Story Of Us (Chapter 6)

.story-of-us-1

Story Of Us (Chapter 6)

by : Lu_llama

Staring : Kim Jongin, Oh Sehun, Luhan,

Park Jiyeon, Kim Dahee, Amber

AU! Friendship, Romance // T

.

“Hanya ada satu kemungkinan. Dia tertarik. Tertarik dengan hidupmu.”

Jongin tidak suka susu coklat begitu juga dengan makanan manis, tapi pagi ini, ayahnya ada dirumah dan menyediakan segelas coklat hangat dia atas meja makan.

“Aku tidak minum itu”

Dia tidak mengerti, kenapa ayahnya tidak mengetahui hal-hal kecil seperti ini?

Jongin paling tidak suka saat ayahnya mulai mengoceh tidak jelas, sama seperti ia membenci hujan diluar sana-meskipun nyatanya hanya gerimis kecil.

“Sial! Kenapa harus hujan”

Dan Jongin benci,  ketika ayahnya memaksa untuk mengantarnya kesekolah. Dengan sedan hitamnya. Jongin benci itu. Sungguh, Jongin bukan anak berumur 5 tahun yang masih harus diantar kesekolah!

“Aku memantaumu Jongin”

Menghadap keluar jendela, Jongin hanya mendengus. Tentu Jongin paham bahwa semua itu hanya gertakan. Karena selama ini, Tuan Kim hanya sibuk dengan urusan perusahaannya. Meskipun tidak menutup kemungkinan, seluruh rahasia Jongin akan terbongkar cepat atau lambat.

“Lusa aku harus kembali ke Ilsan karena urusanku belum selesai”

Ucapan itu terdengar saat mobil sedan hitamnya berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Jongin yang melepas sabuk pengamannya dan bersiap keluar, kini mendelik kearah ayahnya.

“Apa ayah tidak salah? Ayah tidak melupakan sesuatu?”

Tuan Kim memutar kedua bolamatanya. Dan Jongin mengerti jika pertanyaannya sudah terjawab.

“Lusa ibu akan menjalani operasi. Apa ayah sengaja melupakannya?” Bukan sekedar pertanyaan melainkan juga sindirin yang Jongin ucapkan secara jelas.

“Jadwalku tak bisa di cancel” jawab sang ayah.

Mendengar itu, tak pelak membuat Jongin menggeram dalam hati. Dengan segera ia turun dari mobil, menutup pintunya dengan hentakan yang cukup keras dan bahkan mengabaikan seruan sang ayah.

“Hey!” Tepat saat itu Luhan muncul dengan merangkul pundak Jongin. “Ayahmu?” Tanyanya melirik mobil Jongin “Dia ada rumah?”

Tak ada jawaban, Jongin hanya mendengus keras sambil menyingkirkan tangan Luhan dari pundaknya.

Masih mengikuti langkah besar Jongin, Luhan tak berhenti mengganggu Jongin yang terlihat risih dengan candaan Luhan. Bahkan ia mendaratkan tinjunya(tentu ini hanya main-main)hingga membuat Luhan termundur beberapa langkah sambil terkekeh.

“Bagaimana? Ibumu jadi di operasi lusa?” Tanya Luhan. Kini ia ikut berjalan tenang disebelah Jongin.

“Hm”

“Kapan? Apa jadwalnya sudah ditetapkan?”

“Pagi hari”

“Baiklah, kalau begitu kita harus menemaninya” ujar Luhan bersemangat.

“Tidak perlu” sergah Jongin “Biar aku saja”

“Hey! Aku juga ingin menemani eomoni” seru Luhan

Tiba-tiba Jongin menghentikan langkahnya. Menatap Luhan tepat pada kedua manik matanya. Sontak hal itu membuat Luhan, mengernyit heran.

“Hey! Hey! Apa? Jangan seperti ini, kita sedang didepan umum”

Mendengar ucapan Luhan, tak pelak membuat Jongin mendengus keras sementara si ‘Pretty Boy’ itu tertawa sambil kembali merangkul pundak Jongin.

Dalam hati, Jongin bersyukur memiliki Luhan di hidupnya. Lihatlah betapa Luhan begitu peduli pada ibu Jongin. Hubungan mereka sangat dekat. Bahkan Luhan sudah sering menemani ibu Jongin dirumah sakit. Jongin harus berterimakasih. Karena Luhan, ia begitu tau bahwa hubungan ibu dan anak itu sangat penting. Dan Jongin paham, Luhan sudah tak pernah merasakan hangatnya pelukan kasih sayang dari ibu kandungnya sendiri.

Disisi lain, Luhan juga beruntung memiliki Jongin dihidupnya. Mengenal Jongin dan ibunya, cukup mengobati rasa kesepian yang selama ini menderanya. Dari ibu Jongin pulalah, Luhan belajar menghargai orang lain. Dan ia berusaha untuk tidak membenci ibunya. Seburuk atau sehina apapun ibunya, Luhan sadar bahwa ibu adalah sesuatu yang berharga yang ada didunia ini.

* * *

Gerimis kecil itu, nyatanya tak dipedulikan oleh Sehun yang masih berjalan dalam diam. Tatapannya kosong, sementara pikirannya tak henti memutar kejadian kemarin sore. Tak bisa dipungkiri, Sehun merasa bersalah. Sekali lagi. Sehun merasa bersalah.

Sore itu, Sehun tidak tau kenapa perasaannya begitu perih melihat gadis bermarga Kim yang berstatus sebagai pacarnya itu mengucapkan kata-kata yang sungguh sangat membuat Sehun tertohok. Sehun tidak suka melihat bagaimana gadis itu memandangnya dengan tatapan berbeda. Sehun benci melihat matanya yag berkaca-kaca menatap Sehun. Oh Sehun tidak ingin melihat Kim Dahee seperti itu.

Aneh, adalah saat Sehun mendapati malamnya tak seperti biasanya. Dan ia menyadari sesuatu. Yaitu, tidak ada pesan singkat dengan ucapan ‘selamat malam’ yang biasanya selalu Dahee berikan. Dan pagi tadi, Sehun bangun tanpa getaran ponselnya yang biasanya menampilkan satu pesan berisikan ‘selamat pagi’ dari Kim Dahee. Sehun merasa aneh. Dia gelisah.

Dan lagi-lagi Sehun merasa aneh saat ia sampai dikelas dan berpapasan dengan Dahee dan dua temannya, gadis itu bahkan tidak meliriknya.

“Selamat pagi Oh Sehun” sapaan dari Jiyeon, ia abaikan.

“Hey!”  Bahkan ia tak peduli dengan teguran Amber.

Yang diharapkan saat ini, hanya gadis itu. Biasanya, Sehun akan memasuki kelas dengan disambut tatapan dari Dahee. Tapi pagi ini, tidak. Bahkan Sehun melihat gadis itu hanya melengos. Sehun merasa terabaikan.

