Bangtan’s Story [Jungkook’s Version] : I Need You part 3

Tittle  : I need You

Author  : Ohmija

Main Cast  : Jeon Jungkook, Kim Saeron

Support Cast  : V, Rap Monster, Jin, Suga, Jhope, Jimin BTS, Shannon William, Wendy & Seulgi Red Velvet, Seunghee CLC, Kim Jisoo, Park Jinny.

Genre  : Romance, School Life, Friendship

Jungkook menarik sebuah kursi dan duduk di antara teman-temannya dengan sikap tenang seperti biasa.

“Dia menginap di rumahku karena dia memiliki masalah di rumahnya. Dia memakai bajuku karena dia hanya membawa seragam sekolah ketika kabur.”jelas Jungkook. “Aku tidak mungkin membiarkannya tidak memakai baju sementara dia berkeliaran di rumahku, kan?”

“Masalah apa?”tanya Seulgi, rautnya berubah serius ketika ia menatap Saeron. “Apa begitu parah hingga kau harus kabur dari rumah?”

Saerong terdiam sejenak, “Ayah tiriku selalu memaksaku untuk melakukan hal yang tidak-tidak. Berkali-kali aku dipukuli karena aku selalu menolaknya. Kemarin, aku tidak sengaja memukul kepalanya dengan gelas, setelah itu aku kabur karena aku takut di pukuli lagi.”

“Yang tidak-tidak?!”pekik Taehyung, Hoseok, Jin dan Jimin bersamaan.

“Dan kau juga di pukuli?” Suga yang biasanya tenang ikut menyahuti.

Saeron mengangguk pelan, “Karena itu aku tidak mau kembali ke rumah. Setiap kali tidak ada ibuku, ayahku selalu menyakitiku.”

“Dimana ibumu?”tanya Shannon lembut.

“Ibuku sering pergi ke Busan karena nenekku sakit.”

“Tapi…ayahmu belum pernah melakukan apapun padamu, kan?” tanya Jin hati-hati. Pertanyaannya membuat Seulgi langsung menyikut lengannya. Dia takut Saeron akan tersinggung.

Saeron mengangkat wajahnya sambil tersenyum, “Aku cukup pandai membela diri. Sewaktu kecil, aku pernah berlatih taekwondo.” Ia terkekeh.

Seunghee menghela napas panjang, “Kau ini…dalam situasi seperti ini, kenapa kau masih bisa tertawa?”

“Lalu sekarang, kau tinggal di rumah Jungkook?”tanya Seulgi.

Mata Jungkook langsung membulat, “Apa maksudmu dengan tinggal?! Dia akan pergi dari rumahku hari ini!”

“Ya, sudah ku bilang, biarkan dia tinggal selama beberapa hari.”timpal Namjoon. “Dia tidak memiliki tempat untuk tinggal.”

“Kenapa tidak tinggal di rumah hyung saja? Hyung kasihan padanya, kan?”balas Jungkook tak mau kalah. “Aku tidak suka jika ada orang lain di rumahku!”

“Kau ini, dimana rasa ibamu pada perempuan?” Taehyung ikut membela. “Jika aku belum memiliki kekasih, mungkin aku akan membiarkannya tinggal di rumahku.”serunya yang langsung mendapat pelototan dari Shannon. Pria itu langsung meringis lebar, “Aku hanya bercanda, kekasih Taehyung.”

“Aku tinggal seorang diri, tapi lagi-lagi aku terlambat membayar uang sewa. Aku tidak bisa membawa orang lain tinggal di rumahku untuk sementara waktu.”ucap Seulgi dengan helaan napas panjang.

“Apa? Kau terlambat membayar uang sewa lagi?” Jin menoleh kearah kekasihnya itu. “Kenapa tidak memberitahuku?”

“Jangan coba-coba membayarnya untukku! Aku akan bekerja lagi setelah pertandingan selesai.”

“Kau bisa kembali bekerja disini.”sahut Suga tersenyum.

Seulgi mengangguk, “Ketika semuanya sudah selesai, aku akan kembali.” Ucapannya langsung membuat Jin menghela napas panjang. Pasti akan susah bertemu dengannya lagi.

“Dia bisa tinggal di rumahku sebenarnya tapi…” Shannon menatap satu persatu teman-temannya. “Bibiku akan tinggal denganku mulai besok. Rumahku tidak memiliki ruangan lagi.”

“Bibimu?” Taehyung menoleh, menatap Shannon.

Shannon mengangguk, “Dia berhenti bekerja di China dan datang ke Korea untuk mencari pekerjaan baru.”

