Story Of Us (Chapter 5)

.img1408503569438

Story Of Us (Chapter 5)

by : Lu_llama

AU! Friendship, Romance // T

.

.

.

“Selamat pagi!!”

Senyum itu mengembang dengan sempurna, Jiyeon bergelayut manja pada Amber yang menatapnya risih sekaligus heran. Pasalnya, Amber pikir perempuan konyol satu ini akan melancarkan serangan, karena kemarin ia dan Dahee tidak menepati janji untuk jogging bersama. Amber sudah memikirkan itu sebelumnya. Paling tidak gadis ini akan berteriak heboh dengan mengumpat mereka berdua. Tapi apa ini? Kelihatannya teori Amber kali ini tidak benar. Tetap saja, ini Park Jiyeon. Ada apa gerangan dengannya?

“Kau baik-baik saja?” Amber bertanya menyelidik

“Aku?” Jiyeon menunjuk dirinya sendiri. “Apa ada yang salah?” ujarnya masih dengan senyum lebar.

“Kemarin….” mengucap ragu, Amber melirik kearah Dahee, meminta bantuan untuk menjelaskan sesuatu. Tapi nyatanya Dahee hanya memutar kedua bola matanya

“ahh!” Jiyeon berseru “Kemarin? Kemarin adalah hari yang sangaaaaaat BERSEJARAH bagiku!”

“wae?” tanya Dahee, akhirnya menoleh kearah Jiyeon.

“Aku tidak jogging seorang diri kemarin!”

Lihat betapa konyolnya gadis satu ini. Ia masih bisa bertingkah gaduh didepan banyak orang yang sedang menunggu bus datang. Jiyeon tidak bisa menempatkan diri dengan baik. Lihat saja orang-orang yang berdiri dihalte ini, mereka menoleh serempak kearah Jiyeon sesaat setelah gadis itu berseru heboh.

“hey! Tenang sedikit!” cibir Amber. “memangnya kau ditemani siapa?”

“Jongin. J-O-N-G-I-N” jawab Jiyeon lantang. Lihat, bahkan ia memperjelas ejaannya.

Detik setelah Jiyeon mendeklarisikan jawabannya, saat itu juga Dahee dan Amber serempak menatap Jiyeon penuh tanya. Bahkan Amber menatapnya dengan pandangan yang sedikit meremehken. Seperti ‘benarkah? Yang benar saja!’

“Aku serius Amber!” cicit Jiyeon saat menyadari tatapan Amber padanya.

“bagaimana bisa? Kau tidak mungkin mengajaknya dan dia dengan begitu mudahnya menerima tawaranmu kan?” dengus Amber

“Dan dia bahkan tidak pernah membalas senyummu” sambung Dahee.

Pernyataan sahabatnya yang memang benar itu, membuat Jiyeon merengut kesal “ish! Aku bertemu dengannya kemarin, secara tidak sengaja” ujarnya sambil bersedekap dada. “Sebenarnya aku tidak berpikir untuk bersyukur karena kalian tidak datang, hanya saja aku bersyukur karena aku tetap pergi pagi itu” ujarnya kembali tersenyum lebar. “ahh, apa kalian tidak ingin menjelaskan sesuatu?” lanjutnya lagi, kini dengan wajah serius. Salah satu alisnya terangkat naik. Ia meminta penjelasan saat ini. Ia sudah memicingkan matanya. Rupanya peristiwa kemarin belum dilupakan begitu saja. Meskipun sebenarnya hari itu rasa bahagia yang dirasakannya sudah lebih dari cukup. Terpujilah kau Kim Jongin!

“Aku sudah bilangkan, aku sedang tidak MOOD” Amber menjawab malas dengan menekankan kata terakhir dikalimatnya.

Jiyeon mendengus “Seriously!” serunya. “aku sudah menunggu kalian selama 30 menit, tapi tiba-tiba kalian membatalkan janji begitu saja dengan alasan yang tidak masuk akal!”

Bus yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Amber dan Dahee masuk terlebih dahulu dengan Jiyeon-yang dengan terpaksa harus menghentikan dulu ocehannya-menyusul dibelakang masih dengan mencibir kesal. Mereka bertiga berjalan kearah bangku paling belakang, tempat dimana biasanya mereka duduk. Namun mereka bertiga dibuat kaget saat mendapati Luhan duduk disana dengan wajah yang babak belur.

“Eoh?! Pretty Boy, ada apa dengan wajahmu? Waahh”

Seruan itu berasal dari Jiyeon. Membuat Luhan yang tengah menyandarkan kepalanya kearah jendela dengan mata tertutup itu terpaksa mendongak. Dan hal pertama yang ia lakukan adalah melirik kearah Amber. Merasa diperhatikan, Amber membuang pandangannya kesal, berusaha tidak peduli dengan kehadiran Luhan. Perempuan tomboy itu, menduduki diri di sisi paling kiri bangku bus dideret paling belakang itu. Berjauhan dengan Luhan yang berada di sisi kanan. Jika Dahee duduk tepat disebelah Amber, Jiyeon justru duduk tepat disebelah Luhan. Memperhatikan Luhan dari jarak dekat dengan tatapan menelisiknya, dan tentu hal itu membuat Luhan risih bukan main.

“Kau” Jiyeon berucap sambil menunjuk Luhan “kau baru saja dipukuli, benar?”

Pertanyaan Jiyeon sukses membuat Luhan merubah posisi duduknya. Ia menatap Jiyeon dalam diam. Takut jika, peristiwa semalam terungkap begitu saja. Sekilas ia melirik Amber yang ternyata juga melirik kearahnya dengan pandangan mengernyit. Luhan tidak tau apa arti dari tatapan itu. Apa Amber sudah menceritakan semuanya pada kedua sahabatnya?

“Pasalnya seorang sepertimu tidak mungkin berkelahi kan?” dan suara Jiyeon kembali terdengar membuat Luhan mengembalikan fokusnya pada gadis yang duduk disampingnya itu. “Apa kau benar berkelahi?”

“ah, bu-bukan. Itu…hanya…” sial! Luhan mengumpat dalam hati. Bagaimana bisa ia jadi kikuk begini. Ya Tuhan Park Jiyeon benar-benar membuatnya tak bisa berkutik.

“Ya! Kau ini senang sekali mencampuri urusan orang lain, ya? Biarkan saja dia. Apa pedulimu?!”

Suara itu berasal dari Amber. Luhan bingung sendiri, apa mungkin gadis ini merahasiakan sesuatu yang terjadi semalam atau malah sebaliknya? Atau bahkan dia sudah merencanakan sesuatu yang lebih buruk untuknya? Ya, Luhan sadar bahwa selama ini hubungannya dengan Amber tidak baik. Mereka sudah dikenal sebagai musuh besar disekolah.

“Aku hanya penasaran” seru Jiyeon seadanya sambil menyandarkan tubuhnya.

“Apa yang membuatmu penasaran? Apa kau mengkhatirkanku?” Luhan berusaha tertawa, setelah mengucapkan kalimat konyol yang keluar begitu saja dari mulutnya. Dia menoleh menatap Jiyeon. Namun, gadis itu ternyata hanya menatapnya datar dan mendengus.

