Meet Him and Leave Him (Really?) Chapter 11

Judul   : Meet Him and Leave Him (Really?) Chapter 11

Author : BaoziNam

Main Cast :

-Cindy Chou (OC)

-Tao as Zitao

-D.O as Kyungsoo

-Luhan as Luhan

-Kris as Kris

-Park Chanyeol as Chanyeol

Additional Cast :

-Luna f(x)

-Jessica SNSD

-Sandara 2NE1

-Jiyoung (G-Dragon) Big Bang

Length : Chapter

Genre  : Friendship, Mystery, Romance

Rating : Teen

Disclaimer : Cerita benar-benar keluaran dari otak saya. All cast cuma pinjem, sewaktu-waktu bisa dikembalikan (?). ASLI!.

Author note : Aku pikir yang ini agak absurd. Mungkin karena faktor ngebut. Semoga kalian nyambung deh sama ceritanya, dan jangan lupa komentarnya^^

****

Berkat kemarin, Luhan jadi pandai menggunakan tangan sebelah untuk melakukan apapun. Tangan kirinya digips dan digantung di balutan kain yang tergantung di bahu kanannya. Dia yang melakukannya sendiri. Hebat, kan? Patah tulang, luka sobek, dan urusan jahit-menjahit luka, Luhan sudah ahlinya. Separuh hidupnya hampir ia habiskan untuk mendalami hal semacam itu. terpaksa sih sebenarnya, tapi karena tuntutan pekerjaannya dia harus mempelajarinya.

Menggunakan sebelah tangan memang sulit. Sudah tiga hari ia seperti itu. Entah sampai kapan dia bisa melepas ini. tapi, sekarang tangannya sudah agak mendingan jadi dia bisa mengendarai mobil dan akhirnya dia bisa kembali belajar—dan memantau targetnya.

Saat tiba di kampus dan keluar dari dalam mobil, Luhan menjadi pusat perhatian. Begitu juga dengan Amber, saudaranya yang paling berisik.

“Kau kenapa, huh? Ditabrak truk?” tanyanya dengan tampang tidak berdosa. Luhan mendengus lalu menepuk kepala gadis itu sekuat tenaga.

“Ini perbuatan ayahmu. Menendangku sampai membuatku patah tulang dan terkilir di seluruh badan,” jawab Luhan mendengus.

“YA! Dia bukan ayahku! Berhenti menyebut pria gila itu sebagai ayahku.” Amber cemberut.

“Yah, dia memang gila. Entah sampai kapan aku harus mengikuti kemauannya.” Luhan lalu berjalan mendahului Amber. Gadis itu berlari dan menyamakan langkahnya dengan Luhan.

“Sekarang apa lagi yang pria itu minta? Mencuri dokumen negara atau menembak mati presiden?” tanya Amber asal.

“Lebih berbahaya daripada kedua hal itu,” jawab Luhan serius.

“Apa itu?”

“Awalnya aku tertarik dengan pekerjaan ini. Kau tahu kan aku tidak suka dengan orang terkenal dan ingin menembak mati mereka? Jadi aku menerimanya. Aku mulai mencari informasi tentangnya dan berusaha mendekatinya. Tapi, aku menyukainya. Aku mulai ragu untuk mengerjakannya.”

“Apa sih? Jangan bertele-tele! Bilang aja siapa dan apa tergetnya sekarang?” tanya Amber tidak sabar. Luhan mendekatkan mulutnya ke telinga Amber, kemudian membisikan sesuatu yang mengejutkan.

“Menembak mati Cindy Chou dan Kris Wu.”

“Kau serius, huh?”

Luhan mengangguk.

“Tapi, kau… menyukainya, kan?”

Luhan mengangguk lagi.

“Tidak. Tidak. Kau harus melupakan tugas ini dan memilih tugas lain yang lebih ringan. Menembak presiden, seperti yang aku bilang tadi.” Amber menggeleng tak percaya lalu menyilangkan tangannya di dada.

“Kalau boleh memillih atau sekali saja dia mau mendengarkan saranku, aku mau mengajukan saran tentang menembak mati dirinya. Tapi, dia egois. Inilah buktinya.” Luhan menggoyangkan tangan kirinya yang tergips kepada Amber.

“Kau harus menyelesaikan ini. terserah bagaimana caranya. Jujur saja, aku suka sekali aksimu saat membunuh rentenir gila dengan obat jantung diluar dosis, atau menghancurkan tangan seorang designer wanita dengan gunting karena dia sudah mengkhianati ‘ayahku’. Yang ini aku tidak setuju sama sekali, Lu. Tolak!”

