A FATE FOR YOU (Part 1)

Untitled

Author                : Cho Hara

Tittle                  : A Fate For You

Main Cast          :Lee Cheon Sa

Xi Luhan (EXO-M)

Genre                 : Sad, Friendship, Romance, Schoolife

Length               : Twoshoot

Rating                : T

Disclaimer : FF ini milik saya. Dilarang keras memPLAGIAT Semua cast disini milik Tuhan, orang tua mereka dan agensinya, OC milik author.

Warning.!! Maaf,Typo(s) bertebaran dimana-mana.

 

 

 

Summary     : Hari ini adalah hari yang cukup membuatku kehilangan mood ku, aku tidak tahu kapan tepatnya, tapi sebentar lagi aku akan kehilanganya. Mungkin aku tidak pantas jika aku mengatakan ‘aku akan kehilanganya’, karena dia bukanlah miliku. Lebih pantas jika aku mangatakan ‘dia akan meninggalkan ku’

Author POV

“YA LUHAN…..!! kembalikan miliku atau kau akan mati sekarang juga!”

“Aisshh…Cheon Sa! Jangan mengejarku terus! Aku sudah lelah. Biarkan aku melihat apa yang kau tulis!”

“Tidak mau!!, YA!!. Jika kau sampai membacanya, akan ku pastikan kau tidak akan selamat. Kembalikan!”

Teriakan seorang yeoja bernama Cheon Sa kini tengah menggema di Aula sekolah mereka. Disisi lain, Namja yang bernama Luhan tengah berlari mengelilingi sudut aula manapun agar tidak tertangkap oleh Cheon Sa yang mengejarnya.

Beruntung aula sedang sepi, hanya menyisakan sepasang sahabat ini saja disini. Alasan kenapa Cheon Sa dan Luhan bisa berada disini adalah karena kepala sekolah dan guru Etika –Kang Saem-mereka menyuruh seluruh murid kelas XII untuk berkumpul dia aula.

Guru Etika mereka tadi sedang mengadakan sosialisasi tentang ‘Mimpi’. Bukan mimpi yang terjadi saat tidur, mimpi disini yang dimaksud adalah ‘mimpi mu yang sebenarnya’. mereka sudah kelas XII, dan itu artinya sebentar lagi murid kelas XII akan segera mengepakan sayap dan siap untuk terbang menggapai mimpi mereka. Tapi bila saat latihan mereka tidak sungguh-sungguh, maka mereka akan jatuh saat terbang.

Setelah mendengarkan sosialisasi tentang ‘Mimpi’ yang membuat para murid kelas akhir bosan dan jenuh, guru Etika mereka membagikan sebuah note kecil berwarna-warni kepada murid kelas XII. Tujuanya adalah mereka diminta menuliskan ‘mimpimu sebenarnya’ dalam satu kalimat di note tersebut.

Termasuk dua manusia yang sedang kejar-kejaran ini. Mereka beruntung karena mereka datang pada saat pembagian note, jadi telinga mereka tidak akan panas saat mendengarkan ocehan guru etika yang memekakan telinga.

Namun saat Cheon Sa akan memasukan miliknya ke dalam sebuah kotak yang disediakan, Luhan mengambil note milik Cheon Sa. Sudah terhitung 10 menit mereka terus berlari sampai akhirnya Cheon Sa limbung kelantai aula. Kesempatan ini pun diambil oleh Luhan untuk melihat isi note tersebut.

“Bwuahhahaaa…….” Seketika teriakan Cheon Sa tergantikan oleh suara tawa Luhan. Sedangkan Cheon Sa hanya mengendus kesal. Luhan yang melihat tatapan mematikan dari Cheon Sa segera menghentikan tawanya dan melangkahkan kakinya mendekati Cheon Sa.

“Mimpi macam apa itu?, mana ada mimpi yang seperti itu?” Tanya Luhan dengan senyum mengejeknya. “Kenapa? Tidak boleh? Apa ada yang salah dengan mimpiku?” Cheon Sa langsung meluncurkan protesnya saat Luhan bertanya dengan nada mengejek.

