Bangtan’s Story [Jungkook’s Version] : I Need You part 1

BTS - i need you

Tittle  : I need You

Author  : Ohmija

Main Cast  : Jeon Jungkook, Kim Saeron

Support Cast  : V, Rap Monster, Jin, Suga, Jhope, Jimin BTS, Shannon William, Wendy & Seulgi Red Velvet, Seunghee CLC, Kim Jisoo, Park Jinny.

Genre  : Romance, School Life, Friendship

Musim panas satu tahun lalu…

Kakinya melangkah cepat dari halte bus menuju sekolahnya. Sudah berlalu lima menit, dia pasti terlambat. Ia mempercepat larinya, lebih laju dari kecepatan semula. Hampir sampai di depan gerbang, seorang murid laki-laki menghentikannya. Gadis itu berusaha melewatinya namun murid laki-laki itu tetap menghadangnya.

Gadis itu mendongak, matanya seketika melebar. Dia tau siapa murid laki-laki itu. Seorang murid laki-laki yang baru saja pindah ke sekolahnya beberapa hari lalu. Dia langsung mengetahui karena murid laki-laki itu langsung terkenal di hari pertamanya masuk sekolah. Dia sangat tampan dan menurut gosip yang beredar, dia di keluarkan dari sekolahnya yang dulu karena perkelahian. Banyak yang bilang jika dia adalah seorang berandalan jadi tidak ada yang ingin berurusan dengannya.

Gadis itu sontak mundur satu langkah ke belakang.

“Gerbangnya sudah di tutup.”seru murid laki-laki itu. “Aku sudah memohon agar petugas membukanya tapi aku justru diusir.”

Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya.

“Hei.” Murid laki-laki itu membungkukkan tubuhnya, menggoyang-goyangkan telapak tangannya di depan wajah gadis itu. “Kau mau ikut aku masuk melewati jalan rahasia atau pergi memohon dan diusir?”

“Huh?”

Murid laki-laki itu berdecak, “Astaga. Benar-benar…” kemudian ia menarik lengan gadis itu tiba-tiba dan menyeretnya pergi, “Ayo!”

Gadis itu sontak terkejut namun tidak berani melawan. Dia hanya membiarkan murid laki-laki itu menarik lengannya dan membawanya ke belakang gedung sekolah. Ke sebuah tempat yang ia bilang rahasia.

Di belakang gedung itu, terdapat pagar rendah yang belum di renovasi. Biasanya tempat itu digunakan untuk menerobos masuk oleh murid-murid yang terlambat.

Murid laki-laki itu menoleh ke belakang, “Kau bisa memanjat tidak?”tanyanya. “Pagarnya tidak terlalu tinggi. Aku pikir kau akan bisa melewatinya.” Namun begitu menyadari jika gadis itu memakai rok, murid laki-laki itu buru-buru melanjutkan ucapannya, “Jangan khawatir, Aku tidak akan melihat apapun.”

Gadis itu menggaruk tengkuk belakangnya kikuk, “Tapi…aku tidak pernah memanjat sebelumnya. Aku takut jatuh.”

“Jika kau takut jatuh, kau bisa menginjak punggungku. Aku akan mengangkatmu keatas lalu aku juga akan naik dan turun lebih dulu. Berjaga-jaga agar kau tidak jatuh.”

Gadis itu masih terlihat ragu, “Tapi…”

“Jika kau tidak mau, aku akan pergi lebih dulu. Aku sudah terlambat.” Murid laki-laki itu bergegas untuk memanjat pagar namun gadis itu langsung menahan lengannya.

“Baiklah. Aku akan naik.”

Murid laki-laki itu menoleh sambil menghela napas panjang. Dia sedikit menyesal kenapa tadi mengajaknya. Ia membungkukkan tubuhnya, menjadikan punggungnya sebagai lantai pijakan untuk gadis itu. Sambil berpegangan pada pagar, gadis itu menginjak punggung murid laki-laki itu dan naik keatas pagar. Selanjutnya, dengan cepat murid laki-laki itu menyusul dan melompat turun dengan mudah.

“Ayo cepat turun.”suruhnya mendongak pada gadis yang masih berada di atas pagar.

“Bagaimana jika aku jatuh?”

“Aku akan menangkapmu. Cepat lompat! Aku sudah terlambat!”seru Jungkook makin gemas.

