Terrible Day At School [1/3]

unnamed

Terrible Day At School

Author : HyeonniePark

Genre : Horror, Mystery, Friendship

Legth : 3 chapter

Rating : General

Cast : Park Jimin (BTS) , Jeon Jungkook (BTS) , Byun Baekhyun (EXO) , Kim Taehyung (BTS) , Park Chanyeol (EXO) , Xi Luhan , Kim Myungsoo (Infinite) , Jackson Wang (GOT7) , Jung Daehyun (BAP)

Other Cast : Kim Tan (OC) , Jung Minsoo (OC) , Kim Soohyun (OC) , Jang Minwoo , Yoon Sena (OC) , Yoon Chanyoung (OC) , Min Jeonwoo (OC)

Desclaimer :

“Hitungan dimulai…

Satu — Pintu ruang kelas tertutup. Dua — Memegang kertas bersama. Tiga — Tarik kertas ini dengan kuat. Empat — Teriakan seseorang menggelegar. Lima — Tanah mulai berguncang. Enam — Gonggongan anjing membelah udara. Tujuh — Sesuatu yang terjadi di lua terdengar menakutkan. Delapan — Tiba-tiba kelas berubah. Sembilan — Diam-diam membuka pintu ruang kelas, dan.. kami berada dimana…?”

All JUNGKOOK POV

Gelap.

Gelap, gelap, gelap. Semuanya gelap. Aku tidak bisa melihat apa-apa. Udara dingin menggigiti kulit.

Kukeluarkan senter dari saku, lalu memastikan tidak ada suara tapak kaki penjaga sekolah mendekat. Kunyalakan senter itu. cahayanya remang-remang, tapi lebih baik dari sebelumnya.

Kugigit bibir. Kami berada dalam masalah besar kalau ketahuan

menyelinap masuk ke sekolah tanpa izin. Jackson-hyung menyuruh kami masuk ke sekolah setelah makan malam. Ospek anak baru, sepertinya. Dia menyuruh kami mencari masing-masing satu sapu tangan bertuliskan nama hyung-hyung yang memberi tugas dalam kegiatan malam ini yang disimpan di suatu tempat di sekolah. kalau tidak berhasil mendapatkannya, kami harus berhadapan dengan Ketua Klub Musik yang sangar dan mengaku kalau kami menghilangkan alat musik properti klub mereka.

Menurut para senior, mereka sudah menyembunyikan sebagian besar sapu tangan di tempat yang tidak akan bisa kami masuki. Jadi, kami harus buru-buru masuk sebelum sapu tangan-sapu tangan yang mudah ditemukan habis. Tadinya, aku berniat mencari bersama Taehyung, teman sekelas yang baru saja kukenal kemarin. Tapi, dia belum juga datang setelah 2 jam kutunggu. Kuputuskan untuk masuk sendiri lewat jendela toilet, seperti yang diinstruksikan oleh Jackson-hyung.

Di kepalaku, kuingat-ingat tujuh cerita hantu sekolah yang tadi sore diceritakan para senior. Hantu yang lehernya bisa memanjang berkeliaran di tangga menuju atap. Di koridor, ada hantu guru wanita tanpa kepala dengan janin bergelayutan di bahunya, konon mengalami kecelakaan saat hamil. Di ruang music, ada siswi misterius yang suka mencekik orang yang berjalan sendirian. Kemudian, tentu saja, cermin yang memantulkan orang mati di tangga, dan hantu gadis kecil di toilet perempuan. Korban kebakaran yang terus-terusan menggedor pintu keluar di belakang. Pria yang mondar-mandir mengelilingi ruang kelas 1 – 1.

Dan buruknya lagi, mereka menggunakan tujuh tempat itu untuk menyembunyikan sapu tangan. Sebenarnya, ada sepuluh cerita hantu di sekolah. ada hantu di gedung olahraga, patung dada pendiri sekolah yang dapat terbang mengelilingi sekolah sambil tertawa-tawa lantang, dan hantu anak lelaki yang mencari teman bermain di lapangan sepak bola. Aneh juga karena biasanya

Cuma ada tujuh cerita hantu di sekolah. sekolah ini pasti istimewa sekali.

