Bangtan’s Story [Jungkook’s Version] : I Need You part 4

BTS - i need you

Tittle  : I need You

Author  : Ohmija

Main Cast  : Jeon Jungkook, Kim Saeron

Support Cast  : V, Rap Monster, Jin, Suga, Jhope, Jimin BTS, Shannon William, Wendy & Seulgi Red Velvet, Seunghee CLC, Kim Jisoo, Park Jinny.

Genre  : Romance, School Life, Friendship

Saeron membuka matanya perlahan dan langsung berguling ke kiri. Senyumnya mengembang ketika ia menatap seseorang yang tengah tertidur pulas di bawahnya. Seumur hidupnya, dia tidak pernah menyangka jika dia akan bisa melihat wajah polos si biang onar itu. Jauh berbeda ketika dia berada di sekolah, saat ini dia terlihat sangat manis.

Seakan sedang mendapatkan kesempatan emas, Saeron menyambar ponselnya dan mengambil foto wajah yang tengah tertidur itu. Dia tidak boleh melewatkan kesempatan ini.

Setelah puas memandangi wajah Jungkook dan bermain-main dengan itu, Saeron bangkit dari ranjangnya kemudian berjalan menuju kamar mandi. Namun, baru saja akan membuka pintu kamar mandi, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu rumah Jungkook.

Kening Saeron mengernyit, siapa yang datang pagi-pagi begini?

Ia mengurungkan niatnya untuk pergi ke kamar mandi dan bergegas membuka pintu.

“Seulgi?”

Seseorang yang ternyata Seulgi itu tersenyum lebar sambil menunjukkan kantung plastik yang di bawanya, “Aku datang untuk membawakanmu baju.”

“Waaah… terima kasih.” Saeron menerima kantung plastik yang di bawa Seulgi lalu mengintip isinya. “Terima kasih, Seulgi.”

“Tidak masalah.” Ia menggeleng dengan senyum. “Apa kau baru bangun?”

Saeron mengangguk, “Aku baru saja akan pergi ke kamar mandi.”jawabnya. “Apa kau sendiri? Tidak bersama Jin sunbae?”

“Setelah ini, aku akan pergi ke apartementnya. Aku harus pergi ke supermarket dulu karena dia memintaku untuk memasak.”

“Benarkah?”

“Yah, karena dia sama sekali tidak bisa memasak. Jika aku tidak melakukannya, dia akan merengek padaku sepanjang hari.”

“Manis sekali…”

Seulgi mendengus, “Kau sedang mengejekku, ya?”

“Tidak. Aku mengatakan yang sebenarnya. Kalian memang manis.” Saeron tertawa. “Ah! Bagaimana jika kita pergi bersama? Aku juga ingin memasak.”

“Kau bisa memasak?”

“Tentu saja.” Saeron mengangguk yakin. “Aku cukup pandai dalam hal memasak.”

“Kau mau memasak untuk Jungkook, ya?” goda Seulgi. Saeron hanya tertawa. “Baiklah. Cepat ganti bajumu. Ayo kita pergi bersama.”

***___***

Saeron sudah kembali dari supermarket namun Jungkook belum juga bangun. Rumah Namjoon juga terlihat masih tertutup tadi. Astaga, laki-laki memang selalu bangun siang.

Meletakkan bungkus plastik yang di bawanya diatas meja, Saeron mulai mengeluarkan barang-barang yang ia beli tadi. Dia juga membeli sikat gigi, handuk dan peralatan lain yang di suruh Jungkook.

Senyum lebar terlukis di bibirnya ketika ia menganggap jika hal yang sedang ia lakukan adalah bentuk latihan jika suatu saat nanti dia menjadi seorang istri. Yah, dia tidak menginginkan siapapun. Dia hanya akan menjadi istri Jungkook. Daya khayalnya mulai meninggi dan dia bahkan tidak menyadari jika ia terkekeh malu dengan wajahnya yang sudah memerah.

Mengkhayal itu memang menyenangkan.

“Kau sudah gila ya?” Suara seseorang membuat Saeron tersadar dari lamunannya.

Gadis itu langsung meringis lebar, “Selamat pagi!”sapanya dengan nada bersemangat. “Ah, tidak. Selamat siang!” ia memperbaiki ucapannya ketika menyadari jika ini sudah pukul 12. “Kau sudah bangun? Aku sudah menyiapkan handukmu dan menyiapkan air hangat. Juga…” Gadis itu mengeluarkan sesuatu dari bungkus plastiknya. “Lihat! Aku juga membelikanmu sikat gigi. Untukmu warna biru dan untukku warna merah muda. Ini adalah sikat gigi couple.”

Oh ya ampun, gadis ini…

“Bagaimana? Kau suka, kan? Ku lihat sikat gigimu sudah rusak jadi aku membelikanmu yang baru.”

Jungkook menerima sikat gigi berwarna biru itu sambil memandanginya dengan helaan napas panjang. Kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Saeron yang langsung melebarkan senyumannya.