“Tidak bisa. Kalau bisa, aku pasti sudah—“

“Tolak kubilang!” pekik Amber marah. Luhan terbelalak melihat reaksi Amber yang tiba-tiba. Tidak biasanya ia berteriak begini.

“Kau kenapa?” tanya Luhan bingung.

“Aku tidak tahu kenapa kau begini. Tapi, aku tidak mau Cindy terbunuh padahal dia tidak melakukan kesalahan apapun. Pokoknya jangan.” Amber menatap Luhan tajam.

“Kalian meributkan apa sih? Tampaknya seru sekali.”

Tiba-tiba, Cindy ikut nimbrung diantara mereka. Luhan dan Amber terkejut setengah mati. Mereka berdua jadi salah tingkah dan membiarkan Cindy dalam kebingungan.

“Aku pergi dulu. Kau bisa bertanya pada dia.” Amber lalu pergi meninggalkan mereka berdua.

“Kalian berbicara apa sih? Aku penasaran.”

“Tidak ada. Ayo kita kedalam.” Luhan lalu berjalan mendahului Cindy. Mereka berdua berjalan beriringan menuju kelas. Sepanjang perjalanan tidak ada yang berniat bercerita. Sampai pada Cindy akhirnya menyadari keadaan tangan Luhan yang tidak biasanya.

“Kau kenapa?!” pekik Cindy tiba-tiba. Membuat Luhan terlonjak.

“Ah, bukan apa-apa. kemarin aku ingin membetulkan atap rumahku tapi aku terjatuh dari tangga dan tanganku patah. Sekarang tidak apa-apa. tidak terlalu sakit lagi.” Luhan pun tersenyum untuk menenangkan Cindy dari ke khawatirannya.

“Benarkah tidak apa-apa?” tanya Cindy cemas, kemudian Luhan mengangguk. “Kenapa kau tidak menelponku? Aku bisa membantumu kapan saja,” ucap Cindy lagi.

“Tidak, aku tidak mau merepotkanmu,” ucap Luhan lalu mengelus kepala Cindy pelan.

“Kalau ada apa-apa katakan saja. Kuusahakan untuk membantumu.”

Luhan pun mengangguk lagi disertai dengan senyumannya.

****

Saat istirahat siang, Cindy tidak sengaja bertemu dengan Kris di lorong lantai tiga. Lorong yang selalu sepi karena lorong ini hanya berisi ruang-ruang utama tapi jarang digunakan, seperti ruang hukuman dan ruang latihan lama bagi mahasiswa jurusan seni.

Mereka berdua berhenti tiba-tiba, sekitar dua meter dari tempat mereka berdiri. Mereka berdua saling menatap—saling meluruskan hati yang berdebar—tanpa mengeluarkan suara apapun. Cindy pun tersenyum kikuk pada Kris, yang dibalas aksi canggung dari pria itu.

“Kau.. sibuk?” tanya Kris canggung, sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

“Sedikit. Aku sedang menuju ke ruang hukuman untuk memberikan tugas kepada mahasiswa yang dihukum.” Cindy berujar dengan cepat saking gugupnya.

“Baiklah. Aku akan menunggumu disini.” Kris menurunkan tangannya lalu memasukan tangannya itu ke dalam saku celananya. Cindy mengangguk cepat kemudian berjalan cepat melewati Kris menuju ruang hukuman. Sementara Kris menungguinya dengan bersender di jendela.

Tidak butuh waktu lama, Cindy sudah keluar dari ruang hukuman dan sedang berjalan—hampir berlari—menuju Kris. Pria itu terkesiap saat mengetahui Cindy sedang menghampirinya.

“Tumben sekali kau baik padaku. Ada apa nih?” tanya Cindy sambil menatap Kris yang datar dengan pandangan seperti anak nakal.

“Tidak tahu. Ingin aja. Memangnya tidak boleh?” balas Kris dingin. Cindy mendecih dan mencibirnya dalam hati.

‘Nggak asik.’

Kris melirik Cindy melalui ekor matanya, dan membaca apa yang dipikirkan gadis itu. Kris berpikir bahwa Cindy pasti lupa dengan kemampuannya yang tidak bisa dikendalikan.

“Kau mau makan malam bersamaku malam ini?” Kris tiba-tiba bertanya, namun matanya tidak mengarah ke Cindy. Gadis disebelahnya terbelalak.

“Kenapa tiba-tiba?”

“Tidak tahu. ingin aja.” Cindy mencibirnya lagi. gadis itu berpikir sejenak tentang segala kemungkinan yang ada tentang pria ini

“Apa kau menyukaiku?” tanya Cindy asal.