“Aish.. Tak ada gunanya aku merinding ketakutan tanpa melangkahkan kakiku dari toilet ini!” Gumamku kesal pada diriku sendiri. Akhirnya aku mulai menyusuri koridor. Sapu tangan atau hantu guru wanita duluan yang akan ditemukan, aku tidak tahu. Kulangkahkan kaki dengan hati-hati, mencoba tidak menimbulkan suara.

Selama beberapa menit, aku berjalan dengan kepala tertunduk. Mengarahkan sinar dari senterku ke sana kemari. Berharap menemukan apa pun yang mirip sapu tangan. Aku menghampiri pintu keluar bagian belakang, mengintip ke bawahnya, tapi tidak menemukan apa-apa. Aku memutuskan untuk menaiki tangga melewati Cermin Jiwa setelah menyusuri koridor lantai 1.

Kueratkan jaket di sekeliling badan, lalu mulai menaiki anak tangga pertama yang tampak abu-abu di kegelapan malam. Senter kupegang di depan dada.

Sreek… srek… srek…

Suara menyeret sepatuku terdengar keras. Di tengah kesunyian ini, suara perlahan itu kedengaran seperti ada yang meletakkan mikrofon di sol sepatuku. Bagaimana kalau aku ketahuan? Aku bisa dapat masalah dan ini baru hari pertamaku di sekolah. ditambah lagi, bagaimana kalau semua sapu tangannya ternyata sudah diambil?

Aku menjerit kaget. Ada sesuatu yang bersinar di ujung tangga. Dengan kaki sedikit gemetar, aku berjalan mendekati cahaya itu perlahan. Satu langkah… dua langkah… cahaya itu semakin terang, dan…

Aku menghela nafas lega. Itu hanya bayanganku yang dipantulkan cermin di pojok tangga. Aku benar-benar konyol. Oke, harus kuakui berjalan di gedung kosong, gelap, pada malam hari yang dingin seperti ini membuatku sedikit takut.

Sreek…

Aku tertegun. Ada suara bergesek di belakangku. Kumatikan senter buru-buru. Jangtungku berdegup kencang sekarang. pasti ada seseorang di dekatku. Siapa? Petugas jaga malam? Atau, anggota-anggota lain yang sama takutnya denganku? Aku tidak melihat cahaya senter. Aku tadi berjalan menyusuri koridor dan kembali lagi dari luar pintu keluar belakang, tapi aku tidak melihatnya sama sekali. Apa mungkin itu petugas jaga malam? Mungkin cuma kucing, atau…

Sreek….

Suara itu mendekat. Aku ingin berbalik, melihatnya atau berlari. Tapi, seluruh tubuhku bergetar. Semilir angin dingin berembus membelai tengkukku. Perutku terasa bergolak. siapa yang datang? Siapa yang datang?

Sreek…

Satu sosok gelap muncul di belakangku. Sosok itu mendekat perlahan ke arahku dalam kegelapan pekat. Aku menahan nafas. Sosok itu tidak jauh lebih besar dariku, hanya beberapa inci lebih besar. Dia pasti bukan petugas jaga malam. Siapa? Kenapa dia membuatku begitu ketakutan?

Kemudian, ada yang tampak di dalam cermin. Jantungku berdebar semakin kencang. Kutajamkan pengelihatan, berusaha meyakinkan diri kalau aku cuma berkhayal. Tapi, tidak… Bayangan di dalam cermin itu berpendar kebiruan redup…

Dan, aku bisa melihatnya dengan jelas sekarang. seorang lelaki beberapa tahun lebih tua dariku, tersenyum mengerikan menatapku. Tangannya memegangi ujung jaketku dengan tangan keabu-abuan.

Sesuatu menyentuh bahuku. Aku menjerit, tapi sebuah tangan membekap mulutku. Punggungku menabrak permukaan dingin Cermin Jiwa. Aku meronta pelan, berusaha memukul Si Penyerang dengan senter. Kulihat itu… berkilat di bawah pantulan sinar bulan yang pucat…

Mata sewarna lidah api biru.

“Maaf,” katanya pelan. “Kalau kau teriak, nanti ketahuan petugas jaga.”

Nafasku perlahan kembali tenang. Itu pasti Baekhyun-hyung—cuma dia yang punya mata sebiru itu. dia menyingkirkan tangannya dari mulutku.

“Mian”, gumamku. Dengan gugup, aku menelan ludah. “Gomawo.”