“Kau benar-benar sudah gila, ya?” Jungkook mendengus sambil menggoyang-goyangkan sikat giginya. “Aku tau apa yang ada di pikiranmu.” Ucapnya lagi membuat Saeron langsung cemberut. Kemudian Jungkook berjalan menuju kamar mandi, meninggalkan gadis itu.

“Tidak apa-apa, yang penting dia memakai sikat gigi yang aku beli.”gumam Saeron kembali tersenyum karena Jungkook membawa sikat giginya ke kamar mandi.

Dia bukan seseorang yang pandai memasak tapi setiap kali dia memasak, masakannya selalu terasa enak. Mungkin ini yang namanya bakat.

Karena dia sudah merasa lapar, akhirnya gadis itu menyiapkan makanan yang bisa di masak secara cepat. Rabokki. Yah, karena cuaca hari ini cukup dingin, rabokki adalah pilihan yang tepat.

Tak lama, Jungkook keluar dari kamar mandi setelah ia membersihkan dirinya. Saeron juga telah selesai memasak dan sedang menyiapkan beberapa piring. Melihat gadis itu sedang sibuk, Jungkook memandangnya lagi-lagi dengan helaan napas panjang. Ia tidak berkata apapun lalu membantunya membawa piring ke ruang tamu. Di rumahnya, ia tidak memiliki meja makan sehingga mereka harus makan di ruang tamu yang juga sekaligus ruang kamar. Melihat itu, Saeron hanya tersenyum.

“Apa Namjoon sunbae belum bangun? Bukankah lebih menyenangkan jika kita makan bersama?” seru Saeron duduk bersila di depan meja kayu kecil.

Jungkook duduk di hadapannya, “Setiap hari libur, dia selalu bangun sangat terlambat. Dia pasti belum bangun, Jika dia sudah bangun, dia pasti akan langsung kemari.”

“Ya ampun, ini kan sudah sangat siang.”

“Kau tidak tau bagaimana lelahnya laki-laki ketika mereka selesai bekerja.”

Saeron mengangguk-angguk, “Kalian memang bekerja keras.”

“Yah, bekerja keras untuk hidup.” balas Jungkook lalu menyuapkan kue beras ke dalam mulutnya. “Kau lumayan pintar memasak.” Pria itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menyuapkan beberapa kue beras lagi dan gulungan mie di sumpitnya.

“Benarkah? Bagaimana rasanya? Enak, kan?” Saeron memajukan tubuhnya dan memandang Jungkook antusias.

Jungkook menyeruput mie-nya terlebih dahulu sambil mengangguk, “Cukup enak.”

“Cukup enak atau sangat enak?”

“Enak.” Jungkook menjawab dengan nada malas.

“Enak atau sangat enak?” Gadis itu memaksa agar pertanyaannya di jawab.

Jungkook menghela napas panjang, “Sangat enak. Kau puas?” ia mengatakan itu dengan nada sejelas-jelasnya, yang kemudian menciptakan senyum di bibir Saeron.

“Aku akan selalu memasak untukmu.” Kalimat Jungkook yang sebenarnya adalah bentuk sindiran justru terdengar seperti pujian di telinga Saeron. Gadis itu semakin bersemangat. “Besok kau mau aku memasak apa? Aku akan memasak makanan kesukaanmu!”

Jungkook mendengus. Percuma menyindir gadis ini. Tidak hanya matanya tapi telinganya sepertinya juga sudah rusak.

“Apa makanan kesukaanmu, huh? Apa?” Saeron menggoyang-goyangkan lengan Jungkook ingin tau. “Sebutkan saja biar aku—“

“Kau ini berisik sekali.” Jungkook menarik lengannya menjauh. “Bisakah kau makan saja tanpa berbicara?”

Saeron langsung menurut. Gadis itu mengatupkan mulutnya rapat-rapat sambil menundukkan kepalanya. Ia menyumpitkan kue beras ke dalam mulutnya dan tidak berbicara lagi.

Jungkook melirik gadis itu lalu tersenyum samar. Dasar.

***___***

Namjoon duduk di lantai pintu rumahnya sambil menoleh kearah Jungkook yang sedang duduk di lantai pintu rumahnya sendiri.

“Bagaimana hari pertama kalian?” ia bertanya dengan senyum menggoda.

Jungkook langsung mendengus, “Bisakah hyung memperjelas pertanyaannya? Pertanyaan itu sedikit aneh.”

Namjoon lantas tertawa, “Kalian seperti pengantin baru.”

“Ya, hentikan. Jangan menggodaku lagi.”

“Apa yang sedang kalian bicarakan?” Saeron tiba-tiba muncul, ia melewati celah yang ada di samping Jungkook lalu memberikan dua gelas minuman untuk Namjoon dan Jungkook.

Kening Namjoon berkerut, “Apa ini?”tanyanya.

“Itu adalah minuman kesehatan. Aku mencampur susu dan apel serta madu. Bagus untuk daya tahan tubuh kalian.”

“Kau tidak memasukkan apapun ke dalamnya, kan?” Jungkook menatap gadis itu dengan salah satu alis terangkat tinggi.

Saeron langsung cemberut, “Kau selalu mencurigaiku.”