“Guru Kang tidak masuk-”

“YEAAYYY!!”

“Kita bebas!”

“Kita lanjutkan permainan kemarin. Sungjae, kali ini aku yang akan mengalahkanmu!”

“Coba saja jika bisa Park Jiyeon”

“Aku akan melawan SangHyuk”

“Eoh? Kenapa aku, Amber?!”

“Aku tidak mau ikut permainan itu!”

“Kau harus ikut Kang Seulgi!”

“Ya!”

Persetan dengan ketidakhadiran Guru Kang, dan kegaduhan kelas saat ini. Yang menjadi fokus Sehun saat ini, hanya gadis yang terdiam menelungkupkan kepalanya dimeja pojok kelas. Kim Dahee.

“Lepas sepatumu dan pakai plastik ini sebagai gantinya. Pakai juga wig ini dan berpose didepan kelas. Kau harus mengunggah fotonya diakun instagrammu, Sanghyuuk!”

“Ya! Aku memang sudah pasti kalah jika melawan Amber”

“Cepat!”

“Sanghyuk!”

“Sanghyuk!”

“APA YANG KALIAN LAKUKAN?!!”

‘BUGG’

“Awww”

Kegaduhan mereka seketika terhenti saat mendapati guru Song memasuki kelas dengan membawa buku absen. Mereka terlonjak kaget. Bahkan Sanghyuk yang tengah berpose diatas meja, sempat terjatuh karena terkejut dengan kehadiran guru Song yang tiba-tiba. Amber yang berdiri didepan kelas lantas mundur dengan perlahan. Sungjae bahkan menjinjing sepatu milik Sanghyuk yang ada diatas meja guru. Dan mereka kembali ketempat duduk masing-masing dengan keheningan.

“Apa yang kau lakukan disana?! Ya Tuhan, Park Jiyeon keluar!”

Dan Park Jiyeon tiba-tiba saja keluar dari kolong meja sambil merapikan rambutnya. Ia terlalu malas untuk sekedar melirik tatapan tajam guru Song.

“Demi Tuhan, kelas 3-1! Apa kalian pikir ini adalah taman bermain?! Kalian memang luar biasa-ya! Kim Dahee angkat kepalamu!!”

Guru Song melayangkan tatapannya pada seluruh penghuni kelas.

“Sepulang sekolah, ketua kelas temui aku diruang guru!”

Sepeninggal guru Song, kelas kembali gaduh dengan umpatan dan kicauan mereka terhadap guru Song. Namun, Dahee dan Sehun masih mempertahankan sikap diam mereka.

Bahkan, sampai bel istirahat berbunyi Sehun masih diliputi perasaan gelisah. Ia tidak mendapati Dahee melihatnya meskipun hanya sekali. Sehun mendesah. Benar, gadis itu pasti marah. Tapi, Dahee yang dia kenal adalah tipe gadis yang selalu acuh tak acuh pada situasi apapun. Dan selama hubungan mereka, Sehun tak pernah mendapati kekasihnya itu marah padanya atau mengabaikannya. Apa dia sudah keterlaluan? Sehun merasa terabaikan.

* * *

Di kafetaria sekolah, mereka yag dikenal sebagai WilidGirls sedang menyantap makan siang mereka. Amber yang duduk disamping Jiyeon, sibuk menyingkirkan daun bawang dari mangkuk sayurnya. Jiyeon yang duduk disebelahnya justru sibuk memendangi Dahee yang duduk dihadapannya.

“Ya! Kim Dahee. Wae geurrae?” Tanyanya.

Tidak ada respon dari Dahee, gadis itu hanya menunduk dan mengaduk-ngaduk mangkuk nasinya. Melihat itu, Jiyeon mendengus. Jika Dahee tidak berkonsentrasi dan terlihat tidak fokus, pasti sedang ada sesuatu yang dipikirkannya. Sangat jarang Dahee seperti ini.

“Kim Dahee” panggilnya lagi, dengan tangan yang melambai-lambai didepan wajah Dahee “Hey!’

Jika Jiyeon tengah sibuk dengan Dahee, Amber justru tanpa sadar tengah memperhatikan orang lain yang duduk tak jauh dari tempatnya makan. Sesekali ia melirik seseorng yang ternyata Luhan itu dengan tatapan yang sulit diartikan.

Mengerucutkan bibirnya kesal, Jiyeon  memakan telur gulungnya. “Ya! Kim Dahee, ada apa denganmu?!”

Seakan tersadar dari lamunannya Dahee medongak. “Aku? Tidak apa” jawab Dahee malas.

“Memangnya ada apa dengannya?!” Tanya Amber yang akhirnya mengalihkan tatapannya.

“Dia sangat aneh, Amber! Bahkan sejak pagi tadi!”

“Terserah!”

Sementara yang menjadi topik perbincangan hanya diam menunduk. Perasaannya sedang tidak baik.

Sementara itu, dua orang siswa dari kelas 3-2 itu masih terus memakan makanannya dalam diam. Hingga salah satu dari mereka disana mengarahkan tatapannya pada seseorang yang juga diam-diam tengah memperhatikan mereka.

“Luhan,  seseorang tengah memperhatikanmu”

Dengan segera, Luhan mengikuti arah pandang Jongin. Dan tatapannya bertemu pandang dengan Amber yang langsung membuang pandangannya. Luhan mendengus.

“Hanya ada satu kemungkinan. Dia tertarik. Tertarik dengan hidupmu.” Ujar Jongin, sementara tatapannya malah tertuju pada gadis bersurai panjang yang duduk disamping Amber. Gadis yang kemarin tiba-tiba saja muncul melibatkan diri dalam masalahnya. Tanpa sadar, Jongin menarik ujung bibirnya.

Sementara Luhan hanya mengernyit heran.

* * *

“Aku ingin makan strawbaerry chees cake

Siang itu mendung. Para siswa Seoul School terlihat terburu-buru melangkah agar bisa cepat sampai rumah-mengantisipasi kalau saja turun hujan secara mendadak. Namun, Jiyeon sepertinya tidak peduli dengan itu. Buktinya ia merengek pada Amber dan Dahee yang berjalan bersamanya untuk mampir ke kafe terdekat.

“Sudah mau hujan” sergah Dahee, yang sepertinya kurang setuju.

“Ya! Kita kan tidak berkeliaran di pinggir jalan. Kita ke kafe” tanggap Jiyeon sedikit mencibir.

“Baiklah, aku juga jadi ingin coklat panas” dan Amber mengeluarkan pendapatnya yang langsung mendapat sorakan heboh dari Jiyeon.

“Ya! Kim Dahee, ayolahhh!” Kini gadis bermarga Park itu bergelayut pada lengan Dahee, mencoba merengek pada gadis berperangai dingin itu.

