The Lords Of Legend (Chapter 20)

The Lords of Legend

Tittle : The Lords of Legend

Author : Oh Mi Ja

Genre : Fantasy, Action, Friendship, Comedy

Cast : All member EXO

PRANKK

Tanpa sengaja Tao menjatuhkan gelas yang dipegangnya membuat semua orang yang sedang asyik menonton televisi menoleh kearah dapur.

“Ada apa Tao?” Suho menghampirinya khawatir.

“Sehun…” Tao seperti kehilangan kesadaran saat mengatakannya. Jiwanya seperti terbang melayang meninggalkan tubuh. Bahkan saat tiba-tiba dia melangkahkan kaki dan berlari secepat kilat keluar. Dia melakukan itu tanpa kesadaran.

“Tao!”teriak Suho, kemudian mengejar lari Tao.

“Hey ada apa?” yang lain juga ikut panik, seluruh dewa meninggalkan televisi dan berlari keluar mengikuti Tao.

D.O menghentikan langkahnya, kemudian berbalik mencari sosok Kai.

“Cepat beritahu Luhan!”serunya yang langsung membuat Kai terdiam.

“Aku tidak bisa melakukannya, D.O.” Dia menggeleng, menatap D.O takut.

“Kau belum mencobanya lagi, kan? Ayo, coba hubungi dia.”

“Terakhir mencobanya, aku gagal.”

Tidak ada waktu lagi. D.O menyambar lengan Kai dan menariknya untuk berlari juga menyusul dewa lain. Sepertinya terjadi sesuatu dengan Sehun dan Tao mampu merasakannya.

Entah bagaimana awalnya, namun tanpa disadari tiba-tiba saja para dewa memiliki hubungan batin yang terjalin antara satu sama lain. D.O mempunyai hubungan batin dengan Chen. Pernah suatu hari dia merasakan sakit yang teramat sakit saat Chen bertarung dengan Orion dan terluka di punggungnya. Juga Kai yang selalu merasa malu tanpa alasan karena ternyata Luhan sedang di goda oleh para dewi.

Namun, berada jauh dari rumah mereka, juga pohon kehidupan membuat hubungan itu memudar perlahan. Kai pernah mencoba untuk menghubungi Luhan saat ia melakukan teleportasi ke Yunani dan Luhan sedang berada di California namun gagal dan hal itu justru membuatnya sangat lemah hingga ia pingsan dan terkapar di padang pasir seorang diri. Melakukan komunikasi batin bisa menguras tenaga mereka, bahkan hingga habis jika bersikeras mencoba.

Kai takut melakukannya lagi. Karena rasa sakitnya benar-benar tidak bisa ditahan saat dia kehilangan kekuatan dan dia tidak memiliki apel kehidupan.

“Kalau begitu lakukan teleportasi.”seru D.O kemudian ia melompat masuk ke dalam mobil, Baekhyun telah siap di kursi kemudi.

Kai mengangguk, detik berikutnya menghilang dan muncul di samping kios bunga Sehun. Begitu melihat kehadiran Kai, Luhan dan Minhyuk sama-sama tersentak karena melihat wajah Kai yang sudah memucat dan dia hanya mengenakan celana training setengah betis dan kaus putih, tanpa sandal.

“Apa yang terjadi denganmu?!” Luhan bangkit dari duduknya, menghampiri Kai dan mencekal kedua lengannya.

“Sehun…” lirihnya dengan napas terengah. “…terjadi sesuatu…”

***___***

“Cepat rasakan Tao, dimana Sehun berada sekarang?”tuntut Suho di sisi kiri Tao, mereka duduk di kuris belakang sedangkan Kris mengemudi mobil.

Tao meringis, ia menjambaki rambutnya kuat-kuat lalu memukul-mukul kepalanya. Air mata sudah merembes di sudut matanya dan wajahnya kini memerah. “Sakit. Kepalaku sangat sakit.”

“Tao mempunyai hubungan dengan Sehun, Suho. Aku yakin dia sedang merasakan rasa sakit Sehun sekarang.”ujar Kris, menoleh sekilas ke belakang. Memeriksa kondisi Tao yang sedang di urus oleh Suho.

Kris mengendarai mobilnya tanpa arah. Tidak menuntut Tao karena sepertinya pria itu sedang merasakan sakit yang teramat sakit sekarang. Dia tidak ingin mengganggu, takut itu akan semakin menyiksanya.

“Belok kanan!”

Kris membanting setir ke kanan tiba-tiba, disusul dengan suara klakson mobil berurutan karena ia menerobos persimpangan dan lampu merah.

“Tao, bertahanlah. Rasakan pelan-pelan.”seru Suho, ia membantu memijat-mijat kepala Tao.

“Belok kanan dan… kiri…” Tao memberikan intruksi lain disela rasa sakitnya. “Ada jalan kecil… disamping barber shop.. jalanan gelap…” Tao terbata-bata.

Mata Kris seketika menelusuri seluruh sudut jalan yang dilewatinya, mencari barber shop di sekitar sana sesuai intruksi Tao. Dia sendiri tidak mengetahui di daerah mana mereka sekarang. Masih kawasan Seoul, namun sepertinya ini adalah kawasan pinggiran. Jika tebakannya benar, kawasan ini tidak jauh dari rumah Sehun.

Jalan aspal lurus membelah bangunan-bangunan rapat yang memenuhi kawasan itu. Kris terus melaju, namun dia tidak menemukan barber shop, juga jalan kecil yang dimaksud oleh Tao.

“Kris, jika kau tidak cepat, Sehun akan mati!!” Tiba-tiba Tao berteriak histeris, ia menendang bagian jok belakang kursi kemudi lalu mengguncang tubuhnya dari belakang. “Dia telah kehilangan banyak darah! Dia akan mati!”

