FF : The House Tree 2 – Tiga Belas

The House Tree II

Tittle              : The House Tree 2

Author            : Ohmija

Genre              : Family, Brothership, Friendship, A little Comedy Action Sad

Cast                : EXO

Summary        : “Aku hanya ingin dia beristirahat dulu. Setidaknya, untuk sesaat dia tidak bersedih.”

Dua orang namja itu duduk bersama disebuah kantin rumah sakit dengan dua gelas kopi di atas meja. Kris terus tertunduk, menerawang menatap kopinya tanpa niat untuk menyentuhnya sedikitpun. Sama halnya dengan Luhan yang tiba-tiba kehilangan minat pada kopi, sesuatu yang sebenarnya sangat ia sukai.

“Itu sudah berlangsung sangat lama namun aku masih bisa mengingatnya dengan jelas.” Kris bergumam, membuat Luhan meliriknya. “Waktu oema memaksa kami pergi dan memisahkan kami dengan Sehun. Saat itu, aku hanyalah seorang anak kecil yang tidak mengetahui apapun. Yang menganggap aku hanya pergi sementara untuk berlibur dan akan kembali saat waktunya tiba. Ternyata, aku salah. Itu adalah awal dari semua masalah dalam keluargaku.”

Luhan hanya diam. Terus mendengarkan cerita Kris.

“Aku dan Chanyeol tumbuh bersama eoma kami namun di rumah, kami seperti tidak memiliki eoma. Eoma selalu berpergian setiap harinya, terkadang hanya kembali seminggu sekali untuk sekedar memeriksa isi kulkas. Sejak kecil, aku sudah terbiasa memasak untuk Chanyeol. Sejak kecil juga, aku sudah terbiasa hidup tanpa oema.”

“Apa nyonya Park bekerja?” Luhan bertanya takut-takut.

Kris tersenyum miris, terdiam sejenak hingga beberapa saat menggeleng, “Saat aku menginjak remaja, pada akhirnya aku tau jika eoma telah menikah lagi.”

“Menikah?!” Luhan tercengang hingga ia memajukan tubuhnya dengan mata yang membulat lebar.

“Saat aku bekerja paruh waktu, aku sering melihatnya bersama seorang pria, berjalan-jalan bahkan terkadang berbelanja bersama. Hingga pada akhirnya amarahku memuncak saat dia melarangku bertemu dengan Sehun, aku membongkar semuanya, didepan Chanyeol juga lalu kami pergi meninggalkan rumah.”jelasnya, buru-buru pria tinggi itu menghusap matanya dengan lengan baju sebelum ada yang merembes dari sana. “Dan satu hari sebelum kepergianku ke Korea, aku melihatnya bersama dengan seorang pria yang mungkin umurnya sama dengan Sehun. Aku mengubah pikiranku, eoma bukan menikah lagi, tapi sudah menikah dan memiliki anak sejak sidang perceraian digelar waktu itul. Mungkin itu alasan eoma dan appa bercerai.”

“Kris, kau belum mengetahui bagaimana kebenarannya, kan? Mungkin dia—“

“Aku sudah menyelidikinya.” Kris memotong ucapan Luhan. “Samar-samar, aku mengingat jika ada waktu dimana aku dan Chanyeol tidak pernah bertemu dengan eoma dalam jangka waktu yang sangat lama. Seingatku, saat aku bertanya pada appa, appa hanya mengatakan jika eoma sedang memiliki urusan. Dan saat eoma kembali terjadilah perselisihan hebat antara mereka berdua di rumah. Mereka hampir saja bercerai untuk yang pertama kalinya namun appa membatalkan gugatannya saat mengetahui eoma hamil. Tahun demi tahun berlalu, keluarga kami juga sangat bahagia karena kehadiran Sehun namun mimpi buruk itu datang lagi. Kami tidak pernah tau alasannya, tiba-tiba saja eoma membawaku dan Chanyeol pergi sedangkan appa bersikeras untuk menahan salah satu dari kami dan itu Sehun.”

Kris menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya dibalik poni-poni rambutnya yang mulai memanjang.

“Aku pernah mengutus seseorang untuk mencari tahu hal itu saat aku baru tiba di Seoul. Dan itu benar, kepergian eoma waktu itu karena dia hamil dengan selingkuhannya. Setahun kemudian, dia juga melahirkan Sehun.”

“Tunggu… maaf jika pertanyaanku ini menyinggung perasaanmu, tapi, bagaimana kalian yakin jika Sehun adalah anak eoma dan appa-mu, bagaimana jika Sehun adalah anak dari eoma-mu dan selingkuhannya itu?”

”Sebelum kami pergi, appa pernah mengetes DNA Sehun dan ternyata dia adalah anak appa. Karena itu appa bersikeras menahannya untuk tinggal. Sehun adalah anak kesayangan appa.”

