Bangtan’s Story [Rap Monster’s Version] :Where did you come from? [2/2]

BTS - Where did you come from

Tittle  : Where did you come from?

Author  : Ohmija

Main Cast  : Rap Monster BTS, Jinny Park

Support Cast  : V, Jungkook, Jin, Suga, Jhope, Jimin BTS, Shannon William, Wendy & Seulgi Red Velvet, Seunghee CLC, Kim Jisoo,

Genre  : Romance, School Life, Friendship

Namjoon memberikan sekaleng minuman dingin pada Jinny kemudian menjatuhkan diri di samping gadis itu. Keduanya menduduki sebuah kursi yang menghadap tepat ke arah Sungai Han.

Ayah Jinny sebenarnya adalah keturunan Korea-Amerika tapi ini adalah pertama kalinya ia pergi ke tempat kelahiran neneknya itu. Dia pikir, Korea adalah tempat yang kuno dan jauh dari hiruk pikuk seperti Amerika. Tapi ternyata dia salah, walaupun tidak seramai Amerika tapi tempat ini terasa nyaman. Dia bisa melihat pemandangan indah dan semua tempat terlihat sangat bersih. Perlahan-lahan, dia mulai menyukai tempat ini.

“Apa yang sedang kau pikirkan?”tanya Namjoon pada gadis itu.

Jinny mengerjap, “Tidak. Hanya mulai terbiasa dengan tempat ini.”

“Apa kau menyukainya?”

“Aku suka.” Ia menganggukkan kepalanya pelan.

Keduanya kemudian diam. Sama-sama menatap ke depan, kearah sungai yang sangat terkenal di Korea itu. Pada kapal-kapal yang sedang menyebrang dan orang-orang yang berlalu-lalang.

“Aku minta maaf.” Setelah beberapa saat, suara Jinny terdengar kembali. “Aku minta maaf untuk waktu dimana kita pertama kali bertemu.”lanjutnya. “Termasuk yang di sekolah waktu itu.”

Gadis itu meletakkan kaleng minumannya di sampingnya dan terus menatap ke depan, “Mungkin sikapku sedikit tidak sopan padamu. Tapi, aku punya alasan melakukan itu.” Namjoon menoleh, menatap sisi wajahnya dengan kening berkerut. “Seumur hidupku, aku selalu dijaga oleh bodyguard. Aku tidak bisa bergaul dengan bebas dan tidak bisa jalan-jalan. Ayah selalu melarangku jika aku pergi keluar sendirian. Karena itu aku tidak menyukainya ketika mendengar aku akan di beri seorang bodyguard lagi.”

“Mungkin ayahmu sangat menyayangimu jadi dia selalu ingin menjagamu.” Namjoon mencoba menghiburnya. “Kau tidak tau, kan, jika mungkin saja terjadi sesuatu yang buruk padamu ketika kau sedang sendirian.”

“Alasannya bukan itu.” Jinny menggeleng sambil tersenyum miris. “Karena kakakku meninggal setelah diculik.” Ia mengarahkan tatapannya ke bawah. “Dia meninggal.”

Mata Namjoon membulat lebar. Apa? Meninggal? Di culik?

“Waktu itu ketika kami masih kecil. Kakakku diculik ketika ia berada dalam perjalanan pulang ke rumah setelah pulang sekolah. Penculiknya meminta uang tebusan dan setelah ayahku memberikan uang tebusan itu, kakakku justru di bunuh.” Nada sedih terdengar jela di balik ucapannya. “Sejak itu, ayahku menjadi trauma dan melarangku berjalan-jalan sendirian.”

Namjoon masih terdiam. Tidak tau apa yang harus ia katakan karena dia begitu terkejut atas pengakuan itu. Itu bukan masalah sepele, bahkan ayahnya mengalami trauma hebat.

“Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan hal ini padamu tapi aku benar-benar menyesal atas sikapku waktu itu. Sejak kecil, aku tidak mengerti bagaimana caranya bergaul. Aku tidak tau bagaimana seharusnya aku bersikap di depan orang asing karena aku tidak pernah memiliki seorang teman. Tapi tadi, ketika kau memperkenalkanku pada teman-temanmu, aku jadi menyesal. Harusnya aku bersyukur karena kau adalah orang yang menjagaku.” Jinny mengangkat tatapannya, menatap lurus Namjoon sarat terima kasih. “Terima kasih, sunbae.”

Ada rasa haru di dalam diri Namjoon ketika ia mendengar ucapan Jinny. Ini adalah pertama kalinya ia memanggilnya dengan sebutan ‘sunbae’ dan hal itu cukup membuatnya senang.

Namjoon tersenyum, “Tidak perlu memanggilku sunbae. Mulai sekarang, kau bisa menganggapku sebagai seorang teman.”

***___***

Namjoon membawa Jinny ke café sore harinya, memperkenalkan gadis cantik itu pada teman-temannya yang lain. Jungkook, Suga dan Seulgi yang berdiri di belakang etalase tersenyum geli melihat itu. Terlihat jelas jika Namjoon sedang bahagia.

“Aku rasa aku tidak cocok menjadi kekasih Wendy. Aku bukan orang Amerika.”seru Suga membuat Jungkook terkekeh.

“Kau memang lebih cocok jadi pembantunya.”

Suga langsung mendelik, “Apa maksudmu?”

“Mereka sangat serasi ya.”sahut Seulgi.

“Sepertinya hanya kau yang akan tersisa.”ejek Suga lalu merangkul pundak Jungkook. “Hati-hati, kau bisa saja berakhir di tangan sesaeng fans mu itu.”

“Hentikan!” Jungkook melepaskan rangkulan Suga di pundaknya. “Jangan bicara yang tidak-tidak.”

“Anak kelas 2-5 itu ya?” timpal Seulgi. “Tapi dia cukup cantik.”

Jungkook melirik sinis kearahnya, “Kau jangan menambahi. Sudahlah, aku mau bekerja.”

Wendy dan Jin muncul terakhir kali di tempat itu. Wendy langsung mengambil alih kursi yang ada di samping Namjoon sementara Jin duduk setelahnya. Keduanya sama-sama terkejut begitu melihat Namjoon dan Jinny, terutama Wendy yang belum pernah melihat gadis itu sebelumnya.

“Kau bilang kau akan datang terlambat.” Jin mengambil minuman Jimin dan meminumnya. “Tapi kau berada disini sebelum aku.”

“Aku berubah pikiran.” Namjoon tersenyum lebar.

“Kau pasti lelah, kan? Minum ini.” Suga datang dan menghidangkan segelas minuman dingin untuk Wendy.

Gadis itu mendongak, “Terima kasih, honey!”serunya dengan nada manis.

Jin mencibir, “Mana minumanku?”

“Kau bisa meminta Seulgi membuatkannya.” Suga mengendikkan bahunya cuek.

“Ya, kau menghabiskan minumanku!” Jimin memeriksa isi gelasnya dan ternyata Jin hanya meninggalkan beberapa potong es batu di dalamnya. “Aku haus!”

“Kau kan bisa memesan lagi.” balas Jin tak mau kalah. Kemudian ia menoleh ke belakang. “Chagiyaa, aku haus.”

“Jangan berteriak seperti itu pada Seulgi.” Seunghee yang duduk cukup dekat dengan Jin memukul kepalanya. “Pergi kesana dan pesan dengan sopan.”suruhnya membuat Jin langsung membulatkan matanya lebar-lebar.

“Kau memukulku? Barusan kau memukulku?”

Yang lain tertawa, “Seunghee jjang.” Jisoo emberikan dua ibu jarinya untuk gadis itu.

“Ngomong-ngomong, siapa dia oppa?” Wendy akhirnya bertanya karena tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi.

“Oh, oppa belum memperkenalkannya padamu. Dia Jinny. Junior oppa di sekolah sekaligus teman sekelas Jungkook dan Jimin.”

Jinny tersenyum sambil mengulurkan tangannya, “Aku Park Jinny. Kau pasti Wendy, kan? Tadi kami membicarakanmu.”

“Iya aku Wendy.” Wendy balas tersenyum.

Jin mendekatkan dirinya kearah Wendy dan berbisik, “Dia adalah gadis yang harus dijaga oleh Namjoon.”

Seketika mata Wendy membulat, “Apa?!”pekiknya.

“Ya, apa yang kau bisikkan padanya?”dengus Suga. “Jangan dengarkan dia.”

“Jadi kau yang sudah memarahi Namjoon oppa? Kau yang mengusirnya waktu itu?!” Wendy berdiri dari duduknya sambil berkacak pinggang. Sikapnya membuat yang lain hanya bisa mengerjap, mereka tidak menyangka jika gadis selembut Wendy ternyata bisa memarahi seseorang.

“Wendy, dia sudah minta maaf. Waktu itu hanya salah paham.” Namjoon menarik lengan adiknya, menyuruhnya untuk duduk kembali. “Jangan marah padanya.”

“Oppa, tapi dia yang memarahi oppa waktu itu!”

“Iya, tapi itu hanya salah paham.” Namjoon kembali menjelaskan.

“Wendy, aku minta maaf. Aku tidak bemaksud berbuat kasar waktu itu.”ucap Jinny sedikit menyesal. “Aku minta maaf, Wendy.”

“Huh!” Wendy melipat kedua tangannya di depan dada sambil membuang pandangan.