“Satu-satunya tempat hanya rumahmu.” Suga berseru sambil melipat kedua tangan di depan dada. “Dia tidak mungkin tidur di rumah Namjoon hyung karena Jinny akan membunuhnya. Diantara kami, hanya kau yang bebas.”

“Kenapa harus aku?” Jungkook menghela napas frustasi. “Aku tidak mengenalnya. Aku bahkan tidak tau siapa namanya. Tadi malam, aku tidak sengaja menolongnya dan membawanya ke rumahku. Kenapa kalian—“

“Maafkan aku.” Sebuah suara tiba-tiba terdengar. Yang lain langsung menoleh kearah sumber suara. Saeron menatap Jungkook dengan sorot sedih namun juga bersalah. Gadis itu tersenyum kecut, “Maafkan aku.”serunya bergetar. “Aku minta maaf karena telah memaksamu untuk mengijinkanku menginap di rumahmu. Sesuai janjiku, aku akan pergi hari ini.” Seulgi sudah membuka mulutnya namun Saeron buru-buru mendahului, “Jangan khawatir. Aku akan tinggal di rumah temanku.” Gadis itu kembali tersenyum menenangkan Seulgi.

“Teman? Kau tidak memiliki teman di sekolah.”balas Jisoo.

“Kenapa kau bersikap seolah-olah kau mengenalnya? Kau kan tidak mengenalnya juga.”sahut Jungkook merasa lega. “Jangan khawatir, dia pasti memiliki teman lain di luar sana.” Lalu ia menoleh kearah Saeron, “Iya, kan?”

Saeron mengangguk dan tersenyum kembali. Hanya Shannon, Seunghee, Jisoo dan Seulgi yang mengerti jika senyumnya itu bukan senyum yang sebenarnya. Gadis itu sedang sedih. Terlihat jelas di matanya jika dia sedang menyimpan kesedihan.

“Kalau begitu, aku akan mengemas barang-barangku dulu. Bolehkah aku kembali ke rumahmu lagi?”

“Oh? Oke.” Jungkook mengeluarkan kunci rumahnya dari dalam saku celananya dan memberikannya pada Saeron. “Setelah Itu, kau kembalikan padaku lagi, oke?”

“Aku tau.” Saeron kemudian menatap satu-persatu teman-teman Jungkook. “Kalau begitu aku pergi dulu.” Ia menganggukkan kepalanya lalu pergi meninggalkan café itu.

Seunghee mengikuti punggungnya hingga ia benar-benar menghilang. Lalu menatap Jungkook dengan tatapan tajam, “Kau benar-benar tidak punya hati!”

Jungkook sedikit terkejut, “Huh? Aku?”

“Kau benar-benar jahat, Jungkook! Kau keterlaluan!”

“Ya, apa yang kau katakan?”

“Kau benar-benar tidak mengerti atau memang bodoh?” Jisoo ikut menyahut. “Dia tidak punya tempat tinggal! Kau tega sekali membiarkannya begitu saja!”

“Dia bilang dia akan tinggal di rumah temannya. Kalian dengar sendiri, kan tadi? Iya kan?”

Seunghee mendengus, “Kau benar-benar bodoh!”

“Ya, kenapa kau bilang aku bodoh?” Jungkook mulai kesal. “Hoseok, lihat kekasihmu!”

“Sudahlah, jangan urusi urusan mereka. Dia bilang dia akan tinggal di rumah temannya.” Hoseok membela Jungkook.

Namun Seunghee justru melotot pada Hoseok juga, “Kau juga bodoh!”

Mata Hoseok membulat, “Apa?!”

Shannon menghela napas panjang, “Jungkook.”serunya. “Ketika perempuan mengatakan jika dia baik-baik saja, itu artinya dia sedang tidak baik.”jelasnya pelan. “Aku melihat ada kesedihan di matanya.”

“Shannon, kau tidak tau apapun. Dia adalah gadis yang selalu mengikutiku kemanapun. Dia adalah orang gila!”

“Tapi dia tidak pernah berbuat jahat, kan?”balas Shannon cepat. “Dia hanya menyukaimu.”

“Sudahlah. Jangan urusi dia lagi.” Namjoon menyahut dengan nada kesal. “Tidak ada gunanya memaksanya. Dia adalah manusia yang tidak memiliki hati. Saeron akan tinggal di rumahku.”

“Hyung, jika Jinny mengetahuinya maka—“

“Aku akan menjelaskannya.” Namjoon menatap Suga lurus. “Aku pernah membiarkan adikku hidup sendirian dan dia selalu menangis. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi.”