Kris berhenti, kemudian berbalik dan menatap Cindy datar. Kris tetap terdiam tanpa melakukan pergerakan apapun. Cindy juga sedang berusaha untuk tidak mengatakan apapun di dalam hatinya dan memilih untuk bernyanyi di dalam hati. Kris sama sekali tidak mengatakan apa-apa. maka, Cindy menghembuskan napasnya pelan ke arah lain, lalu kembali menatap Kris dengan tatapan menyerah.

“Oke, kau bisa mengatakannya lain kali atau tidak sama sekali. Aku akan datang kerumahmu malam ini dengan beberapa bahan masakan. Kemungkinan aku juga akan mengundang beberapa temanku kesana. Jangan menolak dan jangan memberontak. Aku duluan.” Cindy berucap dengan sangat cepat, kemudian pergi meninggalkan Kris yang masih berusaha mencerna apa yang dikatakan Cindy padanya.

****

Seperti apa yang dikatakan Cindy di kampus, gadis itu benar-benar tidak bercanda. Kris pikir dia akan datang sendirian dan malam ini akan menjadi malam tenang Kris bersama Cindy—sama seperti malam saat di bukit. Tapi, ternyata tidak. Baru sepuluh menit Cindy menyiapkan bahan, sudah terdengar suara mobil berhenti tepat di depan pagar rumah Kris. Dengan berhentinya kegiatan memasak Cindy, terkumpullah semua teman-teman kampus Cindy.

Ada Zitao, Kyungsoo, Jessica, dan Luna. Malam ini menjadi malam yang ramai bagi Kris untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun ini. Dia merasa risih dan tidak suka dengan suasana ini. Menurutnya, banyak orang aneh yang diundang Cindy. Contohnya, si Kyungsoo yang selama pembicaraan tidak pernah mengganti ekspresinya. Tetap diam dan mematung.

“Ya! Kyungsoo! Kau sakit, huh?” tegur Cindy sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan muka Kyungsoo. Pria kecil itu tetap dalam posisinya yang damai.

“Kalau kau mendengarku, setidaknya anggukan kepalamu.” Cindy berucap sambil menganggukan kepalany seperti memerintah Kyungsoo untuk melakukan hal yang sama. Kyungsoo kemudian mengangguk sambil melebarkan senyum polosnya.

“Ada dua kemungkinan yang terjadi padamu, Kyungsoo.” Cindy berucap sambil menempatkan pantatnya di ujung kursi, disamping Jessica. “Satu, kau tidak mendengarkan. Dua, kau pura-pura tidak dengar. Kau benar-benar aneh.” Cindy mendesah.

Pria itu sama sekali tidak mendengarkan kali ini. otaknya tidak memerintahkan telinganya untuk mendengarkan, tapi malah memerintahkan tangannya untuk bergerak mengambil garpu dan menusukan ke sepotong salad di piringnya.

“Kau mau tambah daging, Tao?” tanya Cindy sambil tersenyum manis kepada Zitao yang menoleh kepadanya dengan mulut penuh makanan. Pria itu kemudian menggeleng cepat. Cindy pun mengelus kepada Zitao dengan lembut, yang dibalas dengan senyuman manja dari Zitao.

Lain halnya dengan Cindy yang menikmati makan malam ini. Kris tampak tidak senang dengan segala keributan yang terjadi di halaman rumahnya ini. Tidak ada yang mengetahui hal ini, tapi Cindy tahu jelas kalau pria tinggi itu sedang kesal.

“Kau mau tambah daging, Kris?”

Kris mendongak ke arah Cindy yang memandangnya penuh dengan tatapan riang. Tangan gadis itu menyeret piring berisi daging sapi bakar. Sumpitnya mengapit daging yang paling besar dan meletakannya ke atas nasi Kris yang tinggal setengah.

“Makanlah. kudengar, cara ampuh melampiaskan kekesalan adalah dengan makanan.” Cindy berucap sambil terus menatap Kris plus tersenyum manis padanya. Kris tidak bergeming sama sekali. “Atau kau mau wine?”

“Tidak. Aku tidak mau melepaskan beasiswaku karena egoku sendiri.” Kris lalu mengambil sendoknya dan mulai menyendokan nasinya kemulut. Cindy pun terkekeh melihat tingkah Kris yang kekanak-kanakan.

Selama acara makan malam berakhir, Kris sama sekali tidak mau berbicara dengan teman-teman Cindy. Sekeras apapun Jessica menggoda Kris atau Luna yang melontarkan candaanya, tetap saja Kris tidak bergeming dan hanya menatapnya dingin dalam diam. Dan kejadian itu langsung dilaporkan kepada Cindy melalui pesan. Cindy terkekeh membacanya.

