Bangtan’s Story [Suga’s Version] : Hold Me Tight [2/2]

BTS - Hold Me Tight

Tittle  : Hold Me Tight

Author  : Ohmija

Main Cast  : Suga BTS, Wendy Red Velvet

Support Cast  : V, Jungkook, Rap Monster BTS, Shannon William

Genre  : Romance, School Life, Friendship

Suga mendadak jadi pendiam.

Hanya satu kalimat dan itu bisa mengubah dunianya. Apa? Percaya? Dia mempercayainya?

Selama beberapa menit Suga berdiri melamun di belakang mesin kasir, tangan kanannya terus bergerak tanpa sadar membersihkan sisi meja kasir hingga benar-benar mengkilat.

Muncul di sisinya, Namjoon memperhatikan Suga dengan kening berkerut. Ia menepuk pundak pria itu, “Suga.”panggilnya pelan. Namun tidak ada sahutan apapun. “Suga.”panggil Namjoon lagi. Suga tetap tidak bergeming. Ia menghela napas panjang. “Hey, Suga!” Namjoon menepuk pundak Suga sedikit keras membuat pria bermata kecil itu seketika terlonjak kaget. Tanpa sengaja tangannya terhantup oleh mesin kasir.

Ia meringis kesakitkan, “Aduh.”

“Kau ini, apa yang sedang kau pikirkan?” Namjoon merampas pelan kain lap yang di pegang Suga kemudian membersihkan etalase yang ada di sebelahnya. “Lihat itu, kau membersihkan meja kasir hingga mengkilat.”

“Oh, hehehe…” Suga nyengir lebar sambil menggaruk belakang kepalanya.

“Hehehe apa?” Namjoon semakin mengerutkan keningnya. “Apa yang terjadi denganmu, sih? Kenapa kau sangat aneh?” Ia berdecak kemudian geleng-geleng kepala, bergegas meninggalkan Suga.

“Hyung.” Suara Suga membuat Namjoon berhenti, ia menoleh ke belakang.

“Apa?”

Ia menelan ludah, “Hyung, kenapa kau tidak mencari… adikmu?”

Namjoon seketika terkejut mendengar pertanyaan Suga barusan, matanya melebar.

“Dimana adikmu, hyung?” tanya Suga lagi.

Namjoon merasa jika tenggorokannya terasa cekat. Lidahnya kelu dan suaranya menghilang tiba-tiba. Matanya menerawang pada lantai yang ia pijak.

“Maksudku… Jungkook.” Suga buru-buru berseru begitu ia melihat kelamnya wajah Namjoon. “Dia adalah adikmu kan hyung? Adik kelas hehehe.” kemudian tertawa hambar dan memasang wajah bodohnya.

Namjoon juga tersenyum, senyum paksa, “Ah yah, kau benar. Aku akan mencarinya.” ia berbalik dan menghampiri Jungkook yang ada di dapur.

Suga menghela napas panjang. Dia benar-benar terlihat seperti orang yang sangat keras kepala. Mungkin dia masih kesal karena masalah itu hingga menutup mata dan telinganya.

“Hey!”

Suga tidak sadar jika dia sedang melamun begitu sebuah tangan melambai di depan matanya. Ia tersentak dan mundur satu langkah ke belakang. Rasa terkejutnya sedikit berlebihan seperti dia habis melihat hantu. Ia menghusap-husap dadanya dan menormalkan napasnya yang seketika terengah, membuat Wendy tertawa geli.

“Apa aku terlihat menakutkan?”tanyanya dengan senyum lebar. “Aku mengagetkanmu?”

“Aku tidak kaget.” Suga menarik napas panjang diam-diam sambil mendekati meja kasir kembali. “Dan kau tidak menakutkan.” ia mengelak membuat Wendy semakin tertawa geli. “Mau pesan apa?”

“Hari ini dingin, aku ingin yang hangat.” Wendy membaca daftar menu yang ada di depannya.

“Cokelat panas kami adalah yang terbaik, nona.”Suga tersenyum, berbicara seperti pelayan yang baik. “Mau mencobanya?”

“Aku sudah mencobanya kemarin.” Wendy masih membolak-balik buku daftar menu. “Tapi, aku rasa aku akan mencobanya lagi.” ia memperlihatkan deretan giginya pada Suga sambil menutup buku itu dan mengembalikan ke tempatnya. “Aku ingin kau yang membuatnya.”

Suga tertawa, “Kenapa?”

“Coklat panas buatan Jungkook terlalu manis. Buatanmu lebih enak.”

“Kau tidak suka manis?”

“Tidak terlalu.” Dia menggeleng.

“Bohong.” balas Suga membuat kening Wendy berkerut. “Kau menyimpan banyak gula di wajahmu.”

Wendy sontak memukul lengan Suga, “Apa-apaan itu? Dasar.”

Suga terkekeh, “Baiklah nona, silakan tunggu sebentar.”

Wendy mengambil sebuah tempat di dekat jendela kaca. Sambil menunggu pesanannya, ia mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya. Diam-diam, Suga memperhatikan gadis itu sejenak.

Dia berbeda dari kebanyakan gadis. Dia tidak feminim. Gayanya sedikit tomboy dan kasual. Hari ini, rambutnya di kuncir kuda seperti biasa. Juga memakai kemeja kotak-kotak bewarna merah dan hitam yang dibalut dengan jaket tebal bewarna hitam yang tidak dikancing. Syalnya bewarna merah gelap, menutupi leher hingga sebagian mulutnya. Dan untuk bawahan, dia hanya memakai celana jins pendek yang memperlihatkan kaki rampingnya serta boots.

Suga tidak menyukai gadis feminim, dia menyukai gadis seperti Wendy.

“Tutup mulutmu. Air liurmu akan jatuh.” suara Jungkook membuat Suga langsung menoleh dengan mata melotot.

“Aku tidak membuka mulutku.”

“Lihat saja bagaimana wajahmu saat memandangnya. Terlihat seperti orang bodoh.”

Suga memukul pelan perut Jungkook lalu menyiapkan pesanan Wendy. Tak lama, ia mengantar segelas coklat panas pada si pemesan.

“Coklat panas untukmu, nona.”

Wendy mendongak, mengalihkan tatapannya dari buku yang dibacanya. “Bisakah kau duduk bersamaku?”tanyanya. “Ada soal yang tidak aku mengerti. Bisakah kau mengajariku? Kau adalah murid beasiswa, kan? Kau pasti sangat pintar.”

Suga terlihat ragu, “Tapi… aku sedang bekerja.”

“Benarkah?” wajah Wendy berubah kecewa. “Apa kau tidak bisa meluangkan waktumu walau hanya 10 menit?”

