FF: The Wolf and not The Beauty (part 37)

The wolf and not the beauty

Tittle                          : The Wolf and not the beauty

Author                        : Ohmija

Cast                            : EXO

Genre                          : Fantasy, Friendship, Comedy, Action, School life

Summary                    : “Ini saatnya kau menjadi pemimpin.”

Haloooo~~ nggak kerasa akhirnya chapter depan END. Yang pada nungguin endingnya, author kasi liat dari chap ini pelan-pekan. Masih ada kejutan di Chapter akhir yaa…

Happy reading ^^

Kai dan Sehun terus mengejar dua bayangan hitam yang terus bergerak menuju tengah hutan, menerobos kegelapan malam yang semakin mencekam. Sinar bulan perlahan masuk melewati celah-celah daun, tidak terang, remang-remang terkadang nyaris tidak ada cahaya sama sekali.

Mereka memiliki mata X Ray yang mampu menembus kegelapan pekat. Bergerak cepat seperti bayangan hitam melewati pohon-pohon yang berdiri tegak. Sehun dan Kai mengunci sasaran mereka tepat di manik mata, seakan tidak ingin kehilangan musuhnya lagi.

Perang ini harus berakhir hari ini.

Hingga akhirnya bayangan hitam yang mereka kejar itu menghentikan langkah mereka di sebuah tanah lapang yang berada di tengah hutan. Mereka hanya bertiga karena anak buah Leo dengan sigap melarikan dirinya entah kemana, meninggalkan sang tuan di kepung oleh dua orang werewolf yang kapan saja siap menghancurkannya.

Dua werewolf itu, kini sudah dewasa.

Leo menyampirkan jubah hitam panjangnya, dengan tatapan tak kalah tajam, ia membentuk senyuman di mata merahnya.

Rahang Kai dan Sehun sudah mengatup, keduanya menggertakkan giginya dan mengepalkan tangan disamping tubuh.

Kebencian itu sudah tidak bisa ditolerir. Kejadian-kejadian dimasa lalu terlintas di benak mereka, mengompori rasa amarah itu menjadi semakin menggurak hebat. Tidak mampu di bendung, tidak bisa di tahan.

Semua ini untuk D.O, untuk semua warga klan yang telah pergi, dan untuk ingatan mereka yang telah dihapuskan hingga harus bersusah payah mengembalikan semuanya.

Semua ini untuk air mata yang sudah terbuang, waktu yang telah dihabiskan dalam kesendirian dan jarak terbentang yang memisahkan mereka.

Semua ini… untuk hal berharga yang ingin selalu mereka genggam.

Persahabatan.

“Well… dua werewolf muda yang penuh dengan ambisi dan keberanian.” seru Leo menatap Kai dan Sehun seolah kagum. “Aku salut atas dua hal itu.”

“Apa kau sudah mempersiapkan pemakamanmu?” Kai balas dengan senyum, ia lebih bisa menguasai dirinya daripada Sehun. “Kau mau aku membakar tubuhmu? Atau menguburmu di pemakaman seperti manusia?”

“Harusnya itu yang ku tanyakan pada kalian berdua.” ia mengucapkannya tetap dengan senyum. Ia kemudian mengarahkan tatapanya pada Sehun. Berjalan kearah kiri, berdiri lurus di hadapan pria berkulit putih itu, “Jadi benar, werewolf yang satu ini sangat kuat. Aku senang karena aku masih bisa melihatmu, pemimpin.”

Rahang Sehun semakin mengatup, “Aku akan mati jika aku sudah membunuhmu.”desismu.

“Bagaimana rasanya saat racun wolfsbane itu perlahan-lahan menggerogoti syarafmu?”tanyanya, mengelilingi Sehun dalam jarak terjaga. “Kau berhutang satu terima kasih padaku karena akhirnya aku membuatmu bisa memakan makananmu yang sebenarnya.”

Kai bisa melihat jika Sehun sedang benar-benar marah. Terlihat dari kilatan matanya yang sangat ingin mencabik Leo saat itu juga.

Ini adalah hal yang paling sensitif baginya. Ia tau makanannya berbeda namun ia selalu berusaha mengelak siapa dirinya yang sebenarnya dan terus berpura-pura menjadi makhluk yang sama dengan yang lain. Dia telah menderita dan saat ini penderitaannya itu dijadikan bahan guyonan oleh Leo.

“Bagaimana rasanya daging manusia, pemimpin?”

Dan detik berikutnya, setelah akhirnya pertahanannya tidak bisa dibendung lagi. Sehun bergerak dengan cepat, memberikan pukulan di wajah Leo. Kai tidak menahan amarah saudaranya seperti biasa yang ia lakukan, karena dia juga sama. Dia juga memendam kebencian pekat di hatinya yang akan ia tumpahkan saat ini. Pada seseorang yang bertanggung jawab penuh atas kematian D.O.

***___***

Kedamaian yang dirasakan di rumah Suho seketika porak poranda begitu beberapa orang klan Theiss datang. Mereka mengepung berbagai sisi membuat Chanyeol dan Baekhyun harus menarik Kyungsoo dan Suho ke sisi mereka.

Jumlah mereka lebih banyak, di bandingkan jumlah pasukan klan Rouler yang hanya berjumlah 10 orang. Chanyeol dan Baekhyun bersikap siaga, tidak hanya Suho dan Kyungsoo, tapi mereka juga harus melindungi ibu Kyungsoo yang sedang tidur karena obat penenang dari dokter tadi.

Peperangan terjadi di halaman rumah Suho yang perlahan-lahan merayap masuk ke area dalam rumah. Situasi ini buruk, mereka bisa kalah!

“Lindungi yang lain, aku akan mencoba menahan mereka.”perintah Chanyeol pada Baekhyun.

