Say Now part 1

unnamed

Author : NANANA

Tittle : Say Now

Genre : romance, sad, school

Tag : Kai EXO, Suho EXO, Irene Red Velvet, Sulli f(x), Krystal f(x)

Length : Chapter

Khusus part ini menceritakan masa kecil mereka

Di part-part selanjutnya Author mungkin bakal masukin beberapa member EXO yang lain ya

Happy Reading ^_^

Seorang gadis kecil duduk termenung di bawah sebuah pohon yang rindang. Ia tak habis pikir kenapa teman-temannya pergi ke luar kota. Padahal, ini bukan hari libur sekolah. Saat ini ia sangat ingin bermain, tapi siapa yang mau diajaknya bermain, tak ada satupun orang yang terlihat.

“kau sendirian disini?”

Seorang anak laki-laki berdiri di hadapannya, membuatnya tersentak dari lamunannya. Ia pun segera berdiri menyamai anak tersebut

“kau siapa?” tanyanya

“aku Kim Kai. Kau kenapa duduk sendirian di pohon ini?”

“semua teman-teman pergi, tidak ada yang bisa diajak bermain”

“siapa namamu? Bagaimana kalau kau bermain denganku?”

“namaku Irene, aku tidak mau bermain denganmu, aku tidak mengenalmu”

“kau tidak perlu takut, umurmu 8 tahun kan, aku juga. Kau seharusnya sudah bisa membedakan orang baik daan jahat”

“kenapa kau tahu umurku? Kau peramal ya?” Irene berjalan sedikit mundur, mungkin ia takut dengan sosok di hadapannya ini

“itu terlihat jelas dari wajahmu. Apa kau mau bermain bola?”

“bola? baiklah, aku mau”

Irene dan Kai mulai bermain bola, meskipun Irene terlihat tidak begitu bisa mengimbangi Kai, namun ia terus berusaha sekuat tenaganya. Kai berhasil mencetak gol berkali kali, tapi Irene belum sekalipun mencetak gol

“ayo, Irene. Kau pasti bisa. Jika kau bisa menggolkan bola ke gawang, walaupun hanya sekali. Aku akan membelikanmu ice cream” Kai tampak berbicara di sela-sela permainan

“benarkah yang kau katakan. Baiklah kalau begitu. Aku akan berusaha”

Irene terlihat semakin bersemangat dalam menggiring bola. Ia harus bisa mencetak gol, meskipun hanya sekali. Ia tak mau kehilangan kesempatan untuk mendapat ice cream gratis

“GOLLLLLLL” Irene tampak berjingkrak jingkrak senang mendapati bola yang digiringnya masuk ke dalam gawang

“kau hebat” puji Kai

“gomawo”

“kau tunggu disini ya, aku akan membelikanmu ice cream”

Irene tampak kembali duduk di bawah pohon sembari menunggu Kai kembali. Ternyata kai adalah anak yang seru, ia tak pernah bermain bola sebelumnya. Bermain dengan Sulli juga biasanya hanya permainan anak perempuan biasa. Tapi, sekarang ia juga bisa permainan anak laki-laki

“ini ice creamnya” Kai tampak membawa dua batang ice creamnya. Setelah memberikan pada Irene, ia pun mulai menyantap ice cream miliknya

“wah, ice cream. Kau baik sekali”

Kai menempatkan diri di samping Irene “mau bermain lagi besok?”

“mauuuuu, aku mau bermain bola lagi. Kau tahu, aku tidak pernah bermain bola sebelumnya”

“benarkah?”

“hmmm”

“memangnya teman-temanmu pergi kemana?”

“mereka pergi keluar kota dan jalan jalan. Oh ya, kau pasti orang baru yang pindah disekitar sini. Dimana rumahmu?”

“aku menginap di villa”

“oh. Kai-yah, hari sudah semakin sore, aku harus pulang. Besok bertemu lagi disini ya?”

“oke. Aku juga mau pulang”

—___—

“kau bahkan lupa membawa bola”

“lebih baik hari ini kita memancing, kita akan dapat ikan dan ikan itu bisa kita makan”

“serius, kita akan memancing ikan kemudian memasaknya sendiri? Ah, aku tidak pernah bermain seperti ini sebelumnya”

“kau akan merasakan sensasinya, jika kita makan ikan dari hasil kita sendiri”

“ayo, kita berangkat sekarang. Aku sudah tidak sabar”

—___—

“wah, ikan bakar ini memang enak”

“haha, kau baru saja merasakan sensasinya”

Mereka untuk beberapa saat saling makan dalam diam. Hingga akhirnya Kai berbicara lagi

“apakah kita bisa menjadi teman?”