Gadis itu menelan ludah. Telapak tangannya mulai berkeringat dingin. Dia sudah berada diatas, tidak ada jalan lain untuk kembali. Satu-satunya jalan hanya melompat dan percaya pada murid laki-laki itu jika dia akan menangkapnya.

Ia memejamkan matanya sambil mengambil napas panjang. Menghitung sampai hitungan ketiga dalam hati lalu melompat turun.

HAP!

Perlahan membuka matanya, gadis itu mendapati dirinya telah berada di pelukan murid laki-laki itu. Oh Tuhan, dia memiliki bahu yang lebar.

Murid laki-laki itu buru-buru melepaskan tangannya karena gadis itu telah mendarat dengan selamat.

“Sudah ya, aku harus masuk kelas sekarang.”

Murid laki-laki itu berbalik dan segera berlari pergi. Meninggalkan gadis itu yang masih mematung berdiri di tempatnya. Apa ini nyata? Kejadian tadi nyata?

Tanpa sadar, tangannya bergerak naik menyentuh dadanya.

Jantungnya berdebar-debar tiba-tiba.

***___***

Jungkook hanya bisa mendesah ketika melihat seorang gadis sudah berdiri bersandar di samping lokernya. Gadis itu mungil, memiliki senyuman manis dan berwajah cantik. Hanya saja, dia sedikit menyebalkan.

Setiap hari, dia akan berdiri di samping loker Jungkook seperti Jin penunggu, terkadang, jika dia tidak muncul, dia akan memasukkan sesuatu ke dalam loker Jungkook. Seperti cokelat, permen dan hal lainnya. Hal itu ia lakukan setiap hari hingga terkadang Jungkook memiliki banyak stok cokelat dan permen yang bisa ia bagikan dengan teman-temannya.

Jungkook membuka lokernya cuek, seperti tidak melihat siapapun disana.

“Selamat siang!”sapa gadis itu dengan penuh semangat. “Ini untukmu, Jungkook!” ia memanjangkan kedua tangannya, menyodorkan sebatang cokelat untuk Jungkook.

Jungkook menghela napas panjang lagi, ia menutup lokernya sambil berusaha menahan-nahan kekesalannya, menatap gadis itu lurus-lurus.

“Cokelatmu itu membuatku gemuk.”ketusnya. “Sebaiknya kau makan sendiri cokelat itu agar tubuhmu yang kurus itu bisa terisi sedikit, mengerti?” kemudian ia berbalik, bergegas pergi ke kantin karena teman-temannya telah menunggunya disana.

Namun gadis itu tidak menyerah, ia memasukkan cokelat itu ke dalam loker Jungkook lalu kembali ke kelasnya sendiri.

***___***

“Mana cokelatnya?” Jimin mengadahkan tangannya begitu melihat Jungkook muncul.

Jungkook mengangkat tangannya, seolah-olah akan memukul Jimin, “Kau cari mati?”ketusnya kesal.

Yang lain terkekeh geli melihat ekspresi kesal Jungkook.

“Sepertinya lokermu sangat angker, jin penunggunya tidak mau pergi walaupun telah di usir berkali-kali.”ejek Jin.

Jungkook mendengus, “Apa jin yang kau maksud adalah dirimu? Kau tidak mau pergi dari sisi Seulgi walaupun dia telah mengusirmu, kan?”

Jin sontak mendelik, “Ya!”

“Namun Jin hyung masih lebih baik.”sahut Jimin. “Lihat dirimu, kau duduk seorang diri di tengah-tengah pasangan. Kau terlihat sangat menyedihkan.”

Jungkook meletakkan sumpitnya di meja lalu berdiri dengan mulut yang masih penuh dengan kunyahan, “Aku pergi.”

“Hey, jangan dengarkan mereka.” Jinny langsung menahan lengan pria itu dan menyuruhnya untuk duduk kembali.

“Jangan ganggu dia lagi.” Seulgi ikut membela.

“Tapi ngomong-ngomong, gadis itu…siapa namanya?” tanya Jisoo.

Jungkook menatap Jisoo sinis, “Mana aku tau. Aku tidak ingat namanya.”

“Kim Saeron.”sahut Seulgi.

“Ah, ya! Kim Saeron.” Jisoo mengangguk. “Ku dengar dulu, banyak murid laki-laki yang mengejarnya tapi sejak dia mengejarmu tanpa henti, dia dianggap aneh dan mengerikan. Dia seperti sesaeng fans.”

