Bangtan’s Story [Suga’s Version] : Hold Me Tight [1/2]

 BTS - Hold Me Tight

Tittle  : Hold Me Tight

Author  : Ohmija

Main Cast  : Suga BTS, Wendy Red Velvet

Support Cast  : V, Jungkook, Rap Monster BTS, Shannon William

Genre  : Romance, School Life, Friendship

Min Suga, pria yang mendadak namanya mulai di kenal seantero sekolah karena menjadi sahabat Taehyung, siswa baru berwajah tampan yang berhasil mengalahkan sang panglima perang SMU Yonsei, Jung Hoseok.

Dia juga menjadi perbincangan murid-murid setelah insiden pemukulan waktu itu. Nyaris kehilangan beasiswanya, Suga meyakinkan seluruh guru dan kepala sekolah jika dia tidak berkelahi. Dia bilang, dia hanya di hadang oleh orang-orang tak dikenal yang memaksanya untuk menyerahkan sejumlah uang.

Namun setelah Hoseok mengakui perbuatannya, Suga justru dianggap sebagai pria bijaksana yang mau melindungi musuhnya sendiri.

Banyak kejadian terjadi selama dua bulan terakhir. Sekarang tidak hanya Hoseok, namun Taehyung juga cukup di takuti karena ayahnya juga menjadi penyumbang dana terbesar sekolah. Posisi mereka kini sejajar. Hubungannya dengan Shannon juga masih berjalan baik. Ah tidak terlalu baik sebenarnya karena dia masih saja mengganggu gadis itu.

Suga meninggalkan perpustakaan setelah ia berhasil menemukan solusi atas soal aljabar yang rumit. Baru satu langkah meninggalkan pintu perpustakaan, ia sudah disambut dengan rangkulan yang tak lain berasal dari Taehyung.

“Sepulang sekolah nanti, ayo ke taman Hangang.”

“Sudah ku peringatkan untuk tidak bicara dengan nada bersemangat seperti itu. Tidak sesuai dengan suaramu.” dengus Suga tanpa menoleh.

Taehyung seketika mencibir, ia memukul pelan bahu sahabatnya itu, “Mau atau tidak?!”tanyanya kesal. “Bolos lah satu hari. Kita main basket.”

“Jika aku membolos, aku akan kehilangan beberapa ribu won.”

“Cih, apa yang ada di otakmu hanya uang?”

“Banyak hal yang ada di otakku, sedangkan kau tidak memiliki apapun.” Suga menyeringai, kemudian berjalan dengan langkah-langkah panjang, mendahului Taehyung.

Taehyung terdiam sejenak, memikirkan ucapan Suga barusan. Beberapa saat setelah ia sadar, ia mendelik, “Ya! Maksudmu aku tidak memiliki otak?!”

***___***

Sore hari sepulang sekolah, Taehyung berhasil membujuk Shannon dan Suga untuk membolos. Tidak hanya satu tapi dia mendapatkan dua korban sekaligus. Ini hebat.

Mereka bertiga tiba di taman Hangang dan menuju lapangan basket. Namun Taehyung menghentikan langkahnya ketika ia melihat Jungkook sedang mengobrol dengan seorang gadis. Shannon dan Suga ikut menghentikan langkah mereka, dengan bingung memandang Taehyung lalu mengikuti arah pandangan pria itu.

Seketika mata Suga membulat lebar. Astaga… apa dia tidak salah lihat?

Taehyung menyipitkan matanya, sedikit menjulurkan kepalanya untuk memperjelas penglihatannya. Itu benar Jungkook dan dia sedang bicara dengan seorang gadis sekarang. Gadis berkulit putih yang juga sangat cantik. Gadis itu menundukkan kepalanya, sepertinya terlihat sedih dan Jungkook menghusap kepalanya setelah itu.

Sebuah hal yang mampu membuat Taehyung terperangah hebat hingga ternganga lebar. Dia bahkan menghusap-husap matanya untuk memastikan sekali lagi jika yang disana itu benar-benar sahabatnya.

Iya itu Jungkook. Tidak salah lagi, itu dia.

Tapi, apa yang sudah dia lakukan tadi? Menghusap kepala seorang gadis? Ini pertama kalinya Taehyung melihat hal itu. Apa Jungkook mulai menyukai seorang gadis juga?

Saat Taehyung tenggelam dalam rasa terperangahnya atas sikap lembut Jungkook pada seorang gadis, di sebelahnya, Suga justru membeku. Ia ikut terperangah namun rasa terperangahnya berbeda dari rasa terperangah Taehyung.

Dia terkejut dan… kecewa?

“Bukankah itu Wendy?” Akhirnya Shannon berseru. “Dia murid kelas 2-1, kan?” ia melirik Taehyung dan Suga.

“Dia murid Yonsei? Gadis itu?” Taehyung terkejut.

“Memangnya kau tidak tau?” Taehyung menggeleng. “Perhatikanlah lingkungan sekitarmu.”

Taehyung tersenyum lebar lalu merangkulkan salah satu lengannya di pundak Shannon, “Karena aku selalu melihatmu, chagi.”

“Hentikan!” Shannon membuang lengan Taehyung yang melingkar di pundaknya kesal. “Jangan bicara lagi padaku, mengerti?”

Taehyung semakin tertawa geli. Mereka bertiga menghampiri Jungkook bersamaan dengan gadis yang bernama Wendy itu berjalan pergi meninggalkan lapangan basket.

“Jadi ternyata Jeon Jungkook mulai menyukai seorang gadis.” Taehyung bersiul menggoda membuat Jungkook menoleh.

“Oh, kau datang?”

“Kau kenal dia?”tanya Shannon.

Jungkook mengangguk, “Baru mengenalnya beberapa hari lalu. Dia satu sekolah dengan kalian, kan?”

