Autumn Scene

Autumn Scene (cover)

Author             : shiroikumo94 (@nareswari94)

Title                 : Autumn Scene

Main Cast        :

  1. Kim Jongdae a.k.a EXO Chen
  2. Moon Haneul (OC)

Support Cast    :

  1. Kim Jongin a.k.a EXO Kai
  2. Oh Sehun a.k.a EXO Sehun
  3. Park Minji (OC)
  4. Kim Seokjin a.k.a BTS Jin

Genre              : Sad

Length             : Oneshot

Rating              : G

Note : Autumn Scene adalah salah satu judul instrumen karya Yiruma dan cerita ini terinspirasi dari karya tersebut. Fanfiction ini juga dipublikasikan dalam akun FB dan wordpress pribadi author serta Fanfiction Blog lainnya dengan mencantumkan nama shiroikumo94 sebagai author. Jaa, selamat membaca, semoga terhibur, dan mohon kritik sarannya ya, fellas ^^ Thank you and Love You~

Aku tidak sanggup jika harus menunggu musim dingin sembari menatap kebahagiaanmu berguguran satu persatu dan membiarkannya berserakan sepanjang jalan lalu tertiup angin hilang entah kemana.

*****

Kim Jongdae termenung bersandar pada pintu. Pandangannya tertumpu pada seorang perempuan di sudut ruangan, duduk dengan kepala terkulai. Sudah berhari-hari perempuan itu menyanyikan senandung patah hati lewat mendung yang menggantung pada kedua kelopak mata. Irama sendunya menjelma rintik hujan, berlomba jatuh dari pelupuk. Tetesannya menghujam hati dan kembali menabuh pilu yang tak jua ingin berhenti.

Jongdae mendesah resah. Sungguh sangat menyakitkan menyaksikan perempuan itu terisak di atas kepingan hati yang terserak, sedang dirinya hanya mampu berperan sebagai penonton. Bukan ia tak pernah mencoba. Jongdae berkali-kali mengumpulkan serpihan-serpihan itu hingga ia sendiri terluka. Namun tangannya ternyata tak mampu menarik perempuan itu keluar dari jurang kesedihan yang membelenggu.

“Haneul” Ia mendekati perempuan itu, mengambil duduk tepat di sebelahnya. Haneul tak sedikitpun bereaksi.

Jongdae mendekatkan wajah, hingga ia dapat melihat satu demi satu helai bulu mata milik Haneul.

“Apakah kau masih ingin membiarkan duka betah berlama-lama bersemayam dalam dirimu?” diucapkannya kata demi kata dengan hati-hati. Suaranya bergetar.

“Apa kau masih bertanya ‘kenapa’ pada laki-laki yang meninggalkanmu itu? Jawaban macam apa lagi yang ingin kau dengar?”

Haneul menegakkan kepala, menyandarkannya di dinding.

“Kau tahu, Haneul? Laki-laki yang kau cintai itu tak akan pernah kembali. Sekalipun kau tumpahkan air mata untuknya sepanjang hari. Laki-laki yang kau cintai itu akan tetap pergi, sekuat apapun kau berteriak memintanya menahan langkah. Dia tidak peduli dan tidak akan pernah datang lagi” Jongdae berbicara penuh penekanan.

Haneul menjawab dengan tatapan kosong. Gerimis masih menetes satu demi satu dari pelupuknya, menumpuk jejak kering bekas tangis kemarin. Membiaskan merah pada sepasang mata, mengisyaratkan duka yang meluap-luap. Musim gugur masih berlangsung, tetapi salju sudah terlebih dulu jatuh pada wajahnya. Mengubahnya menjadi pucat lengkap dengan sepasang pipi yang tirus. Sedang di dalam sana, hatinya sesak oleh sedih yang bertumpuk-tumpuk, hingga tak sedikitpun ruang tersisa bagi emosi lain untuk menyelinap.

“Haneul, kuberi tahu satu hal meski kau mungkin bosan telah mendengarnya ratusan kali. Jika laki-laki itu takdirmu, dia akan kembali apapun yang terjadi. Tapi lihat, dia tetap meninggalkanmu kan? Itu berarti kalian tidak digariskan untuk bersama. Itu artinya kau dipersiapkan untuk seseorang yang jauh lebih baik” Jongdae berpindah posisi, berlutut di hadapan Haneul. Ia kembali mendekatkan wajah, hingga mampu menangkap pantulan diri sendiri pada sepasang iris hitam di depannya. Jongdae berharap Haneul dapat menangkap harapan yang coba ia sampaikan lewat pandangan matanya.