Luhan menelan ludahnya. Dia sendiri tidak mengerti dengan masalah yang terjadi di keluarga ini. Begitu tidak masuk akal dan rumit. Bagaimana bisa kedua orang tua mereka sangat tega melakukan hal-hal buruk yang seharusnya tidak dilakukan itu?Apa mereka pernah berpikir bagaimana perasaan anak-anaknya? Belum lagi saat Kris harus sekolah, bekerja paruh waktu sekaligus menghidupi Chanyeol? Apa itu tidak terlalu berat baginya?

“Lalu, bagaimana dengan anak yang dilahirkan eoma-mu itu? Kau yakin dia bukan anak keluarga Park?”

“Apa hal itu masih perlu jawaban? Bukankah ibu yang melahirkannya saja yakin akan hal itu. Aku tidak perlu meragukannya lagi.”

Luhan mengulurkan tangannya, menepuk pundak Kris beberapa kali. Sahabatnya itu terus menyembunyikan wajahnya dalam tunduknya. Mana yang lebih baik, orang tua angkat namun menyayangi mereka seperti anak kandung atau orang tua kandung namun sama sekali tidak menyayangi mereka?

Berusaha mengerti perasaan Kris, nyatanya Luhan tidak menemukan cara yang tepat sebagai penghiburannya terhadap sahabatnya itu. Walaupun sakit pada awalnya saat mengetahui nyonya dan Tuan Jung bukanlah orang tua kandungnya namun Luhan sudah sangat bahagia dan tidak berniat mengetahui siapa orang tua kandungnya. Dia menyayangi mereka.

Berbeda dengan Kris yang mengalami masalah tiada henti bahkan setelah dia berusaha sangat keras untuk kembali ke Korea dan menemukan adiknya. Apa semua itu belum cukup?

“Aku pikir, seseorang itu adalah anak eoma.” Suaranya bergetar hebat.

“Kau yakin?”

“Menurutmu siapa lagi yang akan duduk lama disebelah roma selain kami bertiga?” Kris mengangkat wajahnya, menatap Luhan. Sudut matanya terlihat basah. “Chanyeol memang mengetahui jika eoma kami telah menikah lagi namun dia tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya. Aku harap dua adikku itu tidak mengetahuinya.”

“Aku…” Luhan memutar bola matanya, tidak menemukan kata-kata yang tepat. Kopinya telah habis dan tenggorokannya terasa sangat cekat. “Aku harap kalian baik-baik saja.” Hanya itu yang bisa dikatakan oleh Luhan atas pencarian kata penghibur yang tepat. Kris benar, sebaiknya Sehun dan Cahnyeol tidak mengetahui ini. Mengingat bagaimana kepribadian Sehun sekarang dan Chanyeol yang mudah sensitive tentang keluarganya.

***___(**

Sohee lberlari secepat mungkin menyurusi gedung Universitas untuk mencari Jongin. Sehun dan Wobin sama sekali tidak bisa dihentikan setelah Sehun melayangkan pukulannya ke wajah Woo bin pertama kali. Kedua pria itu terlihat sama-sama bersikeras untuk tetap memukul dan melindungi harga diri.

“Kau lihat Jongin?” ia bertanya pada siapapun yang ditemuinya. “Hey, kau lihat Jongin?”

“Dia ada di ruang dosen.”

Sohee kembali berlari menaiki anak-anak tangga dan menerobos kerumunan orang-orang yang sedang berlalu lalang. Dia melihat Jongin yang baru saja keluar ruangan sambil membawa tumpukan buku-buku dengan wajah kusutnya.

“Jongin!”

Sohee membuat buku-buku yang dibawa Jongin terjatuh ke lantai karena dia menabrak pria itu. Jongin melirik Sohee dari balik kelopak matanya. Sudah hampir melayangkan amarah pada wanita cantik itu namun suara panik Sohee lebih dulu terdengar.

“Sehun dan Woobin! Mereka berkelahi!”

Mata Jongin melebar, detik berikutnya langsung berlari meninggalkan Sohee dan buku-bukunya. Sial. Dia hanya meninggalkan saudaranya itu sebentar dan Woobin langsung mencari masalah dengannya.

“Jongin! Sehun berkelahi!”

Teman-temannya meneriaki Jongin yang sedang berlalu. Sepertinya mereka telah mengetahui tentang kejadian ini. Begitu sampai di belakang gedung Universitas, sudah tercipa kerumunan orang-orang yang menintin perkelahian itu.

Jongin langsung menerobos dan mereka yang mengetahui kehadiran Jongin jiuga langsung membuka jalan untuk pria berkulit gelap itu. Begitu sampai didepan, matanya sontak membulat melihat Woobin sudah berlumuran darah. Tubuhnya sudah terhuyung namun masih mencoba untuk melawab Sehun.

Mengecamnya dengan bara kebencian, Sehun masih ingin melayangkan pukulan pada pria menyebalkan itu namun Jongin langsung menahan tubuhnya dari belakang dan menyeret saudaranya itu mundur.

