Crazy Without You Part 20

Crazy Without You

Author   : Ohmija

Cast  : Donghae SJ, Yoona SNSD, Sehun EXO

Support Cast    : The Rest members SUJU, SNSD, EXO

Genre : Romance, Family, Friendship, Comedy

Summary    : Sebaiknya ia mengalah walaupun rasanya sedikit sesak.

“Cepat siapkan baju yang akan kau pakai besok. Ahjussi akan menyiapkan peralatanmu.”

Sehun mengangguk lalu berdiri dan menghampiri lemari bajunya. Sementara Donghae menyiapkan peralatan Sehun, seperti passport dan beberapa dokumen penting lainnya. Pria itu, tanpa sepengetahuan Yoona pergi ke rumahnya untuk membantu menyiapkan barang-barangnya.

Sementara di gedung SM, Yoona terpaksa memilih-milih kostum yang akan di pakai oleh SNSD besok. Ada beberapa contoh kostum yang pernah di pakai sebelumnya, dia hanya perlu menambahkan beberapa aksesoris agar terlihat berbeda.

“Tolong ambilkan kotak yang itu.”seru Yoona menyuruh salah seorang bawahannya. Tangannya terus sibuk dengan peralatan-peralatan dan kostum.

“Yoona?” Tiba-tiba seseorang muncul. Yoona mengangkat wajahnya dan mendapati Eunhyuk telah berada di ruangan kostum itu.

“Oppa?”

“Kau masih disini? Kenapa tidak bersiap-siap untuk besok?”

Yoona tersenyum kecut, “Oppa…sepertinya aku …” wanita itu memutar bola matanya bingung. “Eung…”

“Ada apa?” Eunhyuk menyadari jika ada sesuatu yang tidak beres,

“Sebaiknya kita bicara di luar.” Yoona berdiri, mengajak Eunhyuk meninggalkan ruangan karena ada beberapa staff disana. Eunhyuk mengangguk, mengikuti langkah Yoona.

Di sebuah kursi yang tak jauh dari ruangan itu, keduanya duduk bersama. Eunhyuk menyadari kecemasan yang terdapat di wajah Yoona. Wanita itu terlihat sangat gelisah.

“Ada apa?”tanya Eunhyuk lagi.

Yoona menarik napas panjang lalu menatap wajah Eunhyuk, “Oppa… aku tidak bisa pergi ke Jepang besok.”

Eunhyuk tersentak, “Kenapa?”

“Aku harus pergi ke China untuk mengurus kostum SNSD.”

“Bagaimana bisa? Bukankah jadwalmu sudah di atur? Besok kau seharusnya pergi ke Jepang bersama kami.”

“CEO yang mengubahnya.” Wanita itu menghela napas. “Dia mengatakan jika tiketku telah di batalkan dan menggantinya dengan penerbangan ke China.”

“Apa?!”Eunhyuk memekik. “Astaga, orang itu…jadi dia benar-benar tidak menyetujui hubungan kalian?” decaknya tak percaya. “Donghae memberitahuku jika dia terlihat tidak menyukai hubungan kalian. Jadi itu benar.”

“Aku hanya tidak tau bagaimana menjelaskan hal ini pada Donghae. Aku sangat takut jika dia menjadi marah karena tadi siang, dia mengamuk di ruangan CEO.”

“Kau tau itu tidak adil. Dia bersikap seperti itu hanya karena dia khawatir dengan saham perusahaan.” Eunhyuk ikut emosi. “Ini sudah kedua kalinya dia bertindak seperti itu pada Donghae!”

“Oppa, kecilkan suara oppa.” Yoona menepuk-nepuk pundak Eunhyuk. Khawatir jika seseorang mendenhar pembicaraan mereka.

“Aku sangat kesal Yoona!”serunya. “Setelah ini, bagaimana kau menjelaskan pada Donghae? Dia pasti akan kecewa!”

Yoona lantas menunduk. Sejak tadi ia juga memikirkan hal itu. Bagaimana caranya menjelaskan pada Donghae tentang perubahan jadwal kerjanya itu.

“Oppa.” Yoona mengangkat wajahnya, memaksakan dirinya untuk tersenyum, “Aku akan menjelaskannya nanti. Jangan khawatir.” Wanita itu berusaha meredam amarah Eunhyuk. “Dan aku juga minta maaf karena hubunganku dan Donghae telah membuat semua masalah menjadi besar.”jelasnya. “Anggap saja ini adalah hukuman untukku karena aku telah membuat banyak orang kecewa. Aku akan berusaha dengan baik.”

