FF EXO : AUTUMN Chapter 16

autumn

Author  :  Oh Mi Ja

Cast :  Leeteuk SJ as Park Jungsoo

Luhan EXO as Park Luhan

Kai EXO as Park Jongin

Sehun EXO as Park Sehun

Support Cast      : Kris EXO as jaksa

Suho EXO as Pastor

Taemin Shinee as Lee Taemin

JR JJ Project as Park Jin Young

Jonghyun CN Blue as Lee Jonghyun

Shindong SJ as Shin Donghee

Dongho Ukiss as Shin Dong Ho

Genre                   : Brothership, Family,  Friendship, little sad

Taemin datang ke rumah sewa Jongin pagi-pagi sekali karena dia juga mendaftar sebagai peserta lomba bersama dengan Kai. Dia begitu antusias sampai tidak bisa tidur semalaman. Sudah lama mereka berdua tidak mengikuti perlombaan seperti ini karena mereka sudah berada di tingkat akhir Sekolah Menengah Pertama.

Selain itu, para guru dan kepala sekolah juga telah melarang semua kegiatan yang tidak perlu bagi anak kelas 3 sehingga Kai dan Taemin tidak lagi mempunyai kesempatan untuk mewakili sekolah dalam perlombaan.

“Taemin hyung?!”seru seorang anak kecil bersemangat saat dia membuka pintu.

Taemin tersenyum lebar, “Aigoo Sehunnie… kau belum mandi, huh?” ia mengulurkan tangan, mengacak gemas rambut Sehun.

Sehun meringis, “hehe.. aku ingin makan dulu. Ayo masuk, hyung. Diluar sangat dingin.” Sehun menarik tangan Taemin dan membawanya masuk ke dalam ruang tamu.

Seperti biasa, Jongin terlihat sedang memasak sarapan untuk Sehun. Dia hanya menoleh sekilas saat Taemin datang dan kembali melanjutkan aktivitasnya lagi.

“Kau sudah siap?”tanya Taemin menjatuhkan diri di depan tv, bergabung bersama Sehun yang sedang menonton kartun.

Jongin mengangguk mantap, “tentu saja. Bagaimana denganmu?”

“Aku bahkan lebih dari siap.” Taemin kemudian terkekeh. “Kita hanya perlu melakukan apa yang biasa kita lakukan, kan?”

“Kita harus memenangkannya.”

Taemin tersenyum lebar, kemudian mengalihkan pandangannya pada Sehun yang sama sekali tidak tertarik dengan percakapan kedua kakaknya itu. Dia terus saja tenggelam dengan kartun yang ditontonnya.

Taemin mengulurkan tangan, mengacak rambut Sehun namun hal itu tetap tidak membuat Sehun menoleh, “Sehunnie, kau ikut?”

“Hmm…” ia bergumam.

“Kau harus menyemangati kami dengan lantang, ya.”

“Hmm…”Sehun bergumam lagi.

“Sudahlah. Jangan ganggu dia saat dia sedang menonton. Dia tidak akan mendengarkanmu. Sebaiknya kau membantuku menggoreng telur.”

Jongin memperingatkan Taemin yang sepertinya lupa dengan kebiasaan Sehun. Akhirnya, Taemin berdiri, membantu Sehun untuk menggoreng telur.

***___***

“Sebentar lagi natal, kenapa kau datang bekerja? Tidak merias rumahmu?”tanya Kris, menyela Luhan yang sedang mencuci gelas-gelas kotor.

Luhan tersenyum singkat, “aku tidak mempunyai rumah lagi. Tidak ada yang bisa dirias.”

“Hey, jangan berkata seperti itu. Walaupun rumahmu sudah disegel, tapi sebenarnya kau bisa mendapatkannya lagi.”

“Yeaah, dengan membayar ganti rugi kan?” Luhan menebak, menoleh kearah Kris sambil tersenyum kemudian memandang kedepan kembali. “Aku tidak mungkin bisa mendapatkan uang itu. Walaupun aku bekerja seumur hidupku. Tidak akan bisa.”