“dari kemarin juga kita sudah menjadi teman”

“kau sangat baik padaku, padahal kita belum lama kenal”

“aku suka bermain dengan orang-orang yang mengajarkan padaku hal-hal baru”

“haha, kau makan sangat banyak, mulutmu belepotan sekali”

“benarkah?” irene tampak mengelap mulutnya dengan lengan baju

“tenang, kau tetap terlihat lucu”

—___—

“baru pulang sekolah dan kau langsung memintaku kesini?”

“kau pernah bilang kalau kau mendapat peringkat satu di kelasmu. Itu berarti kau harus membantuku mengerjakan PR ini”

“tenang, kau bisa percaya padaku. Dimana bukunya?”

“hah, bukunyaaaaaa????? Oh ya, dimana aku meleteakkan bukunya”

Irene tampak sangat kebingungan akan hilangnya bukunya. Kai tampak ingin membantu tapi tidak tahu caranya. Tiba-tiba saja Kai mendapat sebuah ide, ia menyentuh kening Irene dengan telunjuknya, berharap agar Irene bisa mengingatnya

“ayo, ingat-ingat dimana buku itu, kau tahu, jariku ini ajaib”

“benarkah, oke, aku akan mengingat-ingatnya” irene mulai tampak serius berpikir, sampai akhirnya ia tersenyum dan matanya membulat

“aku ingattttttt” pekiknya

“dimana?”

“aku meninggalkannya di teras villa mu”

“ayo kita ambil”

“tidak usah”

“hah?”

Irene tampak sedikit tersenyum kikuk sebelum akhirnya membuka suara

“bagaimana jika kau saja yang mengerjakan pr ku, kau kan pintar. Sekarang lebih baik kita bermain saja ya?”

Kai tampak terkejut “akuuuuu? Aku bisa saja, tapi kau akan menjadi bodoh nantinya”

“itu tidak akan terjadi, ini pertama kalinya aku menyuruh orang lain mengerjakan pr ku”

“baiklah, kau selalu saja menang”

—___—

“kai-yah”

Irene tampak berjalan tergopoh-gopoh menuju tempat Kai berada saat ini. Setelah sampai, ia langsung menggamit telapak tangan Kai, lalu menempelkan telunjuk Kai pada keningnya

“kau ini kenapa sih?”

Irene masih saja serius berpikir sampai akhirnya ia memekik lagi

“igatttttttt”

“iya, aku ingat. Ternyata aku menaruh kunci rumah di dalam pot bunga, yes, aku ingat” ulangnya lagi

“kau lupa sesuatu lagi?”

“iya, dan karena jari ajaibmu aku bisa mengingatnya. Lihatlah, betapa hebatnya jarimu ini”

“kau ini, bisa saja memujiku”

—____—

“irene, tidak terasa ya, sudah sepuluh hari kita berteman”

“iya kau benar. Semua hari-hari yang kulewati bersamamu selalu saja seru”

Kai tampak mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam saku jaketnya. Lalu, ia memperlihatkan kotak itu pada Irene

“irene, kau mau membantu aku menggali di bawah pohon? Aku harus mengubur kotak ini”

“kenapa kau kubur?”

“bantu saja dulu, nanti aku jelaskan”

Irene tampak membantu Kai yang sudah lebih dulu mulai menggali. Irene sebenarnya tidak mengerti kenapa Kai mengubur kotak itu. Tapi, ia lebih memilih diam. Kai berjanji akan menjelaskannya nanti

Lubang yang digali dirasa Kai sudah cukup dalam. Ia pun memasukkan kotak tersebut ke dalam lubang. Setelah itu, ia kembali menutup lubang itu dengan tanah

“selesai”

“kau ini sebenarnya kenapa?” tanya Irene bingung

“kau lihat kotak tadi? Bukankah kotak itu digembok?”

Irene menganguk. Lalu, Kai tampak mengeluarkan sebuah kalung berbentuk kunci dari dalam saku jaketnya, ia memakaikannya di leher Irene, membuat Irene semakin bingung

“kalau kau mau tahu apa isi kotak tersebut, kau harus menjaga kunci yang tergantung di lehermu itu. Itu adalah kunci yang dapat membuka gembok yang ada di kotak tersebut, jika kunci itu hilang, jangan harap bisa melihat isi kotak itu”

“memangnya isinya apa, kenapa tidak membukanya sekarang saja?”

