Story Of Us (Chapter 7)

story-of-us-1.

Story Of Us (Chapter 7)

By Lu_llama

With:

Oh Sehun-Kim Dahee

Kim Jongin-Park Jiyeon

Luhan-Amber

AU! Friendship, Romance // T

.

.

“Hey! Sebaiknya malam ini kau tidak usah pulang saja! Teman-teman ku akan datang-”

Gadis yang tengah memakai sepatunya itu melirik sekilas pada wanita yang lebih tua beberapa tahun darinya.

“-kau tau alasanku kan? Aku tak mau mereka menyadari kehadiramu! Kau mengerti itu, anak pembawa sial?”

Mendengar penuturan itu tak ayal membuat hatinya meradang. Amber membenci julukan itu. Sangat. Pembawa sial? Seburuk itu kah dia dimata kakak tirinya ini?

“Bisakah kau tidak menjuluki ku seperti itu?!” Amber jengah. Dia bangkit dari duduknya. Matanya memicing kesal pada wanita yang tengah menyeruput susu hangatnya.

“Kau bercanda?” Wanita itu tertawa meremehkan. “Kau memang pembawa sial. Dan sampai kapanpun itu tak akan berubah. Dasar anak haram!”

Telinga Amber semakin memanas saat ucapan tajam itu terlontar. Jantungnya seperti tergores pisau belati dan terkoyak. Perih. Sangat.

Dia segera berlalu keluar rumah dan menutup pintunya dengan bantingan keras.

“Go to hell!”

Umpatan itu masih ia dengar. Amber meringis. Demi Tuhan! Nafasnya sesak. Sangat. Seseorang yang disebut-sebut sebagai ‘kakak’ -meskipun hanya kakak tiri- itu begitu membencinya. Oke, Amber juga membencinya yang selalu merendahkan dirinya. Namun, Amber lebih membenci dirinya sendiri karena terlahir seperti ini.

Benar, kakaknya itu tidak membencinya tanpa alasan. Sang kakak adalah anak ibunya dari suami pertamanya. Dan Amber bukan anak haram! Dia terlahir dari pernikahan siri ibu dan ayahnya. Ayahnya adalah seorang berkewarganegaraan Amerika. Setelah ibu Amber dan suami pertamanya itu bercerai, dia bertemu dengan ayah Amber. Mereka menjalin hubungan dan menikah di LA. Ibu Amber meninggalkan putri semata wayangnya dan menetap selama beberapa tahun di LA.

Namun, hubungan ayah dan ibu kandung Amber mulai bermasalah. Dan hari itu mereka berpisah. Lalu sang ibu membawa Amber kembali kekampung halamannya di Korea saat Amber berada di tingkat 1 sekolah menengah pertama. Ibunya mempertemukan Amber dengan sang kakak yang terlihat membencinya itu.

Sedang sang mantan suami sudah meninggal beberapa tahun lalu.

Sejak hari itu, Amber mulai beradaptasi dengan lingkungan barunya juga dengan sang kakak tiri yang tak pernah menganggapnya itu. Dan tepat dua tahun ia menetap di Seoul, ibunya meninggal dunia karena sebuah kecelakaan. Kecelakaan besar yang menjadi titik awal julukan ‘anak pembawa sial’ itu ditujukan untuknya.

Bagaimana bisa? Ibunya meninggal karena menyelamatkanya dari seorang pencuri yang menyamar memakai baju badut. Sejak saat itu, kakaknya selalu menganggap Amber pembawa sial dalam keluarga. Dan karena itulah Amber sangat takut pada hal yang berhubungan dengan badut.

Pagi ini mood Amber benar-benar buruk. Perasaannya kacau. Dia pikir, dengan pergi kesekolah dan mengikuti pelajaran sehari suntuk akan menambah pikirannya semakin kacau. Maka ia putuskan untuk memutar arah. Mungkin membolos akan membuat moodnya sedikit membaik.

Gadis tomboy itu melangkahkan kakinya menuju halte bus terdekat. Bukan halte bus yang biasanya ia datangi bersama kedua sahabatnya jika ingin berangkat sekolah.

5 menit menunggu bus akhirnya datang. Amber memilih bangku paling belakang dan bersandar dijendela. Pikirannya melayang-layang.

Ia rindu LA, rumahnya dan ayahnya. Sungguh! Amber rindu kehidupannya yang dulu tapi saat ini ayahnya itu sudah memiliki keluarga baru. Amber cukup tau diri untuk tidak menjadi pengganggu. Meskipun ayahnya itu sesekali menelpon dan masih mengirimkan uang bulanan untuknya. Ayahnya itu bukan pengangguran atau orang susah, asal tau saja!

Amber rindu ibunya. Dia rindu malam natal di rumahnya yang dulu. Amber rindu kehidupannya di LA. Amber rindu teman-teman bule-nya. Amber rindu-

Semua kerinduan yang selama ini tertahan akhirnya tumpah. Amber tak sadar jika sudah ada satu tetes airmata yang jatuh dari pelupuk matanya. Ia juga tak sadar ada seorang pria yang barusaja masuk kedalam bus dan memperhatikan dirinya.

“Ish?!” Amber baru tersadar saat airmatanya itu semakin meluap-luap. Ia menghela nafas panjang dan memeluk tasnya erat. “Eoh?!”

Namun, ia kembali tersentak saat matanya tak sengaja bertemu dengan sosok tak asing yang duduk berjarak dua kursi disampingnya.

“Ke-kenapa kau disini?” Amber bertanya gagap. Atau lebih tepatnya gugup. Karena kejadian kemarin sore seketika langsung kembali menari diotaknya.

Sial! Amber merutuk karena saat matanya bertemu dengan manik milik pria itu, ia kembali merasakan perasaan asing. Perasaan asing yang juga ia rasakan kemarin, saat insiden hujan juga mobil ugal-ugalan itu berhasil membuat satu kenangan baru yang menggerayangi pikirannya.

