Forgotten Hidden Part

Forgotten

Author :           IRISH

Tittle                :           Forgotten

Main Cast        :           EXO’s Oh Sehun, OC’s Kim Soojung

Supported       :           Mind’s Cast

Genre              :           Fantasy, Romance, School-life

Rate                 :           T; PG-16

Lenght             :           Chapterred

Disclaimer   :            This story is entirely fantasy and created by Irish. Any resemblance to real persons or organization appearing in this story is purely coincidental. EXO Members belong to their real-life, and OC’s belong to their appearance.

Author’s Note :         Aku baru menyadari human error terjadi di fanfict ini karena ehem chapter 3 dan 4 yang telah tersakiti dan menyakiti readers. Jadi, part ini sebenernya setelah chapter 3, dan sebelum chapter 4. Karena udah terlambat—ya iyalah udah sampe chapter 5 juga—jadi gak apa ya chapter ini kunamakan hidden story😄 karena dia memang terhidden di folder fanfict-ku. HUHUHU. Maaf ya T…T apa daya aku juga manusia yang bisa berbuat salah. Dan oh ya, kalau ada bagian dari fanfict ini yang bertuliskan ‘Sincerely, Alice.’ Itu juga aku karena dulu penname ku adalah Alice dan kemudian berganti jadi namaku, IRISH. Thankyou!

“..take me anywhere with you and we will walk together forever..”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

A Part of Chapter 3~

In Author’s Eyes…

“Kau kira aku akan lupa setelah tiga tahun?”

Sehun tersenyum tipis.

“Baguslah kalau kau ingat. Lama tidak bertemu.”, ucap Sehun

“Lama? Kurasa tidak akan kau sebut lama.”, ucap Seulhyun, menyenggol pelan lengan namja itu.

Sementara itu tatapan Kai tanpa sengaja bersarang pada Soojung yang sedari tadi berdiri diam di tempatnya. Kai menyernyit saat melihat mata gadis itu berkaca-kaca. Seperti ingin menangis.

Kai memandang ke arah Sehun dan Seulhyun yang bicara di depannya, lalu memandang Soojung lagi. Yeoja itu jelas memandang Sehun dan Seulhyun. Tapi mengapa gadis itu harus memandang mereka dengan tatapan seperti itu?

Soojung mengalihkan pandangannya, dan sekarang tatapannya bertemu dengan Kai. Yeoja itu segera menunduk, tangannya bergerak memainkan ponselnya, dan melangkah cepat melewati tiga orang itu.

Dan seolah terhanyut pada pembicaraan, Kai semakin heran saat Sehun maupun Seulhyun seolah tidak sadar jika seseorang baru saja pergi setelah melihat mereka. Kai memandang yeoja yang sekarang berjalan pelan memasuki gerbang rumah Seulhyun, diam-diam namja itu berpikir. Apa yang tadi ada di benak Soojung saat melihat dua orang itu bicara?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Soojung duduk diam memandang dua orang yang sekarang tampak bicara tak jauh dari tempatnya. Dua orang yang tampak bicara dengan raut yang senang. Gadis itu tersenyum miris, perasaan seseorang memang tidak akan berubah bahkan setelah beberapa tahun.

“Aku tidak mengerti kenapa wajahmu sesedih ini dihari ulang tahun.”

Soojung menoleh, dan memandang ke arah namja berkulit gelap yang berdiri di sampingnya, Kai. Yeoja itu menggaruk pelan kepalanya, bingung harus merespon apa. Ia tidak biasa bicara selain pada Seulhyun dan Myungsoo.

“Ige..”, Soojung menyernyit saat namja itu mengulurkan sebuah kotak

“Sehun ingin memberikannya padamu. Tapi Ia masih bicara disana. Kurasa ini bisa membantumu.”

Soojung perlahan membuka kotak kecil itu, dan mendesah pelan saat melihat beberapa notes kecil ada disana.

“Kau bisa menulis apa yang ingin kau katakan disana.”, ucap Kai

Soojung menoleh dan tersenyum senang, membuat Kai membalas senyum yeoja itu.

“Kau suka?”, tanya namja itu

Soojung mengangguk cepat.

“Aish, mulailah menggunakan notes itu.”, kata Kai

Soojung kemudian membuka salah satu notes, tersenyum saat tau di dalam notes itu ada bolpoin juga. Gadis itu menulis, membuat Kai menunggu.

‘Aku sangat menyukainya. Jeongmal gomawo’

“Baguslah kalau kau suka.”

‘Dimana kalian membelinya? Notes-notes ini sangat lucu^^’

“Kau tidak pernah ke toko buku? Atau kau memang malas untuk berusaha bicara?”

‘Keduanya. Banyak orang meledekku karena aku seperti ini. Keundae, sekali lagi, jeongmal gomawo.’

“Tidak perlu terlalu memikirkannya. Itu kado bukan?”

Soojung sekali lagi tersenyum dan mengangguk.

“Aku pergi dulu, cepatlah bergabung bersama yang lainnya, Soojung-ssi.”

Soojung masih tersenyum, bahkan saat namja berkulit gelap itu sudah meninggalkannya. Yeoja itu memandang notes-notes kecil yang ada di dalam kotak, heran karena selama ini Ia tidak pernah berpikir untuk menggunakan notes untuk menulis apa yang ingin Ia katakan.

“Soojung-ah!”

Soojung mendongak, dan tersenyum saat Seulhyun menghampirinya.

“Kemarilah, ada seseorang yang mau aku perkenalkan padamu.”, ucap Seulhyun, menarik Soojung untuk berdiri dan mengikuti langkahnya.

“Eh, benda apa itu?”, tanya Seulhyun melihat kotak di tangan Soojung

Tangan Soojung bergerak pelan, membuat Seulhyun mengangguk-angguk paham.

“Benar juga. Seharusnya dari dulu kau membeli notes. Tapi untunglah ada yang memberimu hadiah seperti ini.”, ucap gadis itu riang

“Nah, Soojungie, aku mau memperkenalkan mereka.”

Soojung menyernyit saat Seulhyun membawanya ke tempat beberapa mahasiswa baru itu. Tangan yeoja itu bergerak cepat membentuk isyarat yang sudah di hafal oleh Seulhyun.

“Aish, aku tau aku tau. Tapi sebenarnya mereka ini teman-teman lamaku.”, ucap Seulhyun

“Kau.. tidak bisa bicara?”

Soojung memandang seorang yeoja yang memandangnya lama. Soojung kemudian menggeleng pelan.

“Ada kecelakaan yang membuatnya tidak bisa bicara.”, ucap Seulhyun pelan

“Lalu, bagaimana Ia bisa mendengar?”

Soojung mengerjap beberapa kali, lalu mengangkat bahunya pelan.

“Dia bilang dia juga tidak tau.”, ucap Seulhyun, yeoja itu beberapa lama memandang Soojung, tapi kemudian Ia melanjutkan ucapannya “ah, jadi Soojung-ah. Ini Sehun, lalu ini Chanyeol, ini..”