“kita akan membukanya jika kita sudah besar nanti”

“hahhhh, itu kan lama sekali”

“kau harus bersabar, tugasmu hanya menjaga kunci itu. Suatu saat kita pasti bisa bertemu lagi”

Irene tampak kaget mendengar perkataan Kai barusan “kai-yah”

“aku harus pergi Irene, pekerjaan orang tuaku sudah selesai disini”

“kau sahabat terbaikku, kumohon jangan pergi” tangis Irene pun pecah

“benarkah, aku sahabat terbaikmu?”

“ya, kau sahabat terbaik, kau yang terbaik dari semua yang baik. aku sudah berjanji pada diriku sendiri jika di hidup ini aku hanya akan mempunyai seorang sahabat. Aku sudah memilih, kau sahabatku, Kai”

“kau yakin, kita belum lama kenal”

“aku yakin. Kau mengajarkanku hal-hal baru dan kau tidak pernah sekalipun mengejekku. Aku mohon, jangan pergi”

Kai memeluk Irene ke dalam tubuhnya. Ia sangat tak kuasa membuat Irene menangis

“kau juga sahabat terbaikku Irene. Aku berjanji kita akan bertemu lagi setelah ini”

“kau sudah berjanji”

“pasti, sekarang aku harus pergi”

—___—

“irene, ayo lekas, kita pergi ke rumah Suho. Eomma kan ada arisan hari ini”

“iya, aku sudah selesai kok”

“ayo kita pergi”

—___—

Irene tiba di rumah Suho. Baru saja ingin masuk ke rumah suho, Irene langsung disemprotkan air oleh Suho dari pistol mainannya

“kena kau, Irene”

“ahhhh, suho. Bajuku jadi basah”

“kau jadi terlihat semakin cantiik, lohhhh” ungkap Suho sembari mencubit pipi Irene

“irene, kau sudah datang, wahhhh, Suho membuat masalah lagi ya?”

“suho selalu saja menggangguku”

“itu adalah kebiasaan untukku” ucap Suho bangga

“sudahlah, ayo kita masuk”

“sulliiiii, kau bahkan tidak memberitahuku jika sudah pulang dari luar kota” umpat Irene

“kau pasti kesepian kan tidak ada aku?”

“siapa bilang, percaya atau tidak, seseorang selalu menemaniku bermain”

“siapa?”

“kurasa kau tidak perlu tahu”

—___—

Selesai acara arisan, Irene, Suho, dan Sulli masih bermain, lantaran eomma mereka yang belum mau pulang

“cihhhh, kalian selalu saja bermain barbie, tidak ada satupun dari kalian yang bisa diajak main bola”

“aku bisa main bola, aku juga bisa memancing, dan memasak ikan”

“jangan harap aku percaya. Kau selalu bermain bersamaku” ungkap Sulli

“bukankah sudah kubilang, seseorang selalu menemaniku bermain”

“tapi kau tidak mau mengatakan siapa orang itu, membuatku tidak percaya padamu”

“tunggu” suho berbicara tiba-tiba

“kau memakai kalung berbentuk kunci. Siapa yang memberimu?” tanya suho. Ia tampak ingin memegang kalung itu

“jangan menyentuhnya, atau aku akan memusuhimu”

“kalung itu biasa saja, jangan terlalu pamer” suho meledek

“isssshhhh kau ini, tidak pernah bersikap baik” kesal Irene

“sudahlah, kalian kan teman. Tidak boleh ribut. Irene, ayo kita pulang”

“baiklah eomma, kita pulang sekarang. Sulli, jangan lupa main ke rumahku nanti ya”

—___—

Suara langkah kaki terdengar begitu cepat menuju ruang UGD. Eomma suho mendapat kabar bahwa mobil irene dan eommanya mengalami kecelakaan. Saat ini, ia, sulli, suho, dan juga eomma sulli menunggu dokter keluar dengan perasaan yang sangat khawatir.

“dimana keluarga pasien bernama irene?”

“kami” ucap eomma suho cepat

“bagaimana keadaan mereka?” eomma Sulli juga bertanya

“untuk ibunya, tidak mengalami luka serius. Hanya benturan ringan yang meyisakan memar. Namun, untuk anaknya, sepertinya terjadi benturan yang cukup kuat sehingga terjadi sedikit pendarahan di dalam yang membuat pasien akan kehilangan ingatannya”

“apaaaaaaaaaaa?????????????”

“saya harap keluarga pasien sabar dan bisa menerima semuanya” ucap dokter itu terakhir kali sebelum ia pergi menuju ruangannya

“Irene, hilang ingatan”

TBC

Posted in: FF | Tagged:

2 thoughts on “Say Now part 1

  1. kang rae hwa berkata:

    OMG Irene amnesia ? Wah wah wah Kai harus ekstra keras nih kalau ketemu sama Irene lagi. Semangat Kaiiii

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s