“Kenapa tidak bisa?” Kris menatap Luhan dengan kening berkerut. “Kau masih muda. Dan masa depanmu masih panjang. Kau bisa bekerja lebih baik setelah kau lulus nanti.”

“Apa menurutmu perusahaan akan menerima siswa lulusan SMU sepertiku?”

“Kenapa kau tidak kuliah saja? Atau melanjutkan sekolah sepak bola? Kau ingin menjadi pemain sepak bola, kan?”

“Pemerintah hanya membiayai rumah sakit ayahku selama satu tahun, setelah itu tidak akan ada yang menanggungnya lagi. Daripada untuk kuliah, perawatan ayahku lebih penting. Lagipula, aku memiliki dua adik yang masih kecil.”

“Hey, bagaimana jika kau ikut aku?”tawar Kris.

Luhan meletakkan gelas terakhirnya lebih dulu baru menatap Kris bingung, “kemana?”

“Tutup saja cafenya. Lagipula aku sedang malas.”

Mata Luhan sontak melebar, “hah?!”

“Tidak ada pengunjung, kan? Sebelum ada yang datang, sebaiknya kau tutup pintunya.”

“A-apa maksudmu?”

“Cepatlah. Turuti saja perintahku.”

Kris mendorong punggung Luhan, membuat Luhan terpaksa menuruti perintahnya walaupun ia sendiri tidak mengerti dengan hal yang akan dilakukan oleh Kris.

Luhan menutup pintu café, membalik tulisan open menjadi closed. Kemudian menurunkan tirainya.

“Pakai jaketmu, kita akan jalan-jalan.”

***___***

Kris sama sekali tidak menjawab pertanyaan Luhan saat dia membawa namja tampan itu kesebuah tempat yang terletak lumayan terpencil di pinggiran kora Seoul. Seperti sebuah rumah sewa biasa namun dipenuhi dengan taman yang hijau.

Luhan melihat berkeliling, membaca sebuah tulisan yang terpajang didepan gerbang yang berbunyi, “Yifanz”. Awalnya, dia berpikir tempat ini adalah toko bunga yang menjual berbagai tanaman hias. Ternyata, saat dia memasuki rumah sederhana yang terletak ditengah taman, anggapannya seketika berubah.

Tempat ini adalah sebuah rumah, dengan dipenuhi berbagai undang-undang yang dibingkai dan tertempel di dindingnya. Juga beberapa peraturan yang diketahui Luhan seperti peraturan dalam hukum.

Luhan memandang Kris yang terus berjalan kedepan, bingung. Sedangkan Kris, dengan santai menjatuhkan diri di kursi paling besar yang terletak lurus didepannya.

“Selamat datang di kantorku.” Ia merentangkan kedua tangan

Mata Luhan sontak melebar, “Hah? Kantormu?”

“Yeah, apa sebelumnya aku belum mengatakannya?” Dia menarik punggungnya bangun. “Aku tidak bekerja di kantor pemerintah. Aku bekerja dikantorku sendiri.”

Ekspresi Luhan masih terlihat ragu, “apa bisa begitu?”

“Aku bersikeras memintanya. Walaupun terkadang aku akan datang di kantor kejaksaan, tapi aku lebih sering menghabiskan waktu disini. Disini lebih menyenangkan dan aku bisa berpikir tentang bagaimana memecahkan sebuah kasus.”

“Sepertinya kau adalah jaksa yang bermasalah.” Luhan berdecak sambil geleng-geleng kepala.

Kris terkekeh, “seorang jaksa sebenarnya harus seperti itu.”

“Lalu kenapa kau mengajakku kesini?” Luhan menjatuhkan diri di kursi yang ada didepan Kris.

“Sebentar.. kau mau minum? Karena ini adalah hari libur, kantor ini jadi sepi. Biasanya ada beberapa orang yang bekerja disini.” Kris berjalan menuju kulkas dan mengambil sebotol soda juga dua buah gelas untuk mereka.