“Sehun! Cukup!”serunya memukul-mukul pipi Sehun agar kesadarannya kembali.

“Ya! Jangan melerai kami! Kau pikir kau siapa?!”

Jongin berbalik, menatap ke belakang, ikut mengecam Woobin yang meneriakinya. Dia udah babak belur, bagaimana bisa dia masih berlagak? Jongin mencoba nenahan-nahan kesabarannya, ia melirik pada beberapa mahasiswa yang berdiri paling depan.

“Cepat urus dia. Bawa dia pergi.”suruhnya membuat para mahasiswa yang sepertinya adalah adik tingkat itu terkejut.

Takut-takut, ia melirik Woobin, “Tapu—“

“CEPAT!”bentak Jongin tak trbantahkan yang dibalas dengan anggukan.

“Lepaskan aku! Brengsek!” Woobin mengumpat begitu beberapa mahasiswa itu membanya pergi. “Park Sehun, aku akan membalasmu! Aku akan membalasnya!”

Begitu Woobin telah pergi. Kerumunan masih terjadi disekitar tempat itu. Jongin menghembuskan napas keras, lantas memerintahkan mereka semua dengan sedikit bentakan.

“Apa yang kalian lihat?!”

Kerumunan itu akhirnya bubar. Sesegera mungkin meninggalkan tempat itu dan meninggalkan Jongin bersama dengan Sehun yang sudah terduduk ditangah dengan kedua tangan yang disanggah lutut dan kepala yang tertunduk dalam.

Jongin berjongkok didepannya, “Kau tidak apa-apa? Tanganmu terluka.”

“Dia mengatakan keluargaku adalah keluarga yang buruk.” Sehun sama sekali tidak memperdulikan pertanyaan Jongin sebelumnya. Masih tertunduk, dengan nada suara yang dingin, ia melanjutkan ucapannya, “Dia tidak mengatakan hal yang salah. Karena dia mengatakan hal yang benar, itu membuatku sangat marah. Keluargaku memang berantakan. Appa dan eoma… aku bahkan tidak merasa tempat yang aku tinggali adalah sebuah rumah.

Jongin terenyak, ia ikut terduduk diatas tumpukan daun-daun kering yang terjatuh di atas permukaan tanah, disebelah Sehun.

“Darimana dia mengetahuinya?”

“Wartawan.” Sehun mendongak, namun tetap tidak menatap Jongin. “Mereka bahkan telah menyebar luaskan kehidupan pribadi keluargaku tanpa seijinku. Sekarang, tidak ada yang tidak mengetahui bagaimana buruknya keluargaku.”

“Sungguh?!” Jongin tercekat. “Mereka benar-benar melakukannya?! Astaga, brengsek sekali.” Tanpa sadar ia mengumpat. “Kenapa dia sangat suka mencari masalah dengan kita? Apa ini karena Yoon Sohee itu? Jika iya, harusnya dia berhubungan denganku, bukan denganmu!”

“Mungkin dia membenciku dengan alasan lain.” Diam-diam Sehun menghembuskan napas panjang. Pria itu tiba-tiba berdiri, dari duduknya, Jongin bisa melihat bagaimana teduhnya sepasang matanya saat ini. Dia sedang menahan air matanya. “Aku lelah. Ayo pulang.”

***___***

“Astaga, kenapa ada tayangan seperti ini?” nyonya Jung geleng-geleng kepala begitu ia menyalakan televisi dan menemukan tayangan yang memberitakan tentang keluarga Park. “Apa maksudnya ini? Mereka awalnya memberitakan tentang kemajuan perusahaan yang telah meluas dimana-mana namun pada akhirnya justru memberitakan tentang kehidupan keluarga ini. Darimana mereka mendapatkan informasi seperti itu?!”

Lauren mendongak, memperhatikan nyonya Jung yang marah-marah dengan ekspresi bingung, “Kenapa eoma marah-marah?” suara kecilnya membuat nyonya Jung langsung menghela napas panjang.

“Eoma, berhenti marah-marah. Lauren menjadi bingung.” Kyungsoo menghampiri nyonya Jung dan merebut remote yang dipegangnya lalu mematikan televisi dengan kesal. “Sebaiknya tiga saudara itu tidak mengetahui tentang ini. Chanyeol sedang mandi, jangan sampai dia tau.”

Nyonya Jung lagi-lagi menghela napas panjang, ia duduk disofa sambil menghusap lembut kepala Lauren, “Eoma hanya benar-benar kesal. Mereka tidak sepatutnya memberitakan tentang hal itu.”

“Eoma, apa tayangan tadi membuat eoma kesal? Eoma marah dengan televisinya?”tanya Lauren polos.

Menoleh pada anak perempuannya yang terlihat cantik dengan bando pita dikepalanya, nyonya Jung tersenyum lalu menggeleng, “Aniyo. Eoma tidak marah.”

