Last Game (Chapter 9)

Title                 : Last Game (Chapter 9)

Author             : Gu Rin Young

Cast                 : All member EXO and others

Genre               : Brothership, family, school life, sport

Rating              : General

#####

Sehun belum kembali dari kesadarannya. Hatinya semakin sesak setelah mendengar penjelasan dokter. Apa? Kaki Luhan lumpuh? Apa dia salah dengar?

“Apa dokter bercanda? Jadi Luhan tidak bisa bermain basket lagi?” Tanya Xiumin.

“Kalian harus bersabar. Setelah ini Luhan akan dipindahkan ke ruang perawatan.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Dokter kembali ke ruang UGD.

Sehun meluruh. Jadi hyungnya akan lumpuh? Apa yang harus dia katakan pada hyungnya? Bagaimana dia harus menjelaskan ini semua? Sehun menangis dalam diam di sana. Tubuhnya tidak lagi tegak. Hatinya sangat sesak.

Sehun tidak ingin sahabatnya melihatnya menangis. Dan Sehun baru ingat satu hal, sekarang semua orang sudah tau jika Luhan adalah hyungnya. Dan bagaimana respon Luhan setelah semua orang tau jika Luhan dan Sehun adalah saudara? Lalu bagaimana dia menjelaskan kepada sahabatnya jika selama ini dia sudah menyembunyikan hal ini? Dan sekarang Sehun rasa dia sudah siap menerima segala konsekuensinya.

“Sehunie, kau bisa membagi kesedihanmu dengan kami.” Ucap D.O yang sudah duduk di samping Sehun.

“Hyung, mianhe.” Hanya itu yang sanggup Sehun ucapkan. Dia menangis dalam diam di sana.

“Kau tidak perlu meminta maaf. Kami mengerti apa yang terjadi.” D.O mengusap rambut sahabatnya yang sudah dia anggap sebagai adiknya.

Chanyeol memeluk Sehun, karena dia tidak sanggup melihat sahabat yang sangat disayanginya bersedih seperti ini. “Sudahlah Sehunie. Kami selalu ada untuk membantumu. Jangan khawatir.”

“Benar Sehunie. Kau memiliki kami, kami siap melakukan apapun untukmu.” Imbuh Baekhyun.

“Gomawo hyung.” Sehun tersenyum menampilkan eyesmilenya. Beberapa bulir air mata jatuh saat dia tersenyum.

—–

Sudah dua jam berlalu namun Luhan masih belum sadar, dan Sehun merasa lapar karena dia belum makan seharian. Akhirnya dia menitipkan Luhan pada suster jaga sebentar untuk membeli makan bersama yang lain. Dan saat itu juga dia akan menjelaskan yang sebenarnya kepada semuanya. Kebenaran yang selama ini disembunyikannya.

“Lay hyung, Chen hyung, dan Tao aku minta maaf membuat kalian merasa bingung.” Ucap Sehun saat semuanya sudah berkumpul dan mengambil makanan masing-masing.

“Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian berdua?” Tanya Lay.

“Xiumin hyung, kau bisa menjelaskannya kan?” Pinta Sehun.

“Oe? Jadi Xiumin hyung sudah mengetahuinya?” Tao mengerutkan dahinya lagi.

“Xiumin hyung dan Kris hyung sudah mengetahui semuanya. Semua sahabatku juga sudah mengetahui jika aku mempunyai seorang hyung, tapi hanya Kai dan Suho hyung yang tau jika hyungku adalah Luhan.”

“Sehunie, jika kau dan Luhan adalah saudara tapi kenapa selama ini kalian tidak pernah bersama? Bahkan kalian saling bermusuhan.” Ucapan Baekhyun membuat semuanya menatap Sehun meminta penjelasan karena itu adalah inti permasalahannya.

“Xiumin hyung, tolong ceritakan pada mereka. Aku lelah.” Mohon Sehun pada Xiumin.

“Arra. Dengarkan baik-baik.” Xiumin menghela nafas lalu melanjutkan ceritanya. “Luhan mengira Sehun membunuh eommanya padahal eomma Sehun dan Luhan meninggal karena pendarahan saat melahirkan Sehun.”

