Meet Him and Leave Him (Really?) Chapter 12

Judul   : Meet Him and Leave Him (Really?) Chapter 12

Author : BaoziNam

Main Cast :

-Cindy Chou (OC)

-Tao as Zitao

-D.O as Kyungsoo

-Luhan as Luhan

-Kris as Kris

-Park Chanyeol as Chanyeol

Additional Cast :

-Luna f(x)

-Jessica SNSD

-Sandara 2NE1

-Jiyoung (G-Dragon) Big Bang

Length : Chapter

Genre  : Friendship, Mystery, Romance

Rating : Teen

Disclaimer : Cerita benar-benar keluaran dari otak saya. All cast cuma pinjem, sewaktu-waktu bisa dikembalikan (?). ASLI!.

*****

“Hei. Hei. YA!” Sandara berteriak sekuat tenaga. Membuat Cindy terhenyak dan kembali ke alam sadarnya. Cindy menoleh ke arah sunbaenya yang sekarang menatapnya bingung. “Kau mendengarkan atau tidak?” tanya Sandara kesal sambil berkacak pinggang.

“Mianhae..” jawab Cindy tertunduk. Sandara pun menghembuskan napasnya lemas.

“Kenapa? Sedang ada masalah?”

“Tidak ada.”

“Bohong. Kau tak bisa membohongiku. Wajahmu menunjukan segalanya. Wae? Ada masalah dengan pacarmu?”

“Pacar siapa?”

“Pria tinggi yang pernah datang ke kampus.”

“Dia bukan pacarku!” bantah Cindy cepat. ‘Tapi dia tunanganku,’ pikir Cindy dalam hati.

“Lalu dengan siapa? Luhan? Zitao? Kris Wu?” tebak Sandara. Tepat di nama akhir, perubahan air muka Cindy berbeda dengan yang sebelumnya. Dengan cepat Sandara bisa menebak siapa yang sekarang dipermasalahkan oleh Cindy.

“Kris Wu?” protes Sandara membuat Cindy terkejut. “Dengan pria itu? Sekarang apalagi masalah kalian?” tanya Sandara. Dia agak emosi begitu mengetahui kalau Kris berurusan lagi dengan hoobae tercintanya. Otaknya langsung memutar kembali kenangan tak menyenangkan yang terjadi pada Cindy dulu.

“Baginya ini tidak bisa disebut sebagai masalah. Tapi bagiku ini adalah masalah. Dia menciumku.” Cindy pun menutup matanya, berjaga-jaga kalau sunbaenya ini nanti berteriak tidak terima.

“APA?!” teriaknya kemudian. Benar kan…

“Kau diapakan?” tanyanya lagi.

“Aku dicium olehnya.” Jawaban Cindy membuat Sandara sakit kepala. Sunbaenya itu langsung memijit keningnya yang pusing.

“Dan dia suka padaku.” Sekali lagi, jawaban Cindy membuatnya sakit kepala yang sangat sakit.

“Dan apa reaksimu?” tanya Sandara, masih menutup matanya. Dia tampaknya tidak terima akan kejadian ini.

“Tidak ada. Aku bahkan tidak bisa berpikir jernih saat itu, sunbae. Itu.. ciuman pertamaku.”

Ada keheningan lama diantara mereka berdua. Mereka berdua sama-sama sedang menenangkan hati masing-masing. Cindy sedang berpikir bagaimana caranya menjawab pernyatan Kris semalam. Dan Sandara, sedang berpikir hal yang sama ditambah menenangkan kepalanya yang masih pusing.

Sandara melepaskan tangannya dari kening. Telunjuknya menunjuk-nunjuk ke wajah Cindy dan hendak mengatakan sesuatu.

“Apa yang kau rasakan saat bersamanya?” tanya Sandara serius.

“Hmm… entahlah. Tapi, terkadang aku merasa senang dan terlindungi. Terkadang juga aku kesal dengan ekspresinya yang begitu-begitu aja. Datar dan dingin. Anehnya aku suka sekali dengan wajahnya itu. Apa itu bisa disebut perasaan suka atau hanya menganguminya saja?”

“Kau harus memastikannya sendiri. Aku tidak bisa memberitahunya padamu. Tapi, menurutku perasaanmu itu seperti perasaan seorang adik terhadap kakaknya. Tidak lebih dan tidak kurang. Jadi, tidak ada rasa kagum juga suka. Hanya penganggapan yang tidak kau sadari.”

Cindy terdiam. Dia sedang mencerna perkataan Sandara yang panjang tapi penuh makna didalamnya. Dia ingin membantah, tapi penjelasan di akhir membuatnya mengurungkan niat.

“Benarkah?” gumam Cindy lesu. Apa benar perasaannya ini hanya sebagai penganggapan yang tidak dia sadari? Apa benar dia hanya menganggap Kris sebagai pelindungnya saja?