“Tunggu sebentar, kau….ingin jadi astronot?” ucap Luhan sambil berusaha menahan tawanya. “Siapa bilang aku ingin jadi astronot?”

“Lalu kenapa kau ingin menjadi Bulan?. Kau ingin menjadi Ilmuwan yang meneliti Bulan?” Cheon Sa lagi-lagi menggeleng.

“Jika aku menjadi Bulan, aku akan selalu berada di samping Bintang. Jika mereka bersama, maka akan membuat malam menjadi lebih sempurna”

“Mwo?. YA! Lee Cheon Sa! Apa kau sedang mengigau? Apa kau sedang sakit huh?” Tanya Luhan sambil meletakan punggung tanganya di Kening Cheon Sa. “aniya!!”

“Luhan-ah, bukankah Bulan dan Bintang bila bersama akan membuat malam menjadi lebih indah dan Sempurna?” Tanya Cheon Sa pada Luhan yang mengerutkan keningnya pertanda ada sesuatu yang muncul di pikiranya.

“Tapi bukan kah Bintang akan pergi dari Bulan ketika awan hitam memisahkan mereka?. Itu artinya, ada waktu dimana Bulan dan Bintang harus berpisah, benarkan?.” Tanya Luhan yang mulai masuk kepimbicaraan yang serius saat mendapati sesuatu yang tersembunyi dibalik kalimat Cheon Sa.

“Menurut ku mereka tidak berpisah, mereka hanya tidak terlihat karena awan hitam. Kebanyakan orang menganggap bahwa bintang menghilang jika ada awan hitam, tapi bagiku bintang selalu berada disisi bulan. Bintang selalu membagi cahaya nya kepada Bulan yang tidak mempunyai cahaya.” jawab Cheon Sa dengan senyum yang penuh arti.

“Lalu, kenapa kau jadikan Bintang satu satunya yang dapat memberikan sinarnya kepada Bulan?. Bukan kah Matahari juga bisa melakukanya?” Tanya Luhan antusias.

“Kau tahu mitologi Yunani tentang takdir?. Menurut mitologi Yunani, Bintang selalu dijadikan patokan mengenai takdir mereka. kenapa aku ingin berada disamping Bintang karena aku ingin terus berada disamping takdirku. lagi pula aku yakin jika takdirku tidak sesempurna Matahari.” jawab Cheon Sa.

“Kau ingin berada disamping Takdirmu?. Itu artinya kau bergantung pada sebuah takdir?. Cheon Sa, meskipun setiap orang memiliki takdir, tapi kita tidak diperbolehkan hanya bergantung pada takdir. Kita juga harus tetap berusaha.” Jelas Luhan dengan Tegas.

“Aku tahu, tapi bukan seperti itu yang ku maksud. saat ini aku tidak tahu sampai mana kemampuan ku. aku belum memiliki mimpi seperti yang kalian semua tuliskan di note. Itulah kenapa aku ingin berada di samping takdir ku, agar aku tahu seberapa besar kemampuan dan mimpiku yang sebenarnya”

Itulah kenapa aku ingin terus berada disamping mu, jika aku berada disamping mu, aku akan memiliki mimpi. sampai sejauh ini, kau adalah mimpi pertama ku Luhan.’ Lanjut Cheon Sa dalam hati.

“Tidak masuk akal, tapi aku bisa mengerti. Hajiman, karena kau sudah menjelaskan semuanya pada ku, sekarang giliran ku untuk menjelaskan mimpi ku pada mu.”

“Hey.., karena siapa aku terpaksa menjelaskanya? Siapa yang mengejekku duluan? meskipun aku menjelaskanya pada mu, aku tetap tidak rela” sela Cheon Sa, kini dirinya kembali menjadi Cheon Sa yang cerewet dan menyebalkan di matanya.

“Ckckck kenapa kau cerewet sekali?. baiklah, karena kau sudah memperbolehkan ku melihat note mu, jadi akan ku beri tahu mimpiku.”