Menghela nafas pelan, Dahee memutar bolamatanya. Selalu seperti ini. Jiyeon memang terkadang menyebalkan-

“Geurae!”

-karena selalu berhasil membujuknya.

“Oke! CALL!” Sorak Amber dan Jiyeon bersamaan.

Saat berada tepat di luar gerbang sekolah, tiba-tiba Jiyeon menghentikan langkahnya saat melihat beberapa siswa laki-laki berseragam sekolah sebelah. Dan ia hapal siapa mereka.

“Sial!” Tanpa sadar, ia mengumpat pelan. Namun, Amber  dan Dahee masih bisa mendengarnya.

“Wae?” Tanya Amber.

Jiyeon menghentikan langkah. Ia mengerutkan kening. “Kau lihat laki-laki disana?” Tunjuknya, pada mereka.

Sontak kedua  sahabatnya itu juga mengikuti arah pandangnya. Mereka mengernyit bingung-lebih tepatnya Amber.

“Mereka, orang-orang yang kuceritakan waktu itu” lanjut Jiyeon.

“Yang menyerang Jongin dan Luhan?” Tanggap Dahee saat mengingat cerita Jiyeon saat makan siang tadi.

Jiyeon mengangguk.

Sementara itu Amber masih mengernyit heran. Dan kejadian kemarin saat bertemu Luhan dirumahnya tiba-tiba saja terbesit diotaknya. Jadi, mereka yang mengejar Luhan?

“Apa yang akan kau lakukan? Mungkin mereka tengah mencarimu juga” tanya Amber

Jiyeon mengangkat bahunya acuh. “Pura-pura saja tak melihat. Ayo.” Seru Jiyeon-tungu, ia bukanya takut. Tentu saja! Ia Park Jiyeon, anggota WildGirls di Seoul School. Ia hanya terlalu malas meledani orang-orang itu. Lagipula, ia tidak mau berurusan dengan orang-orang aneh yang kerjanya hanya bisa menganggu Jongin saja!

“Ya!”

Namun, langkah ketiga gadis itu berhenti saat mereka mendapati orang-orang itu berjalan mendekat kearah mereka.

Jiyeon mendesah. “Eoh? Kalian lagi. Annyeong!” Ujarnya datar seolah-olah bertemu teman lama.

Sementara itu, Amber dan Dahee masih diam memperhatikan.

Salah seorang dari mereka. Yang Jiyeon tau bernama Sunggyu-ia melihat tag nama dibajunya- menatapnya dengan mata menyipit tajam. Oh! Jiyeon bersumpah, Sunggyu terlihat lucu, karena matanya semakin kecil. Ia ingin tertawa sekarang juga. Tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat.

“Apa yang kau lakukan, kemarin? Lari?” Sunggyu mendengus.

“Ya! Minggir! Kau menghalangi jalan kami” sergah Amber pada mereka.

“Ya! Kim Sunggyu? Sunggyu? Ah, aku tidak berniat meladenimu. Jadi minggir” seru Jiyeon masih dengan gaya santainya.

“Gadis ini! Hey! Kau pikir kau siapa?” Sergah Joowon.

Jiyeon berdecak “Kau berniat mengenalku? Maaf, aku tak ada waktu” ujarnya sambil mengibaskan rambutnya.

“Gadis tengik ini!”

“Apa kau bilang?!” Suara Jiyeon meninggi, ia sudah merubah sikapnya. Kini ia melayangkan tatapan memincing pada Joowon yang baru saja mengatainya itu. “Dasar kau laki-laki dengan bibir aneh!” Balasnya tak kalah sengit.

“Kau-”

“Ya! Apa kalian benar-benar tak punya malu? Kalian datang kesekolah kami dan berniat mencari gara-gara dengan para gadis? Apa-apaan itu? Pengecut! Lebih baik kalian pulang, cuci muka, cuci kaki, dan minum susu hangat kalian. Hari sudah mendung. Aku takut kalian sakit jika terkena air hujan. Ayo, sana pulang!”

Kalimat panjang itu terlontar dari bibir Amber. Dia mengucapkannya dengan satu tarikan nafas. Tatapannya memicing, memandang tak suka pada pria-pria dihadapanya itu.

“Kau cari mati? Huh?!!” Teriak Sunggyu. Menatap tak percaya pada 3 orang gadis dengan penampilan berbeda itu.

“Ck, kau barusaja mengancam kami?”

Jiyeon tertawa mengejek.

“Hey! Aku bisa menghajarmu. Aku tak peduli jika kalian adalah wanita” ucap salah satu dari mereka.

“Benar-benar pengecut! Menghajar wanita adalah perbuatan seorang laki-laki pecundang. Dasar pengecut tak tau malu!” Sergah Amber bersedekap dada.

“Apa katamu?! Ya-” Joowon  belum selesai bicara, namun gadis-gadis itu sudah lebih dulu melangkah. Bahkan, Jiyeon dan Amber yang berjalan beriringan itu secara sengaja menyenggol bahu salah satu dari mereka secara bergantian.

Tak terima dengan itu, Joowon berniat mengejar mereka. Namun, salah seorang gadis itu-yang berjalan belakanga- berbalik dan menatap datar dirinya. Joowon terdiam.

“Apa yang ingin kau lakukan? Kau berniat menghajar kami?” Ujarnya datar, namun penuh penekanan. Raut wajahnya dingin. Dia mengarahkan tatapannya pada laki-laki lain dibelakang Joowon dan kembali melirik Joowon.  “Kalian benar-benar orang seperti itu? Benar-benar pencari masalah!” ujarnya lagi, masih dengan intonasi penuh penekanan.

Joowon terlihat seperti ingin membalas, namun gadis itu tiba-tiba saja mendekat kearahnya. Hingga dia berdiri tepat dihadapan Joowon.

“Pulanglah. Bocah tengik seperti kalian, tidak cocok bertingkah seperti berandalan” ujar gadis itu, tatapannya menusuk. Dan Joowon membeku. Namun, ia sempat melirik name tag diblazer gadis itu.

Kim Dahee.

* * *

Saat pertama kali memasuki kafe, Amber langsung kehilangan seleranya. Pasalnya disana, ia tiba-tiba saja melihat Luhan dibalik etalase-memakai seragam waitres, yang berarti ia bekerja di kafe ini.

Kenapa aku melihatnya dimana-mana. Keluh Amber, berdecak pelan.

“Luhan? Kau bekerja disini?” Sapa Jiyeon riang.

Luhan mendongak, ia sedikit terkejut melihat ketiga WildGirls disana.

“Ah, iya.” Ujarnya tersenyum kikuk. Kemudian tatapannya jatuh pada Amber yang saat itu juga melengos melihatnya.

“Sejak kapan?” Ini suara Dahee.

“Eoh. Kami sering kesini tapi tak pernah melihatmu” sambung Jiyeon.