Namun Haneul memilih untuk terpejam. Gadis itu sudah terlalu lelah menyaksikan duka tak kunjung pudar dari hadapannya. Jongdae menghembuskan napas penuh putus asa. Akhirnya akan selalu seperti ini tiap kali ia mencoba mengulurkan tangan menyembuhkan hati Haneul yang luka. Mungkin tepatnya bukan mengobati. Jongdae ingin membuat Haneul membuka mata. Tetes air matanya terlalu berharga untuk diberikan kepada laki-laki yang telah menghancurkan hatinya dan pergi tanpa mempu membangunnya kembali. Namun Haneul tampaknya menutup telinga hingga tak satu pun ucapannya mampu menyentuh ruang dengar gadis itu.

Jongdae kemudian beranjak, perlahan memutar badan meninggalkan Haneul sendirian di kamarnya.

*****

Ya, Kim Seokjin! Tidak bisakah kau melakukan sesuatu untuk Haneul?”

Jongdae berdiri dengan tangan tersimpan dalam kedua saku celana. Ia menghadap sebuah meja kerja dari kayu hitam yang kokoh. Di baliknya, seorang pemuda dengan jas putih tertunduk dengan kedua tangan terkait menopang kepala. Seolah beban pikirannya teramat berat hingga ia tak mampu menahannya. Ruangan tempat mereka berada begitu sepi, Jongdae bahkan dapat mendengar hembusan napas dokter muda itu.

Sebenarnya Jongdae amat benci melakukan ini karena sama saja ia mengangkat bendera putih tanda kekalahan. Ia dan dokter tampan itu selalu berlomba mendapatkan atensi seorang gadis yang sama. Jongdae tak pernah sedetik pun berpikir mengalah soal perasaan. Namun sekarang ia benar-benar butuh bantuan Kim Seokjin untuk mengembalikan raut bahagia dan senyum manis pada wajah Haneul. Jongdae tahu Jin dapat dipercaya. Meski setelah ini pemuda itulah yang akan memenangkan hati Haneul, Jongdae tak peduli. Jika Haneul dapat terlepas dari duka yang selama ini mencengkram, maka Jongdae tak akan meminta lebih.

“Jangan terburu merasa menang. Aku meminta bantuanmu bukan berarti aku mundur. Aku hanya tak ingin melihat Haneul menangis lebih lama lagi” Jongdae melirik lewat ekor mata, masih enggan menatap wajah pesaingnya. “Berpikirlah, dokter. Otakmu kan cerdas. Kau pasti tahu caranya” imbuhnya.

Kim Seokjin hanya menghela napas. Tubuhnya bersandar pada kursi dengan bahu terkulai. Pandangannya menerawang. Jangan tanya apa yang telah ia lakukan untuk gadis itu. Berkali-kali dirinya mengunjungi Haneul. Sekedar bertanya kabar, membawakan masakan, menceritakan semua lelucon yang ia tahu, hingga memberi mawar putih kesukaan Haneul. Namun semuanya memberikan hasil yang sama. Haneul selalu menyambutnya dengan mata basah dan tatapan kosong. Gadis itu menjawab salamnya dengan wajah keruh, tampak tak ada sedikitpun harapan tersisa di sana.

Dokter berwajah tampan itu tak mengerti harus dengan cara seperti apa ia menyembuhkan luka dalam diri Haneul. Gadis itu menutup pintu hatinya lebih rapat dibanding ketika Seokjin datang membawa cinta dua tahun lalu. Uluran tangannya diabaikan begitu saja. Penolakan seperti ini jauh lebih membuatnya putus asa.

Jongdae melirik Kim Seokjin sekali lagi, berharap pemuda itu bersedia membantunya.

*****

“Kalian bilang, kalian sahabatnya”

Jongdae melipat tangan. Tiga manusia duduk melingar di hadapannya. Coffee shop di daerah Apgujeong ini begitu ramai. Namun ketiganya memilih membisu. Satu-satunya wanita di antara mereka, Park Minji, mengatupkan tangan di atas pangkuan dan menundukkan kepala. Pemuda berkulit gelap, Kim Jongin, hanya mengaduk-aduk americano yang telah mendingin tanpa meminumnya setetespun. Sedangkan pemuda jangkung di sebelahnya, Oh Sehun, mengetuk-ketuk jemarinya sambil melamun.