Dia menoleh kearah Kris yang sedang mencuci piring. Ponselnya ia letakan di atas meja. Tangannya tadi perlahan bergerak untuk menumpu dagunya lalu menatap Kris.

Dia tahu, seharusnya dia tidak mengangumi orang secara diam-diam. Apalagi Kris itu bisa mengetahui langsung walau sekeras apapun dia menyembunyikannya. Saat Cindy mulai berkata dalam hati, seketika tangan Kris berhenti mencuci.

‘Dia anak yang lucu. Apalagi saat dia betul-betul kesal kepada teman-temanku yang berisik dan tidak bisa diam. Cara dia makan adalah hal yang sangat menggemaskan selama aku mengenal Kris. Menarik.’

Kris langsung menegang ditempatnya. Pipinya mengeluarkan semburat merah yang tidak terduga warnanya. Hanya karena pujian kecil, Kris bisa semalu ini. Jantungnya langsung berdetak tak karuan.

“Apa kau membacanya tadi?” tanya Cindy sambil menarik sebelah sudut bibirnya.

“Me—memangnya kau ngomong apa tadi?” Kris terbata-bata saat membantah pertanyaan Cindy.

Sekeras apapun Kris menyembunyikannya, Cindy bisa tahu kalau pria itu baru saja mendengar apa yang ia katakan di dalam hatinya. Terlihat dari cara Kris menjawab tadi.

Setelah memundurkan kursinya, Cindy berjalan menuju lemari pendingin Kris dan membukanya.

“Apa kau punya cemilan? Kenapa banyak sekali cola dan jus didalam sini? Apa kau diet?” oceh Cindy bersungut-sungut.

Kris membuka sarung tangannya kemudian mencuci tangannya. Pria itu berjalan mendekati Cindy yang baru saja menutup lemari pendingin dengan tangan memegang botol cola. Gadis itu begitu terkejut saat Kris sudah benar-benar di depannya dan terus berjalan sampai memojokan Cindy ke dinding. Tangan Kris menyentuh dinding, seperti sedang mengunci Cindy dibalik tubuhnya.

“Apa yang kau lakukan, huh? Tatapan apa—“ Ucapan Cindy langsung terputus begitu Kris mendekatkan wajahnya ke wajah Cindy.

Mata itu terus menatap Cindy datar dan dingin. Cengkeraman di botol makin mengeras bersamaan dengan jantung Cindy yang semakin berdetak kencang. Sekuat tenaga Cindy menelan ludahnya yang terasa hambar sekarang.

“Ad—ada apa, Kris? Kenapa kau menatapku begitu?” tanya Cindy sepelan mungkin. Tatapannya terus mengarah ke Kris.

Kris tiba-tiba mendekatkan lagi kepalanya ke Cindy sambil memiringkan wajahnya. Gadis itu langsung menutup matanya dan membelokan kepalanya ke arah lain.

‘Oh Tuhan….’

“Kau bertanya kenapa aku begini, huh? Aku akan memberitahumu.” Kris berucap pelan di telinga Cindy.

Kris perlahan memundurkan kepalanya sampai Cindy bisa meluruskan kepalanya lagi. perlahan mata itu membuka dan kembali menatap Kris. Gadis itu harus mendongak agar bisa menyamakan tatapannya kepada Kris.

“Apa itu?” tanya Cindy ragu.

“Ini.”

Tiba-tiba Kris mencium Cindy tepat di bibir. Kaleng di tangan Cindy langsung terlepas dari tangannya bersamaan dengan rasa terkejut itu. Matanya terbelalak, berkebalikan dengan Kris yang menutup matanya.

Untuk beberapa saat posisi mereka seperti itu sampai pada akhirnya Kris melepaskan ciuman mereka. Kris membuka matanya dan menatap lurus Cindy yang masih terbelalak.

“Aku menyukaimu, Cindy.”

Dan sekali lagi, Cindy dibuat terkejut oleh Kris.

****

To Be Continued….

*Thanks untuk kalian semua yang udah komentar. Jujur aja, itu jadi penyemangat aku untuk ngelanjutin fanfic ini. Terima kasih untuk respon positif kalian dan terima kasih juga untuk seseorang yang udah menyukai fanfic aku ini^^/bow/. Terima kasih juga yang suka sama fanfic Dorm. Aku akan ngelanjutin itu fanfic sampai tamat. Tolong berikan komentar kalian, ya. Makasih yang udah baca.. ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s