“Oppa!”

Pria itu menghembuskan napas panjang, mencoba menahan kekesalannya lalu berdiri dan menyambut Wendy yang datang bersama Jinny. Menghampiri adiknya, ia langsung memeluk gadis mungil itu sesaat sambil mencium puncak kepalanya.

Wendy terkejut. Ia merasa bingung karena kakak kandungnya itu tiba-tiba memeluknya, “Oppa, ada apa?”

Namjoon menguraikan pelukannya, tersenyum menatap Wendy, “Tidak.” Ia mengacak rambut gadis itu lembut. “Duduklah. Oppa akan membuatkan minuman untukmu.”

“Oppa, kau tidak apa-apa, kan?” Jinny menatap kekasihnya itu khawatir.

“Tidak ada. Aku hanya merindukan adikku.”ucapnya meyakinkan. “Duduklah. Aku akan membuatkanmu minum.”

Wendy dan Jinny mengangguk lalu bergabung dengan teman-teman mereka yang lain. “Oh, Jungkook? Kau—“ Belum sempat Wendy menyelesaikan ucapannya, Jungkook berdiri dari duduknya dan pergi menjauh.

Wendy dan Jinny sontak saling pandang bingung. Apa yang sedang terjadi? Kenapa semua orang tidak terlihat senang?

“Honey, ada apa?”

Suga menggeleng lalu menepuk pundak Wendy, “Tidak ada.”

“Namjoon oppa dan Jungkook, apa mereka bertengkar?”

“Tidak. Hanya ada sedikit kesalah pahaman.” Suga menjelaskan.

Taehyung menghela napas panjang, “Dasar. Merepotkanku saja.” Akhirnya pria itu berdiri dan menyusul Jungkook karena tidak tahan dengan situasi yang terjadi sekarang.

Jimin juga pergi bersama Taehynng. Keduanya menuju sebuah taman yang ada di depan café itu dan mendapati pria tinggi itu sedang duduk dengan punggung membungkuk dan kedua siku yang bertopang pada lututnya. Kesepuluh jarinya saling bertaut dan dia terlihat sedang memikirkan sesuatu.

Jimin dan Taehyung saling pandang lalu duduk mengapit Jungkook. Diantara mereka semua, Jimin dan Taehyung adalah orang yang paling lama mengenal Jungkook. Keduanya sangat tau bagaimana sifat dan watak pria itu. Dia memang sedikit keras kepala.

“Apa yang kau pikirkan?” Taehyung membuka suara. Ia mendongak menatap langit. “Kau kesal dengan ucapan Namjoon hyung atau ragu dengan keputusanmu?”

Jungkook menghela napas panjang, “Aku tidak tau.”

“Apa kau membencinya karena dia terus menyelipkan cokelat di lokermu dan selalu mengikutimu?”sahut Jimin. “Jika iya, kesampingkan rasa bencimu.” Pria itu menoleh, menatap Jungkook lurus. “Kau selalu bilang jika kau bisa menghajar semua orang yang ada di dunia ini kecuali wanita. Tapi sekarang kau justru sedang menyakitinya.”

Jungkook mengembalikan pandangannya ke depan, “Aku hanya kesal karena aku telah memberitahu Namjoon hyung satu rahasia terbesarku. Aku kesal karena aku telah mengatakan hal itu padanya.”

Kening Taehyung dan Jimin sama-sama berkerut.

Jungkook menghela napas panjang lagi, pria itu terdiam sejenak, “Ibu dan Arin tidak meninggal karena kecelakaan. Ibuku meninggal karena sakit dan Arin meninggal karena ayah tiriku selalu memukulinya.”kenangnya lirih. “Waktu itu, umurku masih 10 tahun dan aku hampir membunuh ayah tiriku setelah melihatnya memukul Arin dengan kayu. Polisi tiba-tiba datang dan mereka justru menuduhku yang melakukannya, karena pada saat itu aku sedang memegang pisau. Aku sudah berkali-kali mengatakan jika bajingan itu yang melakukannya tapi mereka tidak mendengarku. Mereka terus menuduhku dan membawaku ke penjara.”

Jimin dan Taehyung sontak terperangah, “Apa?! Kau di tahan?!”

Jungkook mengangguk pelan, “Hanya satu minggu lalu bibiku datang dan menebusku. Juga, karena kau masih di bawah umur, aku di perbolehkan pulang tapi dengan syarat setiap minggunya aku harus pergi ke dokter konseling.” Pria itu mengangkat wajahnya, tersenyum kecut menatap langit yang terbentang diatas kepalanya. “Mereka pikir, jiwaku terganggu.”