“Eung–” Suga memutar bola matanya, ia sangat bingung.

“Ajari dia.” Jungkook menyahut dari belakang meja kasir. Suga menoleh, “Aku akan menggantikan tugasmu sementara asalkan kau mentraktirku ddokbukkie nanti.”

Suga tersenyum lebar pada Jungkook, ia menggumamkan ‘terima kasih; dengan mulutnya tanpa suara agar Wendy tidak tau. Ia sangat senang. Jungkook memang pengertian.

Pria bermata kecil itu menjatuhkan diri di kursi yang ada di depan Wendy, “Yang mana yang tidak kau mengerti?”

“Soal yang ini.” Wendy menunjuk sebuah soal di bukunya. “Harusnya aku mengetahuinya karena soal itu sudah di bahas di tempat lesku minggu lalu.”

“Lalu? Kenapa kau bertanya padaku?”

“Pada hari itu aku melewatkan les jadi aku tidak tau.”

“Jangan membolos lagi.” Suga mengatakan itu dengan pandangan yang terarah lurus pada buku. “Kau harus rajin belajar.”

“Hari ini aku juga melewatkan les pianoku.”balas Wendy pelan. “Ada hal yang lebih penting yang harus aku kejar sekarang.”

Suga mengangkat tatapannya, menatap Wendy. Gadis itu tersenyum, “Kau tau tentang itu, kan?” kemudian tertawa.

Gadis ini, kenapa dia selalu berusaha menyembunyikan rasa sedihnya? Dia bersikap seolah-olah dia baik-baik saja.

Suga menghembuskan napas panjang, “Perhatikan, aku akan menjelaskan soal ini padamu.”

***___***

Namjoon menghampiri Jungkook dan berdiri di sebelahnya, namun pandangannya tertuju lurus pada Suga dan Wendy. Menyadari kehadiran seseorang. Jungkook menoleh kemudian mengikuti arah tatapan Namjoon.

“Mereka terlihat sangat dekat, kan?” ia berseru.

“Aku baru tau jika mereka dekat.”balas Namjoon, tatapannya tak juga berpaling.

“Mereka bersekolah di sekolah yang sama.” Jungkook menjelaskan. “hey hyung, aku tidak begitu mengenal Suga sebenarnya. Kami baru mengenal satu sama lain selama beberapa minggu.”

Namjoon menoleh, “Ku pikir kalian akrab.”

Jungkook menggeleng, “Aku mengenalnya dari Taehyung. Kau tau, satu-satunya teman terdekatku hanya Taehyung.” ia berbicara dengan nada serius hingga Namjoon dengan mudah mempercayainya. “Bagaimana jika dia ternyata bukan orang yang baik? Jika dilihat-lihat, dia memiliki niat terselubung dengan adikmu.”

“Apa maksudmu?” ketus Namjoon, nadanya terdengar tak senang.

“Lihat saja, dia meninggalkan pekerjaan untuk adikmu. Dan Wendy, lihat bagaimana caranya tersenyum, dia terlihat sangat bahagia.”

“Jangan bertele-tele. Apa sebenarnya maksud ucapanmu?” nada Namjoon semakin menekan.

Jungkook berusaha menahan senyumnya, “Mereka saling menyukai.”

“Aku tidak perduli jika mereka saling menyukai.”

“Bukan itu masalahnya. Aku hanya khawatir jika Suga hanya bermain-main. Wendy pasti akan menangis lagi.”

Sekali lagi, Jungkook mengatakan hal itu dengan nada yang sangat yakin. Dia meninggalkan Namjoon setelah berhasil membuatnya geram. Berdiri di sudut ruangan, Jungkook akhirnya tak bisa menahan senyum gelinya. Ia memandang Suga dengan tatapan kasihan namun juga lucu.

“Maafkan aku, Suga. Ini salah satu caranya.”

***___***

Suga baru saja meninggalkan coffe shop saat kedua tangan Namjoon mencengkram kerah bajunya dan membanting punggungnya ke tembok. Ia menatap pria itu tajam seperti dia adalah mangsa yang ingin sekali ia lahap.

“Jika kau mematahkan hati adikku, aku tidak segan-segan untuk mematahkan lehermu!”ancamnya, terdengar sangat tandas di telinga Suga.

Suga tertawa mendengus, “Jadi kau mengakuinya?”balasnya, menatap tepat di manik mata Namjoon. “Kau mengakui jika Wendy adalah adikmu?”

Namjoon melepaskan cekalannya kasar, “Aku hanya memperingatkanmu satu kali.”

“Kenapa kau perduli?” Suga mendesis kesal. Amarahnya perlahan memuncak. “Harusnya kau memperingatkan dirimu sendiri karena kau adalah satu-satunya orang yang selalu membuatnya menangis!” Suara Suga terdengar lantang dan tandas. Di tatapnya pria yang lebih tua satu tahun darinya itu lurus-lurus, ikut mengancam.

“Apa katamu?!” Namjoon menoleh dengan tatapan garang, ia mencengkram kerah baju Suga lagi. Tangan kanannya sudah melayang di udara, hendak memukul wajah pria itu.

“Kenapa? Apa karena ucapanku terlalu benar jadi kau ingin memukulku?”

“Brengsek!”

Namjoon memukul wajah Suga keras hingga pria itu tersungkur ke tanah, dari sudut bibirnya mengeluarkan cairan kental bewarna merah. Namjoon menatap Suga dengan emosi memuncak bercampur dengan kesesakkan yang perlahan menyeruak keluar.

Kesedihan itu juga dirasakannya, membuatnya teringat memori masa lalu ketika dia dan Wendy masih kecil dan masih dengan keluarga yang utuh. Dulu, dia selalu ada untuk melindungi adik kecilnya dari orang-orang yang menjahilinya. Selalu membelikannya permen atau ice cream setiap kali dia menangis. Tapi sekarang, dia justru menjadi alasan kenapa gadis itu menangis.

Namjoon mengepalkan kedua tangannya disamping tubuh lalu melangkah pergi meninggalkan Suga.

***___***

“Dasar bodoh, harusnya kau memanggilku jika ingin berkelahi.” Taehyung menutulkan obat merah ke sudut bibir Suga karena dia tidak memperbolehkan Shannon melakukannya. Disampingnya, Shannon berdehem sambil melotot galak kearahnya. Taehyung nyengir lebar, “Aku hanya bercanda hehe.”

“Aku tidak berkelahi.” ucap Suga kemudian meringis karena merasa sakit. “Ya! Pelan-pelan! Kau mau mengobatiku atau justru menyakitiku?!” Suga memukul kepala Taehyung pelan membuat sahabatnya itu ikut kesal.