“Kau mendekorasi kantormu seperti toko bunga. Sama sekali tidak terlihat seperti kantor jaksa.”

“Karena kebanyakan pekerjaku adalah seorang wanita.”serunya. “Mereka lebih menyukai suasana seperti ini.”

“Apa semua pekerjamu juga termasuk pekerja-pekerja di bidang hukum?”

“Lebih tepatnya, mantan pekerja hukum.” Kris memperbaiki. “Mereka adalah orang-orang yang di PHK dan aku mengajak mereka membuat kantor ini. Setidaknya, mereka bisa membantuku untuk menyelesaikan sebuah kasus, juga mempersiapkan apa-apa saja yang harus aku bawa untuk persidangan. Mereka sangat membantuku.”

Luhan mengangguk-angguk, pandangannya masih menyebar ke sekeliling, “lalu apa maksud tulisan yang ada didepan itu?”

“Tulisan? Maksudmu Yifanz?” Luhan mengangguk. “Nama Chinaku adalah Wu Yifan. Ibuku sebenarnya adalah orang China sedangkan ayahku adalah orang Kanada. Saat umur tiga tahun aku pindah ke Kanada dan tidak pernah lagi pulang ke China. Kris adalah nama Kanada ku. Kris Wu.”

“Jadi kau keturunan China?”

Kris tersenyum sebagai anggukan, “aku memasang papan nama didepan karena orang-orang mungkin akan bingung. Disebelah rumah ini, juga terdapat rumah yang sama. Sudah beberapa kali orang-orang salah memasuki rumah jadi aku memutuskan untuk memasang papan nama didepan.”

“Lalu kenapa kau mengajakku kemari?” Kini, Luhan menatap Kris serius.

“Bukankah kau mau menyelidiki tentang kasus ayahmu? Ayo kita lakukan sekarang.”

Detik itu juga, Luhan langsung terperangah hebat, “Hah?!”

***___***

“Hyung, dingin.” Sehun menarik-narik ujung baju Jongin. Dia memeluk dirinya sendiri erat-erat.

Jongin menoleh, dan mendapati wajah putih Sehun semakin bertambah pucat. Giginya juga gemertak dan keluar asap putih dari hidungnya.

“Aigoo, kenapa tidak memakai jaket yang lebih tebal?”serunya melepaskan syal birunya dan melilitkannya pada leher Sehun. “Salju-salju tipis sudah turun, harusnya kau memakai jaket yang lebih tebal Sehunnie.”

“Aku tidak tau dimana Luhan hyung meletakkannya.” Dia menggeleng, kali ini merasa lebih baik.

Jongin juga melepaskan sarung tangannya, dan memakaikannya pada kedua tangan Sehunnie walaupun adiknya itu sudah memakai sarung tangannya sendiri.

“Saat giliranku tiba, tetaplah berdiri disini. Oke? Ini, pakailah jaketku.”

“Hyung, tapi kau akan kedinginan.”

Jongin menggeleng, “aku akan menari, saat menari aku akan berkeringat. Tidak apa-apa. Aku tidak mau kau sakit karena udara dingin.”

“Tapi hyung juga alergi dingin.” Sehun melepaskan sarung tangan Jongin dan memakaikan kembali padanya. “Setidaknya, hyung harus memakai sarung tangan.”

“Gwenchana?”

“Emp.” Sehun mengangguk yakin. “Aku akan berdiri disini menunggumu, hyung. Kau dan Taemin hyung harus memenangkan pertandingan ini. Aku ingin pamer pada Jinyoung jika aku mempunyai hyung yang pandai menari.”

Jongin tersenyum lebar, sembari mengacak rambut Sehun. “Aku akan memenangkannya. Setelah itu, aku akan membelikanmu banyak bubbletea juga ddokbukkie.”