“Tapi kalau dilihat-lihat kenapa kau masih bisa terlihat tampan bahkan saat wajahmu sangat menakutkan seperti itu?” gadis bermarga Park itu kembali berkicau dengan wajah polosnya sambil menggelengkan kepala.

Dan Luhan hanya bisa melongo ditempatnya.

Dan setelah itu tidak ada lagi percakapan yang terdengar, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, jika Jiyeon sibuk dengan ponsel ditangannya-dan sesekali ia terlihat tersenyum sendiri- Luhan justru melirik Amber diam-diam, namun ketika tatapan mata mereka bertemu suasana kikuk membuat mereka buru-buru berpaling.

“Eoh?!”

Kembali sebuah seruan dari Jiyeon membuat fokus mereka teralihkan pada seseorang yang menjadi pusat Jiyeon, seseorang yang baru saja masuk kedalam bus. Pria itu menggunakan seragam yang sama, namun yang membuatnya beda adalah keadaan wajahnya yang tidak biasa. Dia Oh Sehun.

“Mwoya?!” sergah Jiyeon lagi

Sedang yang menjadi pusat perhatian hanya menundukan wajahnya. Perlahan Sehun berjalan mendekat kearah mereka, karena temnpat duduk yang kosong memang hanya tersisa dideret bangku paling belakang. Dan juga posisinya berada ditengah-tengah antara Jiyeon dan Dahee. Sehun terdiam sejenak, sebelum akhirnya mendudukan diri disana. Ia melirik kearah Dahee yang juga hanya meliriknya sekilas.

“Demi Tuhan! Ada apa dengan kalian?! Dahee-ya..” belum sempat kalimatnya berlanjut Jiyeon sudah mendapat tatapan tajam dari kedua sahabatnya. Amber bahkan memberi isyarat dengan kepalan tangannya. Dan seakan sadar akan kalimatnya yang ambigu itu, Jiyeon segera meringis kecil.

“Apa jangan-jangan kalian berkelahi?” Jiyeon kembali beralih pada Sehun dan Luhan.

Tersenyum kecut, Luhan menggelengkan kepalanya “Tentu saja tidak” ujarnya. Dia melirik Sehun.

Memperhatikan itu dalam diam, Dahee menghela nafas pelan. Dia yang sudah lebih dulu melihat wajah Sehun saja, sampai saat ini tidak tau apa yang terjadi. Apa yang bisa ia lakukan? Bukankah selama ini, mereka memang terlihat seperti orang asing. Tapi sejujurnya, Dahee memikirkan semua ini. Bagaimana khawatirnya ia saat melihat memar diwajah Sehun, bagaimana ia begitu gelisah jika mengingat sikap bungkam Sehun. Itu membuktikan betapa pedulinya ia terhadap laki-laki tinggi itu.

Sedang gadis tomboy yang berada dipojok kursi itu, hanya bisa mendesah malas. Entah kenapa Amber merasa aneh saat ia sadar akan sikapnya pada masalah Luhan. Ini bukan karena ancaman Luhan, sungguh! Tapi entahlah. Berkali-kali Amber menekankan pada dirinya sendiri, bahwa semua itu bukan urusan mereka. Bukan urusannya. Terserah dengan apa yang terjadi dengan Luhan!

* * *

“Ada apa?”

Kelas 3-2 itu tengah sedikit ricuh akibat sang ketua kelas memasuki kelas dengan tampang yang tidak biasa. Luhan yang mereka kenal adalah pria baik-baik yang tak pernah berkelahi, jadi ada apa dengan wajah sang Pretty Boy ini? Tidak ada teori lain, selain Luhan baru saja dipukuli oleh orang lain. Tapi apa bahkan pria itu memiliki musuh? Dan pertanyaan Jongin itu mewakilkan rasa penasaran mereka.

Hanya seulas senyum kecil yang Luhan tunjukan. Tak pelak hal itu semakin membuat mereka disana meringis heran. Termasuk Jongin. Dia yang sudah mengenal Luhan, tidak ingin membiarkan hal ini terjadi lagi pada Luhan.

“Siapa?” mendudukan diri dimeja Luhan, Jongin bertanya dengan tatapan menyelidiknya sambil bersedekap dada. Dan demi apapun hal itu tak luput dari pandangan siswi dikelas yang berdecak kagum.

Luhan berdecak, dan membuang pandangannya “Menurutmu?” tanyanya balik tanpa menatap Jongin

“Si tua bangka itu?!”

Pernyataan yang seperti pertanyaan itu membuat Luhan tertawa.

“Masalahnya?”

“Sudahlah. Lupakan” tanggap Luhan yang malas membahas masalahnya sendiri.

Jongin kembali berdecak. Dia yakin, masalah Luhan kali ini pasti tidak jauh-jauh dengan si pria tua sialan itu- atau ada masalah lain menyangkut Kim Sunggyu.

“Ya! Ikut aku”

Luhan mendesah. Dia tau, perintah Jongin itu tidak bisa ia tolak. Pasalnya, Jongin tidak akan membiarkannya menutupi masalah ini. Laki-laki berkulit tan itu, pasti akan mengoreknya lebih dalam. Seperti masalahnya dengan si Sunggyu sialan itu. Bukan karena ia terlalu ikut campur, tapi justru karena Jongin terlalu peduli pada Luhan yang bahkan seperti tidak peduli lagi pada hidupnya. Ya, Luhan yakin itu.

“Aku datang lagi ke tempat itu”

Seakan mengerti akan tatapan penuh tanya dari Jongin, Luhan mencoba memulai ceritanya. Mereka sudah berada di atap gedung. Tempat strategis untuk perbincangan empat mata mereka.

“Dan kau kembali dituduh sebagai pencuri?” Dengus Jongin sambil memutar kedua bolamatanya. Luhan mengerti, Jongin pasti jengah akan kebodohan yang ia lakukan.

“Lalu, apa yang harus kulakukan? Aku tidak tau lagi cara yang harus kutempuh” ujar Luhan pelan. Tidak bisa dipungkiri, masalahnya saat ini sungguh membuatnya tertekan.

“Bagaimana bisa dia bersikap seperti itu pada keponakannya sendiri” gumam Jongin.

“Dia terlalu membenci keluargaku” tersenyum miris, Luhan mengernyit saat mendongak kearah matahari yang bersinar cerah diatas sana.

“Kau juga tau kan, aku hanya memiliki dia saat ini” lanjutnya menoleh pada Jongin.

“Lalu, kau anggap apa aku selama ini?” Masih dengan tatapan datarnya, Jongin bertanya pada Luhan yang terlihat tersentak akibat ucapan Jongin barusan.

“Bu-bukan begitu” Luhan terbata, dia tidak menyangka Jongin akan mengatakan hal itu. “Tentu saja, kau kawanku. Tapi, Jongin aku tidak mau selalu bergantung padamu”

“Kau tidak berpikir kalau aku mengasihanimu kan?”

Ditempatnya Luhan terdiam. Seorang Kim Jongin. Pantaskah Luhan menyebut dirinya sebagai sahabat Jongin? Selama ini, Jongin adalah orang pertama yang tau akan kisah hidupnya. Jongin adalah orang lain yang tiba-tiba saja kehadirannya menjadi sebuah kebutuhan bagi Luhan. Luhan akui, tanpa Jongin, Luhan tidak tau nasibnya di Seoul School akan seperti apa. Berkat Jongin, Luhan mengerti bahwa tidak hanya dirinya yang terpuruk menjalani hidup. Tapi, Luhan tau. Bagaimanapun, hidup Jongin jauh lebih beruntung dari dirinya.