“Kau ini cengeng sekali! Tahan sakitnya!”

“Aku menahannya, tapi kau semakin menekannya! Bodoh!”

“Apa?!”

“Hentikan!” Shannon mendorong tubuh Taehyung ke belakang. Kemudian meraih sebuah plester dan menempelkannya di sudut mulut Suga. Melihat itu, Taehyung sudah akan buka mulut mengeluarkan protes namun ia menelannya kembali. “Lalu bagaimana? Apa kakaknya itu tetap tidak mau memaafkan Wendy?”

Suga menghela napas panjang, “Aku rasa tidak mudah.”

“Jangan khawatir. Setidaknya dia memperhatikan Wendy, kan?” Shannon menepuk pundak Suga. “Ini adalah buktinya.” gadis itu menunjuk luka di sudut bibir Suga.

“Laki-laki memang harus berkelahi agar diakui sebagai laki-laki.” Taehyung bersiul tanpa rasa bersalah.

Shannon langsung memukul kepala kekasihnya itu pelan, “Jangan samakan Suga denganmu!”omelnya. Kemudian ia berdiri, “Cepat kembali ke kelas, sebentar lagi bel berbunyi.”

“Shannon, kau tidak menungguku?” Taehyung setengah berteriak namun yang ia dapati hanya suara pitu tertutup, Shannon telah lebih dulu pergi. “Dasar wanita itu, semakin lama semakin galak.”

Suga melirik Taehyung dengan mata menyipit, kedua lengannya ia lipat di depan dada, “Kau tidak lihat siapa yang ada disampingmu? Jangan bicara macam-macam tentang sahabatku!”

Taehyung mendengus, “Dasar menyebalkan.”

***___***

Jungkook sudah tau apa yang akan terjadi mengingat sifat tempramental Namjoon. Namun, ia tetap terkejut saat melihat Suga muncul di ruang loker dengan plester di sudut bibirnya.

Matanya sontak melebar, “Apa yang terjadi denganmu?”

Suga mendesah sambil memasukkan seragam sekolahnya ke loker dan mengambil seragam kerjanya, “Memang benar, cinta membuat seseorang jadi bodoh.” Ia menunjuk lukanya. “Semua ini karena cinta.”

Tawa Jungkook sontak meledak, “Apa luka itu berpengaruh dengan kepalamu? Atau kepalamu juga dipukul?”

Suga menoleh, lagi-lagi mendesah panjang, “Kau tidak akan mengerti karena kau masih kecil.”

Tawa Jungkook seketika menghilang, ia mendelik, “Apa katamu?”

Suga mengabaikan itu kemudian menepuk kepalanya, “Sudah ya, aku harus bekerja.”

Jungkook mendengus sesaat setelah Suga menghilang, “Saat jatuh cinta, kau justru merubah menyebalkan.”

***___***

Kecanggungan itu tertampak jelas dari gerak-gerik keduanya. Dua orang yang bahkan belum terlalu saling mengenal itu menganggp seolah-olah jika salah satu diantara mereka tidak terlihat. Mereka saling tidak bertegur sapa dan memilih untuk menghindar jika bertemu.

Jungkook hanya bisa menghela napas panjang. Mereka adalah pria dewasa tapi cara bertengkar mereka seperti anak SD.

Seseorang yang setiap harinya selalu menyempatkan diri untuk datang, akhirnya muncul di coffe shop itu. Hari sudah sore dan dia masih mengenakan seragam sekolahnya yang ia tutupi dengan coat panjang bewarna biru.

Namjoon melihatnya kemudian menghela napas panjang. Dengan senyuman lebar dan gaya yang selalu bersemangat, Wendy berjalan menuju meja kasir, ia berdiri di depan Suga.

“Hai Suga!”sapanya. Kemudian ia menoleh ke kiri, ke samping Suga. “Hai Jungkook! Hai oppa!”

Namjoon berdecak lalu mengabaikannya masuk ke dalam. Ekspresi Wendy sempat berubah sedih sesaat namun ia buru-buru tersenyum lagi.

“Aku mau–”

“Satu coklat panas yang tidak terlalu manis, kan?”tebak Suga cepat.

Wendy mengangguk, “Waah, tuan pelayan kau sangat cepat menghapal kesukaanku.”

“Tentu saja!” Suga balas tersenyum. “Silakan tinggu sebentar.”

“Baiklah.” Wendy berbalik dan menduduki kursi favoritnya.

Masih dengan senyumannya yang tertinggal di wajahnya, Jungkook melirik sahabatnya itu kemudian mendengus. “Dasar menjijikan.”cibirnya.

Suga menoleh, “apanya?” ia bertanya dengan senyuman.

“Senyumanmu. Menjijikan.”

“Benarkah?” Ia masih mempertahankan senyumnya, terlihat begitu bahagia hingga tidak perduli jika Jungkook sedang menghinanya.

“Apa orang-orang yang sedang jatuh cinta selalu seperti ini?” Jungkook mendengus lagi lalu memilih untuk meninggalkannya.

***___***

Namjoon melihat semuanya dengan jelas. Bagaimana caranya tersenyum dan tertawa terbahak. Matanya membara saat menceritakan sesuatu yang ia sukai, sesekali dengan ekspresi yang berlebihan. Yah, dia tidak berubah. Dia selalu saja terlihat imut dan aneh dalah waktu yang bersamaan.

Tanpa sadar senyumannya mengembang saat ia melihat gadis itu. Pikirannya sedang menipu dirinya saat ini, dimana dia melihat dirinyalah yang duduk di hadapan gadis itu sekarang. Keduanya sedang bercanda bersama, si gadis sedang menceritakan bagaimana hari-hari sekolahnya dengan semangat dan hari-hari menyenangkannya. Sedangkan dia sedang mendengarkan dan ikut tertawa bersamanya.

Jauh di lubuk hatinya, dia merindukan masa lalu serta orang-orang di dalamnya.

Rasanya menyakitkan saat mengetahui selama ini dia tumbuh seorang diri setelah ibunya meninggal. Ia berubah menjadi makhluk apatis yang enggan bersosialisasi karena rasa sakit itu masih berakar di hatinya. Dia muak. Namun disadarinya, gadis itu tidak bersalah.

***___***

Sambil berangkulan, Suga dan Jungkook keluar meninggalkan coffe shop bersama. Seperti janjinya waktu itu, ia akan mentraktir Jungkook ddokbukkie. Malam memang sudah larut tapi besok adalah hari libur, sepertinya tidak masalah jika mereka pulang terlambat.