***___***

Hari sudah larut. Seharusnya sejak tadi Yoona sudah kembali ke rumah. Namun, hingga pukul 10 malam, wanita itu belum juga muncul, ponselnya juga tidak aktif. Apa dia masih bekerja? Tapi bukankah semuanya telah siap? Apa lagi yang harus ia kerjakan hingga belum pulang?

Donghae terus memandangi layar ponselnya. Setiap menit mengecek benda kecil itu jika saja ada balasan pesan atau panggilan dari Yoona. Ia bahkan mengabaikan acara televisi sejak tadi.

Di pangkuannya, Sehun sudah tertidur lelap karena lelah bermain dengan Donghae. Dia juga mengatakan jika dia tidak sabar untuk pergi ke Jepang besok. Menatap anak itu sesaat, akhirnya Donghae meletakkan ponselnya di atas meja dan memutuskan untuk menggendong Sehun ke kamarnya. Dia tau Sehun bukanlah anak kecil lagi, dia adalah anak laki-laki yang suah berusia 12 tahun. Namun walaupun begitu, Donghae selalu memperlakukannya seperti seorang anak kecil. Tanpa sadar, ia memperlakukan Choi Sehun seperti Lee Sehun yang masih berusia 3 tahun.

Donghae menarik selimut untuk menutupi tubuh Sehun, menghusap kepalanya sesaat lalu kembali ke lantai dasar. Begitu ia menuruni anak tangga, terdengar bunyi panel elektronik dan tak lama pintu terbuka. Pria itu berhenti di anak tangga ke tiga dan terus memandangi wanita yang sejak tadi ia tunggu itu.

Begitu wanita itu berbalik dan mendapati Donghae berada di dalam rumahnya, ia terlonjak hebat.

“Astaga, kau mengagetkanku.”serunya menghusap-husap dadanya.

Donghae melipat kedua tangannya di depan dada sambil menghampiri Yoona, “Darimana saja kau? Kenapa baru pulang? Dan kenapa ponselmu tidak aktif?”

“Bagaimana bisa kau ada disini?” Yoona jsutru balas bertanya.

“Kau lupa? Aku tau password rumahmu.” jawab Donghae sambil menghampiri kekasihnya itu. “Sekarang jawab pertanyaanku. Dsrimana saja kau?”

Wanita berkaki jenjang itu menghela napas panjang, “Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan.”ucapnya menghindari kontak mata dengan Donghae. Ia menuju ruang tamu dan menjatuhkan dirinya di sofa.

Donghae mengikuti, pria itu juga menjatuhkan diri di sampingnya, “Pekerjaan apa? Bukankah semuanya sudah selesai?”

Yoona menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa sambil memejamkan matanya, “Ini sudah larut. Kenapa kau masih disini?” lagi-lagi ia tidak menjawab pertanyaan Donghae.

“Aku khawatir dengan Sehun jadi aku kemari dan menemaninya. Tadi kami bahkan makan malam bersama.”

“Benarkah? Terima kasih.”

Donghae tidak bersuara lagi. Pria itu memajukan wajahnya, menatap wajah kekasihnya itu lebih dekat. Perlahan ia tersenyum. Gadis ini…dia sangat cantik.

Menyadari jika Donghae tidak mengeluarkan suara apapun, Yoona membuka matanya untuk memastikan apa yang sedang di lakukan pria itu. Namun, begitu ia membuka matanya, ia menemukan wajah Donghae tepat berada beberapa centi diatasnya. Sontak matanya membulat lebar, dengan reflek ia mendorong tubuh Donghae.

“Apa yang kau lakukan?!”pekiknya kaget.

“Kenapa kau mendorongku?”balas Donghae memijat-mijat bahunya yang terasa sakit akibat dorongan Yoona. “Aku tidak berbuat jahat. Aku hanya menatapmu.”

“Kenapa kau menatapku?!”ketus Yoona lalu berpaling, menyembunyikan wajahnya yang memerah.

“Memangnya apa salahnya? Aku kan memandangi wajah kekasihku.”

“Jangan lakukan itu lagi!” Wanita itu berdiri, segera pergi ke dapur untuk mengambil segelas air putih. Dasar menyebalkan, dia membuat janttungnya hampir copot.

Donghae lagi-lagi mengikuti kekasihnya itu, ia bersandar pada dinding sambil menatap Yoona, “Kau sudah menyiapkan barang-barangmu?”

Pertanyaan Donghae barusan sontak membuat Yoona berhenti meneguk air mineralnya. Ia mengalihkan pandangannya, berusaha mencari-cari alasan. Ini adalah saat yang paling ia takutkan.