A friend in need is a friend indeed, isn’t it? Kalian adalah teman-teman terbaiknya, tolong bantu Haneul menemukan kembali kebahagiannya” pinta Jongdae. Ia menyapukan pandangan pada satu persatu wajah yang menyorotkan keputusasaan yang sama.

Minji mengangkat tangannya, berpindah menutupi wajah. Jongin dan Sehun bergerak melirik gadis itu lalu saling pandang. Mereka bertiga sudah berusaha keras melakukan apa saja yang bisa mereka berikan sebagai sahabat baik. Mereka menjadi pemilik nomor yang paling sering terlihat pada display ponsel Haneul. Mencatat jumlah panggilan masuk dan pengirim pesan terbanyak. Menjadi wajah-wajah yang hampir tiap hari terlihat mengunjungi gadis itu.

Haneul bisa tertawa bersama mereka. Namun bahkan lewat sekilas pandang ketiganya tahu hanya ada kekosongan di sana. Ada yang hilang dari Haneul sejak laki-laki itu pergi meninggalkannya. Baik Jongin, Sehun, maupun Minji tak menyangka hati dan perasaan Haneul akan hancur separah ini. Tidak ada yang sedetik pun pernah mengira gadis ceria itu akan begitu terlarut dalam duka. Luka hati Haneul terlalu parah, terlalu jauh dari jangkauan mereka. Bagaimana menyembuhkannya, menjadi pertanyaan besar yang hingga kini tak mampu mereka temukan jawabannya.

*****

Jongdae melangkah perlahan, berusaha tidak menimbulkan sekecil apapun suara. Ia menghampiri Haneul yang tengah terlelap. Waktu bahkan masih jauh jaraknya dengan malam, tetapi mungkin lelah menangis membuat gadis itu ingin beristirahat duluan. Jongdae duduk di atas lantai, bersandar pada dinding antara tepi ranjang dan meja rias. Ia masih menemukan jejak air mata pada wajah gadis itu. Kim Seokjin dan ketiga sahabat Haneul tampaknya tak mampu mengembalikan kebahagiaan Haneul seperti yang ia minta.

Ia menarik senyum tipis. Matanya menerawang.

“Haneul, dulu aku pernah mengenal seorang perempuan. Di wajahnya kutemukan matahari terbit, hingga tiap kali memandangnya, terasa begitu hangat dan menenangkan. Perempuan itu memiliki pelangi dalam senyumnya, yang mampu menghapus setiap duka dan menyembuhkan setiap luka” Jongdae berkata pelan, berharap ucapannya dapat menembus batas mimpi gadis itu.

“Sungguh ia adalah perempuan paling tegar yang pernah kukenal selain ibuku. Bagiku ia adalah kekuatan untuk masa lalu, keteguhan untuk hari ini, dan harapan untuk masa depan. Aku pernah bersumpah untuk berdiri sebagai perisainya” Sepasang matanya berkaca.

“Haneul, sayangnya aku kehilangan perempuan itu dan tak tahu kemana harus mencari. Laki-laki yang dicintainya pergi, meninggalkannya dengan kekosongan. Dan aku terlalu lemah, tak mampu menjadi perisai melindunginya dari kehancuran.” Jongdae menggigit bibir.

“Aku tak kuasa menyaksikan wajahnya selalu basah oleh duka. Setiap isaknya menjelma perih menyayat dalam hati. Aku tak sanggup jika harus menanti musim dingin sembari menyaksikan kebahagiaannya berguguran satu persatu dan membiarkannya berserakan sepanjang jalan lalu tertiup angin hilang entah kemana. Sungguh Haneul, aku tidak akan pernah sanggup” suaranya tercekat. Ia menghembuskan napas keras, sekuat mungkin menahan tangis.

“Aku mencoba apa saja untuk membuat hujan berhenti meneteskan air mata kepedihan dari sepasang matanya. Namun kau tahu Haneul, semuanya berakhir begitu saja sebab duka dalam dirinya tak kunjung reda. Aku tidak mengerti pintu mana lagi yang harus kubuka untuk mengembalikan kebahagiaan dalam genggamannya. Aku tidak tahu harus kemana lagi mencari obat penyembuh bagi hatinya yang luka”

Jongdae menarik napas dalam.