“Tentu saja dia selalu curiga. Kau seperti seekor singa dan dia seperti seekor kijang. Singa dan kijang tidak bisa tinggal bersama. Bagaimana jika singa itu menyerang kijang tiba-tiba?” Namjoon juga menggoda Saeron.

“Sunbae!” Saeron menghentakkan kakinya ke lantai. “Aku hanya mencoba melakukan hal yang terbaik. Kenapa kalian seperti ini? Kalian bahkan tidak menghargai usahaku.”

“Hahaha… baiklah baiklah, gadis cantik. Minuman buatanmu sangat enak. Terima kasih.” Namjoon tersenyum.

Saeron balas tersenyum lalu mengalihkan pandangannya kearah Jungkook yang hanya cuek sambil meneguk minumannya, “Kenapa kau tidak berterima kasih juga?”

Jungkook tetap diam. Pria itu membuang pandangannya kearah lain. Bersikap seolah-olah dia tidak mendengar Saeron.

“Ya, Jeon Jungkook!”

“Astaga. Kecilkan suaramu!” Jungkook seketika berdiri dari duduknya dan membungkam mulut Saeron. “Jangan berisik, kau pikir hanya kau yang tinggal di tempat ini?”

“Itu karena kau selalu mengabaikanku!”

Menyaksikan pertengkaran keduanya, Namjoon tersenyum geli sambil terus meminum minumannya. Ini tontonan menarik.

“Kau itu harusnya berhemat. Jangan menghabiskan uangmu dengan membeli hal-hal yang tidak perlu!” Kemudian pria itu menggerutu. “Dasar, aku bahkan tidak meminta bayaran apapun padamu.”

“Jadi kau ingin aku membayar uang sewa?” Mata Saeron membulat lebar. “Ternyata kau pria yang sangat perhitungan.”

“Apa? Perhitungan?” Jungkook kehabisan kata-kata. Ia sudah membuka mulutnya, ingin membalas ucapan Saeron namun tidak menemukan kata-kata yang tepat. Akhirnya pria itu memberikan gelas minumannya pada Saeron secara paksa, “Cuci ini dan segera masuk! Apa kau mau terlambat pergi ke sekolah besok?!”

Namjoon kembali tertawa geli. Saeron meliriknya sinis, “Apa yang sunbae tertawakan?”ketusnya lalu merebut gelas yang di pegang oleh Namjoon. “Sudah malam. Sebaiknya sunbae tidur agar tidak terlambat pergi ke sekolah besok.”

“Ya, tapi aku belum menghabiskannya.”protes Namjoon.

“Aku memasukkan racun dalam minuman ini, Jika sunbae meminumnya terlalu banyak, sunbae bisa mati.”ucap Saeron sambil berlalu masuk dan menutup pintu.

Namjoon mengerjapkan matanya bingung, “Racun?”

***___***

“Cepat. Kita bisa terlambat.” Jungkook berseru pada Saeron yang masing menguncir rambutnya di dalam. Sementara bertepatan dengan itu, Namjoon keluar dan mengunci pintu rumahnya.

Melihat penampilan Namjoon yang tidak terlihat baik, kening Jungkook berkerut, “Apa yang terjadi denganmu, hyung? Apa kau tidak menyisir rambutmu?”

“Aku masih mengantuk. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan.”sahut Namjoon, matanya masih terlihat sipit.

“Tapi hyung sudah mandi, kan?” Jungkook menatap pria itu penuh selidik.

Mata Namjoon seketika membuka lebar, “Apa maksudmu?!”balasnya tak terima. “Aku sudah memiliki kekasih, aku pasti mandi dua kali sehari. Terkadang bahkan aku mandi tiga kali sehari.”dengusnya.

Jungkook hanya mengangguk-angguk tanpa membalas ucapannya lagi. Dalam hatinya ia berseru, ‘Apa hubungannya mandi dan telah memiliki kekasih?’

“Ayo. Aku sudah siap.” Saeron akhirnya keluar, ia memperbaiki posisi tasnya sambil tersenyum lebar pada Jungkook.

“Kau ini lama sekali. Hanya menguncir rambut seperti itu, kau menghabiskan waktu 15 menit.”

“Perempuan memang seperti ini.”balas Saeron cemberut. Kemudian pandangannya beralih pada Namjoon. “Astaga sunbae! Apa yang terjadi padamu?” Saeron buru-buru mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, seperti sebuah spray yang setelahnya di semprot kearah wajah Namjoon.

Namjoon seketika terkejut, “Ya ya ya, apa yang kau lakukan?! Apa ini?” ia menghusap-husap wajahnya dengan telapak tangan.

“Itu adalah cairan ajaib agar sunbae menjadi bersemangat. Sunbae terlihat sangat lesu.”

“Itu karena dia masih mengantuk.”sahut Jungkook.”

Saeron geleng-geleng kepala, “Kan sudah ku bilang sunbae harus segera tidur dan—“

“Ya, hentikan.” Namjoon mendengus. “Apa kau ibuku, huh? Menyebalkan.”

Bersungut-sungut, pria itu berjalan melewati mereka, memimpin langkah di depan. Sementara Jungkook mengikutinya sambil menahan senyum.