“Brengsek! Aku tidak tau harus kemana!”maki Kris ikut kesal.

“Tao…” Suho meraih lengan Tao, mencoba menenangkannya namun Tao tetap tidak bisa dikendalikan, dia bahkan sudah menangis.

“Barber shop! Cari barber shop!”bentak Tao, sekali lagi mengguncang tubuh Kris.

Ketika ia hampir mencapai persimpangan, Suho berseru tiba-tiba, “Kris, itu barber shop!” membuat Kris langsung menginjak rem dalam-dalam dan membanting setirnya ke tepi.

BRAKK

BRAKK

Berikutnya, terjadi tabrakan estafet akibat perbuatan Kris yang menghentikan mobilnya secara tiba-tiba. Chanyeol yang mengikuti di belakang, tidak bisa mengendalikan mobilnya sehingga ia menabrak bagian belakang mobil Kris, juga Kyungsoo yang berada di belakang mobil Chanyeol.

“Hey, kenapa berhenti tiba-tiba?”teriak Chanyeol, menjulurkan kepalanya dari jendela kaca. Untungnya, jalanan itu sepi sehingga tidak menimbulkan korban apapun.

Namun tidak ada sahutan, Kris membuka pintu mobil dan langsung berlari sekencang mungkin. Ada barber shop didepannya, dan ada sebuah jalan kecil di samping barber shop itu. Chanyeol melihat Suho yang sedang membopong tubuh Tao keluar mobil sehingga ia menolong pria itu, sedangkan dewa lain bergerak mengikuti Kris.

“Kenapa dia?”tanyanya, ia meraih salah satu lengan Tao dan mengalungkannya di lehernya.

“Dia merasakan hubungannya dengan Sehun untuk pertama kali. Aku rasa ini efeknya.”

“Kalau begitu, kenapa kau tidak panggil Lay? Cepat panggil dia! Dia harus menyembuhkan Tao!”

Suho mengangguk, kepanikan membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih. Ia menyusul yang lain, Chanyeol meletakkan tubuh Tao di dalam mobil kembali. Tubuhnya benar-benar panas.

“Astaga!” Kris berlari menghampiri tubuh Sehun yang tergeletak di tanah, disamping tumpukan kardus dan barang-barang usang. Ia berlutut disampingnya, lantas meraih kepalanya dan membalik tubuhnya, tangannya membentuk sudut siku sebagai penyanggah kepala Sehun. Saat wajahnya terlihat, mata Kris seketika melebar. Ia terperangah hebat melihat darah kering sudah menutupi hampir seluruh wajah Sehun.

D.O ikut berjongkok disampingnya, ia memeriksa denyut nadi di leher Sehun lalu menatap Kris serius. “Denyut nadinya sangat lemah.”

“Lay! Lay! Hey, cepat panggil Lay!”perintahnya pada dewa lain yang berdiri di belakang.

“Lay sedang mengobati Tao. Kita tidak bisa berharap banyak padanya, dia akan kehabisan tenaga dengan mudah.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan, Xiumin?!” bentak Kris, mata tajamnya menatap lurus pria berotot itu.

“Bawa dia ke rumah sakit, oke?” Xiumin membalas tatapan Kris. “Yang kita butuhkan sekarang adalah dokter.”

***___***

Langkah-langkahnya melebar dan dia berlari sangat cepat menyusuri lorong panjang bangunan putih dengan bau-bau menyengat disana-sini. Kesadarannya melayang jauh, tangis deras sudah membasahi pipinya sejak beberapa saat lalu.

“Mana anakku? Dimana anakku?!” teriaknya begitu dilihatnya beberapa orang pria sedang menunggu di depan ruangan.

“Omoni.” Terus mengikuti langkahnya dari belakang bersama Minhyuk, Luhan langsung memeluk tubuh Taeyeon mencoba menenangkannya. “Omoni harus tenang.”

“Dimana Sehun?! Dimana dia?! Dimana anakku?!” ia masih berteriak tak terkendali.

“Omoni…” Dewa lain menghampiri Taeyeon ikut menenangkannya.

Masih berada dalam tangisnya namun kini dengan frekuensi suara yang lebih rendah, Taeyeon tidak mampu menopang tubuhnya lebih lama. Dia terduduk lemas di lantai dalam kekhawatiran hebat. Sejak Suho menghubungi Luhan dan memberitahu jika sesuatu telah terjadi pada Sehun, dia bahkan sudah kehilangan kesadarannya. Dia kehilangan kendali atas kakinya sendiri.

“Apa yang terjadi dengan anakku? Apa yang terjadi?”tangisnya terdengar perih. “Oh Tuhaan, lindungi anakku… lindungi dia…”

Lay mengulurkan tangannya tiba-tiba dan menutup kedua mata Taeyeon dengan telapak tangan, membuatnya pingsan. Dia pikir itu adalah jalan satu-satunya untuk menenangkan wanita malang itu. Jika tidak, walaupun dia sudah berada di titik yang paling lemah, dia akan terus meneriakkan nama Sehun. Tiada henti.

Luhan menatap wajah pucat Lay, untuk sesaat dia memikirkan apa sebenarnya yang sudah terjadi pada Sehun dan padanya. Juga… kenapa Tao dan Suho tidak terlihat disini? Kemana mereka?

“Astaga, omoni!” Minhyuk menyeruak dari kerumunan para dewa dan berlutut disamping tubuh Taeyeon yang sedang disanggah oleh pelukan Luhan. Dia terkejut melihat Taeyeon yang pingsan. Minhyuk menoleh ke belakang, berseru pada siapa saja yang dilihatnya, “Baekhyun! Panggil suster!”

Baekhyun mengangguk lalu pergi untuk memanggil seorang suster. Tak lama, dia kembali dan Minhyuk langsung mengambil alih tubuh Taeyeon dan menggendongnya.