“Jadi kau juga menyukai gadis-gadis berwajah asing? Kau memang sahabatku!” Taehyung merangkul pundak Jungkook.

“Diamlah.” Jungkook mendorong sahabatnya itu lalu menggeleng. “Aku tidak menyukainya. Ada hal lain.”

Taehyung mendengus kesal, “Kenapa semua orang menolak untuk ku rangkul?!”rutuknya. Usaha terakhirnya, ia merangkul Suga, satu-satunya orang yang tidak menolak rangkulan itu. “Ternyata hanya kau sahabat sejatiku.”

Suga mengalihkan tatapan dari tempat dimana Wendy menghilang, ia menoleh ke kanan dan mendapati wajah bodoh Taehyung yang sedang tersenyum kearahnya. Seketika ia juga mendorong pria itu.

“Apa yang kau lakukan? Jangan sentuh aku!”

“Dasar menyebalkan. Aku tidak akan menyentuhmu lagi. Berdiri jauh-jauh dariku!” rutuknya kesal, wajahnya cemberut.

“Min Suga?” Jungkook melirik name tag seragam Suga. Ia mengulurkan tangannya, “Aku Jeon Jungkook dari SMU Haeksang.”

Suga membalas uluran tangan Jungkook, “Aku tau. Orang ini cukup banyak menceritakanmu.”

Kening Jungkook seketika berkerut, ia menatap Taehyung dengan mata menyipit, “Apa yang kau katakan padanya? Kau mengatakan hal-hal buruk tentangku?”

“Apa kau pikir kau punya sisi baik? Semua tentangmu adalah hal yang buruk!”dengus Taehyung masih kesal.

Jungkook mencibir. Ia melemparkan bola basket yang ia pegang pada Suga. “Abaikan dia. Ayo main!”

Shannon tertawa geli melihat Taehyung yang semakin cemberut. Ia menepikan dirinya dan duduk di anak tangga di tepi lapangan.

“Shannon, kau meninggalkanku juga?” Dari tengah lapangan Taehyung berteriak. Shannon hanya menjulurkan lidahnya kemudian tertawa.

***___***

Suga pikir dia harus menyerah sekarang sebelum terjatuh terlalu dalam. Menjadi pengagum rahasia ternyata melelahkan. Kenyataan yang ia dapati jika ternyata Jungkook dan Wendy ternyata memiliki hubungan dekat semakin membuatnya terpaksa untuk mundur.

Kalah sebelum berperang. Menyedihkan sekali.

Suga menuju balkon sekolahnya yang terletak di lantai paling atas. Sebuah balkon yang menyerupai teras karena terdapat beberapa pot-pot bunga. Dari sini, ia bisa melihat seluruh bagian sekolah.

Pria bermata kecil itu berjalan mendekati pagar besi, ia meletakkan kedua tangannya diatasnya. Sambil menghela napas panjang-panjang, dia mencoba untuk mengobati kesedihannya sendiri.

Son Wendy, seorang gadis yang sudah mencuri hatinya sejak hari pertama masuk sekolah. Seorang gadis cantik yang memiliki wajah perpaduan Amerika dan Korea. Kulitnya putih bersih juga memiliki senyum yang cemerlang. Rambutnya panjang gelombang bewarna cokelat keemasan dan dia tidak terlalu tinggi.

Di SMU Yonsei, selain Shannon, Wendy juga cukup populer karena dia menjabat sebagai ketua klub musik. Suga pernah menonton pertunjukan drama musikal kelasnya dan semakin terpesona. Dia pandai bernyanyi dan bermain alat musik. Benar-benar sempurna.

Hanya saja, terdapat jarak yang membentang sangat jauh diantara mereka. Serta perbedaan kasta dimana Suga hanyalah murid beasiswa biasa sedangkan Wendy, seperti seorang putri yang cantik dan selalu diantar dengan mobil mewah setiap hari.

Dia seperti bintang, terlalu jauh untuk diraih.

Suga menghembuskan napas panjang dan berat. Hingga tiba-tiba ia mendengar suara isak tangis seseorang. Ia sontak menoleh ke belakang, menoleh ke kiri dan kanan, mencari sumber suara.

Berjalan kearah kiri, di sebuah sudut yang tertutupi oleh pot-pot gantung. Suga menemukan seseorang sedang duduk sambil memeluk lututnya. Kepalanya ia tundukkan dalam-dalam dan kedua bahunya berguncang.

Suga berlutut di sisi gadis itu, “Kenapa kau menangis?”tanyanya hati-hati.

Gadis itu mengangkat wajahnya, memperlihatkan wajahnya yang memerah dan basah. Suga seketika tersentak, gadis itu… Wendy!

“W-wendy?” ia tergagap, kehilangan kata-katanya.

“Kau… hiks… mengenalku?”

Siapa yang tidak mengenalmu? Suga berseru dalam hati.

Ia mengangguk sambil menggaruk tengkuk belakang kepalanya kikuk, “Yeah.”

“Maafkan aku, ku pikir tidak ada orang disini.”seru gadis itu lagi sambil terisak.

Suga buru-buru mengeluarkan sebuah sapu tangan dari saku blazernya dan memberikanya pada Wendy.

“Maafkan aku karena aku tidak sengaja mendengarnya.”balas Suga pelan.

Wendy menerima sapu tangan pemberian Suga kemudian menggeleng, “Tidak apa-apa. Terima kasih.”

Suga menatap Wendy yang sedang menghusap air matanya itu sejenak. Ia tertegun namun buru-buru menggelengkan kepalanya, membawa kembali kesadarannya sebelum melayang terlalu jauh,

“Jangan menangis lagi… sebentar lagi… kelas akan di mulai.” Ia terbata lalu berdiri dan berbalik pergi.