“Terkadang pikiran itu muncul” Luhan terkekeh. Berusaha membuat situasi yang berlawanan dengan ucapannya barusan.

“Apa yang bisa dikasihani, dari orang sepertimu” kembali Jongin mendengus. Mengacak surainya. Kemudian menjatuhkan diri disebuah bangku kayu kecil yang ada disana.

Kim Jongin, mungkin memang prihatin pada hidup Luhan. Tapi Luhan tau, Jongin bukan sekedar membantu atas dasar simpati. 2 tahun mengenal Jongin sudah cukup bagi Luhan untuk mengerti kepribadian Jongin yang keras diluar namun lembut didalam. Jongin sesungguhnya orang yang sangat perasa. Dan justru karena itu, ia menutupinya dengan sikap ketidakpeduliannya itu. Mungkin memang mereka memiliki banyak perbedaan. Jika Jongin, sanggup mecukupi kebutuhan sampai tujuh turunannya, Luhan justru harus sanggup menghidupi dirinya sendiri untuk menghirup oksigen dengan bebas. Namun, Luhan tau. Jongin dan ia memiliki satu kesamaan. Yaitu, kesepian. Ya..kesendirian.

“Hey! Apa kau tidak kasihan padaku saat ini? Kau lihat, wajahku!”

Dengan memanfaatkan keadaannya, Luhan berusaha mencairkan suasana. Namun seperti biasa. Jongin hanya menatapnya datar. Bahkan laki-laki itu berbalik dan   menyenggol pelan bahunya.

Detik setelah mereka berbalik, tiba-tiba saja pintu gudang yang terletak disana terbuka. Memperlihatkan seorang pria tinggi berkulit putih yang tengah menguap lebar. Kemudian ia meringis sambil memegang bibir ujungnya yang memar.

Pria itu yang menyadari keberadaan Luhan dan Jongin hanya menatap mereka sambil berlalu. Membuat Jongin, kembali mendengus.

“Oh Sehun” Luhan bergumam “Jongin-ah, malam itu aku tidak sengaja melihatnya dipukuli beberapa orang dari asrama Korean High School” ujar Luhan saat mengingat bagaimana Sehun dikelilingi oleh siswa-siswa elit itu. Sebelumnya ia hanya berniat untuk mengikuti Amber, namun ia justru melihat Amber tengah memperhatikan sesuatu yang ternyata Sehun dan beberapa siswa berseragam sekolah elit Korean High School.

Seakan tidak peduli pada ucapan Luhan, Jongin tetap melangkahkan kakinya.

“Dan kau tau, sebenarnya malam itu, aku juga dipergoki oleh seseorang”

Kalimat Luhan yang satu itu, sukses membuat langkah Jongin tehenti. Lantas ia menoleh pada Luhan yang terlihat meringis.

“Dia memergokiku saat tengah dipukuli” Luhan kembali terkekeh. Sedang Jongin menatapnya penuh selidik.

“Siapa?”

* * *

“Ya! Sebenarnya…”

Seruan Amber ditengah langkah perjalanan pulang itu, tidak lantas meraih perhatian kedua temannya. Kim Dahee dan Park Jiyeon terlihat acuh sambil melangkah dengan ringan. Entah mereka dengar gumaman Amber atau tidak.

“Ya!” Kembali Amber berseru, setelah sebelumnya berdecak kecil. Dan kali ini, kedua sahabatnya itu menoleh kearahnya.

“Wae?” Tanya Jiyeon acuh, sedang Dahee hanya menatapnya sekilas sebelum akhirnya kembali melanjutkan langkahnya.

“Sebenarnya..” Amber menyusul mereka. Mensejajarkan langkah, Amber mengambil posisi ditengah-ditengah sambil menggandeng kedua lengan temannya itu. “Aku tau kenapa Sehun seperti itu” dia menoleh pada Dahee yang secara tiba-tiba menghentikan langkahnya.

“Mwoya?! Kau tau? Apa yang terjadi Amber?” bukan Dahee, melainkan Jiyeon yang terlihat sangat penasaran.

“Kemarin malam, aku melihatnya sedang dipukuli oleh siswa KHS. Aku tidak tau apa masalahnya” cerita Amber, sesekali ia melirik Dahee yang masih menampilkan raut tenang.

“Korean High Scool?” Jiyeon memastikan. “Sekolahnya yang dulu?”

“Aku juga sudah tau sejak malam itu”

“Jinjja?!” Tanpa aba-aba Amber dan Jiyeon berseru secara bersamaan setelah mendengar pengakuan Dahee barusan.

“Kau tau masalahnya?” Tanya Jiyeon.

Dan diam adalah jawaban Dahee.

Amber mendengus “Ahh, sudah pasti. Kalian bahkan tidak bercerita satu sama lain” serunya melirik Dahee. “Tapi, yang benar-benar membuatku tidak percaya adalah Oh Sehun terlihat tidak melawan sama sekali” lanjutnya.

“Wahhh, daebak! Bagaimana bisa? Seorang Oh Sehun” kini Jiyeon berseru tak percaya.

Mereka bertiga tentu tau siapa Oh Sehun. Jadi bagaimana bisa Oh Sehun tak melawan sama sekali. Bukan seperti Oh Sehun. Dan hal itu juga yang menjadi pertanyaan bagi Dahee.

Saat masih disibukan dengan perbincangan seputar Oh Sehun, Dahee secara tak sengaja menangkap pemandangan yang tak asing. Tak ayal, hal itu menjadi fokusnya saat ini. Tak ia pedulikan ocehan kedua sahabatnya, karena entah kenapa pemandangan yang dilihatnya saat ini jauh lebih janggal.

Menyadari akan sikap aneh Dahee, Jiyeon dan Amber mengikuti arah pandang gadis itu. Dan mereka juga dibuat terheran dengan apa yang dilihat.

“Bukankah itu Kim Jongin?” Ucap Amber.

“Apa-apaan itu?! Kenapa Jongin terlihat berurusan denga ahjussi-ahjussi itu?” Ini suara Jiyeon.

“Aku…” Dahee membuka suara. Sejenak ia menggantung kalimatnya. Membuat kedua sahabatnya itu menatapnya penuh tanya. “Pernah melihat Jongin memberikan sebuah amplop pada mereka”

“Mwo?” Lagi, Jiyeon dan Amber berseru secara bersamaan.

“Eoh? Bukankah itu Luhan? Kenapa dia juga berjalan kesana?”

Benar, Jiyeon tidak salah. Luhan juga terlihat berurusan dengan ahjussi-ahjussi itu. Dan, kejadian selanjutnya, dua pria idola sekolah itu berlalu bersama mereka. Entah apa yang terjadi.

Sedang si gadis Tomboy, diam-diam berjengit heran. Melihat Luhan disana, mengingatkannya pada kejadian kemarin malam. Luhan, sesorang yang diketahui sebagai ketua osis yang berpredikat baik, tak berbuat ulah disekolah(meskipun bukan tipe siswa yang tergolong pintar-haha), juga tak memiliki musuh, apa ternyata berbeda dengan yang Amber lihat disekolah? Apa Luhan diam-diam memiliki banyak masalah diluar sekolah?