“Chanyeol, kau.” suara Baekhyun menghentikan langkah Chanyeol.

“Bawa mereka pergi, Baekhyun. Sekarang!”

Chanyeol berlari keluar kamar, membantu yang lain melawan pasukan klan Theiss. Sedangkan Baekhyun yang dengan terpaksa menuruti perintah Chanyeol, menggendong ibu Kyungsoo dan menggiring dua temannya untuk meninggalkan tempat itu.

Chanyeol melompat ke tengah-tengah peperangan pertamanya. Mengikuti naluri, menciptakan gerakan bertarung yang ia ciptakan sendiri. Ia tidak pernah belajar tentang ilmu bela diri sebelumnya. Hanya menggunakan cara perkelahian jalanan yang biasa ia lakukan saat berkelahi dulu.

Hatinya gelisah, namun ia terus memaksa dirinya untuk tetap fokus. Ia bertanya-tanya apakah Baekhyun berhasil membawa yang lain pergi dari sini atau tidak. Bagaimana jika duia terluka? Bagaimana jika dia ditemukan?

Pria tinggi itu mencakar werewolf yang menyerangnya dan melompat tinggi kemudian memutar kepalanya hingga putus. Tidak memberikan jeda pada dirinya untuk berostirahat, Chanyeol menyerang werewolf lain tanpa mengenal ampun. Dia pikir, jika dia bisa memusnahkan semua pasukan klan Theiss, Baekhyun dan yang lain akan selamat.

“Arrgghh…” Chanyeol menggeram keras, rahangnya mengatup rapat juga kedua tangannya mengepal disamping tubuh.

Dia lelah, dia lapar, tapi dia belum melihat dimana akhir dari pertarungan ini. Terhuyung-huyung, setelah berhasil membuat banyak mayat tanpa kepala bergeletakkan di lantai juga nyaris membuat rumah Suho hancur, ia meraih ujung meja sebagai penyanggah atas tubuhnya yang mulai bergetar. Kekuatannya mulai berkurang, benar-benar terkuras untuk melawan para pemburu.

“Brengsek, aku sangat lelah.” Chanyeol terengah sambil memegangi dadanya.

Oh, jadi begini saat makhluk werewolf kelelahan. Rasanya seribu kali jauh kebih letih dibandingkan rasa letih manusia.

“Chanyeol!” salah satu pasukan klan Rouler menghampiri Chanyeol. “Pasukan kita tersisa 5 orang!”

Chanyeol mendesah. Dia benar-benar mulai marah sekarang! Brengsek! Klan Theiss benar-benar brengsek!

“Serahkan padaku, aku akan menyelesaikannya.”

***___***

Luhan mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, kekacauan terjadi di mana-mana. Napasnya tersengal karena ia lelah. Lelah hati.

Dia menghadapi dua peperangan sekaligus. Peperangan fisik dan hati. Beribu-ribu kali ia meyakinkan dirinya jika hal yang sedang ia lakukan adalah hal yang benar. Dia tidak ingin diingat sebagai monster. Setidaknya satu kali, ia ingin melakukan hal yang baik.

Namun, di relung hatinya yang paling dalam. Hal baik ini telah melukai hatinya, hal baik ini akan memusnahkan keturunannya, hal baik ini akan mencoreng gelar keturunan terakhir yang ia sandang.

Ia adalah pemimpin namun ia tidak bisa melakukan apapun untuk klan-nya. Dia adalah keturunan terakhir, bukan Leo. Dia yang memegang kendali penuh atas klannya.

Luhan memejamkan matanya erat-erat, erangan kerasnya terdengar penuh kesesakkan. Membuka matanya, pria itu melompat ke tengah-tengah peperangan klan. Mendekati Kris yang masih sibuk dengan lawannya. Ia mendorong tubuh pria tinggi itu, melepaskan cekalannya pada saah satu klan Theiss.

Kris terkejut, matanya melebar mendapati Luhan sudah berada di depannya.

“Hentikan! Jangan lukai pasukanku!”desisnya.

Kris tidak mengerti dengan sikap Luhan saat ini yang terus melerai pertengkaran. Dia bilang dia akan berada di pihaknya. Tapi kenapa dia tiba-tiba berubah?

Di tempatnya, pria tinggi itu terus memandangi Luhan dengan kening berkerut. Wajahnya terlihat sedih dan nyaris menangis. Sambil berusaha menghentikan pertarungan, pria itu terus meminta agar klan Rouler tidak melukai klan Theiss.

“HENTIKAN!” teriakannya menggelegar hebat, salah satu kakinya berhasil menghancurkan batu besar dengan sekali injak. Seketika pertarungan berhenti, semuanya menoleh kearahnya.

Bercampur dengan luka dan kesedihan mendalam, Luhan sebisa mungkin menelan tangis itu. Menghadapi semua pasang mata yang sedang menatapnya. Ia menarik napas panjang, berusaha memberanikan dirinya untuk memimpin pertarungan, memimpin klannya sendiri.

Pria berwajah tampan itu mengangkat tangan kanannya dan menyingsingkan lengan bajunya, memperlihatkan sebuah tanda di pergelangan tangannya yang kini bersinar biru.

“Aku adalah keturunan terkahir Klan Theiss. Aku pemimpin klan Theiss.” tandasnya. Detik berikutnya seluruh pasukan klan Theiss terperangah hebat. Mereka ternganga tak percaya. “Aku masih hidup! Aku belum mati!”tegasnya jelas. “Pemimpin kalian adalah aku. Bukan Leo! Jadi dengarkan perintahku!”

“Pemimpin!”

