Waar

 

 

 

weather-picture-photo-mist-rain-reddeath - Copy

Project fiction by KIMNAMIE

Title Waar | Cast Oh Sehun and him | Genre Angst, AU (Alternative Universe), Violence | Rating G | Length Drabble-mix |

Sequel of Four Seasons : https://koreadansaya.wordpress.com/2015/09/16/four-seasons/

.

.

.

Untuk semua hal yang tidak pernah dia pahami…

…dia ingin pergi, berlari…

Ada banyak hal yang tidak bisa dia katakan dengan terang-terangan. Semua rasa yang terpendam dalam hatinya, tidak seorangpun ada yang mengetahui. Atau mungkin, lebih tepatnya, tidak seorangpun ada yang tertarik untuk mengetahui.

Hidup itu indah, kata orang-orang. Tapi untuk semua perlakuan buruk dan kejam orang tuanya, orang-orang di sekolahnya, apa yang bisa disebut indah? Memar pada sekujur tubuhnya karena perlakukan ayahnya? Atau kata-kata hinaan untuknya, yang bahkan, lebih rendah daripada parasit. Dan mungkin dia memang benar-benar parasit untuk semua orang.

Ketika dia berpikir tentang seberapa pahit hidupnya, tidak sedikitpun ada harapan untuk hidupnya agar menjadi sedikit lebih indah. Karena dia sendiri tidak tahu, siapa orang tua kandungnya, keluarga aslinya. Benar, dia hanya anak yang tidak lebih dari anak pungut. Menyedihkan.

Ada sosok yang sangat mengerti dirinya. Tapi untuk sekian lama, sosok itu menghilang, bagai ditelan bumi yang bulat ini. Lima puluh persen, dia berharap bahwa sosok itu akan datang. Tapi itu mustahil.

Jadi, inilah hidupnya. Pahit, hambar, dan sangat menyakitkan.

Untuk sebuah kenyataan pahit yang terus menamparnya, dia hanya bisa tersenyum sedih.

Aku berpikir, aku tidak pernah lahir…

.

.

.

Seperti kopi, yang dia rasakan di hidup ini…

Selebihnya, adakah hal lain yang lebih pahit?

Pahit. Benar-benar pahit, hingga dia sendiri serasa ingin mati karena tidak kuat dengan rasa pahitnya. Tidak hanya pahit, tapi juga sangat menyakitkan. Dan, jika diibaratkan dengan kopi, kopi macam apa itu? Mungkin dia bisa menciptakan kopi yang mempunyai rasa seperti itu. Pahit dan menyakitkan.

Mereka bilang, dia hanyalah sebuah parasit, yang disebut sebagai anak haram. Terlalu kejam, tapi dia tidak pernah peduli –lagi-, karena dia sudah kebal. Tidak benar-benar kebal sebenarnya, karena dihina bukanlah sesuatu yang menyenangkan.

Bagi orang-orang yang masih mempunyai –sedikit- nurani, mungkin bisa melihat betapa sakitnya dia. Tapi, mereka tidak pernah merasakan rasa sakitnya. Bahasa kasarnya, mereka hanya menunjukan rasa formalitas. Bukan rasa tulus karena melihatnya kesakitan. Sebenarnya, dia juga tidak ingin terlihat kesakitan. Tapi semua itu tidak bisa dielak.

Lalu dia harus apa?

Berharap, terus menerus membuatnya bertambah sakit, ketika harapannya tidak terwujud. Sosok yang dia tunggu, tidak pernah memberi kabar, bahkan ketika dia menghubunginya sampai sejuta kalipun. Lagi-lagi, meskipun harapannya selalu pupus, dia tidak pernah berhenti berharap.

Jadi mungkin, dia harus menerima kepahitan hidup ini, sampai ajal menjemput.

Rumit, dan aku tidak bisa meluruskannya…

.

.

.

Semua rasa sakit yang dia terima…

…seakan hanya sebuah sandiwara…

Tendangan beruntun itu terus diterima oleh sekujur tubuhnya. Dia tidak melawan, karena bahkan, sekedar untuk menggerakan kakinya saja terasa ditusuk ribuan jarum. Darah dan memar, tercetak kulitnya yang tidak tertutupi pakaian sekolah.

Tawa keras menderai dari orang-orang yang memukulnya, seperti sebuah tawa iblis yang mengerikan dipendengarannya. Dia tidak tahan lagi, dan dia ingin pergi, berlari menjauh. Gerakan memberontak, terkadang dia lakukan untuk mengisyaratkan kata ‘berhenti’.

“Berhenti…” Dia hanya menggerakkan bibirnya, tanpa suara.

