Forgotten part 5

Forgotten

Author            :           IRISH

Tittle              :           Forgotten

Main Cast      :           EXO’s Oh Sehun, OC’s Kim Soojung

Supported      :           Mind’s Cast

Genre              :           Fantasy, Romance, School-life

Rate                :           T; PG-16

Lenght            :           Chapterred

Disclaimer   :           This story is entirely fantasy and created by Irish. Any resemblance to real persons or organization appearing in this story is purely coincidental. EXO Members belong to their real-life, and OC’s belong to their appearance.

“..take me anywhere with you and we will walk together forever..”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Soojung’s Eyes..

Sudah hampir dua jam aku menekuni buku lusuh yang sudah selama enam tahun ini kubaca berulang kali.

Aku hampir bisa menghafal isinya. Aku sungguh tau buku ini menceritakan tentang cinta tak terbalas dari seorang sepasang sahabat yang berujung pada kematian. Jika kuingat lagi, saat memberikanku buku ini untuk dibaca, aku belum mengungkapkan perasaanku pada Sehun.

Dan jika kuingat lagi sekarang, kenapa Ia memberiku buku ini saat itu? Untuk menyindirku? Menduga hal seperti itu hanya membuatku merasa sakit hati.

Apa Ia sebenarnya sudah tau kalau aku menyukainya? Hanya saja Ia berpura-pura memintaku membaca buku ini supaya aku sadar dan mengubah perasaanku padanya?

‘Anak laki-laki itu tak pernah mengharapkan cinta dari gadis yang bertahun-tahun dikenalnya. Ia tak memiliki perasaan apapun pada gadis itu. Bahkan tak ingin menatap gadis itu lagi.’

‘Cinta gadis itu tak pernah berubah. Ia terus dan terus mencintai laki-laki yang ingin bahagia dengan gadis lain itu. Gadis itu tak yakin apa Ia bisa terus mencintai dengan cara seperti ini. Tapi Ia tak ingin mengubah cintanya. Ia sungguh mencintai laki-laki itu’

Bukankah sekarang aku sedang menjadi gadis yang ada dalam cerita ini?

Diam-diam aku curiga, penulis cerita ini mungkin saja berasal dari masa depan dan menulis ceritanya setelah menemukan seseorang yang bernasib sama denganku? Sungguh mengesalkan.

‘Gadis itu tak menginginkan yang lain. Ia hanya ingin laki-laki itu bahagia. Ia tak ingin mengharapkan laki-laki itu bersamanya. Ia hanya ingin, laki-laki itu tidak melupakannya. Karena kenangannya bersama laki-laki itu terus mengejarnya, membuat gadis itu tak bisa bersembunyi.’

Benar bukan? Kurasa penulis buku ini sungguh-sungguh pernah menemukan cerita yang sama denganku.

Lalu.. gadis itu. Apa Ia benar-benar mati karena keputus asaan?

Bodoh.

Aku tak akan menjadi gadis bodoh yang mengakhiri hidupku hanya karena cinta tak terbalas dan terlupakan oleh Sehun.

Membaca cerita itu setidaknya membuatku bisa mengantisipasi apa yang mungkin kulakukan diwaktu yang akan datang.

Setidaknya aku tidak akan berakhir dengan bunuh diri. Aku tidak mau mengakhiri hidupku. Walapun aku tak bisa bicara tapi aku masih punya harga diri. Dan aku tau bunuh diri sama saja dengan lari dari masalah.

Bunuh diri itu menyeramkan.

Gadis dalam cerita ini sangat bodoh karena memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

‘Gadis itu tak ingin melihat kebahagiaan dua orang itu lagi. Ia sudah muak dengan semua kesedihan yang ditelannya sendirian. Ia lelah. Ia ingin beristirahat. Ia ingin melupakan tentang laki-laki itu dan membiarkan laki-laki itu bahagia. Tapi satu-satunya cara hanya jika Ia pergi jauh dari kehidupan laki-laki itu’

Aku tanpa sadar menghela nafas panjang membaca bagian buku yang ku tebalkan menggunakan stabilo itu. Kurasa gadis dalam cerita ini tidak mengakhiri hidupnya karena cintanya ditolak.

Kurasa.

Entah mengapa setelah membaca bagian ini berulang kali, aku lebih merasa bahwa Ia ingin melupakan laki-laki itu dan membiarkannya bahagia. Itulah alasan nya bunuh diri.