Di halte, mereka bertiga masih harus menunggu bus yang ternyata belum datang. Namjoon duduk di sebuah kursi sambil melipat kedua tangan di depan dada dan memejamkan matanya. Sepertinya dia mencari waktu untuk tidur. Sementara Saeron duduk disampingnya dan Jungkook yang berdiri, pergi menghampiri sebuah mesin minuman sesaat.

Pria tinggi itu memasukkan beberapa uang koin dari kantungnya dan membeli sekaleng kopi. Apa mungkin usia mempengaruhi stamina seseorang? Di antara mereka, Namjoon dan Jin adalah yang tertua. Namun Jin memiliki stamina yang bagus karena dia adalah pemain basket. Berbeda dengan Namjoon yang sehari-harinya harus pergi bekerja. Dia hanya bermain basket ketika hari libur. Itupun jika dia sedang ingin melakukannya.

“Sunbae, busnya sudah datang.” Saeron menyenggol siku Namjoon dengan sikunya.

Pria itu menghusap-husap matanya, “Oh? Ayo pergi.”

“Minum ini.” Jungkook menempelkan kaleng kopi yang di belinya di perut Namjoon lalu melompat masuk ke dalam bus.

Saeron mengambil tempat di tengah-tengah dan langsung menarik lengan Jungkook agar pria itu duduk bersamanya.

“Ya, apa yang kau lakukan?” Jungkook berusaha melepaskan cekalan Saeron dan berusaha berdiri namun Namjoon menekan pundaknya agar pria itu kembali duduk.

“Duduk saja disitu. Bagaimana jika seseorang menculiknya jika dia duduk sendiri?” Namjoon menjatuhkan diri di kursi yang ada di samping kursi Saeron dan Jungkook kemudian tersenyum menyeringai sambil meneguk kopinya. Jungkook hanya mendengus.

“Tapi, bagaimana jika ayahku datang ke sekolah hari ini?” Saeron menatap sisi wajah Jungkook sedikit khawatir. “Bagaimana jika dia bertanya dimana aku tinggal?”

Jungkook menoleh, “Katakan saja kau tinggal di rumahku.”

“Ya, aku sedang serius.”

Jungkook terkekeh lalu mengendikkan kedua bahunya. “Tidak tau. Jika dia menjemputmu, aku tidak akan bisa menahannya, kan? Mereka tau jika dia ayahmu.”

Saeron seketika menghembuskan napas panjang, “Jadi kau tidak akan membantuku?”

“Bukankah saat ini aku sedang membantumu?”balas Jungkook. “Kau mau aku membantumu apa lagi? Ini bahkan sudah berlebihan.”

Saeron hanya menghembuskan napas panjang. Pada akhirnya, dia memang tidak bisa terlalu bergantung pada orang lain.

***___***

“Kau jalan lebih dulu.” suruh Jungkook ketika mereka turun di halte bus.

Saeron mengangguk lalu melangkahkan kakinya menuju sekolah. Di samping Jungkook, sambil menatap punggung Saeron, kening Namjoon berkerut.

“Apa yang terjadi dengannya? Kenapa tiba-tiba menjadi lesu begitu?”

Jungkook mengangkat kedua bahunya, “Memangnya aku tau.”

“Sudahlah. Ayo.” Namjoon merangkul pundak Jungkook kemudian berjalan bersama di belakang Saeron namun tetap menjaga jarak agar tidak di curigai oleh orang lain.

Setelah memastikan jika gadis itu telah masuk ke dalam kelasnya, Namjoon dan Jungkook berpisah di koridor, menuju kelas masing-masing. Memasuki kelasnya, ia mendapati Jinny yang sedang menduduki kursinya, berbincang dengan Jimin sambil sesekali tertawa.

“Oh, kau sudah datang?” Jinny mendongak begitu menyadari kehadiran Jungkook. Gadis itu sudah akan berdiri namun Jungkook menahan pundaknya lalu melompat dan duduk diatas meja.

“Apa yang kalian lakukan?”

“Hanya mengobrol.”jawab Jinny. “Ngomong-ngomong, dimana Namjoon oppa?”

“Tentu saja pergi ke kelasnya.”jawab Jungkook santai.

“Lalu bagaimana hari-hari kalian dan Saeron?”

Jungkook menyipitkan matanya, melirik Jinny penuh selidik, “Kau tidak sedang cemburu, kan?”

“Tentu saja tidak.” Jinny langsung menggeleng. “Aku sungguh-sungguh bertanya. Sekarang dia juga sahabatku, kan?”

“Baguslah kalau begitu.” Jungkook mengangguk-angguk. “Tidak ada yang berubah dari hari-hari biasa.”

“Aku benar-benar berharap jika Saeron akan selalu baik-baik saja. Maksudku, aku harap dia tidak di pukuli lagi oleh ayahnya.”

“Lalu bagaimana jika ayahnya kemari? Apa yang akan kau lakukan?”tanya Jimin.

“Itu yang aku pikirkan sejak tadi. Aku tidak punya hak untuk menahannya.”