“Tapi eoma terus mengomel tadi.”

“Aniyo.”

“Eoma! Eoma!” Tiba-tiba Baekhyun muncul, berlari menuruni anak tangga dengan wajah panik.

“Ada apa Baekhyunnie? Kau mengagetkan eoma.”

“Eoma, appa bilang restoran kita dipenuhi orang-orang! Mereka bertanya tentang keadaan Sehun!”tanpa sadar dia berteriak. “Apa yang sudah terjadi?! Ada apa dengan Sehun?!”

Nyonya Jung dan Kyungsoo sama-sama terkejut, “Astaga! Benarkah?”

“Appa baru saja menelponku. Eoma, apa yang sudah terjadi? Appa bahkan menutup restoran hari ini dan bergegas menuju Seoul sekarang.”

“Oh Tuhan, bagaimana ini?”

“Ada apa?” Chanyeol muncul sambil mengeringkan kepalanya dengan handuk. “Apanya yang bagaimana?”

Kyungsoo, Baekhyun dan nyonya Jung langsung saling pandang bingung. Apa yang harus mereka jawab? Apa mereka sebaiknya memberitahu Chanyeol tentang hal ini?

“Chanyeol, tadi—“

“Baekhyun, kau bilang kau akan menemaniku ke supermarket, kan? Ayo!” Secepat kilat Kyungsoo menarik tangan Baekhyun dan menyeretnya keluar sebelum dia membuka mulut. Cahnyeol memandang keduanya bingung namun tidak curiga sedikitpun.

Ia berjalan mendekati eoma dan Lauren, “Eoma, sudah sarapan?”

“Ah? Y-yee, eoma sudah sarapan tadi.”

Chanyeol tersenyum lantas membungkuk, menjajarkan wajahnya dengan wajah Lauren, “Bagaimana dengan Laurennie?”

Lauren mengangguk-anggukan kepalanya, “Kyungsoo ahjussi membuatkan Lauren sandwich yang sangat enak.”

“Sungguh?”

“Emp. Kyungsoo ahjussi sangat pandai memasak. Tadi, eoma juga membuatkan susu hangat untuk Lauren.”

“Lauren suka tinggal disini?”

“Sangaaaaat suka.” Anak perempuan itu tersenyum lucu. “Tapi, dimana Sehun oppa? Kenapa Lauren tidak melihatnya.”

“Sehun oppa? Dia sedang belajar. Sebentar lagi, dia pasti akan kembali.”

***___***

“Kenapa kau menyeretku pergi? Kita harus memberitahu Chanyeol.” Baekhyun merutuk kesal lantas membuang napas keras, berjalan bersisian dengan Kyungsoo.

Kyungsoo menunduk, “Aku hanya tidak tega.”

“Tapi sebaiknya dia mengetahuinya sekarang daripada mengetahuinya nanti.”

“Aku hanya ingin dia beristirahat dulu. Setidaknya, untuk sesaat dia tidak bersedih.”jawab Kyungsoo lemas.

“Hhhh… rasanya aku ingin kembali ke Busan. Aku muak berada di kota ini.”

“Dan meninggalkan mereka, begitu?” Kyungsoo menoleh, menatap Baekhyun.

Mendengar pertanyaan Kyungsoo, ekspresu Baekhyun berubah semakin lemas, “Membawa mereka juga jika aku bisa.”

“Aku tidak bertemu dengan orang tuaku dalam waktu yang lama. Aku merindukan mereka. Tapi, aku pikir untuk sesaat aku harus berada disini, setidaknya untuk memastikan mereka tidak pernah kelaparan.”

Baekhyun mengangguk lalu menatap langit yang terbentang diatasnya, “Jika diingat-ingat, waktu berjalan sangat cepat. Rasanya masih kemarin kita bermain di pantai dan bersepeda bersama. Membolos, menemani Baekgu ke kedai bubble tea, dan mengobrol di rumah pohon. Tidak terasa, tahun demi tahun berlalu dan pada akhirnya kita berada disini.”

“Suho hyung bilang, anggap saja ini adalah cara yang melatih kita untuk dewasa. Aku harap, mereka bisa lebih kuat dari sebelumnya.”

“Harus begitu.” Baekhyun mengangguk yakin. “Ngomong-ngomong, apa kau membawa uang? Apa yang ingin kau beli di Supermarket?” tanya Baekhyun setelah mereka berdiri didepan sebuah supermarket yang berada tak jauh dari rumah Sehun.

Kyungsoo baru tersadar, ia membulatkan mata besarnya lalu menepuk kening, “Aku tidak membawa uang!”

“Apa?!” Baekhyun berteriak tepat disamping telinga Kyungsoo. “Kau menyeretku pergi tapi kau tidak membawa uang? Lalu untuk apa kita kemari?”ketusnya kesal.

