Last Game (Chapter 7)

Title                 : Last Game (Chapter 7)

Author             : Sehoon Oh

Cast                 : All member EXO and others

Genre               : Brothership, family, school life, sport

Rating              : General

#####

Angin pada malam itu cukup kencang. Namun masih banyak orang yang berlalu lalang di taman sungai Han. Masih ada anak-anak berlarian di sana, kedai penjual makanan pun masih ramai pembeli.

Sehun berjalan tidak tentu arah. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk duduk di dekat air mancur di taman itu. Sehun memejamkan matanya membiarkan angin malam menyentuh pipinya yang lembut.

Tiba-tiba berlingan air mata turun membasahi pipinya. Sehun sangat sedih. Dia sudah lelah. Dia sudah tidak mampu bertahan dan menopangnya sendiri.

“Luhan hyuuuung, apa kau sangat membenciku? Aku tidak tau jika kelahiranku di dunia ini membuatmu kehilangan eomma. Tapi apa kau tau apa yang aku rasakan? Aku bahkan belum pernah merasakan sentuhannya. Aku tidak tau apa dia menyayangiku atau tidak.” Sehun menarik nafas. Wajahnya sudah penuh dengan air mata.

“Aku sangat iri padamu, hyung. Yang aku miliki hanya kau dan appa sekarang. Tapi appa sangat sibuk dengan pekerjaannya. Sedangkan kau? Menyapaku saja kau tidak mau. Apa kau sangat membenciku hyung? Jika iya bunuh aku saja!” Sehun meluruh di bangkunya. Sehun menangis sejadinya di sana. Hatinya sangat sesak.

Apa kelahirannya di dunia ini tidak diharapkan? “Kenapa tidak dari dulu Luhan hyung membuangku atau membunuhku. Aku tidak bisa hidup seperti ini.”

Dari belakang Sehun sudah berdiri dua orang namja. Kai dan Suho. Mereka sudah mendengar semuanya. Mereka sangat terkejut saat mengetahui hal yang sebenarnya. Jadi hal ini yang membuat Sehun dan Luhan selalu bersaing saat pertandingan. Mereka adalah saudara yang bermusuhan?

“Sehun-ah” Kai menepuk pundak Sehun membuat namja itu mengangkat kepalanya.

Sehun terkejut melihat kedua sahabatnya berdiri di sana. “Kai? Suho hyung? Sedang apa kalian disini?”

“Mengkhawatirkanmu.” Jawab Suho lembut.

“Mwo? Kenapa kalian mengkhawatirkanku? Aku baik-baik saja.” Sehun tersadar lalu menghapus air mata yang tadi sudah mengalir deras di pipinya.

“Jangan sembunyikan apapun dari kami, Sehun-ah. Apa kau tidak percaya pada kami? Kami adalah sahabatmu.” Ucap Kai.

“Mianhe, apa kalian mendengar semua yang aku katakan?”

“Semua. Bahkan sekarang kami mengetahui bahwa Luhan adalah hyungmu.”

“Kai-ah, Suho hyung, apa kalian marah padaku karena aku tidak mengatakan hal yang sebenarnya pada kalian? Apa kalian benci padaku karena aku sudah berbohong pada kalian?”

“Apa kami pernah marah padamu? Kau adalah kapten dan adik kami, Sehunie.” Suho tersenyum lalu mengusap rambut Sehun lembut.

Sehun menggeleng. “Gomawo hyung, jinja gomawo.” Sehun tersenyum lalu memeluk keduanya.

“Sebaiknya kita pergi ke kedai bubble tea. Udara di luar cukup dingin.”

Sehun dan Suho mengangguk setuju.

Sehun, Suho, dan Kai pergi ke sebuah kedai di taman sungai Han. Kedai itu menjual bubble tea kesukaan Sehun. Setelah menunggu beberapa menit Suho sudah membawa 5 buah bubble tea. Satu rasa taro untuk Kai, satu rasa mint untuknya, dan tiga rasa cokelat untuk Sehun. Suho sengaja membelikan tiga buah untuk Sehun karena Suho tau suasana hati Sehun sedang sangat buruk.

“Sehunah, bisakah kau jelaskan pada kami kenapa kau tidak pernah memberitahu hal itu pada kami semua?” Tanya Suho setelah Sehun menghabiskan satu gelas bubble tea.

Sehun menjawab. “Sebenarnya aku ingin sekali menceritakannya pada kalian, tapi Luhan hyung tidak ingin semua orang mengetahuinya. Bahkan dia mengancam membunuhku jika aku menyebarkan hal ini.”

Kai dan Suho membelalakan matanya. “Mwo? Jinja?!! Apa dia gila?!”