Semua ucapan Seulhyun lewat begitu saja dalam pendengaran Soojung. Tatapan yeoja itu kembali bersarang pada namja bernama Oh Sehun yang berdiri tanpa memandangnya. Dan bahkan namja itu tampak tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Seulhyun.

Tidak bisakah kau mengingatku.. Sehun-ah..

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Luna’s Eyes..

Tidak bisakah kau mengingatku.. Sehun-ah..

Aku berjengit kaget saat mendengar pikiran yeoja di depanku. Dan tindakanku membuat Baekhyun memandangku bingung.

“Ada apa chagi?”, tanyanya pelan

Tanpa sadar aku mengabaikannya. Aku berusaha mendengar lagi pikiran yeoja di depanku.

Apa enam tahun sudah cukup membuat kau lupa pada segalanya? Wae.. Aku bahkan masih mengingatmu. Aku bahkan masih hafal sifatmu.. Kau bahkan masih tetap memandang Seulhyun setelah enam tahun.. Tapi kenapa kau tidak mengingatku!?

Aku memejamkan mataku saat yeoja itu berteriak dalam pikirannya. Ia memang memasang senyum di wajahnya, walaupun tatapannya jelas tidak mau beralih dari Sehun. Tapi ada satu hal yang jadi pertanyaanku.

Apa Ia mengenal Sehun? Apa Sehun melupakannya? Kenapa aku tidak pernah sedikitpun mendengar Sehun memikirkan yeoja bernama Kim Soojung?

“Luna?”

Aku menoleh pada Baekhyun yang memandangku penuh tanda tanya.

“Ada yang tidak beres disini..”, ucapku pelan

“Apa maksudmu?”

Aku menggeleng.

“Kau tidak akan mengerti.”

“Aish, tapi aku ingin tau..”, ucap Baekhyun pelan

Aku memandangnya.

“Siapa saja orang-orang yang pernah dekat dengan Sehun?”, tanyaku

“Eh? Apa kau mendengar sesuatu yang berhubungan dengannya?”

Aku mengangguk.

“Apa Seulhyun memikirkannya?”

Aku memejamkan mataku. Sudah ku bilang dia tidak akan mengerti.

“Aku akan menceritakannya nanti padamu.”, ucapku mengakhiri pembicaraan

Aku masih memandang yeoja bernama Soojung itu. Ia jelas tampak ingin menangis. Entah karena apa. Pikiran gadis itu tidak berisik, dan malah, Ia tampak sedang mengenang sesuatu.

Ah, seharusnya aku bisa melihat isi pikiran seseorang saja. Pikiran yeoja itu membuatku bertanya-tanya. Siapa dia?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes..

Soojung memandang diam sebuah foto di dalam dompetnya. Foto yang berisi seorang yeoja dan namja dengan seragam sekolah dengan duduk di halte dan tersenyum cerah. Soojung tersenyum. Ingat bahwa saat itu Ia dan Sehun meminta seorang ahjussi untuk mengambil gambar mereka. Yeoja itu memejamkan matanya. Beberapa minggu ini keadaan yeoja itu memburuk.

Bagaimana tidak, Seulhyun sekarang sibuk dengan urusan pribadinya. Hampir seisi kampus sekarang tau bahwa Ia dan Sehun bukan hanya teman biasa. Dan Soojung tidak ingin melihat dua orang itu.

Yeoja itu takut Ia akan menangis saat melihat dua orang itu, bukan berarti Ia tidak ingin melihat sahabatnya bahagia. Ia takut Ia akan kembali mempertanyakan kenapa Sehun tidak bisa mengingatnya.

“Oh, aku kira Seulhyun yang ada disini.”

Soojung menutup dompetnya, dan menoleh, mendapati Sehun berdiri tak jauh darinya. Yeoja itu mengalihkan pandanganya, dan menulis di notes nya.

‘Dia tidak masuk hari ini. Sakit. Kau mau menjenguknya?’

“Oh, begitukah? Kurasa aku akan ke rumahnya nanti. Mau ikut?”

Soojung menggeleng.

‘Aku sudah ke rumahnya tadi pagi’

“Ah.. Arraseo..”

Beberapa lama tercipta keheningan di antara mereka berdua. Sampai akhirnya Soojung mengulurkan salah satu headset yang Ia pakai. Seperti dugaan gadis itu, Sehun duduk, dan menerima headset itu.

“Kau suka mendengarkan lagu juga ternyata..”, gumam Sehun saat mereka mulai tertelan keheningan lagi.

‘Aku sangat suka mendengarkan lagu. Apa kau juga?’

“Ya. Aku suka. Aku juga suka membaca buku.”

‘Nado! Buku jenis apa yang kau suka?’

“Fiksi. Aku sangat menyukai cerita fiksi. Apa kau suka cerita fiksi?”

Soojung tersenyum. Bahkan ucapan Sehun masih sama seperti enam tahun lalu.

‘Ya. Aku juga menyukainya.’

“Benarkah?”, Sehun memandang yeoja di sampingnya tak percaya

Soojung mengangguk cepat. Lalu menunjuk ke arah beberapa buku yang ada di dekatnya. Membuat Sehun meraih buku-buku tebal itu, dan mendesah kagum.

“Kau membaca semua ini? Kebanyakan orang malah lebih suka menghabiskan waktu mereka dengan bersenang-senang dibandingkan membaca buku setebal ini.”, ucap Sehun saat melihat judul-judul di buku itu.

‘Aku bisa membaca dua sampai tiga buku dalam sehari’

Sehun menyernyit. Senyum tipis tersungging di sudut bibir namja itu.

“Lalu kenapa kau masuk jurusan seni?”, tanya namja itu membuat Soojung mengerjap beberapa kali.

Yeoja itu sangat ingin mengatakan bahwa enam tahun lalu Sehun lah yang memintanya untuk masuk ke sekolah seni. Tapi namja itu bahkan tidak mengingatnya. Soojung tidak mungkin bicara seperti itu.

‘Aku tidak tau. Aku tidak ingin jadi seorang penulis seperti Eomma ku’

“Eomma mu bahkan seorang penulis?”

Soojung mengangguk-angguk cepat. Membuat Sehun memandangnya, lama.

“Kurasa kau salah masuk jurusan, Soojung-ssi.”

Soojung hanya tersenyum tipis.

“Sehun-ah.. Jowahae..”

“Sehun-ah.. Jowahae..”

Soojung tersentak saat ponsel Sehun berbunyi. Yeoja itu menatap intens ke arah ponsel yang sekarang ada di tangan Sehun. Namja itu tampak mengetik pesan, lalu meletakkan ponselnya di meja, dan memandang Soojung.

“Kenapa? Apa ada yang salah?”, tanya Sehun

Dengan cepat Soojung menulis.

‘Kenapa nada dering ponselmu aneh sekali?’

