We Are One! We Are EXO! [Chapt. 5]

Tittle               : We Are One, We Are EXO!

Author             : Ohmija

Genre               : Brothership, Friendship, Family, Life

Cast                 : All member EXO

Summary          : “Sudah ku bilang namanya Kim Yejin. Ayo kita latihan.” 

Niat mereka unuk bermain basket di taman Hangang gagal. Suasana hati Jongin yang masih terlihat kelabu membuat mereka memutuskan untuk tidak pergi. Pukul 9 malam, mereka memutuskan pulang ke rumah mereka masing-masing. Chanyeol pulang bersama Sehun karena rumah mereka kebtulan berada diarah yang sama sedangkan Moonkyu terpaksa pulang seorang diri karena Jongin masih berada di ruang latihan.

Junmyeon memutuskan untuk tidak pulang seperti yang lain. Setelah menemui Yixing sebentar di ruang latihannya, ia kembali ke ruang latihannya sendiri. Jongin masih berlatih hingga bajunya basah karena keringat. Seingatnya hari ini, anak itu sudah ganti kaus kaki sebanyak lima kali dan ganti baju sebanyak tiga kali.

“Jongin.”panggil Junmyeon pelan. Namun Jongin tetap terus menari seperti tidak mendengar ucapan Junmyeon. “Jongin, berhenti. Aku ingin bicara.”

Jongin berhenti menari dengan napas yang sudah terengah-engah. Ia menoleh ke belakang sambil menghusap keringatnya dengan lengan.

“Duduk disini.” Junmyeon menepuk tempat yang ada di sebelahnya.

Jongin menurut. Anak laki-laki itu menghampiri seseorang yang telah ia anggap seperti kakak laki-lakinya itu dan duduk di sebelahnya.

Junmyeon tidak langsung buka suara. Ia terdiam untuk beberapa saat. “Aku ingin memberitahu sebuah rahasia.” ucapnya kemudian. Jongin menoleh, menatap sisi wajah Junmyeon dengan kening berkerut. “Apa kau tidak menyadari kenapa aku dan Minho tidak lagi terlihat akrab akhir –akhir ini?”

“Kenapa?”

“Kami bertengkar.” Junmyeon menghentikan ucapannya sejenak. “Kami bertengkar setelah aku tau jika harusnya posisinya di boygroup itu adalah milikku.”

Mata Jongin sontak membulat, “Maksudnya…hyung yang harusnya debut dengan mereka?”

Junmyeon mengangguk lemah, “Mereka menggantinya dengan Minho sebelum aku mengetahuinya. Beberapa hari lalu, tidak sengaja aku mendengar percakapan staff dan aku menghampiri Minho untuk bertanya apakah semua itu benar. Minho menjadi marah karena dia pikir aku tidak menyukai debutnya.” Ia tersenyum pilu. “Jika aku bilang aku tidak sakit hati, aku berbohong. Aku memang sakit hati karena posisiku di gantikan begitu saja tapi aku pikir aku sudah bersahabat dengan Minho cukup lama jadi aku mencoba untuk mendukungnya.”

“Kalian sudah berbaikan?”

Junmyeon menggeleng, “Aku tidak tau kenapa Minho tidak menyapaku. Sepertinya dia masih kesal. “

“Hyung, kau sudah menjelaskan jika kau tidak marah padanya?”

“Minho sedikit keras kepala. Aku pikir dia tidak akan mendengarkan ucapanku.” Junmyeon mengendikkan kedua bahunya.

Jongin mendesah panjang, ia menyandarkan kepalanya ke dinding, “Dunia sungguh tidak adil. Orang-orang terdekat akan segera debut meninggalkan kita di belakang.”

***___***

Ketika teman-temannya yang lain masih berada di sekolah, Yixing mengajak Yifan berjalan-jalan untuk melihat-lihat kota Seoul. Dia mengajak pria tinggi yang baru beberapa hari berada di sekolah itu berkeliling. Setidaknya ke tempat-tempat yang ia ketahui.

“Ini taman Hangang?” Yifan bicara dalam bahasa China.

Yixing mengangguk, “Junmyeon pernah mengajakku kemari dulu jadi aku mengetahuinya.”jawabnya. Matanya berkeliling, hingga akhirnya pandangannya terjatuh pada sebuah restoran sederhana. “Ayo pergi makan. Aku akan mentraktirmu.”

