Selene 6.23 (Long Distance Between Us) part 6

selene new

Tittle                            : Selene 6.23 (Long Distance Between Us)

Author             : Ohmija

Main Cast        : Kim Jongin, Krystal Jung, Choi Minho

Support Cast   : Taemin, Sulli, Amber, Sehun, Jessica, Jonghyun, dll

Gnere              : Romance, School life, Comedy, Sad

“Apa kau dan anak laki-laki itu berteman dekat?” Minho menoleh kearah Krystal ketika mereka berjalan bersisian menuju gedung apartement.

“Anak laki-laki yang mana?”tanya Krystal bingung.

“Yang tadi membuat keributan. Kalian bahkan di hukum bersama, kan?”

“Maksud oppa Jongin?” Ekspresi Krtystal langsung cemberut. “Berteman apanya. Karena dia, aku di hukum di depan kelas.”gerutu gadis itu.

“Benarkah?”

Krystal menoleh, mendongakkan kepalanya menatap Minho, “Oppa tidak percaya padaku?”

Minho seketika terkekeh melihat wajah cemberut Krystal, tangannya terulur, mengacak rambut gadis itu, “Arasseo. Oppa mempercayaimu.”

***___***

Wanita berparas cantik itu hanya bisa menatap dengan pandangan iba pada seorang anak laki-laki yang sedang duduk di hadapannya itu. Ia sedang memakan makanannya dengan lahap, seperti ia tidak pernah memakan itu dalam waktu yang lama.

“Kapan noona kembali?” ia mengangkat wajahnya setelah menyeruput mie-nya. “Kenapa tidak memberiku kabar?”

Yoona tersenyum, “Dua hari lalu.”ucapnya lembut.

“Harusnya noona mengabariku jadi aku bisa menjemput noona di bandara.”

“Tidak perlu.” Ia menggeleng. “Kau pasti sibuk dengan sekolah barumu, kan?”

Jongin tersenyum kecut, “Rasanya aku ingin pindah sekolah.”

Kening Yoona langsung berkerut, “Kenapa?”

“Ternyata dia juga berada di sekolah itu.” Yoona terdiam. Dia sangat tau siapa ‘dia’ yang dimaksud oleh Jongin. “Jika ini bukan karena omoni yang membayar uang sekolahku, mungkin aku sudah pindah sekolah.”

Yoona menatap anak laki-laki itu lurus. Entah apa yang harus ia katakan padanya.

“Ngomong-ngomong, bagaimana kabar omoni dan ahjussi?”

“Mereka baik-baik saja. Mereka bilang, mereka sangat merindukanmu.”

Jongin tertawa, “Aku akan mengumpulkan uang lalu pergi ke Amerika untuk mengunjungi mereka.”

“Apa yang akan kau lakukan? Jangan katakan, kau akan bekerja paruh waktu lagi.”

“Noona, apa noona masih ingat dengan janjiku?” Jongin tersenyum menatap Yoona. “Aku akan menjadi seorang pria keren untuk noona. Aku akan menjaga noona dengan baik. Bekerja paruh waktu adalah salah satu cara untuk menjadi pria keren. Aku ingin membelikan noona sebuah hadiah.”

“Jongin, kau tidak perlu seperti itu.”

“Noona, aku tidak ingin kalah lagi.” Jongin mengulurkan tangan, menggenggam sebelah tangan Yoona. “Aku ingin menunjukkan jika aku bukanlah seorang anak kecil. Aku juga ingin menunjukkan padanya jika noona adalah milikku.”

Hati Yoona semakin terasa sesak. Jika begini, bagaimana caranya memberitahu Jongin jika dia akan bertunangan bulan depan?

***___***

Murid-murid telah berkumpul di gedung olahraga ketika jam pelajaran olahraga berlangsung. Guru pengajar meninggalkan mereka setelah menyuruh mereka memainkan permainan lempar bola.

Bagi murid-murid, pelajaran olahraga adalah pelajaran yang paling menyenangkan karena ketika jam pelajaran itu berlangsung, biasanya guru akan meninggalkan mereka dan ini adalah waktu mereka untuk bersenang-senang.

Krystal memilih Sulli sebagai pasangannya sementara Amber bergabung dengan murid laki-laki di sebelah kanan. Di sebelah kiri, murid-murid perempuan berbaris berhadapan dan memainkan permainan bola-tangkap dengan pasangan mereka.