****

Secara tidak sengaja Cindy dan Kris bertemu di lorong lantai tiga. Pria itu ada disini lagi dan Cindy tidak tahu itu. gadis itu setengah mati menahan malunya. Genggaman di buku pelajarannya menjadi semakin erat bersamaan dengan usahanya untuk menenangkan hatinya yang tidak mau berhenti berdetak.

“Hai.” Kris menyapanya.

“Kau sering sekali kesini,” ucap Cindy tanpa menatap ke mata Kris, yang sekarang ini pria itu sedang menatapnya.

“Kau juga,” balasnya dingin.

“Aku harus pergi. Sampai jumpa.” Cindy pun berjalan cepat sambil menunduk. Saat Cindy sudah hampir melewati Kris, pria itu mengatakan sesuatu yang membuat Cindy berhenti.

“Jadi apa balasanmu?”

“Apa?” tanya Cindy pelan. Sepelan apapun Cindy berbicara, tetap saja Kris bisa mendengarnya.

“Semalam.” Kris pun berbalik, menghadap punggung Cindy.

“Ah.. aku terburu-buru. Kita bicarakan lain kali, oke? Sampai jumpa.” Cindy kembali berjalan cepat meninggalkan Kris yang masih memandang punggungnya.

Sekuat tenaga Cindy menahan tangisnya. Entah kenapa air mata itu turun dengan sendirinya. Dia merasa dirinya sangatlah kejam. Dalam situasi seperti ini dia tidak tahu harus berbuat apa. gadis itu terkekang.

Cindy sedang berada dalam suatu hubungan bersama Chanyeol. Pria itu sangat menyayanginya tapi Cindy tidak bisa membalasnya. Sekeras apapun Cindy mencoba menjauhinya, tetap saja Chanyeol masih bersikap baik dan tidak pernah membantah pada apapun yang Cindy perintah padanya. Kesalahan pertamanya.

Di sisi lainnya, Cindy menyukai Luhan. Pria yang baru-baru ini datang kedalam hidup Cindy yang kelam menjadi cerah berkat pria itu. Sosok Luhan sangat membantunya untuk bangkit. Walaupun dia tidak melakukan hal yang berarti untuk Cindy, hanya dengan kehadirannya gadis itu bisa bangkit lagi. Tapi, karena hubungannya dengan Chanyeol, dia tidak bisa melanjutkan perasaannya ini sampai jauh. walaupun Chanyeol mengijinkannya sekalipun. Kesalahan keduanya.

Dan sekarang, Kris menyukainya dan kemarin ‘menyerangnya’. Kejadian itu membuat Cindy tidak bisa fokus pada apapun. Apalagi ciuman itu adalah ciuman pertama Cindy. Kris terlalu berani untuk melakukan itu. Chanyeol saja yang sudah menjadi tunangannya tidak akan berani menciumnya (walaupun pria itu pernah mendekatinya dan akan menciumnya, tetap saja dia tidak akan melakukannya). Bagaimana kalau Chanyeol tahu kejadian ini? Kesalahan ketiganya.

Terlalu banyak kesalahan besar yang ia buat. Cindy tidak tahu bagaimana harus menghilangkannya. Makanya itu dia menangis tadi. Dan sampai sekarang ia tidak berhenti menangis.

Cindy mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Ia mengetik suatu nama di pencarian nama kontak di buku telponnya. Dia menulis nama Luhan disana. Jarinya menekan tombol bergambar gagang telpon di layar, kemudian menempelkannya di telinga. Sambil menunggu panggilan diangkat, Cindy setengah mati menahan ingusnya yang akan keluar.

“Yeoboseyo. Ada apa, Cindy?”

“Kau ada waktu luang?”

“Tentu saja. hari ini banyak jam kosong. wae?”

“Kau mau menemaniku pergi keluar?”

“Aku mau aja sih.”

“Oke, aku tunggu di parkiran satu jam lagi. Gomawo.”

Cindy menjauhkan ponselnya dari telinga lalu menekan tombol merah di layarnya sebelum menenggelamkan kepalanya diantara lipatan kedua tangannya yang memeluk kedua kakinya.

****

Langkah Luhan makin melebar saat ia tahu dia sudah lewat dari jam perjanjian. Maka ia pun berlari menuju parkiran. Setibanya di parkiran, matanya langsung melirik ke setiap sudut. Akhirnya ia mendapatkan sosok Cindy yang sedang duduk di salah satu kursi, duduk menyamping sambil memainkan kedua kakinya. Luhan reflek tersenyum saat ia melihat Cindy setia duduk disana. Ia pun kembali berlari menghampiri gadis itu.

“Oh, kau sudah datang?” ucap Cindy sambil bangkit begitu dia tahu kalau Luhan sudah datang.

“Apa aku telat?” tanya Luhan sambil perlahan mengatur napasnya. Cindy mengangkat tangan kirinya dan melihat sebentar jam tangannya.

