I Love You

iloveyou

Title                 : I Love You

Author             : Rai Sha

Cast                 : Byun Baekhyun [EXO] and You

Genre              : Romance, fluff (are you serious? No, I’m not. Ini benar-benar bukan fluff!)

Length             : One shoot yang kepanjangan ._.v (serius deh, ini panjang banget. Sekitar 5700+ kata)

Rating              : PG-13

Disclaimer       : all cast(s) is belong to themselves. The story and OC is mine.

Note                : ini pernah di posting di wp saya. Jika berminat untuk mengunjunginya ini linknya http://hanahanazing.wordpress.com

“Byun Baekhyun tidak akan pernah bosan mengucapkan ‘I love you’”

Tak pernah sekalipun terlintas dibenakku bahwa aku akan berpacaran dengan Byun Baekhyun. Iya, Byun Baekhyun yang itu, si vokalis band sekolah yang tak pernah terdengar dekat dengan gadis manapun karena dia selalu terlihat bersama Chanyeol, pemegang posisi lead guitar di band sekolah. Gara-gara mereka hampir selalu terlihat berdua dan hubungan mereka terlihat dekat sekali, banyak yang berpikir bahwa mereka adalah pasangan gay. Termasuk aku.

Makanya, aku sama sekali tidak menyangka ketika Baekhyun tiba-tiba datang padaku saat aku duduk sendirian di kelas dan mengatakan ‘I love you’ padaku. Aku sempat tercengang untuk beberapa detik, bahkan aku merasa bahwa dunia berhenti berputar. Tentu saja aku kaget ditembak dengan kata-kata seperti itu, karena yaaah, aku hanya merasa aneh bahwa Baekhyun yang katanya adalah seorang gay namun dia malah menembakku yang seorang gadis—secara tiba-tiba. Dan juga, aku kaget karena kami sama sekali tidak pernah saling bicara, palingan hanya saling melempar senyum saja ketika berselisih karena kami memang teman sekelas.

“Hah? Kau jangan ngomong sembarangan, Baekhyun,” kataku setelah berhasil mengontrol rasa kagetku yang sangat berlebihan. Di depanku, Baekhyun sedang tersenyum tipis sambil memperlihatkan tampang imutnya yang bagai anak kucing. Astaga. Gara-gara wajahnya yang terlalu feminine itulah aku tidak pernah memandangnya sebagai lelaki.

Baekhyun menggaruk-garuk belakang kepalanya dengan canggung sambil tersenyum malu-malu. “Aku benar-benar serius dengan ucapanku,” ucapnya. “Emm, apa kau mau menjadi pacarku?”

Oke, aku memang sama sekali tidak menyukai Baekhyun dan tidak pernah berpikir bahwa aku akan menyukainya. Tapi, ditembak oleh seorang cowok tiba-tiba seperti ini, ditambah lagi dengan tampang malu-malunya yang sangat menggemaskan, mau tidak mau aku gugup juga. Aku seperti bisa merasakan rasa gugup yang keluar dari sikap kikuknya itu. Walaupun sebenarnya hal ini tidak romantis.

Ini bukan pertama kalinya aku ditembak oleh seorang lelaki. Ayolaah, aku memang tidak secantik Victoria yang badannya selentur karet itu atau seimut Taeyeon yang memiliki suara emas (oh, mungkin Baekhyun akan lebih cocok bersamanya karena mereka sama-sama imut dan memiliki suara emas. Mungkin jika mereka menikah akan menghasilkan anak-anak yang sama imutnya dengan orangtuanya). Tapi, aku termasuk siswi yang cukup populer karena aku beberapa kali berhasil menggaet bintang-bintang sekolah. Sebut saja Jongin si master dance sekolah, aku memang tidak pernah berpacaran dengannya namun aku sempat dekat dengannya. Tapi, setelah kencan pertama, kami merasa bahwa kami lebih cocok menjadi teman dan akhirnya kami tetap bersahabat sampai sekarang. Atau, aku juga pernah mendekati Kris yang playboy itu dan kami sempat dekat selama beberapa saat, tapi kemudian aku menyadari bahwa akan sia-sia saja berpacaran dengan orang seperti dia dan akhirnya aku menjauhinya. Dan tentu saja, aku pernah ditembak oleh Joonmyun, si ketua organisasi sekolah yang sangat kaya dan pintar itu tapi aku menolaknya lantaran aku merasa bahwa kami terlalu berbeda dalam segala aspek. Yaah, walaupun ujung-ujungnya aku tidak pernah berpacaran dengan anak-anak populer itu, tapi dengan pesonaku yang tersembunyi ini, jika aku mau aku pasti bisa mendapatkan mereka. Dan sekarang, sepertinya Byun Baekhyun-lah yang menjadi korban pesonaku yang tersembunyi ini.

“Apa kau yakin kau ingin aku menjadi pacarmu? Kau belum mengenalku dengan baik, Baekhyun,” ujarku dengan pesan tersirat. Kira-kira kalau dikatakan secara gamblang akan terdengar seperti ini, “aku tidak mau berpacaran dengan orang yang memiliki reputasi sepertimu.”

Tapi, sepertinya Baekhyun benar-benar polos hingga tidak menyadari pesan tersirat itu. “Aku tidak mungkin menyukai seseorang yang tidak aku kenal dengan baik.” Baekhyun kembali memamerkan senyumnya yang manis, membuatku berpikir bahwa sebenarnya Baekhyun akan menjadi salah satu cowok yang diincar di sekolah kalau saja gosip buruk itu tidak menerpanya. Hey, aku jadi prihatin dengannya. Jahat sekali orang yang menyebarkan gosip-gosip murahan seperti itu.

Aku membuka mulutku, hendak mengatakan kata-kata seperti ‘maaf, aku tidak bisa berpacaran denganmu’ atau ‘lebih banyak gadis yang cocok untukmu’ tapi alih-alih mengatakan itu semua, aku malah kembali menutup mulutku dan menatapnya dengan tatapan bingung. Bagaimana cara menolak yang halus agar tidak menyakiti hati lelaki yang imut ini ya? Aku tidak tega padanya.

“Apa… kau benar-benar serius menyukaiku? Seperti rasa suka dari seorang lelaki kepada seorang gadis?” tanyaku lagi memastikan sambil menelengkan kepalaku. Aku tidak ingin ya, dia sengaja berpacaran denganku hanya untuk menghapus reputasinya dan Chanyeol sebagai pasangan sesama jenis.

Baekhyun mengangguk mengiyakan sambil tersenyum lembut. Tiba-tiba ia meraih jemariku dan meletakkannya di dadanya, membuatku bisa merasakan debaran jantungnya yang terlampau cepat. Astaga. Sebegitu gugupnya kah dirimu, Baek?