“Kenapa kau tidak pernah mengatakannya pada kami?”

Ia mengendikkan kedua bahunya, “Entahlah. Aku hanya ingin melupakan kenangan itu.” Jungkook kembali terdiam. Berusaha keras menahan rasa sakit dari luka lama yang selalu ia pendam. “Kalian tau aku tidak suka seseorang ada di dalam rumahku. Tapi, ketika Namjoon hyung mengatakan aku harus melakukannya sebagai balasan untuk Arin, aku jadi ragu. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan sekarang.”

Hening beberapa saat. Tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka. Bahkan Taehyung yang biasanya selalu cerewet kini diam dan menjadi sangat serius. Dia tidak tau jika hidup sahabatnya ternyata seberat itu.

“Biar bagaimanapun, dia adalah perempuan.” Jimin berseru pelan setelah beberapa saat diam. “Tapi, jika kau tidak menginginkannya berada di rumahmu. Maka biarkan dia tinggal bersama Namjoon hyung.”

***___***

Hari itu, suasana terlihat berbeda dari biasanya. Tidak ada gelak tawa saling mengejek yang mereka lakukan seperti biasa. Mereka lebih banyak diam dan Jungkook lebih banyak melamun hari ini.

Namjoon telah menjelaskan pada Jinny semua yang telah terjadi dan memintanya untuk mengerti kondisi saat ini. Dia memang tidak mengenal Saeron tapi dia telah terlibat dalam masalah ini. Dia tidak bisa membiarkan gadis itu. Walaupun setengah hati, Jinny akhirnya mengijinkannya. Dibantu Wendy dan Suga yang meyakinkannya jika Namjoon bukanlah pria yang jahat. Dia hanya ingin berbuat baik.

Tiga jam setelahnya, Saeron kembali ke café itu dengan membawa tas ransel besarnya. Dia juga telah mengganti bajunya dengan bajunya sendiri. Memasuki ruangan itu, tatapan iba dari yang lain langsung tertuju pada gadis bertubuh mungil itu/

Andai saja mereka bisa melakukan sesuatu…

Saeron melangkahkan kakinya, menghampiri Jungkook yang sedang berdiri di depan meja kasir. Menyadari kehadirannya, Jungkook mengangkat wajah.

“Aku…ingin mengembalikan kunci rumahmu.”seru Saeron pelan sambil menyerahkan kunci rumah Jungkook. “Terima kasih.”

Jungkook hanya menatap gadis itu tanpa suara. Apa yang harus dia lakukan? Keputusan apa yang harus dia ambil?

Saeron sudah berbalik dan bergegas pergi namun suara Namjoon tiba-tiba menghentikannya, “Kau bisa tinggal di rumahku untuk sementara waktu.”ucapnya. Saeron berbalik. “Aku tau kau tidak memiliki tempat tinggal lain jadi tinggallah di rumahku untuk sementara waktu.”

Mata Saeron membulat lebar, “Sunbae, aku akan tinggal bersama—“

“Jangan berbohong!”potong Namjoon cepat. “Kau tidak memiliki tempat untuk tinggal, kan?”

“Sunbae tapi—“

“Kau juga bisa tinggal di apartementku.” Jin tiba-tiba bersuara. Kali ini Saeron menoleh kearah pria tinggi itu. Jin menghela napas panjang setengah frustasi, “Aku tidak tau kenapa aku jadi sebaik ini tapi kau adalah perempuan. Apartementku lebih aman dan kau bisa tinggal disana untuk sementara waktu. Aku akan tinggal di rumah Taehyung atau yang lainnya.” Kemudian ia menatap Seulgi, “Tidak apa-apa, kan?”

Awalnya Seulgi sempat terkejut dengan saran tiba-tiba dari kekasihnya itu. Dia pikir, pria itu tidak akan bisa melakukan hal-hal baik seperti itu. Dia pikir, dia akan selalu menjadi pria kekanak-kanakkan. Tapi ternyata dugannya salah.

Seulgi tersenyum lalu mengangguk, “Tentu saja.”

Saeron merasa tidak enak dengan semua kebaikan dari orang-orang yang baru di kenalnya itu. Ia menggeleng dan mengibaskan tangannya, “Tidak perlu. Sungguh. Aku sudah memiliki tempat tinggal. Aku akan tinggal bersama salah satu temanku.”

“Apa temanmu perempuan?”tanya Shannon. Saeron mengangguk. “Kalau begitu itu tidak aman. Kau bisa di temukan dan tidak ada yang bisa membelamu. Jika kau tinggal dengan salah satu dari kami, kami bisa menjagamu.”