Suga mengulurkan tangan, menghusap lembut kepala kekasihnya itu, “Kau bilang seseorang akan jadi jelek ketika dia sedang marah. Sekarang, kau tidak boleh marah karena kau adalah gadis yang cantik.”

Rayuan Suga barusan lantas membuat Jin yang duduk di sebelah mereka langsung berdiri meninggalkan kursinya. Jika dia terus berada disana, mungkin dia akan memukul anak itu. Rayuannya menjijikan.

“Honey, tapi dia yang—“

“Sekarang dia adalah teman kita. Mengerti?” potong Suga kini menggenggam kedua tangan Wendy. “Dengarkan aku, ya.”

Wendy akhirnya menghela napas panjang, “Baiklah.” membuat Suga langsung tersenyum dan mengacak rambutnya. “Baiklah, aku memaafkanmu. Tapi jika kau memarahi oppaku lagi, aku akan—“

“Tidak akan!” Jinny menggeleng yakin. “Mulai saat ini aku akan bersikap baik.”

***___***

Sudah jam 10 malam ketika akhirnya Namjoon mengantar Jinny pulang. Hari ini sangat lelah namun sangat menyenangkan. Mereka berbicara dan tertawa bersama hingga waktu terasa berlalu sangat cepat.

Jinny mendapati teman-teman Namjoon adalah orang-orang yang baik dan menyenangkan. Taehyung yang nakal, Jungkook yang menyebalkan, Jin yang kekanak-kanakkan, Suga yang dewasa, Jisoo yang manja, Jimin yang selalu mengalah, Seunghee yang galak, Hoseok yang jahil, Wendy yang manis dan Seulgi yang cantik.

Mereka memiliki kepribadian yang berbeda-beda namun sangat kompak. Ini adalah pertama kalinya Jinny berkumpul dengan seseorang yang mereka panggil teman. Dia ingin melakukannya lagi. Sesering mungkin.

“Kita sudah sampai.” Namjoon menghentikan langkah di depan pintu gerbang rumah Jinny, menoleh kearahnya dan tersenyum.

“Terima kasih, sunbae.”

“Kau sangat berani tinggal di rumah sebesar ini sendirian.”

“Aku sedang membiasakan diri.”

“Kau memasang pengaman, kan? Jika ada apa-apa, hubungi aku, mengerti?”

Jinny mengangguk, “Aku mengerti.”

“Kalau begitu aku pulang dulu.” Belum sempat Jinny membalas, Namjoon buru-buru melanjutkan ucapannya. “Maksudku…aku akan pergi ke taman Hangang.”

“Bermain basket?”

“Iya. Yang lain mengajakku bermain.”

“Bukankah besok kita masih harus pergi ke sekolah?”

Namjoon terkekeh, “Aku bisa mengurus itu. Aku pergi dulu.”

***___***

Yourgenie : Aku telah memiliki seorang teman ^o^

MonsterJoon : Benarkah? Selamat!

Yourgenie : Ini pertama kalinya seumur hidupku aku memiliki seorang teman. Aku sangat senang.

MonsterJoon : Aku senang karena akhirnya kau tidak kesepian. Aku harap temanmu itu bisa menjagamu dengan baik.

***___***

“Masuk!” Jungkook menjerit begitu melihat Jin berhasil memasukkan bola ke dalam keranjang. “Tiga point!”

“Aish, sudah ku bilang oper padaku!”omel Taehyung memarahi Hoseok yang ceroboh.

“Kau kan tau dia adalah pemain basket, jangan biarkan dia menangkap bola!” Jimin menimpali.

Hoseok yang di marahi oleh dua orang temannya menjadi kesal, “Ya, jangan menyalahkanku. Ini salahnya karena dia tidak menangkap dengan baik.” Ia menunjuk Jimin.

“Aku menjaga Jin di sana, kau harusnya mengoper pada Taehyung!” Jimin mengelak.

“Kau tidak bisa menjaga Jin dengan baik karena kakimu pendek!”

Mata Jimin sontak membulat, “Kau bilang apa? Kakiku pendek? Kau cari mati?!”

Jungkook terkekeh sambil melerai Hoseok dan Jimin, “Jangan menyinggung soal tinggi badan, itu adalah perbuatan illegal. Kau bisa di penjara nanti.” Ia merangkul pundak Jimin, mencoba menghibur sahabatnya itu.

“Hey, jangan macam-macam dengannya, walaupun dia kecil, ototnya lebih besar darimu. Kau mau dia berubah jadi Hulk?”canda Taehyung juga merangkul pundak Hoseok.

“Baiklah. Baiklah. Maafkan aku.” Hoseok menyerah.

“Yang jelas kami menang, tepati janji kalian untuk mentraktir kami minuman besok.” Jin mengeluarkan botol minuman dari dalam tas dan meneguk airnya. Kemudian menjatuhkan diri di pinggir lapangan.

“Dasar menyebalkan, dia sombong sekali.”cibir Taehyung.

Suga merentangkan kedua tangannya keatas lalu merebahkan diri di tengah lapangan, “Aku lelah sekali. Pinggangku rasanya ingin putus.”

“Sudah ku bilang, harusnya kau menjadi wasit saja.”seru Namjoon yang hari ini mengambil alih posisi wasit.

“Jika tidak bermain basket, tubuhku akan menjadi lebih sakit.”

“Apa kau juga bergabung dalam klub basket sekolah? Permainanmu sangat bagus.”ucap Jin.

“Aku tidak punya waktu untuk mengikuti hal-hal seperti itu.” gumam Suga dengan mata tertutup dan masih dalam posisi berbaring di lapangan. “Jika main basket bisa menghasilkan uang, aku akan melakukannya.”

“Yang ada di kepalanya hanya uang, harusnya kau tidak bertanya tentang hal itu.”cibir Taehyung.

Tiba-tiba ponsel Namjoon berdering. Pria itu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jaketnya. Keningnya seketika berkerut ketika ia membaca nama Jinny yang tertera di layarnya.

“Yeoboseyo.”serunya menjawab panggilan. “APA?!” Sontak yang lain langsung memalingkan pandangan mereka kearah Namjoon begitu mendengarnya memekik. “Tunggu disana! Aku akan segera datang!”

“Ada apa?” Jimin menangkap ekspresi khawatir Namjoon.

“Seseorang mencoba membobol rumah Jinny. Aku pergi dulu!”

Namjoon memakai tas ranselnya lalu berlari secepat mungkin. Tak perlu membutuhkan waktu lama, yang lain juga bergegas. Mereka langsung bangkit dan mengikuti langkah Namjoon.

Sebisa mungkin, ia mempercepat langkah kakinya untuk segera sampai di rumah Jinny. Baru saja dia mengkhawatirkan gadis itu karena tinggal sendirian dan sekarang akhirnya kekhawatirannya menjadi kenyataan.

Tak lama, setelah memaksa kakinya untuk terus berlari hingga rasanya ia telah melawan ruang dan waktu, Namjoon sampai di rumah itu. Ia menerobos masuk, mendobrak pintu utama yang masih terkunci dari dalam. Di belakangnya yang lain juga muncul dan langsung berpencar ke seluruh bagian luar rumah.

“Jinny!” Hal pertama yang ia lakukan adalah mencari gadis itu dan memastikan keadaannya. “Jinny!” Namjoon naik ke lantai dua dengan menaiki tiga anak tangga sekaligus.

“Sunbae!”

Gadis itu berlai keluar kamarnya ketika mendengar suara Namjoon dan langsung memeluk pria itu sambil menangis.

“Ada seseorang yang berusaha masuk.”isaknya di pundak Namjoon. “Dia memecahkan lampu taman. Aku sangat takut.”

Namjoon menepuk-nepuk punggung gadis itu, mencoba menenangkannya, “Aku sudah datang. Kau aman sekarang. Tenanglah. Jangan menangis lagi.”

***___***

Namjoon memberikan segelas air mineral untuk Jinny begitu ia sudah sedikit tenang. Pria itu kemudian menjatuhkan diri di sebelahnya, menatap sisi wajahnya yang memucat.

“Kau tidak apa-apa?”

Jinny mengangguk pelan sambil meletakkan gelasnya keatas meja, “Aku sudah tidak apa-apa.”

“Dua lampu taman pecah.” Jungkook melaporkannya pada Namjoon. “Aku rasa pencuri.”

“Dia mencoba menerobos masuk melalui pintu dapur.”sahut Taehyung. “Aku memeriksanya dan gagang pintunya rusak.”

“Apa di rumah ini tidak ada alarm?” Jin duduk di salah satu sofa. “Harusnya kau memasang alarm.”

“Ayah bilang dia sudah memasangnya.”

“Lalu kenapa tidak berbunyi? Apa alarmnya rusak?”

Jinny menggeleng pelan, “Aku tidak tau.”

“Aku akan pergi ke kantor polisi untuk melaporkan hal ini.” Suga berinisiatif.

“Tapi ini sudah malam.”cegah Jinny karena merasa tidak enak telah merepotkan mereka.

“Lebih cepat lebih baik. Jika menunggu besok pagi, mungkin pencuri itu akan egera kabur.” Kemudian Suga menoleh kearah Namjoon. “Aku akan segera kembali.

“Aku akan menemanimu.”sahut Hoseok. “Ayo.”

“Kita tidak bisa membiarkannya tidur sendirian malam ini, sangat berbahaya.”ucap Taehyung.