“Aku tidak mau mendengarnya” Kata Cheon Sa sambil berdiri dan memasukan notenya kedalam kotak.

“Aku ingin menjadi pemain sepakbola terkenal seperti bintang-bintang sepakbola di dunia” ucap Luhan dari arah belakang Cheon Sa. Cheon Sa menghentikan langkahnya dan berbalik kebelakang menatap Luhan.

“Itu artinya kau akan meninggalkan ku?” ucap Cheon Sa lirih.

“Kau bilang, kau ingin jadi pesepakbola terkenal, itu berati bisa saja kau pergi keluar negeri. Hal itu sudah banyak yang terjadi di Korea.” Ucap Cheon Sa yang masih menatap Luhan.

“Tentu saja aku akan melakukanya. Hey…memang kita sepasang kekasih yang akan putus karena Long Distance?, kenapa kau takut sekali jika aku meninggalkan mu?. atau jangan-jangan kau menyukaiku?”

“Aniya!!! Kenapa aku harus menyukai mu?, kau bukan tipeku”

“Bagus lah kalau kau tidak menyukai ku. kau juga bukan tipe ku” ucap Luhan tenang.

“Kenapa aku harus menyukai mu?. aku hanya menyayangkan kalau persahabatan kita akan berakhir jika kau sudah pergi jauh. Itu saja yang aku pikirkan” sangkal Cheon Sa. dari nada bicaranya, Cheon Sa kesal sekali dengan ucap Luhan kali ini.

“Hey…, kau marah?. Aku hanya bercanda. YA Lee Cheon Sa!!” seru Luhan karena Cheon Sa pergi meninggalkan Luhan begitu saja di Aula. Segera Luhan berlari menyusulnya. “YA Lee Cheon Sa!!.” Teriak Luhan saat Cheon Sa tidak merespon apapun kalimat Luhan.

Cheon Sa tetap berjalan dengan tenang, sedangkan Luhan harus sedikit berlari karena jarak mereka cukup jauh. Luhan tidak tahu bahwa dibalik itu, Cheon Sa sedang tersenyum evil. Dia berhenti dan menaruh sebelah kakinya ke tengah jalan. Akibatnya Luhan jatuh tersungkur karena kaki Cheon Sa yang menjegalnya(?)

“YA! Lee Cheon Sa!!” teriak Luhan karena Cheon Sa melarikan diri darinya. Luhan yang tidak terima pun mengerjarnya, dia makin jengkel saat Cheon Sa membalikan badanya hanya untuk menjulurkan lidah nya saja, seolah Cheon Sa sedang mengejeknya.

Aksi saling kejar mengejar pun tak terlewatkan lagi . Sekarang keduanya sadang berlarian layaknya sepasang anak kecil yang sedang bermain kejar-kejaran. Dalam hitungan menit sekolah menjadi rusuh akibat ulah sepasang sahabat itu.

Bagaimana tidak?, para murid berteriak saat Luhan dan Cheon Sa lewat karena mereka berlari tidak tahu arah dan jalan. Mereka terus saja berlari tanpa mengucapkan kata ‘maaf’ pada siapa saja yang mereka tabrak.

@@@_@@@

Seorang yeoja dengan rambut sebahu kini tengah menyoretkan pena nya di sebuah buku pribadi miliknya.

Terkadang ia tersenyum-senyum sendiri, tapi tak jarang juga wajahnya berubah menjadi lesu saat mengingat hal-hal yang membuat semangatnya turun.

Terdapat sebuah lembar foto yang berbeda tetapi dengan obyek yang sama pada setiap lembar buku yang saat ini sedang ia tulis. Foto seseorang yang selalu membuat nya salah tingkah saat mereka melakukan skin ship.

“Uri Cheon Sa~ ayo kita makan!” ucap Ny. Lee dengan nada yang menurut Cheon Sa sangat menggelikan dari balik arah pintu kamarnya. “Eomma~ jangan panggil aku dengan nada yang seperti itu! aku kan bukan anak kecil” kesal Cheon Sa sambil mengerucutkan bibirnya.