“Aku akan membawanya ke ruangan.” Ia bicara pada Luhan. Luhan mengangguk. Lalu mengikuti suster itu pergi.

Begitu Minhyuk menghilang di belokan, Luhan langsung menyambar lengan Lay panik disertai dengan guncangan, “Apa yang terjadi padamu?!”

Lay menggeleng lemah sambil memaksakan dirinya untuk tersenyum, “Hanya kelelahan.”

“Lay,!” Kris berjongkok disamping Lay, ikut khawatir. “Aku akan mengantarmu pulang! Kau harus istirahat!” tangan panjangnya meraih lengan Lay dan meletakkannya di pundaknya, membopong pria mungil itu.

“Aku yang akan mengantarnya, Kris. Kau berjaga disini.” Xiumin menawarkan dirinya mengingat Suho juga berada di apartement sekarang.

Kris mengangguk setuju. Kini tersisa dirinya, Luhan, D.O, Kai, Baekhyun, dan Chanyeol yang sedang berjaga didepan ruang ICU. Minhyuk masih belum kembali jadi Luhan menggunakan kesempatan ini untuk bertanya tentang apa yang sebenarnya sudah terjadi.

Diantara semuanya, hanya Kris yang berkenan menjawab pertanyaan Luhan itu karena yang lain terlalu syok atas kejadian ini. Sehun, Tao dan Lay sekaligus. Entah apa yang sudah terjadi pada Sehun, hingga kini mereka belum bisa memastikannya.

Perkiraan Kris, mungkin dia diserang oleh seseorang atau mungkin kenalannya yang memang mempunyai masalah dengannya, mengingat Sehun adalah seorang biang onar disekolahnya. Tapi, jika dia memang diserang oleh seorang kenalannya, hal ini terlalu berlebihan. Penyerangan ini sudah termasuk ke dalam tindak kriminal yang bisa dijatuhi hukuman.

“Ravi?” Luhan begitu saja mengucapkan itu sambil menatap Kris lurus-lurus.

Kris mendesah, “Aku tidak yakin. Walaupun dia terlihat sangat kuat, tapi dia tetap tidak akan bisa mengalahkan Sehun. Kau tidak melupakan saat pertandingannya melawan D.O, kan? Jika yang menyerang memang Ravi, aku yakin Sehun tidak akan berakhir seperti itu.”

“Bagaimana jika dia membawa beberapa pasukan dan menyerang Sehun sekaligus?”

“Tetap tidak mungkin, Luhan. Sehun adalah orang yang kuat.”

“Mereka pasti—“

“Sudahlah.” Kris menghentikan semua perkiraan Luhan. “Kita tidak bisa menuduh seseorang dengan asal. Kita harus mencari tahu lebih dulu. Sebaiknya kau tenang.”

“Aku tidak bisa tenang, Kris!” untuk seketika rahang Luhan mengatup. Ia balik badan, menggeram keras sambil meninju udara untuk melimpahkan kesesakkan yang ia rasakan saat ini. “Aku yang menyuruhnya untuk menemui Ilhoon! Aku yang menyuruhnya pergi! Jika terjadi sesuatu padanya, itu semua adalah kesalahanku!”

Kris dan dewa lain terdiam mendengar pernyataan Luhan barusan. Baru mengetahui jika Sehun sedang berada dalam perjalanannya menuju rumah Ilhoon saat penyerangan itu terjadi.

“Katakan padaku siapa yang menyerangnya dan aku pasti akan membalasnya berkali-kali lipat!” desisnya sarat ancaman. Ia berbalik, menatap Kris dan berseru dengan suara meninggi dan penuh penekanan. “Semua ini pasti ulah Ravi!”

Tidak hanya Kris, tapi dewa lain juga mengetahui bagaimana kalapnya Luhan saat ini. Dari matanya, terlihat bara api kebencian yang mereka yakini mampu untuk menghabisi Ravi sekarang. Yang mereka ketahui, Luhan bukanlah tipe dewa yang emosional bahkan cenderung penyabar dibandingkan Kai atau Tao.

Kris langsung menahan lengan Luhan saat pria tampan itu hendak pergi. Dia sudah tau kemana tujuannya dan dia harus menghentikannya.

“Kita tidak boleh menggunakan kekuatan kita disini. Kau mengerti?”bisiknya menatap sisi wajah Luhan.

Tiba-tiba seorang dokter keluar dari ruangan ICU membuat semua dewa langsung berdiri dan menghampiri. Luhan menepis cekalan Kris, juga menghampiri dokter itu dan langsung menyerangnya dengan pertanyaan.

“Bagaimana keadaan Sehun?”

“Syukurlah kepalanya tidak apa-apa. Hanya terdapat sedikit luka di wajahnya dan patah tulang di lengannya.”

Luhan mengerjap sambil mengembangkan senyum lega, “Benarkah?”

“Aku juga tidak menyangka jika dia sekuat itu. Benturan yang terjadi cukup keras tapi kepalanya mampu menahan hal itu. Aku sudah memeriksanya dan tidak menemukan apa-apa yang membahayakan kepalanya. Dia akan segera dipindahkan ke ruang perawatan.”

***___***

Ada sebuah trauma yang dirasakan oleh Tao setelah dia terjaga. Semalaman dia tertidur tanpa kesadaran dan ketika dia bangun, dia merasakan perasaan takut yang amat besar. Ini adalah pertama kalinya dia merasakan hubungannya dengan dewa lain dan sialnya, hubungan itu terasa saat sesuatu buruk sedang terjadi.

Ketika dia merasakan hubungannya dengan Sehun, dia juga merasakan rasa sakit yang dirasakan oleh Sehun saat itu. Seakan-akan dia berada di dalam diri Sehun dan melihat semuanya. Dia bisa mengetahui apa yang dirasakan oleh Sehun, tempat kejadian dan apa yang sedang ia alami. Sangat jelas dan nyata.