“Bagaimana ini? Aku lupa.” Kyungsoo menyusuri kantung baju dan celananya untuk mencari lembaran uang yang mungkin saja tertinggal.

“Apa kita tidak bisa membeli bahkan sekaleng kopi? Banyak orang yang sedang melihat kita. Seperti orang bodoh yang berdiri didepan supermarket.” Bakhyun masih mengomel kesal.

Kyungsoo tidak menyahut, masih sibuk mencari sisa-sisa uang dikantungnya.

“Ada!”serunya sesaat kemudian, menunjukkan satu lembar uang didepan wajah Baekhyun. “Kita bisa membeli kopi buy one get one dengan ini. Ayo!” Kyungsoo menarik lengan Baekhyun, tanpa dosa berjalan memasuki supermarket.

Baekhyun semakin merutuk, “Apa?!”

***___***

“Pak, bagaimana ini? Banyak wartawan berada di luar untuk meminta penjelasan atas berita tadi pagi.” Seorang karyawan menghadap Xiumin di ruangannya. Xiumin hanya diam, memijat kepalanya yang terasa pening akibat berita yang tiba-tiba menyebar luas disalah satu TV Nasional itu.

“Hyung, bagaimana ini?” Chen yang juga berada disana, ikut bertanya. “Apa kita perlu mengadakan rapat dadakan? Ku dengar wartawan juga berkumpul didepan hotel, rumah wushu, dan tempat latihan musik.”

“Astaga. Kenapa ini bisa terjadi? Membuatku muak!” Xiumin berdiri sambil melonggarkan dasinya kesal. “Biarkan saja. Aku tidak bisa memutuskan apapaun karena Kris belum ada disini. Aku akan kembali ke rumah.” Ia berlalu, bergegas meninggalkan ruangan.

“Pak tapi—“

“Apa?!” Xiumin berbalik, sedikit membentak karyawan itu. “Kau mau menghadapi mereka? Begitu?!”

Karyawan itu langsung menunduk lalu menggeleng pelan, “Aku bilang aku akan pulang untuk berunding dengan Kris. Dia adalah pemimpin yang bisa memutuskan semuanya.” Kemudian ia menatap Chen. “Ayo Chen.”

***___***

“Aku sudah berada di dalam taksi, hyung. Apa aku harus menjemputmu?”

“……”

“Yaaah, aku melarikan diri lewat pintu belakang.”

“……”

“Baiklah. Tunggu aku. Aku akan kesana segera mungkin. Bertahanlah.”

Tao mengakhiri panggilannya lalu memerintahkan supir taksi untuk menuju sebuah tempat latihan musik untuk menjemput Lay yang sedang terkepung didalamnya.

Sial sekali, dihari pertamaku bekerja, aku sudah harus melarikan diri seperti ini. Tao merutuk dalam hati.

Tak lama, saat mereka sampai, Tao meminta supir taksi untuk berhenti di belakang gedung karena di sisi depan,banyak sekali wartawan yang sedang berkumpul. Ia memperhatikan sekitar sambil menghubungi Lay kembali.

“Hyung, aku berada di belakang. Hanya ada 2 wartawan yang berjaga disini. Bisakah kau lari? Aku berhenti tak jauh dari pagar belakang.”

“Sungguh? Bahkan ada wartawan juga?” Lay menjerit disebrang panggilan.

“Tidak sebanyak didepan. Ayo cepat!”

“Bagaimana ini? Bagaimana jika mereka menangkapku?”

“Mereka bukan penculik. Ayolaah. Atau kau mau aku yang menahan mereka?”

“Sudahlah. Tidak usah. Tunggu aku.”

Lay mematikan sambungan teleponnya.Lebih baik dia melakukannya sendiri daripada Tao ikut campur. Daripada menghindari wartawan, berita yang muncul akan menjadi menghajar wartawan jika Tao yang melakukannya.

Lay bergegas menuju pintu belakang, mengintip sedikit dari celah pintu yang terbuka dan mendapati dua orang wartawan yang sedang duduk didepan pagar.

“Sial. Aku tidak menanggung jika aku reflek memukul kalian.”gumam Lay.

Ia menegakkan tubuhnya lanta memperbaiki letak ransenlnya. Juga menaikkan hoodie dan memakai masker untuk menutupi wajahnya. Berjalan dengan langkah santai namun cepat, ia melewati taman belakang dan membuka pintu pagar. Untuk seketika membuat dua wartawan yang sedang duduk itu langsung berdiri dan bergegas menghampirinya.

Lay menutup pintu pagar secepat mungkin lalu berlari menghindari wartawan yang mengejarnya.

“Tuan, kami ingin meminta penjelasan. Kami hanya meminta waktu anda sebentar.”

“Tuan, bagaimana komentar anda tentang hal ini? Apa anda bekerja disini?”