“Lewat lima belas menit. Tidak masalah. Aku menghargai kedatanganmu. Gomawo.” Cindy pun tersenyum tulus kepada Luhan. Pria didepannya langsung membatu beberapa saat sampai akhirnya ia bisa menetralkan lagi dirinya.

“Jadi kau mau kemana?” tanya Luhan gugup.

“Entahlah. Apa kau punya rekomendasi?” tanya Cindy balik.

“Hmm… Bagaimana kalau pantai?”

“Call!”

****

Berada di dalam mobil selama setengah jam membuat tubuh Cindy keram. Begitu sampai di tempat tujuan, Cindy langsung keluar dari dalam mobil kemudian merenggangkan semua ototnya yang kaku. Sementara itu, Luhan memarkirkan mobilnya.

“Wah! Cantik sekali!” pekik Cindy terkagum-kagum sambil berjalan riang menuju tepi pantai.

Luhan melirik sebentar sosok Cindy yang kesenangan bermain ombak disana. Tanpa diketahui, Cindy mengambil sesuatu yang sudah ia siapkan di dalam bagasi mobilnya. Benda kecil yang bisa merenggut nyawa itu ia ambil dan ia sembunyikan di dalam kantong jaketnya.

Awalnya ia ragu untuk mengambilnya. Tapi, ini adalah kesempatan langka. Tidak mudah baginya untuk mengajak Cindy ketempat seperti ini. Hanya berdua. Mau tidak mau dia harus secepatnya menyelesaikan tugas ini.

Dengan cepat ia melupakan rasa sukanya pada Cindy dan beralih ke tugasnya. Tangannya membanting bagasi kemudian berjalan menuju Cindy sambil merapatkan jaketnya.

Kali ini harus berakting sealami mungkin dan berlagak seperti tidak terjadi apa-apa.

“Kau menyukainya?” tanya Luhan dengan lembut, membuat Cindy berbalik padanya sambil menunjukan senyum riangnya. ‘Jangan tergoda, Luhan.’

“Kau memilih tempat dengan benar! Aku suka tempat ini!” jawab Cindy senang. Ia kembali bermain dengan laut yang mengenai kakinya. “Aku harus mengabadikan momen ini. Akan aku pamerkan pada yang lainnya,” gumam Cindy sambil mengambil ponselnya dari dalam saku.

Ia mulai mengambil selfie dari berbagai sudut dan berbagai ekspresi ia buat. Membuat Luhan yang menonton menjadi tertawa dan berdecak.

“Tolong potret aku dengan lautnya. Masukan tebing tinggi itu kedalamnya,” pinta Cindy sambil menyodorkan ponselnya kepada Luhan. Tanpa basa-basi Luhan langsung mengambilnya dan berlari ke belakang untuk mendapatkan posisi yang bagus. Saat ia sudah mendapatkannya, ia memberikan aba-aba kepada Cindy untuk segera melakukan pose. Luhan menghitung mundur dari tiga kemudian menekan tombol bulat di layar.

“Apa hasilnya bagus?” tanya Cindy penasaran sambil berlari ke arahnya. Luhan memberikan ponselnya pada Cindy yang langsung memberikan pujian atas kerja Luhan.

“Bagaimana kalau kita ke atas tebing itu?” Luhan menyarankan sambil menatap bergantian tebing dan Cindy. Gadis itu mengangguk antusias.

Saat di tebing pun Cindy tidak berhenti mengambil gambar dari berbagai sudut. Ia juga mengambil foto dirinya kemudian memasukan salah satu gambar terbaik ke dalam SNS-nya. Luhan hanya menatapnya dari jarak jauh sambil sesekali tersenyum melihat tingkah Cindy yang seperti anak-anak.

Tanpa diketahui Cindy, pria itu sedang memikirkan sebuah rencana akhir yang harus ia lakukan sekarang. Tapi, jauh di dalam lubuk hatinya dia menolak pemikiran ini dan memaksanya untuk menghentikan pemikiran ini. Namun, bila ia menolaknya dia harus menjadi bulan-bulanan atasannya yang kejam. Mungkin bukan tangannya lagi yang akan patah. Bisa jadi tangannya akan putus dari badannya dan membuatnya kehilangan tangannya, atau lebih parah lagi dari itu.

‘Sekarang!’

“Apa kau menikmatinya?” tanya Luhan.

“Aku sangat menikmatinya! Sebanyak apapun kau bertanya, jawabanku tetap sama. Aku sangat menikmatinya!” jawab Cindy, berteriak kesenangan.

“Apa kau benar-benar akan menunjukan itu pada teman-temanmu?” tanya Luhan lagi. Tapi ekspresi Luhan sekarang berubah. Menjadi serius dan dingin.

“Iya. Kau kenapa bertanya seperti itu?” tanya Cindy bingung. Luhan perlahan berjalan mendekatinya dengan kepala yang tertunduk dan suaranya semakin mendingin.

“Bagaimana kalau kau tidak bisa menunjukannya besok? Apa kau sedih?” Langkah Luhan semakin lama semakin dekat. Membuat Cindy semakin bingung.

