SAY NOW PART 2

unnamed

Author : NANANA

Tittle : Say Now

Genre : romance, sad, school

Tag : Kai EXO, Suho EXO, Irene Red Velvet, Sulli f(x), Krystal f(x)

Length : Chapter

Happy Reading ^_^

 

“irene, cepatlah. Kita hampir telat” ungkap Sulli yang kesal menunggu Irene yang begitu lelet

“memangnya kalau telat kenapa? Memangnya kita dihukum?”

“tentu sajjjjjjaaaaaaa, bodoh”

“ishh, jika kita memberikan alasan kita pasti tidak dihukum”

“kau pikir sekolah barumu ini sama dengan sekolahmu yang dulu di Belgia, kita harus masuk sangat pagi”

“aku kurang percaya”

“aku yang sudah hampir dua tahun sekolah disana. Jadi, jangan membantah ucapanku”

“kenapa kau jadi sangat cerewet, apa keputusan eomma menyuruhku kembali ke Seoul dan menyewa rumah dengan tinggal berdua denganmu adalah keputusanku yang salah?”

“sudahlah Irene. Sekarang kita harus segera berangkat”

“aku sudah selesai” irene tampak berkaca sekali lagi melihat penampilannya

“ayo berengkat. Pakai sepatumu”

“apa tidak ada sarapan dulu?”

“jangan harap”

—___—

“ini dia kantor kepala sekolah”

“apa kau tidak bisa ikut menemaniku, Sulli?”

“kau tidak baca tulisan di pintu ini. Siswa yang tidak berkepentingan dilarang masuk”

“tapi kau mempunyai kepentingan, yaitu menemaniku. Ayolah Sulli”

“kau masuk saja. Aku harus ke kelas sekarang”

—___—

Seorang guru memasuki area kelas 2-4 dengan eloknya diikuti seorang siswa perempuan yang berjalan dengan sedikit menunduk. Guru itu terseyum pada seluruh murid yang ada di kelas sebelum ia mulai berbicara

“kelas kita kedatangan seorang murid baru. Silakan, perkenalkan dirimu”

“Hallo semua, perkenalkan namaku Irene. Aku harap kita bisa berteman baik”

“baiklah sekarang kau bisa memilih tempat dudukmu diantara dua bangku kosong itu”

“baik, sonsengnim”

IRENE POV

Aku mulai berjalan ke arah bangku tersebut. Bangku tersebut berada di barisan paling belakang. Di sisi sebelah kiri, tampak bangku kosong yang disampingnya ada seorang namja yang begitu cuek, dan di sisi kanan terdapat seorang namja yang sudah kukenal. Suho tampak tersenyum padaku, meski kami sudah lama tidak bertemu. Baiklah, aku sudah memilih, duduk sebangku dengan Suho pasti akan membuatku gila, lebih baik aku duduk dengan namja yang tidak kukenal ini. Sedikit menjaga jarak dengan Suho akan menambah ketenangan di hidupku. Aku mulai sedikit memegang bangku tersebut sebelum akhirnya Suho berbicara

“kajja, Irene. Duduk denganku” ucapnya sambil tersenyum

memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi

Suho menyuruhku untuk duduk di sampingnya, mau tak mau aku harus meninggalkan bangku yang sudah kupegang dan berjaln kearah Suho, kemudian duduk di sampingnya.

“baiklah, Irene sudah menemukan tempat duduknya, dan mari kita mulai pelajaran hari ini”

Guru sudah memulai pelajaranya, aku terus memerhatikan bagaimana cara ia mengajar, dan bagaimana ia menyampaikan materi. Suho yang duduk di samping ku tampak diam tidak bergeming. Membuatku sedikit bingung, bagaimana seorang suho bisa duduk diam dan antusias mendengarkan penjelasan guru, mengingat bagaimana tingkah gilanya selama ini.

—___—

Jam pelajaran telah usai, kini waktunya istirahat. Aku harus menemui Sulli yang ternyata berbeda kelas denganku, Sulli berada di kelas 2-1. Aku harus berjalan beberapa langkah untuk mencapai kelasnya. Saat sampai di depan pintu, seseorang tampak menahan tanganku. Aku pun berbalik dan mendapati Suho di belakangku.

“ayo, ke kantin bersama”

“aku pergi dengan Sulli saja”

“tidak usah, Sulli akan datang ke kantin sendiri nantinya”

“yaaaaa, aku tidak mau”

“sudah berapa lama mengenalku, anak manis” ucap suho sambil mencubit pipiku

“ishhhh, kau tidak berubah berubah ternyata”

“Ayolah kita ke kantin. Perutmu pasti lapar kan?”

“tapi…”

“tolong jangan berdiri di depan pintu”

Aku menoleh dan mendapati seorang namja yang ingin keluar. Namun tidak bisa karena kami menghalanginya.