Chanyeol adalah orang yang beruntung karena dia merasakan hubungannya dengan Kris saat Kris sedang mengalami kejadian yang membahagiakan. Dia tidak terlalu menderita. Berbeda dengan Kai dan Chen yang juga mengalami traumatik seperti Tao diawalnya.

Kai mempunyai hubungan dengan Luhan dan dia merasakan hubungan itu pertama kali saat Luhan bertarung melawan Jotun dan dia terluka parah karena peperangan itu. Sedangkan Chen, dia merasakan hubungannya dengan D.O pertama kali saat D.O berada di dalam Erebos. Bagi makhluk yang berada di negeri langit, Erebos adalah hal yang paling menakutkan dan paling mereka hindari. Bisa disebut neraka bagi mereka karena tempat itu sangat menyeramkan dan berbahaya. Para orang mati, Jotun, atau dewa-dewa yang telah melakukan kejahatan dikurung disana. D.O adalah dewa yang bertugas untuk menjaga tempat itu dan semuanya juga tau jika D.O bukanlah tipe pemaaf. Dia tidak segan-segan menyiksa ‘tawanan’-nya sesuka hatinya, sekedar untuk melampiaskan kekesalannya. Chen tidak pernah pergi kesana namun dia merasa jika dia pernah masuk ke dalamnya karena hubungan itu.

Suho memberikan segelas air mineral pada Tao untuk menenangkannya. Hal ini wajar karena Tao termasuk ke dalam dewa-dewa sial yang harus merasakan penderitaan dewa lain yang memiliki hubungan dengannya.

Tidak ada yang mengetahui asal mula ‘hubungan’ atau biasa mereka sebut schési̱ itu tercipta. Sebelumnya, saat Suho dan Kris belum menciptakan dewa-dewa lain, schési̱ tidak pernah ada dan mereka tidak pernah merasakan hal-hal seperti ini.

Schési̱ pertama kali dirasakan oleh Suho dan Xiumin setelah dewa Thor tercipta. Dan perlahan-lahan, juga dengan tiba-tiba, Schési̱ mulai dirasakan oleh dewa lain. Mereka meyakini jika Schési̱ muncul karena mereka selalu bersama-sama dan saling melindungi satu sama lain. Chanyeol bilang, mungkin ini ulah Pohon Kehidupan yang ingin memberitahu mereka jika mereka saling memiliki. Yaah apapun itu…

Setelah mereka merasakan Schési̱ pertama kali, selanjutnya mereka akan bisa mengirim ‘telepati’ kepada dewa yang memiliki Schési̱ dengan mereka. Namun, hal itu tidak mudah dilakukan karena selain mereka harus benar-benar konsentrasi, tenaga mereka akan cepat terkuras habis jika menggunakannya.

Tidak ada yang mau menggunakan Schési̱ selama mereka di Bumi. Hal itu sangat membahayakan mengingat bagaimana jauhnya pohon kehidupan dari mereka sekarang. Mereka tidak mau mati karena kehabisan tenaga.

“Kau sudah tidak apa-apa?”tanya Suho, mengacak rambut Tao sambil menatapnya dengan tatapan orang tua yang merasa bangga karena anaknya telah mendapatkan sebuah medali emas.

Tao menggeleng, “Dimana Lay?” ia memberikan gelas yang diminumnya pada Suho.

“Dia dan Xiumin menemani Taeyeon omoni pulang ke rumah untuk mengambil beberapa pakaian dan selimut.”

“Apa Sehun tidak apa-apa?”tanyanya lagi.

Suho mengangguk, “Dia tidak apa-apa. Bersyukurlah karena kau memiliki Schési̱ dengan dewa yang begitu kuat seperti Sehun.”

“Bersyukur?” Tao mencibir kesal. “Aku bahkan seperti hampir mati kemarin.”

Suho terkekeh geli, “Bangunlah. Kita harus ke rumah sakit.”

***___***

“Jangan mendorong sendoknya terlalu dalam bodoh! Mulutku sakit!”seru Sehun memukul Minhyuk dengan tangan kirinya. “Kau mau membunuhku dengan cara menusukkan sendok ke dalam tenggorokanku, hah?!”

“Ujung sendok tidak lancip jadi hal itu tidak bisa disebut dengan menusuk dan makanan yang kau makan tidak masuk ke dalam tenggorokan melainkan kerongkongan. Kau harus bisa membedakan itu.” Minhyuk membalasnya tenang membuat Baekhyun langsung tertawa terbahak-bahak.

“Kebiasaannya, selalu marah-marah tanpa berpikir jika ucapannya benar atau tidak. Kau justru terlihat sangat bodoh.”sahut Luhan. Ia mengambil alih mangkuk yang dipegang Minhyuk, bergantian mennyuapi Sehun.

“Akh, pergi! Aku tidak butuh kalian! Mana eomaku?! Eomaaaa!”

“Omoni sedang pulang ke rumah untuk mengambil beberapa pakaian dan selimut.”jawab Kris membuat Sehun langsung berhenti berteriak.

“Diamlah. Apa kau tidak tau bagaimana penampilanmu saat ini? Kau terlihat seperti mumi.” Chanyeol ikut mengejek Sehun yang semakin lama semakin kesal.

Memang benar jika penampilannya sekarang terlihat sedikit kasihan. Setengah wajahnya diperban karena lukanya belum kering sehingga ia hanya bisa melihat dengan satu mata, sedangkan tangan kanannya juga diperban dan harus memakai alat penyanggah karena patah tulang yang ia alami. Dia benar-benar sangat kasihan.

“Jika aku sembuh nanti, kalian semua pasti akan mati.”ancam Sehun membuang pandangan kearah lain. Sikapnya justru semakin membuat dewa lain dan Minhyuk tertawa.