***___***

Suga pikir dia sedang bermimpi tadi. Beribu-ribu kali ia yakini dirinya jika semua ini bukan ilusi, tapi kenyataan. Dia bertemu dengan Wendy, bisa menatap wajahnya dari dekat dan semakin menyadari jika gadis itu memang sangat cantik.

Bahkan saat menangis, dia masih terlihat lucu.

“Kenapa kau senyum-senyum seperti itu?”

Tiba-tiba seseorang menyadarkannya, Suga langsung menghilangkan senyumnya dari wajahnya dan mendorong tubuh Taehyung.

“Minggir.” serunya lalu melewati pria itu.

“Kenapa kau senyum-senyum? Apa yang sedang kau pikirkan?” Taehyung mengejar di belakangnya, bertanya lagi.

“Tidak ada.” jawab Suga pendek lalu berdiri di depan mesin minuman dan memasukkan sebuah koin. Ia memilih minuman soda untuk menyegarkan pikirannya.

Taehyung menyipitkan matanya, “Apa kau habis menonton film porno?”

Suga seketika menyemburkan minumannya yang baru saja dia teguk, tanpa sengaja mengenai lengan blazer Taehyung yang membuat pria itu langsung menjerit kesal.

“Apa yang kau lakukan?!”

Tak kalah terkejut, Suga mendelikkan matanya kearah Taehyung, “Apa kau tidak pernah menggunakan otakmu ketika berbicara?”omelnya sedikit tersinggung. “Apa kau pikir aku sepertimu?”

“Aku tidak pernah menonton film itu sebelum aku legal.” Pria itu mengelak. “Melihat ekspresimu, sepertinya yang ku katakan adalah hal yang benar. Akh, seragamku jadi kotor.”

Keduanya melanjutkan langkah bersama menuju kelas. Suga menghela napas panjang, “Itu tidak benar. Sebagai laki-laki, aku memang penasaran dengan hal itu tapi aku belum legal.”

“Lalu kenapa kau tersenyum seperti orang gila?”

Suga menghentikan langkahnya, menatap sahabatnya itu, sekali lagi dengan hembusan napas panjang, “Aku–”

“Hey, kau.” Tiba-tiba seseorang muncul membuat keduanya menoleh. Seorang gadis yang kini wajahnya dihiasi dengan senyum lebar, menepuk lengan Suga, “Aku akan mengembalikan ini nanti.” Ia menunjukkan sapu tangan biru milik Suga. “Terima kasih.”ucapnya lalu bergegas pergi.

Namun baru beberapa langkah, gadis itu menoleh ke belakang kembali, “Siapa namamu? Dan dimana kelasmu?”

Suga tertegun, suaranya seperti tersangkut di pangkal tenggorokannya. Taehyung menyenggol sikunya membuatnya dia kembali pada kenyataan.

“Oh, aku… Min Suga dari kelas 2-4.”

“Baiklah. Sampai jumpa nanti.”

Suga masih memandang punggung gadis itu hingga ia menghilang di ujung koridor. Taehyung yang menyadari keanehan sikap Suga, sekali lagi menyenggol sikunya.

“Bukankah dia gadis yang kemarin?”

“Yeaah.”balas Suga pelan.

“Jadi dia gadis yang kau sukai itu?”

Mata Suga melebar, “Apa yang sedang kau katakan?!”

“Jangan berpura-pura. Semuanya jelas terlihat di matamu.”

Suga mulai kesal, ia membungkam mulut Taehyung lalu menyeretnya pergi menuju kelas, “Aku harap kau menutup mulutmu.”

***___***

“Ayo, beritahu aku. Gadis yang kau sukai adalah Wendy, kan?” Taehyung membuntuti Suga hingga ke tempat kerjanya demi mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang sejak tadi ia lontarkan. “Kau menyukainya, kan?”

Suga menghela napas panjang, “Kenapa kau tidak perg ke cafe tempat Shannon bekerja saja?”ketusnya.

“Dia mengusir dan memarahiku. Dia bilang aku tidak boleh menyewa cafe itu lagi.” Ia mendesah mengingat bagaimana dia di marahi oleh kekasihnya waktu itu.

“Kau ini, suka sekali menghambur-hamburkan uang. Berapa biaya yang kau keluarkan kali ini?”tanya Suga lagi sambil memandang ke seluruh sudut cafe. “Pasti mahal.”

“Berjanjilah padaku kau tidak akan bilang Shannon tentang hal ini.” Taehyung menatap Suga dengan mata menyipit. “Jika kau mengatakannya, maka–”

“Apa?” balas Suga menantang. “Kau mau apa?”

‘Taehyung berpikir sejenak, “Memberitahu Wendy tentang perasaanmu!”

“Hey, apa-apaan kau?!” Suga langsung mendelik.

“Jadi aku benar, kan? Itu dia!”

Akhirnya Suga menghela napas panjang, ia menyerah menghadapi pria ini. Percuma, dia tidak akan bisa menghindar. Meninggalkan mesin kasirnya, Suga menjatuhkan diri di depan pria itu. Tidak ada pengunjung saat ini karena Taehyung sedang menyewa tempat ini selama dua jam ke depan.

“Apa kau pikir mereka memiliki hubungan?”tanya pria berkulit putih itu hati-hati.

Kening Taehyung berkerut, “Siapa?”

“Wendy dan…” Suga mengatakannya dengan nada pelan. “Jungkook?”

Taehyung sontak tertawa, “Tidak mungkin!”elaknya. “Kau tidak dengar apa yang dikatakan Jungkook waktu itu saat aku bertanya tentang hubungan mereka? Dia bilang dia tidak menyukainya.”

“Tapi, mereka terlihat sangat dekat.”