“Kau merasakannya, kan? Aku benar-benar serius menyukaimu.” Ia melepaskan jemariku dan entah kenapa ada perasaan sedikit kecewa di dalam hatiku saat dia melakukannya. “Dan kumohon, walaupun selama ini aku tidak memperdulikan hal ini, tapi tolong jangan percaya bahwa aku adalah seorang gay. Aku masih normal.” Dia memang tidak menampakkan raut sedihnya itu padaku, tapi aku bisa merasakan ada perasaan sedih dalam kata-katanya. Tch. Tiba-tiba saja aku ingin membenturkan kepalaku ke dinding gara-gara dengan mudahnya mempercayai hal remeh seperti itu.

Dan dari sekian banyak bintang-bintang sekolah yang mendekatiku, sepertinya hanya Baekhyun yang bisa membuatku mengiyakannya.

“Baiklah, Baekhyun, aku mau menjadi pacarmu.”

Sepertinya untuk menyukai Baekhyun sangat mudah karena tiba-tiba saja aku mulai merasakan hal aneh itu. Pertama kalinya adalah ketika sekolahku mengadakan penutupan festival musim panas tahunan yang biasanya diadakan di malam hari. Seperti biasa, EXO—band sekolah yang divokalisi oleh Baekhyun dengan 5 personil (Baekhyun sebagai vokalis, Chanyeol di posisi lead guitar, sedangkan Yixing mengisi posisi rhythm guitar, Minseok sebagai bassis, dan Tao sebagai drummer)—mengisi acara. Dan aku bersumpah Baekhyun benar-benar terlihat sangat tampan malam itu (ingat, tampan bukan imut. Aku saja sampai kaget karena dia bisa juga berpenampilan seperti itu). Sebenarnya simpel, ia hanya mengenakan sleeveless shirt berwarna hitam yang memperlihatkan lengannya yang kecil namun sedikit berotot dan celana jeans yang sangat pas di kaki rampingnya itu. Belum lagi rambutnya yang biasanya berwarna coklat gelap itu sekarang menjadi berwarna hitam dan diatur sedikit berantakan, ditambah riasan eyeliner tipis di sekitar matanya yang menambah kesan misterius pada dirinya. Sungguh, aku benar-benar terpesona dengannya dan hal ini membuatku sama sekali tidak menyesal sudah menerimanya menjadi pacarku (hey, ini bukan berarti aku hanya menilai seseorang dari fisik ya. Aku hanya merasa bersyukur bahwa Baekhyun bisa terlihat setampan itu dan membuatku sangat berdebar-debar karenanya).

Aku melihat mata Baekhyun mencari-cari sesuatu diantara penonton yang mulai berkumpul di depan panggung ketika MC menyebutkan bahwa EXO akan segera tampil. Well, walaupun 2 personilnya mempunyai gosip buruk, tetap saja EXO memiliki popularitas yang tinggi. Ini karena memang personil EXO semua tampan dan banyak gadis-gadis yang mengincar mereka, termasuk Chanyeol—walaupun dia mempunyai reputasi buruk seperti Baekhyun. Yaah, jujur kuakui bahwa Chanyeol memang tampan.

Ketika mata Baekhyun menangkap tatapanku, aku segera melemparkan senyumku padanya sambil melambai kecil. Dia membalas senyumanku dengan senyuman lebar hingga kedua matanya menyipit. Kemudian aku mengucapkan kata ‘semangat’ sambil mengepalkan kedua tanganku, posefighting!’. Baekhyun mengangguk kecil sambil memamerkan ibu jarinya padaku.

Setelah persiapan di panggung selesai, Chanyeol memberi kode kepada personil lain untuk memulai. Ia memetik senar gitarnya dan melodi dengan alunan lambat mulai mengalun. Ketika Baekhyun mulai mengeluarkan suaranya yang bagus itu, aku baru mengingat lagu yang sedang mereka mainkan. Sebuah lagu slow rock dengan lirik yang sangat romantis.

Don’t wanna close my eyes

Tak ingin kupejamkan mataku

I don’t wanna fall asleep

Tak ingin kuterlelap

‘Cause I’d miss you, baby

Karna aku kan merindukanmu, sayang

And I don’t wanna miss a thing

Dan tak mau kulewatkan apapun

Suara Baekhyun mengalun dengan merdunya. Dari bagian paling belakang penonton, aku terus tersenyum menatapnya yang sedang menyanyi dengan sepenuh hati. Para penonton yang sejak tadi sibuk meneriakkan nama-nama personil EXO terdiam ketika Baekhyun mengeluarkan suaranya dan ikut menikmati permainan musik EXO.

‘Cause even when I dream of you

Karna meski saat ku bermimpi tentangmu

The sweetest dream would never do

Mimpi terindahkanpun takkan bisa mengganti

I’d still miss you, baby

Aku kan tetap merindukanmu, sayang

And I don’t wanna miss a thing

Dan tak mau kulewatkan apapun

 

(Aerosmith – I Don’t Wanna Miss A Thing)

Tatapan Baekhyun kembali jatuh pada mataku, kemudian dia tersenyum tipis sambil menyanyikan lagu romantis itu. Dan tahu tidak? Ini rasanya seperti dia sedang mengungkapkan perasaannya padaku dengan lagu itu. tanpa sadar, aku merasakan wajahku memanas dan senyum yang sedari tadi menghias wajahku tertarik semakin lebar. Ada sensasi aneh dalam perutku dan jantung ini mulai berdebar tidak karuan.

Aku yang tidak tahan dengan tatapan Baekhyun yang sedari tadi menancap padaku segera mundur perlahan dan pergi dari sana secepat mungkin. Lama-lama aku bisa gila. Hanya Byun Baekhyun yang pernah membuatku sampai seperti ini.

“Tunggu!”

Langkahku terhenti begitu mendengar Baekhyun berhenti bernyanyi secara tiba-tiba. Penasaran dengan tingkah Baekhyun yang mendadak aneh dan menarik perhatian, aku memutar badanku untuk melihatnya—masih dengan dada yang berdegup cepat.

Baekhyun melihat ke arahku, membuat seluruh pasang mata yang ada di sana juga mengikuti yang dilakukan Baekhyun. Ada apa ini? Kenapa mereka semua melihatiku?

Ich liebe dich,” ucap Baekhyun dengan senyuman memukau yang membuat seluruh orang di sana bersiul-siul heboh.

Tidak lama, music kembali bermain dan Baekhyun kembali bernyanyi, sedangkan aku hanya menatap Baekhyun dengan pandangan heran karena tidak mengerti dengan situasinya.