Karena jika Ia mati Ia akan pergi untuk selamanya, dan Ia juga tak harus mengingat semuanya lagi. Karena Ia benar-benar bisa bersembunyi dari kenangan buruk yang selama ini mengejarnya.

Bagian akhir buku ini selalu membuatku berpikir dua kali. Di satu sisi aku terkadang setuju pada tindakannya. Tapi disisi lain aku membenci yeoja pengecut didalam cerita ini.

Kenapa Ia tak memilih untuk mengungkapkan perasaannya pada anak laki-laki itu dan memilih untuk mati padahal selama bertahun-tahun bersama Ia tak pernah berusaha untuk mengungkapkan perasaannya pada laki-laki itu?

Atau Ia sudah yakin anak laki-laki itu akan menolaknya?

Bodoh. Dia sungguh bodoh.

Kalau aku jadi yeoja itu, aku tak akan bersikap sebodoh dia.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes..

“Sehun-ah.. Jowahae..”

Luna menatap ponsel milik Sehun yang baru saja berdering pelan. Yeoja itu sering mendengar nada dering aneh milik Sehun, tapi benar-benar tidak yakin kalau suara yeoja di ringtone itu adalah suara Seulhyun.

“Sehun-ah. Apa itu suara Seulhyun?”, tanya Luna saat Sehun meraih ponselnya

“Hmm? Tidak. Ini bukan suara Seulhyun.”

“Lalu suara siapa?”, tanya Luna lagi

Sehun menatap Luna sebentar, dan lalu tersenyum.

“Kau sudah tau kan?”

“Eh? Maksudmu?”

“Tentu saja ini suara yeoja yang menyukaiku.”, ucap Sehun membuat Luna berdecak kesal.

“Tsk, maksudku, siapa yeoja itu? Siapa namanya?”, ucap Luna memperjelas pertanyaannya.

“Ah, yeoja itu..”, Sehun terdiam

Luna berusaha menembus pikiran namja itu, jika saja Sehun menggumamkan sebuah nama.

“Eh? Siapa yeoja berpenampilan aneh itu Oppa?”, Taeyang berucap

Luna dan Taeyang memang memiliki kelebihan yang sebenarnya satu pasang. Luna bisa mendengar pikiran orang lain. Dan Taeyang bisa melihat visualisasi ingatan orang lain.

Kenyataan bahwa dua orang itu pernah ada disatu tubuh—saat Luna bisa mendengar Taeyang dan Taeyang bisa melihat ingatan-ingatan juga kenangan Luna—sepertinya menjadi alasan jelas kenapa mereka bisa punya kelebihan seperti itu.

Dan Sehun jelas saja baru memutar sebuah kenangan dipikirannya.

“Tidak ada, hanya seorang teman.”, ucap Sehun singkat

“Tapi Oppa dan dia sepertinya sangat dekat. Eh? Tunggu. Dia temanmu di sekolah menengah? Kenapa kau tidak pernah membawanya ke rumah?”, tanya Taeyang dengan penuh rasa penasaran.

“Karena dia pergi.”

“Dia cinta pertamamu kan?”, kali ini Luna yang berucap

Sehun mendesah pelan. Dan mengangguk.

“Ya. Dia cinta pertamaku.”

Dua yeoja itu sama-sama terdiam. Taeyang merasa aneh karena cinta pertama Sehun berpenampilan eksentrik yang membuat Sehun—dalam ingatannya—sangat cerewet dan mengomentari hampir semua yang yeoja itu lakukan.

“Aku merindukanmu.. Aku sangat merindukanmu..”

“Kenapa kau pergi seperti itu?”

“Aku membencimu..”

Sementara Luna terdiam karena mendengar pikiran Sehun yang akhirnya bisa Ia dengar. Ia tak pernah mendengar Sehun memikirkan hal seperti ini. Namja itu selalu hidup dengan santai.

Bahkan saat Ia meninggalkan Seoul tiga tahun lalu—sekaligus meninggalkan Seulhyun yang saat itu jelas menjalin hubungan dengannya—Sehun tak pernah sekalipun berpikiran tentang merindukan gadis itu.

Taeyang bahkan berpikiran bahwa Sehun tidak benar-benar menyukai yeoja itu karena Sehun sama sekali tidak mengingat-ingat kebersamaan mereka.

