A Little Thing Called Love

a-little-thing-called-love

A Little Thing Called Love

Cast:

Se Hun, OC

Kris, Chanyeol, Minseok

EXO Members

Family, a little bit Humor and Drama

.

.

True friendship isn’t about who came first and who you’ve know the longest. It’s about who came and never left – tumblr.com

.

Seoul, 10 April 2012

Apa kau gila Oh Sehun! Meng- Astaga!” Pria itu berusaha sekuat tenaga untuk menekan emosinya agar tidak meledak begitu saja. Nafasnya yang naik turun seperti seseorang yang telah berlari jauh, gigi yang saling bergemeletuk tanda ia benar-benar emosi. Kris begitu tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut tipis anak laki-laki itu–jika bisa disebut demikian.

Anak bodoh! Dimana otakmu hah?!” Satu lagi suara muncul dari bibir Chanyeol –pria yang duduk bersila di atas meja. Ia melipat tangannya di depan dada dengan tatapan penuh kemarahan tepat mengarah ke satu titik yang sama.

Anak laki-laki yang tengah menunduk menatap sepasang sepatunya.

Tidak lihat pakaian apa yang sekarang kau pakai Oh Sehun? Seragam sekolah! Dengan usia belum genap dua puluh tahun kau sudah berani membuat seorang gadis hamil? Dimana otakmu?!”ucap pria yang bertubuh lebih pendek dari keempat pria yang lain dengan pelan namun sanggup menyakiti hati Sehun, Minseok.

Sudah?

Hanya tiga suara?

Jika ia bisa memilih lebih baik dipukuli oleh lima orang yang sekarang ada dihadapannya ini. Dipukul sampai mati malah lebih menyenangkan daripada harus mendengar kata demi kata dari mulut kelimanya yang ia yakini semakin lama akan membuat hatinya kecil dan sakit.

Ia tahu.

Ia salah.

Sangat salah.

Membiarkan hormon remaja bergejolak menguasainya malam itu dan membuat gadis yang dicintainya kehilangan masa depannya. Demi Tuhan, ia tahu ia salah. Tapi bukan ini yang ia harapkan saat ia mencoba jujur dengan kelima laki-laki yang sudah ia anggap seperti kakak baginya. Kata-kata yang semakin menunjukkan kesalahannya, kata-kata yang semakin membuat hatinya kecil dan merasa sangat kotor serta berdosa.

Bukan, bukan itu yang ia harapkan.

Ia rela jika mereka memukulinya sampai berdarah bahkan hampir pingsan namun kemudian merengkuh tubuh kotornya dan mengatakan semua akan baik-baik saja. 

Tidak salah kan ia mengharapkan belas kasihan?

Hanya dukungan jika belas kasihan dan rengkuhan kasih sayang tidak pantas ia dapatnya bisakah mereka memberikannya dukungan? Membesarkan hatinya? Membuatnya tidak semakin merasa seperti pendosa?

Sebagai makhluk hina, ia tahu Tuhan Maha Pemaaf dan Penyayang hambaNya.

Brak!

Pintu di belakangnya terbuka lebar menimbulkan suara berisik yang sangat mengganggu. Namun, sekeras apapun suara itu tetap tidak membuat Sehun dan kelima orang yang ada di hadapannya menoleh ke arah pintu itu yang kini menampilkan empat orang laki-laki yang masuk dengan tergesa-gesa. Oh, jangan lupa raut wajah yang seakan menegaskan jika mereka tidak percaya dengan apa yang terjadi.

Katakan,” Sebuah tangan menyentuh bahu tegap yang sedang menanggung beban berat itu.

Katakan padaku apa yang baru saja terjadi itu tidak benar.” Kedua bahunya diguncang pelan tanda ia harus bersuara.

Namun seakan suaranya hilang ia hanya diam.

Jawab aku Oh Sehun! Katakan padaku bukan kau yang melakukan itu semua pada Mi Jae! Katakan bukan kau yang melakukannya.” Desak Luhan, laki-laki yang kini tengah memaksa Sehun mengatakan apa yang ia dengar dari teman-temannya adalah salah. Tidak mungkin adik kecilnya melakukan tindakan tidak bermoral seperti itu.

Tidak,

Mungkin?

Ma..Maaf hyung.”

Akhirnya sehun mulai bersuara, lirih. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini bebas mengalir di kedua pipinya. Isakan yang terdengar membuat ia semakin terlihat tak berdaya. Tubuhnya terguncang.

