Bangtan’s Story [Jungkook’s Version] : I Need You part 5

BTS - i need you

Tittle  : I need You

Author  : Ohmija

Main Cast  : Jeon Jungkook, Kim Saeron

Support Cast  : V, Rap Monster, Jin, Suga, Jhope, Jimin BTS, Shannon William, Wendy & Seulgi Red Velvet, Seunghee CLC, Kim Jisoo, Park Jinny.

Genre  : Romance, School Life, Friendship

Namjoon langsung menarik lengan Jungkook begitu pria itu terlihat keluar kelas. Menyeretnya dengan langkah-langkah lebar membuat Jimin dan Jinny ikut berlari mengejar mereka.

“Hyung, ada apa?”

“Ayo cepat. Seulgi bilang Saeron sudah menunggu di halte.”

Mata Jungkook langsung melebar, “Apa?!”

“Karena itu, ayo cepat!”

Di belakang mereka, Jimin dan Jinny terus mengejar dengan kebingungan, “Hyung!”

“Oppa!”

Mendengar suara kekasihnya, Namjoon langsung menghentikan langkah dan menoleh ke belakang. Sementara Jungkook terus melanjutkan larinya.

“Oppa, kenapa oppa dan Jungkook berlari?”

Namjoon menggaruk belakang tengkuknya merasa bersalah. Dia lupa jika dia memiliki kekasih yang berada di kelas yang sama dengan Jungkook. Ini semua karena Seulgi yang memberitahunya jika dia tidak menemukan Saeron ketika dia menjemputnya di kelas gadis itu. Seseorang memberitahunya jika dia melihat Saeron sedang duduk di halte seorang diri.

“Maafkan aku, Jinny.”ucapnya pelan. “Seulgi memberitahuku jika Saeron tidak ada di kelas dan dia sedang berada di halte sendirian. Jadi aku menarik Jungkook dan menyuruhnya cepat pergi. Aku takut dia tertangkap oleh ayahnya.”

“Hah?! Dia berada di halte sendirian?!”pekik Jimin ikut panik. “Astaga, gadis gila itu. Apa dia tidak takut jika seseorang bisa menemukannya?”

“Karena itu, aku sedikit—“ Namjoon menghentikan ucapannya ketika matanya melirik Jinny. “Maksudku…”

“Apa oppa mengkhawatirkannya?”tanya Jinny menatap kekasihnya itu.

Pertanyaannya membuat Namjoon semakin merasa bersalah. Tidak seharusnya dia menunjukkan kekhawatirannya terhadap gadis lain di depan kekasihnya.

“Jinny, aku tidak bermaksud begitu. Yah, aku mengkhawatirkannya tapi kau tau, aku hanya—“

“Aku tau.” Gadis berambut panjang itu tersenyum lembut. “Aku tau oppa hanya menganggap Saeron seperti adik oppa sendiri. Lagipula, karena kalian tinggal berdekatan, oppa pasti khawatir jika sesuatu terjadi padanya. Aku juga begitu.”

Namjoon tertegun atas pernyataan yang penuh pengertian dari Jinny. Sesaat ia tersenyum sambil mengulurkan tangannya, menghusap kepala gadis itu, “Terima kasih, Jinny. Terima kasih karena kau mau mengerti.”

Jinny terkekeh, “Aku mempercayaimu, oppa.”ucapnya semakin melebarkan senyum. “Aku mempercayai apapun yang kau katakan jadi jangan khawatir.”

Namjoon menatap Jinny masih dengan senyum bahagia. Ketika ia melangkah maju hendak memeluknya, tiba-tiba sebuah telapak tangan mendorong dadanya, menyuruhnya untuk mundur.

“Ini adalah sekolah, tuan dan nona.” Jimin berdiri diantara keduanya, menatap mereka bergantian sambil mendengus. Kedua tangannya terlipat di depan dada. “Dan…APA AKU TIDAK TERLIHAT DISINI?!”

***___***

Jungkook menghentikan larinya dan menghembuskan napas lega ketika ia melihat sosok gadis itu sedang duduk di halte sambil menatap ke depan. Kedua kakinya bergoyang-goyang ke depan bergantian.

Jungkook berjalan pelan menghampirinya, “Ya.”

Saeron menoleh dan langsung berdiri begitu melihat Jungkook, “Oh, kau sudah datang? Mana Namjoon oppa?”

“Kau ini benar-benar senang membuat masalah baru, ya?” Pria itu menatap Saeron setengah kesal. “Kenapa kau ada disini? Kau tau kami sangat khawatir karena kau tidak ada di kelas!”

“Bukankah kau bilang kau tidak mau yang lain mengetahui tentang kita? Jadi aku menunggumu disini. Aku tidak mau merepotkan Seulgi.”

“Itu namanya kau senang membuat masalah baru!” suara Jungkook meninggi. “Bagaimana jika ayahmu melihatmu disini?! Bagaimana jika mereka membawamu pulang?! Kau mau di pukuli lagi?!”

Saeron terkejut, matanya mengerjap beberapa kali, “Jungkook, kenapa kau berteriak?”

“Itu karena kau selalu membuatku kesal!”balas pria itu. “Semua yang kau lakukan, sejak kau datang dalam kehidupanku, semua itu membuatku marah! Kau menyebalkan! Dan sekarang aku sudah tidak perduli lagi! Pergi!”

Jungkook berbalik, meninggalkan Saeron dan memasuki bus yang baru saja datang seorang diri. Di tempatnya, Saeron hanya berdiri dengan helaan napas panjang.

“Apa aku melakukan kesalahan lagi?”desahnya.