Setelahnya, Jongin dan Taemin berjalan mendekati panggung. Mendaftarkan kembali diri mereka pada pihak panitia lalu bergegas untuk tampil. Disudut tempat, Sehun menepi sambil terus memperhatikan kedua hyungnya itu. Dia tidak berbaur dengan orang-orang yang mulai mengerumuni area depan, karena dia pikir dia bisa hilang jika berada ditengah-tengah keramaian orang. Selain itu, Jongin menyuruhnya untuk terus menunggu disini.

Terlihat jelas jika murid-murid sekolah mendominasi tempat ini. Sepertinya mereka juga datang untuk menyemangati teman atau kerabat mereka. Ini bukan pertandingan antar sekolah, tapi mereka memenuhi hampir seluruh lapangan.

“Aigoo, dia lucu sekali.”sebuah suara berasal dari kerumunan murid-murid perempuan yang berdiri tak jauh dari Sehun.

“Pipinya seperti mandoo.”

Sehun menyadari jika dia sedang menjadi bahan pembicaraan murid-murid perempuan yang sepertinya adalah anak-anak SMU. Ekspresinya seketika berubah menjadi aneh, dia merasa takut karena dulu, teman-teman perempuan Luhan pernah mencubiti pipinya karena gemas dan dia membenci hal itu.

Sehun semakin merapat pada batang pohon yang tumbuh disampingnya. Semakin menempelkan tubuhnya rapat-rapat disana dan membuang pandangan. Ia menatap ke depan, kearah Jongin dan Taemin yang sepertinya sudah mendapat giliran untuk naik keatas panggung.

Seketika ia berubah sumringah, kedua tangannya yang semula ia gunakan untuk mengetatkan jaketnya, kini terangkat tinggi untuk menyemangati kedua kakaknya. Sehun benar-benar bersemangat dan ikut meneriakinya.

“Sehunnie?”

Teriakan Sehun menghilang begitu mendengar seseorang memanggilnya, ia berbalik, lalu menatap bingung beberapa murid perempuan yang seketika sudah berada dibelakangnya.

“Kau Park Sehun kan? Adik Jongin.”

Sehun tidak bereaksi apapun.

“Aku adalah teman sekelasnya. Whooa, ternyata kau memang sangat imut.” Murid perempuan yang berdiri paling depan mengulurkan tangan, bergegas untuk mencubit pipi Sehun namun secepat kilat, Sehun mundur satu langkah ke belakang.

“Jinri-yaa, dia tidak menyukaimu. Tinggalkan dia.”ejek teman murid perempuan yang ternyata bernama Jinri itu.

“Ternyata dia sama seperti kakaknya, sangat dingin.”sahut seseorang yang lain.

“Sudahlah. Jika Jongin mengetahuinya,dia akan memarahi kita. Ayo pergi.”

Sehun menghela napas panjang, masih tidak mengeluarkan suara apapun, dan sesaat kemudian memilih pergi meninggalkan tempat itu. Dia benar-benar merasa tidak nyaman berada ditengah-tengah murid-murid perempuan walaupun mereka adalah kakak kelasnya sendiri.

Asik berjalan menjauhi lapangan, langkah-langkah kecilnya tiba-tiba terhenti begitu matanya menangkap sesuatu. Sesuatu yang bisa membuatnya membeku ditempat dalam diam.

Tak jauh dari tempatnya berdiri, dia melihat Dongho. Tengah keluar dari sebuah toko mainan anak-anak dengan digandeng oleh kedua orang tuanya. Dia terlihat tersenyum bahagia sambil memeluk mainannya.

Ada rasa sakit yang tiba-tiba dirasakan oleh anak berusia 12 tahun itu. Ada sesuatu yang senantiasa membuatnya merindukan sosok seseorang yang tidak pernah dilihatnya beberapa waktu ini. Dia merindukan saat-saat seperti itu. Saat ayahnya membelikan sesuatu untuknya dan kedua hyungnya akan merasa iri.

Dia sudah terbiasa tanpa ibu, tapi dia tidak bisa hidup tanpa ayahnya.