Seorang Oh Sehun kini menangis sejadi-jadinya

Luhan tidak percaya dengan jawaban Sehun. Anak laki-laki yang ia anggap adik kandungnya sendiri tengah melakukan kesalahan fatal. Ia tahu, adiknya begitu merasa sangat bersalah atas apa yang ia lakukan. Ia mencoba memahami. Usia Sehun adalah usia rawan dimana hormon-hormon sedang berkembang dengan pesat dan mudah terpancing.

Apakah semua ini kesalahan Oh Sehun? Mengapa tidak ada yang berani menyalahkan Mi Jae?

Tentu, karena Mi Jae yang paling dirugikan jika dilihat dari sudut manapun, tapi tidak dengan Luhan.

Mereka berdua salah.

Tangannya yang sejak tadi berada di bahu Sehun kini bergerak menarik tubuh kurus laki-laki itu ke dalam rengkuhannya. Menyandarkan kepala Sehun di pundaknya dan membiarkan anak itu menangis sekuat yang ia bisa. Meluapkan apapun yang ia tahan sendiri, melepaskan semua beban yang ia tahan sendiri selama ini. Luhan tahu, adik kecilnya akan menjadi dewasa. Pria dewasa tidak butuh ocehan panjang yang menyakitkan tapi sebuah pelukan yang membesarkan hatinya yang terlanjur sakit karena melakukan kesalahan.

Besarkan anak itu, jangan coba menyuruh Mi Jae menggugurkannya. Aku ada untukmu.”

Untaian kalimat yang keluar dari mulut Luhan hari itu menjadi alasan Sehun tetap berdiri dan yakin akan jalannya hari itu. Membesarkan buah hatinya dengan Mi Jae –gadisnya.

.

.

Seoul, 22 Desember 2016

Gadis kecil itu duduk tenang di pinggir tempat tidur pria kesayangannya. Kedua tangan mungilnya memeluk boneka lumba-lumba berwarna biru tua dengan sesekali mengelusnya lembut. Ia memilih diam dan memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan pria kesayangannya itu. Menyisir rambut, berpakaian, bercermin bahkan mengecek ponsel diperhatikannya dengan teliti.

“Kapan kita berangkat?” bibir mungilnya melontarkan sebuah pertanyaan saat ia melihat pria-nya tidak sesibuk sebelumnya.

“Kapanpun kau siap sayang.” Jawab pria itu dengan sebuah kecupan ringan dikedua pipi gadis kecilnya.

“Aku siap!” Teriaknya riang sambil berdiri di hadapan pria-nya dengan kedua tangan direntangkan ke atas tanda ia bersemangat.

Hari-hari terakhir sekolah sebelum libur panjang tentu akan sangat menyenangkan, bukan?

Sehun, pria kesayangan gadis kecil itu hanya tersenyum bahagia melihat antusias putrinya untuk berangkat sekolah. Walau beberapa hari kemarin ia sempat kewalahan membujuk putri kesayangannya untuk sekolah karena Hyemi merasa sudah saatnya mereka liburan namun akhirnya pagi ini putrinya sudah siap dengan sendirinya.

Sehun memberikan jari telunjuknya untuk pegangan Hyemi menggandeng tangannya. Hyemi yang lebih suka menggandeng telunjuknya menyambut ulurannya dengan riang. Setelah semua siap, pasangan ayah-anak ini kemudian berjalan keluar untuk segera berangkat ke sekolah.

.

.

Tidak ada seorang pun yang mau jika disuruh untuk menghitung berapa harga barang-barang yang melekat di tubuhnya. Hanya sebuah baju hangat berwarna biru gelap dilapisi dengan coat musim dingin dengan warna yang senada dengan baju hangatnya ditambah dengan celana berbahan jeans berwarna hitam yang membalut kaki panjangnya dilengkapi dengan sepatu kets membuatnya tampak muda dan segar untuk musim dingin yang kaku. Namun jika dilihat dari bagaimana gayanya berjalan yang tampak angkuh dan berkuasa, maka semua juga akan menebak hal yang sama tentang berapa mahalnya pakaian yang melekat di tubuhnya.

Sebuah koper yang memiliki warna seperti kopi yang biasa ia minum di pagi hari itu tampak mengikutinya dari belakang. Sepasang earphone yang melekat apik di telinganya dan kacamata hitam melengkapi penampilannya hari itu.

“Halo?”