Yifan yang tidak mengerti apapun hanya menurut. Ia mengikuti langkah Yixing yang memasuki sebuah restoran. Pandangannya menyusuri setiap sudut dengan bingung. Ini pertama kalinya dia memasuki sebuah restoran Korea.

“Ahjumma, aku pesan dua ddokbukkie.”seru Yixing. Jika masalah memesan makanan, dia sudah belajar berkali-kali dari teman-temannya.

“Apa yang kau katakan?” Yifan memandangnya.

“Ddokbukkie. Itu adalah makanan Korea yang sangat terkenal.”

“Benarkah? Apa rasanya enak?”

“Sangat enak tapi sedikit pedas.”

“Tapi aku tidak terlalu bisa makan makanan pedas.” Yifan menggeleng pelan.

Yixing terkekeh, “Tenang saja. Aku juga tidak bisa makan makanan pedas tapi makanan ini menjadi pengecualian. Rasanya benar-benar enak.” Pria itu menunjukkan ibu jarinya pada Yifan. “Jjang!” ia mengatakan bahasa Korea sederhana yang telah di pelajari Yifan.

Yifan menurut lagi, “Setelah ini, bisakah kau mengajakku bertemu dengan teman-temanmu itu? Aku sangat penasaran karena kau selalu menceritakan mereka.”

“Tentu saja!” Yixing mengangguk.

“Siang nanti, ayo pergi ke ruang latihan mereka.”

***___***

“Ya! Byun Baekhyun! Baekhyun!” murid laki-laki itu terpaksa berlari menghampiri teman sekelasnya yang tidak mendegar panggilannya. Pria itu menepuk pundaknya keras. “Ya!”

“Argh.” Teman sekelasnya yang ternyata bernama Baekhyun itu seketika mengaduh karena pundaknya terasa seperti tersengat listrik. Ia berdiri dan membuka earphone-nya, menatap teman sekelasnya dengan raut kesal. “Kenapa kau memukulku?!”

“Kau tidak dengar? Bel sudah berbunyi. Kita harus segera masuk kelas.”ujarnya. “Aku memukulmu karena aku sudah berates-ratus kali memanggilmu tapi kau tidak mendengar.”

Baekhyun seketika meringis, “Oh begitu?” ia menggaruk belakang kepalanya. “Maaf. Aku sedang mendengarkan lagu.”

“Ayo! Kita harus ke kelas!”

Baekhyun dan teman sekelasnya itu segera menuju kelas mereka sebelum pelajaran di mulai. Sesampainya di kelas, keduanya duduk di kursi mereka masing-masing.

“Hari sabtu nanti, aku dan Minhyuk akan pergi menonton baseball. Kau mau ikut?”

Baekhyun langsung menggeleng, “Tidak bisa. Hari itu SNSD akan tampil di acara music. Aku harus datang.”

“Kau mau datang?” temannya terbelalak tak percaya. “Ya, setiap hari sabtu dan minggu kau tidak pernah bisa ikut bersama kami. Kau selalu saja pergi ke acara bodoh itu.”

Baekhyun mendelik, “Siapa yang kau bilang bodoh?”ketusnya tak terima. “Jangan berani-berani memanggil SNSD-ku bodoh.”

Temannya hanya menghela napas panjang, “Jadi kau tidak mau ikut? Ini pertandingan penting.”

“Memangnya ada yang lebih penting dari SNSD? balas Baekhyun tersenyum.

***___***

Sehun terus membungkukkan tubuhnya ketika ia melewati para fans yang berdiri di depan gedung SM. Dengan malu, ia menurunkan topinya untuk menutupi wajahnya lalu dengan langkah-langkah cepat memasuki gedung. Dia belum terbiasa menjadi pusat perhatian seperti itu.

“Sehun?”

“Oh hyung?” Sehun bertemu dengan Junmyeon di lobby. Di samping pria itu, berdiri dua orang yang tidak ia kenal dan berwajah asing. Salah satu diantara mereka berdua memiliki tinggi yang tidak wajar. Dia sangat tinggi dan sangat menyeramkan.

Ah! Tunggu…apa orang itu yang di maksud Jongin kemarin? Trainee baru yang berasal dari Kanada itu.