Tapi Sehun selalu beralasan bahwa Ia terlalu sibuk untuk bisa mengingat hal-hal semacam itu.

“Jadi.. Dia alasannya?”, tanya Luna

Sementara Taeyang tersenyum.

“Kenapa Oppa tidak mencarinya? Aku merasa kasihan pada Seulhyun kalau Ia hanya Oppa sukai saat yeoja ini tidak ada.”, ucap Taeyang

Sehun menggeleng.

“Untuk apa aku mencarinya?”

“Eh?”, kali ini Luna menyernyit

“Lihat ini,”, Sehun mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam saku celananya. Dan saat Ia membuka kotak itu, Ia menunjukkan sebuah cincin disana.

“Ini untuk Seulhyun?”, tanya Taeyang

“Ya. Memangnya untuk siapa lagi?”

“Jadi.. kau benar-benar menyukai Seulhyun?”

Sehun mengangguk pasti.

“Kurasa aku akan berdiskusi dengannya kalau saja Ia mau menjadi seperti kita. Aku selalu iri melihatmu dan Baekhyun hyung sepertinya sangat bahagia.”, ucap Sehun membuat dua yeoja itu tertawa pelan.

“Jadi, kau mau merubah Seulhyun jadi seperti kita juga? Astaga. Kita harus menyiapkan kamar untuk Seulhyun.”, ucap Luna

“Ah, itu ide yang bagus. Kalau bisa.. dekorasi saja kamarku untuk ditempati dua orang. Bagaimana?”, Sehun berucap

Luna menggeleng-geleng pelan.

“Baiklah baiklah. Aku akan mendekorasi kamarnya setelah kau bicara pada Seulhyun.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Seulhyun-ah, aku mau bicara.”, ucap Sehun

“Mwo? Tidak tidak. Tidak sekarang Sehun-ah.”

Sehun menyernyit mendengar ucapan yeoja itu.

“Kenapa?”, tanyanya

“Ada masalah,”, ucap Seulhyun, yeoja itu memijat-mijat pelipisnya, rambutnya bahkan acak-acakan.

“Ada apa?”, tanya Sehun

“Ah, aku sungguh bisa gila. Soojung.”, ucapnya

“Kenapa dengannya?”

“Dia mengurus izin pindah jurusan.”

“Apa?”, Sehun tersentak, dan Seulhyun akhirnya menenggelamkan wajahnya dimeja.

“Ah, kenapa dengan Soojung.. Apa dia kesal karena aku dan Dongwoo terus meledeknya salah jurusan..”, gerutu Seulhyun

“Maksudmu?”

“Soojung sangat menyukai sastra. Aku dan Dongwoo selalu meledeknya. Kami bilang kalau Soojung salah jurusan. Apa Ia pindah jurusan karena ledekan kami?”, ucap Seulhyun dengan nada putus asa

Sehun terdiam. Teringat bahwa Ia juga pernah mengatakan hal yang sama pada Soojung. Dan yeoja itu benar-benar pindah jurusan?

“Ia pindah ke jurusan sastra?”

“Oh.. Aish, bagaimana ini.. Aku ingin menemuinya.”, ucap Seulhyun

“Ayo, kuantarkan kau ke rumahnya.”

“Tapi Sehun-ah..”

“Kenapa?”

“Aku tidak tau dimana rumahnya.”

“Mwo?

“Soojung tidak pernah mau menunjukkan rumahnya. Melacak ponselnya juga tidak bisa. Dia tidak suka kalau ada orang yang datang ke rumahnya.”

“Bagaimana dengan tempat lain?”

Seulhyun menggeleng pelan.

“Kau kira aku tidak memikirkan itu? Aku sudah mencarinya ke tempat lain. Ke tempat yang Ia sukai. Tapi dia tidak ada.”

Sehun akhirnya terdiam.

“Sudah berapa hari dia tidak datang ke kampus?”

“Empat hari. Tapi dia biasanya hanya bertahan membolos empat atau lima hari saja. Kurasa besok atau lusa dia sudah datang.”, ucap Seulhyun berusaha menenangkan dirinya sendiri.

“Kalau begitu.. bisa kita bicara sekarang?”

Seulhyun akhirnya mengangguk-angguk.

“Oh, oh, kau mau bicara apa?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Soojung’s Eyes..

Aku menatap sepasang lemari kaca kecil dihadapanku. Nomor 210 dan 211. Makam kedua orang tuaku. Sudah tujuh tahun tepatnya mereka meninggalkanku sendirian.