“Lalu?”

“Hanya itu.” Xiumin tersenyum.

“Jadi hanya karena salah paham, Luhan membenci Sehun hingga saat ini?” Chanyeol geleng-geleng kepala tidak percaya.

“Bahkan tadi dia berusaha mencelakakan Sehun, tetapi malah Luhan sendiri yang lumpuh.” Xiumin menunduk mengingat pertandingan tadi.

“Mwo? Jadi yang tadi memukul punggung Sehun adalah Luhan?” Tanya D.O.

“Keterlaluan sekali. Apakah dia sangat membenci Sehun hingga dia bisa melakukan hal yang sangat menjijikan itu?” Kai berubah kesal karena tingkah Luhan.

“Sudahlah. Sekarang kita pikirkan saja bagaimana cara menyampaikan ini pada Luhan. Dia pasti shock.” Semuanya mengangguk menyetujui ucapan Lay.

“Lay hyung benar. Apa yang harus kita katakan pada Luhan hyung jika dia sudah sadar nanti? Dia pasti sangat marah jika mengetahui kakinya lumpuh.” Tao berubah panik.

Sehun kembali teringat akan hal itu. Dia tidak sanggup menyampaikan semuanya pada Luhan. Apa yang harus dia katakan? Luhan tidak bisa bermain basket lagi. Basket adalah olahraga yang sangat disukai hyungnya. Luhan sudah tergila-gila dengan basket. Apa yang terjadi jika Luhan tidak bisa bermain basket lagi?

Semua menatap Sehun yang hanya diam. Semua tau apa yang sedang dirasakan Sehun. Suho mengusap punggung Sehun.

“Kau tidak perlu khawatir, kami semua akan membantumu.” Ucapnya yakin.

“Suho benar. Kami akan membantumu menjelaskannya.” Chen ikut menambahi.

“Gomawo hyung.” Semua memeluk Sehun. Lay, Tao, dan Chen sekarang mengerti apa yang dikatakan Xiumin benar. Sehun adalah adik yang baik. Mereka pun langsung menyayangi Sehun setelah mereka tau kejadian yang sebenarnya. Sehun tidak sepenuhnya bersalah di sini.

Setelah semua makanan di meja habis dilahap, mereka pun kembali ke ruangan Luhan. Masih sama. Luhan belum membuka matanya. Sehun tersadar jika dia dan yang lain masih menggunakan baju basket. Dan karena bertanding tadi, pasti mereka sudah bau keringat.

“Hyung, kalian bisa pulang untuk mandi.” Perkataan Sehun membuat yang lainnya juga tersadar.

“Aigo, kita pasti sudah membuat rumah sakit ini bau, hahaha.” Kris terbahak.

“Bau kita bisa menyadarkan pasien yang pingsan, hahaha.” Tambah Chanyeol.

“Lalu, bagaimana denganmu?” Tanya Tao. Ini pertama kalinya Tao bertanya langsung pada Sehun.

“Aku akan menjaganya disini. Mungkin aroma tubuhku bisa cepat menyadarkannya.” Sehun tersenyum.

“Arra, aku akan mengambilkan baju untukmu lalu kembali ke sini.” Ucap D.O.

“Gomawo hyung.” D.O mengangguk.

“Baiklah kami pulang dulu. Jika ada apa-apa cepat hubungi kami.” Perintah Xiumin. Sehun mengangguk. Lalu semua meninggalkan Luhan dan Sehun.

Setelah semuanya keluar, tiba-tiba ponsel Sehun berbunyi. Ternyata Tuan Oh menghubungi Sehun.

“Oe? Appa?”

“Apa yang terjadi dengan hyungmu? Apa dia baik-baik saja? Bagaimana kondisinya sekarang? Mianhe appa tidak bisa pulang sekarang, tapi appa akan usahakan secepatnya.” Tuan Oh langsung memburu Sehun dengan pertanyaan.

“Keundae appa, kaki kanan Luhan hyung….” Sehun tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Air mata kembali menggenang di matanya.

“Ada apa dengan kakinya? Apakah ada sesuatu yang buruk?”

Sehun menarik nafasnya lalu menghembuskannya keras-keras. “Kaki Luhan hyung lumpuh.”

