Forgotten

Forgotten (Cover)

Tittle                : Forgotten

Scriptwriter     : Kim Na Mie_02line (Nanda F. F. A.)

Main Cast        : Oh Sehun, and Xi Luhan

Support Cast   : Park Chanyeol, Kim Jongin

Genre              : Brothership, Hurt, Sad ending

Duration          : Oneshot (2,585word)

Rating             : General (Semua umur)

.

.

.

Dia mungkin akan lupa tentang apa yang sudah dia lakukan setelah membuka mata dari tidur. Tapi dia tidak mungkin lupa dengan apa yang dia lakukan di detik ini.

.

.

.

Amnesia Anterograde. Sebelumnya, dua kata itu terasa asing di telinga Luhan. Dia bukan mahasiswa jurusan kedokteran yang tahu arti dari nama penyakit Amnesia Anterograde itu. Dia adalah mahasiswa jurusan Sastra di Universitas Yonsei, Korea Selatan.

Tapi semuanya berubah tepat tiga setengah tahun lalu. Dia tahu dan mengerti apa itu Amnesia Anterograde. Sebuah penyakit yang menyebabkan ketidakmampuan otak dalam mentransfer ingatan jangka pendek dalam ingatan jangka panjang. Penyakit, yang menimpa adiknya, Oh Sehun.

Pertama kali mendengar bahwa Sehun mengidap Amnesia Anterograde, Luhan tampak mengerutkan kening karena tidak mengerti apa yang di maksud dengan Amnesia Anterograde itu. Dia pikir itu semacam kanker, jadi dia panik atas spekulasinya sendiri. Dan saat dokter yang memeriksa Sehun menjelaskan tentang penyakit itu, pikiran Luhan mendadak kosong, bahkan ini lebih parah dari kanker sekalipun. Satu kalimat yang berada di otaknya, kala itu.

Sehun akan melupakan semua kejadian-kejadian yang dia alami, setelah terbangun dari tidur. Semuanya, tanpa terkecuali. Termasuk, dirinya.

Dan mulai sejak saat itu, Luhan harus selalu mengingatkan Sehun, tentang apa saja yang dia lakukan. Setiap hari. Bahkan setiap detik, saat Sehun lupa dengan apa yang harus dia lakukan. Meniti hidup tanpa ada sebuah memori di ingatan, menurut Luhan itu sulit.

Luhan tidak lelah, untuk selalu mengingatkan adiknya. Tidak lelah, jika harus mengenalkan setiap orang yang Sehun kenal, sebelum terjadi kecelakaan itu. Dia juga tidak lelah, untuk selalu mengatakan pada Sehun, agar mempercayainya. Dia kakaknya, bukan?

Mungkin dia bukan kakak yang baik, karena saat kecelakaan itu terjadi, dia datang terlambat. Tapi dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk membuat ingatan Sehun kembali. Namun semuanya pupus ketika dokter mengatakan bahwa Amnesia Anterograde yang Sehun idap, sepenuhnya adalah permanen. Luhan menangis semalaman karena kenyataan pahit yang menimpa adiknya. Dia bahkan tidak tahu, jika seseorang yang ditangisinya, tengah dilanda bingung karena tidak tahu apa yang harus dia lakukan di dunia.

Di sini, Luhan memikul beban berat. Dia harus selalu menerima kenyataan bahwa Sehun akan selalu melupakannya, setelah Sehun bangun dari tidur. Jika saja bisa, Luhan akan menukarkan posisi mereka. Dia merasa sesak saat melihat raut wajah ketakutan dan bingung yang ditunjukan adiknya saat bangun dari tidur.

Dia… bisa apa?

Maka saat Sehun mengerling ketakutan padanya di pagi hari setelah bangun tidur, Luhan hanya bisa mengatakan sebuah kalimat dengan sebuah senyuman menenangkan.

“Aku kakakmu. Cukup percaya padaku, dan jangan takut…” Luhan mengatakan itu dengan nafas memberat karena menahan tangis. Dan dia harus selalu seperti itu, setiap harinya. Karena dia akan menjadi kakak yang baik untuk Sehun.

.

.

.