“Aku harap ayahnya tidak datang ke sekolah.”timpal Jinny tulus.

Mengakhiri obrolan mereka, bel masuk berbunyi. Jinny kembali ke kursinya sementara Jungkook melompat turun dan duduk manis di kursinya sendiri.

***___***

“Kalian pergi duluan. Aku ingin mengambil sesuatu di loker.”

Jimin dan Jinny mengangguk lalu pergi ke kantin bersama. Jungkook berbalik, bergegas menuju lokernya seperti yang ia katakan. Namun tiba-tiba ia mengubah tujuannya, ia melewati deretan loker dan terus berjalan lurus ke depan.

Di samping sebuah ruang kelas yang terletak di ujung koridor itu, ia menghentikan langkah. Sebisa mungkin bersikap biasa dan tidak mencolok agar tidak di curigai. Semoga tidak ada yang mengenalku. Semoga mereka tidak melihatku, mohonnya dalam hati.

Pria tinggi itu menarik napas panjang dan bergegas melangkahkan kakinya. Ia berniat seolah-olah sedang lewat dan dengan cepat ia akan menoleh ke dalam, memastikan keberadaannya.

“Jungkook?” Namun, baru melangkahkan kaki satu langkah ke depan. Seseorang yang baru saja keluar kelas menegurnya. Sontak Jungkook tersentak kaget.

“Ah– yah?”

Murid laki-laki itu lantas merangkul pundak Jungkook, “Apa yang kau lakukan disini? Kau membutuhkan sesuatu, kawan?”

“Tidak. Aku…“ Ucapannya langsung terhenti begitu ia melihat seseorang lain yang baru saja keluar kelas. Kontak mata keduanya bertabrakan, membuat Jungkook semakin salah tingkah. Sial, aku ketahuan.

“Jungkook, apa yang kau lakukan disini?”tanya gadis itu bingung.

“Aku hanya lewat.”jawabnya cepat. Ia melepaskan rangkulan seorang temannya dan dengan cepat pergi menjauh.

Murid perempuan yang ternyata Saeron itu hanya mengerutkan keningnya bingung lalu berjalan menuju deretan loker. Seperti biasa meletakkan sebuah cokelat di dalam loker Jungkook.

***___***

Belum ada tanda-tanda yang menunjukkan jika ayahnya datang ke sekolah. Buktinya gadis itu terlihat baik-baik saja dan tetap terlihat aneh. Dia makan seorang diri, berjalan seorang diri dan membaca buku di perpustakaan seorang diri. Sepertinya ayahnya memang tidak datang.

Tapi, apa mungkin ayahnya memiliki rencana lain? Mungkin saja ia sedang menunggunya di depan gerbang dan akan langsung menyeretnya pulang begitu ia melihatnya? Itu mungkin saja.

Jungkook terus tertegun di depan lokernya. Pikirannya melayang kemana-mana, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi nanti. Biar bagaimanapun, dia sudah terlibat.

“Kenapa kau melamun?” Sebuah suara dengan paksa menarik Jungkook kembali ke dunia nyata. Pira itu menoleh sambil mengerjapkan matanya beberapa kali. “Kenapa kau melamun?” Seorang gadis cantik dengan senyum lebarnya mengulangi pertanyaannya.

Setelah sadar, Jungkook langsung memasang wajah ketus dan menutup lokernya, “Bukan urusanmu!”ucapnya galak lalu berjalan pergi meninggalkan Saeron.

“Hey, kenapa tidak mengambil cokelat pemberianku?” Gadis itu mengejarnya di belakang.

Jungkook menghentikan langkahnya tiba-tiba membuat Saeron tanpa sengaja menabrak punggungnya keras.

“Aduh.” Gadis itu meringis sambil menghusap-husap keningnya.

Jungkook berbalik sambil mendengus, “Jangan meletakkan cokelat lagi di dalam lokerku, mengerti?”

“Memangnya kenapa?”

“Aku tidak suka cokelat!”

“Tapi semalam kau memakan banyak chocopie.”

Mata Jungkook sontak melebar, pria itu langsung membungkam mulut lantih Saeron dengan telapak tangannya, “Kau mau semua orang tau jika kita tinggal bersama?”bisiknya kesal. “Kecilkan suaramu!”

Saeron mendorong tangan Jungkook lalu cemberut, “Kalau begitu terima lah cokelatku.” Ia mengulurkan kedua tangannya, memberikan cokelatnya pada Jungkook. “Terima ya, ya, ya?”

“Lihat itu. Gadis itu memang tidak tau malu.”

“Bagiamana bisa dia memberikan cokelat dengan wajah mengemis seperti itu?”

“Dia benar-benar bekerja keras untuk mendapatkan Jungkook.”

Bisikan-bisikan dari murid-murid perempuan yang lewat terdengar jelas di telinga Jungkook. Pria itu menghela napas panjang. Walaupun Saeron memang sangat aneh tapi mereka tidak seharusnya mencibirnya seperti itu. Terlebih lagi, kepribadian Saeron yang selalu tersenyum seperti orang bodoh ketika dia sedang sedih ataupun bahagia membuatnya sedikit kesal. Harusnya ia melakukan perlawanan sedikit. Kenapa suka sekali di ejek oleh orang lain?