“Appa…” Sehun bergumam bersamaan dengan suaranya yang terdengar serak.

“Ya! Berhenti menatapku!”

Ia mengerjap, kesedarannya kembali dan dia sudah menemukan Dongho berdiri didepannya.

“Kau pasti iri karena appaku membelikanku mainan bagus kan? Aissh, kenapa aku bertemu denganmu. Dasar menyebalkan.”rutuknya kesal.

“Adeul, apa yang kau lakukan, huh?” seorang laki-laki menyusul dibelakangnya, sepertinya dia adalah ayah Dongho. “Siapa dia?”

“Dia adalah Park Sehun appa. Seseorang yang appanya telah dikalahkan oleh appa.”

Detik itu juga,ayah Dongho terperangah hebat, “K-kau, Park Sehun? Anak dari Park Jungsoo?”

Sehun mengangguk, “apa ahjussi mengenal appaku? Appa sedang pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis. Dia belum kembali.”

“Ke luar negeri?! Ya! Appaku sudah mengalahkan appamu! Sekarang appaku adalah direktur di perusahaan. Bukan appamu lagi!”

“Tidak!”balas Sehun mulai kehilangan kesabaran. “Appa sedang bekerja di luar negeri.”

“Dia berbohong.”

“Tidak!” Dia mengatakannya dengan penuh penekanan. Wajahnya sudah memerah, menahan amarah. “Jangan mengatakan hal-hal yang tidak-tidak tentang appaku!”

“Kau lihat saja di televisi. Ayahku ternyata bekerja ditempat yang sama dengan ayahmu. Dia sudah menggantikan posisi ayahmu.”

Ayah Dongho berjongkok didepan Sehun, dia menatapnya dengan senyuman yang paling Sehun benci. Sebuah senyuman dengan ejekan dibaliknya. Dia terlihat menyeramkan, terlebih lagi dengan tubuhnya yang tinggi besar, seperti bisa menerkam Sehun kapan saja.

“Anak manis, dengarkan ahjussi…” dia memulai penjelasannya dengan nada manis yang dibuat-buat. “Aku memang sudah menggantikan posisi tuan Park Jungsoo di perusahaan karena dia tertangkap saat melakukan sesuatu yang jahat. Jadi, sebaiknya kau jangan menunggu ayahmu lagi karena dia tidak akan kembali.”

“TIDAK!” Sehun mendorong tubuh ayah Dongho sekuat tenaganya walaupun hal itu tidak berpengaruh apapun. “KALIAN BERBOHONG! KALIAN BOHONG!”

“Ya! Jangan mendorong appaku!”

“Pergi! Pergiiiiiii!”

Sehun menutup telinganya dengan kedua tangannya sambil menggeleng kuat-kuat, setelah berteriak histeris mendengar sebuah kenyataan pahit, dia berlari sekuat tenaganya. Berlari tidak tau arah dan terus berlari ditengah salju.

Pukulan itu benar-benar menghantam dadanya kuat. Benar-benar menyesakkan hatinya dan membuatnya terus menangis dalam larinya.

Tidak mungkin. Semuanya pasti tidak mungkin. Ayahnya sudah berjanji akan kembali dan dia pasti akan kembali. Dia adalah orang baik dan akan tetap selalu begitu.

Ayahnya… dia akan kembali…

***___***

“Coba jelaskan padaku sekali lagi. Bagaimana kejadian itu berlangsung mulai dari penahanan ayahmu.” Kris menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, menatap Luhan dengan tatapan serius.

“Aku tidak tau, aku pikir semua itu hanya mimpi saat seseorang menelponku dan mengatakan jika ayahku ditahan di kantor polisi. Detik itu juga, aku langsung berlari kesana dan meminta penjelasan, Donghyun ahjussi bilang jika ayahku terbukti menggelapkan uang perusahaan.”

“Lalu? Apa yang dilakukan oleh pengacara ayahmu waktu itu?”