“Kau mau kopi?”wanita itu berusaha mengalihkan topik pembicaraan.

“Aku sudah minum kopi tadi.”balas Donghae tetap tidak menyadari perubahan sikap Yoona. “Tadi, aku membantu Sehun untuk menyiapkan barang-barangnya. Dia sudah tidur karena dia bilang dia tidak sabar pergi ke Jepang besok.”

Yoona meletakkan gelas minumannya diatas meja. Pandangannya menunduk, enggan menatap Donghae. Menyadari jika ada sesuatu yang aneh pada diri kekasihnya itu, kening Donghae berkerut.

“Ada apa?”

Yoona terdiam sejenak, wanita itu menarik napas panjang pelan, berusaha mengumpulkan keberaniannya. Sesaat setelahnya, ia mengangkat wajahnya, menatap Donghae lurus.

“Aku tidak akan pergi ke Jepang besok.”ucapnya dengan nada sepelan mungkin.

Donghae tersentak, “Apa?”

“Maafkan aku, Donghae. Tapi aku harus pergi ke China besok.”

“Apa yang kau lakukan? Kenapa tiba-tiba?”

Yoona menggigit bibir bawahnya kelu, kemudian menghampiri Donghae dan berdiri di hadapannya, “Donghae-ssi, maafkan aku. Aku mengubah jadwalku tiba-tiba dan—“

“Kau tidak mungkin mengubahnya,” potong Donghae cepat. Ia mencekal lengan Yoona, “Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Youngmin hyung yang melakukan ini, kan?!” rahangnya mulai mengatup. “Pasti dia yang melakukan ini agar kita tidak pergi bersama, iya kan?!”

“Donghae-ssi, lenganku sakit.”

“Arrgghh…” Donghae melepas cekalannya dan mengacak rambutnya frustasi. “Harusnya kau memberitahuku sejak awal!” nada suaranya mulai meninggi sementara Yoona hanya menunduk takut. “Apa kau tau berapa lama aku menunggumu disini? Apa kau tau bagaimana bahagianya Sehun karena besok dia akan pergi ke Jepang bersama ibunya?! Harusnya kau mengatakan padaku sejak tadi jadi aku yang akan mengurusnya!”

“Justru karena itu,” ucap Yoona dengan suara bergetar. “Aku tidak mau kau mengurusnya karena aku tau masalah akan menjadi semakin besar.”

“Kau harus melawannya Yoona!” Donghae masih emosi. “Tidak perduli apapun, kau harus melawannya! Ini adalah awal dari hubungan kita tapi kau selalu saja mengalah. Kau selalu saja menjadi lemah! Kau tau ada banyak halangan yang akan menimpa kita nanti, jika kau menjadi lemah, hubungan ini tidak akan berhasil!”

“Kau bicara begitu karena kau adalah seorang Idol.” Yoona mengangkat wajahnya, menatap Donghae dengan kedua mata yang di genangi air. “Aku tidak bisa kehilangan pekerjaan itu karena aku memiliki Sehun. Aku menjadi lemah karena aku tidak mau kehilangan pekerjaanku!”

“Ada apa ini?” Suara lain tiba-tiba terdengar. Donghae dan Yoona sama-sama menoleh ke asal suara. “Apa pasangan baru sedang bertengkar sekarang?”

Melihat siapa yang telah muncul di rumah Yoona, rahang Donghae semakin mengeras. Amarahnya menggurak hebat seperti tak tertahankan.

“Apa aku belum menyuruhmu untuk mengganti password rumahmu?”desisnya pada Yoona namun kedua matanya menatap tajam pria tinggi itu. “Aku tidak suka jika pria ini ada di rumahmu lagi.”

Pria tinggi yang ternyata adalah Siwon itu tersenyum, “Kenapa? Apa kau takut aku akan merebutnya?” Ia buru-buru melanjutkan ucapannya lagi. “Ah tidak, bukankah sejak awal dia adalah milikku dan kau merebutnya?”

“Aku sedang tidak berada dalam suasana hati yang baik jadi sebaiknya kau pergi.”ancam Donghae.

Siwon maju beberapa langkah ke depan. “Aku kesini karena aku mendengar kalian telah menjalin hubungan. Dan…aku melihat beberapa komentar pedas menyerang akun SNSnya jadi aku ingin menghiburnya.”ucap Siwon dengan nada santai membuat Donghae menggertakkan giginya, “Lagipula, aku juga merindukan Sehun.”

“Kau tidak perlu ikut campur urusan kami dan kau tidak perlu mengunjungi Sehun lagi. Aku bisa menjaganya.”