“Aku akan berjaga.”balas Namjoon cepat membuat yang lain sedikit terkejut.

“Ha?”

”Aku akan berjaga di luar.”

“Tidak perlu.” Jinny langsung menolak. “Aku tidak apa-apa. Tadi hanya sedikit shock, tapi sekarang aku tidak apa-apa. Besok kita harus pergi ke sekolah dan sunbae adalah murid tingkat akhir, aku—“

“Itu bukan masalah besar.”potong Jungkook cepat. “Kalau begitu, aku akan menemanimu malam ini, hyung.”

“Kau mau berjaga disini juga?” Taehyung mengerutkan keningnya menatap Jungkook. Jungkook mengangguk. “Baiklah, kalau begitu aku juga.”

“Jika kalian melakukannya, aku juga.” Akhirnya Jimin dan Jin ikut menyetujui usul itu.

“Tidak perlu. Sungguh. Aku tidak apa-apa jika berada sendirian disini. Aku tidakmau merepotkan kalian.”

“Kau tidak merepotkan.” Namjoon tersenyum. “Jika kau menjadi salah satu dari kami, maka ini yang akan kami lakukan.”

“Sunbae tapi—“

“Jangan membantah. Ini benar-benar bukan masalah bagi kami.”

“Kalau begitu aku akan pulang untuk mengambil seragamku.” Jungkook beranjak dari duduknya. “Hyung, berikan kunci rumahmu agar aku bisa mengambil seragammu juga.”

Namjoon mengeluarkan sebuah kunci dari dalam saku celanannya dan melemparnya pada Jungkook, “Terima kasih, Kookie.”

“Bayar aku dengan ddokbukkie.”ucapnya. “Seperti biasa.”

Namjoon terkekeh, “Baiklah.”

“Aku juga harus mengambil seragamku kalau begitu. Ayo, aku akan menemanimu.” Jin menggerakkan kepalanya, memberi isyarat pada Jungkook.

Jungkook melirik kearah Taehyung dan Jimin, “Bagaimana dengan kalian?”

“Aku akan menyuruh asisten ayahku untuk mengantar seragamku besok.”jawab Taehyung.

“Aku juga akan meminta Jisoo mengantarnya untukku.”sahut Jimin.

“Baiklah. Kami pergi dulu.”

***___***

Yourgenie : Ini aneh karena aku benar-benar merasa nyaman dengan seseorang.

MonsterJoon : Maksudmu?

Yourgenie : Seperti…aku selalu ingin bersamanya.

MonsterJoon : Kau jatuh cinta?

Yourgenie : Benarkah? Aku tidak tau.

MonsterJoon : Jika kau selalu ingin bersamanya, itu artinya kau sedang jatuh cinta.

 

Yourgenie : Aku tidak tau karena aku tidak pernah merasakannya. Tapi, dia selalu ada untuk melindungi. Tak perduli apapun, dia selalu saja ada ketika aku berada dalam kesulitan.

 

MonsterJoon : Dia pasti sangat keren.

 

Yourgenie : Sedikit ^^ Apa kau pernah jatuh cinta?

MonsterJoon : Entahlah. Itu sulit.

 

Yourgenie : Kenapa?

 

MonsterJoon : Aku terlalu sibuk bekerja sehingga aku tidak memiliki waktu untuk melakukannya.

Yourgenie : Kau harus segera menemukannya.

 

***___***

Hari sudah hampir pagi ketika Namjoon masih terjaga di ruang tamu Jinny. Ia menyuruh Jinny untuk tidur dan tidak mengkhawatirkan apapun sementara ia dan yang lain berjaga di ruang tamu.

Awalnya, mereka memutuskan untuk bermain permainan agar bisa terjaga hingga pagi tapi ternyata saat ini semuanya sudah tertidur lelap, kecuali Namjoon.

Pria itu hanya menghela napas menatapi teman-temannya yang tidur di lantai dan sofa panjang, mereka berhimpit-himpitan seperti ikan yang baru di tangkap.

“Dasar, kalian bilang kalian akan menemaniku.”cibirnya.

Tidak seperti yang lain, Namjoon tiba-tiba kehilangan rasa kantuknya malam itu. Dia sangat was-was, bagaimana jika pencuri itu kembali ketika mereka tertidur? Dia tidak boleh kehilangan kewaspadaannya.

Namjoon menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa yang paling kecil karena seluruh tempat telah di kuasai oleh teman-temannya. Ia sedang mencoba memejamkan matanya, setidaknya dia harus tidur walaupun hanya satu jam.

“Sunbae?”

Namun, baru satu detik memejamkan matanya, ia mendengar sebuah suara.

“Jinny?” Ia langsung menegakkan tubuhnya kembali begitu melihat gadis itu menuruni anak tangga. “Kau sudah bangun? Cepat sekali.”

“Aku tidak bisa tidur sebenarnya.” Ia menggaruk belakang kepalanya kikuk. Sama halnya dengan Namjoon, malam itu dia kehilangan rasa kantuknya. Bukan karena ketakutan tapi karena di rumahnya sedang ada banyak orang dan mereka semua adalah laki-laki.

Apa ini namanya persahabatan? Jadi memiliki teman itu seperti ini?

“Oh? Mereka masih tidur?” Jinny menatapi orang-orang yang sedang memenuhi ruang tamunya.

“Suara dengkuran mereka pasti mengganggumu ya? Maaf, kami adalah laki-laki jadi—“

“Tidak.” Jinny langsung menggeleng. “Sama sekali tidak mengganggu. Aku bisa memakluminya.”

“Benarkah?”

“Emp.” Jinny mengangguk. “Apa sunbae sudah bangun? Atau belum tidur?”

“Aku juga tidak bisa tidur.” Namjoon tersenyum. “Sepertinya aku terganggu dengan dengkuran mereka.”serunya berbohong.

Keduanya kemudian terdiam. Selain mereka tidak tau apa yang harus mereka katakan, tempat itu juga bukan tempat yang bagus untuk berbicara, Suara mereka tertelan oleh suara dengkuran yang lain.

“Ehm…Jinny?”ucapnya setelah beberapa detik diam.

“Ya?”

“Bagaimana jika kita bicara di balkon? Lagipula jam sekolah masih beberapa jam lagi.”

Jinny berpikir sejenak, “Oke. Tunggu sebentar, aku akan membuatkan cokelat panas.”

***___***

“Aku ingin minta maaf padamu tentang sikap Wendy. Dia memang sedikit kekanak-kanakkan jadi yeaah…dia memarahimu tadi.” Namjoon membuka pembicaraan diantara mereka.

Jinny terkekeh, “Aku justru berpikir jika Wendy sangat manis. Dia marah karena aku memarahi sunbae waktu itu. Itu wajar.”

“Tetap saja…” Namjoon mengendikkan kedua bahunya. “Aku harap kau bisa berteman baik dengannya. Sebenarnya dia adalah gadis yang baik.”

“Aku tau itu.” Jinny mengangguk lalu menoleh, menatap sisi wajah Namjoon. “Aku juga ingin berterima kasih pada sunbae karena sunbae telah memperkenalkanku pada mereka. Aku sangat senang karena ini adalah pertama kalinya aku memiliki teman. Rasanya sangat aneh tapi juga menyenangkan. Terima kasih, sunbae.”

Namjoon tersenyum, “Kenapa berterima kasih? Itu bukan apa-apa. Aku juga senang karena sahabatku bertambah satu. Semakin banyak semakin menyenangkan.”

“Bagaimana jika besok sepulang sekolah kita berkumpul lagi? Seperti tadi.”

“Kau menginginkannya?”

Jinny mengangguk-anggukkan kepalanya, “Aku ingin mengobrol lagi. Ah ya, aku juga belum bertemu dengan kekasih Taehyung. Mereka bilang namanya adalah Shannon.”

“Dia juga sibuk bekerja sehingga tidak sering berkumpul dengan kami. Tapi terkadang, dia datang karena Taehyung terus memohon.” Namjoon terkekeh. “Dia seperti Seunghee, cukup galak namun sebenarnya sangat manis.”

“Benarkah?” Jinny tersenyum lebar.

“Dia juga sepertimu dan Wendy, dia memiliki darah campuran.”

“Aku harap aku bisa bertemu dengannya juga nanti.” Mendengar itu Jinny semakin bersemangat.

Namjoon tersenyum menatap gadis yang sedang tersenyum lebar itu. Apa saat ini dia sedang menunjukkan sosok aslinya? Dia jauh berbeda ketika mereka pertama kali bertemu waktu itu. Kali ini yang ada di depannya adalah Jinny yang polos.

Menyadari seseorang sedang memperhatikannya, Jinny menoleh, ia menatap Namjoon dengan kening berkerut, “Kenapa sunbae memandangku?”

“Ah! Tidak.” Namjoon terkejut karena Jinny menangkap basah dirinya. Ia langsung mengalihkan wajah dan melirik arlojinya, “Sebentar lagi sudah saatnya pergi sekolah. Sebaiknya kau bersiap-siap.”

***___***

Seulgi menemani Jisoo menuju rumah Jinny untuk mengantarkan baju seragam Jimin. Keduanya terkejut begitu mendengar jika semalam seorang pencuri mencoba untuk membobol rumahnya.

“Tapi kau tidak apa-apa, kan?”tanya Seulgi memastikan.

Jinny menggeleng, “Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit shock.”

“Berbahaya sekali. Kau harus lebih berhati-hati ya.”