Namun, berbeda dari yang lain, Jongin dan teman-temannya justru memiliki ide yang berbeda. Mereka lebih memilih bermain basket daripada bermain lempar-tangkap bola. Dan tidak hanya itu, mereka juga mempengaruhi beberapa orang murid laki-laki lain untuk bergabung dengan mereka.

Melihat itu, Sulli hanya berdecak sambil geleng-geleng kepala. Mereka memang tidak akan bisa berubah. Selalu saja membuat ulah. Jika guru olahraga mengetahuinya, mereka pasti di hukum.

“Kalian lihat? Dia justru terlihat keren, ya?” murid perempuan di samping Sulli berbisik pada temannya. “Lihat saja tubuh tingginya itu.”

“Aku lebih menyukai Sehun. Dia memiliki wajah yang dingin tapi sangat lucu.”

“Tidak. Taemin yang lebih lucu.” Murid perempuan lain menyahut.

“Mereka belum ada apa-apanya dari Jonghyun. Apa kalian sudah pernah mendengarnya bernyanyi? Suaranya benar-benar bisa meluluhkan hati semua orang!”

Oh ya ampun. Ternyata mereka juga sama saja.

Sulli menghela napas panjang lalu menarik lengan Krystal, “Tiba-tiba aku tidak ingin olahraga. Ayo duduk saja.” Ia mengajak sahabatnya itu untuk duduk di deretan bangku di pinggir lapangan.

“Aku rasa mereka sudah gila. Setiap hari mereka selalu membicarakan empat sekawan itu. Dimanapun dan kapanpun. Membuatku sangat muak.”dengus gadis cantik itu sambil menjatuhkan diri di bangku.

Krystal sudah membuka mulutnya, sudah akan membalas ucapan Sulli namun sebuah bola tiba-tiba memantul mengenai sikunya.

“Auw.” Ia mengaduh sambil menghusap-husap sikunya yang terasa sakit. Ia sontak berdiri dan melotot kearah murid laki-laki yang sedang bermain basket itu. “YA!”

Di tempatnya, Sehun menyeringai, “Jongin, kau ini bagaimana? Harusnya kau melempar bolanya ke keranjang bukan ke arahnya. Apa karena dia adalah gadismu jadi kau mengarahkan bola padanya?” ia memulai godaannya.

Taemin ikut menyeringai. Saat yang tepat untuk menggoda murid cantik itu, “Jongin, gadisku duduk di sampingnya. Hampir saja kau mengenai gadisku.”

“Tenang saja. Jongin pandai membidik, dia tidak mungkin merebut gadismu, Taemin.”sahut Jonghyun lalu disusul tawa dari murid-murid yang lain.

Krystal menggeram kesal, sementara Sulli ikut melotot karena dia juga masuk ke dalam godaan murid-murid nakal itu. “Kalian benar-benar…”

Jongin memasang senyum manis sambil menatap Krystal seolah-olah ia merasa bersalah, kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celana, berdiri lurus di hadapan Krystal, “Maaf.”serunya. “Mungkin karena kau sangat cantik jadi bola itu menyukaimu.” Buru-buru ia memperbaiki ucapannya. “Tidak, aku juga menyukaimu.” Kemudian pria itu tersenyum lagi.

Krystal semakin merasa kesal. Senyumnya itu bahkan terlihat jelas jika dia sedang menggodanya. Dia benar-benar membuat Krystal muak. Apa tidak ada satu hari tenang untuknya? Kenapa dia harus selalu berhubungan dengan pria itu?

“Sekarang, bisakah kau melemparkan bola itu padaku? Kami masih ingin bermain.” Jongin memiringkan kepalanya, “Hm? Tolong ya.” Nadanya semakin terdengar manis membuat teman-temannya yang berdiri di belakang merinding mendengarnya.

Terlintas sebuah ide di kepalanya, Krystal tersenyum, “Kau mau aku mengembalikan bola basket itu?” nadanya juga berubah manis. “Baiklah. Aku akan mengembalikannya.”

Krystal berjalan mendekati bola basket sementara Jongin menatapnya dengan kening berkerut. Gadis itu tidak mungkin berubah menjadi baik hati, kan? Apa yang sedang dia rencanakan?