“Kau pasti Sehun, kan?”seru pria yang tingginya hampir sama dengan Junmyeon itu. Ia tersenyum lebar hingga lesung pipinya terlihat. Bahasa Koreanya terdengar sedikit aneh.

Sehun mengangguk, “Dan hyung pasti Yixing hyung, kan?”

“Kau mengenalku?” ia menunjuk dirinya.

“Aku tau karena yang lain sering menceritakan tentang hyung.”

“Oh ya, kenalkan Sehun. Hyung yang tinggi itu adalah trainee baru. Dia berasal dari—“

“Yang di ceritakan Jongin kemarin, kan?”potong Sehun. Junmyeon mengangguk. Sehun mengalihkan tatapannya, menatap pria tinggi itu takut-takut. “Annyeonghaseo, aku Oh Sehun. Sedang bertemu dengan hyung.”serunya pelan.

“Annyeong Sehun.”balasnya. “Aku Wu Yifan.”

Mata Sehun melebar. Astaga, bahkan suaranya terdengar sangat menyeramkan.

“Dia hanya bisa memperkenalkan dirinya.” Junmyeon menjelaskan. “Dia belum pandai bahasa Korea.” Kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Yixing. “Tapi ngomong-ngomong, bahasa Korea-mu sangat bagus sekarang. Kau memang hebat.”

Yixing tertawa, “Itu karena aku selalu belajar.”

“Kenapa hyung dan hyung yang itu tidak bergabung bersama kami saja? Kita bisa latihan bersama.”

“Tidak bisa.” Junmyeon menggeleng. “Trainee yang berasal dari luar negeri di kumpulkan bersama agar mereka bisa belajar bahasa Korea bersama.”

“Lalu jika mereka sudah bisa menguasai bahasa Korea, apa mereka bisa bergabung dengan kita?”

“Mungkin.” Junmyeon mengendikkan kedua bahunya. “Sudahlah. Sebentar lagi kita harus latihan.” Pria itu menepuk pundak Yixing pelan. “Kita bertemu lagi nanti, oke?”

“Baiklah.”

“Yifan, see you later.”

“Okay see you.”

***___***

Mereka tak lagi bertegur sapa. Mereka yang dulunya adalah sahabat dekat, kini bersikap seolah tidak saling mengenal. Yang Taemin tau, Jongin adalah seseorang yang akan selalu membelanya ketika ia du bully oleh orang-orang. Dia akan berkelahi dengan siapapun yang mengganggunya. Tapi sekarang, pahlawannya itu menghilang.

Bahkan ketika keduanya bertemu di kantin gedung SM, Jongin akan memilih menghindar ketika melihat Taemin berdiri disana untuk mengantri makanan. Atau ketika keduanya bertemu di koridor, Jongin akan menarik lengan Sehun dan mengajaknya memutar arah.

Dia tau dia bersalah karena dia tidak mengatakan hal yang benar sejak awal. Tapi, ia melakukan itu karena dia ingin menjaga perasaan Jongin. Andai saja Jongin mau mengerti, setidaknya mendengarkan penjelasannya, dia tidak ingin begini.

Jauh di lubuk hatinya, dia sangat merindukan Jongin.

***___***

20 Mei 2008, Cofioca Bubble Tea Shop

“Kau tau menghindar itu bukan hal yang baik, kan?”seru Moonkyu ketika ia, Sehun, Jongin, Kyuwan dan Chanyeol duduk bersama di salah satu kedai bubble tea yang terletak tak jauh dari gedung SM.

Jongin hanya diam sambil memutar-mutar sedotannya sedangkan Chanyeol yang tak mengerti apapun, memajukan dirinya, menatap Moonkyu dan Jongin bingung.

“Apa ada masalah?”

Namun Moonkyu mengabaikannya, ia terus menatap Jongin, “Tanggal 25 nanti, kita harus datang bersama, oke?”

Jongin berkecap, “Sudah ku bilang aku tidak mau.”

“Ya, kau ini…”balas Moonkyu setengah kesal. “Kita pergi bersama dengan Yixing hyung dan Yifan hyung juga.”