Matahari tampak mulai muncul dari ufuk timur. Cahaya kuningnya merambat lurus, menembus jendela Sehun yang hanya tertutup gorden transparan berwarna putih. Suara kicauan burung, terdengar bersahutan di pagi hari yang cerah. Sehun dipaksa bangun dari alam tidur karena semua itu.

Kelopak mata itu perlahan terbuka, memperlihatkan iris tajam bak elang yang dimiliki oleh Sehun. Pertama kali yang terlihat di mata Sehun adalah, langit-langit kamar berwarna putih bersih. Tidak ada ekspresi sama sekali di wajahnya. Datar.

Sehun menemukan sebuah karton berwarna krem dengan tulisan-tulisan hangul yang ditulis dengan ukuran tidak normal. Sangat besar.

CARI NOTEBOOK-MU, DI NAKAS SAMPING RANJANG!

Tulisan itu tampak rapi. Tapi Sehun tidak mengerti maksud dari tulisan itu. Jadi dia hanya menurut untuk mengambil sebuah notebook, yang tulisan-tulisan di karton itu katakan bahwa notebook berwarna cokelat tua ini adalah miliknya.

Pikirannya yang kosong menyuruh Sehun untuk membuka notebook di tangannya. Ekspresinya masih datar.

Namamu adalah Oh Sehun. Mempunyai orang tua yang saat ini tengah berada di Jerman untuk bekerja. Kau tidak sekolah, karena kau mengidap Amnesia Anterograde. Jangan tanya padaku apa itu Amnesia Aterograde, karena aku juga tidak tahu. Tanyalah pada daddy, karena dia adalah seorang dokter yang berkerja di rumah sakit terkenal di Jerman.

Kau lahir pada tanggal 12 April 1994. Kau juga mempunyai seorang kakak, bernama Oh Luhan yang mempunyai jarak umur empat tahun denganmu. Kau mempunyai beberapa sahabat, tapi mungkin kau tidak mengingatnya. Apa aku benar?

Ya. Sehun menjawab dengan tatapan kosong. Tidak bernyawa.

Kim Jongin, adalah sahabat yang sering menjahilimu. Kau biasa mengatai Jongin dengan sebutan Kkamjong karena kulit cokelatnya. Kau juga mempunyai sahabat bernama Park Chanyeol, sahabatmu, sekaligus sahabatku.

Cklek

Pintu kamarnya terbuka tepat saat dia menyelesaikan bacaannya. Dia memandang seorang pemuda berkulit putih pucat yang sama seperti warna kulitnya, yang saat ini tengah berdiri di bibir pintu dengan senyuman menenangkan.

Tapi Sehun tidak lagi perduli dengan senyuman itu, karena saat ini yang ada di pikirannya hanyalah rasa takut, juga bingung. Dia merasa sangat kecil di dunia ini. Tidak mengenal siapapun, untuk sekedar bertanya. Satu-satunya petunjuk yang sudah dia terima –hari ini- adalah, penjelasan di notebook tadi.

“Aku kakakmu. Cukup percaya padaku, dan jangan takut…”

Luhan kembali mengatakan kalimat yang sama seperti hari-hari yang lalu. Seperti ada yang melilit dadanya dan membuatnya sesak, dia tetap menunjukan senyum. Tidak peduli seberapa besar dia kesakitan ketika melihat wajah ketakutan adiknya, dia tetap tersenyum. Dia ingin menjadi kakak yang selalu melindungi adiknya.

‘Cukup percaya padaku, dan jangan takut…’

Kalimat itu bagai mantra yang terus diucapkan oleh hati dan pikiran Sehun. Di ucapkan berulang-ulang, hingga dia tahu –sangat tahu- arti dari kalimat itu. Dan dengan itu, dia membalas senyuman kakaknya dengan senyuman juga. –Hari ini- Dia akan mempercayai kakaknya. Yang bernama Luhan.

Sehun bahkan… selalu melakukan itu berulang-ulang…

.

.

.

Mereka berdua duduk bersebelahan di kursi panjang berwarna putih yang terletak di taman belakang mansion Oh. Tangan Sehun menggengam erat sebuah notebook yang sama saat ia bangun tidur tadi. Di sampingnya, Luhan membawa sebuah kamera polaroid.