“Baiklah, eomma tidak akan memanggilmu dengan nada seperti itu lagi. eomma janji” ucap Ny Lee sambil mengangkat sebelah tangannya seperti orang yang sedang mengikat janjinya. Mereka akhirnya keluar dari kamar dan kini keduanya sedang menuruni tangga.

“Eomma! Kenapa makhluk itu ada di sini?” Tanya Cheon Sa kaget saat mendapati sesosok makhluk yang tak seharusnya ada di meja makan mereka.

Bahkan saat ini makhluk itu sedang asyik berbicara dengan appanya.

“Annyeong~” ucap makhluk itu riang sambil melambaikan tanganya pada Cheon Sa. “hey! Kenapa kau ada disini?.” Makhluk itu hanya tersenyum lima jari saat mendengar pertanyaan Cheon Sa.

“Luhan! Kenapa tadi kau tidak ikut pelajaran tambahan?. Kenapa kau langsung pulang?”

“Nanti aku ceritakan. Sekarang kita makan, oke?”

“Apa? Jadi kau kesini hanya untuk makan?. Ahh…orang ini benar-benar…” gerutu Cheon Sa pada makhluk yang ternyata bernama Luhan.

“Oh ayolah…, orang tua ku sedang berada di Busan. Mereka hanya meningglakan uang, bukan makanan.” Ucap Luhan dengan nada yang dibuat-buat.

“Sudah-sudah. Biarkan Luhan makan. Cheon Sa, kau kan sering di ajak makan bersama di keluarganya Luhan. Apa salahnya sekali-kali Luhan makan disini?” Lerai Tn Lee.

“Lee ahjussi benar!. Cheon Sa Kau harus mempertimbangkan itu. Asssaa! Selamat makan……..” ucap Luhan riang tanpa memperhatikan tatapan kesal dari Cheon Sa.

@@@_@@@

Kini, Cheon Sa dan Luhan berada di kamar Cheon Sa. Bukan hal yang harus disembunyikan lagi jika mereka hanya berdua di dalam kamar. Tidak akan ada yang marah ataupun meralang mereka, karena hal ini sudah terjadi berulang kali selama 4th , Baik dikamar Luhan maupun kamar Cheon Sa.

Orang tua mereka juga membiarkan keduanya berada di dalam satu kamar. Mereka sudah menaruh kepercayaan kepada Cheon Sa dan Luhan, bahwa mereka tidak akan melakukan apapun.

Terbukti selama persahabatan mereka berlangsung, tidak terjadi apa apa kepada mereka.

“Baiklah sekarang ceritakan kenapa akhir-akhir ini kau tidak mengikuti pelajaran tambahan!. Dan anehnya kenapa kau tidak mendapat omelan dari guru atas perbuatanmu itu?” Tanya Cheon Sa.

“Aku hebatkan?. Hehehee….” Cheon Sa sudah mencoba serius untuk menanyakan hal itu, tapi kenapa Luhan harus menjawabnya dengan candaan?. Senyum Luhan lah yang membuatnya harus memukul kepala Luhan menggunakan penggaris.

“Hey!! Aku serius!. Apa yang akan terjadi dengan nilai mu jika kau terus seperti ini?. 2 bulan lagi kita akan menghadapi ujian kelulusan, apa kau tidak memikirkan itu huh?. Kenapa kau selalu main-main?” ucap Cheon Sa dengan semangat yang membara. “aishh! Kanapa kau harus memukul ku?. aku kan hanya bercanda.” Dengus Luhan sambil mengusap-usap kepalanya.

“Itu karena kau selalu bercanda. Menyebalkan!. Kau bilang kau ingin berada satu Universitas yang sama dengan ku! kenapa kau tidak sungguh-sungguh dalam belajar?” omel Cheon Sa lagi.

