : I Need You part 6

  1. Nurnie berkata:

    Yaa ampunn ,, smvahh tgang bngdd bcanya . Aplagi wktu seron d.kjar2🙂 .
    Mkinn ksni mkinn krenn nichh critanya .!!
    Lnjuttt yaa, postnya jngn lma nde . Heheheh😀

    fighting :*

  2. Mila berkata:

    Akhirnya ff ini dilanjut juga:) waaaa kerenn^^ akhirnya jungkook mulai jatuh cinta sama saeron, lanjut nya jangan2 lama lama ya thor penasaran nih^^ ohya aku readers baru nih wehehe langsung suka sama ff bangtan story’s ini selain member membernya punya vers masing masing ini ff juga bikin penasaran :3 apalagi cast nya ada seunghee bias aku meskipun ga pasanhan zama taehyung aku tetep sukaaa>~<

  3. Mila berkata:

    Akhirnya ff ini dilanjut juga:) waaaa kerenn^^ akhirnya jungkook mulai jatuh cinta sama saeron, lanjut nya jangan2 lama lama ya thor penasaran nih^^ ohya aku readers baru nih wehehe langsung suka sama ff bangtan story’s ini selain member membernya punya vers masing masing ini ff juga bikin penasaran :3 apalagi cast nya ada seunghee bias aku meskipun ga pasangan sama taehyung aku tetep sukaaa>~<

  4. Lavita berkata:

    Ahh keren bgt chapter ini, akhirnya jungkook ngaku suka juga sama saeron

    please buat next chapternya kl bisa dipostnya jgn kelamaan thor, capek nungguinnya ._.

  5. HakunaMatata berkata:

    “Ya, aku memang sudah gila. Jadi sebaiknya jangan bermain-main dengan ku!”
    “Aku menyukainya.”
    “Jadi, jika kau menyakiti gadisku, aku akan menjajarkanmu seperti laki-laki.”

    Ahhhhh,,ngebayangin si Jeon kayak gitu dengan gigi kelincinya, pipi putih dan tembemnya dia,,kenapa rada rrawwrrr yaaaa? :v Ada seksinya ada imutnya😄

  6. ynkanza berkata:

    Ohmijaaaaaaaaaa unni>< akhirnya rilis juga chapt 6 ini
    Uuuuuuu selalu deh bisa bikin aku meleleh baca ceritanya T^T
    Unni pasti sibuk yhaaa, semangat unni! Keep writing! Next chapt ditunggu'-')9

  7. Mifta berkata:

    Dudududududuuuuuuu~~~~ jungkook cowok bgt ya hahaha duhhh. Akhirnya chap 6 ada juga. Meskipun saya telat baca nya akhir nyaaaaaa. Wahhh ini pling bnyak part nya. Di tunggu next nya jgn lma” hehe. Semangat kak thor.

  8. adindatri berkata:

    new reader here😁 salam kenal kak
    ceritanya keren banget kak, pas baca suka senyum2 sendiri suka sedih2 sendiri ( sorry alay)😂
    pokoknya cerita seru deh ditunggu next chap kak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s