“Sungguh aku sangat merindukan matahari dan pelangi dalam wajah perempuan itu, Haneul. Dan kau tahu..” kata-katanya menggantung. Jongdae menolehkan kepalanya, menatap Haneul dengan begitu teduh.

“Perempuan itu adalah dirimu, Haneul”

*****

Tinggal sepuluh meter lagi hingga Jongdae tiba di rumah Haneul ketika matanya menangkap sosok Kim Seokjin berjalan ke arah yang sama. Pemuda itu hanya terpaut beberapa langkah di depannya. Jongdae spontan berhenti. Dapat dipastikan Jin juga akan mengunjungi Haneul.

Mereka memang bersaing sejak lama dalam hal yang sama, seolah mereka ditakdirkan menjadi rival abadi. Sebelumnya Jongdae selalu bersikeras untuk menang. Namun kali ini ia memilih menurunkan tirainya. Sudah saatnya itu lengser dari panggung pemeran utama. Tempatnya kini adalah bangku penonton. Haneul adalah seorang tuan putri dan Kim Seokjin adalah pangeran yang memenangkan hati sang putri.

Seperti pada setiap kisah dengan akhir bahagia, sebagai penonton ia harus berdiri bertepuk tangan. Tersenyum meski hatinya berkata lain.

Good luck, Kim Seokjin

*****

Hari terakhir pada pekan ketujuh sejak Haneul menyanyikan senandung patah hatinya.

Jongdae dalam perjalanan menemui gadis itu. Entah apa yang terjadi, seminggu belakangan Haneul tampak begitu berbeda. Tak ada lagi mendung dan rintik hujan meluruh dari pelupuk. Senyumnya memang belum sepenuhnya kembali, tapi setidaknya tatapan kosongnya telah sirna. Jongdae sedikit merasa lega. Mungkin tanpa sepengetahuannya, Kim Seokjin telah mampu mengulurkan tangan menyembuhkan luka Haneul barang sedikit. Atau ketiga sahabatnya bisa jadi berhasil membuang jauh-jauh kehampaan dari diri gadis itu.

Langkah Jongdae baru saja berhenti di depan pintu, ketika gadis itu tampak di baliknya. Haneul terlihat rapi dengan mantel cokelat muda dan syal rajutan berwarna baby blue di leher. Kakinya tertutup sepatu sporty berwarna biru gelap, senada dengan celana panjang yang ia kenakan.

“Kau.. mau kemana?” tanya Jongdae dengan penuh rasa terkejut.

Haneul menutup pintu dan bersandar. Keraguan tergambar pada wajahnya.

“Jangan bilang, kau ingin menemui laki-laki itu?”

Melihat air muka gadis itu, Jongdae yakin ia tak perlu lagi mendengar jawaban. Hatinya yang sempat lega, kini kembali kalut. Ya Tuhan, teriaknya dalam hati. Apa yang ada dalam pikiran gadis itu? Apa lagi yang ia harapkan dengan mengunjungi pemuda yang telah menghancurkan hatinya.

“Kau tidak boleh bertemu dengannya!” seru Jongdae. Ia menjajari langkah Haneul yang mulai meninggalkan halaman rumah. Haneul bungkam dan terus berjalan membelah udara dingin penghujung musim gugur.

“Kau masih mau mengunjungi mantan kekasihmu itu, setelah sebelumnya kau melakukan hal yang sama berulang-ulang kali kemudian selalu pulang dengan wajah sembab. Kau hanya akan menyakiti hatimu lagi dan lagi di sana” Jongdae berbicara penuh penekanan. Namun ucapannya seolah terhempas angin. Haneul tak menggubrisnya sama sekali.

“Sampai kapan kau akan merusak hidupmu, Moon Haneul? Apa kau tidak bisa berhenti melakukan kesalahan yang sama?” Jongdae menaikkan volume suaranya, ia benar-benar berteriak. Seumur hidup, ini kali pertama ia membentak gadis itu dan memanggilnya dengan nama lengkap. Napasnya memburu, menahan amarah juga perih menyayat. Tak ada yang lebih menyakitkan daripada bersikap kasar kepada orang yang ia cintai. Namun ia tak tahan jika gadis itu harus kembali menderita.

Haneul menyetop sebuah taksi.

“Baiklah, terserah kau saja! Aku tidak peduli lagi! Aku lelah dengan sikap keras kepalamu!” Jongdae berhenti berjalan. Ia membiarkan Haneul pergi begitu saja.