“Itu karena dia mengerjarnya secara terang-terangan.” Jin menimpali.

Jimin terkekeh lalu merangkul pundak sahabatnya itu, “Sahabatku, kau memang sangat tampan. Aku bangga padamu.”

Jungkook langsung menepis tangan Jimin, “Hentikan. Senyumanmu membuatku kehilangan nafsu makan.”

***___***

Jungkook memutuskan untuk tidak membuka lokernya dan langsung pergi bekerja ketika bel pulang sekolah berbunyi. Ia pergi dengan Namjoon karena Seulgi sudah mulai berlatih untuk pertandingan selanjutnya.

Sesampainya di tempat kerja mereka, Suga sudah lebih dulu sampai dan sedang melayani seorang pengunjung. Melihat café sedang ramai saat itu, Namjoon dan Jungkook setengah berlari masuk ke dalam dan mengganti baju mereka dengan seragam kerja lalu buru-buru membantu Suga melayani pengunjung.

“Kau bisa antarkan ini ke meja itu?” Suga mendorong sebuah nampan berisi beberapa piring cake kearah Jungkook. Jungkook mengangguk lalu membawa nampan itu pergi.

Café itu memang selalu ramai tapi kali ini lebih ramai daripada biasanya. Harusnya Seulgi ada disini dan membantu mereka. Mereka sedikit kewalahan.

Berlalu setengah jam melayani pengunjung yang antri di depan meja kasir, akhirnya perlahan-lahan antrian mulai habis. Suga, Namjoon dan Jungkook menghembuskan napas panjang sambil menghusap keringat di dahi mereka dengan lengan.

“Astaga, ramai sekali hari ini.”desah Namjoon.

“Jadi kau tetap tidak mau? Baiklah! Aku tidak akan memaksamu lagi!”

Pandangan ketiganya sontak mengarah pada sumber suara, pada seorang pria yang baru saja muncul dengan wajah tertekuk. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku blazer dengan kesal dan membanting tasnya di atas kursi yang biasa ia tempati kemudian menghampiri meja kasir.

“Kau bertengkar dengan Shannon?”tebak Suga seperti bisa membaca raut wajah Taehyung. Matanya membulat kaget. Tidak biasanya Taehyung marah seperti itu. Biasanya dia selalu mengalah dan menurut dengan Shannon.

“Hey, ada apa?” Jungkook juga ikut bertanya karena Taehyung hanya diam.

“Bisakah kau memberikanku cappucinno dingin dengan banyak es batu? Otak dan hatiku sedang panas sekarang.”serunya.

“O-oke.” Enggan bertanya lebih jauh, akhirnya Suga hanya menuruti permintaan Taehyung.

Taehyung kembali ke kursi dan membanting dirinya disana. Membuat yang lain saling pandang bingung atas sikapnya itu. Hari ini dia sangat berbeda. Apa benar-benar bertengkar dengan Shannon?

“Apa yang terjadi?” Jungkook meletakkan minuman pesanan Taehyung ke atas meja lalu menjatuhkan diri di hadapannya.

Baru saja menyelesaikan pertanyaannya, tiba-tiba Hoseok muncul. Pria itu langsung menjatuhkan diri di samping Taehyung.

“Kau hanya salah paham.”serunya. “Pria itu hanya teman kerja. Kau tau kan jika sejak dulu banyak yang menyukai Shannon? Tapi harusnya kau percaya padanya.” Ucapan Hoseok semakin membuat Jungkook tak mengerti. Pria itu hanya menatapi keduanya dengan kening berkerut.

“Dia yang membuatku tidak percaya. Bersyukur aku tidak memukulnya tadi.”balas Taehyung, rahangnya mengeras.

“Jika kau mau memukulnya, maka pukul saja. Tapi selesaikan masalahmu dulu. Seunghee sedang berada disana dengan Shannon.”

“Ya, siapa yang akan kalian pukul?” Namjoon telah berdiri di sisi meja dengan kedua tangan terlipat di depan dada. “Kalian mau berkelahi?”

Hoseok menghela napas panjang, “Ini hanya salah paham. Tadi dia pergi ke tempat kerja Shannon dan melihat gadis itu bersama seorang pria. Taehyung menghampirinya dan memintanya untuk membolos hari ini tapi Shannon menolak karena dia bilang dia tidak bisa izin begitu saja. Lalu mereka bertengkar dan—“ Hoseok mengacak rambutnya kesal. “kekasihku sedang berada di sana karena dia mau menemani Shannon. Hari ini kami memliki janji untuk bersepeda. Semuanya jadi gagal.”