Setelah seminggu menjalin hubungan dengan Baekhyun, aku sadar bahwa Baekhyun sebenarnya bukan tipikal cowok romantis seperti yang ada di cerita-cerita roman picisan itu. Aku sendiri sebenarnya tidak menuntutnya untuk menjadi orang yang romantis—walau sebenarnya aku berharap punya pacar yang bisa melelehkan hatiku dengan sikap romantis. Tapi, sepertinya Baekhyun punya cara tersendiri untuk membuatku berdebar-debar tidak keruan.

Suatu kali, Baekhyun tiba-tiba mendatangiku yang sedang duduk melamun di kursi pinggir lapangan basket. Para anggota klub basket sedang berkumpul di tengah lapangan, termasuk Kris. Aku sempat beberapa kali menangkap basah Kris yang sesekali melirik ke arahku, namun langsung membuang wajah ketika ketahuan olehku. Aku tidak akan besar kepala jika sebenarnya dia tidak bisa melupakanku. Oh, sepertinya aku sudah besar kepala sekarang.

“Sedang apa kau di sini?” tanyanya yang segera membuyarkan pikiranku. Aku menoleh dan mendapati Baekhyun dengan ekspresi polosnya. Ada bulir-bulir keringat kecil di dahinya. Ia mengikuti arah pandanganku kemudian seperti menyadari sesuatu, dia berkata, “aahh… apa kau kemari karena ingin melihat Kris?”

Aku mengambil sapu tangan dari dalam kantong blazer-ku sambil mengabaikan pertanyaan Baekhyun yang diam-diam membuatku ingin tertawa dalam hati. Pasalnya, aku mendengar nada cemburu dalam suaranya. Sambil mencoba menahan senyumku, aku menampakkan wajah datar pada Baekhyun yang kudapati sedang menatapku dengan wajah cemberut, persis anak kecil yang tidak dibelikan mainan baru oleh orangtuanya.

“Memangnya kenapa kalau aku kemari ingin melihat Kris?” balasku, kemudian menghapus bulir-bulir keringat Baekhyun dengan saputangan warna merahku, tidak memperdulikan ekspresi terkejut Baekhyun karena tindakanku yang sedikit… ehm perhatian?

Ah bodoh! Seorang pacar memang harus bersikap perhatian!

Entah sebenarnya siapa yang aku sebut bodoh di sini. -_-

Sepertinya wajah Baekhyun kelunturan warna saputanganku karena aku melihat wajahnya memerah bagaikan kepiting rebus. Aigoo… polos sekali lelaki ini. Aku tidak menyangka bisa berpacaran dengan orang seperti dia.

Aigoo… lihat dirimu, Baek. Sepertinya saputanganku luntur karena wajahmu tiba-tiba saja jadi merah seperti itu.” Aku berdecak sambil menggeleng-geleng kecil. Ia hanya memalingkan wajahnya sambil memainkan kedua kakinya di tanah. Tapi, aku bisa memastikan bahwa dia sedang mengulum senyumnya saat ini.

“Hei…” panggilku sambil menyenggol kaki Baekhyun dengan kakiku. “Hei, Baekhyun…” panggilku lagi dengan nada lebih tinggi ketika Baekhyun sama sekali tidak meresponku. “Baekhyun!”

Ups. Sepertinya aku berbicara kelewat nyaring karena sekarang bukan hanya Baekhyun saja yang melihat ke arahku, namun hampir semua (atau bahkan semuanya) anggota klub basket juga melakukan hal yang sama. Aku bahkan dapat melihat dengan jelas ekspresi Kris yang seolah mengatakan, “kau sekarang berkencan dengan bocah pecinta sesama jenis seperti dia? Tch. Lebih baik kau bersamaku yang jauh lebih baik dari bocah itu.”

Jika saja dia berani mengatakan hal itu terang-terangan di depanku, aku pasti akan langsung membuat tubuh tingginya itu menjadi pendek.

“Ah! Aku harus kembali. Masih ada latihan bersama EXO. Kau tunggu saja di sini, aku akan mengantarmu pulang. Aku tidak akan lama. Sampai nanti.” Baekhyun bercerocos cepat, membuatku melongo menatapnya. Dia segera bangkit dari duduknya dan berlari ke ruang latihan EXO.

Aku hanya menatap punggungnya yang menghilang di tikungan yang menuju Studio Band, dengan senyum simpul terpasang di bibirku. Melihat sikap Baekhyun yang begitu polos, entah kenapa membuatku geli sendiri—dalam arti yang bagus tentu saja.

Tatapanku jatuh kembali pada sekelompok tim basket di tengah lapangan. Aku masih sesekali memergoki Kris masih melirikku, tapi dengan tatapan yang berbeda sebelum dia melihatku bersama Baekhyun barusan. Ada apa dengan cowok itu, sih?

“Hei,” kata seseorang setengah berbisik di dekat telingaku. Secara refleks aku langsung memalingkan wajahku ke arah sumber suara. Dan jika saja aku tidak cepat memundurkan wajahku, pasti wajahku hanya berjarak beberapa senti dari orang itu—well, sebenarnya itu Baekhyun. Kenapa dia kembali?

“Baekhyun,” aku mengerjapkan mataku saat berhasil mengontrol rasa terkejut sekaligus grogiku. Hei, tentu saja aku gugup ketika wajahku dan wajah Baekhyun sangat dekat. Bahkan sekarang wajah kami hanya berjarak beberapa jengkal saja, hingga aku dapat merasakan nafas hangatnya.

Baekhyun tersenyum. “Je t’aime.”

Kemudian dia langsung berlalu sesudah mengecup cepat pipiku.

Astaga. Apa itu tadi?

“Ehmm… apa kau pernah belajar bahasa Spanyol?” Baekhyun membuka percakapan ketika aku dan dia sedang makan siang di kantin sekolah.

Aku memandang Baekhyun heran sambil terus menyumpitkan ramyun ke mulutku dengan cara yang sangat tidak feminine. Jika aku bersama dengan lelaki lain, aku pasti akan menjaga sikap dan tidak memperlihatkan sifatku yang agak serampangan ini. tapi, sekarang aku sedang bersama Baekhyun, lelaki yang—ehem!—menyukaiku tanpa mempermasalahkan tingkah lakuku yang terlalu apa adanya. Hey, kalau tidak percaya, lihat saja pandangan matanya yang masih melihatku dengan pandangan malu (dalam arti yang bagus tentu saja karena aku melihat sedikit rona pink di wajah imutnya itu) dan… apa kata yang pas untuk hal yang satu ini? uh… mungkin kagum, tapi lebih dari itu. yaah, pokoknya seperti itulah.