“Aku bisa sedikit bela diri jadi—“

“Diamlah.” Tiba-tiba seseorang menarik tas ransel yang di bawa Saeron. Seorang pria tinggi yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya. “Dia akan tinggal bersamaku.”

Seketika yang lain terperangah hebat, terutama Saeron sendiri, “Apa kau bilang?” Hoseok bertanya sekali lagi, meyakinkan pendengarannya.

“Dia akan tinggal bersamaku.” Ulangnya dengan nada jelas. “Kalian puas?”

“Kau tidak main-main, kan? Kau sungguh-sungguh?”sahut Jimin masih tidak percaya.

“Aku yang menemukannya pertama kali jadi aku yang akan bertanggung jawab.” Lalu ia mendengus. “Sikap kalian seakan-akan membuatku terlihat seperti seorang pengecut. Sial.”

Namjoon tersenyum, “Kami memang sengaja melakukannya.”ucapnya. “Aku tau kau pasti tidak akan tinggal diam.”

“Sudahlah.” Jungkook berdecak malas. Ia menatap Saeron yang masih terlihat bingung di tempatnya, “Sekarang kau duduk bersama mereka dan tunggu aku hingga aku pulang bekerja.”

Namun Saeron tidak bergerak. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. Ini bukan mimpi, kan?

“Ya, kau mau atau tidak?” Pertanyaan Jungkook langsung membuat Saeron tersadar. Gadis itu menganggukkan kepalanya dan duduk bergabung dengan teman-temannya yang lain.

“Woaah, kau keren sekali.”seru Seunghee tertawa geli. Jungkook hanya mendengus kesal lalu kembali ke dalam.

Dia memang tidak akan bisa menang.

***___***

Ternyata ini memang bukan mimpi. Ternyata dia benar-benar bersama pria itu sekarang. Yah, bersama pria itu! Jeon Jungkook!

Dia memang terlihat kejam namun sebenarnya dia sangat lembut. Dia bahkan membereskan pakaian kotornya yang berserakan di lantai dan membersihkan tempat tidurnya.

“Kau bisa tidur disini.”ucapnya setelah selesai merapikan tempat tidur.

“Lalu kau?”

“Tentu saja aku akan tidur di lantai. Kau tidak berniat mengajakku tidur bersama, kan?”

Saeron langsung menggeleng, “Tidak.”

“Aku tidak suka berbagi. Jadi sebaiknya kau beli handuk, sikat gigi dan perlengkapanmu sendiri nanti.”jelasnya. “Ah, satu lagi…jangan coba-coba menyentuh lemariku.”

“Kenapa?”

“Aku bilang jangan.”

Gadis itu mengangguk patuh, “Baiklah.”

“Lalu…” pria itu memperhatikan sekitarnya. Memikirkan hal-hal lain yang sebaiknya tidak di sentuh oleh Saeron. Tapi sepertinya tidak ada hal yang penting. Rumahnya sangat kecil dan tidak ada barang-barang berharga disana. “Oh ya, jangan coba-coba membocorkan tentang hal ini pada orang lain. Apalagi teman-teman sekelasmu, mengerti?!”

Ia mengangguk lagi, “Baik.”

“Apa yang kalian lakukan?” Suara seseorang terdengar. Jungkook dan Saeron menoleh ke belakang dan mendapati Seulgi sedang menjulurkan kepalanya dari balik pintu rumah Jungkook. “Apa aku mengganggu?”

“Kenapa kau belum pulang?” Jungkook terkejut melihat kehadiran Seulgi. “Ini sudah malam kenapa kau kemari? Daerah ini berbahaya.”

“Dia bersamaku.” Jin berdiri di belakangnya. “Kami memutuskan untuk pulang terlambat. Lagipula besok adalah hari libur. Ayo pergi ke taman Hangang dan bermain basket.” Ia membuka pintu rumah Jungkook semakin lebar dan memperlihatkan Jimin dan Hoseok yang sedang mengobrol dengan Namjoon di luar.

Jungkook mendesah panjang, “Apa kalian tidak tau aku baru saja pulang bekerja?

“Ya, ayolah. Lagipula besok kau libur bekerja, kan? Kau bisa tidur seharian.”

“Kookie, ayo!” Shannon juga menjulurkan kepalanya. “Aku sangat jarang bisa bergabung dengan kalian. Ayo kita bermain malam ini!”

“Saeronnie, ayo.” Seulgi juga mengajak gadis bertubuh mungil itu.