Taksi hitam itu berlalu. Jongdae mengikuti dengan ekor matanya. Sedetik kemudian ia menghembuskan napas keras. Bagaimana pun, mengabaikan gadis itu tak pernah ada dalam kamus hidupnya.

*****

“Haneul, aku minta maaf telah membentakmu. Aku tahu aku salah. Aku hanya tidak ingin melihatmu terus bersedih, Haneul” Jongdae setengah berlari menyusul Haneul. Beruntung ia tiba tak lama setelahnya.

“Haneul kumohon, ayo pulang” Ia tinggal beberapa langkah saja. Hatinya terus berharap Haneul mau mendengarkannya menjauhkan diri dari tempat menyedihkan itu.

Namun gadis itu memilih tetap berjalan. Ia menahan kuat-kuat sedih yang menyesakkan dada. Tangannya mengepal sangat erat hingga kukunya membekas pada telapak sendiri. Seolah dengan begitu ia dapat beralih dari perasaan sakit hati. Ia harus menemui laki-laki itu. Ia akan menyelesaikan semuanya hari ini.

“Kumohon Haneul, lupakan dia!”

Jongdae masih belum menyerah. Sungguh ia ingin sekali meraih lengan gadis itu dan membawanya pergi. Meski setelah itu Haneul akan teramat membencinya, ia tak peduli. Jauh lebih baik dibanding melihat gadis itu terpuruk.

Haneul masih acuh. Seakan ia telah melumpuhkan seluruh kemampuan indera pendengarannya. Kakinya tak berhenti melangkah, semakin mendekatkannya pada tempat laki-laki itu berada.

“Tolong lupakan laki-laki itu, Haneul” tekannya lagi.

Langkah Haneul berhenti. Di hadapan mereka terdapat sebuah pusara yang masih baru. Ada satu nama terukir jelas pada nisannya. Jongdae memejamkan mata. Ia terlambat.

Dengan suara bergetar, Jongdae masih berusaha menyampaikan permintaannya. Ini yang terakhir.

“Haneul.. tolong.. lupakan aku”

*****

Kim Jongdae.

Haneul membaca lagi nama yang tertera pada nisan, seolah ingin menegaskan bahwa kenyataan yang selama ini ia terima tidak salah. Gadis itu menarik napas dalam sebelum bersimpuh di sebelah tempat pembaringan terakhir pemuda yang ia cintai. Kekasihnya.

“Hai Oppa. Apa kabar? Musim gugur sudah hampir berakhir. Apa kau kedinginan di sana?” Haneul tersenyum tipis. Tangannya bergerak mengusap pusara itu perlahan.

Oppa, ingat syal ini? Kita membuatnya bersama. Waktu itu Oppa bilang ini biru dan aku bilang lebih tepat jika dikatakan baby blue. Lalu Oppa bertanya kenapa wanita memiliki kosakata yang terlalu banyak hanya untuk memberni nama pada warna. Kalau satu kata bisa digunakan untuk banyak warna, kenapa harus memakai banyak kata” Haneul memainkan ujung syalnya sembari menggigit bibir. Jongdae hanya menatapnya dengan bungkam.

Oppa ingat, kita sering duduk di teras atas rumahku melihat langit malam dengan secangkir kopi. Kita berbincang banyak hal sejak uap masih mengepul hingga kopi itu berubah dingin. Kau dan aku sangat menyukai kopi, tapi kebersamaan kita selalu membuat eksistensinya terlupakan” Mata gadis itu mulai berkaca. Semua memorinya bersama pemuda bermata teduh itu berdesakan ingin melompat lewat kosakatanya. Suaranya terdengar semakin parau. Ia kembali menarik napas dalam.

“Kenangan bersamamu sungguh sangat banyak, Oppa. Mengingatnya, membuatku semakin merindukanmu. Bahkan mungkin kalau perasaan rinduku ini ditumpuk, sudah setinggi Gunung Hallasan di Pulau Jeju” Haneul tertawa pelan. Jongdae dapat menangkap ada getir yang terselip di antaranya.

“Aku tak pernah mengira, kepergianmu akan terasa seberat ini. Aku mati dalam kehidupanku. Jika kau pernah melihat pohon meranggas, maka itulah aku. You see Oppa, even a psychologist needs psychologist” selaput bening menggenang semakin tebal di permukaan matanya. Haneul menyusut hidung.