Sehun tertawa pelan.

“Tidak aneh. Apa anehnya?”

‘Suara siapa? Seulhyun?’

Sehun memandang ponselnya, lalu menghela nafas.

“Bukan.”, sahut namja itu pendek

‘Lalu?’

“Itu suara orang yang sangat aku benci.”

Soojung terdiam.

‘Kenapa kau membencinya?’

“Karena dia menyukaiku. Aku membencinya karena itu.”, ucap Sehun, tersenyum samar, tidak menyadari bahwa Soojung hampir tidak berkedip memandanngya.

‘Lalu kenapa kau jadikan nada dering?’

Sehun terdiam beberapa saat.

“Tentu saja karena aku suka mendengar suaranya.”

Soojung memiringkan kepalanya. Tidak mengerti. Sehun mengatakan bahwa Ia membenci Soojung, tapi kenapa rekaman itu menjadi nada deringnya? Karena Sehun senang mendengar suaranya?

“Kau tidak akan mengerti. Ngomong-ngomong, maaf karena aku tidak memberikan kado itu langsung padamu.”, ucap Sehun mengalihkan pembicaraan

Soojung tersenyum dan mengangguk.

“Dan juga, kita lahir dihari yang sama.”, Sehun tersenyum samar, membuat Soojung membulatkan matanya.

‘Benarkah?’

“Ya. Aku kemarin juga ulang tahun.”

Soojung menyalakan layar ponselnya, kemudian memutar sebuah lagu yang membuat Sehun tersenyum. Suara seorang anak kecil bernyanyi selamat ulang tahun terdengar dari headset yang terpasang di telinganya.

Dua orang itu kembali hanyut dalam keheningan, sampai akhirnya lagu berdurasi dua menit itu berakhir.

‘Saengil chukkahamnida, Sehun-ssi^^’

Sehun mengangguk. Tersenyum memandang yeoja di sampingnya.

“Gomapta. Jinjja gomapta.”

Sementara tanpa sengaja sebuah lagu terputar, lagu yang enam tahun lalu sebenarnya sering mereka dengarkan. Dan tanpa sadar, lagu itu membuat ingatan mereka berputar..

“..gwireul makgo geudaereul deureobonda.. du nuneul gamgo geudaereul geuryeobonda.. geudaen heulleoganneunde geudaen jinaganneunde.. imi japhil su jochado eomneun gieok sogeseo.. dasi han beon one more time.. ireoke kkeutnandani mideul suga eomneun geollyo.. gojak i jeongdoro geu su manhatdeon yaksokdeureun eotteoke eotteoke..”

“Aku selalu sedih setiap mendengar lagu ini.”

Soojung menoleh, memandang Sehun yang memejamkan matanya.

“Lalu kenapa masih juga memintaku menyanyikannya?”

“Molla. Aku senang mendengar suaramu.”

“Ish, kau aneh.”, gerutu Soojung

“Sungguh. Kau tidak sedih mendengarnya?”, tanya Sehun

Soojung terdiam sebentar. Mengerucutkan bibirnya.

“Bukankah kita selalu berbeda pendapat?”, ucap yeoja itu kemudian, membuat Sehun mengangguk-angguk paham.

“Benar. Kau pasti tidak suka lagu ini.”, ucap Sehun

Soojung tertawa pelan.

“Ani ani aku bercanda. Aku suka lagu ini.”

“Benarkah?”, Sehun memandang tidak percaya

“Hmm,”, Soojung mengangguk, “aku suka lagu ini.. Kurasa ini pertama kalinya kita sama-sama sependapat bukan?”, Soojung tersenyum lebar, membuat Sehun mengacak-acak rambut yeoja itu gemas.

“Aish! Ya!”, ucap Soojung kesal

Dengan cepat Sehun merangkul bahu yeoja itu, dan membuat Soojung semakin merengut kesal.

“Lepaskan! Aish! Oh Sehun! Ya!”

Sehun masih juga melakukan tindakannya, sampai akhirnya mereka sampai di depan rumah Soojung.

“Soojung? Sehun? Kalian baru pulang?”

Dua orang itu menoleh pada seorang wanita paruh baya yang tampak tengah sibuk menyirami taman rumahnya.

“Eomma!”, ucap Soojung riang, dengan paksa berusaha melepaskan tangan Sehun dari bahunya, walaupun usaha gadis itu masih sia-sia.

“Omoni, apa aku boleh ikut makan malam dirumah?”, tanya Sehun mengabaikan Soojung yang dengan kesal berusaha menjauh darinya.

“Mwo? Omoni!? Sejak kapan kau diperbolehkan memanggil Eomma ku seperti itu huh?”, ucap Soojung kesal

“Wae geurae? Aku sudah terbiasa memanggil Omoni dan Abeonim seperti itu.”, ucap Sehun tak mau kalah

Sementara Eomma Soojung hanya menggeleng-geleng pelan, sudah terbiasa melihat dua orang itu ribut seperti sekarang.

“Aish! Ya! Lepaskan aku Sehun-ah!!”

“Kau menyukai lagu sedih seperti ini ternyata.”

Soojung tersadar dari lamunannya. Memandang Sehun yang memejamkan matanya. Benar-benar sama seperti dalam ingatan yeoja itu. Soojung memandang namja itu, lama.

Sehun-ah.. Kenapa kau lupa padaku?

Batin Soojung menjerit. Namja itu masih sama seperti dulu. Dan bahkan mengingat rekaman yang pernah Soojung berikan padanya. Tapi kenapa Sehun tidak mengingat yeoja itu? Apa yang sudah terjadi selama enam tahun ini?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Sejak hari itu, sebenarnya ada kedekatan kecil tercipta di antara dua orang itu. Terutama karena Seulhyun di kirim ke Australia untuk menjadi duta universitas selama satu bulan. Tapi Soojung tidak mengerti, Sehun dan teman-temannya berubah.

Mereka menjauhi semua orang. Tidak ingin bicara pada siapapun. Padahal mereka sedikit bisa berbaur saat ada Seulhyun. Soojung bahkan beberapa kali berusaha bicara pada mereka. Tapi hasilnya, Ia hanya dianggap angin lalu.

Yeoja itu akhirnya memilih untuk diam. Walaupun banyak teman-temannya mengerjai Sehun dan yang lainnya, yeoja itu memilih untuk tidak bertindak apapun. Diam-diam yeoja itu berharap Seulhyun cepat kembali.

Ia lebih senang melihat Sehun bicara dengan Seulhyun daripada melihat namja itu diam seperti ini. Soojung sering memperhatikan namja itu. Dan memindahkan wajah namja itu ke sketch-book nya. Ia melakukannya dengan diam-diam tentu saja, tapi tetap saja. Yeoja itu ingin melihat Sehun tersenyum seperti saat Seulhyun ada di dekatnya.