Karena terus di ceramahi oleh Cheon Sa, Luhan harus menyibukan diri dengan membaca komik naruto yang kebetulan ada di kasur Cheon Sa. Setidaknya Luhan tidak harus mendengarkan omelan Cheon Sa setiap hari.

“Biar aku jelas kan dulu ny Lee. Kau tidak perlu marah-marah!” ucap Luhan tenang sambil menutup komiknya. Tiba-tiba ia mengeluarkan secarik kertas dari balik jaketnya.

“Jja!!” Luhan menyerahkan kertas tersebut kepada Cheon Sa.

“Ini……, kau benar-benar melakukanya?. Sejak kapan kau memulainya?, kenapa kau tidak memberi tahu ku?” Tanya Cheon Sa dengan raut muka yang terkejut sekaligus kecewa.

“Hmm, aku benar-benar melakukanya. Aku sudah memulainya 3 bulan yang lalu, dan aku lolos. Sebelumnya maaf karena tidak menceritakan masalah ini dengan mu, aku ingin memberi mu kejutan dengan ini. Bagaimana?, kau bangga pada ku kan?”

Cheo Sa hanya menatap kosong kertas tersebut, dia benar-benar tidak percaya bahwa Luhan telah membuktikanya saat ini. Lalu, bagaimana dengan dirinya? Apakah ia sudah siap dengan segala resikonya nanti?.

“Cheon Sa-ah! Kau baik-baik saja.?” Tanya Luhan sambil mengibas-ngibaskan kedua tanganya di depan wajah Cheon Sa

“Ahh! Aku tahu!. Kau pasti terlalu bangga pada ku kan?” lanjutnya. “Umm…ya, aku..bangga pada mu. semoga kau melakukanya dengan baik. Jangan membuatku malu dan kecewa” ucap Cheon Sa lirih sambil menepuk pundak Luhan.

“Lalu, bagaimana dengan sekolah mu? apa aktivitas mu tidak akan terganggu dengan itu?” Tanya Cheon Sa.

“Pelatih mengatakan kalau aku diperbolehkan izin sampai ujian kelulusan nanti. Kemudian setelah itu aku akan melanjutkanya sambil kuliah. Ada kemungkinan sampai semester satu saat kuliah nanti, aku akan cuti. Dan juga aku akan melanjutkan Training di China selama 4 bulan, Ahh pasti akan melelahkan”

Ucapan Luhan kali ini sangat tertancap jelas di hati Cheon Sa. Dia tahu, cepat atau lamabat hal ini akan terjadi, hal ini sudah ia pikirkan seharian tadi. Cheon Sa tahu bahwa 3 bulan yang lalu, di Seoul di adakan seleksi calon sepakbola muda, tapi dirinya tidak tahu jika Luhan akan mengikuti seleksi terebut. Bahkan Luhan sudah berhasil menyembunyikan hal ini selama 3 bulan.

Dan sekarang? Luhan akan mengikuti seleksi menuju tahap yang lebih tinggi lagi. Bahkan ia sudah di terima untuk melakukan latihan di China. Mungkin satu tahun yang akan datang, Luhan akan melakukan pertandingan pertamanya.

Cheon Sa yang sedari tadi terdiam cukup lama, akhirnya dia berdiri dari tempat duduknya dan… “umm, aku keluar sebentar.

Aku akan mengambilkan minuman untuk mu”

Cheon Sa meninggalkan Luhan dengan segala kebingunganya.

Luhan merasa bingung dan aneh terhadap Cheon Sa.

Apa seperti itu wajah seseorang saat mengucapkan selamat pada sahabatnya?. Cheon Sa terlihat tidak senang jika Luhan akan menjadi pesepakbola, tapi apa yang membuatnya seperti itu?.

Luhan berjalan pelan menuju balkon kamar Cheon Sa mengamati suasana disini, Dia mengadahkan kepalanya menghap langit-langit malam. Bibirnya membentuk sebuah ulasan senyum bahagia, karena sebentar lagi mimpinya akan tercapai, hanya satu lankah lagi dirinya akan melambung tinggi di udara.