Gadis itu mengambil bola basket dan memeluknya di depan dada. Kemudian, ia maju dua langkah ke depan, tatapannya menuju kearah Jongin yang juga sedang memandangnya.

“Kau mau bola basket ini, kan?”tanyanya dengan senyum menyeringai. Lalu dengan tiba-tiba ia melempar bola basket yang di pegangnya itu jauh-jauh hingga terdampar ke ujung ruangan. Krystal merubah senyumnya menjadi senyum penuh kemenangan.

Berdiri di hadapannya. Jongin memandang gadis itu lurus. Senyumnya menghilang dan rahangnya mengeras. Gadis itu…gadis pertama yang berani melawannya. Gadis pertama yang berani mengajak perang seorang Kim Jongin.

Jongin melangkahkan kakinya dengan langkah-langkah panjang, dalam sekejap sudah berada di hadapan Krystal. Sontak gadis itu melangkah mundur ke belakang namun tangan panjang Jongin dengan cepat menarik lengannya hingga tubuhnya maju ke depan kembali. Di bungkukkan punggungnya hingga wajahnya sejajar dengan wajah gadis itu. Di tatapnya lekat-lekat mata Krystal dengan tatapan sarat ancaman.

Sementara di belakang keduanya, semua pandangan tertuju pada dua orang yang selalu membuat sensasi itu.

“Mundurkan wajahmu.” Krystal mendorong pundak Jongin namun tubuh Jongin tifak bergeming. “Kau mau apa? Ya!”

“Kau yang mulai semuanya.”bisik Jongin tajam hingga membuat Krystal tertegun.

Setelah itu, tiba-tiba Jongin membungkuk, memeluk tengkuk kaki Krystal dan mengangkat tubuh gadis itu keatas pundaknya. Tidak hanya Krystal namun semua orang yang ada disana terperangah hebat melihat adegan itu.

“Turunkan aku! Ya! Kim Jongin!” Krystal berontak, sebisa mungkin membebaskan dirinya. Namun tidak ada sahutan apapun dari Jongin.

“Jongin, kau sudah keterlaluan!” Sulli mencoba membantu Krystal namun gadis itu justru mendapat tatapan tajam dari pria itu.

“Kau mau menggantikan posisinya?”desisnya.

Melihat itu, Taemin langsung menghampiri Sulli dan menarik lengannya ke belakang. Sebaiknya gadis itu tidak mencoba melakukan apapun. Jongin terlihat sedang marah sekarang. Bukan hanya marah tapi juga kesal.

Jongin membawa Krystal meninggalkan gedung olahraga, mengabaikan semua teriakan dan pukulannya yang meminta pria itu untuk menurunkannya. Tidak ada yang bisa mencegahnya apalagi membantu gadis itu. Murid-murid lain hanya bisa menatap iba Krystal, termasuk Sehun yang merasa bersalah karena dia telah memancing pertengkaran itu.

Satu yang ia tau, sebaiknya tidak bermain-main ketika Jongin sedang marah.

***___***

Jongin membawa Krystal ke sebuah gudang peralatan yang tak jauh dari gedung olahraga. Ia menurunkan gadis itu disana dan mencekal kedua lengannya. Wajah Krystal memucat, dia bahkan tidak berani membalas tatapan Jongin sekarang.

Di dalam gudang yang gelap dan pengap itu, hanya mereka berdua yang berada disana. Berkali-kali, Krystal memperingatkan dirinya sendiri untuk tidak menangis walaupun tubuhnya sedang bergetar hebat saat ini.

“Kenapa kau selalu membuatku marah?”seru Jongin masih mencekal kedua lengan Krystal. “Kenapa kau selalu membuatku kehilangan kesabaran?”

“Lepaskan aku, Jongin. Lenganku sakit.” suara Krystal terdengar bergetar.

Jongin langsung tersadar, dia melepas cekalannya dan mundur ke belakang. Kenapa dia tiba-tiba menjadi marah? Kenapa menjadi kacau seperti ini? Pria itu mundur ke belakang, terdiam sejenak lalu berbalik dan meninggalkan Krystal disana.

Dalam hatinya, ia sangat menyesal. Harusnya dia tidak berlaku seperti itu. Sementara di dalam, Krystal terduduk di lantai dengan air mata yang sudah tumpah. Dia sudah tidak tahan lagi. Sumpah demi apapun, pria itu sangat menakutkan.