“Kau dimana? Aku hampir beku menunggu di sini hyung!” Sebuah senyuman tersemat di wajah tegasnya mendengar keluhan lawan bicaranya. “Aku akan segera sampai di sana.” Setelah menutup telepon singkat itu ia mempercepat langkahnya menuju pintu keluar. Matanya langsung menangkap makhluk mungil sedang bersedekap memandangnya kesal.

“Hyung! Kau tidak tahu aku hampir jadi patung es di sini?! Kau ini lama sekali.” Baekhyun –makluk mungil berjalan mendekati Kris yang tengah berjalan dengan santainya. Apa pria itu tidak tahu ia sudah hampir mati kebosanan menunggunya datang?

“Hei, santai sedikit Baek. Aku kan masih jet lag.” Kata Kris sambil melepaskan kacamata juga melepaskan kedua earphonenya

Jet lag? Alasan macam apa itu hyung?! Kau ini sudah sering terbang Korea-Amerika masih pakai alasan jet lag?!” Ocehan makhluk pendek itu membuat Kris menyesali keputusan untuk melepaskan earpohonenya tadi.

Baekhyun memang makhluk kecil tidak berperasaan.

“Kau sendirian?” Tanya Kris mengalihkan perhatian Baekhyun yang mulai menatap penampilannya. Selalu seperti itu. Baekhyun akan menatapnya dari atas sampai bawah lalu berkomentar yang tidak-tidak tentang pakaiannya.

“Tidak, aku bersama Chanyeol dan Chen. Tapi mereka sedang mengambil mobil tadi saat aku menelponmu. Dan, hei Hyung! Kau tampak-”

“Tampan. Iya aku tahu.” Potong Kris sebelum mendengar ocehan panjang Baekhyun lagi yang akhirnya mendapatkan pukulan kecil di lengannya serta pelukan selamat datang dari makhluk mungil yang cerewet, Baekhyun.

.

.

Sehun tengah sibuk melayani pelanggannya hari ini yang lebih ramai menjelang hari libur. Tangannya dengan lincah membuat semua pesanan mereka dan menyajikannya dengan apik. Sesekali ia melihat jam tangannya telah menunjukkan pukul 11.30, saatnya bagi Sehun untuk segera bersiap menjemput putri kecilnya. Ia segera melepas apronnya dan meletakan benda itu di meja belakang. Tak lupa ia mengambil pesanan putri kecilnya –segelas bubble tea rasa cokelat yang mempunyai banyak bola-bola tapioka.

“Menjemput Hyemi, Sehun-ah?” tanya Kai yang baru saja sampai. Hari ini ia mendapatkan waktu kerja dari siang hari sampai nanti malam.

“Iya hyung, aku pergi dulu ya.” Jawab Sehun sambil bergegas menuju pintu keluar.

“Ok! Salam untuk kesayanganku itu ya!” Kai melambaikan tangannya pada Sehun yang dibalas dengan tatapan tidak terima dari Sehun.

“Anak itu berubah kan?” Minseok tiba-tiba menghampiri Kai yang sedang menatap kepergian Sehun. Ia hanya mengangguk menjawab pertanyaan sahabat yang seusia dengan noonanya itu.

“Aku masih ingat betapa marahnya Kris saat ia mendatangi kami hari itu dan mengatakan jika kami akan menjadi, paman?” Minseok mengikuti arah pandang Kai yang melihat kearah luar kafe itu.

“Kalau hari itu Kyungsoo tidak datang dan melerai mereka, mungkin sekarang ia sudah berakhir di peti mati hyung.” Tambah sebuah suara yang tiba-tiba datang menginterupsi kegiatan dua sabahat yang sedang memandang kepergian Sehun, Lay.

“Anak bodoh itu huh! Sebenarnya aku juga tidak terlalu percaya dengan keputasannya saat itu.” Tao ikut menyuarakan apa yang ia pikirkan selama empat tahun belakangan.

“Tanpa kita minta pun, anak itu pasti akan tetap mempertahankan Hyemi tanpa peduli bagaimana ia akan merawatnya nanti.” Sebuah suara membuat mereka menatap heboh pintu masuk kafe itu.

“KAU!”

.

.

Matanya memandang sendu ke arah kotak kecil yang ada di hadapannya dan Hyemi. Sebuah figura kecil yang menampilkan foto gadis bertubuh mungil dengan senyum mirip dengan putri kecilnya tersimpan rapi di dalam kotak kecil itu. Tangannya terangkat untuk menyentuh permukaan kotak kaca itu dengan lembut sarat akan kerinduan yang terlalu dalam.