“Apa maksudmu, Luhan? Tatapan apa itu?” tanya Cindy. Perlahan Cindy ketakutan melihat tatapan Luhan yang berubah. Tidak seperti tatapan yang selama ia tunjukan untuk dirinya.

“Memangnya kenapa dengan tatapanku? Berbeda? Tidak seperti yang biasanya? Inilah diriku yang sebenarnya, Cindy.” Ucapnya. Tangannya masuk ke saku dalam di jaketnya dan menarik benda di dalamnya. Sebuah pistol!

Cindy terkejut bukan main saat Luhan mengarahkan pistol itu kehadapannya. Luhan berjalan selangkah-selangkah mendekati Cindy, berkebalikan dengan targetnya yang semakin menjauh. Langkah Cindy terhenti saat ia merasakan ujung telapaknya sudah menyentuh ujung tebing. Kerikil mulai berjatuhan akibat gesekan kakinya. Takut-takut Cindy melirik ke belakang dan secepat mungkin menatap Luhan lagi.

Dia bukan Luhan. Lihat cara dia menatap Cindy sekarang. tidak ada keceriaan yang biasa dia tunjukan untuk Cindy. Sekarang seperti sebuah candaan. Dia berharap hari ini hanya mimpi dan secepatnya dia bisa bangun.

“Luhan… kau kenapa melakukan ini? Aku tidak mengerti.” Perlahan Cindy kembali menarik kakinya yang sekarang hanya berjarak satu centi dari ujung.

“Aku tidak perlu menjelaskan semuanya padamu, Cindy Chou. Karena kau sebentar lagi akan pergi. Bukankah seharusnya kau yang memberiku sebuah pesan terakhir untuk kusampaikan pada teman-temanmu? Mereka akan sedih, lho, kalau kau pergi begitu saja.” Luhan menyeringai.

“Tidak. Kau tidak akan melakukan ini, Luhan! Kau tidak bisa begitu saja menghancurkan kepercayaanku padamu. Ingat? Aku datang kesini karena aku percaya kau akan melindungiku juga menghiburku. Aku sudah mengartikan semua ini dengan hal yang positif tentangmu. Bisakah kau melepasku kali ini?” Tanpa terasa mata Cindy sudah penuh genangan air mata.

Luhan terdiam beberapa saat sebelum akhirnya ia menurunkan pistolnya. Untuk beberapa saat Cindy bisa bernapas lega. Dengan keberanian penuh, Cindy melangkah kecil sekali lagi agar keadaannya aman. Ia tidak tahu kapan dia akan terjungkang dan setelah itu… uh dia tidak bisa membayangkannya.

Tangan Luhan melemas dan tanpa sadar pistolnya terlepas dari tangannya. Kepala Luhan juga tertunduk dalam, semakin dalam saat dia berusaha menyembunyikan tangisannya. Dalam keadaan ini, Cindy tidak bisa berbuat apapun, apalagi saat dia melihat Luhan meneteskan air mata pertamanya. Ingin mendekat, namun kewaspadaannya masih menyertainya.

“Ottokhe?” gumam Luhan lirih.

“Oe? Mworago?” Cindy terkejut.

Luhan mengangkat kepalanya. Matanya melesu membuat Cindy heran. Apa yang sebenarnya yang sedang dialami Luhan? Membingungkan.

“Kau tahu?”

Luhan melangkah sekali. Cindy terkejut.

“Aku sudah lama ingin melakukan ini.”

Sekali lagi melangkah. Cindy tidak ada pilihan lain selain berdiam diri di tempatnya sambil berdoa-doa (apapun yang ingat!).

“Tapi, aku selalu menahannya karena kau selalu dikelilingi orang-orang.”

Sekali lagi dan itu membuat Cindy gila!

“Sekarang adalah waktu yang tepat untuk mewujudkannya.”

Luhan tetap melangkah. Cindy langsung menutup matanya erat sambil memalingkan kepalanya dari pandangan Luhan.

“Kau tidak bisa menolaknya, Cindy Chou!”

Sepersekian detik setelah perkataan itu, Cindy merasa tubuhnya tertarik cukup jauh dari tempatnya. Tangan Luhan melingkari tubuhnya untuk masuk kedalam pelukannya. Cindy sangat terkejut akan hal ini, sampai-sampai matanya tidak bisa berubah sedikit pun. Tangan-tangannya berada di punggung dan pinggangnya. Telapaknya mencengkeram erat lengan Cindy yang membuat gadis itu semakin dalam di pelukan Luhan. Kepalanya tertunduk. Cindy bisa merasakan getaran badan Luhan.

“Ada apa?” tanya Cindy pelan. Tangan kanannya mencengkeram jaket besar Luhan.

“Aku menyukaimu.”

Satu kata yang terdengar pilu membuat Cindy terbelalak lagi. Setelah kata-kata itu pun Luhan menangis di bahu Cindy. Dengan keadaan ini, Cindy menjadi kasihan dan bermaksud untuk menenangkan Luhan dengan cara membalas pelukannya.