***___***

Ketika jam istirahat, Krystal belum juga kembali membuat Sulli dan Amber menjadi khawatir.

“Sebenarnya Jongin membawanya kemana? Kenapa mereka belum juga kembali?”seru Sulli gelisah. “Amber, ayo cari mereka!”

Amber mengangguk dan mengikuti langkah Sulli keluar ruang ganti. Tanpa sengaja, mereka juga berpapasan dengan Sehun, Taemin dan Jonghyun.

“YA!” Sulli langsung meneriaki mereka membuat ketiganya terlonjak kaget bersamaan.

“Astaga, kau mengagetkanku.” Sehun, Taemin dan Jonghyun mengelus-elus dada mereka. Suara Sulli benar-benar memekikkan telinga.

“Dimana Jongin?!” Gadis tinggi berdiri di depan ketiga pria itu sambil berkacak pinggang. Lebih mirip seperti kakak kelas yang sedang memalaki adik-adik kelas. “Dimana dia dan dimana Krystal?!”

“Memangnya kami tau? Kau lihat sendiri kan, Jongin tidak ada bersama kami.”ketus Jonghyun setengah kesal.

Taemin menghela napas panjang, “Sebaiknya jangan melibatkan diri ketika Jongin sedang marah.” Ia memperingatkan Sulli dengan lembut. “Jangan ikut campur.”

“Bagaimana aku tidak ikut campur jika dia mengganggu sahabatku?”balas Sulli. “Dan kau, sebaiknya juga tidak menggangguku lagi. Aku tidak suka padamu!” Gadis itu lantas berbalik meninggalkan Taemin dan teman-temannya, menarik Amber bersamanya.

Di tempatnya, Taemin seketika tertegun. Rasanya seperti ada yang menghantam dadanya. Benda keras yang tak terlihat.

Jonghyun menyenggol pundak Taemin dengan pundaknya, “Kenapa kau?”

Taemin tetap diam, kedua tangannya perlahan bergerak keatas, menyentuh dadanya, “Disini…”gumamnya pelan. “…ada yang hancur.”

Jonghyun dan Sehun saling pandang dengan kening berkerut. Tidak mengerti apa yang sedang di katakan oleh Taemin. Pria tampan itu, dengan langkah lunglai kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan dua sahabatnya yang masih terheran-heran menatapnya.

***___***

Sulli dan Amber memutuskan untuk tidak makan siang melainkan terus mencari Krystal dan Jongin yang masih belum di ketahui keberadaannya. Astaga, apa pertengkaran mereka benar-benar hebat? Dasar, Jongin memang menyebalkan.

Melewati ruangan toilet, langkah Sulli tiba-tiba berhenti membuat Amber tak sengaja menabrak punggungnya. Gadis yang selalu berpakaian seperti laki-laki itu menatap Sulli bingung lalu mengikuti arah pandangannya. Jongin berdiri di depan mereka.

“Dimana Krystal?”ketus Sulli tanpa basa-basi.

“Oh, dia di gudang.”

“Di gudang?!” suara gadis itu semakin meninggi. “Sebenarnya apa yang telah ia lakukan hingga kau memperlakukannya seperti itu? Apa kau tidak punya hati?! Kau benar-benar jahat, Kim Jongin!”

Jongin tertawa, “Memangnya apa yang aku lakukan? Aku hanya menggendongnya dan membawanya ke gudang peralatan. Aku ingin berduaan.”

“Oh Tuhan, kau memang tidak punya hati! Aku benci padamu!”

Sulli mendorong tubuh Jongin dengan keras hingga pria itu termundur ke belakang satu langkah. Gadis itu lantas pergi, setengah berlari untuk menghampiri Krystal.

Masih berdiri di tempatnya, Amber menatap Jongin lurus tanpa suara selama beberapa saat. “Jongin, kau memang sedikit keterlaluan.”serunya lalu menyusul langkah Sulli.

Jongin tertegun. Amber tidak biasanya ikut campur apalagi memihak walaupun Sulli adalah sahabatnya. Ini pertama kalinya Amber menegur dirinya. Apa mungkin dia memang sudah keterlaluan?