Gadis kurus itu kembali menghela napas panjang. Padahal, ia hanya tidak ingin teman-teman yang lain mengetahui kebenarannya. Tapi, kenapa sepertinya dia telah melakukan hal yang salah lagi?

“Saeron? Dimana Jungkook?”

Tak lama Namjoon, Jisoo dan Jimin muncul. Ketiganya bingung karena tidak menemukan Jungkook disana.

“Kenapa kau sendiri?”tanya Namjoon lagi.

Saeron terdiam sejenak, “Dia pergi.”

“Hah? Pergi kemana?”

“Sepertinya dia marah padaku.” Saeron menggaruk belakang tengkuknya. “Maafkan aku, sunbae. Aku selalu membuat ulah.”

“Dia tidak akan pernah bisa marah dengan perempuan.”sahut Jimin. “Mungkin ada hal lain.”

***___***

Hingga siang hari, Saeron yang biasanya menemani Jungkook tidak juga muncul di tempat itu. Anehnya, Namjoon juga mengatakan pada manager jika dia tidak bisa hadir hari itu karena tidak enak badan. Jungkook tau Namjoon tidak sakit sama sekali, mungkin dia melakukan itu untuk menemani Saeron.

Sepertinya Namjoon menyukai gadis itu. Bukankah beberapa kali dia mengatakan jika Saeron itu sangat cantik? Dan…dia juga pernah mengatakan jika dia akan melindungi Saeron jika dia tidak melakukannya. Itu adalah bukti jika Namjoon memang menyukai Saeron.

“Piring itu sudah kering, kenapa kau terus mengelapnya?” suara seseorang tiba-tiba menyadarkan Jungkook.

“Oh, kau?” Jungkook segera meletakkan piringnya begitu ia mendapati Jimin dan Jisoo sudah berdiri di balik mesin kasir. “Kalian mau pesan apa?”

“Apa yang terjadi padamu?” Jimin balas bertanya. “Apa yang sedang kau pikirkan?”

Jungkook menggeleng sambil tersenyum tipis, “Tidak ada.”

“Saeron kembali ke sekolah dan dia sedang bersama Seulgi dan Jin oppa sekarang.”

Pria yang ada di depan mereka itu terlihat terkejut, “Di sekolah? Bukankah dia…”

“Namjoon hyung pergi bersama Jinny karena gadis itu diijinkan keluar.”

“B-benarkah?” Astaga, aku salah sangka.

“Kau memikirkan Saeron ya?” Jisoo menebak wajah gelisah Jungkook. Belum sempat pria itu menjawab, Jisoo sudah lebih dulu melanjutkan ucapannya. “Lalu kenapa kau meninggalkannya di halte sendirian?” desah gadis itu.

Jungkook hanya diam. Tidak menjawab apapun pertanyaan Jisoo. Melihat wajah sahabatnya itu, Jimin menarik lengan Jisoo dan menggeleng padanya. Kemudian ia mengembalikan pandangannya pada Jungkook lagi.

“Kami pesan dua Strawberry shake.”

***___***

Sore harinya, ketika jam dinding telah menunjukkan pukul 5 sore. Pandangan Jungkook masih terus tertancap pada ambang pintu. Namun, orang yang ingin di lihatnya belum juga muncul hingga sore ini.

“Ya, aku pesan minuman lagi.” Taehyung menepuk punggung tangan Jungkook membuat pria itu terkejut bukan main.

“Astaga, kau mengagetkanku.”seru pria itu menghusap-husap dadanya.

Kening Taehyung berkerut bingung, “Mengagetkanmu? Aku bahkan mengatakan hal itu dua kali. Bagaimana kau bisa kaget?”

“Sudahlah. Sekarang kau mau pesan apa?”

“Kekasihku ingin Americanno. Aku…”

“Kau pasti juga Americanno, kan?” tebak Jungkook sambil mencibir.

Taehyung meringis lebar, “Bagaimana kau bisa tau? Iya, aku juga mau Americanno.”

“Kau kan pengikut Shannon. Apapun yang dia inginkan, kau pasti juga menginginkan itu.”

Taehyung lantas mengangkat tangannya, hendak memukul Jungkook namun pria itu langsung meghindar sambil tertawa.

“Kami datang!”

Suara dari ambang pintu membuat Taehyung dan Jungkook sama-sama menoleh.

“Kalian datang?” Taehyung menyambut orang-orang yang datang itu dengan senyum merekah.

Seorang gadis mungil mncul dari belakang tubuh Jin, sedang mengobrol bersama Seulgi dan sesekali mereka tertawa. Jungkook tersenyum samar. Ada kelegaan yang tercipta ketika melihat kehadiran gadis itu.

Melihat senyum sesaat yang kemudian menghilang dengan cepat itu, Taehyung langsung mengetahui sesuatu telah terjadi.

Yah, sesuatu telah terjadi pada diri sahabatnya itu.

***___***

Keduanya terus diam sepanjang perjalanan pulang. Seperti biasa, Jungkook hanya mendengarkan musik melalui ponselnya sambil memejamkan mata. Sementara disampingnya, sesekali Saeron menoleh kearah pria itu. Apa dia masih marah?

“Kenapa kau terus menatapku? Apa yang sedang kau pikirkan?”

Mata Saeron melebar, ia terkejut dan langsung mengalihkan pandangannya keluar jendela. Jungkook membuka matanya, ganti menoleh kearah gadis itu.

“Apa yang ingin kau katakan padaku?”tanya Jungkook lagi.

Saeron mengembalikan pandangannya pada Jungkook sambil meringis, “Apa kau bisa melihat dengan mata tertutup? Atau kau punya indra keenam?”

Jungkook hanya menghela napas panjang, enggan menanggapi lelucon bodoh Saeron.