“Pertanyaan itu juga berlaku untukmu” sosok itu bersuara-mencibir. “Kenapa kau ada disini dan-” dia memiringkan kepalanya, tatapannya menyipit “-menangis?”

Kembali, Amber dibuat tersentak. Ia menyentuh pipinya.

“Tidak!” Dengan kasar ia menghapus jejak airmata disana.

“Ada airmata disudut matamu” balas pria itu lagi sambil berdecak pelan.

Amber membuang pandangannya dan berdecih pelan.

“Gadis tomboy sepertimu bisa menangis juga ternyata”

Penuturan itu membuat Amber mendelik pada sosok itu “Itu kan wajar! Dasar ketua osis bodoh!” Cibirnya.

“Tidak wajar jika kau yang melakukannya” balas pria itu lagi “Gadis mengerikan sepertimu-”

“Dengar ya Luhan, sang ketua osis!” Amber mendesis “Sejak kapan kau mengurusi hal itu? Itu bukan urusanmu!”

Luhan memutar matanya jengah. Gadis tomboy disebelahnya ini tak akan pernah mau mengalah.

“Kenapa juga aku harus bertemu dengannya disini”

Gumaman itu terdengar sampai ditelinga Luhan. Sosok itu tersenyum miring.

Beberapa saat kemudian adegan ‘adu mulut’ itu terhenti. Tak ada lagi yang bersuara. Luhan terlihat menyandarkan kepalanya  dan matanya terpejam. Amber juga menyandarkan kepalanya dijendela, namun tanpa sadar matanya selalu melirik ke arah sosok itu. Ia perhatikan Luhan dalam diam. Entah apa yang ada dipikiran Amber.

“Kau tertarik denganku ya?”

Sekali lagi, Amber terkesiap ditempatnya. Ia terlonjak bahkan kepalanya tak sengaja membentur jendela disampingnya.

Melihat itu Luhan terkekeh. “Bodoh!” Gumamnya, sambil kembali memejamkan mata.

Sedang ditempatnya Amber meringis. “Tertarik pantatmu!” Umpatnya.

“Kau berniat membolos ya?”

Luhan membuka kedua matanya. Dia melirik Amber. “Bukan urusanmu kan?”

Sial! Amber mencibir. “Sejak kapan, sang ketua osis yang dielu-elu kan masyarakat sekolah ini, membolos?” Ujarnya melengos.

“Sejak negara api menyerang”

Jawaban konyol dari Luhan membuat Amber mendengus tak percaya.

Saat itu, bus yang mereka tumpangi menaikan penumpang lain. Dan Luhan juga Amber dibuat mengernyit karenanya.

“Eoh? Luhan? Kebetulan sekali”

Ya, karena orang-orang yang barusaja masuk itu adalah Sunggyu, Joowon dan 2 ‘minion’ nya.

Luhan berdecak pelan dan memutar matanya malas. Orang-orang ini membuatnya jengah! Sedang gadis yang duduk disampingnya juga mengernyit kesal. Mereka kan orang-orang yang ia temui kemarin. Orang-orang yang menyebalkan!

“Kau bersama seseorang ternyata” ujar Sunggyu melirik Amber. “Eoh? Bukankah kau yang kemarin?”

Amber memandangnya malas. Dan disampingnya Luhan mengkerut heran. Mereka kenal Amber?

“Kalian berniat membolos? Kalian berkencan?” Cibir Joowon. Matanya melirik Amber dari atas hingga bawah.

“Berkencan pantatmu!” Dengus Amber “-dan apa yang kau lihat? Kau mau aku mencolok matamu ya?” Ujarnya sengit saat melihat tatapan Joowon.

“Selera Luhan benar-benar!” Cibir Joowon lagi. “Hey! Bagaimana jika kalian ikut kami? Bersenang-senang?”

“Terimakasih atas tawaranmu itu” Balas Luhan dingin.

“Pria tengik ini!” Sunggyu tersenyum miring.

“Enyahlah. Aku muak melihat wajah kalian” balas Luhan sengit.

Sunggyu berdecak. “Hey!” Ia menendang-nendang kaki Luhan. Joowon juga ikut menunjuk-nunjuk dahi Luhan dengan telunjuknya. Mereka mengganggu.

Luhan sepertinya tengah menahan kesabarannya. “Apa yang kalian inginkan?” Dia mengenyahkan telunjuk Joowon “Aku tak punya urusan lagi dengan kalian”

“Sejak kau menghancurkan motorku dan melibatkan Jongin, kau tak akan pernah terbebas” desis Sunggyu.

Luhan berdecak. “Kau begitu iri pada Jongin ya..”

Sunggyu menggeram. Dia menarik kerah seragam Luhan. Tak peduli jika beberapa penghuni bus menatapnya. Kebetulan sekali bus ini sedang tidak ramai.

“Kau-”

“Ya!”

Tanpa diduga gadis tomboy disana berseru dan menendang kakinya, membuatnya mendelik marah dan menatap Amber dengan seringainya.

“Kalian-kalian ini memang pembuat onar ya” cibir Amber yang mendapat tatapan tajam dari Joowon.

Sunggyu melepaskan cengkramannya pada Luhan. Ia menghampiri Amber, namun secepat kilat Luhan menggeser posisi duduknya hingga tepat berada disebelah Amber. Gadis itu terkesiap.

“Jangan melibatkannya” ujar Luhan datar.

Joowon mendengus. “Kalau begitu kita selesaikan diluar”

Luhan melirik Amber yang juga menatapnya dengan tatapan bertanya. “Aku tak ada waktu.” Ujarnya singkat. Ia menekan bel dan bus berhenti. Secepat kilat ia menarik tangan Amber dan membawanya turun dari bus. Dan herannya, gadis itu tak membatah.