“Aku baru bekerja 2 hari disini” jawab Luhan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

Melihat itu, Jiyeon tersenyum berbinar “Ugh! Kau manis sekali” ujarnya.

Sementara Luhan hanya bisa speechless. Gadis ini benar-benar.

“Ah, ya, aku ingin strawberry cheescake, ice green tea latte, bubble tea, chees roll,  dan-kau coklat panas kan Amber?” Jiyeon berseru pada Amber yang ternyata sudah duduk disalah satu kursi.

“Ya” seru Amber malas.

“Oke, antar kesana ya”

“Oke, tunggu sebentar” Luhan membalas senyum Jiyeon.

Pesanan mereka sudah datang. Dimeja mereka, keseruan itu tak lepas darri obrolan mereka tentang kejadian didepan sekolah tadi.

“Apa-apaan itu? Mereka tak ada apa-apanya dibanding kita. Haha-”

Amber tertawa terbahak. Dihadapannya, Jiyeon juga melakukan hal yang sama. Mentertawakan orang lain, sepertinya adalah hobi mereka. Apalagi yang menjadi bahan tertawaan itu adalah orang-orang tadi, yang menurut mereka sangat konyol.

“Benar sekali! Sangat konyol kan? Mereka tipe orang-orang yang tidak ada kerjaan, hanya bisa menganggu orang lain” ujar Jiyeon sambil melahap sepotong strawberry chees cake tanpa menghentikan tawanya.

“Apa sebenarnya, urusan mereka dengan Jongin dan Luhan?” Tanya Dahee setelah lama terdiam.

“Molla” jawab Jiyeon. “Tapi, aku tidak tau apa jadinya jika Jongin benar-benar mengikuti taruhan itu”

“Tamat riwayatmu sebagai Park Jiyeon” Amber mencibir. “Tapi mungkin lucu, jika Park Jiyeon dari Seoul School menjadi seorang budak” kembali Amber tertawa.

Jiyeon mengernyit takut. Tentu ia tak suka itu, mau dikemanakan reputasinya sebagai gadis yang disegani dan ditakuti disekolah, dan beberapa sekolah lain?

Tanpa terasa, mereka sudah menghabiskan waktu selama 1 jam lebih 40 menit disana. Sementara cuaca diluar semakin terlihat mendung.

“Ah!” Jiyeon tiba-tiba berseru. “Tunggu disini sebentar” ia berdiri dari duduknya dan segera menghampiri Luhan.

“Luhan” panggilnya.

“Ya?”

“Bisa kau bantu aku?” Ujarnya meringis kecil.

“Apa?”

“Kesini sebentar” meminta Luhan mendekat, Jiyeon mencondangkan tubuhnya. Ia berbisik ditelinga Luhan. “Telpon Jongin”

“Yee?” Luhan mengernyit.

Sementara itu ditempat duduknya, Dahee dan Amber memperhatikan. Namun tanpa seorang pun tau, Amber menatap mereka dengan intens.

“Iya, suru Jongin kemari. Bantu aku, agar bisa pulang bersamanya. Ya?” Pinta Jiyeon memohon.

“Aish, aku tidak yakin”

“Ahh, ayolahh” Jiyeon merengek, dan Luhan saah tingkah melihatnya.

“Luhan~Luhan~” bujuk Jiyeon masih terus menatap Luhan dengan tatapan penuh harapan.

Luhan mendesah. Ia tak tahan jika seperti ini “Baiklah” akhirnya ia hanya bisa menyetujui.

“Ahh! Thank you Luhan. Cepat hubungi”

“Apa yang harus kukatakan. Aku tak yakin dia akan datang”

“Apa saja. Ayo cepat!!”

20 menit kemudian. Seseorang memasuki kafe. Dan Jiyeon benar-benar melihat Jongin datang. Wah, Luhan luar biasa!

“Wah, kau memang gadis tengik Park Jiyeon” Komentar Amber. Ia tak menduga jika Jiyeon benar-benar menyuruh Luhan menghubungi Jongin untuk datang.

“Thanks” tanggap Jiyeon dengan senyum lebarnya.

Sementara itu, Jongin berjalan kearah Luhan. “Ada apa? Kenapa kau menghubungiku? Apa yang ingin kau bicarakan?”

Tak segera menjawab, Luhan memutar-mutar matanya. “Itu-

“Jongin!”

Dan seruan itu berhasil mengalihkan perhatian Jongin. Ia menoleh, dan seketika menghela nafas berat setelah tau siapa yang memanggilnya.

“Kebetulan sekali” ujar Jiyeon berjalan mendekat.

Mendengar itu, Luhan terkekeh geli. Kebetulan? Park Jiyeon memang bukan main-main.

“Jongin-ah, kau mau pesan apa? Aku yang teraktir. Bagaimana?”

“Tak usah. Aku mau pulang saja” acuh Jongin tanpa menatap jiyeon, sambil berlalu. Tapi kemudian ia kembali menoleh pada Luhan “Awas kau”

Ohh, sepertinya Luhan sudah ketahuan. “Mian” seru Luhan terkekeh.

“Jongin kau mau kemana?” Seru Jiyeon panik. Ia menoleh pada Luhan, dan mengedipkan sebelah matanya. Kemudian berlalu menuju mejanya dan meraih tasnya. “Aku akan pulang bersamanya. Aku duluan, bye!” Ujarnya sebelum berlalu dan menghilang dibalik pintu.

Ditempatnya, Amber hanya bisa geleng-geleng kepala. Tingkah gadis itu memang tidak main-main. Kini hanya mereka berdua, waktu masih menunjukan pukul 3 sore. Dan diwaktu ini, Amber belum ingin kembali kerumah. Serius, sering kali rumah menjadi tempat yang menyebalkan baginya.

“Kau temani aku, oke?” Ujar Amber pada Dahee sambil menyeruput cokelat panasnya, namun tatapannya tak mengarah pada Dahee.

Mendengar itu, Dahee mengerti. Ia tau maksud Amber adalah  memintanya untuk menemaninya lebih lama disana. Karena, Amber tak ingin cepat sampai rumah. Dahee paham itu.

“Hey? Kim Dahee?” Seru Amber lagi, saat tak mendapat respon dari Dahee.

“Arasseo”

‘DRRTTT’

Getaran itu mengalihkan perhatian mereka pada ponsel Dahee yang tergeletak diatas meja. Amber melirik sekilas, dan nama Oh Sehun tertera disana.

“Oh! Itu Oh Sehun, kenapa tak kau angkat?” Tanyanya pada Dahee yang hanya bergeming.

“Biarkan saja”

“Wae? Kau bukan tipe orang yang akan mengacuhkan Oh Sehun” seru Amber mencibir.

Getaran itu kembali terdengar, dan dengan segera Amber meraihnya dan menggeser tombol hijau.

“Ya!” Teriak Dahee tak terima.