“Sehun, lihat ke arahku!” ucap Luhan. Dia sudah menempatkan kamera polaroid-nya di depan wajah. Siap untuk memotret.

Ckrek!

Luhan langsung mengambil gambar wajah bingung Sehun dengan kameranya. Dia tergelak saat melihat hasil dari potretan itu. Lalu menunjukannya pada Sehun, dengan masi terbahak. Merasa sangat gemas dengan wajah adiknya. Namun tidak dipungkiri, ada rasa sedih di hati Luhan kala mengingat bahwa –pasti- Sehun akan melupakan moment ini, di hari esok.

Mengerucutkan bibirnya kesal, “Kau menyebalkan, hyung,” gerutu Sehun.

Hyung, berikan kameranya padaku!” ucap Sehun sambil mengulurkan tangan.

Kening Luhan berkerut. “Untuk apa?” tanyanya.

Sehun mendengus, “tentu saja memotret.”

“Oh… ini!”

Dan Sehun tampak mengotak-atik kamera polaroid itu. Luhan sama sekali tidak mempedulikan apa yang sedang dilakukan oleh Sehun. Pikirannya melayang jauh. Selalu ada harapan di hatinya. Dia ingin Sehun sembuh, hanya itu.

Hyung! Lihat itu, ada gajah!” Pekikan dari Sehun membuat Luhan terkejut. Tidak tahu apa yang dimaksud gajah oleh Sehun, dia langsung memutar kepalanya dengan raut terkejut.

Ckrek!

“Kita impas!” kata Sehun cepat dengan derai tawa yang keluar dari bibrnya. Dia menunjukan hasil jepretan kamera polaroid pada Luhan yang menatapnya jengkel.

Awalnya Luhan memang jengkel karena dibohongi. Tapi saat mendengar tawa Sehun yang begitu lepas, dia juga ikut bahagia. Karena entah apa yang akan terjadi esok hari, Luhan tidak tahu. Satu yang pasti, Sehun tidak akan mengingat moment ini. Dia akan melupakannya.

“Baiklah, kita impas. Sekarang, ayo kita berfoto bersama!” ajak Luhan antusias.

Meletakan kamera polaroid-nya pada treepot, Luhan langsung mengatur timer, setelah itu. Dia kembali duduk di samping Sehun. Memasang pose tersenyum lebar, dengan tangan kanan yang berada di bahu Sehun.

Yang bahunya dirangkul oleh Luhan, juga menampilkan senyum kekanakan. Pipi Sehun tertarik ke atas, membuat matanya membentuk bulan sabit yang manis. Dia benar-benar adik seorang Oh Luhan.

Ckrek!

Setelah mengetahui hasil jepretan kamera, mereka berdua tertawa bersama.

Luhan tampak mengoceh tentang semua foto yang berada di kamera polaroid-nya. Sedangkan Sehun, saat ini tengah menulis sesuatu di notebook-nya.

26 Juli 2015

Di detik ini.

Luhan hyung dan aku bercanda sambil berfoto di taman belakang rumah. Kami selalu tertawa bersama. Dan itu sangat menyenangkan. J

Tulis Sehun, di notebook-nya. Dia tahu, jika hari esok, semuanya akan terlupakan. Jadi jika memorinya tidak bisa mengingat apa yang dia lakukan hari ini dengan Luhan, biarkan Sehun menulisnya di notebook sebagai sebuah kenangan.

Dia mungkin akan lupa tentang apa yang sudah dia lakukan setelah membuka mata dari tidur. Tapi dia tidak mungkin lupa dengan apa yang dia lakukan di detik ini.

Bersama dengan kakaknya, di detik ini, Sehun kembali mengukir kenangan di bukunya…

.

.

.

Sehun berjalan pulang dari sekolahnya. Di tengah perjalanan, dia menoleh untuk melihat ke belakang. Rasanya ada yang mengikutiku, dan Sehun merasakan dengan jelas. Tapi dia menjadi bingung saat menoleh ke belakang namun tidak mendapati siapapun.