“Kita ikuti mereka!”

Ucapan Jiyeon barusan, tak pelak membuat Dahee dan Amber mendelik tajam kearahnya. Sedang yang ditatap hanya menaikkan sebelah alisnya, meminta persetujuan.

“Itu bukan urusanku” seru Amber sambil lalu.

Jiyeon mencibir, kemudian menoleh pada Dahee. Tapi ternyata gadis itu hanya melengos dan mengikuti langkah Amber.

“Ya! Tidakkah ini menarik?! Lagipula aku penasaran dengan Jongin! Hey, tunggu!”

* * *

Luhan sudah berkali-kali menggerutu sejak ia keluar dari sekolah, sedang Jongin yang berjalan disebelahnya berusaha bersikap tenang, meskipun kekhawatiran itu sangat ia rasakan. Ahjussi-ahjussi yang menemui mereka disekolah cukup membuat mereka kewalahan. Pasalnya mereka datang, saat keadaan sekolah yang tengah ramai karena jam sekolah telah berakhir. Tentu saja, hal itu bisa membuat mereka dalam masalah jika siswa-siswa itu memergoki mereka berurusan dengan ahjussi-ahjussi sangar ini kan?

“Ahjussi-” Luhan membuka suaranya. Mereka saat ini sudah berada disebuah gang kecil yang jauh dari keramaian.

“Ya! Jangan panggil aku seperti itu!” salah satu paman yang menggunakan kacamata hitam mendelik kearah Luhan.

“Baiklah, Hyung” kini Jongin ikut bersuara “kenapa kalian mengunjungi kami disekolah?”

“Kami butuh uangnya saat ini juga. Ini sudah lewat dari yang kalian janjikan”

“Ahh” Luhan meringis keras “Ahjussi, kami tidak dengan mudah mendapatkan uang sebanyak itu!” Keluhnya

“Itu bukan urusanku! Bukankah kalian yang menjanjikan ini. Lagipula, bukankah kau orang kaya?” salah seorang paman itu menatap Jongin.

“Ya! Akan aneh, jika Jongin meminta sejumlah uang pada ayahnya dengan jumlah besar. Lagipula ini masalah kami-lebih tepatnya aku” sergah Luhan.

Sebenarnya, jika mengingat masalah ini Luhan sangat menyesal. Sangat. Jika saja waktu itu dia tidak memberanikan diri untuk mengikuti judi disebuah klub malam, mungkin ia tidak akan dibuntuti oleh ahjussi-ahjussi ini. Waktu itu Luhan sedang butuh uang. Ia membutuhkan uang untuk mengurus masalah ibunya yang lagi-lagi berbuat masalah di tempat kerjanya yang tidak lain merupakan tempat hiburan malam. Ya, ibu Luhan merupakan wanita penghibur dibar itu. Tidakkah ini sangat memalukan?

Luhan yang sudah kalah, meminta bantuan Jongin yang tentu saja memarahinya habis-habisan. Tapi, tanpa diduga Jongin datang ketempatnya dan ikut bermain. Namun, dewi keberuntungan tak berpihak pada mereka. Mereka dilanda kekalahan terus-terusan. Hingga akhirnya para ahjussi ini datang dengan tawaran menggiurkan. Seakan kehilangan akal sehat, Luhan menerima tawaran itu meskipun Jongin awalnya menolak dan menawarkan diri meminjamkan uang, nyatanya Luhan tetap menerima uang sang ahjussi karena tak mau merepotkan Jongin. Akibatnya, Luhan terkena batunya. Dia tidak beruntung. Dan hutang itu menjadi mimpi buruk baginya. Belum lagi, dengan bunga yang semakin hari semakin membengkak. Membuat frustasi!

“Kami aka segera melunaskan sisanya. Beri kami waktu” ujar Jongin

“Kalian jangan pernah coba-coba lari dari kami! Akan kupatahkan kaki kalian, dan menggantung kalian dijembatan sungai Han. Kalian mengerti?!”

Jika Luhan meringis takut, Jongin justru memutar kedua bolamatanya.

“Arasseo” Jawab Luhan lantang. Setidaknya hari ini, dia tidak akan kehilangan kakinya.

“Uang sebanyak itu, bagaimana aku mendapatkannya” Luhan mendengus keras.

Melhat itu, Jongin hanya menatapnya malas lantas menyeruput milk tea miliknya “Aku akan bicarakan dengan ayahku” ujarnya menunduk.

Mendengar itu, Luhan langsung menegakkan badan lantas mengehentikan langkahnya, menatap Jongin dengan kedua mata membulat. “Ya! Jangan lakukan itu!” Serunya sambil membuang sebotol minuman yang sudah kosong.

“Awas sampai kau melakukannya.” Ancam Luhan lagi “Ah, kenapa sisanya masih sebanyak itu.” ia tak berhenti menggerutu

Jongin berdecak. Sebenarnya ia juga tak yakin jika sang ayah akan memberikanya sejumlah uang dengan cuma-cuma. Jongin juga tidak bisa sembarangan menggunakan credit card miliknya, karena pasti sang ayah tau apa yang telah ia perbuat dengan uangnya.

Belum hilang perasaan kesal karena harus berurusan dengan para ahjussi, kini Luhan dan Jongin harus kembali dibuat menggeram frustasi saat melihat Kim Sunggyu bersama para ‘kurcacai’-nya. Mereka tepat menghadang jalan Jongin dan Luhan yang sempat tersentak kaget.

Berdiri didepan Jongin, Kim Sungyu menyeringai dengan tatapan meremehkanya “Eoh? Kebetulan sekali, Jongin”

Memutar kedua bolamatanya, Jongin membuang gelas milk teanya yang telah kosong secara asal “Kebetulan? Cih!” dengusnya.

“Ya! Apalagi ini!” Luhan terlihat mengeluh. Sungguh, ia benar-benar tidak mengharapkan datangnya hari ini. Kenapa dia harus berhadapan dengan orang-orang ini?!

“Ugh! Luhan, bagaimana harimu?” Ucap Joowon salah satu ‘kurcaci’ Sunggyu.

Mendengar itu, Luhan berdecak “Kim Sunggyu, bukankah aku sudah memperbaiki motormu?!” Serunya. “Jadi hutangku lunas!”

Sunggyu tersenyum miring “Itu benar! Tapi, kalian tidak bisa lepas begitu saja dari kami.”

Kim Sunggyu, seseorang dari sekolah sebelah yang menjadi musuh bebuyutan Jongin hanya karena masalah gadis itu memang senang mencari gara-gara. Luhan ingat, pertama kali ia berurusan dengan laki-laki ini adalah ketika secara tidak sengaja ia menabrak motor Sunggyu. Tak pelak, masalah itu menjadi besar apalagi setelah Sunggyu tau kalau Luhan adalah teman baik Jongin. Sunggyu sangat membenci Jongin, karena gadis yang ia sukai ternyata sangat mengagumi Jongin. Sangat kekanakan bukan? Itulah Kim Sunggyu.

“Apa maumu Kim Sunggyu?!” Jengah dengan tingkah Sunggyu, Jongin menatapnya sengit.

“Jauhi, Noonaku” seru Sunggyu.