Luhan berjalan cepat. Sedang dibelakang Sunggyu CS itu masih mengejarnya.

“Hey! Berhenti.” Teriak Joowon. “Benar-benar pengecut”

Dalam langkahnya Luhan tak mempedulikan seruan itu, sedang gadis yang ia gandeng beberapa kali menolah kebelakang.

“Ya!”

Langkah Luhan baru terhenti saat seseorang menarik Amber hingga  genggemannya pada gadis itu terlepas.

Sunggyu menyeringai.

* * *

Sejak tadi, Jiyeon tak berhenti merutuk. Sedang disebelahnya Dahee masih terlihat tenang.

“Dimana gadis bodoh itu!” Racau Jiyeon lagi.

Mereka memang tengah terheran-heran tentang Amber yang pagi ini tak terlihat di kelas. Ponsel gadis itu mati.

“Mungkin dia terlambat” ujar Dahee tenang.

“Kenapa juga ponselnya tidak aktif-dan kau…” Jiyeon menatap Dahee dengan pandangan menyipit. “-kau sakit? Wajahmu pucat”

Mendengar itu, Dahee hanya melengos. Dia menghela nafas pelan. Memang saat bangun pagi tadi, ia sedikit merasa aneh dengan tubuhnya. Pasti ini efek kehujanan kemarin. Tapi sudahlah! Dia masih baik-baik saja kan?

“Kau sakit?” Tanya Jiyeon lagi.

“Tidak” Dahee mendengus.

Jiyeon mencibir kesal.

Dia membuang pandangannya dari jendela kelasnya dilantai dua kearah lapangan sekolahnya, dan seketika itu juga matanya membola. Dia menganga.

“Wah!” Serunya tak percaya. “KIM DAHEE!!” Dia bersorak heboh. Membuat hampir seluruh penghuni kelas tersentak kaget.

“Cepat kemari!” Serunya lagi.

Dahee menanggapinya acuh. Dia terlalu malas meladeni gadis nyentrik itu.

“Hey! Cepat kemari. Oh Sehun, Sehun!”

Namun, satu nama itu berhasil membuat perhatian Dahee terusik. Perlahan dia bangkit dari duduknya. Ikut melengok kejendela dan detik itu juga, dia ikut terkejut.

Disana, sosok murid bertubuh tinggi, dengan penampilannya yang urakan-blazer dan kemejanya tak terkancing, tasnya tersampir asal dibahu kanannya-memasuki gerbang dengan earphone yang menempel ditelinganya. Tangannya ia masukan kesaku celana dan yang menjadi pusat perhatian saat ini adalah rambutnya.

Silver. Rambutnya berwarna silver!

Oh Sehun datang dengan tampilan baru. Dan itu sukses membuat gadis di sekolah menjerit tertahan. Oh Sehun terlihat tampan dengan rambut silvernya. Benar-benar seperti anggota boyband terkenal! Namun satu fakta yang ada membuat mereka memandang Sehun dengan tatapan kagum sekaligus heran.

Pasalnya, sekolah ini tak memperbolehkan siswanya mengecat rambut selain warna hitam dan coklat gelap!

Tapi Oh Sehun itu?

“DAEBAK!” Jiyeon masih membolakan matanya terpengarah. “Oh Sehun bukan main-main!”

Disampingnya, Dahee terdiam dengan rasa terkejut yang tertahan. Apa-apaan sih Oh Sehun itu! Dia mencari masalah ya?! Dahee membuang pandangannya saat melihat bahwa dibawah sana, hampir seluruh gadis memperhatikan Sehun seolah pria itu adalah mangsa menggiurkan-dan ia juga mendapati gadis penghuni kelasnya melakukan hal yang sama. Mereka-dari atas jendela ini- menatap Sehun dengan binar kekaguman.

“Hari ini, kita mendapat hukuman berdiri dilapangan karena kejadian kemarin”

Suara Jonghyun-sang ketua kelas- menggema bagai petir disiang bolong. Sontak, perhatian mereka segera teralihkan. Berdiri dilapangan? Menjadi tontonan seluruh murid? Itu hal yang sangat memalukan!

Satu jam kemudian, penghuni kelas 3-1 itu sudah berbaris rapi dilapangan. Tak henti rutukan juga umpatan keluar dari mulut mereka. Meskipun kelas 3-1 memang terkenal  akan predikat kelas paling gaduh dan sangat tak bisa diatur yang berisikan siswa-siswa konyol seantero sekolah-pengecualian untuk Oh Sehun- mereka tetap tidak suka jika harus dipermalukan seperti ini. Guru Song benar-benar tak berkeprimanusiaan!

“Demi Tuhan! Disaat kita harus berususah payah menahan malu karena hukuman ini, si gadis bodoh itu malah tak terlihat”

Jiyeon mengipas-ngipas dirinya. Sesekali ia mendengus dan menghentak-hentakan kakinya kesal.

Disampingnya, Kim Dahee terdiam juga dengan menahan kesal. Berdiri dilapangan selama dua jam benar-benar membuatnya frustasi. Padahal hari itu dia tak melakukan apapun. Teman-teman sekelasnyalah yang melakukan hal konyol itu!

“Bagus! Kemarin saja, cuaca mendung dan hujan deras. Tapi sekarang? Si kuning itu malah memamerkan sinarnya!” Umpat Jiyeon lagi. Dia kepanasan!

“Tutup saja mulut mu itu!” Dahee memutar matanya. Jujur saja, dia mulai merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Kepalanya juga tiba-tiba saja pusing. Kakinya bergerak-gerak gelisah. Dia berkali-kali mengusir peluh, padahal cuaca tidak sedang terik. Ada apa dengannya?