“Bahasa Spanyol? Aku tidak pernah mempelajarinya sedikitpun,” jawabku setelah meminum air mineral yang ada di atas meja. “Kenapa memangnya?” aku menjauhkan mangkuk yang hanya tersisa kuahnya itu dariku, sedangkan Baekhyun menyodorkan selembar tisu padaku.

Ia menaruh dagunya di atas sebelah tangannya dengan matanya yang masih terus melekat padaku, seakan tidak ingin melewati satu hal pun yang kulakukan, membuatku diam-diam tersenyum (sebenarnya tidak bisa disebut diam-diam karena aku tahu senyum tipisku ini pasti terekam oleh mata Baekhyun yang terus menempel padaku). “Tidak apa-apa,” katanya kemudian tersenyum—dengan sangat manis sampai-sampai aku ingin mencubit kedua pipinya. Tuhan, kenapa lelaki ini begitu imut melebihi diriku yang seorang perempuan? Saking menggemaskannya Baekhyun, aku jadi mengabaikan pertanyaan aneh Baekhyun. Dan aku juga mengabaikan pertanyaan yang selalu terngiang-ngiang di kepalaku selama ini bagaimana bisa aku mengencani lelaki seperti Baekhyun. Itu sebuah misteri. Yeah, aku tahu.

Keheningan menyelimuti kami berdua dan Baekhyun masih bertahan dengan posisinya yang terus memandangiku. Sebenarnya aku gerah karena aku memang tidak terbiasa dipandangi orang terlalu lama, tapi entah kenapa aku membiarkan sikap Baekhyun itu terhadapku. Membiarkan dada ini lagi-lagi mulai berdegup kencang secara tidak jelas hanya gara-gara tatapan Baekhyun. Membuatku terus-menerus mengalihkan pandangan begitu mataku bersirobok dengan mata Baekhyun. Astaga. Tumben sekali Byun Baekhyun bisa bertahan selama ini. biasanya dia duluanlah yang menghentikan pandangannya itu dariku dengan alasan dia terlalu malu untuk melihatku. Jadi, kenapa sekarang aku yang bersikap seperti ini?

Lagi-lagi aku memalingkan wajah begitu tatapanku bertabrakan dengan mata Baekhyun. Ia menarik salah satu sudut bibirnya yang sangat menggoda untuk kucium itu. Ya ampun, apa yang baru saja aku pikirkan? Dasar gadis cabul! Kenapa kau berpikiran mesum seperti itu? hhh… ini semua gara-gara Baekhyun tiba-tiba terlihat seksi dengan senyum itu. dan kesan imut itu seakan menguap dan digantikan dengan ketampanan luar biasa. Jujur kuakui, Baekhyun menjadi semakin tampan semenjak malam festival musim panas kemarin. Baekhyun dengan rambut hitam yang sedikit berantakan benar-benar terlihat menggoda. Tuh kan, aku jadi berpikiran aneh lagi.

Aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kantin dan mendapati beberapa pasang mata sedang memperhatikan kami. Bahkan, sekumpulan gadis-gadis tahun pertama yang duduk di sebelah meja kami secara terang-terangan sedang menggosipi kami dan mereka memelototi Baekhyun seakan baru menyadari ketampanan Baekhyun (well, sebenarnya aku juga baru menyadarinya ketika malam itu sih). Mereka tidak boleh melihat Baekhyun dengan pandangan menjijikan seperti itu. Baekhyun itu milikku! Ehm.. iyakan? Baekhyun memang milikku, kan? Setidaknya untuk saat ini. dengan segera aku melemparkan pandangan tajam pada gadis-gadis tidak tahu malu itu dan mereka langsung berhenti menatapi Baekhyun. Cih! Kalian mau merebut Baekhyun dariku? Sori, tidak akan pernah bisa.

Baekhyun tertawa kecil, membuatku mengerutkan kening dan menatapnya heran. “Ada apa? Kenapa kau tertawa?”

“Tidak apa-apa,” ia menyunggingkan senyum yang tertahan di bibir, sisa dari tawanya tadi.

Aku menyipitkan mataku berusaha mengintimidasi Baekhyun agar memberitahuku alasannya tertawa. Dia tidak mungkin bisa membaca pikiranku tentangnya tadi kan? Atau hal itu malah jelas-jelas tertulis di jidatku?

“Apa, Baek? Cepat katakan padaku.”

Baekhyun menggeleng pelan. “Tidak, kau manis,” katanya sambil mengacak rambutku.

Segera setelah itu, tanpa bisa kukendalikan rasa panas menjalari wajahku. Aku berani bertaruh bahwa wajahku saat ini pasti benar-benar memerah, bahkan sampai ke telinga. Ya ampun, ya ampun. Sudah banyak lelaki yang mengatakan hal serupa padaku, dan hanya Byun Baekhyun yang memberikan efek sebesar ini terhadap tubuhku. Gila! Cinta Baekhyun sepertinya sudah meracuniku.

Te Amo,” katanya lagi.

“Apa artinya itu?”

“Itu PR buatmu, cantik.”

Kemudian Baekhyun pergi begitu saja, meninggalkanku dalam tanda tanya besar di kepala dan degupan jantung yang benar-benar cepat. Bagaimana mungkin dia bisa melakukan hal itu terhadapku?

Aku mengambil ponselku yang tersimpan dibalik bantal ketika merasakan ponselku bergetar. Sudah hampir tengah malam dan siapa yang mengusikku jam segini? Oke, tidak mengusik sih karena sedari tadi aku mencoba memejamkan mata tapi aku tak kunjung sampai ke dunia yang bernama dreamland.

Huh! Ini semua gara-gara manusia yang bernama Byun Baekhyun! Dia terus saja lewat di depanku setiap aku memejamkan mata.

Oh! Ada SMS. Dari Baekhyun.

Apa kau sudah tidur? Maaf jika mengganggu, tapi ada satu hal yang mengganggu pikiranku. Bisakah aku mengatakannya?

Aku tersenyum ketika melihat SMS dari lelaki yang statusnya adalah pacarku itu. Ternyata dia juga memiliki masalah tidur sepertiku. Dengan cepat aku mengetik balasan untuknya.

Namun, sebelum sempat aku menyentuh tanda kirim, ponselku kembali bergetar. Kali ini, sebuah telpon. Dari Baekhyun, tentu saja.

“Baek!” kataku begitu aku mengangkat panggilan telepon. Aku tidak terdengar antusias kan tadi? Apa aku terdengar terlalu gembira?

Di seberang sana, Baekhyun tertawa kecil yang dapat langsung kusimpulkan bahwa aku memang terdengar seantusias itu. Oh tidak.