Berdiri di belakang keduanya, kening Namjoon berkerut. Jungkook bilang dia tidak dekat dengan Suga tapi kenapa yang dia lihat justru sebaliknya? Mereka terlihat dekat bahkan sangat dekat. Tidak seperti dua orang yang baru saling mengenal satu sama lain.

Dalam diamnya, Namjoon teringat sesuatu. Di sekolahnya, Jungkook memang terkenal bijaksana dan suka menengahi masalah. Walaupun terkadang dia tidak berbeda dari para berandalan, namun dia memiliki sifat setia kawan.

“Apa dia membohongiku?”gumam Namjoon. “Ahh, benarkah?” ia bergumam lagi. Kemudian ia menggeleng, “Tidak mungkin. Bagaimana bisa aku di bohongi oleh anak kecil?”

Terus berjalan di belakang Jungkook dan Suga, Namjoon tiba-tiba melihat seorang gadis melompat di depan mereka.

“Astaga, kau mengagetkanku!” Suga termundur ke belakang sambil menghusap-husap dadanya.

Jungkook hanya menatapnya tenang, “Mengagetkan apanya? Dia sejak tadi berdiri disana.”

“Kau melihatku?” Wendy terlihat sedikit kecewa.

“Jika kau mau bersembunyi, bersembunyilah dengan baik. Kau terlalu mencolok.”

“Tapi Suga tidak melihatku.”

“Karena matanya terlalu kecil untuk melihat hal-hal saat malam hari.”

“Hey, apa yang kau katakan?!” Suga melingkarkan lengannya di leher Jungkook. “Kau cari mati?”

Wendy tertawa, “Apa kalian akan pulang?”

Jungkook mendorong tubuh Suga, “Kami ingin pergi ke restoran ddokbukkie. Sedangkan kau? Apa yang kau lakukan? Kau tau ini jam berapa?”

Gadis itu tersenyum, “Aku menunggu kakakku.” jawabnya.

“Namjoon hyung sepertinya masih di… ” ucapan Jungkook terhenti saat ia berbalik dan menemukan Namjoon telah berada di belakangnya. “Oh, hyung..”

Wendy ikut menoleh, kemudian berjalan melewati Jungkook dan Suga, menghampiri Namjoon, “Oppa!”sapanya dengan senyum lebar. “Besok lusa adalah malam natal, maukah oppa menghabiskannya bersamaku?”tanyanya. “Ayah sedang berada di luar negeri, aku sendirian.”

Namjoo nmenatap adiknya itu sesaat. Sebisa mungkin menahan lengannya untuk tidak merengkuhnya dalam pelukan dan mengucapkan permintaan maaf. Beribu-ribu kali ia berusaha menahannya hingga dadanya terasa sesak.

“Aku sibuk.” Namjoon mengabaikannya dan melanjutkan langkah. Namun Wendy tidak menyerah, ia mengejar langkah kakaknya itu.

“Apa oppa bekerja? Aku berencana untuk memasak. Bukankah oppa suka ayam caramel? Aku sudah berlatih dan ayam caramel buatanku sangat enak. Maukah oppa–”

“Aku bilang aku sibuk!” Namjoon menoleh dan membentak Wendy hingga gadis itu seketika membungkam mulutnya.

“Oppa, tapi besok lusa adalah hari natal. Kita harus jadi anak baik agar santa claus memberikan kita hadiah.”

“Aku tidak menginginkan hadiah apapun.”desisnya. “Yang aku mau hanya kau pergi dari hidupku.” Nada suaranya meninggi. “Aku harap kau pergi dan tidak pernah muncul di hidupku lagi. Aku harap kau menghilang dan–”

BUGG

Suga memukul wajah Namjoon hingga ia tersungkur di tanah. Sudah ingin memberikannya pukulan lagi namun Jungkook buru-buru menahan tubuhnya.

“Ya! Hentikan Suga!”

“Apa kau benar-benar kakaknya?! Kau bahkan lebih buruk dari pengecut! Apa kau tidak sadar jika kau yang telah berkali-kali membuatnya terluka, hah?!”

Namjoon menghusap sudut bibirnya, kemudian berdiri, menatap tajam kearah Suga, “Aku tidak ingin berurusan denganmu!”

“Itu hanya masa lalu!” teriakan Suga membuat Namjoon menghentikan langkah. “Semua orang memiliki luka, tidak hanya dirimu! Semua orang pernah ditinggalkan, tidak hanya dirimu!”serunya. “Dia bahkan tidak tau jika ibunya telah meninggal. Dia tidak tau apapun! Kenapa kau melampiaskan kemarahanmu padanya?! Kenapa kau menyuruh Wendy untuk bertanggung jawab atas perbuatan yang bahkan tidak pernah ia lakukan?! Apa kau tidak berani menghadapinya?! Kau pengecut!”

Namjoon berbalik, “KAU TIDAK MENGERTI APAPUN JADI TUTUP MULUTMU!”teriaknya juga emosi hingga Jungkook harus berdiri diantara kedua pria itu, menahan mereka. “Kau tidak mengerti apapun jadi jangan campuri urusanku!”

“Ini urusanku!”balas Suga lantang. “Ini urusanku karena aku menyukainya! Kau dengar?! Aku menyukai adikmu!” Wendy tersentak, ia menghusap air matanya, menatap Suga dengan mata melebar. “Kali ini, aku yang akan memperingatkanmu, jadi dengarkan baik-baik.” Suga membalas tatapan tajam Namjoon. “Jika kau menyakitinya sekali lagi, maka aku tidak akan memaafkanmu!”

Suga lantas menarik lengan Wendy dan membawa gadis itu pergi. Namjoon melepaskan cekalan Jungkook kasar lalu menendang sebuah kerikil keras-keras.

“Brengsek! Brengsek!” umpatnya lalu menggeram keras.

Suga tidak tau jika ini adalah hal yang benar atau tidak. Dia hanya tau jika dia harus menggenggam tangan gadis yang dicintainya dan tidak melepaskannya lagi.

***___***

Pria itu membawa Wendy ke sebuah taman yang dipenuhi dengan pepohonan bunga sakura. Sebuah taman di pinggir jalan yang juga dijadikan tempat untuk berjalan kaki. Karena ini musim dingin, tidak ada bunga-bunga di batang pohon.

Keduanya duduk bersisian. Suga melepaskan sarung tangannya dan memakaikannya pada Wendy karena tangan gadis itu benar-benar dingin.

“Kau juga pernah memberikan sebuah jaket padaku, kan?” seru Wendy pelan membuat Suga menoleh. “Saat Jungkook memberikan jaket itu, dia juga memberikanku sebuah catatan kecil, dia bilang jaket itu milikmu tapi dia menyuruhku untuk berpura-pura tidak tau.”