Mulai berjalan lagi, Sehun memasang perasaan was-was untuk berjaga-jaga. Tangan kirinya yang memegang ponsel tampak semakin mengerat saat perasaannya mulai merasa tidak enak. Mengambil ancang-ancang, Sehun langsung menoleh ke belakang lagi. Matanya terbelalak saat melihat tiga orang berbadan kekar yang berjalan tiga puluh meter di belakang. Salah satu dari mereka memegang tongkat baseball di genggaman.

Memori Sehun berputar, pada perkataan teman-temannya yang megatakan bahwa di jalan yang ia lewati ini, ada tiga orang psikopat yang tidak pernah ada prediksi kapan akan muncul. Mereka bilang, psikopat-psikopat itu akan menjual organ-organ tubuh mangsanya. Sehun bergidik karena itu.

“Hyung!” Sehun berteriak keras pada seseorang yang dia telepon.

“Kenapa, Sehun? Kenapa kau terlihat panik? Kau tidak apa-apa ‘kan?” Luhan ikut panik di seberang sana.

“Hyung! Ada tiga orang berbadan kekar yang mengikutiku. Salah satu di antara mereka menggenggam tongkat baseball. Hyung, cepat kemari!” jelas Sehun dengan nada panik. Dia terus berlari untuk menghindari tiga orang itu.

“Dimana kau sekarang? Cepat katakan!” balas Luhan dengan suara panik yang amat sangat kentara.

“Di jalan dekat halte, hyung!”

“Baiklah, tunggu aku! Lima menit!”

“Cepat!”

Sambil menunggu kakaknya datang, Sehun terus berlari tanpa arah. Sekitar empat menit terlewati. Dan mirisnya, Sehun menemukan jalan buntu. Wajahnya tampak sangat ketakutan. Satu menit terasa seperti seabad.

“Apa kau akan berlari lagi?” salah satu di antara mereka bertanya dengan suara beratnya. Sehun beringsut mundur, ketakutan.

“JANGAN MENDEKAT!!!” teriak Sehun panik. Dia tidak bisa kabur lagi. Karena di belakang ada sebuah tembok tinggi.

“Bagaimana kami mengambil organ tubuhmu jika mendekat saja tidak boleh?” tanya mereka santai.

“KUBILANG JANGAN MENDEKAT!!! KALIAN TIDAK AKAN BISA MEMBUNUHKU!!!” teriak Sehun kalap. Tubuhnya sudah bergetar ketakutan.

“Lalu kami harus menyia-yiakan uang kami? Begitu?” Sehun sungguh tidak paham dengan pertanyaan itu.

Buagh!!!

“BERHENTI!!!” teriakan menggelegar terdengar setelah salah satu di antara mereka memukul kepala Sehun dengan tongkat baseball. Teriakan Luhan.

“ANGKAT TANGAN KALIAN!!!” Tiba-tiba, polisi datang dengan membawa pistol dan borgol. Ketiga psikopat itu tampak ingin kabur. Tapi tidak berhasil, karena polisi bergerak lebih cepat.

Luhan tidak mempedulikan keadaan sekitar. Matanya terfokus pada adiknya yang tergeletak lemas di tanah. Darah segar mengalir dari kepalanya.

Dan Anmesia Anterograde itu muncul, karena kecelakaan itu.

Andai Luhan datang sedikit lebih cepat. Mungkin semuanya tidak akan terjadi.

.

.

.

Kicauan burung terdengar. Bau harum bunga musim semi tampak tercium jelas di hidung. Matahari menunjukan silaunya, membuat pemuda bernama Sehun itu terbangun.

Ketika dia mendudukan tubuhnya dari posisi tidur, sebuah karton tertempel jelas di dinding dekat pintu. Sama. Sebenarnya semua itu selalu sama dengan hari-hari sebelumnya. Tapi, seseorang yang mengidap Amnesia Anterograde itu tidak akan pernah mengingat. Ingatannya yang kemarin, kemarin, dan kemarin, sudah tertinggal di belakang. Yang dirinya sendiri tulis di notebook-nya.