“Aku tidak bisa melakukan itu karena kau. Tangan yang digips itu, adalah akibat karena aku tidak bisa membunuhmu. Dan juga akibat dari rasa sukaku padamu. Sekarang pun aku tidak bisa melukaimu sedikit pun, Cindy. Kalau aku tidak membawamu ke tempat orang itu, aku akan mati. Tujuan orang itu mencarimu aku tidak tahu pasti.” Luhan mulai terisak lagi setelah ia tenang tadi.
Tangan Cindy bergerak pelan menepuk-nepuk punggung itu.

Perlahan pelukan itu mengendur. Menampakan wajah Luhan yang memilukan dan matanya yang begitu merah. Luhan menghapus bekas air matanya sebelum ia menatap Cindy tepat di kedua manik mata itu.

“Hanya ada satu cara aku bisa menuntaskan ini dan bisa menyelamatkanmu, Cindy.”

“Apa itu?” Cindy merasa ada sesuatu yang tidak enak yang akan terjadi setelah Luhan menjawab pertanyaanya.

Luhan menendang senjatanya sampai jatuh ke bawah tebing. Langkahnya mendekati ujung tebing pelan-pelan. Matanya sejenak mengecek kedalaman tebing yang ternyata cukup dalam. Ia membalikan tubuhnya sampai menghadap ke arah Cindy yang sedang mengira-ngira apa yang akan dilakukan Luhan sebentar lagi.

“Aku akan melakukan ini.” Luhan membuka mulutnya, berucap datar namun ada rasa sedih didalamnya. Cindy menyadari atas ucapan Luhan yang langsung membuat Cindy berteriak protes padanya.

“Kau tidak bisa melakukan itu, Luhan!”

Luhan sengaja tidak mendengar teriakan Cindy. Tangan kirinya merogoh saku celana dan mengeluarkan secarik kertas di dalamnya. Tangan satunya lagi mengibas ke arah Cindy sebagai isyarat agar dia mendekat. Tanpa berpikir lama Cindy langsung berjalan mendekat sampai menyisakan dua langkah lagi dari Luhan. Sejenak Luhan menatap lipatan kertas itu dan menyerahkannya kepada gadis depannya.

“Apa itu?” Cindy melirik kertas itu tanpa ada niat mengambilnya.

“Kau bisa mencari apapun di alamat ini. Termasuk tentang dirimu yang sejak lama kau cari. Orang tua aslimu.”

“Apa? Orang tuaku?”

“Iya. Kau bisa mencari apapun disini. Mungkin tentang kehidupan pacarmu bisa kau temukan. Aku sudah menuliskan beberapa hal yang penting disini.” Luhan kembali menyodorkan kertas itu.

Tanpa berpikir Cindy langsung mengambilnya dan membukanya. Ada peta kecil dan daerahnya. Juga ada empat digit nomor yang tidak tahu apa gunanya, mungkin itu berguna nanti. bayangan tentang orang tuanya yang nanti akan ia ketahui langsung melayang di otaknya. Seperti apa wajahnya, kapan ulang tahunnya, dan dimana mereka sekarang.

Cindy berganti menatap Luhan, dan seketika pikirannya tentang kedua orang tuanya menghilang. Dia mulai mencemaskan pria ini. Pria yang secara terang-terangan sudah memberitahukan apa yang ia alami dan kenapa ia mau membunuhnya. Kecemasannya memuncak saat matanya menangkap langkah Luhan di tepi tebing. Bebatuan jatuh dari sana menuju laut yang berisikan bebatuan tajam yang siap merobek korbannya yang berani menjatuhkan diri kesana.

“LUHAN! AKU MEMPERINGATKANMU! MENJAUH DARI SANA! AKU AKAN MENENDANGMU KALAU KAU BERANI KEBAWAH SANA!” Cindy mengerahkan semua kekuatannya untuk menghentikan aksi Luhan yang sangat berbahaya.

Luhan lagi-lagi berlagak tidak mendengar, malah tersenyum dengan kepala dimiringkan. Cindy memanggap itu sebagai ejekan, membuat dirinya marah. Marah karena tindakan Luhan, marah karena Luhan tidak mendengarkannya.

“Kau tidak bisa menghentikanku, Cindy. Walaupun kau mau menjual apapun yang kau punya untukku, niatku tidak akan pernah berubah.” Luhan tergelak, menyadari kata-katanya yang konyol. Dia melanjutkan. “Hum, apa bahasa kalian untuk menyebutkan kata ini, ya?”

Tanpa diketahui Luhan, Cindy bergerak mendekatinya. Desiran pantai yang memekakan telinga membuat langkahnya teredam. Dalam hati, Cindy sedang menghitung mundur dari angka tiga. Sekaligus bersyukur Luhan tidak sadar langkahnya semakin besar.