Tanah pemakaman itu sangat sepi. Suara angin musim gugur yang bertiup bahkan mampu tertangkap telinga. Terdengar begitu menyedihkan, seolah mengerti apa yang tengah Haneul rasakan.

Jongdae memilih memejamkan mata. Ya Tuhan, jangan buat Haneul menangis lagi hari ini.

“Suatu hari ada yang berkata padaku : Berhentilah berduka. Jangan sampai kau membuatnya merasa bersalah dengan semua air mata yang kau tumpahkan setiap hari. Aku tahu kau mencintainya dan aku tahu dia juga mencintaimu lebih dari apa yang selama ini kau pahami. Sungguh dia pun tidak menginginkan perpisahan ini. Jika saja ia dapat melawan takdir untuk kembali, aku yakin tanpa kau minta pun, ia sudah melakukannya”

Haneul menengadahkan kepalanya. Ia berupaya keras agar tangisnya tak tumpah.

“Kurasa itu benar. Selama ini, secara tidak sadar aku telah melukai hatimu oppa. Aku egois, hanya berpikir jika akulah yang paling menderita. Maafkan aku. Sungguh, semua ini bukan salahmu. Aku akhirnya paham jika di dunia ini, memang ada banyak hal yang tak akan kembali sekeras apapun kita menginginkannya”

Jongdae terperangah.

“Sebenarnya, aku tidak menderita karena kepergianmu. Aku menderita karena aku berusaha keras menghapus kenangan indah kita dari memoriku. Kupikir dengan begitu aku bisa menerima kepergianmu. Ternyata tidak, aku justru semakin terpuruk”

“Aku sadar, bahkan seumur hidup pun aku tidak akan pernah bisa menghapus semua jejak kebersamaan kita. Jadi kumohon, jangan pernah memintaku untuk lupa. Karena sesungguhnya menerima bukan berarti melupakan” Haneul menyelipkan rambutnya ke balik telinga. Ia menarik dua sudut bibirnya ke atas, mengirim senyum. Berharap Jongdae dapat melihatnya meski mereka berada pada dimensi yang berbeda.

“Setiap duka akan menggores luka di hati. Menerima berarti hidup dengan luka yang tetap ada di sana, tetapi kau tak lagi merasakan sakitnya” Haneul mengusap perlahan nisan itu sekali lagi. Ditatapnya dengan lembut, seolah pemuda bermata teduh itu sendirilah yang tengah ada di hadapannya.

“Aku berjanji akan baik-baik saja. Aku akan bahagia, untukku dan untukmu juga. Karena itu, Oppa tidak usah khawatir. Istirahatlah dengan tenang”

*****

Jongdae berdiri mematung dengan pandangan terpaku pada sosok gadis berambut sebahu di hadapannya. Sejak sebuah dinding yang begitu tinggi memisahkan dimensi mereka berdua, Jongdae tak pernah merasa tenang. Setiap hari ia mengunjungi gadis itu, menatapnya menangis bahkan dalam lelap. Mengutuki dirinya berkali-kali dengan rasa bersalah yang semakin memberatkan kedua pundaknya dari waktu ke waktu. Jongdae marah atas takdirnya, kepergiannya menghancurkan hati Haneul, dan ia tak mampu membangunnya kembali. Ia merasa menjadi sebab dari duka yang mencengkram Haneul begitu kuat. Ia adalah pemuda memalukan yang tak bisa melakukan apa-apa untuk menghapus air mata dari wajah kekasihnya.

Jongdae masih memandang Haneul hingga tak sadar mendung mulai menggantung pada kedua matanya. Angin dingin bertiup di antara keduanya, seolah menerbangkan berjuta lembar memori yang Haneul dan dirinya tulis bersama. Ia sejenak terjebak dalam episode kebersamaan mereka, yang begitu saja terputar di hadapannya.

Masih teramat jelas pada pertemuan pertama mereka lima tahun lalu, Haneul sama sekali tak pernah menatap matanya. Juga kala Jongdae menyatakan perasaannya dua tahun kemudian, wajah gadis itu merona, membuat Haneul terlihat begitu manis.

Ia masih ingat mereka pernah bertengkar ketika Haneul memergokinya minum cola dingin saat tengah terserang demam berat. Gadis itu marah tapi tetap membawakan makanan untuknya tiap hari meski dengan wajah tertekuk.