Sudah cukup baginya untuk melihat bintang-bintang diluar sana, akhirnya ia kembali kedalam, tapi mengapa Cheon Sa belum juga kembali?. tiba-tiba matanya menangkap suatu benda yang membuatnya tertarik, ia berjalan mendekati benda persegi panjang berwarna putih itu.

Sebuah Diary!. Ini Diary milik Cheon Sa, beruntung Diary ini tidak terkunci, Luhan bermaksud untuk melihatnya. Dia penasaran, yeoja seperti Cheon Sa ternyata juga mempunyai barang-barang seperti ini di rumah, pasalnya, Cheon Sa bukan tipe yeoja seperti itu. Dia bisa di bilang sedikit tomboy, yah..meskipun dari penampilanya Cheon Sa terlihat Feminim. Tapi sikapnya lah yang membuat Luhan mengira bahwa ada separuh jiwa namja yang bersemayam di tubuh Cheon Sa.

Sampul pertama sudah berhasil ia buka, lalu untuk lembar berikutnya, Luhan terkejut. Dia menemukan fotonya yang sedang bermain sepak bola di lapangan. Seingatnya, Cheon Sa tidak pernah memiliki foto ini, dan dia juga merasa bahwa dia tidak pernah mengambil gambar dirinya saat main sepak bola.

Lembar demi lembar ia baca, ternyata di setiap lembar Diary Cheon Sa, terdapat fotonya dengan berbagai macam ekspresi. Luhan tidak pernah tahu jika Cheon Sa menyimpan begitu banyak fotonya. Dan ia tak kalah terkejutnya saat membaca tulisan di Diary ini, sebagian besar Diary ini menceritakan tentang Luhan.

Luhan sampai pada halaman akhir Diary ini, dia membaca nya dengan ekspresi terkejut sekaligus merasa bersalah.

 

Hari ini adalah hari yang cukup membuatku kehilangan mood ku. aku tidak tahu kapan tepatnya, tapi sebentar lagi aku akan kehilanganya. Mungkin aku tidak pantas jika aku mengatakan ‘aku akan kehilanganya’, karena dia bukanlah miliku. Lebih pantas jika aku mangatakan ‘dia akan meninggalkan ku’

                                                                  

 

 

Ada perasaan senang sekaligus sedih. aku senang jika dia bisa meraih mimpinya, tapi ada bagian dari hati ku yang mangatakan ‘kau tidak perlu mendukungnya ataupun membantunya untuk meraih mimpinya, jika di kemudian hari dia akan meninggalkanmu’. ini memang terlihat egois jika aku menulis ini, tapi ini adalah bagian kecil dari perasaan ku yang ingin aku luapkan.

 

 

sebenarnya aku lebih banyak merasakan kesedihan saat aku tahu bahwa dia akan pergi dariku. Aku ingin menghalangi niatnya itu, tapi setelah aku pikir lebih lama lagi, apa yang aku lakukan itu adalah perbuatan seorang pengecut yang takut akan kehilangan cintanya.

 

Jika suatu saat dia juga merasakan hal yang sama dengan apa yang aku rasakan saat ini, tidak perduli kapan waktunya, dia akan kembali pada ku. aku percaya itu J.

 

Luhan menaruh kembali Diary tersebut di meja belajar Cheon Sa, tepat saat ia sudah selesai menaruhnya, sedetik kemudian Cheon Sa datang dengan wajah yang terkejut dan kahwatir.

“Luhan!, kk-kau melihatnya?” Tanya Cheon Sa sambil mendekap Diary nya ke pelukanya, dia sepertinya takut jika Luhan melihat isi Diary nya. “Xi Luhan, apa kau melihatnya?”

“Melihat apa?. aku baru saja memainkan gantungan ponsel ini!” jawab Luhan sambil menunjuk gantungan ponsel berbentuk rusa yang kebetulan ada di meja belajar. “apa kau membuka buku ini?” Tanya Cheon Sa dengan nada yang masih gugup, matanya menyorotkan kekhawatiran yang tampak jelas dimata Luhan.