Seluruh klan Theiss seketika berlutut dan menundukkan kepala mereka dalam-dalam. Pada pemimpin mereka yang selama ini di beritakan telah meninggal oleh Leo. Ia sengaja merahasiakan berita itu agar bisa memimpin klan. Sedangkan yang mengetahui jika Luhan masih hidup, Chen dan Yixing, kini telah mati.

“Aku minta pada kalian untuk menghentikan pertarungan ini!”

“Pemimpin tapi–”

“Kau tidak mendengar perintahku?!” bentak Luhan, salah satu pasukannya langsung menunduk lagi, menurut.

“Kita tidak akan berperang lagi. Kita tidak akan melakukannya.”

Di tempatnya, Xiumin menatap sahabatnya itu dengan senyum haru yang mengembang di bibirnya. Selama mereka berteman, ini adalah pertama kalinya ia melihat sosok kepemimpinan Luhan yang bijaksana. Sahabatnya itu telah berubah. Ia tidak lagi melihat sosok Luhan yang egois dan tidak mengenal ampun. Kini dimatanya, Luhan benar-benar seorang pemimpin. Yah, pemimpin berhati besar yang merelakan perang demi kedamaian semua orang.

Ia bahkan tidak memperdulikan posisinya yang mungkin akan dibicarakan setelah ini. Pemimpin klan Theiss terkenal bengis selama ini namun dia berbeda. Dia bukan pemimpin yang kejam, namun dia yang terbaik.

Arthur menghentikan salah satu pasukan klan Rouler dengan tangannya saat dia hendak menggunakan kesempatan ini untuk menyerang Luhan. Ayah Sehun itu menoleh dan menggeleng.

“Sudah ku katakan, dia ada di pihak kita.”

Mungkin ini adalah pembuktian arti persahabatan itu. Saat sejak dulu, Sehun selalu menjunjung tinggi persahabatannya dan Luhan, mungkin ini adalah pembuktian ikatan mereka. Bukan hanya Sehun yang selalu berkorban, tapi Luhan juga.

Dia pikir, dia akan berhenti untuk menguji persahabatan mereka setelah ini. Dia akan merelakan dan membiarkan dua pemimpin yang berlawanan arah itu berteman baik.

Anaknya telah banyak menderita. Saat dia kehilangan banyak waktu bermainnya karena dipaksa untuk berlatih. Saat dia menangis karena terluka sewaktu berlatih cara perang. Dan saat dia harus memendam semua lukanya seorang diri.

Kini dia akan menebusnya. Menebus semua penderitaan dengan kebahagiaan yang dia inginkan selama ini.

Kebebasan.

BRAKK

Tiba-tiba sesosok tubuh manusia terjatuh dari atas, entah darimana dia berasal namun saat wajahnya terlihat, semua orang sontak terperangah hebat. Menyusul jasad itu, sesosok bayangan hitam muncul ke tengah-tengah lapangan. Ia menunjukkan dirinya dengan senyum menyeringai, salah satu tangannya menarik baju manusia yang sudah tergeletak itu hingga ia terduduk.

“KYUNGSOO!” jerit Xiumin dan Tao bersamaan.

Keadaannya tidak baik, bahkan jauh dari kata baik. Ia pingsan dan terlihat beberapa luka di wajahnya. Tidak hanya teman-temannya namun seluruh pasukan klan Rouler ikut naik darah menyaksikan peristiwa itu.

“Apa yang kau lakukan?!” bentak Luhan pada salah satu klannya.

“Jika kalian membunuh ketua Leo, maka hidup manusia ini juga akan berakhir di tanganku.”ancamnya tanpa rasa takut menatapi orang-orang yang ada disana.

“Aku adalah pemimpin klan Theiss! Aku perintahkan kau melepaskannya!”seru Luhan.

Pria itu tertawa, “Pemimpinku adalah Leo. Dia mengatakan jika Luhan sudah mati.”

Rahang Kris mengatup keras, giginya menggertak menahan amarah yang ingin meluap. Brengsek. Leo berhasil mencuci otak orang itu dan dia berhasil mendapatkan Kyungsoo.

Dengan gerakan pelan, Kris berjalan ke sisi kiri, menyelinap ke dengan gerakan samar dan langsung bergerak cepat, melesat ke dalam hutan.

Mereka membutuhkan Sehun.

***___***

Sehun termundur saat ia mendapatkan tendangan di pertunya. Melihat itu, Kai tidak tinggal diam. Pria berkulit gelap itu maju dan memberikan serangan balasan. Ia mengeluarkan cakar dan taringnya, siap menembus kulit musuhnya.

Kai melompat tinggi dan menendang Leo, namun tendangannya terus di tepis. Dari sisi kanan, Sehun juga membantu, ia terus mencoba menaiki pundak kakak Luhan itu. Namun, sambil menangkis serangan Kai, ia juga bisa menangkis serangan Sehun,.

Keduanya sedikit terkejut, setelah sekian lama, ia bertambah semakin kuat.

Sehun memberikannya tendangan memutar di wajahnya hingga pria itu termundur. Berlari ke belakang, Kai mencabut satu batang pohon dan melemparkannya kearah Leo. Batang pohon besar itu berhasil menimpa tubuhnya.

Tak membutuhkan waktu lama, Leo berhasil bangkit. Ia menghancurkan batang pohon itu dengan sekali tinju. Sambil menatap Sehun dan Kai tajam, ia meludah yang berupa darah hitam. Wajahnya sudah di penuhi luka dan di sekitar mulutnya terdapat noda darah.

Kai sudah terengah namun Sehun masih mampu menyerang Leo satu kali lagi. Lagi-lagi pria itu memberikan pukulan bertubi-tubi padanya, tidak memberikan kesempatan sedikitpun untuknya membalas. Penuh dengan amarah, Sehun memukul bahkan menendang. Juga menusuk perut pria itu dengan kuku-kuku tajamnya hingga darah hitam mulai berkucuran.

