Bangtan’s Story [Jungkook’s Version] : I Need You part 2

BTS - i need you

Tittle  : I need You

Author  : Ohmija

Main Cast  : Jeon Jungkook, Kim Saeron

Support Cast  : V, Rap Monster, Jin, Suga, Jhope, Jimin BTS, Shannon William, Wendy & Seulgi Red Velvet, Seunghee CLC, Kim Jisoo, Park Jinny.

Genre  : Romance, School Life, Friendship

Gadis itu langsung menarik lengan Jungkook dengan kedua tangannya, memohon agar ia membawanya pergi dari sana.

“Aku mohon, tolong bawa aku pergi dari sini sekarang.”ucapnya setengah berbisik.

Jungkook masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi hingga ia mendengar suara-suara samar yang semakin lama semakin mendekat. Suara yang membuat gadis itu bertambah panik hingga ia mencengkram lengan Jungkook kuat-kuat.

Hingga terlihat cetakan bayangan beberapa orang di jalan aspal, Jungkook baru mengerti dengan apa yang terjadi dengan gadis itu. Dengan sigap, ia menariknya agar berdiri dan menggenggam tangannya, membawa gadis itu berlari.

Keduanya memasuki sebuah gedung apartement kumuh, tempat dimana Jungkook tinggal. Satu-satunya tempat aman untuk mereka berdua karena orang-orang yang mungkin sedang mengejar gadis itu tidak akan mengetahuinya.

Jungkook menyuruh gadis itu masuk ke dalam apartemennya kemudian ia segera mengunci pintu. Ia berbalik, menatap gadis yang sedang menundukkan kepalanya itu. Detik berikutnya, matanya melebar ketika ia menyadari sesuatu.

“Kau?”pekiknya terkejut.

Dia… Bukankah dia si penunggu loker?

Gadis itu mendongak, membalas tatapan Jungkook, “Terima kasih, Jungkook.” suaranya terdengar serak.

Jungkook sudah akan membuka mulutnya, hendak bertanya apa yang sedang ia lakukan di tempat sampah tadi. Tapi, ketika ia mendapati tubuh gadis itu bergetar dan wajahnya yang semakin pucat, ia menghentikan niatnya. Ia menarik napas dan menghembuskannya perlahan lalu menarik lengan gadis itu dan menyuruhnya duduk di pinggir tempat tidurnya. Kemudian, Jungkook berjalan ke dapur, mengambilkan segelas air mineral untuknya.

Gadis itu menerimanya dengan tangan yang masih bergetar. Ia hanya meminum air pemberian Jungkook sedikit lalu menggenggam gelasnya dengan kedua tangan. Kepalanya terus menunduk dan tubuhnya terlihat sangat kaku.

Jungkook menjatuhkan diri di samping gadis itu dengan punggung yang membungkuk sedikit, menatap sisi wajahnya, “Kau sudah tenang?” Gadis itu mengangguk dalam tunduknya. Jungkook terdiam sejenak sebelum melanjutkan pertanyaannya lagi, “Apa yang—“

“Bolehkah aku tidur disini malam ini?” gadis itu memotong pertanyaan Jungkook. Ia mengangkat wajahnya, menatap Jungkook dengan sorot memohon. “Bolehkah? Aku tidak punya tempat tinggal.”

Mata Jungkook melebar, ia sangat terkejut, “Tinggal disini?! Kau gila ya?”

“Aku benar-benar tidak memiliki tempat tinggal dan aku tidak tau harus pergi kemana. Aku sangat lelah, aku ingin tidur.”

“Kau—“

“Aku mohon. Aku benar-benar lelah.”mohon gadis itu lagi.

Oh Tuhan, apa yang sedang terjadi?

Jungkook menghembuskan napas panjang sambil mengacak rambutnya, “Hanya malam ini, mengerti?!”

Gadis itu mengangguk lagi. Tanpa mengeluarkan suara, ia berbaring di atas tempat tidur Jungkook. Jungkook berdiri karena ia merasa sedikit canggung, hanya menatapi gadis itu yang kini sedang membungkus tubuhnya dengan selimut putih miliknya.

Jungkook menghembuskan napas lagi. Lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

***___***

Hari apa ini? Kenapa hari ini sangat aneh? Dia sendiri bahkan masih tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Kenapa tiba-tiba ada seorang gadis yang tidur di sana?

Jungkook terus menoleh ke kanan, lurus kearah gadis yang sedang tertidur lelap itu, mengabaikan televisi yang memutar film, yang awalnya ingin ia tonton. Pandangannya terus menghadap ke kanan, pada seseorang yang ia pikir tidak nyata.