“maaf” ucapku

Namja itu tampak berlalu, tidak menghiraukan ucapanku

“ah sudahlah, tidak usah pikikan dia”ungkap Suho

Kemudian Suho tampak memegang tanganku. Ia mengajakku ke kantin, dan terus memegang tanganku. Aku berusaha melepaskan genggaman tangannya, tapi tidak bisa.

“suho, lepaskan tanganmu”

“untuk apa?”

“memangnya kau pikir untuk apa?”

“aku hanya takut kau hilang, kau kan ceroboh”

“ya, diamlah”

—___—

AUTHOR POV

Suho dan irene tampak berkeliling mencari tempat duduk, tapi mereka tidak menemukan tempat duduk yang kosong. Namun, itu tak bertahan lama karena Irene mengajak Suho untuk duduk bersama dengan seorang namja, namja yang tadi bertemu dengan mereka di depan pintu

“kenapa makan di sini?” bisik suho

“tidak ada tempat lain. Di juga kan sekelas dengan kita”

Irene tampak tersenyum namu namja itu lagi-lagi tak menggubrisnya

“kami boleh makan di sini kan?”

Namja itu hanya mengangguk tanpa menoleh sedikitpun pada Irene

“namamu siapa? Kita belum berkenalan kan?”

“bertanya namaku? Kau tidak tahu siapa aku?” namja itu tampak sedikit terkejut

“ya, jangan harap karena kepopuleranmu itu di tahu kau siapa” umpat Suho

“kau populer? Wah, hebat sekali. Wajahmu memang tampan”

“yaaaa, Irene, kau berusaha menggoda?”

“aku tidak menggoda Suho. Dia memang tampan. Jadi, siapa namamu?”

“tanyakan saja pada rumput yang bergoyang” kemudian namja itu pun pergi

“huh, dia galak sekali”

“tadi kau sudah kuperingatkan”

—____—

kelas tambahan memang wajib untuk seluruh siswa pindahan, agar terbiasa dengan keadaan lingkungan sekolah. Setelah selesai mengikuti kelas itu, Irene berjalan keluar. Tapi, di tengah perjalanan nya hujan tiba tiba menampakkan dirinya. Irene yang terkejut langsung berlari menuju halte bis yang ada di sebrang sekolah

“bajuku jadi basah” rutuk dirinya

Di halte bis itu juga banyak orang yang menunggu hujan agar reda, dan juga ada yang menunggu bis datang. Irene bertujuan untuk menunggu bis

Tak lama menunggu, bis datang. Irene naik ke dalam bis dalam keadaan basah kuyup. Ia tampak ingin mengeluarkan dompetnya, tapi kemudian ia teringat bahwa Suho menjahilinya dengan menyembunyikan dompetnya, dan suho belum mengembalikannya. Ia tidak bisa membayar tiket bis jika begini caranya

“aku bayar untuk dua tiket”

Irene menoleh dan mendapati lagi namja yang sangat galak itu berdiri di belakangnya. Ia berpikir, kenapa namja itu membayarkannya tiket bis untuknya.

“ayo jalan, masih banyak yang mengantri di belakangmu”

Irene tersadar, ia kemudin berjalan dan duduk di bangku barisn tengah. Namja itu juga duduk di samping Irene, ia tampak memakai earphone

“terima kasih, sudah membayarkanku tiket bis”

“hmm, ternyata kau baik juga”

“cobalah bicara lebih banyak lain kali”

“yaaaa, kau tidak mendengarkanku?”

Irene kemudian mencabut earphone yang tampak bertengger manis di telinga namja itu

“apa sih?”

“kau mengabaikan aku bicara”

“kau kan tidak mengenalku”

“untuk itu aku bertanya siapa namamu, tapi dari tadi kau terus saja seperti orang menahan marah”

“memagnya tidak boleh kalau aku marah?”

“ya, kalau kau marah pada seseorang. Jangan ikut melibatkanku”

“kau mengenal Suho?”

“tentu saja, dia kan temanku”

“memangnya apa bagusnya Suho?”

“kau kenapa sih, Suho itu temanku. Meskipun dia jahil, tapi ia sebenarnya baik. Tidak sepertimu” tunjuk Irene

“ya, aku ini orang baik. apa kau tidak tahu?”

“tentu aku tidak tahu. Mukamu sangat galak”

“aishhh. Kau ini adalah pelupa akut ya?”

“bagaimana kau tahu?”

“tertulis di keningmu”

Irene tampak memegang keningnya, tidak ada tulisan apapun disana. Lagi-lagi namja ini membuatnya kesal

“tidak ada apapun di keningku”

“tapi tetap saja kau bodoh”

“yaaaaa, kauuuu. Ah, kalau aku tahu namamu…..”