Dan perrnyataan Sunggyu barusan sontak membuat Jongin terkekeh.

“Kau kekanakkan sekali” ujar Luhan yang juga tertawa meremehkan.

“Aku tidak mengganggunya, dia yang selalu datang padaku”

“Bukan salah Jongin, jika gadis itu tergila-gila padanya” Luhan menyambung kalimat Jongin.

Sontak hal itu, membuat darah Sunggyu mendidih dia maju beberapa langkah dan menarik kerah Jongin.

“Aku tidak main-main Jongin! Sebaiknya kau enyah dari pandangannya, agar dia tak lagi tersakiti olehmu!”

Melihat itu, Luhan mendorong Sunggyu “Ya! Jongin bahkan tidak menyukainya. Gadis itu yang selalu menghampiri Jongin.”

“Lebih baik, kau temui dia dan nikahi dia. Jelaskan dengan baik-baik jika aku tidak bisa menerimanya” ucap Jongin datar, menantang tatapan tajam dari Kim Sunggyu.

“Bocah tengik-!”

“Ya!”

Mungkin jika saja tidak ada teriakan yang  berasal dari seseorang secara tak terduga itu, Sunggyu sudah melayangkan tinjunya. Namun, seruan itu mengalihkan fokus mereka. Disana, sudah berdiri seorang gadis dengan tatapan menyipit juga tangan bersedekap didepan dada. Seruan itu berasal dari gadis berambut panjang disana.

* * *

Kabur dari kelas piano mungkin adalah hal konyol dari sekian banyak kekonyolan yang dilakukan Park Jiyeon. Tapi, apapun itu akan dilakukan demi membolos dari les piano yang membosankan itu. Jiyeon baru dua minggu mengikuti les piano, namun di kali kedua ia mengikuti kelas itu ia sudah mengeluh. Bahkan secara terang-terangan ia mengatakan pada sang guru bahwa piano tidak cocok dengan gadis nyentrik sepertinya. Dia terpaksa melakukan ini karena permintaan kedua orang tuanya. Awalnya Jiyeon setuju, karena ia pikir ini akan menyenangkan. Memiliki keahlian di alat musik, tidakkah itu bagus? Namun nyatanya, itu tidak seperti apa yang dibayangkan. Sangat membosankan. Dan ia benci menghapal not-not lagu yang bahkan tidak ia mengerti. Ia kesal, bagaimana bunyi nada itu terdengar aneh saat ia salah memencet tuts piano.

Maka hari ini, ia berhasil kabur setelah ia menggunakan alasan kekamar kecil.  Dan disinilah ia, didepan sebuah kedai ice cream. Ia menikmati ice cream vanilla-nya dengan perasaan bahagia. Meskipun hanya seorang diri, tidak ditemani Amber dan Dahee, namun nyatanya menyenangkan juga. Setelah kurang lebih 30 menit ia habiskan dikedai ice cream, ia memutuskan untuk mencari hiburan lain. Tak ia pedulikan jika nanti ia mendapatkan ocehan sang ayah atau nasehat sang ibu saat mereka tau perihal kebolosannya. Ia akan mengarang sebuah alasan. Park Jiyeon punya seribu alibi untuk itu.

Gadis itu memakai kacamata beningnya, dan mengeluarkan snapback dari dalam tasnya, memakai secara terbalik dikepalanya dan melenggang meninggalkan kedai ice cream. Saat masih diasyikan dengan pemandangan disekelilingnya, tiba-tiba Jiyeon menangkap sosok familiar lewat ujung matanya. Setelah yakin akan apa yang ia lihat barusan, ia memutuskan untuk mendekat. Dan saat pemandangan itu begitu jelas, Jiyeon dibut berjengit heran saat melihat Jongin dan Luhan yang kelihatannya tengah bersitegang dengan siswa sekolah lain.

Jiyeon putuskan untuk mendekat. Dan lagi-lagi ia dibuat tersentak, saat salah satu dari siswa itu ingin melayangkan tinjunya pada Jongin.

“Ya!” Tanpa sadar ia berseru. Tatapannya menyipit, tangannya ia silangkan didepan dada. Menatap mereka tanpa takut.

Mereka menoleh serempak kearah Jiyeon.

“Apa yang kalian lakukan?” Seru Jiyeon lagi, kali ini ia berjalan mendekat.

Ditempatnya, Luhan dan Jongin tersentak kaget. Gadis itu, bagaimaa bisa ia berada disini? Benar-benar!

“Hey! Lepaskan tangan kotormu dari Jongin!”

Sunggyu mengerjapkan, ia menatap Jongin dan Jiyeon secara bergantian. Kemudian melepaskan cengkramannya dan tersenyum miring.

“Kau siapa?” Tanyanya.

“Aku?” Jiyeon menunjuk diri sendiri. “Kau tidak perlu tau siapa aku” ujarnya sambil tersenyum. Demi Tuhan! Dia tersenyum, disaat keadaan sedang memanas seperti ini? Luhan geli sendiri melihatnya. Sedang Jongin meringis dalam hati. Gadis ini lagi.

“Kim Jongin, aku punya tawaran menarik padamu” Kim Sunggyu menoleh pada Jiyeon. “Apa Jongin pacarmu?”

Jiyeon tersentak “Mwoya?” Tapi dalam hati, ia diam-diam berseru senang. Apa dia terlihat seperti kekasih Jongin?

“Apa tawaranmu?” Kim Jongin mengalihkan perhatian mereka.

Sunggyu, menoleh pada teman-temannya dibelakang. Entah apa yang mereka bicarakan. Tentunya hal itu membuat Jongin dan Luhan penasaran.

“Jongin-ah, siapa mereka?” Saat Sunggyu masih disibukan oleh urusannya. Jiyeon mengambil kesempatan yang ada untuk bertanya pada Jongin.

“Ya! Apa yang kau lakukan disini? Cepat pergi!” Bukan Jongin, namun Luhan yang meresponnya. Sedang Jongin masih terdiam ditempatnya. Dengan kedua tangan yang ia masukkan kedalam saku celananya.

“Ish! Tidak!” Tegas Jiyeon. “Ya! Luhan, apa kalian punya masalah dengan mereka?!”

“Kita lakukan pertarungan”

Belum sempat Luhan menjawab, suara Joowon kembali terdengar.

“Aku akan melawanmu. Kutunggu kau minggu malam di arena balap. Bagaimana?” Seru Sunggyu.

Jongin tak bereaksi, sepertinya ia sedang berpikir. “Apa taruhanmu?”

Jiyeon terkejut sedang Luhan mengeluh. Apa jongin benar-benar akan melawannya?!

“Jika kau menang, aku tak akan mengganggumu lagi. Tapi jika aku yang menang, gadis itu harus jadi budak kami”

Ditempatnya, Jiyeon tercengang. Dia tak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.

“Baiklah-”

Dan rahangnya terasa ingin lepas saat mendengar penuturan Jongin.

Menatap Luhan sebentar, Jongin seperti memberi sebuah kode melalui kedua matanya. Setelahnya ia mengangguk kecil pada Luhan yang bergumam. Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas Jiyeon merasa ingin mati sekarang juga!

“-tapi jika kalian mampu menangkap kami. Luhan, kaja!”