“MWO?!”

“Appa, aku tidak tau bagaimana menjelaskan ini semua pada Luhan hyung. Dia akan lebih membenciku.”

“Tenanglah Sehun. Tidak ada yang membencimu. Mianhe appa tidak bisa menemanimu di saat seperti ini.” Lirih Tuan Oh.

“Gwenchana appa, masih ada Ren ahjumma. Di sini ada Suho hyung dan yang lainnya, appa tidak perlu khawatir.”

“Baiklah kalau begitu. Jika hyungmu sudah sadar, katakan yang sebenarnya. Tidak usah takut dia akan membencimu, karena tidak selamanya dia akan membencimu. Percayalah pada appa.”

“Nde appa.”

“Kau memang anak appa yang paling baik. Appa harus mengurus tentang pertandingan tadi setelah ini. Jika ada apa-apa hubungi appa segera, arrachi?”

“Nde appa. Jaga diri appa baik-baik.”

“Iye Sehunie.”

Dan sambungan pun terputus. Sehun sedikit tenang karena appanya sudah menghubunginya. Sesibuk apapun Tuan Oh dia tidak akan membiarkan apapun terjadi dengan anak-anaknya. Walaupun dia sedang ada pekerjaan, dia selalu menyempatkan diri menghubungi anaknya. Terlebih lagi sekarang Luhan sedang dirawat di rumah sakit.

Beberapa jam berlalu. Sehun tertidur di sofa ruangan Luhan. Luhan masih belum sadar. Mungkin karena kepalanya terbentur lapangan.

D.O dan Kai datang. Mereka sudah berganti pakaian. D.O menenteng tas berisi pakaian Sehun dan makanan. Setelah makan siang tadi, Sehun belum makan apa-apa lagi. Kai melihat Sehun tertidur di sofa lalu segera membangunkannya agar berganti pakaian.

“Sehunah, bangunlah.”

Sehun mengerjapkan matanya, tubuhnya sangat lelah. “Oe? Kai?”

“Aku datang bersama D.O hyung. Mandi dan ganti bajumu.”

“Arra.” Sehun bangkit menuju kamar mandi. Diliriknya Luhan yang masih belum sadar. “Apa kau tidak lelah tidur seharian?” Sehun kembali melanjutkan langkahnya.

Beberapa menit kemudian Xiumin datang bersama Lay. Mereka juga membawa makanan. Sedikit terkejut melihat sudah ada D.O dan Kai di ruangan Luhan, namun Sehun tidak terlihat.

“Kalian sudah datang?” Tanya Lay sedikit basa basi.

“Apa kalian juga membawa makanan?” Kai melihat tas plastik yang dibawa Xiumin.

“Lay memasak makanan tadi, dia membawanya kemari.”

“D.O hyung juga memasak spaghetti. Woah, kita bisa makan banyak.” Seru Kai senang karena dia juga belum makan malam.

“Dimana Sehun?” Xiumin melihat sekeliling tapi tidak ada Sehun di sana.

“Dia sedang mandi hyung.” D.O menjawab sembari membuka kotak bekal untuk dimakan bersama.

“Spaghetti? Keliatannya sangat enak.” Lay melihat spaghetti D.O yang sangat menggoda.

“Apakah ada yang berbicara spaghetti?” Sehun tiba-tiba sudah muncul di belakang Lay.

“D.O membawa spaghetti untukmu. Dan Lay membawa kimchi.” Xiumin mengeluarkan bekal makanan Lay.

“Woaaaah, kajja kita makan bersama saja.” Sehun sudah tidak sabar.

“Keundae, Apa Luhan belum sadar?” Tanya Lay.

“Mungkin dia kelelahan hyung. Biarkan Luhan hyung beristirahat. Aku sangat lapar, ayo kita makan.”

“Ini sumpitmu.” D.O memberikan sumpit pada Sehun.

“Gomawo hyung.”

Sehun melahap habis semua spaghetti dan kimchinya. Semua memandang Sehun heran. Apakah dia selapar itu?

“Sehunie, apa kau sangat lapar?” Tanya Kai heran karena piring Sehun sudah kosong.