Suga tersenyum, ia mengangguk pelan.

“Apa kau juga sudah mengetahui masalahku sejak awal?”

Suga mengangguk lagi.

“Kenapa?”tanyanya, suaranya bergetar.

Suga menatapnya dengan senyum tipis, “Kau tau seseorang yang meletakkan coklat berbentuk gitar di lokermu saat hari valentine?” tanya Suga. “Kau tau seseorang yang selalu mengirimi pesan satu kata ‘fighting’ setiap hari? Kau tau seseorang yang selalu berdiri di antara kerumunan murid saat kau melakukan pertunjukan musik di sekolah? Kau tau seseorang yang selalu memperhatikanmu diam-diam selama ini?”

“Kau?” Itu bukan pertanyaan namun pernyataan.

Suga mengangguk, “Aku hanya mengetahui sosok Wendy yang selalu bersemangat dan juga tomboy. Aku tidak pernah tau jika sosok Wendy yang selalu ku kagumi adalah gadis rapuh yang selalu berpura-pura kuat. Gadis rapuh yang selalu tersenyum saat dia menceritakan masalahnya. Aku tidak tau.”

“Suga, aku–”

“Apa kau mempercayaiku?”potong Suga menatap gadis itu lurus. Gadis itu mengangguk. “Jika kau mempercayaiku, maka menangislah. Jangan tahan air matamu karena itu justru membuatku sedih. Aku tidak akan memberitahu siapapun jika kau sedang menangis.”

Tangis Wendy pecah. Ia menundukkan kepalanya dengan isak tangis pilu yang sejak tadi sedang di tahannya. Bahunya berguncang hebat, poni rambutnya menutupi wajahnya.

Disampingnya, Suga melepaskan syalnya dan memakaikannya di leher Wendy, menutupi wajah gadis itu. Ia ingin menutupi tangisnya seperti yang biasa ia lakukan. Kali ini lebih kentara karena dia melakukan itu secara terang-terangan, berdampingan dengan gadis itu. Bahkan meminjamkan pundaknya saat kepala gadis itu menunduk, menyentuh pundaknya.

Gumpalan es lembut bewarna putih turun dari langit, perlahan menyentuh tubuh mereka, mulai menutuoi kota Seoul. Suga mengadahkan telapak tangannya sambil menatap ke langit. Merasakan salju menghujani tubuhnya.

“Mereka bilang, saat kita merasakan salju pertama, kita harus bahagia.”bisiknya. “Kau harus bahagia.”

Wendy semakin terisak. Bukankah lebih bahagia jika kakaknya juga berada disini? Bukankah lebih baik jika dia menyaksikan salju pertama bersama-sama?

Suga menghusap kepala Wendy pelan, mendorongnya ke pelukan dan merengkuh tubuh gadis itu. Ia kedinginan tapi Wendy menggigil. Gadis itu mungkin sudah kedinginan sejak tadi namun berusaha menahannya. Suga semakin mengetatkan pelukannya serta mengecup puncak kepala gadis itu.

“Terima kasih, Suga.”isaknya di pelukan Suga.

Salju pertama di kota Seoul dan dia sedang menyaksikannya bersama gadis yang dicintainya..

***___***

Suga mengantar Wendy kembali ke rumah saat jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Salju masih turun, menutupi sebagian kota Seoul. Bus malam juga sudah tidak beroperasi lagi.

“Masuklah.” Suga menyuruh gadis itu masuk ke dalam rumahnya.

“Tapi bagaimana denganmu? Apa kau tidak kedinginan? Pakai ini.” Wendy sudah akan melepaskan syal milik Suga yang di pakainya namun Suga menahan.

“Tidak usah.” Suga menggeleng. “Kau saja yang memakainya. Aku baik-baik saja. Aku akan pulang naik taksi.”

“Sungguh?”

Suga mengangguk, “Lain kali, kau harus memakai pakaian dingin yang lengkap. Jangan berkeliaran dengan pakaian tipis di musim dingin.”

Wendy menggeleng dengan senyum, “Tidak mau. Bukankah kau akan memberikan jaket atau syalmu padaku? Kau akan melindungiku, kan?”

Suga tertawa, “Tentu saja.” ia mengangguk. “Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu.

“Suga,” panggil Wendy menghentikan langkah Suga yang hendak berbalik. Suga menoleh. “Maukah kau datang besok lusa? Aku tidak mau menghabiskan malam natal sendirian.”

“Baiklah, aku akan datang.”

Suga tersenyum, lalu berbalik dan melanjutkan langkahnya.

“Suga,” panggil Wendy lagi, Suga kembali berbalik.

Wendy menunduk malu, “Bolehkah kau memelukku sekali lagi?” tanyanya pelan.

Suga terdiam sejenak, beberapa detik kemudian tersenyum dan mengangguk. Wendy berlari kearahnya dan memeluknya, menyandarkan kepalanya di pundak Suga. Dia menemukan kenyamanan.

Suga balas memeluk gadis itu, sambil sedikit membungkuk, ia juga meletakkan kepalanya di pundak Wendy.

Salju pertama di kota Seoul, dia memeluk gadis yang dicintainya.

***___***

Dalam perjalanan pulang, Suga mendapat pesan dari Taehyung yang menyuruhnya untuk menghampirinya di cafe biasa tempatnya bertengger. Ia menghela napas panjang, apa dia tidak tau jam berapa ini?

Walaupun menggerutu, Suga tetap menuruti permintaan Taehyung dan menghampirinya ke cafe itu. Lima belas menit setelah menumpangi sebuah taksi, Suga sampai di taman Hangang.

“Kau tidak tau ini sudah jam berapa?”rutuk Suga langsung menjatuhkan diri di hadapan Taehyung.

“Astaga! Apa yang terjadi padamu? Wajahmu pucat sekali.” Mata Taehyung melebar melihat keadaan Suga. “Kau kedinginan? Kenapa kau tidak memakai syal dan sarung tangan?”

“Jangan bertele-tele, apa maksudmu menyuruhku kemari?”

“Aku sungguh mengkhawatirkanmu.”balas Taehyung sedikit tersinggung. Suga hanya tersenyum. “Sebenarnya begini– oh, kau sudah datang?”

Suga menoleh kebelakang dan terkejut begitu mendapati Jungkook dan Namjoon sedang berjalan kearahnya.

“Ah, dengan siapa dia?”gumam Taehyung pelan, tidak mengenal siapa yang dibawa Jungkook bersamanya.

“Aku pikir kau sudah pulang.” seru Jungkook begitu melihat Suga, kemudian pria itu menjatuhkan diri di sampingnya sedangkan Namjoon disamping Taehyung.