“Iya, ini aku,” balasnya hangat setelah tawa kecil itu mereda. Aku bisa mendengar senyum dalam suaranya itu. Pasti dia sedang memamerkan senyum lembutnya itu yang akan membuatku meleleh jika melihatnya.

“Ehem,” aku berdeham untuk menenangkan diriku sekaligus menghilangkan nada antusias dalam suaraku. “Kenapa kau menelponku malam-malam seperti ini?” well, suaraku sudah lebih baik sepertinya. Tidak lagi terdengar nada ceria.

“Tidak apa-apa, aku merindukanmu.”

Blush.

Sial! Walau Baekhyun hanya mengatakannya lewat telepon, kenapa rona merah sialan ini tetap muncul?!

“Ja—jangan mengatakan hal tidak penting tengah malam begini.” Uh-huh aku bahkan tidak bisa menyembunyikan rasa berdebar-debar dalam suaraku.

“Hehehe aku hanya ingin mengatakannya. Sebaiknya kau tidur sekarang.”

“Kalau begitu, selamat malam, Baekhyun.”

Aku baru saja ingin memutus sambungan telepon, aku mendengar Baekhyun kembali berbicara. “Ya, selamat malam juga. Phom rak khun.”

Klik! Sambungan terputus.

Kenapa Baekhyun senang sekali mengatakan hal-hal aneh yang tidak aku mengerti?

“Hey, apa kau tahu arti ‘Aloha Au la`Oe’ dalam Bahasa Hawaii?” kata Baekhyun saat kami sedang berjalan kaki menuju halte bus dekat sekolah. Langit sudah menampakkan semburat oranye dan suasana di sekitar kami sudah sepi. Aku baru saja menunggu Baekhyun berlatih dengan EXO, seperti biasa.

Aku menoleh padanya dan mendapati Baekhyun sedang menatapku lembut. Tangan kami saling berbenturan disetiap langkah kami dan itu cukup mengganggu. “Tidak tahu. Memang apa artinya?”

“Aku akan memberitahumu nanti,” Baekhyun menarik kedua sudut bibirnya dan aku menyadari bahwa Baekhyun baru saja menyelipkan jemarinya diantara jemariku, kemudian menggenggam tanganku dengan halus.

Oh-oh. Baekhyun sudah mulai berani bersikap agresif seperti ini dan ini bukan kabar baik bagi jantungku. Jantungku pasti akan berdegup lebih cepat dan ini akan membuat seluruh tubuhku dingin setiap Baekhyun bersikap seperti ini.

Baekhyun bersenandung kecil sambil meganyunkan kedua tangan kami yang saling bertautan dengan pelan.

Saranghae geudae du nun chaeul su itdamyeon

Aku cinta padamu. Jika aku bisa mengisi kedua matamu

Saranghae geudae naege useum boyeojundamyeon

Aku cinta padamu. Jika aku bisa menunjukkan senyumku padamu

Jeogi byeolbitmajeodo modu gajyeoda jultende ohhh…

Aku bisa memberikan semua bintang terang yang ada di langit

Saranghae ireon nae mam jeonhal su itdamyeon

Aku cinta padamu. Jika aku bisa menunjukkan cintaku padamu

Saranghae geudae geu mam gareuchyeo jundamyeon

Aku cinta padamu. Jika kamu bisa mengajariku hatimu

Na modu darmagalkkeyo

Aku akan mengikuti apapun yang kamu lakukan

Love U Love U Love U yeongwonhi

Kucinta kamu, kucinta kamu, kucinta kamu selamanya

(Howl – Love You. Boys Before Flower OST)

Selesai menyelesaikan nyanyiannya, Baekhyun menoleh ke arahku dan tersenyum hangat. Ia mengangkat tanganku yang ada di genggamannya dan mengeluarkan sebuah gelang dari kantungnya menggunakan tangannya yang lain. Kemudian dia pasangkan gelang coklat itu di tanganku, tidak memperdulikan tatapanku yang kebingungan.

“Ini… di dalamnya terukir sebuah tulisan,” gumamku terpesona akan kecantikan gelang itu. gelang itu sebenarnya simpel, tapi entah kenapa aku menyukainya. “Aloha Au la`Oe,” ejaku agak terbata karena aku tidak tahu bagaimana mengucapkan kata ini dengan benar. “Ini kata-kata yang kau sebutkan tadi kan, Baek?”

“Emp! Aku akan memberitahu artinya padamu suatu saat,” Baekhyun menyengir dan kembali berjalan dengan langkah ringan. Dia kembali menggenggam tanganku dan menggoyangkannya setiap kami berjalan, persis seperti anak kecil yang girang karena dibelikan mainan baru oleh orangtuanya.

Kemudian, secara tiba-tiba ia berhenti melangkah yang membuatku hampir menubruk bahunya, ia memutar badan menghadapku dan kemudian itu terjadi begitu cepat hingga aku tidak yakin bahwa itu benar-benar terjadi.

Baekhyun menciumku.

Di bibir!

Ya ampun, Baekhyun! Apa yang baru saja kau lakukan??

Kupikir semuanya akan berjalan lancar.

(aku berbicara tentang hubunganku dan Baekhyun).

Kami tidak pernah bertengkar sejak hubungan kami dimulai 3 bulan yang lalu. Baekhyun terkadang masih melakukan hal-hal yang diluar dugaanku, semacam mengecup puncak hidungku (aku merasa seperti hampir mati ketika Baekhyun melakukannya) atau memelukku di tengah lapangan sekolah saat istirahat makan siang (bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi diriku ketika lelaki tampan yang adalah pacarmu melakukan hal tersebut di depan umum? Aku bahkan merasa matang saking panasnya tubuhku saat itu). Baekhyun juga masih sering mengatakan hal-hal yang tidak aku mengerti.

(Sejujurnya aku ingin mencari arti kata-kata yang diucapkan Baekhyun, tapi aku tidak tahu bagaimana tulisan yang benar jadi aku mengurungkan niatku -_-).

Ik hou van jou,” bisiknya di suatu malam saat dia menelponku sebelum tidur.

“Apa artinya itu, Baek?” kataku penasaran. Dan entah sudah berapa kali aku menanyakan hal itu kepada Baekhyun.

Baekhyun hanya tertawa kemudian mengucapkan selamat tidur dan mendoakanku agar aku bermimpi indah tanpa menjawab pertanyaanku.

“Kau mengambil kelas Bahasa Jepang kan di kursusmu?” kata Baekhyun suatu kali saat aku mengerjakan PR matematika 50 soal mematikan bersama Baekhyun, namun Baekhyun hanya duduk sambil memperhatikanku mengerjakan soal itu tanpa membantuku.