Saeron kembali meringis, “Apa kau masih marah padaku?” di tatapnya Jungkook takut-takut.

“Marah?”

Saeron mengangguk pelan, ia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berseru, “Maafkan aku. Aku tidak bermaksud melakukan hal yang bodoh. Aku hanya tidak mau merepotkan Seulgi dan membuat teman-teman yang lain tau. Aku tidak bermaksud membuatmu marah sama sekali. Hanya—“

“Hentikan.”seru Jungkook melepaskan headsetnya. “Aku tidak suka ketika seseorang mengatakan hal-hal seperti itu. Itu membuatku merinding.”

Saeron menunduk, “Maafkan aku.”

“Dan berhenti minta maaf.”balas Jungkook cepat.

Saeron menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi lalu menatap kearah luar jendela, “Baiklah.”

Jungkook menolehkan kepalanya, menatap sisi wajah gadis itu dan tanpa sadar dia tersenyum.

***___***

Sesampainya di rumah mereka, kening Jungkook dan Saeron sama-sama berkerut. Rumah Namjoon masih terlihat sepi dan gelap.

“Huh? Namjoon sunbae belum pulang? Apa masih bersama Jinny?”

“Tidak mungkin, ini sudah larut malam. Mungkin dia pergi ke taman Hangang atau bertemu teman.” Jungkook berucap sambil membuka pintu rumahnya.

Di belakangnya, Saeron mengikuti langkah Jungkook masuk ke dalam. Jungkook melempar tubuhnya ke atas ranjang, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar sambil menghembuskan napas panjang.

“Apa malam ini kau mau tidur diatas?”tanya Saeron duduk di lantai sambil menatap kearah Jungkook. “Pasti melelahkan karena setiap hari kau harus tidur di lantai.”

Jungkook langsung menarik tubuhnya bangun, ia balas menatap Saeron, “Kau pikir aku pria seperti itu?”

“Pria seperti itu? Maksudmu?”

“Kau pikir aku pria yang tega membiarkan seorang gadis tidur di lantai sementara aku tidur di ranjang?” Jungkook berdiri, berpindah tempat duduk di sebelah Saeron. “Tidurlah. Ini sudah malam.” Ia mendorong pundak gadis itu pelan lalu menepuk-nepuk bantalnya,

“Jungkook-ah.”seru Saeron pelan. Jungkook menoleh kembali. “Bisakah aku meminta bantuan yang lain?”

Kening Jungkook berkerut, “Bantuan lain?”

Saeron meringis, menatap Jungkook takut-takut, “Bisakah aku…eumm…bisakah…”

“Apa?”

“Begini, aku…yang aku punya…eumm…”

“Ya! Katakan dengan jelas!”

Saeron menggigit bibir bawahnya kelu, “Uang yang ku punya sudah habis. Bisakah aku pinjam uangmu?” ia menundukkan wajahnya, tidak berani menatap Jungkook. “Aku berjanji akan menggantinya.”ucapnya lagi. “Nanti, ketika aku sudah—“

“Berapa yang kau butuhkan?”

Saeron mengangkat wajahnya dengan mata melebar, “Huh?”

“Kau bilang kau ingin meminjam uang, berapa yang kau butuhkan?”

“Tidak banyak. Aku hanya butuh untuk uang saku di sekolah.”kata gadis itu pelan.

Jungkook mengeluarkan beberapa lembar uang dari saku kemejanya, “Jika uang ini sudah habis, katakan padaku. Aku akan meminjamkanmu lagi.” Saeron menatap uang yang ada di tangan Jungkook lalu menatap pria itu tak percaya. “Ya, kenapa kau hanya menatap saja? Ambil ini.” Pria itu meletakkan lembaran uang itu diatas tangan Saeron. “Jangan boros. Jangan membuang-buang uangmu untuk hal yang tidak perlu.”

“Jungkook-ah…”

“Kenapa? Apa kau tidak percaya aku memiliki uang lebih?” Pria itu tersenyum tipis. “Walaupun aku terlihat miskin, aku memiliki uang simpanan. Jadi jangan menatapku seperti itu.”ucapnya. “Tapi jangan lupa untuk menggantinya nanti.”

Saeron langsung mengangguk cepat, “Aku akan mencari pekerjaan paruh waktu dan mengembalikan uangmu dengan cepat.”

Mata Jungkook melebar, “Kau gila ya? Tidak. Jangan kerja paruh waktu.” Ia menggeleng. “Itu sangat berbahaya. Aku tidak bisa mengawasimu. Bagaimana jika ayahmu menangkapmu? Kau bisa diseret pulang.”

“Tapi…jika aku tidak bekerja, aku tidak akan memiliki uang.”

“Sudah ku bilang kau bisa pinjam padaku.” ulang Jungkook menekankan kalimatnya. “Sudahlah. Aku tau mungkin kau merasa bosan karena setiap hari kau harus duduk diam di café menungguku pulang bekerja. Tapi untuk saat ini tidak ada jalan lain.”

Saeron terdiam. Kepalanya tertunduk, menyembunyikan wajahnya yang sudah memanas. Merasakan kesunyian tiba-tiba tercipta, Jungkook menoleh, menatap gadis yang duduk di sebelahnya itu dengan kening berkerut.

“Kau kenapa?” Saeron tetap tidak bergeming. “Hey, kau kena—“

Ucapan Jungkook seketika terhenti ketika Saeron tiba-tiba memeluknya. Ia terperangah, hendak melepaskan pelukan Saeron namun segera ia hentikan niatnya itu ketika mendengar suara isakan.

Dia menangis.

“Terima kasih.”isaknya di dada Jungkook. “Terima kasih, Jungkook.”

***___***

“Selamat pagi Namjoon sunbae!”