Semenit terlewati, dengan dia yang terus berusaha bangkit, dan menjauhi lubang neraka ini. Darah dan memar, seolah-olah hanyalah debu yang menempel dikulit putihnya, di mata mereka. Sekeras apapun menunjukan, mereka tidak akan memberi belas kasihan pada seorang parasit.

Pada dasarnya, dia sendiri juga tidak tahu mengapa bisa disebut sebagai parasit. Sebutan parasit, terlalu kejam untuknya yang bahkan tidak pernah mengganggu orang lain. Sungguh begitu tidak adil.

Bayang-bayang kenangan yang dipenuhi dengan kata-kata semangat, berputar dimemorinya bagai sebuah kaset rusak. Sosok yang –dulu-, pernah memberi sebuah kebahagian dalam hidupnya, terlintas dibenak dan hatinya yang membusuk, karena sakit.

Untuk sebuah usaha keras, dia berhasil bangkit, dan berlari menjauhi hinaan serta pukulan. Dalam larinya, dia tersenyum, lirih.

Dunia ini luas, tapi aku merasa tidak bisa bergerak…

.

.

.

Dia akan sangat senang, ketika dia bisa pergi…

…dari semua penderitaan ini…

Semua yang sudah dia alami setiap hari, terjadi lagi dihari ini. Mungkin itu sudah menjadi makanan sehari-harinya. Atau mungkin, itu memang takdir hidupnya. Entahlah. Dia tidak menyalahkan hari, atau takdir, tapi dirinya sendiri yang terlalu lemah.

Dikatakan lemah, itu terlalu menyakitkan. Sesungguhnya dia ingin melawan, sangat ingin. Tapi ketika dia sudah menunjukan perlawanan, siapa yang akan mendukungnya? Siapa yang akan mengatakan, bahwa semuanya akan baik-baik saja, di sampingnya? Selama ini, dia hanya berharap ada seseorang yang mau menemaninya.

Rambut hitamnya tampak terguncang, saat sebuah tamparan mendarat dipipinya, dan merobek bibirnya. Dia meringis, menahan sebuah keinginan untuk berlari. Meringis, untuk hidupnya yang terjal berliku.

Matanya blur, ketika sebuah benda berbentuk seperti tongkat kayu rotan, menekan perutnya dengan keras dan membuatnya merasa bahwa perutnya mungkin robek. Dengan itu, cipratan darah keluar dari bibir tipisnya, diikuti dengan sebuah teriakan.

“Arrggg…!” Dia mengerang keras, untuk pertama kalinya.

Sebelum matanya benar-benar tertutup, bayangan tentang sosok yang dia rindukan melewati ingatannya.

Terakhir yang dia rasakan, ada sebuah benda keras yang menghantam tengkuknya. Dia berteriak, meluapkan segalanya.

“ARRGGG!!!”

Tuhan, ambil aku sekarang juga…

.

.

.

Hyung, sebenarnya kau pergi kemana?

.

.

.

.

.

Gyahaha… berakhir dengan ending yang gaje. :p

Yaampun, maafkan aku yang menderitakan(?) Sehun disini. Dan untuk him, maaf ya karena nggak disebutin namanya. Tapi sepertinya ‘him’ itu mudah ditebak ya? ^^

Inti dari cerita ini, Sehun itu seperti orang yang tidak pernah diharapkan lahir di dunia. Dia dimaki, dipukuli, dihina, atau apapun itu yang sangat menyakiti batinnya. Tapi Sehun tidak bisa berontak ataupun berlari, karena seseorang yang bisa membuatnya bangkit, telah hilang ditelan bumi.

Dan mengapa judul dari Drabble-mix ini adalah Waar? Waar, adalah bahasa Belanda dari kata ‘Dimana?’. Ada yang tahu mengapa aku menamainya Waar? ^^

5 thoughts on “Waar

  1. park13 berkata:

    mungkin karena sehun lgi nyari seseorg yg author sebut ‘him’ itu dimana ?? *ngaco*
    thor kasian oh thehun harus menderita 😥 😥 tolong buat dia bahagia donkk thoorr ya ya ya *maksa* 😀 😛 hahaha ..
    oke thoor ditunggu ff krya mu yg lainnya ..

  2. PJM berkata:

    mungkin krna sehun lgi nyari seseorg (him) itu dimana ?? *ngaco* haah nan molla ..
    thorr jangan buat sehunn nya matii 😥 hikss sedihh 😥

  3. Kim Na Mie berkata:

    Well, well, si penulis abal muncul berkomentar untuk sedikit mengklarifikasi/?/

    Gini loh, ini tuh sebenernya bukan sequel dari Four Seasons. Salah masukin guys, ternyata. Mau ngirim yang satunya, lah malah milih ini file (dan nggak tau klo ada sequel-nya atau tidak /loh/ *kepiye?). Pikirku, ini itu sequel. Tp bukan, oke! Sorry… :3

    Maaf ya… *bow

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s