Aku merindukanmu, Mi Jae.

“Ayah, aku mau menyentuh ibu juga.”

Hyemi menarik-narik ujung coat hitam Sehun. Ia sudah terlalu bosan sedari tadi hanya memandangi kotak-kotak kaca di hadapannya yang letaknya terlalu jauh dari kotak kaca kesayangannya, kotak kaca milik ibunya. Sehun menoleh ke arah Hyemi dan menggendong putri kecilnya hingga ia bisa melihat kotak kaca ibunya.

“Hallo ibu!” Sapa Hyemi riang dengan lambaian tangannya riang.

“Apa kabarmu ibu?”

“Apa kau kedinginan di sana? Ayah bilang ibu tidak suka dingin, sama sepertiku. Jadi, ini aku bawakan topi hangat untukmu!” Hyemi melambaikan sebuah kotak kecil yang berisi topi hangat yang sama dengan yang ia dan Sehun pakai hari ini.

“Ibu, selamat ulang tahun. Aku mencintaimu.” Hyemi mendekatkan wajahnya ke arah foto Mi Jae dan mengecupnya penuh sayang. Ia juga membelai foto ibunya lembut dan tersenyum setelah melakukannya.

“Tiga hari lagi aku akan ulang tahun bu! Jadi ibu tidak usah khawatir. Aku yang akan menjaga ayah mulai dari sekarang!” Serunya kemudian sambil memeluk leher Sehun lebih dekat lagi dan mencium pipinya.

.

.

Hari ke 24, Desember 2016

Kris mengedarkan pandangannya dan mendapati Lu Han tengah sibuk menghias tembok dengan foto-foto Hyemi. Senyum bahagia juga ia lihat dari wajah teman-temannya yang lain seperti Suho dan Minseok. Jangan lupa suara ricuh dari si biang heboh Baekhyun, Chanyeol dan Chen yang kini tengah sibuk meniup balon-balon. Sementara aroma menggiurkan tercium dari dapur yang tengah di kuasai Kyungsoo dan Lay.

“Apa kita benar-benar tidak akan menerima pelanggan hari ini hyung?” Tanya Tao ketika ia dibantu Kai sudah selesai menggunting ornamen berbentuk ikan untuk hiasan di pintu masuk.

“Kita akan tetap buka. Aku harus terus menambah pundi-pundi keuanganku.” Jawab Kris santai sambil meletakan kedua kakinya di meja dan menyandarkan tubuhnya.

“Kau ini sudah seperti bos saja. Perlu aku ingatkan kalau bos di sini adalah ayah dari putri kecil yang kau taksir itu?” Lu Han tampak tidak terima dengan jawaban Kris.

“Aku ingat Lu, tak perlu kau ingatkan aku selalu ingat kalau bos kafe kecil ini adalah setan kecil itu.”

Pikiran Kris tiba-tiba melayang ke hari dimana ia mendapati Lu Han dan Suho tengah berdiskusi tentang rencana Sehun untuk membuka sebuah kafe kecil. Ia nyaris bunuh diri karena stress memikirkan apa yang sebenarnya ada di otak anak itu. Diusianya yang belum genap dua puluh tahun ia sudah menjadi seorang ayah bahkan duda.

“Sedang memikirkan masa lalu bung?” Tebak Suho yang kemudian duduk di sebelah Kris. Pria itu hanya mengangguk dan kembali diam menatap isi kafe kecil itu. Kafe yang menjadi saksi bisu usaha keras Sehun untuk menghidupi keluarga kecilnya. Tak terasa sebuah senyuman tersemat di wajahnya saat ia mengamati keadaan kafe itu.

Kafe itu kini tampak lebih berwarna dari sebelumnya. Terima kasih untuk para manusia yang sejak tadi ribut sudah memberikan sentuhan-sentuhan magis mereka untuk menyambut hari Natal dan tentu saja hari ulang tahun gadis kecil kesayangan mereka, Hyemi. Berbagai ornamen natal seperti hiasan kecil berbentuk pohon natal dan rusa-rusa, balon berwarna merah dan hijau serta pohon cemara dengan pucuk bintang berdiri kokoh di pojok ruangan. Ah! Jangan lupakan berbagai macam ornamen bentuk ikan yang apik menghiasi langit-langit kafe itu. Di tembok yang dulu hanya dibiarkan kosong kini telah menjadi figura besar berisi foto Hyemi dengan berbagai gaya dan ekspresi. Tulisan Happy Birthday Baby Fish menjadi pemanis untuk hiasan kafe kecil itu.