Dia menggigit bibir bawahnya, tenggorokannya terasa kering.

Disaat itu, ia merasakan seseorang yang berdiri disampingnya bergeser. Dahee mendongak, dan terkesiap saat mendapati sosok lain disebelahnya. Sosok berjenis kelamin laki-laki itu menggeser Seulgi-yang semula berdiri disamping Dahee-menjauh? Kenapa? Kenapa laki-laki ini malah berdiri disebelahnya?

Oh Sehun.

Benar, seseorang yang sejak tadi pagi menggemparkan sekolah karena penampilannya itu tengah berdiri disampingnya. Dahee tak peduli itu, tapi saat ini hampir seluruh pasang mata menatap kearah mereka-ia dan Sehun-dengan tatapan bertanya juga bingung.

Jiyeon yang melihat itu hanya tersenyum simpul.

Dahee mendelik.

Sehun bergeming.

Mereka bertahan disana sudah hampir 1 jam lebih. Tapi hukuman ini belum berakhir.

Hingga tiba-tiba Dahee merasa semakin lemas. Kakinya tak sanggup lagi berdiri. Tubuhnya oleng dan tanpa sengaja menyenggol Sehun yang berdiri disampingnya, tapi ia masih memaksa berdiri. Ia hanya menggumam maaf pada Sehun yang menatapnya heran. Dahee meremas telapak tangannya.  Dan saat itu ia merasa semakin lemas, kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya. Gadis itu perlahan luruh, dan dengkulnya menyentuh lantai lapangan.

“Kim Dahee!”

Sontak mereka yang berada disana terkejut. Mereka segera mengerubungi Dahee. Begitupun dengan Jiyeon yang tak henti berseru heboh. Dan Sehun yang melihat itu langsung berjongkok didepan Dahee yang tengah menunduk.

“Ada apa denganmu?” Tanya Sehun.

Gadis itu mengangkat kepalanya “Aku baik-baik saja” ujarnya sambil berusaha kembali berdiri, namun sebelum ia benar-benar menopang tubuhnya, ia kembali oleng lalu semua berubah gelap dan akhirnya ia jatuh direngkuhan Sehun.

“Dahee-ya!!”

Dengan cepat, tanpa mengatakan apapun, Sehun mengangkat tubuh itu menaruhnya dipunggung dan dengan langkah yang terburu-buru membawa gadis itu pergi darisana.

* * * —– * * *

“Apa-apaan sih kalian ini?!” Amber berteriak tepat didepan wajah Sunggyu yang menarik tangannya.

“Kemari kau Luhan!”

Luhan menggeram. Dia berjalan mendekat. “Lepaskan dia! Sudah kubilang jangan melibatkannya”

“Ugh! Kau bertindak sebagai pahlawan bagi gadis ini?” Ejek Joowon.

Kembali Luhan berdecak. Ia semakin mendekat dan dengan cepat menghempaskan tangan Sunggyu dari Amber.

“Kau-!” Sunggyu menyeringai.

BUUGG!

Satu tendangan dari Sunggyu menderat diperut Luhan. Amber tercengang.

Luhan berdecih, dia menarik Amber kebelakang punggungnya saat melihat Joowon mendekatinya dan menarik kerahnya.

“Singkirkan tanganmu!” desis Luhan.

Joowon menyeringai, tangannya melayang dan bersiap memukul wajah Luhan. Tapi dengan gesit Luhan mampu menghindar-

BUUG!

-dia bahkan menghadiahkan bogem mentah diperut Joowon.

Joowon menggeram. Sunggyu yang melihat itu mendekat-bersama 2 temannya yang lain mereka mengerubungi Luhan dan Amber.

Sunggyu maju dan kembali menendang perut Luhan.

BUUG!

Amber yang melihat itu semakin menggeram. Dia maju dan menendang kaki Sunggyu membuat laki-laki itu meringis. Dengan cepat Amber melepaskan genggaman Luhan dan mengunci tangan Joowon yang ingin kembali mendaratkan pukulan pada Luhan.

BUUG!

Luhan kembali memukul Sunggyu hingga pria itu tersungkur. Dua temannya yang lain mendekat dan ikut memukul wajah Luhan.

BUGG!

BUUGG!

Luhan terjatuh. Ia meringis. Kemudian melirik Amber yang masih mengunci Joowon.

Sunggyu menahan tubuh Luhan dan kembali mendaratkan pukulannya, tapi kembali Luhan dapat menghindar.

BUUG!

BUUG!

Tepat saat dia bangun 2 teman Sunggyu yang lain kembali memukul wajahnya dan kakinya hingga ia terpelanting.

Amber yang melihat itu langsung melepaskan cekalannya pada Joowon. Ia menghampiri Luhan yang terlihat tengah menyeka darah dibibirnya.

“Ya! Kalian!” Amber menggeram.

“Kita lari” bisik Luhan.

“Gadis tengik ini bukan main-main ternyata!”

Joown menarik lengan Amber. Amber berontak, dan secepat kilat ia menendang selangkangan Joowon-

BUUG!

AKHHH!!

Joowon yang meringis langsung melepaskan Amber dengan kasar. Hentakannya membuat Amber terpeleset jatuh. Dan lututnya berhasil membentur aspal. Tergeros. Amber mengumpat.

Melihat itu Luhan segera menarik tangannya. Mereka berlari dengan cepat. Tak mempedulikan bahwa Sunggyu dan yang lain masih tetap mengejarnya.

Mereka berlari dan terus berlari dengan Luhan yang masih terus menggenggam tangan Amber. Disela-sela larinya, Luhan beberapa kali melihat jam tangannya. Dia kembali meurutuk.