Dan hari ini, bertepatan dengan tujuh tahun aku dan Sehun dulu berpisah.

Jika kuingat lagi, kecelakaan itu..

Ah, sudahlah.

Aku menatap foto yang ada dimakam Appa ku. Foto aku dan Sehun, merangkul Appa ku. Aku ingat dengan jelas bagaimana Appa menganggap Sehun seperti anaknya sendiri. Appa sangat menyayanginya.

Di lemari kaca milik Eomma. Ada gambarku, bersama dengan Sehun. Berbeda dengan Appa yang sangat menyayangi Sehun seperti anaknya.

Eomma sangat senang kalau melihat aku kemanapun bersama Sehun.

Semua kenangan itu.. terlalu menyakitkan untuk kuingat lagi.

Tapi aku juga tidak mungkin melupakannya. Mana mungkin aku bisa melupakan kenangan indah itu? Saat aku masih bisa melihat senyum Eomma dan Appa ku.

Saat aku masih bisa bersama dengan Sehun.

Tertawa bersamanya. Menghabiskan waktu bersamanya walapun itu artinya aku harus rela membaca buku-buku fiksi yang—saat itu—sangat kubenci. Aku suka buku fiksi sekarang. Karena Sehun sangat menyukai buku itu.

Dan sampai saat ini, aku masih menyukainya, Oh Sehun. Sahabatku. Yang sekarang melupakanku.

Aku tidak tau bagaimana akhirnya, aku sudah memutuskan untuk menjauh saja darinya dan Seulhyun. Kurasa mereka terlihat bahagia bersama.

Untukku? Jika aku masih berteman dengan Seulhyun kurasa aku masih bisa menjadi teman untuknya. Bukankah itu cukup adil?

Aku tak harus terus melihat mereka berbahagia. Cukup disaat-saat tertentu saat aku ada didekat Seulhyun.

Dan sisanya? Aku bisa menata kembali hidupku yang selama tujuh tahun ini kubiarkan porak-poranda.

Aku mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasku, buku yang selama ini membuatku tak bisa melupakan Sehun atau mengalihkan pikiranku darinya. Tulisan ‘Forgotten’ di sampul buku itu sudah semakin lusuh dan samar karena aku sangat sering membukanya.

“Eomma..”, untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun aku tak pernah bersuara, mengingat kerusakan yang terjadi pada pita suaraku dan membuat sekeras apapun aku berusaha bicara, hanya suara berupa bisikan yang akan terdengar.

Aku ingin bicara lebih banyak lagi. Tapi berusaha membuat suara keluar dari mulutku sama saja dengan aku mencoba untuk membunuh diriku karena rasa sakit yang mencekikku. Jadi aku menutup mulutku, menelan semua kalimat yang ingin kuucapkan.

“Aku sangat.. merindukannya..”

Aku meletakkan buku itu didalam bilik kaca makam Eomma ku, dan aku akhirnya melangkah pergi dari ruang pemakaman Eomma dan Appa ku.

Aku mengambil ponselku. Sudah seminggu lebih aku tidak muncul dikampus karena surat persetujuan pindah jurusan itu belum juga datang, dan aku rindu Seulhyun.

Maksudku, selama ini Seulhyun yang sudah mengubah kehidupanku. Ia bisa membuatku tersenyum setelah bertahun-tahun aku terpuruk karena kecelakaan itu.

Apa Ia lupa kalau hari ini peringatan meninggalnya kedua orang tuaku? Atau Ia marah karena aku pindah jurusan tanpa memberitahunya?

Akankah Ia juga marah saat kukatakan bahwa alasanku pindah jurusan adalah karena aku tak ingin melihatnya bersama dengan Sehun?

Menggelikan. Semua orang pasti berpikir aku teman yang sangat buruk karena menyukai namja yang bahagia bersama temanku dan juga membuat temanku bahagia.

Keputusanku untuk menjauh dari mereka tidaklah salah. Aku ingin menghindari semua hal buruk yang mungkin terjadi jika aku terus melihat mereka bersama.

Aku juga tidak mungkin menceritakan semuanya pada Seulhyun—fakta bahwa aku dan Sehun saling mengenal dan Ia adalah cinta pertamaku, juga fakta bahwa aku sampai saat ini masih menyukai Sehun—karena Sehun sama sekali tidak mengingatku.