“Eoh, Sehun. Ya ini Amber. Kau dimana? Cepat kemari. Aku dan Dahee ada ada di kafe persimpangan jalan. Eoh? Oke. Bye”

Amber menaruh kembali ponsel Dahee, mengabaikan tatapan sang empunya yang menusuk.

Namun, tiba-tiba saja Dahee meraih tasnya dan beranjak dari sana, membuat Amber bersorak tak percaya.

“Ya! Eodiga?!”

“Aku pergi!”

“Ya! Kim Dahee bukankah kau akan menemaniku?! Ya!” Amber berseru pada Dahee yang sudah menjauh “Ada apa dengannya? Ish!”

* * *

“Berhenti mengikutiku”

Jongin kesal sendiri melihat gadis bermarga Park itu terus mengintil dibelakangnya. Suasana mendung hari ini cocok sekali dengan suasana hatinya yang juga mendung karena berurusan dengan gadis konyol ini lagi.

Nyatanya, Park Jiyeon masih terus mengintil pada Jongin yang berjalan dihadapannya. Dia terus tersenyum, tak peduli jika langkah Jongin semakin cepat.

“Ya!”

Jongin menoleh pada Jiyeon, dan gadis itu termundr beberapa langkah kebelakang karena terkejut. Tapi, ia kembali memamerkan senyum lebarnya.

“Wae?” Tanya Jiyeon dengan wajah polosnya.

Jongin mendengus. “Apa yang kau lakukan? Berhenti mengikutiku!”

“Bukankah kita searah? Kita bisa pulang bersama”

Kembali mendengus, Jongin mengacak rambutnya. Gadis ini, benar-benar keras kepala. Bagaimana bisa sikapnya seperti ini. Sangat mengganggu.

Tak ingin ambil pusing, terlalu malas meladeni gadis ini Jongin kembali melangkah. Ia sedikit percepat langkahnya, karena sepertinya hujan akan segera turun. Dan ia benci hujan.

Sementara dibelakangnya, Jiyeon masih pada posisinya. Mengintil sambil terus memamerkan senyum lebarnya. Ini kesempatan yang tak boleh disia-siakan!

Karena asyik mengintil pada Jongin, Jiyeon tak menyadari bahwa seekor anjing berlari kearahnya. Dia tak menyadari itu. Anjing jenis bulldog itu terus mengarah padanya.

‘Guuukk! Guuuk Guukk!’

Menyadari suara itu, Jiyeon menoleh kebelakang. Sontak ia melotot tak percaya melihat seeskor anjing berlari kearahnya.

“Omo! Omo! Wae geurre?!” Serunya panik “Ahhh eottohkae?!”

Saking  paniknya, ia tanpa sadar naik kesebuah kursi taman, yang berada tak jauh dari sana. Ia panik dan hanya bisa merengek takut.

“Aigoo, eottohkae! Jongin-ah! Hus,hus”

Bukannya pergi, anjing itu justru terus menggonggong didepannya. Orang-orang sekitar yang menyaksikan itu hanya bisa tertawa. Termasuk Jongin, laki-laki itu hanya diam memperhatikan dengan tatapan kesal.

“Eoh! Choco-ya! Apa yang kau lakukan? Ah, maaf, maaf”

Hingga tiba-tiba datang seorang pria bertubuh gempal menggeret sang anjing yang ternyata bernama Choco itu dari sana.

Sesaat Jiyeon bernafas lega, tak lupa ia mengutuk sang anjing yang telah membuatnya jadi bahan tertawaan itu.

“Dasar anjing sialan-AKHH!!

Ia berniat turun dari sana, dan kalau saja ia turun dengan pelan-pelan mungkin ia tak akan jatuh seperti ini. Jadilah ia hanya bisa menunduk malu. Sementara lututnya lecet tergores.

“Astaga!! Apa-apaan ini!” Jiyeon menggeram dalam hati.

Mendengar itu, Jongin menoleh. Ia kaget melihat Jiyeon tengah terduduk dijalan seperti itu. Wajahnya tertutupi rambut panjangnya. Dan Jongin heran, kenapa gadis itu tak segera bangun?

“Jongin! Tunggu aku!”

Jongin mendengar rengekan gadis itu. Sekali lagi, Jongin menghela nafas. Ia berjalan mendekat kearah Jiyeon.

“Ya! Cepat bangun! Apa yang kau lakukan?!”

Jiyeon mendongak, dia berusaha bangkit. “Ahkk!!” Tapi tiba-tiba saja pergelangan kakinyaa terasa sakit.”aku terkilir” ujarnya pelan.

“Jangan bercanda. Cepat bangun” Jongin tiba-tiba mengulurkan tangnnya. Oke, ia hanya sedikit kasihan melihat gadis ini.

Menerima uluran itu, Jiyeon mencoba bangkit. Namun, sekali lagi ia merintih merasakan pergelangan kakinya yang sakit. Ia menduduki diri dibangku taman.

“Aku tak bisa jalan. Kakiku sakit”

Mungkin Jongin, tidak akan percaya itu jika saja gadis ini tak menangis. Karena, saat ini wajah gadis ini terlihat merah menahan tangis. Jongin terkesiap.

“Ahh, dasar anjing gila!” Rutuk Jiyeon sambil menunduk.

Melihat itu, Jongin terdiam. Dia mendongak dan mendapati langit yang semakin mendung. Dan perhatiannya kembali pada Jiyeon. Ia berpikir sejenak. Dan melihat wajah gadis itu yang basah karena airmata, Jongin segera mengambil keputusan. Dia tiba-tiba berjongkok dihadapan gadis itu.

“Cepat naik. Hari sudah gelap” ujarnya acuh.

Jiyeon terkejut bukan main. Apa Jongin benar-benar ingin melakukan ini? “Apa tidak apa-apa?” Ujarnya pelan.

“Cepatlah” sergah Jongin tak sabaran. “Aku tak ingin kehujanan”

Dan semua terasa seperti mimpi bagi Park Jiyeon. Dia memang sering mengahayalakn tentang hal romatis seperti ini bersama Jongin. Tapi ia tak menyangka jika hari ini hal itu menjadi nyata. Jongin menggendongnya dipunggung!

“Apa aku berat?” Gadis itu bertanya pelan. Ia menaruh dagunya dibahu Jongin

“Sangat” jawab Jongin ketus.

“Mian” balas Jiyeon sedikit meringis. Kembali Jiyeon tersenyum lebar. “Jongin, aku tadi bertemu Sunggyu”

Seketika itu juga Jongin berhenti melangkah. “Apa yang dia lakukan?”

“Aku tak apa-apa. Jinjja. Aku baik-baik saja. Jangan khawatir” Jiyeon terkekeh.

Jongin memutar bolamatanya mendengar jawaban tak nyambung dari gadis itu.