“Dia membantu kami mencari bukti. Di rumah tidak ditemukan bukti apapun, karena appa bilang satu-satunya bukti hanya ada di kantor. Malamnya, kami bertiga pergi ke kantor secara diam-diam setelah berhasil membantu appa melarikan diri. Setelah itu, appa mengantarku pulang karena dia pikir hal itu terlalu bahaya untukku dan dia pergi ke kantor berdua dengan Donghyun ahjussi.”

“Lalu? Mereka mendapatkan buktinya?”

Luhan menggeleng lemas, “mereka mendapatkannya pada awalnya, sebelum akhirnya appa ditabrak oleh seseorang dan orang itu membawa lari dokumen itu.”

“Dimana posisi Donghyun saat kecelakaan terjadi?”

“Dia bilang, dia pingsan di kantor appa setelah di pukul oleh seseorang.”

“Dan setelah itu, hakim memutuskan jika ayahmu bersalah?

Luhan tersenyum kecut, sedikit menunduk, “Persidangan berlalu sangat cepat dan tiba-tiba saja ayahku menjadi tersangka.”

“Apa kedua adikmu mengetahui tentang hal ini?”

“Pada awalnya tidak, tapi sekarang adik sulungku mengetahuinya. Hanya adik bungsu kami yang masih menganggap jika appa bekerja diluar negeri.”

Kris mengangguk-angguk mengerti. Memberikan jeda beberapa saat sebelum ia bergumam, “Hey, dengar.. bukan bermaksud menuduh tapi aku rasa jika oknum polisi ikut menutupi kasus ini.”

Kening Luhan seketika berkerut, “hah?”

“Kasus ini terdengar sangat cepat diselesaikan tanpa adanya penyelesaian apapun. Mereka bahkan tidak membantu ayahmu untuk menemukan bukti yang bisa meringankannya. Jika ini menyangkut tentang laporan keuangan, harusnya mereka meminta bantuan tim audit untuk menyelidiki kejanggalannya.Tapi Donghyun justru tidak melakukan hal itu. Dia hanya melakukan hal-hal formalitas yang bisa membuatmu berpikir jika dia telah melakukan sesuatu, untuk menutupi sesuatu.”

Detik itu juga, Luhan langsung terperangah hebat ditempatnya, “m-maksudmu… mereka sengaja mempercepat kasus ini?”

Kris mengangguk mantap, “sepertinya begitu.”

“Astaga…”

“Kita masih belum mengetahui siapa dalang sebenarnya dibalik kasus ini, juga tidak tau siapa orang yang dimaksud ayahmu itu. Didalam bisnis, sudah pasti banyak persaingan yang terjadi. Tentang orang-orang yang saling menjatuhkan orang lain dalam diam. Mereka bermain bersih, membuat kita menganggap jika mereka adalah orang baik namun dibelakang, mereka akan membunuh kita pelan-pelan.” Kris menarik napas sesaat. “Kita harus menyelidiki hal ini lebih dalam. Bahkan jika bisa, menyelidiki dewan-dewan direksi yang sepertinya menyangkut dalam masalah ini.”

“Kenapa kita tidak melaporkan hal ini pada polisi dan meminta kasusnya dibuka lagi? Kau bilang, kau akan membantuku!”Gigi Luhan menggertak, menyatakan jika dia sedang dibendung amarah.

“Jika oknum polisi saja bekerja sama dengan orang itu, apa kau pikir kita bisa dengan mudah melakukannya?”tanya Kris tetap santai. “Sebaiknya kita kumpulkan bukti-bukti kuat dahulu sebelum melapor. Kita juga harus bisa seperti mereka…” Dia tersenyum tipis. “…membunuh dalam gelap.”

***___***

“Taemin, apa kau sudah menemukan Sehun?”teriak Jongin pada Taemin yang berdiri lumayan jauh darinya. Namja tampan itu menggeleng.

“Dia tidak ada.”

Jongin mendesah panjang, “Astaga, kemana dia?!”