Sekarang, pikiranku sibuk mengandai-andai.

Andai saja.. tujuh tahun lalu kecelakaan itu tidak terjadi, dan andai saja.. tujuh tahun lalu aku tidak dengan bodoh mengungkapkan perasaanku pada Sehun, akankah hal seperti ini terjadi?

Jika saja aku tidak mengenal Seulhyun, akankah perasaanku terluka separah ini saat melihat mereka bersama?

Jika aku memutuskan untuk melupakan Sehun tujuh tahun lalu, apa perasaan ini akan tetap sama padanya sampai saat ini?

Atau mungkinkah.. jika aku yang lebih lama berada di sisi Sehun.. Ia bisa menyukaiku juga seperti yang kurasakan selama ini padanya?

Dan dimana aku bisa menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang kupendam selama bertahun-tahun ini?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku berdiri didepan rumah Seulhyun, ini sudah ke empat kalinya aku menekan bel rumahnya. Tidak biasanya Seulhyun tidak langsung muncul, apalagi ini hari minggu, dan Ia lebih sering ada dirumah saat hari libur.

Aku mencoba menelpon Seulhyun, tapi Ia tidak mengangkatnya. Dengan penasaran aku mencoba mencari keberadaan ponsel Seulhyun menggunakan aplikasi GPS yang Ia instal di ponselku juga ponselnya—Ia khawatir jika saja salah satu diantara kami diculik nantinya dan dengan pasrah aku membiarkan Ia menginstal aplikasi semacam itu diponselku.

Ah. Ketemu.

Komplek Perumahan Gangwon? Aku tidak pernah tau Ia punya teman disana.

Aku melangkah dengan cepat menjauhi rumah Seulhyun, dan dengan segera aku mencegat taksi yang lewat. Aku menunjukkan alamat yang ada diponselku pada supir taksi, seakan Ia paham benar bahwa aku tak bisa bicara, supir taksi itu mengangguk dan membawaku ke alamat yang kutuju.

Alamat itu nyatanya membawaku ke depan sebuah rumah mewah dikomplek perumahan gangwon. Dengan cat rumah didominasi warna putih, rumah itu benar-bear tampak asing.

Aku tidak yakin tempat ini adalah rumah Dongwoo. Aku mengecek GPS diponselku, dan benar saja, jarakku dengan keberadaan ponsel Seulhyun sudah tidak jauh lagi. Apa Ia benar-benar ada disini?

Aku melangkah pelan menyusuri halaman luas rumah ini, terdapat dua mobil mewah terparkir disamping pintu masuk. Sekali lagi aku mencoba menelpon Seulhyun, dan samar, kudengar suara ringtone ponsel Seulhyun dari dalam rumah ini.

Apa seseorang menculiknya?

Ah, tidak mungkin. Seulhyun tidak semudah itu untuk dibodohi dan diculik.

Aku menelpon Seulhyun lagi, sembari langkahku terus membawaku mendekat ke pintu rumah yang terbuka disana.

“Dia menelponmu lagi.”

Langkahku terhenti tepat saat aku akan menaiki dua tangga kecil menuju pintu masuk rumah itu.

“Soojung?”, aku bisa mendengar suara Seulhyun dan suara seorang namja, suara Seulhyun terdengar serak, dan seolah menahan sakit.

“Ya, kau mau bicara dengannya?”

Aku mencoba menelpon Seulhyun lagi.

“Tidak, dia pasti tau aku sedang kesakitan hanya dengan mendengar suaraku.”

“Bagaimana kalau kau mengiriminya pesan?”

“Soojung tidak bodoh. Dia pasti tau ada yang salah denganku, Sehun-ah.”

Sehun? Sehun? Apa Ia sedang bersama dengan Sehun?

Dengan ragu, aku mencoba menelpon Sehun. Benar saja, aku mendengar suara ponsel lain berdering dari dalam rumah.

“Dia menelponku.”

“Angkat saja, Soojung akan curiga kalau kau juga tidak mengangkat.”, ucap Seulhyun, aku masih bisa mendengar Ia bicara dengan kesakitan.

“Tapi.. bukankah dia tidak bisa bicara?”

“Ya. Setelah mendengar suaramu dia akan mematikan teleponnya dan mengirimimu pesan. Dia menelponmu untuk memastikan apa kau memegang ponsel. Itu kebiasaan Soojung.”