Dia terlihat sangat ketakutan. Dia terlihat sedang mengalami sesuatu yang membuatnya sangat terguncang. Apa mungkin ada hubungannya dengan orang-orang tadi?

Tersadar sedang memperhatikannya, Jungkook langsung mengalihkan pandangannya. Ia menggelengkan kepalanya sambil memukuli pipinya. Apa yang sedang ia lakukan? Kenapa ia perduli? Mungkin gadis itu sedang kabur dari rumah atau bertengkar dengan orang tuanya. Itu bukan masalah yang harus di khawatirkan.

“Sial.” Ia mengumpat lalu membuka tutup kaleng kopi yang di belinya dan meneguknya banyak-banyak. Ia harus segera menyadarkan dirinya.

***___***

Matahari mulai meninggi. Cahayanya masuk melalui celah-celah horden, memanasi wajah Jungkook yang terlelap tepat menghadap ke arah jendela. Pria itu terlelap dengan kepala yang ia sandarkan di pinggir ranjang dan tubuh di lantai.

Melihat itu, seorang gadis hanya bisa tersenyum geli. Ia mendekatkan tubuhnya, menatap wajah Jungkook dari atas. Telapak tangannya ia letakkan di atas wajah pria itu, untuk menghalau sinar matahari yang memanasi wajahnya.

Beberapa saat berlalu dan gadis itu belum juga menyerah. Jika ini mimpi, dia harap dia tidak akan pernah bangun. Karena ini adalah kebahagiaan.

Namun tiba-tiba Jungkook bergerak, wajahnya tanpa sengaja menyentuh telapak tangan Saeron membuatnya langsung membuka matanya. Pandangannya masih kabur ketika ia perlahan menyadari ada seseorang di sampingnya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali dan begitu ia bisa melihat dengan jelas, ia langsung berdiri dengan mata terbelalak.

“Apa yang kau lakukan?!”pekiknya.

Gadis itu duduk bersila diatas ranjang tidur, menatap Jungkook sambil menggeleng, “Hanya melindungi wajahmu dari cahaya itu.” tunjuknya pada cahaya matahari yang masih melalui celah horden.

Jungkook mengacak rambutnya frustasi. Dia sudah tau hal seperti ini akan terjadi. “Selagi aku tidur, kau tidak melakukan apapun, kan?” ia menatap gadis itu setengah kesal. “Kau hanya melindungiku dari sinar matahari, kan?”

Gadis itu mengangguk dengan wajah polos, “Apa aku harusnya melakukan hal yang lain?”

“Argh, tidak!” Jungkook semakin frustasi. “Sekarang kau sudah bangun, sebaiknya kau pergi sekarang!” Pria itu menarik lengan gadis itu, membuatnya berdiri, “Cepat pergi!”

“Akh, sakit.” Gadis itu memegangi lengannya lalu menatap Jungkook, “Harusnya kau mendengarkan ceritaku dulu. Apa alasanku hingga aku bersembunyi di tempat sampah tadi malam. Kenapa kau malah mengusirku?”ucapnya cemberut.

“Aku tidak perduli!”balas Jungkook. “Kau sudah tidur di rumahku dan sekarang waktunya kau harus pergi.”

Gadis itu langsung menggelengkan kepalanya, “Jangan usir aku. Aku mohon.” Ia mengatupkan kedua telapak tangannya, memohon pada Jungkook. “Jika mereka menangkapku maka—“

Jungkook tidak perduli. Ia menarik lengan gadis itu, hendak menyeretnya keluar namun gadis itu berhasil melepaskan cekalan Jungkook. Ia mundur beberapa langkah ke belakang.

“Jika mereka menangkapku maka aku bisa di pukuli.”

Jungkook menoleh ke belakang, “Lalu apa urusannya denganku? Aku tidak suka jika ada seseorang apalagi seorang gadis yang tidur di rumahku!”

Gadis itu langsung berlutut, kedua telapak tangannya kembali mengatup, “Aku mohon. Aku mohon. Ijinkan aku tinggal bersamamu beberapa hari.”

“Jungkook-ah!” Tiba-tiba Namjoon muncul, membuka pintu rumah Jungkook. Detik berikutnya, matanya membulat lebar melihat ada seorang gadis berada di rumah Jungkook. “K-kau…”

Jungkook seketika panik, “Hyung, ini tidak seperti yang kau pikirkan.” Ia buru-buru mengelak.