Seketika Siwon tertawa, di tatapnya Donghae dengan nada mengejek, “Menjaganya?” ia mengulangi ucapan Donghae. “Apa kau lupa jika dia adalah anakku? Bagaimana bisa kau yang akan menjaganya?”

Donghae kalah telak. Kenyataan itu membuat emosinya tak lagi mampu di tahan. Tangannya sudah terangkat, sudah akan memberikan Siwon sebuah pukulan keras namun Yoona langsung menahannya.

“Donghae-ssi!” Yoona memeluk lengan Donghae dengan kedua tangannya erat-erat. Tidak boleh. Masalah mereka belum selesai, dia tidak boleh mendapat masalah baru lagi.

“Jadi kau mau memukulku?” Siwon menantang. “Kalau begitu pukul aku. Mungkin besok namamu akan berada di halaman depan surat kabar.”

“Brengsek!”

“Donghae-ssi, hentikan.”tahan Yoona. “Oppa, pergilah sekarang. Aku mohon.”

Ekspresi Siwon kini berubah dingin, ia menatap Donghae penuh bara kebencian, “Apa kau mengabaikan panggilan dan pesanku karena pria ini?”

“Siapa yang kau maksud? Aku kekasihnya!”

Yoona semakin mengetatkan peukannya di lengan Donghae sambil menatap Siwon dengan sorot memohon, “Oppa, aku mohon. Jangan katakan apapun lagi. Pergilah oppa.”

Siwon menatap keduanya sesaat lalu berbalik, namun sebelum pergi, ia berseru dingin, “Aku tidak bisa melepaskanmu Yoona. Tidak akan.”

Donghae menggeram keras. Bibirnya terkatup rapat menahan amarah. Kenapa semua orang selalu menentang kebahagiaannya? Kenapa?!

“Donghae-ssi…” Yoona menepuk pundak Donghae pelan dan hati-hati. Ia sangat paham. Ia sangat mengerti jika Donghae sedang marah saat ini.

Donghae memejamkan matanya kuat-kuat, menarik napas panjang dan sebisa mungkin untuk menahan dirinya. Agar tidak di tumpahkan seluruh amarahnya itu pada Yoona. “Sehun akan tetap ikut bersamaku besok pagi.” Ucapnya tegas setelah membuka mata. “Entah dengan atau tanpamu.” Kemudian mengambil jaketnya dan pergi meninggalkan rumah Yoona.

Yoona melunglai lemas di atas sofa. Kedua telapak tangannya menutup wajahnya lalu mengacak rambutnya frustasi.

Apa seperti ini rasanya mencintai seorang selebriti?

***___***

Yoona sudah bangun pagi-pagi sekali atau mungkin belum tidur sejak semalam lebih tepatnya. Wanita cantik itu sejak tadi telah sibuk membersihkan dapur dan menyiapkan bekal makanan untuk Sehun.

Sebenarnya, dia ingin melarang kepergian Sehun dengan Donghae. Tapi melihat Donghae begitu marah semalam, dia tidak memiliki keberanian untuk melakukan itu.

“Eoma, dimana Donghae ahjussi?”

Suara serak Sehun membuat Yoona langsung berbalik, “Kau baru saja bangun dan langsung bertanya tentangnya?”

Sehun menghusap-husap matanya sambil menjatuhkan diri di kursi makan, “Donghae ahjussi bilang akan menginap semalam. Dimana dia?”

“Tidak. Dia pulang karena harus menyiapkan keperluannya.”

“Eoma, apa hari ini kita benar-benar akan pergi ke Jepang?”

Ekspresi Yoona seketika berubah kelam. Wanita itu duduk di samping Sehun, mengulurkan tangannya dan menghusap kepala anaknya itu lembut.

“Hari ini hanya kau dan Donghae ahjussi yang akan pergi ke Jepang.”

“Kenapa eoma tidak ikut?”

“Eoma harus pergi ke China. CEO mengubah jadwal eoma tiba-tiba.”

“Huh? Bagaimana bisa begitu? Kita kan akan pergi piknik.”seru Sehun terlihat kecewa.

“Maafkan eoma. Eoma sangat ingin ikut tapi eoma harus pergi ke China.”

Sehun mengerucutkan bibirnya, “Jadi hanya aku dan Donghae ahjussi yang pergi?”

“Eoma berjanji akan mengambil hari libur secepatnya dan menemanimu.”

“Baiklah. Aku akan pergi dengan Donghae ahjussi saja.” Sehun menghela napas panjang lalu melompat turun dari kursinya dan pergi ke kamarnya.