Yeoja itu marah. Mengutuk dirinya sendiri tentang kenapa Ia meninggalkan Sehun enam tahun lalu. Mengutuk dirinya sendiri karena Ia tidak berani mengatakan kebenaran pada namja itu. Yeoja itu ingin menangis mengingat bahwa Sehun sama sekali tidak mengingatnya.

Tapi akhirnya yeoja itu hanya bisa menghela nafas pasrah. Semua akan indah pada waktunya, itulah pemikiran yeoja itu.

Pagi ini, beberapa orang sunbaenim masuk ke kelas Soojung. Dan seperti sudah tau apa yang akan terjadi, Soojung dan teman-temannya memilih untuk keluar dari kelas. Soojung memandang Sehun sekilas, namja itu melemparkan pandangannya pada Soojung, beberapa detik saling berpandangan dalam diam, yeoja itu akhirnya menunduk, dan keluar dari kelas.

Ia dan beberapa orang teman dikelasnya berdiri diluar, melihat adegan pemukulan secara langsung. Dan herannya, tidak seorangpun berniat untuk melaporkan kejadian itu pada seongsaengnim.

“Hah. Aku lebih suka melihatnya diperlakukan seperti ini.”

Soojung menoleh pada salah seorang teman sekelasnya. Yeoja itu dengan cepat menulis di notes nya.

‘Kenapa kalian benci padanya?’

“Kurasa karena Ia terlalu sombong. Kau tau sendiri kan mereka tidak mau bicara pada siapapun selain Seulhyun!”

Soojung terdiam, memandang sosok Sehun yang sekarang di perlakukan kasar oleh sunbaenya itu. Yeoja itu menyernyit karena tidak menemukan Kai ataupun Luna di dalam kelas. Sudah empat hari ini dua orang itu absen dari kelas. Beberapa lama adegan itu terjadi di dalam kelas, sampai akhirnya sunbae itu keluar.

“Menjauh dari kelas.”, ucap sunbae itu mengancam, dan dengan patuh anak-anak yang berada di dekat tempat itu menjauh dari kelas, secara tidak langsung meninggalkan Sehun sendirian.

Soojung diam. Tempatnya berdiri sekarang tidak lah jauh dari tempat Sehun duduk, namja itu tampak mengerang kesakitan, membuat Soojung tidak tahan. Yeoja itu masuk ke kelas.

Sehun mendongak dan kaget mendapati Soojung berdiri tak jauh darinya.

“Keluar. Dia mau membawa teman nya kesini.”, ucap Sehun

Soojung menarik lengan Sehun, berharap namja itu mengerti bahwa Ia ingin namja itu keluar dari kelas.

“Pergi.”, ucap Sehun dingin

Yeoja itu terkejut mendengar derap langkah di luar kelasnya. Ia langsung berbalik hendak keluar, tapi seseorang menahan nya.

“Mereka bisa mengincarmu jika tau kau disini.”, Sehun menarik yeoja itu dan memaksa Soojung untuk bersembunyi di bawah meja nya. Bentuk meja yang tertutup kayu penuh membuat tubuh Soojung tersembunyi dengan sempurna.

“Jangan berteriak dan jangan keluar.”, ucap Sehun

Soojung mengangguk, yeoja itu merasa takut sekarang.

“Cih, kau menantang kami karena kau tidak kabur dari kelas.”

“Aku memang tidak mau kabur.”

“Ku kira kau mati karena semalam, sayang sekali kau masih hidup.”

“Bunuh aku kalau kau bisa sunbae.”

“Hah! Kau menantang kami supaya kami berpikir kau sehebat temanmu itu!?”

Soojung terkesiap. Benar-benar tidak sanggup membayangkan kejadian semenyeramkan apa yang akan terjadi. Soojung menutup telinganya rapat-rapat, takut Ia akan bersuara jika mendengar ungkapan kemarahan yang terjadi di dekatnya.

Samar-samar yeoja itu mendengar erangan kesakitan Sehun dan beberapa umpatan dari sunbae yang ada disana. Soojung tidak bisa memperkirakan ada berapa orang yang melakukan tindakan jahat itu, dan Ia tidak berani bergerak sedikitpun.

Beberapa lama Soojung diam, sampai Ia tidak mendengar suara apapun lagi. Soojung mengeluarkan tissue yang ada di sakunya.

“Mereka sudah pergi, gwenchanayo?”, Sehun melongok ke tempat persembunyian yeoja itu

Tanpa Sehun duga, Soojung mengusap darah yang ada di wajahnya, membuat namja itu terdiam memandang Soojung. Yeoja itu menyernyit ngeri melihat darah yang masih mengalir keluar, yeoja itu mengeluarkan satu tissue lagi, dan mengusapnya di wajah Sehun, sementara namja itu masih terpaku, tidak percaya pada apa yang di lakukan Soojung.

Sehun menahan tangan yeoja itu, membuat Soojung memandangnya bingung.

“Keluar.”, ucap Sehun dingin

Soojung diam, tapi kemudian Ia berusaha keluar dari tempat sempit itu.

JDUK.

Soojung mengusap-usap kepalanya yang sukses bertumbukan dengan ujung meja. Yeoja itu kemudian melangkah pergi.

“Soojung-ah.”

Soojung berbalik, memandang namja itu.

“Gomapta.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Malamnya, Soojung yang tadinya tengah menunggu taksi menoleh kaget. Seorang namja berdiri tak jauh darinya, Soojung menyernyit bingung.

“Kenapa kau disini?”

Soojung memiringkan kepalanya, sosok itu melangkah dan membuat Soojung membulatkan matanya. Sehun. Tangan yeoja itu segera bergerak mencari notes nya.

‘Aku menunggu taksi. Apa yang kau lakukan disini?’

“Oh,”

‘Apa lukamu sudah baik-baik saja?’

“Hmm, sudah ku beri obat tadi,”, ucap Sehun

Soojung mengangguk-angguk paham, kemudian Ia memandang ke arah jalan raya, dan mendesah pelan karena tidak ada tanda-tanda taksi yang lewat. Sehun memandang yeoja itu sekilas, tersenyum tanpa sadar.

“Kau mau ku antar pulang?”, ucap Sehun tanpa memandang yeoja itu, mengira bahwa yeoja itu akan langsung mengangguk. Tapi nyatanya yeoja itu malah menggeleng. Membuat Sehun membuka mulutnya lagi.

“Ini sudah jam setengah sebelas, kau mau menunggu taksi sampai jam berapa?”

Soojung memandang namja itu sebentar, lalu memandang ke jalan, memastikan jika tidak taksi disana. Tapi lagi-lagi Soojung menggeleng. Akhirnya, Sehun tersenyum tipis melihat kelakuan yeoja itu.

“Tidak akan ada, kajja, ku antar saja,”, ucap Sehun

“Kau mau berdiri disana sampai kapan?”, ucap Sehun saat Soojung masih bergeming di tempatnya.