“Jangan khawatir, Seulgi. Suga telah melaporkan hal itu pada pihak kepolisian.”

“Chagiyaa, aku sudah siap!” Jin muncul di ruang tamu, pria iru begitu saja duduk di samping kekasihnya itu dan memeluknya dari samping.

Seulgi langsung melotot, “Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan?!” gadis itu mendorong tubuh Jin lalu pindah tempat duduk ke samping Jisoo.

“Ya, kenapa kau pindah?”

“Jangan dekat-dekat denganku!”ketus Seulgi.

“Aku hanya ingin memeluk kekasihku. Memangnya tidak boleh? Ini adalah pertama kalinya kita bertemu pagi-pagi seperti ini.”

Seulgi hanya mendengus lalu membuang pandangan.

Jisoo terkekeh, “Oppa, kau begitu menakutkan.”

Tak lama, yang lain juga muncul dan berkumpul di ruang tamu setelah selesai memakai seragam mereka.

“Aku, Suga dan Hoseok akan pergi sekarang. Sekolah kami lebih jauh.”

Namjoon mengangguk, “Hati-hati.”

“Jinny, kami pergi dulu.”

“Hati-hati dan terima kasih.”

“Jisoo, bisakah kau merapikan dasiku?” Jimin mendekati gadis cantik itu lalu mendongakkan wajahnya. Jisoo mengulurkan tangannya dan merapikan dasi serta kerah baju Jimin membuat Jin langsung mencibir kearah Seulgi.

“Jangankan merapikan kerah bajuku, kau bahkan menjauhiku sekarang. Menyebalkan.”

Yang lain sontak tertawa geli, “Kau sedang cemburu?” Namjoon menepuk sebelah pundak sahabatnya.

Jisoo menoleh, “Sejak tadi dia seperti itu.” lalu tertawa.

“Sudahlah! Jangan bicara denganku! Aku akan pergi duluan!” Pria tinggi itu berdiri dan meraih tas ranselnya kemudian berjalan dengan kesal.

Yah, sejak menjalin hubungan dengan Seulgi, mereka justru semakin jarang bertemu. Seulgi memutuskan untuk berhenti bekerja di rumahnya dan bekerja paruh waktu di café. Tempat mereka bisa bertemu hanya sekolah.

“Seulgi, sepertinya dia benar-benar marah.” Jinny menyenggol bahu Seulgi pelan.

“Biarkan saja. Dia memang seperti itu.”

“Ya, kejar dia. Dia benar-benar pergi sendirian.”suruh Namjoon.

Seulgi menghela napas panjang,. “Oppa, dia memang seperti itu.”

“Cepatlah.”

Akhirnya Seulgi menurut, ia berdiri dan mengejar langkah kekasihnya. Yang lain juga menyusul di belakang, mereka berjalan menuju halte bus bersama.

Jin terlihat sedang duduk di halte seorang diri menunggu bus. Melihatnya, Seulgi setengah berlari menghampiri pria itu. Jin mendongak begitu menyadari kehadiran Seulgi yang sudah berdiri di hadapannya.

“Mau apa kau?”ketusnya.

Seulgi tersenyum lebar, “Menunggu bus.” Ia mulai menggoda pria itu.

“Tsk,” Jin membuang pandangannya, masih kesal.

“Berhentilah bersikap kekanak-kanakkan. Kau tidak jauh berbeda dengan Taehyung.”ejek Namjoon begitu sampai.

“Memangnya itu urusanmu?”balas Jin.

“Ck, dasar. Dia memang seperti anak-anak.”cibir Namjoon.

Jinny terkekeh, “Tapi Jin sunbae sangat lucu.”

“Lucu?” Jimin sedikit tidak setuju dengan ucapan Jinny.

Seulgi mengulurkan tangannya dengan senyum, “Busnya sudah datang. Ayo. Jangan marah lagi.”

Jin mendongak sekali lagi, di tatapnya senyuman kekasihnya itu sesaat. Hanya membutuhkan waktu sekitar 3 detik, Jin membalas uluran tangan itu. Pria itu berdiri dan menggandeng tangan kekasihnya masuk ke dalam bus.

“Ayo.”

Namjoon semakin mendengus, “Dia berubah hanya dalam waktu 3 detik.”

***___***

Jika di pikir-pikir, ini sudah hari kelima belas sejak Namjoon menjadi bodyguardnya. Ah bukan, sahabatnya. Dalam waktu lima belas hari, Jinny sedikit mengetahui tentang kepribadian Namjoon. Dia sangat dewasa karena mungkin dia adalah yang tertua bersama dengan Jin. Dia juga memiliki charisma yang membuat teman-temannya menghormatinya dan menganggapnya seperti Big Brother. Terutama Jungkook yang benar-benar mendengarkannya.

Namjoon memiliki jiwa pemimpin yang secara alami keluar ketika mereka berjalan-jalan bersama. Dia akan memimpin jalan dan menunjukkan tempat-tempat menarik di Seoul. Jinny menemukan kenyamanan setiap kali bersamanya.

“Hyung, kau sungguh-sungguh melakukan itu? Setiap hari?” Mata Jungkook dan Suga membulat lebar, keduanya duduk menghimpit Namjoon di taman Hangang.

“Hyung, jika kau terus tidur selama 2 jam setiap hari, kau bisa mati.”sahut Suga.

“Jin hyung bilang kau juga sering tertidur di kelas. Ya, kau sudah berada di tingkat akhir, hyung!”

“Lalu apa yang harus aku lakukan?” Namjoon mendesah panjang. “Aku terus khawatir jika aku tidak melakukannya.”

“Hyung, jawab aku dengan jujur.” Jungkook menatap Namjoon penuh curiga. “Kau menyukai Jinny, kan?”

Namjoon langsung menatap Jungkook dengan mata terbelalak, “Apa kau bilang?”

“Sungguh? Kau menyukainya?” sahut Suga ikut terkejut.

“Iya kan? Kau menyukainya. Karena Itu kau selalu ingin menjaganya.”

“Jungkook, kau—“ Namjoon kehilangan kata-katanya.

Jungkook menghela napas panjang, “Tapi walaupun kau menyukainya kau tidak perlu melakukan itu. Kita sudah melapor pada pihak kepolisian dan wilayah rumahnya sudah di tambah dengan sistem keamanan. Kau tidak perlu khawatir,”

“Setidaknya, biarkan aku melakukannya hingga ayahnya datang.”

“Maksudmu…kau mau melakukannya hingga 15 hari lagi, begitu?” Jungkook mengacak rambutnya frustasi. “Astaga hyung, kau membuatku gila!”

***___***

MonsterJoon : Kita jarang berbicara sekarang. Apa kau sibuk?

Yourgenie : Maafkan aku T.T. Apa kabarmu?

MonsterJoon : Buruk.

Yourgenie : Kenapa?

MonsterJoon : Aku sedang jatuh cinta.

Yourgenie : kenapa itu buruk?

MonsterJoon : Karena aku rasa aku tidak akan bisa menggapainya. Dia sangat jauh.

Yourgenie : Dimana dia tinggal?

MonsterJoon : Bukan itu maksudku. Tapi, aku menyukai bosku sendiri.

Yourgenie : Sungguh? Jadi kau menyukai wanita yang lebih tua?

MonsterJoon : Dia lebih muda dariku. Dia juga juniorku di sekolah.

Yourgenie : Dia masih sangat muda tapi dia sudah menjadi bos?

MonsterJoon : Begitulah.

Yourgenie : Kau sudah mencoba mengutarakan perasaanmu?

MonsterJoon : Aku tidak berani melakukannya.

Yourgenie : Kau harus mencobanya lebih dulu. Mungkin dia punya perasaan yang sama.

MonsterJoon : Entahlah. Lalu bagaimana denganmu?

Yourgenie : Aku belum yakin jika aku benar-benar jatuh cinta.

MonsterJoon : Kenapa?

Yourgenie : Mungkin karena aku tidak pernah merasakan hal itu sebelumnya jadi aku tidak tau.

MonsterJoon : Ketika jantungmu berdebar-debar tanpa alasan, itu adalah cinta.

***___***

Jungkook dan Suga berbohong ketika mereka mengatakan jika mereka ingin pulang. Mereka mengikuti Namjoon hingga rumah Jinny dan bersembunyi di sebuah tembok. Keduanya tidak bisa melakukan apapun karena Namjoon tetap bersikeras ingin pergi.

Yah, sejak kejadian pencurian itu, Namjoon selalu berjaga di depan rumah Jinny secara diam-diam. Dan ketika hari sudah hampir pagi, barulah dia kembali ke rumah.

“Haruskah kita menemaninya?” Suga menatap Jungkook.

“Kau pulang saja. Biar aku yang menemaninya.”

“Kau juga mau tidur selama dua jam, begitu?”balas Suga.

“Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian. Lihat saja, dia seperti orang bodoh.” Jungkook menunjuk Namjoon dengan dagunya.

“Kalau begitu, biarkan aku menemani kalian juga.”

“Hey, kau murid beasiswa. Sebaiknya kau—“

“Sudahlah. Aku tidak perduli.”

Jungkook tidak mengatakan apapun lagi. Keduanya kemudian duduk bersandar pada tembok sambil terus memandangi Namjoon yang sedang memperhatikan rumah Jinny.

“:Apa dia benar-benar sedang jatuh cinta?”