Baekhyun mengangguk pelan. “Kau juga anak kelas satu, kan? Kenapa masih di sekolah malam-malam?”

“Aku…..” Aku menelan ludah lagi. “Aku mau cari sapu tangan yang disembunyikan para hyung untuk ospek kami…”

Dia menerutkan dahi. “Sapu tangan yang disembunyikan para hyung untuk ospek kalian?”

Aku menjelaskan tugas orientasi kepadanya meskipun kedengarannya bodoh sekali. Begitu aku selesai cerita, dia merogoh sesuatu dari sakunya dan meyodorkan telapak tangannya padaku.

“Ini yang kau cari?” Di tangannya ada sebuah sapu tangan yang sedikit bernoda debu, bertuliskan nama “Park Jimin” di tengah-tengah sapu tangan tersebut.

Aku mengernyit memandang sapu tangan itu. “Ku.. kurasa, memang yang itu.”

Baekhyun tertawa, lalu meletakkan sapu tangan di tanganku. “Memang yang ini, kok. Sapu tangan ini bertuliskan nama Park Jimin, anak kelas 3 – 2. Dia cukup tampan dan mempunyai perut six pack. Hahaha.”

“Kkeundae, kau masuk lewat mana?”

“Jendela toilet,” gumamku malu.

“Gurae? Hahaha.. Berarti kita sama.” Tawanya pelan

menampakkan gigi putihnya.

Keadaan sedikit canggung antara aku dan Baekhyun. Dia tampak seperti sudah sangat mengenalku, tapi aku sama sekali tidak mengenalnya. “Barang yang kamu cari sudah ditemukan, apa sekarang kamu akan pulang?” Baekhyun tersenyum lagi.

Senyumannya memang indah, tapi entah kenapa aku merinding

setiap kali ia tersenyum padaku.

“Ani.. Aku disuruh pergi ke ruang 1 – 1 sesudah menemukan sapu tangan ini.”

“Kalau begitu.. Permisi.. Semoga hyung sampai di rumah dengan selamat.” Ujarku cangung.

Baekhyun-hyung membalas senyumku. “Kamu juga. Setelah selesai mengurus ospek, pastikan kamu langsung pulang.”

“Hati-hati.” Aku menunduk dan langsung pergi menuju ruang kelas 1 – 1.

Selama sedetik, jantungku serasa berhenti berdetak. Badanku juga terasa sangat dingin.

Aku menelan ludah sambil berjalan kaku menuju kelas 1 – 1. Aku menoleh ke belakang untuk memastikan apa dia masih ada disana. Dia sudah hilang, layaknya ditelan kegelapan malam. Di tanganku, kuremas sapu tangan yang diberikan Baekhyun padaku.

Dimana dia menemukan sapu tangan ini? Bagaimana dia bisa menemukannya? Padahal, aku sudah menyusuri koridor dalam kegelapan yang sama dan gagal menemukannya. Jantungku berdebar semakin keras, ketika mengingat pertanyaan yang kerap gagal kutanyakan.

Kenapa dia ada disana?

Ponselku berbunyi. Taehyung bilang, dia sudah menunggu di ruang kelas 1 – 1 bersama para anggota dan para hyung yang memberikan kami tugas ini. katanya hanya aku yang belum ada disana. Dengan cepat kulangkahkan kakiku menuju ruang kelas 1 – 1.

Dengan canggung kugeser pintu ruang kelas 1 – 1. Disana sudah dipenuhi anggota dan hyung untuk menjalankan tugas selanjutnya. Mungkin total jumlah mereka 89 orang.

“Yak!! Kenapa kau lama sekali?” Salah satu hyung memukul pelan kepalaku dengan wajah cemasnya. Kurasa itu adalah Park Jimin, pemilik sapu tangan yang kutemukan—lebih tepatnya diberikan.

Suara tawaan berat dari ujung ruangan pun menghiasi ruangan kelas 1 – 1. “Ayolah, Jiminnie! Jangan terlalu tegas pada mereka. Ini baru hari pertama mereka sekolah.” Tukasnya menampakkan gigi putih miliknya.

Aku tertunduk sambil memainkan sapu tangan yang berada di tanganku. Baekhyun yang misterius masih terngiang-ngiang di kepalaku. Siapa sebenarnya dia? Belum pernah siapapun membuatku penasaran sebelumnya kecuali dia.