“Masakan D.O dan Lay hyung sangat enak.”

“Benarkah? Kalau begitu aku akan membawakannya lagi besok.” D.O senang jika masakannya dipuji.

“Aku juga akan memasakannya untukmu lagi.” Lay bahagia melihat Sehun memakan masakannya dengan lahap.

Setelah merapikan piring dan membuang sampah, ponsel di saku Kai berdering. Ada gambar Suho di sana. Kai buru-buru menjawab.

“Suho hyung? Wae?”

“Apa kau di rumah sakit?” Tanya Suho to the point.

“Oh, wae?”

“Appa Sehun meneleponku. Dia memintaku menjaga Sehun dan Luhan selama appanya berada di luar negeri.”

“Jinja? Kalau begitu kami akan membantumu. Apa kau ingin berbicara dengan Sehun?”

“Tidak perlu. Aku akan segera ke sana.”

“Arra. Palli.”

Kai kembali berkumpul bersama yang lain. Kurang dari sehari Lay sudah bisa bergabung dengan Sehun dan yang lain. Xiumin memang benar, Sehun adalah anak yang baik.

Ketika Xiumin, Sehun, D.O, Kai, dan Lay sedang bergurau bersama. Suho datang membawa bubble tea untuk Sehun dan yang lainnya.

“Bubble tea? Woaaaah, gomawo hyung!!” Sehun sangat senang bubble tea. Bubble tea adalah minuman fovorit Sehun semenjak dia duduk di bangku sekolah dasar.

“Apa kau sangat menyukai bubble tea?” Tanya Lay.

“Dia akan menangis jika satu minggu tidak membeli bubble tea hyung.” Ledek D.O.

“Aniyoo, Suho hyung pasti akan membelikannya untuk ku.” Jawab Sehun lebih seperti memerintah.

“Mwo? Bahkan kau lebih kaya dariku.”

Sehun langsung mengeluarkan puppy eyes andalannya. Jika dia sudah mengeluarkan jurus itu, Suho sudah tidak berani menolaknya.

“Ya! Jangan beraegyo di depanku lagi. Itu sangat menjijikan.” Seru Suho.

“Jebaaaal hyuuuung. Kau akan membelikanku bubble tea.” Rengek Sehun

“Arraseo arraseo. Huh jika kau bukan adikku, aku pasti membunuhmu.” Ucap Suho kesal membuat yang lain tertawa karena tingkah mereka berdua.

“Apa Sehun selalu seperti ini? Hahaha.” Xiumin masih tertawa.

Kali ini D.O yang menjawab. “Kau akan merasakannya nanti.”

“Ani. Biar Suho saja. Aku tidak mau membelikannya bubble tea setiap hari.”

“YA!! Aku juga tidak mau membelikannya bubble tea setiap hari. Bahkan uangnya lebih banyak dariku.”

“Aiiiish kalian ini berisik sekali. Apa kalian lupa ini di rumah sakit?” Kai merutuk kesal karena suara Suho semakin keras.

“Arraseo. Keundae apa dia belum sadar?” Suho mendekati ranjang Luhan.

“Belum hyung. Biarkan dia beristirahat. Aku juga masih berpikir bagaimana menjelaskan tentang kakinya.” Sehun kembali teringat tentang masalah itu.

“Katakan saja yang sebenarnya. Kami akan membantumu menjelaskan hal ini padanya.” Kai menepuk pundak Sehun. “Kau tidak perlu khawatir.”

“Mm, Kai benar. Kami akan membantumu.” Tambah Lay.

“Hyung, bukankah kalian harus ke sekolah besok?” Tanya Sehun mengingat besok mereka sudah harus kembali belajar di sekolah.

“Aku akan ijin beberapa hari untuk menemanimu.” Jawab D.O.

“Tidak perlu. Aku bisa menjaganya sendiri. Kalian bisa bersekolah seperti biasa.”

“Ani. Aku tidak akan membiarkanmu menjaganya sendiri.”

“Benar. Appamu sudah menyuruhku untuk menjagamu, jadi aku bertanggung jawab untuk menjagamu.” Ucap Suho.

“Mwo? Appa?”