“Hadapilah sebagai laki-laki, Jongin.” Kyuwan bersuara. Pria berwajah imut yang berusia paling tua itu memajukan tubuhnya dan menatap Jongin lurus, “Tidak hanya kau yang bersedih atas debut mereka, kami juga.”ucapnya sambil menghembuskan napas panjang. “Aku juga ingin debut. Aku juga ingin menjadi seorang Idol. Mendengar mereka akan debut, membuatku sangat kesal. Tapi ketika aku memikirkannya lagi, aku tidak seharusnya begitu. Aku seharusnya mendukung mereka karena mereka adalah teman-temanku juga. Mungkin tidak sekarang, tapi suatu saat nanti aku akan debut. Dengan bersikap begitu, aku merasa jika aku adalah lelaki sejati.” Ia tersenyum tipis.

“Hyung, kau keren!” Chanyeol memukul pundak Kyuwan pelan.

Kyuwan mengangguk mantap, “Tentu saja. Lelaki sejati selalu menerima kekalahan dengan lapang dada dan kepala terangkat.”

Sehun menoleh kearah Jongin, menatap sahabatnya itu, “Nanti, kita datang bersama ya?”

***___***

Mereka kembali ke gedung SM setelah menghabiskan waktu istirahat siang mereka. Junmyeon tidak pergi bersama mereka karena dia memiliki sesuatu yang harus di kerjakan. Berjalan melewati koridor menuju ruang latihan mereka, tiba-tiba langkah mereka terhenti ketika seorang gadis memanggil Jongin.

Jongin dan yang lain menoleh, “Oh? Yejin?”

Gadis tinggi yang memiliki senyum indah itu menghampiri Jongin setengah berlari, “Kau melihat Junmyeon oppa?”

“Tadi dia bilang dia harus pulang sebentar untuk mengurus sesuatu.”jawabnya. “Kenapa?”

“Tidak. Hanya ada yang harus aku tanyakan.” Gadis itu menggeleng lalu mengalihkan pandangannya pada Sehun dan Chanyeol, trainee yang belum pernah di lihatnya.

Seperti mengerti, Jongin memperkenalkan dua trainee baru itu, “Mereka trainee baru. Dia Chanyeol dan dia Sehun.”ujarnya. “Dia adalah Kim Yejin, dia seumuran denganku.”

Sehun dan Chanyeol membungkuk sedikit, “Senang bertemu denganmu.”

Yejin tersenyum, “Senang bertemu dengan kalian juga.”balasnya. “Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku harus berlatih.”

“Titipkan salamku untuk Soojung, oke?” Kyuwan terkekeh ketika gadis itu berlalu. Yejin hanya menunjukkan ibu jarinya lalu pergi meninggalkan mereka.

Selepas gadis itu pergi, Chanyeol masih berdiri di tempatnya, kepalanya menengok, mengikuti bahu Yejin yang mulai menjauh. Mendapati Chanyeol yang sedang melamun, Jongin tertawa geli. Ia menepuk pundak Chanyeol pelan.

“Sudah ku bilang namanya Kim Yejin. Ayo kita latihan.” Pria itu menarik lengan Chanyeol dan menyeretnya pergi. Chanyeol menunduk, menyembunyikan senyumnya yang perlahan mengembang.

Gadis itu…dia cantik.

***___***

Setelah latihan telah lewat 30 menit, Junmyeon baru bergabung dengan mereka. Wajahnya terlihat sedang bahagia, sejak masuk ke dalam ruangan, dia terus tersenyum membuat Moonkyu yang berada di dekatnya mengerutkan kening bingung.

“Apa hyung sudah gila?”serunya menatap Joonmyeon sedikit takut. “Hyung harus berlatih bukan hanya tersenyum terus.”

Kyuwan berdecak sambil geleng-geleng kepala, “Sepertinya dia memang sudah gila.”

“Aku di terima.”

“Ha?” Kyuwan menoleh lagi begitu mendengar suara Junmyeon.

“Aku di terima.”ulang Junmyeon lagi.

“Hyung, apa maksudnya? Di terima apa?”sahut Chanyeol.

“Aku menyewa sebuah café dan bermain piano disana, aku menyatakan perasaanku pada seorang gadis.”jelasnya dengan senyum yang tetap mengembang lebar.