“Kalian tidak pulang bersama?”

“Tidak. Terjadi insiden kecil jadi kami berpisah.” Jungkook tersenyum. “Oh, kemana syal dan sarung tanganmu? Bibirmu bewarna biru. Kau kedinginan?”

“Aku tidak apa-apa.”jawabnya singkat. Namun, Jungkook dan Namjoon sama-sama tau kemana dua barangnya itu menghilang.

Namjoon melepas jaketnya dan memberikannya pada Jungkook, “Suruh dia pakai ini.”

Suga sedikit tersentak namun buru-buru menolak jaket pemberian Namjoon barusan, “Tidak perlu. Aku tidak apa-apa.”

“Tapi wajahmu pucat.”

“Pesankan aku coklat panas, aku akan membaik.” ia tetap bersikeras.

“Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan, huh? Kau mau mandi salju? Mau jadi makhluk es?” Taehyung mengomelinya sambil menyeruput cappucino panasnya pelan-pelan.

“Hey, aku belum mengenalkan temanku padamu.” seru Jungkook. “Dia adalah Kim Namjoon, seniorku di sekolah sekaligus rekan kerjaku.”

Ucapan Jungkook seketika membuat Taehyung tersentak, tanpa sengaja bibirnya tercelup ke dalam cappucino panasnya membuatnya langsung meletakkan gelas yang dipegangnya dan menghusap-husap bibirnya.

“Panas… panas….”

“Astaga, kau meninggalkan kesan bodoh di perkenalan pertama kalian.” Jungkook geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu.

“Siapa tadi namanya? Kim Namjoon? Hey, kenapa kau bawa dia kemari?”ketus Taehyung seketika kesal, “Dia yang memukul Suga waktu itu, kan? Yang membuat kekasihku harus menempelkan plester di sudut bibirnya karena khawatir.”

“Kau kesal dengannya karena dia telah memukulku atau karena rasa cemburu kekanak-kanakkanmu itu?”dengus Suga.

“Siapa yang kekanak-kanakkan?”balas Taehyung tak mau kalah.

“Maafkan dia, dia adalah orang yang paling kekanakkan di antara kami.” Jungkook menjelaskan itu pada Namjoon membuat Taehyung sontak melotot.

“Kau mengatakan itu pada musuh, Jeon Jungkook?! Sungguh? Kau mengatakannya?!” Taehyung geleng-geleng kepala, memperlihatkan ekspresi kecewanya yang justru dianggap Jungkook sebagai tingkah kekanakkannya yang lain.

“Aku… ingin minta maaf.”suara Namjoon tiba-tiba terdengar. Suga menatapnya. “Aku pikir aku memang telah melakukan banyak kesalahan hanya karena kemarahanku atas perceraian orang tuaku dan meninggalnya ibuku. Aku pikir aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri karena itu.”

Namjoon mengangkat tatapannya, membalas tatapan Suga.

“Kau benar, aku terlalu pengecut untuk menghadapi segala sesuatu yang terjadi dalam hidupku. Dan kesalahan terbesarku adalah, aku membuat adikku menangis.” suaranya terdengar pelan. “Terima kasih karena kau telah menjaga adikku dan selalu membuatnya tertawa.”

Suga hanya diam. Kekesalannya luntur seketika mendengar pernyataan Namjoon barusan. Jika saja Wendy bisa mendnegar ini. Dia pasti akan sangat senang.

“Hey, lelaki memang harus berani menghadapi tantangan hidup sebelum disebut lelaki sejati.”ucap Taehyung dengan nada santai andalannya. “Sepertiku,” ia menunjuk dirinya sendiri kemudian tersenyum lebar.

Jungkook mendengus, “Cih, berani kepalamu. Kau bahkan mengkerut saat Shannon mulai memarahimu.”

Mata Taehyung kembali melebar, “Jeon Jungkook, kau membuka aibku lagi padanya? Ini sudah dua kali.”

Jungkook terkekeh geli, Namjoon ikut terkekeh.

Taehyung menarik napas kesal, “Begini saudara-saudara, aku mengundang kalian kemari, bahkan membayar makanan kalian untuk mengatakan sesuatu. Kenapa kalian justru mengabaikanku dan mengurusi urusan kalian masing-masing, huh? Apa aku tidak terlihat? Apa aku hantu?”

Astaga, dia mulai lagi….

“Baiklah, KimTaehyung yang sudah membayar makanan kami, apa yang ingin kau katakan?” Suga menahan-nahan kesabarannya.

“Kalian tau, besok lusa adalah malam natal.”

“Lalu?”

“Aku tidak memiliki seseorang untuk mengahbiskan malam natal bersama.” Ia memasang ekspresi sedih, “Kalian pergi bersamaku, ya?”

“Maafkan aku, tapi aku sudah punya janji dengan Wendy.” Suga menjadi penolak pertama. “Hyung, kau juga ikut, kan?” ia bertanya pada Namjoon.

“Eum… bolehkah?”

“Tentu saja, bukankah dia yang mengundangmu pertama kali?”

Taehyung mendesah, “Jungkook, bagaimana denganmu?”

“Aku harus kerja.”balasnya enteng. “Aku tidak bisa menghabiskan waktuku secara sia-sia lagi denganmu.”

“Apa kau harus bekerja di malam natal, huh?! Kau ini, mau mengumpulkan uang seberapa banyak?”omel Taehyung kesal.

“Kenapa kau tidak pergi dengan Shannon?”tanya Suga.

“Dia tidak mau menghabiskan malam natal hanya berdua denganku, dia bilang dia lebih baik pergi ke gereja.”

Jungkook tertawa geli, “Kau bahkan di tolak oleh kekasihmu sendiri.”

“Suga, aku ikut denganmu, oke?”

“Apa? Ikut denganku? Tidak!”

“Pokoknya aku ikut denganmu!”

***___***

24 Desember, Malam natal…

Suga hanya bisa menghela napas dan menghusap-husap dadanya, menahan-nahan kesabarannya pada sahabatnya yang menyebalkan itu. Dia benar-benar memaksa untuk ikut pergi ke rumah Wendy hingga akhirnya membuat Suga terpaksa membujuk Shannon untuk ikut bersama mereka juga. Jungkook juga ikut hadir karena dipaksa oleh Namjoon untuk membolos.

Mereka semua – kecuali Namjoon – telah berdiri di depan pintu rumah Wendy. Rumahnya sangat besar dan megah.

Suga menekan bel beberapa kali hingga akhirnya seseorang membukanya. Ternyata Wendy.

“Hai,”sapanya.

“Maafkan aku, aku membawa banyak pasukan.” Suga menggaruk belakang kepalanya kikuk.