“Tadi appamu menghubungiku, dia harus menyelesaikan pekerjaannya dan dia tidak bisa menemanimu jadi dia menyuruhku untuk menjagamu.”

“Aku akan menemani Suho menjagamu.” Xiumin ikut bergabung.

“Aku tidak akan tega membiarkanmu menjaga Luhan seorang diri.” Imbuh Lay.

“Apapun yang terjadi, kita adalah sahabat jadi kita harus bersama-sama.” Kai menambahkan.

“Aku setuju.” Seru D.O.

Sehun terharu. Mereka memang benar-benar sahabat sejati. Sehun beruntung mempunyai sahabat seperti mereka. “Gomawo hyung.” Sehun tersenyum bahagia.

“Bagaimana jika kita membuat jadwal saja? Kita akan bergantian menjaga Luhan selama dia dirawat di sini.” Usul Lay.

“Ide yang bagus, Lay. Jadi Sehun tidak meninggalkan sekolah terlalu banyak.” Xiumin setuju.

“Baiklah. Aku setuju.” Suho juga setuju.

“Bagaimana dengan yang lain? Mereka tidak ada di sini.” Tanya Kai mengingat hanya beberapa orang yang berkumpul disini.

“Mereka tidak akan menolak.” D.O yakin.

“Terserah kalian saja hyung.” Sehun kembali melanjutkan bubble tea yang tadi belum selesai diminum.

—–

Matahari mengintip melalui celah jendela. Udara panas sudah masuk ke ruangan yang serba putih itu. Sehun merasakan panas di wajahnya, lalu ia pun mengerjap bangun.

Sehun duduk lalu memandang berkeliling. Ada D.O dan Suho yang masih tertidur pulas di sofa. Tadi malam setelah menyusun jadwal, Kai, Xiumin, dan Lay pulang ke rumah masing-masing. Kai memutuskan pergi ke sekolah untuk menjelaskan masalah pertandingan kemarin bersama Baekhyun dan Chanyeol mewakili Sehun karena dia harus menjaga Luhan.

Kris dan Xiumin akan berganti dengan Suho dan D.O menemani Luhan karena Tao, Lay, dan Chen harus pergi ke sekolah menjelaskan hal yang sama pada pihak sekolah.

Suho dan D.O bangun. Mendapati Sehun sedang duduk di sebelah ranjang Luhan. Sehun memandangi Luhan dalam diam. Suho menepuk punggung Sehun membuat Sehun sedikit terkejut.

“Oe? Suho hyung? Kau sudah bangun?”

Suho menangguk. “Apa yang sedang kau lakukan?”

“Aku tidak melakukan apapun. Hanya memandanginya. Aku sangat merindukannya. Andai dia bisa mendengarku aku ingin mengatakan jika aku tidak pernah membencinya.”

“Dia pasti mendengarmu Sehunie. Aku harap setelah dia bangun nanti, dia akan berubah.”

“Aku juga berharap hal yang sama.”

Tiba-tiba D.O berjalan cepat menuju Sehun dan Suho sambil memegang ponselnya.

“Hyung, Kai bilang Sehun harus menemui pihak sekolah karena Sehun adalah kapten.”

“Mwo? Kenapa rumit sekali. Biar aku yang menjelaskannya pada sekolah. Kau temani Sehun disini.” Perintah Suho, D.O mengangguk.

“Gomawo hyung. Sekali lagi aku sangat berterima kasih padamu.” Ucap Sehun.

“Tidak perlu seperti itu. Kau sudah aku anggap adikku sendiri jadi masalahmu adalah masalahku juga.”

Sehun memeluk Suho. Suho adalah malaikat penolong karena arti dari namanya adalah ‘guard’. Suho selalu tau apa yang dia perlukan.

“Mm. Aku pergi, mungkin sebentar lagi Kris dan Xiumin akan sampai.” Suho mengambil jaket dan kunci mobilnya lalu meninggalkan ruangan Luhan.

Dugaan Suho benar. Xiumin dan Kris datang sesaat setelah Suho meninggalkan pintu. Kris datang membawa sarapan untuk Sehun dan D.O karena dia tau pasti mereka belum sarapan.

“Makanlah yang banyak.” Perintah Kris pada keduanya.