Saeron melompat ke samping Namjoon yang sedang mengunci pintu rumahnya. Gadis itu tersenyum lebar seperti biasa. Namjoon hanya balas tersenyum sambil geleng-geleng kepala.

“Mana Jungkook?”

“Masih di dalam.”jawab Saeron. “Ngomong-ngomong darimana sunbae semalam? Ketika aku dan Jungkook pulang, sunbae belum kembali.”

“Oh, aku bertemu dengan teman sekelas lalu kami pergi ke rumah Jin. Ada materi yang belum aku catat.”

“Jam berapa kau pulang semalam hyung?” Tak lama Jungkook keluar, ia mengunci pintu rumahnya sendiri.

“Kira-kira jam 1.”

“Bersama Jinny?”

“Hanya sebentar.” Pria itu mengangguk. “Setelah menemaninya pergi ke Namsan Tower, aku pergi bertemu Taekyung lalu kami pergi ke rumah Jin. Kau tau, menjadi murid tingkat akhir membuatku sangat sibuk.”

“Namsan Tower?!” Mata Saeron seketika berbinar. “Waah, pasti menyenangkan. Aku mendengar dari yang lain jika tempat itu sangat indah.”

Kening Namjoon berkerut menatap Saeron, “Kau tidak pernah kesana?”

Saeron menggeleng, “Tidak pernah.”

Namjoon terkekeh, “Lain kali, minta Jungkook untuk menemanimu kesana.”

“Apa? Aku? Tidak mau.” Jungkook langsung menolak mentah-mentah. “Aku tidak punya waktu untuk pergi ke tempat seperti itu.”

“Hey, bukankah kau juga belum pernah kesana? Akan lebih baik jika kau pergi bersamanya.”saran Namjoon kemudian tersenyum menyeringai.

Jungkook mencibir. Dia tau apa yang ada di pikiran Namjoon. Pria itu pasti sedang merencanakan sesuatu.

Tanpa sadar telah sampai di halte. Saeron duduk di samping Jungkook. Gadis itu memiringkan kepalanya, menatap Jungkook.

“Jungkook-ah, ayo pergi kesana.”serunya. “Kau tidak pernah pergi kesana, kan? Ayo pergi kesana bersama.”

“Aku tidak mau.”

“Ayolah. Hari minggu nanti, ketika kau mendapat libur, ayo pergi kesana.” Saeron menatap Jungkook dengan mata kucingnya, bibirnya maju beberapa centi, membuat Jungkook menjadi kesal. Pria itu sontak berdiri dan berjalan memasuki bus yang sudah datang.

“Aku tidak punya waktu!”

***___***

Pria itu duduk bersandar pada tembok di sudut tempat itu. Menyembunyikan dirinya dari sinar matahari juga dari seseorang yang mungkin saja datang kesana. Mengeluarkan ponselnya dari saku blazernya, jarinya sudah bergerak, ingin mengetik sesuatu namun perintah otaknya yang mengatakan ‘Kau sudah gila’ membuatnya mengurungkan niatnya. Ia menggelengkan kepalanya sambil memasukkan ponselnya ke dalam sakunya kembali.

“Aku tidak gila.”ucapnya, berkata pada dirinya sendiri.

Menyandarkan kepalanya pada tembok, ia memejamkan matanya. Kali ini, bisikan dari hatinya berkata lain. Berbanding terbalik dengan ucapan otaknya. Tidak ada salahnya. Lagipula dia tidak pernah menghabiskan waktu liburnya dengan jalan-jalan seperti itu. Yang selalu ia lakukan hanyalah bersantai di rumah tanpa melakukan apapun atau pergi bermain basket. Dia tidak pernah melakukan sesuatu yang berbeda.

Perlahan menggerakkan tangan, mengeluarkan ponselnya kembali, dia mengiyakan ucapan otaknya yang mengatakan jika dirinya sudah gila. Yah, dia memang sudah gila. Namun, kegilaan ini membuatnya tersenyum.

Menuju aplikasi google, ia mengetik beberapa kata disana.

‘Apa yang di lakukan ketika pergi ke Namsan Tower?’

***___***

Hari jum’at datang. Itu artinya ini adalah hari terakhir Jungkook bekerja sebelum akhirnya ia bisa libur selama dua hari.

‘Membeli sosis kentang, naik kereta gantung, membeli gembok dan menuliskan nama pasangan’ ia berucap dalam hati. ‘Tidak! Itu menjijikan. Aku tidak akan menulis nama di gembok seperti itu. Aku dan dia bukan pasangan!’

“Kau sudah gila ya?” Sebuah suara tiba-tiba mengembalikan Jungkook ke alam sadarnya.

Pria itu menoleh sekilas dan langsung berpura-pura mengelap etalase.

“Apa yang sedang kau katakan?” ucapnya sebisa mungkin bersikap normal.

“Kau tersenyum dan menggelengkan kepalamu sendiri.”cibir Suga. “Kau memikirkan sesuatu yang kotor?”

“Sesuatu yang kotor? Apa maksudmu?” Sontak ia melotot. “Kau pikir aku seburuk itu?”

“Lalu apa? Apa yang bisa membuatmu tersenyum saat memikirkannya?”

“Aku tidak memikirkan apa-apa.” jawab Jungkook menekankan ucapannya membuat Suga semakin curiga jika sahabatnya itu pasti sedang memikirkan sesuatu. Pria itu sebisa mungkin menahan senyumnya lalu mengangguk, berpura-pura mempercayai ucapan Jungkook.

“Baiklah.”serunya. “Tapi sebaiknya kau lakukan pekerjaan yang lain karena sejak setengah jam yang lalu kau terus membersihkan etalase.”