“Maksudmu buku yang ada di belakakng mu itu?. Aku tidak tertarik membukanya, dari sampulnya saja sudah terlihat jelas kalau buku itu buku yang sangat tidak menarik” jawab Luhan tenang, dia sengaja berbohong karena melihat wajah Cheon Sa yang sudah mulai memucat, dia tidak tega melihatnya.

“Benarkah?, huhh!! Mungkin iya.” Balas Cheon Sa sambil tesenyum kikuk. Kali ini Wajahnya sudah tidak menampakan kecemasan lagi, Cheon Sa menyimpan Diary miliknya di laci meja belajarnya.

“Ini sudah hampir larut malam, apa kau tidak ingin pulang?, atau kau ingin menginap disini?” tawar Cheon Sa. “Apa?, jadi kau mengusirku?, kau bahkan lupa untuk membawakan aku minum. Ahh!! Baiklah aku akan pulang” goda Luhan, dia sengaja melakukanya karena Cheon Sa masih terlihat tidak nyaman dengan apa yang terjadi barusan.

“Bb-bukan itu maksud ku!, siapa bilang aku mengusir mu?, bukan kah aku sudah menawarimu untuk menginap?. Kau selalu seperti ini” gertutu Cheon Sa sambil mengerucutkan bibirnya. Luhan tertawa saat melihat tingkah Cheon Sa.

Luhan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mengembalikan Cheon Sa yang cerewet dan menyebalkan. Buktinya hanya dalam satu kalimat yang Luhan katakan, berhasil membuat Cheon Sa kembali seperti biasanya.

“Baiklah-baiklah, kau yang menang Ny Lee. Aku akan pulang, dimana orang tuamu?”

“Mereka ada dikamar.”

“Cepat sekali mereka tidur, padahal ini baru pukul 8. Atau jangan-jangan… mereka sedang memberimu adik!. Wahhh… selamat ya Cheon Sa!. Kau akan segera mempunyai adik.” Goda Luhan, Cheon Sa masih mencoba meresapi kata-kata Luhan.

“YYAAA!!…… XI LUHAN!!. Kau akan mati besok!”

Cheon Sa langsung melayang kan protesnya saat mengerti apa maksud Luhan. Beruntung kepala Luhan kali ini selamat dari ancaman High hills setinggi 12cm, karena dia sudah terlanjur pergi saat Cheon Sa masih termenung tadi. Tapi Luhan tidak yakin jika besok kepalanya akan selamat.

@@@@

“Wuahhh……, Luhan-ah ayo kita beli itu!” ajak Cheon Sa pada Luhan yang sudah berjalan didepanya. Luhan berbalik dan segera menyusul Cheon Sa yang sudah berada didepan penjual perhiasan.

“Eey.. memang kita sepasang kekasih?. Ini jelas pernak-pernik untuk sepasang kekasih. Jika kita membeli ini, maka kita harus membeli sepasang. Lagi pula jika kita benar-benar sepasang kekasih, aku tidak mau membeli ini, barang-barang ini terlalu kekanak-kanakan.” Gerutu Luhan.

“Ya sudah sana pergi jika kau tidak mau membelinya! Jauh- jauh dari ku ” kesal Cheon Sa sambil mendorong Luhan menjauh darinya.

“Baiklah-baiklah!, Aku akan membelikanya untuk mu “ Luhan akhirnya mengalah karena mendapatkan tatapan mematikan dari Cheon Sa.

“Ahjusshi, ini berapa harganya?” Tanya Cheon Sa sambil menujuk sebuah kalung yang berbandulkan Bulan. Bandul Bulan itu memiliki bentuk yang unik, bentuknya adalah Bulan sabit dan ditengahnya terdapat bentuk ½ bintang.

“YA! Kau benar-benar sangat suka dengan Bulan?” Tanya Luhan. “tentu! Bukankah aku sudah mengatakan alasanya padamu?”.