Tanpa diduga, Jongin meraih tangan Jiyeon dan mengajaknya lari darisana. Sontak hal itu membuat Jiyeon berteriak bingung, namun ia tetap mengikuti Jongin yang terus membawanya lari dari kejaran Sunggyu dan temannya. Sedang Luhan juga terlihat berlari dengan cepat didepan mereka. Terdengar beberapa kali umpatan dari mulutnya.

“Ahh, topi-topiku. Snapback-ku!” Ditengah pelarian mereka, Jiyeon mendapti topi yang ia kenakan terjatuh. Tapi Jongin tak menghiraukannya dan terus membawa Jiyeon lari.

Mereka terus berlari meskipun dengan nafas yang tersengal. Luhan sudah tak terlihat didepan mereka. Dipertigaan jalan, Jongin berbelok kekiri dan terus-terusan memasuki gang sempit guna menghindari kejaran Sunggyu CS. Setelah beberapa saat, mereka menyadari bahwa Sunggyu sudah tak terlihat. Akhirnya mereka menepi. Bersembunyi dibalik tumpukan kardus, berusaha mengambil pasokan oksigen sebanyak-banyaknya.

“Ya! Kenapa kita harus lari?” Tanya Jiyeon dengan nafas putus-putus.

Jongin menoleh pada Jiyeon “Apa kau mau dijadikan budak oleh mereka? Aku tidak mahir dalam balapan liar”

Sesaat mereka terdiam, hanya terdengar helaan nafas kencang yang saling beradu. Namun, Jiyeon menyadari sesuatu. Jongin belum melepaskan tautan tangannya. Tanpa sadar, ia tersenyum kecil.

“Kenapa kau tersenyum? Apa itu lucu?” Seru Jongin tiba-tiba. Namun, ia seperti tersedar akan sesuatu. Ahh, benar, ia masih menggegam tangan gadis itu. Jongin berdecak lantas melepaskannya begitu saja.

“Ish! Kau ini” Jiyeon mencibir “Ahh, snapback-ku. Ya Tuhan, aku menjatuhkannya!” Serunya tiba-tiba.

“Kau bisa membelinya lagi” balas Jongin acuh.

“Tidak bisa, itu hadiah pemberian Amber dari L.A. aku sangat menyukainya” rengek Jiyeon.

Mendengar itu, Jongin kembali berdecak. Ia beranjak dari duduknya.

“Kau mau kemana?” Tanya Jiyeon pada Jongin yang sudah mengambil langkah.

“Tentu saja pulang”

“Kau meninggalkanku sendiri disini?”

“Kau juga pulang”

“Tapi bagaimana kalu aku bertemu dengan mereka dijalan?”

Ahh, benar juga.

“Bagaimana jika mereka menculikku dan-” ucapan Jiyeon terhenti saat melihat Jongin berbalik.

“Cepat. Aku akan mengatarmu”

Apa ini sebuah kebetulan? Lagi?

* * *

BRUKKK!

“Ya!”

“Awww”

Amber merigis saat merasakan bokongnya  menghantam aspal akibat seseorang yang tiba-tiba saja menabraknya. Bahkan, laki-laki itu membuat barang bawaan Amber yang tak lain adalah sampah yang akan ia buang dari rumahnya jatuh berserakan.

“Kau!” Amber berseru heboh saat melihat bahwa biang semua ini adalah Luhan. “Kau lagi!”

Luhan juga terkejut namun ia tak ingin berlama-lama pada urusan ini. Ia menoleh kebelakang dan mendengar langkah kaki Sunggyu dan teman-temannya semakin mendekat. Tanpa penjelasan, Luhan menarik Amber kedalam sebuah rumah besar  yang berada tepat didepannya. Namun, ia mendapati tangannya tergores gerbang besi milik rumah itu. Ia sedikit meringis, namun tak ia hiraukan. Ia malah menutup mulut Amber dengan telapak tangannya,  berusaha menenangkan Amber yang meronta mendapat perlakuan ini. Beberapa saat kemudian, Luhan melihat Sunggyu dan rombongannya berlari melewati rumah persembunyiannya. Sejenak Luhan menghela nafas lega dan segera melepaskan tangannya dari mulut Amber.

“Ya! Kau gila!” Sembur Amber pada Luhan yang termundur beberapa langkah karena teriakan kasarnya.

“Maaf” Luhan menunduk. Dengan nafas tersengal, ia seolah tak mampu membalas umpatan Amber. Ia terlalu lelah berlari. “Aku dikejar-kejar seseorang” jelas Luhan dengan nafas tersengal. “Kau lihat orang-orang tadi kan?”

Dejavu. Amber bisa merasakan bahwa kejadian ini kembali terulang. Kejadian ini sama persis dengan kejadian 2 tahun lalu di kolam renang umum.

“Kau juga melakukan ini padaku 2 tahun lalu” tanpa sadar Amber mengucapkan sebuah gumaman yang ternyata masih bisa terdengar oleh Luhan.

“2 tahun lalu?” Luhan mengernyit. “Ahh, kejadian kolam renang?” Serunya.

“Kau masih ingat ternyata, Tuan Mesum!” Sergah Amber.

“Apa?!”

“Apa?! Apa?! Pergi sekarang juga dari rumahku!”

Luhan kembali tersentak “Rumahmu?!”

“Iya! Ini rumahku, wae?! Pergi sana!”

“Akhh-”

Mendengar rintihan Luhan, Amber menghentikan aksinya mendorong Luhan keluar dari rumahnya, tanpa sengaja menyentuh lengan Luhan yang tergores. Sejenak Amber terdiam.

“Aku akan pergi! Tak perlu seperti ini!” Kesal Luhan. “Akhh, benar-benar hari yang sial”

Masih terpaku, entah apa yang merasuki pikiran Amber hingga ia terlihat memasang raut wajah lain. Kenapa, dia tiba-tiba merasa tak tega pada Luhan?

“Ya!” Tanpa sadar Amber berseru pada Luhan.

“Wae?” Respon Luhan datar. “Apalagi? Aku sudah minta maaf dan akan pergi”

“Tunggu disana!”

Luhan tak tau apa yang terjadi dengan gadis tomboy dan aneh dihadapannya ini. Bukankah tadi ia menyuruh Luhan pergi? Lalu apa-apaan ini, kenapa sekarang gadis itu malah menyeret Luhan masuk kerumahnya? Dan ya disinilah Luhan, duduk diberanda rumah Amber. Sedang sang empunya rumah duduk disampingnya dengan kotak P3K ditangannya.

“Obati lukamu” seru Amber. Namun, Luhan tetap bergeming. Menatap aneh pada Amber yang diam-diam menahan gugup karena tingkah bodohnya. “Kau terluka karena terkena besi rumahku, jadi-”

Luhan berdecak “Apa kau sekarang mengasihaniku?”

“Ya. Aku kasihan padamu. Apa hidupmu itu selalu dikejar-kejar oleh seseorang?!”

Luhan terdiam. Entah kenapa ucapan Amber  barusan begitu mengenai hatinya “Kau benar.” Jawab Luhan tersenyum kecut. Ya,, Luhan merasa apa yang dikatakan Amber memang benar. Selama ini, hidupnya selalu dipenuhi oleh kejaran berbagai masalah pelik, hingga ia sendiri terkadang bosan dengan hidupnya.

“Apa selama ini kau memakai topeng?” Tanya Amber lagi sambil melipat kedua tangannya didada.