“Sebenarnya Luhan hyung adalah orang yang sangat baik, kecuali padaku.”

“Dia hanya salah paham. Luhan menganggap Sehun sebagai pembunuh karena eomma kalian meninggal setelah melahirkan Sehun. Yang terjadi sebenarnya adalah eomma kalian meninggal karena terjadi sesuatu kan?” Suho mencoba menebak.

“Kau benar hyung. Appa pernah memberitahuku jika eomma meninggal karena pendarahan hebat.”

“Apa tidak ada yang menjelaskannya pada hyungmu?” Ucap Kai sedikit kesal.

“Appa, Ren ahjumma, aku, bahkan Xiumin hyung sudah mencoba menjelaskannya tapi dia tidak mau peduli dan tetap membenciku.”

“Astaga, sepertinya dia tidak memiliki telinga. Apa perlu aku yang menjelaskan padanya?”

“Tidak perlu, Kai. Kau hanya akan memperburuk masalah. Lebih baik sekarang kita pulang karena sudah hampir larut malam. Kita bisa sakit jika di sini terus.” Putus Suho.

“Aiish arraseo. Sehunah, kau akan pulang?”

“Tidak. Malam ini ku akan menginap di hotel saja.”

“Mwo? Kau tidur saja di rumahku.” Usul Kai.

“Aku tidak ingin menyusahkanmu.”

“Sudah berulang kali kau tertidur di rumahku bodoh. Kajja.”

“Hehehe, arra.” Sehun tersenyum. Kai mengusap kepalanya lembut

Akhirnya mereka pulang. Suho kembali ke rumahnya sedangkan Kai dan Sehun menuju rumah Kai. Sehun butuh waktu untuk menenangkan pikirannya. Terlebih adalah hatinya.

Di rumahnya Luhan menunggu suara mobil Sehun. Namun hingga larut malam dia belum mendengarnya. Apakah Xiumin tidak mencarinya? Apa Sehun benar-benar hilang? Ah tidak mungkin.

Akhirnya Luhan menelepon seseorang.

“Wae?” Ucap seseorang di ujung telepon.

“Apa kau sudah mencarinya? Dimana dia?”

“Aku tidak mencarinya.”

“MWO?!! Ya Xiumin, bagaimana kau tidak mencarinya?!”

“Kenapa aku harus mencari Sehun. Sebenarnya siapa hyung Sehun? Aku bukan siapa-siapa, aku hanya sahabatmu. Dan Sehun pergi karena kau. Jadi carilah Sehun sendiri.”

Tuut..tuut..tut.. Xiumin memutuskan teleponnya. Luhan hanya memandangi ponselnya.

“Aiiish!! Kemana dia pergi?!!” Rutuk Luhan kesal.

Luhan mencoba menelepon ponsel Sehun tapi ponsel Sehun mati. Luhan tidak memiliki kontak sahabat Sehun. Akhirnya Luhan menyerah dan mencoba memejamkan matanya berusaha untuk tidak peduli.

—–

Sinar matahari sudah bersinar cerah memanasi sebagian wajah putih Sehun. Dia mengerjap perlahan dan melihat sekeliling. Di sampingnya Kai masih tertidur pulas dengan mulut terbuka. Sehun geleng-geleng kepala melihat posisi tidur Kai yang sangat tidak cocok untuk wajah tampannya. Sehun meraih ponselnya dan terkejut melihat banyak sekali pesan dan panggilan. Suho, Xiumin, Chanyeol, Baekhyun, D.O, bahkan pelatihnya.

Sehun menghubungi Chanyeol yang selalu membawa ponselnya kemanapun kecuali saat sedang bertanding tentunya. Setelah beberapa nada tunggu terdengar, suara di ujung telepon memberondongnya dengan pertanyaan.

“YA!! KEMANA SAJA KAU? APA KAU TIDAK MEMILIKI JAM?!! Cepatlah ke mari, jika tidak kita akan di diskualifikasi!!”

“Mwo? Untuk apa kita didiskualifikasi? Aku sedang di rumah Kai.”

“ASTAGA!! Kau lupa jika hari ini ada pertandingan?!! Tim kita akan main satu jam lagi dan kau belum ada di sini!!”

Sehun menepuk keningnya. Dia baru teringat hal itu. “Hyung mianhe aku lupa!! Aku akan segera ke sana bersama Kai. Annyeong!”

Sehun lupa jika hari ini dia masih ada pertandingan. Sehun bergegas membangunkan Kai yang masih tenggelam dalam mimpinya.

“KAI!! YA IRONA!!”

Kai hanya beringsut dan membalik badannya menghadap jendela.