Yoona memandangnya dengan sorot bersalah, “Maafkan eoma, Sehunnie.”

***___***

Yoona sudah memutuskan sebisa mungkin dia akan mengalah. Dia tidak akan melakukan hal yang bisa menambah keruh suasana. Sebaiknya ia mengalah walaupun rasanya sedikit sesak.

Siang itu, Donghae tidak mengucapkan kalimat apapun ketika ia menjemput Sehun. Bahkan pria itu tidak mengiriminya pesan ataupun menelponnya ketika dia memberitahu jika dia akan pergi tepat jam 12 siang.

Mungkin dia benar-benar marah.

Taeyeon menghampiri Yoona di kursinya ketika mereka sudah berada di ruang tunggu bandara kemudian duduk di samping wanita itu, “Kau tidak apa-apa?”

Suara Taeyeon mengejutkan Yoona, “Unnie?”

“Wajahmu terlihat pucat.”

“Oh, aku tidak apa-apa, unnie. Mungkin sedikit gugup.”

“Hey, aku sudah mendengarnya.”ucapnya setengah berbisik. “CEO mengubah jadwalmu tiba-tiba, kan?” Yoona terdiam sejenak lalu mengangguk pelan. “Aku tidak akan mengatakan hal-hal bohong sebagai bentuk penghiburan. Tapi, memang benar jika CEO sangat mengekang Donghae oppa. Itu sudah menjadi rahasia perusahaan.”jelasnya menghela napas panjang. “Biar ku beritahu kau satu rahasia. Dulu, Jessica sempat menyukai Donghae oppa namun ketika CEO mendengarnya, ia melarangnya habis-habisan. Dia bilang hal itu akan mempengaruhi segalanya. Kau tau kan, maksudnya hal itu akan mempengaruhi saham. Jadi hingga sekarang, Jessica tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada Donghae oppa hingga akhirnya ia sudah melupakannya sekarang.” Taeyeon menarik napas panjang sekali lagi. “Bahkan dengan anggota memberku saja dia berlaku seperti itu. Itu sedikit tidak adil.”

“Unnie…”

Taeyeon menoleh, menatap Yoona dengan sorot iba, “Dunia hiburan memang kejam, Yoona. Apa yang terlihat terkadang tidak sesuai dengan kenyataan. Jadi kau benar-benar harus bertahan sekuat tenaga jika memang menyayangi Donghae oppa.” Wanita itu mengulurkan tangannya, menepuk punggung tangan Yoona lembut. “Kau harus sabar, ya. Dan maafkan kami karena jadwal kami membuatmu harus menyiapkan semuanya lagi.”

“Unnie, tidak begitu. Aku tidak menyalahkan siapapun. Yang di katakan unnie benar, aku harus terus sabar menghadapi semuanya.”

***___***

“Apa kau masih mengantuk?” Donghae menatap Sehun yang terus menguap sejak tadi sambil terkekeh.

Sehun menggeleng, “Aku lapar hehe.”

“Kau mau ahjussi membelikanmu makanan?”

“Apa tidak merepotkan?”

Donghae tersenyum sambil mengacak rambut Sehun, “Tentu saja tidak.”

Eunhyuk yang mendengar percakapan mereka, lantas mendekat. “Mau roti?” ia memberikan sebungkus roti pada Sehun. “Untuk mengganjal perutmu sambil menunggu Donghae ahjussi membelikan makanan.”

Sehun menerima roti itu malu-malu, “Terima kasih, ahjussi”

“Bagaimana? Apa kau merasa bosan?”

Sehun mengangguk sambil menggigit rotinya, “Sedikit.”jawabnya. “Ahjussi, kapan kita akan berangkat?”

“Sebentar lagi.” Eunhyuk melirik arlojinya. “Mungkin sekitar 15 menit lagi.”

“Oh.”

“Apa kau akan merasa baik-baik saja disana? Kau tidak takut?” Eunhyuk menatap Sehun dengan senyum. “Tidak ada ibumu. Hanya ada aku dan Donghae ahjussi. Apa kau tidak akan merindukan ibumu?”

“Tentu saja aku akan merindukan oema.”jawab Sehun cepat. “Tapi, karena aku pergi bersama Donghae ahjussi, aku tidak merasa khawatir.”

“Kenapa?” Pria itu menahan tawanya.

“Donghae ahjussi mengatakan jika dia akan menjadi ayahku.”

Eunhyuk berpura-pura terkejut, “Benarkah? Jadi kau akan memiliki ayah baru?”

“Eum. Aku sangat senang.”