Lay mendengar dua wartawan itu menghujaninya dengan pertanyaan dibelakang. Namun, Lay tetap tidak memperdulikannya, terus saja berlari menuju sebuah taksi. Tao sudah membukakan pintu belakang dan langsung menarik tangan Lay begitu pria itu sudah mendekat. Dengan cepat menutup pintu dan memerintahkan supir untuk menjalankan taksi.

“Ternyata wartawan itu sangat menyeramkan.”

Lay menurunkan maskernya lalu mengambil napas karena dadanya terasa sesak karena habis berlari.

“Kau tidak apa-apa hyung?”

“Tidak apa-apa. Bagaimana dengan yang lain? Apa mereka sudah berada di rumah?”

“Aku sudah menghubungi Xiumin hyung, dia sudah berada di jalan bersama Chen hyung. Kris hyung, Luhan hyung dan Suho hyung juga sedang dalam perjalanan pulang dari rumah sakit.”

“Mereka pasti sangat terkejut atas berita ini.”

“Itu sudah pasti.”

***___***

Baekhyun dan Kyungsoo kembali ke rumah setelah membeli kopi di supermarket. Langkah keduanya langsung terhenti begitu melihat wartawan sedang berkumpul di depan pagar rumah Sehun. Mereka ternganga lebar. Bahkan wartawan sudah mengetahui rumah ini?

Baekhyun langsung menarik lengan Kyungsoo dan bersembunyi dibalik tanaman kota saatmelihat seorang wartawan hampir saja melihat mereka.

“Kenapa?”

“Jika wartawan melihat kita, mereka pasti akan menyerbu kita.”

“Kenapa?” Kyungsoo masih bertanya. “Bukankah mereka tidak mengetahui kita? Bersikaplah seakan-akan kita hanya seorang pejalan kaki.”

“Oh, kau benar juga.” Baekhyun mengangguk, baru tersadar. “Sebaiknya lewat pintu belakang. Ayo.”

Keduanya keluar dari tempat persembunyian dan bersikap sesantai mungkin. Beberapa orang wartawan melihat mereka namun tidak memperdulikan mereka sama sekali. Setengah berlari, keduanya menuju bagian belakang rumah sambil menelpon bibi Ren untuk membukakan pagar.

“Ayo cepat masuk, sebelum mereka melihat kalian.”

Kyungsoo dan Baekhyun mengangguk dan secepat mungkin masuk kedalam rumah. Keduanya menuju ruang keluarga yang terlihat sudah dipenuhi banyak orang. Tersisa Kris, Luhan dan Suho yang belum sampai.

Sehun dan Jongin berhasil kembali sebelum wartawan itu datang. Namun, Xiumin, Chen, Tao serta Lay harus dibantu oleh penjaga rumah Sehun untuk masuk ke dalam rumah.

Baekhyun mendapati Sehun tengah duduk dalam diam, pandangannya terlihat kosong. Sedangkan nyonya Jung terus saja menggenggam tangan Chanyeol yang terus menunduk tanpa suara.

Keheningan dirasakan begitu mencekam saat mereka memasuki ruang keluarga itu. Sebagian dari mereka menoleh saat menyadari kehadiran Baekhyun dan Kyungsoo, kecuali Sehun dan Chanyeol yang sama sekali tidak bereaksi.

“Bagaimana?” Baekhyun berbisik pada Chen.

Chen menggeleng lemas, “Kita tunggu Kris hyung, Luhan hyung dan Suho hyung.”

Baekhyun melirik kearah Chanyeol. Jadi dia sudah mengetahuinya? Bagaimana ini? Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Tiba-tiba, suara derap langkah terdengar dan memunculkan Kris, Luhan dan Suho yang dengan langkah-langkah panjang menghampiri mereka semua. Sehun dan Chanyeol tetap tidak bergerak dari tempat mereka bahkan bereaksi.

Berjalan lurus menghampiri Sehun, Kris menepuk pundaknya dan langsung berseru, “Apa yang harus kita lakukan?”

Sehun terdiam, tidak bereaksi selama beberapa saat sampai akhirnya desahan napasnya terdengar panjang.

“Lakukan apa yang saja, hyung. Aku tidak tau.”

“Kris, kita perlu diskusi dengan para dewan direksi di kantor Pusat terkait masalah ini.” Xiumin berseru. Tidak hanya kantor kita,tapi wartawan juga telah memenuhi semua perusahaan milik keluarga Park. Asisten Jung tadinya memintaku untuk melakukannya tapi aku tidak bisa memutuskan apapun tanpamu.”

“Sudah sejauh mana mereka mengetahuinya?”desis Kris dingin.

“Mereka tau jika tuan Park dan nyonya Park memiliki hubungan gelap dengan seseorang. Dan kasus yang telah kita tutupi tentang kematian tuan Park akhirnya terbongkar. Mereka sudah mengetahui jika tuan Park mengalami kecelakaan mobil bersama istrinya. Juga tentang nyonya Park yang diam-diam telah menikah di Kanada dan meninggalkan kalian.”