“Waah, pasti akan jadi ramai! Menyenangkan sekali! Ayo masuk!”

Wendy mempersilakan para tamunya masuk. Mereka menuju ruang tengah rumah Wendy yang telah dihiasi berbagai hiasan natal, serta pohon natal besar yang telah dihias lampu-lampu dan pernak-pernik,

“Rumahnya besar sekali.”bisik Shannon pada Suga.

Suga mengangguk, “Mungkin dapur rumahku hanya sebesar teras rumahnya.” kemudian keduanya terkekeh.

Taehyung langsung menarik kekasihnya itu ke sisinya, kemudian mencibir pada Suga, lagi-lagi menunjukkan rasa cemburu kekanak-kanakkannya.

“Silakan duduk. Kalian mau minum?”

“Tentu saja! Kami haus.”koar Taehyung yang langsung mendapat pukulan dari Shannon.

Gadis cantik itu tersenyum, “Mau aku bantu?”

“Sungguh? Tentu saja.”

Kedua gadis itu kemudian berjalan menuju dapur, membuatkan minuman untuk yang lain.

“Maafkan aku, aku jadi merepotkanmu.”

“Tidak apa-apa.” Shannon menggeleng. “Apa kau hanya tinggal sendiri di rumah ini?”

“Ada ayahku tapi beliau sedang berada di luar negeri. Para pembantuku mengambil cuti adi aku sendirian.”

Shannon mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti, kemudian ia mengulurkan tangan, “Kita belum berkenalan. Aku Shannon.”

Wendy tersenyum, membalas uluran tangan Shannon, “Aku tau dirimu. Siapa yang tidak mengetahuinya?” kemudian terkekeh.

Shannon tertawa malu, “Aku juga tau dirimu, kau sangat populer.”

“Eiy, tidak sepetimu.”

Shannon terdiam sejenak, tak lama ia berseru, “Suga adalah pria yang baik. Dia adalah sahabatku sejak kecil. Sejak dulu, aku selalu mengkhawatirkannya dalam berbagai hal hingga dia menganggapku seperti ibunya sendiri.” Ia tertawa. “Tapi sekarang, sepertinya aku tidak perlu khawatir lagi karena ada dirimu.”

Wendy tertegun. Shannon menepuk pundaknya sebelum ia membawa nampan berisi gelas keluar, “Tolong jaga Suga kami.”

***___***

“Wendy, kenalkan , dia adalah Shannon.”

“Kami sudah saling berkenalan di dapur tadi.”balas Wendy.

“Oh, benarkah? Kalau begitu kenalkan temanku yang lain, dia adalah–”

“Aku tau kalian semua.” Gadis itu tersenyum. Ia menunjuk Taehyung, “Si pembuat onar yang berkelahi dengan Hoseok waktu itu dan…” ia menunjuk Jungkook. “…sahabat kakakku dan sahabatku juga.”

Jungkook tersenyum.

“Siapa yang pembuat onar? Aku sudah mulai menjadi anak yang baik.”

“Anak baik pantatku.” cibir Jungkook.

“Ya! Ini malam natal, jangan buat keributan denganku!”

Jungkook terkekeh kemudian pindah tempat ke samping Suga, menjauhi Taehyung.

“Kau sama saja kekanakkan sepertinya.” Suga mencibir pada Jungkook. “Ah ya, aku punya hadiah untukmu.”

Kening Wendy berkerut, “Hadiah? Untukku?”

Suga mengangguk, “Tutup matamu.”

Taehyung mendengus pelan, “Cih, apa-apaan mereka ini? Bersikap romantis di depanku.”

Mendengar itu, Shannon menyiku perutnya pelan, “Bisakah kau diam?”

“Hehehe.. Baiklah, kekasih Taehyung.”

Wendy menuruti ucapan Suga, ia menutup matanya.

“Kau tidak boleh mengintip, mengerti?”

“Aku tidak mengintip.” Wendy menggeleng.

Suga menoleh ke belakang, mengisyaratkan seseorang untuk masuk. Orang itu melangkahkan kakinya pelan, tanpa suara, seperti mengendap-endap kemudian duduk di hadapan Wendy.

“Kau siap?”tanya Suga.

“Aku siap!”

“Buka matamu.”

Wendy membuka matanya perlahan. Langsung mendapati wajah seseorang yang sedang duduk di hadapannya. Wajah yang sangat ia kenal walaupun mereka telah berpisah lama. Wajah yang tidak akan pernah dilupakannya. Wajah yang selalu ia rindukan.

Wajah gadis itu memanas, ia tidak mampu menahan air matanya lagi karena rasanya terlalu bahagia. Ini bukan mimpi, kan? Ini adalah kenyataan. Yah, ini bukan hanya sekedar ilusinya.

“Oppa!”

Wendy memeluk Namjoon erat-erat dan menangis di dadanya. Seperti takut jika dia akan kehilangan lagi, seperti takut jika kakaknya akan pergi lagi. Ia menangis sejadi-jadinya, menumpahkan seluruh kesesakkan yang selama ini mengganjal di dadanya, meubahnya menjadi kelegaan dalam yang membuatnya bisa menghirup udara dengan bebas.

“Oppa, maafkan aku.”isaknya.

“Tidak, oppa yang bersalah. Oppa meninggalkanmu dan selalu membuatmu menangis.”seru Namjoon serak. “Maafkan oppa. Oppa tidak akan meninggalkanmu lagi.”

***___***

Jungkook hanya bisa menghela napas panjang karena kini ia ditinggalkan bersama Namjoon di salah satu kursi taman Hangang. Taehyung dan Shannon sedang berjalan-jalan, begitu juga Suga dan Wendy.

“Akhirnya, yang tidak memiliki pasangan selalu ditinggalkan.”desahnya panjang.

Namjoon tertawa, “Kau tidak menganggapku? Aku pasanganmu sekarang.”

“Hyung, tolonglah. Jangan merusak image manly-ku. Sudah cukup aku diejek menyukai sesama jenis dengan Taehyung dan Jimin. Jangan semakin merusaknya.” dengsu Jungkook kesal.

“Ah, yah, Jimin. Ngomong-ngomong bagaimana kabarnya sekarang?”

“Dia masih menjalani pertukaran pelajaran di China. Mungkin minggu depan akan pulang. Aku sudah kesepian karena selalu duduk sendiri selama beberapa bulan ini.”

“Lihat! Kau sendiri yang merusak image-mu.”

Jungkook mencibir, “Tsk, menyebalkan.”

Namjoon semakin tertawa geli, “Suga adalah pria yang baik, kan? Dia tidak akan menyakiti Wendy, kan?”