“Baguslah jika kau merasa senang.” Ia mengacak rambut Sehun. “Tapi, ngomong-ngomong apa ayahmu adalah pria tinggi yang waktu itu datang ke perusahaan bersamamu?”

Sehun memutar bola matanya, “Maksud ahjussi…Siwon ahjussi?”

Eunhyuk mengangguk, “Dia ayahmu?”ulangnya lagi.

“Iya. Dia ayahku.”

“Tapi kenapa kau memanggilnya dengan sebutan ‘ahjussi’ bukan ‘appa’?”

Sehun mengendikkan kedua bahunya sambil melipat plastik bekas roti yang di makannya, “Tidak tau. Sejak dulu aku selalu memanggilnya begitu.”

“Itu artinya dia bukan ayahmu.”

Kening Sehun berkerut, “Huh?”

“Jika kau memanggilnya ahjussi, itu artinya dia adalah pamanmu, bukan ayahmu.” Eunhyuk membungkukkan tubuhnya, berbicara dengan sikap seolah-olah sedang serius pada anak 12 tahun itu. “Kau harus memperjelas hubunganmu dengan orang lain. Jika kau menganggap Donghae adalah ayahmu, maka kau harus memanggilnya ‘appa’. Begitu.”

“Begitukah?” Sehun terlihat sudah terpengaruh. “Jadi aku harus memanggilnya ‘appa’?”

“Iya!” Eunhyuk berkata yakin. “Mulai saat ini, kau harus memanggilnya appa, mengerti? Karena mulai saat ini dia adalah ayahmu.”

“Apa yang sedang kalian bicarakan?” Donghae tiba-tiba muncul dengan bungkus plastik di tangannya. Eunhyuk segera bergeser dan memberikan tempat di samping Sehun untuk Donghae. Dengan sigap, pria berwajah tampan itu mengeluarkan sesuatu yang ia beli dan memberikannya pada Sehun. “Makanlah yang banyak.”

“Woah, ddokbukkie?”

Donghae tersenyum menatap Sehun, “Kau suka kan?”

“Sangaaaat sukaaa.” Sehun langsung mengambil sumpitnya dan bersiap melahap makanannya. “Terima kasih, appa.”

Ucapannya barusan sontak membuat Donghae terkejut. Matanya melebar tak percaya sementara Eunhyuk langsung menjauh karena dia tidak bisa menahan tawa.

“Sehunnie…”

“Hum?” Sehun mendongak, menatap Donghae dengan mulut yan berisi kunyahan.

“Kau mengatakan apa tadi?”

“Apa?” keningnya berkerut bingung. “Appa?”

Donghae mengangguk-anggukkan kepalanya, “Kau memanggilku appa?”

Sehun lantas meringis, lalu menunjuk Eunhyuk, “Eunhyuk ahjussi bilang karena kau akan segera menjadi ayahku, maka aku harus memanggilmu appa.”

Pria itu menghela napas panjang, “Sebaiknya, kau tidak terlalu dekat dengan dia, mengerti?”

***___***

“Iya, tolong segera siapkan sepatu dan aksesorisnya juga.” Ucap Yoona menyuruh seorang staff. “Jangan lupa segera bawa kostum ke ruang ganti, aku harus memeriksanya lagi.”

“Baik.”

“Illa-yah, kau beritahu para member untuk pergi ke ruang ganti tiga jam sebelum acara di mulai. Pastikan mereka beristirahat saat ini.”

Seorang staff bernama Illa mengangguk lalu segera mengerjakan perintah Yoona. Ketika semua staff telah pergi mengerjakan tugas mereka masing-masing, Yoona menjatuhkan diri di sofa yang ada di ruangan kamar hotelnya dengan helaan napas panjang. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan sekali lagi mencoba menghubungi Donghae, namun untuk yang kesekian kalinya, ponsel pria itu tidak bisa di hubungi. Mungkin dia masih berada dalam perjalanan.

Donghae-ssi, segera hubungi aku jika kau sudah sampai.

Aku merindukan kalian.

Helaan napas panjang kembali terdengar. Yoona meletakkan ponselnya diatas meja dan melirik kearah jam yang tergantung tinggi di dinding. Dia masih punya beberapa jam sebelum menjadi sibuk. Tapi, rasanya tubuhnya sedang tidak ingin istirahat walaupun sekujur tubuhnya terasa sangat pegal. Bahkan untuk memejamkan mata saja, rasanya dia enggan.

Masih ada rasa bersalah di dalam hatinya. Pada Donghae juga Sehun. Dia merasa bersalah karena dia tidak bisa menepati janjinya pada dua orang itu. Belum lagi, ucapan Taeyeon di bandara Incheon tadi terus terngiang di otaknya. Mungkin benar, semuanya akan menjadi sulit.