Ia sudah akan melompat tinggi, sudah akan memutar kepala makhluk werewolf itu. Namun suara Kris lebih dulu menghentikannya.

“Sehun! Hentikan!”teriaknya muncul dari balik pepohonan.

Sehun menoleh dengan tangan yang masih menjambak rambut Leo yang terduduk di tanah.

“Hentikan Sehun.”serunya terengah. Takut-takut, ia melirik kearah Kai, “Kyungsoo…” ucapnya menggantung sejenak. “… dia terluka parah.”

Mata Kai sontak melebar, detik itu juga ia bergerak cepat menuju tempat peperangan. Sedangkan Sehun mengikutinya sambil menyeret tubuh Leo. Kris mengawalnya dari belakang.

Sesampainya di sana, lagi-lagi Kai terperangah hebat melihat makhluk werewolf yang ternyata anak buah Leo yang melarikan diri tadi mencengkram kaus Kyungsoo padahal tubuhnya sudah tergeletak lemah.

“Brengsek!” Kai sudah hampir bergerak namun anak buah Leo itu menarik tangannya ke belakang, mengeluarkan kuku-kuku tajamnya, bersiap untuk menusuk tubuh Kyungsoo.

“Kai!” Kris menahan tubuh Kai, mencoba meredam amarahnya yang berujung pada kesia-siaan.

“Lepaskan Kyungsoo!” teriak Kai penuh amarah. “Lepaskan dia!”

Makhluk werewolf itu tersenyum penuh kemenangan. Di balik noda darah yang menutupi wajah Leo, ia juga tersenyum menyeringai. Tergopoh-gopoh, ia mencoba berdiri dan mendorong tubuh Sehun, melepaskan cekalannya.

Sehun hanya diam, tidak bisa melakukan apapun karena taruhannya adalah nyawa Kyungsoo.

Pria itu berjalan terhuyung-huyung menghampiri anak buah setianya. Ia berjongkok di samping tubuh Kyungsoo yang tergeletak di atas tanah,

“Leo, lepaskan dia!” tandas Luhan membuat Leo menoleh.

“Luhaaan…” Senyum seringainya semakin melebar melihat adiknya itu ternyata juga ada disini. Ia menghampiri Luhan dan berdiri di hadapannya. “Jadi kau masih hidup?”

Luhan menatap sepasang mata tajam kakaknya itu tajam, “Kau tau aku belum mati.”desisnya.

Leo mengangguk-anggukkan kepalanya, “Harusnya aku mendapatkanmu lebih dulu dan menggigit lehermu agar kau berubah menjadi werewolf pemburu baru dan mencegah ingatan lamamu kembali.” ia berdecak seolah-olah menyesal. “Tapi ternyata kau lebih memilih kembali menjadi dirimu yang dulu.”

“Aku adalah pemimpin klan Theiss, Leo! Kau tidak berhak memimpin klan selama aku masih hidup!” geram Luhan, amarahnya memuncak.

Leo tertawa mendengus, “Kau pikir pemimpin seperti apa dirimu?”sengitnya. “Kau tak lebih dari sekedar pengkhianat!”

Rahang Luhan mengatup, amarahnya benar-benar tidak bisa di tahan lagi. Dia bukan pengkhianat. Dia hanya mau menghentikan pertarungan ini.

“Lepaskan dia! Kau tuli?! Lepaskan Kyungsoo!” Kai berteriak lagi, Kris masih menahan tubuhnya agar pria itu tidak berlari kesana.

Leo berbalik, lagi-lagi dengan menyunggingkan senyum, “Kenapa aku harus melepaskannya? Darahnya akan membuatku abadi.”

Ia memberikan isyarat pada anak buah setianya untuk membunuh Kyungsoo. Anak buahnya mengangguk dan bersiap melakukan perintah tuannya. Melihat itu, Sehun dengan sigap menendang batu besar yang ada disampingnya kearah anak buahnya itu. Bergerak cepat, Kai langsung meraih tubuh Kyungsoo agar tidak terkena serpihan batu besar yang hancur karena tertabrak werewolf itu.

Peperangan terjadi lagi.

Di tempatnya, Luhan tidak tinggal diam. Ia memukul wajah Leo dengan penuh amarah. Sehun membantunya, juga menyerang Leo.

“Kalian! Serang mereka!” Leo memberikan perintah pada pasukan klan Theiss namun pasukan yang tersisa tidak bergerak sedikitpun.

“Pemimpin kami adalah Luhan.”

***___***

“AAARRGGGHHHHH…”

Teriakan Chanyeol menggema ke seluruh ruangan rumah Suho. Punggungnya membungkuk, ia hampir terjatuh namun buru-buru ia menahan lututnya, Menggunakan sisa-sisa kekuatannya untuk bertahan sebentar lagi.

Ia telah berhasil mengalahkan semuanya. Ia telah menang.

“Chanyeol!” Seorang pasukan klan Rouler langsung menangkap tubuh Chanyeol saat pria itu terhuyung. “Kau tidak apa-apa?”tanyanya khawatir melihat terdapat luka cakaran di bahu dan pipi pria itu.

Ia menggeleng, “Kau sudah menemukan Kyungsoo dan yang lain?”

“Kami masih mencari mereka.”

“Chanyeol!” Pasukan lain menghampiri pria tinggi itu dengan raut khawatir. Di belakangnya, tiga orang klan Rouler muncul sambil menggotong tubuh Suho, Baekhyun dan ibu Kyungsoo.

Mata Chanyeol sontak melebar melihat tubuh mereka yang di penuhi dengan luka. Para pasukan klan Rouler meletakkan tubuh mereka diatas lantai secara perlahan.