Amber masih setia mengikuti langkah Luhan. Dia mengernyit saat laki-laki itu membawanya menyebrangi jalan dan mendekat ke arah rumah sakit yang terletak diseberang jalan. Amber heran, tapi ia tak ingin bertanya sekarang. Ia menoleh kebelakang, dan orang-orang gila itu sudah tak terlihat. Diam-diam Amber mendesah.

Luhan memasuki gedung rumah sakit itu. Berkali-kali dia merutuk, semoga saja belum terlambat. Semoga saja ibu Jongin belum memasuki ruang operasi.

“Ya! Kenapa kita kesini?”

Luhan menoleh. Dia berdecak. Benar, dia lupa jika Amber masih bersamanya dan lagi, tangannya masih menggandeng gadis ini?!

Dengan cepat, dia menghempaskan tangan Amber. Tak peduli tatapan kesal gadis dihadapannya, Luhan segera meraih ponselnya.

“Jongin-ah? Kau dimana? Aku sudah dirumah sakit. Eoh? Baiklah-baiklah”

Luhan kembali melirik Amber yang masih berdiri disampingnya. Dia perhatikan wanita ini, hingga matanya tertuju pada lutut mulus gadis itu yang tergores.

“Kau mau tetap disini? Atau ikut aku?” Tanya Luhan akhirnya.

“Hah?” Amber mengernyit.

“Sudahlah. Lupakan!

Awalnya Amber hanya mematung. Dia sangsi dengan apa yang akan dilakukannya. Mengikuti pria itu? Untuk apa? Atau dia memilih pergi? Dan bagaimana jika dia kembali bertemu orang-orang sinting itu?! Menyebalkan.

“Hey!”

Oke, dengan sedikit terpaksa dia memilih mengikuti sang ‘Pretty Boy’ itu. Meskipun dia tak tau apa yang dilakukan Luhan disini. Entahlah!

“Hey! Tunggu aku-”

Amber mengintil dibelakag Luhan. Langkahnya ia percepat saat melihat Luhan sudah berjalan jauh didepannya.

“Eoh? Jongin?”

Kening Amber makin berkerut saat melihat Jongin disana. Berdiri bersandar didepan sebuah ruang tertutup.

Jongin tak kalah terkejut melihat dua orang yang tiba-tiba saja datang dengan penampilan yang acak-acakan seperti ini. Wajah Luhan babak belur dan gadis tomboy disebelahnya juga terlihat urakan dengan peluh dan lutut tergores sepeti itu?!

“Ada apa dengan kalian?!”

* * * —– * * *

“Kau demam, bodoh” seru Jiyeon saat melihat Dahee membuka matanya perlahan.

“Kenapa kau memaksakan dirimu!” Cecar Jiyeon lagi.

Gadis yang terbaring itu hanya  bergeming kemudian tatapannya jatuh pada laki-laki tinggi dengan rambut mencolok  yang sedang duduk disebelahnya. Dahee menelisik, membuat laki-laki itu terlihat sedikit risih.

“Beruntunglah kau karena kekasihmu ini dengan sigap membopongmu kemari” suara Jiyeon mengalihkan suasana. “Dan setelah ini, kau pikir apa yang akan terjadi?” Ujarnya lagi dengan senyum miring.

“Apa maksudmu?” Tanya Sehun dengan acuh.

“Oh Sehun yang berambut silver! Kau pikir apa yang akan mereka pikirkan setelah melihat pemandangan mengharukan tadi?” Ujar Jiyeon dramatis “Kau seolah tak memperbolehkan orang lain menyentuh gadismu dengan menyingkirkan mereka yang ingin membantu membopong Dahee” cerocosnya lagi.

Dahee menaikan sebelah alisnya, heran. Apa Oh Sehun benar-benar seperti itu?

“Apa peduliku” tanggap Sehun.

“Baiklah-baiklah” seru Jiyeon memutar matanya. “Aku akan kembali kelapangan sebelum si Song-Song itu memeriksa” ujarnya. Song-Song adalah julukan yang ia berikan pada guru Song.

“Kau jaga dia disini, oke?” Dia berbalik setelah sebelumnya mengedipkan sebelah matanya. “Aku memberi kalian waktu berdua.” dan Jiyeon menghilang dibalik pintu.

“Ada apa dengan rambutmu?”

Dahee berseru tepat setelah Jiyeon tak terlihat. Dan hanya ada mereka berdua di ruang kesehatan ini.

“Ada yang salah?” Sehun balik bertanya dibalik raut datarnya. Dia melipat tangannya didepan dada.

“Tidak. Tapi kau berada ditempat yang salah” balas Dahee tak kalah datar.

“Maaf”

Dahee mengernyit. Gumaman Sehun membuatnya terheran. Maaf untuk apa? Dan lagi, kenapa dia kembali mengucapkan satu kata yang jarang terlontar dari mulut seorang Oh Sehun?

“Ini karena kehujanan kemarin kan?”

Gadis itu mendudukan dirinya. Tatapannya yang datar itu kembali menelisik wajah Sehun.

“Sehun-” Dahee berujar tertahan. “-bisa kau mendekat?” Lanjutnya pelan, mengalihkan pertanyaan Sehun.

Awalnya Sehun bergeming, namun detik berikutnya ia menarik diri mendekat. Dan ia dibuat tersentak saat tangan gadis itu tiba-tiba terulur menyentuh rambutnya.

“Kau berniat mencari masalah?”

Sehun terdiam. Perlahan tangannya itu meraih tangan Dahee, membawanya turun dari rambut silvernya itu.

“Tidak.” Balas Sehun masih dengan menggenggam tangan Dahee. “Tanganmu dingin” ujar Sehun lagi.

“Aku-” Dahee berniat menarik tangannya, tapi Sehun malah semakin menggenggamnya erat.

“Apa hukuman yang akan ku dapat karena warna rambut ini?” Sehun tak mengalihkan tatapannya dari gadis didepannya itu.