Habis ini aku akan menarik apapun darinya agar menjauh. Celananya juga boleh, pikir Cindy ambisius.

“Ah! Aku ingat! …….!”

Desiran pantai membuat ucapan Luhan yang terakhir teredam. Sebelum Cindy sempat mencengkeram baju Luhan, pria itu perlahan menghilang dengan kedua tangan terlentang dan mata tertutup ditambah senyuman. Cindy terjengkang batu membuat lutut dan dengkulnya berdarah.

“LUHAN!!!”

Mata itu menyaksikan bagaimana Luhan menjatuhkan dirinya dan menghamtam karang paling besar di bawah sana, dan menghilang di balik ombak-ombak ganas yang menyapu debu-debu di tebing. Membawa tubuh Luhan jatuh lebih dalam ke dasar laut, dan menghilang untuk selamanya.

“Aku tidak bercanda soal akan menendangmu, bodoh. Kau…” Cindy menangis tertahan. Air matanya perlahan turun melewati pipinya kemudian turun membasahi pasir dibawah tangannya. Tiba-tiba, tubuh Cindy terangkat ke atas seakan memaksanya untuk berdiri sekarang. Setengah limbung tubuhnya menyesuaikan tempat pijakannya. Barulah dia bisa melihat siapa yang menariknya. Blonde.. Kris?

“Kris…” panggilnya lirih.

“Kau menangis, huh?” Tangan Kris mengusap perlahan pipi Cindy. Tangan kurusnya menepis tangan prianya. Awalnya Kris ingin marah, namun melihat ekspresi Cindy yang sama sekali tidak mengundang amarah membuat Kris kasihan. Tangan kirinya menepuk pundak itu pelan dan berbicara dengan suara yang pelan.

“Ayo kembali.” Kris menggenggam pergelangan tangan mungil itu, menariknya perlahan menjauh dari tepi tebing. Untungnya Cindy tidak menolak sama sekali. Rasanya tidak ada kekuatan lagi untuk menentang setiap kepedulian Kris kepadanya. Semuanya hilang..

“Kenapa kau begini, sih? Apa kau akan begini juga kalau aku pergi?” protes Kris sambil memasangkan seat belt untuk Cindy.

Setelah keamanan terpasang, Kris menyalakan mobilnya lalu pergi meninggalkan daerah desa itu.

“Kau ingin pulang?” tanya Kris dengan pandangan lurus ke jalanan.

“Luhan…” gumam Cindy lirih membuat Kris menoleh sekilas sambil mengernyit bingung.

“Apa?”

“Rumah Luhan. Di daerah Hangang.” Semakin Cindy berkata semakin menunduk kepalanya yang membuat suaranya teredam.

“Kenapa kau ingin kesana?” Kris tampak tidak senang Cindy kerumah pria itu. apalagi pemiliknya sudah tidak ada lagi.

“Luhan meninggalkan sesuatu disana… untukku…” Kemudian Cindy menolehkan kepalanya ke arah jendela dengan lesu.

Melihat perubahan ekspresi Cindy di kaca, dengan terpaksa Kris mengikuti kemauan gadis itu dan menyanggupi tanpa suara. Kris membanting stirnya ke arah lain menuju Cheondamdeong. Saat dikiranya sudah masuk ke daerah yang dituju, Cindy mulai menegakan kepalanya dan memandang lurus jalanan.

Sebenarnya Cindy tidak yakin rumah Luhan dimana. Dari peta yang ia lihat sekilas di kertas sobekan jalannya tidak terlalu jelas. Yang paling meyakinkan adalah sebuah kotak besar yang diberi nama ‘Pabrik Coklat’ berwarna hitam dan ada kotak kecil yang dilingkari kemudian dipanahi sebagai tanda itu rumah Luhan. Cindy tidak terlalu kenal daerah ini. Sebisa mungkin ia memusatkan seluruh perhatiannya ke jalan dan mencari Pabrik Coklat yang dimaksud.

“Aku akan keluar untuk bertanya. Kau tetap disini dan jangan sekali-kali keluar, oke?” pinta Kris tegas sebelum ia membuka pintu mobil dan membantingnya begitu sudah berada diluar.

Cindy mengikuti arah kemana Kris pergi. Pria tinggi itu bertanya ke seorang nenek tua yang kemudian mengangkat tangannya sambil menunjuk suatu jalan. Kris mengangguk mengerti dan terdengar ia mengucapkan terima kasih dengan ramah. Woah, sandiwara memang diperlukan dalam bersosialisasi.

“Aku hanya perlu berjalan beberapa meter lagi,” lapor Kris sembari menjalankan mobilnya lagi dan berhenti tepat di depan sebuah gedung sisa kebakaran. Kris mematikan mobilnya, lalu membuka seat belt Cindy.