Titik-titik air perlahan mulai muncul membasahi Seoul. Hujan deras turun saat kami sedang ingin melanjutkan permainan kami selanjutnya.

“Kertasnya sudah siap?” Ujar Jimin yang sekarang merangkulku sambil tersenyum. Hyung yang lain menganggukkan kepalanya. “Jaa..” Secarik kertas bergambar sekolah pun diberikan kepada Jimin.

Aku melihat gambar itu dengan seksama. Gambar itu cukup sederhana, tapi bisa dibilang menyeramkan. Dibawahnya ada tulisan huruf hangul yang berisi “Izinkan kami menjadi teman yang baik, sekarang dan selamanya. Izinkan kami menjadi sahabat, yang tak terpisahkan dalam susah maupun senang, dari sekarang hingga nanti. Izinkan hubungan kami menjadi erat, yang tak akan bisa lepas satu sama lain. Kami mohon, kami mohon, kami mohon.”

Lagi-lagi aku mengerutkan dahiku bingung. Apa inti dari tulisan ini? Padahal kami baru saja masuk ke sekolah ini. Dan kami bahkan belum saling mengenal satu sama lain. Tapi, mengapa mereka sudah ingin menjadikan kami sahabat mereka? Sekolah ini sungguh membuatku bingung.

Lampu dimatikan. Dengan hanya ditemani oleh sebuah lilin redup dan suara hujan deras yang terdengar di luar, Jimin-hyung menyuruh kami membentuk lingkaran di tengah ruangan.

“Sekarang, pegang kertas ini bersamaan.” Instruksinya.

Kami sedikit khawatir akan apa yang dilakukan. Sudah terlukis jelas di wajah para anak kelas satu kalau mereka sangat ketakutan. Tak bisa dipungkiri, aku juga sangat ketakutan. Gigiku begemertak, dan melewati sela-sela pori-poriku, keringat dingin mengucur deras.

Tap.. tap.. tap..

Terdengar suara langkah kaki dari koridor. Semua mata tertuju pada pintu masuk. Siapa itu? Apakah kami ketahuan oleh penjaga sekolah? Ataukah siswi misterius dari ruang musik ingin bergabung dengan kami?

Sreeek..

Pintu kelas mulai bergeser. Dan..

“Whoa.. Apa yang kalian lakukan tanpaku, huh?” Baekhyun

menyalakan lampu kelas.

Semuanya menghembuskan nafas lega. Wajahnya tampak ramah dan ia memamerkan senyum itu lagi. Akhirnya aku tak menganggapnya Manusia Misterius lagi. Dengan mudahnya ia berbaur dengan anak kelas satu.

Baekhyun terhenti ketika melihatku diam-diam tersenyum-senyum padanya sewaktu ia sedang berbincang pada anak kelas satu yang lain. “Oo! Kau belum pulang?” Perlahan ia langkahkan kakinya mendekatiku.

Aku menggelengkan kepalaku pelan. “Aku bahkan tak tahu apa yang akan kami lakukan, hyung. Cukup menakutkan.. tadi.” Aku tersenyum kecut.

Baekhyun mengernyitkan dahinya, lalu tatapan tajamnya tertuju pada Jimin. “Park Jimin. Apa kau sedang berusaha melakukan permainan yang sama ketika kita masih kelas satu?”

Jimin mendengus kesal, “Wae? Apa masalahmu kalau aku melakukannya?”

Baekhyun menarik kerah kemeja Jimin hingga ia hampir melayang diudara. “Ada apa denganmu, huh?! Kau ingin cari mati?! Jangan libatkan anak-anak tak bersalah ini dengan permainan itu! Kau tahu kan berapa korban yang meninggal ketika kita melakukan…”

“A… Ada yang meninggal ketika melakukan permainan ini?” Salah satu anggota perempuan mundur beberapa langkah sambil menutupi mulut dengan tangannya.

“Jangan libatkan kami dengan rencana konyol kalian! Kami tak ingin mati sia-sia untuk permainan aneh ini!” Teriak anak kelas satu yang lain.

Para anak kelas satu mengambil tas mereka, “Kajja, kita tak akan menerima ospek dari mereka walaupun kita akan dihukum mati sekalipun! Lebih baik dibunuh karena kami melakukan kesalahan daripada mati karena permainan ini. Kami masih menyayangi nyawa kami!” Mereka pun segera meninggalkan ruangan itu.