Sementara Jongin masih berjalan dalam diam, Jiyeon memirimgkan kepalanya untuk melihat lebih dekat wajah Jongin. “Kenapa kau melakukan ini?”

Jonginn melirik kesamping, danseketika ia terkejut saat melihat jarak wajahnya dan Jiyeon sangat dekat. Segera ia mengalihkan tatapannya. “Aku bisa meninggalkanmu disini” ketus Jongin.

“ish kau ini!” balas Jiyeon mencibir.

Terdiam sebentar, gadis itu mencoba menjahili Jongin dengan meniup telinganya pelan.

“Ya!”

“Mian” kekeh Jiyeon. “Jongin?” serunya lagi terdengar pelan ditelinga Jongin.

“Berhenti bicara!”

“Kau sangat membenciku ya?” Mengabaikan permintaan Jongin, Jiyeon berseru pelan.

“Kau tau jawabannya”

“Kenapa?”

“Kau juga tau itu”

“Kenapa? Padahal aku sangat menyukaimu”

“Aku tau!” Sergah Jongin.

“Nah, kau tau kan? Jadi kau bisa membayangkan seberapa besar aku menyukaimu?”

“Hey! Apa kau itu bodoh? Bagaimana bisa seorang gadis mengatakan itu”

“Aku tak peduli, karena hanya ini yang bisa kulakukan agar bisa mencuri perhatianmu”

Dalam langkah pelan itu, Jongin merasa tergugu. Sejenak ia merasa tak mengerti kenapa ada perasaan bersalah terselip dihatinya menyangkut gadis ini.

“Kau itu, kau itu bulan dilangit gelapku. Matahariku disiang bolong. Salju dimusim dinginku-haha apa yang sudah kukatakan” mendengar kicauan aneh keluar dari bibirnya, Jiyeon hanya bisa tertawa menyadari kekonyolannya.

Tanpa sadar, salah satu ujung bibir Jongin terangkat naik mendengar penuturan konyol Jiyeon.

“Punggungmu hangat” secara tiba-tiba Jiyeon menyandarkan kepalanya dipunggung Jongin. Ia bahkan memejamkan matanya. Tanpa tau, siempunya merasa terkesiap. “Apa aku harus berterimakasih pada anjing itu?” Lanjut Jiyeon terkekeh.

Jongin terdiam, dengan segala perasaan aneh dihatinya.

“Jangan lakukan ini pada gadis lain, ya?”

Dan tanpa gadi itu tau, bahwa Jongin mati-matian menahan degup jantungnya sendiri.

* * *

Saat memasuki kafe itu, Sehun dibuat bingung saat tak mendapati sosok Dahee disana. Ia hanya melihat Amber yang duduk seorang diri dikursi bulat pojok kafe. Ia berjalan mendekat saat mendapat lambaian tangan dari Amber.

“Eoh kau sudah datang?” Sapa Amber sambil menyuruput coklat panasnya yang sudah dingin.

Sehun bergeming.

“Dahee sudah pergi” seru Amber “Ada apa sebenarnya dengan gadis itu. Ya! Apa kalian tengah bertengkar?” Amber mendelik kearah Sehun.

Tak menjawab pertanyaan Amber, Sehun segera berbalik dan berlalu keluar kafe. Ia ingin memastikan sesuatu. Apa gadisnya itu benar-benar marah? Sehun mencoba berkali-kali menghubungi Dahee, namun tak ada jawaban. Lagi-lagi Sehun hanya bisa mendesah panjang.

Jalan-jalan disekitar kafe itu, Sudah ia telusuri, siapa tau Dahee masih berkeliaran disana. Ia mengitari pandangannya kesekeliling. Dan tiba-tiba gerimis kecil turun tanpa diduga. Sehun sedikit berlari kecil menghindari tetesan-tetesan hujan halus itu. Saat itu, ia berpikir untuk mengunjungi rumah Dahee, namun saat pikiran itu terbesit matanya menangkap sosok Dahee sedang berjalan sambil menunduk diseberang jalan yang ia lewati. Sehun mendesah lega.

Tanpa membuang waktu, kaki Sehun segera melangkah mendekat kearah Dahee. Sementara gerimis kecil itu semakin bertambah besar-meskipun belum benar-benar hujan lebat.

Dahee mendongak saat merasa hujan semakin lebat. Ia baru saja akan melangkahkan kaki saat tiba-tiba saja ada sesuatu diatas kepalanya yang melindunginya dari terpaan hujan. Dan ia terdiam melihat Sehun yang tengah menaruh tas miliknya diatas kepala Dahee.

Tanpa aba-aba, laki-laki tinggi itu menarik lengan Dahee, mengajak gadisnya untuk segera menghindari hujan. Dalam langkah mereka, Dahee terdiam sementara Sehun semakin mengeratkan genggamannya pada telapak tangan Dahee. Sampai akhirnya, mereka sampai didepan toko terdekat dan memilih berlindung disana.

Untuk beberapa saat, Sehun belum melepaskan tangannya. Ia justru sibuk mengibaskan bajunya yang setengah basah. Setelah itu, ia menoleh pada Dahee yang saat itu tak menatapnya namun justru gadis itu melepaskan genggaman tangan Sehun tanpa mengatakan apapun.

Sehun diam.

Dahee diam.

Mereka membisu. Sementara suara hujan semakin kencang terdengar.

“Kenapa kau tak mengangkat teleponku?”

Sura Sehun yang pelan dan tak berintonasi itu masih bisa terdengar oleh Dahee. Namun nyatanya gadis itu memilih bungkam tak menjawab. Ia terus menatap lurus kedepan. Sementara Sehun menatapnya dengan penasaran.

Sebuah sentuhan dilengannya memaksa Dahee untuk membalikkan badannya menatap Sehun.

“Kau menghindariku?”

Dahee tak tau , itu sebuah pertanyaan atau pernyataan karena suara Sehun tak terdengar seperti keduanya.

“Aku bicara padamu” kali ini suara Sehun terdengar lebih tegas.

Dahee membuang pandangannya dari Sehun.

“Kau marah padaku?”

“Tidak” sergah Dahee cepat. Ia kembali menatap Sehun dengan tatapan tanpa ekspresinya.

“Lantas?”

“Tidak ada”

Mereka kembali diam.

“Jangan seperti ini” ujar Sehun akhirnya.

Laki-laki itu terlihat mendekat kearah Dahee. Tanganya terulur menyentuh wajah Dahee. Menghapus jejak hujan dipipi gadis itu. Mereka bertatapan sejenak, sebelum akhirnya Dahee meraih tangan Sehun dan menepisnya.

Sehun termangu.

“Aku pikir-” Dahee diam sejenak. “-saat ini aku ingin menjauh darimu”

Dan Sehun kembali berjengit kaget. ‘Menjauh?’ Apa arti lain dari kalimat itu?

