Forgotten part 2

Forgotten

Tittle                :           Forgotten

Main Cast       :           EXO Oh Sehun, OCs

Supported       :          EXO and F(x)’s members

Genre              :           Fantasy, Romance, School-life

Rate                 :           T; PG-17

Disclaimer       :           EXO’s and F(x)’s members belongs to their family, life, and our Lord. Storyline’s mine. OC’s belongs to their fiction life. WARNING! Real-minded aren’t allowed in this story. Time, Date, Place, Story, People, and any other people here, belongs to me. Tksalt. Alice.

Note               :           Sebenernya agak absurd juga pemikiran gua disini, wks. Emang kapan pemikiran gua gak absurd? Well, maaf kalau isinya tidak sesuai keinginan, toh ceritanya terserah pada gua. Haha. Okesip. Sekian bacotan gua. Tksalt. Sincerely, Alice.

“..take me anywhere with you and we will walk together forever..”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

6 years later..

“Soojung-ah!”

“Soojungie!”

“Kim Soojung!”

“Aish yeoja itu..”

Langkah seorang yeoja dengan rambut panjang sebatas punggung bernama Soojung itu terhenti saat melihat seorang yeoja dengan nafas terengah-engah menarik lengannya dan sekarang ada di hadapannya.

Yeoja bernama Soojung itu memandang bingung, dan melepaskan headset dari telinganya.

“Kau tidak mendengarku?”, tanya yeoja itu, masih mengatur nafasnya.

Soojung menggeleng, lalu menunjukkan headset yang Ia gunakan.

“Aish.. Jinjja..”, gerutu yeoja berpenampilan tomboy itu, kemudian Ia menyandarkan lengannya di tembok.

“Kau ini, aku berteriak-teriak memanggilmu.”, ucap yeoja itu

Soojung membulatkan matanya tak percaya. Raut gadis itu kemudian berubah menjadi sedih. Soojung menangkupkan kedua telapak tangannya, dan memandang yeoja di depannya dengan wajah sedih.

“Gwenchana. Kau sudah biasa membuatku berteriak begini.”, ucap yeoja itu

Soojung akhirnya tersenyum pada sahabatnya itu.

“Oh, kau tau, ku dengar hari ini akan ada mahasiswa baru di jurusan kita.”

Soojung lagi-lagi membulatkan matanya. Yeoja berambut sebatas bahu itu kemudian menggandeng lengan Soojung.

“Apa sih yang tidak bisa di ketahui oleh sahabatmu satu ini. Aku, Choi Seulhyun, selalu tau berita terbaru di kampus kita.”, ucap yeoja itu bangga membuat Soojung tersenyum dan menggeleng pelan.

“Tapi aku serius. Kurasa mereka dari keluarga kaya. Dosen kita banyak membicarakan mereka tadi. Menurutmu apa anak-anak akan mengerjai mereka?”, ucap Seulhyun dan dijawab dengan angkatan bahu oleh Soojung.

Detik selanjutnya, Seulhyun kembali bicara panjang lebar, sementara Soojung di sebelahnya hanya bisa menyahuti dengan bahasa isyarat yang sudah dihafal oleh Seulhyun. Ya, gadis itu, Kim Soojung, memang tidak bisa bicara karena sebuah kecelakaan. Membuatnya harus kehilangan fungsi salah satu inderanya.

Beruntung bagi yeoja itu karena indera pendengarnya masih bisa berfungsi, dan membuatnya bisa mengikuti sekolah normal seperti teman-teman yang lainnya. Walaupun gadis itu sempat menjadi bahan ledekan karena tidak bisa bicara, tapi sejak Seulhyun muncul, keadaan Soojung perlahan membaik.

Hampir seisi kampus tau bahwa Soojung tidak bisa bicara, dan tidak banyak anak yang berteman dengannya. Seolah sadar pada keadaanya, Soojung memang lebih banyak menutup diri, kecuali pada Seulhyun tentunya.

“Oh! Lihat itu!”

Perhatian Soojung teralihkan saat Seulhyun menunjuk ke satu arah. Gerbang kampus mereka yang terbuka lebar, sementara dua mobil mengkilap mewah berwarna putih sekarang memasuki halaman kampus mereka.

Soojung menyenggol Seulhyun, membuat Seulhyun mengangguk pasti.

“Benar. Pasti itu mereka.”

Dan ucapan Seulhyun—yang di dengar oleh beberapa mahasiswa di dekatnya—membuat berita dengan cepat menyebar, dan banyak yang penasaran pada sosok-sosok yang akan keluar dari mobil-mobil mewah itu.