“Jungkook juga memiliki beberapa fans perempuan. Mungkin Wendy yang menyukainya.” Ucapan Taehyung tersebut sontak membuat Suga menghela napas, ia membuat harapannya semakin mengecil. Menyadari itu, Taehyung buru-buru tertawa. “Eiy, aku hanya bercanda.” ia mencoba menghibur. “Jika kau ingin tau, ayo pergi menemui Jungkook dan tanyakan semuanya.”

“Apa?!” Suga terkejut. Ia langsung menggeleng. “Tidak! Jangan!”

“Kenapa? Bukankah kau penasaran?”

“Apa kau tidak memikirkan perasaan Jungkook? Bagaimana jika terjadi salah paham?”

“Salah paham bagaimana? Percayalah, Jungkook bukan orang yang seperti itu. Dia tidak berbohong terntang apapun, juga tentang perasaannya.”

“Sungguh? Apa kau pikir akan baik-baik saja?” Suga masih ragu.

Taehyung mengangguk yakin, “Jika dia bilang tidak maka tidak. Ayo, agar kau tidak penasaran.”

***___***

Ini adalah keduanya kalinya Suga membolos dari pekerjaannya. Ia mengirim pesan singkat pada atasannya dan langsung mematikan ponselnya. Beralasan jika dia sedang terkena flu berat sehingga dia harus istirahat total di kamar.

Suga mengikuti sahabat barunya, Taehyung, pergi ke taman Hangang, menemui Jungkook yang terpaksa juga meninggalkan pekerjaan part time-nya karena Taehyung terus merengek seperti anak bayi, yang membuat Jungkook hampir saja memukul wajah menjijikannya.

Pria itu sedang bermain basket saat dua sahabatnya datang. Taehyung meletakkan tas ranselnya, merebut bola yang sedang di mainkan Jungkook. Pria itu menoleh.

“Ada apa lagi? Kau bertengkar dengan Shannon? Atau mendapat masalah lagi di sekolah? Kau tau, aku sudah sangat sering meninggalkan pekerjaanku demi mengurusi masalahmu itu.” omelnya langsung sesaat setelah melihat sahabatnya itu datang, Ia berjalan menuju tasnya dan meraih sebuah botol mineral.

“Astaga, bagaimana bisa kau langsung mengomel? Bahkan aku belum menyapamu.” Taehyung bedecak. Ia mengurungkan niatnya yang semula ingin bermain basket. Ikut bergabung dengan Suga dan Jungkook, duduk di anak tangga tepi lapangan. Pria itu menyenggol bahu Suga, “Hey, bukankah ada yang ingin kau tanyakan padanya?”

Kening Jungkook seketika berkerut. Jadi ternyata ini masalah Suga?

“Apa yang ingin kau tanyakan?” Jungkook menatap sahabat barunya itu santai.

Suga terdiam sejenak. Sebenarnya dia ragu. Dia takut Jungkook akan tersinggung jika dia menanyakan hal ini. Bagaimana jika dia menyimpan perasaan pada Wendy?

“Begini,” seru Suga akhirnya. “Ini tentang Wendy.”

“Wendy?” Jungkook memutar bola matanya, mencoba mengingat-ingat nama itu.

“Sudah ku bilang, kan? Dia tidak punya perasaan apapun!” Taehyung menepuk pundak Suga. Jika Jungkook menyukainya, dia pasti akan langsung mengingat nama itu.

“Maksudmu Son Wendy? Gadis dari sekolah kalian itu?”tanya Jungkook tak lama kemudian. Suga mengangguk. “Ada apa dengannya? Apa terjadi sesuatu?”

“Tidak.” Suga menggeleng. “Hanya saja–” ia tidak melanjutkan ucapannya, menatap Jungkook ragu.

“Ada apa?”tanya Jungkook lagi.

“Hey, katakan saja.” Taehyung berseru.

Suga menarik napas panjang, “Sebenarnya Wendy adalah gadis yang aku sukai, melihatmu dengannya kemarin, aku sedikit…”

“Kau cemburu?”tebak Jungkook tepat disertai dengan senyum.

Suga menggaruk belakang kepalanya, “Bukan cemburu, hanya saja aku…”

“Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya.”potong Jungkook sembari menggeleng. “Aku mengenalnya karena kakaknya adalah senior di sekolahku. Ada masalah diantara mereka berdua dan mereka berdua melibatkanku dalam masalah itu. Hanya sebatas itu saja.”

“Cih, sepertinya kau selalu terlibat dalam urusan orang lain.”cibir Taehyung.

“Bukan terlibat tapi dilibatkan.” Jungkook memperbaiki, sedikit tersinggung.

“Benarkah?” Secercah harapan terlihat di kedua mata Suga. Pria itu tersenyum.

“Sebenarnya aku tidak ingin menceritakan hal ini tapi karena kau adalah temanku sekarang, aku akan memberitahumu sesuatu.” Ekspresi Jungkook berubah serius membuat Suga mengerutkan keningnya. “Orang tua Wendy bercerai ketia dia berumur 5 tahun. Dia memiliki kakak laki-laki bernama Kim NamJoon, dia adalah seniorku di sekolah. Wendy diurus oleh ayahnya sedangkan Namjoon hyung diurus oleh ibunya. Semenjak itu, mereka tidak pernah bertemu lagi karena Wendy kembali ke Amerika dan tinggal menetap untuk beberapa tahun. Begitu dia kembali ke Korea, dia terus berusaha mencari kakaknya karena keduanya sangat dekat ketika masih kecil.” jelas Jungkook. “Dia menemukannya beberapa tahun kemudian dan meminta kakaknya untuk tinggal bersama tapi Namjoon hyung menolak. Dia sudah terlanjur kesal dengan ayahnya dan juga Wendy karena tidak menghadiri upacara pemakaman ibu mereka.”