Jungkook mengambil cokelat pemberian Saeron nyaris seperti merampas, “Ini terakhir kalinya.”

Saeron tersenyum lebar lalu mengangguk-angguk senang. Kemudian ia memajukan wajahnya sedikit sambil berbisik, “Nanti, kita pulang bersama, ya.”

Jungkook mendengus. Ia mendorong kening Saeron dengan jari telunjuknya, “Sana pergi.”

***___***

Jungkook meminta Seulgi untuk menjemput Saeron di ruang kelasnya ketika bel pulang berbunyi. Sementara dirinya dan Namjoon telah menunggu di gerbang sekolah, memperhatikan sekitar jika saja ada orang yang mencurigakan.

Tak lama, Seulgi muncul bersama Saeron. Jisoo langsung menggandeng lengan gadis itu dan menariknya pergi bersama Jimin. Di belakang mereka, Jungkook dan Namjoon mengikuti.

“Terima kasih, Seulgi.”

Seulgi mengangguk lalu kembali ke dalam gedung sekolahnya. Dia harus latihan.

Sesampainya di halte, Jisoo mendudukkan Saeron ke kursi sementara dirinya dan Jimin berdiri di depan gadis itu, untuk menutupi tubuhnya. Perlakuan mereka sudah terlihat seperti sedang menculik seseorang.

“Namjoon oppa.” Tiba-tiba mobil Jinny berlalu di depan halte. Gadis itu menurunkan kaca mobilnya sambil melambaikan tangan, “Hati-hati.”

Namjoon tersenyum lebar dan mengangguk sambil membalas lambaian tangan Jinny. Setelah ayahnya datang, dia tidak lagi bisa menghabiskan banyak waktu dengan kekasihnya itu.

Jungkook menepuk pundak Namjoon, menyadarkannya jika bus yang mereka tunggu telah datang. Akhirnya, ia, Namjoon dan Saeron memasuki bus sementara Jimin dan Jisoo menunggu bus lain karena arah rumah mereka dan tempat bekerja Jungkook berbeda.

Sesampainya di tempat kerja, Jungkook langsung saja melenggang masuk untuk mengganti seragamnya. Sementara Namjoon menyuruh Saeron untuk duduk di kursi biasa sambil menunggu teman-temannya yang lain.

Tak lama, Suga muncul bersama Wendy. Kening Jungkook lantas berkerut, kenapa hanya mereka berdua? Kemana yang lain?

“Saeronnie, annyeong!”sapa Wendy bersemangat seperti biasa sambil menjatuhkan diri di depan gadis itu.

Saeron tersenyum lebar, “Annyeong Wendy.”

“Sudah lama ya?”

“Tidak. Aku baru saja datang.”

Sementara itu, Jungkook menatap Suga, “Dimana yang lain? Kenapa hanya kalian berdua?”

“Taehyung pergi mengantar Shannon. Sedangkan Hoseok dan Seunghee pergi ke sekolahmu.”

Kening Jungkook semakin berkerut, “Sekolahku?”

“Seunghee bilang ia ingin menyemangati Seulgi dan Jin. Dia juga membuatkan bekal khusus untuk Seulgi.”

“Benarkah? Tidak biasanya dia baik seperti itu.”

Suga lantas tertawa, “Dia memang selalu baik, kan?”ucapnya. “Maksudku…dia baik dengan teman-teman perempuannya.”

“Itu sama saja.” Jungkook ikut terkekeh.

“Ya, buatkan dia segelas minuman.” Suara Namjoon membuyarkan obrolan keduanya. “Apa kau tega membiarkannya seperti itu seharian?”

Ekspresi Jungkook seketika berubah, “Hyung, ini yang ketiga kalinya aku membayar minuman untuknya.”dengusnya kesal. “Apa selain memberikan tumpangan, aku juga harus membiayai hidupnya? Aku bukan ibunya!”

“Kau ini, hanya membayar minuman untuk gadismu saja kau mengeluh.”sahut Suga yang membuat Jungkook semakin mendelik.

“Dia bukan gadisku!”

***___***

Sepertinya hari-hari seperti ini akan di laluinya. Maksudnya, seseorang akan terus menunggunya di tempat kerja lalu ketika malam hari, mereka akan pulang bersama ke rumah. Kini, seseorang berjalan di sampingnya. Bukan Namjoon. Melainkan seorang gadis yang terus berusaha untuk menggandeng lengannya namun terus ia abaikan.

“Sepertinya kau sudah sangat dekat dengan yang lain.”seru Jungkook ketika mereka berjalan bersama menuju rumah.

Saeron tersenyum lalu mengangguk, “Bukankah itu bagus? Aku memiliki teman.”

“Yah, memang bagus.”jawab Jungkook seadanya. “Tapi, ngomong-ngomong kenapa ayahmu tidak mencarimu ke sekolah hari ini? Bukankah seharusnya dia melakukannya?”

“Mungkin karena ibuku belum kembali.”