Tak lama, beberapa orang tampak keluar dari dalam mobil itu. Beberapa orang namja dan yeoja, dan membuat Seulhyun menyernyit.

“Kurasa aku lebih suka jika yang keluar dari mobil itu namja-namja semua.”

Soojung menyenggol Seulhyun, membuat Seulhyun memandang ke arahnya. Soojung menunjuk anak-anak yang ramai dan lalu menunjuk ke arah mahasiswa baru itu, dan menggeleng-geleng cepat.

“Benar.. Mereka akan jadi perebutan bagi mahasiswa-mahasiswa disini.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Soojung’s Eyes..

Perhatian kelas ini langsung tertuju pada tiga orang—dua namja dan satu yeoja—yang masuk ke dalam kelas kami. Tiga dari beberapa mahasiswa baru yang tadi pagi datang. Aku heran kenapa mereka baru masuk di jam ke empat pelajaran kelas kami, padahal teman-teman yang lain sudah banyak membicarakan mereka.

“Ah, kalian mahasiswa baru itu. Duduk saja di kursi yang masih kosong.”

Aku memandang satu persatu mahasiswa baru itu. Berhubung tadi ada banyak mahasiswa yang berebut melihat mereka, aku jadi tidak bisa melihat dengan jelas wajah mereka.

Seorang yeoja dengan rambut lurus berwarna cokelat muda, wajahnya terlihat seperti orang lelah, tapi dia cantik. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai begitu saja. Dan untungnya warna rambutnya tidak begitu kontras dengan kulitnya yang pucat.

Di sebelahnya berdiri seorang namja yang begitu tinggi—mungkin yeoja itu memang tidak terlalu tinggi—dengan kulit sedikit lebih gelap dari yeoja itu tadi. Tatapannya sama, terlihat lelah. Tapi tidak seperti yeoja itu yang punya raut dingin, namja ini terlihat lebih ramah.

Dan di paling ujung, seorang nam—

Dia!?

Apa itu dia?

Namja dengan tubuh tinggi, kulit pucat, raut dingin, mata yang tampak lelah. Dan tatapan yang dingin pada apapun yang ada di dekatnya.

Tapi apa benar dia? Atau hanya kebetulan wajah mereka mirip?

Kenapa Ia terlihat mirip dengannya?

Aku memandang serius namja itu, tidak bisa mengalihkan pandanganku. Bahkan setelah Ia duduk beberapa kursi di depanku, aku masih tidak bisa mengalihkan pandanganku. Dia duduk menopang dagunya, memandang lurus ke papan dengan tatapan dingin.

Tidak berniat sedikitpun untuk menoleh ke sekitarnya, padahal sekarang kelas kami mulai berisik karena pembicaraan-pembicaraan kecil oleh beberapa orang. Perhatianku sedikit teralihkan saat kursi di dekatku berderit.

Aku menoleh, dan sadar bahwa yeoja berambut cokelat itu sekarang duduk di sebelahku. Tanpa sadar aku mengedarkan pandangan, dan di sudut kelas, namja berkulit agak gelap itu duduk.

Dan seperti dugaanku, Ia sudah bicara dengan beberapa anak di dekatnya. Tidak seperti yeoja di sampingku, atau namja dengan wajah sangat familiar itu.

“Baiklah, saya rasa kelas bisa dimulai.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes..

Lonceng nyaring berdentang beberapa kali tanda bahwa kelas siang sudah berakhir. Soojung tengah sibuk membereskan bukunya saat gadis itu mendengar jeritan Seulhyun dari depan kelasnya.

“Kim Soojung!!”

Soojung segera mendongak, gadis itu tersenyum cerah saat melihat Seulhyun, dan sudah berdiri untuk menghampirinya saat sadar bahwa Seulhyun sudah berlari ke arahnya, membuat Seulhyun menghentikan langkahnya dadakan dan akhirnya membuat Soojung jatuh terduduk di kursinya.

“Aigoo! Kau pasti tidak tau bagaimana hebohnya kelasku!”

Soojung memiringkan kepalanya tidak mengerti.

“Kau tau dua mahasiswa baru itu ada di kelasku!!”

Soojung segera melotot, dan menggeleng-geleng hebat, berusaha memperingati Seulhyun untuk berhenti bicara. Tapi Seulhyun sepertinya sudah lupa semua bahasa isyarat yang biasa Soojung gunakan. Gadis itu terus bicara.

“Aku bahkan sudah tau nama dan alamat mereka!”