Kebisuan kembali menyelimuti. Sehun terus menatap Dahee dengan tatapan datarnya. Sedang gadis itu terlihat menunduk.

“Tapi-”

Sehun mengrjap saat mendengar suara Dahee yang kembali terdengar.

“-aku tidak bisa”

Sehun kembali mengerjap. “Jangan” ujarnya pelan.

Kini Dahee mendongak menatap Sehun.

“Jangan menjauh” ujar Sehun. Ia melepas blazernya dan menyampirkannya pada Dahee. “Dimana blazermu” gumamnya pelan.

Semenara itu Dahee masih termangu. Pandangannya melembut. Lihat, pria ini memang tak bisa ia abaikan.

Beberapa saat terdiam sampai akhirnya Sehun mengulurkan tangannya kedepan. Merasakan tetesan demi tetesan air hujan yang tak kunjung reda.

“Mian”

Itu seperti sebuah gumaman dari Sehun. Ia tak menatap Dahee. Sementara gadis disampingnya menoleh dengan kening berkerut. Minta maaf? Apa dia benar-benar mengatakan itu tadi? Dahee berpikir sejenak, sebenarnya hubungan seperti apa ini? Apa selama ini Sehun menyukainya? Kenapa dia tak pernah mendengar hal itu dari Sehun? Apa perlu ia tanyakan itu sekarang?

“Kau…”

Ucapannya menggantung, Dahee menatap manik Sehun tanpa kedip. Sementara laki-laki itupun tak mengalihkan tatapannya dari gadisnya itu.

“Apa kau menyukaiku?”

Ia sadar, jika kalimat pertanyaan itu terdengar menuntut. Dahee melihat tatapan Sehun yang berubah. Gadis itu bahkan tak mengalihkan tatapayna sedikitpun. Dia ingin melihat jawaban itu dari mata Sehun. Dia ingin tau kebenarannya.

Terdiam cukup lama sebelum akhirnya Sehun menghela nafas pelan dan membuang pandangannya.

“Kau tak bisa jawab” seru Dahee akhirnya.

Dan Sehun masih diam.

“Geurae. Aku juga tak butuh jawaban itu-” gadis itu mengalihkan tatapannya kedepan. Nafasnya tercekat. “-sekarang” lanjutnya pelan.

“Sudah sore, kita terobos saja hujannya”

Sehun meraih tangan Dahee, kemudian tatapannya beralih kebawah. Melihat tali sepatu yang Dahee gunakan terlepas,  segera ia berjongkok dan mengikat kembali tali yang lepas itu.

Sementara Dahee hanya bisa diam mematung. Ia alihkan tatapannya saat melihat Sehun mendongak.

“Ayo!”

Dan Dahee tak bisa berkutik saat Sehun menyelipkan jarinya disela-sela jari gadis itu dan menggenggamnya erat dan menariknya pergi darisana. Mereka berlari menerobos hujan dengan tangan yang saling bertaut erat.

* * *

Jiyeon dan Dahee sudah pergi sejak berjam-jam yang lalu. Bahkan, 2 gelas coklat panas yang tergeletak diatas meja itu sudah habis tak tersisa. Namun, nyatanya Amber masih belum beranjak dari duduknya. Ia masih berada didalam kafe. Pandangannya ia arahkan ke kaca besar yang terletak didepannya dan diluar sana , hujan masih  turun. Amber mendesah malas. Ia sudah menunggu lama sekali, tapi hujan tak juga berhenti. Dia tak mungkin berlari menorobos hujan. Amber tak suka hujan. Ia benci tetesan-tetesan air dari langit itu.

Rutukan tak henti ia rapalkan. Sebenarnya, ia sudah bosan. Lagipula, ia risih dengan tatapan Luhan yang sesekali melirik kearahnya. Mungkin laki-laki itu bertanya-tanya kenapa ia betah sekali disana? Atau bahkan jangan-jangan laki-laki itu berpikiran bahwa Amber sengaja berlama-lama disana karena ingin memperhatikannya? Huh?! Amber geli sendiri memikirkan itu!

Gadis tomboy itu melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam 5 sore. Tiba-tiba saja ponsel disakunya bergetar, menampilkan satu pesan yang berbunyi:

“Kau tidak berniat pulangkan? Baguslah kalau kau tidak pulang malam ini!”

Amber mendesah. Pesan itu kembali membuatnya mengerang kesal. Jika bisa, Amber memang tak ingin kembali kerumah itu. Rasanya ia ingin sekali kembali ke rumah lamanya. Tapi, sudah tak mungkin. Karena selain perbedaan jarak negara, ia juga sudah memutuskan untuk pergi menjauh. Kehadirannya seperti tak diharapkan.

Mengingat itu membuat hati Amber miris. Degan perasaan tak menentu Amber meraih tasnya dan keluar dari kafe. Namun, saat sampai diluar, Amber justru membatu. Ia tak sanggup melangkah. Hujan itu belum berhenti dan  Amber kembali mendesah. Hingga akhirnya ia hanya bisa terdiam menyendiri bersender didinding kafe dengan memeluk tasnya sendiri.

Suara bel dipintu kafe, membuat amber menoleh. Dan ia melihat Luhan keluar dari sana. Ia sudah tak meggunakan seragamnya.

Luhan melirik Amber, sementara gadis itu hanya bisa berdehem kikuk.

“Kau masih disini?” Tanya Luhan sambil mengeluarkan sebuah payung dari tasnya.

“Menurutmu?” Jawab Amber acuh.

Luhan mendungus. Ia bernit melangkah. Namun langkahnya terhenti, dan ia kembali menolah pada Amber yag menatapnya heran.

Perlahan ia mengulurkan tangannya.

“Ambil ini” Luhan menyerahkan payung itu hingga Amber hanya bisa tergagapa tak percaya. “Cepat ambil”

“Tidak” sergah Amber.

Luhan mengernyit. “Kau menolak niat baikku” dengusnya.

Amber mendelik “Aku-ak-aku benci hujan” ujarnya tergagap.

Sebelah alis Luhan terangkat “Makanya ambil ini”

Amber diam. Dia mengerjapkan matanya berkali-kali. Tak percaya bahwa Luhan yang ia anggap sebagai musuhnya itu kini tiba-tiba berbaik hati meminjamkan payung untuknya? Amber mendengus. Apa-apan ini?

“Hey! Buang rasa gengsimu itu untuk hari ini. Benar-benar gadis aneh!” Sergah Luhan mencibir. “Aku tak akan menawarkan dua kali”

Amber diam, sementara Luhan masih menatapnya menunggu jawaban. “Baiklah” seru Amber meraih payung itu dengan sedikit kasar.

Luhan tersenyum kecil. Ia berbalik, dan mengambil lagkah-

“Tunggu!”

-tapi suara Amber kembali menahan langkahnya.

“Kita pergi bersama” seru Amber sambil menyerahkan payung yang sudah terbuka itu pada Luhan.