Jatuh dalam pikirannya, bunyi bel yang berbunyi membuatnya tersadar dari lamunannya. Dia berdiri dan berjalan untuk membuka pintu. Ketika pintu terbuka, ia sedikit terkejut melihat Tiffany sudah berdiri di baliknya.

“Unnie…”

Tiffany tersenyum tipis, “Bolehkan aku masuk?”

Yoona mengangguk pelan lalu mempersilakan gadis cantik itu masuk ke dalam ruangannya.

“Ada apa unnie?”tanya Yoona sebisa mungkin bersikap biasa. “Apa kostumnya tidak pas? Atau ada aksesoris yang unnie inginkan?”

“Yoona…” Tiffany menatap Yoona lurus. Tidak memperdulikan semua pertanyaan Yoona tadi. Wanita itu terdiam sejenak sebelum akhirnya berseru, “Aku…mencintai Siwon oppa.”ucapnya pelan. “Aku sangat mencintainya.”ulangnya lagi.

“Unnie, aku dan Siwon oppa—“

“Aku tau kalian sudah mengakhiri hubungan kalian.”potong Tiffany. “Tapi, itu tetap tidak menjadi berita baik untukku. Karena dia masih mencintaimu.” Mendengar itu mata Yoona melebar. “Dia tidak lagi menghubungiku sejak beberapa hari lalu dan aku tau jika kemarin dia pergi ke rumahmu.”

Yoona tergugu. Dia tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk membalas ucapannya. Karena nyatanya, Siwon memang pergi ke rumahnya kemarin.

“Yoona maafkan aku. Di matamu, aku pasti terlihat sangat jahat. Aku menyebabkan hubunganmu dan Siwon oppa kandas dan sekarang aku masih mengganggumu ketika kau sudah melepaskannya. Aku bahkan tidak mengucapkan selamat atas hubunganmu dan Donghae oppa.” Kedua mata Tiffany terlihat mulai basah. Ia menatap Yoona dengan senyum tipis, “Kau pasti sangat membenciku, kan?”

Yoona langsung menggeleng, “Aku tidak pernah membenci unnie.”katanya pelan. “Namun, semua yang unnie pikirkan itu tidak benar. Siwon oppa tidak mencintaiku. Dia hanya mencintai unnie. Sejak dulu. Bahkan ketika aku telah berusaha membuatnya menatapku, dia akan selalu mencari unnie. Aku tidak akan bisa menggantikan posisi unnie di hatinya. Saat ini, unnie pasti sedang salah paham. Jadi–”

Ucapan Yoona terhenti ketika ponselnya tiba-tiba berbunyi. Ia melirik kearah benda kecil yang tergeletak di depannya itu. Matanya melebar ketika membaca nama pemanggil yang tertera disana. Bukan Donghae. Bukan Sehun. Tapi Siwon!

Dan sialnya, Tiffany juga melihat itu. Nama yang sangat dikenalnya yang terlihat di layar ponsel Yoona.

Tidak. Dia tidak boleh membuat masalah menjadi semakin rumit. Sebaiknya tidak menjawab panggilannya dan terus meyakinkan Tiffany jika dirinya dan Siwon telah benar-benar berakhir.

“Kenapa kau tidak menjawabnya?” tanya Tiffany.

“Unnie, aku—“

“Jawab saja. Mungkin ada sesuatu yang penting.”

Yoona mengulurkan tangannya, meraih benda kecil yang bergetar itu dengan perasaan tak enak hati.

“Yeoboseyo.” Wanita itu mendekatkan ponsel itu ke telinga. “Oppa aku…apa?!” Matanya melebar seketika. Ia menatap Tiffany kemudian, oh ya ampun, apa yang harus dia lakukan?

Menurunkan ponselnya perlahan. Wanita itu menghela napas panjang sambil berdiri dari duduknya. Ia melangkah menuju pintu dan memutar kenop dengan berat hati.

Masalah lain akan segera datang. Bersiaplah, Im Yoona.

“Oppa, apa yang oppa lakukan disini?” Yoona menatap pria yang telah berdiri di balik pintunya itu setengah kesal. “Oppa, tolonglah. Jangan mem—“

“Aku ingin bicara.”potong pria itu cepat. Balas menatap Yoona. “Aku ingin bicara, Yoona.”

“Apa kau sedang sibuk?” Di belakang Yoona, suara Tiffany terdengar dan tak lama sosoknya muncul. Ia juga terlihat terkejut ketika melihat siapa yang datang bertamu menemui Yoona.