“Aku bangga dengan anak itu Kris.”

“Selalu. Dia adikku, dan akan selalu begitu.” Sebuah senyum terlintas di wajah keduanya saat mereka melihat ke sebuah foto yang baru selesai Luhan pajang, foto Sehun dan Hyemi yang saling berpelukan.

.

.

Seoul, Natal 2016

Salju turun sedikit demi sedikit dengan lembutnya membuat hari itu semakin putih dan indah. Hyemi tersenyum bahagia ketika ia melihat butiran-butiran salju itu turun perlahan. Sesekali ia memekik girang melihat salju-salju itu mengenai tanah dan bersatu dengan salju-salju yang lain. Ia suka hari ini.

“Selamat Natal Ayah! Aku mencintaimu!”

“Selamat Natal sayang. Aku selalu mencintaimu, dan selamat ulang tahun putriku. Tetaplah menjadi kebanggaanku.” Sehun menarik Hyemi dan memeluknya. Betapa bersyukurnya ia hari ini masih bisa melihat putri kecilnya dipagi hari dan memberikannya kecupan selamat pagi.

“Terima Kasih ayah! Aku sayang padamu.” Hyemi membalas pelukan dan mencium ayahnya.

“Ada yang ingin kau lakukan hari ini?” Tanya Sehun sambil mengelus lembut rambut putrinya.

“Ada! Aku mau ke kafe hari ini.”Jawab Hyemi riang.

“Kafe?”

“Iya! Ayolah ayah kita ke sana!”

“Kenapa? Hari ini aku berniat menutup kafe sayangku.” Tanya Sehun lembut. Ia tidak mengerti mengapa Hyemi ingin ke kafe hari ini.

“Aku ingin merayakan ulang tahunku dengan pelanggan di sana ayah.” Jawab Hyemi sambil menggerakkan tubuhnya riang.

“Merayakan dengan pelanggan?”

“Iya, mungkin dengan memberikan mereka makanan gratis! Ayolah ayah.” Hyemi menggerakkan tubuhnya memaksa Sehun untuk menuruti permintaannya.

“Ok, baiklah.” Meskipun ragu dengan permintaan Hyemi, namun pada akhirnya Sehun membawa putrinya menuju kafe mereka.

“Ayo ayah!” Hyemi menarik tangan Sehun agar ia berjalan lebih cepat menuju kafe. Sehun hanya tersenyum melihat antusias putrinya hari itu. Sebenarnya ia merasa heran dengan keadaan kafe yang lumayan ramai jika dilihat dari luar pasalnya hari ini hari libur dan natal. Rasanya agak aneh saja jika banyak orang yang masih berkeliaran di luar.

.

.

“Selamat Ulang Tahun Oh Hyemi!” Sambutan meriah Hyemi dapati ketika Sehun membuka pintu masuk kafe. Hyemi menatap satu persatu paman-paman kesayangannya sudah datang di hari ulang tahunnya.

“Paman! Kalian semua datang!” Pekik Hyemi girang.

“Tentu saja sayang. Kami akan selalu ada untukmu.” Lu Han menghampiri Hyemi dan menggendong gadis kecil itu.

“Ayo tiup lilinnya dan buat permohonan!” Seru Chanyeol sambil mencubit pipi gemuk Hyemi. Gadis kecil itu hanya tersenyum dan menutup matanya membuat permohonan.

Terima kasih untuk semuanya Tuhan. Terima kasih sudah memberikan ayah dan keluarga terbaik untukku. Semoga kami selalu bahagia. Aku mencintai mereka semua. Amin.

Fuh!

“Yeay! Selamat ulang tahun Hyemi! Semoga kau selalu bahagia!” Chen memberikan Hyemi ciuman di kedua pipinya. Sementara gadis itu hanya tersenyum riang.

“Paman Lu terima kasih kalian semua datang dan membuat ayah senang.” Bisik Hyemi pada Luhan. Luhan hanya tersenyum mendengar bisikan Hyemi. Ia bisa melihat bagaimana teman-temannya sedang menggoda Sehun dan membuatnya tertawa.

“Aku pikir kalian tidak akan datang.” Sehun menatap teman-temannya tak percaya.