“Hah?” Jungkook langsung melempar kain lapnya karena terkejut. “Be-begitukah? Kalau begitu…aku akan mencuci gelas.” Pria tinggi itu buru-buru masuk ke dalam karena ia merasa malu. Astaga, apa yang sedang ia pikirkan?

Di tempatnya, akhirnya Suga melepaskan senyum gelinya. Dasar, dia memang tidak pandai berbohong.

“Kenapa kau tersenyum?”

Suga menoleh dan mendapati Saeron telah berdiri di belakang mesin kasir.

Suga mengendikkan kedua bahunya, “Mungkin karena dirimu.”

Kening Saeron sontak berkerut, “Huh?”

Suga semakin terkekeh, “Mau tambah pesanan?”

Gadis itu menggeleng, “Tidak.”ucapnya kemudian memajukan wajahnya sambil meletakkan telapak tangannya di samping bibir, “Kau tau kan semua makanan dan minuman disini sangat mahal. Jika aku tambah lagi, Jungkook bisa marah padaku.”

“Tapi bukankah dia tidak marah setiap kali kau memesan? Bahkan dia membayar semua pesananmu setiap hari.”

Saeron menggeleng lagi, kali ini dengan hembusan napas panjang, “Aku selalu menyusahkannya jadi aku harus berhemat agar tidak menyusahkannya lagi.”katanya. “Ah, tidak. Maksudku sedikit tidak menyusahkannya hehehe.”ucapnya kemudian.

Suga tersenyum, “Jika kau lapar, pesan saja. Aku akan membuatkanmu makanan.”

“Tidak Suga. Aku sudah bilang jika—“

“Kali ini aku yang akan mentraktirmu. Bagaimana?”

Seketika mata Saeron berbinar, wajahnya berubah ceria “Sungguh? Kau akan mentraktirku?” Suga mengangguk. “Woaaah, terima kasih Suga. Kau memang baik. Pantas saja Wendy menyukaimu.”

“Apa kau sedang memujiku?” Suga mencibir. Saeron semakin melebarkan senyumannya. “Dasar. Baiklah. Aku akan membuatkanmu sesuatu. Tunggu saja.”

***___***

Jungkook mengeluarkan benda kecil yang bergetar di kantungnya dan langsung menjawab ketika nama TaeHo tertera disana.

“Ada apa?”ucapnya langsung.

“….”

“Sungguh?”

“….”

“Iya, aku mau! Jam berapa aku harus datang? Hanya satu hari kan?”

“….”

“Oke baiklah. Terima kasih, TaeHo.”

***___***

“Ayo bermain basket sebentar. Besok adalah hari libur.”ajak Taehyung. Kemudian ia menoleh kearah Shannon, “Kekasih Taehyung, hari ini pulang sedikit terlambat ya.”

“Eungg…baiklah. Lagipula besok aku tidak bekerja.”

Ucapan Shannon langsung membuat Taehyung tersenyum lebar. Ini adalah kesempatan langka.

“Bagaimana denganmu? Mau ikut bersama kami?” Hoseok juga bertanya pada Seunghee.

“Tentu saja. Kalian juga ikut kan?” Gadis cantik itu menatap teman-teman perempuannya.

Berbeda dengan Seulgi dan Jisoo yang mengangguk, Wendy justru menghela napas panjang sambil menggeleng, “Sepertinya aku tidak bisa ikut bersama kalian. Maafkan aku.”serunya pelan. Ia menatap Suga, “Honey, maafkan aku ya.”

“Kenapa kau minta maaf?” Suga mengulurkan tangan, mengacak puncak kepala Wendy. “Tidak apa-apa. Ayo, aku antar kau pulang.”

“Sepertinya aku juga tidak bisa ikut.”sahut Jungkook membuat yang lain mengerutkan kening. “Aku mendapat pekerjaan. Aku harus datang pagi-pagi sekali.”katanya sambil menggaruk tengkuk belakangnya.

“Pekerjaan?”tanya Saeron bingung. “Pekerjaan apa?”

“Iya, pekerjaan apa?”timpal Namjoon.

“TaeHo menelponku dan dia menawarkanku pekerjaan di taman Hangang besok pagi. Hnaya satu hari dan bayarannya lumayan besar. Aku tidak bisa melewatkannya.”

“Astaga, Jeon Jungkook. Apa kau tidak bisa istirahat? Kau terus bekerja dari hari senin hingga jum’at.”protes Hoseok.

“Bayarannya lumayan besar. Bagaimana bisa aku menolaknya? Kesempatan tidak akan datang dua kali”

“Tapi….”

“Hey, sudahlah. Dia bekerja untuk hidup. Lagipula sabtu malam, kita bisa berkumpul lagi.”sahut Namjoon memberikan pengertian. “Sekarang sebaiknya kau pulang dan istirahat.”

“Terima kasih, hyung dan maafkan aku teman-teman. Besok aku pasti datang.” Lalu ia menatap Saeron. “Ayo pulang.”

***___***

Jungkook sudah berdiri di depan cermin untuk memastikan penampilannya walaupun ini masih pukul 7 pagi. Dia tidak memakai pakaian formal, hanya kasu dan celana jins tapi berpenampilan rapi akan memberikan kesan baik pada seseorang yang akan menjadi bosnya nanti.

Setelah memastikan penampilannya telah sempurna, ia menoleh ke belakang. Kearah seorang gadis yang masih bersembunyi di dalam selimutnya. Hari ini, dia tidak bisa ikut ke tempat kerjanya. Karena kali ini, pekerjaannya sedikit berbeda dari biasanya.