Taemin berlari-lari kecil menghampiri Jongin, sedikit tergopoh karena dia sedang memegang piala kemenangan mereka.

“Mungkin dia pulang.”

“Pulang? Tidak mungkin. Dia tidak akan bisa pulang sendirian. Dia tidak mempunyai uang sama sekali.”

“Tapi aku tidak menemukannya dimanapun. Aku bahkan sudah bertanya pada beberapa penjual.”

“Aiiishhh…” Jongin mengacak rambutnya kesal, kaki kanannya menendang sebuah batu dengan keras membuat Taemin langsung menyingkir.

“Bagaimana jika menghubungi Luhan hyung? Atau.. bagaimana jika kita mencarinya di rumah Jinyoung?’

“Sudah ku bilang dia tidak—“

“Apa yang tidak mungkin?!”potong Taemin mulai kesal. “Bisakah kau dengarkan aku?! Kita tidak akan menemukan apa-apa disini!”

Jongin terdiam setelah mendapat bentakan dari Taemin. Hanya menghela napas dan kemudian menuruti sahabatnya itu untuk kembali ke rumah. Setidaknya, mereka tidak boleh menghubungi Luhan dulu.

***___***

Suho menghentikan langkahnya saat tangannya sudah mendorong pintu pagar rumah. Pandangannya beralih pada sebuah gereja yang berada tak jaug dari rumahnya.

“Aigooo, kenapa salju cepat sekali menutup jalanannya?”

Suho menghela napas, itu artinya pekerjaannya akan belum berakhir setelah dia pulang dari kantor. Dia berjalan masuk ke dalam rumahnya hanya untuk meletakkan tas kemudian keluar dan mengganti sepatunya dengan sepatu boot.

Dia pergi ke gereja itu dengan membawa skrup, untuk membersihkan salju-salju yang menutupi jalan menuju gereja.

“Tuhan, terima kasih atas berkah salju ini, tapi bisakah Kau menghentikan saljunya? Aku sangat lelah.” Namja berkulit putih itu mengomel tak karuan sambil mengadah ke langit. Kemudian, saat tatapannya turun ke tumpukan salju yang menutupi jalan, keningnya langsung berkerut. Ada jejak-jejak kaki disana. Jejak kaki yang tergambar menuju bagian dalam gereja.

“Apa ada orang di dalam?”gumamnya.

Suho memutuskan untuk masuk, berjalan pelan-pelan agar dia tidak tergelincir. Semakin dekat dengan gereja, dia semakin bisa mendengar dengan jelas jika ada seseorang yang menangis di dalam. Rasa penasarannya semakin menjadi-jadi, segera mungkin dia membuka pintu gereja dan langsung terkejut bukan main begitu mendapati Sehun yang tengah terduduk di bawah patung Tuhan sambil menangis tersedu-sedu.

“Sehunnnie?”

Anak kecil itu menoleh ke belakang, wajahnya sudah basah dan kedua matanya bengkak.

“Kau bilang,Tuhan akan menyayangi anak yang baik. Tapi… kenapa Dia tidak menyayangiku?”tangisnya terdengar pilu. “Tuhan membenciku…”

TBC

56 thoughts on “FF EXO : AUTUMN Chapter 16

  1. nursaniani berkata:

    Author kpan ini FF di lanjuut.. jngan terlalu juga sma ff yg laen smentara udah satu thun FF ini gk lanjutt… T.T
    jebal thor… jngan buat readersmu ini mati penasaran… T.T

  2. Nanako gogatsu berkata:

    Udahh lamaa.. Nunggu kelanjutannya… Ampek lupa ma cerita sebelumnya.. 🙂 ehhh..Ternyata udah dipost… Hehe..😀 makin penasaran ama dalang dibalik kasus kecelakaan park jungsoo.. N sehun udah tau kebenarannya… Uuhhh T,T makin complicated aja permasalahannya.. Semoga luhan n kris dapat menemukan pelaku kejahatan yang sebenarnya.. FIGHTY…. ^.^ 9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s