Hanya tersisa aku, Taehyung, dan tujuh anak lainnya untuk kelas satu, yang membuat keadaan lebih canggung dari sebelumnya. Kami pun berdekatan satu sama lain.

“Kenapa.. kenapa kalian tidak mengikuti mereka dan membuatku gagal mengikuti permainan ini, huh?! Kalian ingin mengejekku karena gagal?!”

Kami berdua menundukkan kepala takut. Baekhyun pun melepaskan cengkramannya dan berdiri di depan kami bersembilan.

“Jangan salahkan mereka! Bukankah Kris-hyung sudah memperingatkan kita?! “Jangan memainkan permainan ini lagi ketika aku sudah lulus.” Apa kau tak ingat kata-katanya?!”

Jimin kembali mendengus kesal. “Siapa peduli dengan dia?! Dia yang menciptakan permainan ini, dan aku juga ingin para anak kelas satu itu merasakan kesakitan yang kita rasakan!”

“Kalau kau hanya mengacau, sebaiknya kau tinggalkan anak kelas satu itu. Jangan menghasut mereka, karena mereka ingin ikut bermain.” Jimin tertawa menggunakan salah satu sisi bibirnya.

Aku tak mengerti apa yang terjadi. Semuanya terlihat sangat marah, dan hyung-hyung lainnya pun seperti tidak mempunyai semangat lagi.

“Lagipula, kami sudah melakukan setengah permainan ini. Apa kau juga tak ingat apa yang dikatakan Kris-hyung? “Mainkanlah permainan ini sampai selesai. Jika pada ritualnya saja kalian sudah menyerah, kalian akan tetap ditarik masuk ke dalam permainan ini.” Apa kau juga sudah lupa?”

“Tenanglah!” Taehyung angkat bicara. “Jangan bertengar lagi!”

Baekhyun dan Jimin menatap Taehyung rekat-rekat, “Apapun

permainan itu, entah berbahaya atau tidak, merenggut nyawa atau tidak, kalau permainan ini sudah kita mainkan setengah, kenapa tidak diselesaikan saja? Sebaiknya menyelesaikan apa yang sudah kita mulai, kan?”

“Kau hanya bisa bicara, anak kelas satu! Kau tak tahu bagaimana fustasinya kami ketika didalam sana! Menghirup udara disana pun kau tak tenang! Semuanya akan membuatmu mati! Mungkin kami adalah satu-satunya kelompok yang berhasil keluar dari sana, meski harus mengorbankan anggota kami sebanyak 82 orang!! Hanya 8 orang yang selamat!!” Teriak Baekhyun pada Taehyung.

Baekhyun pun terduduk lemas di lantai. “Mian.. Maafkan aku karena berteriak padamu.” Matanya terbuka, langsung menatap Jimin. “Ini kali terakhirnya kita memainkan permainan ini, arraseo??!”

Jimin terkekeh geli dengan senyum mengerikannya, “Aku tahu kau akan mengikuti permainan ini lagi, Baekhyunee.”

“Ayo kita mulai.” Jimin menyuruh kami sekali lagi untuk membuat lingkaran. Dengan kertas yang diletakkan di meja tengah dan sebuah lilin remang yang menambah rasa mistis, mantra-mantra itu mulai disebutkan.

Satu — Pintu ruang kelas tertutup”

Pintu yang tadinya terbuka pun menutup dengan keras, membuat suara yang keras pula. Para anak kelas satu langsung menoleh kearah pintu, tapi tidak dengan anak kelas tiga. Mereka tampak sudah terbiasa.

Kurasa aku sudah tahu kenapa dia sangat mengkhawatirkanku. Bukan karena aku tiba dengan selamat disitu, tapi jika tidak dengan adanya aku, permainan itu tidak bisa dimulai—karena pertama-tama harus ada 90 siswa. Masalah anak kelas satu akan meninggalkan permainan itu jika mantra-mantra tersebut sudah disebutkan masalah belakangan, toh semuanya akan ikut masuk kedalam permainan tersebut.

Dua — Memegang kertas bersama”

Kertas tersebut melayang dan dengan cepat para anak kelas tiga memegang kertas tersebut. Anak kelas satu pun mengikuti para senior memegang kertas itu.