Mengambil selembar kertas dan pulpen, Jungkook menuliskan sebuah catatan dan menempelkannya di cermin. Setelah itu, ia meninggalkan rumah tanpa suara.

***___***

Gadis itu menarik kedua tangannya, merenggangkan otot-ototnya ketika sinar matahari mulai menyelinap masuk, memanasi sebagian tubuhnya. Perlahan membuka mata, seketika kedua matanya kembali terpejam karena dia menatap sinar matahari langsung.

“Oh ya ampun, mataku.”serunya menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Menarik dirinya untuk duduk, Saeron menoleh ke kiri dan ke kanan. Dimana dia? Apa dia ada di kamar mandi? Tapi, sepertinya di dalam kamar mandi tidak ada seseorang.

Saeron langsung melompat turun dari ranjang tidurnya. Seketika ia menjadi panik. Iya, Jungkook tidak ada dimanapun.

“Jungkook-ah.”panggilnya membuka pintu kamar mandi. Benar saja, di dalamnya tidak ada seorangpun. “Jungkook-ah.”panggilnya lagi. Begitu berjalan melewati cermin, langkahnya terhenti. Ia menarik selembar kertas yang tertempel disana.

Hari ini kau bersama Namjoon hyung atau panggil Seulgi dan yang lain. Pergilah jalan-jalan dan beli persediaan makanan. Aku meletakkan uang di atas meja makan. Aku harus bekerja dan kau tidak bisa ikut bersamaku kali ini. Ah, jangan lupa minta Namjoon hyung, Taehyung atau siapapun untuk menemanimu. Jangan pergi seorang diri. Dan jangan pergi hanya bersama wanita. Oh ya, jangan lupa membersihkan rumah.

Setelah membaca itu, Saeron seketika mendengus, “Dia cerewet sekali.”

Tanpa butuh waktu lama, gadis itu berbalik menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu, ia bersiap untuk pergi ke supermarket, membeli bahan-bahan makanan seperti yang sudah di perintahkan Jungkook.

Ini masih pukul 8, Namjoon pasti masih tidur. Sebaiknya tidak membangunkannya, dia pasti lelah karena habis bekerja dan bermain basket kemarin. Tidak apa-apa, lagipula supermarket tidak begitu jauh.

Gadis itu meraih tasnya dan berjalan menuju pintu. Ketika ia membuka pintu, seketika ia tekejut setengah mati.

“Oh Tuhan, kau mengagetkanku.”pekiknya nyaris berteriak begitu mendapati Taehyung – dengan penampilan yang berantakan – sudah berdiri di balik pintunya. Di belakang pria itu, Seulgi juga muncul.

“Annyeong!” gadis cantik itu tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya pada Saeron.

“B-bagaimana bisa kalian…”

“Lihat!” Taehyung menunjukkan ponselnya setengah kesal. “Kekasihmu terus menelponku hingga aku muak. Dia menyuruhku kesini untuk memastikan jika kau tidak keluar sendirian! Menyebalkan! Aku bahkan tidak bisa menikmati hari liburku! Di hari sabtu, bahkan aku harus bangun pagi!”

“Sudah ku bilang, biar aku saja yang menemaninya. Aku juga akan pergi ke supermarket.”ucap Seulgi. “Pulanglah jika kau masih mengantuk.”

“Dan membiarkan kalian berdua, begitu? Lalu bagaimana jika ayahnya menangkapnya? Bagaimana jika kau juga terluka?”dengus Taehyung, ia menaikkan hoodie-nya. “Cepat, kita akan pergi kemana?”

Saeron tersenyum menatap Taehyung. Pria itu… dia memang sangat manis.

“Baiklah. Tolong temani kami membeli bahan-bahan makanan, Tuan Bodyguard.” Seulgi memiringkan kepalanya, menatap sahabatnya itu dengan cengiran mengejek.

Taehyung semakin mendengus, “Jangan tunjukkan wajah seperti itu. Itu menjijikkan.”

***___***

“Jadi setiap hari libur, kau pergi ke rumah Jin hyung untuk memasak?”tanya Taehyung ketika mereka berjalan di sebuah pasar tradisional, mereka mengurungkan niat awal mereka pergi ke supermarket.

Seulgi mengangguk, “Hubungannya dengan omoni masih belum membaik jadi omoni memintaku untuk merawatnya ketika hari libur. Kau tau, dia tidak bisa melakukan apapun seorang diri.”

Taehyung mendengus, “Kau ini kekasihnya atau pengurusnya?”decaknya. “Tapi, itu membuatku iri.” Pria itu menghela napas panjang. Seulgi menatapnya dengan kening berkerut, “Shannon tidak pernah melakukan hal seperti itu. Maksudku…memperhatikan hal-hal kecil tentangku. Sama seperti Jin, aku juga tinggal seorang diri. Terkadang, aku ingin dia memperlakukanku seperti itu. Tapi seperti yang kau tau, bertemu dengannya saja sangat sulit.”

“Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Kau tau dia harus bekerja, kan? Kehidupan seperti itu sangat sulit.”hibur Seulgi. “Setelah pertandingan nanti, mungkin aku juga akan mencari pekerjaan baru.”

“Mungkin Shannon malu.”sahut Saeron. Taehyung menoleh menatapnya. “Terkadang seorang wanita tidak memiliki keberanian untuk menunjukkan perasaannya. Dan aku rasa dia seperti itu.”

Taehyung tersenyum sambil mengangguk, “Yah, terkadang aku berharap aku memiliki kekasih sepertimu. Yang tidak tau malu.”

“Ya, apa maksudmu?” Saeron memukul lengan Taehyung.

Taehyung terkekeh, “Bahkan ketika Jungkook telah menolakmu berkali-kali, ketika dia menyuruhmu untuk pergi, kau masih saja menempel padanya seperti lem yang kuat. Kau tetap mengikutinya kemanapun seperti seekor anak anjing.”