***___***

BRUKK

Sulli tanpa sengaja menabrak seseorang ketika dia sedang berlari. Gadis itu terjerembap ke lantai sambil meringis kesakitan.

“Sulli? Maafkan aku.” Seseorang yang ternyata Minho itu langsung mengulurkan tangannya dan membantu Sulli berdiri. “Aku tidak melihat sehingga tanpa sengaja menabrakmu.”

“Tidak oppa. Ini salahku.”

“Kenapa kau berlari? Apa kau sedang buru-buru?”

“Oppa, Krystal berada di gudang peralatan sekarang. Tadi dia bertengkar dengan Jongin.” Sulli langsung menjelaskan dengan nada panik.

Mata Minho melebar. Tanpa pikir panjang pria itu langsung berlari menuju gudang peralatan yang terletak tak jauh dari gedung olahraga. Sulli tidak mengikutinya, napasnya benar-benar sudah habis karena berlari.

Sementara Minho, pria tinggi itu semakin memperlaju langkahnya. Sesampainya di gudang, ia membuka pintu setengah mendobrak dan menemukan Krystal sedang duduk sambil memeluk lututnya. Sontak pria itu menghampirinya dan mencekal kedua lengannya.

“Soojung-ah.”

Krystal mendongak perlahan, memperlihatkan wajahnya yang sudah basah. Begitu mendapati Minho yang sudah berada di depannya, lantas gadis itu memeluknya erat.

“Oppa!”isaknya.

Minho balas memeluk Krystal sambil menghusap-husap punggung gadis itu lembut, “Jangan takut. Oppa ada disini.”

***___***

Minho memberikan segelas air putih pada Krystal setelah membawanya ke ruang kesehatan. Pria itu menjatuhkan diri di sebuah ranjang yang bersebrangan dengan ranjang Krystal, duduk menunggu gadis selesai minum sambil memandangnya lurus.

“Apa yang terjadi?”

Krystal meletakkan gelas airnya keatas meja kecil lalu menggeleng, “Tidak ada.”

“Kau bertengkar dengan Jongin?” Mata Krystal sontak melebar. Darimana dia tau?. “Aku benar, kan?”

“Hanya…”

“Apa yang dia lakukan hingga membuatmu menangis?”

Krystal mengangkat wajahnya, membalas tatapan Minho dan melihat kemarahan di matanya. Rahangnya mengeras dan giginya menggertak.

“Oppa, aku tidak apa-apa.”

“Menjauhlah darinya.”balas Minho cepat.

“Hah?”

Minho menarik napas panjang samar, “Menjauhlah darinya. Aku tidak suka melihatmu bersamanya.”

***___***

Krystal tidak kembali. Dan hal itu membuat Jongin sedikit gelisah. Sejak tadi, fokusnya menghilang dan dia terus memutar-mutar bolpoin dengan jari-jarinya. Semua penjelasan guru yang sedang mengajar seakan menembus gendang telinganya lalu menghilang.

Kenapa dia belum kembali? Apa dia masih berada di gudang? Gudang itu sangat gelap dan pengap. Tidak baik jika terus berada disana.

“Sonsengnim.” Tiba-tiba Jongin mengangkat tangan kanannya tanpa sadar, membuat guru dan semua murid menoleh kearahnya. “Aku ijin ke toilet.”serunya lalu berdiri dari duduknya dan berjalan keluar kelas.

Sehun dan Taemin saling pandang. Mereka berdua tau jika Jongin tidak benar-benar akan pergi ke toiler.

Jongin hanya melangkah dan tidak berlari. Namun ia melangkahkan kakinya sangat cepat sama seperti orang yang sedang berlari. Pandangannya mengedar, mungkin saja dia akan menemukan gadis itu di suatu tempat. Mungkin saja dia telah meninggalkan gudang. Namun, lingkungan sekitarnya kosong. Yah, karena semua murid sedang berada di dalam kelas sekarang.

Hingga akhirnya langkah kakinya sampai di depan gudang peralatan. Jongin terdiam sejenak, benaknya bertarung. Apa dia harus membukanya? Atau membiarkannya? Tapi…dia belum kembali.