Kening Jungkook berkerut, “Ha?”

“Sebenarnya dia memang tidak perduli denganku. Dia hanya bersikap baik padaku ketika ibuku ada. Jadi, dia pasti tidak mencariku karena dia belum pulang. Mungkin dia pikir itu lebih baik karena tidak akan ada yang mengganggunya lagi jika dia membawa para gadis panggilan ke rumah.”

“Ayahmu sudah gila, ya?” Jungkook berdecak sambil geleng-geleng kepala.

“Aku sudah berusaha mengatakan semuanya pada ibuku tapi dia sama sekali tidak mau mendengarnya.”

“Apa ayahmu tampan?”tanya Jungkook dengan nada sarkastik. “Atau dia kaya?”

Saeron terkekeh, “Mungkin ibuku sudah termakan dengan rayuannya.”

“Dasar, wanita memang seperti itu.”

“Hey, tidak semua wanita seperti itu!”balas Saeron tidak terima.

Jungkook sedikit terkejut dengan suara keras Saeron, pria itu mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya kembali pada kesadarannya, “Tidak semua bagaimana? Aku rasa semua wanita itu sama.”

“Tidak! Aku tidak seperti itu!”

“Yah, kau memang tidak. Karena tidak ada pria yang merayumu.”

“Hey!” Saeron memukul lengan Jungkook. “Ada beberapa pria yang menyukaiku.”

“Ya! Sakit!” Jungkook menghusap-husap lengannya. “Jika ada, kenapa kau terus mengejarku, huh?”

Ucapan Jungkook lantas membuat Saeron langsung cemberut, “Kau adalah laki-laki yang tidak punya perasaan!”gerutunya lalu berjalan lebih cepat meninggalkan Jungkook.

“Aku punya!” Jungkook menyahuti setengah berteriak. Pria itu lalu mendengus, “Apa sih yang dia katakan?” kemudian berlari mengejar Saeron. “Hey, tunggu aku!”

***___***

Jimin terus memandangi teman sebangkunya dengan kening berkerut karena sejak tadi ia terlihat begitu gelisah. Rambutnya bahkan terlihat sangat berantakan karena sejak tadi ia terus mengacaknya sambil menghembuskan napas panjang. Apa yang terjadi dengannya?

Bahkan ketika bel istirahat berbunyi, Jungkook langsung melengos pergi meninggalkan kursinya tanpa berkata apapun pada Jimin. Melihat Jungkook yang pergi tiba-tiba, Jinny sontak menoleh ke belakang dan melemparkan pandangan bertanya pada Jimin. Jimin hanya menggeleng sambil mengendikkan bahunya.

Di kantin, Jimin mengatakan keanehan yang terjadi pada Jungkook hari ini pada yang lain. Sejak pagi, pria itu tidak banyak bicara dan terlihat sedang memikirkan sesuatu. Yang lain mengerutkan kening mereka bingung, tidak biasanya Jungkook seperti itu. Pria itu selalu terlihat tenang jika memiliki masalah – kecuali masa lalunya – dan dia selalu bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.

“Tadi pagi, Saeron dan Jungkook tidak saling bicara. Saeron bahkan duduk di sampingku, bukan di samping Jungkook.”sahut Namjoon.

“Sungguh? Bukankah biasanya dia akan menempel pada Jungkook seperti permen karet kering?”sahut Jin yang langsung mendapat pukulan dari Seulgi.

“Jangan bicara yang tidak-tidak!”omelnya, pria itu hanya meringis.

“Apa mungkin Jungkook menjadi gelisah karena itu?”sahut Jinny mengetuk-ngetukkan jarinya di dagunya.

“Hey, itu tidak mungkin.”balas Jisoo mengibaskan kedua tangannya. “Kalian tau kan bagaimana sifat Jungkook dan segala pengabaiannya pada Saeron. Aku tidak berpikir jika dia gelisah karena itu.”

Jimin menatap kekasihnya itu dan berseru pelan, “Hati seseorang bisa saja berubah, seperti kau yang dengan cepat bisa melupakan Ken.”

“Jangan bahas itu.” Jisoo langsung memalingkan wajahnya enggan menatap Jimin lebih lama. Membuat Jimin hanya tersenyum melihat tingkah kekasihnya itu. Tidak, dia bukan tipe pria yang mudah marah hanya karena mereka membahas mantan kekasihnya. Itu bukan masalah yang besar.

“Sekarang dimana dia?” Seulgi menyerukan pertanyaan itu untuk teman-temannya namun dia hanya memandang kearah Namjoon, seakan pertanyaan itu hanya di tujukan untuknya.

Namjoon mengendikkan bahunya, “Mana aku tau. Aku dan dia tidak sekelas.”

Seulgi lantas mengalihkan pandangannya pada Jimin, pria itu juga langsung menggeleng seperti maling yang di tuduh telah melakukan kejahatan, “Aku tidak tau.”

“Sudahlah. Biarkan saja dia.” Jin berucap santai sambil memakan makanannya. “Mungkin dia hanya kurang tidur dan kalian terlalu berlebihan memikirkan itu. Jika terjadi sesuatu, kita pasti akan mengetahuinya.”