Mata Suga terbelalak lebar, “Ibunya sudah meninggal?”

Jungkook mengangguk, “Dua tahun setelah Wendy pergi, ibu mereka meninggal dunia karena sakit.” serunya pelan. “Selama ini, Namjoon hyung hidup seorang diri sepertiku. Kami juga bekerja di tempat yang sama dan tinggal di kawasan yang sama. Hidupnya benar-benar susah selama ini. Aku sudah berusaha menjelaskan padanya jika saat itu Wendy tidak mengetahui jika ibunya telah meninggal dan dia masih terlalu kecil untuk kembali ke Korea tapi dia tidak mau mendengar. Dia sudah terlanjur sakit hati.”

“Jadi kemarin Wendy menghampirimu karena masalah ini?”

“Dia memintaku untuk membujuk Namjoon hyung agar mau bicara dengannya. Kemarin dia menangis karena dia merasa putus asa.”

Suga begitu terperangah mendengar cerita Jungkook barusan, Ia nyaris kehilangan kata-katanya. Jadi, dibalik senyumannya saat berdiri diatas panggung, dia menyimpan sebuah luka. Dibalik sikapnya yang ceria, dia menyimpan satu kesedihan mendalam.

“Tadi siang… dia juga menangis.” Suga berseru pelan, fokusnya tak terarah. “Aku menemukannya menangis sendirian di teras atap.”

“Mungkin dia menangis karena masalah yang sama.”balas Jungkook. Kemudian ia menepuk pundak pria itu pelan. “Aku tidak terlalu mengenalnya. Tapi, setiap kali bertemu denganku, wajahnya selalu terlihat sedih.”

***___***

Suga sempat berpikir jika dia akan mundur dan merelakan perasaannya itu. Tapi, sejak mendengar cerita Jungkook, hatinya terasa kalut. Bersebrangan dengan pikirannya, hatinya tidak mau pergi.

“Min Suga!”

Suga menutup lokernya dan menoleh. Wendy berdiri tak jauh dari tempatnya dengan senyum lebar dan melambaikan tangan. Seperti biasa, gadis itu selalu bersemangat.

“Ini milikmu. Sudah ku cuci.” Wendy menyerahkan sapu tangan warna biru pada Suga dengan kedua tangan.

Suga menatap sapu tangan itu sesaat lalu menatap Wendy, “Untukmu saja.”balasnya pelan. “Untuk menghusap air matamu saat kau menangis sendirian.” kemudian ia berlalu, meninggalkan Wendy dalam rasa kebingungan.

“Apa yang dia katakan tadi?”

***___***

Suga tidak lagi menjadi pengantar ayam saat malam hari karena dia resmi di keluarkan setelah membolos selama dua hari. Atasannya tidak mau mengerti alasannya dan memutuskan untuk memecatnya.

Dengan bantuan Jungkook, Suga akhirnya di terima bekerja di sebuah coffe shop di daerah Gangnam sebagai pekerja part time malam hari. Sebenarnya semua ini adalah saran Jungkook karena dengan bekerja bersamanya, Suga juga bisa bertemu dengan Namjoon.

“Bekerjalah dengan giat.” Jungkook menepuk punggung Suga dihari pertamanya bekerja.

“Itu sudah pasti.” Suga menunjukkan ibu jarinya serta tersenyum lebar hingga matanya menghilang.

“Oh, Namjoon hyung.” Jungkook menoleh kearah seseorang yang baru saja tiba. “Kenalkan, dia adalah karyawan baru sekaligus temanku. Namanya adalah Min Suga.”

“Temanmu? Murid Haeksang?”

“Tidak.” Jungkook menggeleng. “Dia murid Yonsei. Dia adalah temannya temanku yang dulu bersekolah di Haeksang.”

“Ah,” Namjoon mengangguk-angguk. Kemudian ia mengulurkan tangannya, “Aku Kim Namjoon, murid tingkat akhir di SMU Haeksang.”

Suga memperhatikan pria itu sesaat. Wajahnya tidak terlihat ramah tapi ternyata dia cukup ramah karena mengulurkan tangan lebih dulu.

“Aku Min Suga. Aku murid Yonsei.”

“Ini hari pertamamu, kan? Bersenang-senanglah dengan kami.” Ia menepuk pundak Suga dua kali lalu berjalan melewatinya.

Suga memiliki beberapa pemikiran di kepalanya. Tentang bagaimana dengan cerdiknya orang-orang itu menyimpan rasa sakit di balik senyumnya. Seperti terlihat baik-baik saja namun kenyataannya mereka sangat rapuh.

Taehyung pernah mengatakan jika ‘Cinta bisa membuat orang menjadi bodoh’. Awalnya dia hanya berpikir jika semua itu hanyalah omong kosong. Menganggap semua hal yang dilakukan Taehyung untuk mendapatkan Shannon adalah hal-hal bodoh yang membuang-buang waktu. Tapi sekarang, saat ini dia sadar betapa berartinya hal-hal kecil seperti itu. Juga betapa bodohnya dia sekarang.

Ponselnya tiba-tiba berdering, membuyarkan lamunannya. Ia meraih benda kecil itu yang ia simpan di kantung apron yang dipakainya. Nama Shannon tertera di layar ponsel.

“Aku sedang bekerja sekarang.”bisiknya.

“Taehyung bilang kau dipecat, sungguh?”

“Iya, tapi sekarang aku sudah bekerja di tempat yang sama dengan Jungkook.”

“Dimana?”

“Di sebuah coffee shop daerah Gangnam.”

“Jadi kau sudah mendapatkan pekerjaan baru?”

“Yeah, aku tutup, oke? Aku sedang bekerja.”