Jungkook langsung mendengus, “Apa sekarang bersepeda itu penting? Dasar.”

“Ya, ini hanya salah paham.” Suga mencoba membantu. “Aku mengenal Shannon sejak kecil. Dia tidak mungkin mengkhianatimu dan karena pekerjaannya sangat penting, dia tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Jadi mengertilah.”

Taehyung menoleh, menatap Suga, “Aku sudah mencoba mengerti dirinya dengan tidak memukul pria itu! Aku menyuruhnya membolos dan pergi bersamaku agar aku bisa meredam emosiku. Aku tidak mau membuat keributan disana dan membuatnya kehilangan pekerjaan. Itu namanya bukan mengerti?”balasnya. “Dan selama ini, aku selalu mengerti dirinya. Ketika kita berkumpul disini dan dia tidak pernah bisa hadir, aku tidak pernah marah padanya. Aku mengerti karena dia memiliki pekerjaan. Tapi kali ini, aku benar-benar kesal!”

“Sudah ku bilang kau hanya salah paham.” Hoseok menepuk pundak Taehyung. “Ayolah, kenapa kau marah besar seperti ini? Tenangkan dirimu dan selesaikan masalahmu baik-baik nanti.”

Taehyung menghembuskan napas panjang, “Sudahlah. Aku ingin sendiri.”

***___***

Mereka memang tidak bisa tinggal diam. Ketika satu orang dari mereka mendapat masalah, maka yang lain akan selalu ada disana untuk membantu. Hari sudah mulai gelap, Taehyung, Jimin, Jin dan Hoseok pergi ke taman Hangang untuk bermain basket, sekaligus menemani Taehyung yang suasana hatinya sedang buruk. Sementara para wanita pergi ke tempat kerja Shannon dan belum ada kabar apapun hingga sekarang.

“Hyung, apa Wendy menghubungimu?”tanya Suga bertanya pada Namjoon yang sedang mengepel lantai.

“Tidak ada.” Pria itu menggeleng. “Apa dia belum membalas pesanmu?”

“Belum. Apa dia masih berada di tempat kerja Shannon? Ini sudah larut.” Ia melirik kearah arlojinya, sudah menunjukkan pukul 10 malam.

“Coba hubungi Seulgi atau yang lain.”sahut Jungkook. “Jika tidak bisa di hubungi juga, sebaiknya setelah ini kita pergi kesana menjemput mereka.”

Suga mengangguk. Ia mencari nama Wendy di daftar nama kontaknya. Namun, belum sempat menekan tombol panggilan, sebuah panggilan masuk lebih dulu ke ponselnya.

“Halo Wendy, kau dimana? Kenapa tidak membalas pesanku?”serunya langsung begitu menerima panggilan. “Huh? Benarkah? Baiklah. Tunggu disana. Sebentar lagi aku akan datang.”

“Dimana dia?” tanya Namjoon.

“Dia dan yang lain pergi ke taman Hangang. Sebaiknya kita segera bereskan ini dan menyusul kesana, hyung.”

Namjoon mengangguk, “Baiklah.”

Mereka bertiga segera membereskan pekerjaan mereka dan menutup café. Segera mungkin pergi menuju taman Hangang untuk menyusul yang lain. Mungkin mereka sedang menyelesaikan masalah Taehyung dan Shannon.

Namun, sesampainya disana, ternyata masalah telah selesai. Taehyung bahkan sudah bisa tersenyum lebar sekarang dan menggandeng tangan Shannon. Seperti biasa mengganggu yang lain dan bertingkah menyebalkan.

Melihat itu Suga langsung mendengus, “Kami buru-buru kemari karena mengkhawatirkan kalian. Ternyata semuanya sudah selesai?”

Taehyung terkekeh, “Terima kasih. Tapi kalian tau aku tidak bisa marah berlama-lama.”

“Lalu bagaimana dengan pria itu?”sahut Jungkook membuat ekspresi Taehyung berubah menjadi masam.

“Aku sudah merasa bahagia, kenapa kau mengungkit hal itu lagi?”cibirnya. Jungkook terkekeh.

“Aku dan Minwoo tidak ada hubungan apapun. Aku sudah berusaha menyakinkannya tapi dia tidak percaya.”jawab Shannon. “Dia baru memaafkanku ketika aku bilang jika besok aku mendapat ijin untuk libur dari bos.”