Tidak ada tanda-tanda kehidupan didaerah ini. gedung sisa kebakaran itu sangat menyeramkan. Semuanya hitam. Yang menjadi keyakinan Cindy adalah nama gedung yang tergeletak di tanah bertuliskan Choco Factory, sebuah merek coklat yang sangat Cindy sukai tiga tahun lalu. Merk coklat itu berhenti akibat insiden kebakaran ini dan peredaran coklat ditarik dari pasaran.

“Kau yakin? Tidak ada rumah disini. Benarkah informasi peta ini?” Kris protes lagi kemudian merebut paksa sobekan kertas itu dari tangan kiri Cindy.

“Kita hanya perlu berjalan ke gang kecil itu.”

Cindy tiba-tiba berjalan pelan ke arah gang kecil yang ia tuju. Kris secepat mungkin menangkap pergelangan tangan gadis itu, menggenggamnya erat dan mengaitkan jari-jarinya diantara jari-jari Cindy.

“Kau jangan pergi sendiri. Aku akan disampingmu.” Kris kemudian tersenyum hangat. Hati Cindy sedikit menjadi hangat karenanya. Ada keberanian tersendiri untuknya karena kepercayaan Kris untuknya.

Mereka berdua berjalan pelan-pelan ke dalam gang dan menemukan sebuah rumah kecil disana. Tidak ada tanda-tanda kehidupan didalamnya. Cindy yakin ini adalah rumah Luhan. Ia tidak pernah mengira Luhan bisa tinggal dirumah kecil dan kumuh ini. Dibalik gayanya yang cool, ternyata tidak sepadan dengan kehidupan lainnya lagi.

Cindy membuka pintu yang tidak terkunci itu. keadaan rumahnya sedikit kacau. Banyak lembaran-lembaran kertas di sekitar meja kayu besar yang hampir mendominasi rumah ini. rasa penasaran ini membuat genggaman tangan mereka lepas dan berjalan ke arah masing-masing. Cindy berjalan menuju rak buku yang isinya sangat penuh dengan buku-buku tebal dengan bahasa Inggris. Tangannya secara acak mengambil sebuah buku bersampul merah yang dibagian punggungnya bertuliskan “I Want Her Want Me”. Muncul selembar kertas kuning dari dalamnya saat Cindy membuka covernya. Dia membalik kertas foto dan terkejut melihat fotonya didalamnya.

Gadis yang sangat mirip dengannya. Bernama Cindy Chou, 1876 dibagian pojok bawah. Gadis berambut panjang dan bertopi pantai sedang tersenyum manis di depan pantai yang menjadi latar belakangnya. Cindy membalik foto itu dan tertulis disana, “Petunjuk 1: Reinkarnasi yang mengetahui segalanya.”

“Mwoya?” gumam Cindy pelan. Buku itu ia letakan kembali tanpa fotonya. Kakinya mengarah ke meja besar yang berantakan.

Kertas yang penuh dengan tulisan, dan foto-fotonya berserakan dimana-mana. Bukan hanya dia. Ada banyak lagi foto-foto lainnya, namun sudah dilubangi dengan tanda X di tengah-tengahnya. Terlalu banyak hal-hal aneh dirumah Luhan yang membuatnya lupa dengan kesedihannya. Anehnya komputer terus menyala, padahal Luhan sedang tidak dirumah. Cindy pun duduk di kursi putar itu dan mengamati layar birunya. Ada sticky note berwarna kuning terang bertuliskan “Kode: 0712 (Untuk Cindy) dan 1510 (Untuk Kris)”. Cindy mengernyit bingung.

“Kau menemukan apa?”tanya Kris tiba-tiba dari belakang.

“Banyak yang aku temukan disini. Ini salah satunya.” Cindy menyerahkan foto lama itu pada Kris.

“Sepertimu. Reinkarnasi? 1876? Apa aku perlu mencarinya di internet?”

“Kalau memang bisa, coba saja.”

Sementara Kris mencari informasi, Cindy mulai mengutak-atik isi komputer itu. Isinya dipenuhi dengan folde terkunci yang diberi kode. Ada nama Cindy di satu folder. Dia membukanya dan mengetikan kode yang sticky note dan cocok. Didalamnya banyak file-file yang membuat Cindy terkejut. Ada file yang diberi judul “Masa kecil” sampai ke “Tahun 2014”.

“Aku menemukannya! Dan mengejutkan.” Kris berkata dramatis.

“Apa itu?!”

“Dia bernama Cindy Chou. Seorang ilmuwan juga seorang wanita berbakat di bidang teknologi. Keahliannya adalah membuat bermacam-macam alat komunikasi yang saat itu belum berkembang. Alat komunikasi itu dia jadikan milik sendiri hingga akhirnya ia membuat mesin waktu. Dia menjelejah waktu ke tahun 2014 dan menemukan semua penemuan teknologinya beredar dimana-mana seperti ponsel dan juga televisi berlayar datar yang sangat besar. Dan…” Kris terus melanjutkan bacaannya sambil sesekali berdecak kagum.