Suga memutus sambungan teleponnya dan melanjutkan pekerjaan mengepel lantai. Tempat ini tidak terlalu ramai karena diluar sedang hujan. Hanya ada beberapa orang yang menempati deretan kursi di sudut ruangan. Mungkin mereka sedang berteduh.

“Selamat datang…”

Suara pintu terdengar terbuka dan Suga langsung menyambut pengunjung yang datang. Ia sedikit terkejut karena pengunjung itu ternyata Wendy. Tubuhnya setengah basah dan dia hanya mengenakan sweater abu-abu bergambar mickey mouse serta celana pendek. Gadis itu terlihat menggigil.

“Wendy?” Suga meninggalkan alat pelnya dan menghampiri gadis itu.

Gadis itu tersenyum lebar, “Kita bertemu lagi.”sapanya. “Kau bekerja disini?”

Namun Suga mengabaikan pertanyaannya, “Kau kehujanan? Kenapa tidak memakai jaket?”

“Aku…” ia memutar bola matanya. “…meninggalkan jaketku di rumah hehehe.”

“Duduklah.” Suga mendorong gadis itu ke kursi. “Kau mau pesan sesuatu yang hangat?”

Wendy mengangguk, “Tolong berikan aku cokelat panas.”

Suga berbalik, hendak menyiapkan pesanan Wendy namun matanya menangkap sosok Namjoon yang baru saja keluar dari ruang ganti baju. Ekspresinya seketika berubah, ia menatap Wendy beberapa saat lalu membuang pandangan.

Rasa tidak suka itu terlihat jelas di wajahnya. Dan saat dia melirik kearah Wendy, gadis itu menundukkan kepalanya terlihat sedih.

Suga menghampiri Jungkook yang juga baru keluar dari ruang ganti baju dan langsung mengetahui situasinya.

“Bisakah kau ambilkan jaketku di dalam loker?”pintanya pada Jungkook. “Dan tolong berikan padanya.”

Jungkook menatapnya bingung, “Kenapa tidak kau saja?”

Suga menggeleng, “Jangan katakan jika itu adalah milikku.”pintanya sekali lagi. “Aku akan membuat cokelat panas. Terima kasih.”

Jungkook hanya bisa menghela napas panjang. Jika satu temannya terlalu percaya diri, satu temannya yang ini justru kebalikannya.

***___***

Jungkook memberikan sebuah jaket bewarna biru hitam dengan gambar logo batman di belakangnya pada Wendy. Wendy mendongak dengan kening berkerut.

“Pakailah. Kau bisa kedinginan.”

“Ah, terima kasih.” gadis itu tersenyum.

Jungkook tak menjawab apapun kemudian berbalik. Saat ia berbalik, ia mendapati Namjoon yang sedang menatapnya.

“Jangan salah paham.” Ia mendesah. “Jaket itu bukan milikku.”jelasnya lalu melewatinya.

Suga meletakkan gelas pesanan Wendy di atas meja yang dibalas senyuman oleh gadis itu, “Terima kasih.”

“Minumlah agar tubuhmu lebih hangat.”

Wendy hanya mengangguk. Setelah Suga meninggalkannya, ia mengalihkan tatapan kearah lain. Senyumnya seketika menghilang dari wajahnya dan ekspresi semangatnya seketika berubah menjadi sedih.

Kenapa rasanya sesulit ini?

Ia mendesah dalam hati. Tatapannya tak lepas dari sosok laki-laki yang sangat ia rindukan itu. Bertahun-tahun berpisah, dan segalanya telah berubah. Kasih dan sayangnya tak terlihat lagi. Semuanya lenyap di makan waktu.

Di tempatnya, Suga mengikuti arah pandangan Wendy. Entah dia sengaja atau memang tidak merasakan sedang di tatap oleh seseorang. Pria itu, Namjoon, terus saja sibuk membersihkan etalase.

***___***

Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam setelah mereka bertiga selesai membersihkan coffe shop. Wendy telah pergi beberapa saat lalu, membuat Suga sangat cemas pada gadis itu karena saat ini sudah larut malam dan di luar hujan masih turun dengan deras.

Mereka menyerahkan kunci coffe shop pada manager yang baru saja datang lalu bergegas kembali ke rumah.

“Kami duluan. Sampai bertemu besok.” Jungkook menepuk pundak Suga yang baru selesai mengganti bajunya.

“Kau kerja baik hari ini.” Namjoon ikut berseru. “Kami pulang duluan.”

“Baiklah. Hati-hati.”

Suga mengangguk lalu membiarkan keduanya pergi. Setelah selesai mengancing baju, Suga membuka lokernya dan mengambil tas ranselnya. Saat dia mencari jaketnya, dia baru teringat jika tadi dia menyuruh Jungkook untuk memberikannya pada Wendy.

Hujan turun sangat deras, sudah pasti dia akan basah kuyup sampai di rumah. Tapi sudahlah, yang terpenting Wendy tidak apa-apa.

Suga keluar dari pintu belakang bangunan dan langsung menyembunyikan dirinya di balik tembok begitu melihat Namjoon, Jungkook dan Wendy ada disana.

“Oppa, sampai kapan oppa akan melakukan ini padaku? Oppa, aku mohon, maafkan aku.” Suga mengintip sedikit, melihat Wendy sedang menangis sambil memegangi tangan Namjoon.

“Hyung, hentikan ini. Lihat bagaimana menderitanya dia. Dia sangat menyesal.” Jungkook ikut berseru.

“Oppa, aku mohon. Jangan begini lagi. Oppa, aku sangat merindukanmu.”

“Pulanglah.” Namjoon beseru pelan namun jelas. Bahkan bisa terdengar di tengah rintik hujan. Ia melepaskan cekalan Wendy di lengannya. “Aku tidak akan pernah bisa kembali.” Dan setelah itu ia menarik Jungkook dan menyeretnya pergi.