Namjoon menatap Jungkook tak percaya, “Kau… semalam…”

“Sungguh. Tidak. Ini tidak seperti itu, hyung!”

Namjoon mendorong tubuh Jungkook ke sisi kiri lalu menghampiri gadis yang sedang berlutut itu, “Berdiri.”suruhnya. Gadis itu menurut. “Kau Kim Saeron, kan?”tanyanya. Gadis yang ternyata bernama Saeron itu mengangguk, “Apa yang kau lakukan disini?”

“Jika aku menceritakannya, tolong biarkan aku tinggal disini.”

Namjoon terkejut, “Apa?”

“Aku mohon.”

***___***

Penjelasan panjang lebar Saeron membuat Namjoon mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Sementara Jungkook sejak tadi terus mendengus. Apa dia menceritakan hal yang benar? Dia bisa saja mengarang cerita agar bisa tinggal disini bersamanya. Gadis itu, selain aneh, ternyata sedikit berbahaya.

“Jadi ayah tirimu selalu mencoba menidurimu ketika ibumu tidak ada?”tanya Namjoon.

Saeron mengangguk pelan, “Aku sudah berkali-kali mengatakan pada ibuku jika dia bukanlah pria yang baik tapi ibuku tidak pernah mempercayainya. Itu sebabnya aku tidak akan pulang ke rumah jika ibuku tidak ada, aku takut hal itu terjadi padaku.”

“Tapi, dia belum melakukannya, kan?”

Saeron menggeleng, “Aku selalu bisa mengelaknya. Bahkan aku pernah menendangnya sehingga ia balas memukuliku.” Ia menghela napas panjang. “Kemarin, aku memukulnya dengan gelas hingga kepalanya berdarah karena dia mencoba memaksaku. Setelah itu aku kabur karena aku takut di pukuli.”

“Jadi itu alasannya kau bersembunyi di tempat sampah?”

“Karena aku takut tertangkap.” Saeron menundukkan kepalanya. “Dia menyuruh orang-orang untuk mencariku.”

“Itu cerita bohong, kan?” Jungkook menyahuti. “Cerita itu hanya ku dengar dalam drama.”

“Ya, bagaimana bisa kau bilang itu cerita bohong?” Namjoon membela.

Saeron menggulung lengan kemejanya dan menunjukkan bekas memar di bawah sikunya, “Aku tidak berbohong. Dua hari lalu dia mendorongku hingga lenganku membentur ujung meja hingga jadi begini.”

“Astaga!” Namjoon terbelalak. “Ayah tirimu pasti orang gila! Kenapa kau tidak melapor pada polisi?”

“Aku tidak bisa melakukannya. Ibuku akan bersedih jika aku melapor pada polisi.”

“Tapi kau—“

“Ulurkan tanganmu.” Jungkook tiba-tiba berjongkok di depan Saeron dengan membawa sebuah kotak bewarna putih. Saeron memandangnya bingung namun tetap mengulurkan lengannya. “Harusnya kau mengobati lukamu.” ucapnya sambil menggulung lengan kemeja Saeron lebih tinggi. Kemudian ia membuka kotak dan mengeluarkan obat merah dari sana.

Melihat itu, Namjoon tersenyum. Pria itu…sebenarnya dia memiliki hati yang lembut.

***___***

“Jadi bagaimana? Apa kau akan membiarkannya tinggal disini.” Namjoon menatap sisi wajah Jungkook.

“Kau tau aku tidak suka jika ada seseorang yang tinggal bersamaku, hyung.”

“Tapi dia butuh bantuan, Jungkook.” Namjoon meyakinkannya. “Ini bukan masalah sepele. Biar bagaimanapun dia adalah perempuan.”

“Lalu apa hubungannya denganku?” suaranya sedikit meninggi. “Hyung, kau tau aku sudah memiliki banyak masalah dalam hidupku. Jika aku membiarkannya tinggal bersamaku, bagaimana jika aku dianggap menculik anak perempuan orang lain?”

“Setidaknya biarkan dia menenangkan diri beberapa hari.”

“Hyung—“

“Anggap saja, ini adalah balasan untuk adik perempuanmu.”

Ucapan Namjoon seketika membuat Jungkook menoleh kearahnya Namjoon bisa melihat jelas amarah yang terpancar dari matanya, “Itu berbeda.”serunya pelan namun tandas. “Dia bukan Arin.”