Sang ketua osis itu hanya bisa menerima itu dengan tatapan herannya, dan mereka berjalan dibawah payung yang sama.

Jadi apa ini? Bukankah mereka adalah musuh? Lalu apa yang terjadi saat ini. Berdua, dibawah payung yang sama mereka terdiam. Sesekali,Amber melirik Luhan yang berjalan lurus dan ketika tatapan mereka bertemu, aura kaku langsung menyelimuti mereka.

“Anggap saja, ini balasanku karena kau sudah menuruti permintaanku”

Amber mengernyit mendengar kalimat Luhan. ‘Permintaan?’  Tapi memorinya dengan cepat mengingat kejadian malam itu.

“Sudah kubilang itu bukan urusanku!”

“Kau benci atau takut hujan?” Tanya Luhan tiba-tiba.

“Dua-duanya” jawab Amber cepat. “Aku takut hujan, karena itu aku benci hujan sama seperti aku membenci-”

Kalimat itu terhenti,Amber terdiam saat merasa ucapannya itu terdengar berlebihan. Ia menatap Luhan sebentar kemudian kembali menatap kedepan.

“Membenciku?” Sambung Luhan segera saat melihat Amber berhenti bicara. “Dasar gadis pendendam” cibirnya.

Masih berada dibawah naungan payung yang sama mereka berjalan. Tak ada obrolan. Hanya saja ritme jalan mereka, sedikit berbeda. Jika Luhan melangkah dengan cepat. Justru Amber kesusahan menyusul langkah pria itu. Sesekali Amber merutuk dan berteriak untuk jalan perlahan.

Hingga akhirnya tiba-tiba saja, gadis itu meraih baju belakang Luhan. Mencengkramnya erat sehingga sang empunya menoleh dan mengernyit heran.

Dan Luhan melihat tatapan gadis itu terlihat waspada pada sesuatu didepan sana. Segera Luhan mengikuti arah pandang gadis itu, dan seorang berpakaian badut terlihat disana.

“Badut”

Pelan, Amber berucap.

Luhan mengernyit, sebelum akhirnya ia berseru tak percaya “Kau takut badut? Gadis tomboy sepertimu?” Tanyanya setengah mengejek.

Tatapan tajam Amber adalah jawaban dan Luhan hanya bia terkekeh melihatnya. Jadi, gadis tomboy ini takut akan badut? Ada-ada saja!

“Aku tak mau kesana!” Seru Amber sambil berbalik.

“Ya! Dia tak akan menyakitimu” dengus Luhan.

“Kata siapa? Bagaimana kalau tiba-tiba saja dia mengejarku?”

Sejenak Luhan terdiam sebelum akhirnya ia tertawa keras. Sementara Amber mati-matian menahan raa takutnya.

“Konyol!”

Beberapa saat tawa Luhan mereda. Dan badut itu sudah pergi menjauh, Amber kembali berbalik dan menghela nafas lega.

“Ckck, gadis sepertimu takut badut?” Luhan tak berhenti mengejek Amber.

“Kenapa? Itu bukan urusan-”

Seketika ucapan Amber terhenti, karena tiba-tiba aja Luhan menariknya dan memutar tubuhnya hingga posisi Luhan berada ditempatnya berdiri tadi. Dan mereka saling berdiri berhadapan. Semua ini tak mungkin terjadi jika saja sebuah mobil tak melaju kencang dan menyipratkan air genangan hujan itu pada Luhan.

Amber membatu. Luhan melakukan ini? Merelakan bajunya terkena cipratan air hujan hanya untuk melindunginya?

Beberapa detik itu, mereka terdiam dengan Amber yang menatap Luhan tanpa kedip. Sementara Luhan, juga tak mengalihkan tatapannya dari Amber.

Waktu seolah berhenti. Dengan hanya dunia mereka yang seolah masih berputar.

Dari jarak sedekat ini, mereka menatap lekat manik mata masing-masing. Dan semua terasa asing.

T B C

Sudah sangat lama sekali.. semoga ini mengobati rasa rindu kalian yaaa :3 (gak ada yg rindu kaleeee -_-) gimana chapter ini??? Aneh yaa.. maaf..ini buatnya ngebut, maaf kalo kurang srek bacanya atau feelnya gak dapet, atau bahkan gak nyambung huhu.. Maaf karena terlalu lama menghilang.. kasih semangat ke aku ya, biar aku ngerjainnya juga semangat hehhee.. and sorry for typos!

Makasih yang udah mau baca dan yang mau menuangkan komentarnya dan kalian yang masih setia menunggu :*

Ohh ya Minal aidin walfaidzin ya, gak telat kan? (lebarannya udah abissss thorrrr -__-) hehehe

See youu next chap 🙂

21 thoughts on “Story Of Us (Chapter 6)

  1. juditpcy2713 berkata:

    Huwaaaa, ketinggalan baca. Hemeh dah lama nungguin nya padahal.
    Dari tahun kemaren:”v
    Anjir Luhan ama Amber udah mulai soswit2an, kai ama jiyeon juga:v Si sehun ama dahee malah diambang perceraian (?)/eehh??/ maksudnya lagi retak2 dikit lah:v

    Next yaaaa, jan lama.gua mantengin dari awal loo.

  2. Natsuya berkata:

    Jiyeon konyol bgt ngumpet dbwah meja :’D
    hadeh gakebayang sasaeng fans nya Jongin macem gtu,,
    tp salut bgt salut ama Jiyeon, g mdah mnyerah, huhu Jongin plis cpetan nyadar dnk klo qm btuh Jiyeon dsmping qm :I
    btw knp papanya Jongin mnghindar sih? Knp gamau nungguin istrinya operasi?
    Sehun mah jujur aj qm emg suka ama Dahee, bru dicuekin sehari aj uda gelisah mcam tu :/
    Luu~ lanjutin dnk Story of Us nya yaya :* fighting!! :*

  3. wellameilitta berkata:

    Jelas banget Sehun enggk jawab perytanyaannya Dahee dia aja enggk tau persaannya sendiri apa karena permintaan kakaknya??
    Luhan makin deket aja sama Amber dan Jiyeon beruntung banget selalu ada kesempatan sama Jongin

  4. chi-ya berkata:

    pas dahee marah sama sehun gitu rasanya nyesss gitu. sakit juga si jadi dahee. tp dahee emang udah sayang banget sama hun

  5. Deborah sally berkata:

    Jatuh cinta semua walau belum menyadari nya :3 .. Btw gue penasaran banget tuh dengan Jowon yang diam atas intimidasi Daehee :v

  6. hun-bim berkata:

    Apa mrk udah baikan sehun dahee???
    Ahhh udah perkmbangan antara hub jiyeon jongin dan amber luhan…tp hub apa g mrk pux persaan g ada deh hihihi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s