“A-apa yang terjadi?” ia tergagap tak percaya. “Kenapa mereka?”

“Mereka di serang saat sedang bersembunyi. Sepertinya Baekhyun telah kalah dan wanita ini telah mati.”

Detik itu juga, Chanyeol mendapat sebuah pukulan keras di dadanya. Mati? Ibu Kyungsoo mati? Matanya melirik kearah Suho, di perutnya terdapat luka bekas tusukan dan dia sudah pingsan.

“Chanyeol, aku rasa Kyungsoo di culik.”

Dan pernyataan berikutnya berhasil melumpuhkan lutut Chanyeol. Pria itu seketika terduduk di lantai, di sebelah tubuh Baekhyun. Air mata telah merembes dari sudut matanya. Bukan begini maksudnya, bukan begini yang ia inginkan. Ia menyuruh Baekhyun pergi agar mereka selamat. Tidak seperti ini.

“Cepat obati Baekhyun!” teriak Chanyeol sesaat setelah kesadarannya kembali. “Cepat obati dia! Cepat!” ia berteriak kalap.

Tubuhnya terasa sudah sangat lelah namun dia masih memiliki kekuatan untuk menggendong tubuh Suho dan ibu Kyungsoo.

“Chanyeol, kau mau pergi kemana? Kau juga harus di obati!”

“Mereka manusia! Mereka butuh dokter!”bentak Chanyeol membuat salah satu pasukannya langsung bungkam.

Tanpa memperdulikan bagaimana penampilannya sekarang, Chanyeol bergerak cepat meninggalkan rumah Suho. Tuhan, aku mohon selamatkan mereka. Aku mohon.

Air matanya terus mengalir, di sela-sela larinya ia terus memanjatkan doa. Tolong jangan buat mereka kehilangan seseorang. Jangan buat seseorang bersedih karena kehilangan lagi.

Sesampainya di pintu rumah sakit, seluruh orang seketika menoleh kearah Chanyeol dengan mata melebar.

“Dokter! Aku butuh dokter!”

Beberapa orang suster yang kebetulan lewat di lobby sontak berlari membantunya, seseorang memanggil petugas lain dan tak membutuhkan waktu lama, tim medis datang untuk membantu Chanyeol. Mereka menempatkan ibu Kyungsoo dan Suho diatas ranjang roda.

“Tuan, kau tidak apa-apa?” seorang suster menghampiri Chanyeol, tidak hanya dua orang tadi yang terlihat terluka parah. Tapi Chanyeol juga. “Tuan, kau harus ikut kami juga.”

“Aku tidak apa-apa!” Chanyeol menggeleng. “Tolong selamatkan mereka. Aku mohon!”tangisnya pecah “Aku mohon….”

***___***

“Kyungsoo! Kyunsgoo!” Kai terus memanggil nama Kyungsoo sambil menepuk-nepuk pipi pria itu agar ia tersadar. Melihat luka di perutnya, Kai langsung merobek kaus yang di pakainya menjadi untaian kain panjang dan menahan darah yang keluar dari sana. “Kyungsoo, aku mohon. Kyungsoo!”

“Kai! Bawa dia pergi!” perintah Sehun menepuk pundak saudaranya itu.

Kai menoleh dengan wajah yang sudah basah, “Aku tidak akan meninggalkanmu!”

“Pergi!” teriak Sehun lagi. “Pergi sekarang! Dia sekarat, Kai!”

“Lalu bagaimana denganmu?!” Pria berkulit gelap itu berdiri, menatap lurus saudaranya. “Bagaimana denganmu, Sehun? Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku sudah berjanji!”

“Lihat aku!” Sehun mengatup pipi Kai dengan telapak tangannya, mencoba untuk menenangkan saudaranya itu. “Kau tidak ingin kehilangan lagi, kan? Jadi pergi! Bawa dia ke rumah sakit, Kai!”

Kai masih menggeleng sambil menangis, “Sehun, aku tidak bisa meninggalkanmu.”

“Aku tidak apa-apa! Pasukan klan Theiss sudah menuruti perintah Luhan. Pasukan kita bertambah banyak, percayalah.”

“Sehun…”

“Kita akan bertemu lagi setelah ini. Aku berjanji.”

Sehun menatap manik mata Kai sesaat lalu berbalik, kembali pada medan peperangan. Leo dan anak buahnya sudah terpojok, pasukan klan Rouler dan klan Theiss bersatu untuk melawan mereka berdua.

“Menyerahlah Leo.” ucap Luhan, kilatan kebencian terlihat di matanya. “Kau sudah tidak bisa pergi kemanapun.”

Sehun menyeruak dari kerumunan dan berdiri tak jauh dari Luhan.

“Kau benar-benar akan mengkhianati kakakmu sendiri, Luhan?”

Luhan menggeleng, menahan tangisnya, “Aku tidak pernah mengkhianatimu, Leo.”

“Kau lupa bagaimana takdir klan kita?”

“Aku tidak mau jadi pemburu.” ucapnya lemah. “Aku tidak mau jadi orang jahat.”

“Jika aku menyerah, apa kau mau memaafkanku?”

Sehun melihat isyarat tangan Leo pada anak buahnya ketika dia mencoba mengalihkan perhatian Luhan. Dari balik tangan anak buahnya, ia mengeluarkan sebuah suntikan. Mata Sehun sontak melebar. Ia seketika bergerak cepat menuju Luhan dan berdiri di depannya.

Dadanya seketika terasa panas. Untuk yang kedua kalinya ia merasakan rasa sakit ini menjalar di tubuhnya. Rasa sakit yang kini berlipat dari sebelumnya.

“SEHUN!!!” Kris berteriak hebat, menangkap tubuh adiknya yang sudah berlutu dan hampir terjatuh di tanah. Dengan cepat, ia merengkuh tubuhnya ke dalam pelukan.