Akhirnya tangan kanannya bergerak perlahan setelah ia mengabaikan semua perintah otaknya. Biar bagaimanapun dia adalah perempuan. Jongin menggeser pintu gudang dan melangkah masuk. Di tariknya napas lega ketika ia tidak menemukan gadis itu disana. Itu artinya dia sudah pergi.

Namun ketika ia berbalik, langkahnya terhenti begitu ia menemukan seseorang sudah berdiri di belakangnya. Pria itu menatapnya dengan tatapan tajam, seperti siap untuk menerjangnya saat itu juga.

Akhirnya saat seperti ini datang. Akhirnya mereka benar-benar berhadapan. Berdiri dlam satu garis lurus dan tatapan penuh kebencian. Atas semua luka-luka yang terjadi di masa lalu, keduanya sama-sama tidak mau mengalah.

“Apa yang kau lakukan pada Krystal?”desisnya seseorang yang ternyata Minho itu tajam.

Jongin tertawa mendengus, “Apa perdulimu?”

“Ini pertama dan terakhir aku memperingatkanmu, jangan mendekati Krystal!”serunya sarat ancaman.

“Kau pikir siapa dirimu? Kau tidak bisa memerintahku.”

“Dia milikku.” Suara Minho terdengar semakin tegas.

Jongin melangkah maju beberapa langkah, memperkecil jarak antara dirinya dan Minho. Kini, keduanya benar-benar berhadapan. Masih dengan senyum yang tersungging di bibirnya, Jongin menatap Minho tepat di manik mata.

“Kenapa semua hal yang ada di dunia ini adalah milikmu?”desisnya. “Apa ini alasanmu mencampakkan Yoona noona?”

“Jangan bicara yang tidak-tidak. Kau tidak mengetahui apapun.”

Jongin kembali tertawa, “Yah, aku memang tidak mengetahui apapun.” Ia mengangguk-angguk. “Semua orang selalu berkata seperti itu. Aku tidak mengetahui apapun!” ia menekankan kalimat terakhirnya. “Dan karena itu, kalian selalu bertindak sesuka hati kalian karena aku tidak mengetahui apapun!” Amarahnya kini meluap, tak tertahankan lagi. Selama bertahun-tahun, itu adalah hal yang selalu ingin ia katakan. Kalimat yang selalu ingin ia teriakkan agar semua orang mengetahui bagaimana rasa sakit itu. Bagaimana perihnya luka-luka terpendamnya selama ini.

Berusaha keras menahan air matanya, Jongin kembali menatap Minho tajam, “Dengar, Choi Minho.”serunya terdengar mengancam. “Sekarang, aku tidak akan mengalah lagi. Aku tidak akan membiarkan kau merebut milikku lagi.”

Keduanay bertukar kontak mata sesaat lalu Jongin memutuskan untuk pergi, meninggalkan tempat itu dan Minho.

Sial, saat ini, dia benar-benar merasa kesal.

TBC

9 thoughts on “Selene 6.23 (Long Distance Between Us) part 6

  1. Hanna berkata:

    Jadi Jongin suka sama Yoona n Minho ngerebut Yoona.. Trus Minho ninggalin Yoona n bikin Jongin sakit hati? Masalalu mereka udah terungkap sdikit2..
    Apa jgn2 sbnarnya Minho sama Jongin saudara tiri? Makanya dia makin benci ama Minho?
    Ini makin bikin penasaran thor..
    Jongin serem amat kalo lg marah..krystal ampe d bikin nangis gtu..

  2. WS berkata:

    Hmmmmmm jongin, yoona dan minho ada apa dengan mereka? Jongin menyukai yoona tetapi yoona udah sama minho dan sebenernya minho bukan mencampakkan yoona tapi yoona yang akan bertunangan dengan orang lain? Eh pikiran liar mulai wkwk ya ampun jongin keterlaluan sama krystal -_- kasian krystal jadinya

  3. mongochi*hae berkata:

    ouhh..jd jongin dg minho it ad something dlu ??
    gegara yoona pula. tp siapa tunangan yoona ? ap minho ??

    truss ap mksd jongin dg milikny. jgn2 dia mw mmliki soojung.
    next part dtunggu

  4. Jung Han Ni berkata:

    kasian soojung, jongin galak banget
    omoni dan ahjussi yg dimaksud jongin orangtuanya yoona ya? jadi yg biayain sekolahnya jongin mereka?
    keep writing n hwaiting!🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s