(Walaupun ujung-ujungnya aku memaksanya untuk membantuku).

“Iya,” gumamku masih fokus dengan satu soal yang membuatku hampir botak. Lihat! Rambutku sudah mulai rontok! Erggh aku akan membuat Guru Shim membayariku ke salon untuk hal ini.

Watashi wa anata ni koi wo shiteimasu. Anata ga daisuki desu.”

Uh… apa aku pernah bilang bahwa Bahasa Jepangku sangat buruk walau aku mengikuti kursus? Jadi, aku hanya bisa melongo dan menggumam tidak jelas sebagai respon. Yeah, ini memalukan.

Kemudian Baekhyun juga membisikkannya saat pelajaran sejarah, melupakan bahwa Guru Kim bisa saja melempari kami dengan kapur tulis karena berbicara saat pelajarannya.

S’agapo.”

Aku tak memperdulikanya dan malah menyikutnya pelan sebelum Guru Kim menemukannya sedang berbicara di tengah pelajaran.

Ti Amo,” katanya tiba-tiba ketika kami berada di halte bus dekat sekolah, hendak pulang.

Aku hanya menatap Baekhyun agak malas dan tidak berselera lagi untuk menanyakan lagi apa arti kata-kata aneh yang dilontarkannya itu karena Baekhyun tidak pernah mau memberitahuku.

Dan sekarang sedang hujan. Daripada mengucapkan kata-kata aneh itu, kenapa dia tidak melepaskan jaketnya dan memberikanya padaku yang berusaha setengah mati agar tidak gemetar? Yaah, tapi melihat tubuh kecil Baekhyun mungkin dia lebih membutuhkan jaket itu ketimbang diriku.

Tapi tetap saja kan…

“Kau kedinginan?”

Aku menoleh dan melihat Baekhyun sedang melepaskan jaket birunya itu.

“Seharusnya kau bilang kalau kau memang kedinginan,” ujarnya sambil mendekat ke arahku dan menyampirkan jaket itu ke bahuku. “Jadi, aku bisa menghangatkanmu,” sambungnya. Ia menarikku mendekat ke arahnya dan memeluk bahuku lembut.

Jika begini caranya, tanpa jaket Baekhyun pun aku bisa memanas hanya karena sentuhannya.

Namun, tiba-tiba keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat…

“Woah, Baekhyun. Hebat dalam beberapa minggu saja, rumor kita sudah menghilang tak berbekas. Memang keputusan yang tepat kau memacarinya.”

“Chanyeol, aku memacarinya bukan untuk itu.”

“Tapi kau tidak bisa mengelak bahwa kau memacarinya adalah salah satu alasan untuk menghilangkan rumor itu kan?”

“Chanyeol, aku—”

Cukup, aku tidak ingin mendengar apapun lagi. perasaanku yang mengatakan bahwa Baekhyun memacariku hanya untuk menghilangkan gosip di awal hubungan kami memang benar. Baekhyun tidak pernah benar-benar menyukaiku. Semua yang dikatakannya, semua yang dilakukannya hanyalah sandiwara semata agar aku dan seluruh sekolah benar-benar percaya bahwa dia memang menyukaiku.

Aku mencengkram hendel pintu studio EXO itu sambil menahan mataku yang memanas, ingin mengeluarkan tetesan air yang mulai mendesak keluar. Kudorong pintu itu dan tersenyum manis pada Baekhyun dan Chanyeol yang melihatku dengan pandangan horror.

“Baekhyun…,” senyumku berusaha terlihat baik-baik saja. “Aku ingin berbicara denganmu.”

“Ah, anu, aku—“

“Chanyeol, bisa kau keluar sebentar?” aku menatap Chanyeol, mengabaikan Baekhyun yang mencoba berbicara padaku. Chanyeol terlihat merutuki dirinya sendiri karena aku melihat dia menampakkan ekspresi aneh, dan aku sempat melihat Baekhyun menyikut Chanyeol.

“Dengar, itu semua tidak terdengar seperti kenyataannya.”

Aku menghentikan aktifitasku yang sedang memandangi keluar jendela—itu hanya alibi, aku sedang menghapus air mataku yang tiba-tiba tidak bisa ditahan. “Memangnya aku mendengar apa?”

Baekhyun terlihat salah tingkah saat mendengar ucapanku. Dia sempat beberapa kali membuka mulutnya, kemudian tertutup lagi.

“Oh, tentang diriku yang hanya digunakan untuk menghapus rumormu dengan Chanyeol?”—aku memutar badanku menghadap Baekhyun, menunjukkan senyumku yang paling manis—“aku sudah mendengar semuanya,” ucapku merubah nada lembutku menjadi nada terdingin yang pernah aku gunakan.

“H—hey, dengarkan. Chanyeol dia—“

“Tidak, Baekhyun. Aku sudah menduga semua hal ini dari awal. Bagaimana dirimu yang tiba-tiba datang padaku dan mengajakku berpacaran, padahal kita sendiri tidak pernah saling berbicara. Bagaimana kau berusaha keras untuk menghilangkan rumormu dengan Chanyeol. Bagaimana kau berusaha terlihat benar-benar menyukaiku agar bisa meyakinkanku dan seluruh penghuni sekolah. Bagaimana susahnya kau bertindak seolah benar-benar mencintaiku padahal kau tidak. Aku mengerti itu semua, Baekhyun,” aku menarik sudut bibirku, tersenyum sinis sambil menghusap air mataku yang tiba-tiba meleleh keluar.

“Aku sangat mengerti bahwa kau benar-benar sudah muak dengan gosip-gosip yang menerpamu sehingga kau dan Chanyeol mencari cara untuk memusnahkannya. Hanya saja, kenapa itu harus aku? Kenapa tidak gadis lain yang benar-benar kau sukai, Baekhyun, sehingga kau tidak perlu bersusah payah seolah kau menyukaiku?” sambungku terus mempertahankan senyum itu. Dan kenapa air mata sialan ini tidak mau berhenti?!

“Terima kasih untuk itu semua, Baekhyun. Kau sukses mengacaukan hariku dan hatiku. Dan selamat tinggal. Aku mencintaimu.”

Aku meninggalkan ruangan itu dengan air mata yang terus menderas. Baekhyun hanya ternganga mendengar seluruh perkataanku barusan. Dia bahkan sama sekali tidak membantah apapun yang aku ucapkan, menandakan bahwa semua yang aku ucapkan memang benar adanya. Seharusnya aku memperingati diriku dari awal bahwa Baekhyun memang berbahaya bagi diriku.

Dia racun. Racun yang benar-benar mematikan. Racun pertama yang berhasil membuatku meminumnya dan membuatku sekarat.