“Tidak akan.” Jungkook menggeleng. “Jika kau menyerahkan adikmu pada pria seperti Taehyung, mungkin kau perlu mengawasinya.”serunya sembari terkekeh.

“Kenapa dia?”

“Lihat saja bagaimana Shannon selalu kesal dalam menghadapinya.”

“Aku pikir, aku justru akan khawatir jika menyerahkan adikku padamu.”

Jungkook sontak menoleh, “Kenapa aku?!”protesnya tidak terima.

“Apa kau pernah memikirkan perempuan sekali dalam hidupmu? Ku lihat kau tidak pernah dekat dengan satu perempuan pun. Kau selalu bekerja.”

“Aku tidak punya waktu untuk hal-hal seperti itu.”

“Tapi bukankah kau memiliki penggemar rahasia?” tanya Namjoon. “Gadis yang selalu mengikutimu itu.”

Jungkook sontak mendesah panjang, “Dia bukan penggemar rahasia tapi secara terang-terangan mengikutiku. Ah, jangan dibahas lagi. Ini malam natal, suasana hatiku jadi buruk jika mengingatnya.”

“Oppa!” Tiba-tiba Wendy dan Suga muncul. “Aku membelikan kalian coklat panas.”seru Wendy sambil memberikan gelas coklat panas pada Namjoon dan Jungkook.

“Apa aku sudah boleh pulang? Aku ingin tidur.”rutuk Jungkook kesal. “Kalian berjalan-jalan sedangkan aku disini bersama dengan lelaki ini.”

“Jika kalian kedinginan, kalian bisa memeluk satu sama lain.”ejek Suga yang langsung mendapat tendangan di kakinya dari Jungkook.

“Hey, jika kau menyakiti adikku, hidupmu tidak akan panjang, mengerti?!”ancam Namjoon lalu tersenyum.

“Tidak akan.” Suga menggeleng mantap. “Aku tidak akan menyakitinya.”

Wendy, saat kau merasa kedinginan, peluk aku dengan erat. Saat kau kehilangan arah, genggam tanganku dan percaya padaku. Jangan menyembunyikan air mata di balik senyumanmu lagi, karena mulai sekarang, aku ingin kau menjadi Wendy yang selalu aku kenal.

END

13 thoughts on “Bangtan’s Story [Suga’s Version] : Hold Me Tight [2/2]

  1. Annisa Icha berkata:

    Sweet couple!
    FFnya lucu, bikin geregetan, bikin gemes bacanya
    Apa sebentar lagi versi Jungkook? Semoga iya!
    Ditunggu versi lainnya…
    Semangat!

  2. Kindly Bi berkata:

    ceritanya saling menyangkut satu sama yg v story..
    oh mija keren..
    makin suka aja sama cerita nya..

    d tunggu version yg lainnya

    thor oh mi ja daebak
    *nunjukin4jempol*

  3. HunHo_Suho berkata:

    Ya ampun !!! Lebih sweet yg suga sama wendy
    .. meskipun iming-iming konflik nya udh biasa tapi suerr deh mija eonni ini keren banget !!!!! Aneh aja gitu si namjoon jdi seorng kakak. Apalagi pas si suga manggil si namjoon ‘Hyung’ di situ sya mikir kan si suga lebih tua dri si namjoon … ah itu gk penti. Yg penting nih ff keren banget !!!!! Di tunggu untuk version yg lain nya !!!! Next cast itu jungkkok atau j-hope ??
    Dan juga di tunggu karya mu yg melayang dengan bebas nya di udara itu mija eonni !!!! SEMANGAT !!!!!!!!

  4. bangminaah4 berkata:

    Ffnya seru bangeet! Gemes bangettt suganya gombal ke wendy ih lucu banget>< semoga cerita selanjutnya jungkook deh. Kasian dia udah jones gitu(?) xD
    Ditunggu next storynya

    Fighting ohmija-nim!

  5. alya94ohsehun berkata:

    annyeong.. aq bukan reader baru di blog ini.. mianhae, baru bisa koment.. ff karya oh mija selalu jadi favorit.. di tunggu karya2 selanjutnya..

  6. Mrs. Yehet berkata:

    waah bagus bagus,, akhirnya mereka jadian
    next versionnya jungkook dong author nim
    keke
    keep writing for next chapter

  7. Oh Min Joo berkata:

    Seru =)) Malahan gua lebih suka yg suga version drpd yg V, thor.
    Ampuni diri ku thor. =))
    Ehh, pdhl gua ngira nya Krystal loh, tau nya wendy, prnh kepikir wendy tapi ntah knp lebih yakin ke Krystal, ehh taunya beneran wendy :3
    Lanjut terusss thor, maap baru komen, kemaren baru baca yg part satu, ps liat beranda udh ada part 2 nya, jadi gua kepikiran buat komen di part 2 aja.😀 Hihihi, maapkan diriku thorrrrrr .

    Lanjutttttttt, gua tebak setelah ini pasti Jungkook, ditunggu yaa~~
    Jungkook is my bias xD
    Yg J-Hope cepetan dong!!! Penasaran kan, giman dia ketemu pengganti Shannon. Lagian gua ga setuju kalo dia ama Shannon :p =_=
    Cepetan ya thorrrr, udh yg Jungkook, langsung yg J-Hope, penasaran kopelnya siapa, gua ketebak kemaren baca clue nya :v

    Maap kepanjangan thorrr, lanjut, Hwaiting my favourite author!! ^-^)9

  8. Jung Han Ni berkata:

    ya ampun taehyung lucu bgt pas kenalan sama namjoon😀 suga baik bgt sama wendy, sampe rela kedinginan, dan akhirnya wendy dan namjoon kembali kaya dulu lagi🙂 aku suka eon ceritanya!😀 ga sabar sama partnya jungkook heheh

  9. desy berkata:

    V-Kook noumu kyeopta!!!
    Sumpa jungkook bikin ngakak😀
    Ini mah romance yang bagus baget😥 ya walaupun hatiku sakit baca suga romantis*an sama wendy yang juga biasku :”'(

  10. chocochipkun berkata:

    Yaampun, aku reader baru disini dan ff ini adalah hasil rekomendasi dari seorang teman.
    Aku suka tiap dialog dan momentnya Jungkook dengan cast yang lain, image nya dibuat dewasa tapi terlihat sarkastik lol.
    Fanfic nya easy dan seru buat dibaca, aku suka school life.
    Buat author sukses dan semangat terus bikin fanfic nya

  11. Taehyungie berkata:

    Ya ampun mereka lucu😍😍😍 apalagi taehyung ahhh love lah😄😄 Bagus thorrrr hehe sekarang aku mau lanjut ke yg lain dulu😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s