Teriakannya membuat Kai yang akan pergi membawa Kyungsoo menoleh ke belakang. Di tatapnya dengan jelas jika kini adiknya sudah tergeletak di pelukan Kris dan disampingnya Kris sedang menangis deras.

Tanpa sadar, ia menjatuhkan tubuh Kyungsoo dari gendongannya dan pergi kesana. Beruntungnya, Xiumin berada tak jauh dari sana hingga ia sempat menangkap kepala Kyungsoo sebelum mebentur tanah.

Di tempatnya, Luhan hanya bisa membeku. Ia mencoba menyadari apa yang sudah terjadi. Kejadian itu bahkan berlangsung sangat cepat hingga ia tidak bisa menyadari jika tadi Sehun sedang berlari kearahnya sebelum suntikan itu menusuk dadanya..

Dia… melindunginya lagi….

“Sehun…” Kau melihat dengan jelas jika tubuh Sehun perlahan membiru. Dia melihat dengan jelas bagaimana wajah adiknya yang sedang menahan rasa sakit di tubuhnya.

Amarahnya tidak mampu di tahan lagi. Ia mengejar Leo dan anak buahnya yang mencoba melarikan diri. Kris mengikuti langkahnya di belakang sementara kini Luhan terduduk disamping tubuh Sehun dengan kesadaran yang melayang jauh.

Mengunci musuhnya dalam tatapan tajam, Dia tidak akan pernah melepaskannya. Dia tidak akan pernah memaafkannya.

“AAAARRGGHHH…”

Kai menggeram nyaring saat memberikan tendangan di punggung belakang Leo. Pria itu tergulung di tanah. Kris juga menangkap anak buahnya dan memberikan pukulan di wajahnya tanpa ampun.

Seperti kesetanan, Kai tiba-tiba mendapatkan sebuah kekuatan entah darimana untuk menghajar makhluk pemburu itu. Ia memukul, menendang, menusuk dan melakukan apapun untuk melampiaskan amarahnya. Ini demi adiknya.

Dan dengan tubuh yang sudah melemah akibat penuh luka, Kai menggunakan kesempatan itu. Ia menaiki pundak Leo dan memutar kepalanya hingga putus. Sama seperti Kris yang penuh amarah berhasil mengalahkan anak buah Leo.

***___***

Chanyeol terduduk dengan kepala tertunduk dalam-dalam di depan ruang ICU. Ia bersikeras jika dia tidak apa-apa pada suster yang ingin mengobati lukanya. Baginya kini, rasa sakit di tubuhnya telah menghilang pergi.

Tak lama seorang dokter keluar dari ruang ICU, Chanyeol langsung berdiri dan menghampiri dokter itu.

“Wanita itu tetap tidak terselamatkan. Maafkan saya.”

Tangis Chanyeol pecah dalam tunduk kepalanya. Pria itu terisak pilu sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan.

Setelah ini, apa yang harus ia katakan pada Kyungsoo? Bagaimana dia menyampaikan jika ibunya sudah meninggal? Bagaimana jika dia menangis lagi?

“Bersabarlah, tuan.” dokter itu menepuk pundak Chanyeol lembut.

“Lalu bagaimana sahabat saya, dok?”

“Keadaannya masih kritis karena dia kehilangan banyak darah. Berdoalah agar keadaannya akan segera membaik.”

Dokter itu kembali masuk ke dalam ruangan. Masih menangis, Chanyeol terduduk di lantai dengan dada yang terasa sesak. Suho, tolong selamatkan dia. Setidaknya dia ingin mengucapkan terima kasih. Setidaknya dia ingin pergi ke sekolah bersama lagi. Tolonglah. Hanya satu kali. Tolong selamatkan dia.

“Chanyeol!”

Chanyeol mengangkat wajahnya dan menoleh kearah sumber suara yang memanggilnya. Seketika ia berdiri, menghampiri seseorang yang ternyata Xiumin.

“Xiumin!”

“Apa yang terjadi?”tanya Xiumin panik.

“Ibu Kyungsoo…” lidah Chanyeol terasa kelu. “Ibu Kyungsoo sudah meninggal dan Suho sedang kritis sekarang.” pria tinggi itu menangis sambil memeluk Xiumin. “Bagaimana ini? Aku takut terjadi sesuatu? Aku takut.”

Sebisa mungkin Xiumin menahan tangisnya. Ia menepuk-nepuk punggung Chanyeol mencoba menenangkan sahabatnya itu.

“Tidak ada yang akan terjadi.”

Jika seperti ini, bagaimana caranya dia memberitahu jika Kyungsoo juga mengalami kritis dan saat ini sedang koma? Apa yang harus ia lakukan?

***___***

Tangis itu akhirnya pecah.

Ia akhirnya menyadari apa yang sedang terjadi pada Sehun dan apa yang sudah disuntikkan Leo di dada pria itu.

Di rengkuhnya tubuh Sehun dalam pelukannya. Air matanya menetes, jatuh tepat di mata Sehun dan mengalir bersama air matanya sendiri.

Di sisa-sisa akhir hidupnya, Sehun memandang wajah Luhan dengan senyum. Dia tidak menyesal jika dia harus berakhir seperti ini. Setidaknya Luhan tidak apa-apa dan perang ini berakhir.

“Anakku…”

Di sampingnya, Arthur duduk bersimpuh, juga dengan tangisan yang tak bisa ia tahan lagi. Ia menggenggam tangan anaknya erat-erat seperti enggan melepaskannya.

“Dad, jangan menolongku lagi.” ucap Sehun lemah. Ia menatap ayahnya, juga dengan senyum. “Aku tidak mau makan daging manusia lagi.”