Tangan Soojung bergerak menutupi mulut Seulhyun, tapi yeoja berpostur tinggi itu masih terus bicara.

“Oh astaga! Aku pastikan akan banyak orang yang mau membayar untuk tau alamat mereka!”

BRUGK.

Soojung menghentikan tindakannya. Membuat Seulhyun punya kesempatan untuk menoleh dan melihat siapa yang baru saja di tabraknya.

“Oh.. Mian—”

Ucapan Seulhyun seketika terhenti saat menyadari bahwa Ia baru saja menabrak satu di antara mahasiswa baru itu.

“L-Luna..”

“L-Luna..”

Soojung menyernyit saat mendengar kata itu keluar dari mulut Seulhyun.

“Kau tau namaku?”, yeoja berambut cokelat itu tersenyum, “aku percaya kau tau alamat kami semua.”, ucap yeoja itu lagi sambil melangkah ke depan kelas

Beberapa detik Seulhyun dan Soojung sama-sama berdiri diam di tempat masing-masing. Malu. Tentu saja. Seulhyun tidak sadar jika Ia tadi bicara begitu keras sementara tiga orang mahasiswa pindahan itu ada di kelas.

“Kenapa kau tidak memberitahuku?”, ucap Seulhyun pada Soojung

Soojung merengut, dan segera memukul pelan lengan Seulhyun.

“Aish. Kau tau kan aku kalau terlalu senang bisa tidak mengingat bahasa isyarat.”, gerutu Seulhyun dan hanya di tanggapi dengan desahan kesal oleh Soojung.

Gadis itu kemudian duduk di tempatnya, membiarkan Seulhyun berdiri sendirian.

“Sebagai yeoja kau tidak boleh terlalu suka mencari perhatian Seulhyun-ah.”

Dua orang itu menoleh pada sumber suara. Kim Myungsoo. Salah seorang di kelas Soojung. Yang memang sering terlibat dengan dua orang itu. Dengan menahan kesal, Seulhyun menarik salah satu sepatu Soojung, tidak memberi Soojung kesempatan untuk menahannya. Dan detik selanjutnya sepatu itu sudah dengan mulus mengenai Myungsoo.

“Aish! Dasar yeoja preman..”, gerutu Myungsoo, mengambil flat shoes berwarna pastel yang digunakan Seulhyun tadi melempar.

“Bukankah ini milikmu Soojung-ah?”

Soojung segera menarik-narik lengan Seulhyun dan menunjuk ke arah sepatunya.

“Ambil saja sendiri,”, ucap Seulhyun sambil menjulurkan lidahnya

Dengan kesal Soojung melangkah ke arah tempat Myungsoo, tapi seperti yang sudah Soojung duga, dua orang itu mengerjainya. Tentu saja. Saat Ia menghampiri Myungsoo, Myungsoo malah melemparkan sepatunya pada Seulhyun, dan jika Soojung mendatangi Seulhyun, sepatu itu kembali melayang ke arah Myungsoo.

Soojung akhirnya menghentikan usahanya. Yeoja itu memandang Seulhyun yang sekarang memegang sepatunya, Ia kemudian melepaskan satu lagi sepatunya, dan dengan kesal melemparnya pada Myungsoo.

Yeoja itu kemudian dengan kesal melangkah keluar kelas. Tanpa alas kaki tentunya. Sementara sepeninggal Soojung, dua orang itu tertawa kencang.

“Astaga, aku heran berapa banyak sepatu yang Soojung punya.”, ucap Seulhyun geli, mengingat bahwa Ia dan Myungsoo sering mengerjai Soojung seperti ini, dan yeoja itu nyatanya tidak pernah meminta sepatunya kembali.

“Sepatu-sepatu yang sudah kita ambil dari semester satu ini akan jadi kado spesial nanti malam.”, ucap Myungsoo, mengambil satu sepatu yang ada di tangan Seulhyun.

“Sudah ada berapa sepatu?”, tanya Seulhyun masih tertawa geli

“Kurasa sudah lima puluh lebih. Lokerku penuh dengan sepatunya.”, ucap Myungsoo, menggeleng-geleng pelan dan kemudian meletakkan sepatu itu di laci mejanya.

“Heran sekali kenapa Ia punya begitu banyak sepatu..”, gumam Myungsoo saat namja itu kembali ke tempat duduknya.

Sementara sekarang Seulhyun tampak mengeluarkan sebuah permen karet dan bersiap mengunyahnya.

“Dia selalu percaya bahwa sepatu yang bagus akan membawa seseorang ke tempat yang bagus.”, ucap Seulhyun, mulai mengunyah permen karetnya.