Aku baru saja akan menelpon Sehun lagi saat aku mendengar suara teriakan Seulhyun dari dalam rumah.

“Akh! Sehun-ah! Sakit!”

Sakit? Apa yang sebenarnya terjadi pada Seulhyun?

Tanpa pikir panjang aku melangkah menaiki tangga kecil disana dan saat aku sampai dipintu rumah itu. Aku melihat pemandangan yang benar-benar membuatku membeku ditempat.

Seulhyun dan Sehun.. mereka.. tengah berciuman.

PRAK!

Dua orang itu menoleh saat mendengar suara benda terjatuh, aku menatap ke lantai, aku bahkan tak sadar aku menjatuhkan ponselku karena melihat mereka berdua.

“S-Soojung?”

Aku menatap Seulhyun dan terbelalak saat melihat ada darah disekitar bibir Seulhyun. Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka?!

Aku melemparkan pandanganku pada Sehun, dan detik itu juga lututku goyah. Aku tak bisa merasakan lantai yang kuinjak.

Dia.. Dia..

Aku sekali lagi menatap Seulhyun, dengan benar-benar teliti memperhatikannya. Aku sadar, tak hanya keadaan Sehun yang membuat lututku goyah. Tapi Seulhyun juga.

Mereka..

“Vampire..”

Tatapan Sehun melebar. Begitu juga dengan Seulhyun.

“Soojung-ah.. Kau.. bicara?”, ucap Seulhyun tak percaya

Aku melangkah mundur, menjauhi mereka.

“Soojung-ah! Aku bisa jelaskan apa yang terjadi disini.”, Seulhyun bangkit dari tempat duduknya, dan melangkah mendekatiku.

Tapi aku terlalu shock untuk mau menerima penjelasan apapun. Aku berlari meninggalkan tempat itu. Tidak peduli pada teriakan Seulhyun. Tidak peduli pada ketakutan yang membuatku berlari tanpa bisa menentukan arah dengan benar.

Aku benar-benar tau keadaan mereka karena aku sudah membaca puluhan buku tentang hal semacam itu.

Mata berwarna merah kelam, kulit pucat, taring.. darah..

Vampire.

Tunggu.. hal semacam ini.. hal tidak masuk akal ini..

“Vampire itu tidak ada! Mereka tidak ada! Dan berhenti memaksaku membaca cerita fiksi tidak masuk akal seperti itu!”

Benar. Dia. Dia selalu memaksaku untuk membaca semua buku tentang makhluk fiksi itu. Oh Sehun.. Apa ini alasan Ia sangat menyukai cerita fiksi yang kubenci itu? Karena dia.. adalah vampire?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Soojung’s Eyes..

“Aku tidak suka hujan.”

“Aku sangat menyukai hujan.”

“Kita tidak pernah satu pemikiran.”

“Geurae. Lalu kenapa kita bisa sedekat ini?”

“Tentu saja karena tidak ada yang mau berteman denganmu!”

“Lalu kenapa kau mau?”

“Mollaseo.”

“Karena aku tidak pandai berteman, kau harus janji kita akan berteman selamanya. Arra?”

“Eh?”

“Bisa saja suatu hari kau melupakanku kan?”

“Ish.. Arraseo..”

“Bagus.”

“Ya!”

“Kenapa kau selalu meninggalkanku saat aku menyuruhmu membaca cerita fiksi?”

“Kau mengesalkan. Selalu saja menyuruhku membaca buku seperti itu. Aku sudah bilang aku tidak percaya cerita-cerita semacam itu kan? Aku membencinya.”

“Kau membenci ceritanya?”

“Ya. Dan aku juga benci makhluk-makhluk yang ada di dalam ceritanya.”

“Kenapa?”

“Karena mereka menyeramkan. Aku benci.”

“Tapi aku suka cerita semacam itu.”

“Aku tetap tidak suka.”

Aku menatap sebuah perekam kecil berwarna biru muda yang ada diatas meja belajarku. Tanpa sadar aku menekan tombol play pada pemutar itu itu, dan mendengarkan rekaman yang ada didalamnya.

“Soojung-ah.. Ini hadiah ulang tahun untukmu. Kau suka menyanyi kan? Jadi kau bisa menyanyi disini, dan aku akan mendengarkannya, kekeke~”

Beberapa rekaman lainnya adalah suaraku, nyanyianku. Dan rekaman lain adalah pembicaraan bodoh antara aku dan Sehun. Perdebatan kami. Dan bahkan keributan kecil yang kami rekam dengan sengaja.