***___***

Sementara semua orang sedang mengkhawatirkannya. Pria itu nyaris menutup lokernya dengan bantingan ketika tidak menemukan apapun disana. Tidak tidak, dia tidak berharap ada sesuatu yang biasanya di letakkan di dalam sana, dia hanya sedikit heran kenapa lokernya itu kini kosong.

Ia berbalik setengah kesal, sebaiknya dia pergi kea tap sekolah dan pergi tidur. Bersikap seperti ini hanya menghabiskan waktunya dan sebenarnya dia tidak terllau perduli. Namun baru beberapa langkah, seorang gadis yang sangat di kenalnya sedang berjalan ke arahnya. Tanpa sadar sudut bibirnya tertarik keatas, ah, mungkin dia sedikit terlambat untuk meletakkan benda itu ke dalam lokernya. Ternyata semua yang di pikirkannya tidak benar.

Jungkook berdehem dan berusaha bersikap senormal mungkin. Ia melanjutkan langkahnya, seolah-olah akan berjalan melewati gadis itu. Namun, tidak seperti yang ia harapkan, gadis itu justru melewatinya begitu saja tanpa menoleh sedikitpun. Seolah-olah dia tidak melihat Jungkook. Dan parahnya, gadis itu juga melewati deretan loker itu begitu saja.

Astaga, apa-apaan dia?

Jungkook langsung berbalik, langkah-langkah panjangnya dengan cepat menyusulnya dan begitu saja dia sudah berada di depan gadis itu. Seorang gadis yang ternyata Saeron itu menabrak tubuh Jungkook karena ia muncul dengan tiba-tiba di depannya.

“Aduh.” ia mengaduh sambil menghusap-husap keningnya.

Jungkook berdiri di depannya dengan kedua tangan terlipat di depan dada, “Kau mau pergi kemana?”

“Aku mau pergi ke kantin.”

Terdapat secercah harapan, “Apa kau ingin membeli makanan ringan?”

Saeron menggeleng, “Aku ingin membeli makanan. Aku lapar.”

“Iya, makanan ringan, kan?”tanya Jungkook lagi setengah menuntut.

“Tidak. Aku ingin beli nasi.”

“Hey, biasanya kau beli makanan ringan!”

“Aku sedang tidak ingin. Aku ingin makan nasi. Sudah ya, kita bertemu nanti sepulang sekolah.”

Saeron melambaikan tangannya pada Jungkook lalu berjalan melewatinya. Menatap punggungnya, kening Jungkook berkerut bingung.

“Apa dia sudah tidak menyukaiku lagi?

TBC

14 thoughts on “Bangtan’s Story [Jungkook’s Version] : I Need You part 4

  1. Nadiya berkata:

    Part 5 nya jangan lama yahhh.. Pleaseee 😁😁
    Aku selalu nunggu cerita ini, tiap hari bolak balik buka blog ini berharap cepet update hihi

    Aku suka sama sifat jungkook yg cuek tapi diam diam peduli, apalagi sekarang saat saeron nya mendadak berubah jungkook malah gelisah gitu… Hahaha

  2. Annisa Icha berkata:

    Saeron ngajak ribut! 😀
    Aku rasa dia cuma pingin tau Jungkook suka dia apa enggak. Tapi gak tau juga sih 😀
    Jungkook diam-diam suka wkwkwk

  3. hvirus berkata:

    AKU PENASARAN T^T
    Aku suka nunggu-nunggu postingan ini. Ah, gasabar nunggu part 5nya. Aku suka sifat Jungkook. Nyebelin yah, tapi lucu :3
    Saeronnya pun kenapa ya, penasaran T^T
    Keep writing!^^

  4. Lavita berkata:

    Hahaha skrg jadi jungkook yg dicuekin saeron, mungkin saeron mau ngetes si jungkook ini juga suka apa ngga sama dia kali ya? Wkwk sotoy

    ayodong thor part5 nya mana? Nungguin nih

  5. Mifta berkata:

    Akhirnya ini ff di lanjut juga.
    Ecieeee jeonjung sudah merasa gelisah pas saeron gak ngikutin dia lagi. Tapi emang sekali-kali jungkook harus di beri pelajaran. Kak thor semangat ya nulisnya. Di tunggu kelanjutan nya

  6. finditadit berkata:

    Haloo author , kayanya disini jungkook udah ada perasaan sama saeron ya .tapi sekarang jadi kebalikannya saeron nyuekin jungkook dia jadi gelisah sendiri haduh jungkokk . Oh iya thor maaf ya dichapter sebelumnya aku gak sempet coment baru buat blog soalnya hehe

  7. irnacho berkata:

    wkwk lucu ya dia berdua. padahal kan kemaren dia sendiri yg bilang klo itu coklat terakhir, dia ga mau nerima coklat dari saeron lagi. lah sekarang ga di kasih malah ngambek. dasar baby.
    eh aku baru komen di chap ini, maaf ya mija. aku baca marathon dari chapter awal. dan di part ini ada yg bikin gemes sih, jadi nya gatel pengen komen wkwk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s