Rahang Kris mengatup keras, “Apa mereka tau tentang keluarga di Busan?”

Xiumin menggeleng, “Aku rasa belum. Mereka juga masih menduga-duga apakah tuan dan nyonya Jung memiliki anak dari pernikahan mereka yang baru.”

“Chen, tolong hubungi pihak rumah sakit dan minta mereka perketat keamanan. Jangan ijinkan siapapun masuk kecuali pihak keluarga.” perintah Kris yang dibalas anggukan oleh Chen. “Tao, bisakah kau cari bibi Ren, minta dia untuk mengirimkan beberapa penjaga untuk berjaga didepan kamar eoma. Tidak ada yang boleh tau jika eoma sedang dirawat.”

“Baiklah.”

Kemudian Kris menoleh kearah Sehun, “Kau ikut aku ke kantor pusat. Walaupun aku adalah pimpinan, aku tidak bisa memutuskan apapun tanpa pemilik sah.”

“Hyung, bisakah Sehun tidak terlibat?” Jongin menyela. “Dia habis berkelahi dengan seseorang di kampus. Bisakah dia beristirahat?”

Mata Kris sontak melebar, baru menyadari jika terdapat luka di tangan dan wajah adiknya itu.

“Apa yang sudah terjadi?!”

“Hyung, Sehun butuh istirahat.” Ulang Jongin lagi.

“Aku akan ikut.” Namun, Sehun jutru memutuskan hal yang lain. Ia berdiri, menatap Kris. “Aku ikut dengan kalian.”

“Sehun…” Jongin mencoba menahannya.

“Suho hyung, bisakah kau membantuku untuk menyelidiki seseorang?” Sehun berkata.

Kening Suho berkerut, “Siapa?”

“Aku tidak menuduhnya sebagai sumber yang telah menyebarkan berita ini, aku hanya ingin mengetahui identitasnya.”jawabnya. “Bisakah kau menyelidiki Seo Woo Bin? Dia adalah mahasiswa di universitas yang sama denganku.”

Detik itu juga Kris langsung menoleh, “Seo Woo Bin?!”

Sehun mengangguk, “Aku rasa dia memiliki masalah denganku.”

Kris terenyak. Luhan meliriknya mengetahui sesuatu. Astaga, semoga ini hanya kebetulan belaka.

Marganya adalah Seo.

TBC

28 thoughts on “FF : The House Tree 2 – Tiga Belas

  1. nina berkata:

    krn udah lama aku jadi agak2 lupa sm chapter sebelumnya eon haha

    astaga, kenapa masalah malah bertambah parah
    woobin itu jangan2 anaknya nyonya park iia
    sempet curiga pas woobin tiba2 nyamperin sehun jongin dlu trs tiba2 bilang klo mobil sehun bakalan jadi punya dia
    juga curiga klo yg nyebarin mgkn woobin juga

  2. Shafinags berkata:

    Yaampun authornimmm, akhirnya dilanjut jugaaa ceritanyaaa. Sampe agak lupa, jadi baca dari chapter sebelumnyaa. Makin lama ceritanya makin rumitt, semoga cepet selesai masalaahnyaa. Trus cerita “The Story” sama “Autumn” dilanjutin yaa authornimm, ditunggu sekali next chapternyaaa^^

  3. Puti Hilma berkata:

    Kyaa!! Akhir nya setelah lama menunggu akhirnya FF ini update juga. Gomawo thor~

    Astagaa… Knp jadi makin rumit? Sebenarnya Seo Woo Bin itu siapa sih? Apa jangan-jangan anak dari nyonya Park juga? Ada apa dengan marga ‘Seo’ ?

    Ceritanya makin keren thor, ditunggu yg lainnya ya… Keep writing!

  4. NyonyaKim berkata:

    Kyaaa.. Udh lama nunggu kelanjutan ini ff. Akibat nya jd agak lupa sama cerita sebelum nya :v haha..
    Ada apa dengan marga “seo” ??. Bikin penasaran aja. Daebak deh ni ff.

    Keep writing ne thor~^^

  5. osehn berkata:

    akhirnyaaa ff ini mucul juga. Tapi aku agak2 lupa sama jlan ceritanya.. Ini makin rumit yaaa. Woobin siapa???? Apa dia anak nyonya Park?? Ada apa dgn marga Seo ooooh sungguh penasraaan

  6. So Eun_Sehun berkata:

    Akhirx setelah menunggu sekian abad ff ini update juga….thank’s thor…
    Astaga kenapa jadi rumit sekali sih konflik keluarga park entuh…
    Seo Woo Bin itu pasti anak nyonya park yg mau nguasai harta keluarga park…
    Libas aja entuh orang sehun biar ga’ buat gara2 lagi…gemes q liatx masalahx dan habis2x…
    Author mija cepat update lagi ya FFx….