“oh, kau memang gadis bodoh. Sangat bodoh”

“aku tidak suka namja yang suka marah. Kau pasti tidak pernah baik pada wanita”

“kalau kau tidak lupa, kau akan terharu melihat betapa baiknya aku”

Irene memencet tombol berwarna merah. Bis pun kemudian menepi untuk berhenti. Irene segera turun dan meninggalkan namja yang duduk di sampingnya itu. Sementara, namja itu hanya memerhatikan langkahnya dan menuruni bis. Di luar masih hujan deras. Tapi gadis itu tetap turun, pikir namja itu.

Setelah irene turun,Bis pun meleaju kembali. Namun, baru beberapa meter berjalan, seseorang lagi lagi memencet tombol dan bis pun menepi lagi. Melihat hal ini, namja itu pun iku turun

—___—

Irene tampak menggigil kedinginan. Ia telah berhujan hujanan sejak tadi. Sebenarnya ia tidak mau turun, ini bukan daerah tempat rumahnya. Ia hanya kesal dengan namja tadi. Ah, ia juga tidak tahu jalan pulangggggg.

“dingin sekali” perlahan bibir Irene pun mulai memutih

Seseorang memberikan Irene payung dari belakang, ia pun kemudian menoleh

“kauuu….”

“ini, payung untukmu. Kalau kehujanan seharusnya kau tak usah turun hanya gara-gara aku”

“aku ti….dak apa apa”

“ini, pakai payung ini”

“aku kan sudah basah, tidak pakai payung tidak apa-apa”

“mana bisa, ini pakailah”

“kau bagaimana?”

“tidak usah pikirkan aku”

“kalau begitu kita pakai payung ini berdua”

—___—

“dimana rumahmu?”

Irene hanya diam

“dimana rumahmu?”

Irene tetap diam

“yaaaa”

“se…sebe…narnya. ah, aku tidak tahu jalan pulang ke rumah. Aku baru menetap di Seoul”

“hah? Bagaiman mungkin. Kau tidak tahu mau pulang ke mana?”

“maaf, tapi aku lupa”

“ah, penyakit ini. Tidak pernah hilang dari hidupmu. Kaalu begitu, telepon saja temanmu”

“Hp ku tertinggal di loker kelas”

—___—

“ya, Irene-ah”

“suho”

“ya kau kenapa basah seperti ini? Kau sakit? Kau kedinginan? Yaaaa, apa kau baik baik saja?”

“gwenchana. Dia menemaniku”

Suho pun menoleh ke arah namja itu

“ya, Kai-yah. Kau apakan Irene, huh??”

“tidak ada, aku hanya menolongnya”

“kau tidak mungkin menolongnya. Kau kan batu”

“kalau tidak pecaya. Tanyakan pada dia. Aku pergi”

—___—

“lain kali,  kalau ada sesuatu. Beritahu aku”

“aku bisa sendiri”

“jangan pernah menerima bantuan dari Kai”

“jadi namanya Kai. Suho, kai orang yang baik”

“jangan mempercayainya. Dia itu batu, sifatnya dingin sekali”

“kau berlebihan. Dia sudah menolongku tapi kau memarahinya. Badannya ikut basah karena menemaniku. Dia memberikan payung, kau masih bilang jangan mempercayainya”

“ire…”

“sudahlah Suho. Lebih baik kau pulang”

“sulli”

“pulang sekarang. Irene harus beristirahat”

“baiklah”

—___—

“apa dia baik-baik saja?”

“apa aku harus pergi ke rumahnya?”

“kenapa ia tampak begitu dekat dengan suho?”

“siapa suho, pacarnya?”

“kenapa aku seperti orang jahat padanya?”

“kenapa aku tidak peduli padanya?”

“lagian juga kenapa di lupa aku. Apa begitu banyak sekali perubahan di wajahku?”

Kai tampak bercermin memerhatikan dirinya. Ia merasa tidak semua wajahnya berubah total. Tapi, Irene benar-benar lupa padanya

“oppa”

“kau belum tidur?”

“oppa juga belum tidur. Ada apa? Memikirkan sesuatu?”

“tidak. Aku hanya mengambil ancang-ancang sebelum tidur”

“tidak biasanya”

“sudah, kau tidur sana. Bukannya besok kau harus sekolah?”

“baiklah, oppa”

—___—

Malam hari, irene belum bisa tidur dengan nyenyak. Ia terus saja menggeliat diatas kasur.

“kai, kenapa ia tidak mau memberitahu namanya padaku? Apa susahnya menjawab ‘namaku Kai’. Memangnya namanya begitu mahal, huh?”

TBC

2 thoughts on “SAY NOW PART 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s