Seketika mata Kyuwan dan Moonkyu membulat lebar, “Kau menyewa sebuah café hanya untuk menyatakan perasaanmu?”pekik mereka tak percaya.

Junmyeon mengangguk polos, “Aku di terima.”ulangnya lagi. Dia tidak bisa memikirkan apapun selain merasa bahagia karena telah di terima oleh gadis pujaannya.

“Astaga, hyung. Itu terlalu berlebihan!”sahut Moonkyu geleng-geleng kepala.

Kyuwan juga berdecak, “Dasar. Kau memang selalu suka menghabiskan uangmu.”

Jongin hanya tertawa mendengarnya, dia tidak terkejut dengan hal itu karena dia tau jika keluarga Junmyeon memang keluarga yang cukup kaya. Dia bahkan suka membelikan makanan untuk dirinya dan yang lain. Menyewa sebuah café bukanlah masalah yang besar untuknya.

“Hyung, tadi Yejin mencarimu.”

“Yejin?”

Jongin mengangguk, “Sebaiknya hyung temui dia, mungkin akan hal yang penting.”

“Oh, baiklah. Aku akan kesana.” Junmyeon telah bergegas menuju ruang latihan trainee perempuan namun suara berat Chanyeol menghentikan langkahnya.

“Junmyeon hyung!”panggilnya. Pria tinggi itu berlari kecil menghampiri Junmyeon. “Bolehkah aku ikut bersamamu?”

Kening Junmyeon berkerut, “Ikut denganku?”

Chanyeol menggaruk belakang tengkuknya kikuk, “Aku ingin berkeliling. Karena aku baru beberapa hari, aku belum sempat berkeliling gedung ini.”

“Oh, oke. Baiklah. Ayo.” Keduanya pergi bersama menuju ruang trainee perempuan. Di belakang mereka, Kyuwan, Jongin dan Moonkyu terkekeh geli.

“Kalian memikirkan apa yang aku pikirkan?”tanya Kyuwan dengan senyum menyeringai.

“Sepertinya cinta pada pandangan pertama.”sahut Moonkyu.

Jongin mengangguk, “Mungkin akan ada pasangan baru.”

“Ya, apa yang kalian lakukan? Kenapa tidak berlatih?” Sehun muncul menghampiri mereka, ia baru menyadar jika para hyungnya itu sedang mengobrol dan tidak berlatih.

Kyuwan langsung mendengus, “Kau bahkan sudah berani berkata ‘Ya’ padaku. Dasar.”

Dengan wajah tak berdosa, Sehun bersikap seolah-olah tidak mendengar itu, “Oh? Dimana Chanyeol hyung?” matanya menatap sekitar.

“Sudahlah. Ayo latihan.” Jongin merangkul pundak anak laki-laki itu lalu mengajaknya untuk melanjutkan latihan.

***___***

Junmyeon pergi ke ruang latihan khusus trainee perempuan yang berada di lantai yang sama dengan ruang latihannya. Sama seperti di ruang latihannya, disana para trainee juga sedang berlatih individu. Membuka pintu ruangan itu perlahan, Junmyeon menjulurkan kepalanya di celah pintu. Di belakangnya, Chanyeol ikut mengintip.

“Yejin, pst, Yejin.”

Gadis cantik yang sedang berlatih itu menoleh ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Melihat kehadiran Junmyeon, gadis itu langsung menghampirinya. Sementara di tempatnya, Chanyeol tidak bisa menahan kegugupannya ketika Yejin datang. Mereka duduk bersama di deretan kursi yang ada di luar ruang latihan.

“Jongin bilang kau mencariku?”tanya Junmyeon menatap Yejin bingung. “Ada apa?”

Yejin menghela napas panjang lebih dulu, wajahnya berubah lesu, “Oppa, oppa tau kan jika sebentar lagi grup Taemin oppa akan segera debut?”

Junmyeon mengangguk, “Tanggal 25 nanti, kan?”

“Dan apa oppa juga tau jika selanjutnya, perusahaan akan mendebutkan grup perempuan?”

Junmyeon mengangguk lagi, “Aku mendengar sedikit dari yang lain.”