“Kami semua sengaja membolos untuk menemanimu. Harusnya kau berterima kasih.” Kai merangkul pundak Minhyuk lalu keduanya menatap Sehun geli.

“Sudah ku bilang aku tidak membutuhkan kalian!”

“Baiklah. Kalau begitu, kami akan pulang. Urus saja dirimu sendiri.” Luhan mengangguk, meletakkan mangkuk makanannya keatas meja yang ada disamping ranjang Sehun lalu bergegas pergi bersama yang lain.

Sehun mengerjap kaget, tidak menyangka jika Luhan dan yang lain akan bernar-benar pergi begitu saja. Dia masih merasa lapar. Dia tidak mungkin bisa makan makanan itu dengan satu tangan yang disanggah seperti ini. Terlebih lagi, hanya tangan kirinya yang bebas melakukan apapun. Dia bukan seorang kidal.

“Ya!”bentaknya, seluruh dewa dan Minhyuk yang sudah mendekati pintu menghentikan langkah, berusaha menelan kembali cengiran mereka lalu balik badan menatap Sehun. Sehun membuang tatapannya kearah lain, “Setidaknya, tunggu hingga oemaku datang.”katanya pelan.

Di mata mereka, saat ini sikap Sehun bukan termasuk ke dalam sikap menyebalkannya. Melainkan sikap bodoh dan polos yang sebenarnya butuh perhatian. Hanya hidup bersama ibunya sejak dia kecil, menjadikannya seorang pria yang kuat, terlebih lagi karena masalah keuangan yang sedang dialaminya. Dia tidak ingat kapan terakhir kali dia minta diperhatikan oleh orang lain. Rasanya sudah sejak lama.

“Park Sehun!” Tiba-tiba dari arah pintu Ilhoon muncul. Ia menyambar pinggir daun pintu dan membungkuk dalam-dalam. Dia sepertinya habis berlari. Terdengar dari suara napasnya yang terengah-engah.

Poni-poni rambut keritingnya menggantung di dahinya tidak rapi. Dia juga lupa untuk memakai kacamatanya. Untuk seketika, seluruh pandangan tertuju padanya lurus-lurus. Terutama Sehun yang paling terperangah begitu ia melihat Ilhoon muncul diambang pintu. Darimana dia mengetahui tentang ini?”

Deruan napas Ilhoon masih terdengar terputus-pupus bersamaan langkah-langkah lemasnya mendekati Sehun. Kris mengisyaratkan yang lain untuk keluar dan memberikan waktu untuk mereka berdua bicara. Biar bagaimanapun, Sehun sedang berada dalam perjalanannya ke rumah Ilhoon kemarin.

Senyuman mengembang di wajah penuh keringat Ilhoon, “Aku membolos, hehe.”cengirnya. “Ternyata, aku juga bisa melakukan hal seperti ini tanpamu.”

“Jika ayahmu mengetahuinya, kau akan dihukum.” Sehun sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari sahabatnya itu.

Ilhoon masih tersenyum lebar, seakan-akan membolos bukanlah hal yang ia takuti lagi, “Semua itu sudah tidak penting.” Ia menggeleng. “Bukankah sudah ku katakan padamu untuk tidak melewati jalan pintas itu? Disana sangat sepi dan berbahaya, terkadang banyak perampok dan—“

“Aku tidak apa-apa.”kata Sehun tenang. “Ini hanya luka kecil dan tidak seberapa bagiku.”

“Tapi kau seperti mumi.”

“Jika aku menemukan orang yang memukulku itu, aku pasti akan membalas perbuatannya.” Sehun ikut tersenyum. Membuat kecanggungan yang terjadi diantara mereka menghilang.

Ilhoon menghusap keringatnya dengan lengan baju, lalu menjatuhkan diri di tepi ranjang Sehun, “Hey, bukankah kau tidak menyukai bubur? Kenapa makan itu?” Dia melirik kearah mangkuk yang diletakkan Luhan tadi.

Sehun mendengus, “Mereka memaksaku untuk memakannya.”

“Sepertinya kau sangat akrab dengan mereka.” Ilhoon mengatakan hal itu dengan sorot ketulusan atas kebahagiaan yang dia raakan karena sahabatnya memiliki orang-orang yang baik.

Sehun mengangguk, “Mereka adalah orang baik.”

“Baguslah. Aku sedang mendengarnya.”

“Ngomong-ngomong, darimana kau mengetahui jika aku berada disini?”tanya Sehun.

“Minhyuk menghubungiku dan memberitahu yang terjadi. Jadi aku langsung bergegas kesini begitu sampao di sekolah.”

Mata Sehun membulat lebar, “Kau kabur dari sekolah?!”

Ilhoon mengangguk bangga, “Lewat lubang yang ada dibelakang gudang itu.”

“Hey, jalan itu berbahaya.”

“Aku tidak apa-apa.” Ia menggelengkan kepalanya cepat.

“Cih, kau bangga sekali.”cibir Sehun. “Tunggulah disini sebentar. Oema akan datang, oema pasti senang jika melihatmu.”

***___***

Ada kebahagiaan berlimpah yang dirasakan oleh Sehun akhir-akhir ini. Walaupun luka-lukanya masih belum sepenuhnya sembuh dan Chen belum juga membeli kabar apapun, tapi kehadiran Ilhoon kembali disampingnya membuatnya merasakan kelegaan atas kesesakkan yang ia alami selama ini.

Minhyuk mengembalikan tempat duduknya, sementara dia sendiri menempati tempat duduk Chen bersama dengan Chanyeol. Keadaan kembali ke awal, seperti beberapa bulan lalu. Walaupun permusuhan antara Sehun dan Ravi belum juga berakhir.