Yeoja itu menggeleng, lalu melangkah mengikuti Sehun. Namja itu rupanya membawa sepeda motor.

‘Kau punya motor? Tapi kenapa selalu naik mobil ke kampus?’

Sehun menyernyit.

“Itu karena kami selalu berangkat dan pulang bersama.”, ucap Sehun, tangan namja itu bergerak mengulurkan helm pada Soojung.

‘Rumahku di daerah perumahan pyeongnam. Kau tidak keberatan?’

“Tidak apa-apa. Anggap saja ucapan terima kasih.”, ucap Sehun saat Ia naik ke sepeda motornya.

Soojung berdiri di samping namja itu, membuat Sehun memandang nya bingung.

“Wae?”

Soojung mengulurkan notesnya. Dan tulisan yeoja itu membuat Sehun tertawa pelan.

‘Jangan mengendarai di atas kecepatan rata-rata. Rumahku di blok A nomor 5. Jangan melanggar peraturan lalu lintas apapun.’

“Aku mengerti Soojung-ah.”, ucap namja itu

Soojung tersenyum, yeoja itu kemudian naik ke boncengan motor Sehun. Sehun langsung mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan yang menurutnya tidak akan membuat Soojung kaget atau semacamnya.

Tidak ada interaksi apapun di antara mereka selama dua puluh menit perjalanan ke rumah Soojung. Keduanya sama-sama terhanyut dalam pikiran masing-masing. Motor Sehun akhirnya terhenti di depan sebuah rumah bercat putih.

“Kita sampai.”, ucap namja itu

Soojung bergerak turun dari motor, melepaskan helmnya dan mengulurkannya pada Sehun. Namja itu menunggu saat melihat Soojung menulis.

‘Jeongmal gomawoyo’

“Cheonmaneyo,”

‘Berhati-hatilah di jalan.’

“Sampai bertemu besok.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Soojung melangkah masuk ke kelas, dan tatapan yeoja itu langsung tertuju pada Sehun yang tampak duduk di mejanya, bersama dengan Luna dan Kai. Yeoja itu kemudian mengedarkan pandangannya, dan tatapannya terhenti pada beberapa orang yang tampak memperhatikan tiga orang itu.

Dengan langkah bingung, gadis itu duduk di tempatnya, dan beberapa anak langsung mengajaknya bicara.

“Soojung-ah, kau tau? Aku mendapat berita jika lima orang sunbae kita terbunuh.”

Mendengar nama Soojung, Sehun melirik sekilas, namja itu tanpa sadar memperhatikan Soojung yang tampak dengan serius mendengarkan.

“Sungguh, beritanya masuk di koran dan TV, mereka di bunuh secara sadis. Lehernya tersayat, dan mereka mati karena kehabisan darah.”

“Dan lima sunbae itu adalah sunbae yang kemarin memukulinya,”, kali ini suara itu terdengar lebih pelan, tapi masih bisa di dengar jelas oleh Sehun.

Kai menyenggol pelan lengan Sehun saat namja itu tampak menatap diam.

“Apa?”, ucap Sehun, dan di sahuti dengan gelengan pelan oleh Kai

Sehun kemudian berdiri, dan melangkah menghampiri gerumbulan yeoja yang tengah bicara itu.

“Bisa ikut aku sebentar Soojung-ssi?”

Soojung mendongak, mata gadis itu membulat saat menatap Sehun. Beberapa yeoja di dekat mereka tentu saja bungkam. Dengan cepat Soojung mengangguk, dan berdiri, mengikuti langkah Sehun. Soojung memandang Sehun sebentar saat melihat ke arah yeoja yang bicara itu.

Saat Sehun memandangnya, Soojung langsung mengalihkan pandangan nya. Tatapan yeoja itu bertumbukan dengan Luna, dan Luna hanya tersenyum tipis pada gadis itu.

Dua orang itu melangkah menuju perpustakaan, dan Soojung hanya mengikuti langkah Sehun dalam diam. Namja itu tidak terlihat sedang dalam mood yang baik.

Sesampainya di perpustakaan, Sehun berbalik, memandang Soojung.

“Kau tidak ikut kelas pertama, kau tidak tau ada tugas kan?”, tanya Sehun dan dijawab dengan gelengan oleh Soojung.

“Ada tugas kelompok, tentang penelitian pada kenikmatan seni, dan harus dikerjakan berkelompok. Karena semua orang sudah membentuk kelompok sendiri-sendiri, kau sekelompok dengan kami.”

Mendengar kata kami, Soojung menyernyit.

“Aku, Luna dan Kai.”, ucap Sehun menjelaskan, dan Soojung akhirnya mengangguk-angguk paham.

“Luna dan Kai sudah sepakat akan melakukan penelitian dan membuat hasilnya, aku dengar dari anak-anak sekelas jika kau pintar membuat landasan penelitian. Jadi, tidak keberatan jika aku mengajakmu kesini dan mencari bahan bukan?”, ucap Sehun dan dijawab dengan anggukan cepat oleh Soojung.

“Bagus. Ayo masuk.”

Dua orang itu akhirnya masuk, dan setelah Sehun membantu yeoja itu memilih beberapa buku untuk jadi bahan penelitian, mereka duduk di salah satu sudut perpustakaan. Dengan masing-masing sebuah buku di depannya.

‘Seni apa yang lebih baik menurutmu?’

Sehun menyernyit.

“Jika kau tanya aku, aku lebih suka musik.”

‘Bagaimana jika kita meneliti tentang efek musik pada emosi pendengarnya?’

“Maksudmu?”

‘Kau tau, terkadang saat seseorang marah, senang, atau bersedih, mendengar musik bisa membuat mood mereka membaik, atau malah memburuk.’

“Ah, aku mengerti. Baiklah. Kita meneliti itu saja.”, ucap Sehun

Satu jam lebih dihabiskan dua orang itu dengan membaca buku dan menandai beberapa yang berhubungan dengan penelitian mereka. Sampai akhirnya Sehun merebahkan kepalanya dimeja.

Soojung memperhatikan namja itu dalam diam, sudah begitu ingat jika kebiasaan semacam ini dilakukan Sehun ketika Ia mulai bosan. Soojung mengeluarkan ponselnya, memasang headset, dan menyenggol pelan lengan Sehun, membuat namja itu menengadah memandangnya.

“Kenapa?”

Soojung tidak menjawab, Ia hanya mengulurkan headset pada Sehun, dan langsung disambut oleh namja itu. Beberapa menit mereka sama-sama terdiam mendengar alunan musik dari ponsel Soojung.

‘Apa itu benar?’

“Tentang?”

‘Sunbae kita yang terbunuh’

“Mungkin.”, sahut Sehun pendek

‘Tapi mereka benar-benar sunbae yang memukulimu kemarin Sehun-ssi?’

“Ya.”

‘Kau marah?’

Sehun menyernyit, kemudian memandang Soojung yang menyernyit khawatir.