“Ya ampun!! KIM KAI, KITA AKAN TERLAMBAT DALAM PERTANDINGAN!!” Sehun berteriak tepat di depan telinga Kai.

Kai terlonjak bangun lalu mengusap telinganya yang berdengung. “Astaga kau tidak perlu berteriak!! Apa? Pertandingan? HA!! PERTANDINGAN?!!”

“Bodoh! Hari ini kita masih ada pertandingan. Dan dimulai satu jam lagi, cepat bersiap.”

“Aku akan mandi.” Seru Kai akan berlari ke kamar mandi tapi dihentikan oleh Sehun.

“Tidak perlu, kita akan terlambat. Kajja!!”

Sehun menarik Kai keluar kamar menuju garasi mobil.

“Kita pakai mobilku saja, cepat kau masuk!!” Seru Sehun.

Mereka berangkat bersama menggunakan mobil Sehun. Sehun memacu mobilnya dengan kecepatan penuh. Dia tidak peduli dengan para pengendara mobil yang protes karena Sehun menyalipnya tanpa memberi kode.

Jarak antara rumah Kai dan Myungwoo lumayan jauh. Biasanya memakan waktu 30 menit. Namun sepertinya Sehun sedang sial kali ini. Jalanan macet karena saat ini adalah jam sibuk. Mobil Sehun hanya bisa berjalan perlahan.

“Aish!! Apa harus macet sekarang?!”

“Sehunah, kita bisa terlambat.”

“Apa kita harus berlari ke sana?”

“Tapi bagaimana dengan mobilmu? Jika kau tinggalkan di sini bisa hilang atau di derek polisi.”

“Benar juga. Aish tapi kita tidak bisa berjalan jika menggunakan mobil.”

“Kau titipkan saja mobilmu pada polisi di sana.”

“Kau benar!!”

Sehun keluar mobil lalu menemui beberapa polisi yang sedang mengatur lalu lintas yang cukup padat pagi ini.

“Ada yang bisa kami bantu?” Tanya polisi berperawakan tinggi besar.

“Aku sedang terburu-buru sekarang dan aku hanya memiliki waktu 30 menit.”

“Lalu?” Tanya polisi berkumis, ia mengerutkan keningnya bingung.

“Kami harus menuju Myungwoo karena sebentar lagi kami akan bertanding, aku ingin menitipkan mobilku.”

“Mwo? Myungwoo? Jadi kau atlet basket.”

“Iya, kami harus ke sana. Bisakah kau membantu kami?”

“Aish, arraseo. Parkirkan mobilmu di sana.” Perintah polisi berkumis karena tidak tega melihat Sehun.

“Khamsahamnida.” Sehun kembali menuju mobilnya.

“Otte?” Tanya Kai.

“Mereka mengijinkan. Aku harus memarkirkan mobil di dekat pos mereka.”

Sehun melajukan mobilnya menuju parkiran yang tidak terlalu luas di samping pos polisi. Dan setelah mengucapkan terimakasih sekali lagi pada polisi, mereka pun segera berlari. Ponsel Sehun dan Kai terus menerus berdering karena anggota timnya panik.

Tiga puluh menit sebelum pertandingan, Sehun dan Kai belum juga muncul. Suho, Chanyeol, D.O, dan Baekhyun mondar-mandir di ruang ganti. Mereka berulang kali mencoba menghubungi Sehun dan Kai namun mereka tidak menjawab.

“Hyung sebentar lagi kita akan bertanding dan mereka belum ada di sini.” Rutuk Chanyeol.

“Tunggulah sebentar lagi. Kita tidak boleh panik. D.O coba kau hubungi Sehun lagi.”

D.O mencoba menghubungi Sehun sekali lagi. Setelah beberapa nada tunggu terdengar akhirnya seseorang mengangkatnya.

“Oe hyung? Hhh…hhh…hhh….”

“Dimana kau sekarang?” Tanya D.O membuat yang lain merapat padanya.

“Tunggulah 15 menit lagi. Kami sedang berlari ke sana.”

“MWO?! Kenapa dengan mobil kalian?”

“Macet hyung, jika kami menggunakan mobil mungkin besok kami baru sampai di sana.”

“Arraseo. Cepatlah kemari 30 menit lagi kita akan bertanding.”

“Arra.”

Klik. Sehun mematikan ponselnya lalu dia lari sekencang mungkin diikuti Kai. Myungwoo masih lumayan jauh, dan 30 menit lagi mereka akan bertanding. Sehun tidak yakin jika staminanya saat bertanding nanti akan bertahan hingga 4 quarter.

“Aku seperti akan mati.” Seru Kai dengan nafas terengah-engah.

“Nado. Kai-ah sepertinya kali ini kita lebih banyak memainkan Baekhyun hyung, D.O hyung, dan Suho hyung. Aku tidak yakin aku bisa bertanding hingga akhir.”