Sehun sama sekali tidak memperdulikan Kibum walaupun terkadang pria itu menghampirinya dan mengajaknya untuk mengobrol. Bukan membencinya, hanya saja dia pikir, pria itu adalah alasan kenapa Ilhoon dipukuli waktu itu. Masih kesal.

Pada jam istirahat, seperti biasa Sehun bersama dengan Minhyuk, Ilhoon, Luhan dan Kai pergi ke kantin bersama. Chanyeol sedang makan siang bersama dewa lain seperti biasa. Tempat yang berada di teras belakang kantin waktu itu dijadikan oleh Sehun sebagai tempat makannya sekarang. Baginya, suasana dan pemandangannya lebih indah daripada berada di dalam kantin.

“Bagamana dengan tanganmu?”tanya Ilhoon sambil menyeruput mie ramyunnya.

“Sudah baik-baik saja. Tidak terlalu sakit. Aku akan melepaskan pen secepatnya.”

“Lalu luka di wajahmu?”

“Biar saja, nanti akan hilang dengan sendirinya.”jawab Sehun acuh.

“Kau sudah tidak terlihat tampan lagi.”ejek Kai terkekeh geli.

“Kau juga tidak terlihat seputih dulu.”balas Sehun yang langsung dibalas dengan pelototan Kai.

“Hey!”

“Karena kasus pemukulan ini, semua orang berspekulasi jika Ravi yang melakukannya padamu. Seperti dia telah menyuruh seseorang untuk berbuat sesuatu yang buruk padamu.” Luhan memulai pembicaraan yang serius. “Pada awalnya aku berpikir hal yang sama. Tapi, Kris meragukan hal itu.”

“Kenapa?”tanya Minhyuk.

“Entah. Dia punya pemikirannya sendiri. Dia mengatakan untuk mencari tahu lebih dahulu.”

“Aku sudah bilang untuk tidak menyangkutkan hal ini dengan pihak kepolisian, kan?”sahut Sehun.

Luhan menggeleng, “Kami tidak melakukannya.”

“Tapi, kenapa Kris tidak berpikir begitu? Aku berteman dengannya selama beberapa waktu dan aku sangat mengetahui akal liciknya. Dia akan melakukan semua hal yang bisa membuatnya senang.” Ilhoon menimpali.

Sehun meletakkan sumpitnya lalu menoleh kearah Ilhoon, “Jadi menurutmu Ravi adalah pelakunya?”

Ilhoon mengerjap, “mungkin… aku juga tidak tau…”

“Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak, Ilhoon. Apapun yang kau katakan, dia akan mempercayainya.” Kai memperingatkan Ilhoon begitu dia melihat mata tajam Sehun. Dia seperti sudah mengenal pria itu dengan baik.

“Bukan begitu maksudku…” Ilhoon menunduk. “Hanya saja… seseorang telah membuat Sehun menjadi seperti ini dan semua ini adalah salahku. Aku memang tidak bisa melindunginya, bahkan sejak dulu. Jadi aku mengkhawatirkannya.”

“Bukan salahmu.” Sehun menggeleng. “Aku memang banyak memiliki musuh sejak dulu. Ini adalah hal normal yang aku dapatkan. Lagipula, aku sudah tidak apa-apa.”

***___***

Kios bunga milik Taeyeon belum tutup bahkan saat hari sudah mulai gelap. Sehun masih duduk di tempat itu setelah berhasil memaksa ibunya untuk masuk ke dalam rumah dan hanya memasak. Dia pikir, keadaannya sudah membaik jika hanya untuk menjaga sebuah kios bunga.

Lagipula, saat ini Suho, Tao dan Chanyeol sedang berada bersamanya. Sejak sore datang dan belum juga pulang, menemaninya menjaga kios bunga. Sehun tau, menemaninya hanya alasan pria-pria ini untuk makan malam di rumahnya. Lagu lama.

“Jadi kapan kalian akan pulang sebenarnya?”seru Sehun mulai kesal.

Suho tertawa, “harusnya kau berterima kasih karena kami berada disini untuk membantumu menutup kios. Tanganmu tidak akan kuat melakukannya.”

Sehun langsung mendelik, “Kau pikir aku selemah itu?”

“Kau terlalu banyak bicara. Seharusnya kau menjaga dirimu dengan baik agar tidak menyakiti diriku lagi.”dengus Tao menatap sinis kearah Sehun.

Kening Sehun berkerut bingung, “Ha?”

“Kau belum mengetahuinya? Dia mengalami Schesi karena kau.”sahut Chanyeol.

“A-apa? Sch… sch… apa?” tanya Sehun tidak mengerti.

Schesi. Sesuatu yang akan kau rasakan jika dewa lain sedang merasakan sesuatu. Diantara kita semua, kita memiliki hubungan dengan satu dewa lain. Itu disebut Schesi”

Sehun menggaruk belakang kepalanya dengan ekspresi tidak mengerti sama sekali, “Aku masih tidak mengerti.”katanya membuat Chanyeol dan Tao mendesah panjang.

Suho tersenyum menatap Sehun, “Ikatan batin.”ujarnya.

“Maksudmu seperti… firasat?”

Suho mengangguk, “hanya saja terasa sangat nyata.” Ia menegakkan tubuhnya, menyandarkan punggung pada sandaran kursi. “Diantara kita berdua belas, masing-masing memiliki ikatan batin dengan satu orang lainnya. Seperti aku yang memiliki hal itu dengan Xiumin.” Suho mulai menjelaskan. “Saat terjadi sesuatu dengannya, bahagia atau sedih. Senang atau sakit. Terkadang aku bisa merasakannya.”

Mata Sehun langsung membuka lebar, “Benarkah?!”

“Yeaah. Selama ini kami sudah pernah merasakan Schesi itu kecuali Tao. Dia belum pernah mengalaminya hingga beberapa hari lalu, saat kau di serang dan dia ikut pingsan karena merasakan rasa sakit yang kau alami.”