Yoona berbalik, menatap Tiffany penuh rasa menyesal, “Unnie, ini tidak seperti yang terlihat.”

“Yoona, jika kau sibuk. Kita bisa bicara lain kali.” Wanita itu tersenyum. Jenis senyum yang dipaksakan dan Yoona tau itu. Tiffany berjalan keluar ruangan, melewati Yoona kemudian Siwon.

Namun, langkahnya terhenti ketika Siwon menahan lengannya. Pria itu berbisik, “Berikan aku waktu.”

Sekuat tenaga, wanita itu menahan tangisnya agar tidak pecah. Ia melepaskan cekalan Siwon dan melanjutkan langkah. Semakin menjauh dan akhirnya menghilang.

***___***

Kenapa hubungan ini menjadi begitu rumit? Kenapa banyak orang yang merasa tersakiti atas hubungan ini.

Dia pikir, semuanya akan menjadi lebih baik ketika dia pada akhirnya merelakan cinta pertamanya. Memilih jalan lain dan bertekad untuk melupakan. Dia pikir, semuanya akan selesai jika dia pada akhirnya mampu mencintai orang lain.

“Yoona, kau tidak bisa begini.”

Yoona berbalik ke belakang, menatap Siwon yang sedang duduk di sofa dan membelakangi jendela kaca.

“Kau tidak bisa begini.”ulang Siwon lagi.

“Bukankah seharusnya aku yang mengatakan hal itu?”balas Yoona. “Oppa, kenapa kau melakukan ini? Kenapa kau mengikat kami berdua?” ia mulai merasa kesal. “Kau mengatakan jika kau mencintai Tiffany unnie, tapi kenapa kau tidak melepaskanku juga? Oppa, karena oppa, hubunganku dengan Tiffany unnie bisa memburuk. Aku tidak mau dia salah paham padaku. Dan oppa tau saat ini aku sudah berkencan dengan orang lain. Jadi bisakah oppa berhenti? Tolong jangan brsikap seperti ini, aku tidak mau dia marah padaku.”

Siwon diam sejenak, “Kau mencintainya?”tanyanya pelan. “Penyanyi itu…kau mencintainya?”

Yoona menghembuskan napas keras, “Yah, aku mencintainya. Sangat mencintainya.”

“Tapi, aku tidak bisa merelakan itu, Yoona.” Siwon berdiri, menghampiri Yoona dan berdiri di hadapannya. “Aku tidak bisa merelakanmu bersama orang lain. Tidak bisa.”

“Kenapa?” suara Yoona mulai meninggi. “Oppa tidak mencintaiku!”

“Itulah yang ku pikirkan!” Siwon mengacak rambutnya. “Aku tidak mencintaimu dan aku mencintai Tiffany. Tapi kenapa ketika kau pergi dan ketika aku melihatmu bersama orang lain, hatiku terasa sakit? Sebenarnya siapa yang ku cintai?Aku mengatakan jika aku selalu mencintainya, tapi aku tidak bisa melepaskanmu! Dan perlahan… aku menyadari jika aku mencintaimu!”

“Oppa tidak mencintaiku!” Yoona langsung menggeleng. “Ini bukan rasa cinta oppa. Ini hanya beban yang oppa rasakan atas ucapan orang tuaku. Oppa melakukan ini hanya karena mereka meminta oppa menjagaku dan Sehun. Ini bukan rasa cinta!”

“Yoona…”

“Oppa, tolong lupakan hal itu. Oppa tidak harus menjagaku dan Sehun karena aku sudah memiliki seseorang yang akan menjagaku dan Sehun. Tolong jangan merasa terbebani lagi.”

Rahang Siwon mengeras, kedua tangannya mengepal di samping tubuh setelah mendengar ucapan Yoona, “Jadi kau lebih mempercayai orang itu daripada aku? Kau lebih menginginkannya yang menjadi penjagamu?!”

Yoona menatap tepat di manik mata Siwon, kemudian ia mengangguk dan berseru pelan, “Aku mencintainya, oppa.”

“Tapi, kau tidak lupa, kan? Sehun adalah anakku.”desis Siwon tajam.

“Tidak.” Yoona menggeleng pelan. “Dia bukan anak oppa. Jangan pernah lupa tentang kenyataan itu.”

TBC

Iklan

53 thoughts on “Crazy Without You Part 20

  1. ziieziie berkata:

    donghae appa, enak bgt dengernya XD

    siwon plinplan, suka sm tiffany, tp ga mau ngelepasin yoona -,-

    smga badai cpr berlalu O.o

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s