“Bagaimana jika kita bergantian saja?”

“Mwo?”

“Kita bergantian. Kau bermain di quarter awal mencetak sebanyak-banyaknya angka dengan dibantu Chanyeol hyung. Lalu aku akan bermain di quarter selanjutnya.”

“Tidak masalah, tidak biasanya kau pintar.”

“Apa kau pikir aku sangat bodoh?” Dengus Kai.

“Hahaha, sepertinya kau memang begitu.” Sehun menambah kecepatan larinya sebelum Kai menghajarnya.

“YAA!!!! JANGAN KABUR!!” Seru Kai kesal lalu mengejar Sehun.

—–

Luhan duduk di barisan penonton bersama Lay dan Xiumin. Mereka tidak bertanding hari ini. Tao, Kris, dan Chen sedang dalam perjalanan. Luhan terlihat mencari seseorang. Matanya mengamati semua sudut bangunan itu.

Xiumin mengetahui gelagat Luhan. “Kau mencari Sehun?”

“Mwo? Ani.” Sangkal Luhan.

“Kau tidak perlu berbohong padaku.” Bisik Xiumin.

“Aku tidak mencarinya. Untuk apa mencarinya.”

Xiumin tersenyum lalu pandangannya kembali ke lapangan. Setelah pertandingan ini, SMU Seoul akan bertanding. Mereka semua menunggu taktik cemerlang dari SMU Seoul.

Di waktu yang sama di ruang ganti pemain, Chanyeol masih mondar-mandir menunggu Kai dan Sehun. Berulang kali dia melihat layar ponselnya namun tidak ada kabar apapun.

“Pertandingan sudah hampir dimulai tapi mereka belum ada di sini.”

“Masih ada 10 menit lagi, sebentar lagi mungkin mereka sampai.” Suho mencoba menenangkan.

“Mm hyung, jika mereka belum datang saat nama sekolah dipanggil kita tidak bisa diam saja.” Ucap D.O.

“D.O benar. Kita tidak bisa membiarkan kita didiskualifikasi begitu saja hanya karena Sehun dan Kai terlambat.” Baekhyun membenarkan.

“Jadi yang kau maksud kita ke lapangan hanya berempat? Apa kau bergurau?”

“Chanyeol-ah, kita tidak bisa hanya bergantung dengan Sehun dan Kai. Yang terpenting sekarang kita pergi ke lapangan walaupun tanpa mereka.” Jelas Suho.

“Huh, baiklah hyung. Sebaiknya kita bersiap saja.”

Selagi semuanya bersiap, tiba-tiba ponsel Chanyeol berdering dan menampilkan foto Sehun di sana. Chanyeol langsung mengangkat teleponnya tanpa menunggu.

“Sehunie?! Kau ada di mana?” Tanya Chanyeol sarat kekhawatiran namun sedikit kesal.

“Aku sedang berlari hyung. Mungkin 15 menit lagi aku akan ada di sana.”

“Arra, berhati-hatilah.”

“Ye. Keundae hyung, kalian tidak bisa terus menungguku. Kalian berempat bisa bermain tanpa aku dan Kai kan? Mungkin aku dan Kai akan sedikit terlambat.”

“Kami baru saja membicarakannya.”

“Sebaiknya kau aktifkan loudspeaker hyung, aku akan berbicara pada semuanya.”

Chanyeol mengaktifkan loudspeakernya lalu memanggil semuanya untuk mendekat.

“Suho hyung, Baeky, D.O, cepatlah kemari.”

Mendengar namanya dipanggil semua menghampiri Chanyeol dengan wajah penuh tanya.

“Wae?” Tanya Baekhyun.

“Apa kalian bisa mendengar suaraku?” semua kecuali Chanyeol terkejut mendengar suara Sehun.

“Sehunie? Ya! Dimana kau sekarang?”

“Aku mungkin akan di sana sekitar 10 atau 15 menit lagi hyung. Bisakah kalian bermain tanpa aku dan Kai untuk quarter pertama?”

“Kami baru saja membicarakannya, dan kami rasa kami bisa melakukannya.” Ucap Suho.

“Arraseo, Suho hyung kau bisa menjadi captain. Aku dan Kai baru saja memikirkan strategi.”

“Mwo? Kalian masih bisa berpikir saat kalian berlari? Kalian memang hebat.” Puji D.O.

“Bisa saja hyung, itu adalah hal yang mudah. Hahahaha.”

“Cepat jelaskan pada kami, pertandingan sudah hampir dimulai.” Desak Baekhyun.