Haneul yang model rambutnya tidak pernah berubah selama bertahun-tahun. Haneul, gadis cengeng yang selalu berusaha terlihat tegar dan itu membuatnya tampak lucu. Haneul yang selalu tumbang pada putaran pertama tiap kali mereka lari pagi bersama. Haneul yang sangat menyukai biru, warna langit sesuai namanya. Haneul yang lembut dan manis. Haneul yang…

“Ah, sial!” desis Jongdae. Ia menundukkan kepala sembari berkacak pinggang. Air mata mengalir membuat garis basah di sepasang pipinya. Hatinya mendadak diliputi perasaan sesak bertubi-tubi. Jongdae kira ia dapat melewati 49 harinya* dengan mulus. Kenyataannya justru kini ia yang menangis. Pedihnya selamat tinggal baru ia rasakan sekarang.

Perpisahan tidak pernah berjalan dengan mudah.

Jongdae menarik napas dalam. Lewat tangisnya, ada beban yang meluruh membuat hatinya terasa lapang. Perasaan bersalah yang selama ini menghantuinya, perlahan menguap hingga habis tak bersisa.

Hanya tersisa tak lebih semenit sebelum ia benar-benar pergi.

“Sudah kuduga, aku tidak sanggup jauh darimu. Tapi setidaknya aku lega melihatmu tak lagi menderita” ditatapnya Haneul yang mulai berdiri dan menepuk kedua lutut, membersihkan tanah yang menempel.

“Setelah ini, tidak usah sering-sering datang kemari. Ada banyak hal yang lebih penting yang harus kau lakukan dengan waktumu”

Haneul membalikkan badannya.

“Aku minta maaf telah memintamu untuk melupakanku. Aku tidak sadar jika itu ternyata membuatmu menderita. Kau benar, menerima bukan berarti melupakan”

“Aku juga sangat berterima kasih telah dipertemukan dengan dirimu, Haneul. Terima kasih untuk bersedia bahagia demi diriku. Kau tahu, kebahagiaanmu adalah kebahagiaan terbesar bagiku” sambungnya lagi.

Haneul berada dua langkah di depan Jongdae.

“Dulu aku membencinya, tetapi sekarang aku lega dengan kehadiran Kim Seokjin di sisimu. Aku yakin dia masih menyimpan perasaan yang sama. Kelak ketika dia datang padamu, terimalah dengan hati terbuka. Dia tulus dan mencintaimu lebih dari apa yang pernah kulakukan”

Haneul tepat berada di depan Jongdae. Pemuda tersenyum. Esok musim dingin akan dimulai dan pemandangan musim gugur yang menyakitkan telah berlalu. Matahari perlahan terbit pada wajah Haneul, pelangi juga kembali merekah dalam senyumnya. Hari ini ia dapat pergi dengan tenang. Jongdae merasakan tubuhnya begitu ringan. Ia seolah melayang dan semuanya terlihat semakin memudar.

“Sampai jumpa kembali, Haneul. Saranghae

Angin bertiup pelan, menyelinap di antara helaian rambut yang terselip di balik telinga Haneul. Pelan sekali, tetapi mampu menahan langkah gadis itu. Haneul sedikit melebarkan kedua matanya. Tiba-tiba ada getaran timbul di hati, sama seperti kala Jongdae pertama kali mengelus puncak kepalanya dengan lembut. Gadis itu bergeming beberapa detik. Tubuhnya lalu berbalik dengan pandangan tertumpu pada pusara kekasihnya.

Perlahan, dua sudut bibirnya kembali terangkat.

“Sampai jumpa, Jongdae Oppa

*****

*Kepercayaan Shamanisme dan Taoisme di Korea Selatan meyakini bahwa setiap manusia memiliki tujuh nyawa. Ketika manusia meninggal, satu persatu nyawa mereka pergi ke surga setiap tujuh hari sekali. Pada hari ke 49 setelah kematian, manusia tersebut benar-benar telah meninggalkan dunia.

One thought on “Autumn Scene

  1. bLueee^^ berkata:

    ya ampuun… ga nyangka ternyata yg ditangisin haneul itu malah jongdaenya sendiri.. pdhl awalnya udh kesel sama haneul gara2 ga bisa move on pdhl ada jongdae dll di sekelilingnya
    tau-taunyaaa…. huuffttt T_T

    pantesan komunikasi jongdae sama jin, minji, kai n sehun ga terlihat seperti komunikasi 2 arah…

    dan nyesek bgt pas tau jongdaenya udah mati…

    nice story.. keep writing…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s