“Peringatan atau skorsing selama 2 hari”

Mereka tersentak karena suara seseorang yang tiba-tiba datang menjawab pertanyaan Sehun. Dahee yang menyadari kehadiran Jung Saem-dokter sekolah- langsung menarik paksa tangannya dari genggaman Sehun.

* * * —- * * *

“Apa-apaan kalian?”

Luhan dan Amber saling pandang bingung saat mendapat pertanyaan itu dari Jongin.

“Luhan” seru Jongin lagi.

“Kami bertemu orang-orang gila!” Jawab Amber cepat.

Jongin mengernyit.

“Sunggyu..” ujar Luhan tertahan.

Laki-laki bermarga Kim itu mengernyit. “Apa? Dan-” dia menatap Amber.

“Ceritanya panjang.” Dengus Luhan pelan. “Jadi, bagaimana ibumu?”

Jongin memutar matanya. “Sudah selesai. Dia didalam”  ujarnya sambil melirik pintu tertutup disebelahnya.

Luhan mendesah lega. “Syukurlah. Jadi semua berjalan lancar?”

Jongin mengangguk. “Dia sedang istirahat”

“Ibumu sakit?” Cicit Amber pelan.

“Hmm” gumam Jongin.

“Tunggu disini sebentar” Luhan tiba-tiba mengambil langkah darisana. Entahlah kemana dia pergi.

Melihat itu Amber hanya melengos. Kemudian ia menatap Jongin yang terlihat menunduk.

“Ibu…mu..” Amber berseru kaku “..sakit apa?”

Jongin mendongak. “Kanker” jawabnya singkat.

Detik itu juga Amber membuka mulutnya kaget. Dia segera menduduki diri disebelah Jongin. “Benar-benarkah?” Serunya terbata.

Lagi Jongin berdecak, anak satu ini ternyata sama hebohnya dengan gadis konyol itu. Eh? Kenapa Jongin jadi mengingat gadis itu?

Tak lama dari itu, Luhan kembali dengan kantung palstik yang entah berisi apa. Dia berdehem, dan tangannya terulur kearah gadis tomboy itu.

“Obati lukamu” perintahnya acuh.

Sedang ditempatnya, Amber semakin terkesiap. Si Luhan ini, otaknya tidak terkena pukulan kan?

“Aku akan mengantarmu pulang nanti” ujar Luhan lagi tanpa menatap Amber.

Kembali Amber hanya bisa mengerjapkan matanya tak mengerti. Apa-apaan ini? Oh ayolah, Luhan. Kenapa kau membuat hati gadis tomboy ini tiba-tiba terasa panas?

Memperhatikan itu dalam diam, Jongin hanya bisa mendengus geli. Jadi, Luhan mulai peduli pada musuh bebuyutannya ini?

* * * —– * * *

“Yess!”

Matanya memandang malas gadis berperangai ceria didepannya ini. Dahee tak tau ada apa dengan Jiyeon yang berteriak kegirangan seperti itu.

“Dahee-ya, aku tidak bisa ikut kelas khusus hari ini. Ibu ku menunggu dirumah sakit”

Mereka memang sedang menunggu waktu karena jadwal kelas khusus hari ini dimulai 2 jam setelah sekolah berakhir. Dan disinilah mereka, dikelas yang sudah sepi hanya menyisakan mereka berdua.  Dan lagi, apa katanya tadi? Jiyeon tidak bisa hadir? Lalu bagaimana dengan Dahee?

“Ada apa?” Tanya Dahee.

“Tidak apa. Aku menginginkan sesuatu, dia bilang aku harus menjemputnya di rumah sakit. Lagipula, dirumahku sedang tidak ada orang, ayahku sedang dinas diluar kota sejak 3 hari lalu” jelas Jiyeon panjang lebar.

Dahee melengos.

“Sudah bolos saja, kau bisa pulang atau kau mau ikut denganku?”

Tawaran menggiurkan. Dahee hampir ingin menyetujui ajakan Jiyeon  jika saja tidak ada sosok berambut silver yang tiba-tiba muncul didepan kelas.

“Ah! Kau pergi bersama Sehun silver saja” seru Jiyeon.

Sehun yang baru datang setelah menerima hukuman seharian karena mengecat rambutnya itu menatap heran dua gadis disana. Laki-laki itu berjalan kebangkunya dan meraih tas ranselnya.

“Sehun-ah apa kau berencana ikut kelas khusus?”

Benar, hari ini adalah jadwal mereka untuk ikut kelas khusus. Sehun lupa itu. Lagipula apa pentingnya mengingat itu?

“Tidak” jawab Sehun.

“Bagus!” Seru Jiyeon. “Kalau begitu kalian berdua bersenang-senang lah” ujar gadis itu sebelum akhirnya berlari dan menghilang didepan pintu.

Sehun dan Dahee saling pandang dalam diam. Laki-laki tinggi itu mengacak rambutnya dan melirik Dahee yang masih memperhatikannya itu.

“Ayo pergi” Sehun berujar datar. Matanya menelisik raut gadis dihadapannya itu, berusaha melihat perubahan ekspresi yang mungkin saja dia perlihatkan. Namun nihil, gadis itu hanya melengos dan bangkit dari duduknya tanpa kata.