“Pepatah dari negara mana itu?”, ucap Myungsoo bingung

Seulhyun mengangkat bahu.

“Aku tidak tau. Tulisan itu ada di meja belajar Soojung. Kurasa Eomma nya. Eomma Soojung seorang novelis bukan?”

“Oh. Benar. Mungkin Ia mengutipnya dari salah satu karya Eomma nya. Heran sekali kenapa Soojung memilih masuk sekolah seni seperti ini dibandingkan masuk sekolah sastra.”

“Ya. Kau tau kan dalam sehari Soojung bisa menghabiskan berapa buku untuk dibaca.”

“Dia punya selera sastra yang aneh.”

Akhirnya dua orang itu terhanyut dalam pembicaraan lainnya yang berhasil membuat kelas itu begitu ramai oleh tawa.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Soojung melangkah ke lokernya. Setelah membuka pintu lokernya, yeoja itu mengambil sepasang sepatu olahraga yang jadi satu-satunya sepatu yang ada di lokernya. Tatapan Soojung terhenti pada sebuah buku dengan sampul berwarna biru gelap lusuh yang tadinya ada tepat dibawah sepatu olahraganya.

Soojung memasang sepatu olahraganya, sebelum akhirnya yeoja itu mengambil buku tebal itu, dan beberapa lama memperhatikannya. Ingatan yeoja itu kembali berputar, membuat yeoja itu tanpa sadar meneteskan air mata. Soojung mengusap pelan tulisan ‘Forgotten’ berupa ukiran yang terlihat tua dengan warna keemasan yang sudah pudar.

Tangan Soojung bergerak membuka sampul buku, dan di halaman awal, tatapan yeoja itu kembali bersarang pada sebuah amplop berwarna cokelat muda. Soojung menyandarkan dirinya di pintu loker sebelahnya, dan perlahan membuka amplop yang berisi selembar kertas itu.

‘Soojungie, kau tau yeoja kelas sebelah yang bernama Seulhyun itu? Kurasa aku menyukainya. Bisakah kau mencari kata-kata indah di novel ini untuk ku jadikan surat cinta untuknya? Kekeke~’

Diam-diam yeoja itu merasakan sesak di dadanya. Tapi dengan cepat yeoja itu menepis perasaan sedihnya. Soojung memejamkan matanya, berusaha menahan air mata yang ingin mengalir keluar dari pelupuk matanya.

Soojung membuka halaman tengah buku itu, dan memandang selembar kertas berisikan tulisan tangan acak.

‘Setiap hari dihabiskannya untuk memikirkan gadis itu. Gadis yang sudah merenggut separuh hidup laki-laki itu’

‘Dia adalah jantungku. Jika tidak ada dia, aku akan mati. Dan memang. Selama ini aku hidup tanpa jantungku. Aku sekarang tengah mencari jantungku, yang sudah dibawa oleh gadis itu’

‘Kenapa kau membuangnya? Membuang perasaan yang dulu pernah kau simpan untukku? Tidak taukah kau bagaimana artinya hal itu untukku?’

‘Gadis itu tidak bisa mengungkapkannya. Perasaan yang sudah bertahun-tahun Ia rasakan pada laki-laki yang selama ini hidup bersamanya namun tak menganggapnya apapun itu. Ia begitu mencintai laki-laki itu, tapi tidak berani, dan tidak ingin mengungkapnya’

‘Pada akhirnya gadis itu hanya tersenyum melihat laki-laki yang Ia sayangi pergi menjauh. Meninggalkannya tanpa memberinya kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya itu. Gadis itu membiarkan Ia terlupakan, dan belajar melupakan perasaannya’

Soojung menutup buku itu. Dengan perasaan campur aduk memasukkannya ke dalam loker. Gadis itu menutup pintu lokernya, menyandarkan kepalanya di pintu loker, mengatur nafas, berusaha menahan air mata yang sejak tadi ingin keluar.

Gadis itu berbalik, dan tersentak saat tanpa sengaja Ia menabrak seseorang.

“Aish..”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

13 thoughts on “Forgotten part 2

  1. heyitsbii berkata:

    ohhh jadi pas malam itu bus yg dipake soojung kecelakaan ? kasian dong soojung, gabisa nyanyi lagi pdhl suaranya merdu. soojung ikut sekolah seni gara2 sehun ? soojung suka baca novel gara2 sehun juga ? trs sehun knp gainget sama soojung ? harusnya kan soojung yg lupa sama sehun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s