“Terima kasih pada gadis kecil itu. Kalau bukan karenanya, aku malas datang.” Jawaban Kris selalu menjadi jawaban yang paling menyakitkan namun menyenangkan. Dibalik itu semua, sebenarnya ia yang paling semangat untuk datang.

“Aku terlalu banyak merepotkan kalian. Terima Kasih.” Sehun membungkukkan tubuhnya tanda terima kasihnya.

“Tidak ada yang merasa direpotkan disini. Kami senang bisa membantumu membesarkan Hyemi sampai sekarang.” Chanyeol tersenyum lucu memandang Hyemi yang sedang asik memakan kue ulang tahunnya.

Luhan yang sejak tadi diam kini berjalan menghampiri Sehun dan memeluknya. “Terima kasih sudah membesarkan Hyemi dan menjadi ayah terbaik untuknya, Sehun. Aku bangga padamu.”

“Terima kasih kalian semua mau membantuku. Aku tidak tahu apa yang bisa aku lakukan jika dulu kalian benar-benar tidak menolongku.” Sehun membalas pelukan Luhan sambil menahan air matanya yang sebentar lagi akan keluar.

“Hei, dengarkan aku. Tidak masalah tentang apapun yang kau lakukan. Aku selalu ada untukmu kau tahu.” Kris melayangkan sebuah pukulan ringan di lengan Sehun.

“Kita bukan hanya sekedar teman, tapi kalian sudah aku anggap sebagai saudaraku.” Suho menambahkan.

Tao yang sejak tadi memandangi Sehun hanya diam dan tersenyum. Ia tahu beratnya hidup Sehun saat itu jika mereka semua meninggalkannya begitu saja. Perasaan berdosa dan putus asa bisa saja membuat Sehun tidak lagi bernafas dan berdiri merayakan natal bersamanya.

“Ya Oh Sehun! Aku menyayangimu!” Kai tiba-tiba saja menghambur ke arah Sehun dan memeluknya.

“Dengar, hiks… Kalau kau butuh sesuatu, katakan padaku bos! Aku siap untukmu dan Hyemi selalu! Hiks…” Sehun yang terkejut dengan tindakan Kai ditambah dengan tangisan Kai yang terdengar hanya bisa tersenyum kaku. Tidak tahu apalagi yang bisa ia lakukan dan katakan selain membalas pelukan Kai.

“Terima Kasih Kai.”

Tao yang tak sabaran berjalan mendekat dan ikut memeluk keduanya. Luhan yang tak jauh dari sana juga memeluk mereka bertiga hingga yang lainnya Kris, Suho, Minseok, Lay, dan Chanyeol kemudian ikut berpelukan dengan mereka.

“Hei! Kalian melakukan pelukan tapi kami ditinggalkan! Aku ikut!” Chen segera berlari meninggalkan Hyemi bersama Baekhyun dan Kyungsoo dan ikut berpelukan.

“Aku mau ikut!” Baekhyun kemudian berdiri dan ikut berpelukan menyisakan Hyemi dengan Kyungsoo yang tengah terdiam melihat adegan di hadapan mereka.

“Paman Kyung, aku juga mau berpelukan.” Pinta Hyemi kemudian sambil menatap Kyungsoo.

“Sini. Ayo kita berpelukan berdua.” Kyungsoo melebarkan tangannya bersiap untuk memeluk Hyemi.

“Tidak paman. Kita berpelukan bertiga dengan Hunmi.” Hyemi berdiri mendekati Kyungsoo dengan lumba-lumbanya –pemberian dari paman-pamannya.

“Ok kita berpelukan bertiga dengan Hunmi. Ayo Hunmi kita berpelukan!” Kyungsoo merasakan Hyemi oh! dan Hunmi menghambur ke dalam pelukannya dan memeluknya erat.

Dengan salju yang turun semakin lebat serta udara dingin yang semakin terasa, Kafe kecil itu terasa hangat dengan aura kekeluargaan yang menguar dari dalam sana.

Aku selalu ada untukmu, selalu.

End.

.

.

Haloooo!

Apakabar kalian semua? Hehe. Sebenarnya ff ini adalah bentuk permohonan maafku atas keterlambatan mengupdate ff yang lain, terus tentang bagaimana aku mengalami writer block T_T

Sejujurnya ini adalah ff yang pernah aku ikut sertakan dalam sebuah kompetisi ff beberapa waktu lalu, aku hanya tembus sampai tahap 1 saja huhu TT.

Terima kasih sudah membacanya hahaha!

6 thoughts on “A Little Thing Called Love

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s