Kepiluan bisa terlihat jelas di wajah Wendy yang menatap kepergian kakaknya. Begitu jelas hingga Suga bisa melihatnya dari tempatnya berada. Gadis itu kemudian berjongkok, ia melipat kedua lengannya diatas lutut dan menenggelamkan kepalanya. Bahunya berguncang dan Suga bisa menebak jika dia sedang menangis.

Dia menangis dengan hujan. Tanpa suara karena suaranya telah dikedapkan oleh bunyi hujan yang lebih dominan.

Perlahan mendekati gadis itu, Suga berdiri di belakangnya diam-diam. Dia tidak memiliki apapun yang bisa digunakan untuk menepisnya dari hujan.

Suga berpikir cukup lama sambil berdiri di belakang gadis itu. Hingga akhirnya ia melepaskan tas ranselnya, menggantungnya secara horisontal beberapa centi meter diatas kepala Wendy dengan kedua tangannya.

Pria itu membiarkan air hujan membasahi seluruh tubuhnya. Mengabaikan rasa dingin yang mulai menggigit tulangnya. Dia bahkan hanya memakai kaus lengan panjang malam ini. Berkali-kali ia berusaha menguatkan kedua lengannya untuk tetap memegang tas ranselnya, untuk tetap bertahan agar setidaknya gadis itu terhalang oleh air hujan.

Hingga tiba-tiba Wendy berdiri, kepalanya membentur tas ransel yang dipegang oleh Suga. Gadis itu menoleh ke belakang.. Sementara Suga tak kalah terkejut karena Wendy tiba-tiba berdiri.

“Suga…”

Wendy buru-buru menghusap air matanya begitu ia melihat pria berkulit putih itu.

Suga seketika gugup, “Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu terkejut. Kau… eum…” ia memutar bola matanya. “… sedang hujan. Jadi…”

“Kau berdiri di belakangku sejak tadi?”

Suga mengangguk takut-takut, “Maafkan aku, sebenarnya aku…”

“Terima kasih.”ucap Wendy tersenyum tipis.

Suga terkejut, “Ya?”

“Terima kasih, Suga.”

***___***

“Jadi buku PR mu basah karena tasmu kau gunakan untuk melindungi kepala Wendy?!” Taehyung terkejut bukan main setelah ia mendengar cerita Suga. Suga mengangguk lemah. “Astaga, kau ini. Bukankah otakmu sangat pintar? Kenapa kau tidak memikirkan hal itu dengan baik?”

“Aku tidak memiliki apapun jadi ku gunakan tasku. Aku lupa jika di dalamnya ada buku PR.”

Taehyung menghela napas panjang, “Lalu bagaimana? PR itu akan di kumpul siang ini.”

“Tidak tau,” Suga menggeleng lemas. “Apa aku harus berpura-pura sakit saja? Atau–”

“Tidak perlu.” Shannon muncul di belakang keduanya. Kemudian duduk di kursi yang ada di hadapan mereka. “Kalian ini, apa kalian lupa jika kalian sedang berada di perpustakaan? Aku bisa mendengar suara kalian dari pintu masuk.”

“Apa itu masih penting?” Taehyung mendesah. “Lihatlah dia, sebentar lagi dia akan dibunuh oleh wali kelas.”

“Dia tidak akan di bunuh.” Shannon tersenyum lebar, membuat Taehyung dan Suga menatapnya dengan kening bekerut. Gadis cantik itu mengeluarkan dua buah buku tulis yang ia sembunyikan di belakang tubuhnya pada Suga. “Aku sudah membelikanmu buku tulis baru di koperasi. Dan ini adalah buku PR-ku, kau bisa menyalinnya.”

Mata Suga melebar, “Sungguh?”

Shannon mengangguk, “Jangan kehilangan beasiswamu. Cepat salin sebelum waktu istirahat habis.”

Suga seketika tersenyum lebar. Ia menggenggam kedua tangan Shannon dan menatapnya dengan mata berbinar. “Terima kasih, Shan. Kau memang sahabatku! Terima kasih.”

“Hey, apa aku tidak terlihat?” Taehyung mendengus. Ia melepaskan genggaman Suga kesal. “Kau menggenggam tangan kekasih orang lain di depan kekasihnya. Dasar tidak tau malu!”

Suga tersenyum genit sambil menghusap pipi Taehyung, “Kau cemburu? Tenang saja, kau masih jadi yang pertama di hatiku, Taehyung.”

“Ya!” Taehyung menepis tangan Suga dari pipinya kesal. Kedua matanya melotot menatap pria itu. “Kau pikir aku–”

“Diamlah!” Shannon membekap mulut Taehyung dari belakang. “Ayo pergi, jangan ganggu dia.”

***___***

Suga berjalan di koridor menuju ruang kesehatan. Sepertinya dia benar-benar flu sekarang. Dia terus bersin selama jam pelajaran hingga hidungnya memerah.

“Ah, kepalaku jadi pusing.”gumamnya sambil memukul-mukul kepalanya pelan.

Mengingat bagaimana dirinya kemarin – tanpa jaket dan hujan-hujanan – dia sudah bisa menebak ini akan terjadi. Setibanya di rumah kemarin, padahal dia sudah berendam air hangat untuk menghentikan rasa dinginnya. Tapi sepertinya hal itu tidak mempan.

“Suga.”

Langkah Suga tiba-tiba terhenti karena Wendy berjalan dari arah yang berlawanan menuju kearahnya.

“Oh, halo, Wendy.” Suga benar-benar membagi satu kalimat pendeknya per satu kata karena lidahnya seketika terasa kaku.

“Hidungmu merah, kau sakit?”

“Ah tidak.” Suga menutup hidungnya dengan telapak tangan. “Aku hanya sedikit flu.”

“Apa karena kejadian kemarin?”