Tiga — Tarik kertas ini dengan kuat”

Jimin terkekeh geli dengan tawa mengerikan, “Tarik kertas ini dalam hitungan ketiga. 1.. 2.. 3..”

Sreeeek…

Kertas itu tersobek dan masing-masing kami mempunyai sepotong kertas kecil. “Jangan pernah hilangkan kertas ini selama kau disana jika ingin kembali ke dunia ini. ingat kataku, JANGAN HILANGKAN KERTAS INI!!” Daehyun menatap anak kelas satu dengan tajam untuk memastikan kami tidak melupakannya.

Empat — Teriakan seseorang menggelegar”

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!” Suara teriakan wanita terdengar. Mungkin berasal dari luar sekolah. Jantung kami berdetak sangat cepat hingga terasa ingin keluar. Kami juga ingin keluar dari tempat ini secepat mungkin, tapi kami sudah terlanjur menyelesaikan 1/3 mantra tersebut. Jadi pilihan kami hanya pasrah saja.

Lima — Tanah mulai berguncang”

Tanah tempat kami menginjak mulai bergetar pelan, dan perlahan mulai berguncang keras sampai meja dan kursi bergeser bahkan jatuh. Aku menutup mataku erat, berusaha lari dari mimpi buruk ini. Kuharap aku hanya mimpi buruk dan akan terbangun di pangkuan ibuku.

Enam — Gonggongan anjing membelah udara”

Gonggongan anjing terdengar dari luar sekolah, namun terasa dekat dengan kami. Anak perempuan kelas satu mulai terisak berusaha menghentikan para hyung melafalkan mantra itu, tapi mereka tahu percobaan mereka sia-sia karena sebentar lagi dunia yang mereka tempati sudah berganti.

Tujuh — Sesuatu yang terjadi di luar terdengar menakutkan”

Bisa kau bayangkan suara tawa mengerikan, tangis memilukan, gonggongan anjing, dentuman sesuatu, suara gesekan, dan suara mengerikan lain digabung menjadi satu. Semuanya sangat panik hingga tubuh mereka bergetar sangat kuat.

Delapan — Tiba-tiba kelas berubah.”

Dinding dan lantai pijakan kami tiba-tiba berwarna hitam, lalu kelas kami berubah menjadi kelas lain. Bukan kelas yang lebih bagus, tapi kelas yang kami tempati sekarang banyak terdapat bercak darah, bekas cakaran, dan lantai yang kami pijak terbuat dari kayu rapuh yang sewaktu-waktu akan hancur dan kami semua tak tahu isi di dalam lantai itu apa.

Sembilan — Diam-diam membuka pintu ruang kelas..”

Jimin keluar dari posisi pertama ketika membaca mantra, dia menggeser pelan pintu yang terbuat dari kayu yang sama rapuhnya dengan lantai dan menimbulkan suara berdecit..

dan.. kami berada dimana…?”

Tbc…

Iklan

22 thoughts on “Terrible Day At School [1/3]

  1. Han_Min_Jung berkata:

    Huh sungguh menegangkan bgt wktu bcanya. Apa ini ouija?:o
    Ya ampun thor daebak bgt. Q radak gk hafal sma castnya bnyk bgt, tpi critanya daebak. 😉
    See ya in continued ff. 😀

  2. Melisa berkata:

    Wah thor lanjut suka ceritanya bagus
    lanjut lanjut lanjut,
    si baek itu masih manusia kan kog klihatan misterius banget,.
    Y udah pokoknya lanjutt..

  3. Junghyun berkata:

    Doh jujur dari awal bacanya smpe akhir deg”an thor>< udah berasa ngalamin/? kirain tadi baekhyun hantu– nyatanya manusia juga toh wkw

  4. Sehunlover berkata:

    Mreka ada dmn? Yg pasti bkn dunia yg sama lagi.. Keren thor, pnasaran sama lanjutannya.. Smangat ya nulisnya^^

  5. rilbaek berkata:

    Author, ff ini gak di lanjut? Sayang banget kalau gak dilanjut padahal ceritanya seru. Apa author lanjutinya di blog pribadi? Serius! Ini seru!!! Penasaran kelanjutanya. Semoga ini bakal di lanjut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s