“Aku hanya tidak suka kau jadi menyebalkan seperti mereka.”, ucap Sehun dengan nada kesal yang kental dalam suaranya.

Soojung segera menangkupkan kedua telapak tangannya.

“Gwenchana. Setidaknya kau tidak banyak bicara seperti mereka. Kau tidak meledek kami seperti yang mereka lakukan. Kau tidak membenci kami.”

‘Kenapa aku harus membenci kalian?’

“Kau tidak marah karena beberapa minggu ini menyapa kami tapi selalu diabaikan?”, tanya Sehun membuat Soojung terdiam.

‘Aku mengerti kalian hanya suka pada Seulhyun.’

“Karena hanya dia yang benar-benar baik.”, tanya Sehun dan dijawab dengan desahan pelan, kecewa.

Tentu saja gadis itu kecewa. Mengetahui fakta bahwa Sehun melupakannya saja sudah melukai perasaan gadis itu, ditambah lagi dengan bagaimana namja itu hanya menerima keberadaan Seulhyun.

Hanya Seulhyun yang benar-benar baik. Jadi Sehun berpikir bahwa dia jahat juga? Soojung memutar tubuhnya, membuat headset yang terpasang di telinganya tanpa sengaja terlepas. Yeoja itu memandang ke arah buku lagi, mulai mencari bahan penelitian.

Sementara itu Sehun tersenyum samar, dan memasangkan headset di telinga Soojung lagi.

“Kau mau berteman denganku Soojung-ssi?”

“Kau benar-benar ingin berteman denganku Kim Soojung?”

Soojung menoleh. Memandang Sehun lama. Memang ucapannya sedikit berbeda, tapi setidaknya namja itu bicara dengan tujuan yang sama.

‘Bolehkah?’

Sehun tertawa pelan.

“Jangan menyesal karena mau menjadi temanku. Aku bukan teman yang baik Soojung-ssi.”, ucap Sehun

Soojung tersenyum. Untuk apa menyesal? Bahkan dulu yeoja itu pun tidak pernah menyesal karena sudah berteman dengan Sehun.

Tidak akan.. Aku tidak akan menyesal Sehun-ah..

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Nilai A++ untuk penelitian tentang efek musik pada emosi pendengarnya.

Soojung baru akan menyebrang jalan ke kampus saat ponselnya berdering pelan, sebuah pesan masuk. Dari nomor yang tidak dikenal oleh yeoja itu.

From: 01-020-042-xxx

Soojungie! Ku traktir kau makan nanti seusai kelas!

Soojung menyernyit tidak mengerti. Yeoja itu memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket yang Ia kenakan, dan menyebrang bersama beberapa orang. Dengan penuh tanda tanya yeoja itu melangkah ke arah kelasnya.

Soojungie? Seingat Soojung hanya Seulhyun atau Myungsoo yang terbiasa memanggilnya seperti itu. Tapi ada apa? Apa Myungsoo baru saja dapat lotere? Atau Seulhyun sudah kembali dari Australia?

Tanpa sadar yeoja itu bergidik saat membayangkan Seulhyun kembali, mengingat bahwa beberapa hari ini Ia sudah mulai dekat dengan namja itu, Oh Sehun. Dan entah kenapa, Soojung tidak rela jika namja itu kembali harus dekat dengan Seulhyun.

“Nilai sempurna lagi Soojung. Kau benar-benar hebat.”

“Geurae. Bahkan saat bersama orang-orang seperti itu kau masih bisa mendapat nilai sempurna.”

Soojung menyernyit mendengar beberapa orang teman sekelasnya bicara. Dengan rasa penasaran yeoja itu melangkah masuk ke dalam kelasnya, dan seperti biasa, yeoja itu mencari keberadaan Sehun.

Ia tersentak saat tatapannya bertemu dengan Sehun, rupanya sedari tadi namja itu sudah memandang Soojung. Ada senyum tipis terukir diwajah Sehun, namja itu segera menghampiri Soojung yang memandangnya bingung.

“Kenapa tidak membalas pesanku?”, tanya Sehun membuat Soojung memiringkan kepalanya tidak mengerti.

Sehun menunjukkan selembar kertas penilaian ke hadapan Soojung, membuat tatapan bingung di wajah yeoja itu pudar, bergantikan dengan senyuman.

“Nilai sempurna.”, ucap namja itu membuat Soojung dengan tidak percaya mengambil kertas yang ada di tangan Sehun, menatapnya lama.

“Soojungie!”

Soojung menoleh ke arah Myungsoo yang berjalan menghampirinya.

“Bukankah ada yang ingin kau bicarakan?”

Soojung menyernyit.

“Nilai sempurna ini kau dapatkan sendiri bukan?”, ucap Myungsoo membuat Sehun menatap namja itu lama.

“Mwo?”, ucap Sehun dengan nada dingin

“Aku tidak bicara padamu. Aku bicara pada Soojung.”

Dua orang namja berpostur tinggi itu saling memandang, dengan kemarahan di masing-masing mata mereka. Dan melihat hal itu, Soojung dengan segera menyarangkan cubitan kecilnya di lengan Myungsoo.

“Auw! Ya! Kim Soojung!”

Soojung malah beralih dan menjewer namja jangkung itu. Membuat Sehun memandang yeoja itu. Soojung jelas membelanya.

“Kita mau kemana? Urusanku dengan nya belum—auw! Soojungie!”

Soojung menarik namja itu keluar kelas, setelah sekilas menoleh ke arah Sehun dan tersenyum tipis.

Sementara itu Luna tertegun, sangat jarang melihat Sehun bisa lebih dulu mengajak orang lain bicara—selain keluarganya ataupun Seulhyun tentunya—apalagi membahas masalah nilai—hal yang bagi mereka terlalu manusia—seperti sekarang.

“Oh Sehun.. Apa yang sedang terjadi padamu..”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Seusai kelas, dengan cepat Sehun meraih tasnya, bahkan tanpa bicara atau memberi kode apapun untuk Luna dan Kai. Namja itu menghampiri meja Soojung, membuat aktifitas yeoja itu terhenti. Yeoja itu memiringkan kepalanya tidak mengerti. Dan tampaknya, seisi kelas juga memandang mereka tidak mengerti.

“Kajja, kita harus cepat. Ada kedai makanan yang enak di dekat kampus dan kau harus mencobanya. Kedai itu tutup jika sudah malam. Ppali ppali.”, tanpa bisa di cegah, tangan Sehun bergerak ikut membereskan meja Soojung.

Sekali lagi, hal itu membuat Luna terperangah. Seorang Oh Sehun? Bertindak begitu manusia di depan Kim Soojung? Namja itu bahkan tidak pernah bertindak seperti itu di hadapan Seulhyun.

Namja itu bahkan membawa sendiri tas Soojung, dan dengan cepat menarik tangan Soojung dan melangkah cepat—hampir berlari—keluar kelas, mengabaikan Baekhyun yang baru saja akan masuk ke kelas mereka. Membuat Baekhyun menyernyit ngeri.