Cklek

Pintu kamar terbuka. Menampilkan seorang pemuda dengan mata rusa yang tengah tersenyum ceria. Tapi senyumnya luntur, saat melihat raut ketakutan yang berlebih pada wajah adiknya. Pasti dia belum membaca notebook di nakas.

“Kau pasti melupakan notebook-mu,” ucap Luhan sambil tersenyum.

“Aku kakakmu. Cukup percaya padaku, dan jangan takut…”

Entah sudah yang keberapa ribu kalinya Luhan mengatakan kalimat itu, dia tidak akan lelah untuk mengulangi lagi, lagi, dan lagi. Karena alasanya mengatakan itu, hanya untuk adiknya. Dia tidak akan pernah lelah, dia sudah berjanji sejak kecelakaan itu.

“Namamu Oh Sehun. Kakakmu bernama Oh Luhan. Ayah dan ibu berada di Jerman, mengurusi perusahaan mereka yang ada di sana. Kau mempunyai sahabat, bernama Kim Jongin. Juga Park Chanyeol, yang juga merupakan sahabatku.” Luhan menjelaskan itu semua, tanpa melepaskan senyum menenangkan dari bibirnya.

“Sehun?” panggilnya.

“Ya?” Anak yang lebih muda merespon. Mulai mempercayai kakaknya.

“Aku akan pergi kuliah hingga jam lima nanti. Saat ini, jam menunjuk pada angka sembilan. Jadi, apa kau mau menungguku selama delapan jam tanpa ketakutan?” tanya Luhan lagi. Khawatir.

“Jika ada apa-apa, kau bisa menghubungiku lewat ponselmu. Itu-” lanjutnya sambil menunjuk sebuah ponsel berukuran lima inchi di nakas samping tempat tidur adiknya.

“Ya. Aku tidak apa-apa, hyung,” jawab Sehun pasti. Dia sudah sepenuhnya mempercayai Luhan.

“Oh, baiklah. Aku pergi. Jaga diri baik-baik…”

Sehun mengangguk sebagai jawaban. Kemudian, Luhan hilang di balik pintu.

Di kamar itu, Sehun mengisi delapan jamnya dengan membaca notebook.

.

.

.

Sirkuit jam mulai menunjuk pada angka lima. Sehun tampak antusias menunggu pulangnya Luhan dari kampus tempatnya kuliah.

Drtt… drrtt… drrtt…

Ponsel yang terletak di nakas samping ranjangnya bergetar. Menandakan ada panggilan masuk. Di layar ponselnya terdapat sederet tulisan yang membentuk kalimat, ‘Chanyeol hyung

Sehun tahu siapa itu Chanyeol, dari notebook-nya.

Yeobeoseyo? Chanyeol hyung?” nadanya terdengar canggung.

Di seberang sana, Chanyeol tampak menahan tangis ketika mendengar suara adik Luhan. “Sehun?” panggilnya. Suaranya bergetar dan parau.

“Ya?” jawab Sehun. Dia mengernyit saat mendengar suara sirine ambulance.

“Sehun…” panggilan Chanyeol mulai melemah. Isakan terdengar setelah itu.

Ne? Wae, hyung?” Perasaan Sehun mulai tidak enak. Ada rasa sesak di sana, di dadanya. Sekelebat bayangan tentang Luhan, tiba-tiba melintas di kepala.

“Sehun… Luhan…” suara Chanyeol terdengar pilu.

“Kenapa, hyung? Ada apa dengan Luhan hyung?” tanya Sehun mulai panik.

“Luhan… ke-kecelakaan…” Dengan terbata, Chanyeol mengucapkannya.

Sehun merasakan dunianya berputar. Kepalanya tiba-tiba pusing. Matanya berkunang-kunang.

Apa ini?

“A-apa?” tanya Sehun lirih. Tubuhnya melemas.

“Luhan kecelakaan. Dan dia… dan dia… dia…” Chanyeol benar-benar tidak sanggup mengatakannya.

“Luhan hyung kenapa? KENAPA, HYUNG?” teriak Sehun gusar. Sebelah tangannya yang tidak memegang ponsel, dia tumpukan di tembok untuk menahan berat badannya.