Saeron tersenyum ragu, “Tapi…dia…”

“Sudahlah. Jika dia tidak mau, kau saja.” Saeulgi menarik lengan kiri Saeron namun Jungkook langsung menahan lengan kanan Saeron hingga gadis itu kembali ke tempatnya semula.

“Aku juga ikut!”protesnya kesal karena Seulgi hanya mengajak Saeron.

Saeulgi tersenyum lebar, “Ayo!”

***___***

Dia selalu berdoa jika ini adalah mimpi, dia harap dia tidak akan pernah bangun. Dia harap, selamanya dia akan seperti ini.

Ketika para lelaki bermain bola basket, Seulgi, Seunghee, Shannon, Jisoo dan Saeron duduk di pinggir lapangan sambil mengobrol. Wendy dan Jinny tidak bisa bergabung karena mereka harus segera pulang.

“Jadi kau yang selalu memasukkan cokelat ke dalam loker Jungkook?” Seunghee bertanya dengan sorot antusias.

Jisoo tertawa geli, “Dia bahkan berdiri di pinggir lapangan untuk memberikan semangat ketika Jungkook main bola.”

Saeron meringis lebar, “Aku hanya menyukainya.”ucapnya lugu.

“Ya ampun, Saeron. Aku selalu berpikir jika gadis yang selalu mengikuti Jungkook itu sangat menyeramkan tapi ternyata kau sangat cantik.” Seunghee berdecak sambil geleng-geleng kepala. “Kau sial sekali karena kau menyukai anak itu. Dia benar-benar cuek.”

Jisoo mengangguk setuju, “Diantara anak laki-laki itu, hanya dia yang terlihat seperti membenci wanita. Dia tidak pernah berkencan dan tidak pernah dekat dengan perempuan.” Gadis cantik itu buru-buru memperbaiki ucapannya. “Ah, tidak. Dia sangat dekat dengan Seulgi sejak kelas 1.”

Mata Saeron seketika membulat, “Benarkah? Bagaimana kalian bisa menjadi sangat dekat?“

Seulgi mengangkat kedua bahunya, “Entahlah. Aku tidak begitu mengingatnya. Tapi yang jelas kami bertemu sebelum dia pindah ke sekolahku. Aku rasa waktu itu secara tidak sengaja aku terlibat dalam perkelahian murid-murid dan dia menyelamatkanku. Lalu, kami bertemu lagi ketika dia pindah sekolah dan akhirnya menjadi teman dekat setelah itu.”

“Apa kau pernah memiliki perasaan padanya?”tanya Saeron penuh selidik.

Seulgi terkekeh, “Aku rasa semua orang yang baru mengenalnya akan langsung menyukainya.”ucapnya. “Aku menyukainya hanya karena dia terlihat keren saat menyelamatkanku. Tapi seiring berjalannya waktu, terkadang dia justru terlihat seperti saudara laki-lakiku. Dia selalu melindungiku dan aku selalu memarahinya seperti seorang ibu. Aku pikir kami menjadi dekat karena kami berdua sama-sama tidak memiliki orang tua.”

“Oh, begitu.” Saeron mengangguk-angguk mengerti.

“Kenapa? Apa kau cemburu?” Shannon menggoda gadis itu.

“Tidak. Tapi…” Saeron menghembuskan napas panjang. “…terkadang aku merasa sakit hati karena dia bahkan tidak pernah mengingat namaku.”

“Itu karena kalian tidak saling kenal, kan?”

Saeron menggeleng, “Kami pernah bertemu sebelumnya.” serunya. “Waktu itu dia membantuku memanjat tembok belakang sekolah ketika aku terlambat. Sejak saat itu, aku menyukainya. Tapi sepertinya dia bahkan tidak mengingat hal itu. Dia selalu mengabaikanku ketika kami berpapasan di koridor.”

“Benarkah? Jadi kalian pernah bertemu sebelumnya?”

Saeron mengangguk lemah, “Waktu itu dia baru beberapa hari menjadi murid baru.”

“Astaga, daebak!” Jisoo berdecak tak percaya. “Dia benar-benar…” gadis itu bertepuk tangan, benar-benar terkejut dengan hal yang di ceritakan Saeron barusan.

“Kapan dia akan berkencan jika dia terus bersikap seperti itu?”dengus Seunghee. “Dasar.”

“Apa yang sedang kalian bicarakan?” Tiba-tiba Hoseok menjatuhkan diri di samping Seunghee dan meletakkan kepalanya di pundak gadis itu.

“Ya, apa yang kau lakukan? Keringatmu menempel di bajuku!”