“Nde hyung.” Ucap D.O formal membuat Kris sedikit terkejut.

“Kau tidak perlu berbicara seperti itu padaku. Kita sudah beberapa kali bertemu.”

“Hahaha, arraseo hyung.” D.O nyengir.

“Dimana Suho? Bukankah seharusnya dia ada disini?” Tanya Xiumin ketika tersadar jika Suho tidak ada.

“Suho hyung mewakiliku menjelaskan tentang pertandingan kemarin pada sekolah” jawab Sehun.

“Arra.”

Xiumin mendekati ranjang Luhan. Dia merasa kasihan pada Luhan karena Luhan tidak bisa bermain basket lagi seperti biasanya. Mungkin cita-citanya menjadi pebasket internasional hanya mimpi.

“Ada apa hyung?” Sehun mendekati Xiumin.

“Ani. Aku hanya merasa kasihan padanya. Mimpinya mungkin tidak bisa terwujud.”

“Mwo? Ani. Kita harus bantu dia mewujudkan mimpinya. Kita tidak boleh membuat dia putus asa.”

“Tapi kakinya? Kau harus tau bagaimana kondisinya yang sekarang, Sehunie.”

“Wae? Aku yakin kakinya masih bisa disembuhkan.” Sehun sangat yakin Luhan bisa berjalan seperti biasa lagi. Suatu saat nanti.

“Sehun benar. Kita harus membantunya bangkit dan aku juga yakin jika Luhan bisa berjalan lagi. Entah itu kapan tapi aku yakin pasti bisa.” Sambung Kris yang sedari tadi mengikuti pembicaraan Sehun dan Xiumin bersama D.O.

“Walaupun aku tidak tau bagaimana Luhan sebenarnya tapi karena Sehun adalah adikku, aku akan membantunya.” D.O menambahkan.

“Aku sangat yakin dia bisa kembali menjadi pemain basket terhebat.” Ujar Sehun.

Ketika akan berbalik mengambil minum, Sehun melihat jari Luhan bergerak.

“Luhan hyung? Aku melihat jari Luhan hyung bergerak!” Seru Sehun senang.

“Jinja?” Kris dan D.O berhambur mendekat.

“Aku pasti tidak salah lihat. Jari Luhan hyung bergerak.” Sehun yakin matanya tidak rabun.

Setelah beberapa saat mata seseorang yang mereka tunggu itu mengerjap. Silaunya sinar matahari membuat matanya sedikit menyipit.

TBC

14 thoughts on “Last Game (Chapter 9)

  1. rakhmaseptt berkata:

    wahh .. daebak !! akhirnya mreka smua bisa bersahabat dg baik .. tinggal nunggu luhan nih gmn. .
    semoga bisa berubah😦
    next thor , udah keburu penasaran nih ><
    semangat !!
    thank u

  2. Light berkata:

    author-nim.. author bisa kirim langsung 2 chapter ga ? ato mungkin panjangin lagi deh.. ya^^ ceritanya udh bagus kok, bahasanya juga tapi yang bikin ff ini keliatan pendek krn ini baru nyeritaiin mereka di RS dan nunggu luhan bangun.. udh perfrct kok cuma panjangin dikiit lagi aja,, suksses authornim^^ keep writhing, ditunggu kelanjutannya^^

  3. wikapratiwi8wp berkata:

    Hhmm…author kece…nunggunyaaa lamaaaa banget part demi partnya keluar hahahaha
    Di part ini mereka cuma nungguin Lulu yaa…hhmmm kece sih..keren kok..bahasanya rapi…kata”nya bagus..untuk ff ini udah kena banget ceritanya…terutama HunHan nya yakk…itu the best…hihihi
    Tapi kalo ditambahin point of view yang langit pasti lebih kece…jadinya gak cuma di rumah sakit doang hehehe…*sorry kalau gak suka* hehe..
    But, overall this’s good! hehehe gue bingung jadi mau komen apa..hahaha karena mereka cuma nunggu Lulu doang…tapi persahabatannya keren loh…suka banget sama ff yang nyeritain persahabatan mereka. And then, Lulu sadar??? what’s happen on the next?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s