Mengernyit heran, Luhan tidak mengerti apa maksud ucapan Amber.

“Citra mu disekolah tak bermasalah-ya hanya kurang pintarlah masalahmu. Tapi, apa diluar sekolah kau orang yang berbeda?”

Amber tidak mengerti kenapa ia bisa sampai menanyakan hal ini. Tidakkah ini sudah terlalu jauh? Bukankah Amber benci berurusan dengan si Flower boy? Lalu apa yang membuat Amber tertarik lebih jauh menyangkut pribadi sang ketua osis? Ahh, Amber pasti sudah kehilangan akal sehatnya.

Mendapati Luhan yang terdiam, Amber seolah tersadar “Ah! Lupakan, aku-”

“Apa kau benar-benar berpikir kalau aku adalah seorang pencuri?”

Tentu itu adalah satu hal misteri seorang Luhan bagi Amber.

“Aku tidak memintamu percaya padaku. Aku hanya ingin, kau menilai seseorang bukan hanya sekedar dari apa yang kau lihat dan kau dengar. Terkadang kau juga harus mempelajari secara mendalam hidup orang lain-meskipun itu bukan urusanmu.” Luhan berkata panjang lebar, sedang Amber masih terdiam “Setidaknya, apa yang kau lihat dan dengar bukanlah satu-satunya harga mati untuk menilai pribadi seseorang”

Masih termangu, Amber tak percaya bahwa orang yang berhadapan dengannya adalah seseorang yang ia anggap sebagai musuh besarnya. Bahkan Amber hanya mengerjap saat melihat Luhan beranjak dari duduknya.

“Terima kasih atas belas kasihanmu, tapi aku akan mengobati lukaku sendiri”

Luhan. Seperti apa sebenarnya sosok Luhan itu?

* * *

Jam menunjukan pukul 6 sore. Tapi nyatanya, Sehun masih belum kembali ke rumah. Saat ini ia justru terlihat disebuah ruang tunggu lorong rumah sakit. Sudah sejak satu jam yang lalu, ia duduk disana. Tanpa melakukan apapun, Sehun hanya bergeming. Pikirannya menerawang. Haruskah ia masuk kedalam ruang rawat yang berada dihadapannya ini? Tapi ia tidak sanggup jika harus kembali berurusan dengan kenyataan pahit yang menghampirinya.

Didalam, terdapat seseorang yang berharga dalam hidupnya. Seseorang yang 2 tahun lalu, masih menunjukan senyum manisnya. Seseorang yang 2 tahun lalu, masih mengelus lembut rambut Sehun. Namun, semua berubah saat kejadian mengerikan itu terjadi. Kejadian yang merenggut semua kebahagiaannya.

Sehun merupakan pribadi pendiam. Dia bukan tipe laki-laki yang suka berhura-hura dengan teman sebayanya. Dia seorang yang tenang dan serba teratur. Dia bahkan dengan tenang menghadapi orang-orang yang senang mencari gara-gara dengannya, mencari celah untuk membuatnya terlibat dalam petarungan sengit. Orang rumah sangat tau ini. Tapi, sejak kejadian mengerikan itu pribadi Sehun semakin menjadi tertutup. Dia menjadi lebih dingin dan bersikap tidak peduli pada keadaan sekitar.

Kejadian mengerikan yang terjadi satu tahun lalu itu tak lain adalah sebuah peristiwa kebakaran di rumahnya. Semua lenyap tak tersisa termasuk nyawa sang ayah yang tak dapat tertolong. Saat kejadian itu, Sehun berada disekolah dan sang kakak juga tengah menimba ilmu dinegeri orang. Dan keberuntungan masih berpihak pada ibunya, meski sebagian tubuhnya sudah dipenuhi luka bakar.

Semua tidak berhenti sampai disitu, sebuah peristiwa mengerikan kembali terjadi. Sang kakak yang berniat pulang saat mendapat kabar duka itu, juga mengalami sebuah kejadian buruk. Pesawat yang ia tumpangi mengalami kecelakaan. Sang kakak yang bernama Oh Sejoon itu dinyatakan koma, dan akhirnya meninggal 6 bulan lalu. Tak pelak hal ini membuat Ibu Sehun mengalami stress berat. Ia tiak bisa menerima kenyataan pahit yang terus-terusan menghampiri ini. Maka disinilah ibu Sehun. Terkurung disebuah kamar rumah sakit, dengan gangguan mental yang tak kunjung sembuh.

Sehun ingat, waktu itu liburan natal saat kakaknya pulang kerumah. Dikamar Sehun, Sejoon mengatakan sesuatu yang membuat Sehun berjengit bingung.

“Aku tertarik dengan seseorang, dikelas taekwondomu. Tapi  sepertinya dia menyukai orang lain”

Saat itu, Sehun tak tau siapa orangnya. Tapi, semua terjawab saat sang kakak sempat tersadar dari komanya selama beberapa jam sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.

“Orang itu, Kim Dahee. Tapi sepertinya dia menyukaimu. Baik-baiklah padanya, kuharap kau bisa menjaganya. Jadikan dia pacarmu. Hanya ini permintaan terakhirku” 

Bahkan Sehun masih melihat senyum diwajah kakaknya. Senyum terakhir yang akan ia rindukan.

“Oh Sehun?”

Sebuah suara membuyarkan seluruh lamunan Sehun tentang peristiwa menyedihkan itu. Sehun mendongak, dan mendapati Dahee dengan sebuah keranjang buah ditangannya.

“Kau tidak masuk?” Tanya Dahee saat melihat Oh Sehun yang masih bergeming.

Gadis itu merupakan salah satu orang yang tau semua peristiwa itu-bersama Amber dan Jiyeon, yang memang sudah mengenal Sehun sejak bangku SMP- tapi sepertinya, hanya satu yang belum ia ketahui kan?

“Tidak. Kau saja” Sehun akhirnya hanya berlalu darisana. Meninggalkan Dahee yang diam-diam menunduk sedih.

Ini bukan pertama kalinya Dahee menengok ibu Sehun. Dia sudah terbiasa menemukan ibu Sehun yang sering meracau tidak jelas. Dahee tau tidak mudah bagi Sehun melewati semua ini. Sebenarnya Dahee ingin sekali, Sehun membagi keluh kesah padanya. Dahee ingin meminjamkan bahunya untuk sandaran Sehun. Tapi nyatanya, Sehun masih sulit membuka hatinya.

Perempuan baruh baya itu sedang duduk dengan tatapa menerawang kejendela, saat Dahee memasuki kamar itu. Ditangannya terdapat sebuah boneka beruang besar yang dipeluk erat olehnya. Dahee berjalan mendekat.

“Eomoni?”

Panggilan itu, tak membuat ibu Sehun bergerak dari posisinya. Lantas Dahee semakin mendekat. Menepuk pelan bahu wanita berusia  hampir setengah abad itu.

“Annyeong?” Sapa Dahee.

Wanita itu menoleh dan tersenyum. “Sejoon belum datang. Ah, Sehun juga belum kembali dari sekolah”

“Sehun akan segera sampai. Dia sedang menunggu Sejoon oppa” hanya ini yang bisa Dahee lakukan. Mengikuti jalan pikiran dan permainan wanita itu.