Sehun berubah serius. “Dengarkan aku. Jika aku tidak bisa di sana pada quarter awal, D.O hyung dan Suho hyung kalian cetaklah angka sebanyak-banyaknya. Baekhyun hyung akan menahan serangan sedangkan Chanyeol hyung akan memberikan assist pada kalian. Jangan biarkan ada ruang kosong mereka untuk menembak. Tapi carilah ruang kosong untuk kalian menembak.”

“Apa kalian mengerti?” seru Kai.

“Ya!! Jelas saja kami mengerti. Lalu bagaimana dengan kalian?” Tanya Chanyeol.

“Kami akan masuk setelah kami sampai tentunya.” Kali ini Kai yang menjawab.

“Kim Kai! Bisakah kau serius?” Suho angkat bicara.

“Arraseo hyung, mianhe. Kali ini aku dan Sehun akan bergantian, kami tidak mungkin sanggup bermain penuh, hyung. Kami sudah mau mati.”

“Mwo? Bergantian?” Chanyeol dan Suho saling berpandangan bingung.

“Pada quarter awal, Sehun akan bermain dan pada quarter selanjutnya aku akan menggantikan Sehun.”

“Ah, okay. Aku rasa pertandingan akan dimulai sebentar lagi. Cepatlah kalian kemari. Jika ada sepeda kalian bisa menggunakannya.” Perintah D.O.

“Arraseo. Fighting!!” seru Sehun dan Kai bersamaan.

Setelah Chanyeol mematikan ponselnya, nama SMU Seoul di sebut. Mereka segera bergegas menuju tepi lapangan untuk menemui pelatih mereka dan panitia. Pelatih terkejut ketika Suho menjelaskan tentang Sehun dan Kai. Namun, Chanyeol mengatakan agar tidak perlu khawatir. Baekhyun dan D.O berusaha menjelaskannya pada panitia, dan ketika panitia mengetahui jika Sehun adalah anak pemilik Myungwoo akhirnya mereka mengijinkan.

Kali ini SMU Seoul akan melawan SMU Gangnam. SMU Gangnam bukan lawan yang mudah. Tidak jarang mereka selalu mendapat tropi kejuaraan. Namun, Suho dan yang lain yakin jika mereka tidak akan kehilangan banyak angka.

SMU Gangnam sudah berada di lapangan untuk melakukan sedikit pemanasan. Saat SMU Seoul masuk ke lapangan tidak sedikit penonton yang terkejut karena hanya ada empat pemain yang memasuki lapangan. Semua bertanya-tanya dimana Kai dan Sehun.

“Luhan-ah, dimana Sehun?”

“Molla, dia tidak pulang semalam.”

“MWO?! Apa kau tidak mencarinya?” seru Xiumin.

“Untuk apa? Dia bisa pulang sendiri. Kai juga tidak ada di lapangan, kenapa kau hanya mencari Sehun?”

“Aish! Karena Sehun adalah adikmu! Apa kau tidak mengkhawatirkannya sama sekali?”

Luhan hanya bungkam. Dia hanya berseru dalam hati. “Dimana kau, Oh Sehun?”

Akhirnya untuk mengurangi desas-desus penonton, melalui pengeras suara panitia menjelaskan perihal Kai dan Sehun yang datang terlambat mengikuti pertandingan karena terjebak macet. Semua penonton pun mengangguk mengerti. Namun masih banyak penonton yang bertanya-tanya, apakah SMU Seoul bisa menang jika tidak ada Sehun.

Pertandingan pun dimulai. Semua mengikuti intruksi yang sudah di jelaskan oleh Sehun tadi. Awalnya Baekhyun cukup kesulitan untuk menahan serangan, namun setelah waktu berjalan dia sudah bisa mencari kelemahan pemain lawan. D.O dan Suho mencoba melakukan fast break namun berhasil di patahkan oleh pemain belakang SMU Gangnam.

Chanyeol yang menjadi center saat itu berusaha membantu D.O dan Suho untuk mendapatkan bola dan mencari tempat bebas untuk menembak. Setelah beberapa kali mengelabuhi lawan, akhirnya Suho bisa menembak dan bola dengan mulus melewati ring. SMU Seoul mendapatkan angka pertama. 3-0 untuk SMU Seoul. Baekhyun mencoba mempercepat tempo pertandingan agar Suho dan D.O bisa mencetak lebih banyak angka.

Di lain tempat, Sehun dan Kai masih terus berlari. Sehun melihat arlojinya dan terkejut karena saat ini mungkin pertandingan sudah di mulai dan mereka belum memasuki kawasan Myungwoo.

“Kai-ah, apa kita masih bisa mengejar quarter pertama?” Tanya Sehun dengan nafas terengah-engah.