  7. yuli berkata:

    lupa ma chap2 sblmx…
    mslhx mkin ranjau ya…seo wo bin kyx ankx eommax krisyeolhun deh ya…ank dr beda bpk yng d crtain kris
    si seo pst slh phm or dia iri ma sehun mngkin *sotoy*
    dtgu chap slnjtx…mkin pnsrn

  8. Momo Ran berkata:

    YEEE!!!! Akhirnya muncul juga. Tpi, saking lamanya jadi lupa dengan alurnya. Tpi tetep seru kok!! (y). Whaiting terus ya author buat kelanjutan FF nya😀

  9. yuntil berkata:

    yaampunnn… eon lama banget… saking lamanya gitu liat the house tree jadi menjerit saking senangnya…
    udah menduga kalau woobin itu anak nyonya park…
    cepet lanjutkan y eon…
    oh ya ff autumn mana eon? pengen baca kelanjutannya…
    after all keep writing eon…
    fighting!!!…

  10. Raaaaaa berkata:

    DAN FIX PADA AKHIRNYA INI FF YANG KU TUNGGU TUNGGU DI POST JUGA!!!!!
    Sebenarnya agak lupa sama alur ceritanya mungkin efek dari lamanya gak di post post kali yaaaak..
    Daaaaaaaan buat Oh Mi Ja, sumvaah ini keren bangetttttt. konfliknya itu gak muluk muluk semakin nyelibet (?). dari awal baca sampe akhir, aku sampe narik navasnya gak ketulungan. DAEBAK!!!!

    Author plissss ini permintaan kami sebagai pembaca setia semua ff author, jangan ngaret ngaret yaaa biar gak berefek kaya gini, biar kita sampe gak lupa sama alurnya.

    ohh yaaa ff yang lain juga di lanjut yaa. kaya misal GROWL, AUTUMN, THE LORDS OF LEGENT, DADDY’S BEST FRIEND, dll. POKOKNYA HARUS DI LANJUT!!!!!!!!!

  11. Yusvisca berkata:

    AKHIRNYA :””””) SAMPE LUPA THOR GIMANA CHAP SEBELUMNYA HEHE
    tapi gapapa, diupdate aja uda senenggg hehe
    yg autumn juga ya thoorr, ditunggu hehe :)) kangen hunhan nih.
    SEMANNGATTT THOOR ^^9

  12. D_Luhan berkata:

    Udah lama banget baru jumpa lagi lanjutan ff iniiii, jadi aga lupa lagi chap sebelumnya hehe
    Makin complicated, kasian Sehun Kris Chanyeol eonni😦 Tapi untung punya sahabat yg setia sama mereka, suka banget brothership nya :’)
    Next chap eonni, hwaiting🙂 di nanti lanjutan ff eon yg lainnya ^^

  13. sinta dewi berkata:

    aku sampe baca dr part 1 lg gara2 dah lupa ma ceritanya… authornim keep writing …hwaiting…di tunggu nex chapterny….

  14. littlecheonsasss berkata:

    Asli idah lupa sama ceritanya -_-. Lamaaaaa banget baru dilanjutkan.
    Eon, tumben nulisnya banyak thypo? Biasanya nggak tuh ._.
    Dari awal aku udah merasakan ada yang janggal dari Woobin sebelum marganya diketahui. Pasti dia anaknya eomma Sehun juga, jadi Sehun punya dua saudara tiri deh :3

    Thor, kami sebagai readers setia Koreadansaya maunya postingan itu gak lama kayak gini, banyyaaaak banget FF yang udah lama gak dilanjut, Story, the lords of legend, autumn, daddy’s best friend, itu aku udah lupa chapter sebelumnya masa -_-.
    Pliss thor, nulis FFnya merata dong!

  15. desy tree berkata:

    astagaaa!! ini FF bikin nafas jadi cekat -_-
    bagus!! lebih bagus lagi klo chapter selanjutnya di post cepet kekekee ^^v

  16. icah berkata:

    akhirnya authorniimmm bangun dari hibernasinya…
    Kenapa masalahnya makin rumit siiihhh… cepet update lagi ya authorniiimmm gomawo…

  17. khalila rahmi berkata:

    Authornim….lama banget sih upluod nya…
    Karna udah lama jadi agak lupa sama jalan ceritnya,tapi masih inget kok..hehehe

    Next jangan terlalu lama ya,please…….
    Emang ada apa sama marga ‘seo’?wah penasaran……
    Next ya…..

  18. Dharaaa berkata:

    weww akhirnya keluar jg…. :3 ‘seo’ woobin?? wkwkwk gk sabar selanjutnyaaaa. btw, org ‘hitam’ itu sapa yak?? dr chap duabelas udh kepooo
    Lanjutinnya jgn lama2 yoooo
    Ditunggu ^_^

  19. Jung Han Ni berkata:

    apa seo woobin anak dari nyonya park? dan siapa yg nyebarin berita tentang keluarga sehun? jangan2 woobin ya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s