“Aku lelah.”jawabnya dengan napas terengah. Kemudian ia mengangkat kepalanya dan menatap Saeron, “Bagaimana? Apa gadis-gadis ini menceritakan hal-hal aneh? Jangan dengarkan mereka.”

“Apa maksudmu menceritakan hal-hal aneh?” Seunghee langsung memukul pundak kekasihnya itu.

“Aku benar-benar seperti sedang mandi.” Jungkook juga menjatuhkan dirinya, duduk di samping Hoseok sambil menghusap keringatnya dengan lengan baju. Bajunya benar-benar basah dengan keringat.

“Hai, Saeron.” Taehyung tersenyum lebar di depan gadis itu. “Aku Taehyung, kau pasti sudah mengenalku, kan?”

Saeron terkekeh, “Aku tau. Kau dulu bersekolah di sekolahku, kan? Yang sering di hukum itu.”

Ekspresi Taehyung seketika berubah, “Kenapa kau hanya mengingat hal itu?”cibirnya.

“Kau memang selalu membuat ulah.”sahut Shannon.

“Aku tidak bermaksud menggodanya tapi ini sungguh-sungguh, dia benar-benar cantik saat dilihat dari dekat.”

Seketika yang lain berseru keras, “Hyung, hubunganmu baru saja berlangsung, apa kau sudah berpaling karena Saeron?”

“Namjoon oppa ternyata tidak sebaik yang ku pikirkan.” Shannon ikut mengejek pria itu.

“Tidak begitu.” Ia buru-buru menggeleng. “Ketika aku melihatnya dari jauh dan orang-orang di sekitarku mengatakan jika dia adalah gadis yang aneh, aku tidak benar-benar memperhatikannya. Tapi ketika aku telah mengenalnya dan bicara seperti ini, aku baru menyadari jika dia benar-benar cantik. Aku hanya menyayangkan kenapa dia bisa menyukai Jungkook.”

“Itu juga jadi pertanyaan kami tadi. Kenapa dia bisa menyukai Jungkook.” Jisoo mengangguk setuju.

Jungkook langsung mendelik, “Memangnya apa yang salah denganku?”

“Dia bahkan bisa mendapatkan Ken jika dia mau.”sahut Jin. “Ada banyak laki-laki yang lebih tampan dari Jungkook, kenapa kau menyukainya? Usahamu akan sia-sia.”

Suga mengangguk, “Dia tidak menyukai perempuan.” timpalnya.

“Ya, hentikan!”

“Dia hanya menyukai Taehyung atau Jimin. Sebaiknya kau menyerah.” Hoseok juga bersuara.

“Ya!”

***___***

Jungkook hanya bisa menghembuskan napas panjang ketika ia melihat Saeron keluar dari kamar mandi dengan kemeja kebesaran miliknya. Gadis itu, kenapa tubuhnya sangat mungil?

“Seulgi bilang, dia akan mengantarkan beberapa baju besok.”

Kening Saeron berkerut, “Baju?”

“Iya. Dia akan meminjamkan beberapa bajunya untukmu daripada kau terlihat seperti kurcaci saat memakai bajuku.”

Saeron tersenyum lebar, “Benarkah? Waah, dia baik sekali.”

“Dia memang baik. Sudahlah, sekarang giliranku mandi.”

Saeron mengangguk kemudian kaki jenjangnya melangkah menyusuri ruang tamu sekaligus kamar Jungkook. Tempat ini memang sangat kecil dan karena ini adalah rumah laki-laki, tempat ini sangat berantakan dan tidak beraturan. Dia bahkan menemukan minuman yang sudah kadalwarsa di kulkas Jungkook tadi dan beberapa makanan yang juga sudah basi.

Pakaiannya terhampar di mana-mana, entah itu pakaian bersih atau pakaian kotor. Tadi, Jungkook menggumpalnya bersamaan dan memasukkannya ke lemari begitu saja.

Tempat ini memang tidak seperti kamarnya yang bersih. Tapi tempat ini lebih baik daripada rumahnya. Disini, dia tidak akan merasa takut dan was-was. Dia yakin Jungkook tidak akan melakukan apapun padanya.

“Ahh, ini benar-benar menyebalkan!” Saeron mengalihkan tatapannya dari televisi begitu mendengar rutukan Jungkook. Seketika ia menutup wajahnya dengan telapak tangan.

“Astaga!”

“Ya, jangan menoleh kesini.”decak Jungkook kesal. Dia lupa membawa pakaian ke kamar mandi karena dia sudah tidak bisa memakai pakaiannya di sembarang tempat lagi.