“Molla, sebaiknya kita percepat saja lari kita. Bayangkan saja jika kita sedang melakukan fast break. Kita sudah hampir masuk kawasan Myungwoo.”

“Kau gila? Aku sudah mau mati.”

“Jika tidak begitu kita tidak akan sampai. Mungkin lima menit lagi kita akan sampai, kita harus langsung menuju ruang ganti.”

“Mm kau benar. Kajjaaa.”

Kai mempercepat lagi larinya, Sehun mendengus lalu ikut mempercepat larinya.

Mereka berusaha sampai di ruang ganti sebelum quarter pertama berakhir. Mereka tidak ingin rekan timnya yang lain merasa terbebani.

Beberapa menit kemudian akhirnya mereka sampai di pintu belakang indoor Myungwoo. Mereka berhenti sejenak untuk mengatur nafas, lalu mereka berlari lagi menuju ruang ganti dan segera berganti pakaian.

“Palliiii, quarter pertama 7 menit lagi akan berakhir.”

“Arraseo, Sehun-ah.”

Di lapangan D.O terus-menerus mencari celah kosong untuk menembak. Walaupun mereka sekarang unggul namun Suho dan yang lain berusaha menambah score mereka. Sekarang mereka hanya unggul tipis 21-19. Kekuatan mereka tidak berimbang, karena SMU Seoul hanya bermain dengan empat pemain.

“Chanyeol-ah, berikan bola ini pada Suho hyung.” Teriak Baekhyun lalu mengoperkan bolanya pada Chanyeol.

“Suho hyung!!!” panggil Chanyeol.

Suho menerima bola dari Chanyeol lalu langsung menembak ke arah ring dan kembali masuk dengan sempurna. SMU Seoul menjauh 24-19. Semua angka yang didapatkan oleh SMU Seoul adalah tembakan 3 angka Suho dan D.O. Sulit untuk mereka menembak angka di depan ring seperti yang selalu dilakukan Sehun, Kai, dan Chanyeol.

Saat Baekhyun sedang berebut bola dengan pemain lawan, tiba-tiba penonton berteriak dan menunjuk ke arah pintu masuk menuju lapangan. Ternyata di sana sudah berdiri dua bintang lapangan SMU Seoul.

“Suho hyuuuung, aku masuk.” Seru Sehun membuat semua rekan setimnya tersenyum.

Xiumin ikut berteriak bersama penonton yang lain ketika Sehun memasuki lapangan. Lay memandang Xiumin dengan pandangan aneh. Sedangkan Luhan tanpa sadar merasa sedikit lega.

“Wae? Aku hanya bahagia dia tidak apa-apa.” Ucap Xiumin saat sadar jika Lay memandangnya. Lalu dia kembali focus ke lapangan.

Sehun memasuki lapangan diikuti teriakan penonton.

“Sehunieee akhirnya kau sampai.” Teriak Chanyeol langsung memeluk Sehun.

“Hahaha, mianhe hyung. 24-19? Tidak terlalu buruk. Kajja kita bantai mereka.” Seru Sehun diikuti anggukan yang lain.

Permainan SMU Seoul berubah seketika. Kali ini Sehun dan Chanyeol bermain sedangkan Suho, D.O, dan Baekhyun bisa beristirahat karena mereka hanya menjaga pertahanan dan membantu mengoper bola.

Sehun selalu melakukan fast break, dan kecepatannya selalu di luar perkiraan. Baru dua menit bermain, Sehun sudah membuat pertahanan lawan berantakan. Mereka mendapat serangan bertubi-tubi. Penonton pun ikut terperangah dengan kecepatan Sehun, termasuk Luhan. Bahkan Luhan tidak secepat itu. Luhan bingung. Dulu dia yang tidak pernah mau mengajari Sehun bermain basket, namun sekarang Sehun bahkan lebih mengerti tentang basket dibanding Luhan.

“Baekhyun hyung, rebutlah lewat sebelah kiri.” Seru Sehun saat Baekhyun kesulitan untuk merebut bola. Baekhyun mengangguk lalu mencoba merebutnya, dan berhasil.

Sehun seperti bisa membaca setiap kelemahan lawan walapun baru bertemu saat pertandingan itu. Sehun memang teralu cerdas untuk seorang pemain basket. Mungkin jika pelatih NBA mengetahui kecerdikan Sehun, dia bisa masuk ke tim terbaik di luar sana.

Akhirnya quarter pertama berakhir dengan keunggulan SMU Seoul 38-22. Semua pemain berkumpul di pinggir lapangan.

“Sehun-ah, tadi hanya Suho hyung dan D.O yang mencetak angka. Kami tidak bisa menembus pertahanan mereka.” Ujar Baekhyun.