“Masalahnya hampir sama.”balas Namjoon cepat. “Jungkook, kau telah memutuskan untuk menolongnya sejak kau membawanya kemari semalam. Kau sudah terlibat.”

“Aaarrrgghh…” Jungkook mengacak bersamaan dengan erangan luapan amarah. Ia berbalik pergi, tidak menghiraukan Namjoon lagi.

“Sunbae.” Saeron keluar dari rumah Jungkook setelah ia mengganti pakaiannya dengan kemeja Jungkook yang terlihat sangat kebesaran di tubuhnya. “Ada apa? Kenapa dia pergi?”tanyanya menatap punggung Jungkook yang menjauh.

Namjoon menatapnya sambil menghembuskan napas, “Kau ini…kau adalah masalah baru.”

***___***

Pada akhirnya, Namjoon mengajak Saeron ke tempat kerjanya dan membiarkannya duduk di kursi yang biasa di tempati oleh teman-temannya. Masih jam 10 pagi, Suga bahkan belum datang. Namjoon sudah mulai mengepel lantai sementara Jungkook masih berada di dalam untuk mengganti bajunya.

Ketika Suga datang, ia sangat terkejut melihat kehadiran Saeron disana. Awalnay dia pikir, gadis itu adalah pengunjung café. Tapi, setelah Namjoon mengisyaratkan sesuatu, ia tau jika dirinya memiliki hubungan dengan Jungkook. Namjoon tidak menjelaskan masalah yang menimpa gadis itu, dia hanya bilang jika ini adalah masalah Jungkook dan meminta Suga untuk tidak bertanya lebih jauh.

Sementara di dalam, berdiri di depan lokernya, Jungkook jatuh dalam pikirannya sendiri. Matanya terus menatap lurus kearah sebuah foto yang di pegangnya. Foto seorang wanita paruh baya, seorang anak laki-laki dan anak perempuan.

Jika saja dia memiliki kesempatan kedua. Jika saja dia tumbuh lebih cepat hingga suaranya mampu di dengar. Dan jika saja semua bisa kembali seperti semula. Dia ingin merubah takdir. Dia ingin merubah jalan hidupnya dan kesepiannya.

Jika saja…dia mampu bertahan lebih kuat.

“Jungkook.” Tepukan di pundaknya membuat pria itu terkejut. Ia langsung melempar lembar foto yang di pegangnya ke dalam lokernya dan buru-buru menghusap air matanya dengan lengan baju.

Suga menatap pria itu dengan kening berkerut, “Apa yang kau lakukan? Kau menangis?”

“Menangis?” ia menggeleng. “Aku hanya kelilipan.”

“Oh,” Suga dengan mudah mempercayainya. Karena selama ini, dia tidak pernah melihat pria itu menangis. “Ngomong-ngomong, siapa gadis itu?” ia bertanya tanpa dosa sambil membuka kancing bajunya.

“Hanya orang gila.”

“Hah? Aku baru tau jika ada orang gila secantik itu.”

Jungkook langsung memberikan pelototan pada sahabatnya yang justru balas tertawa itu, “Kau juga sudah gila.”

“Gadismu?” Suga bertanya masih dengan tawa gelinya. “Ini pertama kalinya.”

Jungkook semakin merasa kesal, ia mendorong tubuh Suga kemudian mendengus, “Kau menyebalkan.”

***___***

Tidak ada yang di lakukan Saeron sejak pagi. Hanya duduk di salah satu kursi dengan segelas chocolate milk icenya yang hampir habis. Sesekali ia memandangi Jungkook yang sedang sibuk mengantar pesanan, ketika ia di dapati pria itu sedang menatapnya, ia buru-buru mengalihkan pandangan karena takut di marahi.

Ia baru mengetahui jika hidup pria yang paling di takuti di sekolah itu seperti ini. Ternyata Jungkook tidak seperti yang dipikirkan oleh yang lain. Pria itu adalah pekerja keras. Dia bahkan hidup di tempat yang sangat sempit. Namun walaupun begitu, dia terlihat semakin tampan di balik seragam kerjanya itu.

“Oh?!” Suara seseorang mengagetkan Saeron, gadis itu menoleh dan mendapati dua pasang laki-laki dan perempuan sudah berdiri di depannya. “Saeron? Kau Kim Saeron, kan?”serunya.

Saeron meringis, “Dan kau adalah Kim Jisoo.”

“Apa yang kau lakukan disini? Ini kan kursi kami.” Jisoo langsung menjatuhkan diri di depan Saeron sementara Jimin duduk di sampingnya. Di belakangnya, Seunghee dan Hoseok duduk di sisi yang lain.