“Agassi, anda ingin kalung ini?” Tanya ahjusshi si penjual kalung. Cheon Sa mengangguk dengan semangat. “Saya akan memberikan potongan harga untuk agasshi.”

“Benarkah?” seru Cheon Sa dengan gembira.

“Baiklah ahjusshi! Kami beli kalung couple itu” ucap Luhan, tapi saat ia berbalik menatap Cheon Sa, ia terkejut karena Cheon Sa menatapnya dengan mata yang berbinar.

“Ahhh..jangan tunjukan mata mu seperti itu padaku ”

“Agasshi…, apa anda ingin mengukir nama masing-masing dikalung ini?” Tanya ahjusshi.

“Apa ini bisa di buat seperti itu?” Tanya Luhan yang mulai ikut antusias seperti Cheon Sa.

“Ne, kami mau ahjusshi, tapi ini tidak akan menambah harganya kan?” ucap Cheon Sa. Ahjusshi itu hanya tersenyum dan menggeleng pelan.

“Sebutkan nama kalian!”

“Namja ini namanya Luhan, Xi Luhan. Dan nama saya Lee Cheon Sa. “ ucap Cheon Sa riang.

“Cheon Sa?, Nama agasshi seperti Malaikat. Dulu saat ahjusshi masih berumur 24th, banyak film maupun teater sering menceritakan tentang ‘Malaikat Penghuni Bulan’ yang dicover dari sebuah novel kuno yang tidak terkenal. Mungkin orang tua anda menyukai cerita itu, jadi mereka menamai agasshi dengan nama Cheon Sa, Mungkin juga itu menjadi penyebab agasshi menyukai Bulan” jelas ahjusshi itu dengan tangan yang mulai mengukir nama Cheon Sa dan Luhan pada setiap kalung itu.

“Benarkah ahjusshi?. Waahh…entah kenapa ini membuat mood ku menjadi lebih baik lagi. Terimakasih ahjussi” ucap Cheon Sa sambil tersenyum gembira. sedangkan Luhan yang dari tadi hanya dianggap pohon oleh mereka, segera saja melakukan aksi pencibiran tanpa sepengatahuan mereka.

“Jja! Ini sudah jadi. Kalian benar-benar tidak sepasang kekasih?” Tanya ahjusshi itu menggoda. “Aa-aniyo ahjusshi! Kami hanya teman.” Sanggah Cheon Sa sambil mengayunkan kedua tanganya kedepan pertanda dia sedang menyanggah ucapan ahjusshi itu.

“Sudahlah Cheon Sa! Ayo kita pergi. Ini uangnya ahjusshi, terimakasih.” Ucap Luhan dengan badan yang membungkuk sedikit, disisi lain tanganya sedang menggeret Cheon Sa untuk pergi dari sini.

@@@_@@@

“Gomawo….Lulu.”

“Siapa?, Lulu?. Siapa yang kau sebut Lulu?” Tanya Luhan.

“Tentu saja kau. Mulai sekarang, aku akan memanggil mu dengan sebutan Lulu jika aku merasa bahagia.” Ucap Cheon Sa. Memang benar, dimata Luhan, Cheon Sa tampak bahagia sekali. Dari tadi dia juga terus memegangi kalungnya.

“Baiklah, karena kau sedang bahagia, Ayo kita pergi kesana!”

 

 

 

 

 

 

 

 

TO BE CONTINUED

Posted in: FF | Tagged:

One thought on “A FATE FOR YOU (Part 1)

  1. wikapratiwi8wp berkata:

    Jujur..untuk ff romance rada susah cari feelnya buat dapet..apa karena keseringan baca ff Lulu yang brothership yakk…hihihihi
    Tapi its okay…kata-katanya rapi kok..bagus juga.. dari semuanya gue paling suka saat Cheon Sa manggil Luhan itu Lulu…woaaaa…because I like that name…Lulu…pas banget sama Luhan wkwkwk
    Fighting 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s