***___***

MonsterJoon : Temanku bilang, ketika sedang jatuh conta kau akan menjadi bodoh. Aku tidak yakin apa aku benar-benar jatuh cinta. Tapi, setiap kali tidak melihatnya, aku merasa khawatir. Jadi setiap malam aku terus mengawasi rumahnya, menjaganya agar tetap aman. Aku bahkan hanya tidur selama 1 sampai 2 jam setiap harinya. Aku pikir, sebentar lagi aku akan berada di rumah sakit.

***___***

Jungkook langsung berdiri dari kursinya begitu bel istirahat berbunyi. Ah, dia harus tidur. Dia sudah tidak mampu lagi membuka matanya, sangat berat.

“Kau mau kemana?”tanya Jimin bingung.

“Kau pergi ke kantin dengan Jisoo saja. Aku ingin tidur.”jawabnya lalu berlalu. Begitu ia melewati bangku Jinny, ia berhenti sejenak. “Jinny, Namjoon hyung mencarimu. Sebaiknya kau temui dia.”

“Huh?” Jinny yang sedang merapikan buku-bukunya berseru bingung mendengar apa yang sedang di katakan oleh Jungkook tadi. Gadis itu berdiri dan bergegas meninggalkan kelas.

“Jinny, kau tidak ikut ke kanrin?”suara Jimin menghentikan langkahnya.

Jinny menoleh sambil menggeleng, “Kau duluan saja. Aku harus bertemu dengan Namjoon sunbae.”

Ia lalu berjalan menuju daerah kelas senior. Di koridor, tak sengaja ia bertemu dengan Jin. Pria itu pasti ingin menjemput Seulgi di kelasnya.

“Kenapa kau kemari?”tanyanya dengan kening berkerut.

“Aku mencari Namjoon sunbae. Apa dia ada di kelas?”

Jin menggeleng, “Dia ada di ruang Kesehatan.”

“Hah? Kenapa?” ia berseru kaget.

“Dia bilang dia ingin tidur.”jawab Jin. Pria itu kemudian tersenyum menyeringai, “Kenapa kau mencari Namjoon? Rindu padanya ya?”

“Jangan bicara yang tidak-tidak.” Jinny langsung mendengus. “Kalau begitu, aku pergi dulu.

Gadis itu setengah berlari menuju ruang kesehatan. Sesampainya disana, ia mendapati Namjoon sedang tertidur di atas ranjang. Keningnya lantas berkerut.

“Jungkook bilang dia mencariku.”gumamnya.

Takut-takut, Jinny mendekati pria itu. Ia menjatuhkan diri di atas ranjang yang ada di sebelahnya. Tangannya terulur, menggoyangkan lengan Namjoon pelan.

“Sunbae.”bisiknya. “Namjoon sunbae.”

Perlahan Namjoon membuka matanya, “Oh?” begitu melihat Jinny, ia langsung menarik diri dan duduk. “Jinny? Bagaimana kau tau aku ada disini?” Pria itu menghusap-husap matanya dan lalu menguap. “Ah, maafkan aku. Aku sedikit mengantuk.”

Jinny tersenyum, “Maaf karena aku mengganggu tidur sunbae. Tapi, aku kemari karena Jungkook bilang sunbae mencariku.”

“Hah?” Salah satu alis Namjoon terangkat. “Aku tidak mencarimu.”

Kini giliran Jinny yang terkejut, “Tapi Jungkook bilang—“

“Aish, dia pasti membohongimu.”

“Benarkah?”

“Dengar, semakin kau dekat dengan mereka, kau akan semakin sering dibohongi, jadi kau harus berhati-hati.”

Jinnya mengangguk sambil tersenyum, “Aku tau.”

Namjoon balas tersenyum, “Apa kau sudah makan?”

“Belum. Aku langsung kemari ketika Jin sunbae bilang sunbae ada disini.”

“Kalau begitu, sebaiknya kita pergi ke kantin sekarang. Aku juga belum makan.”

***___***

Namjoon dan Jinny melewati sebuah jalan yang di seluruh sisinya di tumbuhi dengan pohon sakura. Tempat itu terlihat seperti sedang hujan bunga karena bunga-bunga sakura berguguran, menghujani seluruh pejalan kaki.

Melihat itu, mata Jinny berbinar dan mulutnya ternganga lebar. Dia pikir pohon sakura hanya bisa tumbuh di Jepang, tapi ternyata di Korea juga ada!

Namjoon tertawa geli melihat ekspresi Jinny, “Mau berfoto? Aku akan mengambil fotomu.”

“Mau!” Jinny langsung mengangguk semangat.

Gadis itu berdiri menjauh, di bawah salah satu pohon sakura dan menunjukkan V sign di depan pipinya. Setelah mengambil gambar, gadis itu juga mengajak Namjoon untuk mengambil gambar bersama.

Keesokan harinya, mereka melewati jalan itu lagi, Keduanya berhenti sejenak untuk bersepeda, mengelilingi sebuah taman yang terletak di samping jalan itu. Menghampiri penjual permen kapas dan duduk bersama untuk beberapa saat.

Waktu benar-benar berlalu sangat cepat ketika seseorang sedang bahagia. Membuat seseorang membutuhkan tambahan waktu untuk setidaknya bisa merasakan kebahagaiaan itu sedikit lebih lama.

Untuk seorang gadis yang polos, dia tidak akan pernah menyadari perasaannya sendiri. Dia hanya merasa nyaman dan selalu ingin merasakan kenyamanan itu. Dia tidak menyadari jika waktu mereka tersisa 10 hari lagi.

Semuanya akan berakhir dalam 10 hari..

***___***

Yourgenie : Apa sekarang kau berada di depan rumah bosmu?

MonsterJoon : Iya. Sekarang, aku sedang menjaganya. Terima kasih karena kau mau menemaniku.

Yourgenie : Bukan masalah. Lagipula aku tidak mengantuk. Tapi, bukankah di luar sangat dingin? Apa kau tidak kedinginan?

MonsterJoon : Aku memakai jaket yang tebal. Jangan khawatir.

Yourgenie : Kau yakin tidak mau menyatakan perasaanmu?

MonsterJoon : Dia tidak akan percaya karena aku jatuh cinta padanya dalam waktu yang singkat. Lagipula aku yakin dia tidak akan mengerti tentang perasaan seperti itu. Dia sangat polos.

Yourgenie : Tapi, kau bilang dia sangat galak.

MonsterJoon : Awalnya. Sekarang dia sangat manis.

Yourgenie : Aku sangat terharu dengan perjuanganmu.

MonsterJoon : Aku hanya bisa melakukan hal ini karena aku tidak memiliki keberanian untuk menyatakannya. Aku harus memanfaatkan waktu kami karena masa kerjaku sudah hampir habis.

Yourgenie : Benarkah?

MonsterJoon : Yah, sebentar lagi aku akan kembali ke tempat kerja lamaku dan akan membuatku menjadi jarang bersamanya.

Yourgenie : Kalau begitu, kau harus segera menyatakannya!

MonsterJoon : Aku akan memikirkannya.

***___***

Namjoon terus memandangi sisi wajah Jinny yang sedang sibuk mengunyah makanannya dan langsung mengalihkan pandangan, berpura-pura sibuk ketika gadis itu menoleh kearahnya. Bagaimana caranya untuk mengatakannya? Bahkan jantungnya sudah berdebar-debar tak karuan hanya dengan memandangnya. Tiba-tiba dia menjadi lemah.

Menyatakan cinta itu bukanlah hal yang mudah untuk di lakukan semua laki-laki, bahkan untuk seseorang yang pemberani sekalipun, Butuh persiapan serta kematangan. Melakukan semua hal sebaik mungkin agar tidak di tolak.

Karena itu, setelah Namjoon mengantarkan Jinny pulang ke rumahnya, ia meminta teman-temannya untuk berkumpul. Kali itu, tidak ada gadis-gadis mereka yang terlihat di café itu. Semuanya hanyalah laki-laki.

“Jadi kau benar-benar menyukai Jinny?”tanya Jin tak percaya, Namjoon mengangguk. “Sejak kapan?” Kini pria itu menggeleng.

“Tiba-tiba aku hanya menyukainya.”

“Kenapa tidak kau nyatakan?”

“Bagaimana bisa aku berkencan dengan bosku sendiri? Aku tidak memiliki banyak uang. Aku hanya bisa mengajaknya naik bus, bersepeda dan membelikannya permen kapas.”

“Itu bukanlah hal yang penting.”sahut Taehyung. “Shannon tidak menyukai hal-hal yang menghabiskan uang banyak. Dia menyukai hal-hal sederhana.”

“Wendy juga begitu, dia lebih suka berada di tempat ini daripada pergi nonton.”

“Bagaimana jika dia berbeda?”desah Namjoon lemas.

“Jika ku lihat-lihat, Jinny hampir memiliki kepribadian seperti Wendy. Mereka terlalu polos.” Jungkook menimpali. “Apalagi Jinny tidak pernah jatuh cinta sebelumnya.”

“Hal yang paling penting adalah ketulusan.”seru Jimin mantap. “Kalian tau kan bagaimana bimbangnya aku saat menyatakan perasaanku pada Jisoo? Tapi karena aku terus melakukan yang terbaik, dia menerimaku.”

“Itu tidak sebanding dengaku yang menyatakan perasaanku di depan kelas, aku bahkan menerima hukuman sehabis itu.”sahut Hoseok.