“Namjoon sunbae menyuruhku duduk disini.”

“Kenapa dia menyuruhmu duduk disini?” Jisoo masih tak mengerti. Matanya melirik kearah Jungkook yang sedang melayani seorang pengunjung. Begitu menyadari sesuatu, matanya membulat lebar, “Kau tidak mengikuti Jungkook hingga kemari, kan?”tebaknya asal.

Saeron menggeleng, “Aku—“

“Huh? Dia kan…” Seulgi, Jin, Shannon dan Taehyung juga muncul di café itu. Reaksi mereka sama, terkejut ketika melihat Saeron.

“Apa yang kau lakukan disini?”tanya Seulgi bingung.

“Hey, sebenarnya siapa dia? Kalian mengenalnya?” Hoseok yang tidak mengerti apapun akhirnya bersuara.

“Dia…” Jisoo sudah akan menjelaskan namun suara Saeron lebih dulu terdengar, gadis itu membungkukkan tubuhnya sopan dan meringis lebar.

“Aku adalah Kim Saeron. Aku sekolah di sekolah yang sama dengan Seulgi dan Jisoo.” Ia memperkenalkan dirinya.

“Kau si penunggu loker itu, kan?” ucap Jin asal. “Kau mengikuti Jungkook hingga kesini?”

Seulgi langsung memukul perut kekasihnya itu karena telah bicara yang tidak-tidak walaupun sebenarnya ucapannya tidak salah.

“Jadi kau sesaeng fans itu? Yang selalu meletakkan cokelat di dalam loker Jungkook.”sahut Taehyung.

“Diam.” Shannon juga menyuruh kekasihnya untuk tidak bicara lagi.

“Huh?” Kening Saeron berkerut. Dia tidak tau apa yang sedang mereka bicarakan. Namun beberapa saat kemudian ia mengangguk dan kembali tersenyum, “Iya.”

“Jadi kau?” Hoseok tertawa. “Aku tidak tau ada sesaeng fans yang secantik ini. Aku selalu berpikir jika kau sangat menyeramkan.”

“Lalu apa yang kau lakukan disini?”Seulgi bertanya lagi. “Kau mengikuti Jungkook?”

Saeron menggeleng, “Tidak. Aku justru diajak olehnya dan Namjoon sunbae.”

“Diajak?!” Seulgi memekik tak percaya. Saeron mengangguk dengan wajah polos.

“Tunggu. Bukankah itu adalah kemeja Jungkook?” Jimin baru menyadari kemeja kotak-kotak warna merah dan hitam yang di pakai Saeron adalah milik Jungkook.

“Bagaimana kau tau?” balas Saeron.

“Itu pemberianku di hari ulang tahunnya tahun lalu. Kenapa kau memakainya?”

“Oh, dia yang menyuruhku untuk memakainya karena aku tidak membawa baju lain.”

Ucapan Saeron sontak membuat yang lain terperangah hebat, “Apa?!”

Saeron mengerjap-ngerjapkan matanya karena terkejut, “K-kenapa?”

“Ya, suara kalian mengganggu pengunjung lain.” Namjoon datang dengan kedua tangan terlipat di depan dada. “Jaga suara kalian.”

“Oppa! Duduk disini!” Namun Jisoo mengabaikannya, ia menarik lengan Namjoon dan memaksanya duduk di sebelahnya.

“Ya, ada apa? Kenapa menarikku?”ketus Namjoon.

“Sekarang jelaskan pada kami apa yang sedang terjadi antara kau, dia dan Jungkook!”

“Terjadi apanya? Tidak terjadi apapun.” Namjoon menggeleng.

“Cepat jelaskan pada kami, oppa!”tuntut Jisoo.

Jimin mengangguk-angguk, “Hyung, kenapa dia bisa memakai baju Jungkook?”

Oh Tuhan…masalah ini akan menjadi rumit.

Namjoon menghela napas panjang lal umenatap satu-persatu teman-temannya, “Kalian mengenal Jungkook, kan? Dia tidak suka jika ada seseorang yang mencampuri urusannya.”

“Tapi dia selalu mencampuri urusan orang lain.”sahut Taehyung.

“Tetap saja. Aku tidak—“

“Dia menginap di rumahku semalam.” Suara Jungkook seketika membuat yang lain menoleh kearahnya dengan mata terbelalak.

“APA?!”

TBC

7 thoughts on “Bangtan’s Story [Jungkook’s Version] : I Need You part 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s