“Tapi kau harus hidup, nak.”

“Dad, aku tau kau pasti merasa kecewa padaku. Tolong maafkan aku.”

Arthur menggeleng, “Tidak. Kau adalah pemimpin terbaik. Kau anakku.”

“Aku menyayangimu, dad.”

Kemudian ia menolehkan wajahnya, mengembalikan pandangannya pada Luhan yang terus menangis sambil memeluknya.

“Jangan menangis.” ia menggeleng pelan, meminta Luhan agar ia berhenti menangis.

“Kau bilang, kita akan pulang ke Polandia.” isaknya pilu. “Kau bilang, kita akan melihat kampung halaman kita. Dan kau bilang…” ucapan Luhan menggantung sejenak karena tenggorokannya terasa cekat. “kau bilang… kau akan kembali.”

“Harusnya kau tidak kemari, Luhan. Harusnya kau tidak membahayakan dirimu sendiri.”

“Apa yang harus aku lakukan sekarang? Jika kau tidak ada, maka–”

Sehun menggeleng, meminta Luhan untuk tidak melanjutkan ucapannya, “Kau harus terus hidup.”ucapnya pelan. “Kau adalah pemimpin Klan Theiss sekarang,”

“Sehun!” Kai dan Kris menyeruak dari balik kerumunan pasukan, menjatuhkan diri disamping tubuh Sehun. “Sehun, kau baik-baik saja, huh? Kau lapar? Tunggu disini, aku akan mencari makanan agar racun itu tidak menjalar.”

“Kai.” Sehun menahan lengan Kai sebelum pria itu pergi. “Ini saatnya kau menjadi pemimpin.”

Kai langsung menggeleng, “Tidak! Aku tidak mau menjadi pemimpin.” ia berkata sambil menangis. “Jangan bicara yang tidak-tidak. Selamanya kau adalah pemimpin, aku tidak mau menjadi pemimpin!”

“Kai–”

“Sehun, aku mohon.” Kai menggenggam tangan Sehun erat. “Tolong jangan ucapkan salam perpisahan padaku. Ucapan itu adalah ucapan yang paling menyakitkan untukku. Tolong Sehun, jangan tinggalkan aku lagi.”

“Aku tidak meninggalkanmu.” Sehun menggeleng lemah. Kemudian meringis sambil mencengkram dadanya kuat-kuat. “Kai, maafkan aku atas sifat tempramentalku. Jadilah kuat, kau tidak akan ditinggalkan lagi.”

Sehun tersenyum kemudian mengalihkan tatapannya pada pria tinggi yang selalu menemani hampir separuh hidupnya.

“Haruskah aku mencarikan makanan untukmu, hm? Haruskah?”

Sehun tersenyum lagi, ia mengulurkan tangannya, meminta Kris untuk menggenggamnya. “Kau bukan anak buah. Kau saudaraku.”kata Sehun tulus. “Maafkan aku karena aku selalu merepotkanmu, Kris.”

“Aku tidak akan bisa hidup tanpamu, mengerti? Aku akan mengikutimu kemanapun kau pergi.”

Sehun menggeleng, “Tugasmu sudah berakhir sekarang.”

Ia meringis lagi, kini sekujur tubuhnya sudah membiru. “Bisakah kalian menguburku? Tolong jangan bakar aku.” ia menarik napas panjang karena dadanya mulai terasa sesak. “Maafkan aku. Aku menyayangi kalian.”

Tangannya terjatuh lemah dari genggaman Kris. Matanya tertutup rapat. Berikutnya, saat suara itu tidak lagi terdengar. Saat sentuhan hangatnya berubah menjadi dingin. Kai berteriak seperti kesetanan, ia mengguncang-guncang tubuh saudaranya itu.

“Sehun! Sehun!”tangisnya kini benar-benar pecah ke permukaan. Ia memeluk tubuh saudaranya itu erat-erat, berharap ia bisa membuka matanya kembali.

Tidak, dia bilang dia tidak akan pergi. Dia bilang dia akan tetap tinggal.

“Sehun sadarlah! Aku mohon! Sehun! SEHUN!”

Apa ini hanya sekedar mimpi? Mereka berharap ini adalah mimpi.

Dia, pemimpin mereka, sahabat mereka, adik kecil mereka. Dia masih ada disini, dia tidak pergi.

Dia bilang dia ingin hidup bersama mereka satu kali lagi. Dia bilang dia ingin mengajak mereka kembali ke kampung halaman mereka. Dia bilang, dia ingin menjalani hidup normal walaupun hanya satu kali.

Dia… Seseorang yang tidak bisa menahan emosinya. Selalu bertindak tanpa berpikir panjang. Selalu merepotkan semua orang atas prilaku semborononya.

Dia… Adik kecil yang lucu yang selalu merengek tentang semua hal. Yang selalu menangis saat dia terluka. Adik kecil yang selalu ingin melindungi semua orang.

Dia… sudah pergi…

TBC

70 thoughts on “FF: The Wolf and not The Beauty (part 37)

  1. babybyun45 berkata:

    Jangan bercanda authornim!! 😥 Oh sehun belum mati kan? bilang kepadaku bahwa dia akan hidup lagi 😥 Chapter ini benar – benar menguras emosi sampai ke akarnya. ditambah dengar lagu promise langsung banjir air mata 😥 hiks..hiks sehunna bangunlah. baca FF ini terasa aku juga berada di cerita itu. ohh mija harus tanggung jawab buat aku nangis malam – malam seperti ini 😥 pokoknya END nya harus happy ending untuk membayar semua air mata yang telah terkuras habis 😥 HARUS ?!! WAJIB ?!!!!
    TT_TT hhhhhuuuuwwaaaaa !!!!!! eoma sehun mati !!!! 😥

  2. beaglelines berkata:

    demi apa author kok tega gitu sama sehunn huweeee T.T masa sehun bneran mati, ntr luhan sma siapa (?) kasian thor dy nya :”) knapa gk buat sehun kritis gitu kan akhirnya bisa sama luhan trs hunhan bakal bersatu (?) *okemaafinioot tp ntr kalo ff ini slesai bikinin sequel ya la thor 🙂 biar lebih greget!! yg jelas ff author yg paling jjang! keep writing thor #salamketjup fighting!!