Saeron ikut terkekeh, “Yah, mungkin aku memang seperti itu. Sedikit tidak tau malu.”

***___***

Sejak satu jam lalu, gadis itu telah berkutat di dapur seorang diri. Sudah lewat jam makan siang, rencananya untuk membawakan bekal untuk Jungkook gagal total. Ah, seharusnya dia lebih cepat.

Terburu-buru menyiapkan makanan, tanpa sengaja Saeron menyenggol sebuah gelas dan menjatuhkannya hingga gelas itu pecah.

“Omo!”pekiknya terkejut. “Bodoh. Bodoh.” Gadis itu merutuki dirinya sendiri. “Aku bahkan tidak bisa melakukan hal dengan benar.”

“Ya, apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?” Namjoon berlari menujur rumah Jungkook setelah mendengar sesuatu yang pecah.

“Sunbae, maafkan aku. Aku tidak sengaja menjatuhkan gelas.”

Namjoon menghembuskan napas lega, “Kau membuatku terkejut, Aku pikir sesuatu terjadi.”serunya. “Sudahlah, minggir. Biar aku yang membersihkannya.”

“Sunbae, maafkan aku.”

“Kenapa kau minta maaf? Cepat lanjutkan saja pekerjaanmu. Apa kau sedang memasak?”

Saeron mengangguk, “Aku berniat membuat bekal makanan untuk Jungkook tapi sepertinya aku sudah terlambat jadi aku terburu-buru.”

“Kau bisa membuatnya pelan-pelan. Jangan khawatir, dia pasti sudah makan siang. Jika kau terburu-buru, kau bisa melukai dirimu sendiri.” Namjoon berdiri setelah ia selesai membersihkan lantai. “Panggil aku ketika kau ingin pergi, aku harus melanjutkan pekerjaanku dulu.”

Saeron mengangguk lagi, “Baiklah.”

***___***

Jungkook melepas kostum kepala beruang yang ia pakai lalu menjatuhkan diri di sebuah kursi kayu. Rasanya sangat lelah, juga panas. Dia pikir menjadi pembagi brosur sambil memakai kostum beruang adalah pekerjaan yang mudah tapi ternyata pekerjaan ini justru lebih berat daripada pekerjaannya di café. Selain itu, memakai kostum membuatnya sedikit sulit bernapas.

“Jam berapa ini?”keluhnya. “Hari ini terasa sangat panjang.”

Tidak ada jalan lain. Dia harus mendapatkan banyak uang. Tidak hanya dirinya, saat ini juga ada Saeron.

Menghirup udara segar selama beberapa menit, pria itu kembali memakai kostumnya dan melanjutkan pekerjaan.

***___***

Saeron menutup pintunya lalu menoleh kearah rumah Namjoon. Haruskah dia memanggilnya? Tapi, hal itu akan merepotkannya. Dia mengatakan jika dia mendapat sebuah pekerjaan, memperbaiki beberapa barang elektronik milik temannya. Jika dia memintanya untuk menemaninya pergi ke Taman Hangang, itu akan mengganggu pekerjaannya.

Sudahlah. Itu tidak berbahaya. Dia akan hati-hati. Lagipula dia bukan seorang tuan Putri yang harus selalu di temani kemanapun. Sekali lagi dia tidak ingin merepotkan.

Setelah mengunci pintu, Saeron memutuskan untuk pergi seorang diri tanpa memberitahu Namjoon. Gadis itu menurunkan topinya, sedikit menyembunyikan wajahnya. Hoodienya juga ia naikkan, menutupi topinya.

Masuk ke dalam bus yang akan membawanya menuju tujuan, Saeron mengambil kursi yang ada di pojok belakang. Gadis itu duduk sambil memeluk plastik yang berisi bekal makanan untuk Jungkook. Melirik arlojinya, ia menghela napas panjang ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul 5 sore.

Tak lama, bus berhenti di halte yang tak jauh dari taman Hangang. Saeron segera melompat turun sambil mengeluarkan ponselnya dan mencari nama Jungkook disana.

“Kenapa tidak diangkat?” Saeron menjauhkan ponselnya, kembali menekan tombol panggil. Tapi, tetap tidak diangkat.

Gadis itu lantas berjalan dengan langkah-langkah cepat, kepalanya menoleh ke kiri dan kanan, pandangannya menyapu seluruh sudut taman. Bodohnya, dia tidak bertanya pekerjaan jenis apa yang sedang di kerjakan oleh Jungkook.

“Apa mungkin bekerja di café?”

Saeron kembali mencari. Melewati seseorang yang sedang memakai kostum beruang dan berjalan lurus, mengunjungi satu-persatu café.

Tiga puluh menit mencari, gadis itu tetap tidak menemukan keberadaan Jungkook. Bahkan setelah ia memeriksa di hampir seluruh café dan semua stand makanan, pria itu tetap tidak di temukan.

“Dimana dia?”keluh Saeron dengan napas terengah. Kakinya terasa sangat pegal.

Masih tidak menyerah, gadis itu tetap mencari di setiap sudut taman. Mengabaikan kakinya yang terasa nyaris patah. Namun tiba-tiba, tanpa sengaja ia menabrak seseorang.

“Oh, maafkan aku.” Buru-buru ia membungkukkan tubuhnya pada seseorang yang memakai kostum beruang itu. “Maafkan aku. Aku tidak sengaja.”ucapnya lagi lalu berlalu.

Seseorang dengan kostum beruang itu menahan lengannya, membuat Saeron terkejut. Ia menoleh dengan kening berkerut. Seseorang dengan kostum beruang itu menarik lengannya dan membawanya ke tempat tersembunyi.