“Dia… dia… meninggal di tempat kejadian, Sehun. Tubuhnya remuk, tertekan badan mobil…” isak Chanyeol di seberang.

Prak! Brug!

Ponsel yang berada di genggamannya terjatuh, menghambur ke lantai. Diikuti dengan itu, tubuhnya ikut meluruh kebawah. Tatapannya kosong, tidak bernyawa. Cairan bening itu keluar dari mata tajamnya. Perlahan menjadi deras, dan menjadi sangat beruntun. Isakannya terdengar pilu.

Dia menyerah… dan dia terjatuh. Diikuti dengan jatuhnya tubuh Sehun, hatinya ikut hancur berkeping-keping. Kenyataan pahit, saat ini tengah memukul dan menamparnya.

“Tidak mungkin…” rintihnya sambil menunduk dalam.

“Tidak mungkin…”

“Luhan hyung tidak mungkin pergi…”

“Chanyeol hyung berbohong… dia hanya bergurau…”

“Luhan hyung…” panggilnya dengan pilu. Tangannya menggapai-gapai pintu. Tampak ingin keluar, dan menemui Luhan. Ingin membuktikan, bahwa semua ucapan Chanyeol itu hanyalah kebohongan. Sebuah kebohongan. Kebohongan.

Sehun berharap semua ini hanyalah sebuah kebohongan. Tapi ketika mendengar suara isakan Chanyeol, dan suara sirine ambulance yang terdengar dari speaker ponselnya, Sehun tidak mempunyai alasan untuk menyangkal. Dia hancur, ditinggal kakaknya.

Hyung… cepat datang. Kau bilang hanya delapan jam…”

Hyung… delapan jam sudah terlewati. Kau akan datang, bukan?” monolognya sambil menangis pilu. Air matanya terus terjun, mengisyaratkan bahwa hatinya hancur.

Setelah ini, siapa yang harus dia percayai? Setelah sosok yang selalu dia percayai itu pergi, siapa yang harus dia percayai? Siapa?

Hyung… datang…”

Dia… telah kehilangan seseorang yang selalu membuatnya mudah percaya di setiap dia memulai hidup baru…

Dia terisak sendirian di kamarnya. Mulutnya terus mengeluarkan suara. Menyebut nama Luhan, berulang-ulang.

Sehun tidak menulis kejadian hari ini di notebook-nya. Tidak dengan kenangan pahit. Bahkan jika Sehun melupakan kejadian hari ini, biarlah semua itu tertinggal di belakang tanpa dia tulis di notebook-nya. Semua ini, akan mengalir menuju sejarah kehidupannya.

Mungkin karena kelelahan menangis, Sehun tertidur dengan lelehan air mata yang terus mengalir dari sudut matanya yang tertutup. Jiwanya ikut hancur. Maka dari itu, dia menangis dalam tidur.

Setelah ini… setelah dia terbangun nanti… semuanya akan dia lupakan…

Hari esok… akan datang… dan dia akan lupa akan kejadian hari ini…

Esok hari akan datang… dan Sehun akan memulai hidup baru…

-FIN-

—————-

Notes :

Haiiiiii…*lambai tangan bareng HunHan

Bagaimana dengan ff-ku kali ini? ^^

Ehem, jujur, Na Mie nangis pas nulis ini. Luhan kasian. Sehun apalagi… 😥

Well, fiction ini dibuat hanya dalam kurun waktu sehari. Mungkin, sekitar delapan jam atau lebih, atau enggak sampai delapan jam. Entahlah, Na Mie lupa. Setidaknya, ide yang berada di pikiranku sudah aku tumpahkan dalam bentuk fiksi ‘kan? Dengan cast-nya biasku (tunjuk HunHan), tentu saja…^^

Jika ada yang kurang jelas dengan penyakit Amnesia Anterograde, bisa tanyakan pada Na Mie, atau Internet, atau bisa juga kenalan yang profesi-nya dokter. Tapi sebenernya Na Mie juga nggak tahu pasti apa itu Amnesia Anterograde /plakk/. Na Mie aja, dapet info dari Internet. Dan itu masih nyari-nyari blog yang penjelasannya simple tapi jelas…/malah_curhat/ ^^