Semuanya.. kenangan kami.

“Sehun-ah.. Saengil chukkahamnida.. Saengil chukkae.. Happy birthday.. Sehun-ah.. Saengil chukkae.. Sehun-ah.. Saengil chukkae! Oh Sehun!! Teman terbaikku! Selamat ulang tahun!.. Sehun-ah.. kau ulang tahun oh? Oh Sehun.. Saengil chukkae..”

Tanpa sadar air mata menetes ke pipiku. Aku ingat dengan jelas bagaimana aku mendatangi banyak tempat dan merekam semua ucapan ulang tahun untuknya. Aku sungguh ingat bagaimana aku dilihat sebagai orang gila karena berteriak seperti itu ditempat umum.

Dan aku ingat.. saat Sehun terus memutar rekaman ini, dihalte bus, saat kami dalam perjalanan pulang. Aku ingat ekspresinya saat Ia berterima kasih padaku. Aku ingat.. aku mengingat senyumnya.

Aku bahkan masih bisa mengingat bagaimana ekspresi Sehun dan komentarnya setiap kali aku datang dan membawakan rekaman baru untuknya. Aku ingat.. semua kenangan indah itu.

“Sehun-ah.. Jowahae..”

Aku tersentak.

Aku mengingat semua ekspresi Sehun pada setiap rekaman yang ada. Tapi tidak dengan rekaman ini. Aku tak pernah tau bagaimana komentarnya tentang rekaman terakhir yang ku berikan padanya ini.

Aku menekan tombol play lagi.

“Sehun-ah.. Jowahae..”

Kata yang sama terputar lagi. Kalimat itu. Kalimat yang sekaligus menjadi ucapan perpisahanku pada Sehun. Kalimat yang seharusnya tidak pernah kuucapkan.

Aku menghembuskan nafas panjang. Mengingat pemandangan yang kemarin kulihat saat Sehun bersama dengan Seulhyun kembali membuat dadaku sesak. Aku bahkan tak sempat memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada mereka.

Dengan lemas aku meletakkan perekam itu dimeja, dan aku segera mengambil mantelku. Aku menatap pantulan diriku dicermin, dan kulemparkan pandanganku ke arah foto tua yang ada dimeja.

Tak ada yang berbeda dari Sehun di foto itu dan sekarang. Ia masih punya ekspresi dingin seperti sekarang. Dan sifatnya juga masih sama. Bahkan perasaannya.. Ia masih menyukai Seulhyun seperti yang Ia tulis didalam buku itu.

Sedangkan aku? Difoto lamaku aku hanyalah yeoja kutu buku aneh yang secara kebetulan bisa berteman dekat dengan Sehun.

Ia benar. Ia benar soal semua komentarnya padaku dimasa lalu.

Aku yang tidak pernah modis. Aku yang tidak pernah memikirkan penampilanku. Ia benar. Dan ucapannya sekarang menjadi jawaban bagiku.

Tidak ada yang berubah. Sehun tidak berubah sama sekali. Seulhyun juga begitu. Sejak dulu sampai sekarang Seulhyun masih seorang yeoja tomboy modis yang menarik perhatiannya.

Kurasa hubungannya dengan Seulhyun bukan satu-satunya alasan Sehun tidak bisa mengingatku. Bukan juga kata-kata yang kuucapkan padanya yang membuatnya tidak mengingatku. Sikap Sehun saat Ia datang ke universitas juga bukan alasan utama aku mengingatnya.

Tapi karena aku berubah. Sedangkan Ia masih tetap sama.

Tentu saja. Manusia mana yang secara fisik tidak berubah setelah tujuh tahun? Tapi dia? Dia bukan manusia. Tentu saja keadaannya akan sama saja seperti tujuh tahun lalu.

Lalu bagaimana.. jika aku bisa membuatnya ingat padaku? Apa keadaannya akan jadi berbeda? Apa aku bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaanku yang lain?

Dan juga.. walaupun dulu aku dan Sehun sudah berteman dekat, kenapa Ia tidak pernah mengatakan padaku bahwa Ia bukan seorang manusia?

Kenapa?

Apa karena.. Ia tidak percaya padaku?

Atau karena aku membenci semua hal fiksi itu?