“Itu bukan apa-apa. Aku mengutarakan perasaanku di depan semua orang. Guru, murid, dan murid dari sekolah lain.”cibir Jin.

“Semua itu masih tidak sebanding.”kata Namjoon kesal karena teman-temannya mulai menyombongkan diri. “Kalian menyukai gadis-gadis biasa. Sedangkan aku menyukai bosku sendiri. Kalian tidak lupa kan jika aku seorang bodyguard. Aku dekat dengannya karena pekerjaan!”

“Kau memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu di pikirkan, hyng.”seru Jungkook. “Kau belum mencobanya, kan?”

Ekspresi Namjoon seketika berubah kelabu, ia lagi-lagi mendesah panjang, “Entahlah.”

***___***

Tersisa 7 hari…

Sepulang sekolah, keduanya memutuskan untuk pergi ke taman Hangang. Taehyung, Jin, Hoseok dan Jimin akan bermain bola basket disana . Tidak seperti biasa, Namjoon tidak banyak bicara sepanjang perjalanan. Dia hanya diam dan mengabaikan Jinny yang terus asyik menatap keluar jendela.

“Sunbae, kita belum kesana, kan? Apa nama gedung yang tinggi itu? Apa itu adalah tempat wi—“

Ucapan Jinny seketika terhenti ketika sesuatu menyentuh bahunya tiba-tiba. Gadis itu menoleh dan mendapati kepala Namjoon di pundaknya.

Jinny mengerjap, “Sunbae?”serunya pelan.

Dia tidur?

Seketika tubuhnya menegang. Apa yang harus dia lakukan?! Seorang pria sedang tidur di pundaknya. Yah, untuk pertama kalinya seseorang tidur diatas pundaknya dan dia adalah laki-laki. Bagaimana ini?!

Gadis itu menelan ludah. Seketika dirinya berubah menjadi patung yang tidak bergerak. Menjaga Namjoon agar tidak terbangun dan mendapati pipinya yang sudah memerah. Semoga dia terus tidur, untuk beberapa saat lagi.

Ketika bus berhenti, yang mana membuat tubuh Namjoon terdorong ke depan. Pria itu langsung terjaga dan mengerjap-ngerjapkan matanya. Sementara Jinny meluruskan pundaknya yang sejak tadi tegang. Dengan mata yang masih menyipit, Namjoon menoleh kearah Jinny.

“Kita sudah sampai?”

“I-iya, ki-ta…sudah sampai.” Gadis itu langsung berdiri dari duduknya lalu pergi meninggalkan Namjoon. Turun lebih dulu dan berjalan di depannya. Di belakang gadis itu, Namjoon yang tidak menyadari jika dia telah tertidur di pundak Jinny masih berjuang untuk mengembalikan kesadarannya.

“Jangan memerah…aku mohon jangan memerah…” ia berkata pada dirinya sendiri berkali-kali sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di pipinya.

“Jalanmu cepat sekali.” Hingga tiba-tiba suara Namjoon membuatnya terlonjak.

“Ah, sunbae!” ia menjerit kaget.

“Kenapa? Apa aku mengagetkanmu?”tanya Namjoon bingung.

“Oh, tidak, itu…aku…” ia menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya. “Kenapa sunbae terus tertidur beberapa hari ini?” tanyanya mengalihkan perhatian.

Namjoon menggaruk belakang kepalanya kikuk, “Aku menonton bola semalam jadi aku kurang tidur.”

“Tapi bukan kali ini saja, tapi waktu itu sunbae juga tertidur di ruang Kesehatan.”

“Waktu itu juga ada pertandingan bola jadi aku kurang tidur.”elaknya cepat.

“Benarkah?”

Namjoon mengangguk, “Iya. Oh? Mereka sudah datang!” Pria itu setengah berlari menghampiri teman-temannya, meninggalkan Jinny di belakang yang sedang berjuang untuk meredam gejolak di hatinya.

Yah, jantungnya sedang berdebar…

***___***

Yourgenie : Kau bilang, ketika jantung kita berdebar itu adalah cinta. Apa aku sedang jatuh cinta sekarang? Karena jantungku terus berdebar.

***___***

Tersisa 2 hari…

Kau benar-benar hebat, Namjoon. Kau bisa menjaga anak itu dengan baik. Bahkan ayahnya juga senang karena anaknya tidak mengeluarkan protes apapun. Kerja bagus! Jangan khawatir, semuanya akan berakhir karena besok lusa semuanya akan berakhir. Ayahnya akan datang ke Seoul.

 

Namjoon hanya bisa menghela napas panjang ketika ia membaca pesan dari managernya. Dalam dua hari, semuanya akan berakhir dan dia akan kembali ke tempat kerjanya yang semula.

“Sunbae!” Jinny tiba-tiba muncul dan menjatuhkan diri di samping Namjoon. Tangan kanannya menyodorkan sekaleng kopi dingin untuk pria itu. “Aku harap sunbae tidak mengantuk lagi.”

Namjoon tersenyum dan menerimanya, “Terima kasih.”

Keduanya hening untuk beberapa saat.

“Dua hari lagi, ayahku akan datang dan sunbae tidak perlu menjagaku lagi.” hingga akhirnya Jinny bersuara.

Namjoon mengangguk, “Yah, aku tau.” Kemudian meminum kopi dinginnya.

***___***

MonsterJoon : Aku pikir aku tidak akan menyatakannya. Aku pikir aku akan memendam perasaanku. Aku hanya akan bersyukur pada Tuhan karena telah memberikanku kebahagiaan selama sebulan ini.

***___***

Hari terakhir…

“Kau masih tidak mau menyatakannya?”tanya Jin sekali lagi, berusaha menyakinkan Namjoon jika pilihannya itu salah. “Ini hari terakhirmu dank au tidak mau mengungkapkannya?”

Namjoon menggeleng pelan, “Tidak.”

“Kau ini bodoh atau bagaimana? Kau mau menyia-nyiakan kesempatan terakhirmu?”

“Kau tidak mengerti, Jin.”desahnya.

“Apanya yang aku tidak mengerti?”seru Jin mulai gemas.

“Sudahlah. Biarkan aku sendiri.”

***___***

Namjoon berdiri bersandar pada dinding, menunggu seseorang yang belum keluar kelas. Kepalanya menunduk, jatuh dalam keterdiaman serta kegundahannya. Apa yang harus dia lakukan sekarang?

“Sunbae!”

Suara Jinny membuat Namjoon membuka matanya dan menarik punggungnya dari dinding.

“Ku pikir kau sedamg tertidur.”sahut Jungkook.

“Apa kau akan langsung pergi kerja?”tanya Namjoon.

“Tentu saja.” Ia mengangguk. “Aku akan menunggu Seulgi dulu.”

“Kalau begitu, kami duluan, hyung.” Jimin merangkul pundak Jungkook dan membawa sahabatnya itu segera pegi dari sana. Memberikan waktu lebih untuk Namjoon dan Jinny sambil berharap jika Namjoon akan segera menyatakan perasaannya.

Keduanya terdiam sejenak dalam kecanggungan. Mereka tau jika sebentar lagi, semuanya akan berakhir.

“Jam berapa ayahmu datang?”tanya Namjoon.

“Jam 7.”

“Itu artinya, waktu kerjaku tersisa 4 jam lagi.”seru pria itu pelan. Jinny hanya mengangguk kikuk. “Apa kau mau berjalan-jalan sebentar?”

“Huh?” Jinny mendongak, menatap wajah Namjoon lalu mengangguk. “Baiklah.”

***___***

“Aku selalu menyukai taman Hangang.”Jinny membuka suara sambil menatap ke sekeliling taman. “Tempat ini selalu ramai dan menyenangkan. Aku suka suasana seperti itu.” ia melanjutkan. “Tapi mungkin, setelah ayahku datang, aku tidak akan bisa kesini lagi. Aku pasti kembali seperti kehidupanku sebelumnya. Menjadi putri kaca.”

“Kenapa kau tidak mencoba bicara pada ayahmu? Meyakinkan beliau jika kau sudah memiliki teman-teman baru.”saran Namjoon.

Jinny menggeleng, “Itu sulit. Ayahku bukanlah orang yang mudah percaya dengan orang lain.”

“Jika kau mau, aku bisa mengajak yang lain untuk datang ke rumahmu dan bicara dengan ayahmu.” Namjoon meyakinkan sekali lagi.

Jinny menoleh, menatap Namjoon dengan senyum, “Sunbae,”serunya pelan. “Aku benar-benar merasa bersyukur karena aku bertemu denganmu. Sunbae selalu menjagaku dan memperlakukanku dengan baik. Sekali lagi, aku minta maaf atas sikapku dulu. Aku harap, sunbae tidak marah denganku.”

“Kita masih bisa bertemu, kan?”balas Namjoon cepat. “Kau tau aku tidak akan pernah pergi jadi selalu cari aku jika kau butuh seseorang untuk bicara, jika kau di ganggu oleh seseorang atau jika kau sedang merasa sedih. Selalu cari aku karena aku akan selalu ada. Di sekolah, kita bisa selalu makan bersama dan mengobrol seperti biasa jadi jangan pernah merasa jika kau kesepian.”

Jinny tertegun sesaat, “Terima kasih, Sunbae.”