Setelah bantingan pintu kamar mandi terdengar, Saeron menurunkan kedua tangannya, “Apa ini alasannya kenapa dia tidak menyukai ada seseorang yang tinggal bersamanya?”gumam gadis itu.

Saeron kemudian naik ke tempat tidur, duduk bersila sambil menonton televisi. Rasanya sedikit aneh tapi dia akan menyesuaikannya. Lagipula tidak buruk juga tinggal dengan pria yang disukai. Ini adalah keuntungan besar!

Tak lama Jungkook keluar dari kamar mandi setelah ia memakai kaus dan celana setengah betisnya. Dia sedikit menggerutu karena dia tidak menyukai memakai baju ketika sedang tidur. Tapi, dia juga tidak mungkin membuka bajunya karena di rumahnya ada gadis itu. Dia seperti seekor singa ganas yang akan menerkam kapan saja. Jangan lupa, dia berbahaya.

“Kenapa kau terus menatapku?”dengus Jungkook sedikit terganggu dengan tatapan Saeron.

Saeron menggeleng sambil menggigit rotinya lalu mengalihkan pandangannya pada televisi, “Tidak.”

Jungkook bersandar pada dinding sambil mulai mengemili makanan ringannya. Acara televisi tidak terlalu menyenangkan hari ini.

“Ngomong-ngomong, bagaimana dengan ibumu?” Pria itu bertanya tanpa mengalihkan tatapannya. “Jika ibumu pulang dan kau tidak ada di rumah. Dia pasti akan khawatir.”

“Anggap saja ini adalah bentuk protes dariku. Selama ini dia tidak pernah percaya dan terus membela ayah tiriku.”

“Tapi kau tetap tidak boleh membuatnya khawatir.”

Saeron mendesah panjang, “Aku tau. Tapi, aku tetap tidak bisa pulang.”

Jungkook mendengus, “Dasar. Jika aku ada disana, mungkin aku sudah menghajar ayahmu.”

Saeron terdiam sesaat, “Jika orang-orang ayahku menemukanku dan aku sedang bersamamu, kau pasti akan di hajar.”ucapnya khawatir. “Jika mereka menemukanku, kau harus segera lari dan meninggalkanku, oke?”

Jungkook sontak tertawa, “Kau pikir aku adalah pengecut?”

“Bukan. Bukan begitu.” Gadis itu mengibaskan kedua tangan. “Jika kau di tangkap, kau akan di pukuli dan—“

“Itu bukan masalah.”potong Jungkook. “Kau tau aku tidak takut dengan siapapun. Dan jangan khawatir karena aku tidak sendirian. Aku memiliki teman-teman yang akan selalu membantuku.”

Saeron tersenyum sambil menatap Jungkook lurus, “Terima kasih.”serunya terharu. “Terima kasih karena kau mau menolongku.”

Jungkook menoleh. Dia tidak terbiasa dengan ucapan-ucapan seperti itu. Hal itu membuatnya merinding.

“Ya, jangan menatapku seperti itu.”ketusnya mencairkan suasana.

“Kenapa? Kenapa aku tidak boleh menatapmu?”

“Tatapanmu itu seperti seekor singa yang akan menerkam rusa! Kau menakutkan!”

Saeron langsung cemberut, “Ya, sudah ku bilang aku menyukaimu jadi aku akan terus menatapmu!”balasnya. “Dan aku bukan singa!”

“Astaga, apa kau tidak malu mengatakannya? Kau terus terang sekali.”decak Jungkook geleng-geleng kepala.

“Lagipula semua orang sudah tau. Aku menyukaimu!”

“Hentikan!” Jungkook menutup telinganya dengan telapak tangan. Lalu ia menarik sebuah bantal dan tidur membelakangi Saeron.

Di tempat tidur, Saeron semakin cemberut, “Kau dengar, kan? Aku menyukaimu!”

“Berisik! Aku mau tidur!”

TBC

14 thoughts on “Bangtan’s Story [Jungkook’s Version] : I Need You part 3

  1. babysari berkata:

    Wah aku seneng bacanya bagus ceritanya jadi semangat bacanya. Keep writing yaa thor! Aku suka jungsae couple nya nih😘 ada typonya dikit banget tapi masih jelasko maksudnya . 1000like buat ff sampingan ini💕💕💕

  2. saraharu berkata:

    thorr part 4nya udah muncul belom’-‘)/
    nunggunya nyampe lumutan thorr kalo udah ada aku minta link nya oke 😂 /lambai” bareng jungkook/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s