Dan di sudut hatiku, aku mengharapkan Baekhyun mengejarku dan menjelaskan semuanya. Tapi, dia tidak.

Ini semua sudah mencapai kata tamat.

Demi Tuhan! Tidak melihat Baekhyun selama seminggu kenapa membuat kepalaku tiba-tiba sakit? Ayolah, aku sudah bertahan selama beberapa hari tanpa melihat wajahnya, tapi kenapa perasaanku begitu memaksaku untuk melihat wajahnya?

“Kudengar Baekhyun dengan pacarnya itu sudah putus.” Aku menghentikan langkahku ketika mendengar suara gadis sedang bergosip di ujung koridor. Sedangkan aku berada di ujung koridor yang lain. Gadis-gadis itu sedang berjalan ke arahku.

“Hah? Baguslah kalau begitu. Aku tidak perlu bersusah payah lagi mencari bahan untuk menghancurkan bocah satu itu. Bisa-bisanya dia berpacaran setelah menolakku! Apa hebatnya gadis itu dibanding aku, sih?!” balas gadis yang lain terus berjalan. Aku membalikkan badanku, menyembunyikan identitasku dari gadis-gadis yang sedang berbicara dengan topik yang membuatku penasaran.

Baekhyun.

Dan aku, of course.

“Kau jahat sekali padanya. Hanya gara-gara kau ditolak oleh Baekhyun, kau sampai-sampai menyebarkan rumor bahwa Baekhyun dan Chanyeol berpacaran.”

“Tch! Dan Baekhyun seolah tidak perduli dengan gosip yang beredar dan malah memacari gadis lain! Berani-beraninya dia!”

Hey, hey, hey.

Ini tidak terdengar bagus. Apa mereka baru saja mengatakan bahwa salah satu dari gadis itu pernah ditolak oleh Baekhyun dan kemudian dia menyebarkan gosip tidak bermutu itu? Oke, sekarang tiba-tiba aku ingin menjambak gadis itu sampai gundul.

Baru saja aku ingin mengejar kedua gadis itu dan mengajaknya catfight karena sudah berani macam-macam pada Baekhyun-ku (oke, dia bukan milikku lagi sebenarnya), aku mendengar suara Baekhyun terdengar dari arah studio Band.

Dia sedang bernyanyi. Dengan sepenuh hati dan suaranya mengalun lembut, membuat emosiku yang sudah berada di puncak seketika menjadi tenang. oh Tuhan, betapa aku merindukan suara itu.

Suara lembut itu. Suara yang sering menyanyikan lagu romantis untukku. Suara yang membisikkan kata-kata yang tidak aku mengerti setiap hari.

Kuraih gelang yang diberikan Baekhyun dari kantung blazer-ku. Aku sempat ingin membuangnya, namun aku tak sanggup. Ternyata sudah begitu dalam cintaku terhadap Baekhyun.

Tulisan dalam bahasa asing itu masih di sana (yeah, aku mengatakannya seolah tulisan itu akan pergi begitu saja -_-). Baekhyun berjanji memberitahuku artinya, tapi sampai sekarang dia tidak juga melakukannya.

Aloha Au la`Oe.

Aku mengetik kata itu di ponselku dan mencarinya di internet. Di era serba canggih begini, sangat bodoh kalau orang-orang tidak memanfaatkan penemuan Bapak Leonard Kleinrock ini.

(ya, ya aku tahu sebelumnya aku termasuk dalam golongan orang bodoh itu. seharusnya aku lebih cepat mencari kata asing itu sebelum rasa penasaran ini membunuhku).

Kemudian sederet link muncul dan salah satu situs menarik minatku dengan judul “100 Kata Cinta Dalam Berbagai Bahasa di Dunia”.

Well, ini cukup menarik.

Aloha Au la`Oe dalam bahasa Hawaii berarti I love you.

Oke, ini lebih dari sekedar menarik.

Dengan cepat aku membaca kata-kata asing itu yang memiliki satu arti yang sama. Dan semua hal itu bagaikan menghantamku, karena kini aku mengerti sebenarnya apa yang ingin disampaikan Baekhyun.

Ich liebe dich dalam bahasa Jerman. Baekhyun menyampaikannya ketika malam festival.

Je t’aime dalam bahasa Prancis. Baekhyun mengucapkannya ketika dia mengecup pipiku.

Te Amo dalam bahasa Spanyol. Baekhyun mengatakannya ketika kami makan siang.

Phom rak khun dalam bahasa Thailand. Baekhyun membisikkannya ketika dia menelponku tengah malam.

Ik hou van jou dalam bahasa Belanda. Oh ketika itu sebelum aku tidur.

Anata ga daisuki desu dalam bahasa Jepang. Saat itu kami sedang mengerjakan PR 50 soal Matematika.

S’agapo dalam bahasa Yunani. Ini di tengah pelajaran Sejarah.

Ti Amo dalam Bahasa Itali. Ketika Baekhyun bersikap sangat manis kepadaku.

Dan masih banyak kata-kata asing serupa yang berarti sama. Dan apa aku harus menyebut diriku bodoh lagi? Sepertinya iya, karena aku memang benar-benar bodoh.

Bodoh. Bodoh. Bodoh.

Aku terus merutuki diriku sendiri sambil memukul kepalaku. Sebenarnya tidak menimbulkan sakit karena aku sendiri yang melakukannya, tapi aku yakin aku benar-benar terlihat seperti orang aneh.

Tapi, aku tidak perduli. Yang aku mau hanya Baekhyun.

Aku mau Baekhyun.

Huaaa…

“Hikss… Baekhyun…”

Gawat. Aku menangis. Kakiku tidak kuat menopangku. Aku terduduk. Air mata ini tidak bisa berhenti. Ayolah berhenti, ini ada di tengah sekolah. Jika ada siswa lain yang melihatku menangis sambil memanggil nama Baekhyun, aku akan dicap sebagai gadis mengenaskan.

Oke, aku memang sudah cukup mengenaskan sekarang.

“K—kau tidak apa-apa? Kenapa kau menangis?”

Oh-oh. Aku bahkan berimajinasi mendengar suara Baekhyun sekarang. Kewarasanku sudah hilang. Astaga. Apa aku memang benar-benar menjadi gila?

“H—hey… astaga. Ada apa denganmu?”

Bahkan lebih buruk. Aku sampai merasakan lengan Baekhyun yang hangat sedang melingkari tubuhku.

“Baekhyun… hiks…” Ha-ha. Yeah, aku cengeng sekali.

“Hey, hey, aku ada di sini. Berhentilah menangis.”