Mereka berjalan beriringan dalam bungkam. Langkah kakinya terlihat berirama. Pelan dan teratur. Untung saja sekolah sudah dalam keadaan sepi, karena jika tidak, mungkin pemandangan berjalan bersama ini akan kembali menimbulkan keriuhan heboh seperti pagi tadi. Ya, meskipun peristiwa gendong menggendong tadi pagi itu adalah hal yang wajar mengingat Dahee yang sudah tergolek lemah, tapi bagi penghuni sekolah hal itu akan menjadi berita menghebohkan karena si pelaku utamanya adalah Oh Sehun-si anak baru berambut silver yang mencuri perhatian sekolah sejak pertama kali menginjakan kaki digerbang Seoul School- yang rela mengorbankan punggungnya demi Kim Dahee-gadis dingin anggota WildGirls yang selama ini terkenal akan sikap ‘bahanya’nya itu. Bukankah dari anggota WildGirls lainnya hanya Dahee yang tak pernah bertegur sapa dengan Oh Sehun. Jangan bertegur sapa, saling menoleh saja tidak.

“Sehun…” Dahee berseru pelan ditengah langkah mereka. Pandanganya masih lurus kedepan.

“Hmm?”

“Kau risih bukan?”

Satu lirikan Sehun berikan pada Kim Dahee. Sehun sepertinya paham akan maksud dari pertanyaan itu.

“Tidak penting bagiku” balas Sehun akhirnya.

Diam-diam Dahee merasakan sesuatu disudut hatinya. Seperti perasaan tertahan yang tidak mampu terucap. Tidak penting?

“Benar” gumam Dahee pelan. Kemudian dia menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya menghadap Sehun. Sontak Sehun ikut mematung melihatnya.

“Ku harap kau segera mengganti warna rambutmu”

Sehun mengerjap. “Apa ini masalah besar?” Tanyanya. Hey! Kau sudah mendapat hukuman karena warna rambutmu itu, dan kau masih bertanya?

“Tentu. Sekolah ini melarang. Dan kau-” Dahee menghentikan ucapannya. Raut datarnya itu berubah kaku. Dia memutar-mutar matanya.

“Apa?” Sehun menatap lurus pada wajah Dahee yang entah mengapa pipinya itu memperlihatkan semburat kemerah-merahan yang tak terlalu kentara.

Gadis itu kembali memutar tubuhnya dan mengambil langkah dengan sedikit tergesa.

“-semakin menarik perhatian mereka”

Ah! Sepertinya Sehun menangkap arti kalimat itu. Dia mengerti maksudnya. Entah sadar atau tidak sesuatu yang aneh dan menggelitik menjalar dihati Sehun.

* * * —- * * *

Sedang diluar gerbang sekolah, Jiyeon sudah berlari untuk menaiki bus menuju rumah sakit tempat ibunya bekerja. Ibunya itu seorang kepala perawat di sebuah rumah sakit swasta.

Sesampainya didepan rumah sakit, Jiyeon melangkahkan kakinya dengan ringan. Angin yang berhembus dipekarangan rumah sakit itu megibarkan rambut panjangnya yang sengaja ia gerai. Berkali-kali ia merapikan rambutnya itu dan hingga tidak sadar jika ada seseorang dibelakang sana yang memperhatikannya dalam diam.

Seseorang dengan wajah yang tertutupi hoodie hitam yang ia gunakan. Menyembunyikan sebagian wajah mengerikannya disana.

Getaran ponsel Jiyeon tiba-tiba terdengar.

“Ibu ada urusan mendadak. Kau tunggulah dikafetaria. Mungkin agak sedikit lama. Jika kau mau pulang, pulanglah”

Jiyeon medengus membaca pesan itu. Tapi ia sudah terlanjur dirumah sakit. Baiklah, mungkin menunggu sebentar tidak apa-apa.

“Aku akan menunggu dikafetaria. Jangan lama ya bu!”

Setelah pesan itu ia kirim, kaki jenjangnya segera membawa Jiyeon ke kefetaria rumah sakit. Ia menduduki diri dipinggir kaca besar dan ditemani dengan segelas ice lemon tea juga sepiring puding coklat.

Selama menunggu, ia berkutat dengan ponselnya. Mengupdate status di akun SNS-nya yang rata-rata berisikan keluh kesahnya tentang Jongin. Pangeran berkuda putihnya itu!

‘Aku tak melihatnya seharian ini’

‘Dimana kau prince J, aku jadi tak bisa mengupload fotomu hari ini’

‘Hari cepatlah berlalu, agar aku bisa bertemu Jongin lagi besok’

Tanpa sadar, sudah lebih dari satu jam ia ada disana. Ia juga sudah mengantuk. Gadis itu terlihat menguap sangat lebar. Dan matanya mulai terkantuk-kantuk. Namun, mata kantuknya itu ternyata dengan tidak sengaja melihat seseorang yang hampir seharian ini tak ia lihat di sekolah.

“Jongin!”

Benar. Kim Jongin. Tak ada pria lain selain Jongin yang bisa membuat Jiyeon memekik tertahan seperti ini. Gadis itu seketika langsung kehilangan rasa kantuknya.

Entah kebetulan atau takdir macam apa, lagi-lagi gadis bermarga Park itu kembali bertemu Jongin secara tak sengaja didepan kafetaria rumah sakit. Jiyeon tentu saja bersemangat. Apalagi seharian ini, ia tak melihat Jongin disekolah.

Apa yang dilakukan pujaan hatinya itu disini?

Apapun tentang Jongin memang membuat Jiyeon penasaran. Begitupun saat ini. Dengan langkah mengendap-ngendap Jiyeon melangkahkan kakinya mendekat kearah Jongin yang tengah meneguk minuman dingin itu. Ia berhenti tepat dibelakang tubuh Jongin, tanpa sepengatahuan laki-laki itu.

“JONGIN!”

Demi Tuhan! Jongin hampir tersedak minumannya sendiri karena terlonjak kaget akibat pekikan nyaring yang tiba-tiba saja menyakiti telinganya. Dia menoleh kebelakang dan  seketika itu juga mendengus tak percaya saat melihat gadis yang dijulukinya ‘gadis konyol’ itu berdiri dibelakangnya dengan senyum lebar juga cekikikan khasnya yang-demi Tuhan!-membuat kepala Jongin berdenyut, sakit.