“Memang pertahanan mereka sulit ditembus.” Sehun mengiyakan.

“MWO? Sulit katamu? Bahkan berulang kali kau mencetak angka.”

“Sesulit apapun mereka, pasti mereka mempunyai celah. Aku berusaha mencari celah itu dan mencetak angka.”

“Lain kali kau harus mengajari kami mencari celah sepertimu.” Pinta D.O.

“Arra. Besok aku ajarkan kalian sebelum pertandingan final. Quarter kedua Kai akan bermain dengan Baekhyun hyung. D.O hyung kau akan menggantikan Baekhyun. Baekhyun hyung kau center sekarang.” Jelas Sehun.

“Yes, Cap!!” seru semua anggota tim.

Quarter kedua pun dimulai. Sehun duduk di bangku cadangan sementara posisinya digantikan oleh Kai. Penonton dan pihak lawan sudah penasaran dengan taktik apa yang mereka gunakan.

D.O sedikit memperlambat tempo permainan untuk memberikan Kai waktu mencari celah untuk menyerang. Pemain nomor punggung 3 dari pihak lawan mencoba merebut bola yang dipegang Chanyeol namun gagal karena tubuhnya tidak sebanding dengan Chanyeol. Lalu Chanyeol mengoperkan bolanya pada Baekhyun.

“Baekhyun hyuuung cari celah, amati dengan benar.” Perintah Kai.

“Arraseo.”

Baekhyun sudah ingin melangkah ke kiri namun Sehun berteriak. “Arah sebaliknya!!” Dan akhirnya Baekhyun mengubah arah lalu melakukan fast break dan dia berhasil melakukan lay up. Tambahan angka untuk SMU Seoul.

“Hampir saja kau salah hyung.” Ucap Sehun saat Baekhyun mengambil minum di tepi lapangan.

“Sehunie, bukankah sebelah kiri mereka kosong?”

“Ani. Aku melihat pemain bernomor punggung 8 tadi akan berlari ke arah kiri dan sisi kanan mereka menjadi kosong.”

“Aah arraseo arraseo. Beritahu aku lagi jika salah.”

Sehun mengangguk. Selanjutnya Baekhyun dan Kai menambah konsentrasi mereka. Sehun juga sedikit membantu jika mereka salah. Perkataan Sehun benar, serapat apapun pertahanan lawan pasti mereka memiliki celah.

Sehun dan yang lain terus menggempur SMU Gangnam hingga quarter terakhir berakhir. SMU Seoul unggul 96-57. Hingga saat ini SMU Seoul belum terkalahkan. Dan besok mereka akan melawan SMU Yonsei dalam babak final.

Di parkiran barat Myungwoo, Luhan dan yang lain berkumpul membicarakan sesuatu untuk pertandingan final besok melawan SMU Seoul.

“Luhan, jadi kita tetap menggunakan taktik sebelumnya?” Tanya Kris.

“Iyap, hanya cara itu yang bisa mengalahkan mereka. Kau lihat betapa cepatnya mereka menyesuaikan diri dengan posisi-posisi baru dan merubah taktik hanya dalam waktu beberapa detik.”

“Luhan hyung benar. Baekhyun dan D.O susah untuk ditembus.” Ucap Chen mengiyakan.

“Dan Chanyeol. Dia benteng hyung, bola reboundnya juga cukup bagus. Dia bahkan penyumbang assist terbanyak selama turnament ini.” Tao ikut bergabung.

“Jangan lupakan tentang Suho, Kai, dan Sehun. Mereka merupakan top scorer. Bahkan Suho bisa mengalahkan Luhan.” Ucap Lay.

“Sudahlah. Yang penting adalah cari kelemahan mereka. Mereka pasti memiliki kelemahan dan celah.” Ucap Luhan yakin.

“Yah Luhan benar. Yang terpenting kita harus berusaha maksimal. Apapun hasilnya.” Xiumin bersemangat untuk babak final besok.

Ketika mereka sedang berbincang, Rombongan tim SMU Seoul lewat di hadapan mereka. Luhan mengacuhkan mereka, bahkan tidak ingin melihatnya. Xiumin dan Kris tersenyum gembira ketika melihat Sehun ada diantara mereka.

“SEHUNAAAAH, daebaaaak. Kau selalu bermain kereen walaupun kau sedikit terlambat tadi.” Puji Kris.

“Benaar. Lain kali ajari kami membuat taktik keren sepertimu. Yang jelas taktik yang tidak merugikan siapapun.” Sindir Xiumin. Luhan hanya bungkam.

“Hahaha, setelah pertandingan kita selesai aku akan mengajarimu.”

“Xiumin hyuung!!” Seru Kai dan Chanyeol bersamaan.