  3. dakocan94 berkata:

    sehun mati? sehun mati?! tidakkkk!!! 😥 sehun gak boleh mati:( jadi itu harusnya sehun bisa selamat kan kalo makan daging manusia?
    sedih banget, masa kai harus kehilangan lagi sih eonni…
    semoga sehun masih bisa diselamatin ya eonni. aku gak rela sehun mati:(

  4. Nikur Chan berkata:

    healah pcy emang top, mendahulukan yg lain daripada diri sendiri hem. osh juga, sampai rela mati malah… chapter selanjutnya nih kayanya ada kuburan2nya gitu terus yang ngelayat pada berpayung hitam /apasi.

  5. YeRing's DiamondRv berkata:

    Huaaaa aku nangis bacanya 😥 author emang hebat bikin cerita jadi nyata, aku terbawa suasana pliiis 😥 kenapa sehun meninggaaaaal? ? ? ? ? Kasian Luhan 😥 😥 oh astagaa, seandainya obat penyambung nyawa itu ada 😥 bisakah di berikan pada Sehun? Hiks Hiks 😥 author lanjutin terus ne? FIGHTING ! ! !

  6. ohkainatz57 berkata:

    *,huuaaa..
    aku ngebut bca dri chap 30..
    Maaf kagak komen ne 😀 aku liat chap slanjut’a end 😦 karna kalo end disini bkalan jd sad ending kuharap nanti jd hepiending, kek ada reinkarnasi sehun ato sehun kena edo tensei kek di anime naruto *avaikan apalah apalah. Akumah cuma bisa mengkritik ajin tanpa bsa kasi pujian. Tapi, beneran feel feel feel.. Sahabat bgt nih kagak cinta cintaan. Ff kek ginih harus’a gantiin sinetron ggs :v

  7. Hanna berkata:

    Huuuuuaaaaaaaa Ohmija authornim… 😥
    Aq terharu sampe nahan2 nangis baca chapt iniii…huuuuaaa…. Sehun bakal baik2 aja kan?Sehun gak bakal beneran mati kan? Kasih darah Kyungsoo aja dikit biar dia abadi n slamat,gpp dh demi Sehun..Demi HunHan yg gak akan terpisahkan lgiii.. 😥
    Kyungsoo n Suho smoga mereka jg baik2 aja..
    Ini keren bangeeeeet..nge feel bangeeet… Ttp jd ff favorit yg aq tggu2..
    Fighting authornim.. :’)

  8. Risya Yu Ri berkata:

    aduhh minnn… masa iya sih sehun udah meninggal? jangan gitu dong min 😦 T__T
    dohhhh,, persahabatannya keren, ff ini juga keren,, tapi, masa harus ada yg meninggal lagi T__T

  9. atchan berkata:

    apa?? sehun mati?? jgn bercanda, sehun masih hidup kan??
    aahhh ff nie bner” bwt aku nangis terus.. author oh mi ja bner” daebak kalau bwt ff brothership.. aku salut..
    lanjut kan terua krya mu thor.. pokok nya fighting..

  10. Nanako gogatsu berkata:

    Sehun mati..???? T,T
    kenapa???kenapa??kenapa???
    Huwaaaa… ;( q g’ bisa nahan air mata ni… T,T netes mulu dari tadi.. Semoga sehun g’ mati, biar mereka semua hidup bahagia n janji yang diucapkan sehun kelaksana… Amien..

  11. Sehun'Bee berkata:

    Sehun … /pecah dah/

    ini bukan akhir yg diinginkan Sehun, kan… Sama kaya Luhan, aku juga pengen mereka pulang kampung ke Polandia, tapiii … Ah, ga tega, kenapa sih kak Mija tega ngetik beginian?! Kenapa coba, ketika Arthur mengerti Sehun justru menyerah…Kenapa coba, ketika semua bersatu, mampu bekerja sama, Sehun justru pergi?! Ah guaa baperr ini mah

    aku next,

    Sehun’Bee

  12. Kusuma berkata:

    DUHHHHH…. AUTHOR… SEHUN KENAPA MATI??? KENAPA??? INI LELUCON KAN? SEHUN KAGAK MATI KAN???? JEBALL…. Huweeeeeee… Maldo Andweeeee… benaran deh benar-benar nyesek baca nya… dari awal baca chapter ini sudah menyayat hati ku… Sehun… aaaaaa.. kenapa harus seperti itu mija eonnie????? Wae???
    Ikatan sahabat meraka benar-benar hebat layak nya ikatan saudara… Yang tadi nya membenci namun malah menjadi sahabat… Aaaa… aku tidak bisa berkata-kata lagi, selama mengikuti dan membaca Chapter ini Air mata ku mengalir deras dan sungguh menyesakkan… huweeeee 😥 😥 T^T

    Benar-benar Author mija eonnie is the best lah… bikin suana nya sangat hidup hingga aku menitikkan air mata.. I Like FF eonnie (y) (y) (y) eonnie benar-benar berbakat 😀

  13. lockflame berkata:

    sehuuuuunnnnnn 😥 😥 😥
    ohh myyyy seeehhhuuuunnnnn 😥 😥

    waahhh waahhh tulisannya bagus sampe bikin nangis kkkkkk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s