Kenapa dia selalu bertemu gadis ini dimanapun? Dia benar-benar menguntit ya?!

“Apa yang kau lakukan disini?”

“Apa yang kau lakukan disini?”

Ucapan itu terlontar bersamaan. Jika Jongin memutar matanya jengah, gadis itu justru terlihat sumringah. Senyum lebar itu tak henti ia pamerkan.

“Sedang apa Jongin? Kau sakit?” Tanya gadis itu lagi.

“Bukan urusanmu!” Balas Jongin ketus, seperti biasanya.

“Kenapa seharian ini kau tak terlihat disekolah?” Cecar gadis itu lagi, bahkan ia mengintil Jongin yang terlihat mengambil langkah pergi darisana.

“Hey!” Tiba-tiba laki-laki itu berbalik menatap lurus gadis dihadapannya yang balas menatapnya polos.

“Kau sengaja mengikutiku sampai kesini?” Tanya Jongin dingin.

“Tidak” seru Jiyeon sambil  menggelengkan kepalanya. “Aku kesini untuk menemui ibuku. Dia bekerja disini”

Jongin mendengus. Dia kembali berbalik.

“Jongin-ah” gadis itu terus mengintil pada Jongin. Bahkan ia mensejajarkan tubuhnya disamping Jongin dan berusaha mengimbangi langkah besar pria itu.

“Terimakasih” ujar Jiyeon pelan.

Hanya lirikan sekilas yang Jongin berikan.

“Terimakasih atas bantuanmu kemarin. Lihat, kakiku sudah tidak apa-apa”

Dan kembali sebuah lirikan Jongin tujukan pada kaki gadis itu.

“Kau membenciku, tapi sore itu kau masih mau membantuku.”

Kalimat yang atu itu sukses membuat Jongin menolehkan kepalanya. Gadis itu masih tersenyum tulus padanya.

“Jangan mengikutiku” ujar Jongin akhirnya. Kali ini nada suaranya tidak dingin seperti tadi.

“Kenapa?”

“Bukankah kau bilang kau mau menemui ibumu?”

“Itu soal gampang” kekeh Jiyeon.

Jongin kembali berdecak. Gadis ini benar-benar. Entah kenapa Jongin tak memalingkan wajahnya lagi. Tanpa sadar Jongin terus memperhatikan gadis itu, dengan tatapan andalannya. Acuh, datar, dingin dan sejenisnya. Namun, tatapannya pada gadis bermarga Park itu tak bisa menjelaskan apapun. Sekelebat bayangan kejadian sore kemarin tiba-tiba terbesit diotaknya. Gadis ini benar-benar ajaib. Tingkahnya yang konyol itu terkadang membuat pria ini tak habis pikir. Jujur saja, pria ini sangat terusik dengan gadis satu ini.

Dia terganggu dengan suara cempreng milik gadis ini yang sering menyerukan namanya itu. Dia risih dengan tatapan gadis itu yang berbinar-binar saat menatapnya. Dan tawa gadis ini, adalah salah satu yang paling berpengaruh baginya.

Tanggapan ketus itu hanya dianggap angin lalu oleh gadis ini. Kenapa dia begitu keras kepala? Apa yang dia lihat dari dirinya?

Tapi-demi Tuhan! Jongin tidak tau sejak kapan ia mengakui kecantikan gadis itu seperti ini? Kenapa ia ingin terus-terusan melihat senyum gadis ini? Senyum itu begitu…oke, haruskah Jongin mengakuinya? Senyum itu terlihat manis dan membuat wajahnya semakin terlihat cantik. Ya Tuhan! Jongin pasti sudah kehilangan akal sehatnya! Dia pasti sudah gila!

“Jongin, maaf..”

Seruan pelan itu membuat Jongin mengerjap dan seketika ia kembali pada kesadarannya.

“…maaf jika aku menyebalkan” cicit gadis itu lagi. Dia menggigit bibir bawahnya dan menggaruk tengkuknya pelan. Kenapa dia menjadi kikuk seperti ini? Dan ya Tuhan! Kenapa Jongin menatapnya seperti itu?!

“Aku…” Jiyeon kembali berujar. “…hanya ingin mengekspresikan perasaanku. Kau tau dulu aku bahkan tidak bisa mengekspresikan wajahku secara terang-terangan dan itu membuatku frustasi” cerososnya panjang lebar. Dan entah kenapa Jongin masih setia menyimaknya. Jika boleh jujur, Jiyeon tak ingin mengatakan semua itu. Karena, semua cerita itu akan kembali membuka luka lama yang sudah ia kubur.

“Aku-”

“Jongin!”

Tak ada yang tau jika situasi disana akan terusik dengan kehadiran seseorang yang tiba-tiba. Jika Jongin mengernyit heran saat melihat seseorang itu, gadis bermarga Park yang tadi berkata panjang lebar malah membolakan matanya terkejut.

Jiyeon membeku. Kakinya bergetar hebat. Dadanya sesak. Dan ia merasa…takut.

T B C

Masih adakah yang menunggu cerita ini?

Oke maafkan atas kelalaian ku dalam memperbarui cerita ini… L

Tapi, insyaallah, ini bakal selesai..

Untuk chapter depan, aku akan publish di wp pribadiku ya..

https://lullamaland.wordpress.com/

Terima kasih J

Iklan

3 thoughts on “Story Of Us (Chapter 7)

  1. park su jeong berkata:

    itu jiyi kenapa thoor ?? knp hrus TBC siihh *sebel*
    lanjutin nya klw bisa jgn lama2 yaa ,, soalnya aku lumutan nihh nunguu nya *garing* oke thor *kasih jempol* terus semangat yaa lanjutin ceritanya 😀 😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s