Waktu 4 jam itu berlalu cepat. Hari tak terasa mulai terlihat gelap dan jadwal kedatangan ayah Jinny sudah mulai dekat. Tersisa 15 menit lagi sebelum pesawat datang. Namjoon dan Jinny telah sampai di depan bandara.

“Sunbae mau masuk bersamaku?”

Namjoon menggeleng dengan senyum, “Tidak. Aku hanya akan mengantarmu sampai disini.”

Jinny sedikit kecewa mendengar itu, “Baiklah. Kalau begitu, aku masuk dulu.”

Namjoon mengangguk, “Masuklah. Aku akan berdiri disini sampai kau masuk.”

“Untuk kali ini, bisakah aku yang melihat sunbae pergi?”tanyanya pelan.

“Baiklah jika kau mau seperti itu.” Namjoon mengulurkan tangan, menepuk sebelah pundak Jinny pelan. “Aku pergi dulu.” Kemudian pria itu berbalik dan berjalan menjauh.

***___***

Yourgenie : Aku sedang sedih.

 

MonsterJoon : Aku juga begitu.

 

Yourgenie : Cinta pertamaku tidak berhasil.

 

MonsterJoon : Aku pun begitu.

Jinny menurunkan tangan kanannya yang memegang ponsel dengan helaan napas panjang. Jadi seperti ini rasanya patah hati? Jadi hal seperti ini yang bisa membuat banyak orang menangis? Rasanya memang menyakitkan.

Sementara di luar jendela kaca besar, Namjoon masih berdiri di sana sambil terus memandangi sosok gadis yang sejak tadi berdiri menunggu kedatangan ayahnya itu.

Ketika dia telah menyuruhnya pergi, dia masih kembali untuk menjaganya. Ketika dia tidak bisa mengatakan tetang isi hatinya, dia masih ada disana untuk menjaganya dalam diam. Seperti apa yang selalu ia lakukan.

Karena dia menyadari perbedaan yang terbentang luas diantara mereka. Karena dia menyadari jika sang putri tidak akan pernah bisa menyatu dengan pengawalnya. Dia hanyalah orang biasa dan Jinny jauh lebih special.

***___***

Keesokan harinya, Jungkook dan yang lain tidak bisa menemukan Namjoon di manapun. Di sekolah, ia tidak terlihat sama sekali tapi tadi pagi, Jungkook melihatnya pergi ke sekolah.

“Dimana dia?”tanya Jimin bingung.

“Mungkin tidur.”jawab Jungkook.

“Dia juga tidak ada di sepanjang pelajaran tadi.”sahut Jin.

Jimin mendesah, “Mungkin dia sedang patah hati.”

Jungkook ikut mendesah, “Aku akan mencarinya di atap.”

Benar saja yang di pikirkan Jungkook, pria itu menemukan Namjoon di atas atap sedang tertidur pulas di sebuah kursi kayu panjang. Wajahnya ia tutupi dengan blazer dan kepalanya ia lapisi dengan komik.

Jungkook berdecak sambil geleng-geleng kepala, ia mengulurkan tangannya, mengguncang lengan pria itu pelan, “Hyung.”serunya. “Hyung, bangunlah.”

Namjoon perlahan bergerak, ia menepis blazernya dan menarik tubuhnya duduk, “Kau?”ucapnya malas. “Apa?”

“Apa yang kau lakukan disini?” Jungkook menggeser Namjoon dan menjatuhkan diri di sampingnya.

“Kau tidak lihat? Aku sedang tidur.”

“Apa yang kau lakukan semalam? Bukankah pekerjaanmu selesai jam 7?”

“Tidak ada.”balas Namjoon.

“Kau masih pergi ke rumahnya dan mengamatinya, kan?”

Namjoon menoleh, melirik Jungkook, “Tidak.”

“Jangan berbohong. Setiap malam, aku juga ada di sana untuk menemanimu.”

Seketika Namjoon tersentak, “Hah?” matanya membulat kaget, “Apa kau bilang?”

“Setiap malam, aku menemanimu menjaga rumah Jinny. Terkadang Suga, Jimin dan yang lain juga menemaniku.”ucapnya santai.

“Ya, kau tidak sedang bercanda, kan?! Kau tidak mempermainkanku, kan?!” Namjoon masih tidak percaya.

“Kau pikir kami tega membiarkanmu melakukan itu sendirian, hyung? Kami khawatir jika terjadi sesuatu padamu jadi kami berjaga-jaga juga. “

“Jadi itu sebabnya kau juga sering tertidur di kelas?”

Jungkook mendesah, “Kau benar-benar menyusahkan, hyung.”

Namjoon tersenyum lalu merangkulkan lengannya di leher Jungkook, “Kau benar-benar adikku! Terima kasih!”

“Ya ya ya apa yang kau lakukan?” Jungkook berusaha melepaskan rangkulan Namjoon. “Lepaskan aku, apa kau sedang mencekikku?!”

***___***

“Sudah menemukan Namjoon oppa?”tanya Seulgi pada Jimin dan Jin yang baru saja bergabung dengan mereka di kantin.

Keduanya menggeleng, “Jungkook sedang mencarinya di atap.”

Jisoo menghela napas panjang, “dia pasti tertidur lagi, kan?”

Jimin mengendikkan bahunya, “Sepertinya begitu.”

“Kenapa Namjoon sunbae selalu tertidur akhir-akhir ini? Apa setiap hari dia selalu menonton pertandingan sepak bola?”sahut Jinny tak mengetahui apapun.

“Apa kau pikir setiap hari ada pertandingan sepak bola?”cibir Jin sedikit kesal.

Seulgi menahan lengannya sambil menggeleng pelan, mengisyaratkan agar kekasihnya itu tidak bicara lebih banyak. Sebaiknya dia mengetahuinya sendiri.

Tak lama Jungkook dan Namjoon muncul, keduanya langsung mengambil tempat di bagian sudut. Yang lain seketika menoleh, menatap pria itu dengan tatapan kasihan. Ah, mau sampai kapan dia seperti itu?

“Oppa, apa yang mau kau makan? Biar aku yang memesan.”ucap Seulgi.

Namjoon menoleh sambil tersenyum. Ia tau jika gadis itu pasti sedang mengkhawatirkannya, “Tidak perlu. Terima kasih, Seulgi.”

“Aku akan memesankan makanan untuk kalian.” Jimin langsung berdiri dan meninggalkan kursinya tanpa meminta persetujuan Namjoon dan Jungkook lebih dulu.

“Dasar, sudah ku bilang tidak perlu.” Namjoon menghela napas panjang,

Keadaan terasa canggung sesaat. Ketika Namjoon menoleh ke kanan, tanpa sengaja ia menatap Jinny. Kontak mata keduanya bertabrakan. Ini lebih menyedihkan daripada berpisah dengan kekasih. Mereka bahkan belum menjalin hubungan tapi sudah berpisah lebih dulu.

“Kau sudah makan?”tanya Namjoon dengan nada kikuk. Yang lain saling pandang lalu menghela napas panjang diam-diam. Terlihat sekali bagaimana kecanggungan itu.

Jinny mengangguk pelan, “Sudah sunbae.”

“Oh.”

Dan hari itu, semuanya berlalu dengan sangat menyakitkan.

***___***

Yourgenie : Mau bertemu? Ayahku sedang bekerja. Aku merasa kesepai ndi rumah.

MonsterJoon : Aku sedang bekerja tapi aku bsia menemuimu pada saat jam istirahat.

 

Yourgenie : Sungguh?

 

MonsterJoon : Bagaimana jika taman Hangang?

 

Yourgenie : Aku suka taman Hangang! Tapi sepertinya tempat itu akan membuatku sedih.

 

MonsterJoon : Kenapa? Apa kau mau bertemu di tempat lain?

 

Yourgenie : Tidak. Tidak. Baiklah. Kita bertemu di taman Hangang.

 

MonsterJoon : Aku akan menunggumu di dekat sungai.

***___***

“Kau mau kemana, hyung?” Jungkook bertanya dengan kening berkerut ketika melihat Namjoon menuju loker dan memakai jaketnya.

“Aku ingin menemui seseorang sebentar di taman Hangang.”

“Siapa?”

“Seseorang.”jawabnya singkat lalu pergi.

Jungkook hanya membiarkan pria itu dan kembali ke depan, menghampiri Suga dan Seulgi yang masih bekerja.

“Kemana Namjoon hyung pergi?”tanya Suga melihat Namjoon dari jendela kaca.

Jungkook mengendikkan bahu, “Dia bilang dia ingin menemui seseorang.” Kemudiania menarik kain lap yang di pegang Seulgi. “Sebaiknya kau juga pergi istirahat, aku dan Suga akan menjaga cafe.”

Jin yang berdiri di depan mesin kasir mendengus, “Sudah sejak tadi aku mengajaknya keluar tapi dia menolakku.” Lalu ia menerima pesanannya. “Bisakah kau sekalian pecat saja kekasihku? Namjoon sudah kembali bekerja, kan?”

“Manager hyung bilang dia akan mempertahankan Seulgi. Kami butuh karyawan wanita disini.” Jungkook menyeringai. “Maaf jika mengecewakanmu.”

Seulgi mencibir, “Berhenti meminta mereka untuk memecatku! Menyebalkan.”

Jin sudah membuka mulutnya, hendak membalas omelan Seulgi namun seseorang yang datang membuatnya menutup mulutnya kembali.

“Jinny?” sapa Seulgi sumringah melihat sahabat barunya itu.