“Oppa, aku tidak termasuk dalam grup itu.” suara Yejin langsung terdengar bergetar seperti sedang menahan tangis. “Aku sudah berusaha melakukan yang terbaik tapi aku tetap tidak lolos dalam seleksi. Bagaimana ini oppa? Apa aku tidak akan pernah bisa debut?” Kedua matanya kini terlihat berkaca-kaca. “Aku sudah berusaha untuk tetap bersikap baik. Tapi aku tetap tidak bisa menahan rasa iriku. Aku tau itu salah karena Soojung dan Jinri adalah sahabat baikku, tapi…ah, aku benar-benar kesal pada diriku sendiri!”

“Tidak. Itu bukan salahmu.” Junmyeon tersenyum menatap gadis cantik itu. “Itu adalah hal yang wajar. Kau pasti memiliki rasa iri ketika melihat temanmu lebih dulu debut. Itu wajar ketika kau bersedih.” Yejin mengangkat wajahnya, menatap Junmyeon. “Semua orang yang ada disini seperti itu. Tapi, jangan pernah melupakan jika mereka adalah sahabatmu. Jangan membiarkan rasa iri itu membuatmu menjadi gadis yang jahat. Karena Yejin yang ku tau adalah gadis yang paling baik.”

***___***

Jam delapan malam, Chanyeol masih berada di ruang latihan bersama Jongin, Moonkyu dan Junmyeon. Namun, bukannya latihan, anak laki-laki itu justru hanya duduk melamun sambil bersandar pada tembok.

“Hey, Park Chanyeol, kau kenapa?” Melihat raut wajah Chanyeol yang sangat lesu, Junmyeon menghampirinya. Ia menjatuhkan diri di samping Chanyeol. “Wajahmu lesu sekali.”

Chanyeol hanya diam. Ekspresi wajahnya tidak berubah, justru semakin cemberut. Keudian ia menghela napas panjang dan berseru pelan, “Hyung, apa aku ini tidak terlihat?”

Kening Junmyeon lantas berkerut mendengar pertanyaan aneh Chanyeol, “Hah?”

“Hyung, apa aku ini tidak terlihat?”ulang Chanyeol dengan nada frustasi. “Kenapa tadi dia tidak mengajakku bicara? Apa dia tidak melihatku?”

Junmyeon sempat berpikir beberapa saat sebelum ia akhirnya mengerti maksud sebenarnya dari pertanyaan Chanyeol. Pria itu sontak memukul kepala Chanyeol pelan.

“Kau ini…kau menanyakan hal bodoh dengan wajah serius seperti itu!”ucapnya kesal.

Chanyeol menghusap-husap kepalanya, “Pertanyaan bodoh? Hyung, ini bukan pertanyaan bodoh. Aku serius.”

“Itu oertanyaan bodoh.” Ulang Junmyeon lagi. “Apa kau tidak lihat? Tadi dia sedang sedih. Lagipula dia tidak mengenalmu, kan?”

“Dia mengenalku.”kata Chanyeol tak mau kalah. “Jongin memperkenalkan diriku padanya tadi.”

Junmyeon menghela napas frustasi, “Park Chanyeol, kau menyukai Yejin, ya?”

Chanyeol terdiam. Tak lama ia mengangguk, “Iya.”

TBC

17 thoughts on “We Are One! We Are EXO! [Chapt. 5]

  1. yati berkata:

    mian baru koment di chapter ini. ceritanya bagus. lanjutannya jgn lama” yahh….
    penasaran joonmyeon jadian sama siapa..

  2. mongochi*hae berkata:

    eaaaa..
    sisi leader suho mmg dh sdh trpancar dr trainee. gk slah pilih SM tp ak kadang smpet bingung am posisi suho..
    dia it leader ap visual hhee
    kadang dia yg lbh mnonjol dr yg lain..

    bner baik..bafaimanapun hal yg trjd yg nmany sahabat hrus ttp brsma. meski it sakit pd awalny krn suatu hal

    mwo ?!
    suho nembak siapa ??

    next part dtunggu

  3. Jung Han Ni berkata:

    junmyeon pacaran sama siapa? trus yejin siapanya junmyeon? kayaknya mereka deket bgt ya
    keep writing n hwaiting eon! ^^

  4. Kim dong gun berkata:

    Kak, bisa kasih link buat chapter 6 ya. Aku cari cari kok gaada ya. Terimakasih.
    Oiyaaa aku suka bgt sama ceritanyaaa!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s