Tunggu sebentar…

Ini kenyataan? Ini buruk. Memalukan!

Aku buru-buru menghapus air mataku dan bangkit, melepaskan begitu saja pelukan Baekhyun. Ini bukan saatnya berpelukan mesra. Yang harus dipikirkan adalah kenapa Baekhyun bisa tiba-tiba ada di sini. Dan juga, bagaimana berantakannya keadaanku saat ini.

“Baekhyun!”

“Kau tidak apa-apa kan? Apa terjadi sesuatu yang buruk?” tanyanya lembut. Matanya dengan jelas menampakkan kecemasan. Dan aku jadi semakin merasa bersalah.

“Aku…” sial! Aku bingung harus mengatakan apa. Apa aku harus memberitahu Baekhyun tentang perasaanku yang sebenarnya? Atau aku harus mengatakan tentang gadis tadi yang ternyata sudah menyebarkan fitnah itu?

“Baekhyun aku tahu siapa orang yang sudah menyebarkan gosip bahwa kau dan Chanyeol adalah pasangan gay.”

Pilihan kedua terdengar lebih baik, kan?

Baekhyun tersenyum tipis dengan pose yang terlihat keren. Aku juga bingung dengan perubahan besar yang terjadi di diri Baekhyun. “Sejak gosip itu beredar, aku tidak pernah perduli. Bagiku sudah cukup jika orang-orang terdekatku percaya bahwa itu tidak benar.”

Sekali lagi, aku benar-benar bodoh kuadrat.

“Tapi… tapi…”

“Kau tidak pernah mendengar penjelasanku bukan? Sejujurnya aku memang benar-benar sudah menyukaimu sejak lama. Kemudian, Chanyeol yang mengetahui hal ini mendorongku untuk segera mengungkapkannya padamu. Dia juga bilang dengan begini, gosip tentang kami bisa menghilang karena Chanyeol juga sedang menyukai seorang gadis. Sayangnya, kau malah salah paham dan mendengar semuanya di saat yang tidak tepat. Maafkan aku karena aku tidak menjelaskan semuanya lebih cepat,” jelas Baekhyun. Dia menunduk, kelihatan menyesal dan itu semua semakin membuatku menyesal. Tch. Buat apa berarti selama seminggu ini aku menahan-nahan perasaanku?

Aku mendekati Baekhyun dengan perlahan, sedikit ragu dengan tindakan yang akan aku lakukan. Tapi, persetan dengan semua itu! aku mau mengakhiri semua ini dengan bahagia.

“Baek”—aku melingkarkan tanganku di leher Baekhyun dan berbisik di dekat telinganya—“I Love You, Ich liebe dich, Je t’aime, Te amo, phom rak khun, Aloha Au la`Oe, Ik hou van jou, anata ga daisuki desu, S’agapo, Ti amo,” kataku mengabaikan fakta bahwa aku baru saja mengucapkan kata-kata itu dengan pengejaan yang salah (aku hanya mengingat dari pengucapan Baekhyun). Aku hanya ingin membalas seluruh kata-kata itu karena tidak pernah sekalipun aku mengungkapkan bahwa betapa aku benar-benar menyukai Baekhyun sampai rasanya benar-benar menyesakkan.

“Aku… aku… maafkan aku karena sudah bertindak bodoh. Maafkan aku juga karena baru mengetahui arti itu semua. Aku tidak tahu bahwa kau… bahwa kau…” lidahku kelu. Air mataku kembali menyeruak, membuatku tersadar bahwa akhir-akhir ini aku menjadi gampang menangis.

“Sudahlah, tidak apa-apa. Aku hanya terlalu malu mengungkapkannya, dan aku pikir mengatakannya dengan berbagai bahasa seperti itu cukup romantis hehehe,” ucap Baekhyun sambil menepuk-nepuk belakang rambutku dengan lembut. “Tapi, kau sudah mengetahui arti semuanya. Padahal aku sudah berjanji akan memberitahu semua artinya padamu.”

Aku melepaskan pelukanku dan mendapati Baekhyun sedang memajukan bibirnya beberapa senti. Oh, juga terlihat sedikit rona merah di pipinya. “Tapi kau tidak pernah mengatakannya secara gamblang menggunakan bahasa Korea.” Aku mencubit kedua pipi Baekhyun dengan pelan, gemas dengan tampangnya.

Baekhyun kembali mengeluarkan senyum mautnya kemudian mendekatkan wajah kami dan menempelkan dahinya di dahiku hingga hidung kami hampir bersentuhan. “Saranghae. Neomu neomu saranghae.”

Dan cup! Cup! Cup!

Dia mengecup keningku, lalu puncak hidungku, kemudian bibirku.

Nado saranghae, Baek,” balasku sambil tersenyum lebar.

Yaah, kisah kami yang kupikir sudah mencapai kata tamat ternyata memiliki sequel. Dan happy ending!

(kuharap begitu).

11 thoughts on “I Love You

  1. J Rose berkata:

    Wahh so sweet bgt baekhyunnya,pngen bgt pnya pcar kyak baekhyun ‘3’,tp kasian jg ya hnya krna bersahabat sm chanyeol jadinya d gosipin gay -_-
    Haha tp bgs kok,ak sneng critanya😀
    Keep Writing ya and Fighting! ^^9

  2. Hanna berkata:

    Waaah.. Baek, saranghae, I love you, ich liebe dich, Je t’aime, Te amo, phom rak khun, Aloha Au la`Oe, Ik hou van jou, anata ga daisuki desu, S’agapo… Aku mencintaimu baek..he..
    Hey Rai Sha..salam kenal..he..
    Suka bangeettt sama ff nya.. Baek disini bener2 manis n bikin makin jatuh cinta..
    Ijin berkunjung k wp kamu y..😀
    D tggu karya selanjutny.. Fighting!!

    • raishaa berkata:

      aaaaa saranghae juga buat kamu yang mau baca ff-yang-niatnya-fluff-tapi-gagal ini❤ /tebar cinta
      salam kenal juga yaa. makasihh banget udah bersedia meluangkan waktunya baca ff super panjang ini.
      silahkan datang, saya akan menyambutnya dengan ramah ^^ sekali lagi makasih yaa

  3. Dessy berkata:

    Wow wow wow. . . Byunbaek romantisnya dirimu😄 ini panjang kakak author tapi ada yang lebih panjang lagi nggk. Haaaa aku jatuh cinta sama tulisanmu kakak author, aku suka bahasanya yang ringan jadi nggk ngebosenin bacanya huha😀
    oh ya salam kenal kakak author aku dessy97L.
    teruskan perjuanganmu kakak eh maksudnya teruskan buat ff yang lainnya oke.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s