Oh Sehun? Berkontak fisik dengan manusia?

Dengan tidak mengerti Baekhyun memandang ke arah dua orang itu, dan memandang Luna yang tampak tersenyum tipis.

“Kenapa dengan Sehun?”, tanya Baekhyun tidak mengerti

“Dia punya teman.”, ucap Luna ringan membuat Baekhyun semakin memandang tidak mengerti.

“Oh Sehun? Punya teman?”, ucap Baekhyun dengan nada aneh

“Ya. Apa yang salah?”, tanya Luna dan akhirnya hanya ditanggapi dengan gelengan pelan oleh Baekhyun.

“Ini aneh.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Soojung mengatur nafasnya saat mereka berdua sampai di halte. Melihat itu, Sehun mengeluarkan beberapa uang koin, dan melangkah mendekati mesin minuman di dekat halte. Dengan langkah penasaran Soojung mengikuti namja itu.

“Kau suka apa?”, tanya Sehun

Jemari Soojung langsung menunjuk ke arah jus apel, membuat Sehun mengangguk.

“Kebetulan sekali kita suka jus yang sama.”

Soojung hanya mengangguk pelan, menerima sebotol jus apel yang di ulurkan Sehun padanya. Kemudian dua orang itu duduk di halte.

“Kau sangat menyukai apel?”, tanya Sehun membuat Soojung menyernyit bingung

“Jus, bau rambutmu, dan parfum yang kau pakai. Semua nya apel. Kau suka apel?”

Ucapan Sehun sontak membuat satu ingatan Soojung berputar.

“Kau mau kemana Soojung-ah?”, Sehun menahan langkah yeoja itu saat melihat Soojung tidak berjalan ke arah halte.

“Aku mau ke supermarket di dekat sekolah.”

“Eh? Tidak bersama Omoni? Tumben sekali.”, ucap Sehun dengan tatapan menyelidik.

“Tentu saja karena aku mau membeli perlengkapanku sendiri. Kenapa harus bersama Eomma?”, ucap Soojung, merengut kesal.

Sontak senyum lebar terpampang diwajah Sehun.

“Aku boleh menemanimu?”, tanya Sehun dan dijawab dengan anggukan dan senyum jahil oleh Soojung.

“Boleh. Tapi kau harus membayar dan membawa belanjaannya.”, ucap Soojung, menjulurkan lidahnya.

Dengan cepat Sehun merangkul bahu yeoja itu.

“Baiklah! Tapi aku yang memilihkan untukmu!”

“Mwo? Ya! Shireo!”

Seolah tidak mendengar ucapan Soojung, Sehun terus menarik yeoja itu ke arah supermarket. Dan sesampainya di supermarket, namja itu merebut catatan kecil yang ada di tangan Soojung.

“Hmm, sabun, sabun wajah, masker, jepit rambut, lipgloss, sisir, kenapa ada sisir?”, Sehun terus bicara tanpa peduli tatapan beberapa orang bersarang pada mereka karena namja itu bicara cukup keras, “bulu mata palsu.. kau butuh ini Soojung-ah? Oh, lalu parfum, eh? Pembalut juga?”, Sehun terkekeh geli, membuat Soojung mendelik kesal dan memukul lengan namja itu.

“Jangan keras-keras!”, bentak yeoja itu kesal, segera merebut catatan kecilnya dari tangan Sehun.

“Kajja,”, Sehun kembali menarik lengan yeoja itu, dan dengan sigap namja itu mengambil keranjang.

“Sabun.. sabun.. sabun..”, Sehun memandang deretan sabun yang ada di depannya.

Tangan Soojung sudah dengan cuek akan mengambil sabun yang biasanya Ia pakai, tapi Sehun segera menahan yeoja itu.

“Kau ini, jangan sembarangan memakai sabun. Kau harus pakai sabun yang cocok dengan kulitmu.”

“Apa itu perlu?”, Soojung membulatkan matanya bingung

“Pabo.. Pegang ini. Biar aku yang pilihkan.”, ucap Sehun sambil menyodorkan keranjang yang tadinya ada di tangan namja itu.

Dengan tidak mengerti Soojung pasrah memegang keranjang itu. Dan sekarang Sehun malah sibuk membaca satu persatu kandungan sabun.

“Nah ini saja, sabun ini ada kandungan anti-minyak nya. Jadi muka jelekmu tidak akan mudah berminyak. Memangnya kau mau berjerawat huh?”

“Lalu ini, kau pakai sabun wajah ini. Dia ada penyejuknya. Karena sabunmu ada anti-minyak jadi mungkin wajahmu jadi kering. Dengan sabun muka ini wajahmu nanti bisa lembap.”

“Oh. Pakai masker wajah ini saja. Yang ini tidak harus dipakai setiap dua hari. Cukup seminggu sekali karena tujuannya hanya untuk mencegah alergi pada kulit karena penggunaan kosmetik.”

“Hah?”

Soojung ternganga saat melihat Sehun bicara begitu panjang lebar tanpa peduli bahwa mereka jadi tontonan beberapa orang. Siapa yang tidak heran melihat seorang namja bicara panjang lebar soal kosmetik di depan yeoja yang datang bersamanya?

“Nah, kurang lipgloss, lalu sampo dan parfum.”, ucap Sehun mengangguk-angguk puas melihat hasil pilihannya ada di keranjang Soojung.

Dengan penuh kekesalan Soojung mencubit lengan namja itu.

“Neo michyeoseo!?”, ucap Soojung menahan kesal

“Eh? Wae?”

“Kau tidak melihat harga-harga barang ini?”

“Bukannya kau bilang aku yang harus membayar?”, Sehun balik bertanya membuat mata Soojung membulat kaget.

“Aku hanya bercanda soal itu! Ish!”

“Ah sudahlah, tidak apa-apa. Sesekali aku berbaik hati padamu. Nah, lipgloss dengan rasa apel! Ini cocok untukmu!”

“Aku tidak suka. Aku selalu pakai strawberry.”, ucap Soojung menolak

“Tapi aku suka apel.”

“Aku tidak suka.”

“Aku suka.”

Soojung bungkam. Percuma saja berdebat dengan Sehun, dia tidak pernah mau kalah. Dan dengan senyum kemenangan, Sehun memasukkan lipgloss pilihannya ke dalam keranjang.

“Nah, sampo ini saja.”

“Apel lagi?”, ucap Soojung tak percaya

“Aku sudah bilang aku suka apel kan?”, ucap Sehun dengan tatapan polos

“Ugh, Oh Sehun, aku menyesal membiarkanmu ikut.”

Sehun malah mengabaikan omelan yeoja itu, Ia sekarang berdiri di deretan parfum, sementara dengan dongkol Soojung berdiri di tempat terakhir mereka. Beberapa lama Sehun memilih parfum, sampai-sampai ditangannya ada beberapa botol parfum.