Sehun mengalihkan pandangannya pada Tao dengan tatapan tak percaya, “P-pingsan?”serunya tergagap. “Dia pingsan?”

“Beruntunglah dia bisa memberitahu dimana tempatmu berada sebelum akhirnya benar-benar pingsan.” Suho mengendikkan kedua bahu lantas mengacak rambut Tao yang terus saja terdiam sejak tadi.

“Schesi bukanlah moment yang ingin kami rasakan lagi. Tapi, Schesi akan selalu kami rasakan. Bukan setiap saat, tiba-tiba dan akan selalu menimbulkan dampak. Kami juga bisa berkomunikasi melalui telepati setelah mengalami Schesi.”

“Telepati?”

“Yeaah, aku bisa berkomunikasi dengan Kris dengan pikiranku sekarang. Kami tidak memerlukan handphone.”

“Benarkah? Coba kau lakukan.” Kini Sehun jadi bersemangat.

“Tidak bisa melakukannya sembarangan karena hal itu akan menguras tenaga kami. Kami sangat jauh dari sumber kehidupan kami.”

“Oh, begitu…” Sehun mengangguk-anggukan kepalanya langsung mengerti.

“Bukankah kau berhutang sebuah kata maaf dan terima kasih pada Tao?” Suho tersenyum geli. Kemudian menggerakkan kepalanya pada Chanyeol, memberi isyarat untuk meninggalkan mereka berdua. “Ayo, Chanyeol.. kita lihat rasi bintang.”

Keheningan tercipta untuk sesaat diantara mereka. Selama ini, mereka berdua tidaklah sedekat seperti Sehun dan yang lain. Berada di kelas yang berbeda dan sifat Tao yang masih sedikit kekanak-kanakkan, menjadikannya lebih sering bergaul dengan Suho atau Kris dibandingkan Sehun. Tao banyak memerlukan bantuan untuk melakukan sesuatu dan dia tau dia tidak akan meminta tolong pada Sehun.

“Maaf…”kata Sehun akhirnya. Tao menoleh kearahnya. “Aku masih belum mengerti tentang apa arti sebenarnya Sch… Sche…”

“Schesi.” Tao membenarkannya.

“Yah, apapun namanya.” Sehun mengendikkan kedua bahu. “Menyakitkan ya? Aku bahkan sampai jatuh pingsan dan tanganku sampai patah. Pasti rasanya sangat sakit.”

“Tidak apa-apa. Lagipula Lay sudah menyembuhkanku dengan Healing-nya. Dan… aku adalah dewa.”

“Tetap saja aku minta maaf.” Sehun tersenyum tulus menatap lurus kearah sepasang mata Tao yang mempunyai kantung hitam dibawahnya. “Dan terima kasih karena kau berusaha bertahan hanya untuk memberitahu keberadaanku. Terima kasih, Tao.”

Tao menghela napas panjang sambil berdiri dari duduknya, ia menoleh sekilas pada Sehun yang masih duduk dikursi, “Bayar saja dengan Bulgogi ibumu. Setelah itu kita impas.”

***___***

Ada satu hal yang hingga saat ini belum bisa dipecahkan oleh Sehun. Sesuatu yang terus-menerus ia pikirkan dalam keterdiamannya. Dimana letak kotak Pandora itu sebenarnya? Mereka bilang, kotak itu tidak akan pernah jauh dari pemiliknya, tapi kenapa selama ini dia tidak pernah merasakannya?

Apa kotak itu benar-benar berada disekitarnya?

Sehun menghela napasnya sembari meletakkan salah satu lengannya diatas kening. Tatapannya menerawang ke langit-langit, pikirannya terus mencoba mengingat-ingat seluruh benda yang berada disekitarnya yang mungkin mirip dengan kotak Pandora. Namun, orang sepertinya bahkan tidak mengetahui bagaimana sosok sebenarnya kotak Pandora itu. Bagaimana dia bisa membayangkannya?

“Arrgghh!” Sehun menggeram keras sambil menjambak rambutnya kuat-kuat. “Bodoh sekali! Kenapa aku tidak bisa berpikir?! Bodoh! Bodoh!”

“SEHUN! PARK SEHUN!” Tiba-tiba Taeyeon menggedor pintu kamar Sehun dengan keras dan cepat. Sehun terlonjak dari ranjangnya, segera bangun dan membuka pintu. Ia semakin merasa terkejut saat mendapati ibunya tengah menangis dalam ekspresi kepanikan luar biasa.

“Oema, ada apa?” Sehun mencekal kedua lengan Taeyeon, mengguncang tubuhnya pelan.

“Ilhoon… dia… Oh Tuhan… “tangisnya semakin tumpah.

Sehun menatap ibunya tak mengerti namun segera melangkahkan kakinya keluar karena ibunya terus menunjuk kearah depan tanpa bisa mengatakan apapun. Ia meninggalkan ibunya yang tengah terduduk di atas ranjangnya sambil menangis tersedu-sedu.

Pintu utama rumahnya terbuka sedikit, memperlihatkan celah kecil yang tercipta. Keningnya berkerut, sedangkan tangannya terulur untuk menarik gagang pintu. Bersamaan dengan pintu yang akhirnya terbuka lebar, sebuah tubuh jatuh menimpanya.

“Ilhoon!”seru Sehun terperangah hebat, menangkap tubuh Ilhoon dengan satu tangan dan langsung mendudukkannya di lantai. Dia tidak terlihat baik-baik saja. Bercak-bercak darah tercetak di bajunya, membuat warna merah lebih mendominasi daripada warna putih. Sehun terkejut bukan main, dia memukul-mukul pipi Ilhoon karena matanya mulai tertutup. “Ilhoon! Ya! Ilhoon!”