“Ya, siapa kau? Kenapa kau menarikku?”seru Saeron mencoba melepaskan cekalannya. Apa dia adalah suruhan ayahnya?. “Ya!”

“Kenapa kau kemari?” Orang itu membuka kostum kepalanya membuat mata Saeron melebar. “Sudah ku bilang untuk tetap diam di rumah. Kenapa kau kemari? Dimana Namjoon hyung? Kau sendiri?”

Saeron tertegun. Nyaris kehilangan kata-katanya. Jadi…ini pekerjaan yang ia maksud? Pekerjaan seperti ini?

“Jungkook-ah…”

“Kau tidak dengar? Cepat pulang sekarang!”

“Jungkook-ah, kau…” Saeron menatap pria itu dengan kedua mata yang sudah di genangi air. “Jungkook-ah…”

“K-kenapa kau menangis?” Jungkook seketika panic ketika melihat berlingan air mata mengalir di pipi Saeron. “Ya, kenapa kau…”

“Wajahmu sangat pucat…” Saeron mendongak, menatap lurus pria yang berdiri di depannya itu. “Kau…kau pasti sangat lelah, kan?”ucapnya sebisa mungkin menahan isakan. “Kau bekerja seperti ini…apa karena aku?”

“Apa yang sedang kau katakan?”

“Apa karena aku?”ulangnya lagi. Berlingan air mata kembali terjatuh di pipinya. “Haruskah aku bekerja juga? Aku ingin membantumu.”

“Sudah ku bilang itu berbahaya.”

“Lalu apa yang harus aku lakukan?!”balas Saeron cepat, nada suaranya sedikit meninggi. “Ketika kau selalu bekerja keras, aku bahkan tidak pernah membuatkan bekal makanan untukmu. Dan ketika aku ingin membuatkannya, aku justru terlambat. Aku sangat ceroboh. Aku selalu menyusahkanmu. Aku seperti seekor anak anjing yang selalu mengikutimu, tanpa sadar, aku justu menjadi beban untukmu. Apa yang harus aku lakukan?! Kau bekerja seperti ini dan–”

Jungkook menarik Saeron dalam dekapannya. Memeluk tubuh mungil gadis yang sedang menangis itu.

“Yang terpenting kau baik-baik saja.”bisiknya. “Aku baik-baik saja dan aku tidak lelah. Ini pekerjaan yang menyenangkan dan aku menikmatinya. Jadi jangan khawatir lagi.”

“Jungkook-ah, maafkan aku…”isak Saeron.

Jungkook menggeleng pelan, “Berhenti minta maaf.”ucapnya lembut, tangannya menghusap kepala Saeron. “Jangan dengarkan kata-kata orang lain. Hanya dengarkan kata-kataku. Bahkan ketika mereka mengatakan jika kau seperti anak anjing, abaikan itu. Mulai saat ini, hanya dengarkan kata-kataku.”

TBC

17 thoughts on “Bangtan’s Story [Jungkook’s Version] : I Need You part 5

  1. Nadiya berkata:

    Manisnya 😍😍
    Ngga nyangka jungkook bisa semanis ini, calon masa depan idaman banget ini mah hihihi
    Ditunggu next chap nya yahhh..

  2. Minzee berkata:

    OMG..!!
    Jungkook bisa lembut juga ternyata..!! ^^
    Suka bgt dgn ceritanya..mohon lanjutannya jgn lama2 ya thor..!!
    Author jjang^^

  3. Lavita berkata:

    Ini dia yg ditunggu2, akhirnyaaaaa
    seneng deh ngeliat jungkook skr bs lembut dan mulai respect sm saeron.
    Plis ayahnya saeron jgn muncul dulu ya, bakal ancur kl dia muncul sekarang/? Wkwk
    next chapter jgn lama2 thor

  4. wikapratiwi8wp berkata:

    Ahhh jungkook so sweet hahaha
    Gak nyangka jungkook bisa se so sweet ini hahaha..
    Lama? Iya lama mija nungguin update.an nya hahaha Geundae, gwaenchana..
    Gomawo msh mau update heehe pasti lagi sibuk ya autho kece hhehe fighting.. Kami menunggu next chapternya hihihi 😁😆

  5. puti hilma berkata:

    Aaah eonni… Suka banget deh sma ff iniini
    Jungkook nya sweet bgt sma saeron…
    Thank udh update eonnieonni, ditunggu ff lainnya. Fighting!!🙂

  6. Nurnie berkata:

    OMG . So sweet bngdddd akhrnya ??😀
    tp knfliknya krng nichh eon ,, pngen dch saeronnya d.tngkep sma ayhnya, truss d.slmatin jungkook, pstii krenn !! Hehehe
    next yaa, jngn lma2

  7. juditpcy2713 berkata:

    Heleh heleh, udah mulai khawatir2an ama saeron nya ya? Cieee, udh main peluk peluk ya, cieee. Andaikan hidupku kayak ff, walupun kadang bikin sakit tapi akhirnya kadang bikin ngfly 😅😅😝
    Thor, BANYAKKIN MOMENT HOSEOK-SEUNGHEE DONG 😬😬😬

  8. Dedew berkata:

    Yaampun sampe nangis bacanyaa😦
    Jungkook so sweet bangettttt… aaaaaa….
    Ditunggu next chapternya author-nim^^ ga sabar mau baca kelanjutannya~~

  9. Taehyungie berkata:

    Jungkook kerja pake kostum beruang trs bagiin brosur tuh kok kaya yang di mv for you ye?._. Duh duh saeron menang banyakk, mau dong dipeluk jungkook😚😚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s