Jungkook berdecak, “Dasar kekanak-kanakkan.”

“Siapa yang kekanak-kanakkan?”protes Taehyung tidak terima.

“Ini lebih baik daripada ada perkelahian.”timpal Seunghee. Gadis itu kemudian menepuk pundak Shannon sambil menghela napas panjang, “Kau sial sekali. Kau menjalin hubungan dengan anak TK.”

Taehyung mendelik, “Siapa yang kau bilang anak TK?!”

“Kau dan Jin adalah anak TK. Hoseok dan Jungkook adalah anak SD.”

Sontak yang lain, yang namanya di sebut tidak terima, “Kenapa kau menyebutku juga?”ujar Hoseok. “Aku bukan anakSD!”

“Dan aku bukan anak TK!” Jin juga tidak terima.

Jimin tertawa, “Lihat? Aku yang paling keren di antara kalian.”

Seunghee mengalihkan tatapannya pada Jimin yang sedang meringis lebar hingga matanya menghilang lalu berseru santai, “Kau adalah anak SMP, Jimin.”ucapnya. “Setidaknya hanya Namjoon oppa dan Suga yang memiliki sikap paling normal diantara kalian.”

“YA!“ Yang lain tetap tidak terima.

Shannon tertawa geli, “Tapi aku setuju. Ucapan Seunghee memang benar.”

“Shannon, kenapa kau membelanya?” Taehyung langsung cemberut.

Namjoon mendengus, “Aku benar-benar tidak tahan melihat kalian.”serunya kesal mengingat Jinny tidak sedang bersamanya. “Sudah malam. Sebaiknya kalian pulang ke rumah. Besok adalah hari libur, kita bisa berkumpul.” Lalu ia mengalihkan pandangannya pada Wendy, “Ayo, oppa akan mengantarmu pulang.”

Wendy langsung menggeleng, “Suga akan mengantarku, oppa. Oppa sangat letih, kan? Sebaiknya oppa langsung pulang ke rumah.”

“Benarkah?” Wendy mengangguk yakin. “Baiklah kalau begitu. Suga, jangan membawanya jalan-jalan lagi. Kau harus langsung mengantarnya pulang.”

Suga tersenyum, “Aku tau, hyung.”

***___***

Jungkook mampir ke sebuah supermarket yang tak jauh dari rumahnya lebih dulu sementara Namjoon langsung pulang ke rumahnya karena sangat lelah. Pria itu harus membeli sabun mandi karena sabun yang di pakainya telah habis.

Setelah mengambil sebuah sabun, ia juga membeli beberapa kaleng kopi untuk membantunya agar tidak mengantuk di sekolah besok. Serta beberapa bungkus snack karena dia selalu merasa lapar di malam hari.

Setelah membayar biayanya, ia bergegas menuju rumahnya. Daerah di sekitar apartementnya memang terlihat sepi dan gelap saat malam hari. Karena termasuk daerah pinggiran, tidak banyak lampu jalan yang menyala.

“Huh?” Jungkook menghentikan langkahnya ketika melihat bayangan seseorang yang sedang bersembunyi di samping tempat sa mpah. Keningnya berkerut. Apa itu benar-benar manusia? ujarnya dalam hati.

Jungkook berjalan mendekati tempat sampah itu perlahan. Ingin memastikan siapa yang sedang bersembunyi disana. Jangan-jangan dia pencuri. Pria itu mengulurkan tangan, menyingkirkan tumpukan kardus yang menutupi tempat sampah itu.

Mata Jungkook melebar ketika ia melihat seorang gadis terpekur di balik tumpukan kardus itu, “Kau siapa?!”

Gadis itu mendongak, memperlihatkan wajahnya yang sudah pucat, “Tolong selamatkan aku.”

“Hah?”

TBC

9 thoughts on “Bangtan’s Story [Jungkook’s Version] : I Need You part 1

  1. Mrs. Yehet berkata:

    akhirnya jungkook versionnya dipublish..
    jungkook mah cuek bgt.. tpi tipe2 cwok kyk gini nih yang menantang buat ditaklukin.. waka
    next next

  2. mifta berkata:

    aku baca random gak tau urutan nya yg duluan versi nya siapa. dan dan jeon jung sama saeron omegattttt!! aktris kesukaan dia aw aw aw. selalu cerita nya keren kak author!!!!.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s