Awalnya Cindy memang tertarik dengan artikel itu, namun setelah ia membuka sebuah file berukuran besar yakni 15GB, membuatnya sangat penasaran. Apalagi filenya di proteksi dengan kata sandi. Sekali lagi Cindy yakin kata sandinya adalah hari ulang tahunnya dan benar!

“….satu kesalahan darinya adalah dari alat ciptaannya yang tidak bisa membuatnya kembali ke masa lalu. Kabarnya wanita itu belum kembali ke masanya dan masih menetap di belahan bumi ini. Dia dicari oleh pengusaha-pengusaha besar juga instansi pemerintah untuk membantu mereka dalam menangani keinginan pribadi mereka yang serakah akan kekayaan dunia. Tidak ada yang tahu wanita itu berada, apa dia sudah meninggal atau belum itu belum pasti.”

Akhirnya Kris mengakhiri bacaanya yang sebenarnya belum habis. Masih ada tiga paragraf penting lagi untuk diberitahukan. Namun melihat Cindy yang tidak bergeming di depan komputer membuat Kris penasaran. Hanya jari telunjuk kanannya saja yang bergerak menscroll. Kris mendekatkan kepalanya ke layar.

“Wae?”

“Aku rasa aku harus pergi sekarang.” Gadis itu mengambil flashdisk kecil di samping komputer, kemudian menggunakannya untuk memindahkan semua file itu ke dalam benda kecil itu.

Selagi menunggu, Cindy bergerak untuk mengambil semua kertas yang ia rasa berisikan tentang dirinya juga tentang Kris. Sebelum Cindy sempat mengumpulkan semua kertas itu, Kris mencekal lengannya dan membuat Cindy berhadapan dengannya. Kris memandangnya dengan marah sekaligus kesal karena dirinya tidak dianggap sama sekali sejak mereka berdua menginjakan kaki kerumah ini.

“Kau sama sekali tidak memperdulikan aku disini. Seolah-olah ini hanya kepentinganmu saja. kau bahkan mengkhawatirkan diriku yang sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Jawab aku sekarang, Chou! Apa yang kau baca di dalam sana?!” Kris membentak Cindy sambil menunjuk layar komputer dibelakangnya.

Cindy menunduk kaget akan sikap Kris. Dia menghembuskan napas berat kemudian mengangkat kepalanya sampai matanya bertemu dengan mata elang Kris.

“Kau benar, Kris. Terlalu banyak yang aku khawatirkan akibat dari tulisan Luhan di dalam sana yang berisi tentang diriku dan masa depanku dan masa depanmu. Karena disana Luhan berencana memberikan kita berdua kepada seseorang yang ingin menjual semua organ tubuh kita kepada kolektor yang berani membayar mahal untuk sebuah bola mataku atau sepotong jari manismu.”

“Dia bisa saja disiksa atau dibunuh karena tidak berhasil membawa kita berdua. Dan dengan cara tadi Luhan berhasil kabur dari ‘pekerjaannya’. Sekarang, aku harus membawa semua data ini kerumah dan membakarnya. Aku ingin menyelamatkan hidupmu, Kris.” Cindy menatap mata Kris yang tajam. Kemudian Kris menggenggam tangan kanan Cindy dan meremasnya kuat, seolah memberikan Cindy kekuatan.

Kris menghembuskan napas panjangnya dan menggeleng lemah kepada Cindy. “Tidak. aku tidak ingin seorang perempuan bertanggung jawab atas keselamatan seorang pria. Kau membuatku merasa bersalah. Biarkan aku yang menjagamu, Chou.” Kris menyunggingkan seulas senyum tulus kepada Cindy.

“Kau memang harus melakukan itu, Kris. Dasar bodoh.” Cindy memukul kepala Kris setelah ia mengejeknya.

“YA! Kau berbohong?!” protes Kris malah.

“Berbohong itu adalah sebagian dari hidupku. Kau tidak tahu kalau aku ini aktris? Sudah. Bantu aku mengemas ini semua. kita harus cepat sebelum orang yang mencari Luhan datang kerumah ini.” Cindy berkata sambil mengambil kertas-kertas yang tercecer dilantai dan disekitar kasur Luhan.

Setengah jam kemudian akhirnya mereka berada di dalam mobil. Cindy menaruh tas berisi kertas yang ia kumpulkan ke jok belakang lalu melekatkan seat belt ke badannya.

“Ayo kita pulang.”

*****

Author’s Note:

I’M BACK! Selama fokus sama fanfic Dorm yang akhirnya selesai, fanfic ini nggak ada kemajuan sama sekali. Sampai akhirnya aku kembali bikin dan selesai chapter 12. Silahkan kalian kembali berkomentar dibawah dan makasih untuk silent reader yang udah mau baca lalu pergi. Berarti kalian udah menghargai apa yang udah aku tulis, ya walaupun nggak di komen^^

Tambahan.. yang sering baca di asianfanfics, aku juga punya fanfic disana dan nama authornya BaoziNam. Silahkan viewing biar nambah jumlah view-nya😄

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s