Namja itu bahkan mencoba satu persatu parfum itu, memandang Soojung sekilas, dan menggeleng, atau mengangguk intens. Setelah menentukan pilihannya, Sehun melangkah mendekati Soojung.

“Selesai, ayo ke kasir.”, dengan cuek Sehun mengambil keranjang yang ada di tangan Soojung dan merengkuh bahu yeoja itu.

“Jangan merengut begitu. Kau tidak akan menyesal menurutiku kali ini.”, ucap Sehun, tangan namja itu mengacak-acak rambut Soojung pelan.

“Terakhir kali menurutimu kita berakhir di hukum di perpustakaan.”, gerutu Soojung kesal.

Sehun tertawa pelan.

“Tidak tidak. Kali ini sungguh tidak.”

“Kau mendengarku?”

Soojung tersentak, tersadar dari lamunannya. Yeoja itu mengerjap cepat, memandang Sehun dalam diam.

“Kau sangat suka apel?”, ulang Sehun

Soojung mengangguk pelan. Membuat Sehun mengalihkan pandangannya.

“Ah, pantas saja. Kau tidak kalah modis dengan yeoja-yeoja berkelas lain di kelas kita.”, ucap Sehun, tersenyum samar.

Beberapa menit tercipta keheningan di antara mereka, membuat Soojung punya waktu untuk kembali hanyut dalam ingatannya.

“Kenapa kau begitu tidak modis?”

“Mwo?”, Soojung mendongak, memandang Sehun kesal. Namja itu tengah sibuk memperhatikan Soojung sedari tadi tanpa yeoja itu sadari.

“Minusmu tidak parah tapi kau terus memakai kacamata sebesar itu. Potongan rambutmu juga kuno. Jika bermain diluar bajumu selalu ketinggalan zaman. Dan kau selalu memakai sepatu yang sama. Kau sangat tidak modis.”, ucap Sehun membuat Soojung bergerak akan menjitak namja itu, tapi dengan cepat Sehun mengelak.

“Kau pernah lihat Choi Seulhyun? Anak pemilik yayasan yang ada di kelas sebelah itu? Dia sangat modis dan trendy. Walaupun tomboy, dia selalu memperhatikan penampilannya. Tidak sepertimu. Kau ini yeoja apa..”, gerutu Sehun membuat Soojung berdecak kesal dan berbalik menjauhi namja itu.

“Coba saja kau seperti yeoja-yeoja di kelas kita. Memakai lensa kontak, pakaian feminim, dan sepatu yang cantik..”

“Aku tidak punya waktu untuk memikirkan hal seperti itu!”, bentak Soojung

“Setidaknya kau harus beli sepatu baru. Berapa tahun kau memakai sepatu kets itu?”, tanya Sehun kembali menguji kesabaran Soojung

“Itu sepatu keberuntunganku.”, tukas Soojung

“Cih, masih saja percaya ungkapan-ungkapan seperti itu. Kau tau, seorang pengrajin sepatu di Perancis pernah mengatakan, sepatu yang bagus, akan membawa pemiliknya ke tempat yang bagus juga.”

“Istilah dari zaman apa itu? Kenapa kau selalu bicara seperti kakek tua?”, balas Soojung

“Mwo?”, Sehun memandang tidak terima

“Ya. Kau selalu bicara dengan bahasa formal, penampilan seperti bapak-bapak, dan bicara dengan sumber yang tidak jelas. Seperti Appaku!”, ucap Soojung membuat tawa Sehun meledak.

“Oh! Astaga! Jadi karena itu Abeonim sangat suka jika aku datang ke rumah. Karena anak perempuannya tidak pernah sependapat dengannya?”, ledek Sehun membuat Soojung mendengus kesal.

“Kau saja sana yang jadi anaknya.”, ucap yeoja itu sekenanya

“Kau yakin? Kita akan jadi saudara. Ahh, mungkin nanti aku akan bicara pada Abeonim untuk mengadopsiku.”

“Ya!”

Soojung tersenyum tipis. Ingatan itu terekam begitu jelas dalam ingatannya. Dan sangat sulit untuk dilupakan.

“Ah, busnya datang. Ayo naik.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

A Part of Chapter 4~

Seperti yang Luna duga, Sehun dan Soojung dengan cepat bisa akrab satu sama lain. Terbukti dengan bagaimana beberapa hari ini Sehun sibuk mengajak gadis itu ke banyak tempat yang ingin Ia kunjungi. Hal yang benar-benar tidak pernah Sehun lakukan selama ini.

Namja itu juga perlahan berubah. Kepribadian Sehun yang dingin dan kaku sama sekali tidak pernah terlihat saat namja itu bersama Soojung. Malah, namja itu terkesan banyak bicara.

Beberapa orang dikelas bahkan sudah dengan pasti meng-klaim bahwa Sehun menyukai yeoja itu. Bagaimana tidak, dengan ancaman menyeramkan, Sehun meminta mahasiswa yang tadinya duduk di belakang Soojung untuk bertukar duduk dengannya. Tentu saja Sehun melakukan itu saat Soojung tidak ada dikelas.

Dan saat Soojung datang, yeoja itu hanya terperangah melihat Sehun sudah bertengger di belakang mejanya dengan senyuman yang tidak bisa Soojung artikan.

Sehunnie.. Kau kembali?

Luna menyernyit saat mendengar pikiran Soojung terlempar padanya. Luna memperhatikan Soojung, yeoja itu tampak berdiri tak percaya, dan penuh keterperangahan yeoja itu duduk menghadap Sehun, memastikan jika namja itu benar-benar duduk disana.

“Apa kau ada waktu nanti malam?”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

10 thoughts on “Forgotten Hidden Part

  1. tyazputri berkata:

    wah ternyata ada yang keselip ya… pantesan kok aku ngerasa alurnya cepet banget. tiba-tiba sehun deket sama soojung. tapi terus jauh lagi, ternyata ada yang keselip. masih penasaran penyebab sehun lupa sama soojung nih irish….

  2. moonsrvn berkata:

    Hhuuaaa~~ entah lah aku lebih setuju kalo soojung sama kai aja.. walau yang jadi soojung bukan krystal tapikan namanya sama2 soojung(?) Udah lah seulhyunxsehun soojungxkai kkkk~ tp setidaknya walaupun soojung sama kai (semoga) sehun bisa inget soojung lagi hohoho.. ka irish aku mau tanya dong tp tentang one and only hehe, Dahyun Kai dan Joy itu 3 alpha12 yang dimaksud di chapter2 sebelum nya atau 3 alpha12 yg lain? Maaf kemarin komen lupa nanya soal itu hihi

  3. heyitsbii berkata:

    kak, emangnya sehun sakit apa sih sampe lupa sama soojung. kesel juga sih. masa sehun gak pernah ngerasa de javu pas deket2 soojung. ato jgn2 sehun punya trauma mendalam sampe lupa sama soojung ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s