“Aku mengantuk. Temani aku hingga terlelap ya, Dahee?”

Tak mungkin menolak, Dahee memberikan anggukan kecilnya. Dia menyelimuti ibu Sehun yang sudah memejamkan matanya. Melihat ibu Sehun seperti ini membuat hati Dahee terasa perih. Wanita ini merupakan sosok hangat yang Dahee kenal. Bisa dikatakan, dia seperti sosok ibu pengganti bagi Dahee setelah kepergian ibu kandungnya. Dahee memang dekat dengan keluarga Sehun, berawal dari Sejoon yang sering membawanya bermain dirumah Sehun.

20 menit kemudian, Dahee beranjak dari duduknya setelah yakin bahwa ibu Sehun sudah benar-benar terlelap. Ia beniat mencari Sehun. Dan sampai ditaman belakang rumah sakit, Dahee melihatnya.

“Kau juga harus menyapanya”

Sehun terlihat mendongak, saat mendengar suara Dahee. Gadis itu menatapnya datar.

“Dia mencarimu”

“Dia bahkan tidak mengenaliku” acuh Sehun.

“Karena itu, bukankah kau harus menemuinya dan berbicara pelan-pelan dengannya?”

“Membuang waktu”

Menghela nafas pelan, Dahee tak tau harus bagaimana menyikapi sifat kesras Oh Sehun. “Jangan kekankkan, ka-”

“Apa yang kau tau?!” Tanpa sadar, Sehun memotong kalimat Dahee dengan menaikkan volume suaranya.

Mendapati sentakan seperti itu, tak pelak membuat Dahee meringis heran. “Ibumu membutuhkanmu dan disaat seperti ini kau seharusnya ada disana”

“Tidak. Kau sudah terlalu jauh. Aku tak ingin membuang waktuku untuk itu. Aku lelah, kau tau? Tidak. Kau tidak tau apapun!”

‘DEG’

Ucapan Sehun barusan sukses membuat Dahee terperanjat. Dia merasakan sesuatu di hatinya. Seperti sebuah pukulan telak, yang tiba-tiba saja membuatnya sulit menghirup oksigen.

“Benar, kau benar” Dahee membalas tatapan Sehun “Aku memang tidak tau apa-apa. Aku tidak mengenalmu Oh Sehun. Karena itu, tidakkah seharusnya kau lebih terbuka pada ku?” Ujar Dahee tertahan “Aku bahkan tak mengerti sikapmu. Kau anggap apa aku Oh Sehun?!”

Nafasnya tercekat. Dahee berusaha menelan kembali bulir bening yang sudah memenuhi pelupuk matanya. Tak ingin berlama-lama disana, Dahee megambil langkah besar. Berlalu meniggalkan Oh Sehun yang masih mematung.

TBC

Maaf untuk yang nunggu lama T.T and this is long story, long chapter. 5k+ weeewwww! Semoga gak aneh… maaf klo kepanjangan dan membosankan L

Jika masih pengen dilanjut monggo dikomen.. soalnya aku ada rencana hiatus huhuhu… tapi kalo my lovely reader sekalian pengen ditamatin, insyaallah ini akan selesai. Harus selesai!

Okeee, see you next chap!

30 thoughts on “Story Of Us (Chapter 5)

  1. eunvejun berkata:

    masalah yg pelik yg harus dihadapin anak2 seusia mereka (oh jonghan). tapi lebih mengenaskan hidup sehun..
    penasaran sma perasaan sehun terhdp dahee,. sehun pacaran sma dhee apa cma krna permintaan hyungnya..

    penasaran jga sma jongin,. kira2 jongin bakal suka jga gak yaa sma jiyeon ??
    terus apa yg bakal dilakukan amber ntuk menjwab rasa penasarannya trhdp seorng xi luhan ????

    pokoknya aku tetep akan nunggu next storynya mereka deh.. authornim gomawo and fighting.

    • lullama berkata:

      huhuhu, aku juga pengennya dilanjut.. tapi kdg aku disibukkan tugas kampus😦 mana mggu dpn UAS #CURHAT
      tapi cerita ini emg hrs selesai. harus lanjut kan ya… hehe
      tengss udh baca dan menyukai ff abal ku ^^

  2. Oh Min Joo berkata:

    Anjirrrr, luhan :’3 Hidupnya sengsara banget ihh.
    Tapi, ane sika kopel Amber Luhan :v lucu :v
    Sehun Dahee juga suka :v

    Next terusss, aku ngikutin dr awal lo ini ff ^^
    Hwaiting

    • lullama berkata:

      hahaha kapel-kapel itu punya cerita sendiri.. klo aku suka Dahee-Sehun masa :3 semua sih sebenernya..
      tengs udah ngikutin dari awal.. ttp ikutin terus ya… ^^

  3. nadia1 berkata:

    heohhh gue sangat menanti ff ini loooooo

    udh lama bgt ampe jamuran

    yahhh akhirny di update…

    gueeeeee kesel bgt pke BGT ama si jongin ehhh knp ia sok bngt sih ga sk jiyyi??
    jiyi tuh cantikkkkkk loo,,, pengin tau gmn si jongin bs sk sm jiyiiiiiiiiiii yaaa hrs bener2 seperti dpt karma….hahahaha

  4. KAIKAIKAI111 berkata:

    Kak lanjutin dong!!!!!
    Aku suka banget ff iniii…
    Trs penasaran jg sm jongin jiyeon nya kira kira gimana kelanjutannyaaaa…
    Lanjutin ya kak plisss makasih :))

  5. Natsuya berkata:

    Bner” deh Jiyeon :v salut bgt ama Jiyeon hmm…
    ‘noona’ yg dmksud Sunggyu itu cewek yg pake hoodie yg dliat Jiyeon ngasih mnum k Jongin ya?
    Penasaran knp pamannya Lulu tega bgt nuduh dy sbgai pencuri😦 trus ngpain jg Lulu terus”an dtg klo akhirnya bkal dituduh btu?
    Huaa Luuu~ penasaraaannn ><

  6. wellameilitta berkata:

    Aku rasa Sehun rada sensi Dahee kan cuma mau Sehun lebih terbuka sama dia
    rada keterlaluan juga pang
    Luhan sebenarnya orangnya gimana sih? Setiap hari dikejar orang terus sama Jongin juga

  7. soo_kyung berkata:

    menyedihkan banget hidup luhan
    maksud Sunggyu cewe yg pake hoodie itu???
    suka sama jiyeon
    amber cieee yg kepo masalah luhan
    apa ini .apa sehun nembak dahee karna wasiat kaka nya dan apa sehun gk miliki perasaan sama dahee

  8. Aleyaa ThuuAquw berkata:

    oh leganya diriku,,
    ku kira wanita yng di tunggu Dahee dan ayahnya di restoran itu ibu sehun,,dan pikiran ku udah melayang kalao sehun sama dahee bakalan jdi saudara,,,

  9. hun-bim berkata:

    Ahhh.. hidup it rumit yah. Liat tuh luhan smp dikejar” sndr ma pamanx sendri.
    Dan sehun bukankah hfpx trlalu mnyedihkan . Ayah dn kakkx mninggal llu ibux msk rmh skit jiwa.
    Dan satu lagi pa sehun bnar” mnykai dahee pa cmn hx krn prmintaan kkx sja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s