Aku.. benar-benar butuh waktu untuk melupakan semua ini.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes..

“Soojung masuk kuliah?”

Seulhyun mendongak, dan mengangguk pada Sehun yang sekarang menatapnya khawatir.

“Ya, aku melihatnya tadi ada dikelas sastra.”

“Dia benar-benar pindah jurusan?”

“Oh..”

“Lalu, kau sudah bicara dengannya?”, tanya Sehun

“Tadinya aku mau bicara padanya, tapi.. Ia jadi aneh.”

“Maksudmu?”

Seulhyun menatap namja didepannya, dan menggeleng.

“Lupakan saja,”

“Kau mau aku bicara padanya?”

“Lalu apa yang akan kau katakan padanya Sehun-ah? Bahwa kau bukan manusia dan juga sudah merubahku? Kau pikir Soojung akan menerima itu?”

Sehun terdiam. Ia kemudian teringat akan satu hal.

“Kurasa dia tidak melihat terlalu banyak hari itu. Tapi Ia tau kalau kita vampire.”

Seulhyun mengacak-acak rambutnya frustasi.

“Tapi, Seulhyun-ah, kurasa kau bilang hari itu Soojung bicara.”

Baekhyun yang sedari tadi terdiam akhirnya angkat bicara.

“Ya. Dia bicara. Dia benar-benar bicara.”, ucap Seulhyun

“Apa Ia benar-benar tidak bisa bicara?”, tanya Luna

“Pita suara Soojung rusak. Dan sekeras apapun Ia berusaha bicara, Ia tidak bisa bicara. Memaksa dirinya untuk terus bicara hanya akan membuat indera pendengarannya semakin terganggu dan akhirnya Ia tidak akan bisa mendengar. Itulah kenapa Ia bisa mendengar walaupun tak bisa bicara.”

Luna menatap yeoja itu dalam diam.

“Memangnya, kecelakaan apa yang membuatnya tidak bisa bicara sebelum ini?”, tanya Luna

“Dia pernah disekap dirumah oleh dua orang yang tidak dikenalnya. Saat berusaha kabur, Ia diperkosa oleh dua orang itu. Soojung terus menjerit saat itu, sampai tiba-tiba saja, Ia tak bisa lagi menjerit. Ia kehilangan suaranya.

“Dokter mengatakan bahwa saat pertama kali masuk rumah sakit, Soojung terus menggumamkan nama seseorang, tapi gumamannya hanya terdengar sebagai bisikan pelan.

“Sejak saat itu Ia tidak lagi pernah bicara. Setiap berusaha bicara Ia akan kesakitan. Dan semakin Ia berusaha keras untuk bicara, Ia malah mulai kesulitan untuk mendengar.”

Mendengar ucapan Seulhyun, tiga orang disana terdiam.

“Darimana kau tau semua ini?”

“Dokter yang merawat Soojung. Dua tahun lalu kami pergi kesana, aku menemani Soojung karena Ia bilang Ia sebenarnya mulai bisa bicara. Tapi dokter bilang kalau keadaan Soojung masih sama.

“Bahkan dokter itu bilang, Soojung tidak punya pilihan. Jika Ia ingin terus bicara, Ia tak akan bisa mendengar lagi. Dan jika Ia ingin terus bisa mendengar, Ia tak akan bisa bicara.”

Seulhyun menghembuskan nafas panjang.

“Ah! Benar. Aku ingat sekarang.”

“Ingat apa?”

“Hal yang terus Soojung gumamkan saat pertama kali datang ke rumah sakit.”

“Apa itu?”

“Seingatku, dokter itu bilang bahwa Soojung terus menggumamkan.. ‘Kau tidak suka rekaman itu kan? Apa kau benar-benar temanku? Kenapa kau tidak datang menyelamatkanku?’ seingatku dokter Kim bicara begitu.”

Aku seketika terpaku.

“R-Rekaman?”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

15 thoughts on “Forgotten part 5

  1. Le N b berkata:

    Oh god ceritanya menyakitkan bangt, aku nympe nyesek bacanyaa, sehun bnrn udah lupa sma sojung, knpa hris ma selhyunnn.. 😔ksian sojung…. not not not

  2. denia berkata:

    Sesih banget sampe nangis
    Hmmm gilak seulhyun beneran diubah sama sehun
    Hmm giman yaa jadinya entar soojung
    Sesih banget nasibnya soojung yaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s