“Uhuk!” Ilhoon terbatuk, memuncratkan percikan darah dan mengenai wajah Sehun. “Se…hun…”

“Apa yang terjadi?! Kau kenapa?!”

“Wa…lau…pun… dada…ku…ter…lu…ka…” Ilhoon berusaha menarik napasnya yang mulai meringkih. “Aku…masih memilikimu di hatiku…”serunya bersamaan dengan air matanya yang mengalir di pipinya. “Kau…adalah sahabatku…”

“Ilhoon! Apa yang kau bicarakan?! Aku akan membawamu ke rumah sakit! OEMA!” Ia berteriak ke belakang, meneriaki Taeyeon agar wanita itu segera memanggil ambulan. “OEMA!”

“Sehun…” Ilhoon menarik baju Sehun, mencegahnya. Lalu ia menggeleng pelan. “Dia… berbahaya…”

Ilhoon tersenyum dibalik tangisnya, salah satu tangannya terulur, menyentuh pipi Sehun sambil menatapnya pilu, “Aku… tidak pernah bisa melindungimu… Park Sehun.”tangisnya penuh sesal. “Maaf…”

Tangannya yang menyentuh pipinya akhirnya melunglai ke bawah bersamaan dengan sepasang matanya yang kini menutup rapat. Kepalanya melemah ke kanan, di dalam pelukannya.

Sehun terpaku. Benar-benar terpaku. Kesadarannya bahkan belum kembali saat kejadian ini berlangsung. Apa yang terjadi? Apa yang terjadi dengan Ilhoon?

Saat beningan-beningan air matanya menetes membasahi pipinya, ia baru menyadari arti matanya yang kini tertutup. Ia baru menyadari jika terdapat sobekan di bajunya tepat di bagian dada dan bagian itu terus mengeluarkan darah. Ia baru menyadari, mungkin mata yang tertutup itu tidak akan bangun lagi.

Selamanya.

Saat beningan-beningan air mata itu membasahinya, sentuhannya seperti bisa mengembalikan kesadarannya. Detik itu juga, seperti orang gila, dia berteriak sekencang-kencangnya. Memanggil-manggil namanya sambil mengguncang tubuhnya kuat-kuat. Bahkan patah tulangnya seperti mati rasa, dikalahkan oleh rasa sakit yang tiba-tiba menyerang hatinya.

“ILHOON!!!!!!!!!”

Apa ada seseorang yang mampu menjelaskan hal ini? Apa ada seseorang yang bisa memberitahunya? Dia seperti orang gila sekarang. Dia kesetanan.

“Sehunnie…” Taeyeon memeluk tubuh anaknya dari belakang, menangis sejadi-jadinya di punggung belakangnya.

Beberapa saat kemudian, saat beberapa orang berbaju putih muncul, Sehun masih belum mampu melepaskan pelukannya pada Ilhoon. Saat semua dewa datang. Dia masih terkunci pada tubuh sahabatnya itu. Bahkan saat perawat-perawat laki-laki itu mencoba melepaskan Sehun dari tubuh Ilhoon, Sehun semakin lepas kendali.

“Jangan bawa sahabatku! Dia sahabatku!”teriaknya, mendorong salah satu perawat laki-laki lalu memeluk Ilhoon semakin erat dalam dekapannya. “Dia tidak apa-apa! Dia sedang tertidur… yah… dia sedang tertidur. Aku mohon jangan bawa dia…”tangisnya.

“Sehunnie…” Luhan menepuk pundak Sehun pelan. “Mereka harus membawa Ilhoon…”

“PERGI! KALIAN SEMUA PERGI!”

Luhan menoleh kebelakang, meminta bantuan pada yang lain untuk ‘terpaksa’ merebut tubuh Ilhoon dari Sehun. D.O, Kai dan Tao berdiri dibelakangnya, ketiganya serempak memegangi tubuh Sehun sedangkan Kris dan Chanyeol melepaskan tangannya yang memeluk tubuh Ilhoon. Mereka berlima berusaha keras untuk menyeret tubuh Sehun ke belakang, berusaha sekeras mungkin untuk menahan amukannya.

Luhan dan Suho langsung mengambil alih tubuh Ilhoon, lalu beberapa perawat membawanya ke dalam ambulance.

“ILHOOOOOON!” Sehun melepaskan tubuhnya dari cekalan lima dewa itu, lantas berlari mengejar tubuh Ilhoon yang sudah dibawa pergi oleh Ambulance.

“Sehun.” Suho menghentikan langkahnya dan langsung memeluk tubuh pria erat. “Kami turut berduka…”bisiknya.

“Suho… Ilhoon… dia… dia tidak mati. Ilhoon… dia tidak mati…”

TBC

59 thoughts on “The Lords Of Legend (Chapter 20)

  1. talia berkata:

    thorr kapan dilanjut ff nya udah penasaran banget nihh……………
    jangan lama” ya thor🙂 diitunggu kelanjutannya !!

  2. Hafi berkata:

    nyesek bacanya
    Ilhoon mati beneran? padahal baru baikan eh malah meninggal :3
    gereget bacanya
    eon next eon… lanjutanya kapan nih??

  3. Oh Yuugi berkata:

    Huuuaaaa…. chapter ini menguras air mata. Huuee
    Kenapa ilhoon harus mati??! Padahal dia sahabat pertama Sehun… sebenernya apa yg terjadi? Apa pelakunya kibum lagi? Orang yg sama yg nyerang sehun kan?
    Duuhh,, yg jelas gue.makin kesel sama si orion ini, awas aja lo ya kalo chen udah dateng! Ugh!! #emosiegen #lol
    Mian malah ngomel2 thornim, coz gak.nyangka aja ilhoon mati secepat ini.. huuee
    Ijin lanjutin baca yah thornim, fighting!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s