Btw, Na Mie baca (nge-check ulang) Forgotten ini sambil dengerin lagunya LynYou’re My Destiny. Nyesek bangetlah, pokoknya. Siap-siap tisseu ya? *alahh (hehehe) ^^

Mind to comment? ^^

Tumpahkan perasaan kalian saat membaca ff oneshoot ini di kotak comment

Na Mie pamit ya? Da-dah…^^

Iklan

17 thoughts on “Forgotten

  1. Light berkata:

    author tega,tega bikin air mataku leleh juga tega bikin sehun ngelupain kenangan buruk yang berharga, ngelupain luhan.. huwee tetep ga relaaaa….

    • Kim Na Mie berkata:

      (#kasih_tisseu_ke_kak_Ligth) Maaf ya, kak… klo bikin nangis… 🙂

      Yah, krn itu memang jalan cerita kakak… hehehe
      Coba bayangin. Klo Sehun nulis kenangan hari ‘itu’ di-notebook-nya, pasti selamanya dia akan merasa sedih krn ditinggal seorang kakak. Jd, jika Sehun membaca notebook-nya, biarkan nggantung tanpa tahu klo Luhan udah pergi… gitu kak… rumit ya? *wkwkwk
      Oh iya, krn aku masih terlalu kecil dan belum terlalu ahli/plakk/, panggil Na Mie aja, ya? *Hehehe ^^

      Makasih udah baca…^^
      Kemungkinan, aku bakal mengirim ff lg dgn judul “Hidden Truth”. Cast-nya HunHan juga…(tentu saja) ^^

    • Kim Na Mie berkata:

      (#kasih_tisseu_ke_kak_Ligth) Maaf ya, kak… klo bikin nangis… 🙂

      Yah, krn itu memang jalan cerita kakak… hehehe
      Coba bayangin. Klo Sehun nulis kenangan hari ‘itu’ di-notebook-nya, pasti selamanya dia akan merasa sedih krn ditinggal seorang kakak. Jd, jika Sehun membaca notebook-nya, biarkan nggantung tanpa tahu klo Luhan udah pergi… gitu kak… rumit ya? *wkwkwk
      Oh iya, krn aku masih terlalu kecil (2002) dan belum terlalu ahli/plakk/, panggil Na Mie aja, ya? *Hehehe ^^

      Makasih udah baca…^^
      Kemungkinan, aku bakal mengirim ff lg dgn judul “Hidden Truth”. Cast-nya HunHan juga…(tentu saja) ^^

    • Kim Na Mie berkata:

      Hahaha… makasih, kak… ^^
      Sesek? Aku ambilin Procol ya? *plakk (apa hubungannya coba? ^^)

      Tunggu ff ku selanjutnya ya…
      Cast-nya HunHan, judulnya “Hidden Truth”…

    • Kim Na Mie berkata:

      Hehehe… makasih, kak… ^^
      Jd feel-nya dapet kan? *ngarep

      Iya, ya…
      Heh… ortu mereka baru pacaran di Jerman… *plakk
      Bercanda ^^. Krn ini cast-nya HunHan, jd ortu mereka cuman keluar dlm nama/?/. Maksudnya, cuman dipenjelasan yg dibacain Luhan…^^
      Diawang2, nanti ortu mereka pulang buat nememin Sehun yg ditinggal Luhan… 😦

      Makasih…^^

  2. wikapratiwi8wp berkata:

    Woaa…spechless..ini menyedihkan author. Aduh..kasian banget sama Sehunie..huhuhu udah sakit gak ada Luhanie lagi..huhuhu jangan tinggalkan Hunnie Kak Lulu…woaa…author kece hehehe apapun itu kalau tentang HunHan I will always like that…Fighting author kece!! 🙂

  3. Hanna berkata:

    jdi ntar pas Sehun bangun dia lupa semua..lupa ttg Luhan yang udah gak ada..tapi pasti dia ntar nyari2 Luhan gara2 baca notebook nya.. 😥
    Kalo gak ada Luhan terus Sehun gimanaa.. 😥
    keren thor ff nya,, bikin terharuuu….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s