Jin melirik dengan mata menyipit kearah Jinny, “Bukankah kau bilang kau tidak akan bisa keluar jika ayahmu datang? Kenapa kau ada disini?”

“Ayahku sedang bekerja dan aku belum menemukan bodyguard baru. Aku diam-diam kemari.” Ia meringis lebar. “Suga, bisakah kau berikan aku cappuccino dingin?”

“Tentu saja!”

“Kau mau mencari bodyguard baru?” Jin melanjutkan ucapannya lagi. “Bukankah itu adalah hal yang akan menyakiti Namjoon? Kau mencari bodyguar baru setelah dia tidak bekerja sebagai bodyguarmu lagi.”

“Bukan begitu. Karena Namjoon hyung adalah seorang murid jadi ayahku tidak bisa mempekerjakannya lagi.”

“Tetap saja kau ha—“

“Diam.” Telapak tangan Seulgi tiba-tiba membekap mulut Jin agar tidak berbicara lagi. “Ayo kita pergi sekarang.” Gadis itu kemudian menarik lengan kekasihnya dan mengajaknya pergi.

“Dasar. Dia seperti Taehyung.”cibir Suga.

“Sebentar lagi mungkin yang lain akan kemari, kau tunggu saja.”seru Jungkook.

Jinny menggeleng, “Aku harus pergi untuk menemui seseorang.”

Salah satu alis Jungkook terangkat, “Namjoon hyung?”

“Huh? Bukan. Seorang teman yang lain.”

“Tapi Namjoon hyung juga sedang pergi, dia bilang dia akan menemui seorang temannya. Aneh. Kebetulan sekali.”

“Benarkah?

Jungkook mengangguk, “Dia bilang dia akan pergi ke taman Hangang.”

Mata Jinny melebar, “Aku juga mau kesana!”

Suga menatap curiga kearahnya, “Kau yakin kau tidak akan bertemu dengannya?”

Jinny tertegun. Ini memang aneh. Bagaimana bisa merekaakan pergi ke satu tempat yang sama untuk menemui teman? Kebetulan sekali.

Aku di beri tugas lain. Kali ini pulang lebih awal.

 

Aku terlalu sibuk bekerja sehingga aku tidak memiliki waktu untuk melakukannya.

 

Bukan itu maksudku. Tapi, aku menyukai bosku sendiri.

 

Dia lebih muda dariku. Dia juga juniorku di sekolah.

 

Temanku bilang, ketika sedang jatuh conta kau akan menjadi bodoh. Aku tidak yakin apa aku benar-benar jatuh cinta. Tapi, setiap kali tidak melihatnya, aku merasa khawatir. Jadi setiap malam aku terus mengawasi rumahnya, menjaganya agar tetap aman. Aku bahkan hanya tidur selama 1 sampai 2 jam setiap harinya. Aku pikir, sebentar lagi aku akan berada di rumah sakit.

 

Aku hanya bisa melakukan hal ini karena aku tidak memiliki keberanian untuk menyatakannya. Aku harus memanfaatkan waktu kami karena masa kerjaku sudah hampir habis.

 

Yah, sebentar lagi aku akan kembali ke tempat kerja lamaku dan akan membuatku menjadi jarang bersamanya.

 

Aku pikir aku tidak akan menyatakannya. Aku pikir aku akan memendam perasaanku. Aku hanya akan bersyukur pada Tuhan karena telah memberikanku kebahagiaan selama sebulan ini.

 

Tiba-tiba beberapa hal terlintas di pikiran Jinny. Percakapannya dengan teman chattingnya selama ini. Bosnya lebih muda dan dia adalah juniornya di sekolah, dia bekerja di tempat lain, masa kerjanya adalah satu bulan.

Tunggu ini…apakah yang dia pikirkan benar? Apa mungkin…

“Jinny.” Suga memanggil Jinny karena gadis itu tiba-tiba melamun.

Jinny mengangkat wajahnya, menatap Suga dan Jungkook dengan mata berair, “Apa Namjoon sunbae…selalu berdiri di depan rumahku selama ini? Apa dia setiap malam menjagaku tanpa aku tau?”

Mata Suga dan Jungkook sontak membulat. Darimana dia tau hal itu?

“Jinny…”

“Benar, kan?”

“Jinny, sebaiknya—“

“Aku harus pergi!”

Jinny berlari secepat mungkin meninggalkan tempat itu. Menuju taman Hangang dan segera menemui seseorang yang sudah menunggunya. Pikirannya pasti tidak salah. Itu pasti dia.

Gadis itu berlari sangat cepat bahkan tanpa menyadari jika minuman yang di pegangnya terjatuh di saat dia berlari. Ia terus berlari sekuat yang ia bisa.

Sesampainya di dekat sungai, ia melebarkan matanya, menatap seluruh sudut untuk mencari sosok itu. Hingga tatapannya terjatuh pada sosok yang sedang duduk di sebuah kursi sambil menghadap ke sungai. Perlahan ia melangkahkan kakinya, napasnya beradu dengan rasa lelahnya, mendekati sosok itu dan berdiri di belakangnya.

Menyadari jika seseorang telah hadir, sosok itu menoleh ke belakang, “Kau su—“ ucapannya seketika terhenti begitu melihat Jinny telah berdiri di belakangnya. “Jinny?” Gadis itu…dia menangis! “Ada apa? Apa yang terjadi?!” Namjoon seketika panik.

Jinny mendongak, menatap pria itu lurus tepat di manik matanya, “Sunbae…apa sunbae adalah MonsterJoon?”tanyanya membuat Namjoon sontak terperangah.

“Kau?” ia kehilangan kata-kata.

“Apa sunbae selalu berdiri di depan rumahku untuk menjagaku? Apa bos yang sunbae maksud adalah aku? Apa sunbae—“

“Aku selalu menjagamu setiap malam, berdiri di depan rumahmu karena aku selalu khawatir jika kau akan ketakutan lagi. Aku selalu berusaha untuk berada di dekatmu karena aku tidak ingin jauh. Aku tidak tau sejak kapan aku menyukaimu, aku selalu memendamnya karena aku sadar siapa diriku dan siapa dirimu. Aku tidak ingin membuatmu bingung hubungan seperti apa yang sedang kita jalani, pekerjaan, persahabatan atau yang lain. Aku memutuskan untuk tidak mengutarakannya karena aku tidak mau membuat semuanya kacau.”

“Ketika jantungmu berdebar, maka kau sedang jatuh cinta. “balas jinny. “Jantungku berdebar sunbae… karena kau.”

Mata Namjoon melebar, “Apa?”

“Aku tidak mengerti bagaimana rasanya menyukai seseorang karena aku tidak pernah merasakannya. Membutuhkan waktu lama agar aku menyadari perasaan itu. Tapi, jantungku berdebar sunbae…”serunya pelan. “Jantungku berdebar karena dirimu…”

Tidak ada kata yang bisa ia ucapkan setelah mendengar pernyataan itu. Kenapa dia begitu bodoh? Kenapa dia begitu takut? Dia jatuh cinta dengan gadis galak yang sebenarnya sangat polos. Dia manis dan menyenangkan. Gadis itu adalah cinta pertamanya.

Namjoon mengulurkan tangan, menarik Jinny dalam pelukannya.

Jinny, aku tidak tau sejak kapan aku mencintaimu…

Karena aku… hanya mencintai…

END

 

12 thoughts on “Bangtan’s Story [Rap Monster’s Version] :Where did you come from? [2/2]

  1. xxijisuu berkata:

    “Jangan menyinggung soal tinggi badan, itu adalah perbuatan illegal. Kau bisa di penjara nanti.” pasal berapakah ini? hahaha suka banget simpel kalimatnya >..<

    Hahaha itu jin juga kekanak-kanakan banget! Seulgi sebagai pacar memang harus sabar sama kelakuan Jin hehe o ya thor, versi jungkook nanti, shannon d munculin juga dong .-. dia memang sibuk bekerja, tapi kasihan taehyung saat teman2nya bersama kekasih masing², shannon yang kaga muncul sendiri hehehe

    Keep writing thor ! Next chap yaa hehe🙂

  2. Annisa Icha berkata:

    Drama banget ini hehehe…
    Gak sabar yang versi Jungkook. Aku ngebias Jungkook juga kak, maaf nggak lihat trailernya karena masalah paketan😀 Berharap yang versi Jungkook bener” spesial. Menurutku selama ini yang paling bagus yang versi V #cumaopini.

  3. Oh nazma berkata:

    Good.. Perfect deh.. Bias kita sm eon.. Sehun, jungkook. . Hehehe.. D suju jg suka sm kyuhyun.. Suka yg magnae magnae deh.. 😀 tp tetep SEHUN yg pertama ..🙂 #curcol

  4. Mrs. Yehet berkata:

    akhirnya mereka tau siapa temen chat mreka… bener2 jodoh org yg seperti itu
    next version is uri jungkook.. yeaay..
    next next.. ditunggu bgt uri golden maknae..🙂

  5. kang seulji (seulgi identical sister/?) berkata:

    gue mohon, jungkooknya jangan sama yein:( sama halla atau ga jane aja ya:( sama yein terlalu mainstream

  6. mifta berkata:

    seneng nya klo punya temen kya bgtu hahaha setia kawan.
    akhirnya jinny sadar juga siapa monsterjoon itu.
    ihhh keren ff nya good.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s