“Tidak.” Suga menggeleng. “Bukan itu. Ini karena aku kelelahan.”

“Kau pasti akan pergi ke ruang kesehatan, kan? Ayo.”

***___***

Suga benar-benar tidak tau apa yang sedang terjadi. Dia bahkan tidak bisa membedakan jika ini memang kenyataan atau hanya sekedar mimpi. Di depannya, gadis yang selama ini hanya bisa ia pandang dari jauh kini berada di depannya.

Seperti yang dia katakan, gadis itu sederhana. Rambut coklatnya terurai hingga melibihi bahu, sedikit bergelombang dan ia memiliki poni yang menutupi keningnya. Senyumnya indah dan pipinya sedikit chubby..

“Ini untukmu.” Wendy memberikan segelas teh hangat pada Suga bersama dengan bungkus obat flu. Kemudian menjatuhkan diri di depan Suga. “Jangan berbohong lagi. Kau pasti seperti ini karena kehujanan kemarin. Kau bahkan tidak memakai jaket.”

Suga melirik Wendy sekilas dari balik gelas tehnya lalu menunduk lagi, “Tapi, aku tidak apa-apa.”jawabnya pelan.

“Terima kasih, Suga.”

Suga mengangkat wajahnya lagi, “Kenapa berterima kasih?”

Wendy hanya tersenyum, tak lama ia berseru kembali, “Suga, mau aku ceritakan satu rahasia?”

Kening Suga berkerut, “Rahasia?”

Wendy mengangguk-anggukkan kepalanya, “Rahasiaku.”

Suga meletakkan gelas tehnya. Ia tidak bersuara apapun sebagai bentuk persetujuan, memandang lurus gadis itu, ia siap mendengarkan cerita yang akan Wendy beritahu.

“Begini…” Wendy memandang kearah lain. “… kau pasti tau Kim Nam Joon, kan? Seseorang yang bekerja di tempat yang sama denganmu.”

Oh, jadi tentang ini, Suga berseru dalam hati.

Suga mengangguk ragu.

“Dia…” Wendy menggantung ucapannya sejenak. “… dia adalah kakakku.”

Tidak ada rasa terkejut di wajah Suga karena dia sudah tau tentang hal itu. Namun, ia melihat ekspresi sedih dari gadis yang ada di depannya saat mengucapkan kata ‘kakak’. Suaranya terdengar bergetar hebat.

“Aku berpisah dengannya sejak kecil karena orang tua kami bercerai. Sejak kembali dari Amerika, aku terus berusaha mencarinya dan akhirnya menemukannya. Saat aku menemukannya, aku baru mengetahui jika ibuku telah meninggal. Dia sangat marah padaku karena menganggapku sudah melupakannya dan ibu. Padahal nyatanya, aku sama sekali tidak mengetahui tentang hal itu. Ayah sama sekali tidak mengatakannya padaku. Aku sudah mencoba meminta maaf. Berkali-kali. Karena itu aku terus mengikutinya kemanapun. Tapi, dia tetap tidak bisa memaafkanku. Seperti kemarin, dia menyuruhku pergi.”

“Aku mendengarnya.”seru Suga pelan. Wendy menatapnya terkejut. “Maafkan aku.”

“Tidak apa-apa.” Wendy menggeleng. “Aku justru ingin berterima kasih.” ia menunduk.

Suga memandang gadis itu lurus. Dia tidak pernah mengalami hal-hal seperti ini sebelumnya. Dulu, hidupnya hanya di penuhi dengan buku-buku dan pekerjaan paruh waktu. Dia tidak begitu bergaul dengan orang lain. Sahabatnya hanya Shannon, namun mereka juga jarang bertemu karena sibuk dengan pekerjaan paruh waktu mereka. Dia tidak memiliki waktu untuk bersosialisasi.

“Kenapa?” Hingga akhirnya Suga berseru pelan. Wendy mengangkat wajahnya, menatap Suga dengan kening berkerut. “Kenapa kau menceritakan rahasiamu padaku?”

Gadis itu terdiam selama beberapa menit, tak lama ia tersenyum, “Aku tidak tau.” Ia menggeleng pelan. “Hanya saja aku…” ia menghentikan ucapannya sejenak, menatap Suga lurus. “… mempercayaimu.”

TBC

Iklan

8 thoughts on “Bangtan’s Story [Suga’s Version] : Hold Me Tight [1/2]

  1. Annisa Icha berkata:

    Jadi Suga dicouplein sama Wendy…
    Senyum-senyum sendiri baca FF ini, gemes bayangin Taehyung sama Shannon.
    Suga sama Wendy manis banget sih… semoga hubungan mereka makin dekat

  2. bangminaah4 berkata:

    Ehehe yes aku bener! suga sama wendy.. xD

    Gemes banget bayangin suga ih.. Malu malu kucing gimanaa gitu(?) Bener-bener kebalikan dari sifatnya taehyung 😀

  3. Mrs. Yehet berkata:

    ahahaha.. suga suga
    lucu bgt kalo lgi sama taehyung
    semoga suga sama wendy cepet jadian..
    next chap,, keep writing

  4. Jung Han Ni berkata:

    lucu sama kelakuannya taehyung, kekanak-kanakan bgt hahah 😀 namjoon jahat bgt sama wendy, padahal wendy udah minta maaf, kasian wendy

  5. desy berkata:

    Aah noumu appo~~
    Bias ku !!!! Min sugaaaa andweee!!! :”””””””

    Soal ceritanya sih gak ada kata jelek deh! Bagus 🙂 hihi

  6. Taehyungie berkata:

    Wohoho ternyata bangtan story V itu berlanjut sama cerita member lain tohh haha kirain beda cerita😍😍😍 aku baca juga jadinya karena kepo hehe😁😁😁

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s