“Woaaah Kai, Chanyeolie. Kalian bermain bagus sekali.” Seru Xiumin.

“Gomawo hyung. Apa kalian mau makan bersama kami?” Ajak Chanyeol.

“Benar hyung, makanlah bersama kami.” Mohon Kai.

“Mwo? Keundae..” Sehun memandang Luhan yang memasang wajah tidak suka sedikit takut.

Melihat wajah Sehun yang sedikit pucat, Xiumin menggeleng. “Aniyo, kami sudah makan tadi. Kalian pergilah makan, besok kalian harus bertanding melawan kami.”

“Kau benar hyung. Tapi kami harap tidak ada perselisihan lagi setelah itu.” Suho mengedipkan sebelah matanya pada Xiumin.

“Mm Suho benar.” Lirik Xiumin pada Luhan yang sejak tadi memalingkan wajahnya.

“Sebaiknya kita pergi sebelum terjadi sesuatu.” Ajak D.O ketika melihat wajah Luhan, Lay, dan Tao yang memasang tampang tidak suka.

“Kajjaaa.” Baekhyun menarik tangan Kai dan Chanyeol yang terus berbincang dengan Xiumin.

“Annyeong hyung!!” Seru Sehun dan yang lain bersamaan.

Xiumin dan Kris melambaikan tangan mereka. Dan setelah berbalik mereka mendapat death glare dari yang lain.

“Wae? Mereka adalah anak yang baik.” Ucap Kris.

“Berkenalanlah. Mereka adik yang baik. Jika kau mengenal Sehun dan Kai, mereka tidak seburuk yang kalian bayangkan.” Jelas Xiumin.

Mendengar itu Luhan bergegas masuk ke mobilnya lalu melesat pergi meninggalkan yang lain.

“Kemana dia?” Tanya Lay.

“Molla, mungkin dia pulang ke rumahnya.” Jawab Tao.

“Sebaiknya kita juga pulang, kita harus beristirahat untuk besok.” Usul Chen.

“Setuju. Aku sangat lelah hari ini.” Xiumin setuju.

“Kajjaaaa.” Seru Kris dan akhirnya mereka pun pulang ke rumah masing-masing.

TBC

15 thoughts on “Last Game (Chapter 7)

  1. citra dewi berkata:

    akhirnyaaa ada chapter ini, makin seru nih chingu, penasaran sm pertandingan pas sma luhan nanti lawan sma sehun, next chap ya chingu..

  2. Hilma berkata:

    Ih, luhan mah gitu..
    Pdhal khawatir, ee masih pura2 gak peduli…
    Next chingu…
    Jangan lama2 neee…
    😃😃

  3. wikapratiwi8wp berkata:

    Lega kan Lu? Untung aja adikmu gak papa..coba kalo ada apa-apa sama Sehunie gimana? Aiissshhh baca ff ini tuh geram deh sama Lulu hehehe tapi tetep suka kok Lu…hihihi
    Sehunie fighting yaaa jangan sedih lagi..biarin aja hyungmu itu. Masih banyak yang sayang denganmu kok Hun..Lulu oppa juga jangan cuek-cuek amat kenapa weyyyy??? hahaha
    Next chapter ya author kece…hehe fighting🙂

  4. aLya rizqi berkata:

    akhirnyaaa… ff ini dilanjut juga.. makin greget sama luhan.. duuhh gk sadar2 jg pdhal disindir mulu sama xiumin..
    next nya jgn lama yaa…

  5. Light berkata:

    AAAAA… author nim.. pertama kali liat link ini langsung tereak kenceng. abis udh greget sama nih ff buat lanjut chap 7 nya.. ahh seneng dah di publish ditunggu yang ke-8 yee thor nim.. but this fanfict too short ,jadi panjangin lagi ya.. ff ini di tunggu banget soalnya aku suka genrenya, dan ff ini cukup langka.. jadi keep writing buat author sampai ff ini selesai…

  6. Dalphoo berkata:

    ihh luhan. gak usah nyangkal deh klo lo mulai peduli ma sehun. dia anak yang baik nak luhan T.T
    lanjutt ^^

  7. So eun_sehun berkata:

    Aigoo…lulu sok jual mahal deh ama baby hunnie…sok cuek bebek tapi peduli bingitz…
    Author aku baru sadar ini judul last game ya…apa ini ada hubunganx dgan strategi mainx lulu trus ini jadi game terakhirx siapa hayo….jangan bilang nanti game terakhirx baby hunnie..OH NOOOO….
    Jangan buat baby hunnie q lbih menderita chingu…..
    Ah..drpada nebak2 gni mending author lanjut aja biar clear nanti ini cerita bkal kemana…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s